Family Game – Part 6

Title                 : Family Game (Part 6)

Author             : Park Ha Ki a.k.a Nysa

Main Cast        : Lee Jimi (imagine you), Choi Minho, Lee Jinki

Support Cast   : Kim Yongsoo (father), Park Eunjoon (mother), Song Eunmi (grand mother)

Length             : Sequel

Genre              : Humor, Family

Rating             : General

Summary         : 6 orang asing akan tinggal satu atap sebagai sebuah keluarga.

A.N                 : waah gak nyangka uda part 6. Sepertinya cerita ini bakal panjang. Padahal kupikir bisa selesai dalam 5 part. Tapi kayaknya gak mungkin deh. Jgn bosen ya para reader. Tetep baca and comment. 1 komentar anda berarti sumbangan oksigen untuk sf3si dan author. hehe

FAMILY GAME

(Part 6)

Author POV

“MINHOOOOOOO!!!!” Jimi berteriak histeris ketika melihat Minho menutup matanya.

 “ minho… hiks..hiks… MINHOOO!!!!”

            “berisik!! Jangan teriak-teriak ditelingaku!!!” jawab Minho dengan susah payah. Tampak Minho berusaha menggerakkan tubuhnya untuk bangkit, dan Jimi membantu Minho agar bisa duduk kembali. Kini mereka duduk berhadapan, sehingga tampak jelas oleh Jimi wajah Minho yang pucat serta keningnya yang terus dialiri keringat dingin. Begitu pula Minho dapat melihat jelas wajah Jimi yang telah berlinangkan air mata serta guratan kekhawatiran untuknya.

            “Minho, mi..mianhe..” ucap Jimi kemudian. Minho hanya dapat terperangah dengan apa yang diucapkan Jimi barusan. “ mianhe karena aku tidak lebih cepat sadar kalau kerah bajumu juga robek” tutur Jimi seraya memperhatikan kerah baju Minho yang robek.

            “ Babo!! Soal itu sih tidak usah kau pedulikan!” jawab Minho, tapi kali ini ia menjawab dengan lembut seolah telah kehilangan nafsu amarah. “Tess…” sebulir cairan bening menetes dari pelupuk mata seorang Minho. Entah mengapa kali ini ia benar-benar merasa tersentuh dengan ucapan yeoja dihadapannya. Yeoja sebatang kara yang sangat terobsesi untuk dipanggil noona.

            “Minho, kau adalah orang yang berharga, maafkan aku karena selama ini terlalu egois. Aku tidak pernah memperdulikan bagaimana perasaanmu. Mianhe Minho, jeongmal mianhe. Aku tidak pantas menjadi noona mu” tutur Jimi seraya menitikkan air matanya. melihat Jimi menangis untuk yang kesekian kalinya membuat Minho benar-benar tidak bisa menahan rasa yang hampir membludak dari hatinya. Akhirnya air mata yang awalnya hanya berupa tetesan, kini telah mengalir dengan derasnya dari mata bulat pria tersebut.

            “Minho, beri tahu aku tentang dirimu. Pelan-pelan juga tidak apa-apa”’ ucap Jimi dengan seulas senyum yang mengembang dari bibirnya. Tangan kanannya bergerak hendak menghapus air mata Minho. Ia tahu, Minho tidak suka disentuh. Tapi kali ini ia tetap nekat. Karena ia yakin, bahkan Minho sendiripun tidak akan mampu menghapus air matanya sendiri. Dan benar saja, Minho tidak bereaksi apa-apa ketika Jimi menghapus air matanya.

 “ kau tidak melarangku untuk menyentuhmu??” Tanya Jimi sedikit ragu.

            “tidak. Meskipun aku larang, kau pasti akan melakukannya terus. Aku jadi seperti orang gila yang selalu berteriak ketika kau menyentuhku” jawab Minho tulus.

            “jinca??” Jimi tidak percaya dengan ucapan namja dihadapannya itu.

            “ne, makanya kalau kita sudah keluar dari sini. Tolong jahitkan lengan serta kerah bajuku yang robek ya!” pinta Minho, lalu perlahan wajahnya mendekat kearah Jimi. dan “BUKK’ ia tergeletak tak sadarkan diri.

            “minho?? Minho!!” Jimi mengguncang-guncangkan tubuh Minho berkali-kali. Tapi kali ini tidak ada reaksi apapun. Sepertinya Minho benar-benar tidak sadarkan diri.

