Incomplete Marriagea

Incomplete Marriage – Part 4

Author : Yuyu

Main Cast :

  • Kim Jonghyun
  • Lee Hyunji

Support Cast :

  • Lee Taemin
  • Lee Jinki
  • Han Younji

Genre : Romance, Family, Friendship

Rating : PG-16

INCOMPLETE MARRIAGE


Hyunji menundukkan wajahnya, sadar ia tengah menjadi pusat perhatian di seluruh sekolah apalagi teman sekelasnya.

Masih dengan menggunakan seragam yang biasa ia kenakan saat ke sekolah, Hyunji masuk ke dalam ruang kelasnya. Sebisa mungkin menghindari semua tatapan yang terarah padanya. Begitu ia sampai di tempat duduknya, ia mendesah pelan.

Gosip tentang pertunangannya tersebar dengan cepat, dan itu berarti seluruh isi sekolah sudah tau tentang identitasnya yang ternyata seorang yeoja. Hyunji tidak pernah mengantisipasi hal ini sebelumnya, tidak sadar bahwa pertunangan besar-besaran itu mengancam jati dirinya. Berkat pengaruh kekuasaan keluarga Kim, pihak sekolah bersedia tutup mata dan membiarkan hal ini berlalu begitu saja.

“Hei, aku tidak sempat mengucapkannya kemarin karena kau tidak muncul-muncul lagi di kebun, tapi selamat atas pertunanganmu dengan sahabatku.” Onew tersenyum tipis dan berlalu melewati meja Hyunji ke tempat duduknya sendiri membuat Hyunji kembali mendesah pelan.

“Yaaa, kenapa kau meninggalkanku begitu saja?” Omel Jonghyun karena Hyunji langsung melesat ke kelas tanpa menunggu Jonghyun yang sedang memarkirkan motornya. Hyunji menatap Jonghyun dengan tajam dan mengacuhkannya.

“Aigoo! Kenapa tunanganku sangat galak?” Jonghyun menghampiri Hyunji, mengacak rambutnya dengan gemas. Hyunji meraih tangan Jonghyun dan memutarnya cukup kuat hingga membuat Jonghyun meringis.
”Jangan lupa kalau aku pemegang sabuk hitam, jadi jangan macam-macam denganku!” Ancam Hyunji.

Jonghyun terkekeh pelan, tau Hyunji masih marah karena kepindahannya yang cukup—sangat—mendadak ke kediaman Kim. Belum lagi ditambah tentang Taemin yang sudah tau hal itu sejak awal bahkan ikut membantu memindahkan barang-barang Hyunji dan tidak memberitaukan apapun padanya. Jonghyun bahkan bisa mendengar suara Taemin yang terus memohon maaf pada Hyunji kemarin malam.

“Kau lihat? Kau tidak akan bisa meloloskan diri dari pukulan Hyunji.” Bisik Onew setelah Jonghyun duduk di sampingnya.

“Hah? Apa maksudmu? Dia yang tidak akan bisa meloloskan diri dari pesonaku.” Jonghyun tersenyum sombong. Onew memutar bola matanya dan menggelengkan kepalanya, ia tidak pernah melihat Jonghyun begitu serius terhadap seseorang. Jadi ini sebenarnya adalah pertanda baik. Tapi setidaknya Jonghyun juga harus melihat siapa yang sedang ia kejar. Jika orang yang ia kejar adalah yeoja setangguh Hyunji, jelas Onew meragukan akan ada akhir yang bahagia untuk Jonghyun.

“Jangan menatapku seperti itu, percaya atau tidak, aku tau apa yang ada dipikiranmu itu!” Tukas Jonghyun tajam, “Tapi percayalah itu semua tidak akan terjadi. Pada akhirnya Hyunji akan bertekuk lutut padaku.” Jonghyun menyeringai kecil hanya dengan membayangkannya, yang lagi-lagi membuat Onew menggelengkan kepalanya.

“Kau benar-benar sakit…” Kata Onew lebih kepada dirinya sendiri karena Jonghyun telah hanyut ke dalam dunia Hyunji—lagi.

***

“Katakan padaku kalau semua itu bohong.” Tukas Hyunji dengan tajam. Café tempat mereka bekerja telah tutup, tapi mereka belum juga pulang. Younji yang menjadi lawan bicaranya hanya bisa menundukkan wajahnya.

“Aku tau kau tidak sebodoh itu, benarkan Younji? Jadi katakan padaku kalau kau berbohong!” Paksa Hyunji sekali lagi. Masih belum mendapatkan reaksi dari Younji membuat Hyunji terduduk di salah kursi café.

“Mian, Hyunji-ya. Aku tau apa yang kulakukan ini salah, tapi aku merasa yakin bahwa dialah orang yang tepat untukku. Dialah orang yang akan memberikanku kehidupan yang kuinginkan. Dan aku mengorbankan hal yang terpenting bagiku karena aku tau dia pantas untuk mendapatkannya.” Jawab Younji akhirnya dengan mantap.

Hyunji membuka mulutnya, membiarkan udara keluar dan masuk sementara ia terus berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri dan mencari kata-kata yang tepat.

“Tapi itu tidak benar. Kau dan dia—kalian melakukan hal yang seharusnya tidak kalian lakukan. Belum saatnya kalian melakukan hal itu.” Ucapan Hyunji tercekat ditenggorokannya.

“Ara, naega arayo. Tapi semuanya sudah terjadi, dan dia berjanji akan menikahiku secepatnya.” Balas Younji sengit.

