SACRIFICE

Author             : STORM

Cast                 : Lee Jinki, Choi Minho

Genre              : Life

Length             :  Drabble?

Rating             : PG-15- NC-17

Warning         : Ayo dilihat ratingnya: PG-NC. Yang di bawah umur harus bareng ayah mami-nya. Yang umur 17 tahun dan merasa labil, tolong ucapan dan tingkah laku kasarnya jangan ditiru. Okay? Dan kalau belum ngerti maksud atau inti cerita ini apa, tolong ditanya di komen ya.. Aku ga mau ada yang salah tafsir dengan cerita ini. Okay? ^^ -Storm-

SACRIFICE*

Minho POV

“Omma kumohon bercerailah dari appa.” Pintaku dengan nada memelas. Tanganku masih bergerak pelan mengompres matanya yang sedikit berwarna biru.

“hhsss..” Tapi tidak ada jawaban dari omma. Dia hanya meringis pelan ketika handuk basah yang dingin ini menyentuh ujung matanya.

“Omma..tolonglah..”

“Omma..tidak bisa hidup tanpa appa mu Minho. Mengertilah” Akhirnya wanita dengan lipatan kecil yang mulai terlihat di wajahnya ini mulai menjawab pertanyaanku.

“Tapi omma..”

“Lagipula, bila aku bercerai dengan appa mu, kita mau makan apa? Bagaimana aku bisa membayar sekolahmu? Dimana kita akan tinggal? Dan bagaimana kita akan membayar sewa rumah? Aku..tidak punya cukup uang untuk membiayai itu semua. Mengertilah Minho”

“Aku. Omma..Aku. Aku yang akan mencari uang untuk kita. Aku. Choi Minho. Putra mu satu-satunya. Aku.” Ujarku sambil menaruh tanganku didadaku. Seolah sanggup akan menjalani semua ini. Tidak bukan seolah lagi, tapi aku benar-benar sanggup. Aku yakin itu.

Tapi kau tau apa yang dikatakannya? “Aku..tidak akan membiarkan kau bekerja di umurmu yang sekarang ini. Kau harus mendapatkan yang terbaik. Mengerti?” Ya, dia mengatakan itu. Wanita ini bahkan tidak menghargai niat anak lelakinya untuk menghentikan penderitaannya itu. hah!

Tidak tau kah ia aku jengah dengan semua keadaan ini. Jengah melihat biru selalu menghiasi matanya, lengannya, dan terkadang sudut bibirnya. Aku juga jengah melihatnya selalu menangis setiap malam seorang diri. Jengah mendengar isakan tangis darinya, dan juga jengah akan teriakan dan tangan laki-laki yang ia akui sebagai suaminya itu menyiksanya hampir setiap hari.

AKU JENGAH, OMMA!! JENGAH!!

Mengertikah kau?

***

Jinki POV

“Omma..Kumohon berhentilah dari pekerjaan ini” Pintaku pada seorang wanita yang sedang duduk di depan kaca rias di kamarnya. Tangannya sibuk mengoleskan cairan hitam di bulu matanya.

“Bagaimana?” Tanyanya padaku sambil mengerjapkan kedua kelopak matanya di depan kaca riasnya sebelum akhirnya menunjukkan padaku.

“Omma..”

“Ayolah Jinki..bagaimana mata omma? Perlu omma tambahkan sesuatu lagi?” Tangannya dengan segera menunjuk semua riasan yang berada di atas meja riasnya.

“Tidak. Matamu sudah cantik.” Jawabku sambil duduk menyender pada kaki meja riasnya. Dan wanita inipun tersenyum mendengar jawabanku.

“Mmm..baiklah sekarang pipiku”

“Ommaaaa…ayolah..kumohon berhenti. Aku tidak mau melihatmu keluar malam lagi” Pintaku sambil memegang tangannya. Tetapi wanita ini hanya menatapku sebentar dan kembali mengarahkan wajahnya ke kaca, membuat wajahnya terlihat ada dua. Kemudian tangannya mulai bergerak lagi, mengoleskan serbuk merah muda pada pipi kanannya.

“Omma!”

“Jinki, sudah berapa kali kau memintaku hal yang sama?” Tanyanya sambil tetap memainkan kuas kecil dipipinya. Membuat pipinya seolah merona alami yang akan membuat pria hidung belang membelalakkan kedua matanya.

