Bodyguard

Title : Bodyguard

Author :  Ms.Choi

Rating :  G

Genre :  romance

Length :  oneshoot

Cast : Shim min ji (YOU)

Choi minho (SHINee)

Support cast : all member SHINee

(saya mencoba membuat ff yang semua judulnya dari lagu – lagu SHINee)

Sesuatu yang sebelumnya tak pernah aku percayai itu mengubah hidupku. Perlahan mengajarkanku untuk berjalan perlahan, tapi penuh dengan kecermatan dan keteguhan hati, membantuku berdiri ketika ku menginjak lubang yang membuatku terjatuh sangat dalam, membantuku membuka mata dimana debu-debu dari perbuatan selama hidup menutup jalanku untuk ketempat yang lebih baik, tidak ada yang lebih baik selain mempercayai bahwa aku…

berada di antara sang putih dan sang hitam…

My life is for you…

~*~

Minho  POV

“hancurkan perusahaan ayahnya, cabut hingga ke akarnya jangan sampai tersisa arra?” titahku pada kepala perusahaan milik keluargaku itu.

“tapi.. tuan!” Lee ahjussi terlihat ragu akan perintahku “itu sahabat tuan bukan? tidakkah tuan memberikan kesempatan?” mataku kini berubah sangat tajam ke arahnya terlihat ia mengerti dan membungkuk sebelum pergi dari hadapanku. Aku tak segan untuk meghancurkan siapa pun yang berani melawanku sekali pun itu sahabatku sendiri. Dia telah mempermalukanku di depan semua murid sekolah.

Minho  POV End

~*~

Minho , nama itu sudah tak asing di kalangan murid Inha senior high school . wajahnya yang tampan sudah menarik banyak  wanita, entah di lingkungan sekolahnya atau diluar sekolahnya. Status keluarganya yang kaya itu menambah kesempurnaannya menjadi orang yang patut di kagumi, Tapi ada satu yang membuat setiap wanita yang dilewatinya hanya dapat menelan ludah mereka  sikap dinginnya, keegoisannya, sikap angkuhnya serta merta status keluargaannya, seakan menjadi celah yang sangat sulit dilewati untuk menembus dalam hatinya, dan sikapnya lah yang membuat orang-oranng patuh dan menghormatinya  atau mungkin bukan hormat  tapi takut, mereka takut pada sesosok namja tampan kaya raya bernama minho itu takut berurusan padanya, sekali ia dengar ada yang menentangnya atau bahkan mencemoohnya ia akan langsung memberi pelajaran untuk orang itu entah dengan cara apapun, bahkan menegur dengan menatapnya saja tak ada yang berani. Kalau memang ada pertanyaan “begitukah sikapnya?” jawabanya adalah “ya~ memang begitulah dia”.

Tapi sungguh tak ada yang sempurna, mungkin kalau ada yang menganggap kehidupan minho adalah sebuah kesempurnan, mereka salah bersar. Kalau dapat di ibaratkan minho bak bulan yang terlihat indah dari bumi ke elokan pada bentuknya yang terlihat bundar saat purnama,  cahaya yang terang seaakan memberi ke kaguman. Tapi ketika kita sadari bulan tak sebundar yang kita kira, permukaanya yang terlihat datar ternyata penuh dengan macam-macam lubang, cahanya pun terang karena pantulan sinar matahari, kesepian… mungkin dasar dari sikapnya selama ini.

~*~

“minho , tidakkah kau merasa kasian? keluarganya itu sudah terpuruk  karena perusahaanya sudah kau hancurkan,huh?” kini jonghyun yang angkat bicara, dia tak habis fikir pada sahabatnya itu. Begitu mudahnya dia menghancurkan kehidupan temannya sendiri demi kepuasan amarahnya.

“heh? Kasihan?, dia berani menjelek-jelekanku di depan murid sekolah” minho menjawab sangat datar membuat jonghyun makin geram.

“dia bukan menghina atau menjelekanmu di depan murid sekolah! dia hanya menegurmu, kau selalu mengangkuhkan dirimu sendiri berbuat seenaknya bahkan pada kami sahabatmu sendiri. Bahkan kadang kau anggap kami seakan tidak ada, bukan begitu?”. Emosi jonghyun kian memuncak, suara hening bukan menandakan perdebatan terselesaikan, melainkan keadaan mencengkram antara dua pihak yang laksana beradu mulut seakan memukul gendang perang, membuat yang lain tak memberanikan membuka mulut secenti pun.

Minho  ,jonghyun juga ketiga sahabatnya yang lain taemin, jinki dan kibum adalah sahabat lama lebih dari lima tahun mereka berteman tapi selama lebih dari lima tahun berlalu mereka seakaan masih tidak mengenali watak dari masing-masing karakter, terutama minho. Berteman lama tak membuatnya percaya pada kesetiaanya persahabatan,

“tch, sahabat? Baiklah mereka sahabatku, tapi tak ada yang tau suatu saat nanti mereka akan menusuku dari belakang, bukan?”

fikiran itu seakaan menjadi pedoman baginya untuk tetap tidak mempercayai siapa pun bahkan mungkin orangtuanya sendiri. Orang tua yang selalu mengatakan bahwa mereka peduli pada anak mereka, tapi tak tepat pada kenyataan yang ada. minho tak percaya akan itu semua, dengan mmemberikan uang yang banya menyediaka fasilitas yang mewah sekolah yang paling bagus dikorea pun tak cukup membuktikan pada minho kalau orang tuanya menyayanginya, karena dia memang tak butuh itu, dia hanya butuh perhatian yang lebih.

“kalau kau mau kau biasa seperti kibum? aku tinggal menyuruh orang ku untuk membeli saham perusahaanmu” minho kembali bersikap dingin dengan pandangan tak lurus pada sang lawan bicara.

jonghyun sendiri mengambil ancang-ancang untuk memukul bagian wajah minho  yang sudah lama membuat dia muak sedari tadi itu, tapi sebelum dia benar-benar menghadiahkan sebuah pukulan badanya terheti oleh halangan tangan jinki, sebuah tatapan mata mengarah pada jinki seolah berkata ‘kau mencegahku?’ tapi jinki menatapnya balik dengan raut wajah yang amat sangat serius seakan matanya menggambarkan sebuah kalimat ‘tahan emosimu’ . semua masih diam di tempat sedang minho sudah merubah posisinya yang mula duduk di sofa kini menjadi berdiri menatap sekilas ketiga temannya kemudian pergi begitu saja. “lihat? Aku sudah bilang kadang dia tidak menganggap kita dan sekarang sudah terbukti” ucap jonghyun.

~*~

Minho POV

Aku memutuskan untuk pergi sekarang juga meninggalkan mereka begitu saja,ingin ku tenangkan pikiranku, sejenak berfikir jernih.

‘semua tak mengerti perasaanku mereka sok memperhatikanku padahal aku tau ,mereka juga berteman denganku karena aku anak orang kaya punya status keluarga yang baik juga popular di sekolah, csh’

Batinku tak henti-hentinya mencela mereka. Hingga langkahku terhenti pada jalan kecil dikoridor sekolah. Sebuah pertengkaran kecil sepertinya terjadi disana aku mencoba melihat dibalik dinding tangga yang menjadi pembatas antara tangga dan koridor sekolah.

“hya! Yeoja aneh sepertmu memang patut di beri pelajaran huh?” ku lihat yeoja yang terduduk lemah,menerima pukulan dari kaki lawannya. Yeoja itu meringis kesakitan di ikuti tawa puas dari ketiga lawanya yang melipat tangan di depan dada.

“kau dengar yah yeoja aneh, sekali lagi kau melawan kami. Kreekkk” salah satu yeoja yang menjadi lawannya itu mendaratkan tangannya sendiri ke lehernya mengisyaratkan sesuatu.

‘apa aku harus menolongnya?’ sejenak aku berfikir dan tak butuh waktu lama ‘buat apa aku menolongnya aku kan bukan orang baik’ aku sedikit mengangkat sebelah alisku dan pergi meninggalkan tempat kejadian.

Ketika kunci telah masuk pada tempatnya kupasangkan helem dikepalaku memakai sarung tangan hitam mulai menyalakan mesin menggas dan memasukan gigi. Sebuah suara riung terdengar jelas di sepanjang jalan aku mengendarakan motor besarku butuh sedikit waktu untuk mencapai gerbang sekolah mengingat sekolahku memangcukup besar. Senyumku sedikit mengembang melihat gerbang sekolah yang tertutup rapat kini terlihat oleh pandangan mataku semakin dekat gerbang semakin aku mempercepat laju motorku.

“hya!hya!” dua orang pengaman sekolah melambaikan tangannya padaku menyuruhku untuk berhentui ‘mau mati mereka’ tak ku gubris peringatan mereka malah aku semakin mengencangkan tarikan gas pada motorku. “celaka dia tak mau berhenti!! Awas!!” salah seorang pengamansekolah member intruksi gerbang sekolah mulai terbuka secara otomatis. Aku pun lolos melewati gerbang sekolahku ‘pabbo’ gumamku.

inilah yang sering aku lakukan setiap aku memiliki masalah menaiki motor kesayangan ku mengelilingi kota seoul tau bahkan sampaike dageu melanggar lalulintas kemudian berkejar-kejaran dengan polisi lalu lintas haha… sangat menarik .

Dan searang, belum beberapa menit aku melintas dijalan beberapa motor polisi sudah mengikutiku saja. ‘baiklah kalau itu yang kalian mau’

Aku makin mempercepat laju motorku  aku yakin hari ini akan seperti biasanya lolos dari kejaran pulang, mandi dan tidur, sangat membosankan ‘mungkin mereka ingin ikut aku jalan-jalan’ batinku.

Aku terus melaju tanpa mengendurkan tarikan gas hingga pada suatu gang jalan aku berbelok kearah kanan  tanpaku sangka seorang manula berpakaian rapih menyebrang jalan. “awass!!” mataku terbelalak dengan cepat aku mengerem mencegah aku dan orang tua itu akan bertabrakan tapi sia-sia kurasakan tubuhku terpental dan membentur sesuatu sakit… hanya itu yang dapat menggambarkan perasaanku sekarang dan bersamaan dengan itu aku mulai melihat pandangan hitam gelap meutup penglihatanku.

Minho  PON End

~*~

Min Jin POV

Aku duduk dibangku taman sekolah dengan perlahan aku mengeluarkan obat merah disaku baju seragamku menyangka hal ini akan terjadi aku sudah menyiapkan obat merah untuk membantu obatku. Ya.. kejadian ini rutin di terima olehku walau tak setiap hari tapi setiap aku menentang inilah akibatnya.

‘yeoja aneh’ sebutan tak asing untukku tersinggung? Tidak, karena aku memang berbeda dari anak-anak pada umumnya. Aku memang tak memiliki kecacatan pada tubuh aku pun dapat berfikir lancer  lalu apa yang membedakanku?. Sebenarnya ini bukan sebuah kekurangan tapi kelebihan yang diberikan tuhan untukku. Aku terlahir sebagai anak indigo kemampuanku melihat tak seperti orang pada umunya kadang aku melihat apa yang orang lain tak dapat melihatnya, mengetahui apa yang akan terjadi lewat mimpi pun sering ku alami aku selalu memperingatkan kepada teman-temanku ketika aku tau ada sesuatu yang buruk akan menimpa mereka tapi pada umumnya mereka tidak akan percaya, dan ketika itu semua benar terjadi mereka malah menyalahkan ku dan menganggapku sebagai yeoja pembawa sial. Ehm, menyesal telah di lahirkan didunia ini? Tidak, aku tidak akan pernah menyesal karena aku tau Tuhan telah menyiapkan sesuatu yang indah untukku kelak.

