jjongi beday

Crossing The Line

AUTHOR : Yuyu a.k.a Younji

Main Cast : Kim (Han) Jonghyun, Han Kyoungmi

Support Cast : Choi Minho

Length : Oneshot

Genre : Romance, Sad, (slightly) Incest, Family

Rating : PG – 13

Summary :

Apa yang kau lakukan ketika kau mencintai seseorang yang tak seharusnya kau cintai?

Dia tau dengan jelas bahwa tak seharusnya ia merasakan perasaan itu. Dia melakukan dosa terbesar yang bahkan ia sendiri pun tak sanggup untuk mengakuinya. Ia terus terkubur dalam rasa cinta dan perasaan bersalahnya kepada semua orang disekitarnya. Hingga ia tak tau harus bagaimana lagi untuk menghentikan dirinya sendiri, ia memilih untuk menghindar. Tapi ternyata jika menghindar saja tak akan bisa menyelamatkannya dari dosa ini, maka ia rela untuk menghilang dan membuang jauh-jauh mimpinya.

Tau bahwa perasaannya tak akan bisa dimengerti oleh para orangtua, ia pergi tanpa meninggalkan jejak perasaannya.

Tau bahwa perasaannya tak akan terbalaskan, ia pergi meninggalkannya untuk kebahagiaan yang lebih baik bagi orang yang ia cintai, bagi saudaranya tercinta

Crossing the Line

Seorang namja duduk di sofa dengan kepala tertunduk. Wajahnya tertekuk dalam-dalam sementara wanita berusia awal 40an memandangnya dengan tajam. Terlukis segurat kesedihan di wajah wanita itu, tapi tidak ingin membiarkan anaknya melihat hal itu dengan jelas.

“Kau… Tau dengan jelas, apa maksud dari perkataanmu itu, kan? Jika memang itu yang terbaik menurutmu, lakukanlah. Tapi setidaknya, pertimbangkan sekali lagi sebelum kau benar-benar melakukan hal itu.” Ucap wanita itu akhirnya setelah keheningan yang mencekam meliputi mereka selama hampir 10 menit.

“Eomma …” Namja itu mendongak, menatap wajah Ibunya dengan tidak percaya. Di satu sisi, ia merasa lega karena wanita itu tidak berusaha menahannya.

“Aku masih tidak mengerti alasan mengapa kau ingin keluar dari rumah ini karena kau memutuskan untuk tutup mulut. Tapi ingatlah, aku selamanya akan menjadi eomma untukmu, Jjong. Karena kau adalah Han Jonghyun, satu-satunya putra ku yang paling berharga di dunia ini” Nyonya Han merengkuh wajah Jonghyun dengan lembut. Jonghyun menatap lekat-lekat senyum keibuan dari wanita itu, berharap ia tak akan pernah melupakannya sampai kapanpun.

Jonghyun tersenyum sambil menahan airmatanya. Ia ingin Nyonya Han melihat wajahnya yang bahagia untuk terakhir kalinya. Jonghyun merengkuh lengan rapuh milik Nyonya Han dan memeluknya dengan erat.

“Aku pasti tidak akan menyesali apapun yang kulakukan nanti. Aku akan bicara lagi denganmu malam ini, eomma.” Ucap Jonghyun parau.

Nyonya Han mengangguk pelan dan meninggalkan Jonghyun seorang diri di ruang keluarga.

Sesungguhnya, bagaimanapun ia berpikir berulang kali, jawaban yang ia dapatkan tetaplah sama. Ia harus keluar dari rumah ini, menghilang dari keluarga yang telah memberikan begitu banyak cinta padanya. Jonghyun menoleh ke samping, tempat yang selalu ditempati yeodongsaengnya.

“Oppa! Mulai besok kita akan satu sekolah lagi! Dan aku juga sudah menjadi siswa SMA!” Han Kyoungmi melompat naik ke atas sofa dan langsung melingkarkan lengannya di leher Jonghyun.
”Omo! Kau mencekikku, Kyoungie~” Jonghyun melepaskan lengan Kyoungmi dan menggenggam kedua tangan Kyoungmi dan satu genggaman.

“Chukkae, uri Kyoungmie akhirnya sudah dewasa..” Jonghyun mengacak rambut Kyoungmi dengan pelan, membuat Kyoungmi terkekeh pelan.

“Kyoungmi-ya, apa kau mau appa belikan mobil supaya kau bisa pergi ke sekolah sendiri?” Tuan Han mengalihkan pandangannya dari layar tv dan mengamati dua kakak beradik yang masih asyik bermain satu sama lain.

“Aniya, aku tidak mau ke sekolah sendirian. Appa tidak perlu membelikanku mobil, karena Jjong oppa akan selalu mengantarku, geurechi?” Senyum diwajah Kyoungmi merekah. Matanya berbinar-binar hanya dengan membayangkan bahwa Jonghyun akan mengantarnya ke sekolah mulai besok.

“Ne, geure. Oppa akan selalu mengantarmu, gogjeonghajima..” Jonghyun kembali mengacak rambut Kyoungmi.

“Tapi, Kyoungmi-ya, kau tidak bisa selamanya bergantung pada kakakmu. Suatu saat nanti dia akan memiliki pacar dan tak akan punya banyak waktu lagi untukmu.” Ucap Tuan Han lagi. Senyum diwajah Kyoungmi memudar perlahan.
”Jinjja? Oppa akan meninggalkanku setelah oppa punya pacar?” Kyoungmi mengerucutkan bibirnya. Melihat Kyoungmi seperti ini justru membuat Jonghyun semakin gemas.
”Ani, oppa tidak akan pernah meninggalkanmu.”
”Meskipun oppa telah menikah?”
”Ne, meskipun oppa telah menikah.”
”Yaksok?” Sinar di mata Kyoungmi kembali memancar, membuat Jonghyun menahan kegeliannya. Kyoungmi, yeodongsaengnya yang polos. Selalu mempercayai setiap kata-katanya dan mudah sekali merasa puas. Benar-benar tipe yeoja polos yang akan mengalami bahaya jika ditinggal sedetik saja ditempat umum. Itulah sebabnya Jonghyun selalu ingin melindunginya, membuatnya tersenyum bahagia seperti saat ini.

“Ne, yaksok.”

Kyoungmi mengulurkan jari kelingkingnya, menunggu Jonghyun untuk melakukan hal yang sama dan saling mengaitkan kelingking mereka sebagai bukti janji.

“Aigoo, Jonghyun-ah, kau terlalu memanjakan adikmu. Kau sendiri yang akan repot kalau dia masih terus menempelimu meski kau sudah punya pacar.” Tuan Han menggeleng pelan melihat Jonghyun yang selalu mengabulkan permintaan Kyoungmi, tapi Tuan Han sendiri juga tak bisa menahan dirinya untuk tersenyum saat melihat mereka berdua. Melihat kedua orang anaknya sangat dekat, sungguh membahagiakannya.

