Bad Boy Sitter – Part 4

Bad Boy Sitter – Part 4

Author : Firdha a.k.a Park Yeorin

Main Cast : Park Jiyeon, Lee Taemin, Lee Jinki (Onew), Choi Minho, Park Yeorin, Yoo Seung Ho

Support Cast: Kim Kibum, Cho In Su, etc.

Length: Sequel

Genre : Friendship, Romance

Rating : PG-13

***

Jiyeon POV

“Kamar sebelahmu adalah kamar cucuku. Dan dia adalah cucuku.” Ucap halmeonie yang kontan membuatku tersentak.

“MWO???” Jadi, ini cucu yang harus kuurus? Aku membelalakkan mataku, lalu mengerjap-ngerjapkannya, memastikan penglihatanku tidak salah. Dan, ternyata penglihatanku memang tidak salah, dia memanglah cucu yang Taeyoon halmeonie maksud.

“Taemin-ah! Kenalkan, dia Jiyeon. Mulai hari ini, ia akan tinggal di sini.” Halmeonie mengenalkanku pada cucunya, Taemin sunbae. Kulihat dia hanya melirikku sinis.

“Untuk apa halmeonie membawa dia ke sini? Memang dia siapa? Apa halmeonie memungutnya dari jalanan?” DUAAR!!! Kata-katanya tadi itu bagaikan petir yang berhasil menyambarku. Betapa terkejutnya aku mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya. Perkataannya itu telah berhasil membuatku menganga tidak percaya. Dia kira siapa dia sampai berani-beraninya berkata seperti itu.

“Tidak bisakah kau berbicara lebih sopan?” Geram halmeonie.

“Terserahlah. Aku mau pergi.” Ia pun langsung beranjak pergi meninggalkan kami. Sungguh, sikapnya itu sangat “luar biasa”. Bagaimana bisa ada orang yang memilki sikap seperti itu di dunia ini? Dan yang lebih ironis, banyak yeoja yang memujanya. Kulihat Taeyoon halmeonie memegang dadanya, berusaha menahan emosinya.

“Gwenchanayo halmeonie?” Tanyaku panik.

“Ne, gwenchanayo. Sekarang, lebih baik kau istirahat saja. Masuklah ke kamarmu! Kau pasti lelah.” Halmeonie mengusap pelan kepalaku, lalu beranjak pergi dengan dibantu beberapa pelayan.

Setelah halmeonie sudah tidak terlihat lagi, kubuka pintu kamarku, dan aku kembali terkejut. Ini adalah yang keempat kalinya aku terkejut. Pertama, saat melihat halaman rumah ini. Kedua, saat melihat isi rumah ini. Ketiga, saat bertemu dengan cucu halmeonie yang “sangat sopan” itu. Dan, keempat, sakarang saat aku membuka pintu kamar baruku. Kamarnya didominasi oleh warna pink dan putih yang kebetulan adalah warna kesukaanku. Ada tempat tidur dan meja kecil di sebelah kirinya, lalu di sebelah kanan terdapat meja sekaligus rak pendek yang memanjang mengikuti sudut kamar. Di sudut kiri, terdapat sebuah meja belajar yang dilengkapi dengan rak buku, di sebelahnya ada jendela dan balkon. Sedangkan di depannya, terdapat sebuah lemari berukuran besar yang dilengkapi dengan cermin, dan di sebelah lemari terdapat kamar mandi. Kubuka pintunya, dan ternyata kamar mandinya tidak kalah mewahnya dengan kamarnya. Terdapat wastafel, cermin, shower, bathtub, dan kloset tentunya. Kamar ini benar-benar mewah.

