Incomplete Marriagea

Incomplete Marriage – Part 2

Author : Yuyu

Main Cast :

  • Kim Jonghyun
  • Lee Hyunji

Support Cast :

  • Onew
  • Lee Taemin
  • Han Younji

Length : Sequel

Genre : Romance

Rating : PG 16

INCOMPLETE MARRIAGE

Hyunji duduk di dalam mobil Porsche Carrera GT Red di kursi belakang dan terus mengarahkan pandangannya ke luar jendela. Seojung yang berada dibalik kemudi sesekali melirik Hyunji melalui kaca spion, untuk memastikan bahwa Hyunji masih berada di sana.

Taemin duduk di sebelah Seojung, terlihat sangat bersemangat untuk bertemu dengan calon kakak iparnya.

“Noona! Berhentilah memasang wajah cemberut ! Semua hasil kerja keras Seojung noona jadi sia-sia kalau kau terus seperti itu!” Taemin menoleh ke belakang dan langsung ditanggapi dengan tatapan maut dari Hyunji. Meski Hyunji sudah menyetujui keinginan Seojung dan bertemu dengan calon-suami-masa-depannya, ia tetap merasa kesal. Belum tentu semuanya berjalan sesuai yang ia harapkan. Bagaimanapun, perjodohan konyol ini harus dihentikan.

Hyunji menggaruk kepalanya yang terasa gatal sampai ke akar rambutnya. Wig yang ia kenakan sangat tidak nyaman di kepalanya. Ya, Seojung yang memaksa ia memakai wig, gaun dan tentu saja high-heels. Mana mungkin Seojung mengambil resiko dengan membiarkan Hyunji mengikuti acara makan malam dengan penampilan ‘normal’-nya?

“Lee Taemin, berhentilah memotretku kalau kau tidak ingin aku menghancurkan hp mu!” ancam Hyunji. Dengan sigap Taemin menyimpan hp nya dan diam-diam mengangumi kecantikan Hyunji yang sudah lama tidak ia lihat. Selama 10 tahun terakhir ini, ia hampir saja lupa kalau Hyunji yang bersama dengannya adalah seorang yeoja.

“yup, kita sudah sampai.” Seojung turun dari mobilnya dengan cepat dan memutar ke belakang untuk membukakan pintu Hyunji. Hyunji berjalan terseok-seok. Ia tidak terbiasa memakai high-heels dan sedikit kesulitan karenanya.

Hyunji dan Taemin menatap restoran mewah yang ada dihadapannya, restoran 8 Steps yang berada di jalan utama Samcheong.

Kepanikan yang memang sudah menjalar sejak awal semakin menjadi-jadi dan membuat Hyunji berkeringat dingin di mana-mana. Mereka bukan orang biasa, kalian pasti juga akan berpikir begitu jika diajak makan malam di restoran super mahal.

Hyunji terus menyakinkan dirinya, tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Setidaknya tidak akan ada orang yang bisa berbuat macam-macam padanya, ia pemegang sabuk hitam taekwondo dan pernah memenangkan pertarungan 10 lawan 1. Lihat? Tidak akan ada yang perlu ia takuti.

“kajja, noona!!” Taemin menarik tangan Hyunji begitu saja dan membawa sedikit berlari untuk masuk ke dalam. Hampir saja Hyunji terjatuh karena sepatunya hak tingginya yang sama sekali tidak mendukung langkahnya, tapi untung saja dengan cepat Hyunji mengembalikan keseimbangan tubuhnya.

Seorang pelayan membungkuk hormat pada ketiga orang tamu yang baru saja datang.

“Tuan Kim dan Nyonya Kim telah menunggu anda.” Sahut pelayan itu kemudian berjalan dan menunjukkan sebuah pintu dan mengisyaratkan mereka untuk masuk ke dalam.

“Tuan Kim, senang bertemu dengan anda lagi.” Seojung yang pertama kali masuk ke dalam ruangan itu. Tuan dan Nyonya Kim berdiri dari tempat duduk mereka dan menyambut kedatangan tamu yang telah lama mereka tunggu-tunggu dengan senyum lebar terpasang di wajah mereka masing-masing, jelas sekali terlihat kalau mereka sangat menyukai Hyunji.

“kau pasti Lee Hyunji kan? Kau bertambah cantik sejak terakhir kali aku melihatmu.” Nyonya Kim langsung menghampiri Hyunji dan menggenggam tangan Hyunji dengan erat.

“kami akan senang sekali kalau kau bisa menghabiskan malammu bersama kami, tapi kau tau, dibalik pintu itu, seseorang sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu.” Tuan Kim menunjuk pintu lain yang ada diruangan itu.

Kedua alisnya saling bertautan. Bagaimana mungkin ada begitu banyak ruangan?

“kalian tidak ikut?” tanya Hyunji pada Taemin dan Seojung.

“ani, kami akan menunggumu di sini noona. Noona hwaiting!” seru Taemin sambil mengepalkan tangannya dan tersenyum pada Hyunji.

Hyunji menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Dua orang pelayang masing-masing membuka pintu tersebut. Sebuah ruangan yang sama besar dan mewahnya dengan ruangan tempat ia berada sekarang muncul dihadapannya.

Seorang namja tengah duduk di depan meja itu, membelakanginya. Hyunji masuk perlahan-lahan. Pintu di belakang Hyunji ditutup dengan sangat pelan, namja itu menoleh, melihat kehadiran Hyunji dan berdiri untuk menghampirinya.

