Untitled-1 copy

Lost Memory

Author              : Chanchan a.k.a Chandra Shinoda (@chandrashinoda)

Main Cast        : Kim Jonghyun, Kim Kibum, Kim Hyora, Lee Taemin

Support Cast  : Choi Minho, Lee Jinki

Genre                : Family, horror, life, mystery, sad

Length              : Oneshot

Rating               : PG-13

Disclaimer        : I don’t own all SHINee members. They’re God’s. They belong to themselves and SMent. I’m just the owner of the story.

Credit Song     : Twinkle, Twinkle Little Star

Annyeong, readers! Aku datang lagi, *ga ada yang nanya* kali ini aku coba buat FF horror, mudah-mudahan bisa bener-bener horror, hehehe.. oh ya, di sini aku coba buat tokoh Hyora jadi adiknya Jonghyun. Biasanya dia selalu jadi adiknya Jinki. Sekali-sekali nyoba hal barulah.. *apasih??* ok kalau gitu yukz langsung kita baca, happy reading, chingu.. *emang ada yang mau baca?*… *deep bows*

Lost Memory

***

Twinkle, twinkle, little star..

How I wonder what you are..

Up above the world so high..

Like a diamond in the sky..

Twinkle, twinkle little star..

How I wonder what you are..

Suara merdu itu terdengar lagi. Sederhana, lembut, dan tenang. Namun entah kenapa, terasa sedih dan menyentuh.

***

Jonghyun POV

Aku duduk di tepi tempat tidurku. Rasanya lelah juga setelah menghabiskan waktu` tiga jam untuk belajar. Aku melirik jam dinding bulat yang terpajang di dinding kamarku. Tepat pukul 11.00 pm.

Oppa, ayo tidur!” kudengar suara kecil memanggilku.

Aku menoleh ke arah tempat tidur. Kutatap yeodongsaengku dengan alis terangkat heran. “Kau belum tidur, Hyora-ya?”

“Belum,” jawabnya dengan nada agak serak, menandakan dia sudah sangat mengantuk.

Aku menatap wajah Hyora. Air mukanya terlihat agak pucat, sepertinya dia terlalu lelah. Aku berbaring di samping Hyora. Kuusap lembut puncak kepalanya. “Waeyo? Kau belum mengantuk?”

Hyora menggeleng lemah. Aku tersenyum. Aku tak ingin menanyainya lebih jauh. Bocah kelas 2 SD sepertinya terlihat terlalu lelah menanggapi pertanyaan dariku.

Aku mencubit gemas pipinya. “Ya sudah, ayo kita tidur!” ucapku pelan lalu mengecup keningnya.

Ne, Oppa,”  Hyora tersenyum lembut lalu menutup matanya.

***

When the blazing sun is gone..

When he nothing shines upon..

Then you show your little light..

Twinkle, twinkle all the night..

Twinkle, twinkle little star..

How I wonder what you are..

Samar-samar kudengar suara itu lagi. Samar dan begitu jauh. Semakin samar seiring aku merasakan ada yang aneh di sebelahku.

Aku terjaga saat kurasakan ada cairan yang membasahi lengan kananku. Dengan enggan aku membuka mataku. Aku melirik Hyora. Mendadak rasa kantukku hilang. Bola mataku melebar ketika kulihat wajah Hyora tampak pucat. Ia menggigil, seluruh tubuhnya gemetaran. Tetes-tetes keringat mengalir dari pelipisnya. Aku mengernyitkan alisku. “Waeyo, Hyora-ya?” tanyaku khawatir.

Hyora menatapku. Nafasnya tersengal-sengal. Matanya berkaca-kaca. Bibir mungilnya sedikit terbuka. Sepertinya ia ingin mengucapkan sesuatu, namun ada yang menahannya untuk mengatakannya padaku.

Ya! Ada apa, Hyora-ya?” aku menatapnya semakin heran.

Hyora menggeleng. Air mata yang sedari tadi menggenang di matanya mulai luruh. Aku menatapnya lembut. “Kau mimpi buruk?” tanyaku.

