TENGGARING – Part 4

TENGGARING – Part 4

Author             : yen

Main Cast        : Ara, SHINee

Support Cast    : Ayah Ara, Bunda Ara, April, Galang, Yoora, dll

Length : Sequel (4/9)

Rating              : General

Genre              : Friendship, Supernatural

Inspired           : Bioskop Indonesia TransTV : Aku Cinta Dia ( tayang 15 Februari 2011) dan  semua novel Tere-Liye

“Aku bawa bekal kok Kak” Tolakku saat Kak Nadia mengajakku ke kantin.

“Nggak pa-pa, makan bekalnya di kantin aja. Ayo!” Bujuknya lagi. Aku menggeleng sembari tersenyum. Akhirnya Kak Nadia menyerah, pergi ke kantin sendiriran.

Aku menghela nafas panjang. Bagaimanapun, masalah itu harus jelas hari ini. Aku melihat keatas menara air, Kakak itu tidak ada disana. Aku memutuskan untuk menunggunya, sembari memakan bingka kentang-ku.

“Masalah nggak akan selesai hanya karena kamu lari dari masalah itu” Seperti biasa, tiba-tiba saja Kakak menara air sudah duduk menjuntai disebelahku.

“Kakak! Ngagetin aja!  Hantu ya hantu, tapi jangan gitu-gitu amat dong. Ara bisa mati jantungan nih!” Semburku kesal, masih sedikit bingung, berinteraksi dengan makhluk halus. Tapikan aku sendiri yang memutuskan untuk memperjelas masalah ini. Dia hantu, baiklah, ya sudah, itu kenyataan. Sederhana saja.

“Kalau nggak bisa dalam pelajaran tertentu, seharusnya kamu belajar. Bukannya malah mbolos begitu!” Lanjut Kakak menara air, seperti tidak mendengar ucapanku barusan.

“Biologi dan bahasa Inggris, iya kan?” Tambahnya lagi.

“Heh? Kakak ngomongin apa sih?” Tanyaku bingung.

“Masalahmu!” Serunya jengkel.

Masalahku? Masalahku kan dia, hantu menara air. Apa hubungannya dengan Biologi dan Bahasa Inggris? Aku menatapnya bingung.

“Kalau kamu sampai membolos seharian gara-gara nggak suka dengan satu pelajaran, berarti masalahmu sudah parah!” Semburnya.

Oh… itu maksudnya. Pelajaran-pelajaran menyebalkan itu. Aku mengangguk-angguk paham.

Kenali dirimu dan kenali musuhmu maka dalam seratus pertempuran engkau tidak akan kalah,” ucapnya sembari menatapku serius.

“Kak, aku kan nggak lagi perang,” sahutku setelah bebarapa saat menatapnya, bengong. Aku tahu itu ucapan Tsun Zhu dalam Art of  War, tapi apa hubungannya dengan ku?

“Maksudku, pertama-tama kau harus mengenali diri sendiri. Kau termasuk orang yang lebih mudah belajar secara visual, auditorik atau kinestetik. Kemudian kau juga harus tahu karakteristik pelajaranmu. Materi itu bukan untuk dihapal, tapi dimengerti dan dipahami” Dia benar-benar terlihat serius.

Jam makan siang hari itu terlewati dengan penjelasannya yang panjang lebar. Bukan hanya siang itu, tapi juga siang-siang setelahnya. Aku justru sibuk belajar bagaimana cara belajar yang efektif  dan efisien darinya, Kakak hantu menara air.

***

“Ovum, sporofit, sporogonium, spora, protonema, gametofit.“ Sebutku cepat, menghapalkan siklus hidup lumut di depan Kakak menara air, di atas menara air.

Teeettt…

“Aku duluan!” Cegahku saat melihat Kakak menara air hendak mendahului turun. Sampai sekarang aku hanya bisa menyebut dia sebagai Kakak menara air. Bagaimana lagi, saat aku tanya siapa namanya, dia hanya tersenyum bingung lalu berkata ‘Aku lupa’ . Bagus! Aku berteman dengan hantu hilang ingatan, tidak ada yang lebih aneh dari ini.

“ Aku kan lebih dekat ke tangga,” protesnya, heran.

“Nggak enak tau rasanya nembus hantu. Dingin!” Semburku mengkal, mulai menuruni tangga.

“Hantu? Mana?” Tanyanya dengan tampang polos setelah kami sampai di bawah.