“Gweanchana appa, aku tidak akan pernah merasa terganggu.”
”Aaah~ saranghae oppa!” Teriak Kyoungmi yang langsung memeluk erat pinggang Jonghyun. Jonghyun lagi-lagi tertawa, sesuatu yang hanya bisa dilakukannya ketika Kyoungmi berada di dekatnya.
”Oppa ddo saranghae..” Bisik Jonghyun cukup keras. Ia, sangat serius ketika mengatakan hal itu. Ia tidak tau apa arti dibalik kata-kata Kyoungmi—apakah itu perasaan dari seorang adik pada kakaknya atau dari seorang sahabat. Tapi yang pasti Jonghyun tidak mengucapkannya dengan arti yang sama seperti Kyoungmi. Jonghyun, benar-benar mencintai Kyoungmi. Perasaan cinta seorang namja terhadap yeoja.

“Apakah ada sesuatu yang terlewatkan?” Nyonya Han ikut bergabung diruang keluarga dengan dua piring buah apel yang sudah dikupas dan dipotong.

“Eomma! Oppa bilang dia tidak akan meninggalkanku meksi dia sudah menikah.” Kyoungmi melepaskand pelukannya dari Jonghyun dan mengambil sepiring apel dari tangan Nyonya Han dan meletakkannya diatas meja.

“Jinjja? Jjong pasti sangat menyayangimu.”

“Geurom! Kalau bukan aku, siapa lagi yang harus oppa sayangi?” Tanya Kyoungmi dengan penuh percaya diri. Seisi ruangan dipenuhi dengan gelak tawa mendengar kata-kata Kyoungmi.

Jonghyun meraih gitar yang ia letakkan di sampingnya dan mulai melantunkan beberapa melodi.

“Oppa, mainkan lagu Nothing Better untukku.” Kyoungmi menyuapkan sepotong apel ke mulut Jonghyun sementara Jonghyun melantunkan lagu yang Kyoungmi minta.

Itu adalah keseharian keluarga Han. Sesibuk apapun, mereka selalu menyempatkan diri untuk berkumpul.

Jonghyun beranjak dari sofa. Ia tak ingin mengingat kenangan yang begitu manis karena ia masih tidak bisa melupakan betapa sakitnya ia saat ini. Kenangan-kenangan seperti itu, hanya akan membuat hatinya goyah. Ia udah memutuskan untuk pergi, jadi memang seharusnya itulah yang ia lakukan. Apapun yang terjadi, ia tak akan boleh goyah. Jonghyun mengendarai mobilnya dengan sangat pelan. Baru kemarin ia melaksanakan upacara kelulusan dan sekarang ia sudah merindukan sekolahnya. Tempat di mana semua kejadian berlangsung dengan begitu cepat dan tak terduga selama setahun.

Jonghyun memarkirkan mobilnya di lapangan sekolah dan turun dengan perlahan. Lapangan sekolah masih sepi karena memang belum waktunya pulang.

Jonghyun melewati koridor demi koridor dan mengintip dari balik salah satu jendela. Kyoungmi duduk di deretan terdepan di kelasnya, dengan serius mencatat pelajaran yang sedang dijelaskan oleh Kang Songsaenim. Wajah itu, sejuta ekspresi yang bisa diperlihatkan oleh wajah itu, kelak tak akan bisa Jonghyun lihat lagi setelah ia pergi. Ia akan kehilangan yeoja yang ia cintai

Jonghyun tertunduk, kembali melanjutkan perjalanannya tanpa arah. Ia terhenti di sebuah ruangan dan mendongak. Ruangan yang pernah menjadi ruang club nya. Kecintaannya pada musik membuatnya mampu menyumbangkan banyak piala dari berbagai event perlombaan dari yang kecil hingga yang besar.

Satu lagi yang harus ia relakan dengan membuat keputusan untuk pergi—musik dalam hidupnya. Ia tak pernah membayangkan sekalipun hidupnya akan ia lalui tanpa Kyoungmi ataupun musik. Tapi sekarang ia berada diposisi di mana ia tak bisa memilih. Ia dihadapkan pada jalan buntu. Ia harus terus melangkah maju meskipun melewati dinding yang terjal itu akan sangat menyakitkan, ia tidak bisa mundur. Ia yang memilih jalan ini, maka ia tidak bisa mundur dan kembali melihat ke belakang, membiarkan orang-orang disekitarnya justru tersesat karenanya. Ia yang memilih jalan ini sejak awal, jadi ia tidak bisa membiarkan orang lain yang menerima konsekuensi dalam pilihan yang sudah ia buat sendiri.

Jonghyun mengitari sebuat piano putih yang terletak di ujung ruangan. Ujung-ujung jarinya menyentuh setiap permukaan piano dengan pelan.

“Oppa, aku yakin kau akan menjadi penyanyi terkenal suatu hari nanti.” Ujar Kyoungmi yang menggoyangkan badannya dengan pelan mengikuti alunan musik yang dihasilkan oleh jari-jari Jonghyun diatas tuts piano.

“Jinjja? Kalau begitu, apakah kau akan menjadi fansku?”

“Tentu! Aku akan menjadi fans nomor satumu, oppa. Jjong oppa yang terbaik!” Kyoungmi mengangkat kedua ibu jarinya dan mengarahkannya pada Jonghyun. Jonghyun terkekeh pelan, merasa sangat puas mendengar kata-kata Kyoungmi. Ia tidak butuh menjadi penyanyi terkenal asalkan Kyoungmi menyukai musiknya. Ia tidak perlu banyak fans asalkan Kyoungmi menjadi penggemarnya. Ia tak menginginkan apapun asalkan Kyoungmi menginginkan dirinya.

Kyoungmi menyenderkan kepalanya dipundak Jonghyun dan menghela nafas pelan.
”Ternyata menjadi dewasa itu tidak menyenangkan…” Gumam Kyoungmi pelan. Jari-jari Jonghyun terhenti diatas tuts. Dengan cepat Jonghyun menoleh ke arah Kyoungmi, mendapati yeodongsaengnya tengah memejamkan matanya dengan rapat.

“Waeyo? Apakah ada teman sekelasmu atau senior lainnya mengganggumu? Katakan padaku, Kyoungie-ya.” Tanya Jonghyun panik. Kyoungmi tertawa pelan lalu menggeleng masih belum membuka matanya.
”Ani. Semua orang sangat baik padaku. Hanya saja, setelah merasakan dunia orang dewasa rasanya agak aneh.” Kyoungmi mengangkat bahunya dan membuka matanya.

“Kau bisa terus menjadi anak kecil jika kau mau. Oppa akan selalu ada di sisimu.” Jonghyun mengelus puncak kepala Kyoungmi. Kyoungmi memutar tubuhnya untuk menatap Jonghyun.

“Aku tidak bisa menjadi anak-anak untuk selamanya. Lagipula, meskipun rasanya agak aneh, kurasa aku menyukai perasaan semacam itu.” Kyoungmi tersenyum lebar, membuat hati Jonghyun meleleh.

