The Pancy Stories – Part 1

 The Pancy Stories

Author: Lynda

Cast:

Onew SHINee as Cedric Lee Digory/Lee Jinki, Pancy Lewinsham, Minho SHINee as Choi Minho, Han Heamin, Ahn Sora, Sungje Supernova as Kim Sungje, Theo, Rach, dan Tuan Plummer.

Genre: Fantasy, Mystery, Family, Alternate Universe

Length: Twoshoot

Rating: T

Big Inspired by Pan’s Labirin and The Chronicles of Narnia – the Magician’s Nephew with more editing ^^

@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

“Hey apa yang kalian lakukan disana..”

Seorang gadis kecil tengah berkacak pinggang, mungkin umurnya sekitar 10 tahunan. Bibir pink mungilnya terlihat pas dan sesuai dengan bentuk wajahnya serta rambut hitam kecoklatannya menjuntai panjang. Gadis itu meneriaki dua orang namja yang sepertinya sebaya dengannya,Yang satu berambut semi gondrong dan yang satu lagi berwajah manis.

“Apa urusanmu huh!!” Balas namja berambut semi gondrong, sepertinya ia tidak suka kegiatan ‘memetik’ buahnya terganggu.

“Itu jadi urusanku karena kalian sudah mencuri buah milik Pak Lee” Teriak gadis itu lagi, kali ini ia melempar batu seukuran tiga kelereng kearah namja itu.

Tapi sayangnya melesat, malah mengenai buah mangga yang masih tergantung tepat diatas kepala namja itu dan buah mangga itu sukses menimpuk kepalanya.

“Wouh.. Kau itu mengerikan Sora” Pekiknya kearah gadis kecil yang ternyata bernama Sora sambil memusut kepalanya berulang-ulang

“Cepat turun Choi Minho!! Atau kau mau kulempar dengan batu ini” Ancam Sora sambil mengambung-ambungkan batu yang besarnya tiga kali lipat dari yang pertama dia lemparkan

“Sebaiknya turun Minho..” Saran namja satunya yang berada disebelah Minho

“Ah~ Kau payah Sungje. Jangan mau diancam oleh yeoja binal macam Sora” Kiprah Minho sembari mencibir kearah Sora

“Kau tadi bilang apa!!” Bentak Sora, gadis itu bersiap melempar batu kearah Minho dan Sungje tapi terhenti saat seseorang menahan tangannya.

“Biar aku saja” Ucap orang itu sembari tersenyum kearah Sora

“Choi Minho.. Kim Sungje.. Kalian tidak malu dengan umur kalian, sudah tua masih melakukan kegiatan anak kecil huh”

“Diam kau Heamin.. Jangan sok tua deh.. Aku nggak suka diatur-atur” Balas Minho mencibir gadis kecil berambut coklat pendek dengan poni yang disampirkan kekanan lalu dijepit dengan jepit hitam bernama Heamin yang meneriakinya tadi.

“Baiklah.. aku akan mengadukan kalian ke Pak Lee”

Heamin segera berlari kearah sebuah rumah bernuansa western yang tidak jauh dari pohon itu, Sora mengikuti Heamin sambil tertawa puas dan mengejek Minho.

“Tunggu.. Tunggu.. Kalian!!”

Minho dan Sungje segera turun dari pohon mangga dan berlari kencang mengejar  Heamin dan Sora, berniat menangkap mereka sehingga tidak bisa mengadu pada Pak Lee.  Tapi sayang kedua gadis itu sudah sampai didepan rumah Pak Lee.

“Pak Lee.. Pak Lee..” Teriak kedua gadis itu, berusaha memanggil sang empunya rumah. Terdengar suara langkah kaki menuju ambang pintu

“Pak Lee jangan dibuka mereka bohong bohong bohong…….” Teriak Minho dan Sungje panik

Ceklek

Pintu depan rumah itu terbuka, muncul sosok pria tua yang kepalanya penuh uban sampai alisnya pun berubah putih. Pria itu memegang tongkat ditangan kanannya, sepertinya itu alat bantu berjalannya, Yeah kalian tahu kan, orang tua renta, sakit pinggang dan semacamnya.

“Ada apa anak-anak.. Kenapa kalian memanggilku~ Aigo..” Ucap Pria tua itu terkekeh kecil, ia memandang keempat anak itu dengan pandangan heran.

“Kakek Lee.. mereka mencuri mangga” Adu Sora

“Aissh.. Bohong Kek.. Jangan percaya omongan Sora kek” Bantah Minho cepat, tampangnya benar-benar meyakinkan. Sepertinya kalau ada audisi pemain drama dia pasti lolos dengan mudah.

“Bener Kek.. Mereka bohong” Bantu Sungje ikutan berbohong pada kakek Lee

“Kalian pintar sekali berbohong~”Sindir Heamin sembari menatap tajam Minho dan Sungje, beberapa detik kemudian sudut bibirnya terangkat, ia menyeringai licik kearah dua namja itu.