            “MINHOOOOO!!!!!”

            “BRAKKKK!!!” terdengar suara pintu yang didobrak dengan keras.

            “JIMI!!!!” teriak seorang namja yang mendobrak pintu tersebut.

            “Jinki oppa!!!” tiba-tiba air wajah Jimi berubah ceria melihat siapa yang datang. Sementara Jinki terlihat bingung dengan pemandangan yang ada dihadapannya. Ya, karena posisi Jimi sedang duduk dan kepala Minho berada dipangkuan Jimi. berbagai fikiran berkecamuk dikepala Jinki. Ia mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi.

            “oppa, bantu aku membawa Minho keluar dari sini” perkataan Jimi membuyarkan lamunan Jinki.

^^

Author POV

            “sepertinya ruangan ini sudah cukup. Karena dari semua ruangan dirumah, hanya ruang keluarga ini yang tampak lebih besar dibandingkan ruangan lainnya” ucap Jinki seraya mengedarkan pandangannya kesekeliling ruang keluarga. Ia dan Jimi membawa Minho keruang keluarga dan membaringkan Minho disofa yang ada diruangan itu.

            “gomawo-yo Oppa! Kalau saja oppa tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku juga Minho. Ditambah lagi kondisi Minho yang seperti itu” Jimi berucap sendu seraya menatap Minho yang sedang terbaring tak sadarkan diri diatas sofa.

“oia, memangnya oppa tahu dari mana kalau kami terkunci diruangan rahasia itu?” Tanya Jimi penasaran.

            “tadi aku menelpon keponsel mu untuk memastikan kalau kau baik-baik saja tinggal dirumah bersama namja itu. Tapi ponselmu tidak aktif, aku jadi khawatir. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang dan melihat keadaan kalian. Tapi ketika sampai rumah, aku tidak menemukan siapa-siapa. Lalu aku melihat permen yang berserakan didepan kaca yang ternyata adalah pintu ruangan rahasia itu” jelas Jinki panjang lebar.

            “oooh… lalu, bagaimana dengan pekerjaan oppa?”

            “tidak masalah. Aku sudah meminta temanku untuk menggantikanku”

            “eh, oppa. Kenapa rambut dan baju oppa basah semua?” Tanya Jimi sambil memperhatikan rambut dan baju Jinki yang basah.

            “oh, tadi karena terburu-buru aku lupa membawa payung. Jadinya kena hujan deh!” jawab Jinki seraya tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih. Dan matanya membentuk garis seperti bulan sabit.

            “kalau begitu biar aku ambilkan handuk” Jimi beranjak hendak menuju lemari penyimpanan handuk. Tapi tiba-tiba Jinki meraih tangannya. Tentu saja langkah Jimi terhenti. Tapi ia tidak berani membalikkan badannya untuk menatap Jinki.

            “Jimi! sebenarnya yang membuat aku khawatir itu adalah kau!” ujar Jinki tiba-tiba.

            “DEG!” hati Jimi mengeluarkan sebuah isyarat yang Jimi sendiri tidak tahu maknanya. Ia bingung dengan sikap Jinki yang tiba-tiba seperti ini.

            “Jimi!” panggil Jinki. Namun yeoja dihadapannya tak bergeming sedikitpun. Ia masih saja hanyut dalam pikirannya sendiri. Lalu Jinki menarik yeoja itu agar berbalik keahadapannya. “tep” pandangan mata mereka bertemu.

            “jimi, sebenarnya ak_”

            “uuuhhh…” suara erangan Minho menghentikan perkataan Jinki. Pandangan mereka pun beralih melihat kearah Minho.

            “akan aku ambilkan handuk. Aku segera kembali!” ujar Jimi seraya bergegas pergi meninggalkan Jinki.

            jimi berjalan sambil memegang dadanya. Ia merasakan detak jantungnya berjalan lebih cepat. Ia merasa sangat terkejut dengan sikap Jinki yang tiba-tiba seperti itu. Ia berfikir apakah mungkin Jinki mempunyai perasaan yang berbeda dengannya atau bahkan punya maksud yang lain kepadanya. Lalu ia mengelengkan kepalanya menepis semua fikiran buruk yang berkecamuk diotakknya. Bergegas ia mengambil handuk untuk diberikan kepada Jinki.

