Sometime – Part 4

Sometime (Part 4)

Genre  : Family, Romance, Angst

Length : Sequel

Rating : G

Main Cast : Lee Jinki, Lee Taemin, Lee Sanghyun

Support Cast : Choi Minho, Kim Keybum, Kim Jonghyun

Author : Mira~Hyuga

A/N : Maaf kalo ff ini amat membosankan karena alurnya yg lambat atau bnyak kkurangan2 lainnya… *deep bow* Minta kritik & saran, ya…! (_._)

PART 4

>>><<<

TAEMIN terdiam di kursinya, di samping tempat Sanghyun. Sepasang mata beningnya tidak lepas menatap Sanghyun yang sibuk dengan sandwich yang Taemin bawa tadi. Satu hal lagi yang membuat Taemin berpikir bahwa Sanghyun memang berbeda. Wanita ini tidak bisa mengucapkan ‘A’ sekalipun.

“Eng~sorry. Sejak lahir.. kau memang.. tidak bisa.. tidak bisa..?” Taemin segera menghentikan perkataannya begitu dilihatnya air muka Sanghyun berubah murung. “Oh~mianhaeyo. Aku tidak bermaksud…” ujarnya lagi dengan wajah yang menunjukkan rasa bersalah. Rasa penasarannya lagi-lagi mendorongnya untuk bertanya seperti itu.

Sanghyun segera tersenyum dan mengibaskan sebelah tangan di depan wajahnya, kemudian melanjutkan memakan sandwich’nya. Lagi-lagi ia berpikir ekspresi yang dibuat pemuda ini sangat lucu.

“Oh~ya, Sanghyun-ssi..! Maaf, kami tidak tahu bagaimana cara memberitahu keluargamu bahwa kau ada di sini. Kami sama sekali tidak mengenalmu. So… your family must be worried.”

Sanghyun, lagi-lagi hanya mengibaskan tangan sembari berusaha untuk menelan habis makanan di mulutnya. Kemudian tangannya bergerak-gerak lagi, memberi isyarat. (Gwaenchana. Terimakasih banyak karena sudah menolongku. Hari ini juga aku akan pulang. Aku tidak mau membuat orang-orang di rumah lebih khawatir.)

Taemin mengerutkan dahinya, kurang mengerti. “Emm~kurasa.. sebaiknya satu kalimat-satu kalimat saja, Sanghyun-ssi…!” katanya dengan senyum polos.

Sanghyun mengangguk mengerti, dan segera melakukannya. Ia membungkukkan setengah tubuhnya yang terduduk menghadap Taemin. (Terimakasih banyak atas bantuan kalian) Ya.. kalian. Meski Sanghyun tidak tahu siapa lagi orang yang membantunya selain Taemin.

“Itu artinya terimakasih?” tebak Taemin.

Sanghyun mengangguk sembari tersenyum. Gadis itu memperlihatkan bahasa isyaratnya lagi; menuliskan kata ‘rumah’ di udara setelah menunjuk dirinya sendiri, seperti yang dilakukannya saat berkomunikasi dengan Kayoung tadi. (Aku akan pulang hari ini)

“Rumah?” Taemin mengerjap-ngerjapkan matanya polos.

Sanghyun mengangguk sembari tersenyum. Lagi-lagi namja ini terlihat lucu.

“Maksudmu… kau ingin pulang?”

Sanghyun semakin semangat menganggukkan kepalanya. Dia mulai merasa kagum. Taemin begitu mudah mengerti setiap isyaratnya, padahal mereka baru saja saling mengenal.

Taemin tersenyum simpul. Diam-diam dia juga merasa bangga pada dirinya sendiri, karena sudah beberapa kali tidak salah mengartikan bahasa isyarat Sanghyun. “Ne, tapi itu nanti. Mungkin besok atau entah berapa hari lagi dokter akan mengijikanmu pulang.”

Sanghyun menggeleng, mengarahkan telunjuknya ke arah lantai. (Tidak, aku harus pulang sekarang.)

“Kau ingin pulang sekarang?” Taemin membulatkan matanya, dan Sanghyun mengangguk. “No… keadaanmu belum benar-benar pulih.”

Sanghyun menggerak-gerakkan tangannya lagi dengan wajah memelas. (Tapi aku bisa dirawat jalan saja. Aku sudah cukup sehat, kau bisa lihat sendiri.)

Taemin menggaruk kepalanya yang tidak gatal, memandang Sanghyun dengan tatapan bingungnya. Kali ini Taemin kurang mengerti isyarat Sanghyun. Tapi dari caranya memberi isyarat, sepertinya yeoja kurus ini tetap pada keinginannya untuk keluar dari rumah sakit ini dan pulang hari ini juga.

Keadaan sunyi sejenak. Sanghyun menunggu Taemin kembali bersuara. “Aku tidak bisa menjanjikan sekarang. Kita lihat saja pendapat dokter nanti..!” ucap Taemin akhirnya. Sanghyun mengangguk dan menundukkan tubuhnya lagi, kembali berterimakasih. Taemin juga mengangguk.

Setelah itu, mereka saling terdiam. Tapi kemudian Taemin terkejut mendapati Sanghyun sedang menatapnya tanpa berkedip, apalagi dengan perlahan gadis itu mendekatkan wajahnya dengan wajah Taemin. Perasaan itu datang lagi. Perasaan yang membuatnya seperti tegang, namun nyaman. Taemin berusaha menghentikannya, namun tidak bisa. Sementara Sanghyun masih terus mendekatinya dan tidak pernah lepas menatapnya. ‘Aah~what’s she doing? Please… stop it!’ batin Taemin agak khawatir.

