TENGGARING – Part 6

TENGGARING – Part 6

Author             : yen

Main Cast        : Ara, SHINee

Support Cast    : Ayah Ara, Bunda Ara, April, Galang, Yoora, dll

Length : Sequel (6/9)

Rating              : General

Genre              : Friendship, Supernatural

Inspired           : Bioskop Indonesia TransTV : Aku Cinta Dia (tayang 15 Februari 2011) dan  semua novel Tere-Liye

How small world! Ternyata Pak Lee manajer QA yang dulu itu Ayahnya Kak Jinki. Dan rumah Kak Jinki waktu masih tinggal di sini, ya rumah yang sekarang ku tinggali.  Ah… kalau begini perkaranya, Ayah atau Bunda pasti tahu alamat mereka di Seoul. Tapi… setelah aku tahu alamatnya, trus gimana ya? Aku kan nggak mungkin ngantar Kak Jinki ke sana. Mesti pakai alasan apa aku pergi ke Seoul? Kalau aku telpon, cerita kalau jiwa-nya Kak Jinki nyasar di sini, apa Pak Lee percaya? Kya… confuse! Bodo ah, ntar dipikirin lagi, kalo udah dapat alamatnya.

“BunBun…!” Panggilku semangat. Kok sepi sih? Tumben sore-sore gini biasanya Bunda lagi di taman, sibuk sama bunga-bunganya.

“Lho?” Kok Bunda malah di sini? Bukannya….

“Cinta…. Kok sore banget pulangnya. Ganti baju sana, trus bantuin Bunda ngeberesin barang-barang di sini ya,” pinta Bunda begitu melihatku.

“Mau diapain kamarnya Bun? Kok Bunda bisa mbuka? Katanya kuncinya di bawa Pak Lee?” Tanyaku memberondong. Bunda sedang menarik-narik kain putih penutup meja di kamar sebelah, kamar yang nggak boleh ku masuki.

“Tadi pagi kuncinya datang, bareng sama surat dari Pak Lee. Beliau minta tolong supaya barang-barangnya di kirim ke Seoul. Rencananya mau Bunda pilih-pilih dulu, trus nanti mau di shipping. Udah sana ganti baju, Bunda mau masukin ini ke mesin cuci,” jawab Bunda menggendong sepelukan penuh kain putih.

Bukannya menuruti perintah Bunda, aku justru masuk ke dalam kamar itu. Apa sih isinya, kok dulu Bunda segitu ngototnya nggak ngebolehin aku masuk. Biasa aja tu. Seperti kamar tidur biasa. Ada tempat tidur, meja belajar, rak buku….

Wiiiihiiiii…. SAKSOFON oi! Keren betul! Wah, bekas penghuninya pasti orang keren nih, bukunya juga nggak kalah keren. Busyet.. .. bahasa Inggris semua. Ah… kalau yang ini aku kenal, Art Of War-nya Tsun Zhu. Trus yang ini The Little Pince-nya Antoine de Saint-Exupéry, Of Mice and Men-nya John Steinbeck. Ah, ada juga A Child Called It, The Lost Boy dan A Man Named Dave, buku-bukunya Dave Pelzer. Aku udah baca terjemahannya nih. Kalau versi aslinya gini… wuih… mana ngerti.

“Ngapain kamu di kamarku?” Seperti suara yang familiar.

“Lho?? Kak Jinki? Kok bisa ada di sini?” Tiba-tiba aja Kak Jinki sudah duduk di tepi tempat tidur.

Ini kan kamar aku,” jawabnya kalem.

“Hah…?? Kamar Kak Jinki di sini?” Seruku penuh kekagetan.

“Kamu kok bisa di sini?” Tanya Kak Jinki bingung.

“Ini kan rumah aku, eh, maksudnya rumah Ayah aku. Kamarku di sebelah,” jawabku sembari menunjuk ke arah kamarku.

“Ya ampun…. KAK JINKI!! Kenapa nggak bilang dari dulu kalau ini kamar Kakak! Aku kan nggak perlu repot-repot ngerayu Key segala,” semburku mengkal, sadar dengan kenyataan bahwa kamar kami bersebelahan. Bagaimana tidak, coba Kak Jinki bilang dari dulu, kan aku langsung tahu kalau dia anak Pak Lee, tinggal tanya alamat ke Ayah doang, habis perkara.