Roman-romannya Heamin bakal melakukan sesuatu yang buruk pada mereka berdua. Daripada terjadi hal yang tidak diinginkan, Minho dan Sungje akhirnya mengaku pada kakek Lee. Heamin dan Sora berhighfive ria.

“Sudah tidak apa-apa.. Kakek senang kalian mau mengaku.. Lain kali kalau mau mangga harus bilang ya” Ucap Kakek Lee ramah sambil mengacak rambut Sungje -karena dia berdiri didekat tangan kakek Lee yang nggak megang tongkat-

“Ah~ Jinja~ Gomawo Kek” Ucap dua namja itu girang, sembari nyengir kearah dua gadis dibelakangnya yang sedang melipat tangan didada.

“Kenapa mereka tidak dihukum saja Kek…” Ucap Sora, dari nada bicaranya tampak ia sedikit kesal karena kakek Lee membiarkan saja kelakuan dua namja sok itu.

“Wuoh~ Sirik aja~ Suka-suka kakek dong!!” Cibir Minho dengan gaya sengaknya

“Sudah-sudah.. hentikan.. Bagaimana kalau kita semua masuk.. Kakek punya cookies didalam.. Ayo anak-anak bantu kakek menghabiskannya..”

“Ayo kek.. kami bantu.. kami bantu” Ucap kedua namja itu serempak mendengar kata makanan disebut, apalagi gratisan. Rugi banget kalau sampai nolak rejeki.

“Huh.. dasar sungut udang” Sindir Sora

“Madesu kau” Balas Minho dengan tampang mengejek tingkat akut, membuat Sora pengen banget nyakar mukanya.

“Sudah-sudah ayo masuk” Kakek Lee mempersilahkan keempat anak itu masuk kedalam rumahnya

Tanpa banyak babibu Minho dan Sungje berlari kedalam rumah dan langsung merebahkan diri disofa merah marun yang terletak diruang tamu kakek Lee.

“Dasar nggak sopan” Umpat Sora dalam hati

“Sora.. kau mau membantu kakek.. Tolong ambilkan cookies-nya didapur ya sayang”

Mendengar itu Sora langsung tersentak. Sial banget sih pikirnya, kenapa enggak dua udang kembar itu aja yang ngambil, kan yang mau mereka. Dengan tampang terpaksa akhirnya Sora menyanggupi. Ia bisa melihat wajah puas Minho dan Sungje yang cekikikan dari tadi mentertawakan nasibnya.

“Uhm.. sebaiknya aku aja deh yang ngambil.. Kalian tunggu disini aja..” Tawar Heamin, ia segera berjalan kearah dapur Pak Lee.

Uh~ Kau emang bestfriend deh~ Daebak!!” Teriak Sora girang dalam hati, dengan tampang malas dia melirik kearah dua namja yang tidak tahu diri itu, lalu dengan kesal Sora mendudukan dirinya disalah satu sofa yang ada disana

“Ini kuenya..” Teriak Heamin dia menaruh sepiring penuh cookies didepan meja, tanpa babibu lagi Minho dan Sungje langsung menyikatnya.

“Aigo~ Rakus sekali~” Gerutu Sora. Gadis itu melipat tangannya, pandangan matanya menatap dua orang namja yang sibuk memakan cookies dengan tatapan menyebalkan.

“Uhm.. boleh bertanya Kek?”

“Kau mau bertanya apa Heamin sayang?”

“Uhm.. Tadi aku tidak sengaja melihat foto-foto yang dipajang diruang keluarga saat mau mengambil cookies didapur” Ucap Heamin takut-takut, sepertinya ia khawatir akan melanggar privasi kakek Lee.

“Lalu.. apa yang ingin kau tanyakan Heamin?”

“Uhm.. Digory itu siapa kek?”

Heamin bisa melihat perubahan ekspresi kakek Lee saat dia menyebutkan nama itu. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan tentang itu, pikir Heamin dalam hati.

“Maaf kalau aku menyi—“

“Tidak apa-apa Heamin” Potong Kakek Lee

“Lihat Heamin, gara-gara kau kakek sedih” Ucap Minho diiyakan oleh Sungje, berusaha mengejek gadis itu.

“Sudah.. Apa kalian mau mendengar suatu cerita?” Ucap kakek Lee, ia tersenyum menatap keempat anak itu satu persatu.

“Uhm.. cerita tentang apa kek?”

“Dongeng Tudung merah?”

“Haha~ Sudah besar percaya dongeng.. dasar bayi!!” Ejek Minho dengan tampang menjadi-jadi

“Semoga tentang alien..” Sahut Sungje

“Yaa.. aliennya itu seperti kalian tahu!!” Balas Sora kesal

Kakek Lee tersenyum melihat tingkah ketiga anak kecil yang berusaha mengejek satu sama lain.  Kemudian pandangannya terarah pada Heamin yang hanya diam melihat teman-temannya. Kakek Lee menarik napas dalam lalu membuangnya.

“Kalian mau dengar cerita tentang seorang anak bernama Pancy?

“Pancy? Pancy apa kek?”

“Sepertinya menarik..”