~*~

“hya! Kerjakan PR ku, palli~” baiklah aku saja belum duduk dibangkuku, mereka sudah meyuruhku mengerjakan PR mereka. “kenapa lihat-lihat?” tanyanya ketus aku membanting tubuhku ke bangku dan mengeluarka tempat pensil dan pen dari tempat pengsil dan mulai mengerjakan PR miliknya terpampang jelas wajah senangnya itu “kajja!” titahnya kepada kedua sahabatnya yang mengikutinya dari belakang. Dimanfaatkan, kapan ini berakhir?

~*~

Sebelum istirahat berakhir aku harus menyelesakan tugas sekolah yang bukan milikku ini, setumpuk buku harus cepat aku kembalikan sebelum jam istirahat benar-benar habis dan aku hanya dapat menelan ludah ku sendiri? ah~ shiro!.

Aku pun dengan cepat keluar kelas tapi.

BRUKK!!.

Aku menabrak sesorang dan itu semua membuatku tersungkur ke lantai begitu juga buku-buku yang aku bawa, telah berserakan. “mian, gwenchana?” kulihat seorang namja berjongkok di hadapanku dan memunguti buku-buku. Aku hanya dapat tersenyum kecil “gwenchana~” jawabku lirih. Tapi beberapa lama kemudian seseorang kembali datang.

“taemin ayo cepat!”

“tapi…”

“sudah, dia bilangkan tidak apa-apa kajja!”

Kedua namja itu pun berlari meninggalkan ku, aku hanya diam terus melihat punggung keduanya yang semakin tak terlihat. “buru-buru sekali”

Seketika itu pula bel berbunyi menandakan jam istirahat telah usai…

Teeeetttt~

“aggrrrhhhh~”

Minji POV End

~*~

Taeimi dan jinki  berlari menuju sebuah ruangan VIP di sebuah gedung rumah sakit itu.

“Bagaimana keadaanya?” Tanya jinki yang terkesan tergesa-gesa.

“dia…belum sadarkan diri kata dokter dia… koma…” tutur jonghyun dengan nada kecewa.

Ruang kembali sunyi, hanya ada suara bisingan mesin pendeteksi detak jantung disana semua pandangan tertuju pada minho  yang terbaring lemah.

“mian” pandangan kini berpindah pada jonghyun yang duduk di sofa sambil undukan kepalanya.

“kalau saja aku tidak bertengkar padanya mungkin dia tidak akan pergi dan mengalami kecelakaan ini” terlihat jonghyun mengangkat kepalanya, terlihat pula wajah penyesalan di raut mukanya.

“itu bukan salamu, tenanglah semua akan baik-baik saja percaya  padaku” jinki  duduk disamping jonghyun  dan berusaha menenagkannya.

~*~

Minho  POV

Aku terbangun, entah aku berada di mana tapi di tempat ini sangat gelap, di sebelah kiriku terdapat sebuah jalan yang berujung pada cahaya. Sedangkan di sebelah kananku terdapat sebuag jalan, tapi berujung pada kegelapan. ‘sebenarnya aku dimana?’ .

“kenapa? Kau bingung?”

Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah belakang, “siapa kau!!”

Aku hanya dapat melihat seseorang yang bertubuh tak jauh tinggi dari ukuran tubuhku, menggunakan terusan putih dengan penutup kepala yang menutupi hampir seluruh wajahnya.

“sombong! Harusnya kau tak menyakiti orang-orang di sekitarmu. Membuat mereka memikirkan mu sedangkan kau bersenang-senang bersama ke egoisanmu sendiri, ch”

Aku semakin bergidik, apa yang dia maksudkan sebenarnya? Aku semakin tak mengerti.

“kau tidak mengerti? wahai manusia kau begitu banyak menyakiti hati orang, hatimu sudah kotor. Bersihkanlah hatimu.”

Kenapa dia tau fikiranku apa maksudnya?

“waktu mu satu minggu, di kala matahari tenggelam di hari ketuju itulah akhir dari waktumu , waktu akhir dimana kau telah menyelesaikan semuanya, tujuh hari? Atau kau tak akan pernah kembali”

Tiba-tiba kulihat cahaya yang menyilaukan menghampiriku, aku seperti terpental jauh…

Hingga akhirnya aku membuka mataku…

~*~

Aku duduk di atas tempat tidur berusaha menyadarkan diriku sendiri. “ternyata Cuma mimpi”

Aku bernafas lega. “tunggu aku dimana?” ternyata aku berada di sebuah ruangan yang aku ketahui adalah ruangan rumah sakit. Mataku tertuju pada jonhyun yang tertidur di pinggir kasurku sambil menenggelamkan kepalanya. Juga taemin  yang ikut tertidur di sofa.

“mereka pasti lelah menunggu hingga aku sadar”

Etah kenapa ada perasaan bahagia melihat sahabat-sahabatku yang rela menungguku sampai aku tersadar. Kecelakaan itu sangat mengerikan, aku tidak sanggup membayangkannya lagi.

Ketika aku niat membangunkan jonghyun yang tertidur di samping kasurku, kulihat jinki masuk ke ruanganku. dia seperti membawa makanan dan beberapa cemilan.

Aku menarik sebagian bibiku membentuk sebuah senyuman kecil, kulihat jinki beralih kearah jonhyun dan membangunkannya.

“hya! Bangun kita makan dulu” jinki sedikit menepuk pundak jongyun.

“kau kan belum makan dari tadi pagi kajja kita makan.” Loh kenapa aku tidak disapa apa mereka lupa denganku mentang-mentang aku sudah sadar.

jonghyun mengeliat sambil mengusap wajahnya, yang terlihat masih mengantuk.

“hya! Kalian kenapa? Kalian marah padaku karena aku  telah mengkhawatirka kalian? aku … minta… minta maaf  kalau begitu, aku tidak akan mengebut lagi dijalan puas?!”

Tapi mereka tak mengubrisku, mereka hanya melanjutkan makan malam mereka.

“hya!!” aku pun langsung turun dari kasur dan berdiri, sebelum aku menghampiri ke empat temanku Beberapa perawat datang.

“annyeong, maaf aku ingin memeriksa ke adaan tuan minho” sapa perawat itu dengan ramah. ‘Dia buta atau apa? Tidak lihat kalau aku…’

Dengan segera aku tersadar kenapa tidak ada infuse yang harusnya membuatku terluka ketika aku bangu tadi? dan… dan… bukannya aku kecelakaan hebat kenapa aku jadi tidak apa-apa? Minimal ada luka bekas tapi ini…?

Aku membalikan badanku. Dan… Ya Tuhan!! Aku melihat diriku sendiri berbaring di tempat tidur dengan alat perbantu pernapasan di mulutku.

Sebenarnya apa yang terjadi padaku ?!!

Minho  POV End

~*~

Min ji POV

Weuussss~~

Aku terbangun, mendengar jendela kamarku terbuka. Terlihat korden jendela kamarku berayun tak menentu terkena hembusan angin. Dengan sigap ku bangun dan menutup jendela kamarku. “anginnya besar sekali apa akan terjadi hujan?” seketika itu pula jendela kamar ku tutup.

“Apa ya , yang akan terjadi besok?!” seketika ucapan itu mencul dari bibirku entahlah perasaanku tidak enak.

Min Ji POV End

~*~

Minho  POV

Aku benar-benar tak menyangka semua akan terjadi. Kenapa orang – orang tidak dapat melihatku apa aku sudah jadi roh? Atau hantu yang gentayangan? Apa maksud semua ini?

‘waktu mu satu minggu, di kala matahari tenggelam di hari ketuju itulah akhir dari waktumu  waktu akhir dimana kau telah menyelesaikan semuany, tujuh hari? Atau kau tak akan pernah kembali’

Kembali ku teringat kata-kata itu apa kejadian itu bukan mimpi? Dan yang di maksud-nya adalah ini? keanehan ini? Tuhan! Aku mohon kembalikan aku, aku tak ingin seperti ini.

‘waktu mu satu minggu Atau kau tak akan pernah kembali’

~*~

Aku duduk di bangku taman sekolah, sambil memikirkan semua hal yang terjadi padaku. Berusaha percaya bahwa aku saat ini bukanlah seorang manusia. Dan bagaimana cara aku kembali.

Belum lama aku berfikir, tiba-tiba seorang yeoja berdiri di tempatku. ‘bukannya itu yeoja yang di pukuli temannya itu?,mau apa dia? Ah~ sudahlah lagi pula dia tak bias melihatku dengan wujudku seperti ini’

“minggir!” ku dengar dia menyebutkan satu kata tapi pada siapa? Di sini hanya ada satu bangku taman dan yang ada hanya aku.

“tempat yang kau duduki itu tempatku minggir kau!”

“na?”aku menujukan diriku sendiri memastikan bahwa aku yang diajaknya bicara,walau sepertinya itu tidak mungkin.

“ya!kau cepat minggir  aku sudah tidak tahan ingin duduk!!” dengan bodohnya aku mengikuti perintahya.

“apa lihat-lihat?!!” katanya ketus. Aku kembali membuang muka ku dan pergi meninggalkannya. ‘Loh tunggu? Aku kan…’

“kau bisa lihat aku?” Tanya ku langsung to the point itu. Tapi tidak ada jawaban, dia hanya mengeluarkan obat merah dan perekat untuk lukanya.

“aku ini roh tau!!” tutur ku ketus.

“aku tau!” jawabnya enteng, dan tidak ada sedikit pun terbersit ketakutan dibenaknya.

“kenapa?! Sudah sana pergi!” kembali kalimat ketus keluar dari bibirnya. Apa dia bisa membantuku?.

“aku…” belum sempat aku meneruskan kalimatku dia sudah berdiri dengan tertatih dan pergi dariku.

“hya! Tunggu!” aku mengikutinya sampai ke kelasnya.

“jangan mengikutiku! Sekarang pergi!”

“tunggu dulu aku sedang butuh bantuan tolonglah~”aku sedikit memohon.

“aku tidak bisa bantu lebih baik kau cari orang lain saja untuk membantumu, sekarang  pergi!!”

“hya! Si yeoja aneh berbicara sendiri~ ayo lebih baik kita jangan dekat-dekat!” terdengar beberapa orang membicarakan sesuatu yang aku yakini itu tertuju pada yeoja di hadapanku.

“puas?! Sekarang kau pergi!!”

“tunggu aku mohon aku sedang butuh bantuan!! Aku janji akan lakukan apapun jika kau mau membantuku.”

BRUK!!

Belum sempat, aku meneruskan kalimat ku dia menutup pintu kelas dengan keras.

Keeseoka harinya,

“hya!!  kenapa kau tak kerjkan PRku?”

“PR ku saja belum aku selesaikan, nantiku kerjakan” jawabnya santai.

“kau semakin hari semakin bertingkah!!”

“bertingkah??! Kalian yang setiap hari menyuruhku mengerjakan tugas kalian dengan ancaman-ancaman konyol kalian tanpa mengentikan panggilan kalian memanggilku ‘yeoja aneh’ bukankah kalian yang bertingkah!!”

“kau! Beraninya kau berkata seperti itu kepada kami,huh?”