Sekali lagi ia menggeleng.

Aku mengusap pipinya. “Kau takut?”

Ia mengangguk.

“Pada apa?” tanyaku dengan sedikit penasaran.

Hyora mengalihkan pandangannya. Ia menatap lurus ke depan, ke arah meja belajarku. Namun tak ada apapun di sana kecuali setumpuk buku yang barusan kupelajari. Hyora menunduk, “Molla, Oppa,” jawabnya lirih.

Aku mengusap rambutnya. “Sudahlah, ayo kita tidur lagi. Jangan lupa berdoa, agar kau tak ketakutan lagi,” ucapku sembari mengusap kerigat yang masih mengalir di pelipisnya.

Ne, Oppa,” jawabnya lemah lalu memejamkan mata mungilnya.

***

Aku menutup buku pelajaranku. Akhirnya selesai juga tugas kelompok yang kukerjakan bersama Kibum dan Minho. Aku melirik ke arah Minho yang sibuk merapikan buku pelajarannya. “Minho-ya, di mana Kibum?” tanyaku saat melihat tak ada tanda-tanda kehadiran Kibum di kelas.

“Oh, tadi dia keluar untuk membeli minum,” jawab Minho tanpa mengalihkan pandangannya dari apa yang sedang dilakukannya.

“Oh,” gumamku sambil mengangguk. Kualihkan pandanganku saat mendengar suara pintu kelas terbuka. Kulihat Kibum berada di sana sambil menyeruput sekotak banana milk. Tangannya menggandeng tangan seorang gadis kecil. Aigoo, Hyora? Batinku.

“Aku menemukannya sedang berdiri di depan pintu pagar sekolah kita. Kurasa dia menunggumu, Jonghyun-ah,” kata Kibum sambil menatapku bingung.

Aku mendekati Hyora yang masih berada dalam gandengan tangan Kibum. Kupegang kedua pundaknya. “Kenapa kau kemari? Bukankah kau sudah pulang sekolah empat jam yang lalu? Kau lupa membawa kunci rumah, Hyora-ya?”

Hyora menggeleng.

“Barusan kau main ke rumah teman?” tanyaku sekali lagi.

Ia tetap menggeleng. “Aku ingin pulang denganmu, Oppa,” jawabnya. Dia menggelayutkan tangannya manja pada tanganku. Bibirnya menyunggingkan senyum, namun entah kenapa aku merasa ada yang tengah disembunyikannya.

Aku tersenyum. “Ya sudah, ayo kita pulang. Kajja, Minho-ya, Kibum-ah!”

Kajja!” teriak Kibum dan Minho bersamaan lalu mengikutiku dan Hyora.

***

Then the trav’ler in the dark..

Thanks you for your tiny spark..

How could he see where to go..

If you did not twinkle so?

Twinkle, twinkle, little star..

How I wonder what you are..

Author POV

“Kyaaaaa!!”

Suara teriakan mengagetkan Jonghyun. Spontan ia terbangun untuk memastikan apa yang terjadi. Ia melirik Hyora. Kedua matanya terbelalak saat melihat kondisi yeodongsaengnya itu. Hyora menangis sesenggukan. Kedua tangannya terkepal di depan mulutnya. Seluruh badannya bergetar dan dipenuhi keringat.

Jonghyun mengusap kepala Hyora. “Wae, Hyora-ya? Kau Mimpi buruk lagi?” tanyanya khawatir.

Ann.. Anniyo, Op.. Oppa. Hiks..” jawab Hyora terbata sambil menahan tangisnya.

Jonghyun mengusap keringat yang mengalir di pelipis Hyora. Omo, panas sekali badannya! Batin Jonghyun ketika meraba kening yeodongsaengnya itu. “Kau sakit, Hyora-ya?” tanya Jonghyun semakin khawatir.