“Oh, geure..” Jonghun balas tersenyum dan melanjutkan permainan pianonya.

Jonghyun masih belum menyadari, bahwa sejak hari itu semua hal mulai berubah perlahan-lahan. Perasaan yang Kyoungmi rasakan bukan sekedar perasaan biasa. Kyoungmi mulai jatuh cinta.

Jonghyun tidak melanjutkan nada selanjutnya. Tanpa ia sadari, ia kembali melantunkan lagu yang pernah ia lantunkan diruangan ini untuk Kyoungmi 10 bulan yang lalu. Jari-jari Jonghyun bergetar pelan, setetes airmata mengalir turun dari pelupuk matanya. Segera, ia akan pergi meninggalkan Kyoungmi dan seluruh kenangan tentang mereka.

“Oppa? Jonghyun oppa?”

Jonghyun memalingkan wajahnya dengan cepat dan menyeka bekas airmata di pipinya lalu menoleh ke arah pintu di mana suara itu bersumber.

Suzy, yeoja yang telah ia kenal sejak kecil berdiri diambang pintu dengan ragu. Jonghyun yang pertama kali menghampirinya. Setelah pernyataan cinta Suzy kemarin, rasanya agak canggung bagi yeoja itu untuk mendekat Jonghyun seperti biasanya.

Jonghyun meneyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menatap Suzy selama beberapa detik, membuat Suzy tertunduk malu. Meski Jonghyun telah menolaknya, ia masih saja selalu terpesona pada apapun yang Jonghyun lakukan.
”Aku tidak tau harus bagaimana mengatakannya. Tapi aku juga tidak bisa pergi begitu saja tanpa sepatah katapun padamu.” Ujar Jonghyun lirih. Suzy mencerna kata-kata Jonghyun dan mendongak dengan kening berkerut, tidak terlalu mengerti apa yang dikatakan oleh Jonghyun dan berharap apa yang dipikirkannya tidak benar.

“Aku akan meninggalkan Seoul dengan penerbangan pertama besok pagi.” Lanjut Jonghyun begitu membaca ekspresi wajah Suzy.

“Berapa lama?”
Jonghyun membuka mulutnya, ia ingin mengatakan bahwa ia mungkin tak akan kembali lagi tapi ia tidak tega jika harus melihat ekspresi terluka di wajah Suzy.

“Molla …” Jawab Jonghyun tanpa menatap lurus ke mata Suzy.

“Hanya kau dan eomma ku yang kuberitau tentang kepergianku. Semoga kau tidak mengatakan apapun pada orang lain sebelum hari keberangkatanku. Karena kau adalah salah satu orang yang penting dalam hidupku, aku tidak ingin pergi begitu saja tanpa mengucapkan kata-kata perpisahan.

“Oppa, aku akan merindukanmu…” Isak Suzy. Jonghyun merangkul Suzy, memeluknya dengan hangat sementara Suzy terus terisak di dada Jonghyun.

Kyoungmi berdiri di ujung koridor dan terus menatap Jonghyun yang memeluk Suzy. Tak pernah ia melihat Jonghyun bersikap sedekat itu pada yeoja manapun kecuali dirinya. Jonghyun menyadari keberadaan Kyoungmi dan balas menatap Kyoungmi. Ada tatapan yang tak bisa dimengerti oleh Jonghyun.

Terluka, apakah benar itu yang ia lihat dari tatapan Kyoungmi? Tapi jelas itu hal yang mustahil. Tidak mungkin Kyoungmi merasa terluka hanya karena melihat Jonghyun memeluk Suzy.

***

Jonghyun menghentikan mobilnya di persimpangan saat lampu merah menyala. Ia baru saja mengantar Suzy pulang sementara ia tidak tau ke mana Kyoungmi. Sebuah bakery di ujung jalan menarik perhatian Jonghyun.

“Jjong ppa, tidak apa-apa kalau kau bolos latihan hari ini? Apakah teman-temanmu tidak akan memarahimu?” Tanya Kyoungmi sambil mengunyah muffin miliknya. Jonghyun duduk di hadapan Kyoungmi, menyesap kopi hitam miliknya dengan santai merasa senang memperhatikan setiap gerak-gerik Kyoungmi.

“Ani, mereka tidak akan marah. Lagipula baru kali ini aku bolos latihan. Aku bisa berlatih sendiri di rumah nanti. Tenanglah Kyoungie.”

Seperti biasa Jonghyun dan Kyoungmi pulang bersama hari itu, tapi begitu Kyoungmi melihat Rose Bakery diujung jalan yang baru di buka beberapa minggu lalu dan teman-teman sekelasnya selalu bercerita bagaimana enaknya kue-kue di sana, Kyoungmi jadi ingin mencobanya bersama Jonghyun.

“Hmm, oppa. Bagaimana kau dan Suzy bisa kenal?” Tanya Kyoungmi setelah ragu-ragu dan berpikir cukup lama tanpa menatap Jonghyun.

“Suzy? Kami sudah saling kenal sejak kecil. Orangtua kami berteman. Tapi sejak aku dan eomma pindah ke Seoul, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.”

“Oh… Temanku selalu bertanya apakah kalian berdua pacaran? Karena menurut mereka kalian berdua sangat serasi. Suzy sangat cantik, pintar dan dia juga sangat ramah. Sementara oppa sangat sempurna. Kalian benar-benar pasangan yang serasi.”
”Jinjja? Kau juga berpikir begitu?”
”hmm, kalau kalian pacaran, aku pasti tidak akan menentangnya. Suzy pasti akan menjadi kakak ipar yang baik nantinya.” Kekeh Kyoungmi. Jonghyun ikut tertawa kecil untuk menutupi rasa kecewanya. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa Kyoungmi akan mengatakan hal seperti itu. Jika bagi Kyoungmi, Suzy adalah pasangan yang tepat untuk Jonghyun, bukankah itu menegaskan bahwa Kyoungmi tidak sedikitpun melihatnya sebagai seorang namja?

***

Jonghyun melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai. Nyonya Han langsung berdiri dihadapannya dengan wajah cemas yang ia coba tutupi.

“Eomma mianhae …” Ucap Jonghyun dengan suara parau. Jonghyun memeluk Nyonya Han dengan erat. Segala macam perasaannya bercampur aduk saat ini.
”Maafkan aku, aku sudah berbuat salah. Maafkan aku eomma…” Ujar Jonghyun berulang-ulang kali. Nyonya Han tidak tau mengapa Jonghyun menjadi seperti ini. Biasanya Jonghyun adalah tipe namja yang ceria dan easy going, tidak pernah ia melihat Jonghyun semuram ini. Nyonya Han menepuk-nepuk punggung Jonghyun dengan pelan, mencoba menenangkan hati putranya yang sedang kacau.
”Aku tetap akan pergi… Aku tidak bisa lagi tinggal di rumah ini.. Mianhae eomma, saranghae.” Bisik Jonghyun agak keras di kalimat terakhirnya.

