Incomplete Marriagea

Incomplete Marriage – Part 3

Author : Yuyu

Main Cast :

  • Kim Jonghyun
  • Lee Hyunji

Support Cast :

  • Lee Taemin
  • Lee Jinki
  • Han Younji

Genre : Romance, Family, Friendship

Rating : PG-16

INCOMPLETE MARRIAGE


Hyunji duduk termenung di kursinya. Park seonsaengnim telah keluar beberapa menit yang lalu, tapi Hyunji tak juga beranjak dari tempat ia duduk sekarang. Hyunji menghembuskan udara dari mulutnya dan membenamkan wajahnya dalam tumpukan buku. Seseorang menepuk pundaknya dari belakang, Hyunji mengangkat kepalanya dan menatap orang itu dengan sinis tapi segera berubah ketika ternyata yang menepuk pundaknya adalah Onew.

“Oh, waeyo?” Tanya Hyunji.

Onew duduk di kursi Jonghyun yang sekarang kosong dan menatap Hyunji dalam-dalam lalu mendesah pelan.
”Jonghyun, dia memang terkadang suka bertingkah aneh. Tapi—“
”Apakah dia gay?” Potong Hyunji tidak sabaran. Wajah Onew tidak menunjukkan ekspresi kaget, hanya datar karena ini bukan kali pertamanya mendengar pertanyaan seperti itu. Onew menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
”Kalau dia gay, apa kau pikir aku adalah pasangannya?”
Hyunji mengangkat bahunya dengan cuek.
”Aku berani mempertaruhkan seluruh hidupku untuk menjawab bahwa dia normal.”
”Benarkah? Tapi kenapa tadi dia …” Hyunji tidak melanjutkan kata-katanya sendiri dan bergelut dengan pikirannya. Onew tersenyum kecil melihat wajah Hyunji yang sedang berpikir keras.

“Tentang tadi pagi, aku yakin dia punya alasannya sendiri. Jadi bertahanlah menghadapi sifat konyolnya.” Onew bangkit dari duduknya, membuat Hyunji harus mendongak untuk menatap Onew. Kedua mata Hyunji terbelalak. Mulutnya terbuka tapi tak ada suara yang sanggup ia keluarkan.
”Mian, aku tidak sengaja memergoki kalian tadi pagi. Tapi tenang saja, hal ini tidak akan tersebar dari mulutku.” Onew tertawa kecil dan berlalu pergi.

“Huh? Apa yang kau bicarakan dengan Onew?” Jonghyun berjalan ke arah Hyunji meski kepalanya masih menoleh pada sosok Onew yang sudah keluar dari ruang kelas. Hyunji mendengus pelan. Saat ini ia sangat tidak ingin melihat wajah Jonghyun. Hyunji merapikan buku-bukunya dan berjalan pergi. Jonghyun mengikuti langkah Hyunji dengan cepat agar tidak tertinggal.
”Yaa, kenapa sekarang kau mengabaikanku?” Jonghyun menolehkan kepalanya ke arah Hyunji yang berpura-pura tidak mendengar suara Jonghyun, berpura-pura Jonghyun sedang tidak berada di sana. Berkali-kali Jonghyun mengajaknya bicara, berusaha agar Hyunji mengakui keberadaannya.
”Pfft! Kau masih marah karena kejadian tadi pagi?” Gerutu Jonghyun akhirnya. Hyunji menatap Jonghyun dengan tajam dan menghela nafas panjang.
”Jangan mendekatiku terus Kim Jonghyun, atau para fans mu akan kabur karena mengira kau gay.” Cerca Hyunji meneruskan langkahnya ke perpustakaan. Jonghyun tersenyum tipis hingga bahkan Hyunji pun tidak menyadarinya.

“Aku tidak peduli dengan mereka semua, aku hanya peduli padamu.” Bisik Jonghyun ditelinga Hyunji. Semburat merah mulai menyebar dari pipi Hyunji hingga ke telinganya.

Jonghyun terkekeh pelan, “Jangan menatapku seperti kau akan membunuhku saja..” Jonghyun menyisipkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan memandang Hyunji sesaat lalu tersenyum hangat dan meninggalkan Hyunji yang masih belum bisa berkata-kata melihat tingkah laku Jonghyun yang sangat membuatnya bertanya-tanya. Jonghyun mengeluarkan hp nya, ia mengetikkan beberapa kata-kata lalu mengirimkan pesan singkat tersebut. Jonghyun menyimpan kembali hp nya ke dalam saku dan menyeringai puas.

Hp Hyunji bergetar, ia mengeluarkannya dan membaca pesan singkat dari Jonghyun :

Ayo kita kencan sepulang sekolah, Lee Agasshi –Kim Jonghyun

Mata Hyunji terbelalak lebar. Lee agasshi? Batin Hyunji.