Sanghyun tampak sedang menelusuri wajah Taemin, terlihat dari kedua bola matanya yang bergerak-gerak.

Kini Taemin harus meremas telapak tangannya sendiri untuk menahan rasa gugup. Ini benar-benar menyesakkan, karena jantungnya terasa bekerja berkali-kali lebih cepat dari biasanya. Jika memang bisa, dia akan segera menjauh untuk menghindari tatapan gadis ini. Sekali lagi, jika memang bisa. Namun apa yang dilakukannya sekarang? Hanya diam di tempat dan tak bisa bergerak sedikitpun, selain berkedip dan bernapas.-___- ‘Relax, Taemin, don’t worry…! Jangan berlebihan..!’ ujarnya dalam hati, memberi sugesti untuk dirinya sendiri, sementara Sanghyun makin mendekatkan wajahnya.

Gadis ini sebenarnya hanya ingin mengamati wajah pemuda di depannya, karena wajah Taemin memang agak berbeda, wajah khas Asia, namun ada sedikit ‘sentuhan’ Eropa. Apalagi Sanghyun sempat menangkap kata-kata bahasa Inggris yang Taemin ucapkan tadi. Bola mata Taemin yang cokelat cerah dan rambut almond, serta kulit putih susu, hidung mancung, kelopak mata agak sipit, bibir merah muda dan bulu mata yang panjang membuatnya terlihat agak berbeda, selain itu, pemuda ini juga… manis? Mungkin… Awalnya Sanghyun mengira Taemin seorang wanita, melihat wajahnya yang manis itu. Tapi setelah melihat jakun Taemin—yang memang mulai muncul—dan mendengar suaranya, tidak diragukan lagi, Taemin memang seorang pria.

Sanghyun akhirnya menjauhkan wajahnya dari wajah Taemin, lalu berbicara dengan isyaratnya lagi. (Apa kedua orang tuamu asli orang Korea?)

Taemin yang masih berusaha mengatur napas dan menstabilkan detak jantungnya tidak menyadari bahwa Sanghyun sedang berbicara padanya, meskipun tatapan matanya berpusat pada Sanghyun sedari tadi.

Merasa tidak diperhatikan, Sanghyun melambaikan tangannya di depan wajah Taemin, hingga membuat Taemin berkedip beberapa kali dan bergegas memalingkan wajahnya ke arah lain sambil berdeham kecil.

Sanghyun memiringkan wajahnya, merasa bingung dengan perilaku Taemin. Kemudian ia meletakkan punggung tangan kanannya di dahi Taemin, karena melihat wajah namja ini memerah sehingga ia mengira Taemin sakit.

“No, I’m fine. Gwaenchanayo.” Ujar Taemin yang langsung mengerti maksud Sanghyun menyentuh dahinya.

‘Sepertinya memang tidak dua-duanya orang Asia.’ Pikir Sanghyun takjub, melanjutkan pemikirannya yang tadi, tentang orang tua Taemin.

>>><<<

“Hyung, kau sudah bangun? Aku baru saja akan membangunkanmu.” ucap Jonghyun ketika Jinki keluar dari kamarnya sembari menguap lebar.

“Selamat pagi.” sapa Jinki yang hampir tidak terdengar jelas karena dia mengucapkannya sambil menguap lebar. Dia lalu berderap ke arah kamar mandi dan menutup pintunya dari dalam.

Jonghyun pun hanya mengangkat kedua bahunya dengan acuh tak acuh, kemudian melangkah ke arah sofa dimana Key juga tengah duduk di sana, menonton acara televisi sambil memakan keripik kentang. “Aku rasa dia belum sadar sepenuhnya.” kata Jonghyun yang kemudian duduk di samping Key dan mencomot sedikit dari sebungkus keripik kentang yang berada di tengah mereka.

Key mendengus sedikit dan kemudian menyahut, “Sebentar lagi, mungkin..”

“Mau menghitung mundur bersamaku?”

“Hmm~ok!”

“Five…” Jonghyun memulai menghitung mundur.

“Four…” Key melanjutkan setelah jeda sekitar beberapa detik, dan begitu seterusnya.

“Three…”

“Two…”

Terdengar suara kunci yang diputar sehingga menimbulkan bunyi ‘CTEKK’ dari arah kamar mandi, disusul dengan suara pintu terbuka dan langkah kaki mendekat, serta seruan kecil, “Ya!”

Key dan Jonghyun tertawa kecil, dan kemudian menyelesaikan hitungan mundur mereka secara bersamaan, “One.”

“Apa di antara kalian ada yang melihat Lee Taemin?” Onew muncul di counter dapur yang letaknya memang tidak jauh dari kamar mandi.

“Adikmu itu, hah?” Key balik bertanya.

“Ne!”

“Kurasa dia bilang akan pergi ke rumah sakit tadi.”

“Mwo? Untuk apa?”

“Yeoja itu, mungkin?”

“Aisshh~anak itu! Untuk apa dia pergi menjenguknya lagi?” gerutu Onew, lebih pada dirinya sendiri. Dia mengacak rambutnya sesaat dan kembali ke kamar mandi.

Key dan Jonghyun hanya mengangkat bahu mereka secara bersamaan. “Aneh.”