“Kalau begitu ayo ceritakan kek..” Ucap Sungje, Sora dan Minho bergantian

“Dengarkan baik-baik anak-anak.. Cerita ini mengisahkan tentang seorang gadis kecil bernama Pancy Lewinsham”

“Umurnya berapa kek?” Potong Minho tiba-tiba, yang sukses mendapatkan tatapan sebal dari ketiga temannya.

“Apa? Aku kan cuma ingin bertanya?” Ucap Minho berwatados ria

“Dia seumuran kalian..” Jawab Kakek Lee tersenyum ringan, membuat matanya yang sudah sipit jadi tidak terlihat.

“Baiklah kek, Silahkan lanjutkan”

“Simak baik-baik, mungkin apa yang aku ceritakan tidak masuk akal. Tapi percayalah hal itu ada”

Ini  kisah tentang sesuatu yang terjadi dulu sekali ketika kakek-nenekmu masih kanak-kanak. Kisah ini penting karena mengungkapkan bagaimana pertama kali dimulainya berbagai hal bisa keluar-masuk dari dunia kita sendiri ke dunia tengah.

Di masa-masa itu, kalau kau anak laki-laki kau harus mengenakan kerah Eton yang kaku setiap hari, dan sekolah-sekolah biasanya lebih kejam daripada sekarang. Tapi makanan-makanannya lebih lezat, dan kalau bicara soal permen-permennya, aku tidak akan bilang padamu betapa murah dan nikmat semua jenisnya, karena itu hanya akan membuat air liurmu menetes percuma. Dan di masa-masa itu, hiduplah di London anak perempuan bernama Pancy Lewinsham.

Dia tinggal di salah satu rumah di deretan panjang rumah yang berdempetan. Di suatu pagi, Pancy sedang berada di kebun belakang ketika seorang anak laki-laki datang berlari dari kebun sebelah dan meletakkan kepalanya di atas pagar tembok. Pancy mendongak dan berjalan mendekati anak laki-laki itu, penuh rasa ingin tahu. Yeah bisa dibilang wajahnya agak kotor, pakaiannya juga penuh lumpur. Pancy mengamati wajah anak itu, sepertinya dia habis menangis karena matanya terlihat sipit.

“Hai” Sapa Pancy

“Hai” Sapa anak itu. “Siapa namamu?”

“Pancy”Jawab Pancy. “Kau?”

“Namaku Cedric” Jawab anak laki-laki bernama Cedric itu

“Namamu aneh” Ucap Pancy

“Lebih aneh mana dengan Pancy” Sahut Cedric

“Namamu lebih aneh” Ucap Pancy lagi

“Tidak” Tukas Cedric

“Yang pasti aku akan mencuci wajahku,” kata Pancy. “Itu perlu kaulakukan, terutama setelah—” lalu Ia berhenti. Sebenarnya Pancy berniat mengatakan “Setelah kau menangis lama,” tapi ia pikir itu tidak sopan.

“Baiklah.. kau pasti juga akan bertampang seperti ini kalau sudah dikejar Nona Beaubox” Ucap Cedric nyaring dia berjalan kearah pancuran air dan membasuh mukanya disana dengan cepat.

“Siapa itu? Beaubox?” Tanya Pancy

“Kau tidak tahu? Oh come on.. Sudah berapa lama kau tinggal disini?”

“Uhm.. Sebulan yang lalu aku datang kesini.. yeah tinggal ditempat ayah baru- sepertinya tidak buruk.. kurasa-“

“Kau anak tuan Plummer? Err maksudnya anak tirinya”

“Yeah.. kenapa?”

“Huh~ si tua itu akhirnya laku juga.. Aku tidak menyangka kau tahan dengan segala omelan memuakannya itu. Dasar orang tua sok berkuasa. Mentang-mentang dia pasukan kerajan. Cih~”

“Hey.. tidak boleh menghina orang tua..”

“Terserah kau saja, tapi sudah kuingatkan dia tidak sebaik yang terlihat”

Pancy heran mendengarkan perkataan Cedric -teman barunya itu- tentang ayah barunya yang berbahaya dan menyebalkan. Memang ada yang salah dengan ayah barunya? Setahu Pancy ayah barunya sangat sayang pada dia dan ibunya.

“Hey.. aku mau pulang dulu.. Selamat tinggal Pancy, mungkin besok kita bisa bermain lagi. Yeah kalau kau mau..”

“Tentu..” Jawab Pancy sembari tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.

“Rumahku ada disebelah rumah kosong itu.. Kalau kau ingin mampir jangan lupa bawa kue”

Cedric berjalan memasuki rumahnya yang benar saja terletak disamping rumah yang katanya kosong itu, Pancy mengamati rumah kosong itu sekilas. Halaman tidak terawat, cat kusam dan sebagainya yang sering kau lihat apabila suatu rumah telah lama ditinggal penghuninya.

“Pancy.. kau dimana?” Teriak seorang wanita berambut pirang, mata birunya menatap sayu.. Bisa ditaksir kira-kira usianya sekitar 30-an. Ia berjalan sambil memegangi perutnya yang terlihat membesar.

