ellegirl3

She’s My (Ex)Wife – Part 28

She’s My (Ex)Wife

Part 28

 Main Cast : Key, Hyeo So, Minho

Support Cast : SHINee, Eunhyuk

Genre : Romance, Friendship

Rating : General

Author : Zika

“Bagaimana terapinya hari ini Agassi?” Tuan Jung memapah Hyeo So masuk ke dalam dan membawakan tas Hyeo So. “Ya masih seperti biasanya. Toko nya hari ini ramai?” Hyeo So merogoh tasnya begitu sudah duduk di sofa. “Ye Agassi, kebetulan hari ini ada pelanggan yang memesan bunga untuk sebuah acara minggu depan. Lumayan banyak yang di pesan. Kalau toko yang satu lagi sedang tidak banyak pengunjung.”

“Oh ne, ternyata di sini agak sulit ya mencari pecinta k-pop. Oh ya tuan Jang, ini gaji anda bulan ini. Terima kasih karena sudah mau membantu saya.” Hyeo So tersenyum sambil memberikan amplop berisi uang kepada tuan Jang. “Tidak Agassi, saya harus menolak berapa kali? Saya bekerja atas nama kesetian, saya rela walaupun tidak anda bayar.”

“Tuan Jang, terima ini saya mohon. Jangan kecewakan saya.” Tuan Jang menghela nafas dan menerimanya. Tapi seperti biasa, ia akan menaruh uang tersebut di dalam kotak tabungannya untuk Hyeo So jika suatu saat nanti akan datang seorang baik hati yang mendonorkan mata untuk nona nya ini. Baginya Hyeo So sudah seperti putri kandungnya, ia merasa bersyukur berkerja di keluarga terhormat ini. Meskipun Hyeo So harus memulai hidupnya sendiri dari nol, tapi setidaknya ia bangga bisa tetap menjadi penjaga setianya.

“Amber! Your stuff!!” seru Hyeo So, karyawan toko nya yang satu ini memang agak-agak berantakan. “Ms. So, I will take my exam tomorrow morning. So I think, i…

It’s ok, just focus on your school. Don’t forget to study, kay? Don’t be regret.” Amber tersenyum riang. Tidak ada bos yang sebaik Hyeo So baginya, walaupun sering tidak bisa menjaga toko karena sekolah Hyeo So tidak pernah memotong gajinya. Walaupun beberapa kali membuat kesalahan, walaupun toko nya sepi, walaupun banyak cobaan bos nya yang satu ini tidak pernah menjatuh kan beban pada karyawannya. Hal itu sudah di akui lebih dahulu oleh Lanny, karyawan senior di toko bergaya antic milik Hyeo So.

Berat rasanya dulu Hyeo So berjuang untuk membangun toko di pinggiran kota Los Angles, banyak modal yang harus di keluarkan. Tahun pertama di kota LA ini Hyeo So berhasil berkerja di pusat toko bunga, The Los Angles Flower Market. Tahun kedua ia berhasil mendirikan toko bunga mungil bergaya classic dengan berbagai perabot antic, usahanya ini cukup melejit hingga akhirnya berhasil membangun satu toko mungil tepat di sebelah toko pertamanya. “Sarangguk.” Toko kedua Hyeo So yang menjual berbagai barang ekspor dari Korea yang berhubungan dengan para artis, entah goodies, entah DVD, VCD, CD dan berbagai macam souvenir khas Korea. Kata Sarangguk di ambil dari Saranghae dan Hanmingguk, atau Cinta dan Korea.

Kini sudah 5 tahun semenjak Hyeo So menjalani hidupnya di Los Angles dengan rutinitas yang sama. Menjaga tokonya dan pergi terapi seminggu sekali. Tidak mudah ternyata mencari pelanggan, Hyeo So harus berjuang membuat iklan dari mulut ke mulut dan melalui beberapa kenalannya.