BRUKK!!

Salah seorang diantara mereka memukul bagian perut yeoja itu. Dan mengam bilancang-ancang untuk menginjaknya

‘kali ini tak akan ku biarkan’

“Awww”

“kau kenapa?” Tanya sahabatnya khawatir.

“seperti ada yang menahan kakiku”. Seketika itu pula ku dorong kaki yang aku pegang kuat sehingga pemilik kaki itu terjatuh terpental.

“gwenchana?” Tanya sahabatnya khawatir. “hya! Kau pakai mantra apa yeoja aneh!!!” terlihat salah seorang yeoja di antara mereka melayangkan sebuah pukulan ke gadis yang aku sedang ingin lindungi itu.

HAAPP!

‘Tak semudah itu’. Aku menahan kepalan tangan yeoja itu dan menonjokan tangannya kearah wajahnya sedniri.

BRUKK!

“kenapa kau memukul dirimu sendiri?!” tegur salah satu sahabatnya.

“aku tidak tau tanangku seperti bergerak sendiri” para yeoja itu saling memandang dan menatap gadis yang akulindungi ini dengan pandangan takut.

“lariiiii!!!” mereka pun lari terbirit-birit.

“huahahaha” aku hanya tertawa terbahak-bahak “ternyata mengerjai orang itu menyenangkan yah!” aku kembali tertawa.

“puas kau sekarang? Senang?” entah kenapa yeoja itu, malah bicara ketus padaku.

“hya! Aku sudah menolongmu, bukannya terimakasih”

“ya, terimakasih telah membantuku untuk tidak menerima hajaran dari mereka, terimakasih pula karena kau telah membuat pandangan teman-temanku semakin aneh terhadapku. Mungkin besok aku tak akan di panggil ‘yeoja aneh’ tapi ‘yeoja menakutkan’ terimakasih banyak”

Dia pun pergi dengan wajah tak senangnya itu.

“kau masih menganggap mereka temanmu? Setelah mereka semua memperlakukanmu seperti ini?”

Dia menghentikan langkahnya tanpa berbalik melihatku. “kalau kau butuh teman, carilah orang yang benar mengaggapmu seperti manusia bukan seperti mereka” lanjutku. Dia masih tak bergeming dari tempatnya.

“kau tak tau betapa beratnya jadi aku” jawabnya sangat lirih.

“tidak ada yang jauh lebih berat jika kau tau kisahku juga” aku kembali bersuara. Dia pun membalikan badanya, terlihat sedikit airmata di pucuk matanya walau tidak begitu jelas tapi aku tau dia sedang ingin menagis. Dia menyenderkan badanya di dinding dan duduk sambil memeluk kedua lututnya.

“kau tau tak hanya ini yang sering aku dapatkan, kadang aku suka dimanfaatkan. Bukan hanya di sekolah di rumahpun juga aku seperti itu. Ayah tiriku dan ibu kandungku selalu membawa orang untuk di ramal. Setipa hari tanpa henti, orang tuaku pun selalu menerima bayaran besar tapi aku masih di perlakukan seenaknya dirumah walau aku sudah menghasilkan uang.”

Dia berbicara tanpa melirik sedikitpun kearahku. Pandanganya kosong lurus kearah depan. Matanya begitu sayu berbibir tipis dan berkulit putih. Bisa dibilang dia salah satu wanita yang manis. “kenapa kau tak kabur dari rumah? dan kenapa kau tak laporkan perbuatan murid-murid sekolah kepada kepala sekolah?” Tanya ku penasaran.

“kalau itu sangat mudah pasti sudah ku lakukan dari dulu” jawabnya santai. “lalu kau, kenapa kau jadi hantu?” kini pandangannya ke arahku.

“hya! Aku ini roh bukan hantu!”

“bagiku sama saja” dia sedikit memajukan bibirnya, membuat aku sedikit gemas.

Aku pun menceritakan semua yang aku alami dari mulai kecelakaan yang menimpaku.

“jadi bagaimana ? apa kau mau menolong ku?”. Tanyaku serius

“emm, tergantung!”

“tergantung?”

“tergantu timbal baliknya” dia berdiri dan berjalan meninggalkanku.

“timbal balik?? Emmm… AKU AKAN JADI BODYGUARD MU!!”  terakku padanya yang semakin jauh berjalan. Dia berhenti kepalanya terangkat seperti memikirkan sesuatu. Beberapa detik kemudian dia menolehkan kepalanya ke arahku.

“setuju!” katanya singkat lalu berjalan kembali.

Minho  POV End

~*~

Min ji POV

Aku bangun mengerjapkan kedua mataku dan masih tak bergeming di tempat tidurku

“pagi!” sapa seseorang yang terdengar seperti suara namja. “pagi” sapaku lagi dan kembali menutup tubuhku dengan selimut. ‘Tunggu…’

“kyaa!!!” aku pun berteriak mengingat dikamarku kenapa ada seorang namja?

‘Loh… kenapa tidak ada siapa-siapa? Tapi tadi aku tidak salah dengar kok’

Aku mengedarkan pandanganku keseluruh sudut kamarku hingga berakhir pada tengokan terakhir pada sudut kiri kamarku

“Boo!!”

“kyaaa!!!”

BRUKK!! Aku terjatuh dari tempat tidurku setelah melihat seorang namja mengagetkanku.

“awww!!!”

“gwenchana?”

“kau? Kenapa kau bias di sini?” tanyaku ketus sambil kembali berdiri.

“aku kan sudah bilang akan menjadi bodyguard mu dan akan membantu mu, bukankah kau kemarin sudah setuju”.

“iya tapi tidak usah mengagetkanku segala! Hantu tak beradab!”

“hya! aku ini roh bukan hantu! Dan aku sangat beradab”

“aku tak peduli” aku pergi keluar kamar dan mengambil minuman di kulkas.

“emm, kemana orang tuamu?”

“bukan urusanmu!, lagi pula kenapa kau bisa tau rumahku?huh?” tanyaku kembali ketus.

“akukan roh, jadi bisa pergi kemana pun yang aku suka oh ya akukan sudah jadi bodyguardmu tapi aku belum tau namamu, minho” katanya sambil menjulurkan tangan.

“baru kali ini ada hantu mengajakku berkenalan seperti ini, berasa seperti berkenalan dengan manusia. Ternyata hantu jaman sekarang gaul juga”  balasku pelan tapi sepertinya terdengar oleh makhluk satu itu.

“hy…” kata-katanya terhenti begitu aku potong  “Min ji, Shim min ji” aku menaruh gelas dan kembali kekamar mengambil handuk dan bergegas mandi.

“Min ji? nama yang bagus” sahutnya pelan tapi masih terdengar olehku. “baiklah nona Shim Min Ji aku akan melindungimu mulai dari sekarang” aku sedikit terkekeh mendengar perkataanya, sambil mengepalkan satu tangannya di depan dada bak seorang pahlawan yang ingin perang.

“hya! Kau mau apa?!!” Tanya ku begitu atu  dia mengikutiku.

“aku kan ingin melindungimu.” Jawabnya polos.

“aku tau, tapi aku ingin mandi kau kira aku anak kecil tidak bias mandi sendiri? Sudah sana pergi!!”

~*~

Di sekolah minho masih mengikutiku dari belakang, dan sepertinya aku harus mulai terbiasa. Kadang dia berlari kecil mendahului ku dan mempersilahkan aku lebih dulu, contohnya masuk kedalam kelas. Walau Cuma aku yang dapat melihat minho, tapi ini yang lebih baik.

Tak henti-hentinya ku kembangkan senyumku  melihat tingkah minho di kelas kadang dia duduk diatas meja guru bersikap sebagai raja. Atau mengikuti gerakkan-gerakan guru yang sedang menerangkan alhasil ketika murid yang lain tertidur karena pelajaran membosankan aku malah sibuk memperhatikan minho yang selalu berbuat aneh di dalam kelas ‘berguna juga makhluk satu itu’ kataku sambil terkekeh dalam hati.

~*~

Bel waktu istirahat pun baru di bunyikan, dan aku tau aka nada yang sesuatu tang terjadi.

“kau kenapa? Wajahmu di tekuk begitu.?” Tanya minho padaku

“hya! Sebentar lagi kelompok wanita menyebalkan di sekolah ini akan datang, dan pasti akan menyuruhku macam-macam”  jawabku dengan serius.

“serahkan saja padaku” jawabnya enteng dan berjalan ke pintu kelas berdiri tepat di samping pintu.

“bilang padaku kalau mereka datang” titahnya sambil berdiri melipat kedua tangannya didepan dada. Aku yang mengetahui kedatangan mereka memberikan aba-aba pada minho  entah apa yang ingin dia lakukan.

Dan ketika Jessica orang yang ku maksud bersama teman-temannya berjalan menghampiri kelasku dan…

BRAKK!

Pintu di tutup dengan keras oleh minho yang aku yakini membuat Jessica terjatuh dengan keras kelantai. Aku terkekeh.

“hya!!” pintu terbuka terlihat wajah Jessica yang merah, dan wajah yang sangar.

“siapa yang menutup pintunya??!!” semua diam aku pun ikut diam. Jessica mulai berjalan kearahku.

Tapi…

BRUKK!!

Kaki minho menghalanginya, membuat Jessica kembali terjatuh. Semua murid di kelasku mentertawakannya begitu pula aku.

“hyaaa!! Diammm!!” terlihat Jessica mulai emosi.

“unnie, percaya padaku kalau kau lebih mendekat, jatuhmu akan semakin parah” aku menasehatinya dengan sedikit meremehkan tetapi sepertinya ia tak mau percaya benar saja baru Jessica melangkahkan kakinya minho mendorong bangku kearah yeoja centil itu.

BRAAK!!

“aww!!”

“akukan sudah bilang!~ ahahahaaa”

~*~

“tadi itu serukan?” tanya minho yang mengedipkan sebelah matanya. Aku yang dari tadi memang masih tertawa pun berhenti “ya… lumayanlah” jawabku santai.

“sekarang kau yang membantuku”

“mwo??”

Min Ji POV End

~*~

“Itu kau?” Tanya min Ji pelan di balik pintu ruang VIP sebuah rumah sakit.

“aku sudah bilangkan, aku ini roh. Bukan hantu” balas minho yang ikut mengecilkan suaranya.

“sudahlah itu tidak penting”

“lalu bagaimana cara agar aku dapat kembali ke tubuhku?”

Min ji merubah posisinya kini dia bersender di dinding rumah sakit, sambil memikirkan sesuatu.

“katamu hari ke tujuh pada saat matahari tenggelam? seketika itu juga waktumu telah selesai untuk memperbaiki semua?” Minho  mengangguk tanda meng-iyakan.

“wae? Tanya minho ketika melihat raut wajah min ji yang berubah.

“mungkin aku tau arti kata ‘memperbaiki’ , memperbaiki semua. Memang kau pernah melakukan apa sebelum ini? Atau ada hal yang belum kau ceritakan padaku?” min ji menatap sesosok makhluk di hadapannya itu dengan pandangan mata yang penuh arti. minho pun terdiam seakan baru menyadari sesuatu.