>>><<<

…13.44 pm, Sanghyun’s Room…

Sanghyun membuka matanya secara mendadak, hanya karena kegelisahan yang dirasakannya. Entah kenapa tiba-tiba dia teringat akan sesuatu yang harus dilakukannya saat ini, dan berbaring di tempat tidur seperti ini benar-benar membuat perasaannya semakin tidak menentu.

‘Appa pasti sangat marah jika tahu aku tidak pulang semalaman kemarin. Apalagi kalau dia tahu aku tidak bekerja hari ini.’

Gadis itu bangkit menjadi duduk dengan perlahan, kemudian menatap jarum infus yang masih terpasang di tangan kirinya.

‘Kurasa mencoba pergi diam-diam sekali lagi bukan ide buruk.’

Sanghyun mengulurkan tangan kanannya untuk melepas jarum infus itu, namun tiba-tiba tangannya itu berhenti di udara saat sosok Taemin terlihat dari sudut matanya. Namja itu sedang duduk membelakanginya sambil bersandar pada sisi ranjang kanan Sanghyun, dengan headset di kedua telinganya dan kepalanya terangguk-angguk mengikuti irama lagu yang mengalun dari headset tersebut yang tersambung ke iPod’nya. Sesekali Taemin menolehkan kepalanya ke arah jendela di samping pintu ruangan itu.

‘Lee Taemin…’

Sanghyun tidak pernah menemukan orang yang benar-benar peduli padanya selama ini, selain Minho, Taemin dan orang lain yang ikut menolongnya—membawanya ke rumah sakit ini (karena Kayoung menyebut orang yang menolong Sanghyun dengan ‘mereka’, yang berarti bukan hanya Taemin yang menolongnya). Walaupun Sanghyun dan namja itu baru saling mengenal tadi pagi, Taemin bersedia menemaninya di rumah sakit ini sampai sekarang. Padahal untuk ukuran orang yang tidak dikenal, membawanya ke rumah sakit ini saja sudah cukup baik, dan bukan hal yang buruk jika meninggalkan Sanghyun begitu saja.

“Oh~sudah bangun?” ujar Taemin yang menyadari Sanghyun sudah merubah posisinya.

Sanghyun hanya membalasnya dengan senyuman yang menurut Taemin terlihat agak aneh. Tatapan mata Sanghyun kembali tidak dapat ditebak, seperti saat pertama kali Taemin melihat ke dalam mata itu. “Why? Are you okay? Gwaenchana?” namja itu berdiri dari duduknya dan melepas headset di telinga kanannya. Pandangannya tampak… khawatir? Mungkin…

Sanghyun kembali tersenyum tipis, dan menggeleng. Sesaat kemudian, dia mengalihkan tatapannya ke arah luar, masih dengan sorot mata dan ekspresi yang sulit ditebak.

“Bosan? Mau menghirup udara segar?” tanya Taemin lagi.

Sanghyun menatap Taemin kembali, mendapati namja itu tengah mengangkat alisnya, seolah menunggu jawaban. Akhirnya Sanghyun menganggukkan kepalanya perlahan dengan ekspresi tetap seperti tadi. (Baiklah).

Taemin yang melihatnya jadi ikut menunjukkan ekspresi datar. “Ok! Let’s go..!” ucapnya, datar pula. “Eh~tapi kau bisa berjalan, kan?”

Sanghyun menurunkan kedua kakinya dari ranjang dan memijakkannya di atas lantai. Taemin mendekatkan sepasang sandal ke arah kaki Sanghyun, dan membantu memakaikannya. Dia juga membantu Sanghyun menuruni ranjang dengan menahan lengan kanannya. “Kajja!”

Mereka mulai melangkah ke luar dari ruangan ‘membosankan’ itu. Taemin, dengan gantungan cairan infus *aku gak tau namanya T_T* di tangannya, harus menyesuaikan langkahnya dengan langkah Sanghyun yang agak lambat dan tertatih-tatih. Tentu saja, karena sepertinya Sanghyun masih sangat lemah. Itu membuat Taemin merasa bersalah, apalagi melihat wajah Sanghyun yang pucat itu tidak berubah senang atau semacamnya karena bisa menghirup udara segar, melainkan masih sama seperti beberapa saat berikutnya, terlihat resah.

“Apa kau tidak senang? Atau tidak kuat? Kita kembali saja kalau begitu.” Taemin memegang lengan Sanghyun, bermaksud membantunya berbalik untuk kembali ke ruang rawatnya. Namun Sanghyun segera menggelengkan kepalanya pelan.

Tangannya bergerak-gerak lagi, memberi isyarat. (Aniyo. Aku senang. Kita lanjutkan saja, ke sana). Terakhir, menjentikkan telunjuknya ke satu arah.

Taemin mengerti. Dia melepaskan tangannya di lengan Sanghyun, menyadari perasaan yang janggal itu datang lagi, lalu mulai mengiringi langkah Sanghyun lagi.

Mereka tiba di sebuah taman kecil di  tengah gedung rumah sakit itu. Cukup banyak pasien yang berada di sana, bahkan Taemin melihat gadis kecil yang ditemuinya kemarin menyapanya dengan senyuman manis yang mengembang. Tidak hanya pada Taemin, pada Sanghyun juga. Mereka sempat berbincang sebentar, hingga akhirnya ada yang menjemput gadis kecil itu karena dia harus segera kembali ke kamarnya.