Mungkinkah apa yang ia pikirkan saat ini terjadi? Ataukah Jonghyun hanya salah mengirimkan pesan yang seharusnya ia kirim ke Taemin? Hyunji mendongak, mencari sosok Jonghyun yang mulai membelok. Jonghyun menolehkan wajahnya sedikit, tidak benar-benar menatap Hyunji dan menyeringai.

Hyunji merutuk dalam hatinya. Jonghyun mempermainkannya selama ini?

***
Begitu jam pulang sekolah, Jonghyun langsung menghilang dari kelas sebelum Hyunji bisa meminta penjelasan. Dengan mengerutkan keningnya, Hyunji membereskan barang-barangnya dan berlari keluar kelas. Ia harus mencari Jonghyun dan minta penjelasan hari ini juga. Dengan panik Hyunji melihat ke sekelilingnya, tapi tidak juga ada tanda-tanda kehadiran Jonghyun.
”Kau mencariku, Lee Agasshi?” Jonghyun membisikkan kalimat terakhirnya di telinga Hyunji. Jonghyun berdiri di gerbang sekolah dengan kedua tangannya terlipat. Tidak ada ketakutan sedikitpun terlihat di wajahnya.

“Yaaaa! Apa maksud dari pesan singkatmu tadi? Dan apa maksudmu dengan Lee Agasshi?” Hyunji merendahkan suaranya, tidak ingin ada murid lain yang mendengarnya.

“Jangan bermain bodoh denganku. Aku sudah tau semuanya sejak awal—tentang jati dirimu. Berterima kasih lah karena akhirnya aku mengundangmu dalam permainanku.”
”Mwo?? Jadi selama ini kau mempermainkanku? Kau… Kau !!” Hyunji bahkan tidak tau apa yang harus ia katakan lagi karena terlalu marah. Jonghyun pikir siapa dirinya hingga bisa dipermainkan begitu saja?

Hyunji menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia menghentakkan kepalan tangannya ke telapak tangannya yang lain. Jonghyun mundur beberapa langkah, ia tidak ingin menjadi sasak tinju Hyunji.
”Hei, tenanglah.. Aku minta maaf karena tidak mengatakannya sejak awal, aku hanya bingung harus bagaimana mengatakannya padamu, oke?” Jonghyun memajukan telapak tangannya, menjadikannya sebagai tameng kalau saja Hyunji memukulnya dengan tiba-tiba.

“Argggh! Whatever!” Erang Hyunji frustasi. Hyunji berbalik dan melangkah menjauh dari Jonghyun.

“Tunggu! Kau mau ke mana? Bukankah aku sudah bilang kalau kita akan kencan sepulang sekolah?” Jonghyun menarik tangan Hyunji, menahannya agar tidak pergi. Jonghyun agak tidak percaya karena Hyunji tidak memukulnya dan hanya akan pergi begitu saja. Setidaknya, dalam benak Jonghyun ia pikir ia akan mendapatkan sedikitnya dua pukulan dari Hyunji. Tapi, sekarang Hyunji justru pergi begitu saja?
”Lepaskan aku sebelum aku berubah pikiran dan memukulmu. And I don’t give a damn! It’s your date, not mine!” Hyunji menghempaskan tangan Jonghyun dengan kasar. Ia benar-benar marah. Seenaknya saja Jonghyun mempermainkannya seperti ini. Apakah Jonghyun tidak tau bagaimana paniknya Hyunji kalau sampai Jonghyun tau tentang identitas aslinya? Tapi ternyata Jonghyun sudah tau dan terus tertawa di belakang punggungnya. Bagaimana mungkin Hyunji tidak marah karena hal itu?
”It’s for my dad! Kau lupa? Dia sekarat, dan aku hanya ingin membahagiakannya. Dia akan curiga kalau kita tidak pernah berkencan, kan?” Jonghyun memelas, mengatupkan kedua tangannya dan memandang Hyunji dengan tatapan memohon.

Hyunji mengerang pelan. Itulah alasan utama mengapa ia setuju berpura-pura bersama Jonghyun. Dan sekarang Jonghyun memohon padanya dengan alasan yang sama, bagaimana mungkin Hyunji tidak luluh?

***
”Lepaskan tanganmu!” Desis Hyunji saat Jonghyun menautkan jari-jari mereka dan berjalan berdampingan.
”Kita kan pacaran—bahkan akan bertunangan. Aneh kan kalau kita tidak berpegangan tangan?” Tanya Jonghyun balik.
”Tidak aneh bagiku.”

“Tentu saja karena kau tidak pernah berpacaran. Memangnya siapa yang bisa kau pacari? Younji?” Jonghyun memutar bola matanya dan tertawa sinis. “Ow!” Pekik Jonghyun saat Hyunji memukul lengannya, dan sejujurnya Hyunji memukul Jonghyun dengan sangat keras.