Hyora tak menjawab. Ia masih terisak. Baru kali ini dia merasakan ketakutan yang begitu besar mencekam dirinya. Bocah berusia delapan tahun sepertinya seharusnya belum pantas tahu tentang hal seperti ini. Namun kenapa dia harus mengalaminya? Batinnya tak kuat lagi. Ini terlalu sulit. Dia selalu datang, hampir setiap saat, menangis, bernyanyi. Aku tak kuat lagi, Tuhan, batin Hyora pasrah.

Jonghyun mendekap Hyora di dadanya. Ia masih bingung, apa yang sebenarnya terjadi pada yeodongsaeng-nya itu. Sejak kepindahan pertamanya kemari 2 minggu yang lalu, hampir setiap hari dia melihat yeodongsaeng-nya itu ketakutan, berteriak, menangis, dan selalu histeris tiap tengah malam. Ada apa sebenarnya?

“Jonghyun Oppa, aku mau pulang ke rumah appa dan umma,” rengek Hyora sambil tetap terisak.

Jonghyun melepaskan pelukannya. Ia menatap Hyora. “Kita tak bisa kembali, Hyora-ya. Umma dan appa sudah susah payah bekerja untuk menyekolahkan kita di Seoul. Apa kau ingin mengecewakan mereka?” tanya Jonghyun sehalus mungkin pada Hyora.

Hyora menggeleng. “Hajiman, Oppa…”

Jonghyun mengusap kepala Hyora. “Sudah, semua akan baik-baik saja. Oppa ada di sini, Oppa bertanggung jawab penuh padamu. Jadi, jangan khawatir. Oppa akan selalu melindungimu,”

Hyora mengangguk pelan. Meski agak ragu ketakutan dimatanya sedikit berkurang setelah mendengar penuturan Jonghyun.

“Tenanglah, Hyora-ya. Uljima,” ucap Jonghyun sambil meraih kotak obat yang ada di sampingnya. “Ini, minumlah!” Jonghyun menyodorkan obat penurun panas pada Hyora. “Oppa ke dapur dulu mengambilkanmu air putih,” ucapnya kemudian.

“Tunggu!” Hyora menarik tangan Jonghyun. “Aku ikut, Oppa,”

Jonghyun tersenyum. “Ya sudah, kajja!”

***

Jonghyun sibuk mengerjakan PR sekolahnya. Ia mengerjakan PR-nya bersama Kibum di rumahnya. Merasa bosan melihat buku Jonghyun melirik Kibum yang sedang berkutat dengan buku biologinya.

“Kibum-ah, apa kau haus?” tanya Jonghyun.

Kibum tak menjawab.

“Kibum?!” Jonghyun sedikit mengeraskan volume suaranya.

Kibum masih tak menjawab.

Ya! Key!” Jonghyun sedikit berteriak, ia memanggil Kibum dengan nama populernya.

Kibum tersentak. “Ne? Kau bilang apa tadi? Mian, tadi aku melamun,”

Jonghyun mendecakkan lidah. “Kau mau minum, tidak?”

Ne, kau punya banana milk?” tanya Kibum sedikit tertarik dengan tawaran Jonghyun.

“Baik, aku ambilkan dulu,” ucap Jonghyun lalu beranjak pergi.

Kibum meneruskan aktivitasnya membaca buku, namun ia tertarik pada Hyora yang sedang bermain di sofa di depannya. Gadis kecil itu terlihat sangat kurus. Wajahnya pucat pasi. Sekilas memang dia terlihat sedang bermain, namun yang dilakukannya hanya mencoret-coret sebuah kertas kosong yang ada di depannya. Merasa simpati dengannya Kibum menghampiri Hyora.

“Kau sedang menggambar apa, Hyora-ya?” tanya Kibum sambil tersenyum manis.

Hyora menatap Kibum polos. Ia memperlihatkan gambar sederhananya. “Ini, Oppa,”

Kibum mengernyitkan alisnya. Biarpun itu hanya gambar polos seorang bocah kelas 2 SD, namun gambar itu bisa dimengerti dengan jelas olehnya. “Ini temanmu, Hyora-ya?” Kibum ingin memastikannya.