            Sementara itu, diruang tengah tampak Jinki sedang menuangkan air mineral kedalam gelas lalu meminumnya. “hhh..” suara Minho menghentikan aktifitasnya meminum air mineral. Ia menoleh kearah Minho yang sedang berusaha bangun dari posisi baringnya.

            ‘kau sudah sadar?” Jinki berjalan kearah Minho. “ kata Jimi kau fobia terhadap ruangan sempit ya? Kurasa ruangan ini cukup besar untuk membuatmu lebih baik” ujar Jinki dengan polos. Tanpa ia tahu Minho merasa sebal dengan ucapannya.

            “Game itu sangat praktis ya!” tutur Jinki kemudian.

            “eh? Maksudmu apa?” Tanya Minho tak mengerti.

            “ya, game sangat praktis. Hanya karena Keluarga orang lain mau berbuat baik kepada kita. Terutama yeoja seperti Jimi yang sangat mendambakan keluarga. Dan aku ingatkan kepadamu kalau Ia berlaku baik padamu hanya karena kau keluarganya. Jadi, jangan salah faham ya namdongsaeng!” jelas Jinki panjang lebar.

            “aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan!” Minho memalingkan wajahnya dari Jinki.

            “MINHOOOOO!!!! LIHAT SIAPA YANG DATANG~~~” teriak Jimi gembira seraya menyembulkan kepalanya dari balik dinding.

            “apa kalian baik-baik saja?” Tanya umma yang muncul dari belakang Jimi.

            “kudengar Minho sedang sakit! Bagaimana keadaannya?” Timpal Halmioni yang berjalan dibelakang umma.

            “BRAKK!!!” terdengar suara pintu dibuka dengan keras. “ mian appa terlambat!! Apa kalian baik-baik saja???” appa yang baru datang berjalan tergesa-gesa memasuki rumah.

            “hah, kenapa semuanya pulang dan tahu tentang kejadian ini?” ujar Minho pelan namun dapat didengar oleh Jinki. “pasti Jimi yang memberitahu. Bocah ituu~~” Minho tampak sebal dengan kekhawatiran keluarganya yang berlebihan.

            “sudahlah, yang sabar ya” ujar Jinki seraya menepuk pundak Minho.

^^

Author POV

            Sore itu semua anggota keluarga Kim sedang ada dirumah. Appa sedang menonton siaran sepak bola diruang tengah, disamping appa ada Halmioni yang sedang merajut sebuah syal, Jinki sedang berkutat dengan tugas kuliahnya, Jimi sedang mendengarkan lagu melalui ipodnya dan Minho masih dikamarnya. Sedangkan umma, melakukan hal yang tidak biasa ia lakukan. Yaitu memasak didapur.

            “selesaii~~ ayo semuanya dicicipi~~”teriak umma bangga denga hasil masakannya. Lalu ia memanggil Jinki, Jimi, Halmioni dan appa agar mencicipi maskannya. Jinki tampak tidak tertarik dengan masakan umma nya berpura-pura tidak mendengar dan terus saja mengerjakan tugas kuliahnya. Sementara Jimi, Halmioni dan Appa berdiri mematung menatap masakan umma keluarga Kim. Mereka tampak khawatir dengan hasil karya sang umma. Karena ini pertama kalinya umma memasak.

            “kenapa? Apa kalian mau bilang kalau masakanku tidak menarik? Tidak enak?” Tanya umma dengan ketus.

            “aniyo umma, hanya saja kenapa warnanya hitam begitu?” Tanya Jimi takut-takut.

            “jangan pedulikan penampilannya. Yang penting kan rasanya. Ayo dicoba!!” umma menyodorkan sepiring bulgogi kehadapan mereka. Namun, tak satupun dari mereka yang menunjukkan tanda-tanda ingin mencicipi.

            Tiba-tiba Minho yang baru datang mengambil alih piring bulgogi dari tangan umma. Tanpa perasaan ragu sedikitpun ia mencomot bulgogi dengan tangannya dan memakannya. Semuanya tampak terkejut dengan sikap Miho barusan. Mereka menunggu pendapat Minho tentang rasa masakan sang umma.

            “ini makanan??” Minho berujar dengan wajah polos. Dan tentu saja pertanyaannya membuat semua yang disitu menahan nafas. Mereka bersiap untuk melihat sifat jantan(?) sang umma keluar. Tapi tampaknya sang umma tak menunjukkan reaksi apa-apa.