“Morning, Deb!” sapa Hyeo So pada karyawannya yang bertugas menjaga toko Sarangguk ini. “Hey, So. What are you doing here? I can do it, you don’t have to help me Mam! You better keep your health, and rest more.” Seluruh karyawan Hyeo So tahu tentang kanker yang menggerogoti tubuhnya, karena itulah para karyawannya berjuang dan mendukung kesembuhan Hyeo So. Mereka yakin Hyeo So bisa sembuh, hanya butuh sedikit uang lagi maka proyek besar mereka menyembuhkan Hyeo So dengan operasi akan sukses.

“No, it’s okay. I just want to feel all again. You can help me with that.” Hyeo So menunjuk sesuatu. “Oh, you mean that thing?” Deb meralat tangan Hyeo So yang menunjuk rak CD menuju tumpukan kardus. “Ne, we have to put it in the right place. There some new arrival CD’s, can you please take care of it?”

“Anything for you!” Hyeo So kembali tersenyum. Tidak lama beberapa pengunjung mulai berdatangan, biasanya hari jumat lebih ramai. Dan lagi hari ini pasti banyak yang mencari stock CD baru. “Oh, Ms. Hyeo?” Hyeo So menoleh ke arah suara. “Yes, nuguseoyo?” Hyeo So berusaha berfikir, ia tahu bahwa yang ada di depannya ini orang Korea. Karena tidak ada kenalannya di LA yang memanggilnya dengan nama Hyeo, selalu So atau Kim. “Ini saya.”

“Oh! Ho-ssi?” mendengar logat dan suaranya Hyeo So baru ingat, bahwa ia adalah orang yang dulu sempat menjadi pelanggang tetap di toko bunga nya. “Ne, is this your new shop?”

Oh actually this is my second shop, take a seat please. Deb!” Deb buru-buru menuntun Hyeo So menuju kursi bersama tuan Ho itu. “Thanks, Deb. So, Ho-ssi how’s your day?” Tanya Hyeo So lalu tersenyum. “Like usual, still have my super perfect mess English.” Hyeo So tergelak. “Saya juga masih berantakan, English saya sama sekali tidak lebih baik dari sebelumnya. Jadi apa yang membawa anda kemari?”

“Cinta yang hilang.” Ujar tuan Ho. “Oh, maaf.” Ho tertawa. “No! Don’t be. Saya bercanda. Oh ya, saya punya berita baik dan berita buruk.” Deb datang membawa dua gelas plastk hot chocolate. “Apa itu?”

“Saya akan tinggal di sini sekitar 2 bulan.” Senyum cerah mengembang di pipi Hyeo So. “Dan saya mau anda menjadi tour guide saya.” Sejurus kemudian senyum Hyeo So memudar, bukan tidak mau tapi dia hanya tidak bisa. Apakah tuan Ho meledek atau lupa kalau dirinya tidak bisa melihat. “Hyeo-ssi, don’t get me wrong. Maksud saya, saya ingin anda menjadi pendamping saya selama di sini karena saya tidak tahu banyak soal LA. Apalagi English saya sangat kental logad nya dengan Korea, jadi anda guide bukan untuk menunjukkan saya tempat-tempat wisata di LA tapi guide dalam arti lain. Maaf kan saya.”

No no, please don’t be Ho-ssi. Saya tadi hanya berfikir guide dalam hal apa, tapi sekarang sudah terjawab. Saya tidak tersinggung. Jadi apakah anda sudah menemukan tempat yang cocok untuk tinggal?” Hyeo So mengalihkan topic. “Ya begitulah, mungkin tempat saya menginap sekarang yang terbaik. Saya punya flat kecil di Palazzo, Glendon Avenue.”

“Benarkah? Kalau begitu hanya beberapa mil dari sini.”

“Ya, dan itu berarti saya bisa sering-sering berkunjung ke toko ini. Kebetulan saya punya banyak teman yang suka dengan artis-artis Korea. Waktu itu ada yang bilang kalau toko Korea yang terkenal di LA bernama Sarangguk, dan ternyata Hyeo-ssi pemiliknya. Sangat tidak di sangka.”