“Baguslah kalau dia punya pemikiran seperti itu. Tapi bagaimana kalau dia kabur? Bagaimana kalau dia mengingkari kata-katanya?”
”Dia tidak akan melakukan hal itu. Aku mempercayainya, sama seperti aku mempercayaimu, Hyunji. Jadi mengertilah..” Younji hampir-hampir memohon pada Hyunji. Setelah Ibunya meninggal dunia, bagi Younji keluarga yang ia miliki hanyalah Hyunji. Melihat Hyunji begitu menentang apa yang telah ia perbuat—meski ia juga tau itu salah—benar-benar membuatnya sedih. Younji hanya merasa akhirnya ia menemukan seorang pria yang bisa ia percayai untuk menggantung hidupnya. Akhirnya ia menemukan pria yang selama ini ia cari dan dia ingin segera meninggalkan kehidupan kejam yang ia miliki bersama Ayahnya.

“Tidak! Kau yang harus mengerti, Younji! Ini dua hal yang berbeda. Jika aku mengingkari kepercayaanmu, kau masih bisa hidup dengan layak. Tapi ketika Minho sampai melakukannya, kau akan kehilangan semuanya, kau akan kehilangan kehormatanmu. Masyarakat akan memandang hina pada dirimu! Apa kau sanggup menerimanya, huh?” Hyunji bangkit dari kursinya dan memandang Younji dengan tatapan yang mengintimidasi.

Younji menutup matanya dengan erat dan membukanya perlahan.

“Aku akan baik-baik saja, karena Minho tidak akan pernah mengecewakanku.” Ujar Younji lembut. Ia tidak ingin sama-sama bersikap keras seperti Hyunji. Ia tidak ingin hubungan mereka rusak karena hal seperti ini.

Pintu café terbuka, kedua yeoja itu menoleh serentak. Senyuman diwajah Younji terbentuk saat ia melihat Minho datang ke arahnya dan melambaikan tangannya. Sebelum melangkah ke arah Minho, Younji menoleh untuk melihat Hyunji dengan tatapan seolah-olah sedang memohon pada Hyunji.

Hyunji menghela nafas pelan dan mengangguk. Younji berlari kecil ke arah Minho dan memeluknya dengan erat yang juga dibalas oleh Minho.

Hyunji bisa melihat Minho dan Younji menggerakkan mulut mereka, mengatakan sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh pendengaran Hyunji karena jarak yang cukup jauh. Tapi yang jelas saat ia melihat Younji dan Minho tertawa bersama, ia bisa mengerti mengapa Younji begitu mempercayai namja itu. Sepersekian persen dalam hati Hyunji mendorongnya untuk tidak lagi mempermasalahkan kesalahan yang dibuat oleh Younji dan Minho meski sepersekian persen lainnya masih saja sulit untuk melakukan itu, masih tetap merasa tidak benar.

Hyunji keluar dari café beberapa menit setelah Younji dan Minho melesat pergi. Hyunji memastikan ia telah mengunci pintu café dengan rapat dan mulai berjalan pulang. Terpaan angin dingin membuat Hyunji bergidik pelan. Ia terlalu malas untuk membawa mantelnya karena tadi pagi udara tidak begitu dingin. Siapa yang tau kalau malal harinya justru akan sedingin ini? Hyunji mengusap-usapkan tangannya di lengannya yang terasa membeku. Sesuatu yang hangat terasa jatuh di pundak Hyunji. Hyunji mendongak dan langsung menoleh ke samping untuk melihat Jonghyun berdiri disampingnya. Jaket tebal milik Jonghyun sekarang telah bersandar dipunggungnya.

“Pakailah, jangan sampai kau membeku.”

Terlalu pusing dengan masalah Younji, Hyunji tidak lagi punya tenaga untuk berdebat dengan Jonghyun, apalagi ia memang merasa sangat kedinginan sekarang jadi ia menyusupkan dirinya ke dalam jaket Jonghyun dan membuatnya hangat.

Hyunji mengendus pelan, ia bisa mencium aroma tubuh Jonghyun yang tertempel di jaket itu dan entah bagaimana itu justru membuatnya semakin hangat.

“Jadi, ada apa denganmu hari ini? Kau terlihat agak berbeda.” Tanya Jonghyun yang langsung bisa mengenali perubahan suasana hati Hyunji yang diam-diam membuat Hyunji takjub. Tidak ada orang yang pernah tau ketika ia memiliki masalah yang membebani pikirannya kecuali Younji dan Taemin yang memang sangat dekat dengannya.

Hyunji berpikir selama beberapa detik, menimbang-nimbang, haruskah ia menceritakan apa yang terjadi pada Younji? Tapi akhirnya Hyunji memutuskan bahwa ia tidak berhak menyebarluaskan apapun yang berhubungan dengan Younji pada orang luar. Hyunji menggelengkan kepalanya dengan pelan.

Jonghyun memicingkan matanya, tidak percaya pada Hyunji tapi ia juga tidak ingin memaksa Hyunji untuk mengatakannya jika ia memang merasa tidak nyaman untuk mengatakannya sekarang.

Sebenarnya Jonghyun ingin mengerjai Hyunji, kembali membuatnya kesal hanya untuk sekedar bersenang-senang. Tapi sekarang ia benar-benar bersyukur bahwa ia datang. Siapa yang tau apa yang terjadi jika Jonghyun tidak menemaninya sekarang? Mungkin saja Hyunji sudah membeku kedinginan atau bahkan tersesat karena terlalu asyik dengan dunia dalam pikirannya yang sepertinya tidak bisa ditembus apapun.
”Mokgo shipoyeo?” Ajak Jonghyun setelah mereka berjalan selama 5 menit. Hyunji hanya mendongak untuk menatap namja yang lebih tinggi darinya dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Jonghyun tersenyum kecil, menarik tangan Hyunji untuk masuk ke salah satu kedai mie.

