Bad Boy Sitter – Part 3

Bad Boy Sitter – Part 3

Author : Firdha a.k.a Park Yeorin

Main Cast : Park Jiyeon, Lee Taemin, Lee Jinki (Onew), Yoo Seung Ho, Choi Minho, Park Yeorin

Support Cast: Other SHINee members, etc.

Length: Sequel

Genre : Friendship, Romance

Rating : General

Summary :

Saat aku sedang mengayuh sepedaku, tiba-tiba seorang anak kecil melintas di depanku. Aku yang terkejut langsung membelokkan sepedaku ke kiri. Namun, tiba-tiba saja muncul sebuah mobil dari arah yang berlawanan. Tabrakan pun tidak terhindarkan, sepedaku menabrak bagian samping mobil berwarna silver itu, dan lutut serta telapak tanganku berdarah setelah bergores dengan aspal saat aku berusaha menahan tubuhku. Neomu apha! Aku meringis kesakitan. Lalu, kulihat seorang ahjussi dan halmeonie menghampiriku.

***

Jiyeon POV

Tiba-tiba saja Taemin sunbae menghampiriku. Aigo! Mau apa dia?

Ia terus berjalan mendekatiku, dan saat ia sudah berada tepat di hadapanku, ia langsung mengambil bola yang ada di tanganku. Setelah itu, ia memegang tanganku dan mengajariku bagaimana cara memegang bola saat mendribble. Ia juga mengajariku cara men-shoot bola dengan benar. Catatan; Ia melakukan semua itu dengan hanya sedikit berbicara. Aneh. Sebenarnya dia itu sakit gigi atau apa, sih?

Akhirnya giliranku selesai, aku bernapas lega. Tapi ternyata kelegaanku tidak berlangsung lama, karena saat aku baru sampai di kelompokku, Hyena langsung menarik tanganku dan menyeretku ke toilet, sementara Raena dan Taerin mengikuti dari belakang.

“Waeyo? Kenapa kau menarikku ke sini?” Tanyaku bingung.

“Ya! Bagaimana bisa Taemin sunbae memegang tanganmu seperti tadi?” Hah! Hanya soal itu? Jincha! Penting sekali!

“Mana kutahu.” Jawabku sekenanya.

“Tadi itu strategimu, ya? Berpura-pura tidak bisa? Kenapa aku tidak terpikir, ya?” Ujar Raena dengan wajah serius. Strategi? Strategi apa? Pembicaraan ini makin membingungkan.

“Ya! Kenapa kau tidak bilang kalau kau punya strategi secemerlang itu?” Hardik Hyena dengan wajah sebal. Aishh, mereka ini bicara apa, sih?

“Sebenarnya apa sih yang sedang kalian bicarakan? Strategi? Kita kan hanya latihan, bukan bertanding. Jadi untuk apa harus memakai strategi?” Tanyaku polos.

“Kau belum mengerti juga?” Tanya Taerin dengan tatapan tidak percaya. Aku hanya menggelengkan kepalaku.

“Maksudku itu, strategi untuk mencari perhatian Taemin sunbae, yaitu berpura-pura tidak bisa agar Taemin sunbae membantumu. Arasseo?” Ujar Hyena.

“Oh…itu…” Chakaman! Strategi mendekati Taemin sunbae? Hah! Apa-apaan ini? “Ya! Penting sekali aku melakukan hal itu. Aku tidak pernah menggunakan strategi apapun dan aku tidak pernah berusaha untuk mencari perhatian siapapun. Arasso? Sudah ah! Aku kembali ke lapangan.” Langsung saja kutinggalkan mereka. Untuk apa aku meladeni mereka hanya untuk membahas hal seperti itu.

***

Ring… Ding… Dong…

Bel istirahat berbunyi, semua murid langsung beranjak keluar. Bagitu pula dengan aku, In Su dan Yeorin. Kami berjalan ke kantin berbarengan, lalu segera memesan makanan dan duduk di tempat yang kosong. Tak berapa lama kemudian, terlihat sekelompok namja datang, namja dari klub basket. Kulihat ada dua yeoja yang ikut berada dalam kelompok itu, satu yeoja menggamit tangan sunbae yang kemarin menunjukku saat di lapangan, dan satu lagi menggamit tangan Taemin sunbae. Dua yeoja dalam dua hari? Ah, tidak! Satu lagi saat di pesawat. Jincha!