Taemin menatap Sanghyun yang duduk di sampingnya. Gadis itu tengah menatap lurus ke depan dengan pandangan itu lagi. “Kenapa tidak terpikirkan olehku tadi? Kau bisa menggunakan kursi roda, kan?” ujar Taemin. Namun Sanghyun seolah tidak mendengarnya, gadis itu tetap menatap lurus ke depan, masih dengan tatapan kosongnya. Terlalu penasaran, Taemin berdiri dari duduknya dan melangkah ke depan Sanghyun, seolah menghalangi pemandangan yang tengah diperhatikan gadis itu dengan tubuhnya. “Ada yang kau pikirkan, ya?” tebaknya sambil sedikit membungkuk untuk mensejajarkan kepalanya dengan kepala Sanghyun.

Sanghyun sedikit tersentak. Dia memundurkan kepalanya sedikit, karena dirasanya jarak mereka kini terlalu dekat. Sejurus kemudian dia menggeleng sambil tersenyum simpul dan mengulurkan tangan kanannya untuk mengacak rambut almond Taemin (yang bisa dilakukannya dengan mudah karena posisi kepala Taemin yang masih sejajar dengan kepalanya.)

Perlakuan Sanghyun itu sontak membuat Taemin segera kembali meluruskan posisi badannya. Semburat merah terlihat di kedua pipinya yang putih. ‘Relax, Taemin..! Calm down!’

Sanghyun menepuk bagian kosong kursi di sebelanya, mengisyaratkan agar Taemin kembali duduk di sana. Namun Taemin tampak tidak menunjukkan reaksi apapun, masih sibuk menormalkan detak jantungnya kembali. Sanghyun mengangkat tangan kanannya tinggi dan melambai-lambaikannya pelan. (Hey, Taemin!)

“Uh~oh~y-ya?”

Taemin kembali duduk tanpa diminta lagi. Mencoba melupakan perlakuan Sanghyun padanya barusan, mencoba mengendalikan dirinya yang tanpa disadari terus tersenyum dengan cara menghela napas panjang dan dalam, dan Taemin tidak sadar bahwa Sanghyun melakukan hal yang sama di waktu yang bersamaan. Hanya saja gadis ini melakukannya untuk menenangkan perasaan gelisahnya.

Sebelumnya, Sanghyun mengira semua orang di dunia ini begitu membencinya, atau bahkan tidak peduli sama sekali padanya, sampai akhirnya dia bertemu Choi Minho. Saat itu hari sudah menjelang malam dan kota Seoul sedang diguyur hujan yang cukup lebat. Sanghyun dengan baju basah kuyup memasuki cafe Minho untuk menanyakan apakah ada lowongan pekerjaan untuknya di sana? Dan Sanghyun berharap siapapun yang akan ditemuinya nanti bisa mengerti apa yang (ingin) dikatakannya, dan terlebih lagi jika mereka langsung menerimanya bekerja. Dan di sanalah dia bertemu Choi Minho. Laki-laki jangkung itu tengah duduk di belakang counter sambil membaca buku yang berada di tangannya. Dia terlihat terkejut begitu melihat Sanghyun mendatanginya dengan seluruh baju yang basah kuyup karena kehujanan di luar sana. Dia juga terlihat lebih terkejut sekaligus bingung ketika Sanghyun berbicara padanya dengan bahasa isyarat. Namun pada akhirnya laki-laki itu mengerti dan menerima Sanghyun bekerja part time di sana. Minho juga memperlakukan Sanghyun dengan baik, hampir selalu mengerti setiap isyarat Sanghyun yang bahkan terkadang tidak dimengerti oleh orang tuanya sendiri, dan tidak jarang laki-laki itu membantu Sanghyun jika dalam keadaan susah.

Choi Minho orang pertama yang menganggapnya ada dan peduli padanya, Choi Minho adalah orang pertama yang memberikan senyuman padanya, Choi Minho adalah orang pertama yang selalu memahami hampir semua isyaratnya, Choi Minho adalah orang pertama yang memperlakukannya dengan baik, dan Choi Minho adalah orang pertama yang membuatnya tersenyum (atau tertawa dengan lepas dalam hatinya), seolah terlepas dari beban dan cobaan yang diberikan Tuhan padanya. Selama hampir 20 tahun hidup di dunia ini, hal yang paling Sanghyun syukuri adalah bahwa Tuhan mempertemukannya dengan Choi Minho, dan menunjukkan bahwa tidak semua orang begitu membencinya.

Kini, setelah hampir 4 bulan Sanghyun bekerja di cafe—milik Choi Minho dan kekasihnya, Park Jihwa—itu, Sanghyun kembali menemui orang-orang yang peduli padanya. Ditatapnya Taemin yang sedang berdiri sembari membuat gerakan-yang-biasa-dilakukan-orang-untuk-meregangkan otot. Sanghyun tersenyum simpul sambil bersyukur dalam hati, karena lagi-lagi Tuhan menunjukkan orang-orang yang memperdulikannya, bahkan begitu mempedulikannya. Orang lain selain Choi Minho.

“Ah~Sanghyun-ssi, kurasa aku harus memberitahukan sesuatu. Here…” Taemin mengulurkan secarik kertas pada Sanghyun yang segera menerimanya dengan kedua tangannya dan dengan alis saling bertaut.