“Ahjumma, 2 jjajangmyun ekstra pedas.” Pesan Jonghyun pada pemilik kedai yang menyambut kedatangan mereka. Lagi, Jonghyun menarik Hyunji dan memaksanya duduk di meja paling pojok diruangan itu.

“Jjajangmyun di sini yang paling enak dan akan membuatmu merasa lebih hangat.” Ujar Jonghyun saat Hyunji menatapnya penuh tanda tanya.

Hyunji membungkukkan tubuhnya dengan sopan saat seorang pelayan membawakan mereka sebotol soju. Hyunji membuka tutup botol itu dan menuangkannya ke gelas.

“Kau, bisa minum?” Tanya Jonghyun sambil menaikkan sebelah alisnya.

“Bisa, tapi aku bukan peminum yang baik, jadi aku hanya ingin minum sedikit saja. Mau?” Hyunji mengarahkan botolnya ke arah gelas Jonghyun dan menuangkannya begitu Jonghyun mengangguk. Jonghyun tertawa pelan saat melihat Hyunji meminum sojunya dalam satu tegukan. Tidak mau kalah, Jonghyun juga melakukan hal yang sama.

Pelayan yang tadi mengantarkan soju sekarang membawakan jjajangmyun pesanan Jonghyun.

“Selamat makan.” Ucap Jonghyun dan Hyunji bersamaan. Jonghyun menyantap jjajangmyunnya dengan perlahan sambil terus memperhatikan Hyunji yang makan dengan lahap dan menggelitik Jonghyun untuk tersenyum.

Ia bukan orang yang selalu mengobral senyum, tapi ketika ia berada di dekat Hyunji, ia tersenyum begitu saja tanpa alasan.

Hyunji mengangkat mangkuknya, menyeruput sisa kuah dalam mangkuknya hingga tak tersisa sementara Jonghyun meletakkan sumpitnya diatas meja, menyisakan seperempat jjajangmyun yang disajikan.

“Bagaimana? Enak, kan?” Tanya Jonghyun yang masih memperhatikan Hyunji. Hyunji tersenyum dan mengangguk dengan bersemangat, membuat Jonghyun agak kaget dengan reaksi Hyunji. Tidak biasanya Hyunji begitu murah senyum.

Hyunji mengambil botol soju dan kembali menuangkannya ke gelas untuk ia teguk. Jonghyun mengedarkan pandangnya ke meja mereka yang berantakan di mana tergelatak 2 botol soju kosong serta satu botol lagi yang masih digengganm dengan erat oleh Hyunji. Jonghyun menggelengkan kepalanya, Hyunji mabuk dan bersikap aneh hingga membuat Jonghyun nyaris berpikir yeoja ini berubah hanya karena satu mangkuk jjajangmyun.

“Hyunji-ya, ayo pulang.” Jonghyun menarik tangan Hyunji, tapi Hyunji sama sekali tidak bergerak dan masih menyenderkan kepalanya diatas meja kayu.

“Ahjumma!” Panggil Jonghyun sambil melambaikan tangannya. Seorang bibi yang ia panggil menghampirinya, “Igeon eolmayeyo?” Tanya Jonghyun lagi.

Bibi itu menghitung semua makanan yang Jonghyun pesan dan menyebutkan harganya. Jonghyun mengeluarkan dompetnya, membayar sejumlah yang bibi itu katakan dan sekali mencoba untuk membangunkan Hyunji, tapi hasilnya masih sama saja. Hyunji sama sekali bergeming dari posisinya.

Jonghyun berjongkok di hadapan Hyunji, membenarkan letak jaket dan menarik tangan yeoja itu hingga mendarat di pundaknya lalu meletakkan tubuh Hyunji di punggungnya.

Jonghyun berjalan dengan perlahan. Ia tidak peduli meskipun udara dingin menembus masuk ke pori-pori kulitnya melalui pakaiannya yang tipis, tidak juga peduli dengan Hyunji yang harus ia gendong. Ia hanya ingin menikmati saat ia bisa merasakan kehadiran Hyunji sedekat ini.

“Pabo! Kalau kau membuatnya menangis, aku pasti akan membunuhmu!” Gumam Hyunji tidak karuan dan menarik rambut Jonghyun dengan keras di akhir kalimatnya.

“Aku percaya kau pasti bisa membunuh siapapun itu yang kau maksudkan.” Jonghyun meringis pelan.

“Hmmm..” Hyunji kembali bergumam pelan. Menenggelamkan wajahnya di tengkuk Jonghyun dan menghembuskan nafas hangat di leher Jonghyun, membuat namja itu tertawa canggung.

Setelah berjalan selama hampir 20 menit, Jonghyun sampai di rumahnya. Seorang pelayan yang membuka pintu segera membungkukkan tubuhnya dan menawarkan diri untuk menggendong Hyunji ke kamarnya, tapi Joghyun menolaknya dengan halus.

Jonghyun membuka pintu kamar Hyunji dengan hati-hati agar ia tidak membuat Hyunji terjatuh dari punggungnya.

Jonghyun duduk di tepi tempat tidur, membaringkan Hyunji dengan sangat perlahan. Jonghyun membuka jaket tebal miliknya yang dikenakan Hyunji dan meletakkannya di sandaran tempat tidur. Hyunji menggeliat pelan, memiringkan tubuhnya ke arah Jonghyun.

“You’re so beautiful.” Bisik Jonghyun pelan. Jari-jari Jonghyun menyentuh kening Hyunji dengan perlahan, mengelusnya dengan lembut dan menyibakkan beberapa rambut Hyunji yang jatuh hingga menutupi wajahnya.