“Hahaha, tidak. Toko ini tidak se popular itu.” Elak Hyeo So. “Wah, sudah masuk jam makan siang. Apa anda sudah makan?” baru saja Hyeo So akan bicara tetapi langsung di potong. “Bagus kalau begitu! Kita bisa makan siang bersama. Hey Deb, may I borrow your boss?” Deb mengacungkan jempolnya lalu tersenyum. “You guys know each other?” Tanya Hyeo So polos. “Nope, I just heard her name from you just now. So, what should we eat miss Hyeo?” Hyeo So hanya mengangkat bahu. “Terserah anda.”

***

Sooooo.. don’t you think he loves you?” goda Deb. “No! Deb! Dia itu rekan kerja aku, oh please god.” Deb terkekeh. “But, it’s just looks like he want to go out with you all day!” tambah Lanny yang tiba-tiba sudah masuk ke toko sebelah. “What?! Lanny!”

“Hahahaha… well, just see. It’s already the 7th day and he still coming here every day just for asking you to have a lunch together. What a shame! He must be had some feeling for you.” Sambung Deb lagi. “Stop it guys! Just focus on your work, it’s 3 pm already and he’s not coming today. So, stop being nonsense.” Keduanya terkekeh dan kembali sibuk bekerja.

Hampir satu minggu penuh tuan Ho tidak absen, dia selalu datang setiap siang dan mengajak Hyeo So makan bersama. Sebenarnya sih untuk bertanya soal ini itu, karena baru tinggal di LA jadi Ho masih belum tahu banyak apa yang bisa di lakukan. Seperti biasa, toko Hyeo So akan tutup jam 8 malam.

My dear princess, your lovely prince has coming!” ledek Lanny sambil masuk ke dalam. “Thanks a bunch!” Lani dan Deb tertawa melihat reaksi Hyeo So. “Bereskan semuanya, jangan lupa di bersihkan dulu. Don’t forget to lock the door, I’m going.”

“Maaf tadi siang saya tidak mampir.” Sambut Ho. “No, it’s ok. Saya tidak berharap anda datang, maksud saya terserah anda ingin datang atau tidak. Saya tidak membuat undang-undang agar anda selalu datang ke tempat saya setiap siang.” Keduanya terkekeh. “Diner?” Tanya Ho. “Well, I was goi-“

It mean yes!” potong Ho, lalu menarik tangan Hyeo So. “Heeyy!! I’m not finished yet!” seru Hyeo So sambil terkekeh, ia tahu seberapapun Hyeo So mencoba untuk menolak ia tidak pernah berhasil menolak tawaran Ho. “Actually, you sounds different today.” Mulai Hyeo So begitu keduanya sudah duduk di salah satu bangku restoran Jepang bergaya casual elegant di Glendon Ave. “What?” Tanya Ho, seolah tidak mengerti. “Mata saya memang tidak bisa melihat tapi telinga saya cukup tajam, dan anda kurang pintar berbohong. Well, it’s ok if you want to keep it your own secret. Tapi saya di sini untuk mendengar semua keluhan anda.”

“Oh ya? Terima kasih banyak kalau begitu. Then, we can’t just be a tour guide and the tourist.” Hyeo So tersenyum. “Untuk saya, dari awal anda sudah saya anggap sebagai kerabat saya.” Ho tersenyum. “Really?” Hyeo So menyeringai. “You bet!”

“Kalau gitu mulai dari sekarang aku bisa berhenti berbicara dengan bahasa sangat formal. Ya ampun, kenapa tidak bilang dari kemarin sih?” keduanya tergelak. “Jadi apa yang mengganggu anda tuan Ho?” ledek Hyeo So.

“Aku teringat dengan mantan ku.” Hyeo So jadi menyesal membuat Ho membahas soal itu. “Jangan merasa menyesal, aku pikir malah dengan menceritakannya padamu bisa jadi lebih lega.” Ucap Ho seolah bisa membaca pikiran Hyeo So. “Because we’re friends?” Ho mengangguk yakin tapi sedetik kemudian menggeleng, ingat bahwa Hyeo So tidak bisa melihat anggukannya. “Yup, yup.” Ho menarik nafas dang menghembuskannya keras-keras, Hyeo So seolah mengerti seberaba berat beban Ho jika mengingat tentang kekasihnya.