“Aku disini Mom..” Pancy berlari mendekati wanita itu.

“Sudah sore, ayo pulang.. Nanti ayahmu mencari” Ucapnya sembari mengelus kepala Pancy lembut. Pancy tersenyum dan mengiyakan ajakan wanita itu. Mereka berjalan masuk kedalam sebuah rumah yang jaraknya terpisah empat rumah dari rumah Cedric.

“Ayah dimana?” Tanya Pancy saat mereka sedang makan malam bersama diruang makan.

“Sebaiknya cepat habiskan makananmu, lalu pergi tidur” Jawab Ibu Pancy

Pancy dengan cepat menghabiskan makanannya dalam diam lalu segera naik keundakan tangga  pergi menuju kamar tidurnya yang terletak dilantai dua. Pancy menarik kenop pintunya lalu membuka dan menutupnya, kemudian gadis itu berjalan lesu kearah ranjang tidurnya.

Esoknya Pancy memutuskan lagi untuk berjalan-jalan disekitar kebun. Dan kali ini dia bisa melihat Cedric sedang bergelantung  atau lebih tepatnya duduk diatas dahan sebuah pohon besar sambil memainkan teropong jarak jauh berwarna gold-nya.

“Hei” Sapa Pancy

“Oh kau.. Mau ikut duduk disini..” Cedric menepuk-nepukan tangannya.

“Tidak, aku tidak bisa memanjat.”

“Oh.. Kasihan, baiklah sekarang aku turun..”

Cedric dengan cepat menurunkan tubuhnya dari pohon itu lalu berjalan mendekati Pancy yang berjarak sekitar dua meter dari pohon itu.

“Kau habis menangis lagi?” Tanya Pancy, melihat mata Cedric masih sama sipitnya seperti kemarin dia lihat.

“Apa? Kau bercanda?”

“Tidak, lihat matamu.. Jadi sipit begitu”

“Ini memang dari lahir tahu”

“Oh~ benarkah? Eh? Aku baru sadar wajahmu berbeda dari orang Inggris kebanyakan. Kau tampak seperti orang..—“

“Maksudmu Asia..” Potong Cedric

“Yeah.. itu yang mau kukatakan.. kau berasal dari wilayah mana?” Tanya Pancy antusias

“Timur..” Jawab Cedric malas “Dan ini yang kudapat dari sekolah bangsawan, lihat” Ia menunjuk luka gores dipipi kirinya yang terlihat baru saja mengering.

“Apa yang mereka lakukan padamu?” Tanya gadis kecil itu iba

“Yeah kau tahu, menjadi berbeda selalu tidak menyenangkan. Semacam ditindas dan dilecehkan” Cedric menggertakan giginya menahan amarah, Ia teringat perlakuan teman sekelasnya yang tega menguncinya sendirian digudang atau disiram air ditoilet dan yang lebih parah dihajar oleh McPhee, satu angkatan diatas Cedric gara-gara tidak sengaja menumpahkan semangkuk sup dikepalanya, Cedric melihat dengan pasti teman sekelasnya Clark, cowok menyebalkan dengan wajah tengil menghalangi jalannya sehingga sup yang tengah ia bawa dengan hati-hati tumpah di kepala McPhee, orang paling mengerikan sesekolahan. Dan akhirnya, Cedric harus puas pulang dengan hadiah luka gores dipipi kirinya.

“Maaf.. ”

“Atas?”

“Yeah.. sudah menyinggung perasaanmu..”

“Santailah Pancy~ Tidak usah dipikirkan” Pancy tersenyum mendengar perkataan Cedric.

“HEY ORANG ANEH!!” Teriak seorang anak laki-laki tampangnya benar-benar memuakan. Disebelahnya berdiri seekor anjing harder yang tampak iyuh~ mengerikan..

“Rupanya kau dapat teman baru” Lanjutnya dengan nada sengak, benar-benar membuat jengkel.

“Apa urusannya denganmu!” Balas Cedric, ia menatap tajam kearah laki-laki menyebalkan itu.

“Urusanku? karena aku tidak suka denganmu.. Anak aneh!!”

“Siapa dia Cedric?” Tanya Pancy setengah berbisik

“Clark.. Orang sok, dia tidak menakutkan..” Jawab Cedric “yang menakutkan itu apa yang berada disebelahnya” Lanjutnya sambil memandang anjing  herder disebelah Clark yang sedang menatap ganas kearah mereka berdua.

“Itu yang mengejarku kemarin, Nona Beaubox.. Sebaiknya kau pulang Pancy” Saran Cedric, dia khawatir Clark akan melepas anjingnya dan menyerang mereka berdua, kalau dia sih tidak masalah tapi Pancy, pasti dia akan mudah tertangkap oleh Beaubox.

“Kalian menghiraukanku~ Sekarang rasakan ini~ Beaubox serang mereka!!”