“Ya! Apa kalian sudah tau berita tentang mereka?” Tanya In Su setengah berbisik. Ia menunjuk ke arah Taemin sunbae dkk dengan tatapan matanya.

“Berita apa?” Tanya Yeorin penasaran. Wajahnya menunjukkan ketertarikan.

“Aku dengar, mereka itu adalah nappeun namja, lho.” Jawab In Su. Wajahnya benar-benar serius. Nappeun namja? Memang terlihat jelas dari cara mereka berpakaian.

“Jincha?” Yeorin membelalakkan matanya.

“Ne. Katanya, mereka itu suka balapan liar di malam hari. Selain itu, ada yang pernah melihat mereka di bar, padahal kan mereka masih di bawah umur.”

“Kau tau dari mana?” Yeorin semakin penasaran.

“Ini sih sudah jadi rahasia umum di sini. Katanya, mereka juga suka merokok, berkelahi dan… playboy.”In Su mengucapkan kata yang terakhir dengan sangat berat.

“Untuk hal yang ketiga itu aku bisa melihatnya dengan jelas. Sulit dipercaya, padahal mereka itu tampan dan hebat dalam bermain basket. “ Ujar Yeorin seraya menyeruput jusnya.

“Aku juga tadinya tidak percaya. Tapi, kau lihat saja penampilan mereka! Rambut acak-acakan dan memakai seragam asal-asalan. Tapi sungguh, penampilan mereka itu malah membuat mereka terlihat semakin keren. Makanya, walaupun mereka dikenal nappeun namja, tapi tetap saja masih banyak yeoja yang mengejar-ngejar mereka.”

“Contohnya kau?” Aku angkat bicara. In Su pun terkekeh dan nyengir kuda menanggapi sindiranku.

“Jiyeon-ah! Masa kau tidak tertarik pada satu pun dari mereka?” Tanya In Su bingung.

“Anni. Aneh sekali bisa banyak yeoja yang menyukai nappeun namja sekaligus playboy seperti mereka.” Jawabku sekenanya.

“Kau sungguh berbeda. Tapi, walaupun mereka nappeun namja, mereka itu sudah berhasil mempertahankan posisi pertama sekolah kita dalam kejuaraan basket, tau! Dan mereka pun kaya, hehe”Ujar In Su membela mereka sambil tertawa garing.

“Tapi, bukankah mereka itu playboy? Kau mau diduakan bahkan disepuluhkan oleh mereka?” Balasku tak mau kalah.

“Kalau soal itu, memang agak berat.” In Su langsung menciut dan memasang ekspresi murung.

“Tapi aku tidak peduli.” Tukas Yeorin tiba-tiba.

“Memangnya siapa yang kau sukai, Yeorin-ah?” Tanyaku penasaran.

“Ada deh…” Ia mengedipkan matanya.

“Ya! Yeorin-ah! Beritahu aku!” Aku mulai mengguncang-guncang bahu Yeorin.

“Iya, Yeorin-ah! Siapa yang kau sukai?” In Su ikut mendesak Yeorin.

“Aishh. Kalian itu mau tau saja. Kau sendiri, memangnya siapa yang kau sukai?” Yeorin mengalihkan pandangannya pada In Su.

“Jino sunbae. Sekarang katakan siapa yang kau sukai!” Jawab In Su sengit. In Su semakin mendesak Yeorin.

“Aishh!! Bimil (rahasia).” Yeorin langsung berlari pergi meninggalkan aku dan In Su. Akhirnya, kami pun main kejar-kejaran.

***

Saatnya pulang. Aku dan Yeorin sedang ada di tempat parkir sepeda, sementara In Su sudah pergi lebih dulu karena ada acara keluarga. *alesan.a basi bgt ya? Hehe*

“Yeorin-ah! Aku mau ke perpustakaan di tengah kota dulu. Kau mau ikut?” Tanyaku pada Yeorin yang sedang memakai helmnya.

“Toko buku? Shireo. Aku bukan kutu buku sepertimu. Aku tidak ikut.” Jawab Yeorin sekenanya.