~*~

Masih dalam keadaan hening di bangku taman rumah sakit tidak ada salah satu dari mereka yang berani membuka pembicaraan, seakan bongkahan batu seperti menyelip di kerongkongan masing-masing membuat salah satu dari  mereka tak bisa  mengeluarkan sepatah kata pun. Min ji yang mulanya tak henti mentitah seorang yang sekarang mengaku bodyguardnya itu juga tak henti menelan ludahnya sendiri, tak berani mengeluarkan satu kata pun melihat minho tak seperti biasanya sosok makhluk yang berbeda darinya yang ceria dan dapat membuatnya tertawa sepanjang hari, dapat berubah seserius ini dengan tatapan mata yang tajam kedepan kening berkerut bak memikirkan sesuatu yang amat di sesalinya.

“sekarang aku tau,” minho mulai mengeluarkan suara dengan lirih dan yang di yakini pula hanya min ji yang dapat mendengar suara itu. Kini padangan min ji berbelok kepada sosok yang duduk di sampingnya itu meski dalam jarak yang tidak dekat min ji mulai memperhatikan setiap detail kata yang akan keluar dari bibir minho.

“aku terlahir di tengah keluarga kaya, tanpa ada saudara yang harus aku panggil nuna atau hyung dan tanpa seseorang yang aku panggil sebagai saeng. Hidupku dari kecil hanya di hiasi perhatian orang-orang rumahku yang biasa memanggilku dengan sebutan ‘tuan muda’ dan siap kapan saja ketika aku butuhkan. Sedangkan orang tuaku? Sibuk dengan pekerjaan mereka, saat aku berulah untuk mendapar perhatian mereka, mereka hanya menuruti keinginanku dan memfasilitasiku dengan pelayanaan mewah, mereka hanya bilang itu ungkapan kasih saying mereka,ch.”

Min ji terus menetralisir setiap kata yang terbentuk dari bibir minho dengan seksama, dan sesuatu yang baru dia simpulkan bahwa minho adalah orang yang kesepian.

“suatu hari aku bertengkar hebat dengan  mereka, kami sama-sama dilanda emosi saat itu hingga aku putuskan untuk tinggal tidak bersama orang tuaku melainkan bersama beberapa pelayan rumahku. Itulah sebabnya aku sering berulah disekolah, dan aku baru sadar banyak murid sekolah yang sakit hati karena ulahku terhadap mereka yang seenaknya, terlebih lagi sahabat-sahabatku… hhhh~~”

Helaan nafas terakhir minho seakan menandakan betapa dia menyesali semuanya.

“dan sekarang aku tau apa yang harus aku perbaiki.” Pandangan minho yang tadinya kosong dan lurus kedepan kini berubah menghadap min ji. Min ji hanya membalas pandanagan mata minho dengan sebuah senyuman, seakan senyuman itu memiliki arti dan berkata ‘itu berita bagus, kalau kau memang tau apa yang harus kau lakukan’

~*~

“kalau memang tujuh hari, berarti kau sudah menghabiskan waktu dua hari. Dan sekarang hari ketiga berarti kau Cuma punya waktu empat hari lagi” kata min ji sambil memasukan keripik kentang ke dalam mulutnya.

“sinjja? Berati kita harus bergerak cepat” balas minho sambil mengelilingi setiap sudut kamar min ji.

“mwo? Apa ini album TK?” minho mengambil album yang terdapat di rak buku sebelah meja belajar min ji. Dengan perlahan membuka tiap lembar ketras yang tertempel banyak foto di setiap sudutnya.

“hya!!” mengetahui album pribadinya dilihat min ji berusaha mengambil tapi sia-sia.

“eits, tida bisa!” elak minho.

“kau ini hantu yang paling usil yang pernah aku kenal, sekarang kembalikan albumku!!!!”

“kya~~~ Shim Min Ji… dulu pipinya tembem dan menggemaskan berbeda sekali dengan yang sekarang”

“KYA~~ KEMBALIKAN!!”

“min ji kau berisik sekali!!” tiba-tiba suara ibu min ji berteriak dari luar kamar.

“NE, MIANE!!!! Sekarang kembalikan albumku” min ji berteriak membalas ibunya dan kembali bersuara kecil. Kemudian merebut album miliknya “lain kali jangan menyentuh barang yang bukan milikmu! Ara?”

Setelah memasukan kembali buku albumnya ketempat semula min ji bersiap untuk tidur.

“sudah aku mau tidur, lebih baik kau pergi dan rencanakan apa yang akan kita lakukan besok” Min ji menyelimuti dirinya dan mulai memejamkan matanya. Dan tanpa disadari min ji minho ternyata masih tak beranjak dari tempatnya. “aku tidak akan meninggalkanmu minji” katanya sangat pelan. Junhyung berjalan kebalkon kamar min ji menumpukan kedua tanganya pada penyangga balkon. Menatap langit yang hanya sedikit bertaburan bintang itu.

“Tuhan, kalau memang ini caramu untuk menegurku, aku akan menerimanya. Dan semoga ini juga menjadi maksudmu untuk mempertemukanku dengan min ji”

Minho kembali masuk. Entah kenapa saat melihat min ji tertidur perasaanya sangatlah tenang.

“terimakasih telah bersedia menjadi malaikat penolongku.” minho mengecup kening min ji yang sedang tertidur pulas.

“aku bukan takut tak bisa kembali, melainkan takut jika aku gagal untuk memperbaiki semuanya”

~*~

“woah~~ ini rumahmu?” kata min ji dengan kagumnya.

“ne, sudah sana masuk. Jadi menolongku tidak?”

“tapi kalau aku kenapa-kenapa bagaimana?”

“tenangkan ada aku”

“ch,baru kali ini aku di suruh mengandalkan hantu!” min ji berusaha mengecilkan suaranya agar tak didengar minho tapi sia-sia.

“apa katamu barusan?” balas minho ketus.

“ayo kita masuk kedalam” elak min ji dan langsung berlari kecil mendahului junhyung.

~*~

Ting…Tong…

Min ji memencet bel, entah kenapa jantungnya berdegup sangat kencang.

Kleekk !

Terbukanya pintu dengan di iringi sapaan dari seorang pelayan wanita.

“ne, annyeong anda cari siapa?” tanyanya dengan sopan.

“annyeong, aku mencari pemilik rumah ini”

“sudah buat janji?”

“janji? Aku, belum buat janji” jawab min ji ragu ‘tentu saja aku belum buat janji bertemu saja aku belum pernah’ kata min ji dalam hati.

“siapa?” tiba-tiba sesosok wanita paruh baya namun masih kelihatan cantik dan anggun muncul dari dalam.

“Nyonya, begini ada yang ingin bertemu tapi belum memiliki janji”

“nugu?” Tanya wanita itu.

“annyeong  aku Shim Min Ji, aku hanya ingin bicara sebentar”

“Lee kau masuk saja. Sepertinya aku kedatangan tamu baru” kata waita itu pada pelayannya.

“ayo silahkan masuk” tawarnya kembali.

‘‘ibumu ramah ya?” sahut min ji pada minho dengan nada berbisik. Sedang minho masih ikut terus dibelakang mereka.

“baiklah bagaimana kalau kita langsung to the point?” kata wanita paruh baya itu setelah mereka duduk di ruang tamu.

Min ji menarik nafas sebentar untuk memulai pembicaraan. “sebenarnya ini ada hubungannya dengan anak anda minho”

~*~

Min ji POV

Entah kenapa setelah aku menyebut nama minho suasana tiba-tiba saja berubah. Ibu minho sedikit mengangkat alisnya dan dengan tenang meminum teh yang memang sudah di siapkan untuk kami berdua.

“sudah ku duga anak muda. Kenapa? Dia berulah lagi? Atau jangan-jangan dia menghamilimu?”

Min ji membelalakan kedua matanya mendengar ucapan ibu minho.

“ani.. bu..bukan itu kenapa ajhuma berfikiran seperti itu? minho bukan anak yang seperti itu” elakku. “apa ajhuma tidak tau? sekarang minho berada di rumah sakit, dan sekarang mengalami koma”

Ibu minho terdiam tapi sedetik kemudian tertawa terbahak. Ibu minho sangat aneh kenapa tidak khawatir sedikit pun?

“ajhuma tidak khawatir?” tanyaku.

“hey nak, kau di bayar berapa oleh minho? Untuk menipuku. Dan kata kan padanya kalau memang itu yang terjadi, aku tidak peduli” balasnya sambil terkekeh kembali.

Aku saja yang mendengar hal itu, hatiku terasa sakit bagaimana dengan minho? ‘tunggu! Junhyung? Dimana dia’ aku tidak merasa keberadaanya. Aku semakin geram.

BRUUK!

Aku memukul meja dengan keras. Dan berdiri “dengar ajhuma, anda sangat keterlaluan!!, aku tidak pernah berbohong!! asal ajhuma tau sekarang minho sedang berada antara hidup dan mati!! Dia sekarang hanya sedang berusaha memperbaikinya, aku datang kesini hanya untuk mewakilkannya memita maaf atas semua yang dia lakukan selama dia tinggal bersama anda, dia hanya ingin anda memperhatikannya walau hanya sebentar!!. minho dia hanya kesepian!! semua ulahnya karean dia ingin di perhatikan oleh kedua orang tuanya, tidak sadarkah anda? minho menyayangi anda dan suami anda sebagai orang tuanya!! Maaf kalau aku terlalu lancang mengatakan ini, tapi asal anda tau minho hanya memiliki waktu satu minggu dan sekarang hari keempatnya!! aku hanya ingin anda tidak menyesal ketika anda benar-benar kehilangan minho. Terimakasih atas waktunya, permisi”

Aku keluar dengan sedikit berlari. Emosiku memuncak setiap sudut kata pada kalimat itu. Terserah ibu minho mau menilai apa, sekarang yang terpenting menemukan minho.

“minho! Di mana kau?” aku berjalan terus, mencari keberadaan minho. Aku benar-benar tidak bisa merasakan kehadiranya.

Entah mungkin karena aku tidak melihat jalan, aku menabrak seseorang.

“aww!!”

“ah~ mianhe, gwenchnayo?” tanyanya.

“ne, gwencahana” kataku sambil berdiri dan menepuk- nepuk bajuku yang kotor.

“kau! Murid Inha jugakan?” Tanya namja itu padaku.

“kenapa kau bias tau?” Tanya ku ragu.

“siapa yang tidak mengenal yeoja-“ sepertinya aku tau dia ingin bicara apa, ‘yeoja aneh’? “mian, aku tidak bermaksud” elaknya.

“gwenchana, akukan memang  yeoja aneh” sahutku, tapi kulihat dia malah menjulurkan tangannya.

“kibum? Kau?”

“min ji” kataku sedikit ragu sambil meraih tangannya untuk bersalaman.

Kami pun melepaskan jabatan tangan, “ngomong-ngomong kau sedang apa? Sepertinya sangat cemas”. Celaka! Aku lupa akukan sedang mencari minho.

“aniyo, sudah yah aku buru-buru, daaahh” kataku sambil melambaikan tangan pada kata terakhir.

‘minho dimana kau?’ aku terus berlari tunggu aku ingat sesuatau. Aku pun terus berlari dimana aku yakin akan menemukan minho.

~*~

Kleekk!!

Ku buka pintu ruangan kamar VIP itu dengan hati-nati agar tak membuat keributan. Kamar yang terdapat tubuh minho. Suara mesin yang membantu mendeteksi detak jantung dan juga suara alat bantu pernapasan tak luput dari pendengaran.

“minho?” panggilku ragu. Dan benar saja aku menemukanya, dia duduk pada dinding kamar menenggelamkan kepalanya diatas lutut yang ia dekap itu.