“Apa kamu pernah ngerasa di tinggal cowok yang kamu sayang?” Hyeo So menggeleng. “Rasanya itu sangat sakit, walaupun sebelumnya ia juga sudah membuat luka. Tapi dengan kepergiannya aku justru semakin sakit, aku pikir bisa lebih baik. Setiap aku menarik nafas sepertinya aku menarik ratusan ton beban ke dalam paru-paruku, dan saat aku menghembuskan nafas rasanya seperti merobek lukaku seolah nafasku itu setajam pisau. Mungkin kalau orang tidak ada dalam posisi ku akan berfikir aku berlebihan, tapi mereka harusnya berfikir dengan posisi ku. Berat ternyata.” Seorang pelayan datang membawakan pesanan keduanya. “Salmon bakar?”

“Wow, sepertinya indera penciumanmu juga sangat tajam ya.” Ledek Ho. “Aku berlatih dengan anjing peliharaan temanku.” Keduanya tertawa. “Selera humor anda lumayan, Ms. Hyeo.” Ledek Ho lagi. “Tentu saja Mr.Ho , kebetulan saya berkerja paruh waktu di salah satu café lawak malam di daerah ini.” Lagi-lagi keduanya tertawa ringan sebelum akhirnya menyantap makan malam mereka.

“Seperti biasa, terima kasih untuk hari ini Hyeo. Malam ini sangat menghibur.” Keduanya masih berjalan berdampingan dengan satu lengan saling bersilang. “Kalau begitu lain kali aku akan menetapkan tariff, dengan kata lain aku part time sebagai wanita penghibur.” Kali ini keduanya tertawa lebih keras. “Lain kali apa aku boleh mampir ke rumahmu? Kalau kamu ada waktu, kita bisa masak bersama di apartement ku juga kan?” Tanya Ho, sebelum keduanya berpisah seperti biasa di lampu merah.

“Boleh, tapi jangan menyesal ya karena mengajak ku masak.” Hyeo So mengingatkan. “Tidak akan. Sampai jumpa besok, Hyeo.” Hyeo So mengangguk, keduanya saling menempelkan pipi seperti biasa. Tapi malam ini, Hyeo So merasakan sesuatu. Bukan perasaan suka atau semacamnya, tapi ia merasa rindu dengan seseorang saat tadi berpisah. Ia mencium bau parfum yang biasa di gunakan seorang laki-laki yang ia cintai di masa lalunya, laki-laki yang selalu ingin ia peluk, laki-laki yang berhasil ia lupakan selama 3 tahun belakangan ini dengan kesibukkan di tokonya. Dan rasanya malam ini seolah sosok laki-laki itu kembali muncul di pikirannya, Hyeo So tahu dirinya sangat merindukan laki-laki itu.

“Hyeo So!” langkah Hyeo So terhenti, ia kenal… sangat sangat mengenal suara yang barusan memanggilnya. Ini halusinasi atau…? “Hyeo So!!!” seseorang tiba-tiba saja menerjang Hyeo So, memeluknya dengan sangat erat dan kali ini ia yakin bahwa sosok ini nyata. “Bhogosipoyo.” Tiba-tiba saja air mata Hyeo So mengalir deras.

***

Hyeo So menyeka air mata bahagianya, tidak menyangka setelah 5 tahun tidak bertemu akhirnya sekarang bisa kembali mendengar suaranya. “Hyeo So, kamu makin kurus. Harusnya kamu makan yang banyak.” Hyeo So tersenyum. “Oppa sekarang pasti semakin ganteng ya? Kalau aku sembuh, Eunhyuk oppa jadi orang pertama yang mau aku liat.” Eunhyuk menarik nafas dalam-dalam menahan air matanya yang nyaris mengalir.

Eunhyuk benar-benar tidak tahu dan tidak menyangka soal penyakit Hyeo So. Sewaktu Hyeo So pergi ia hanya di beri penjelasan oleh Jonghyun kalau Hyeo So mau menenangkan diri, tapi beberapa bulan yang lalu Eunhyuk baru tahu saat tidak sengaja mendengar Jonghyun sedang berbicara dengan Hyeo So melalui telephone selular. Jonghyun bilang ia tidak ingin membuatnya memikirkan Hyeo So saat sedang menjalani wajib militer. Begitu dapat kesempatan, Eunhyuk buru-buru terbang menuju LA mengejar Hyeo So setelah sebelumnya memaksa Jonghyun untuk memeberitahunya dimana Hyeo So tinggal.