“Ya sudah. Aku duluan, ya. Annyeong.” Aku melambaikan tanganku, lalu segera mengayuh sepedaku menuju perpustakaan kota.

Aku masih mengayuh sepedaku dengan santai, memerhatikan pemandangan kota Seoul seraya menikmati semilir angin yang menerpa tubuhku. Aku terus mengayuh sepedaku sembari bersenandung dan menikmati pemandangan kota yang aku lewati. Tempat-tempat yang kulewati terlihat bersih dan indah, kulihat banyak anak sekolah yang sedang berjalan kaki, dan ada pula yang naik sepeda sepertiku. Namun, saat aku berada di jalan yang lengang, tiba-tiba seorang anak kecil melintas di depanku. Aku yang terkejut langsung membelokkan sepedaku ke kiri. Namun, tiba-tiba saja muncul sebuah mobil dari arah yang berlawanan. Tabrakan pun tidak terhindarkan, sepedaku menabrak bagian samping mobil berwarna silver itu, dan lutut serta telapak tanganku berdarah setelah bergores dengan aspal saat aku berusaha menahan tubuhku. Neomu apha! (sakit sekali) Aku meringis kesakitan. Lalu, kulihat seorang ahjussi dan halmeonie menghampiriku.

“Gwenchanayo?” Tanya halmeonie itu cemas.

“Gwenchanayo.” Kualihkan pandanganku, berusaha mencari sosok anak kecil yang tadi ada di depanku. Namun anehnya anak kecil itu sudah tidak ada. Bagaimana bisa ia menghilang secepat itu? Aneh. Aku pun kembali mengalihkan pandanganku pada halmeonie yang terlihat sangat khawatir. Aku jadi tidak enak. Aku pun berusaha berdiri sekuat tenaga dan sesekali meringis. Kuperhatikan sepedaku yang sudah penyok dan sisi kanan mobil yang tadi kutabrak tergores hebat. Eotteokhae?

“Jweisonghamnida halmeonie. Karena kelalaianku, mobilmu jadi rusak. Mohon maafkan aku.” Kubungkukkan badanku.

“Anniya, gwenchanayo. Kau tidak perlu khawatir. Justru keadaanmu yang perlu dikhawatirkan. Lebih baik kau ke rumah sakit sekarang. Biar kau ikut mobil halmeonie.” Ujarnya ramah.

“Anniya, nan gwenchanayo. Halmeonie tidak perlu repot-repot! Lukaku tidak terlalu parah.” Aku berusaha mengelak.

“Tidak. Lukamu itu sangat parah. Lihat!” Halmeonie itu menunjuk lutut dan telapak tanganku yang memang terluka parah, darah segar terus muncul dari keduanya, baunya pun tercium. “Pokoknya kau harus ke rumah sakit. Ayo! Sekarang ikut halmeonie masuk ke mobil.” Akhirnya aku pun mengalah. Kuikuti halmeonie menuju mobilnya. Sesekali aku meringis saat berjalan.

Sesampainya di rumah sakit, luka-lukaku langsung diobati. Ternyata, lukanya memang cukup parah, karena akibatnya aku harus mendapatkan tiga jahitan di lutut kananku dan dua jahitan di sebelah kiri. Dan, telapak tangku pun harus diperban. Setelah selesai diobati, halmeonie mengajakku makan terlebih dahulu ke sebuah restoran.

“Jeongmal ghamsahamnida halmeonie atas semuanya. Aku tidak tau bagaimana cara untuk membalas budi padamu.” Ujarku ragu.

“Gwenchana. Kau tidak perlu membalasnya. Halmeonie ikhlas menolongmu.” Halmeonie itu tersenyum. Terlihat wajah cantiknya saat ia tersenyum. Ya, sepertinya halmeonie ini adalah yeoja yang cantik saat muda dulu.

“Anni. Aku harus membalasnya. Kata ommaku, aku harus bertanggung jawab atas kesalahan yang telah aku lakukan dan membayar hutang budi. Tolonglah halmeonie, katakan suatu permintaan padaku untuk aku membalas budi.” Ujarku dengan ekspresi memohon.

Halmeonie tampak berpikir sejenak, mungkin ia benar-benar memikirkan apa yang aku pinta. Tidak berapa lama kemudian wajah halmeonie itu langsung berubah ceria dan matanya berbinar, sepertinya ia baru saja menemukan ide yang sangat cemerlang.