Hyora menggeleng keras. Matanya menyelidik mengelilingi seluruh ruangan.

Kibum menatap Hyora bingung. “Lalu siapa?”

Hyora tak menjawab, pandangannya terus menerawang kesetiap sudut ruangan. “Kibum Oppa, takut!” tiba-tiba gadis kecil itu mencengkram lengan Kibum.

Wae?” Kibum semakin bingung.

“I.. itu,” bisik Hyora.

Kibum mengikuti gerak pandang  Hyora. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Meja belajar Jonghyun. Di sanalah sumber ketakutan Hyora berasal. Kibum menatap sosok yang ditangkapnya tengah duduk di atas kursi meja belajar Jonghyun.

Kibum menatap Hyora. Gadis kecil itu terisak pelan. “Aku takut, Oppa,” risingnya.

Uljima, Hyora-ya. Ada oppa di sini. Jangan takut, ya,” lirih Kibum sambil memeluk Hyora menjauhkan pandangannya agar tak tertuju pada meja belajar Jonghyun.

“Kibum-ah, apa yang terjadi pada Hyora?” tanya Jonghyun yang baru datang dari dapur sambil membawa 3 kotak banana milk.

“Nanti saja kujelaskan,” ucap Kibum sedikit tergagap. “Ehm, Jonghyun-ah, bolehkah aku menginap di rumahmu malam ini?”

Jincca? Boleh, dengan senang hati aku dan Hyora menerimamu,” celetuk Jonghyun riang lalu menyerahkan sekotak banana milk pada Kibum dan Hyora.

***

In the dark blue sky you keep..

And through my curtains often peep..

For you never shut your eyes..

Till the morning sun does rise..

Twinkle, twinkle, little star..

How I wonder what you are!

Hyora membuka matanya. Tepat seperti dugaannya, sosok itu datang lagi. Sosok yang tengah tertidur di atas meja belajar Jonghyun. Hyora bangkit dan menyenderkan punggungnya di dinding. Ia mengatur nafasnya. Rasanya sudah cukup dia merasa ketakutan. Sudah cukup!

Sosok yang ada di hadapan Hyora mengangkat tubuhnya. Hyora mengepalkan tangannya. Ia mengumpulkan keberaniannya yang masih tersisa. Bibirnya yang dari tadi terkatup rapat kini sedikit terbuka. “Nu.. Nugu.. Nuguseyo?” tanyanya berbisik, hingga ia sendiri tak mampu mendengar suaranya.

Sosok itu berbalik menatap Hyora. Ia menyeringai seolah senang Hyora bicara padanya. Perlahan ia bangkit sambil melambaikan tangannya pada Hyora.

Hyora bergerak perlahan. Entah apa yang menguasai pikirannya sekarang, ia menuruti begitu saja sosok yang memanggilnya. Tak ada rasa takut yang menguasainya, bukan karena ia telah terbiasa, hanya saja otaknya seperti membeku hingga tak bisa merespon apa yang akan dilakukannya.

Hyora bangkit dari tempat tidurnya meninggalkan Jonghyun dan Kibum yang masih terlelap di sisinya.

***

Jonghyun terbangun begitu menyadari sosok Hyora tak ada di sampingnya.

“Kibum-ah!” Jonghyun mengguncang badan Kibum yang tertidur di sebelahnya. “Di mana Hyora?!”

“Tenanglah, Jonghyun-ah. Aku sudah bangun dari tadi,” ucap Kibum ironis.

Jonghyun mengernyitkan alisnya. “Tenang? Bagaimana aku bisa tenang? Kau tahu, Hyora menghilang!” umpat Jonghyun semakin panik.

Kibum bangkit dan mengambil posisi duduk. Ia menghela nafas sebentar sambil melirik ke arah jam dinding. Tepat pukul 01.00 dini hari. “Hyora tak hilang. Hanya saja dia sedang pergi menemani seseorang,”

“Mwo?!” Jonghyun terperanjat. “Apa maksudmu?!”