“Oh maaf, aku kan nggak tahu kalau yang tinggal di sebelah itu kamu. Aku memang sengaja menghindar ketemu dengan penghuni rumah ini. Soalnya, aku sempat dengar kalau umma-mu melarang kamarku di sentuh, jadi ku pikir, karena umma-mu sudah menghormatiku, aku juga akan menghormati dan tidak menggangu penghuni rumah ini. Lagipula, bukannya yang tinggal di sebelah itu namanya Cinta?”  Urai Kak Jinki kalem.

“Eh? Cinta? Oh iya…. Di rumah memang panggilanku Cinta,” sahutku malu, Kak Jinki menatapku geli.

“Kamu ngapain ngegeratak kamar orang?” Tuding Kak Jinki sembari melirik ke arah buku yang sedang ku pegang.

“Eh, ini. Kata Bunda, barang-barangnya mau dikirim ke Seoul,” kilahku sembari buru-buru meletakkan buku yang ku pegang ke tempatnya tadi.

“Seoul?” Tanya Kak Jinki.

“Yap. Mungkin ke rumah Kakak yang baru,” jawabku, mengangguk. Hening. Kak Jinki terlihat sedang memikirkan sesuatu.

“Cinta! Kok malah bengong di sini? Ganti baju sana, mandi sekalian, sudah sore!” Perintah Bunda dari bawah bingkai pintu kamar Kak Jinki.

***

Hemmmmm… mandi sore emang nikmat! Tanpa buru-buru, tanpa teriakan Bunda nyuruh cepet turun sarapan, tanpa seragam yang suka nyelip entah dimana.

Langsung pake piyama aja deh. Yang mana ya…. Yang gambar lebah aja ah. Hmmm… imut…. Lebahnya! Kalau Aranya sih bukannya imut, tapi amit. Hehehe… mari menistakan diri sendiri!

“KYAAA…! NGGAK SOPAN! KELUAR!” Sergahku kaget saat melihat Kak Jinki tiba-tiba menembus dinding dari kamar sebelah, berdiri di dekat meja belajarku. Aku baru aja selesai pakai baju.

“CINTA…. KENAPA TERIAK-TERIAK SAYANG?” Seru Bunda. Kalau di dengar dari suaranya, Bunda ada di lantai bawah.

“NGGAK KOK BUN. ADA TIKUS, EH KECOA!” Sahutku tak kalah nyaring. Hening. Pasti Bunda lagi geleng-geleng kepala sekarang.

Aku kembali menatap Kak Jinki, curiga. Sejak kapan dia masuk? Jangan-jangan….

“Maaf! Maaf! Aku baru masuk kok, bener, sumpah!” Elak Kak Jinki buru-buru karena melihat reaksi dan ekspresiku.

“Ngapain ke sini? Nggak sopan tau masuk-masuk ke kamar perempuan. Nggak minta ijin pula!” Semburku kesal.

“Maaf…. Lagian kan aku nggak liat apa-apa. Kalaupun liat, nggak papa juga kan? Eh, maksud aku… walaupun liat….” Kak Jinki menggaruk-garuk kepalnya.

“Mo ngapain ke sini?” Potongku galak. Nggak usah dibahas deh masalah lihat tidaknya, jengah….

“Ehmm…. Tadi, kamu bilang, barang-barang di kamarku mau di kirim ke Seoul kan?” Tanya Kak Jinki ragu-ragu.

“Hmmm….” Aku menggumam garang, masih kesal dengan ketidaksopanannya.

“Menurutmu… gimana kalau aku ngikutin barang-barang itu aja? Jadi aku bisa sampai ke rumah. Menurutmu… badan ku ada di sana kan? Yah, setidaknya aku bisa ketemu keluargaku kan? Mereka pasti tau, badanku di mana. Iya kan?” Ungkap Kak Jinki ragu-ragu.

Aku manggut-manggut mendengar usul Kak Jinki. Yah… lumayan. Bener juga. Eh, tapi kan….

“Kak, Bunda tadi bilang barangnya mau di shipping. KAPAL. Perlu sebulan lebih dari sini ke Seoul. Emangnya tahan nggak tidur sebulan penuh? Bukannya Kak Jinki bilang, kalau ketiduran di menara air, bangun-bangun udah di kamar?”

Wajah Kak Jinki seketika terlihat jerih mendengar analisaku. Kasihan. Sepertinya dia mulai frustasi.