Aku menunjuk batang hidungnya.

“A-aku…? Aku manusia, bukan hantu. Enak saja!” Serunya kesal.

Wehhh… hantu kok ngaku-ngaku manusia. Eh, tapi benar juga. Selama ini aku merasa auranya biasa-biasa saja. Tidak terasa seperti mahkluk halus lainnya. Tapi… bagaimana mungkin?

“Mana ada manusia yang bisa ditembus. Nih, lihat,” kataku sambil meraih lengannya, tu… kan, tembus. Wiiii… dingin. Aku segera menarik kembali tanganku.

“Eh, ya. Tapi aku manusia, MANUSIA!” Serunya sebal.

Manusia? Tapi bagaimana mungkin? Omong kosong soal arwah gentayangan, orang yang sudah tidak bisa kembali ke dunia dengan cara apapun. Mereka ada di alamnya sendiri, tidak bisa kemana-mana, sampai hari kiamat nanti. Lalu kenapa dia ada di sini? Apa dia masih hidup? Kalau hidup, kenapa hanya jiwanya saja? Jasadnya kemana?

“Kak Onew…!” Tiba-tiba sebuah suara mungil terdengar, seorang bocah cilik berlari-lari kearah kami. Tersenyum lebar kepada Kakak menara air.

Hehhhh…? Dia bisa ngeliat hantu? Juga?

“Kakak kok lama banget nggak maen sama Majid. Majid kan kangen,” rengak bocah itu manja.

“Majid…!” Suara Pak Udin terdengar memanggil.

“Nak Ara. Maaf, cucu saya mengganggu ya?” Tanya pak Udin ramah.

“Oh, ini cucu Pak Udin ya? Imutnya,” sahutku mencubit lembut pipi bocah itu.

“ Iya,” jawab bocah cilik itu. Pak Udin mengucak rambut cucunya.

“Majid, ayo pulang. Dicari Uma tu,” perintah Pak Udin.

“Indah ma! Majid handak maen dua Kak Onew,”1) tolak bocah itu, menepis tangan Pak Udin yang berusaha menggandengnya.

“Kak Onew siapa? Ini Kak Ara. Kak Onew sudah nggak ada. Maaf ya Nak Ara,” ucap Pak Udin dengan ekspresi sungkan.

“Ayo!” Kali ini Pak Udin menarik Majid yang berjalan malas-malasan, masih terus memandang kearah Kakak menara air.

Oh, jadi… Kakak menara air itu namanya Onew. Majid dan Pak Udin kenal padanya.

Aku segera mengejar Pak Udin, berjalan menjajarinya.

“Pak Udin. Kak Onew itu siapa?” Tanyaku tanpa basa-basi, membuat Pak Udin menatapku dengan alis bertaut.

“Nak Ara kenal?” Pak Udin justru balik bertanya.

“Eh, pernah dengar namanya. Kakak angkatan saya kan Pak?” tanyaku nekat. Aku nggak bohong kan? Aku memang barusan mendengar namanya dari Majid dan sepertinya dia memang kakak angkatanku, buktinya dia lebih pintar dari aku.

“Iya. Tapi bukannya Nak Ara baru masuk tahun ini, kok bisa kenal. Bahkan kalau Nak Ara sekolah di sini sejak kelas X, Nak Ara juga nggak akan ketemu Nak Onew, karena dia seharusnya sudah lulus saat Nak Ara masuk” jawab Pak Udin  panjang lebar.

Aku hanya mencengir, bingung mau bilang apa.

“Kak Onew itu orangnya baik Kak! Dia suka ngasih coklat. Malah pernah nganterin Majid ke rumah sakit,” celutuk Majid.

“Oya? Wah Kak Onew baik ya! Majid tahu sekarang Kak Onew tinggal dimana?” Tanyaku sembari membungkuk, mensejajarkan diri dengannya. Majid hanya menggeleng pelan.

“Nak Onew sudah tidak ada Nak Ara,” sahut Pak Udin.

“Maksud Bapak?” Aku menatap Pak Udin heran, apa Kak Onew sudah meninggal?

“Dia kecelakaan beberapa minggu sebelum ujian akhir,” jelas Pak Udin.