Hyunji terkesiap. Ia mematung ditempatnya berdiri, berharap bahwa apa yang ia lihat bukanlah kenyataan. Di sana, berdiri Kim Jonghyun dengan pakaian formalnya.

***

Jonghyun mendengar suara pintu terbuka, diam-diam menyeringai kecil. Derap langkah semakin mendekat ke arahnya. Setelah pintu tertutup dan Jonghyun berhasil menyingkirkan seringaiannya, menggantikannya menjadi senyum kecil. Jonghyun menoleh ke belakang, lalu berdiri dan menghampiri Hyunji yang tak bergerak ditempatnya sekarang.

Jonghyun bisa melihat sorot matanya yang menyiratkan berbagai pertanyaan, dan tentu saja rasa terkejut. Tapi baginya permainan baru dimulai, masih ada banyak hal-hal lain yang akan lebih mengejutkan Hyunji kelak.

“Lee Agasshi?” Jonghyun memanggil Hyunji dan melambai-lambaikan tangannya dihadapan Hyunji untuk mengembalikan kesadaran yeoja yang berada di hadapannya.

“ah, ne?” ekspresi kosong Hyunji membuat Jonghyun tidak bisa menahan tawanya, benar-benar menggemaskan.

“ah, jweosonghamnida..” dengan sopan Jonghyun menutup mulutnya dan meminta maaf karena tanpa sadar telah menertawakan Hyunji. Sesungguhnya, bukan Hyunji saja yang terkejut. Jonghyun sendiri tidak menyangka Hyunji akan berdandan secantik ini.

“bisakah kita duduk sekarang, Lee Agasshi?” Jonghyun mengarahkan tangannya ke arah meja. Hyunji mengangguk dan berjalan ke tempat duduknya sambil sesekali menatap Jonghyun.

Jonghyun menarikkan kursi Hyunji dan menyilakannya untuk duduk sebelum ia kembali ke tempat duduknya sendiri. Jonghyun meletakkan kedua sikunya diatas meja, menyatukan jari-jarinya dan memangku dagunya diatas tangan sambil masih menatap Hyunji lekat-lekat.

“annyeonghaseyo, Kim Jonghyun imnida.” Sapa Jonghyun. Hyunji mendongak, menatap Jonghyun dengan sorot mata yang Jonghyun kenal.

“Le—Lee Hyunji imnida.” Suara Hyunji sedikit bergetar dan tertangkap oleh pendengaran Jonghyun.

Ia tau Hyunji pasti sedang mengira apa yang terjadi pada dirinya hingga bisa berada ditempat ini bersama seorang Kim Jonghyun. Ada sedikit ketakutan dalam suara Hyunji, takut kalau Jonghyun menyadari bahwa Hyunji yang berada dihadapannya adalah Hyunji yang selama ini ia kenal.

Tapi seperti yang Jonghyun inginkan, permainan baru saja dimulai dan ini barulah pemanasannya saja.

“nama yang indah. Dan aku punya seorang teman dengan nama bahkan marga yang sama sepertimu. Sangat kebetulan.” Jonghyun menggeleng pelan sambil merapikan serbet dipangkuannya. Ia melirik Hyunji dari ekor matanya, ada sedikit kelegaan diwajah yeoja itu. Hyunji menghembuskan nafas pelan, lalu menghirupnya dan mengumpulkan segenap keberaniannya.

“Kim Jonghyun-ssi, tentang pernikahan itu—“ Hyunji ingin segera mengakhiri perjodohan konyol ini sebelum terjadi kesalahpahaman, tapi kata-katanya terpotong saat dua orang pelayang masuk dengan membawa masing-masing makanan ditangan mereka. Makanan tersebut dihidangkan didepan mereka, aroma yang sangat menggiurkan meresap masuk.

“Sebaiknya kita makan dulu, Lee Agasshi. Spicy red tomato dan mushroom pasta ini makanan yang paling enak di sini, cobalah.” Jonghyun tersenyum ramah lalu mulai menyantap makan malamnya dengan anggun diikuti oleh Hyunji yang masih gelisah.

Tidak ada pembicaraan selama makan malam berlangsung. Dessert disajikan dan Hyunji memutuskan ini adalah waktu yang tepat untuk menyampaikan penolakannya tentang perjodohan itu.

“Jonghyun-ssi, bagaimanapun aku tidak bisa menerima pernikahan ini. Segala hal tentang perjodohan ini terasa sangat konyol dan—“ Jonghyun memajukan tangannya dan memberi tanda bagi Hyunji untuk berhenti bicara.

“aku juga berpikir ini sangat konyol. Kita tidak saling kenal dan kita justru harus menikah, sangat aneh bukan? Pernikahan itu, bukankah seharusnya dilakukan dengan orang yang kita cintai?” tanya Jonghyun. Hyunji mengangguk dengan cepat, merasa sangat senang karena Jonghyun juga menolak pernikahan ini. Meski ia tidak pernah tau pandangan seorang Kim Jonghyun—player nomor satu yang ia kenal—tentang pernikahan sama seperti dirinya.

“tapi, Lee Agasshi, aku tidak bisa menolak perjodohan ini.” Jonghyun meletakkan sendok kecilnya diatas piring dan menatap Hyunji.

“ne?” tanya Hyunji. Jelas-jelas Jonghyun juga merasa perjodohan ini sangat konyol, kenapa dia tidak menolaknya?