Mendengar perintah dari sang majikan, Beaubox langsung berlari mengejar Cedric dan Pancy. Mereka berdua setengah mati berusaha menghindari kejaran Beaubox. Dengan kepayahan akhirnya mereka berdua berhasil lolos setelah bersembunyi disebuah labirin didalam hutan didekat sana.

“Tenang saja, Beaubox tidak akan berani masuk kedalam”

“Kenapa?” Tanya Pancy heran

“Entahlah~ Siapa yang peduli” Cedric berjalan keluar memeriksa keadaan, kali saja Beaubox nekat masuk kedalam atau Clark sudah kehilangan ketakutannya memasuki tempat ini. Bisa gawat jadinya.

Sreek~

“Siapa itu?”

Bunyi itu semakin lama semakin keras, Pancy terlihat sangat penasaran, diputuskannya untuk mengikuti arah suara itu berasal.

“Wow” Pancy kaget melihat sesuatu seperti kastil, err lebih tepatnya sebagian dalam kastil karena bentuknya agak kotor dan terlihat lebih yah seperti tempat sehabis perang yang porak poranda dan tenggelam selama ribuan tahun tidak ada yang menginjaknya barang sedikitpun.

Samar-samar ia melihat sesuatu yang berwarna keemasan terbang disekitarnya, dan benda itu menuju kebawah, menuruni anak tangga. Saat Pancy hendak mengikuti benda itu, ia mengurungkan niatnya karena mendengar suara Cedric berteriak-teriak dengan sangat keras memanggilnya.

“Kau darimana saja?” Ucap Cedric begitu melihat batang hidung Pancy. “Kupikir kau hilang” Sambungnya lagi.

“Aku habis berkeliling”

“Oh~ Kalau begitu ayo pulang~ Mereka sudah tidak ada”

Cedric dan Pancy berjalan beriringan keluar dari tempat itu. Sesudah mengucapkan salam mereka berpisah kembali kerumah masing-masing.

“Darimana kau Pancy? Bermain dengan anak timur?” Ucap Tuan Plummer, ayah tiri Pancy yang terdengar sedikit mengejek saat ia mengucapkan anak  timur.

“Jangan pernah bermain dengannya Pancy. Dia pengaruh buruk untukmu” Lanjut Tuan Plummer. Ingin sekali Pancy berteriak kearah ayah tirinya itu mendengar ia mengejek Cedric dengan sebutan anak timur, tapi diurungkan niatnya karena Pancy tidak ingin mengecewakan ibunya.

“Sekarang masuk kekamarmu dan tidur. Hari ini kau dihukum, kau tidak akan mendapat makan malam!!”

Pancy dengan kesal menuruti perintah Tuan Plummer. Baru kali ini dia diperlakukan seperti itu hanya karena masalah kecil. Ternyata benar apa yang dikatakan Cedric, Tuan Plummer tidak sebaik yang diperlihatkannya.

Malam itu Pancy tidak bisa tidur nyenyak, Perutnya meronta minta diberi makan. Tidak tahan, dengan takut-takut Pancy menuruni anak tangga dan berjalan kearah dapur. Saat hendak membuka lemari penyimpanan makanan, sesuatu yang sama seperti yang dilihatnya dilabirin muncul dihadapannya. Pancy menjerit tertahan lalu membekap mulutnya sendiri. Ia mengamati benda terbang berwarna keemasan itu, kali ini Pancy bisa melihat bentuknya seperti belalang sembah tapi ukurannya lebih besar. Ia terbang keatas lalu menukik tajam dan berhenti tepat didepan wajah Pancy, seketika benda itu berubah menjadi makhluk kecil bersayap yang tubuhnya seperti manusia, tapi warna keemasannya tetap menghiasi seluruh tubuhnya.

Pancy heran dan agak sedikit takut, tapi dengan berani ia dekatkan telunjuknya kearah makhluk kecil itu. Dengan tiba-tiba makhluk itu mendekatkan sepasang tangannya ketelunjuk Pancy lalu mengoyang-goyangkannya naik turun. Pancy tersenyum, sepertinya ia mendapat teman baru lagi kali ini.

“Kau peri?” Tanya Pancy, makhluk itu menganggukan kepalanya, kemudian ia menunjuk kearah jendela dapur.

“Kau mau keluar?” Peri itu menganggukan kepalanya lagi.

Pancy berjalan kearah jendela dan membukakanya. Peri itu melesat keluar lalu terbang berputar kemudian terbang rendah disekitar Pancy. Ia menggerakan tangannya seperti ingin berkata ‘ayo ikut denganku’. Awalnya Pancy ragu, tapi karena penasaran dia mengikuti peri yang baru saja dilihatnya itu.

Pancy tercengang, ia tidak habis pikir kenapa dia dibawa lagi kedalam labirin tadi siang. Dan peri itu melakukan seperti yang dilihatnya tadi  sebelum Pancy pergi dari tempat itu karena Cedric mencarinya. Ia sepertinya menyuruh Pancy mengikutinya kelorong bawah tanah. Pancy menuruni undakan tangga, kemudian sampailah ia disebuah ruangan lain yang lebih gelap dan tiba-tiba obor yang menempel disekitar dinding menyala sendiri. Pancy agak sedikit terkejut, dilihatnya si peri terbang rendah dan berputar disebuah patung.