“Sabar Kak. Yakin deh, pasti ada jalan kok. Tuhan sudah ngasih kesempatan hidup buat Kakak, pasti Tuhan juga ngasih jalan supaya Kakak bisa hidup normal. Bukan kayak gini selamanya. Tuhan ngerencanain sesuatu yang kita nggak tau itu apa. Tapi Ara yakin, pasti itu yang terbaik buat Kak Jinki. Terindah buat Kak Jinki” Yahahaha…. ARA! Sok bijak deh…. Duh… tapi jadi terharu beneran ngeliat ekspresi Kak Jinki.

“Makasih ya!” Kak Jinki tersenyum tulus, manis. Manis banget. Ah… untung aja aku orang Indonesia asli. Apalah….

***

“Kenalkan, aku Ara” Aku mengulurkan tangan kearah cowok berwajah imut yang berdiri di depanku.

“Taemin,” ujarnya sembari menyambut tanganku.

Jawaban atas masalah Kak Jinki datang begitu cepat, tanpa disangka-sangka. Ada sedikit masalah di pabrik, Pak Lee selaku manajer QA perusahaan pusat ditugaskan untuk membantu ayah menyelesaikan masalah itu. Beliau memutuskan untuk sekalian mengambil saksofon Kak Jinki, riskan kalau harus dipaketkan, begitu katanya. Beliau juga mengajak serta Taemin, anak bungsunya, adik Kak Jinki. Karena Pak Lee dan Ayah bakalan sangat sibuk di pabrik, hampir setiap hari lembur hingga tengah malam, maka Taemin menginap di rumah kami. Aku yang mendapat mandat untuk menemaninya.

“Cinta, tolong antar Taemin ke kamarnya ya!” Ujar Bunda. Aku segera mengangkat travel bag Taemin, membawanya menaikii tangga.

“Biar aku saja yang bawa. Berat!” Seru Taemin, menolak. Aku tersenyum. Akhirnya kami mengangkat travel bag itu bersama-sama. Kak Jinki yang berdiri di anak tangga teratas tersenyum.

“Ehmmm…. Langsung akrab nih…. Serasi deh, sama-sama anak kecil,” goda Kak Jinki saat kami melewatinya. Aku mengerucutkan bibirku, sembunyi-sembunyi tentunya, takut ketahuan Taemin. Kan nggak lucu kalau nggak ada angin nggak ada hujan,  tiba-tiba aku manyun.

“Wah, kamar aku sekarang kamu tempati ya?” Tanya Taemin saat aku meletakkan kopernya di kamar Kak Jinki.

“Oh, itu dulu kamar kamu ya?” Aku balik bertanya. Taemin mengangguk, duduk di tepi tempat tidurnya.

“Iya. Itu sekarang jadi kamar aku. Soalnya kan kamar yang ini nggak boleh di pakai. Bahkan kuncinya aja di bawa. Iya kan?” Jelasku.

“Umma yang minta begitu. Beliau bilang siapa tahu saat Jinki hyung sadar, dia masih ingin balik ke sini, menyelesaikan SMA-nya” Wajah Taemin terlihat sedikit sedih saat mengatakannya.

“Kak Jinki?” Aku menatap Kak Jinki yang bersandar pada bingkai pintu, memperhatikan aku dan Taemin.

“Iya. Kakak-ku. Dia kecelakaan, lalu mengalami koma, sudah setahun lebih belum juga sadar”

“Setahun lebih?” Aku baru sadar kalau Kak Jinki sudah selama itu hidup tanpa badan.

“Kedengaran mustahil ya? Dokter juga tidak ada yang bisa menjelaskan. Jinki hyung bisa bertahan hidup selama itu, hanya bergantung pada infus intravena”

“Tanpa alat bantu apapun?” Tanyaku menegaskan.

“Begitulah. Semua organnya normal, kesehatannya juga baik. Hanya saja dia tidak sadarkan diri”

“Apa sampai  sekarang Kak Jinki masih di rumah sakit?”  Aku menatap lurus Kak Jinki yang sekarang duduk disebelah Taemin.

“Tidak. Umma merawatnya dirumah. Bahkan saat dia sedang koma pun, Umma tetap terlihat lebih sayang pada Jinki hyung daripada aku.” Taemin terlihat sedikit cemberut saat mengatakan hal ini. Sementara Kak Jinki menatapnya tidak percaya.