“tidak bisakah kita berpura-pura menerima perjodohan ini? Berpura-pura bahwa kita tertarik satu sama lain?”

“kau pasti sudah gila, Kim Jonghyun-ssi.” Suara Hyunji terdengar dingin. Hyunji bangkit dari tempat duduknya, berjalan melewati Jonghyun. Jonghyun mencengkram tangan Hyunji dengan erat, memaksa yeoja itu untuk berhenti.

“kumohon, Lee Agasshi. Kebahagiaan abeoji ada ditanganmu.” Pinta Jonghyun dengan suara memelas. Perlahan-lahan Hyunji membalikkan tubuhnya dan menatap Jonghyun.

“apa maksudmu?”

“abeoji, saat ini beliau sakit parah. Kata dokter, umurnya tidak akan panjang. Dan aku ingin membuatnya bahagia di sisa-sisa hidupnya. Tidak bisakah kau membantuku?” Jonghyun berdiri tepat dihadapan Hyunji yang mulai menunduk dan memikirkan kata-kata Jonghyun.

“meski kita berpura-pura menerima perjodohan ini, aku yakin mereka tidak akan memaksa kita untuk segera menikah karena kita masih sekolah. Kita hanya perlu bersikap baik pada satu sama lain, sesekali keluar bersama agar mereka percaya.” Jonghyun melihat Hyunji masih ragu dan berusaha untuk terus membujuknya. Akhirnya Hyunji mendongakkan wajahnya.

“baiklah, aku akan membantumu. Aku akan mencoba untuk berpura-pura menerima perjodohan ini.”

Jonghyun tersenyum pada Hyunji, dan Hyunji membalasnya dengan agak ragu.

“kamsahamnida, Lee Agasshi.” Jonghyun langsung memeluk Hyunji sebagai ekspresi bahagianya setelah berhasil menjebak Hyunji dalam jebakannya. Diam-diam, ia menyeringai pelan, memikirkan apa yang akan dilakukannya pada Hyunji.

“uh-uh, Jo—Jonghyun-ssi…” Hyunji mencoba melepaskan diri pelukan Jonghyun, tapi Jonghyun tidak membiarkannya. Sudah lama sekali ia ingin menyentuh Hyunji seperti ini. Dan jelas hal itu tidak dapat dilakukannya dulu karena ia mengira Hyunji adalah seorang namja.

Satu-satunya pintu yang ada diruangan itu terbuka, terdengar suara-suara dari balik pintu. Jonghyun melepaskan pelukannya begitu ia melihat kedua orangtuanya tersenyum bahagia dan seorang yeoja yang diasumsikannya sebagai keluarga Hyunji.

Hyunji membalikkan badannya dengan cepat, mencari-cari sosok Taemin, tapi ia tidak menemukannya. Hyunji menghembuskan nafas lega. Gawat kalau Jonghyun melihat Taemin, pikir Hyunji.

Kedua keluarga itu beriringan keluar dari pintu restoran. Dua buah mobil mewah terparkir manis di depannya.

“selamat malam, Lee Agasshi. Dan maaf karena aku tidak bisa mengantarmu pulang.” Jonghyun membukakan pintu mobil untuk Hyunji, menyilakan yeoja itu untuk masuk.

“gweanchana, Jonghyun-ssi. Sebaiknya kau segera masuk ke mobil orangtuamu.”

Jonghyun tersenyum kecil lalu menutup pintu Hyunji. Ia tau yeoja itu ingin segera mengusirnya pergi menjauh dari mobil porsche itu karena takut ia melihat Taemin dan rahasianya terbongkar. Padahal, Kim Jonghyun sudah tau semua itu.

***

Hyunji terlambat datang ke sekolah. Begitu sampai, bel masuk sudah berbunyi dan Hyunji harus buru-buru berlari ke kelasnya. Ia menghembuskan nafas lega ternyata songsaenim belum masuk.

Hyunji berjalan ke tempat duduknya dengan gontai. Jonghyun melambaikan tangannya dengan bersemangat, tapi tak dihiraukan Hyunji.

Selama jam pelajaran ia tertidur di kelas, beruntung songsaenim tidak menyadarinya dan memberikan hukuman. Setelah pulang dari acara makan malam itu, butuh waktu lebih dari satu jam bagi Hyunji untuk mengembalikan wajah serta model rambutnya menjadi ‘normal’ setelah dipermak habis-habisan. Ditambah lagi fakta bahwa ia terus memikirkan Kim Jonghyun hingga ia tidak bisa terlelap dengan cepat.

Ya, Kim Jonghyun. Janjinya pada namja itu untuk berpura-pura menerima perjodohan ini terasa tidak menyakinkan sekarang. Ia terus berpikir, apakah yang dilakukannya itu benar? Belum lagi tingkah Jonghyun yang berbeda 180 derajat semalam. Sangat berpendidikan dan elegan, tidak seperti Kim Jonghyun si player dan mulut besar.

Begitu terbangun dari tidur yang lebih dari cukup, kelas sudah kosong. Sudah waktunya istirahat dan seluruh teman sekelasnya sudah berhamburan ke kantin untuk mengisi perut.