“Kalau memang itu keputusan akhirmu. Eomma ddo saranghae..” Balas Nyonya Han yang mencoba menahan airmatanya.

Setelah berdiam di posisi itu selama beberapa saat, Jonghyun masuk dan mengunci dirinya di dalam kamar. Jonghyun bersandar di daun pintu, tubuhnya merosot perlahan ke lantai. Wajah Jonghyun tertunduk, mencoba menenangkan dirinya lagi. Ia tak akan pernah goyah, ia harus keluar dari rumah ini. Dari dalam saku celananya, seuntai tali menyembul keluar. Jonghyun menarik tali perak itu keluar seutuhnya dari balik saku celananya. Sebuah kalung perak yang berkilau membuatnya Jonghyun tak bisa berkedip menatapnya.

Jonghyun tersenyum puas pada dirinya sendiri. Sebuah kotak silver kecil berpita digenggamnya dengan erat saat memasuki ruang tamu rumahnya. Hari ini adalah hari ulang tahun Kyoungmi. Dan ia tau sekali Kyoungmi menginginkan sebuah kalung yang harganya cukup mahal saat mereka berbelanja bersama. Beberapa hari ini Jonghyun sibuk mondar-mandir dari satu cafe ke cafe lain untuk bernyanyi dan mengumpulkan uang untuk membeli kalung yang sangat diinginkan Kyoungmi.

“Aigoo, Jjong-ah, kau baru pulang?” Tegur Nyonya Han yang sudah memakai piyamanya.
”Ah, eomma menungguku? Mian, ada sedikit urusan.” Jonghyun menghentikan langkahnya.

“Apa yang kau kerjakan hingga hampir jam 12 malam seperti ini?”

“Hanya… Sedikit urusan. Mana Kyoungmi?”
”Tentu saja dia sudah tidur, kau pikir jam berapa sekarang?”
”Tapi, bukankah biasanya dia tidak akan beranjak tidur sebelum mendapatkan hadiah dariku?” Tanya Jonghyun bingung.

“Tsk, kau pikir dia masih anak-anak? Dia tidak butuh hadiah dari kakaknya lagi kalau teman laki-lakinya bisa memberikan sesuatu yang lebih spesial. Lagipula tadi dia pulang malam sehabis berkencan, dia sangat lelah.” Ujar Nyonya Han sambil lalu dan meninggalkan Jonghyun yang mematung di tempat. Jonghyun masuk ke dalam kamar Kyoungmi, melihat Kyoungmi tertidur pulas di balik selimutnya. Jonghyun bisa melihat seulas senyum tipis yang terbentuk di wajahnya. Seuntai kalung terlihat manis dileher putihnya.

Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa hari ini akan datang. Tak pernah terpikirkan olehnya bahwa orang yang ia cintai akhirnya akan mencintai orang lain. Jonghyun mengepalkan tangannya dengan erat membuat buku-buku jarinya memutih. Ia merasakannya sekarang. Rasa takut karena Kyoungmi tidak akan pernah melihatnya, rasa takut karena Kyoungmi akan meninggalkannya tanpa ia sadari.

Ia harus menghilangkan perasaan ini. Perasaan yang jelas-jelas salah dan justru akan membuatnya menambah dosanya.

Kamar Jonghyun mulai terlihat gelap karena tak adanya cahaya selain cahaya bulan dari balik jendela. Jonghyun membuka matanya, ia tertidur tanpa ia sadari. Jonghyun melihat ke sekeliling dan melihat ia masih terduduk dilantai sama seperti ketika ia masuk ke kamar tadi. Jonghyun berdiri tanpa menyalakan lampu dan membiarkan kamarnya tetap dalam keadaan gelap. Jonghyun mengecek jam dari hpnya, sudah hampir jam 1 pagi.

Dari bawah tempat tidurnya, Jonghyun mengeluarkan sebuah koper hitam yang telah ia isi dengan pakaian dan beberapa barang lain miliknya yang ia siapkan kemarin.

Jonghyun keluar dari kamarnya sambil membawa koper itu sepelan mungkin, tidak ingin membangunkan satu pun penghuni rumah.

Diletakkannya kopernya tepat di samping sofa di ruang keluarga sementara Jonghyun sendiri membuka laci dan mengeluarkan semua album foto keluarga mereka. Jonghyun membuka lembar demi lembar dengan seksama. Ia mengeluarkan semua foto yang terdapat potret dirinya tanpa tersisa satupun dan memasukkannya ke dalam saku jaketnya.

Beberapa foto di meja yang berisi fotonya juga ia ambil tanpa terkecuali. Jonghyun menatap pintu kamar Kyoungmi dengan ragu. Ia tau Kyoungmi juga memajang foto mereka berdua di kamarnya.

Jonghyun masuk dengan tenang, mendekati meja tempat Kyoungmi memajang foto dan mengeluarkan foto tersebut dari piguranya. Foto terakhir yang ia ambil. Jonghyun mengedarkan pandang ke setiap sudut ruangan. Semua berisi kenangan mereka berdua, dari kenangan manis hingga yang menyakitkan pun ada. Jonghyun meletakkan kalung yang seharusnya ia berikan pada Kyoungmi 3 bulan yang lalu diatas meja disamping tempat tidurnya. Ia tak ingin lagi melihat Kyoungmi menangis karena dirinya, dan berharap kalung itu bisa menggantikan dirinya selama ia pergi.

Jonghyun tak pernah lagi mengantar Kyoungmi pergi ke sekolah karena memang akhirnya Kyoungmi bersedia dibelikan mobil oleh Tuan Han. Sejak hari ulang tahun Kyoungmi, ia dan Jonghyun sudah jarang bertemu. Jonghyun selalu pergi lebih awal dan pulang dengan sangat larut. Terkadang Jonghyun berkumpul bersama teman-temannya di ruang club di sekolahnya ataupun berlatih di studio hingga sore bahkan malam hari. Tidak jarang ia menginap di rumah temannya ataupun pulang ke rumah dini hari dalam keadaan mabuk setiap akhir pekan. Jonghyun menjadi dingin pada Kyoungmi, ia tak lagi menatap Kyoungmi dengan sorot matanya yang penuh cinta. Ia tak memiliki sorot mata seperti itu lagi setelah hatinya hancur berkeping-keping.

Nyonya Han menyadari perubahan dalam diri Jonghyun, tapi berpikir bahwa itu adalah perubahan biasa yang memang pasti akan dialami setiap orang untuk beranjak dewasa.

“Oppa, bagaimana kalau kita jalan-jalan minggu ini? Kita sudah lama sekali tidak bersama-sama sejak beberapa hari sebelum ulang tahunku, kau bahkan tidak memberikan hadiah untukku.” Cibir Kyoungmi seperti biasa. Kyoungmi merangkul lengan Jonghyun dan menggoyangkannya dengan pelan. Jonghyun menepis lengan Kyoungmi, membuat Kyoungmi terkejut. Tak pernah sekalipun sebelumnya Jonghyun menolak Kyoungmi seperti itu.

