TENGGARING – Part 3

TENGGARING – Part 3

Author             : yen

Main Cast        : Ara, SHINee

Support Cast    : Ayah Ara, Bunda Ara, April, Galang, Yoora, dll

Length : Sequel (3/9)

Rating              : General

Genre              : Friendship, Supernatural

Inspired           : Bioskop Indonesia TransTV : Aku Cinta Dia ( ayang 15 Februari 2011) dan  semua novel Tere-Liye

“Hari ini ada ulangan apa?” Tanya Kakak itu, kali ini dia yang menghampiriku di atas menara air, tengah membaca manga One Piece. Sejak insiden kulit buah tenggaring waktu itu, aku menjadikan menara air sebagai tempat favoritku. Membawa novel atau manga, terkadang malah tidak membawa apapun, sekadar berharap bisa bertemu dengan Kakak menara air.

“Fisika,” jawabku singkat tanpa menoleh.

“Fisika, Matematika dan Kimia,”  tegasnya. Aku menatapnya bingung.

“Kenapa kalau ulangan yang lain kamu nggak ke sini?” Tanyanya sambil tersenyum.

“Nggak punya sisa waktu ya? Atau malah, kekurangan waktu buat ngerjain soalnya?” Tambahnya lagi, tersenyum semakin lebar. Aku mencengir, paham apa yang dia maksud.

“Iya Kak. Cuma di 3 pelajaran itu aja. Pelajaran yang lain susah banget, apalagi Biologi. Kebanyakan bahasa latinnya tuh. Mana hapalannya seabreg-abreg. Bayangain Kak! Buku setebel itu, harus dihapalkan. Ada diplopoda, DNA, asetil CoA, bilirubin, zygomatikum, oryza saliva. Huh!” Semburku bersungut-sungut penuh dendam.

“Oryza Sativa, itu nama latinnya Padi. Kalau saliva itu air liur,” sahutnya geli, membuatku menyeringai malu.

“Lebih kacau lagi kalau pelajaran Bahasa Inggris Kak. Seribu kali lebih ribet. Yang namanya tenses tu susah banget. Kapan harus pake have, kapan pake has, kapan had, kapan have been, kapan had been, kapan lagi has been. Pusing! Konpius deh!” Semburku lagi, dengan dendam yang lebih berlipat-lipat dibanding waktu ngomongin Biologi.

“Confuse?” Tanyanya, dengan ekspresi yang juga berkali-kali lipat lebih geli dibanding tadi.

“Yap, itu. Konpius. Maaf nggak bisa ngomong EF , bisanya PE!” Jawabku, manyun.

Kakak menara air tertawa lepas. Suaranya merdu banget, apalah….

Aku menatapnya takjub, senyumnya aja udah manis banget, apalagi tawanya. Untung aku orang Indonesia asli, kalau aku keturunan Jepang, pasti aku udah mimisan dari tadi.

Teeettt…

Suara sumbang bel memang nggak tahu situasi dan kondisi, selalu saja mengganggu kesenangan orang.

“Makan siang?” Tebaknya, melihatku yang sudah beranjak dari pinggir menara air, menepuk-nepuk bagian belakang celana panjangku. Aku mengangguk, menunggunya berdiri. Kakak menara air akhirnya sadar kalau aku menunggunya, dia juga berdiri dan mulai menuruni anak tangga terlebih dahulu, aku menyusul dibelakangnya.

Ahhhh…!!

Dia baru saja menjejakkan kaki di tanah,  saat aku kehilangan keseimbangan gara-gara menginjak tali sneakerku sendiri. Aku hanya bisa pasrah, sedikit berharap dia akan menangkapku, atau paling tidak, tidak perlu terjerembab ke atas tanah karena tertahan punggungnya.

Sedetik kemudian aku telah berdebam, jatuh di tanah keras. Siku-ku berdarah ,tapi tidak terasa sakit sedikitpun, karena rasa terkejutku jauh lebih besar.

Aku menembusnya. Menembus. Menembus dalam arti kata sebenarnya. Seperti melewati kolom udara dingin, menembus tubuh Kakak menara air. Wajahku saat ini pasti sangat pias.

ORANG BUNIAN?? HANTU??

***

“ARGH!!” Teriakku frustasi, tidak sadar kalau saat ini aku sedang ada di dalam laboratorium biologi, mengamati irisan tipis bawang merah. Tentu saja, saat ini, semua mata tertuju padaku. Apalah….