Hyunji mengucek matanya dan meregangkan otot-otot lehernya yang kaku karena posisi tidur yang tidak nyaman. Sebuah buku berwarna kuning di mejanya menarik perhatian. Diraihnya buku itu, catatan matematika—pelajaran yang dilewatinya karena asyik tidur. Ia tau siapa pemilik buku itu—dari tulisannya, siapa lagi kalau bukan Onew.

Hyunji tidak merasa lapar, jadi ia memutuskan untuk menyalin catatan yang dipinjamkan Onew saat ini juga. Hyunji terlalu berkonsentrasi pada catatannya hingga tak menyadari, ada seseorang yang sedang mengawasinya—tepat di belakangnya. Ya, Kim Jonghyun sedang asyik memperhatikan gerak-gerik Hyunji. Jonghyun berdiri dengan perlahan, sengaja tidak menggeser kursinya—ia tidak ingin Hyunji menyadari kehadirannya. Jonghyun berdiri di belakang Hyunji, menundukkan kepalanya sedikit agar sejajar dengan pundak Hyunji lalu menghembuskan nafas pelan disekitar leher putih yeoja itu.

“OMO!!!” Hyunji terlonjak dari tempat duduknya dan langsung menoleh ke belakang. Kim Jonghyun tengah asyik terkekeh sambil menutupi mulutnya menggunakan punggung tangan. Hyunji menatapnya dengan kesal.

Ke mana Jonghyun yang sopan dan gentle semalam? Hyunji meniupkan udara kosong dari mulutnya, membuat rambut depan sedikit bergerak. Hyunji mendelik untuk yang terakhir kalinya pada Jonghyun yang masih belum berhenti terkekeh lalu kembali duduk dan melanjutkan kegiatan menyalinnya. Tawa Jonghyun terhenti, yeoja itu tidak meresponnya—lagi. Jonghyun berjalan ke depan Hyunji, berjongkok dihadapannya dan meletakkan telapak tangannya diatas meja sambil terus memandang Hyunji.

“menjauhlah, Kim Jonghyun..” tukas Hyunji datar tanpa menatap Jonghyun.

“mengapa seorang namja sepertimu bisa terlihat cantik?” konyol, Jonghyun tau mengapa. Tapi ia ingin sekali melihat reaksi Hyunji. Ekspresi gugup Hyunji sangatlah dinikmati Jonghyun setiap detiknya. Dan benar saja, Hyunji bereaksi, ia langsung mendongak dan menyipitkan matanya pada Jonghyun.

“kau sangat aneh.” Cerca Hyunji lalu kembali melanjutkan kegiatannya. Jonghyun tidak kehabisan akal untuk menarik perhatian Hyunji. Dengan cepat Jonghyun melirik hp Samsung S5260 Star II milik Hyunji yang tergeletak begitu saja diatas meja di samping buku catatannya.

“yaaaaa! Kenapa kau mengambil hp ku?” Hyunji kembali terlonjak kaget saat Jonghyun mengambil hp miliknya. Jonghyun segera berdiri dan berjalan ke depan kelas untuk menghindari Hyunji.

Jonghyun meng-unlock hp tersebut dan dengan lincah jemarinya menyentuh tombol ‘phonebook’, menggesernya dengan perlahan sambil melihat kontak Hyunji satu per satu.

“yaaaa! Kembalikan hp ku!” seperti yang Jonghyun duga, Hyunji tidak tinggal diam dan mengejarnya. Jonghyun mencoba menghindar, tanpa benar-benar memperhatikan di mana Hyunji berdiri. Matanya sibuk mencari-cari satu kontak, dirinya.

“yaaaaa! Kenapa kau menulis namaku ‘weirdo’?” protes Jonghyun setelah menemukan kontak namanya. Hyunji masih mencoba untuk meraih hpnya, tapi Jonghyun mengangkat tangannya dengan tinggi, menjauhkan hp dari jangkauan Hyunji.

“kembalikan hpku, Kim Jonghyun!” teriak Hyunji.

“apa kau tau? Kau terlihat sexy ketika menyebut namaku dengan lengkap seperti itu.” Goda Jonghyung.

Hyunji berhenti meloncat-loncat untuk menjangkau hp nya dan menatap Jonghyun dengan ngeri. Apa yang baru saja ia katakan?

“kau tidak salah dengar.” Jonghyun terkekeh, seolah bisa membaca pikiran Hyunji. Jonghyun melingkarkan kedua tangannya pada Hyunji sebelum yeoja itu bisa bereaksi.

“aku bilang, kau terlihat sexy.” Ulang Jonghyun dengan suara rendah dan menatap Hyunji. Hening selama beberapa saat ketika mata mereka saling beradu pandang hingga terdengar suara terkesiap dari depan pintu kelas. Seluruh siswa telah menyelesaikan makan siang mereka dan kembali ke kelas—melihat pemandangan yang sedikit tidak wajar.

Hyunji mengerahkan seluruh tenaganya untuk menyingkirkan tangan Jonghyun dan kembali ke tempat duduknya untuk menyalin—tidak lupa mengambil hp nya terlebih dahulu dan memberikan tatapan maut pada Jonghyun.

“kurasa kau ada sedikit masalah. Mau menceritakannya padaku?” Onew muncul di samping Jonghyun dan menepuk pundaknya.

“tentu, nanti malam datanglah ke rumahku.” Jonghyun merangkul pundak namja yang lebih tinggi 4cm darinya dan membimbingnya ke tempat duduk mereka.

***

“Hyunnie-ya, kau yakin kau baik-baik saja?” tanya Younji pada Hyunji yang terlihat sedang melamun sejak tadi. Untung saja saat ini café sedang sepi.