“Kalau kau mengejekku lagi, aku akan pulang sekarang juga!” Ancam Hyunji. Jonghyun mengangguk, menggerakkan jari-jarinya ke udara sebagai tanda bahwa ia menyerah pada Hyunji.

“Hei, ayo main itu!” Ajak Hyunji histeris saat melihat mesin penangkap boneka di samping sebuah toko mainan. Hyunji menarik Jonghyun bersamanya. Hyunji menatap boneka-boneka itu dengan senang, ia menolehkan kepalanya ke belakang dan mengulurkan tangannya pada Jonghyun. Jonghyun melihat Hyunji dan tangannya secara bergantian lalu menggerakkan alisnya meminta penjelasan dari Hyunji.
”Berikan aku uang koin, aku mau mencobanya. Bukankah namja harus membayar untuk kencan?” Jelas Hyunji.

“Kau pintar dalam hal memeras.” Jonghyun terkekeh pelan dan menyelipkan uang koin ke dalam mesin tersebut. Hyunji mencobanya berkali-kali, tapi boneka sapi yang inginkan tidak juga ia dapatkan. Hyunji memberengut kesal. Dulunya ia pandai memainkan mesin ini, ia selalu bisa mendapatkan boneka yang inginkan. Tapi itu sudah lama sekali, ketika ia masih berada di sekolah dasar dan orangtuanya belum meninggal dalam kecelakaan.

“Mau aku ambilkan boneka itu untukmu?” Tanya Jonghyun pada Hyunji yang masih terus menatapi boneka itu dari luar kaca.

“Uh, tidak. Aku bisa mendapatkannya sendiri.” Tolak Hyunji bersikeras. Jonghyun—lagi-lagi—memasukkan uang koin ke dalam mesin tersebut. Hyunji menekan tombol ‘start’ tapi mulai terlihat panik saat lagi-lagi boneka yang ia jepit terjatuh di dalam tumpukan boneka lain. Jonghyun menggelengkan kepalanya dengan pelan, melihat betapa keras kepalanya Hyunji. Lagi, Jonghyun memasukkan uang koin terakhir yang ia miliki.

“Kau harusnya memegangnya seperti ini..” Jonghyun menarik tangan Hyunji, mendaratkannya diatas tuas penjepit, lalu membungkusnya dengan tangannya sendiri. Jonghyun menggerakkan tangan Hyunji, mengarahkan penjepitnya ke arah boneka yang menjadi sasaran Hyunji.
”Pastikan sasarannya terjepit dengan erat sebelum kau mengangkatnya naik..” Bisik Jonghyun ditelinga Hyunji membuat yeoja itu menegang ditempatnya berdiri, tidak bisa benar-benar mengerti apa yang dikatakan Jonghyun.

Jonghyun melirik ke arah Hyunji, tau bahwa sekarang yeoja itu tengah gugup dengan kedekatan mereka. Boneka yang dari tadi ingin Hyunji dapatkan sekarang bertengker manis di kotak kecil sebelah kri bawah mesin tersebut.

Jonghyun menunduk untuk mengambil boneka itu dan kembali melirik Hyunji. Jonghyun tersenyum tipis, “Kau terlihat sangat manis.” Ucapnya pelan lalu mengecup pipi Hyunji.

“Yaaaaa!” Teriak Hyunji. Satu tangannya mendarat di tempat Jonghyun baru saja menciumnya. Jonghyun berlari dengan cepat saat Hyunji mengejarnya. Jonghyun tidak bisa menghentikan tawanya saat melihat wajah Hyunji yang semerah tomat.
”Selamat makan!” Ucap Jonghyun dan Hyunji berbarengan setelah pesanan mereka di café outdoor di sajikan.

“Aaaah~” Jonghyun menyodorkan sepotong daging ke arah Hyunji. Hyunji mengangkat alisnya. Apalagi yang sedang dilakukan idiot ini, batin Hyunji. Hyunji bersikeras tidak ingin membuka mulutnya. Jonghyun berdecak pelan dan berbisik dengan suara rendah.

“Appa menyewa orang untuk memata-matai kita. Jadi kita harus terlihat seperti sepasang kekasih yang sesungguhnya. Hyunji menegakkan tubuhnya dan bersiap untuk menoleh ke belakang tapi Jonghyun menahan pundak Hyunji agar dia tidak menoleh.

“Jangan lihat ke belakang. Mereka akan curiga. Jadi, kau cukup berakting denganku saja.”

“Aku bisa menghajar mereka, kau tau?”
”Dan kau bisa membuat appa ku semakin curiga, kau tau?” Balas Jonghyun sengit.

Hyunji terlihat ragu untuk sesaat, tapi akhirnya ia mendesah pelan dan menyerah. Hyunji membuka mulutnya, membiarkan Jonghyun menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya.