            “sejujurnya, rasa masakan ini sudah jauh dari defenisi tidak enak” ujar Minho lagi.

            “makanan ini siapa sih yang buat? Rasanya parah, bisa memakan korban nih! Makanannya gak dikasih racun kan?’ Minho masih saja memberikan pendapatnya yang lebih seperti kritikan. Sementara sang umma yang sedari tadi diam mendengarkan kritikan dari minho kini tampak menunjukkan taring dan tanduknya. Tangannya mengepal dan…

            “TIDAK BISAKAH KAU MENYENANGKAN HATI UMMA MU SEDIKIT??? ANAK SEPERTIMU SUDAH TIDAK KUANGGAP ANAK LAGI!!!” teriak umma melampiaskan amarahnya. Ia mulai membanting barang-barang yang ada didekatnya.

            “KAU KAN MEMANG BUKAN UMMA KU!!!” Minho balas berteriak. Akhirnya, terjadilah perang yang lebih dahsyat dari sebelumnya di kediaman keluarga Kim.

            “BRAKKK!!”

            “PRANG!!!”

            “GDBAK!!!GDBUK!!!”

            “GUBRAKKKKK!!!!” *gak banget deh suaranya T,T*

            Setelah terjadi perang dunia yang ketiga dikediaman keluarga Kim, kini tampaklah keadaan dapur yang kacau balau. Semua barang seperti piring, baskom, Teflon, sendok, panci dan sebagainya sudah berserakan dimana-mana. Ditambah lagi bulgogi serta beberapa sayuran yang tampak bertebaran dimana-mana menambah semaraknya keadaan dapur yang menjadi saksi bisu perang saudara(?) itu.

            Umma tampak terkapar tak berdaya, tenaganya habis untuk mengejar Minho, namun tidak berhasil dia dapatkan. Tapi ia berhasil melempar tomat dan mendarat mulus dijidat Minho. Begitu pula dengan Minho. Tenaganya habis untuk berlari-lari menghindari amukan sang umma. Tampangnya awut-awutan, ditambah lagi wajahnya yang kotor karena terkena tomat yang dilempar umma nya. Sementara Jinki, Jimi, Halmioni dan appa yang bermaksud membantu melerai ikut menjadi korban keganasan sang umma. Baju mereka kotor, basah juga lengket terkena siraman makanan dan air.

            “oppa, kau tidak apa-apa?” Tanya Jimi kepada Jinki yang sedang membantunya membereskan dapur yang berantakan itu.

            “hanya begini saja sih tidak masalah” jawab Jinki seraya menarik kaos yang digunakannya untuk mengelap wajahnya yang basah. Tentu saja perut sispex nya terlihat oleh Jimi. yeoja itu menundukkan kepalanya untuk menghindari pandangannya. Entah mengapa ia merasa malu. Pikirannya terbang kemana-mana, disatu sisi ia sudah menganggap Jinki sebagai oppa yang sangat ia sayangi. Tapi disisi lain, entah mengapa perasaannya menjadi tidak karuan ketika ia hanya berdua dengan oppa nya. Ia merasa oppa nya menjadi seperti orang lain. Jinki seperti orang yang memiliki kepribadian ganda. Ketika berada ditengah-tengah keluarga, sikapnya sangat membuat Jimi nyaman. Ia selalu membuat Jimi tersenyum dengan kecerobohannya serta sangtae-nya. Tapi entah mengapa, jantungnya berdetak begitu cepat ketika ia hanya berdua dengan Jinki. ia merasa Jinki menjadi sosok yang misterius dan sulit ditebak. Dan itu membuat Jimi merasa kurang nyaman.

            “ada apa? Kenapa melamun?”

            “eh??” pertanyaan Jinki membuyarkan lamunan Jimi.

            “aku bertanya, kenapa kau melamun?”

            “ani. Aku hanya khawatir dengan kelangsungan keluarga kita jika melihat sikap Minho dan Umma yang tidak pernah bisa akur” bohong Jimi. karena tidak mungkin ia mengatakan yang sebenarnya kepada Jinki. lalu ia beralih menatap Minho yang sedang membersihkan wajahnya yang sudah tak berbentuk(?) lagi. Seketika itu pandangan mereka bertemu.