“ARA!” Panggil Bu Norsinah, guru biologiku yang pintarnya minta ampun.

“Eh? Iya Bu? Maaf?” Sahutku bingung, nggak nyambung.

“Kenapa kamu berteriak seperti itu? Ada yang salah dengan preparat-mu?” Kali ini Bu Norsinah menghampiriku, mengintip preparat-ku melalui mikroskop.

“Oh, tidak Bu. Tidak masalah, preparatnya aman terkendali” Otakku benar-benar konslet. Bagaimanalah….

“Apa kamu sedang tidak enak badan? Sakit?” tanya Bu Norsinah setelah memandangku cermat beberapa saat.

Yah, mungkin wajahku memang terlihat seperti orang sakit, sakit jiwa. Beberapa malam aku tidak bisa tidur nyenyak. Ayolah, walaupun masalah makhluk halus bukanlah masalah baru bagiku, tetap saja bertemu dan berinteraksi langsung dengan salah satu dari mereka akan membuatku bingung. Bingung, ya, aku tidak bisa menemukan kata lain yang lebih tepat. Aku terbiasa dengan fenomena makhluk halus, sejak SD sampai SMA, di SMA-ku yang lama tentunya, berkali-kali aku melihat sendiri temanku yang kerasukan. Menceracau dengan suara-suara aneh, meminta hal-hal aneh, melakukan hal-hal aneh dan memakan hal-hal yang lebih aneh lagi. Hidup bersama orang-orang Madura, Melayu dan terutama Dayak, membuatku terbiasa dengan hal-hal seperti itu. Salah satu sahabat dekatku di SMP adalah cucu seorang Dukun Suku Dayak. Jangan membayangkan Kakeknya itu seperti dukun yang menggunakan cincin akik sebesar telur angsa, atau dukun yang identik dengan kembang setaman dan kemenyan, apalagi dukun santet atau dukun beranak. Dukun yang kumaksud adalah tokoh tetua Suku Dayak. Percaya tidak percaya, temanku itu pernah membuatku bisa melihat makhluk halus, orang bunian. Dia bahkan bisa tahu kalau aku sedang diikuti oleh sesuatu hanya dari baunya saja. Dia bilang, bau-ku seharian itu berbeda. Dan dia menebak dengan tepat, bahwa sehari sebelumnya aku bermain di sebuah lahan berpasir yang ada ditengah-tengah kebun. Ya, dia bilang, jika aku menemukan sebidang pasir di tengah-tengah kebun luas atau hutan yang lebat, maka di sana ada semacam kerajaan mahkluk halus.

“ Ara, sebaiknya kamu istirahat di ruang kesehatan. Kamu kelihatan pucat sekali. Atau kamu ingin pulang saja? Nanti Ibu akan minta tolong pada perawat untuk mengantarmu pulang,” kata Bu Norsinah dengan intonasi cemas.

“Ehmm…, ya Bu. Terima kasih. Tidak, saya tidak ingin pulang. Boleh saya ijin untuk istirahat di ruang kesehatan?” Jawabku menceracau, untung saja Bu Norsinah paham. Beliau mengangguk bijaksana. Aku balas mengangguk, berlalu begitu saja dari ruang laboratorium, bahkan tanpa melepaskan jas lab dan sarung tangan nitrile-ku, tertunduk lesu menuju ruang kesehatan.

“Ara! Kamu sakit? Pucat banget. Sini tiduran di sini,” sambut Kak Susi, perawat sekolah. Aku melepas sarung tangan nitrile dan jas lab-ku. Kak Susi melakukan pemeriksaan standar.

“Nggak pa-pa kok Ara, suhu dan tensi-mu normal. Kecapekan ya? Minum susu coklat ya,” ujar Kak Susi lembut, menyodorkan segelas besar susu coklat panas.

“Kamu istirahat aja di sini, tidur. Kakak ada keperluan, nggak pa-pa kan ditinggal sebentar?” Tanyanya sambil mengamatiku yang asyik menyeruput susu coklat. Enak. Aku tersenyum, mengangguk.