“Aku tidak bisa, aku sibuk..” Balas Jonghyun dengan nada suara yang dingin.

“Apakah aku berbuat salah? Apakah oppa marah padaku? Kumohon jangan bersikap dingin padaku..” Tanya Kyoungmi. Nyonya Han bukan satu-satunya orang yang menyadari perubahan dalam diri Jonghyun. Kyoungmi terisak pelan, tidak menyukai Jonghyun yang bersikap cuek padanya.

“Alangkah baiknya jika aku tidak memilik yeodongsaeg sepertimu.” Ujar Jonghyun dengan lirih dan meninggalkan Kyoungmi. Kyoungmi mencoba menahan tangisnya, tapi kata-kata Jonghyun terlalu menyakiti hatinya. Ia tidak pernah menyesali kehidupannya bersama Jonghyun dan orangtuanya. Ia merasa diberkati karena bisa memiliki Jonghyun dalam keluarganya, tapi Jonghyun malah tidak merasakan seperti yang ia rasakan.

Kyoungmi bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya, terlihat tidak tenang. Jonghyun mendekati tempat tidur Kyoungmi, menarik ujung selimut hingga menutupi sampai ke pundak Kyoungmi. Beberapa hela rambut yang menutupi wajah Kyoungmi membuat Jonghyun tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dengan lembut Jonghyun menyingkirkan rambut itu ke samping, mendapatkan sudut yang tepat untuk mengagumi wajah Kyoungmi. Jonghyun menundukkan tubuhnya dan mengecup kening Kyoungmi.
”Saranghae, uri Han Kyoungmi…” Bisik Jonghyun.

***

Suara berisik dari luar kamarnya membuat Kyoungmi terbangun. Kyoungmi turun dari tempat tidurnya sambil mengucek matanya yang masih berat dan keluar kamar.
”Eomma, waeyo?” Tanya Kyoungmi setelah menguap lebar.

“Jjong, dia pergi tanpa berpamitan…”

Sebelah alis Kyoungmi terangkat. Bisa ke mana Jonghyun sepagi ini? Nyonya Han menceritakan tentang keputusan Jonghyun untuk keluar dari rumah dan hal itu membuat Kyoungmi sangat terkejut. Kyoungmi berlari ke kamar Jonghyun, tapi kamar itu sangat rapi dan kosong. Kyoungmi menyadari bahwa tidak ada lagi foto Jonghyun dan dirinya di dalam kamar Jonghyun. Kyoungmi kembali ke ruang keluarga, tidak ada juga foto milik Jonghyun. Album foto keluarga mereka pun tidak terdapat satupun foto Jonghyun. Semua tentang Jonghyun dalam rumah itu lenyap, seolah-olah hidup bersama Jonghyun bagaikan sebuah mimpi belaka.

Kyoungmi duduk ditepi tempat tidur Jonghyun dengan pandangan kosong. Ia tidak tau mengapa Jonghyun tiba-tiba saja keluar dari rumah, bahkan tanpa mengatakan sepatah katapun padanya. Ia lebih suka Jonghyun bersikap dingin dan ketus padanya daripada ia tak bisa melihat Jonghyun sama sekali.

Sebuah gitar yang berbaring manis di meja membuat Kyoungmi membelalak tak percaya. Kyoungmi berlari kecil ke sudut ruangan dan melihat gitar itu lebih dekat. Memang benar, itu adalah gitar milik Jonghyun.

Rasanya mustahil membayangkan Jonghyun pergi tanpa membawa gitarnya. Kyoungmi terus bertanya-tanya, apa yang sebenarnya sedang Jonghyun lakukan? Bagaimana mungkin ia tak membawa gitar kesayangannya bersama dirinya? Kyoungmi menyentuh kalung yang ia kenakan dan menggenggamnya dengan erat.

Ia menemukan kalung itu di mejanya tadi pagi setelah ia mandi. Entah bagaimana, ia yakin kalung itu pemberian Jonghyun.

4 Years Later

“Kyoungmi-ya, mau ikut dengan kami ke karaoke?” Ajak Minho pada Kyoungmi. Kyoungmi menggeleng pelan dan menggerakkan mulutnya mengucapkan ‘mian’ pada beberapa temannya yang berada agak jauh dari dia dan Minho.

“Wae? Bukankah hari ini kau tidak ada kerja sambilan?” Tanya Minho agak kecewa.

“Aku sedang malas, lain kali saja ya.”

“Tsk, kau selalu berkata seperti itu setiap kali kami mengajakmu untuk bersenang-senang. Geure, selamat beristirahat.” Minho mengelus puncak kepala Kyoungmi dan membalikkan badannya, tapi kembali berbalik dan menghadap Kyoungmi.

“Kau tau, aku merindukan Kyoungmi yang kusukai 4 tahun yang lalu. Dan aku masih sedih kalau melihat kau ternyata tidak memakai kalung pemberianku lagi, justru memakai kalung dari orang lain.” Suara Minho terdengar agak lirih, meski ia sendiri sudah mencoba untuk mengucapkannya sedatar mungkin.

“Karena hanya ini yang tersisa dari orang itu dan aku ingin terus mengingatnya.” Kyoungmi tersenyum tipis. Setiap kali mengingat Jonghyun, matanya selalu pedih dan berair. Minho balas tersenyum dan bergabung dengan teman-temannya yang lain

Kyoungmi melambaikan tangannya pada teman-temannya dan juga Minho, lalu melajukan sepedanya dengan kencang.

Sudah 4 tahun lebih Jonghyun pergi tanpa pamit dan sama sekali tidak memberikan kabar sedikitpun. Menurut dugaan Nyonya Han, Jonghyun mungkin pergi ke tempat Tuan Kim—ayah kandung Jonghyun—karena meskipun Nyonya Han sendiri tidak pernah lagi berhubungan dengan mantan suaminya, Jonghyun dan Tuan Kim masih sesekali berhubungan untuk sekedar memberi kabar.

Yang bisa Kyoungmi harapkan untuk saat ini hanyalah agar Jonghyun hidup dengan baik.

Kyoungmi melambatkan laju sepedanya saat melihat seseorang yang berdiri di depan rumahnya. Kyoungmi memiringkan kepalanya, memandang dengan seksama sosok punggung itu. Terasa sangat asing tapi juga familiar di saat yang bersamaan. Kyoungmi turun dari sepedanya menepuk pundak namja itu.

“Cheogiyo, anda mencari siapa?” Tanya Kyoungmi. Namja itu masih tidak bergerak selama beberapa detik, agak membuat Kyoungmi jengkel. Baru saja Kyoungmi akan mengomeli tamu aneh itu, namja itu justru berbalik dan bertemu pandang dengan Kyoungmi.

Kyoungmi berkedip berkali-kali, berharap bayangan dihadapannya akan menghilang—meski ia sendiri juga sangat menginginkan bayangan yang ada dihadapannya adalah nyata.