            “wae?” Tanya Minho ketus.

            “aniyo!” jawab Jimi singkat dan mengalihkan pandangannya. Lalu ia pun melanjutkan aktifitasnya membersihkan dapur.

^^

Author POV

            Siang itu disebuah ruangan kelas tampak seorang guru yang menjelaskan materi pelajaran. Semua siswa tampak memperhatikan dengan seksama. Namun, ada seorang siswa yang tampak tidak memperhatikan penjelasan dari sang guru. Tatapannya memang kedepan, namun fikirannya kemana-mana. Ia terus memikirkan percakan yang tak sengaja terdengar olehnya tadi pagi.

Minho Flashback

            “Jimi” panggil Jinki kepada Jimi yang sedang menyapu halaman rumah.

            “Ne Oppa” sahut Jimi tanpa menghalihkan pandangannya.

            “besok sepulang sekolah aku jemput ya, aku mau mengajakmu pergi kencan” pinta Jinki mantap.

            “MWO??KENCAN??” Jimi membelalakkan matanya yang besar.

End of Minho flashback

            “TUKK!!” sebuah kapur mendarat dikepala Minho. Ternyata Park seongsaenim melihat kalau Minho tidak memperhatikan pelajaran. Sehingga ia menimpuk Minho dengan kapurnya.

            “Ah, seongsaenim. Mianhe” ujar Minho menyadari kesalahannya.

            “Perhatikan penjelasan saya. Sebentar lagi akan ada ujian”

            “Ye seongsaenim” jawab Minho mantap. Namun, setelah sang guru kembali menjelaskan pelajaran tetap saja Minho tak dapat memfokuskan fikirannya.

            “arrrgh… sial!! Kenapa aku jadi kefikiran mereka terus sih??” Minho mengacak rambutnya frustasi.

            “Ya Minho! Ada apa denganmu? Kalau kau sudah tak sangup mengikuti pelajaran yang saya berikan. Silakan keluar”

            Tanpa basa-basi dan beradu argument, Minho pun melangkahkan kakinya keluar kelas. “begini lebih baik” batin Minho. Ia benar-benar tidak dapat berkonsentrasi. Ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan dirinya. “ aku harus menemuinya” tekad Minho didalam hati.

            Sementara itu, disebuah sekolah yang berbeda. Tampak seorang yeoja yang sedang duduk sendirian disebuah ruangan kelas. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu.

            “haaaaaaah……” ia mendesah panjang.

            “ternyata hanya sebagai pengganti” ia bergumam pelan seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Lalu, ia meletakkan kepalanya diatas meja. Fikirannya melayang mengingat-ingat kejadian tadi pagi.

Jimi Flashback

            “besok sepulang sekolah aku jemput ya, aku mau mengajakmu pergi kencan” pinta Jinki mantap.

            “MWO??KENCAN??” Jimi membelalakkan matanya yang besar.

            “Hehe, sebenarnya begini. Aku sudah janjian akan menonton film bersama temanku. Kami juga sudah membeli tiketnya. Tapi mendadak temanku bilang dia tidak bisa. Daripada tiketnya sia-sia, lebih baik aku mengajakmu” jelas Jinki panjang lebar.

            “Oh begitu, baiklah aku mau ^^” ujar Jimi bersemangat.

End of Jimi Flashback

 

            “hh… kenapa tadi aku semangat sekali? Padahal kalau difikir-fikir aku kan hanya sebagai pengganti! Lagi pula, Jinki oppa keterlaluan. Sebagai pengganti dianggapnya kencan. Hukkh” Jimi kembali menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

            Siangnya sepulang sekolah Jimi melihat gerombolan yeoja berkumpul didepan gerbang sekolahnya. Jimi yang penasaran melihat kerumunan itu pun mendekat dan menyeruak kerumunan tersebut. Setelah berhasil mencapai barisan depan, betapa terkejutnya Jimi melihat seorang namja jangkung yang sedang berdiri sambil bersandar didinding dekat gerbang sekolahnya. Ternyata namja itulah yang menyebabkan yeoja-yeoja berkumpul seperti semut yang memperebutkan gula.

            “Kyaaa~~ dia tampan sekali” ucap seorang yeoja berambut pirang.

            “Ne, tapi siapa dia? Sepertinya dia bukan murid sekolah kita” jawab yeoja berambut bob yang memakai bando warna biru. Sementara itu, Jimi yang penasaran dengan kedatangan Minho berjalan mendekati Minho.