Setelah puas melihat-lihat, segera kurapihkan barang-barangku, lalu mengambil handuk dan beranjak mandi. Ya, aku memang tidak pernah lupa mandi. Tidak peduli selelah apapun, aku tidak akan pernah melupakan kegiatan rutinku yang satu ini. Setelah mandi, langsung kuhempaskan tubuhku pada ranjang baruku. Rasanya sangat nyaman. Tiba-tiba aku terpikir dia lagi, sekarang aku tau kenapa Taeyoon halmeonie membutuhkan bantuanku untuk mengurus cucunya. Itu semua, karena cucunya sangatlah tidak tau sopan santun, memperlakukannya dengan seenaknya. Tapi, kenapa harus aku? Kenapa tidak yang lain saja? Ah… entahlah. Tidak usah dipikirkan! Lama-kelamaan, mataku terasa berat, hingga akhirnya terpejam.

Taemin POV

“Kamar sebelahmu adalah kamar cucuku. Dan dia adalah cucuku.” Ucap halmeonie yang kontan membuatku tersentak, tapi aku berusaha bersikap biasa saja.

“MWO???” Yeoja itu, yeoja yang kebetulan selalu aku temui satu minggu ini, membelalakkan dan mengerjap-ngerjapkan matanya tidak percaya.

“Taemin-ah! Kenalkan, dia Jiyeon. Mulai hari ini, ia akan tinggal di sini.” Halmeonie menganalkanku padanya. Dia masih terlihat kaget. Sementara aku hanya menatapnya sinis. Sebenarnya mau apa halmeonie membawanya ke sini?

“Untuk apa halmeonie membawa dia ke sini? Memang dia siapa? Apa halmeonie memungutnya dari jalanan?” Aku bicara sekenanya. Kulihat ekspresinya berubah menjadi semakin terkejut lalu memerah karena marah.

“Tidak bisakah kau berbicara lebih sopan?” Geram halmeonie. Aku sudah bosan dengan percakapan ini, lebih baik kusudahi saja.

“Terserahlah. Aku mau pergi.” Aku pun langsung beranjak pergi meninggalkan mereka begitu saja.

Kupakai helmku, lalu menyalakan mesin motorku dan segera pergi menjauhi rumah itu. Kebetulan apa lagi ini? Pertama ia naik pesawat dan duduk di sebelahku. Kedua, ia bersekolah di sekolah yang sama denganku. Ketiga, kemarin aku membimbing kelompoknya dalam olahraga. Dan sekarang, ia akan tinggal di rumahku? Jiyeon. Jadi namanya Jiyeon? Hah! Untuk apa aku memikirkannya? Lebih baik aku cepat-cepat sampai dan mengalahkan musuh bebuyutanku itu. Pokoknya balapan kali ini, aku harus menang.

Akhirnya, sampai juga aku di arena balapan. Kali ini aku akan melawannya lagi, satu-satunya orang yang pernah mengalahkanku. Walaupun hanya sekali dari 4 kali kami balapan, tetap saja aku tidak bisa menerimanya.

“Hi, Bro! Akhirnya kau datang juga.” Sapa Key padaku. Kami pun berhigh five ala laki-laki.

“Mana dia?” Tanyaku to the point.

“Sabar, man. Dia belum da… Nah… itu dia datang.” Kualihkan pandanganku ke arah yang ditunjuk oleh Key. Ya, dia baru saja datang dengan motor hijaunya itu. Ia menyeringai saat melihatku. Kubalas seringaiannya itu dengan senyum meremehkan.

“Ok! Taemin dan Onew sudah datang. Lebih baik langsung saja kita mulai pertandingannya.” Aku dan Onew langsung bersiap di posisi masing-masing. Semuanya bertepuk tangan dan bersorak.

“One… Two… Three… Go!” Yeoja pemegang bendera telah mengangkat benderanya. Kulajukan motorku dengan cepat. Kulihat Onew berada dekat di belakangku. Aku terus mempercepat laju motorku, berusaha mempertahankan kedudukanku. Aku masih terus memimpin, hingga tiba-tiba ia menyalipku dari kanan saat ada tikungan. SHIT! Ia berhasil menyusulku. Kupercepat laju motorku, berusaha menyusulnya. Namun, usahaku tidak juga berhasil. Aku semakin mempercepat laju motorku, kutarik gas lagi untuk semakin mempercepat laju motorku. Saat berada dijalan yang lurus dan panjang, kutarik gas lagi hingga akhirnya aku berhasil menyusulnya, YES! Aku terus memimpin hingga akhirnya mencapai finish. Semua orang kembali bersorak dan bertepuk tangan. Aku menyeringai puas. Kini terbukti, akulah yang terbaik.