“Ne, benar.” Halmeonie itu bergumam.

“Apa halmeonie sudah menemukan cara untuk aku membalas budi?” Tanyaku hati-hati.

“Ne, aku tau. Maukah kau menolongku untuk mengurus cucuku? Namun, kau harus tinggal di rumahku.” Jawab halmeonie yang spontan membuatku terkejut.

“MWO? Tinggal di rumah halmeonie? Tapi…” Aku membelalakkan mataku, lalu berusaha menenangkan diriku. Kalau tau begini, lebih baik aku terima kebaikan nenek ini tadi. Dasar Jiyeon pabo!

“Eothaeyo? Apa kau keberatan? Katamu kau ingin membalas budi padaku?” Kini halmeonie malah berubah, ia jadi terkesan memaksaku. Membuatku sulit untuk menolak.

“Tapi… aku…” Kuhentikan kalimatku, berpikir sejenak. Aku harus memutuskan. Eotteokhae? Aku tidak bisa meninggalkan rumah Yeorin begitu saja, lagipula aku juga sudah betah tinggal di sana. Tapi, aku berhutang budi pada nenek ini. Aigo! Keputusan mana yang mau kuambil. Ayo, Jiyeon-ah! Kau harus bisa memutuskan. Aku berhutang budi, dan hutang budi itu dibawa mati. Baiklah, sepertinya aku memang harus menjawab ‘iya’.

“Geurae, aku sudah memutuskan. Aku… menerima permintaan halmeonie.” Jawabku pasrah.

“Jincha? Gomawo…..”

“Park Jiyeon imnida.”

“Ah, gomawo Jiyeon-ah! Parcayalah, halmeonnie bukannya mau memanfaatkanmu, tapi aku memang membutuhkan bantuanmu.” Terlihat kejujuran sekaligus harapan di matanya. Entah apa itu, tapi yang pasti, tatapan matanya itu berhasil meluluhkan hatiku.

“Ne, aku percaya halmeonie.”

“Gomawo Jiyeon-ah! Lalu, kapan kau akan mulai pindah?”

“Ehm… mungkin lusa, hari senin, bagaimana?”

“Ah, ide bagus. Halmeonie sangat berharap kau bisa membantu halmeonie. Baiklah, sekarang kita pulang. Kau pasti harus membereskan barang-barangmu, kan?”

“Ne.” Kami pun segera beranjak untuk pulang. Halmeonie mengantarkanku sampai rumah karena sepedaku sudah tidak bisa tertolong, selain itu keadaanku juga tidak memungkinkanku untuk pulang sendiri. Akhirnya, kami pun sampai di depan rumah.

“Baiklah, Jiyeon. Lusa halmeonie akan menjemputmu di sini.” Ucap halmeonie lembut.

“Ne, halmeonie. Ghamsahamnida untuk semuanya. Anyeonghi gyeseyo!” Aku membungkukkan badanku. Setelah mobilnya sudah tidak terlihat, aku segera berbalik menuju rumah. Kubuka pintu, lalu tiba-tiba saja Yeorin memelukku. Terlihat ekspresi cemas Yeosung ahjussi dan Sunhye ahjumma.

“Jiyeon-ah! Gwenchanayo? Kenapa tangan dan lututmu diperban seperti ini?” Tanya Yeorin cemas.

“Tadi aku menabrak mobil. Mianhae sudah membuat kalian semua cemas.” Ucapku pelan. Rasanya aku sangat lelah dan tidak sanggup bahkan hanya untuk berbicara.

“Sudahlah Yeorin. Sebaiknya, biarkan Jiyeon istirahat dulu, baru minta ia bercerita!” Tukas Sunhye ahjumma.

“Ah, geurae. Ayo, Jiyeon aku antar kau ke atas.” Yeorin pun membantuku pergi ke kamar. Setelah itu, aku langsung beranjak mandi dan menghempaskan tubuhku ke kasur. Rasanya aku sangat lelah hingga akhirnya mataku pun perlahan menutup.