“Hyeo, kamu pasti pura-pura kan? Tolong berhenti bersikap seolah kamu gak bisa ngeliat aku, tolong Hyeo.” Hyeo So hanya tersenyum, sedangkan Eunhyuk tidak lagi bisa membendung bulir air matanya. “Oppa…” Hyeo So memeluk Eunhyuk, membiarkan oppa tersayangnya itu menangis dengan puas.

“Kamu bikin aku ngerasa gak berguna tahu gak Hyeo?! Kalau aja dari dulu aku tahu kamu punya penyakit ini aku kan bisa cari bantuan! Setidaknya kamu gak akan sampe… sampe kayak gini!” omel Eunhyuk sambil menahan tangisnya. “Hahahah oppa, ini udah jalannya. Aku waktu itu juga gak mau ganggu oppa yang bakalan pergi wamil, jadi aku lebih milih berjuang sendiri. Jonghyun oppa malah waktu itu nekat mau ikut tapi aku larang. Aku lebih seneng berjuang sendiri deh.”

“Terus sekarang keadaan kamu gimana?” Eunhyuk menyeka air matanya. “Membaik, kanker nya udah jinak hehehe.” Jawab Hyeo So cengengsan. “Terus kenapa masih gak bisa lihat?” Hyeo So menghela nafas. “Oppaaaa.. mataku udah terlanjur rusak, jadi kalau pun kankernya sembuh mataku gak akan balik lagi kayak dulu. Udahlah, aku gak apa-apa kok.”

“Kamu gak kangen sama yang lain?”

“Kangen lah! Tapi… aku gak pede ketemu mereka dalam keadaan kayak gini. Jadi aku putusin untuk balik ke Korea kalau udah sukses. Aku kangen 2 sahabatku, aku kangen Taemin, aku kangen Jonghyun oppa, aku kangen semuanya, semua orang yang aku kenal.”

“Kamu gak nanyain kabar Minho atau Key?”

“Oh iya, gimana kabar mereka?” Eunhyuk berdecak. “Key… setahu ku ya, dia balikan sama Shina setelah kamu pergi. Gak langsung, sekitar 3 bulan kemudian. Minho lulus SMA, kuliah di Konkuk jurusan perfilman deh kalau gak salah, sekarang lulus, beberapa kali main drama, dan udah bikin 2 film, 3 drama. Singkatnya, Minho jadi orang sukses, Key juga sama, semua anak SHINee sukses, Taemin masih kuliah sih sekarang.”

“Ohhhh. Kalau oppa? Anggota Suju yang lain gimana?” Tanya Hyeo So lebih antusias. “Sukses pastinya hahaha. Shindong hyung nikah sama Nari, Leeteuk hyung nikah 2 bulan lagi. Ini sekalian ngasih undangan dari Leeteuk hyung.” Hyeo So terdiam, ia tidak yakin akan menghadiri pesta pernikahaan Eeteuk yang mana artinya ia akan kembali bertemu orang-orang yang ia cintai itu. “Aku di belakang kamu kok, gak usah takut. Kalau kamu gak mau ketemu mereka ok, aku akan usir mereka jauh-jauh dari kamu.” Hyeo So hanya tersenyum.

***

“Jadi ini toko kamu?” Hyeo So mengangguk. “Bagus juga, dan sangat laku pastinya.” Siang ini memang sedang banyak pengunjung yang datang, Eunhyuk melihat sekitar hingga sosok seorang wanita menarik perhatiannya. “Hyeo, kamu kenal sama cewek yang itu gak?”

“Yang mana?” Tanya Hyeo So bingung. “Itu loh, yang pake blouse hitam. Rambutnya di kuncir satu, pakai rok biru muda.” Hyeo So menghela nafas. “Oppa, aku kan gak bisa lihat.” Eunhyuk menepuk keningnya dengan kesal, merasa bersalah. “Maaf maaf, Hyeo So aku lupa. Aku bener-bener minta maaf.” Hyeo So hanya tersenyum. Keduanya tetap mengobrol di belakang toko hingga di lihatnya para pengunjung mulai berkurang.