“aku tau mereka tidak menyayangiku”. Ya Tuhan apa aku bilang pasti dia sangat terluka.

“minho… aku-“ belum selesai aku menyelesaikan kalimatku pintu kamar terbuka. Aku membalikan badan bersamaan dengan masuknya beberapa namja.

“siapa kau,?” Tanya salah seorang namja dengan lugas. Sepertinya ada beberapa yang ku kenal ada kibum dan ada namja yang beberapa waktu lalu menabrakku, dan yang lainnya aku tidak begitu tau.

“kalian siapa?”. Aku berbalik bertanya ‘oh min ji itu pertanyaan bodoh’

“tentu saja kami sahabat minho, kau sendri?”. Aku seaakan sulit untuk berbicara rangkaian kalimat pun tak muncul di otakku.

“min ji?”.

“kibum? Kau kenal dia?”

“tentu dia temanku”.  ‘oh tuhan terimakasih, kau memberiku penolong’

Min Ji POV End

~*~

“kibum? Kau kenal dia?” Tanya jonghyun dengan penasaran.

“tentu, dia temanku” jawab kibum. Senyum pun sedikit mengembang di wajah min ji.

“lalu kenapa dia bisa ada disini?”. Kini pandangan kibum beralih pada min ji karena dia juga tidak tau kenapa min ji bisa di ruangan ini. Min ji ikut menatap kibum seakan berkata ‘aku mohon tolong aku’. Seakaan mengerti arti tatapan itu kibum berkata “tadi aku yang menyuruhnya kesini” jawabnya. Ke legaan terpancar wajah min ji, di sertai senyum terimakasih.

“oh” sahut jonghyun. “kalau begitu silahkan duduk” lanjutnya. kibum menghampiri tubuh minho  yang di ketahui sedang koma itu. “kawan aku datang” di genggamnya tangan dingin minho semua mata tertuju pada kibum raut kesedihan tergambar di masing-masing wajah. Taemin  menghampiri kibum  mengusap tangannya pada punggung kibum “tenanglah semua akan baik-baik saja” ucapnya kembali. Min ji yang melihat ke jadiaan itu ikut terbawa suasana yang menyedihkan itu.

~*~

“jadi kibum sahabatmu yang kau bilang itu?” Tanya min ji pada minho. Mereka berdua tak henti menatap langit yang terlihat penuh bintang. “aku kira dia dendam terhadapku, karena aku telah menghancurkan perusahaan ayahnya ternyata tidak, sekarang aku menyesal”.

“mungkin itu yang juga harus kau perbaiki juga” kata minji dengan nada yang tenang.

“ini adalah pengalaman ku yang teraneh dan sulit di percaya, terpisah dari tubuhku sendiri” kata minho  di selingi tawa renyahnya.

“ini juga pengalaman teranehku, setiap hari di katai orang sinting karena berbicara sendiri” min ji mengerucutkan bibirnya.

“hya! Kau kan bicara padaku jadi kau bukan orang sinting” balas minho sambil mengacak-acak lembut rambut min ji dan kembali menopang tanganya di atas balkon.

“oh ya, kau bilang kau dan teman-temanmu itu popular di sekolah, kenapa aku tidak tau?”

“tentu saja kau tidak tau, kerjaanmu setiap harikan hanya mondar-mandir perpustakaan, ‘gadis kutu buku’ ” minho menjulurkan lidahnya.

“hya-“

“MIN JI! ADA TAMU UNTUKMU!” terdengar suara ibu min ji dari luar kamar.

“ada tamu, sana cepat temui”

“ch, siapa yang bertamu malam-malam begini?” min ji beranjak dari balkon kamarnya menuju ruang tamu yang berada di lantai satu. Karena penasaran ingin lihat siapa tamu min ji, minho mengikuti dari belakang ‘awas saja kalau tamunya namja’ ucap minho dalam hati.

“annyeong,” sapa seorang namja pada min ji yang baru selesai menuruni anak tangga.

“kibum ssi?”. ‘kibum sedang apa dia disini?’ kembali minho berucap dalam hati.

“silahkan duduk” tawar min ji ramah.

“ne, oh ya aku bawa sedikit oleh-oleh”. minho memberikan sebuah bingkisan berukuran sedang.

“ah~ gomawo” balas min ji dengan senyum mengembang. “ck, aku bisa beli lebih dari pada itu” kata minho  yang ikut duduk di samping min ji. Sedangkan min ji hanya pura-pura tidak mendengar.

“oh ya, tadi kau kenapa bisa di ruangan minho  apa kau kenal minho?” pertanyaan kibum membuatnya sedikit kaget.

“ani, aku-“ sejenak min ji berfikir “bilang saja salah ruangan” ucap minho pada min ji yang sedang berfikir.

“aku tadi salah ruangan”

“oh~”

Percakapan pun dimulai, perbincangan sangat seru sejenak mengundang tawa membuat minho kian ceburu.

“sudah suruh dia pulang, besokkan kau masih harus membantuku” kata minho tepat di telinga min ji.

“kalau begitu aku pulang dulu”

“kenapa buru-buru?” . “hya! Itu malah bagus” sergah minho.

“ah ~tidak apa lagi pula ini sudah larut. Aku pamit dulu annyong”

“ne, hati-hati dijalan” lambaian tangan min ji menandakan pemrtemuan telah berakhir.

~*~

“tepat hari ketujuh ketika matahari mulai terbenam  disitulah akhir dari segalanya.”

“lalu bagaimana tepat di hari ketujuh aku dapat kembali!!”

“tepat di hari tersebut tunjukanlah bahwa kau telah memperbaiki semuanya”

“maksudmu? Aku tidak mengerti”

“saat semua berharap, saat semua meminta, saat semua menyadari, saat semua ikut menerima, dan saat semua hadir untuk menyaksikan”

Sesosok yang berjubah putih itu menghilang bersama cahaya yang menyilaukan.

“hya! Tunggu! Aku masih tidak mengerti maksudmu!!!” minho terus berputar mencari sesosok yang baru di temuinya itu.

“hya~~~”

~*~

“kya~~” aku terduduk di atas tempat tidur. “ternyata Cuma mimpi.” Sergahku.

“kau kenapa? Mimpi buruk?” Tanya minho tiba-tiba.

“mungkin!, aku tidak tau mimpi buruk atau baik. Yang jelas ini mengenai mu” Balas min ji sambil melirik tajam minho.

“mengenaiku?” min ji mengangguk sedetik kemudian bangkit dari tempat tidur. “kau mau kemana?” Tanya minho.

“ya, sekolah kemana lagi?” aku mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Sebenarnya aku sudah puya rencana besar, walau itu sulit akan dikatakan berhasil dan tentu saja kan mempermalukan diriku sendiri tapi akan tetap ku lakukan.

~*~

Aku berjalan menyusuri koridor sekolah tentu saja bersama minho yang terus ikut berjalan di sampingku. Kini aku dapat bernafas lega karean saat ini tidak ada lagi yang berani mengganggu ku meledeku sebagai ‘yeoja aneh’ atau apapun panggilan yang aku tidak suka  karena sekali mereka melakukan itu minhoku pasti akan member pelajaran pada mereka. Dan itu membuatku tak hentinya mengembangkan senyum di bibirku.

“kenapa kau tersenyum terus sih?” Tanya minho heran.

“kenapa? tidak boleh?” jawabku ketus.

“tidak apa-apa sih, kau juga terlihat lebih manis kalau tersenyum” goda minho aku mengerucutkan bibirku untuk menutupi wajah merahku.

Kami duduk di bangku taman sekolah seperti biasa. “minho!” panggilku lirih.

“emm?” kini kami saling berpandang.

“kalau suatu saat kau dapat kembali apa kau masih ingin berteman denganku?”. Sepertinya minho terlihat bingung ‘min ji ternyata kau bodoh sekali, kenapa kau menyai itu?’ Ucapku dalam hati.

“min ji!!” tiba-tiba dari arah samping ku lihat kibum melambaikan tangan ke arahku dan kemudian menghampiriku.

“bagaimana? Jadi tidak?” tanyanya.

“tentu” jawabku semangat.

“kalau begitu aku tunggu di depan sekolah, bye”

“ne, bye” aku pun memperhatikan punggung kibum yang semakin menjauh.

“kau mau kemana dengannya?”

“jalan!” jawabku semangat. “oh ya dan kau tidak usah mengganggu ku, kau tunggu aku saja di rumah”

“tapikan aku bodyguardmu, kalau ada apa-apa bagaimana?”

“kan ada kibum” jawabku kembali dengan senyuman.

Min ji POV End

~*~

Minho POV

“kemana  dia jam segini belum pulang” entah kenapa hatiku begitu cemas mengingat hari telah malam sedagkan min ji belum tiba di rumah. Kenapa pikiranku selalu menganggap kibum tidak baik, aku tau dia dari dulu. Tidak! Min ji bukan gadis bodoh. Tidak! dia memang bukan gadis bodoh! Tapi gadis polos, celaka. Pikiranku semakin menjadi sebelum pintu kamar terbuka.

“hya! kau dari mana saja?” Tanya ku tegas.

“kau lupa atau bagaimana? Akukan habis jalan dengan kibum, sudah aku lelah”

“hya! Kau menyukainya?” kini pertanyaan itu muncul dari bibirku sendiri.

“dia baik, ramah, siapa yang tidak menyukainya?.” Balas min ji yang menghempaskan badannya di kasur empuk miliknya dan  mulai memejamkan matanya.

“hya! Kau tidur! Hya! Jangan tidur dulu!” melihat min ji tertidur aku pun berjalan kearah balkon.

“sebegitu lelahnyakah dia? Ch”

Minho POV End

~*~

“la..la…la…” min ji berjalan kesana kemari senyuman pun tak berani luntur dari wajahnya yang terlihat lembut itu.

“kau kenapa senang sekali?” Tanya minho curiga.

“ammmm, aniyo aku hanya akan pergi dengan kibum nanti”

“semakin,hari semakin kau lupa denganku. Bahkan mungkin tinggal berapa hari lagi waktuku kau juga mulai tak peduli” minho pun beranjak pergi dari bangku taman sekolah yang ia duduki bersama min ji.

Min ji pun memukul kepalanya sendiri seakaan ia telah tersadar akan sesuatu. “minho tunggu!! Mianhe,” min ji pun berlari mengejar minho.

BRUKK!

Akibat min ji berlari dia menabrak seseorang.

“min ji?”

“kibum ssi? Kenapa kau disini?” min ji merasa sedikit curiga.

“aku memang kebetulan lewat sini, lalu kau?” kibum malah balik bertanya.

“ani, aku hanya… e… sedang buru-buru… iya aku pergi dulu… annyong” min ji melambaikan tangan lalu pergi.

~*~

Min ji POV

“minho kau dimana?” seharian lebih aku mencarinya . aku mulai panic tak terlihat sedikit pun tanda-tanda ke hadirannya.

“minho aku mohon tunjukan dirimu”. Hari semakin sore, entah kenapa fikiranku mulai tak enak.

Kini langkahku terhenti pada sebuah ruangan yang sedikit gelap. “minho!! Kau kenapa?” aku pun berlari dan berjongkok di hadapannya. Terlihat dadanya begitu sakit juga seperti sesak bernafas. “hya! Kau kenapa?” Tanya ku panic dan mulai mengeluarkan butir air mata. “mo..mollayo… min ji tolong… jebal… aku belum mau pergi…” kata minho tersedat.