“Kau keren! Selamat, bro.” Ucap Minho seraya memukul pundakku. Aku hanya tersenyum simpul, senyum kemenangan. Lalu, kulihat Onew bermaksud menghampiriku.

“Kau berhasil mengalahkanku lagi. Tapi nanti aku pasti akan mengalahkanmu lagi. Selamat!” Ia mengulurkan tangannya, namun aku tidak menyambutnya.

“Kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku lagi.” Sungutku. Dia hanya mendengus dan menyeringai.

“Kita lihat saja nanti.” Ia langsung membalikkan badannya, lalu menaiki motornya dan segera pergi menjauh.

“Ya! Bagaimana kalau kita merayakan kemenanganmu ini di tempat biasa?” Tanya Key dengan senyum liciknya.

“Aku sedang tidak ingin minum. Lain kali saja.” Kupakai helmku, lalu bersiap-siap meng-gas motorku.

“Aaahh… baiklah.” Key pasrah dengan jawabanku. Dia tau betul kalau sekali aku bilang tidak pasti tetap tidak.

“Ya! Kau sangat tidak asik malam ini.” Yoora menghampiriku. Semakin malas saja aku melihatnya. Kuabaikan saja dia yang masih berusaha menarik perhatianku.

“Semuanya, aku duluan. Bye!” Kutarik gas, dan motorku pun melaju semakin menjauh. Kulihat Yoora mengumpat kesal dari kaca spionku. Fiuh! BI**H.

Setelah sampai di halaman rumah, kuparkirkan motorku. Lalu segera membuka pintu dan berjalan ke dapur, rasanya tenggorokanku benar-benar kering sehabis balapan tadi. Namun, langkahku terhenti saat kulihat yeoja yang bernama Jiyeon itu sedang berada di dapur, membuka kulkas dan mengambil susu, lalu menuangkannya ke gelas dan meminumnya. Aku terus menunggunya sampai selesai, malas sekali jika harus bertemu dengannya. Namun, ia malah duduk dan melamun. Kulihat, matanya perlahan menutup hingga akhirnya ia pun benar-benar tertidur. Kulangkahkan kakiku perlahan agar tidak membangunkannya, kubuka kulkas dan kuambil botol air mineral yang biasa kuminum, kuteguk airnya sampai habis, rasanya aku benar-benar haus. Setelah selesai, aku bermaksud langsung pergi ke kamarku, namun langkahku kembali terhenti saat Jiyeon menggeliat, kuperhatikan wajahnya saat sedang tidur. Kuakui, dia memang sangat cantik dan terlihat sangat polos saat sedang tertidur seperti itu. Tapi, semua yeoja itu sama saja, menyebalkan. Aku pun langsung beranjak ke kamarku dan meninggalkan Jiyeon yang masih tertidur.

***

Jiyeon POV

“Hoaaaamm…” Aku menguap dan menggeliat. Rasanya badanku pegal-pegal semua. Kubuka mataku lalu…

BRUK!

Aku terjatuh. Aigo! Pantatku sakit sekali. Kubuka mataku lebar-lebar. Aneh, ini di mana? Kuperhatikan sekitarku, lalu aku sadar bahwa aku tidur di dapur. Sepertinya aku ketiduran saat ingin minum susu semalam. Dan inilah akibatnya, badanku jadi pegal-pegal semua. Aku berusaha berdiri, lalu berjalan gontai ke kamarku. Namun baru dua langkah, aku langsung berpapasan dengannya, Taemin sunbae. Ia hanya melirikku, lalu berjalan melewatiku ke arah meja makan. Kulihat ia sudah memakai seragamnya, tunggu! Seragam? Jam berapa ini? Aku langsung berlari ke kamar dan melihat jam, pukul 05.50. Aigo! Segera kuambil handukku, berlari ke kamar mandi lalu mandi dengan asal. Setelah itu kupakai seragam, kaos kaki dan sepatuku. Lalu mengambil tas dan segera berlari ke bawah.