***

Author POV

Jiyeon dan Yeorin baru saja sampai di kelas. Tadi, mereka berdua pergi ke sekolah menaiki bis karena keadaan Jiyeon dan karena memang sepedanya sudah lenyap. Saat In Su melihat Jiyeon, ia langsung terkejut lalu menghampiri Jiyeon.

“Jiyeon-ah! Kau kenapa?” Tanya In Su cemas.

“Gwenchanayo. Hanya kecelakaan kecil.” Jawab Jiyeon asal.

“Kecelakaan kecil dengan luka besar seperti ini? Ayo ceritakan padaku!” Desak In Su.

“Iya, kau juga belum bercerita padaku. Sekarang cepat ceritakan!” Yeorin memasang tampang galak.

“Ah~ Baiklah.” Jiyeon pun menceritakan semua kejadian yang ia alami kemarin secara detil. Mulai dari saat ia melihat anak kecil hingga akhirnya halmeonie itu memintanya membantu mengurus cucunya.

“Sungguh luar biasa.” Komentar In Su setelah mendengar cerita Jiyeon. “Tapi, ngomong-ngomong cucunya itu berapa tahun?” Tanya In Su tiba-tiba. Jiyeon pun memukul keningnya tanpa sadar.

“Aw!” Seru Jiyeon kesakitan.

“Ya! Kenapa kau memukul keningmu? Sudah tau telapak tanganmu sedang sakit.” Geram Yeorin.

“Aku lupa.” Ucap Jiyeon pelan sambil mengibas-ngibaskan tangan kanannya.

“Rasanya agak aneh. Kenapa nenek itu malah meminta tolong padamu untuk mengurus cucunya, bukan menyewa baby sitter saja? Lalu, anak kecil itu siapa?” In Su mulai memasang ekspresi menyelidiknya. Sepertinya ia sedang berpikir keras.

“Molla. Sudahlah, aku malas membicarakan hal ini. Tapi, Yeorin, nanti kau bantu aku meminta izin pada orang tuamu, ya?” Jiyeon memasang ekspresi memelasnya.

“Iya. Tapi aku tidak janji ya, kau akan diizinkan.”

“Ne. Gomawo Yeorin-ah.” Ucap Jiyeon senang.

***

Malam pun tiba, saatnya Jiyeon meminta izin pada orangtua Yeorin untuk tinggal di rumah halmeonie yang baru saja kemarin ia temui. Perasaannya sangat tegang. Rasanya sangat sulit untuk mengatakannya.

“Yeosung ahjussi, Sunhye ahjumma! Bisakah kita bicara sebentar?” Ucap Jiyeon hati-hati. Yeosung ahjusssi dan Sunhye ahjumma yang sedang asik menonton TV langsung mengalihkan pandangannya kearah Jiyeon.

“Kau mau bicara apa Jiyeon-ah?” Tanya Sunhye ahjumma lembut.

“Aku… aku ingin meminta izin pada kalian untuk… tinggal di tempat… di tempat lain.” Ujar Jiyeon terputus-putus yang langsung membuat Yeosung ahjussi dan Sunhye ahjumma tersentak. Jiyeon menggigit bibir bawahnya, berusaha menenangkan diri.

“Kenapa kau tiba-tiba ingin pindah Jiyeon-ah? Apa kau tidak betah tinggal di sini?” Tanya Yeosung ahjussi dengan tatapan tajam.

“Anniya. Bukan begitu, tapi…”

“Jiyeon memiliki alasan yang kuat, appa. Dengarkan ceritaku…” Yeorin langsung memotong kalimat Jiyeon dan menceritakan semua kejadian yang telah Jiyeon ceritakan padanya. Setelah mendengar cerita Yeorin dan melalui proses negosiasi, kedua orangtua Yeorin saling bertatapan dan mengangguk satu sama lain.

“Baiklah. Kami mengizinkanmu tinggal di sana.” Ujar Yeosung ahjussi yang langsung membuat Jiyeon berseri-seri.

“Jincha?” Tanya Jiyeon berusaha meyakinkan dirinya.

“Ne. Kau itu sungguh mirip dengan ibumu. Bukan hanya wajahnya, tapi juga sikapnya. Tapi, ingat, kau harus menjaga dirimu baik-baik, dan jika mereka melakukan sesuatu yang tidak baik, kau hubungi saja kami. Arasseo?” Ujar Sunhye ahjumma yang langsung disambut oleh pelukan Jiyeon.