Jonghyun tersenyum puas. Diam-diam menikmatinya kemenangannya. Jonghyun tidak habis pikir, sepolos apa Hyunji hingga Jonghyun bisa terus membohonginya dengan mudah?
Bukankah terdengar sangat tidak masuk akal kalau orangtua Jonghyun menyewa orang untuk memata-matai kencan mereka padahal orangtua Jonghyun sendiri tidak akan tau kapan Jonghyun akan memiliki kencan?
”Aaaaah~” Ucap Jonghyun lagi dan kembali menyodorkan potongan daging yang ke lima.
”Hentikanlah, orang-orang melihat ke arah kita sekarang.” Hyunji menundukkan wajahnya, berpura-pura sibuk dengan makanannya.

“Mereka hanya iri dengan kemesraan kita.” Jawab Jonghyun asal.

“Mereka sedang melihat dua orang gay!” Desis Hyunji.

Jonghyun hanya tertawa kecil, memasukkan potongan daging itu ke mulut Hyunji saat Hyunji baru saja selesai berbicara.

Yah, saat ini mereka masih memakai seragam sekolah. Orang-orang melihat Hyunji dan mengira dia sebagai namja berkat seragam dan rambut pendeknya yang membuat ia terlihat tidak berbeda dengan Jonghyun.

Tapi Jonghyun justru asyik-asyik saja dan tidak peduli apa yang dilihat orang lain. Hyunji adalah perempuan, salahkan mata mereka yang tidak bisa melihat kecantikan Hyunji, batin Jonghyun.

“Hei, dengar. Ini adalah kencan pertama dan terakhir. Setelah ini kau harus segera mengurus orangtua mu dan juga pertunangan itu. Demi Tuhan, sandiwara ini semakin menyeretku lebih dalam lagi.” Hyunji menusuk-nusukkan daging yang tersisa di piringnya menggunakan garpu.

“Hmm, sebenarnya eomma sudah menetapkan hari pertunangan kita minggu depan.”
”MWOOO!?”
”Hm-mmm. Dan mereka punya hadiah spesial untukmu dihari pertunangan kita.” Jonghyun menyeringai tipis, membuat Hyunji bisa merasakan akan datangnya kabar buruk.

“Yaaa, aku tidak mau bertunangan denganmu!” Protes Hyunji.

“Please, bukankah kau sudah berjanji untuk menolongku, huh? Dan aku berjanji ini adalah tahap terakhir, orangtuaku tidak akan memaksa kita menikah.” Jonghyun menatap Hyunji dengan matanya yang berbinar-binar membuat Hyunji sulit untuk menolak permintaannya.
”Urg!” Dengus Hyunji.
”Atau mungkin mereka akan melakukannya setelah kita tamat sekolah setengah tahun lagi.” Ucap Jonghyun sambil lalu, sengaja ingin membuat Hyunji kesal. Hyunji melempar serbet ke wajah Jonghyun dan beranjak dari tempat duduknya.

“Yaaa, aku hanya bercanda. Jangan marah.” Ucap Jonghyun yang berlari kecil dan mengejar Hyunji dengan geli. Hyunji memalingkan wajahnya, tidak mau menatap Jonghyun.

“Aigoo, you’re so cute baby..” Jonghyun menyentuh hidung Hyunji menggunakan jari telunjuk. Ia menarik Hyunji mendekat dan melingkarkan lengannya di pinggang langsing milik Hyunji.
”Yaaaa!”

***

“Dia sudah tau tentang jati dirimu sejak makan malam pertama kalian?” Younji memicingkan matanya. Tangannya masih sibuk mengelap gelas-gelas bertangkai yang merupakan properti café. Hyunji mendesah dan menggangguk.

“Mundur saja dari sandiwara ini. Aku yakin namja bernama Kim Jonghyun itu tidak memiliki niat baik kalau sejak awal dia sudah membohongimu.” Saran Younji.

“Aku juga berpikir begitu. Tapi …”
”Tapi kau tidak ingin mengecewakan Ayah nya, iya kan? Tapi dia itu Ayah Kim Jonghyun, bukan Ayahmu.”
”Karena aku tidak bisa membahagiakan Ayahku—dia sudah tiada. Aku hanya merasa alangkah baiknya kalau aku bisa membahagiakan Ayah namja brengsek itu, meskipun dia bukan Ayahku, aku tetap akan merasa senang.”
”Ya, aku bisa mengerti perasaanmu. Minggu depan kan pertunangan kalian? Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik. Semoga saja namja itu tidak memakanmu hidup-hidup..” Kekeh Younji sepelan mungkin.
”Hei, ada tamu.” Bisik Hyunji pelan dan meluruskan tubuhnya. Younji menoleh ke arah pintu masuk. Seorang namja berpakaian rapi berdiri tegak di sana dengan sebuket bunga ditangannya.