Aku masih berlari saat kulihat Taemin sunbae baru akan keluar lalu menatapku dengan tatapan sinis sekilas, lalu kembali mengacuhkanku. Karena bingung dengan tatapannya, kuperhatikan semua yang kupakai, dan saat aku melirik ke bawah… kaos kakiku…berwarna putih dan… abu-abu? Aigo! Aku berbalik, berlari kembali ke kamarku, mengambil kaos kaki putihku, memakainya lalu kembali berlari ke bawah. Napasku kini sudah memburu.

“Hhhh… hhh…hh… Aigo! Pagi-pagi begini aku sudah maraton. Hhh…hh… Benar-benar sial!” Keluhku seraya menggembungkan pipiku kesal. Aku merasa seperti ada yang memerhatikanku, kulirik ke sebelah kanan, ternyata Taemin sunbae sedang memperhatikanku. Berarti sejak tadi ia melihat tingkahku yang konyol? Aigo! Dasar Jiyeon pabo! Kurasakan pipiku memanas, sepertinya sekarang wajahku sudah seperti ikan rebus. Diam-diam, kulirik Taemin sunbae. Kulihat ia tersenyum meremehkan lalu memakai helmnya. Jincha! Dia itu menyebalkan sekali, sih?

“Agassi, silahkan naik!” Tiba-tiba seorang ahjussi mempersilahkanku masuk ke dalam mobil. Tanpa pikir panjang aku langsung masuk karena takut terlambat.

“Maaf, Agassi sekolah di mana?” Tanya ahjussi itu sopan.

“Sama seperti dia.” Aku menunjuk Taemin sunbae.

“Baiklah.” Lalu mobil pun melaju.

Suasana hening. Ahjussi itu serius menyetir, sedangkan aku sibuk memandang ke luar jendela. Karena bosan dan tidak nyaman dengan suasana seperti ini, aku pun memutuskan memulai pembicaraan.

“Ahjussi, kalau boleh tau, Taeyoon halmonie itu ke mana? Kok aku tidak melihatnya, ya?”

“Oh, Nyonya Besar selalu berangkat pukul lima pagi. Jadi, beliau sudah berangkat kerja.” Ujarnya.

“Oh… dia pasti lelah, ya. Belum lagi harus mengurusi cucunya. Kasihan halmeonie.” Gumamku yang sepertinya terdengar oleh ahjussi itu.

“Ya, di usianya yang sudah terbilang tua, nyonya Lee masih harus bekerja dan mengurus tuan Taemin. Saya sangat prihatin melihat keadaan beliau yang semakin drop karena ulah tuan Taemin.” Ujar ahjussi itu yang berhasil membuatku semakin penasaran.

“Kalau aku boleh tau, Taemin sunbae itu sejak dulu memang seperti itu, ya? Dingin dan tidak sopan. Tipe nappeun namja, lah.” Tanyaku serius.

“Ehm… bagaimana, ya?” Ahjussi itu terlihat menyetir sambil berpikir. Ia terlihat menimbang-nimbang antara mau menjawab atau tidak.

“Jika tidak boleh diceritakan, ahjussi tidak perlu menceritakannya, kok.” Ujarku tidak enak.

“Sebenarnya, dulu, tepatnya sebelum nyonya Lee, omma dari tuan Taemin meninggalkan tuan Taemin dan tuan Lee, tuan Taemin adalah anak yang ramah dan ceria.” Aku tersentak mendengar jawaban dari ahjussi ini.

“Ommanya meninggalkan mereka? Jadi…” Kalimatku terpotong saat kurasakan mobil berhenti karena sudah sampai di depan gerbang sekolah.

“Sudah sampai, Agassi.” Ucap ahjussi itu ramah setelah membukakkan pintu untukku.