“Gomawo, ahjumma. Aku janji akan menjaga diriku dengan baik.” Jiyeon tersenyum lebar yang langsung membuat semua orang di situ ikut tersenyum juga.

***

Hari senin, saatnya berpisah dengan keluarga Yeorin. Memang, mereka pasti akan tetap saling bertemu karena Jiyeon akan menyempatkan diri untuk berkunjung ke sana. Tapi, tetap saja berat berpisah dengan mereka, orang-orang yang sudah Jiyeon anggap seperti keluarganya sendiri. Taeyoon Halmeonie pun ikut meminta izin kepada keluarga Jiyeon. Ya, namanya adalah Lee Taeyoon. Ternyata ia adalah orang yang baik dan ramah. Setelah puas saling bercengkrama, Jiyeon dan halmeonie segera masuk ke mobil dan meninggalkan rumah keluarga Yeorin untuk kemudian tinggal di rumah halmeonie.

Jiyeon POV

Kami berhenti di depan sebuah rumah yang sangat besar, setelah sebelumnya melewati halaman yang sangat luas. ‘Sungguh, ini rumah atau hotel? Kenapa bisa sebesar ini?’ Batinku tidak habis pikir. Kami pun segera masuk ke dalam rumah itu. Dan, saat aku melihat isi rumah itu… How amazing is this? Rumah ini benar-benar luar biasa mewahnya. Dan beberapa pelayan sudah berbaris di depan pintu. Aku terus saja terdiam di depan pintu sampai akhirnya halmeonie memanggilku, membuatku tersentak kaget.

“Jiyeon-ah! Sekarang halmeonie akan tunjukkan di mana kamarmu. Ayo, ikuti aku!” Aku hanya menurut dan mengikuti helmaeonie. Ternyata kamarku ada di lantai dua. Setelah melewati dua pintu, akhirnya halmeonie menghentikan langkahnya.

“Jiyeon, mulai sekarang ini adalah kamarmu, dan di ruangan ke empat sebelahmu ini adalah kamar…” Belum sempat halmeonie menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba pintu kamar di sebelahku itu terbuka. Lalu keluar seorang namja dari kamar itu, seorang namja yang sangat kukenal. Dia… dia… kenapa bisa ada disini?

“Kamar sebelahmu adalah kamar cucuku. Dan dia adalah cucuku.” Ucap halmeonie yang kontan membuatku tersentak.

“MWO???” Jadi, ini cucu yang harus kuurus?

TBC

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

34 thoughts on “Bad Boy Sitter – Part 3”

  1. Astaga! Siapa tuh?? Taemin Kah???
    Halmeoni zaman skrg keren-keren! Ada aja idenya….hehe!
    Taemin kok jadi gitu… 😦 jadi Nappeun Namja….mana Taemin yg kalem & manis itu???? *nyari di kolong meja*
    Author, Lanjuuuuut!

  2. wahhh, tepat bgt brsmbung,
    pas lg gitu.,
    jdi bkin pnasaran 😀
    cucunya halmeoni taem kkah?? atw sapakah????
    penasaran… penasaran 😀
    author, lanjut yahh 🙂

  3. CuUCUNYA TAEM AJAAAAA! Author musti janji ya besok yang ke-4 udah di publish! Openasaran abiiiiiiiiiiiiiiis

  4. seperti yg aku bilng kemaren thor !! suka bgt am karakter taemin .. !!
    hyaaa klo cucunya taemin aku juga mau ngurusin tampa dibayar juga gxpp .. heheh !! *pletak!!*
    ya!! bener2 di tunggu nih !! llanjutkan !!

  5. koq anak kecilnya bisa menghilang tiba-tiba gitu???jangan-jangan,,,,,O.O
    pasti cucunya halmeoni taemtaem,,,^o^..
    tgu,,mereka merokok?????balapan liar sih gpp thor,,tapi jangan ngerokok dong,,,,ToT..
    nanti next part.a jangan lama-lama yah,, 😀

  6. waah .. siapa tuh cucu nyaaa .. bikin penasaran aja nih ff .. lanjutnya jgn lama-lama ya thorr … #plakkkkk

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s