***

“Aku masih hidup! Aku cuma nggak inget apa-apa kecuali tempat ini dan kamarku” gumamnya kesal. Siang ini, aku sengaja nggak makan siang di kantin, walaupun Bunda juga nggak bawain bekal. Melaporkan hasil investigasi-ku. Kemarin aku nanya-nanya lebih lanjut pada Pak Udin. Nihil, jangankan alamat, nama asli Kak Onew saja beliau tidak tahu. Waktu aku tanya Kak Jonghyun, dia juga nggak kenal yang namanya Onew. Ahh… coba dia ingat nama aslinya. Lebih gampang perkaranya. Aku bahkan sudah melototin foto-foto di album kelulusan, percuma, Kak Onew memang belum lulus dari SMA ini kan?

“Kalem dong Kak. Aku percaya kok kalau Kak Onew memang masih hidup. Makanya aku mau mbantuin Kakak. Masalahnya, kenapa jiwa Kakak nyasar di sini, badannya ditinggal entah di mana,” sahutku sadis, nggak sensitif dengan perasaan Kak Onew yang nggak punya jasad itu.  Kak Onew hanya menunduk, memegangi kepalanya dengan kedua tangan, frustasi.

“Eh, Kakak barusan bilang apa?” Tanyaku. Kak Onew menatapku bingung.

“Itu… tadi kalau Ara nggak salah denger, Kakak bilang, Kakak inget kamar Kakak. Iya kan?” Lanjutku lagi. Dia mengangguk bingung.

“Kakak bisa kesana?” Tanyaku antusias, teringat kalau dia pernah bilang dia bisa teleportasi ketempat-tempat yang dia ingat dengan jelas.

“Setiap malam aku tidur di sana. Kalau aku nggak sengaja ketiduran di sini, bangun-bangun aku juga udah di kamar,”  jawabnya lirih.

“Badan Kakak nggak ada di kamar?” Tanyaku kecewa. Kak Onew menggeleng.

“Hmmmm… mungkin badan Kakak ada di rumah sakit. Tapi, rumah sakit mana?”

Kak Onew bergeming  mendengar teoriku.

***

“Kak Minho!” Panggilku.

Kak Minho menghentikan kegiatannya, entah apa yang sedang dia kerjakan dengan komputernya, di ruang OSIS.

“Apa?” Tanyanya singkat.

“Ehmmm… mau minta tolong. Kakak kan ketua OSIS, punya data murid yang pernah sekolah di sini nggak?” Tanyaku penuh harap.

“Buat apa?” Kak Minho balik bertanya.

“Hmmm… aku nyari alamat salah seorang kakak angkatan kita. Ehmmm…. 3 tahun di atas kita. Penting!” Jawabku mencari alasan.

“Namanya?” Tanyanya lagi.

“ Onew,” sahutku ragu.

“Nama lengkap, asli, bukan panggilan,” tuntut Kak Minho.

“Nggak tau,” jawabku mencengir. Kak Minho menatapku curiga.

“Coba cari aja di album kelulusan. Tu disebelah sana,” tunjuk Kak Minho kearah deretan buku di atas rak. Kembali berkonsentrasi pada komputernya.

“Nggak ada. Aku udah coba kmaren, di perpustakaan,” jawabku singkat.

“Dia belum sempat lulus,” lanjutku karena melihat Kak Minho tidak merespon.

“Kak!” Panggilku sebal, Kak Minho tidak mengacuhkanku.

“Minta di Tata Usaha, bagian Kesiswaan,” sahutnya singkat.

“Udah. Nggak di kasih, soalnya aku nggak tau nama aslinya. Aku juga nggak boleh minta data lengkap seluruh murid tahun itu. Nggak sesuai prosedur atau apalah gitu,” jelasku, menghiba.

“Ngapain kamu nyari alamat orang yang nama aslinya aja kamu nggak tau? Jangan-jangan ketemu aja belum pernah? Gimana cara nyarinya kalau begitu?”

Kak minho mulai mengacuhkanku. Dia memutar badannya, duduk menghadap pada sandaran kursi.

“Sembarangan, aku sering kok ketemu dia,” sahutku mengkal.

“Nah, kenapa nggak nanya aja sama dia. Siapa nama lengkapnya, di mana alamatnya. Repot banget,” ucap Kak Minho tak kalah mengkal.

“Dia hilang ingatan, lupa namanya siapa, rumahnya di mana,” jelasku ragu-ragu, pasti alasanku kali ini terdengar aneh bin ajaib kuadrat.