“Ah, ye. Khamsahamnida.” Aku membungkukkan badanku, lalu segera berlari karena bel berbunyi tidak beberapa lama kemudian. Sial! Padahal tadi pembicaraannya sedang seru-serunya.

***

Jam istirahat. Aku, Yeorin dan In Su telah berada di kantin.

“Jiyeon-ah! Kenapa tadi kau bisa hampir terlambat? Padahal kau kan selalu bangun pagi?” Yeorin memulai pembicaraan.

“Ada kecelakaan. Jadi, aku terlambat bangun.” Jawabku asal.

“Ngomong-ngomong, bagaimana tempat tinggal barumu? Apakah tempatnya nyaman?” Tanya In Su yang seketika membuatku tersedak jus jeruk yang sedang kuminum.

“Ya! Tidak bisakah kau minum dengan hati-hati?” Hardik Yeorin.

“Mwo? Tempat tinggal baru?” Tanyaku berusaha berpikir alibi apa yang harus kupakai. Aku belum mau menceritakan semuanya pada Yeorin dan In Su.

“Iya, tempat tinggalmu. Tempatnya nyaman tidak?” Jawab In Su dengan suara yang sedikit lebih nyaring.

“Emph… nyaman kok. Rumahnya besar dan orang-orangnya pun ramah.” Jawabku hati-hati agar mereka tidak tau bahwa aku sedang berbohong.

“Lalu, cucunya itu namja atau yeoja, dan berapa usianya?” Tanya Yeorin tiba-tiba, yang sontak membuatku mati kutu. Eotteokhae? Aku harus jawab apa?

“Eng… cucunya namja. Dia… baru berusia… 7 tahun.” Jawabku terputus-putus.

“Wah! Berarti sedang nakal-nakalnya, dong. Kau harus sabar, Jiyeon-ah.” Ucap In Su serius. Untung saja dia percaya.

“Ne, aku memang harus bersabar. Hehe…” Aku tertawa garing.

“Heuh!” Tiba-tiba seseorang melewati kami. Ia mendengus cukup keras, terkesan disengaja. Lalu, saat aku mendongak… ‘Omo! Taemin sunbae! Apa dia mendengar semua yang aku katakan tadi? Aigo! Jiyeon pabo! Pabo! Pabo! Eotteokkae?’ Kurasakan pipiku memanas.

“Taemin sunbae!” Pekik In Su tertahan.

“Jiyeon-ah! Waeyo? Gwechana?” Tanya Yeorin tiba-tiba. Membuatku tersentak.

“Huh? An… anni. Gwenchanayo.” Jawabku berusaha menyembunyikan kegugupanku.

“Omo! Taemin sunbae neomu meojyeo!” In Su terus saja bergumam.

“Ya! Kau bilang kau menyukai Jino sunbae. Kanapa malah memuja-muja Taemin sunbae seperti itu?” Hardik Yeorin. Agak risih juga dia melihat tingkah In Su.

“Biarin! Kan berpaling sebentar tidak apa-apa lah.” Jawab In Su cuek. Aku terkekeh pelan melihat tingkah Yeorin dan In Su. Padahal kami baru saling kenal sekitar satu minggu, tapi kami sudah akrab satu sama lain. In Su adalah orang yang supel dan ceria, sedangkan Yeorin orang yang baik namun tegas dan agak galak. Walaupun kami memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lain, tapi kami bisa saling menyesuaikan diri, bahkan saling melengkapi. Karena perbedaan itu indah bukan?

“Ngomong-ngomong, kalian mau ikut ekskul apa?” Tanya In Su mengganti topik.

“Aku belum tau, tapi sepertinya aku akan ikut ekskul musik. Kau sendiri?” Jawabku.

“Aku ikut ekskul renang. Sejak kecil aku memang hobi renang, dan cita-citaku adalah menjadi seorang perenang professional.” Jawab In Su lagi. Wajahnya terlihat serius, mengisyaratkan bahwa ia memiliki tekad yang kuat untuk mengejar mimpinya itu.

“Wah! Berarti kau bisa berenang, ya?” Tanyaku polos. Kulihat In Su dan Yeorin terdiam dan ternganga menatapku.