“Berkali-kali” jawabku singkat.

“Dan kau tau apa jawabanku kan?” Aku terdiam mendengarnya. Ya. Terdiam sambil menarik nafas dengan beratnya. Aku tau omma. Aku tau jawabannya. Kau akan tetap menjalankan profesi mu ini kan? Sebanyak apapun aku meminta mu untuk meninggalkan pekerjaanmu, kau akan tetap tidak bergeming. Hah. Lucu kan? Padahal kau selalu bilang kau akan mengabulkan setiap permintaanku. Kenyataannya? TIDAK! BULLSHIT. Setiap kata yang kau katakan itu BULLSHIT, Omma. BULLSHIT!

“Jinki..ehm? tau kan?” Tanyanya sekali lagi. Ku anggukkan kepalaku menjawab pertanyaannya.

“Kau juga tau alasannya kan?” Kali ini kugerakkan kepalaku ke kanan dan ke kiri dengan lambatnya. Alasan apa omma? Alasan apa yang bisa membuatmu tidak mengabulkan permintaanku. Alasan apa yang bisa membuatmu tetap menjalani pekerjaan ini?

“Aku melakukan semua ini. Aku bertahan pada pekerjaan ini. Hanya untukmu Jinki. Untuk menghidupimu. Untuk membuatmu tumbuh dengan baik. Lihat sekarang. Kau tumbuh menjadi namja yang tampan kan?” Kedua tangannya menyentuh lembut kedua pipiku. Matanya memandangku dengan sendu tetapi tetap cantik.

“Omma..kau sadar putramu ini sudah besar..haha” Tanyaku sambil tertawa. Ya tertawa. Tertawa yang ehm..dipaksakan? Tawa yang hanya menjadi penghias kata-kataku.

“Tentu saja aku sadar. Kau pikir aku tidak memperhatikanmu? Hah?” Katanya yang juga diiringi tawa sepertiku.

“Kalau begitu percayakah kau padaku?”

“Tentu saja..”

“Kalau begitu tinggalkan pekerjaanmu ini ya?” Kuberikan tatapanku yang sendu. Sendu tetapi sangat meyakinkan. Tapi kau tau apa respondnya? Responds dari tatapan keyakinanku yang sendu? Dia melepaskan kedua tangannya dari pipiku dan kembali membuat bayangan dirinya yang persis serupa di kaca riasnya.

“Omma..”

“Hentikan Jinki! Aku muak dengan permintaanmu ini. Selalu saja itu. Berhenti. Berhenti. Berhenti. Taukah kau uang yang kau pakai untuk bajumu itu berasal darimana? Uang yang gunakan untuk makan berasal darimana? Uang untuk membayar sekolah mu darimana? Dari pekerjaanku Jinki. Dari pekerjaan yang selalu kau benci ini. Dari situ Jinki. Dari situ!” Nada bicaranya meninggi. Tetapi tangannya tetap memoles wajahnya yang sudah tebal karena make up.

“Kau pikir, bila aku tidak bekerja seperti ini, kau bisa hidup? Kau bisa bersekolah di sekolah mahal itu? Hah? Jangan mimpi kau. Seharusnya kau berterimakasih pada pekerjaanku. Lihat dirimu, apa yang bisa kau lakukan tanpa uang dari pekerjaan ku ini? Hah? Sadarlah Jinki, kalau aku berhenti dari pekerjaan ini. Kita bisa mati. Mati. Kau dengar?”

“Hah? Mati? Jadi itu alasanmu tidak mau berhenti? Baik. akan kupas…..”

Ddrrtt..ddrrtt

Ya Hallo” Belum selesai aku berbicara, tangannya sudah mengangkat telfon dari seseorang.

Maaf siapa?” Hah! Omma..aku sedang berbicara padamu. Kau malah..ish..cih!

Oh..Tuan Park..ahahaha..tentu saja aku ingat..bagaimana bisa aku lupakan dirimu?haha

Sibuk? tidak aku tidak sibuk..

Mau bertemu? Ah..kau sudah tidak sabar ya? Mau malam ini?

Ahaha..baiklah..aku tunggu kau..apa? Supirmu sebentar lagi sampai?