Younji tersenyum lebar dan melambaikan tangannya.
”Kenapa kau tidak bilang kalau mau datang, Minho-ya?” Younji menghampiri namja itu yang sekarang memberikan buket bunga padanya.

“Diakah namja beruntung yang mengajakmu kencan waktu itu?” Tanya Hyunji penasaran. Younji menganggukkan kepalanya dengan malu.

Seperti seorang kakak, Hyunji mengamati kekasih adiknya dengan seksama. Tidak ada satu detil pun yang dilewatkan oleh mata Hyunji.

Postur tubuh, cek.

Penampilan, cek.

Sikap, cek.

Dan yang terpenting adalah bagaimana sorot mata Minho ketika menatap Younji. Hyunji mengangguk pelan.
”Kalau kau membuatnya menangis, kau akan berhadapan denganku.” Ucap Hyunji dengan serius. Minho tersenyum kecil dan mengganguk.

***

“NOONA, IRONA!!” Teriak Taemin tepat ditelinga Hyunji yang tidak memberikan reaksi apapun. Taemin mendengus kesal. Ia paling malas kalau harus membangunkan Hyunji, pasalnya Hyunji tidak akan bangun meski ada badai sekali pun.
”Noona, ayo bangun! Kau akan bertunangan hari ini.” Rengek Taemin. Taemin menarik selimut yang membungkus seluruh tubuh Hyunji tapi Hyunji kembali menariknya. Dengan wajah memberengut, Taemin keluar dari kamar Hyunji.

Seojung menurunkan majalah yang ia baca, hanya dengan melihat ekspresi wajah Taemin ia sudah tau apa yang terjadi. Seojung menghela nafas pelan.

“Taemin-ah, naiklah ke mobil, Hyunji aku yang akan mengurusnya.” Pinta Seojung yang dengan senang hati dilakukan oleh Taemin.

Seojung menepukkan kedua tangannya dengan pelan, lima orang karyawannya muncul seketika itu juga. Seojung mengisyaratkan pada mereka untuk masuk ke kamar Hyunji. Satu menit kemudian, terdengar suara teriakan nyaring dari dalam.
”YAAAAA! APA YANG KALIAN LAKUKAN? TURUNKAN AKU!!!” Teriak Hyunji dengan sangat keras. Karywanan Seojung keluar dari kamar dengan membopong Hyunji lengkap dengan selimutnya.
”Noona! Tolong aku!” Teriak Hyunji dan berusaha untuk menggapai tangan Seojung. Seojung menggelengkan kepalanya dan memukul Hyunji dengan pelan.

“Berhenti memanggilku noona, dasar yeoja aneh.” Gerutu Seojung sambil lalu.

Sementara itu, Onew tengah berdiri di depan pintu rumah Younji. Sekali lagi Onew memperhatikan alamat yang diberikan Jonghyun tadi pagi padanya. Setelah memastikan dia tidak salah alamat, Onew mengetuk pintunya dengan pelan.

“Nugu..seyo?” Younji membuka pintu dan melihat Onew dengan was-was.

“Han Younji? Aku datang untuk membawamu bersiap-siap ke pesta pertunangan Hyunji.” Younji mengerutkan keningnya, merasa ragu apakah ia harus ikut dengan orang yang tidak ia kenal, apalagi ia merasa ia tidak perlu di dandani karena bukan dia yang akan menjadi pusat perhatian. Tapi entah kenapa aura yang dikeluarkan oleh namja dihadapannya membuat ia merasa terintimidasi dan tidak bisa mengatakan tidak.

***
Hyunji menggoyang-goyangkan kakinya yang menjutai di kursi yang telah ia duduki selama hampir 3 jam dan membuat bokongnya hampir kram.

“Jangan bergerak terus, Hyunji! Kau membuat penata riasku kerepotan!” Omel Seojung entah untuk kali ke berapa. Hyunji memberengutkan wajahnya. Ia dipaksa untuk duduk di situ dan membiarkan orang-orang Seojung melakukan sesuatu pada wajahnya padahal ia belum sarapan, ia hampir mati kelaparan.

“Noona, Younji noona sudah datang!” Teriak Taemin. Sejak Taemin tau bahwa Hyunji akan bertunangan, ia menjadi lebih ceria dari biasanya. Ia senang akhirnya noona tercintanya akan tampil seperti layaknya perempuan seharusnya.
”Omo! Kau cantik sekali!” Puji Hyunji yang menatap Younji dari pantulan cermin karena ia masih belum diperbolehkan untuk bergerak sementara para penata rias masih memoleskan beberapa alat make-up yang tidak diketahui Hyunji.

Younji tersenyum tipis, balas menatap bayangan Hyunji dari cermin.

“Aku bahkan hampir lupa kalau kau adalah seorang yeoja, Hyunnie. Kau sangat cantik. Meski kau terus mengomel tentang bertunangan dengannya, entah kenapa sekarang aku justru merasa senang untukmu.” Balas Younji.