***
”Aigoo!” Ringis Hyunji begitu ia membuka matanya dan memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit. Hyunji kembali memejamkan matanya dengan rapat. Setelah berdiam diri selama beberapa menit dan merasa sakit di kepalanya mulai mereda, Hyunji membuka matanya satu persatu, takut kalau saja rasa sakit itu kembali menghantamnya.

Hyunji menghembuskan nafas lega saat kepalanya tidak berdenyut-denyut lagi. Ia mengedarkan pandangannya, melihat dirinya sendiri berbaring di tempat tidur dalam kamar yang baru ditempatinya selama beberapa hari.

Rasa penasaran menghantuinya. Bagaimana ia bisa tiba-tiba saja berada di dalam kamarnya lagi padahal yang ia ingat tentang kejadian semalam hanya sampai ia meneguk botol soju yang ketiga. Hyunji memaki dirinya dalam hati, seharusnya ia tidak minum sebanyak itu.

Hyunji mengacak rambutnya yang berantakan dengan geram. Beruntung hari ini akhir pekan, jadi dia tidak perlu tersiksa selama menerima pelajaran. Tapi bagaimanapun Hyunji memutuskan untuk mandi dan menghilang bau menyengat disekujur tubuhnya akibat soju semalam.

Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian sehari-harinya—kaos dan celana denim—lalu mengeringkan rambut pendeknya yang masih agak basah, Hyunji mendengar suara berisik dari luar kamar dan mengintip dari balik pintunya.

Beberapa orang pelayan sibuk berjalan keluar masuk dari kamar di sebelahnya—kamar Jonghyun. Seorang pelayan membawa nampan berisi sarapan, seorang pelayan lagi membawa tumpukan selimut, seorang pelayan lainnya membawa sesuatu yang tidak terlalu Hyunji ketahui. Hyunji membuka pintu lebih lebar, berdiri diambang pintu miliknya masih sambil terus menatap para pelayan itu. Salah seorang dari mereka menyadari kehadiran Hyunji dan mengucapkan salam.
”Ada apa?” Tanya Hyunji penasaran.

“Tuan muda sedang demam dan beliau memang selalu cerewet kalau sedang sakit.” Jelas pelayan itu dengan singkat dan kembali melanjutkan aktifitasnya. Hyunji memiringkan kepalanya, menatap pintu kamar Jonghyun yang tertutup rapat. Seorang pelayan muncul dari balik pintu kamar Jonghyun dengan nampan yang masih penuh dengan sarapan Jonghyun, jelas sekali belum di sentuh sekalipun.
”Kenapa dibawa keluar?” Hyunji mendekati pelayan itu.

“Tuan muda menolak untuk memakan sarapannya.” Saat pelayan itu hendak pergi, Hyunji menahannya, mengambil nampan dari pelayan dan mengatakan bahwa dia yang akan memastikan Jonghyun menghabiskan sarapannya.

Hyunji masuk ke kamar Jonghyun, melihat namja itu terbungkus dibalik selimutnya dari jauh. Jonghyun bahkan bergeming sama sekali setelah mendengar suara langkah kaki yang mendekatinya. Matanya terlalu berat untuk dibuka dan sekedar melihat siapa yang masuk.

“Yaaa, Kim Jonghyun!” Panggil Hyunji agak berteriak tapi tidak mendapatkan jawaban apapun dari Jonghyun yang hanya bergerak pelan di tempat tidurnya.

“Kau benar-benar sakit?” Tanya Hyunji setengah tidak percaya. Hyunji meletakkan nampan di atas meja dan mendekati Jonghyun. Ia menyentuh kening Jonghyun, dan terkesiap. Tubuh Jonghyun benar-benar panas.

Jonghyun membuka matanya dengan enggan, menatap Hyunji melalui kelopak mata yang terasa berat dan kembali menutupnya.

“Hei, makan dulu sarapanmu, lalu minum obatmu, baru kau bisa tidur lagi.” Panggil Hyunji. Jonghyun menggeleng sekilas sebagai jawaban. Dan kembali membenamkan wajahnya ke balik selimut. Hyunji menarik selimut dari wajah Jonghyun membuat namja itu menggeram pelan.

“Tinggalkan aku sendiri..” Ucap Jonghyun yang terdengar tidak lebih seperti bisikan.

“Makan dulu sarapanmu.” Omel Hyunji lagi, menarik tangan Jonghyun tidak terlalu kuat karena tidak ingin melukainya tanpa sengaja.

“Kumohon, jangan hiraukan aku. Biarkan aku tidur..” Kata Jonghyun lagi masih dengan lemah.

“Kau ini manja sekali, seperti Taemin saja. Cepat bangun, atau aku yang akan memaksamu!” Ancam Hyunji. Jonghyun menggerutu pelan, duduk di tempat tidurnya dengan malas. Hyunji tersenyum lebar, menyerahkan semangkuk bubur pada Jonghyun yang menerimanya dengan tidak suka rela.

“Setidaknya kau harus makan seperempatnya, setelah itu kau bisa minum obat mu dan istirahat lagi.” Hyunji duduk di tepi tempat tidur, memperhatikan Jonghyun yang melahap buburnya dengan gerakan lambat.

“Kenapa kau bisa demam? Bukankah kemarin kau baik-baik saja?” Tanya Hyunji. Jonghyun melirik Hyunji dan memutar bola matanya.

“Memangnya kau pikir gara-gara siapa aku sampai harus terbaring diatas tempat tidur diakhir pekan seperti ini, huh?”