Taemin melanjutkan, “…kemarin, Jinki hyung menghubungin nomor itu, kami kira kau pasti mengenal orang pemilik nomor itu.”

Sanghyun mendengarkan perkataan Taemin barusan sambil membuka lipatan kertas itu dan melihat tulisannya sendiri di sana, dan dia langsung yakin bahwa itu adalah benda yang dicarinya tadi, nomor ponsel Minho. Dan dia juga langsung yakin bahwa selain Taemin, orang bernama Lee Jinki itulah yang juga menolongnya.

Taemin kembali duduk, memperhatikan Sanghyun yang sekarang mulai menggerakkan tangannya lagi. (Lalu bagaimana? Apa dia sempat ke sini?)

“Eh~? Sorry, sebenarnya aku kurang mengerti apa yang kau bicarakan. Tapi ada sesuatu yang mungkin harus kau tahu. Kemarin, Jinki hyung memang sempat berbicara padanya…” Taemin berhenti lagi, dan Sanghyun mengangguk paham. “Apa kau dekat dengan Choi Minho?”

Sanghyun segera mengangguk yakin, meskipun ada sedikit rasa was-was menyelimutinya. (Minho-ssi orang yang sangat-sangat penting bagiku.)

“Sangat dekat, huh? Emmh~bagaimana aku mengatakannya, ya?” gumam Taemin, lebih pada dirinya sendiri. Ada sedikit rasa khawatir. Kalau dia mengatakan yang sebenarnya, bagaimana reaksi Sanghyun nanti? Kalau memang Sanghyun dan Minho punya hubungan yang dekat, apa mungkin Sanghyun akan sangat sedih? Atau bahkan mungkin… histeris?

Sanghyun menyentuh lengan Taemin dan sedikit mengguncangnya, meminta Taemin untuk melanjutkan perkataannya yang membuatnya penasaran dan sedikit was-was.

“Emmh~ begini. Awalnya, Jinki hyung bilang semuanya baik-baik saja saat dia berbicara dengan Minho-ssi. Tapi… setelah beberapa jam berlalu, tidak ada tanda-tanda kedatangan Minho-ssi. And then I know that… Minho-ssi… passed away.”

Passed away, kata bahasa Inggris yang sudah dipelajari Sanghyun sejak masih duduk di bangku junior high. Dia merasakan hening menyelimutinya. Lidahnya seakan terasa lebih kelu dari biasanya dan telinganya seakan tersumbat. Dia juga tidak mendengar perkataan Taemin selanjutnya.

“Awalnya juga aku tidak percaya, tapi… saat kau tidur tadi, aku mencoba menghubungi nomor itu lagi, dan yang menerima telfonku sepertinya ibu Minho. Dan ketika kutanyakan keberadaan Minho-ssi, she said Minho’s gone, and after that, I hear she’s cried, and… dia juga mengatakan Minho mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan menuju ke sini, dengan kekasihnya.” Taemin menoleh dan langsung terdiam melihat air mata yang mengalir menuruni pipi tirus Sanghyun. “Hey! You alright? I… I’m sorry.”

‘Ani… Katakan kau hanya bercanda! Katakan padaku semuanya tidak benar! Semuanya tidak benar! Aku yakin… kau pasti hanya berbohong! Kau pembohong!!”

“I’m sorry… Sorry.” Sahut Taemin lirih, sementara Sanghyun terus mengguncang bahunya dengan bertubi-tubi sambil menangis tanpa suara, tentu saja. Selama beberapa saat, Taemin membiarkannya terus seperti itu, hingga akhirnya Sanghyun menurunkan tangannya sambil menunduk dalam dan sesekali terisak.

“Lee Sanghyun-ssi…” Taemin mengangkat kedua tangannya sendiri dengan perlahan, kemudian melingkarkannya di punggung Sanghyun dan mendorong punggung itu agar mendekat padanya. Taemin berpikir mungkin Sanghyun membutuhkan sebuah pelukan, karena itulah yang selalu dilakukan pelayannya di Kanada sana jika dia menangis. ‘Relax, Taemin. Kau hanya perlu melakukan ini sampai Sanghyun tenang.’

Sanghyun balas memeluk Taemin yang kini tengah mengusap-usap punggungnya pelan. Dia menghela napas dalam dan panjang sambil memejamkan matanya, kemudian menghapus air mata yang membasahi pipinya.

‘Minho-ssi, mianhaeyo. Aku belum sempat membalas budi baikmu. Mianhaeyo.’

“Don’t cry..! Sometime we’ll feel a happiness, and sometime, we’ll feel a sadness. But that’s life. The life will never life if we aren’t feel the both of  it. So… don’t cry and stay cheer up! Ok?” entah mendapat ‘pencerahan’ dari mana, Taemin mengatakan hal sebijak itu dengan hampir berbisik di samping telinga Sanghyun. Entah pula Sanghyun mengerti atau tidak apa yang dikatakannya, tapi Taemin merasakan gadis itu berhenti terisak dan mengeratkan pelukannya, dan itu membuatnya lagi-lagi harus memberi sugesti pada dirinya sendiri untuk tetap rileks.

‘Hanya satu yang belum kumengerti. Debaran-debaran ini—yang muncul saat aku dekat dengannya—sungguh benar-benar membuatku penasaran! What’s wrong with me? Uh~relax, Taemin!’

Beberapa saat kemudian, Sanghyun melepas pelukannya dan menatap Taemin dengan matanya yang sembab, kemudian menggerakkan tangannya lagi. (Tidak peduli bagaimana caranya, aku harus pulang hari ini juga.)