Susu coklat-ku tandas tak bersisa. Kak Susi belum kembali. Tidur? Kalau aku bisa tidur, sudah ku lakukan dari semalam. Bosan. Aku mulai mengelilingi ruang kesehatan, meneliti satu persatu persediaan obat Kak Susi. Iseng memainkan stetoskop. Bosan. Iseng memainkan tensimeter. Bosan. Aku melangkah ke pintu, tidak ada tanda-tanda kedatangan Kak Susi. Bosan. Bersandar di bingkai pintu. Bosan. Jalan-jalan aja deh.

Aku kembali mengelilingi kompleks sekolahku. Berhenti di depan ruang musik, pintunya sedikit terbuka, mengintip ke dalam, sepi. Aku melangkah masuk, tidak ada tanda-tanda kehidupan. Berkeliling, melihat-lihat alat musik yang ada. Iseng meraih gitar.

A E F#m C#m D A Bm E

A           E
Hei pujaan hati apa kabarmu
F#m               C#m
Ku harap kau baik-baik saja
D              A
Pujaan hati andai kau tau
Bm              E
Ku sangat mencintai dirimu

Aihhh… fales banget. Beralih ke piano. Bingung mau mainin lagu apa. Membolak balik partitur di atas piano. Busyet dah, klasik semua. Mendengus sebal. Mulai menekan tuts-tuts piano, lagu Ibu Kita Kartini mengalun, satu-satunya lagu yang aku hapal notasi-nya. Selesai. Bosan. Mengedarkan pandangan ke sekeliling. Wah… ada alat musik bangsawan nih, Biola. Aku nekat meraihnya, menjepitnya di antara dagu dan pundak kiri, rasanya nggak pas deh. Pasti kelihatan nggak pantes, nggak pas sama aku-nya. Nekat menggesekkan busur ke senar dengan serampangan, suara yang keluar persis suara angsa tercekik. Parah….

“ARA! BERISIK!” Sebuah suara tiba-tiba terdengar, menghentikan permainan biola-ku yang berantakan. Tidak, tidak hantu-hantuan lagi. CUKUP.

Puuufffhhh…

Aku langsung menghembuskan nafas lega saat melihat Kak Jonghyun muncul sembari menguap lebar dari balik set Gandang, Garantung dan Kangkanung di pojok ruangan.

“Kak Jonghyun, ngagetin aja. Ngapain Kakak di sini? Mbolos ya…?” Tuduhku jahil.

“Tidur. Kamu Ara kan? Temen sekelas Yoora dan Key? Ngapain di sini?” Jawabnya sambil menggeliat.

“Iseng-iseng aja, bosen tingkat akut,” sahutku sambil meletakkan kembali biola ke dalam casing-nya.

“Bosen?” Tegasnya.

“He-eh, banget!” Seruku.

“Jalan-jalan yuk. Suka mancing nggak? Aku tau tempat mancing yang asyik banget lho,” tawar Kak Jonghyun. Mancing? Menggiurkan. Eh, tapi berarti aku mbolos dong. Bodo ah, sekali-sekali, toh setelah praktikum ini pelajaran Bahasa Inggris bareng Miss Reni. Uaahhh… males banget.

“Di mana Kak? Sungai apa teluk? Lewat padang Karamunting nggak?” Sambutku antusias.

“Teluk. Kalau kamu mau ikut, ntar aku lewatin padang Karamunting. Gimana, ikut?” Tawar Kak Jonghyun lagi. Tanpa ba-bi-bu, aku langsung mengangguk mantap.

***

Aku melompat turun dari Jeep Wrangler Kak Jonghyun, berlari menuju padang Karamunting. Takjub memandang hamparan semak Karamunting yang penuhi bunga  berwarna ungu muda dengan lima kelopak.  Aku mulai memenuhi kantong plastik yang tadi sengaja ku minta pada Acil Gayah dengan buahnya yang berwarna ungu tua kemerahan. Buah Karamunting besarnya seperti anggur hijau, kulitnya seperti beludru, tak licin mengilat, kecuali jika baru tersiram hujan. Aku memasukkan sebutir buah karamunting ke dalam mulut, mengunyahnya, rasanya manis berserat, tidak terlalu berair dengan biji bulat kecil-kecil.


“Heh, hati-hati. Nanti keracunan lho,” celutuk Kak Jonghyun yang sedang asyik menjepretkan kamera DSLR-nya.

“Ini nggak beracun Kak. Emang belum pernah nyicipin ya? Enak!” Seruku sambil mengulurkan segenggam Karamunting matang kearahnya.