“Pfft! Kau berkhianat, sama seperti Taemin! Tidak seharusnya kalian senang karena aku bertunangan dengan namja itu..” Gerutu Hyunji.

“Kau memanggilku?” Jonghyun tiba-tiba saja muncul dari balik pintu dengan setelan tuxedo nya, membuat semua orang yang ada di ruangan itu terlonjak kaget. Hyunji memutar bola mata begitu melihat namja yang selalu membuat ia kesal tiba-tiba saja muncul disana. Hyunji memalingkan wajahnya, tidak ingin Jonghyun melihat wajahnya yang telah di make-up lengkap dengan wig cokelat bergelombang yang membuat dia—meski ia benci untuk mengakuinya—terlihat manis.

“Bisa tinggalkan kami berdua?” Pinta Jonghyun dengan sopan.

Pembohong, batin Hyunji.

“Tentu.” Seojung balas tersenyum pada Jonghyun dan berdiri, mengisyaratkan pada penata riasnya untuk meninggalkan mereka berdua.
”Tunggu! Bukankah kalian bilang riasannya belum selesai?” Tanya Hyunji panik. Ia mencari segala alasan agar ia tidak ditinggalkan berdua saja. Tapi sia-sia, mereka semua sudah keluar dari ruang riasnya dan menyisakan Jonghyun seorang.

Senyuman di wajah Jonghyun berubah menjadi seringaian. Ia mengamati Hyunji dengan seksama dari kepala hingga kaki.

“Jangan menatapku seperti itu! Kau membuatku merinding!” Cerca Hyunji yang masih belum mau beranjak dari tempat duduknya, padahal beberapa menit yang lalu ia ingin sekali segera meninggalkan kursi yang membuat ia mengantuk setengah mati.

“Kau terlihat sangat cantik.” Jonghyun berdiri tepat di belakang Hyunji, memujinya dengan tulus meski Hyunji tidak mempercayainya. Jonghyun terkekeh pelan.
”Jangan cemberut seperti itu, kau jadi terlihat aneh.” Ejek Jonghyun santai.
”Urgh, berhenti menggangguku dan pergilah dari sini. Aku muak hanya dengan melihat wajahmu saja.”

“Tapi setelah ini, kau akan terus melihatku hingga kau lebih muak lagi.” Jonghyun tersenyum nakal pada Hyunji yang mengerutkan keningnya, tidak mengerti dengan kata-kata Jonghyun.
”Sampai jumpa nanti.” Jonghyun mengecup pipi Hyunji dengan hati-hati, tidak ingin merusak make-up yang terlihat sempurna di wajah Hyunji.

Hyunji membelalakkan matanya, memutar tubuhnya diatas kursi untuk mendaratkan sebuah pukulan di wajah Jonghyun, tapi ternyata namja itu lebih cerdik dan sudah melesat pergi lebih dulu.

“BASTARD!” Erang Hyunji.

***

Para tamu undangan yang hampir semuanya tidak dikenali Hyunji menatap ke arahnya, membuat ia gugup. Jonghyun melirik ke arah Hyunji, tersenyum kecil dan melingkarkan lengannya di pinggang Hyunji, menariknya merapat pada Jonghyun untuk mengurangi rasa gugupnya.

Merasakan jari-jari Jonghyun meremas pinggangnya dengan pelan, Hyunji menoleh dan memelototi Jonghyun yang hanya ditanggapi dengan cengiran bodoh. Hyunji menghela nafas berat. Ia terus berpikir, haruskah ia kabur sekarang? Melihat dari pesta yang disiapkan oleh keluarga Kim yang terkesan mewah serta tamu undangan yang sangat banyak—dan entah bagaimana Hyunji yakin mereka semua adalah orang-orang terkemuka—membuat Hyunji berpikir dua kali.

Mungkinkah semua ini tidak menjerumuskannya semakin dalam? Bagaimana caranya untuk mengakhiri tali pertunangan ini kelak?

Hyunji melirik ke arah Jonghyun yang terlihat tidak panik sama sekali dan terus memperhatikan Tuan Kim yang sedang memberikan kata sambutan.

Tanpa Hyunji sadari, seorang pelayan naik ke atas panggung, membawa sekotak cincin yang diletakkan dengan hati-hati di hadapan Hyunji.

Jonghyun membuka kotak itu, sebuah cincin bermata berlian yang cukup besar bersinar-sinar terang di dalamnya. Jonghyun mengeluarkan cincin itu dari kotaknya, memutar tubuhnya ke arah Hyunji dengan pelan.

Jonghyun menggenggam tangan Hyunji dengan pelan, menyentuh permukaan jari-jarinya dan menyematkan cincin mahal itu di jari manis Hyunji tanpa sekalipun pandangan mereka teralihkan dari satu sama lain.

Suara tepuk tangan yang riuh menyadarkan Hyunji dari dunia mereka.