“hmm..” Hyunji menggumam pelan dan menganggukkan kepalanya dengan asal. Tiba-tiba saja, Hyunji memalingkan wajahnya menatap teman kerjanya yang sedang asyik mengeringkan gelas.

“apa pendapatmu jika seorang pria mengatakan pria lain terlihat sexy?” tanya Hyunji penasaran. Yah, tidak bisa dipungkiri, ia terus terusik dengan kata-kata Jonghyun sejak tadi.

“aneh. Mungkin dia gay?” jawab Younji tidak terlalu yakin.

“itu juga yang kupikirkan. Apa mungkin dia gay? Tapi dia selalu ikut acara kumpul-kumpul dan dia selalu saja bersama dengan wanita yang berbeda tiap harinya, saling bermesraan.”
”ataukah mungkin dia tau kalau kau adalah yeo—hmpfffh!“ sebelum Younji sempat menyelesaikan kalimatnya, Hyunji menghampirinya dan membekap mulutnya.

“yaaaa! Jangan sebut kata-kata itu! Aku tidak ingin seorang pun tau, kau tau itu kan?” omel Hyunji. Younji mengangguk dengan cepat dan Hyunji melepaskan bekapannya.

“geundae, Hyunnie-ya. Aku tidak yakin keputusanmu untuk membantu namja itu benar. Dari apa yang kau ceritakan padaku, jelas namja itu bukan pria baik-baik yang bertanggungjawab. Bermain dengannya agak berbahaya.” Younji kembali mengeringkan gelas terakhir dan menyusunnya dalam lemari.

“ne, aku juga merasa cemas.”

Hp Hyunji bergetar, dengan malas Hyunji mengeluarkannya dari saku dan membaca satu pesan masuk.

FROM : LEE TAEMIN
Noona! Jonghyun hyung mengajakmu keluar!

Ottokhae? Ottokhae?

Younji melirik sekilas, membaca pesan masuk yang baru saja dikirimkan oleh Taemin.

“namja itu tau nomor Taemin?” tanya Younji tidak percaya. Hyunji mengangguk dengan malas dan memberitaukan bahwa ia terpaksa harus memberikan nomor Taemin, berpura-pura itu adalah nomornya karena ia tidak mungkin memberikan nomor yang sebenarnya, karena Jonghyun tau nomor Hyunji.

“pulanglah, dan berkencanlah dengan pangeran impianmu itu.” Ejek Younji.

“aaaaah~ rasanya sangat malas. Tapi mau bagaimana lagi, aku sudah berjanji padanya.” Hyunji menggerutu pelan sambil mengganti seragam kerjanya.

“hari ini aku tidak akan lembur.” Younji mengekor dibelakang Hyunji dan ikut mengganti seragamannya. Setelah sedikit kesulitan memakai kaosnya, Hyunji memalingkan wajahnya menatap Younji dengan tidak percaya. Yeoja itu selalu lembur setiap harinya. Apa yang membuat yeoja itu tidak lembur seperti hari biasanya?
”jinjja?”
”ne, aku juga ada kencan hari ini.” Wajah Younji tersipu malu. Hyunji merasa senang, meski ia tidak tau siapa namja yang berhasil mengajak sahabatnya untuk berkencan, tapi setidaknya ia bisa melihat sahabatnya sedikit berbahagia.

***

Jonghyun menunggu kedatangan Hyunji dengan tenang di dalam mobil McLaren F1 kesayangannya. Sudah hampir 20 menit ia menunggu, tapi Hyunji belum muncul juga. Sesekali Jonghyun mendelik jam tangannya, tidak sabar menunggu yeoja itu lebih lama lagi. Baru saja ia akan kembali menggerutu ketika dilihatnya seorang yeoja turun dari bus.

Yah, ia tidak bisa menyalahkan Hyunji karena datang terlambat setelah melihat penampilan Hyunji. Yeoja itu jelas terlihat sangat menarik. Kedua bibir Jonghyun terangkat membentuk senyuman tanpa disadarinya saat Hyunji mencari-cari keberadaan Jonghyun.

Jonghyun turun dari mobilnya dan melambai pada Hyunji.

Hyunji mendekati Jonghyun dengan sebuah senyum—jelas itu senyum yang sangat dipaksakan bagi Jonghyun. Jonghyun berjalan ke kursi penumpang dan membukakan pintu untuk membiarkan Hyunji masuk lalu ia sedikit berlari dan kembali ke kursi pengemudinya.

“kau mau ke suatu tempat?” Jonghyun menatap Hyunji.

“ani, kau yang mengajakku keluar.” Jawab Hyunji sedikit cuek.

“hmm, bagaimana kalau kau ke rumahku?” Jonghyun mulai menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan kecepatan standar.

“ne??” tanya Hyunji terkesiap.

“ne, ke rumaku. Kurasa  orangtuaku akan senang kalau mereka melihat kau datang.”

“oh, kau tinggal dengan orangtuamu?”
”tentu. Kau pikir aku tinggal sendirian dan ingin berbuat macam-macam padamu?” Jonghyun terkekeh pelan meski matanya masih terfokuskan ke jalanan di depannya.

“a-aniya!” dengan cepat Hyunji menyangkal pernyataan Jonghyun, meski sebenarnya memang Hyunji sempat memikirkan hal itu. Tapi dia tidak terlalu khawatir, toh Jonghyun pasti akan babak belur sebelum ia bisa menyentuh dirinya.