Kibum membuka kertas yang berisi gambar Hyora yang sedari tadi ada dalam genggaman tangannya. “Lihatlah ini,” Kibum menyerahkan gambar itu pada Jonghyun. “Dialah yang menjadi sumber ketakutan Hyora. Dan aku rasa Hyora sedang bersamanya sekarang,”

Jonghyun menelan ludahnya. Ia memandang gambar yang ada di depannya. Gambar seorang bocah laki-laki dengan pakaian kusut. “Siapa dia, Kibum-ah?”

Kibum mendecakkan lidahnya. “Kenapa kau bisa se-pabo ini, Jonghyun-ah? Kau juga punya sixth sense, bukan? Bahkan kemampuanmu melebihiku. Kenapa kau bisa tak menyadarinya sampai sekarang?”

Jonghyun bergidik. Ia memang punya sixth sense, hanya saja dia malas menggunakannya. Dia tak ingin hari-harinya terganggu dengan kehadiran sosok-sosok yang memuakkan matanya. “Apa ini ada hubungannya dengan nyanyian itu?”

Kibum mengangguk lalu berkata, “Ne, barusan aku mendengarnya bernyanyi,”

Jonghyun menghela nafas sejenak. Ia harus menggunakan sixth sense-nya sekarang. Ini bukan main-main dan menyangkut keberadaan Hyora. Jonghyun memejamkan matanya. Ia menggerakkan kedua telunjuknya. Ia memijat-mijat daerah di perbatasan kedua matanya. Lalu kedua telunjuknya itu bergerak naik dan menjauh di kedua alisnya diikuti kedua jari tengahnya yang melakukan hal yang sama.

Jonghyun membuka mata perlahan. Terbuka! Serunya dalam hati. Sixth sensenya terbuka. Perlahan kepekaannya terangsang. Suhu ruangan berubah drastis. Angin dingin mengaliri tengkuknya. “Bau darah,” desisnya lalu bangkit dari tempat tidur.

As you bright and tiny spark..

“Dia bernyanyi lagi,” umpat Jonghyun, “kau mendengarnya?” tanyanya sambil melihat Kibum.

Lights the trav’ler in the dark..

Ne,” jawab Kibum, “aku mendengarnya meskipun samar-samar,”

Though I know not what you are..

“Aku rasa, aku tahu di mana Hyora sekarang,” tebak Jonghyun. “Lihat itu!” ia menunjuk bercak-bercak darah  yang membekas di lantai di dekat meja belajarnya. Bola matanya mengikuti arah bercak-bercak darah itu. “Ke halaman belakang,” lirihnya agak tegang.

Twinkle on, please, little star..

“Ayo kita ikuti,” Kibum bangkit dan mengikuti Jonghyun.

Twinkle, twinkle, little star..

Kajja, Kibum-ah!”

How I wonder what you are!

***

Gadis kecil itu mengais-ngais tanah dengan sekuat tenaga. Ia tak peduli meski jari-jarinya kelelahan atau bahkan terluka. Hawa dingin malam tak menghentikannya meski dia hanya menggunakan baju tidur tipis, bahkan keringat terlihat mulai mengalir dari pelipisnya. Hanya ini jalan satu-satunya. Dengan ini semuanya akan segera berakhir.

“Ya! Sebenarnya apa sih yang kau tanam di sini?” tanya Hyora kesal.

Sosok yang berdiri di sebelahnya menggerak-gerakkan jarinya. “Hadiah untuk hyung-ku. Tolong carilah,” jawabnya dengan suara bergema.