*BRAK

Kubanting pintu kamar omma ku. Kulangkahkan kakiku cepat meninggalkannya. Taukah kau omma, kalau aku jijik mendengar kata-kata merayumu? Aku jijik melihatmu berdandan begitu cantiknya dengan gaun V-Neck yang sangat rendah yang memamerkan dadamu itu. Tau kah kau itu omma? Tidak kan?

Dan tau kah kau kalau darahku selalu mendidih setiap mendengar pria berumur berkata, “Rose memang bisa membuatku puas.” Rose nama panggilanmu kan? Nama panggilanmu ketika kau sedang menjalankan profesimu yang sebagai wanita penghibur itu. Terlalu kasarkah panggilanku untuk pekerjaanmu? Baiklah bagaimana kalau wanita malam? Masih terlalu kasar? Emm..kalau begitu, kupu-kupu malam. Hah! Bahkan umur kupu-kupu saja tidak setua kau omma!!

***

Minho’s Mom POV

Omma kumohon bercerailah.” Ucapan Minho dua hari yang lalu benar-benar tercetak jelas di kepalaku. Membuatku menutup buku yang sedang kubaca. Dan kembali memikirkan ucapan putraku itu. Haruskah ku bercerai? Har…

*BRAK

Terbukanya pintu kamarku dengan kasar benar-benar membuatku berhenti memikirkan ucapan Minho. Dan beranjak bangun dari tempat tidurku.

“Kauuuuuu hiks..” seorang lelaki yang sangat kukenal datang dengan langkah gontai. Kuhampiri dirinya yang sedang berjalan dengan langkah terhuyung seolah terbawa angin. Aroma alcohol tercium dari nafasnya. Kulihat matanya memerah. Dan bila sudah begini, aku tau apa yang akan segera menimpaku.

“Ya Tuhan, Yeobo! Kau mabuk lagi?” Tanyaku sambil memapahnya menuju tempat tidur.

“Ahh..diam kau!”

*PLAK

“Ya Tuhan Yeobo..apalagi kesalahanku?” Tanyaku sambil memegang pipi kananku. Kurasakan mataku mulai memanas. Tepat seperti tebakanku. Kejadian ini segera kualami lagi. tapi entah kenapa walau sudah sering kualami, mataku tetap saja memanas. Dan membuat air mata ku terjatuh.

*PLAK

“Dasar tidak berguna!!”

*PLAK

“Ku mohon hentikan”

“Hentikan katamu?”

*PLAK

*PLAK

*PLAK

Setelah beberapa kali tangannya mendarat kasar di wajahku. Dan menyisakan darah di ujung bibirku. Kurasakan tamparannya berhenti. Pria yang sudah kunikahi selama 20 tahun ini langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur.

Sedangkan aku? Aku langsung melangkahkan kakiku ke kamar Minho. Entah apa yang membawaku ke kamarnya. Biasanya aku langsung menyendiri di ruang baca. Tapi kenapa kali ini aku justru melangkah ke kamar putraku? Sudah tidak sanggupkah aku?

*Cklek

Kubuka pintu kamar putraku ini. Kurebahkan tubuhku tegak di kasurnya.

“Minho..” Tanganku menyentuh lembut pipinya. Air mataku masih saja mengalir. Belum pernah kurasakan wajah ini terasa begitu perih.

“Omma?” Oh tidak..Dia terbangun. Tangan ku dengan cepat menghapus air mata yang dengan derasnya mengalir dipipiku ini. Aku tidak ingin menunjukkannya air mataku.

“Omma? Kau?” Wajahnya terkejut melihatku.

“Omma, dia memukuli mu lagi? Hah?” Tubuhnya dengan cepat beranjak dari tempat tidur. Dan kakinya cepat melangkah meninggalkanku.

“Minho jangan..jangan..appa mu itu hanya sedang mabuk nak..” Kucegah langkah anak lelakiku ini. Jika ia sampai melukai appa-nya. Aku tidak tau apa yang akan terjadi.

“Omma?? Ish..Bagaimana bisa kau masih membelanya? Hah?”

“Minho, ambilkan aku air dingin nak. Tolong kompres aku ya?” Aku memohon padanya. Mengacuhkan pertanyaannya.

“Tidak! Aku akan menghajar laki-laki itu! Sudah cukup ia memperlakukanmu dengan kasar omma. Sudah cukup!” Katanya sambil tetap melangkahkan kakinya. Tangannya mengepal kuat saat mengucapkannya.

“Minho..jangan..Minho..kumohon..”