“aku tau, tapi ini belum waktunya bukankah kau masih punya kesempatan satu hari lagi? Aku mohon kau bertahan”. Rasa sesak ikut melandaku karena tanpa ku sadari bulir air mata itu telah berubah menjadi aliran yang begitu deras.

Tanpa berfikir panjang aku langsung berlari, secepat yang aku bias. Kakiku seakan mulai mengalirkan listrik yang tibul akibat perintah dari otakku. Berlari dan berlari, hanya itu yang aku fikirkan hingga akhirnya aku menghentikan langkahku tepat di sebelah ruang kamar VIP di sebuah rumah sakit. Ya, aku pergi ke rumah sakit tempat minho dirawat mungkin lebih tepatnya tubuh minho dirawat.

Dengan cepat aku mendekat. Suasana agak ramai terlihat keempat teman minho beserta orang-orang yang berpakaian seragam sebagai pelayan dan orang kantoran berkumpul disana. Dengan cepat aku berlari menlihat apa yang terjadi.

“min ji? Kenpa kau di sini?” kali ini aku tidak menggubris pertanyaan kibum. Aku berusaha mengatur nafasku sambil melihat apa yang sedang terjadi. Oh Tuhan, aku melihat para dokter melepas alat bantu pernapasan juga alat bantu yang tertempel pada tubuh minho dengan perlahan.

“andwe~ apa! Apa yang kalian lakukan!!! Jangan!! Jangan!!” Aku berteriak histeris sekarang aku tau kenpa minho seperti tadi. Dengan cepat aku menerobos masuk.

“andwe!! Jangan sentuh dia!! Dia kesakitan. Menjauh darinya!!” aku mendorong para tenaga medis yang tengah melakukan kegiatannya itu hingga mereka menajuh. Air mata mulai deras dari pelupuk mataku dan berusaha memasang kembali semua alat bantu yang mulai di lepaskan itu. “maaf anda siapa?! Apa yang anda lakukan?!” Tanya salah satu dokter kepadaku.

“harusnya aku yang Tanya!! Apa yang kalian lakukan?!! Kalian ingin membunuhnya?!!!”

“min ji apa yang kau lakukan?!!” tiba-tiba tangan jonghyun menarik tanganku.

“kau tidak lihat? Mereka ingin membunuh minho?!!” kataku yang tak kalah kerasnya.

“ini sudah keputusan kami! Kami akan melepas minho sekarang sudah tidak ada harapan!!”

“kalian salah!! Kalian salah masih ada satu hari!! Masih ada satu hari!!” tangisku benar-benar memecahkan suasana.

“apa yang kau maksud!! Lebih baik kau pergi! Ini juga bukan urusanmu!!” kini taemin yang berbicra.

“aku?! Ini juga urusanku!! Dia…” aku menunjuk minho di tempat tidurnya tanpa memandang kearahnya. “dia… berurusan denganku…hhh~ minho… aku mengenalnya.. LEBIH DARI KALIAN TAU!! Percuma kalau aku jelaskan, orang-orang seperti kalian tidak akan dan tidak pernah mau tau dengan urusan ini!!!…” rasanya ku tak dapat menopang tubuh ini lagi aku mendaratkan lututku dilantai sambil menundukan kepalaku. “dia masih ingin kembali…hh~ percayalah padaku aku mohon..hh~ waktunya hanta tinggal satu hari… dia sakit… aku mohon hentikanlah semua ini… hh~ waktunya akan habis… aku… tidak hh~ ingin kehilangan minho…” kataku lirih masih sambil berlutut dan meneggelamkan kepalaku. Beberapa detik kemudian suasana hening, kulihat ada seseorang berjongkok di hadapanku berusaha menyamakan memandangku.

“kalau aku percaya… apa kau dapat menceritakan semua” jinki itulah namanya, sosok namja itu berusaha terlihat bijak.

Aku berusaha menarik nafas “selama dia koma, dia… bersamaku tapi bukan sebagai manusia… tapi sebgai sesosok roh” raut wajah kaget menyertai ceritaku yang baru dimulai itu. “mungkin Tuhan memberikan kesempatan padanya … di berinya waktu tujuh hari untuk memperbaiki semua… tau kah kalian apa yang harus di perbaikinya?” tangis ku sedikit mereda. “dia hanya butuh penerimaan maaf dari kalian untuk hidupnya selama ini, yang tak begitu baik. Mungkin kalian sudah tau bagaimana dia, tapi itu semua hanya dasar dari sosoknya yang butuh perhatian. Dan satu yang sebenarnya sulit ia katakan… dia juga menyayangi kalian sebagai sahabantnya, menyayangi pelayan-pelayannya yang telah setia terhadapnya… juga dia ingin katakana dia rindu orang tuanya… dan aku harap kalian mau membantu agar rohnya kembali pada tubunya dan dia akan bagun dari komanya”.

Selesai adalah kata yang mampu di ungkapkan, semua sudah mengetahui entah sehabis ini aku akan dikatakan tidak waras atau apapun tapi perasaanku tak ingin aku pungkiri bahwa aku… tak ingin kehilangan minho. Jinki yang mulanya berjongkok kini duduk di lantai kedua tangannya menyentuh kepalanya “ya Tuhan minho” katanya lirih tapi terdengar olehku. Begitu juga yang lain terlihat sangat shock ‘apa mereka percaya padaku?’ .

Kini pandanganku tertuju pada orang-orang yang berpakaian seragam pelayan itu, tak sedikit dari mereka yang mengeluarkan bulir air mata. Pemandangan yang amat mengharukan bagiku.

Min ji POV End

~*~

“lalu apa yang sekarang harus kita lakukan?” Tanya taemin pada ketiga sahabatnya itu.

Tepat mereka tau kejadian yang sulit di percaya tapi memang harus mereka percayai itu, mengguncang batin mereka. “lalu percaya dengan min ji?” Tanya kibum dengan nada datar.

“mungkin sepertinya begitu, aku dengar dia memang anak yang berbeda diantara anak pada umunya, ya seperti melihat apa yang tidak bias kita lihat. Apalagi setelah kejadian kemarin.” Balas jonghyun dengan yakin.

Sebelum sempat mereka melanjutkan pembicaraan mereka lebih lanjut, keributan dari luar kelas mengalihkan perhatian mereka. “ada apa?” Tanya jinki pada ketiga temanya. Dengan cepat mereka beranjak kelur kelas.

“hya! Ada apa disana?” Tanya jonghyun lugas pada seorang siswa yang lewat dihadapannya.

“emm, itu …. yeoja aneh itu, menyuruh kami berkumpul di aula sekolah.” Jawabnya kemudian berlari kembali.

Jonghyun  dan ketiga sahabatnya saling berpandang. “kajja” sahut jinki dan kemudian berlari.

Min ji berdiri di depan semua murid sekolah yang memang sengaja berkumpul “mau apa yeoja aneh itu?”. “paling mau cari sensai saja”. “dasar yeoja aneh”.

Celaan tak henti kunjung, hal itu yang membuat min ji segera memulainya. Di dekatkan wajahnya pada mike  yang telah berada tegak dihadapanya.

“tujuanku mengumpulkan kalian disini… adalah untuk mengajak kalian berharap bersama, minho teman kita yang kita tau sedang berada dalam koma sangat membutuhkan doa dan harapan dari kita jadi…”

“aku tidak mau!!” perkataan min ji terhenti mendengar seorang siswa  memotong kalimatnya. “dia pernah  mempermalukanku di depan seluruh murid sekolah” lanjutnya.

“aku juga! Dia Telah menolak cintaku dengan mempermalukaku di depan semua murid” kini giliran seorang siswa yang berbicara.

“hya! Dia juga telah hampir membuat keluargaku bangkrut!” kini suasana menjadi ricuh. Bermunculan pendapat yang tak selaras membuat minm ji sulit untuk meneruskan.

“AKU TAU!!” suara min ji menggema membuat semua bibir tak membuka suarnaya kembali.

“aku tau, kalian pasti memiliki dendam sendiri terhadapnya, keangkuhannya, ke egoisannya, semua yang dimilikinya membuat kalian takut padanya. Tapi mungkin sekedar kalian tau, Dia tak pernah berniat berbuat seperi itu. Saat dia mempermalukanmu apa setelah itu ada yang berani mengejekmu? apa setelah dia menolak cinta dari mu dia anggap kau sebagai wanita murahan yang kapan saja bisa dia permainkan ? atau ketika dia membuat  perusahaan orang tua mu hampir bangkrut Dan sekarang aku Tanya apa sekarang kau jatuh miskin? Perusahaamu kini tinggal menjadi arang? Atau kini kau jadi gelandangan tapi masih bisa sekolah diseolah mewah ini?huh? tidak kan? Asal kalian tau!! dia juga masih punya hati. Kalian tidak pernah tau dalam hati seseorang jika kalian hanya menyimpulkan dari apa yang kalian lihat dan kalian yakini.” Air mata min ji mulai tak terbendung sedikit-demi sedikit air mata muncul dari pelupuk matanya.

“dia hanya ingin di perhatikan… percayalah” lanjut minji. Min ji pun mendaratkan kedua lututnya ke lantai, matanya mulai menandakan kesedihan mendalam. “minho.. hanya punya waktu beberapa jam lagi, antara hidup atau mati… dia hanya butuh pengharapan, besok sore saat mata hari tenggelam Semau akan menentukan nasibnya, aku mohon berikanlah dia kesempatan untuk memperbaiki semua… hhh~” air mata min ji mulai deras tapi pandangannya tetap lurus kedepan. “tolonglah percaya padaku sekali ini saja hh~ bantulah aku… aku tidak ingin kehilangannya~” min ji tak dapat membendung emosinya untuk menangis lebih dalam kini kepalanya tertunduk.

“aku tau aku tidak berhak menyuruh kalian… hh~ tapi aku mohon ~ sekali ini saja hh~ tolong aku… aku hh~ tak ingin kehilangan minho ku hh~” hening hanya itu yang ada suara isak tangis min ji yang terdengar. Beberapa detik kemudian beberapa pasang derap kaki berlari kearah min ji berada. Jinki, jonghyun, juga teamin berlari kearah min ji yang tengah berlutut. Di dekapnya min ji yang mengis di tengah tatapan pasang seumlah mata di aula Inha School itu.

“aku tak ingin minhoku pergi hh~” ucap min ji yang berada di tengah dekapan ketiga namja yang telah menjadi sahabatnya itu.

~*~

“dari mana saja kau?” tannya ibu minji. “tamu ibu sudah menunggu, cepat ramal dia. Kau tau? Dia itu direktur perusahaan besar” lanjut ibu min ji. Tapi min ji malah tak menggubris, dan terus berjalan ke kamarnya. “hya!! Min ji? Kau tak dengar apa yang ku bilang?”. Min ji terus berjalan “hya! Kau tuli? Ada apa denganmu? Akhir-akhir ini kau bersikap aneh?… min ji!! Jawab ibu!” ibu min ji menarik tangan anaknya berusaha menyadarkan min ji bahwa ibunya sedang bicara padanya. Minji  menatap ibunya dengan tatapn yang penuh arti.

“kenapa? Ibu ingin aku mau apa? Meramalnya? Menentukan nasib perusahaanya?” Tanya min ji denagan lirih. “aku lelah!” min ji berbalik dan pergi ke kamarnya.

“hya! Min hi kau!!” ibu min ji mengambil ancang-ancang untuk menampar pipi min ji.