“Halo anak manis” Patung itu berbicara dan sekarang berubah wujud menjadi sosok manusia berukuran 1 meter serta terlihat agak gemuk dan jenggotnya menyentuh lantai.

“S..Si..Siapa k.kau?” Gagap Pancy ketakutan

“Aku dwarf, Namaku Theo..” Jawab makhluk kecil yang ternyata seorang dwarf itu.

“A..Apa maumu?”

“Tenanglah.. aku tidak akan menyakitimu anak manis” Ucap Theo “Rach apa dia orangnya?” Tanyanya kearah peri yang ternyata bernama Rach.

Rach mengangguk. Theo Nampak tersenyum senang. Ia memandang Pancy lekat. Gadis kecil itu semakin ketakutan, dikirannya Theo hendak menjadikannya makan malam. Oh sungguh malang nasibnya..

“Akhirnya aku menemukanmu Princess Arwen.. Sekarang kita bisa pulang Rach.. Kita bisa pulang dan menemui King Aragorn” Ucap Theo senang

“Apa maksud kalian?”

“Dengar, dulu Princess Arwen ingin sekali melihat dunia luar, tapi sesudah sampai dia malah tersiksa dan cahaya membutakannya. Sampai akhirnya ia ingin kembali kedunia tengah tapi kematian lebih dulu menjemputnya” Jelas Theo

“Apa hubungannya denganku?”

“Karena jiwa Princess Arwen ada didalam tubuhmu~ Nona Pancy Lewinsham. Sekarang kau tinggal menuruti perintahku. Maka kita semua bisa pulang.”

“Kenapa aku harus menuruti perintahmu!”

“Karena kau adalah Princess Arwen”

“Tidak aku Pancy bukan Princess  Arwen seperti yang kalian kira. Kalian pasti salah orang.” Pancy hendak berbalik keluar dari tempat itu, dengan cepat Rach menghalangi dengan cara terbang meliuk-liuk didepan mata gadis itu.

“Tunggu nona, apa kau tidak kasihan dengan kami. Selama berabad-abad menunggumu disini. Berharap kau datang dan kembali bersama kami. Lihatlah Rach, dia sangat bersemangat mencarimu untuk bisa membawamu kesini. Dan apa yang kau lakukan sungguh membuat kami kecewa” Ucap Theo, Rach menundukan kepalanya sedih mendengar ucapan Theo. Pancy jadi tidak enak hati, ia berbalik menghadap Theo dan menatapnya.

“Tapi aku punya ibu dan adik yang sebentar lagi lahir, aku tidak bisa meninggalkan mereka”

“Apa kau tidak memikirkan King Aragorn dan Queen Eowyn yang mengharapkan kepulanganmu kedunia tengah. Tolonglah~ Kumohon padamu”

“Aku – “

“Katakan Iya, Princess

“Ya.. Ya..Ya.. Baiklah..”

“Yeah” Theo langsung melonjak kegirangan sementara Rach berputar-putar ditengah ruangan dengan cepat, cahaya emasnya berhamburan diseluruh ruangan itu.

“Tapi jangan panggil aku Princess, cukup Pancy saja”

“Yeah, baiklah.. Terserah kau saja”

“Oke.. sebaiknya aku pulang, kalau tidak aku bisa telat bangun dan dihukum lagi..”

“Tunggu.. Bawa benda ini bersamamu” Theo menyerahkan buku yang terlihat agak tebal serta bersampul coklat dengan bingkai emang disamping-sampingnya kearah Pancy, ia menerimanya penuh tanda tanya. “Dia akan memberitahukan apa yang harus kau lakukan” Sambung Theo.

Setelah itu Pancy berlari keluar dari labirin itu, menembus gelapnya malam. Dengan hati-hati ia masuk kerumahnya, berjinjit saat menaiki tangga agar tidak ada yang memergokinya sekarang. Dengan cepat Pancy segera masuk kekamarnya dan menutupnya dengan pelan.

@@

“Pancy!! Disini” Teriak Cedric dari atas pohon, saat dia melihat gadis itu berjalan keluar dari rumahnya sambil menentang buku besar. Pancy tersenyum, lalu berjalan mendekat kearah Cedric.

“Kau sakit?” Tanya Cedric begitu turun dari pohon dan menghampiri Pancy yang berdiri bawahnya, ia agak sedikit khawatir melihat wajah pucat Pancy serta lingkaran hitam yang muncul dibawah matanya.

“Tidak, aku baik-baik saja” Jawab Pancy cepat

“Ngomong-ngomong, buku apa itu?”

“Ini” Pancy mengamati buku yang dibawanya sekilas“Bukan apa-apa..” Lanjutnya lagi.