“kita seumuran kan? Kau sekolah di mana? Sesekali aku bisa menjemputmu.” Jonghyun menghentikan mobilnya setelah lampu merah muncul dihadapannya. Jonghyun memalingkan wajahnya untuk menatap wajah lain yang mampu membuat ia berhenti bernapas.

“ah, tidak perlu. Kau tidak perlu menjemputku. Sekolahku sangat jauh dari sekolahmu. Aku sudah biasa pulang sendiri.” Jawab Hyunji dengan cepat. Bisa gawat kalau Jonghyun tau dirinya yang sebenarnya.

“mwo? Sekolahku jauh dari sekolahmu? Memangnya kau tau aku bersekolah di mana?” Jonghyun berusaha keras menahan tawanya setelah melihat reaksi Hyunji yang semakin panik. Lampu merah sudah berganti menjadi hijau, Jonghyun kembali menatap lurus ke depan agar tawanya tidak pecah karena Hyunji masih memasang ekspresi yang sangat lucu baginya.

Sisa perjalanan sangat hening, Jonghyun tidak ingin mengerjai Hyunji lagi kalau tidak permainannya juga akan terungkap. Sementara Hyunji merasa lega karena Jonghyun tidak menuntut jawaban atas pertanyaannya tadi.

“eomma dan appa sudah menunggu di dalam. Jangan tegang, santai saja.” Jonghyun berdiri di samping Hyunji, masih memegangi pintu yang dibukanya.

Hyunji menarik nafas beberapa kali sebelum memberanikan diri untuk turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah Jonghyun yang cukup mewah.

“apa yang kau lakukan?” Hyunji terkesiap ketika Jonghyun menautkan jemari mereka.

“supaya orangtuaku tidak curiga.” Jawab Jonghyun singkat. Ini merupakan kali pertama Hyunji menggenggam tangan namja—selain Taemin.

Detak jantung Hyunji tidak karuan, berharap bahwa namja yang berada di sampingnya tidak menyadari perubahan detak jantungnya semakin cepat.

“selamat datang Hyunji, senang sekali bisa bertemu denganmu lagi.” Nyonya Kim langsung menyambut kedatangan mereka dengan tangan terbuka dan memeluk Hyunji.

“ne …” Hyunji melirik Jonghyun, meminta bantuan bagaimana ia harus memanggil Nyonya Kim.

“panggil eommonim.” Pinta Nyonya Kim.

“ne, eommonim.”

Nyonya Kim mengantarkan Hyunji untuk melihat-lihat rumah mereka dengan bersemangat, tidak sekalipun melepaskan rangkulannya dari pundak Hyunji yang sesekali menoleh ke belakang dan menatap Jonghyun seolha sedang meminta pertolongan.

“ini kamar Jonghyun, kelak kalau kalian menikah eommonim akan merenovasi kamar ini sesukamu.” Nyonya Kim menarik Hyunji masuk ke kamar Jonghyun yang tertata cukup rapi—kecuali beberapa buku yang berserakan ditempat tidur.

“Nyonya, ada telpon untuk anda.” Seorang pelayan wanita memanggil Nyonya Kim dengan sopan.

“araseo. Hyunji-ya, tunggulah di sini, ara?” Nyonya Kim sedikit berlari untuk menyambut telponnya dan meninggalkan Jonghyun dan Hyunji berdua.

Jonghyun bersandar di daun pintu tanpa sekalipun tatapannya terlepas dari Hyunji yang masih melihat-lihat kamar Jonghyun.

Hyunji berjalan ke arah meja belajar, sebuah buku tergelatak diatasnya.

“kau sudah mengerjakan pe-er untuk minggu depan?” tanya Hyunji seolah tidak percaya setelah melihat tulisan-tulisan pada buku itu.

Jonghyun tersenyum di balik punggung Hyunji. Betapa cerobohnya yeoja ini, pikir Jonghyun. Entah sudah berapa kali Hyunji terus-terusan tanpa sadar mengungkapkan jati dirinya sendiri.

Dan rasanya sudah tidak menarik lagi jika permainan ini hanya diketahui oleh dirinya, apakah dengan mengajak Hyunji berperan aktif, permainan ini akan jadi lebih menyenangkan?

Sementara Jonghyun sibuk dengan pikirannya sendiri, Hyunji memiringkan kepalanya, balas menatap Jonghyun menunggu jawaban atas pertanyaannya.

Pelayan wanita yang tadi memanggil Nyonya Kim kembali muncul diambang pintu dan berkata sesuatu dengan sangat pelan, hingga Hyunji tidak bisa menangkap kata-katanya dengan jelas.

Jonghyun mengangguk pelan setelah pelayan itu selesai menyampaikan kata-katanya dan Jonghyun mengisyaratkan pelayan tersebut untuk kembali melakukan kegiatannya.

“ada apa?” tanya Hyunji penasaran. Jonghyun melangkah lurus ke tempat Hyunji berdiri sekarang.

“eomma ku sedang pergi sekarang, menyiapkan persiapan pertunangan kita.” Jonghyun terdiam, menantikan reaksi Hyunji.

“oh—NE??” tanya Hyunji setelah mengerti dengan benar apa yang baru saja Jonghyun katakan.