“OMMA!!” kulihat matanya menatapku dengan penuh emosi.

“Jangan..nak..jangan..bagaimana jika appa-mu menceraikan omma?” Air mataku deras mengalir sambil tetap memohon padanya. Tanganku semakin kencang menggenggam tangannya.

“Itu lebih baik omma..daripada kau selalu dipukulinya terus. Itu lebih baik. Mengerti?”

“Tidak. Itu tidak lebih baik. Aku tidak bisa membuatmu bahagia Minho tanpa uang darinya. Aku tidak bisa membiayai hidupmu lagi bila aku bercerai darinya.”

“Omma! Sudah kukatakan, aku yang akan membiayai hidup kita berdua. Aku akan bekerja omma. Aku yang akan bekerja! Aku!” Kulihat kesungguhan dimatanya. Tapi aku tetap menggelengkan kepalaku.

“Minho..dengar..aku akan bertahan darinya. Hanya untukmu”

“Kau..bodoh omma..kau bodohh!” Air mata ikut mengalir diwajahnya, mengiri ucapannya yang kurasa buah dari kekesalannya padaku.

Ya sayang, omma-mu ini memang bodoh. Bersedia tinggal bersama appa mu yang sudah menyakitiku berkali-kali. Tapi omma, akan tetap bertahan.

Demi mu nak. Demi mu..

***

Jinki’s Mom POV

*TING

Suara dari lift mengiringi terbukanya pintu lift di sebuah hotel berbintang ini. Kulangkahkan pelan kakiku menuju sebuah kamar yang sudah sering kukunjungi.

Omma.. Kumohon berhentilah” tetapi ucapan Jinki yang kembali terngiang di kepalaku, membuat langkahku terhenti.

Kalau aku berhenti melakukan ini semua, akankah anakku hidup dalam kekurangan? Tidak. Aku tidak mau itu terjadi. Tapi..Jinki..dia memintaku untuk..

“ommaaaa…aku mau coklat itu..belikan ya? ^^”

“whoaaa..ommaaaaa terimakasihhhh..mainannya banyak sekali..^^”

“ommaa..aku suka..aku menyayangimu ommaaa ^^”

“ommaa..aku mau masuk sekolah itu. Kira-kira apakah omma sanggup membiayaiku? Aku tidak apa-apa jika omma tidak sanggup. Aku akan mencari sekolah yang lain. ^^”

Tidak ini tetap harus kulakukan. Harus!

*Knock *Knock

Kuketuk pintu kamar di sebuah hotel yang sudah biasa kukunjungi.

*Knock *Knock

Kenapa tidak ada jawaban? Keningku mengkerut. Pikiranku berfikir cepat menanggapi kejadian ini. Apakah ini pertanda aku harus berhenti? Segera kubalikkan tubuhku. Dan berjalan cepat meninggalkan kamar hotel ini.

*Cklek

“Rose?” Tapi suara berat seorang laki-laki menghentikan langkahku. Dan membuatku berbalik menghampiri suara berat itu.

“Tuan Park? Kupikir kau tidak ada”

“Masuklah..aku sudah menunggumu dari tadi” Senyum mengembang di wajahnya. Senyum yang sangat penuh arti. Dan..NAFSU!

*Cklek

“Dimana aku harus mena..”

“Hh..Rose..aku merindukanmu..” Belum selesai aku bertanya, laki-laki ini sudah mengunci tubuhku dalam pelukannya dari belakang. Bibirnya mulai merayapi pundakku yang sudah terbuka. Tangan yang tadi melingkar dipinggangku kini mulai meranjak naik.

“Hoho..sabarlah tuan..kita punya banyak waktu” Ujarku mencoba menahan tindakannya yang semakin menjadi.

“Hh..tidak..aku sudah tidak bisa menahannya” Tangannya dengan cepat membalik tubuhku. Membuat wajahku menghadap wajahnya. Bibir yang tadi merayap di pundakku kini sudah menyerang bibir merah polesanku. Dan tangannya dengan cepat menurunkan zipper di gaunku. Membuat gaunku jatuh seketika ke lantai. Menyisakanku dengan lingerie hitam yang menutupi sebagian tubuhku.

Dan pria ini? hanya melihatku dengan tatapan penuh nafsu. Sebelum akhirnya mendorong tubuhku jatuh ke tempat tidur.