“Jiyeon-ah! Tidak bisakah kau menanyakan sesuatu yang memang cocok untuk ditanyakan?” Ucap Yeorin pelan namun membuatku bingung.

“Hahaha…” Tiba-tiba In Su tertawa lepas. “Aigoo! Jiyeon-ah! Kau itu polos sekali, sih? Dan tahukah kau bahwa wajahmu itu benar-benar terlihat lucu saat sedang bingung seperti itu.” Ujar In Su seraya mencubit pipiku.

“Sudahlah, lupakan! Yeorin-ah! Kau ikut ekskul apa?” Tanya In Su lagi. Ekspresinya itu cepat sekali berubah, sih?

“Aku ikut Taekwondo.” Jawab Yeorin singkat.

“Oh… kau itu agak tomboy, ya?” Gumam In Su yang hanya dibalas Yeorin dangan mengangkat bahunya.

“Jiyeon-ah! Kau ekskul musik, berarti kau daftar besok lusa dong?” Tanya Yeorin seraya meminum jus mangganya.

“Ne. Aku akan daftar nanti.”

“Semoga beruntung, ya. Dan semoga kau bertemu dengan seorang namja yang akan membuatmu mengerti bagaimana perasaan cintaku terhadap Jino sunbae.”

PLETAK

Sebuah jitakan sukses mendarat di kepala In Su. Lagi-lagi mereka bertengkar. Seperti biasa, aku hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka.

“Ya! Kenapa kau menjitakku?” In Su meringis kecil.

“Omonganmu itu berlebihan sekali sih? Sakit perut aku mendengarnya.” Jawab Yeorin santai.

“Ya! Aku kan hanya ingin Jiyeon tau bagaimana rasanya menyukai seseorang.” Balas In Su tidak mau kalah.

“Aku tau kok bagaimana rasanya.” Jawabaku yang sontak membuat Yeorin dan In Su tertegun.

“Jincha? Memangnya kau menyukai siapa?” Tanya In Su antusias.

“Iya. Nugu-ya?” Yeorin ikut bertanya kali ini.

“Ne. Memangnya kenapa? Kalian pikir aku tidak pernah merasakan jatuh cinta?” Tanyaku sengit. Jujur saja, aku agak risih dengan reaksi mereka yang berlebihan itu.

“Jincha? Dengan siapa?” Tanya In Su lagi. Kini suaranya sudah naik dua oktaf.

“Kau sudah pernah merasakan cinta pertama?” Tanya Yeorin seraya mendekatkan wajahnya kepadaku.

“Ya! Bisakah kau tidak usah berteriak seperti itu? Pendengaranku itu masih berfungsi dengan baik, tau!” Hardikku pada In Su.

“Mian… tapi aku benar-benar penasaran. Ternyata gadis polos sepertimu sudah pernah jatuh cinta, aku tidak menyangka.”

“Sudah ah! Aku mau ke kelas.” Aku segera bangkit dan berlari menuju kelas. Aku malas meladeni mereka.

“Ya! Jangan lari! Kau belum menceritakannya.” Seru In Su sambil berlari mengejarku. Kujulurkan lidahku pada In Su dan Yeorin. Merong! Itu memang kebiasaanku.

“Ya! Kau ini!” Geram Yeorin. Aku terkekeh melihatnya.