“Umm~what?”

>>><<<

Sanghyun membungkuk sembilan puluh derajat—sebagai tanda terimakasih—di depan Taemin yang juga melakukan hal yang sama. Akhirnya Sanghyun diizinkan pulang hari ini dengan syarat melanjutkan pengobatannya dengan rawat jalan.

“Aw!” pekik Taemin ketika kepalanya berbenturan dengan kepala Sanghyun karena jarak mereka yang terlalu dekat. Mereka mengusap bagian kepala yang berbenturan itu sambil tersenyum geli. Sanghyun kembali membungkukkan badannya untuk meminta maaf. Beberapa detik berikutnya, dia kembali meluruskan badannya dan menggerakkan tangannya, (Gomapseumnida, kau sudah banyak membantuku. Sampaikan juga rasa terimakasihku pada Jinki, ya..! Gomapseumnida…)

Melihat itu Taemin hanya tersenyum. Sebenarnya dia kurang mengerti apa yang dikatakan Sanghyun, tapi dia tahu, pada intinya, saat ini Sanghyun sedang berterimakasih.

Sanghyun balas tersenyum, dan kemudian melambai kecil sembari berbalik dan melangkah pergi. Tapi dia kembali berhenti karena Taemin menahan tangannya.

“Mm~mungkin lebih baik aku mengantarmu.” kata Taemin datar. “Aku ingin tahu tempat tinggalmu. May be sometime… I want to meet you.” Lanjutnya lagi ketika melihat Sanghyun menunjukkan ekspresi ragu. “Come on…!”

Namun sebelum Sanghyun memberikan jawaban dengan mengangguk atau menggeleng, samar-samar Taemin mendengar suara berat yang memanggilnya dari kejauhan, “Young master!”

Taemin menolehkan kepalanya ke arah datangnya suara, dan kedua matanya membelalak ketika melihat beberapa pria dewasa yang beberapa dikenalnya sedang berjalan atau bahkan berlari mendekatinya. “Oh~god! How can they…” gumamnya pelan, sementara tangannya melepaskan tangan Sanghyun dengan perlahan.

“S-Sanghyun-ssi, kurasa lain kali saja aku ikut ke rumahmu! I promise. B-bye!” ujarnya terburu-buru, dan kemudian berlari dan menghilang di antara orang-orang yang kebetulan berjalan kaki di sekitar sana. Sanghyun terdiam beberapa saat sebelum melihat pria-pria asing berlari melewatinya sambil berteriak memanggil.

“Young master!!”

>>><<<

“Bagaimana mereka tahu aku di sini? Hh~ hh~”

Taemin berhenti sejenak di persimpangan jalan-jalan kecil. Dia memegangi lututnya yang terasa pegal karena sudah jauh berlari untuk menghindari orang-orang yang tidak lain adalah pengawal-pengawal yang bekerja untuk keluarganya di Kanada sana. Napasnya memburu dan tubuhnya sudah mulai berkeringat.

“Young master!”

“Oh~gosh!” umpat Taemin lagi dan mulai berlari (lagi) ke jalan di sebelah kirinya. Tapi bukannya menjauh, suara-suara itu malah terasa semakin dekat dengannya, dan sejurus kemudian terdengar suara-suara langkah kaki yang juga semakin mendekat. Taemin terpaksa berbelok dan berhenti di antara dua bangunan bertingkat namun terlihat tidak terurus karena cat dan temboknya mengelupas dimana-mana.

Suasana yang amat sepi membuat Taemin bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Suara-suara itu terdengar semakin dekat, membuat Taemin berjalan mundur ke sisi yang lebih gelap. Dia masih bisa mendengar samar-samar percakapan orang-orang itu, yang membuatnya semakin bingung, tidak tahu harus melakukan apa.

“Jinki hyung!” pekiknya tertahan mengingat Jinki yang mungkin bisa membantunya. Dia merogoh saku celananya, namun hanya menemukan sebuah iPod di sana. Taemin hanya meringis kecil karena baru ingat sejak tadi dia tidak membawa handphonenya. “Oh~well. Don’t worry! They can’t find me here.”

Dan Taemin baru menyadari bahwa tidak terdengar suara apapun lagi di sekitarnya. Dia berniat memeriksa kembali keadaan di depan kedua bangunan ini, sebelum sebuah tangan yang kasar membekapnya dari belakang.

>>><<<

To Be Continue

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

34 thoughts on “Sometime – Part 4”

  1. Akhirnya keluar juga. . .
    Huwaaa, Miraa…
    Huft. . . *tarik napas.. . . Buang napas*

    lucu dEh liat sifat malu-malunya Taemin…
    NgebAyangin. .
    *mimisan*
    .
    Aku suka adEgan waktu Taemin ngasih tau sangHyun Tentang Minho…
    Kyaaaa…… Gentle bAnget. .
    Tumben niH Taem sebijaksana itu…
    SOMETIME will be. .
    *pingsan*
    .
    Huft. . , kasian sangHyunnya. . .
    Nanti gimana kalau udah pulang?
    Dimarahinkah sama Appa-nya?
    .
    Terus Taemin gimana?
    Diapain ntar?
    Penasaran niHh. .
    (TT^TT)
    Aku Tunggu part selanjuTnya!
    Jangan lama-lama, ya?
    .
    Hwaiting!!!