“Apa? Memangnya gara-gara siapa?” Hyunji membulatkan matanya, benar-benar tidak tau apa yang dimaksudkan Jonghyun. Jonghyun menyodorkan mangkuknya yang masih tersisa cukup banyak pada Hyunji.

“Sesuap lagi.” Pinta Hyunji setengah memaksa. Jonghyun menggelengkan kepalanya dan terus memaksa Hyunji untuk mengambil mangkuk ditangannya.

“Aku sudah ke—“ Hyunji memasukkan sesendok bubur ke dalam mulut Jonghyun saat ia sedang berbicara, memaksanya untuk menghentikan kata-katanya dan menelan bubur dalam mulutnya. Hyunji tersenyum bodoh saat Jonghyun justru memelototinya.

“Nah, sekarang saatnya minum obat.” Tukas Hyunji. Jonghyun langsung merebahkan tubuhnya, memejamkan matanya dan berpura-pura tidur.

“Yaaa! Aku tau kau berpura-pura tidur!” Gerutu Hyunji geram melihat tingkah laku Jonghyun yang terlihat seperti anak-anak. Ia benar-benar seperti sedang merawat Taemin yang sedang sakit. Berapa umur Jonghyun sekarang? Kenapa ia masih saja sulit untuk meminum obatnya?

Ia harus segera meminum obatnya kalau ia ingin cepat sembuh. Hyunji mencoba segala cara, segala cara agar Jonghyun mau bergerak dan berhenti berpura-pura menjadi batangan kayu diatas tempat tidur. Tapi tetap saja Jonghyun bersikap keras kepala, mendorong batas kesabaran Hyunji hingga ke ujungnya.

“Yaaaaa, kalau kau tidak bangun juga, aku akan memasukkan obat ini secara paksa ke dalam mulutmu.” Ancam Hyunji sambil kembali menggoyang-goyangkan tubuh Jonghyun dengan lebih keras. Jonghyun menarik tangan Hyunji, memaksa yeoja itu hingga terjatuh menimpa tubuhnya. Hyunji terkesiap pelan saat jari-jari Jonghyun menyusup ke pinggangnya, memegangnya dengan sangat erat.

Jonghyun membuka matanya dan tersenyum lelah pada Hyunji yang memelototinya.

“Apa kau mengkhawatirkanku?” Tanya Jonghyun dengan suaranya yang sama sekali tidak bertenaga. Ia benar-benar ingin tidur, hanya itu yang ingin ia lakukan karena ia merasa tenaganya benar-benar terkuras entah ke mana,

“Huh, aku hanya tidak bisa tinggal diam kalau ada orang manja yang susah untuk meminum obatnya seperti Taemin.” Elak Hyunji, memalingkan wajahnya karena tidak ingin menatap Jonghyun. Ia bisa saja melepaskan diri dari Jonghyun saat ini, tapi sesuatu dalam dirinya berteriak dan melarangnya.

“Itu karena kau tidak tau bagaimana cara untuk membujukku minum obat.” Masih memilih untuk diam, Hyunji menatap ke sisi lain ruangan selama mungkin membuat Jonghyun tertawa sangat pelan. “Kemarikan obatnya.” Pinta Jonghyun yang langsung di sambut oleh tanda tanya dari Hyunji. Hyunji membuka telapak tangannya, memberikan sebutir obat yang harus diminum Jonghyun.

Jonghyun mengambil butiran obat dan memperhatikannya selama beberapa detik.

“Buka mulutmu.” Pinta Jonghyun lagi.

“Ne?” Tanya Hyunji kebingungan. Saat Hyunji membuka mulutnya untuk bertanya, Jonghyun memasukkan obat tersebut ke dalam mulut Hyunji dan langsung menempelkan bibir mereka sebelum Hyunji sempat membantah ataupun mengeluarkan kembali obat tersebut. Jonghyun mengecup bibir Hyunji dengan lembut, memegangi kedua tangan Hyunji agar tidak memukulnya dan mengapit kaki Hyunji agar tidak menendang sesuatu yang tidak seharusnya ia tendang. Hyunji meronta pelan untuk meloloskan dirinya, tapi tidak benar-benar mengeluarkan tenaganya. Perlakuan Jonghyun mendorong akal sehat Hyunji ke sudut terdalam dibenaknya.

Jonghyun agak beranjak dari tempat tidurnya, ia menggerakkan lengannya dan bertumpu pada sikunya diatas tempat tidur. Ia merasa tenaganya kembali begitu saja.

Hyunji bisa merasakan obat di dalam mulutnya mulai mencair, rasa pahitnya bercampur dengan rasa manis dari mulut Jonghyun. Jonghyun menggerakkan lidahnya dengan perlahan, menggoda Hyunji di dalam rongga mulutnya lalu mendorong obat yang berada dalam mulut Hyunji hingga berpindah ke mulutnya sendiri dan langsung menelannya.

“Jonghyun-ah, apa kau sudah merasa baikan?” Suara Nyonya Kim terdengar dari balik pintu. Hyunji terlonjak pelan, kembali pada kesadarannya dan mendorong tubuh Jonghyun lalu melompat turun dari tempat tidur dan merapikan dirinya sendiri.

Nyonya Kim masuk dan agak kaget ketika melihat Hyunji berada di dalam juga.

“Omo, Hyunji juga ada di sini? Apakah kau tertular juga? Kenapa wajahmu memerah?” Tanya Nyonya Kim yang sama sekali tidak tau apa yang baru saja terjadi. Hyunji menundukkan wajahnya, menyentuh kedua pipinya yang seperti terbakar.
Nyonya Kim mengalihkan pandangannya ke nampan di samping tempat tidur. Sebelah alisnya terangkat.