“Kakak angkatan kita ada yang hilang ingatan dan nggak tahu rumahnya di mana? Jangan mengada-ada.”  Kak Minho menatapku tajam.

Aku balik melempar tatapan ‘Serius, aku nggak becanda Kak!’ padanya.

“Di mana dia sekarang? Aku mau ketemu!”  Ajak Kak Minho tegas, beranjak dari duduknya.

Aku menggeleng lemah. Nggak mungkin Kak Minho aku ajak ke atas menara air kan? Lagipula, apa Kak Minho bisa ngeliat hantu? Kak Minho menatapku tajam. Aku hanya bisa balik memandangnya, bingung bagaimana menjelaskan perkara ini.

“Kau menyembunyikan sesuatu,” tuduh Kak Minho, telak. Aku tidak bisa mengelak ataupun berkomentar apapun.

“Maaf Kak, tapi aku nggak bisa cerita,” sahutku pasrah.

Hening.

“Tolong bantu Ara mencari data tentang Kak Onew, tapi jangan bertanya kenapa. Bisa kan Kak? Tolong…. Ara mohon….” Aku mengeluarkan jurus pamungkasku, menghiba sembari menangkupkan tangan di depan dada. Kak Minho menghela nafas panjang.

“Percuma. Aku nggak punya akses komputer kesiswaan,” jawab Kak Minho setelah menatapku beberapa saat.

“Bisa diretas lewat jaringan internet kan?” Tanyaku antusias, sepertinya Kak Minho mau membantuku.

“Komputer kesiswaan nggak dihubungkan ke internet,” sanggah Kak Minho.

Kabar buruk! Berarti satu-satunya jalan adalah menyusup masuk ke ruang kesiswaan. Bagaimana caranya? Kalaupun berhasil masuk, pasti komputernya di password. Ah… kalau masalah password, Kak Minho bisa diandalkan. Satu-satunya masalah adalah bagaimana caranya masuk ke sana tanpa ketahuan dan tanpa meninggalkan jejak. Aku tidak punya keahlian membuka kunci. Menjebolnya dengan linggis? Heh? Memangnya aku pencuri amatiran, meninggalkan jejak sedemikian jelas. Kunci duplikat? Mungkin Pak Udin punya, tapi bagaimana cara mendapatkannya? Lagipula, kalau sampai terjadi sesuatu, Pak Udin bisa dianggap ikut terlibat. Tidak boleh!

“Jangan bilang kau mau menyusup masuk ke sana!” Tuduh Kak Minho memutus pikiran-pikiranku.

Aku mencengir lebar, mengangguk.

“ARA! Kau…!” Kak Minho seperti kehabisan kata-kata.

“Sepenting itu? Sampai kau mau melakukan hal gila seperti ini?” tanya Kak Minho menegaskan. Wajahnya serius sekali, seperti orang tengah menghadap calon mertua. Hahaha… perumpamaan apa ini.

“Penting sekali! Makanya, aku mohon dengan sangat Kak Minho mau menolongku,” jawabku tegas. Lagi-lagi, Kak Minho menghela nafas panjang.

To be continued

Footnote :

Uma (melayu banjar) : Ibu.

1) : Nggak mau! Majid mau main dengan Kak Onew

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

32 thoughts on “TENGGARING – Part 4”

  1. wuaah onew!
    dia kenapa?
    udah meninggal atau mati suri? *bingung*
    ayo minhoo, bantu ara!

    lanjut part 5-nya ya thor!

  2. Hantu ilang ingatan””
    Sumpah ngkak abis..
    Haha ohyea key mana “”
    Koq suamiku gak ada “”
    #plakk ditimpukin lockets

  3. Aigooooo
    Onew kasiannnn tapi mau gimana nolonginnya
    nama aja gatau
    Lagi pake hilang ingatan jadi repot kan aranya
    Untung aranya mau bantuin
    Tapi minho mau ga ya??
    Apa jangan jangan mereka beneran bakal nge bobol buat cari data?
    Penasarannnn
    Lanjut!!!

  4. Haaahhh…tau ceritanya hantu tembus pandang gini g aku baca deh yen..alergi hantu T.T
    eh,tp udah kebaca nih arah ceritanya..suka deh..dan kayaknya seru!
    please..please..make it like a detective story yennn *memohonmelas* yah?yah?
    cant wait 4 the next part..^^b

    1. Hantu-nya ga serem kok Arashi-chan.
      Detective story? Haduh! Aku blum bisa bikin cerita sekeren and seribet detektif2an.
      Lagipula… part 1 ampe tamat udah ku kirim, selesai.