Hyora terdiam. Ia mengernyitkan alisnya. Ia menatap wajah sosok yang berdiri di sebelahnya. Sekilas sosok itu terlihat menyeramkan. Darah mengalir dari pelipis, hidung, kedua mata dan bibirnya. Wajahnya pucat pasi. Tangan kirinya hancur tak berbentuk. Tangan kanannya masih utuh, hanya saja kulitnya mengelupas dan menampakkan isi kemerahan yang ada di dalamnya. Lalu kakinya, berwarna merah hampir sempurna. Hyora menelan ludah, benar-benar pendarahan yang hebat, batinnya. Namun entah kenapa tak ada sisi jahat yang di tangkap Hyora dari sosok itu.

“Boleh aku tahu siapa namamu?” tanya Hyora akhirnya.

Taemin, Lee Taemin imnida,”

***

Jonghyun POV

Aku dan Kibum sampai di halaman belakang. Aku bergidik saat menyaksikan pemandangan di depanku. Apakah benar itu yeodongsaengku? Pikirku heran melihat apa yang kini dilakukan Hyora. Dan yang bersamanya itu? Astaga, benar-benar sosok yang tak ingin kugambarkan.

Aku dan Kibum menghampiri Hyora secepat yang kami bisa. Belum sempat aku dan Kibum menanyakan apa yang Hyora lakukan, Hyora sudah lebih dulu berteriak, “Ketemu!”

kulihat dengan sumringah kedua tangannya meraih benda yang ditemukannya di dalam tanah itu.

Sebuah kotak lusuh dan berlumpur. Aku dan Kibum belum mengeluarkan sepatah katapun. Kami hanya berdiri mematung di samping Hyora. Perlahan jari-jari Hyora mulai bergerak mencari celah untuk membuka kotak itu.

Klikk..

“Terbuka!” seru Hyora ironis. Pandangannya sedikit berubah ketika menatap apa yang ada di dalam kotak itu. “Pianika?” ucapnya lagi. “Ini hadiah yang ingin kau berikan pada hyung-mu?”

Sosok yang berada berada tak jauh dari Hyora tersenyum. Entah apa yang membuatku berpikir sosok itu anak laki-laki yang sangat polos.

“Jonghyun-ah!” suara teriakan dari arah pintu depan membuyarkan lamunanku.

“Itu suara Minho,” ucap Kibum yang dari tadi ikut terdiam di sampingku. “Biar aku yang membukakan pintu untuknya!” serunya lalu berlari ke arah pintu depan.

“Hyung..” sosok di samping Hyora mengeluarkan suara. Entah mengapa terdengar begitu bergema. Bibirnya menyunggingkan senyum ironis mengaburkan sekilas wajah pucatnya. “Hyung datang,” lirihnya lagi lalu menghilang di kegelapan bersamaan dengan datangnya Kibum bersama dengan Minho dan seorang namja.

Annyeong, Jonghyun-ah!” Minho membuka pembicaraan. “Maaf mengganggumu malam-malam begini. Aku hanya ingin membantu teman lamaku, ada sesuatu yang harus dilakukannya di sini,”

Ne, gwenchana, Minho-ya,” ucapku lalu memandang namja yang datang bersama Minho. “Kim Jonghyun imnida,” kataku sesopan mungkin.

Namja itu tersenyum. “Naneun Lee Jinki imnida,”

“Ehm!” tiba-tiba Hyora berdeham. Ia berjalan mendekati Jinki dengan menggenggam pianika yang barusan didapatkannya. “Ini milik Jinki Oppa, ya?” tanyanya polos.

Namja bernama Jinki itu terdiam sejenak. Kedua bola matanya membulat. Bisa kulihat kedua manik hitamnya mulai terselubung air. “Ne, ini hadiah yang sempat ingin diberikan namdongsaengku saat ulang tahunku yang ke-16 tahun lalu, saat kami masih tinggal di sini,” ucapnya dengan suara bergetar lalu mengambil pianika itu dari tangan Hyora.

Hening, tak ada satupun makhluk yang berani bicara. Perlahan Jinki mulai memainkan pianika itu, merangkai sebuah nada yang sederhana, namun terlihat sangat berarti baginya.

Angin dingin berhembus. Sayup-sayup suara itu terdengar. Memecah suasana yang mulai mencekam.