Kak Jonghyun memakannya dengan ragu-ragu, tapi kemudian justru dia yang lebih semangat berburu buah Karamunting.

“ Ara! Lanjut yuk, ntar malah nggak jadi mancing!” Seru Kak Jonghyun, memanggilku yang sedang asyik mencoba kamera-nya.

***

Aku memasang umpan berupa udang kecil di mata kail. Melemparnya ke air, kami sudah sampai di salah satu dermaga kecil di teluk Kumai, memancing.

“Yiiipiii…” Seruku senang saat melihat ikan Tenggiri tergantung di ujung pancingku.

“Kak, nggak usah maksa deh. Ikan di sini nggak doyan ama umpan sintetis begitu. Pake ini aja,” ujarku menyodorkan udang-udang kecil berwarna abu-abu kehitaman yang tadi ku tangkap di cekungan air di pinggir teluk. Di Kumai, setiap genangan air, pasti ada ikannya, minimal udang deh.

Kak Jonghyun memberengut sebal, membuang muka. Aku tergelak geli saat melihat mata kail-nya justru hilang. Pasti di makan ikan buntal. Sesaat kemudian tertawa sampai mengeluarkan air mata melihat di ujung pancing Kak Jonghyun tergantung pasrah seekor ikan buntal kecil. Menggembung memamerkan duri-durinya, matanya melotot. Maksudku, mata ikan buntalnya, bukan mata Kak Jonghyun. Kak Jonghyun akhirnya menerima udang kecil-ku.

Kak Jonghyun duduk menjuntai di pinggir dermaga, masih belum menyerah. Aku mulai bosan, jalan-jalan disekitar dermaga. Melihat sebatang pohon rambai yang sedang berbuah. Meraih salah satu buahnya yang besar, kelihatannya sudah masak. Melepas pangkalnya yang berbentuk bintang enam sudut. Membelahnya menjadi dua, benar sudah empuk. Aku kembali menghampiri Kak Jonghyun, duduk mencangkung disebelahnya. Mengulurkan buah rambai.


“Bisa dimakan?” Tanya Kak Jonghyun ragu-ragu.

Aku mengangguk pasti. Sejurus kemudian tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Kak Jonghyun yang…. tidak terkatakan.

“ARA! MASAM BANGET!” Protes Kak Jonghyun.

“ Kak Jonghyun kan tadi nanya-nya bisa dimakan enggak. Bukan nanya rasanya!” Sahutku sambil berlari menghindari tangan Kak Jonghyun yang hendak menjitakku.

***

“ARA! DARI MANA AJA KAMU?”

Aku baru saja menjejakkan kaki di lapangan parkir sekolah, turun dari Jeep, saat suara Kak April menggelegar. Heran, hari ini banyak sekali orang yang memanggilku dengan nada tinggi. Kak April berjalan kearahku, meletakkan kedua tangannya dipinggang. Marah besar tampaknya. Dibelakangnya, beberapa teman sekelasku mengikuti. Beberapa tampak menghela nafas lega kemudian bubar jalan.  Sementara itu, Kak Jonghyun sudah ditarik oleh Kak Yoora yang mengomel panjang pendek.

“Kau kemana saja? Seharian nggak keliatan. Di ruang kesehatan nggak ada. Nggak ikut makan siang. Mbolos jam pelajaran Miss Reni. Kami khawatir tau! Baru saja aku dan Joo Won hendak mengecek apa kau sudah pulang ke rumah, sekalian mengantarkan tas-mu,” sembur Kak April dalam satu tarikan nafas. Hebat!

Tentu saja aku hanya mencengir lebar.

To be continued

Footnote :

Gandang : (alat musik tradisonal Kalimantan Tengah/ Dayak) alat musik perkusi sejenis gendang dengan ukuran setengah sampai tiga per empat meter. Bentuk silinder yang terbuat dari kayu dan pada ujung permukaan di tutup kulit rusa yang telah dikeringkan. Kemudian di ikat rotan agar kencang dan lebih kencang lagi diberi pasak.

Garantung : (alat musik tradisonal Kalimantan Tengah/ Dayak) gong yang terdiri dari 5 atau 7 buah, terbuat dari tembaga

Kangkanung : (alat musik tradisonal Kalimantan Tengah/ Dayak) sejenis gong dengan ukuran lebih kecil berjumlah lima biji, terbuat dari tembaga

Rambai : Pidada merah atau Perepat merah (Sonneratia caseolaris) adalah sejenis pohon penghuni rawa-rawa tepi sungai dan hutan bakau.