“hmm, pesta pertunangan kita, bukankah kau sudah setuju untuk membantuku?” Jonghyun menarik kursi dan duduk diatasnya dan sedikit mendongak untuk menatap Hyunji yang masih berdiri.

“ta-tapi! Aku hanya setuju untuk membantumu, bukannya bertunangan denganmu!” teriak Hyunji.

“aku berjanji bahwa mereka tidak akan memaksa kita untuk menikahkan? Seharusnya kau tau kalau mereka menginginkan kita bertunangan setelah kita menerima perjodohan itu.” Elak Jonghyun.

“berpura-pura untuk menerima perjodohan—catat itu. Biar bagaimanapun, pertunangan adalah hal yang besar. Tidak bisakah kita berpacaran saja?” tanya Hyunji putus asa.

“berpacaran? Konyol, mana mungkin orangtuaku membiarkan kita pacaran? Dalam kamus mereka, berpacaran berarti berteman, bertunangan berarti berpacaran. Tenang saja, kau percaya padaku kan, Lee Agashi?” tatapan Jonghyun melembut, memaksa Hyunji untuk luluh dalam tatapannya. Tapi Hyunji tidak punya banyak waktu untuk luluh karena otaknya berputar dengan cepat mencoba mencari jalan kelua dari keadaan yang dirasanya semakin rumit saja. Mungkinkah hal ini akan menyeretnya ke masalah yang lebih banyak lagi?
”haaa! Araseo!” jawab Hyunji pasrah.

“gomawo!!” Jonghyun bangkit dari duduknya dan memeluk Hyunji—sekali lagi karena Hyunji dengan polosnya masuk ke dalam perangkapnya.
”ugh! Jangan peluk-peluk aku, Kim Jonghyun!” omel Hyunji sambil mendorong tubuh Jonghyun untuk menjauh darinya.

***

“kau gila, Jonghyun.” Tutur Onew tanpa ekspresi.
”tapi ini menyenangkan!” balas Jonghyun dengan antusias tanpa sedikitpun menyadari tatapan gelisah Onew. Onew beranjak dari tempatnya berdiri dan menghampiri Jonghyun yang duduk diatas tempat tidur dengan kedua kaki dilipat.

Onew merebut majalah yang dibaca Jonghyun dengan kasar dan menghempaskannya ke lantai.

“yaaah! Aku sedang membacanya!” protes Jonghyun kesal.

“tidakkah kau pikirkan perasaan Hyunji? Bagaimana kalau dia tau kau mempermainkannya?” Onew berkacak pinggang, memberikan sedikit tekanan—itupun kalau namja yang berada dihadapannya bisa merasakan tekanan—agar Jonghyun berhenti bersikap kekanak-kanakkan.

“aku tau dia pasti akan mengomel, tapi kau juga tau kalau dia tidak akan bisa marah padaku.” Elak Jonghyun.

“yah, dan kita tau setiap kali dia mengomel, juga akan disertai beberapa pukulan. Kau mau babak belur?” sergah Onew dingin.
”Onew-ya, kau benar-benar sahabatku! Geogjonghajima, aku bisa melindungi diriku sendiri.” Jonghyun merangkul Onew dan menepuk-nepuk pundaknya. Onew mendesah pelan, lalu menghempaskan tangan Jonghyun yang melingkar dipundaknya dan mendarat di sisi tubuhnya sendiri.

“yah, percuma saja mengkhawatirkan seorang idiot.” Onew melambaikan tangannya ke udara, dengan cuek berjalan keluar dari kamar Jonghyun.

“MWOO!!? Yaaaaa! Mau ke mana kau? Tidak menginap di sini malam ini!?” teriak Jonghyun begitu melihat Onew mencapai pintu. Onew memutar badannya sedikit untuk menatap Jonghyun.

“ani, ada sedikit masalah di rumah.”

***

“noona! Coba lihat ini!”

Hyunji baru saja kembali dari supermarket setelah berbelanja bahan kebutuhan untuk seminggu ke depan ketika ia mendengar suara histeris Taemin dari ruang nonton.

“huh?” tanya Hyunji bingung. Diletakkannya beberapa kantong belanjaan diatas sofa sementara matanya terus menelusuri sebuah gaun yang dipegang Taemin dihadapannya.

“ini gaun pertunanganmu! Wah! Neomu yeoppo!” Taemin mendekatkan gaun itu pada Hyunji, meletakkannya tepat di depan Hyunji seolah-olah Hyunji sedang memakainya.

Hyunji hanya bisa menghela nafas pasrah, membayangkan apa yang mungkin saja terjadi berikutnya.

Hyunji kesulitan tidur malam itu. Rasanya banyak sekali yang menganggu dipikirannya meski akhirnya ia terlelap juga.

“OMO~! Aku terlambat!” gerutu Hyunji sambil mencoba meraih segala sesuatu yang diperlukannya dalam satu detik.

Ia berlari keluar dari kamarnya, melihat sebuah kertas kecil diatas meja.

Noona, kau susah sekali dibangunkan. Jadi aku ke sekolah duluan, mian noona.

-Lee Taemin.

Hyunji kembali mengerang kesal. Ia terlambat bangun sementara dongsaengnya sudah sampai di sekolah dengan tenang. Bus yang biasa dinaikinya sudah berangkat, satu menit yang lalu. Ia hanya terlambat satu menit untuk naik bus itu, hingga ia harus berlari secepat mungkin agar tidak telat ke sekolah.