“Kenapa sikapmu aneh? Pasti ini ada sesuatu dengan buku itu” Selidik Cedric

“Kalau kukatakan apa kau akan percaya?” Pancy tampak ragu

“Yeah, tergantung” Balas Cedric

Pancy akhirnya menceritakan tentang bagaimana buku ini bisa ada ditangannya, Mulai dari Tuan Plummer yang menghukumnya, tapi tentu saja Pancy menghilangkan bagian anak timur dari ceritanya, ia takut Cedric tersinggung.  Bagaimana ia tidak bisa tidur karena kelaparan dan nekat mengambil makanan dari dapur. Ia ceritakan pula tentang Rach, teman perinya yang membawanya kelabirin tua dihutan. Tentang pertemuan dengan drawf bernama Theo, tentang dunia tengah, King Aragorn, serta Princess Arwen. Bagaimana drawf itu mengatakan kalau Pancy adalah salah satu bagian dari mereka. Dan akhirnya setelah berdebat drawf itu memberikannya buku itu.

“Sekarang, apa pendapatmu?”

“Yeah, itu kedengaran tidak masuk akal. Dan terdengar seperti dongeng pengantar tidur”

“Sudah kuduga, kau pasti akan berkata begitu”

“Tapi itu keren Pancy” Ucap Cedric

“Yeah, keren untuk disebut pembual..” Balas Pancy lemah

“Oh come on, aku juga pernah bertemu makhluk berkaki kambing dan berjanggut. Uhm~ mereka menyebutnya apa ya? ah~ Faun, bagian atas sampai perut berwujud manusia dan sisanya kambing”

“Benarkah?” Tanya Pancy, merasa kalau yang mengalami kejadian aneh bukan hanya dia tapi Cedric juga “Dimana kau melihatnya? Uhm~ Biar kutebak, dihutan atau atau yeah Labirin tua?”

“Aku melihatnya dimimpiku” Jawab Cedric cepat

“Kau sedang mengejekku?”

“Tidak, aku berkata yang sesungguhnya~ Sini biar kulihat buku itu~” Cedric merebut buku dari tangan Pancy kemudian membuka dan membolak-balikan isinya dengan cepat.

“Hey, buku ini kosong~ Lihat, semua halamannya putih bersih” Cedric menjulurkan buku itu tepat dihadapan Pancy, gadis itu segera meraihnya dan membolak-balikan halamannya.

“Kau benar Cedric~ Mungkin itu cuma mimpi~”

“Yeah, apa kubilang”

“Oh— astaga” Pancy menepuk jidadnya

“Kenapa?” Tanya Cedric heran melihat kelakuan temannya itu.

“Tuan Plummer pulang cepat, aku harus segera kembali kerumah..” Pancy pamit dan segera berlari menuju rumahnya.

Dikamar, Pancy masih memikirkan tentang kejadian aneh yang menimpanya. ‘Apa benar itu cuma mimpi seperti yang dibilang Cedric, tapi ini terlihat sangat nyata dan sekarang aku bahkan masih bisa merasakannya’ Pikir Pancy. Matanya tidak lepas dari buku bersampul tua coklat yang disengajakannya terbuka, pemberian dari drawf bernama Theo kemarin malam.

Tiba-tiba Pancy dikejutkan oleh kemunculan Rach, dia terbang berputar diatas Pancy, menghujankan serbuk-serbuk emas. Pancy memandang Rach, lalu mencubit lengannya sendiri.

“OUWCHH”

Teriaknya, sekarang Pancy yakin kalau dia tidak sedang bermimpi. Ia terjaga sepenuhnya dan berarti kejadian semalam adalah nyata. Pancy tersenyum senang, Sekarang Cedric berhutang satu kata maaf padanya.

“Hey, kau kembali” Ucap Pancy sembari menjulurkan telunjuknya kearah Rach yang melayang disekitar bukunya. Tiba-tiba makhluk itu menusuk Pancy, yang entah dengan apa. Membuat Pancy menjerit tertahan. Ia hampir saja memukul Rach sebelum menyadari sesuatu muncul dari balik kertas kosong yang terkena darahnya. Pancy mengamatinya, dengan ragu ia menyapukan telunjuknya yang berdarah dan benar saja apa yang dipikirkannya, sesuatu muncul lagi dari bekas darahnya itu. Oh sekarang dia tahu cara melihat isinya.

Thanks Rach, Sekarang kita lihat apa yang ada dibalik sini”

Pancy menyapukan darahnya di lembar halaman yang terbuka, setelah selesai dia mengamati isi yang tertulis didalamnya. Temukan permata hitam pada sisi terjahat hutan, Lakukan sebelum purnama kedua. Pancy mengerutkan keningnya, apa-apaan ini? Menemukan permata hitam? Disisi terjahat hutan? Memang hutan itu manusia apa yang punya sisi jahat? Huh~ Gadis itu membuang napasnya.

“Hai, Pancy” Sapa Theo yang muncul entah darimana, yang pasti dia sekarang ada disamping Pancy, berdiri memandang gadis itu.

“Sudah menemukan petunjuk?” Theo mendekati gadis itu, dan mendelik bukunya.