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


26 thoughts on “TENGGARING – Part 3”

  1. EH!! INI MANA PART 1 nya??
    Okayy.. tenang.. tenang.. tarik nafassss.. tarik nafasssssss..

    Yen! SUMPAH! SUMPAH ini KEREN ABIS!!
    What they usually say? DAEBAK??

    Sure, it’s soooooooo DAEBAK!!

    Bentar ya.. aku cari part 1 nya dulu..
    maaf deadlines, kau tergantikan oleh tergaring whakakakak!!

    *deadlines: it’s okay paling nanti tinggal ngambil kopi dan ga tidur semalaman -_-!!

    1. Storm… storm…
      Grav-nya emang Tabi, tapi kelakuannya lebih mirip GD (ato malah Seungri?) hehehe…
      Jangan sering-sering minum kopi, ga sehat (sok tua nih nasehatnya, kekeke…)
      Semoga sukses dgn deadline-nya.

  2. FF ini unik ya gak kaya FF lainnya, ada unsur budaya daerah2 di indonesia. 2 thumbs up deh lanjutannya ditunggu secepatnya ya author (:

  3. FF yang menceritakan a bit of Indonesia’s cultural..
    keren!
    Tapi aku ingin tahu kenapa mereka (orang2 korea) bisa sekolah di Kalimantan.
    Ada bagian ceritanya ga itu ? Hehe,,
    Dan,, itu yang si kakak menara tuh orang apa hantu sih? Kaget aku pas tiba-tiba tu orang ngilang..
    -.-

    1. Ada, di part 1.
      Ringkasnya, mereka itu anak para ekspatriat yg kerja di perusahaan minyak kelapa sawit di kalteng (perusahaan korea).
      menurutmu… klo ada sesosok makhluk yg bisa ditembus, itu orang apa hantu? hehehe…

  4. .Ayyey!!
    part 3 dah kluar,,
    kerenn! kerenn! kerenn!
    .Eh, sbnrnya yg dmenara air itu sapa sih?
    Onew? Taemin?
    Hntunya Onew?? ato hntunya Taemin??
    bingunglaah…
    .Oiya,,
    kak yoora, Jjong jgn dmarahin donk.
    kasianlaah…
    Hhe,,

  5. hwa… dri ff ini aku bisa tau budaya2 org sana ..
    aku blom pernah kluar jawa…
    pengen bgt jalan2 …
    huaaaa…
    nice ff … itu hantunya jinki ya ??
    waduh .. ckck mebolos .. aku ikut …

  6. wahh..penasaran sama hantunya..!!
    ada in part onew ya…!! jadi hantu juga gpp ko…
    yg penting ada onew nya..hhhahaha

    oh..iya..!! keren-keren FF nya..!!!

  7. Seruuu!!!!!!
    Buah buahan yang ada disini
    Baru liat hehehe
    Jadi menambah informasi
    Topp!!
    Jong gimana si malah ngajakin bolos
    Bukannya belajar mana mancing dapetnya ikan buntal
    Hahahahahahahahaha
    Lanjut!!!

  8. Tuh kan bener tebakanku kalo itu hantu. Itu siapa sih? Jinki ya?
    Di part ini key gx muncul 😦
    lanjut chingu 😀

  9. Tuh kan bener tebakanku kalo itu hantu. Itu siapa sih? Jinki ya?
    Di part ini key gx muncul 😦
    lanjut chingu 😀 😀

  10. Itu kakak hantu menara airnya siapa ya?
    Hahahahahah!! Serius, ngakak gak ketulungan pas scene Jjong makan rambai! Aigoo, itu buah mah asemnya gak ketulungan!! Untung elu gak mules Jjong.. XD

  11. Rasanya indonesia indah bnget di ff ini 🙂
    Pengambilqn setingnya aku kasih sepuluh jempol, pinjem2 ma tetangga 😀

    wuah~ itu jinki hantu? agak kecewa sih.. suami saya jadi hntu kasian TT-TT
    Tapi pasti ada cerita seru diblik pohon tenggaring ma hantu jinki, bener gak?
    lanjut~ ^^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s