Twinkle, twinkle, little star.. How I wonder what you are.. Up above the world so high.. Like a diamond in the sky.. Twinkle, twinkle little star..How I wonder what you are..

Aku merengkuh tubuh Hyora yang mulai menggigil. Kudengar suara langkah kaki kecil dari arah ruang tengah.

When the blazing sun is gone..When he nothing shines upon..Then you show your little light..Twinkle, twinkle all the night..Twinkle, twinkle little star.. How I wonder what you are..

Pintu belakang yang tadi ditutup rapi oleh Kibum terbuka perlahan. Bau anyir darah menyeruak keluar bersama hembusan angin yang meremangkan bulu roma.

Then the trav’ler in the dark.. Thanks you for your tiny spark.. How could he see where to go.. If you did not twinkle so? Twinkle, twinkle, little star.. How I wonder what you are..

Jinki tetap meneruskan permaiannya meski air mata mulai luruh di pipinya bersamaan dengan munculnya sosok mungil di pintu itu.

In the dark blue sky you keep.. And through my curtains often peep.. For you never shut your eyes.. Till the morning sun does rise.. Twinkle, twinkle, little star.. How I wonder what you are!

Bau anyir darah menghilang. Kemeja putih. Itu warna yang menyelimuti sosok itu. Dengan raut wajahnya yang tanpa kehidupan ia terus mengumandangkan suara merdunya. Sosoknya kini terlihat utuh dan bersih. Rambut model jamurnya terlihat rapi meski terlihat dingin, namun wajah polosnya memancarkan ketenangan.

As you bright and tiny spark.. Lights the trav’ler in the dark.. Though I know not what you are..Twinkle on, please, little star.. Twinkle, twinkle, little star.. How I wonder what you are!

Berhenti. Jinki menghentikan permaiannya begitu juga anak laki-laki itu. Ia berhenti bernyanyi. Brukk!! Jinki tersimpuh. Air matanya mengalir lagi. “Mianhae, mianhae, Taemin-ah,” lirihnya getir. “Aku bukanlah hyung yang bertanggung jawab. Aku bahkan tak bisa menyelamatkanmu dari kecelakaan lalu lintas waktu itu. Aku terlalu berambisi untuk hari ulang tahunku hingga aku kehilangan hadiah terpenting untukku, yaitu dirimu. ARGGHH!!”

Aku menelan ludahku. Entah bagaimana aku harus berekspresi melihat kejadian ini. sosok bernama Taemin itu mendekat ke arah Jinki. Tangannya menepuk pundak Jinki. “Gwenchanayo, Hyung. Yang telah terjadi biarkanlah terjadi. Jangan sesali apapun. Mungkin ini sudah menjadi jalanku. Kau masih punya masa depan. Jadi, kau harus terus berjuang. Tersenyumlah, maka aku akan tenang di alam sana,”

Jinki menatap Taemin penuh arti. “Taemin-ah, bogoshipo,” kedua lengannya merungkuh Taemin ke dalam pelukannya.

Jangan menangis, Hyung. Kau seorang namja. Mianhae, Hyung. Aku harus pergi sekarang. Aku tak akan membiarkanmu merasa kesepian. Mainkanlah pianika itu setiap kau merasa kesepian, maka kau akan merasakan kehadiranku di sampingmu. Annyeonghi gyeseyo.”

Jinki melepaskan pelukannya. Perlahan tapi pasti senyum tipis tersungging di bibirnya. “Annyeong, Taemin-ah. Rest in peace,”

Suasana tenang kembali bersamaan dengan hilangnya sosok Taemin. Entah sejak kapan aku menangis. Hyora, Kibum, bahkan Minho yang paling keras hati pun ikut menitikkan air mata. Meski bergemuruh dalam pilu, namun kejadian ini memberi kami pelajaran dan makna tersendiri untuk mengintrospeksi diri  di tengah keegoisan diri dan kebutaan pikiran.