“Lama tak berjumpa..” Ucap namja itu. Suara yang meluncur dari mulut namja itu membuat Kyoungmi yakin ia tidak sedang bermimpi.

“O.. oppa?”

Jonghyun tersenyum tipis, bukan senyum manis dan hangat yang biasa ia perlihatkan. Kyoungmi memperhatikan Jonghyun dari kepala hingga ke kaki. Namja yang berdiri dihadapannya bukan lagi Jonghyun yang ia kenal.

Jonghyun yang sekarang berdiri dihadapannya berpakaian sangat rapi, dengan blazer silver dan rambut yang tertata rapi.

***

Kyoungmi masih tidak mempercayai bahwa Jonghyun sudah kembali. Kyoungmi terus memperhatikan Jonghyun sementara namja itu asyik mengobrol dengan Tuan dan Nyonya Han. Kyoungmi terus bertanya-tanya apa yang terjadi pada Jonghyun? Bagaimana mungkin ia pergi begitu saja, tidak memberikan kabar sedikitpun dan sekarang tiba-tiba saja ia kembali? Kyoungmi bangkit dari sofa tanpa berbicara apapun dan menghilang dibalik pintu kamarnya.

Jonghyun mendongak dan menatap Kyoungmi saat Kyoungmi berjalan ke kamarnya.
”Dia sangat terpukul saat kau pergi begitu saja 4 tahun yang lalu.” Terang Tuan Han seolah ia masih bisa membaca pikiran Jonghyun—namja yang pernah menjadi anaknya.

“Sebenarnya, apa alasanmu muncul sekarang? Apa kau ingin kembali pada keluarga ini?” Tanya Nyonya Han. Jonghyun menggeleng dengan cepat. Jonghyun terhanyut dalam pikirannya sendiri selama beberapa detik. Jonghyun bangkit dari duduknya dan berlutut dihadapan Tuan dan Nyonya Han yang saling berpandangan tanda tak mengerti.
”Mianhae… Mianhae.. Jeongmal mianhaeyo..” Jonghyun menundukkan wajahnya sementara ia menumpukan tangannya di kedua pahanya. Beberapa tetes airmatanya jatuh dan membasahi karpet dibawahnya.

“Jjong-ah, waeire?” Nyonya Han menyentuh lengan Jonghyun dengan pelan dan memaksa Jonghyun untuk berdiri tapi Jonghyun sama sekali tak beranjak dari posisinya.

“Aku selalu merasa tidak tenang selama 4 tahun ini. Meski aku sudah berusaha untuk melupakannya, tapi rasa bersalah yang menghantuiku tidak pernah menghilang. Karenanya, aku kembali untuk meminta maaf dari kalian. Maaf, karena aku pernah menyukai Kyoungmi, yeodongsaengku. Aku menyukainya sebagai seorang namja. Dan aku tau tidak seharusnya aku seperti itu. Hanya saja aku tidak pernah bisa menghilangkan perasaan itu dan akan segera gila kalau tidak menjauh darinya.”
Nyonya Han memeluk Jonghyun dengan erat membuat Jonghyun justru semakin menangis kecang.

“Kenapa kau begitu bodoh? Neo jeongmal paboya, Kim Jonghyun.”

***

Kyoungmi tertidur pulas begitu ia masuk ke kamarnya dan menangis seorang diri. Jonghyun mengetuk pintu kamar Kyoungmi dan menunggu hingga Kyoungmi merespon. Jonghyun masuk ke dalam kamar Kyoungmi, merasa sedikit aneh karena sudah lama sekali ia tidak lagi menginjakkan kakinya di ruangan ini.

“Waeyo? Kau tidak senang oppa kembali?” Jonghyun duduk di kursi meja belajar Kyoungmi sementara Kyoungmi duduk di tepi tempat tidur dihadapannya. Kyoungmi tetap diam, tidak menjawab pertanyaan Jonghyun.

“Besok aku akan sibuk mengurusi beberapa klien perusahaan dan kurasa kita tak bisa bertemu besok, sementara lusa, aku sudah harus kembali. Hanya hari ini saja kita bisa mengobrol seperti dulu. Kau… tidak mau?” Jonghyun menatap Kyoungmi dengan hati-hati.

“Kalau kau akan kembali meninggalkan korea dan tidak bisa kembali ke rumah ini, lebih baik kau tidak perlu datang lagi.” Tutur Kyoungmi dengan sinis.

Jonghyun tidak menjawab kata-kata Kyoungmi. Kyoungmi membencinya sekarang, rasanya lebih baik seperti ini.

“Oh, mian. Kalau itu yang kau harapkan, aku tidak akan mengganggumu.” Jonghyun beranjak dari duduknya dan berjalan beberapa langkah. Kyoungmi berdiri dan menatap punggung Jonghyun yang lagi-lagi terasa asing baginya.

“Kenapa oppa pergi dari rumah ini? Apakah karena oppa membenciku? Apakah aku melakukan kesalahan yang membuat oppa marah? Katakanlah, apapun itu aku akan memperbaikinya, jadi tetaplah tinggal di rumah ini.”

Jonghyun menghentikan langkahnya. Meski ia tidak melihat wajah Kyoungmi saat ini, tapi ia tau mata Kyoungmi pasti sudah berair saat ini. Sekali lagi ia menyakiti Kyoungmi disaat ia justru ingin melindungi Kyoungmi.

“Oppa, jebal. Jangan tinggalkan kami lagi, jangan tinggalkan aku.” Kyoungmi menghambur dan memeluk punggung Jonghyun. Kyoungmi masih bisa merasakan kehangatan yang sama yang dimiliki Jonghyun. Namja yang berdiri dihadapannya saat ini, ternyata memang Jonghyun yang ia kenal.

“Nan mothaeyo …” Kata-kata yang mengalir dari mulut Jonghyun terdengar seperti bisikan. Jonghyun menggengam tangan Kyoungmi selama berapa detik sebelum akhirnya ia melepaskan pelukan Kyoungmi darinya. Kyoungmi mundur beberapa langkah dan menatap Jonghyun dengan tatapan marah dan sedih.

“Waeyo? Bukankah oppa pernah berjanji tidak akan meninggalkanku?”
Jonghyun membuka mulutnya, menggerakkan mulutnya dengan ragu untuk menjawab tapi pada akhirnya tidak ada suara yang bisa ia keluarkan.

“Oppa, tetaplah hidup bersama kami, otthe?”
Kyoungmi menyentuh pergelangan tangan Jonghyun, membuat Jonghyun merasa semakin gila.

Bukan untuk ini dia kembali ke kediaman—untuk melihat Kyoungmi terus memohon padanya dan membuat pertahanannya semakin goyah.

Ia kembali karena merasa bersalah dan meminta pengampunan dari orangtuanya. Ia kembali untuk melihat Kyoungmi untuk terakhir kalinya sebelum ia benar-benar akan melupakan Kyoungmi dalam hidupnya. Tapi bukan untuk melihat Kyoungmi memohon pada seorang ‘kakak’ untuk tidak kembali meninggalkannya.