Tiin! Tiin! Tiin!

Hyunji menoleh ke samping tanpa sedikitpun memelankan larinya.

“naiklah, kuantar kau ke sekolah.” Jonghyun tersenyum—menyeringai—kecil begitu melihat Hyunji basah oleh keringat. Hyunji ragu sesaat, tapi ia tidak ingin berlari sepanjang jalan ke sekolah karena ia tau ia tetap saja akan telat. Jadi mengapa ia tidak menerima tawaran Jonghyun saja, dan dia tidak akan telat?

“araseo.” Hyunji naik ke atas motor besar milik Jonghyun yang diam-diam kembali tersenyum.

Jonghyun mengemudikan motornya dengan kecepatan standar—biasanya ia selalu melaju dengan kecepatan diatas rata-rata—karena tidak ingin membahayakan Hyunji.

Mereka berdua berhasil masuk ke dalam sekolah sebelum pintu gerbang ditutup. Hyunji turun dari motor dan menghela nafas lega. Ia tidak ingin merusak rekor siswa teladannya dengan sedikit saja catatan buruk.

“gomawo, Jonghyun-ah.” Ucap Hyunji tulus. Yah, karena kali ini namja menyebalkan itu benar-benar telah menolongnya.

“tentu. Tapi bisakah aku mendapatkan imbalanku?” Jonghyun menyeringai pelan, menatap Hyunji dari kepala sampai sepatunya.

“huh? Apa kau selalu meminta imbalan setiap kali menolong orang?” tanya Hyunji sedikit mencemooh.

“ani, biasanya aku tidak seperti ini. Tapi kali ini karena kau penuh keringat dan terlihat sangat menggoda, aku jadi menginginkan sesuatu.” Jonghyun kembali menyeringai dan melangkah maju mendekati Hyunji. Hyunji menggerak-gerakkan bola matanya, mencoba mencari tau apa maksud kata-kata Jonghhyun, tapi yang bisa ia suarakan hanyalah,”huh?”

Jonghyun merangkul pinggang ramping Hyunji, menarik tubuh Hyunji mendekat padanya sementara tangannya yang lain memegangi dagu Hyunji dan langsung melumat bibir Hyunji.

Hyunji terbelalak kaget, bibir lembab Jonghyun bermain-main diatasnya, melumatnya sedikit demi sedikit dan semakin lama semakin ganas.

Hyunji meronta, menggunakan kedua tangannya untuk mendorong tubuh Jonghyun menjauh, tapi rasanya sia-sia. Tenaganya tidak mampu menandingi tenaga Jonghyun—seorang namja. Belum lagi lidah Jonghyun menyapu bibir bawahnya dengan lembut, membuat sel-sel tubuh Hyunji lemas. Jonghyun meremas pinggang Hyunji, mencoba untuk menahan dirinya sendiri dari melakukan hal-hal yang lebih jauh.

Perlahan-lahan Jonghyun melambatkan gerakannya, lalu menghentikan kegiatannya selama ia masih bisa berpikiran waras. Nafas mereka berdua tersengal-sengal, dengan agak kesulitan Jonghyun menghirup semua oksigen yang ada disekitarnya sementara Hyunji memulihkan diri dari rasa pusing yang diakibatkan Jonghyun beberapa saat yang lalu.

“gomawo atas imbalannya.” Jonghyun menjilati bibirnya sendiri, merasakan sisa-sisa sentuhan bibir Hyunji pada dirinya. Jonghyun terkekeh pelan begitu melihat wajah Hyunji merona merah dengan kedua matanya yang terbelalak lebar. Rasanya menyenangkan setelah akhirnya ia benar-benar bisa merasakan bibir Hyunji. Hampir gila rasanya saat ia membayangkannya hampir setiap malam, apalagi ketika dipikirnya Hyunji adalah seorang namja.

“KIM JONGHYUN!!!” teriak Hyunji yang hanya ditanggapi dengan sebuah kedipan mata dari Jonghyun.

To Be Continue . . .

©2011 SF3SI, Yuyu.

This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


132 thoughts on “Incomplete Marriage – Part 2

  1. Aku gak bisa berkata apa-apa, keren banget Unnie~! Apalagi bagian akhirnya itu lohh, aku ampe deg-deg-an bacanya, si Jjong emang bakat player deh, haha. Tapi kayaknya Hyunji udah suka yak ama si Jjong? Aigoo makin seru! Nice FF~!

  2. ya ampun jjong
    oh iya unn seneng banget deh aku
    aku readers dari ffindo
    unnie dulu pernah ngepost ff ini tapi belom sampe selesai kan??
    temen-temenku banyak yang nyariin lho
    ternyata unnie aothor disini toh

  3. Hehee,keren thor ,aku reader bru d sni , jd bru tw ff ini saat aku mw bca yg mba..
    Hehee
    Ff ni bgus crta na , pngen cpt” bca ampe abs .. Heheee

  4. Adegan terakhir bikin histeris!!! xD
    Jonghyun gilaaa~~ itu namja woi. Namja! Maksdunya Hyunji kan dalam mode namja pas di sekolah, kenapa malah kau cium orangnya?? Kalo ada yang liat gimana??? >< …

    #terbangkepartselanjutnya

  5. Oalaahh.. disini jjong jade player yah..
    Keren2 author Hebat deh… dari judulnya aja udah tau ni ff pasti keyen.. 2 thumbs for author ^ω^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s