“Astaga, benarkah ini? Kim Jonghyun meminum obatnya?” Tanya Nyonya Kim tidak percaya mengingat ia tau benar bagaimana sulitnya memaksa Jonghyun saat ia sedang sakit.

“Hyunji tau bagaimana caranya membujukkan untuk minum obat.” Jawab Jonghyun yang masih belum melepaskan pandangannya dari Hyunji dan Hyunji berani bersumpah ia melihat Jonghyun menyeringai walaupun hampir tidak terdeteksi.

Nyonya Kim bertahan di dalam kamar Jonghyun selama beberapa menit setelah ia memastikan bahwa Jonghyun sudah jauh lebih membaik dari semalam.

“Kau kan bukan anak umur 5 tahun lagi. Harus berapa kali eomma katakan agar kau tidak lupa membawa jaketmu di cuaca dingin seperti inii.” Nyonya Kim menggelengkan kepalanya dan keluar dari kamar Jonghyun. Hyunji terus menatap punggung Nyonya Kim sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.

Hyunji menoleh pada Jonghyun dengan cepat.
”Kau sakit karena meminjamkan jaketmu padaku semalam?” Tanya Hyunji, sepenuhnya lupa tentang ‘ciuman’ mereka tadi. Jonghyun hanya balas menatap dan tersenyum kecil.

Setelah ia mengatakan itu, ia ingat semua yang terjadi semalam, hingga bagaimana akhirnya ia bisa sampai di kamarnya bahkan ia ingat ia sempat menarik rambut Jonghyun dengan kuat karena masih kesal pada apa yang Minho dan Younji lakukan tanpa pikir panjang. Merasa malu dan bersalah, Hyunji menundukkan wajahnya dan mengomeli dirinya dengan pelan. Jonghyun yang mendengarnya hanya tertawa kecil, pelupuk matanya terasa lebih berat setelah obat itu masuk ke dalam perutnya dan mulai bekerja.

“Hmm, kurasa aku harus membiarkanmu istirahat sekarang. Annyeong..” Hyunji beranjak dari tempatnya tapi dengan cepat Jonghyun menarik pergeleangan tangannya, menahan langkah Hyunji.

“Tetaplah di sini, temani aku.” Ucap Jonghyun yang mulai sulit untuk menjaga kesadarannya. Hyunji berpikir sesaat, mendesah pasrah lalu menarik kursi hingga ke samping tempat tidur Jonghyun dan duduk di sana.

Jonghyun menggenggam tangan Hyunji cukup erat, membuat Hyunji tanpa sadar tertawa pada dirinya sendiri, bertanya-tanya seberapa kuat tenaga namja menyebalkan itu.

Hyunji menggerak-gerakkan tangannya sendiri, membuat tangan Jonghyun ikut bergerak bersamanya. Hyunji melirik ke arah Jonghyun untuk memastikan ia tidak membuat Jonghyun terbangun dan tertawa pada dirinya sendiri.

Mengapa ia justru merasa sangat nyaman dengan merasakan jemari Jonghyun yang saling bertautan dengannya? Tidak ingin ia pungkiri, ia merasa seolah-olah kedua tangan mereka memang telah diciptakan untuk saling bertautan seperti itu. Ada perasaan aneh yang menyeruak di dalam dirinya begitu pikiran itu muncul.

Bukan sesuatu yang menyakitkan, justru sesuatu yang membuat ia merasakan perasaan menggelitik dan tak bisa berhenti tersenyum.

Jonghyun bergumam pelan, mengigau dalam tidurnya. Hyunji mendongak, melihat Jonghyun masih tidur dengan wajah polosnya. Senyuman diwajah Hyunji memudar digantikan oleh sesuatu yang menyesakkan hatinya. Ia tidak tau apa itu, tapi rasanya sangat sesak hingga ia seperti ingin melepaskan segalanya saat ini. Ia juga tidak mengerti, apa sebenarnya yang membuat dia tiba-tiba merasa sesak seperti itu?
***

Younji memencet bel kediaman Kim berkali-kali, tidak sabar ingin segera bertemu dengan Hyunji padahal dua hari yang lalu mereka bersama-sama di dalam cafe dengan sedikit perdebatan kecil sebelum Minho datang menjemputnya.

Seorang pelayan wanita membukakan pintu dan menunjukkan arah kamar Hyunji setelah Younji memperkenalkan dirinya.

Younji berjalan dengan lambat-lambat, melihat ke sekeliling rumah mewah yang sekarang ditempati Hyunji.

Jonghyun menuruni tangga, memperhatikan Younji yang masih belum menyadari kehadirannya. Setelah merasa jauh lebih baik, Jonghyun memutuskan ia tidak ingin terus berbaring ditempat tidur dan membuat badannya pegal. Makanya ia menawarkan diri untuk mengambilkan minuman dan beberapa cemilan untuk Onew yang sekarang berada di kamarnya untuk menjenguk dirinya padahal ia bisa meminta pelayan untuk melakukan hal itu, atau bahkan ia bisa menyuruh Onew untuk melakukannya sendiri.

“Kau mencari Hyunji?” Ucap Jonghyun akhirnya tanpa menunggu Younji menyadari kehadirannya.
”Ne.” Jawab Younji singkat dan tegas. Ia masih ingat bagaimana kesan pertamanya ketika melihat Jonghyun dan sahabatnya, dan itu agak tidak bagus apalagi ditambah dengan cerita-cerita dari Hyunji yang semakin menguatkan keyakinannya bahwa namja ini bukan namja baik-baik dan ia harus menjaga jarak sejauh mungkin.