“Ya! Walaupun aku tidak ingat dia, tapi ku rasa dia anak manja yang menyebalkan. Bagaimana mungkin dia iri pada orang yang bangun saja tidak bisa?” Kak Jinki ikut-ikutan cemberut.

“Hehehe…,” seperti melihat adu cemberut antara kakak dan adik.

“Kenapa kau tertawa?” Sembur keduanya bersamaan, mengembungkan pipi, lagi-lagi berbarengan.

“Hahaha… mirip!” Seruku sambil tertawa.

“Mirip apa? Aku? Mirip dia? Anak ingusan ini? Kau rabun ya? Jelas aku lebih tampan!” Sembur Kak Jinki.

“Mirip?” Taemin memandangku heran. Hehehe… kalau saja dia bisa mendengar tanggapan Kak Jinki barusan, pasti sudah terjadi perang saudara.

“Eh, maksudku, kau dan kakakmu pasti sangat akrab,” jawabku pada Taemin.

“Akrab? Tidak juga. Jinki hyung menyebalkan, dia tidak pernah mau mengajariku membuat PR. Apa gunanya punya hyung yang pintar kalau pelitnya minta ampun seperti dia,” sahut Taemin kesal.

“Ohhh….selain manja dia juga bodoh,” seru Kak Jinki, aku melotot padanya. Bagaimana bisa dia mengatai adiknya seperti itu?

“Sepertinya kamu rindu pada Kakakmu,” ucapku pada Taemin. Aku ikut duduk di tepi tempat tidur.

“Yah…bagaimanapun dia hyung-ku. Sepi kalau tidak ada musuh,” Taemin mencengir.

“Aku juga pengen punya saudara, biar ada temen berantem.” Aku ikut mencengir lebar.

“Kau anak tunggal ya? Jadi saudaraku saja. Kau umur berapa?” Tanya Taemin.

“Aku 14 tahun 11 bulan”

“Kau boleh memanggilku Oppa!” Seru Taemin semangat.

“Oppa?” Gumamku heran, memangnya dia lebih tua dariku?

“CINTA…! Ajak Taemin turun sayang! Makan malam sudah siap! “ Seru Bunda dari lantai bawah.

“Cinta…,” ucap Taemin dan Kak Jinki berbarengan, mengejekku. Membuatku manyun. Kalau soal meledek orang lain, mereka kompak sekali.

To be continued

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

34 thoughts on “TENGGARING – Part 6”

  1. uwaaaaaah akhirnya taem muncuuuuul!

    wah ara jadinya ke seoul atau enggak nih?
    penasaraaaan!

    lanjut ya thooor!

    1. Kyaaa… taemin muncul! (author ikut teriak2 ga jelas)
      Hmmm… jadi ke seoul ga ya? liat2 scedule dulu deh *PLAK!*
      Makasih Mya… dilanjut…

  2. Again and again!
    kebiasaan jelek! kebiasaan jelek! ckckck *geleng2kepala* cinta..cinta..mbok ya,jgn dipotong di tengah jalan cin..nanti dipelototin rangga loh (apalah saya ini!) hakakak

    Ah! penggunaan kata jengah yg tepat!!

    errr! buku2nya Jinki bikin mupeng ya Yen yg asli pula,bkn terjemahan..aku jg udah baca yg karya Dave sama tsun zhu. keren! keren! keren!

    PART 7! PART 7! SAYA MINTA PART 7!
    *Yenni: Berisik ya?bungkem nih! -_-!

    1. Iya cin… (kok jd inget *****)
      Little Prince bagus loh. Aku pernah baca, pinjem di perpus. Pengen punya, tapi blum ketemu (di pameran buku ga ada. Mungkin di toko ya?? Hehehe…)
      Klo mau mbaca cepet, ga pake nunggu, coba aja hubungin admin (Lana, maybe). Siapa tau dikasih, kan udah ku kirim sampe part terakhir.
      Tapi… mendingan nunggu dipublish aja lah, biar berasa sensasinya (sensasi apaan coba??)

  3. Huaaaaa akhirnya taemin muncuuuuul :3 berarti harus ke korea dong? Ckck ayo author ditunggu lanjutannya ya 😀

    1. Iyaaaa…. Taemin muncul!
      Ke Korea?? Mau!! (Author mupeng berat)
      Makasih Nuri…
      Eh, next part, Taemin muncul lagi lho!
      *Nuri : ga nanya!