“Ms. So, Amber has to go. She got some bad news for her project.”

Oh sure, tell her to go as faster as she can.”

“Hyeo! Kamu kenal sama cewek yang tadi aku Tanya?” Hyeo So mengerutkan alis tapi kemudian tersenyum dan memanggil Deborah. “Deb, do you know the girl who wear black blouse , and blue skirt? Or maybe Lanny or Amber use that stuff?”

“Lanny use that, why?”

Nothing, thanks Deb! Nah, namanya Lanny. Oppa suka? Dia karyawanku, lebih tua satu tahun kalau gak salah dari aku. Masih single, dan masih kuliah di NYU. Mau?” ledek Hyeo So. “Enggak!” tolak Eunhyuk cepat. “Gak usah pura-pura deh oppa.” Goda Hyeo So, tapi kemudian ponselnya berdering.

“So speaking, who is this?”

“Ini aku Ho, apa kamu ada waktu sebentar? Besok aku ada acara mendadak, dan aku minta tolong kamu untuk ngajarin aku beberapa hal. Bisa?”

“Ehhhmm.. maybe?”

Oh please, ini penting. Sebentar aja, kalau gak terlalu kepepet mungkin aku gak akan minta hari ini. Yaaa???” Hyeo So berfikir sejenak. “Well, actually i…-“

Good! My apartement is on 306, thanks a lot Hyeo! See ya in an hour.” Hyeo So menghela nafas. “Kenapa?” Tanya Eunhyuk penasaran. “Aku ada perlu sebentar ya oppa. Aku mau ke tempat temen ku dulu.” Hyeo So bangkit dari duduknya. “Cowok atau cewek?!” Tanya Eunhyuk khawatir. “Cowok, tenang dia cowok baik-baik oppa.”

Who knows?!” tuding Eunhyuk. “Enggak oppa, buat jaminan ponselku akan selalu nyala buat oppa. Apartement nya ada di jalan Glendon, Palazzo namanya. Okay? Deb! Lanny! Oppa ngobrol aja sama karyawanku, they know how to speak Korean.” Hyeo So menyeringai seiring kedua karyawannya itu mendekat. “Ngobrol sama kakak ku ya, namanya Eunhyuk. Oh ya Lanny, Eunhyuk think he has a feeling for you.” Hyeo So menepuk bahu Lanny. “YA!!” seru Eunhyuk kesal.

“Eunhyuk oppa, I know you! You’re the main dancer of Super Junior right?!” pipi Eunhyuk langsung bersemu mendengar kalimat yang di lontarkan Lanny. “How did you know me?” Tanya Eunhyuk sedikit curiga. “So eum I mean Ms.So, menjadi kan kami karyawan bukan tanpa alasan. First, we need this job. Second, So is popular amount teenager since she comes to LA. Third, we love Korean. Fourth, we know that she’s Key SHINee ex-wife. And last, we’re officially Shawol and ELF fyi !” jawab Deb menggebu-gebu.

&&&

Thanks sir.” Ucap Hyeo So ramah pada room boy yang mengantarnya menuju apartment Ho. Hyeo So menekan bel beberapa kali hingga seseorang membuka pintu. “Excuse me, is this Ho’s apartment?”

Oh, you must be Ho’s friend. Hyeo So, right? Come on in.” Hyeo So tersenyum lalu masuk ke dalam. “Well, it’s kinda mess here. We have some boys, we’re Ho’s closer friend. I’m Joey, that’s Nikel, Cher, and Yodachi.” Laki-laki itu memperkenalkan. “Oh, nice to meet you guys. So, where’s Ho?”

Oh, he’s going to the supermarket. Buying some meals, fruit, vegetable and soda cream. You can wait in his room, if you feel uncomfortable with us.” Hyeo So ragu dengan tawaran Joey. “Relax, you can lock the door if you don’t believe us. Ho already warning us, I will send you to his room.” Joey benar-benar mengantarkan Hyeo So menuju sebuah kamar dan menyuruh Hyeo So untuk mengunci kamarnya.