Apa yang bisa Jonghyun lakukan jika melihat sosok Kyoungmi yang seperti ini? Jonghyun sedikitpun belum berubah.

Ia masih Jonghyun yang dulu, yang akan melakukan apapun hanya untuk membuat Kyoungmi bahagia. Ia Jonghyun yang dulu yang sangat mencintai keluarganya. Ia juga masih Jonghyun yang dulu yang sangat mencintai musik meski ia harus melepaskan impiannya menjadi seorang seniman karena keputusannya untuk keluar dari keluarga Han kembali pada Ayah kandungnya—Tuan Kim. Dan ia masih Jonghyun yang sama yang mencintai Kyoungmi melebihi apapun.

“Kkajima… Saranghae oppa…” Bisik Kyoungmi dengan pelan. Jonghyun memejamkan matanya dengan rapat. Kedua rahangnya terkatup erat.

”Kau akan menyesal karena menahan kepergiaanku..”

Jonghyun membalikkan badannya, mendorong tubuh Kyoungmi dengan cepat hingga Kyoungmi terjatuh diatas tempat tidur. Sebelum Kyoungmi sempat menyadari apa yang terjadi, Jonghyun sudah berada diatas tubuhnya. Jonghyun mencengkram pergelangan tangan Kyoungmi dengan erat dan mengangkatnya hingga ke atas kepala. Kyoungmi meringis pelan, sedikit ngeri melihat tatapan Jonghyun yang mengintimidasi dirinya.

“Jangan pernah katakan kau mencintaiku tanpa memikirkan perasaanku. Kau tidak pernah tau bagaimana jadinya jika suatu saat nanti aku berubah menjadi monster yang mengerikan dan menyerangmu, jadi berhentilah memintaku untuk tinggal.” Jonghyun menatap Kyoungmi dalam-dalam. Ia terluka. Mendengar Kyoungmi mengatakan ‘saranghae’ padanya justru membuat lukanya semakin bertambah besar. Ia tidak ingin Kyoungmi terus melihatnya sebagai seorang ‘oppa’. Tidak bisakah Kyoungmi sekali saja melihatnya sebagai seorang namja setelah sekarang Jonghyun kembali dengan sosok Kim Jonghyun?

“Oppa, kau membuatku takut..” Isak Kyoungmi pelan. Bulir-bulir airmata membasahi pipinya. Nafas Jonghyun menjadi semakin berat.

“Kau memang seharusnya takut padaku. Aku bukan Jonghyun yang kau kenal lagi. Aku hanyalah seorang monster mengerikan yang bahkan tidak tau sedang ke mana aku berjalan..”
”Kau bukan monster, sama sekali bukan. Kau adalah oppa ku, Jonghyun.”

“Itulah sebabnya aku menjadi monster! Kau tidak mengerti, selamanya tidak akan bisa mengerti perasaanku, Han Kyoungmi!! Aku adalah makhluk mengerikan yang menyukai yeodongsaengku sendiri… Aku sangat mengerikan, geurechi?”

Mata Kyoungmi terbelalak mendengar penyataan yang tak terduga dari Jonghyun. Jonghyun tertawa sinis dan bergumam tak jelas lalu melepaskan cengkramanya pada pergelangan tangan Kyoungmi.

Semuanya sudah berakhir bagi Jonghyun. Ia tau sekarang Kyoungmi pasti lebih membencinya lagi, Kyoungmi pasti merasa jijik padanya. Tapi menurut Jonghyun, ini adalah yang terbaik daripada ia harus terus melihat Kyoungmi dengan polosnya terus menahan kepergian Jonghyun.

“Karena kau tidak bisa mencintai diriku sebagai seorang namja, maka bencilah aku, Kyoungmi…” Suara Jonghyun tercekat. Airmatanya mengancam turun, tapi sekuat tenaga ia bendung. Setidaknya ia tidak ingin menangis dihadapan Kyoungmi dan membuat yeoja itu mengasihaninya. Jonghyun mengangkat dirinya dari atas tubuh Kyoungmi dan menjauh.

Kyoungmi mengulurkan kedua lengannya, melingkarkannya di leher Jonghyun dan menarik Jonghyun kembali menindih dirinya. Jonghyun mengernyit, bingung dengan apa yang dilakukan oleh Kyoungmi. Kyoungmi kembali menarik Jonghyun lebih mendekat dan menempelkan bibirnya pada Jonghyun.

***

Nyonya dan Tuan Han berjalan mengendap-endap di depan kamar Kyoungmi. Tidak terdengar suara apapun. Sedikit khawatir, Nyonya Han membuka pintu kamar Kyoungmi sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara yang bisa menarik perhatian Kyoungmi.

Dari celah pintu, mereka bisa melihat Kyoungmi dan Jonghyun berbaring diatas tempat tidur, saling berpelukan dengan erat. Nyonya dan Tuan Han tersenyum kecil, merasa lega karena kedua anak mereka seperti telah mendapatkan kebahagiaan yang memang seharusnya mereka rasakan. Nyonya Han kembali menutup pintu sepelan mungkin, tanpa menimbulkan suara sedikitpun.

Jonghyun melingkarkan lengannya di pinggang Kyoungmi sementara Kyoungmi merapatkan diri dalam pelukan Jonghyun. Kyoungmi menyenderkan kepalanya di dada bidang Jonghyun dan memejamkan matanya dengan rapat, merasa tenang dengan rasa nyaman yang diberikan Jonghyun pada dirinya.

Jonghyun mengelus puncak kepala Kyoungmi tanpa sekalipun melepaskan tatapannya dari wajah Kyoungmi.

“Kyoungie-ya …”

“Hmm?” Kyoungmi bergumam pelan, masih memejamkan matanya.

“Sejak kapan kau mulai menyukaiku?”
Kyoungmi membuka matanya dan menatap—entah apa—selama ia mendongak untuk menatap Jonghyun.

“Molla, tapi yang pasti aku mulai menyadari saat sudah SMA. Oppa ingat pembicaraan kita saat oppa memainkan piano untukku di ruang club dulu?”

“Waktu kau bilang dunia orang dewasa itu aneh?”

Kyoungmi mengangguk dengan cepat dan kembali menatap Jonghyun.

“Saat itu, aku benar-benar takut. Meski aku tidak terlalu mengerti apa itu cinta, tapi aku tau apa yang kurasakan itu salah. Waktu itu oppa adalah Han Jonghyun, oppa-ku. Dan sebenarnya aku sangat cemburu setiap kali teman-temanku bilang bahwa oppa dan Suzy terlihat serasi. Memangnya kita tidak serasi?” Kyoungmi memberengut, mengingat beberapa kejadian saat ia masih SMA. Jonghyun terkekeh pelan dan mencubit pipi Kyoungmi. Senyum di wajah Jonghyun menghilang begitu ia mengingat satu kejadian. Kyoungmi menyadari perubahan pada ekspresi Jonghyun dan bertanya ada apa. Jonghyun tersenyum tipis.