“Kamarnya ada diatas sana, kau bisa langsung masuk.” Lanjut Jonghyun tanpa menyadari sikap waspada dari Younji. Younji membungkukkan badannya dan berjalan melalui Jonghyun tapi ia menghentikan langkahnya setelah ia berkutat dengan pikirannya. Younji memutar tubuhnya dan memanggil Jonghyun. Jonghyun memiringkan kepalanya sedikit dan menatap Younji.

“Meksi sebenarnya aku tidak terlalu menyukaimu, tapi tolong jaga Hyunji dengan baik mulai saat ini.” Younji kembali membungkuk, kali ini hampir mencapai sudut 180 derajat. Jonghyun mengerutkan keningnya, tapi membiarkan kata-kata Younji berlalu begitu saja.

Younji berjalan ke arah kamar Hyunji, menyembulkan kepalanya dari balik pintu dan menyapa Hyunji.

“Oh, bagaimana kau bisa datang?” Hyunji meluruskan tubuhnya yang sedang duduk diatas tempat tidur. Pandangannya beralih dari majalah olahraga ke arah datangnya Younji.

“Memangnya aku tidak boleh mengunjungi sahabatku, huh?” Younji berpura-pura kesal dan duduk ditepi tempat tidur.

“Tentu saja tidak, kau akan selalu di sambut.” Hyunji merangkulkan lengannya di leher Younji dan sedikit menarik Younji hingga sekarang yeoja itu duduk di hadapan Hyunji.

“Dari mana?” Tanya Hyunji lagi. Younji hanya tersenyum tipis. “Jangan katakan kalau kau baru saja pulang dari cafe? Astaga, Younji! Hari ini seharusnya hari off mu, tapi lagi-lagi kau meminta jam tambahan?” Lanjut Hyunji hampir saja berteriak geram. Ia tidak suka melihat bagaimana Younji selalu menyibukkan dirinya di cafe hanya karena ia tidak ingin berlama-lama berada di dalam rumahnya.

“Aigoo, jangan marah seperti itu. Aku janji tidak akan melakukannya lagi kelak.”
”Jinja?” Hyunji menyipitkan matanya, tidak percaya kalau Younji benar-benar akan menepati janjinya. Tapi Younji juga bukan orang yang suka menghumbar janji dan mengingkarinya begitu saja. Younji mengangguk untuk menyakinkan Younji dan mengangkat tangannya, memperlihatkan punggung tangannya pada Hyunji.

“Omo! Cincin yang bagus. Aku tidak tau kalau kau menyimpan uang untuk membeli cincin.” Sahut Hyunji begitu ia melihat sebuah cincin yang melingkar dijari manis Younji. Memang bukan cincin berlian seperti milik Hyunji, tapi cincin itu bersinar dengan terang.

“Aniya, aku tidak membelinya. Minho memberikan ini padaku.” Balas Younji malu-malu.

“Minho? Kenapa dia memberikanmu cincin? Ulang tahunmu kan sudah lewat beberapa bulan yang lalu?” Hyunji menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Younji mendengus pelan, memutar bola matanya terhadap reaksi Hyunji yang lamban. “Haruskah kuejakan satu per satu padamu? Minho melamarku, makanya dia memberiku cincin, Hyunnie. Apa kau mengerti sekarang?”

Hyunji terdiam selama beberapa saat. Kata-kata yang meluncur dari mulut Younji agak susah dicerna di kepalanya.

“JINJA!?” Teriak Hyunji setelah perjuangan selama beberapa menit untuk mengerti sepenuhnya maksud Younji. Younji mengangguk dengan bersamangat dan tersenyum lebar. Hyunji bisa melihat sorot kebahagiaan di dalam mata Younji dan ia ikut merasa senang.

“Kemarin dia membawaku untuk bertemu dengan orangtua.”
”Bagaimana reaksi mereka? Apa mereka menyambutmu dengan baik?” Tanya Hyunji was was. Mengingat status sosial mereka yang berbeda jauh, Hyunji takut kalau orangtua Minho justru menganggap rendah Younji.

“Ne, meraka sangat ramah dan hangat. Mereka menyambutku dengan sangat baik. Aku benar-benar merasa seperti melihat sosok keluarga yang kuidam-idamkan selama ini.”

Hyunji tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum dan memeluk Younji dengan erat.

“Selamat, akhirnya kau bisa keluar dari neraka itu, kau bisa meloloskan diri dari iblis yang selama ini terus menyiksamu.” Bisik Hyunji parau.

“N-ne.” Suara Younji bergetar pelan. Ia tak lagi bisa menahan airmatanya. Semua perasaan campur aduk di dalam dirinya. Ia merasa senang karena akhirnya ia bisa keluar dari rumah mengerikan yang selama ini ia tinggali. Ia senang ia bisa memulai kehidupan baru bersama orang yang ia cintai, ia bisa membangun sebuah keluarga yang selama ini hanya bisa ia impikan. Ia juga merasa takut jika ini semua hanyalah mimpi dan ketika ia terbangun, semua kebahagiaannya akan luluh lantak.

Hyunji melepaskan Younji dari pelukannya, menyeka airmata Younji yang masih mengalir turun.

“Jadi, kapan hari bahagia kalian akan berlangsung?” Tanya Hyunji dengan lembut.

“Satu bulan dari sekarang. Minho bilang dia sudah mencari gereja yang tepat dan tinggal mengurus tempat untuk resepsinya saja.”
”Wah, dia bergerak dengan cepat, huh.”

“Jadi kau taukan kalau dia bukan namja brengsek seperti yang ada dibenakmu?” Younji memukul lengan Hyunji dengan pelan.

“Ne, tapi ingatlah. Kalau sampai dia membuatmu menangis, aku tidak akan segan-segan untuk menghajarnya.” Ucap Hyunji sambil mengacak rambut Younji yang terkekeh pelan melihat tingkah Hyunji.