Lalu bagaimana denganku? Aku hanya bisa menutup mataku. Berpura-pura menikmati semua ini.

“hh..Rose..hh”

Jinki maaf. Omma harus melakukannya. Hanya ini yang dapat omma lakukan. Andai omma bisa mendapatkan pekerjaan lain. Pasti akan omma lakukan, tapi tidak ada satu perusahaanpun yang mau menerima omma-mu ini nak. Tidak ada.

“hh..ahh..h..”

Jinki, taukah kau sayang, kalau omma jijik melakukan ini hampir setiap malam? Taukah kau nak, setiap aku mau lari dari laki-laki yang penuh nafsu ini, selalu namamu yang terbersit di kepalaku? Setiap aku enggan mengangkat telfon dari laki-laki yang menginginkan kepuasan itu, hanya bayangan dirimu yang akhirnya membuatku mengangkat telfon dan akhirnya melayani mereka.

“a..ah..tuan..h..”

Walau jijik, walau mau muntah, walau ingin menangis, tapi tetap harus kulakukan. Karena apa? Karena dirimu. Bayanganmu yang selalu menangis waktu kau masih berumur 1 tahun karena kelaparan. Bayanganmu yang selalu merengek meminta coklat ketika umurmu 4 tahun. Bayanganmu yang selalu ceria karena aku selalu pulang dengan mainan di tanganku ketika kau berumur 7 tahun. Dan bayanganmu yang selalu pulang dengan senyum karena kau selalu mendapatkan nilai tertinggi di sekolahmu. Bayangan-bayangan itu nak, yang selalu memaksaku melakukan ini semua.

Karena aku tidak mau melihat anakku tumbuh dalam kekurangan. Tidak mau!

Mengertikah kau nak?

***

FIN

***

STORM POV

“Anything for you son”

Words that always come up from your parents.

Words that always make them sacrifice themselves for you.

In the name of their sacrifice, would you please respect them?

No matter how stupid their sacrifice is.

No matter how sucks you think it is, how sucks you think they are

And no matter how much you hate your parents.

Would you please respect them?

Because you never know,

How far they would sacrifice themselves for you.

A/N: Hanya ingin menggambarkan seberapa besar pengorbanan yang dilakukan oleh orang tua kita. Tulisan ini hanyalah sebuah contoh ekstrem dari pengorbanan itu. Jika mereka mampu melakukan hal se-ekstrem ini untuk anak-anaknya. Apalagi yang kau ragukan akan kasih mereka? So.. please respect them and make them smile, always. Okay? ^^

(*) Dedicated to my lovely sources out there who kindly told me their story. Keep fighting! I am Storm. You are storm. And we are storm. And always be storm! Right? ;]

*Deep bow for any reason ^^

xoxo
-Storm-

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

120 thoughts on “SACRIFICE”

  1. Endingnya mengharukan :’) sedih banget bacanya. Nyesek. Dan seketika itu juga aku teringat akan banyak remaja yg mengalami hal serupa. Berada di posisi minho dan onew, atau bahkan posisi ibunya onew di sini. Fict ini bagus banget, mengajarkan ttg realita kehidupan yg ga akan selalu manis. Nice kak :’D

  2. Annyeong Haseyo.
    Salam kenal
    aku Reader baru.
    Ceritanya keren.
    Mengingatkan kita tentang pengorbanan sosok seorang ibu kepada anaknya. Membuatku mengingat kelakuan-kelakuan “tidak pantas” yang ku lakukan pada ibuku dan menitikkan air mata karenanya. *cailah bahasanya. Hehehehe.
    Gamsahamnida….

  3. Storm, aku dulu udah pernah bca ff ni tpi gak komen. Hehe 😛

    Kangen ama ff ini, n meski dibaca ulang tetep bisa bkin aku netesin air mataku lagi… Ini nyentuh banget…
    Ff yg daebak! 🙂

  4. Ya ampun, selalu nggak bisa tahan kalo udah menyangkut soal ‘ibu’ T^T

    keren banget, thor. Kita sering ngerasa orang tua nggak pernah merhatiin tapi ternyata di luar mereka bener-bener mikirin kita. Sumpah, keren TT~TT

  5. Berlinang air mata membaca FFmu author.
    Sedih dan miris.
    Tapi membuat reader sadar akan pentingnya orang tua.
    TT_TT

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s