            “Minho, kenapa kau kesini?” Tanya Jimi penasaran.

            “Ada yang ingin aku bicarakan!” ujar Minho datar seperti biasa.

            “Denganku?”

            “Tentu saja. Memangnya dengan siapa lagi? Ayo ikut aku!” Seketika itu Minho menarik tangan Jimi.

            “JIMI!! SIAPA NAMJA TAMPAN ITU?” teriak salah seorang yeoja yang ternyata adalah teman sekelas Jimi. Minho dan Jimi menghentikan langkah kaki mereka dan berbalik kebelakang menatap para yeoja yang masih penasaran dengan Minho.

            “Apa dia namjachingu mu Jimi?” goda yeoja yang diketahui bernama Park Jung Ah

            “Dia memakai seragam Seoul High School. Itu kan sekolah ternama Jimi. seleramu hebat juga ya” timpal Raena

            “Emmm… dia..dia_”

            “Aku saudaranya! Apa ada masalah?” Minho memotong ucapan Jimi. suasana mendadak hening. Tentu saja pernyataan Minho membuat para yeoja tersebut terheran-heran. Mereka sudah sangat tahu siapa Jimi. Jimi adalah anak perempuan sebatang kara yang tak punya siapa-siapa. Tapi tiba-tiba seorang namja muncul dan mengaku sebagai saudaranya.

            “Kajja!!’ ajak Minho seraya menarik tangan Jimi menjauh dari teman-temannya juga sekolahnya. Ia berjalan membawa Jimi kesebuah taman yang tak jauh dari sekolah Jimi.

Sesampainya ditaman..

            “Ada apa Minho?” Tanya Jimi to the point.

            “Ng.. ak..aku hanya ingin bilang. Sebaiknya kau jangan terlalu mempercayainya” Minho menjawab dengan sedikit ragu. Sementara Jimi masih mencoba mencerna perkataan Minho barusan.

            “Mempercayai siapa maksudmu?” sepertinya Jimi belum sepenuhnya faham dengan arah pembicaraan Minho.

            “Jinki”

            “Deg” Jawaban Minho membuat Jimi terkejut.

            “Bagaimanapun juga dia itu seorang namja. Entah apa yang akan dilakukannya kepadamu jika ia bisa mempunyai kesempatan berduaan denganmu” Jelas Minho panjang lebar.

            “Kenapa kau berfikiran yadong seperti itu??”

            “HAH? SIAPA YANG BERFIKIRAN YADONG???” Minho menjawab dengan berteriak. Ia tidak terima dianggap berfikiran yadong oleh Jimi.

            “KAU INI! JUSTRU AKAN BERBAHAYA JIKA AKU HANYA BERDUAAN DENGANMU!!” Jimi balas berteriak. Ia benar-benar tidak terima Minho menuduh Jinki sembarangan. Bagaimanapun juga Jimi sangat mempercayai Jinki dan ia sudah menganggap Jinki seperti Oppa nya sendiri. Yah meskipun terkadang ia merasa ada sedikit perasaan yang berbeda kepada Jinki.

            ‘KENAPA KAU MALAH BERTERIAK KEPADAKU? AKU HANYA INGIN MENGINGATKANMU SAJA!!” balas Minho dengan teriakan yang lebih keras dari sebelumnya.

            “KAU JANGAN BICARA SEMBARANGAN TENTANG OPPA! KAU TIDAK TAHU APA-APA TENTANG DIA!” entah mengapa Jimi merasa tak terima dengan perkataan Minho yang seolah-olah menganggap Jinki adalah orang yang tidak baik. Minho terdiam, tapi ia menatap Jimi dengan tajam. Ia berjalan mendekati Jimi. kini wajah mereka hanya terpaut beberapa senti.

            “Lalu, apa kau mau bilang padaku kalau kau tahu sesuatu tentangnya??” Minho berbicara tepat didepan wajah Jimi. sehingga Jimi dapat merasakan nafas mereka yang beradu.

            “Hh, bahkan kau juga tidak tahu apa-apa kan tentangnya?” cibir Minho kemudian. Kali ini Jimi yang terdiam. Ia memang menyadari kalau ia tidak tahu apa-apa tentang Jinki dan iapun tidak berniat untuk mencari tahu. Karena peraturan dalam game yang melarang peserta untuk mengungkap identitas peserta lain.