Jonghyun lagi-lagi menarik Hyunji dengan pelan, menyeretnya ke tengah-tengah tamu undangan.

“Apa?” Bisik Hyunji tidak mengerti dan memperhatikan sekelilingnya dengan tidak kentara.
”Berdansalah denganku.” Pinta Jonghyun yang berhasil Hyunji lagi-lagi terbelalak.

“Tapi aku tidak bisa berdansa!” Protes Hyunji. Jonghyun tertawa kecil, menarik Hyunji merapat padanya. Ia mengangkat kedua tangan Hyunji, melingkarkannya di lehernya sendiri sementara kedua tangannya segera mendarat di pinggang Hyunji.

“Ikuti saja aku.” Balas Jonghyun dengan tenang. Musik slow mulai dilantunkan saat itu juga. Semua tamu undangan berbisik-bisik dan tersenyum pada pasangan yang menjadi bintang utama hari ini.

Setelah beberapa menit, pasangan-pasangan lainnya mulai bergabung, ikut berdansa dengan mereka dan membuat Hyunji bernafas lega karena sekarang semua orang tidak lagi memandangnya.
”Omo, mian!” Hyunji memekik pelan saat ia rasakan kakinya kembali menginjak kaki Jonghyun.
”Berbahagialah karena kau adalah tunanganku, jadi aku tidak akan membalasmu.” Ucap Jonghyun setengah bercanda. Hyunji menatap Jonghyun selama beberapa detik, lalu ikut tertawa pelan.

Musik yang mengiringi mereka berdansa terhenti. Masih enggan untuk melepaskan Hyunji dari dekapannya, Jonghyun terus menatap Hyunji.

“Mau berdansa satu kali lagi?” Pinta Jonghyun.

“Meski kau tidak keberatan aku terus menginjak kakimu, tapi aku sudah tidak tahan memakai high-heels ini. Bisa kita duduk atau semacamnya?” Jawab Hyunji sambil menunjuk kakinya yang sudah tidak bisa berdiri dengan benar. Jonghyun menahan tawa yang siap meluncur dari bibirnya dan mengangguk, tidak tega jika harus melihat Hyunji menderita lebih lama lagi.

“Ah!” Jonghyun membalikkan tubuhnya menghadap Hyunji dengan tiba-tiba dan menjentikkan jarinya di udara, “Bagaimana kalau kau melihat hadiah dari orangtua ku sekarang?”

Hyunji mengangguk tidak bersemangat. Ia rela melakukan apapun kecuali berkeliaran menggunakan high-heels milik Seojung. Hyunji menangkap bayangan Onew dan Younji di dekat meja dari ekor matanya dan menghampiri mereka.
”Onew-ssi, ajaklah temanku berdansa. Dan aku belum buat perhitungan denganmu karena ikut bersekongkol dengan namja ini.” Ucap Hyunji sembari menunjuk Jonghyun yang pura-pura tidak melihat. Onew memandang Jonghyun seolah sedang mengomelinya lalu menggelengkan kepalanya dengan pelan dan mengulurkan tangannya pada Younji yang langsung menggelengkan kepalanya.

Tanpa mempedulikan penolakan Younji, Onew menarik tangan yeoja itu ke tengah lantai dansa.

Hyunji tersenyum tipis sebelum Jonghyun menggenggam tangannya dan menariknya masuk ke dalam rumah.

“Mau ke mana?” Tanya Hyunji akhirnya setelah mereka masuk ke dalam rumah. Jonghyun hanya membalas dengan senyuman, masih terus menarik Hyunji menaiki tangga.

Hyunji melihat ke sekitarnya, ia ingat tempat yang ia lalui ketika terakhir kali ia datang ke sini bersama Jonghyun untuk bersandiwara di hadapan orangtuanya. Ke kamar Jonghyun?
Hyunji menautkan kedua alisnya, berbagai pikiran negatif tidak bisa berhenti mengalir di benaknya. Hyunji memikirkan berbagai kemungkinan, juga memikirkan tindakan yang akan ia ambil jika seandainya pikiran negatif dibenaknya benar-benar terjadi.

Terlalu asyik dalam pikirannya sendiri, Hyunji bahkan tidak sadar Jonghyun tidak lagi menariknya berjalan. Suara tawa Jonghyun menyadarkan Hyunji.

Jonghyun menempelkan kedua jarinya di antara alis Hyunji yang masih bertautan dan memaksanya terpisah.

“Huh?” Tanya Hyunji kebingungan. Jonghyun berdecak pelan dan menyeringai.

“Apa yang kau pikirkan? Dasar aneh..” Ejek Jonghyun masih dengan nada bercanda yang selalu ia lontarkan.
”Untuk apa membawaku ke sini?” Tanya Hyunji tanpa mempedulikan pertanyaan Jonghyun.