***

Author POV

Jonghyun Menggendong Hyora di punggungnya. Gadis kecil itu terlihat kekenyangan setelah makan makanan beberapa porsi di restoran Cina bersama Jonghyun beberapa saat yang lalu.

Jonghyun melirik Hyora yang bergelayut di punggungnya. “Mau makan lagi, Hyora-ya?” godanya sambil tersenyum nakal.

Anniyo!” tolak Hyora keras. “Aku kenyang sekali, Oppa. Ayo kita pulang!” rengeknya manja.

“Tunggu dulu, Oppa ingin menemui seseorang,” ucap Jonghyun lalu berjalan ke arah halte bis yang tak jauh dari posisinya.

Annyeong haseyo, Jinki-ssi! Lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu?” sapa Jonghyun pada namja yang tengah duduk di halte bis sambil menatap ke langit.

Jinki tersenyum. “Annyeong haseyo, Jonghyun-ssi, Hyora-ya! Tak terasa sudah dua minggu sejak kejadian itu. Aku baik-baik saja,”

Jonghyun menatap Jinki. Namja itu memegang erat pianika yang tak asing di mata Jonghyun. Jonghyun tersenyum lalu berkata, “Merindukan Taemin?”

Jinki mengangguk. “Ne. Kurasa dia sudah bergabung bersama malaikat di surga sana,” ucapnya  lalu mulai memainkan pianika yang dibawanya.

Hyora menyembulkan kepalanya dari balik punggung Jonghyun. Ia mendekatkan ujung bibirnya ke telinga Jonghyun. “Dia datang, Oppa,” bisiknya sambil tersenyum manis.

Jonghyun tersenyum. “Ne, Oppa tahu,”

Jonghyun menatap Jinki. Dia datang, Jinki. Dia menemanimu, batin Jonghyun. Dia kini bersinar, bagai bintang yang menerangi kesepianmu.

“Ya sudah, aku dan Hyora pulang dulu, Jinki-ssi,” ucap Jonghyun yang tak ingin mengganggu keasyikan Jinki.

Jinki mengangguk lalu melanjutkan permainannya.

Hyora melirik ke arah Taemin yang duduk di samping Jinki. Meski sekarang Jinki tak menyadarinya, namun ia pasti tahu, Taemin tak akan jauh darinya. Taemin melambaikan tangannya seolah berkata ‘sampai bertemu lagi’

Hyora membalas lambaian tangan itu. Ia tersenyum berharap suatu saat nanti mereka akan bertemu lagi dikehidupan yang lain.

Sementara Jonghyun tetap berjalan dengan senyum tersungging di bibirnya. Kini ia mensyukuri sixth sense yang dianugerahkan Tuhan padanya. Kelebihan yang berbeda, namun istimewa. Terima dan jalani dengan apa adanya, maka ia akan menunjukkan jalan yang harus kita tempuh. Dan tetaplah percaya bahwa keajaiban itu ada dan akan memberikan kita kedewasaan seiring berjalannya waktu.

***

FIN

©2011 SF3SI, Chandra.

This post/FF has written by Chandra, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

113 thoughts on “Lost Memory

  1. Aigoo Unnie, keren!! Kirain aku ini thiller gimana gitu? Pas baca ada darah-darah udah agak merinding, eh- ternyata akhirnya happyend (walau buat Onew gak happyend). Keren banget Unnie~!! Nice ff!!

  2. Keren keren keren!
    Aku selalu suka cerita horor, aku terkesan banget pas baca FF ini >W< *guling2*

    Pas ada bagian lagu 'Twinkle Twinkle' aku sedikit merinding, ngebayangin Taemin nyanyi itu dengan kondisi yang menyeramkan, hiiy *tapi nggak kapok -__-*
    Ceritanya bikin tegang, endingnya juga memuaskan😀

    Huaa pokoknya daebak deh Thor b^O^d

  3. hallo author, saya mau minta izin buat pake ff ini jadi drama . . boleh nggak??
    janji deh nanti dikasih credit . tapi saya edit dikit o.o

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s