Sebenarnya Hyeo So agak merasa tidak aman, ia menggenggam ponselnya erat-erat. Berjalan, meraba-raba mencari tempat untuk duduk hingga akhirnya mendapatkan kasur Ho. “Ouch!” Hyeo So mengambil sesuatu yang tidak sengaja ia duduki. Ia merasa kenal dengan bentuknya, sepertinya tape recorder kecil. Iseng Hyeo menekan sebuah tombol di tape tersebut dan langsung memutar beberapa suara yang telah di rekam sebelumnya.

“Masih tidak bisa lupa, aku masih merindukannya. Kekasih yang paling aku cintai di dunia, satu-satunya gadis ku. Aku pikir aku bisa melupakannya, tapi tetap tidak bisa. Aku harap kau tahu, dan kembali padaku. Aku akan melakukan apapun untuk menebus semua kesalahan ku.”

“Aku masih ingat janji kita, aku akan menepatinya, aku akan berjuang hingga janji kita terwujud. Bagiku kau bukan mimpi buruk, kau adalah mimpi paling indah yang tidak akan bisa di lupakan. Setidaknya kau mengajarkan banyak hal baru yang baik untukku. Walaupun kau meninggalkanku begitu saja, tapi aku tahu semuanya untukku.”

“Aku lulus! Kau harus tahu! Aku lulus! Aku sukses, aku akan mengejarmu. Oh ya, waktu itu aku masuk wajib militer lebih cepat karena itu aku berhenti merekam. Sekarang karirku lebih baik, aku tahu kau tetap berdoa untukku. Terima kasih banyak, saranghae~”

“Hey! Aku berkenalan dengan seseorang hari ini, sangat baik sangat sangat baik. Padahal kami belum kenal tapi ia sangat ramah, namanya Hyeo So. Sangat mirip denganmu, aku hanya berharap itu benar-benar kau.”

“Aku harus dinas ke LA. Kau dimana? Aku ingin mengejarmu saat aku sukses, dengar lah aku akan muncul di hadapanmu saat aku sukses dan melamarmu. Ini janji ku.”

“Aku bertemu dengannya lagi! Ia memiliki 2 toko sekarang, sangat sukses, cantik, ramah dan baik hati. Ia selalu membuatku teringat denganmu, senyumnya, caranya bicara, caranya berfikir, caranya menghiburku. Agak tidak mungkin kalau aku bilang aku menyukainya, kau tetap ada di hatiku.”

“Andaikan aku bisa berbuat sesuatu untuknya. Aku ingin ia bisa melihat indahnya dunia, aku ingin ia menikmati kesuksesannya dengan lebih, aku ingin ia mendapatkan laki-laki yang terbaik untuknya, aku ingin ia melihatku. Mungkin aku bukan siapa-siapanya, tapi aku menyayanginya. Aku ingin ia mendapatkan yang terbaik.”

“Apa ini waktunya untuk membuka lembaran baru? Kenapa belakangan ini aku semakin sering memikirkan Hyeo So? Ia sangat baik, selera humornya juga bagus. Rasanya seperti ada yang kurang sehari saja tidak melihatnya.”

“Lagi-lagi hari ini aku teringat olehmu, apa kau ingat ini hari jadi kita? Mungkin kau lupa, aku juga berusaha melupakannya. Hyeo So sangat baik malam ini, ia menghiburku. Aku semakin menyukainya, aku hanya belum siap membuka lembaran baru. Tapi apa mungkin ia akan menerima ku nanti? Aku menerimanya apa adanya.”