“tamparlah aku bu… kalau perlu bunuh aku” sahut min ji dengan suara yang parau berusaha menahan air mata. “itu akan membuatku lebih tenang, ibu tau? Selama ini aku selalu menuruti semua mau ibu ketika ibu bercerai dengan ayah dan menikah dengan lelaki tidak tau diri itu, memanfaatkanku sebagai ladang emas kalian berdua, menyuruhku siang malam, aku pun masih bertahan, kerja paruh waktu pun aku lakoni. Dan bodohnya aku masih percaya bahwa Tuhan mengetahui penderitaanku dan Tuhan menyiapkan sesuatu yang indah untukku, tapi aku terlalu lelah bu. Lelah menunggu kebahagian itu. Kalau memang  Tuhan menyiapkan sesuatu yang indah untukku bukan di dunia ini, aku akan mengambilnya di surga, bunuh aku bu… aku mohon” kini min ji tak dapat membendung air matanya kini dia berlutut tepat di depan ibunya.

“aku ingin sekali bahagia, bahagia sebagai manusia pada layaknya. Manusia normal, merasakan kebahagian di waktu remaja mereka. Tapi apa yang aku dapatkan? Apa? Hinaan? Remehan? Uang? Yang bahkan sama sekali tak pernah ku rasakan hasil uang itu. Katakana bu, Tuhan tidak adilkan bu!! Katakana bu~ hh~ aku igin kebahagianku.” Kini min ji duduk kedua tangannya menopang badannya yang terduduk itu, tangisnya pun semakin dalam.

“mi… min ji” ibu min ji juga tak dapat berucap melihat anaknya terduduk dengan air mata yang deras membasahi pipinya.  “kadang aku merasa aku terlahir sebagai anak yang istimewa ternya aku salah, aku terlahir hanya sebagai budak, hh~~ BENARKAN BU?!! LEBIH BAIK AKU MATI!!!” min ji berteriak dan kemudian menarik tangan ibunya dan meletakan kedua tangan ibunya di lehernya. “BUNUH AKU BU!! BUNUH AKU!! MUNGKIN DENGAN DI BUNUH IBU AKU AKAN LEBIH TENANG DAN BAHAGIA!!! Hh~~ hh~~”

Plaakk!

Ibu min ji menampar pipi min ji. “APA?!! APA YANG KAU KATAKAN? AKU DISURUH MEMBUNUH ANAKKU SENDIRI?!!” kini air mata ibu min ji ikut keluar dengan deras, suasana menjadi pecah.

“KALAU ITU YANG KAU INGINKAN!! BIAR KITA MATI BERSAMA!! AKU TIDAK AKAN MEMBIAKAN ANAKKU MENDERITA!! …… Min ji~~ hh~~ ibu tidak tau!! Tidak tau kau tertekan seperti ini, ibu memang salah ! AKU IBU YANG BODOH!! PABBO !! AKU IBU YANG BODOH! KENAPA KAU BIARKAN ANAKMU MENDERITA?” ibu min ji memukul dirinya sendiri air mata terus deras membasahi pipi kini keduanya sama-sama tak dapat membendung emosi.  Min ji berdiri dan berusaha pergi. “min ji  maafkan ibu minji!! MIN JI~~ hhh~~” min ji terus berlari keluar seperti orang yang tak memiliki tujuan.

~*~

Kini dia duduk di pinggir sungai Han, mengapus air mata yang entah kenapa terus mengalir itu. “cepat hentikan air mata itu, aku tidak suka melihatnya!” ucap minho  yang berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Dengan cepat min ji membersihkan wajahnya.

“mwoya?” sahut min ji ketus.

“kau tau ini seperti akhir” ucap minho  yang ikut duduk di pinggir sungai Han. “ini hari akhir bagiku, hari ketujuh tepat ketika matahari yang sedang kita pandangi ini, tak memperlihatkan sinarnya. Dan kau! Mungkin ini puncak, puncak dari semua perasaan yang kau rasakan air mata, tekanan, cercaan, hinaan, semua tumpah hari ini. Apa yang kau harap setelah hari ini berakhir?” minho menatap wajag min ji sambil sedikit tersenyum.

“aku berharap aku masih diberi kesempatan untuk bahagia bersama orang yang aku cintai” jawab min ji datar.

“tapi jika itu tidak dikabulkan?” minho kembali bertanya. Min ji tersenyum, menarik nafas panjang.

“berarti hidup akan semakin sulit, dan aku! Aku tidak mau itu terjadi, aku tak akan biarkan kau pergi” balas min ji tenang.

“apa aku boleh percaya padamu?” Tanya minho penuh harap.

“kita akan lewati ini bersama, aku tidak tau ini akan jadi awal atau akhir dari petualangan yang kita jalani selama ini. Tapi aku merasa kita sudah dapat banyak bekal bukan? Jadi… harusnya aku yang mengatakan ‘maukah kau percaya padaku?’ ”. Pandangan mereka saling bertemu saling melempar senyuman seperti sebuah ikatan yang membuat mereka yakin akan sesuatu pasrah pada keadaan, bukan berarti mengalah pada keadaan.

“tapi bisa aku pastikan ini akhir untuk kalian”. Min ji dan minho berbalik ketika orang yang tak asing meyapa mereka berdua.

“kibum?” min ji berdiri dan berjalan pelan menghampirinya.

“kau, kenapa bisa di sini?” Tanya min ji.

“aku? Karena… aku sudah tau semua.” Balas kibum yang berpaling menatap minho.

“kau?” minho ikut terkaget.

“yap, tepat sekali aku dapat melihat wujudmu.  Dan Aku sudah tau dari awal, perkenalan ku denagan min ji, aku sering mampir kerumanya, megajak jalan, perhatian padanya? Kenapa? Ya tentu karena aku sudah merencanakan ini.”

“kenapa… Kau lakukan ini?” Tanya minho.

“karena aku tak ingin kau kembali.” Jawabnya singkat. “kau sudah terlalu meyakitiku, membuat perusahaan ayahku bangkrut dan dengan gampang kau pergunakan min ji untuk meminta maaf pada semua orang? Kau yang kenapa!” lanjutnya.

“kibum, ini tak seperti yang kau bayangkan aku hanya-“

“menolongnya? Membantunya? min ji dengar, kau tidak pantas membantu orang seperti dia!!” kibum sedikit berteriak dan menunjuk kearah minho.

“aku janji akan perbaiki ini semuanya, ketika aku kembali” balas minho. kibum berlari kearah min ji menahan min ji dari belakang. “hya! Apa yang kau lakukan?” minho terlihat khawatir.

“kau tidak perlu kembali minho, karena aku tidak butuh itu. Kalau kau memang  ingin memperbaiki semuanya tetaplah disini sampai matahari tenggelam” ucap kibum.

“andwe dia harus kerumah sakit” elak min ji.

“min ji apa kau bisa diam?” kibum semakin mengencangkan dekap tangannya di leher min ji.

“jangan sakiti dia!” minho berusaha mendekat.

“jangan mendekat, atau kau mau melihat min ji tenggelam di sungai ini?” tawar kibum.

“aniyo! kibum aku mohon lepaskan dia, dia tdak salah apa-apa!”

“aku tau! Tapi dia telah besedia membantumu, berarti sekarang dia sudah salah!!” bentak kibum. Hari menunjukan bahwa dia akan berubah hari menjadi malam, matahari perlahan turun.

“minho! Aku mohon sekarang kau pergi! Sebentar lagi waktumu habis!” min ji terlihat semakin khawatir.

“tidak ada yang boleh pergi dari sini!!!” bentak kibum. kibum mendorong tibuh min ji ke pinggir sungai membuatnya berdiri tepat dipagar pembatas sungai tersebut, kibum mengeluarkan pistol miliknya dan di arahkanya kea rah min ji. “atau dia akan mati!” lanjut kibum.

“kau gila! Sebenarnya kau kenapa? Jadi berubah begin?” Tanya minho.

“kau, masih tidak sadar? Kau tau aku? Aku adalah anak dari kakak ibumu!! Kau tau ibu dan ayahku membangun perusahaan sendiri karena sudah tidak dianggap sebagai anak semenjak ibumu menikah dengan konglomerat itu, dan dengan gampangnya kau ingin hancurkan perusahaan itu!!!”

“apa? Apa yang kau katakan? Kau bohong kau berbohong!!” kini minho terlihat tidak percaya, “selama ini aku mendekatimu agar aku dapat kembali menjadi bagian dari keluarga. Tapi itu semua berubah, anak egois sepertimu tidak pantas mendapatkan semua yang juga harusnya aku dapatkan!! Sekarang adalah akhir minho, akhir dari segalanya” kibum tersenyum remeh.

Minji pun memandang wajah kibum yang memang sangat dekat itu, dengan jarak yang amat dekat min ji dapat melihat sedikit air mata yang keluar dari pucuk mata kibum seperti tersirat sesuatu dari matanya, matanya yang begitu polos.

Tapi beberapa saat kemudian.

BRUKK!

“tidak ada yang boleh menyakiti anakku!!”

“ibu” sahut min ji. Kibum terkapar akibat pukulan dari balok yang di hempaskan ketubuhnya oleh ibu min ji. “min ji kau tidak apa-apa?” Tanya ibu min ji khawatir.  Ibu min ji ternyata tidak datang sendiri melainkan dengan jonghyun, jinki, dan taemin.

“biar aku yang membawa kibum kalian cepat kerumah sakit, matahari sebentar lagi akan tenggelam” titah  jinki  . “ibu akan disini min ji lebih baik kau cepat pergi”  ibu min ji ikut angkat bicara.

“min ji, kita kerumah sakit kajja!!” jonghyun menarik tangan min ji. “mobil kalian kemana?” Tanya min ji. “kibum sudah merencanakan semuanya, ban mobil kami semua sudah di rusak olehnya” jawab taemin sambil berlari. “kibum?” Tanya minji.

Kemudian Mereka terus berlari “aku lelah” ucap min ji di tengah perjalanan. “ayo cepa sebentar lagi malam!!” jonghyun menarik lembut tangan min ji untuk kembali berlari.

“aku berharap aku masih diberi kesempatan untuk bahagia bersama orang yang aku cintai”

“tapi jika itu tidak dikabulkan?”

“berarti hidup akan semakin sulit, dan aku! Aku tidak mau itu terjadi, aku tak akan biarkan kau pergi”

“apa aku boleh percaya padamu?”

“kita akan lewati ini bersama, aku tidak tau ini akan jadi awal atau akhir dari petualangan yang kita jalani selama ini. Tapi aku merasa kita sudah dapat banyak bekal bukan? Jadi… harusnya aku yang mengatakan ‘maukah kau percaya padaku?’”

“tuhan,kalau memang ini caramu untuk menegurku, aku akan menerimanya. Dan semoga ini juga menjadi maksudmu untuk mempertemukanku dengan min ji”

“terimakasih telah bersedia menjadi malaikat penolongku.”

“aku bukan takut tak bisa kembali, melainkan takut jika aku gagal untuk memperbaiki semuanya”

~*~

“min ji?” ucap minho tiba-tiba.“bagaimana kalau ini akhir pertemuan kita?” lanjutnya.

“yang pasti aku tidak akan pernah melupakanmu” jawab minji.

Min ji POV

Minho  berjalan memasuki ruangan, dan celakanya matahari sudah mulai tak terlihta cahayanya. Aku mengepal kedua tanganku berharap suatau keajaiban akan terjadi.