Cinta pertama. Ya, aku memang sudah pernah merasakannya. Jika kalian pikir ini adalah cinta monyet, kalian salah. Walaupun aku mengalaminya saat aku masih kecil, tapi ini bukanlah cinta monyet. Ya, dia adalah temanku sejak kecil. Dia… orang yang berhasil mencuri hatiku. Membuatku tertawa sekaligus menangis di saat yang bersamaan. Dialah yang selalu melindungiku saat aku ketakutan, saat aku berada dalam kegelapan. Dia tau betul segala hal tentang diriku, apa yang aku sukai, apa yang aku benci, apa yang aku takuti, ia tau betul semua itu. Dia juga adalah satu-satunya orang yang tau alasan kenapa aku takut kegelapan, karena ialah penyelamatku saat itu, saat hari kematian orang tuaku. My Guardian Angel. Kematian orang tuaku memang memberi pengaruh besar pada hidupku. Dan tahukah kau betapa hatiku hancur saat ia pergi meninggalkanku ampat tahun yang lalu, tanpa memberitahu kenapa dan kemana dia pergi. Aku kehilangan sandaranku, sandaran kedua setelah oppaku. Apakah terdengar konyol? Seorang anak kecil berusia 10 tahun sudah berbicara soal cinta. Tapi, memang itulah kenyataannya, kenyataan yang menyedihkan. Ah! Sudahlah! Untuk apa aku mengingatnya lagi! Membuat dadaku semakin sesak saja.

TBC

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

34 thoughts on “Bad Boy Sitter – Part 4”

  1. Waaaah
    Kasiannn
    Trauma garagara orangtuanya
    Eh jangan jangan cowonya taemin lagi ato onew?
    Abis bisa aja kalo onew terus nanti deket lagi sama ji yeon
    Terus nanti taemnya cemburu
    Ato taemin yang dulunya ceria sampe ditinggal eommanya
    Aigoooo
    Lanjut!!

    1. buseeeeettt…
      byk bgt spekulasinya… haha…
      tunggu aja oke!
      gomawo dah mo bca n komen! 🙂

  2. Like bgt deh ni ff!! Suka bgt karakter taem yg bad boy..kerend..hha
    lanjuut ny lumayan lama ni author?yg cepet yah..kekeke..ihh like bgt dee asli !.ud penasaran tingkat akut ni..

    1. makasih udah like bgt… hehe…
      taem emang kren, apalagi skrg dah ganti gaya rambut, pas deh ma krakternya di sni…
      soal lanjutnya itu kan admin yg nentuin… jdi ngomong.a ke admin aja, hehe
      gomawo…

  3. thooooooooooooor tambah seru. siapa ya yg disukain jiyeonnya? onyukah atau taeminkah *ngarang :p hehe. next, part selanjutnya jgn kelamaanya ya thor 🙂 chu~

  4. Wauw,, Taemin?? kamu bener-bener manly di sini.. Aku bayangin dia pas balapan ma Onew pasti keren bangett,, Dan gak tau kenapa kau pengen kalo’ cinta pertamanya Jiyeon itu Onew,, pasti tambah seru,,

    Waiting for next chap,, 😀

  5. hwaa… kok aku bilang pendek ya ?? apa perasaan doang ..
    siapa namja yg di sukain sma jiyeon ??
    harus tau !!!
    taemin !! pengan bgt aku tampar klo ad org yg ngomong kayak gitu !!!
    sabar ajh ya halmonnie … hyuuuuu author !! lanjutkan okokok…. !!!

  6. yaampun jiyeon kecil2 udh suka2an ya 😉
    aduh siapa sih cinta masa lalunya?penasaran nih thooor!
    lanjut ya author yang baik hatiii 😀

  7. Astaga! siapa tu cowok Jiyeon?? siapa? siapa????
    wah, lagi asyik-asyik…TBC…Hehe!
    ditunggu part selanjutnya ya Thor.,..

  8. Seru banget deh!!
    Taemin cool, jadi kesengsem nih.
    Jiyeon cocok banget karakternya sama wajahnya.
    Huuum… Biar aku tebak! Jangan2 firts love jiyeon itu Onew ya?

    Lanjut dong… Penasaran ~.~

  9. yaah.. kok TBC sih?
    padahal msh seru loh.. hehe

    lanjutan na msh lma kgk aothor ?
    hehehe.. cz na penasaran nih ma cerita na.. 🙂

  10. heran sama taem, gasuka cewe tapi diem aja dideketin cewe ckck
    wah wah wah, makin seru nih 😀

  11. Siapakan laki2 yg mnjadi cinta prtmanya jiyeon? Hmmmm apakah taemin ato cwok kece yg lain
    Mari di pastikan di chap slanjutnya
    Go

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s