            “Tapi kan, kau tidak seharusnya membentakku seperti itu Minhoo~~ hiks..hiks..” entah mengapa kini Jimi menangis. Ia sendiri juga tidak mengerti mengapa ia menangis. Apakah ia menangis karena perkataan Minho? Atau menangis karena sikap Minho? Yang pasti ia benar-benar merasa ingin menangis. *author maksa abisss*

            Sementar Minho, ia tertegun melihat Jimi menangis untuk yang kesekian kalinya *Minho gak ngitung soalnya*. Dan lagi-lagi Jimi menangis karena dirinya. Ya, karena dirinya yang selama ini selalu menjadi penyebab tangisan Jimi.

            “Mianhe Jimi. uljima..” Minho mengangkat tangannya hendak menghapus air mata Jimi. namun dengan cepat Jimi menepis tangan Minho sebelum sempat menyentuh pipinya. Lalu Jimi pergi meninggalkan Minho yang masih berdiri tertegun. Hanya satu yang ada difikiran Jimi sekarang. Pulang kerumah.

Sesampainya dirumah…

            “ Anak ini… SUDAH BERAPA KALI KAU MEMBUAT NOONA-MU MENANGIS HAH??” Bentak Umma kepada Minho.

            “Sudahlah” Appa mencoba menenagkan Umma.

            “KALI INI KAU HARUS DIBERI PELAJARAN!! AYO IKUT!!” Umma menarik Minho dengan paksa.

            “ANDWAEEEE!!!!” Minho berteriak.

^^

TBC

P.S: Haaaaaah…. Sepertinya part ini gagal deh. Mianhe Reader!!! *Author mengatupkan kedua telapak tangan*

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

23 thoughts on “Family Game – Part 6”

  1. Akhirnya keluar jg..
    Jimi suka jinki ya?
    Ummanya mw ngapain minho tuh?
    Pnasaran ama lanjutannya.
    Next partnya jgn lama” ya thor.

  2. Akhirnya keluar jg..
    Jimi suka jinki ya?
    Ummanya mw ngapain minho tuh?
    Pnasaran ma lanjutannya.
    Next partnya jgn lama” ya..!!

  3. Kyaa~
    Minho ga keren bgt!!
    BAKK! BUKK! BAKK! BUKK! teroooss…
    pingsanny 1X aja,,ga usah bnyak2!!
    #author: trserah ak!!
    -me: maaf, thor? maaf?

  4. huahahaha mau diapain tuh si minho sama umma ???
    jgn2 mau di suruh masak ya ??
    ya minho .. cemburu !!
    siapa yg bisa dpetin hatinya jimi thor ??
    go.. lanjutannya !!!

  5. @all: jinki suka jimi. Tp jimi ny msh bgung.dy ska jinki sbg namja atau oppa.
    Minho ama umma g bsa akur. Krna sma2 keras kepala.
    Yg dptin hati jimi?
    RAHASIA.
    TngGu end na.

  6. waaaaaaaa ! kasihan minhonya ~ minho kayaknya suka sama Jimi deh 😀
    Umma , jgn hukum minho , nanti penderitaanya nambah 😥

    kasian minho , kayaknya minho paling kasian di ff ini 😥

    Tapi bgus kok ffnyaaaaaaaa ~ 😀 thor , part selanjutnya jgn lama-lama yaaa ^^

  7. minho suka jimi, tapi jimi suka jinki.
    umma jangan hukum minho, nanti traumanya kambuh…
    penasaran…di tunggu part selanjutnya

  8. wah~ cinta segitiga yaa…
    untung jojo gak ada, pasti kena juga ahahahaha…

    kpn jojo muncuL?
    apa aku bacanya terlalu cepatnya…
    tp kalo gak ada jojo, gak fokus jadinya, *alibi…

  9. hehe gomawo semuanyaaaaaa
    ia disini konflik cintanya nongol agak lama karena konflik pertama kan masalah keluarga2 nya ituuu. maklumlah kan ceritanya mereka org asing.
    mohon dimengerti *bow

  10. hahahhaaaaa….. cinta segitiga mulai keliatan…
    minho cemburu…. asseeekkkk….
    lanjut, thor…. aku penasaran, siapa sih, yang ada di hati Jimi…?

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s