Hyeo So menyeka air matanya yang mengalir dan bertanya pada dirinya sendiri mengapa ia menangis. Apakah karena rasa simpatinya pada Ho? Atau karena rasa harunya akan perasaan Ho padanya? Atau karena rasa sesal dan ribuan kenangan yang tiba-tiba muncul kembali? Hari dimana ia meninggalkan bandara Incheon dan Negara kelahirannya itu yang mungkin untuk selamanya? Hari dimana pada akhirnya ia akan memberikan luka permanen di hati Key dan Minho. Hari saat dirinya membuka lembaran baru, menuju mimpi baru sambil menangis dalam diam. Apakah Minho, merasakan sakit yang di rasakan Ho? Apakah Minho masih mengingatnya? Atau melupakannya sebagaimana dirinya melupakan Minho juga Key selama beberapa tahun belakangan ini. Ataukah berusaha keras melupakan dirinya, dan mencoba membuka lembaran baru? Atau mungkin Minho sudah mendapatkan gadis baru yang memberinya semangat baru dan berhasil menyukseskannya? Apakah mereka memikirkan keadaan Hyeo So yang sekarang? Apakah mereka perduli?

“Hyeo, are you up? Can you please open the door? It’s me Ho.”

TBC

P.S : Part ini juga mengecewakan yaa?? Okeeee maaf lagiii *CRIES*

©2010 SF3SI, Zika

This post/FF has written by Zika, and has claim by Zika signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

104 thoughts on “She’s My (Ex)Wife – Part 28

  1. HAH? Udah publish? Demi apa???!!! Kok aku gak tahuuuuuu!!!
    Kyaaaaahh telat deh balesin komennya.. maaf yaaaa~

  2. baru sadar ternyata part selanjutna udah di publis,,, publish lagi part selanjutnya dooooooong, aku penasaran ho itu siapa??? kalo dari ceritanya, kayanya bukan Minho atau Key deh,
    tapi di rekaman it nunjukin sebelumnya ho udah pernah ketemu sama hyeo soo?? kapan?? di mana?? *nginget2 part sebelumnya
    ayooo dooong part selanjutnya..😦

    1. Aku juga baru sadar hwohohoho~
      Sabar buuuuu sebentar lagi publish kookk ^^
      Silahkan meneliti deh hahahhaa~
      MAKASIH YA KOMENNYAAAA~ ^O^

  3. WHUUUUTTTT udah keluar?!?!?!
    Dan….Hyeo So buta?!?!?!? Key balikan?!?!?!?!
    Ho itu siapa?
    Hyeo So akhirnya sama Key aja kek ya zika eonni (sok kenal) /ditoyor zika eonni huahahahaha
    SoKey couple wkwkwkwkw SoKey shipper^^
    Part 29 kapan eonn? Sebenernya udah selesai sampe part 30 kan?
    Aduuuhhh jadi penasaran *sigh* ngiahahaha
    I’m waiting for the next part^^

    1. Kaget ya?? sama dong hahha aku juga baru tahu sore ini kkkk
      Ho? Siapa yaaaaaa~
      Hahahahha gimana yaaaaa? habis Key udah terlanjur sama Shina tuuuhhh eekekek
      SoKey? Nama couplenya Keyeoso say bukan SoKey *Nadia: Suka-suka aku lah!*
      Udah udah, tinggal nunggu jadwal publish aja kok ^^
      Okeeee kalau gk salah keluar tgl 17 deh part 29 nya🙂
      baca yaaaaa

      MAKASIH NADIA KOMENNYAAAAA :*

  4. Kaget bungudh eonn~ *-*
    Hiyaaaa eonni pasti si Ho itu Minho *Zika eonni: Sotoy!!* wkwkwk
    Wah wkwkwk aku sotoy banget yak eonn ternyata couplenya namanya Keyeoso wkakakakakaka
    Oke kalau begitu Keyeoso shipper^^b
    Tanggal 17????? Gapapa asal jangan tanggal 30 aja huhahahahaha
    Pasti eonn^^

    SAMA-SAMA EONNI :*****

  5. ttep dkung hyeo sm key !!
    rsa y g tga liatt hyeo sma minho,wlau pun key rda” ngselin blikn m shina..
    kok q mkir y ho tuh c minho sih..

  6. hemm. . ho-ssi itu pasti minho deh >< #sotoy
    aissh. . kenapa key balikan ama shina?? lagi??? DX
    haha tapi after all keren kok thor xD lanjut yak,ditunggu part barunya^^v penasaran bgt nih x3
    HWAITING THOR! XDb

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s