    1. Ooooo~ Chandra eonniiii…!!! Mkasih udh nungguin…! *hug*
      Ya ampun sampe mimisan & pingsan segala…! (=..=)a Hahaha~

      Emm~ dimarahinkah sama appanya? Molla… (~’o’)~ *PLAKK!*
      Taemin diapain? Gak tau juga… *GAPLOKK! BUAGH!*

      Iya, eonn… Tunggu aja, ya…! ^^ Hehe~ gak janji gak lama.
      Mkasih, eonn… HWAITTING!! p^0^q

  2. Uhm taemin… So sweet deh!
    Jadi iri sama sanghyunnya nih….
    Minhonya kasian meninggal…
    Huhuhu T.T
    itu Taemin mau diapain, sih?
    Huwee penasaran!
    Aku tunggu lanjutannya!

    1. Wah? Emang bener, ya Taemin so sweet di sini? -___-a

      Aduuh~ jangan nangis, Monika… Sini, sini… aku punya balon sama lolipop, nih… *PLAKK! BUGGH! DUARR!*

      Taemin diapain, ya? Aku juga pnasaran, nih… >< (?)

      Yuk~ kita tunggu lnjutannya…! ^^

  3. Adegan pas taem meluk sanghyun bikin melting nih….
    Lucu deh liat sifat polos taem..
    Aslinya juga gitu sih..
    *dibejek taemints*

    uwow.. Taem dikejar nih.. Kasian, itu dia tertangkapka? Huwee penasaran.. Aku tunggu part selanjutnya!
    Oh ya, aku riska 21 yo.. Salam kenal

    1. Aheeeee~ iya, aku juga melting dikit… *Taeminasahgolok*

      Iya, TAEMIN DIKEJAR!! ADUUUH! TAEMIN DIKEJAAAAR!! *calm(?)*
      Tapi ketangkap kah? -___-a

      Oh~ riska eonni…~! ^__^ Salam kenal, aku Mira, 15 yo…
      Mkasih udh baca+ comment ya, eonn… 😀

  4. Annyeong, author, Yuriska 17 yo

    Huwaa Taem,, cieh,, udah mulai jatuh cinta nih?
    *apasih?*
    uhm, masih malu2, ya?
    Aegyo kumat…

    Aku lumayan tertarik sama penggambaran tokoh taem sbg ras asia+eropa.. Pas banget sama gaya rambut almondnya di lucifer..
    Pokoknya keren dah..
    Aku tunggu part selanjutnya..

    1. Annyeong, Yuriska eonni… Aku Mira, 15 yo…

      Iya, Taemin udah maen cinta2an, padahal aku aja belom… =..= *gaknyambung*

      Iya, emang waktu liat rambut Taemin di lucifer, aku kepikiran image’nya gitu… Hehe~
      Makasih ya, eonn… 😀 *hug+ppoppo**GAPLOKK!*

  5. Hahahahahaha…. Gini nih Taem kalau udah deket sama cewek.. Groginya keluar…

    Hebat taem bisa ngerti bahasa isyarat sanghyun secepat itu….
    Keren!!!

    Kyaaa… Taem ditangkap.. >.<
    huh. . Penasaran! Aku tunggu part selanjutnya,…
    Mian baru komen di part ini, aku rina 17 yo

    1. Hahahaha~ *ikutketawa* Iya, dia mah gitu, grogian… =3=

      Bener! Taemin hebat benerrr!!! *clapclapclap*

      Hu’uh, Taemin ditangkap… T___T Aku juga jadi penasaraaaan…

      Oh~ ternyata eonni’ku… 😀 Salam kenal, eonn… Aku Mira 15 yo.. Mkasih ya, eonn udah mau baca+comment+nunggu next part… ^0^

  6. Minhonya meninggal,… Kasian,, huhuhuhu T.T
    Kasian Sanghyunnya sendirian….
    Ngebayangin Taem dikejar2, entah kenapa aku ngebayangin Minho di AMIGO.. *loh?*
    aku lucia 16 yo
    next part jangan lama2..

    1. Iya, Minho meninggal~ T___T *ikutnangis*

      Hahaha~ Minho di AMIGO? Boleh juga, tuh… *.* Kekeke~

      Iya, annyeong Lucia eonn… Mkasih udah baca+comment… 😀

  7. Cute banget ngebayangin Taem malu2..
    Aku suka adegan pas sanghyun ngeraba mukanya Taem… >.<
    lucu deh…..

    Wah, taem ninggalin sanghyun, kasian sanghyunnya…
    Omo, taem dikejar? Terus ketangkap?
    Kyaaa ntar diapain tuh?
    Penasaran…

    1. Hahaha~ iya, Taem cuteeeee….! >0<

      Betul, betul, betul… Taemin ketangkap, gak tau sama siapa + mau diapain… -___- a
      Bner nih penasaran? Hehe~ tunggu aja lanjutannya, ya…! 😉

      Mkasih… 😀

  8. Kenapa minhonya mesti meninggal, sih?
    Sanghyun kan belum sempet tuh bales kebaikannya dia.. T.T

    Taem bakalan dihukumkah? Atau dibawa pulang ke negaranya?
    Penasaran eee…
    Oh ya, aku Evy 17 yo..
    Next part aku tunggu banget!