  5. Onew kenapa sih? watir amat o_o

    Aku nyari arsip buat baca part 1, akhirnya ketemu juga, terus ngebut sampai sini deh ( ´∀`) ceritanya rame, ditunggu lanjutannya~ xD

    1. Onew? Ga knapa2 kok, cuma jd hantu hilang ingatan aja, hehehe…
      Ngebut?? Hati2 ya, jgn lupa pake sabuk pengaman *PLAK! Author aneh*
      Makasih ya…

  6. Wow , onew hantu ., tpi ngotot klo dy itu manusia ..
    Ckck ..
    Minho bantuin dong , biar tw cpa itu onew ..
    Lanjut ya ..

    1. emang terlalu tu si Onew, udah hantu, hilang ingatan, nggak mau ngaku, ngotot pula…
      *deshiiing…deshiiing… dipanah MVP sedunia*
      Makasih Tae-ah… dilanjut…

  7. .Kyaaa~
    Ojong mana??
    *he,,abaikan.
    .ni ff bkin pnasaran aja nih,,
    tp kerenn! kerenn! kerenn!
    Oiya, Ara kok ga tkut ama hantu Onew??
    .Eh, kak Yen msih skolah kah?? klas brapa?*prtanyaan wjib jwab!
    Hha, maaf maksa.

    1. Ojong? Biasalah, mbolos, apalagi… hehehe…
      Ara kan udah biasa bergaul ama hantu.
      Lagian klo hantunya secakep Onew, Loela jg ga takut kan?? ;p

  8. huaaaaaaaaaaaa lgi seru2 baca juga thor !! malah tbc !!!
    lah hantu dodol …
    *pletak!! onew: gwe bukan hantu* terserahlah .. -_-”
    terus2… kelanjutannya gimna ??
    aku mau bacaaccacacacacacacaca…….. *readers sableng!!*
    go..author… besok2 di panjangin yayayayayaayyaa
    aku tunggu oke….

    1. Hahaha…
      Onew…!! Ada yg manggil dodol nih! *Author tukang ngadu*
      Iya deh, besok di panjaaaaaaangin (boong ding, cuma lebih panjang 1/2 halaman doang kok, hehehe…)
      Makasih Ella…

  9. Nah ini nih FF daebak yang udah pantes banget dah di terbitin sama Gramedia Pustaka 😀
    Gak bohong ini bagus loh FF nya ^^, aku suka dari part 1. Cuma di ending gantung ya..? *curi-curi baca di schedule* habisnya FF ini bagus banget, bahasa novel gila deh. Asik 😀
    Key nya di FF ini kayaknya garang bener haahha, tapi bagus dan cocok euuuyyy ^o^
    Author bikin FF lagi yang model gini juga bahasa nya 🙂 asik bacanya, serasa baca novel geratis tanpa beli di toko buku hohoho

    Eh iya lupa bilang, aku juga suka novelnya Tere Liye. Tapi yang aku baca baru beberapa 😀 aku fokus ke Esti Kinasih, Stephanie Zen, Luna Torashingu, Ken Terate sih *gak nanya* hohoho

    1. Kya…. Ada SMEW, eh, maksudnya ada Zika-sunbaenim….
      Kya…. Apalah…. (Rusuh sendiri saya).
      Percaya kok, Zika ga bo’ong, cuma terlalu melebih-lebihkan aja, hehehe…
      Haduh, no spoiler dung…!
      Btw, enak ya jd staf, bisa mbaca FF duluan, pengen….
      Suka Tere-Liye juga? Bang Darwis punya page di FB lho, ada tulisan dia yg di post gratis di situ.

  10. Mian ni q ru comment d part1 en part4 aj.biz klo bca lwat hp.jd suka kesel agax lola..
    Author daebak!q suka gya bhasa ny. Ya~tebakan q bnerr kk menara air it pazti onew.kekeke.. Iah lah cyp lg yg klo lgi senyum mata ny kya bln sabit!hahaha.. Author q sdikit protez. D cast ny shinee..pi taem g ad ??hu u u.. Admin jgn lama” post ff ni yah!

  11. Whaaaaat onew udah gak adaaaa TT,TT ini ceritanya mereka mengungkapkan kebenaran tentang onew ya? –a
    Btw taemin kok belom muncul~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s