‘tuhan, tau kah kau saat aku merasa menemukan kebahagianku,  saat aku merasa aman di mana ketika aku berjalan. Itu saat-saat di mana aku bersama  minho. Jangan biarkan ia pergi tuhan. Dia adalah salah satu kebahagianku’

Minho mulai memasuki tubunya sendiri, aku melihat sedikit pancaran sinar tapi aku rasa hanya aku yang dapat melihatnya.

Entah kenapa suasana menjadi gaduh dokter terlihta panic, mencoba memeriksa detak jantung minho . detak jantung minho mulai tidak normal ya Tuhan bagaimana ini?. Air mataku mulai tak dapat dibendung ‘tuhan selamatkan ia’ ucapku dalam hati. Tak hanya aku jonghyun dan taemin terlihat mengeluarkan air mata melihat minho seperti tersiksa. Tak henti alat pemacu detak jantung di tempelkan di dada minho. Detak jantungnya semakin melemah.

“minho!!” terdengar suara teriakan dari arah samping, ternyata itu ibu minho.

melihat keadaan minho  yang terkapar ibu minho tak henti menagis. Bergitu juga sosok ayah minho yang terlihat tegar mulai ikut menagis.

“anakku! Ya Tuhan tolong anakku jangan biarkan dia pergi!!!” teriak ibu minho.

Beberapa saat kemudian ibuku datang bersama jinki dan kibum yang berjalan tertatih, mereka ikut memperhatiakn minho yang sedang di tanangani dokter. “ajumma” panggil kibum. Ibu minho menengok matanya seperti bertanya ‘kau siapa?’.

Kibum menunduk “aku kibum anak dari Anhye kakak anda”

“ya Tuhan kibum!!” tangisan kembali menderu kibum juga ikut menangis kencang di pelukan ibu minho. Air mataku pun juga tak kunjung berhenti ‘minho, aku mohon bertahanlah kau harus melihat ini’

Terlihat suasana makin genting entah kenapa aku malah memejamkan mata  mengangkat kedua tanganku yang menjadi satu kepalan harapan tak henti aku panjatkan tiba-tiba ku rasakan ada yang menyentuh pundakku. Yah, jinki dia ikut memejamkan matanya tepat di sampingku begitu pula kibum, taemin dan jonghyun yang ikut memejamkan mata . lagi-lagi air mata deras membasahi pipiku. “kami semua menyayanginya jangan ambil dia” ucap jinki tentu sambil memejamkan mata.

“aku telah memaafkannya  dan jujur aku tidak pernah membencinya” kini kibum berbicara.

“aku mohon beri dia kesempatan” jonghyun ikut bersuara.

“harapan kami hanya untuknya” yah, kalimat ini di akhiri oleh taemin.

‘minho aku tau kau bias melewati ini bertahanlah aku mohon’

“saat semua berharap,  saat semua meminta,  saat semua menyadari,  saat semua ikut menerima,  dan saat semua hadir untuk menyaksikan”

Jantungku seperti ada yang memukul. rasa sakit yang mendalam,

setelah dokter terlihat angkat tangan.

Ini adalah akhir…

Aku telah kehilangannya…

~*~

Semua mengajarkanku…

Bukan hanya tentang kehidupan…

Tapi juga cinta…

Sebuah cinta utuk kehidupan itu sendiri…

Hidup…

Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan nya…

Trust me…

My life is for you…

~*~

Aku membuka pintu rumah untuk berangkat sekolah, rasa kehlangan ini masih terbesit di hatiku.

Aku membuka pintu rumah dan bersiap pergi.

“aku berangkat” ucapku pada ibu.

“pagi” sapa seseorang yang telah berdiri tegak di hadapanku.

Ya tuhan apa aku tak salah lihat?

“minho, kau?”

“aku tidak akan pernah meninggalkan majikanku begitu saja, aku akan selalu menjadi bodyguardmu” minho memberiku bunga.

Di belakangnya sudah ada  jinki, jonghyun, teamin dan tentu saja kibum  yang melambaikan tangan padaku.

“aku kembali  min ji, saranghe”

Min ji POV  End

Ini adalah akhir tapi bukan akhir dari kehidupan atau akhir dari perjalanan cinta tapi setelah mereka sadari ini adalah sebuah awal di mana mereka bagai terlahir di dunia baru. Min ji gadis lugu tapi mempunyai kemampuan yang melebihi teman-temannya tapi tak pernah di hargai oleh orang – orang di dekatnya kini berubah tak ada lagi hinaan, cercaan,  yang ada hanya senyuman manis dari orang-orang terdekatnya. Seorang min ji yang selalu berkata dalam hatinya “aku percaya bahwa tuhan telah menyiapkan sesuatu yang indah  untukku kelak”  kini dia yakin bahwa Tuhan memang sudah  merencanakan sesuatu yang indah untuknya kebahagian , kepedihan , memang akan selalu menyertai namun hanya satu yang kembali ia yakini dari semua kejadian ini adalah…

Kita tidak pernah bisa melawan takdir…

THE END

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

42 thoughts on “Bodyguard”

  1. Daebakkkk chingu.
    Aq smpe nangis bcany.
    Aplgi dbgian minji, tulus bget kt2any.
    Nyesek nich liat minho m minji.
    Bner2 kren.
    Dbgian trkhrny aq netesin air mta chingu.
    Ngeliat shbt minho n minji yg bgian mejamin mta it.
    Bner2 daebakkk dh.
    Kta2ny menyentuh bget.
    Gtw mw ngmg ap lg.
    Tp msh byk typo chingu.
    Slh stuny Yg shrusny minho mlah jd junhyung.
    Hehehe
    nice epep^^

  2. Sedih bacanya, minho sekarat (˘̩̩̩.˘̩ƪ)bagus deh, ceritanya, aku jd bisa nge-imajinasiin dan bener2 ngebayangin. Daebak!!

  3. Yaaampuuun
    Pas minho balik
    Sumpah beneran nyesek bangettt
    Selama ini yang nolongin minji kan minho
    Sampe akhirnya ibunya minji sadar
    Ibunya minho juga sadar
    Akhirnya dia tau kalo selama ini anaknya butuh perhatian bukan cuma harta sama fasilitas
    Good job author
    Ini keren benerannnnnn kerennn (y)
    Daebak

  4. Huwa keren !!!
    Critanya keren euy, kukira minhonya mati tapi ternyata ih wow g sia2 ikutin kisahnya ff nie keren bgt nice ff d^^b

  5. kereeennn…
    C kibum jahat tp akhirx jd baik jg.
    Kshan minho yg sbnarx bth prhatian.
    Minji sabar n baik bgt nologin minho.
    Critax bgz bgt.
    Author daebakk..

  6. daebak !!!
    bener2 keren !!! sedih pas akhirannya, minho gx di selamatkan taunya gx di sangka balik lagi .. kok bisa ??
    keselnya pas bgian key tuh !! hwaaaaaaaaa!!! rasanya geregetan !!!

    bener2 keren dulu castnya bukan minho ya ??

  7. D A E B A K . . . . 😛
    kereeen…
    Feel.a dappeeeet bgt….
    aQ aja sampe nangis baca.a….:(
    T.T
    kirain Minho.a gak balik lagi,,, trnyata….
    Hhuuffttt..
    Awal.a aQ agak kesel juga sama Umma.a Minho… Masa’ gak peduli bgt sama anak.a…..
    Key juga’….. Dia ngedeketin Minji cuma supaya rencana Minji sama Minho gagal….
    #keseeell bgt
    tpi,, d ending.a semua.a tobaaatt (?)…..

  8. Ini seru bangettttttt
    Aaaa dikirain minho bakalan mati taunya enggak seneng bgtttt
    Nangis baca ff ini huhuhu
    Minji nya baik banget lagi
    Minho jadi bodyguardnya daebak lah(Y)(Y)

  9. Aku nangiiiiiiiiiiiis .
    Hwuaaaaaaa ..
    Daebak !!
    Keren sekali FF ini,
    Sumpah,aku sukaaaaaak ..
    Bener” nangis aku ..
    Apalagi pas di bagian si cew ngumpulin org di aula n dy nta maaf sampek nangis ..
    Sering” bkin ff gni ya thor..

  10. aku suka kata2 yg dibold, hheu
    mengharu biru euy *remes2 tisu*
    ganyangka minji bkl berjuang sekeras itu, jg minho yg punya temen2 kaya mereka
    tp masi banyak typo-nya thor, aku jg nemu nama junhyung di sini, lbh teliti yaa
    aawaww, pokonya keren dah :d

  11. daebak, ini ff terkerenn, ff pertama yg bikin aku nangis bacanya, minho kasiann *nangis di peluk onew #plakk

  12. Cerita FF ini bisa aja d Jdikan FILM !
    Sumpah.
    Khbisan kta” sya,
    dr awal ampe akhr crita’y bner” dpt.

    Standing Applous meriah bt author’y.
    ^0^

  13. Kerenn,, kerenn,, cuma sayang ada beberapa bag. yg nggak dijelaskan secara detail, kayak salah MInho ke ortunya ntu apa? Key sadarnya gimana?? Jadi terkesan endingnya gak ngambang, trus juga kumayan banyak salah ketiknya… But, overall it’s nice.. 😀

  14. huhuhuhuhuhu….
    nangis guling2! kereeeeen banget critanya…
    author daebak!!!!!!
    kalimatnya menyentuh banget, bikin terhanyut dlam ceritanya.
    seribu jempol deh buat author…
    suka, suka, suka 🙂

  15. daebak! daebak! 4 jempol buat author!

    aku jadi nangis nih thor. tanggung jawab! hehehe ^^ /plaakk

    eh eh eh, minho nya gak jadi meninggal kan ya?

  16. ff ny daebak! author daebak!
    ak sk bgt ma crita ny..
    ad ttg cnta, p’shbtn, n klrg..
    deg2n de pas bgn minho mw blik k bdn ny…

  17. woo…
    daebak!!
    ff pertama yang berhasil bikin aku mewek nih thor..
    >0<

    btw ahirnya minho itu pas balik ke minji udah jadi orang apa belum sih thor?
    kok aku kurang ngeh -____-a
    but overall daebak!!!!

  18. daebak !!!
    keren bgt ceritanya !!!
    Bikin deg-degan aja,untung semua pada percaya …hikz
    sukse bikin aku nangis bombay

  19. OMO! Cerita.a daebak bgt thor!
    Sumpah aku sampe nangis nih baca.a T^T
    si minji sabar bgt yaa.. Jdi org, ckckckckck.. Biar udah d’hina’ d’suruh” en d’bully masih jga sabar..
    Wahh.. Kalau aku mah mungkin udah aku tonjok smua cewe’ yg brani ganggu aku *sokbrani
    ayoo.. dong thor! Buat sequel.a ^^b
    oh.. Iya.. Naega icha imnida, 14 taun
    salam kenal yaa.. Author.. 😀

  20. Wahhhhhh …….
    Author . . Daebak….. AMpe nangis aku bacanya.
    Wah . . MinHo ku pikir dia Mati di sini. Ending yang indah.

  21. DAEBAK BANGET nih FF.
    Sumpah, ni FF paling bagus yang pernah aku baca .
    hehe
    oh iya aku ijin copy di catetanku yah.
    aku bakal tulis ko siapa authornya dan sumbernya .
    😀
    Gomawo …

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s