    1. Iya, kenapa Minhonya mesti meninggaaaallll…! *histeris/lebe#PLAKK!*

      Aah~ Taem dihukum? Aku gak tahu… *dibejek2*

      Penasaran kah? Boleh ditunggu next partnya… ^___^

      Ah~ eonniku lagi… =___= Salam kenal, Evy eonn. Aku Mira, 15 yo… 😀

      Mkasih ya, udah baca+comment…! :*

  9. Taemin so sweet..
    Iri nih sama sanghyun…

    Ini gak membosankan, kok… Aku suka, cz ringan dibacanya… Permainan kata-katanya juga udah lumayan bagus…
    Ayo lanjut!
    Part selanjutnya aku tunggu banget!

    1. Ah yg bener Taem so sweet? =o= *diinjektaemints*

      Jinjja? Tapi aku masih ngerasa ini ngebosenin+gak jelas banget…! T___T Tapi makasih, ya…!

      Iya, insyaallah dilanjut. Mkasih udah baca+comment+nunggu lanjutannya… *hug*

  10. Gak tega ngebayangin Minho waktu kecelakaan… ==
    *nangis darah*

    taem keren bisa cepet ngerti bahasa isyarat!
    Aku suka alurnya, gampang dingertiin, kata-katanya sederhana tapi menyetuh…
    Feelnya udah mulai ngena…
    Ayo next part. . .
    Cepetan yah. . .
    Aku lina 15 y.o

    1. Annyeong, Lina… Hehe~ Aku Mira, 15 jga… Salam kenal, ya…! ^^

      Waduh gawat! Nangis darah apa gak sakit itu?! O.o *dibekeptiketKIMCHI<0< *histerissendiri*

      Ah yg bener, nih? Aduh jadi terharu… Mkasih….!! :*
      Next partnya gak janji cepet, ya… Bangku UN menghadang… Hehe~ -__-"a Mkasih…!

  11. Astaga! Itu Taemin mau diapain sama ‘si tangan kasar’?????!!!!
    Menarik Thor, mau tau bagaimana selanjutnya…. 😀

  12. pas prtma aq bca critax agak sdikit g ngerti.
    Tp pas bca part ini jd ngerti klo trnyata sanghyun ntu bisu y.
    C taemin d culik ma sapa tuh..
    Pnasaran..
    Lnjut author..

  13. Aigoo , itu artinya kmu mulai suka dgn sanghyun taem ., keke ..
    Itu cpa yg nutup mulut taem ?
    Aigoo , itu pertanda baik ato buruk .?
    Lanjut ya thor ..

  14. AIHHHHHHH
    Taeminnnn kenapa siiiii???
    Dia kan cuma kabur
    Lagian dia kan udah besar
    Eomma sama appanya nyebelin deh
    Itu kayanya si taem taem suka sama sanghyun
    Abis setiap deket sanghyun ato kaya pas dipeluk tadi itu dia doogeun doogeun
    Jinkiii tolongin dongsaeng mu!!
    Jongkey perhitungannya akurat banget
    Jagojago!!
    Author lanjutannya jangan lama lama yaa
    Aku tidak sabar menunggu ^^

  15. wow! this is just so great!
    though I haven’t read the whole part, but man, this is definitely cool!
    awesome! d^^b

  16. Yaaa!!!
    tu siapa yang brani bekep My lovely magnae !!!!!!!!!!!!!!!!!!!~
    Yah Onnie asal tbc aja..
    bkin pnsaran …tingkat akut 😥
    dtunggu klnjutannya yea onnie ….jgan lma lma!
    *Ikh maksa hehhehe

  17. @Reader : ah kamu bisa aja namain.a.. Haha~

    Menarik? Ah~yg bener.. >\\\<
    Mkasih, ya..! Ditunggu aja lnjutan.a..! 😀

    @jaeni : iya, Sanghyun itu bisu. Emg awal.a ngebingungin, ya? Aduh maaf.. *bow* saia emg bego.. *pukulkpalasndiri*
    Ah~iya mkasih udh mw nunggu lnjutan.a.. 😀

    @Tae-ah : bener banget! Taem mulai suka, tuh.. *lirikTaem* Ahemmm~

    Mkasih udh baca+comment, ya.. 😀

    @nikitaemin: Aigoo~ mkasih bnget, aku suka komen kamu. Dari akhir dulu, trus ke awal part.. Keke~
    Aku iya-in(?) smua deh.. Hehe~ mkasih, ya.. 😀

    @Storm : woaaa~ thank you so much! Thanks for read+comment.. 😀

    @IrfirahzalMVP : iya, taem pngganti Minho.. 😀
    Emm~ siip, dilanjut, tapi gk janji gk lama.. Hehe~

    @mila: Iya, tuh.. Berani bngt bekep lovely magnae-mu.. *loh?*
    Aduh maaf. Itu tbc.a aja yg bandel.. *PLAK!* hehe~

    Iya d'lanjut, tapi gk jnji gk lama, ya..makasih Mila.. 😀

    @agitaraka: aduh mkasih.. Mkasih bnget, ya..! 😀

  18. Jdi minhonya mati g2?? Aq blom baca part awalnya lngsung baca part ni makanya rada g ngerti, aduh spa tuh yang bekep taem?? Young master i2 julukan buat taemin?? Lnjut

  19. taemin oppa kyeopta ! ^^
    waww, taemin baik banget disini, jadi iri sama sanghyun ..
    tapi sedih deh kenapa minho harus mati terus onew ga perdulian banget 😦
    lanjut ya thor 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s