  4. oh…fiuhhhh…selesai baca ff estafet malah tambah penasaran!! lanjut thooorrr…
    ff nya daebak…rada aneh ngeliat jinki n taemin berantem, tapi tak apalah…ni ff kan milik yg punya ff jd terserah yg buat ff toh..
    ah…baru kali ni baca ff macam ini..

    author dr kalimantan y?
    saya jg dr kalimantan lho…..hohohoho *gapen bgt…

    1. Estafet?? Wow?? Menang gak?? Hehehe…
      Eh, emang sebenernya Jinki ama Taemin ga pernah berantem ya??
      Upsss… ketahuan deh klo saya gak gitu kenal SHINee.

      Author org Indonesia 🙂
      Dee, kalimantannya mana?

  5. huwa…..beda_beda_beda #auth0r: mksud l0# crtanya dah mlai trbka, dri bnyak tnda tnyanya. Ara dah ktmu ma keluarga ny Jinki, gmana klanjutannya ya ? Jinki bkalan hdup lgi gak ya ? #ni reader cerewet bnget# hehe….mian y. Next part ASAP ya.

    1. Emang kmaren banyak tanda tanya-nya ya?? Oh….
      Nah, Amellia pinter deh, bisa tau klo pertanyaan terbesarnya adalah : “Jinki bakalan hidup lagi ga ya??”
      Menurut Amellia?

      Ukay, next part ASAP kebakaran hutan (?)

  6. senengny lnjutn ff ney dh publish..
    WE WANT PART 7 WE WANT PART 7…
    author:ney ank maksa bner…
    Gpp thor,y ptg part 7 ny sgra publish..

  7. Owh…
    trnyata gituu…
    ya.. ya.. ya..
    Ak tau skrang,
    #ngangguk2
    yehey!! dedek Taemin akhirny mncul jg.
    #apalahh…
    tp ak bingung ni, apa hub.nya antara tenggaring ma arwah jinki yg cri bdannya?
    =_=a
    lnjutny dtunggu bgt!!

    1. Duh… apa ya hubungannya? Hmmm… mungkin buat Ara, cerita itu berawal (dia ketemu Jinki pertama kali) dan berakhir -sekaligus awal yg baru- (masih of the record) di pohon Tenggaring.
      Gitu….
      Ah… author payah nih, masak bikin spoiler sendiri sih?
      Tapi… ya udah deh, khusus buat Loela.

  8. ahaha… lucu bgt sih tuh jinki ma taemin kompak .. ahahah…
    wahh ternyata jinki arwahnya berterbangan ya??
    berarti harus di balikin ke ragana dong .. ke ajaiban .. syukurlah ad taemin …
    hwaa nanti si ara ikut ke seoul ngak >?? aku mau tau lanjutannyathor ..

  9. Komen apa yaaaaa ._.
    Bagus deh
    hwuahahha.. bingung, habisnya aku udah baca sampe tamat sih, jadi gak mau baca ulang deh /plak
    Yaaaaa yang pasti saya cuma berharap anda bisa mengirimkan FF macem ini lagi hwoohohoho~

    And well, gak ada bocoran buat readers honey 🙂 ekekeke, bocoran FF cuma bisa di kasih ke admin 😀 *curang bgt*

  10. Kyaaaa… keren! ^^
    Lanjutannya.. lanjutannya dong!
    Waah berarti Jinki masih hidup dong?
    Ah, aneh2 aja, kayaknya arwahnya masih betah di Indonesia ya? 🙂
    Yap, asik. Ini akan menjadi salah satu FF favoritku, hehehe..
    Lanjutan lanjutan lanjutan !
    😀

  11. Hahaha,, lucu bget pas bagian Taemin-Ara-Jinki… Pada manyun2an tu kakak adek. Hwahahahah… XD
    Tpi, tegaan si Jinki. Masa adekny dibilang bodoh?? Ck…
    Daebak ah, gak tau hrus ngomong apa lagi.. 😀

  12. Tetem sama jinki gak akur, tp kbetulan bgt mreka balik ke indo..
    Gimana tuh nanti cara jinki pulang?
    trus waktu udah sadar apa dia bkal inget ara?
    lnjut~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s