“Setelah menikah, aku mungkin tidak akan bisa bertemu denganmu sesering ini. Aku akan sangat merindukanmu. Dan kurasa sudah saatnya kau berubah, Hyunnie. Maksudku, kau sudah bertunangan sekarang, kau seharusnya lebih menonjolkan sisi kewanitaanmu. Panjangkan rambutmu dan mulai lah pakai rok.” Younji menasehati Hyunji yang hanya memberengutkan wajahnya.

“Aku senang dengan diriku yang sekarang. Untuk apa aku harus berubah? Lagipula cepat atau lambat pertunangan kami juga akan berakhir. Ini hanya sandiwara, ingat?” Tolak Hyunji yang kembali menatap lembaran majalah yang ia abaikan sejak kedatangan Younji.

”Kau hanya sudah terbiasa dengan penampilan laki-laki seperti ini. Kau harusnya sadar, sekarang kau tidak perlu melindungi siapapun lagi. Ada Minho yang bisa menjagaku, sementara Taemin dia sudah cukup besar untuk melindungi dirinya sendiri dan aku yakin tidak ada teman seusianya yang masih bersikap kekanak-kanakkan untuk menjahilinya.”

Hyunji menatap majalah dihadapannya dengan pandangan kosong, memikirkan kata-kata Younji dengan sungguh-sungguh.

“Omo! Aku harus pulang sekarang.” Younji melihat ke arah jam dengan panik dan beranjak dari tempat tidur Hyunji.

“Huh? Kau sudah harus pulang?”

”Ne, aku harus siap-siap karena nanti malam Minho akan menjemputku untuk mencoba gaun pengantin.” Lagi, Hyunji bisa melihat sorot kebahagiaan yang jarang sekali terpancar dari mata Younji.

“Perlu kuantar?” Hyunji menawarkan diri dan berjalan di depan Younji untuk membukakan pintu kamarnya.

“Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri.” Younji menggelengkan kepalanya dengan pelan.
”Oh, annyeong.” Sapa Onew yang baru keluar dari kamar Jonghyun disaat yang bersamaan. Onew melirik ke arah Younji sekilas.

“Ah! Bukankah rumahmu di daerah gangnam? Bisakah kau mengantar Younji?” Tanya Hyunji yang langsung mendapat pukulan pelan dari Younji.

“Bukankah sudah kubilang aku bisa pulang sendiri?” Bisik Younji ditelinga Hyunji yang mengabaikannya.

Onew memperhatikan Younji selama beberapa saat dan mengangguk.

‘Tentu.” Jawab Onew singkat.

“Gwaenchana, aku bisa pulang sendiri.” Younji masih menolak usul Hyunji.
”Karena kau adalah teman Hyunji, aku tidak bisa membiarkanmu pulang sendirian. Kajja.” Panggil Onew. Younji mendelik ke arah Hyunji yang tersenyum menyemangatinya. Masih dengan berat hati, Younji menuruti ajakan Onew.

Hyunji mengantar Younji dan Onew sampai ke pintu utama, melihat mobil Onew melesat pergi sebelum ia menutup pintu. Hyunji terkesiap pelan saat ia merasakan sepasang tangan yang memeluk pinggangnya dengan erat dari belakang setelah ia menutup pintu.

“Kenapa kau terus berdiri di depan pintu?” Ucap Jonghyun yang menyandarkan dagunya di pundak Hyunji. Hyunji mendengus kesal, menggerakkan tangannya dan menyikut perut Jonghyun yang mau tidak mau melepaskan pelukannya.

“Ouch! Kau tega melakukan hal itu padaku? Apa kau lupa kalau aku ini masih sakit, huh?” Gerutu Jonghyun sambil mengelus bagian perutnya yang terasa sakit. Hyunji berjalan melewati Jonghyun begitu saja dan kembali ke kamarnya.

“Yaaaa! Lee Hyunji!” Teriak Jonghyun frustasi.
To Be Continue . . .

©2011 SF3SI, Yuyu.

This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


135 thoughts on “Incomplete Marriage – Part 4

  1. jjong banyak akal y ya, minum obat y beda dah. . .
    Kok aku ngerasa minho bakal ngak ma younji ya n bakal jd orang k’3 antara jjong n hyunji ! Aku malah ngerasa onew bakal ada apa2 sm yeonji

  2. awww~ jjong so sweet banget ih….. jadi pengen punya namjachingu kaya jjong~~
    kalo aku jadi hyunji,,, aku malah suka diperlakukan seperti itu (?) sama jjong… menurutku bagitulah cara jjong menunjukkan perasaannya… kekeke~
    chingu next part nya jangan kelamaan yaa…. aku penasaran…. baru kali ini loh aku semangat baca ff yang maincastnya jjong… kemaren2 biasa aja.. *dihajar blingers* HWAITING chingu ya…. ^^

  3. Aigoo….
    Ckckck…jong…….dasar pervert!ckckck…tp q suka!heheh#plakk
    seperti biasa thor….keren….
    Tp q mulai ragu ma younji n minho…..
    Apa akhirnya nanti younji ma onew??uh…molla
    daebak thor….heheh

  4. aku yakin, onew bakal jadian sama younji *aku dah baca part 5 soalnya*
    Ok, eon. Seperti biasa, keren dan aku tambah suka sama jjong! Nice ff eon..^^

  5. bnr2 yg casanova kita satu ini…lagi sakit lemes ga ada tnga py msh smpet2 na mkir bwt ciuman…dsr yadong…py aku suka bngt ma karakter jjong dsni…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s