“Hadiah..” Jawab Jonghyun singkat lalu membuka pintu kamar dan mempersilakan Hyunji masuk. Hyunji masih terlihat was-was.

“Kau tidak akan melakukan sesuatu yang aneh kan? Kau tau aku bisa—“
”Aku tau kau bisa memukulku hingga sekarat. Dan aku tidak sedang ingin melakukan sesuatu yang aneh. Bisa kau berhenti mencurigaiku sekarang dan masuk untuk melihat hadiahmu, Nona yang selalu curiga?” Cerca Jonghyun dengan nada malas.

Hyunji melangkah masuk perlahan-lahan. Ia tidak tau mengapa ia percaya dengan kata-kata Jonghyun tentang tidak akan melakukan hal yang aneh. Siapa yang tau kan apa yang bisa dilakukan seorang Kim Jonghyun?

Hyunji menatap seluruh sudut kamar, masih tidak mengerti di mana hadiah yang dimaksudkan oleh Jonghyun. Sebuah seragam yang digantung di dalam lemari yang pintunya terbuka menarik perhatian Hyunji. Hyunji memiringkan kepalanya, berjalan pelan menuju lemari dan melihat baju seragam itu lebih dekat lagi sementara Jonghyun masih terus mengikuti Hyunji dari belakang dengan kedua tangannya terselip rapi dibalik saku celana.

“Bukankah ini seragam sekolahku?” Hyunji menoleh pada Jonghyun yang sekarang berada di sampingnya. Jonghyun tersenyum lebar, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Sesuatu menghantam kesadaran Hyunji. Hyunji membuka pintu lemari, melihat semua pakaian miliknya tergantung di sana. Lagi, Hyunji mengedarkan pandanganya ke sekeliling ruangan dan menyadari, jam kesayangannya bertengker manis di meja kecil di samping tempat tidur. Tas yang selalu ia kenakan berdiri manis di samping meja belajar bersamaan dengan mantel hitamnya.
”Apa-apaan ini, Kim Jonghyun!? Kau mencuri barang-barangku?”
Jonghyun menghentakkan pundaknya, “Inilah hadiahmu, kamar ini.”
”MWO????” Teriak Hyunji sekeras mungkin, tidak peduli lagi meskipun para tamu undangan yang berada di kebun belakang bisa mendengar teriakannya atau tidak.

“Orangtuaku ingin kau dan Taemin tinggal bersama kami, jadi kita bisa lebih sering bersama.” Jelas Jonghyun tanpa merasa bersalah.
”Kenapa aku harus tinggal di rumah kalian sementara aku dan Taemin punya rumah sendiri!? Tunggu dulu! Siapa yang memindahkan barang-barangku? Apakah Taemin tau tentang semua ini?” Selidik Hyunji. Hanya melihat senyuman di wajah Jonghyun, Hyunji tau kalau Taemin ikut berperan dalam kekacauan ini.

“Urgh! Dasar pengkhianat! Kenapa mereka semua harus mengkhianatiku? Arrrgh! Molla, aku ingin pulang!” Teriak Hyunji lagi dengan gusar. Semua yang berlangsung dengan tiba-tiba benar-benar membuatnya galau.
”Ke mana? Rumah yang dulu kalian tempati sudah disewakan oleh Seojung noona, dan sepertinya penghuni barunya sudah mulai menempati rumah itu …” Jonghyun menggantungkan kata-katanya, melirik ke arah jam tangannya lalu kembali mendongak menatap Hyunji, “Satu menit yang lalu.”

Hyunji menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya dan mengerang tertahan. Ia akan lebih menderita lagi sekarang.

TO BE CONTINUE . . .

©2011 SF3SI, Yuyu.

This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


136 thoughts on “Incomplete Marriage – Part 3

  1. Wkwkkwk….jong usil bgt…
    Hyunji pasti pusing bgt deh…hahah…tp q suka liat dy pusing!#plakk
    keren thor…:)

  2. Annyeong!

    Hahahha akhirnya ketauan juga sm Hyunji kalo Jjong tau dia cewe😄

    Beneran makin seru aja! Tak sabar rasanya buat bca part selanjutnya!

    Good Job b(*_*)d

  3. Yah, bakal serumah mereka. Hahahhaahah..
    Pasti bakal tumbuh benih-benih cinta *bahasa gini banget* antara jjong sama hyunji. *witwiww*
    Nice ff eonni..^^

  4. Kalau aku jadi Hyunji aku bersyukur bisa serumah sama Jjong #maunya. Haha, keren deh Unnie~ Jjong akalnya jalan terus ya buat dia bisa deket sama Hyunji, dasar! Nice FF~!

  5. jjong pinter bnget ya? bner2 player kelas kakap nih abang gue!😄

    hmm, btw aku new reader loh disini (abaikan ._.) salam kenal yaaa smuanyaaaaa \(^o^)/

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s