“Namja yang kau kencani saat hari ulangtahun mu itu, eotteoyo??”
”Oh, Minho? Aku merasa bersalah padanya. Kupikir kalau bersama dengannya, aku bisa menghilangkan perasaanku pada oppa. Lagipula kami hanya berkencan sekali. Dan sejak itu kami hanya berteman saja, jinjja!” sahut Kyoungmi panik. Ia tidak ingin Jonghyun marah padanya dan merusak momen indah milik mereka.
”Ne, middeoyo.” Jonghyun mengecup puncak kepala Kyoungmi dan membuat Kyoungmi terkekeh pelan.

“Oppa, apa menurutmu eomma dan appa akan mengizinkan hubungan kita?” Kyoungmi mendongak lagi untuk menatap Jonghyun. Jonghyun mengangkat bahunya. Ia juga tidak tau apakah mereka akan memberikan izin atau tidak. Tapi untuk saat ini Jonghyun tidak ingin memikirkan hal lain. Ia hanya ingin memikirkan tentang saat ini.

Kyoungmi melirik ke arah jam kecil yang diletakkannya di meja. Jam sudah menunjukkan jam 12 malam lewat 1 menit. Mereka berdua tersenyum dan memejamkan mata mereka yang mulai menggantuk.

“Oppa, saengil chukkae …” Gumam Kyoungmi dengan sangat pelan.

“Hmm..”

“Mian, aku tidak membelikan hadiah karena aku tidak menyangka oppa akan kembali. Apa yang oppa inginkan? Aku akan memberikannya besok..” Berbicara dengan sangat pelan karena rasa kantuk yang melandanya. Jonghyun tersenyum samar.

“Kau. Aku ingin kau sebagai hadiah ulang tahunku. Han Kyoungmi, neon naekkeoya.” Bisik Jonghyun ditelinga Kyoungmi dan memberikan kecupan pelan di bibirnya.

“Ne..” Kyoungmi tersenyum lebar dan memeluk Jonghyun lebih erat lagi.

THE END

©2011 SF3SI, Yuyu.

This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

55 thoughts on “Crossing The Line

  1. kya….sumpah bngumg m0 k0ment ap =~=!! (bner_bner baca f0kus tngkt tnggi serius) tpi daebak k0 th0r, critnya gk brbelit_blit. puas bcanya, gk ad ksan trpaksa d bkin gmana gt0h. trus lanz0o0t bkin ff yg daebak

  2. wah , keren keren keren!!haha…
    aq suka critanya!!>.<,
    sih jjong bknnya ngelupain kyoungmi mlah makin cinta,,gpplah,,aq pikir nanti jadinya bakal sad ending,,ternyata happy ending,,😀

  3. Nice epep onn.
    Daebakkkkk
    konflikny kren, kirain jonghyun bneran monster ._.”
    #plakkk bejanda dink, becnda mksdna ._.v
    rupany jeha pgi krna mw ganti marga ea onn.
    Ska jaln critany, bkan saudara kndung. Jd, kalo cinta kykna gpp deh.
    Hahahaha
    keren onn, neomu neomu like this epep onn.

  4. huaaa…. tapi mereka gxpp kan… kan kyoungmi sma jonghyun gx satu darah ….
    hyaaaa!!! ceritanya bgus bgt ,… sampe bingung mau komentar apa …
    pokonya keren lah !!!

  5. .Ak nangiiiiiiiiiissss…
    Bkan hnya karna critanya tapi ga rela jjong ama kyoungmi….
    tp gpp deh,,
    kl jjong ama ak pling2 ga sjhtera,,
    .kerrennn…
    kerreennn…

  6. Huuuaaaaaaaa?!!!
    Hubungan terlaraaanngggg ><
    Wkwkwkwkkaa..xD
    Han Jonghyun ?
    Wkwkwkkaaaaa… Aneeehhhh ………xP
    Yyaaaawww!!
    Kereeeennnnn !!
    Kirain bakalan Sad ending !
    Trnyata Happy Ending.xD
    Jjong sm KyoungMi bakalan d restuin ga yah?
    Wkwkwkkaa.

    Pstii itu pstii . *ehh?

  7. waaa sedih pas jonghyun oppa pergi ninggalin keluarganya
    tapi untung ajalah si kyumie juga suka ama jonghyun
    oh ya minho siapanya si kyumie???

  8. D.A.E.B.A.K ><
    authoooor, saia ampe nangis baca'y T^T
    suka banget sm cerita'y. ga berbelit. kata2'y juga nyusun dgn rapi wlopun ada bbrpa typo dikit diatas kkk..
    tp serius! daebak bener!
    NAN NEOMU CHOHAEEEEEE ^^

  9. >_<,
    kirain bakal sad ending, alias bakal ada yg mati, sampe udah siap" nampung air mata…
    ternyata..happy ending! fiuhhh~
    tapi akhirnya, keluar juga…dikit sih…hehe ^_^a

    ckck, seperti biasa, outstanding! ^o^d
    pilihan kata"nya, alurnya, karakternya, semuanya asik buat dibaca, hehe

    tapi thor, crita ni mirip" ma request ku..haha
    kok bisa yak?

    pokoknya, semangat thor! =D

  10. Daebak!
    Aigoo.. Aku nggak tau harus komen apa lg, soal.a ni FF udah bgus bgt!
    Mulai dri kata”.a yg simple tpi jelas en mudah d’mengerti, trus jalan ceritanya yg urut..
    Aigooo.. Pokok.a FF ini 100% Daebak! b>.<d
    eon.. Klu bisa buatin aja sequel.a, ya.. ya.. ya.. *ngeluarin jurus puppy eyes*

  11. huwaaa~ ini ff bner2 keren..!!
    kasian si jjong kyknya menderita bgt.. untung aja happy ending! wkwkwk
    nice ff thor b^^d

  12. Keren banget Unnie~ tapi aku masih bingung, Jonghyun marganya jadi Han karena ikut ibunya bukan? Aigoo~ aku kira Jjong bakal jadi gila atau gimana #plak ternyata happyend! Wuihh, keren Unnie~! Nice ff~!!

  13. Hhhh~
    Gatau kenapa, aku kurang suka sama hubungan merekaaa =(
    Orangtuanya malah biasa aja ==”
    Aduh,. *JustFictionSo!

  14. kyaaaaaaa serius ini keren bngt….

    feel nya berasa bngt…pokoknya nyampe bngt deh crtanya di aku…padahal aku bacanya ga terlalu fokus…cos gy di kantor jadi keganggu sana-sini…py ttp aja fell nya berasa bngt..terutama jonghyun kerasa bngt gmna frustasinya dia suka sama adek sendiri…untung ga kandung jadi ga maslah…

  15. Mski masih kgk mnger akn bbrapa kjadian dlm ini ff tp critanya cukup mnarik… Sedih jga sih… Tp untungnya happy deh andnya… Aigooo… Choa~~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s