“Hmm.. Permata hitam, kau harus mencarinya dihutan~ Hutan dengan pohon yang paling besar dan tua”

“Begitukah? Lalu kenapa dikatakan jahat?” Tanya Pancy

“Ouh, tentu saja, pohon itu tidak akan bertahan selama beratus abad tanpa adanya sesuatu yang menopangnya” Terang Theo

“Jangan katakan kalau sesuatu itu jahat dan kejam”

“Sayangnya kau benar” Ucap Theo

“Carilah pohon itu, dan masuk kedalamnya. Biarkan dia menangkapmu, lalu serang lidahnya. kau paham” Theo bersiap pulang -maksudnya menghilang- tiba-tiba ia berbalik lagi kearah Pancy “Ah~ aku hampir lupa, besok malam adalah bulan purnama. Jadi, kau harus kesana secepatnya”

@@

“Kau harus berdandan yang rapih sayang, pakai baju ini ya.. ibu pilihkan untukmu Pancy” Ucap seorang wanita sambil mengeluarkan sebuah dress pendek selutut tanpa lengan berwarna abu-abu serta cape berwarna senada tapi lebih muda dari dalam lemari pakaian.

“Untuk apa, Mom?” Tanya Pancy

“Akan ada pesta dirumah, kau harus bersikap manis ya”

Pancy menuruti saran ibunya, beberapa pelayan membantunya menyisir rambut dan merapihkan bajunya. Pancy berjalan keluar berdampingan dengan ibunya, ia bisa melihat puluhan orang dewasa yang tidak dikenalnya berada disekitar ruang tamunya. Pancy memicingkan matanya, ia menemukan Cedric berada didekat meja panjang penuh dengan makanan. Pancy berjalan menghampirinya.

“Hai” Sapa Pancy

“Oh, Hai Pancy” Balas Cedric “Mau kue?” Tawarnya lagi

“Tidak, terimakasih~” Tolak Pancy, gadis kecil itu mengamati Cedric yang masih melahap cake dipiringnya.

“Membosankan kan?” Ucap Cedric kemudian, setelah piring kuenya licin tak tersisa.

“Yeah, kupikir kau tidak kemari~ Bukanya kau benci Tuan Plummer”

“Tentu, hanya sekedar formalitas” Ucap Cedric “ Kau tahu, orang-orang dewasa sungguh licik, mereka bersikap manis didepanmu tapi bisa menerkam dibelakang” Lanjutnya setengah berbisik kepada Pancy

“Maksudmu?”

“Huh, kau lihat Tuan Plummer dan orang-orang itu. Disana juga ada ayahku. Lihat sifat mereka, benar-benar memuakkan. Sok baik didepan, dasar penjilat” Tunjuk Cedric “Dan itu, ibuku. Dan kau lihat kerumunan wanita gemuk yang sok disana. Mereka tengah memperbincangkan sesuatu yang tidak baik tentang keluarga kami.. Haah, benar-benar memuakkan”

“Bagaimana kalau kita—“ Pancy menggantungkan kalimatnya “Pergi dari sini” Lanjutnya sambil berbisik

“Pergi dari sini, Yeah ide yang bagus.. Ayo”

Cedric dan Pancy keluar diam-diam menyelinap diantara kerumunan tamu. Dan dengan susah payah, mereka berhasil lari kekebun belakang.

“Hey, kau mau membantuku?”

“Bantu apa?” Tanya Cedric penasaran

“Kau tahu, letak pohon paling besar dan tua dihutan?”

“Hm.. Yeah kurasa, pohon ek tua, sangat tua.. tumbuh ditengah hutan. Memang kenapa?” Ucap Cedric

“Kalau begitu, antar aku kesana” Sahut Pancy antusias

“Kau gila~ Tempat itu ditengah hutan, dan aku dengar juga tempat itu berhantu lagipula disana banyak perompak”

“Terserah, kalau kau tidak ingin membantu, biar aku sendiri yang kesana” Pancy berjalan dengan cepat meninggalkan Cedric yang masih terbengong-bengong melihat tingkahnya.

“Hey, tunggu~ aku ikut” Teriak Cedric dan ia segera berlari menyusul Pancy ikut menerobos hutan.

“Inikah tempatnya?” Pancy mengamati dengan seksama pohon ek tua yang tumbuh tinggi menjulang keatas, ia bisa melihat dibagian bawah pohon itu terdapat semacam lubang, “Pasti itu jalan masuknya” Pikir Pancy

Gadis itu segera melepas sepatu beserta kaus kaki panjangnya, ia lepas juga capenya dan ia letakan disekitar sana. Pancy berjalan masuk kedalam sana, tidak menggubris larangan Cedric sedikitpun tentang bahaya-bahaya yang kemungkinan akan menerjangnya.

“Kau diam disini saja, tunggu sampai aku keluar” Begitulah perintah Pancy, Cedric hanya bisa diam dan memilih menuruti omongan Pancy. Sebenarnya ia  tidak tega juga membiarkan Pancy masuk sendirian kesana, tapi apa dikata phobia akan kegelapannya berhasil menguasai tubuh Cedric hingga ia tidak bisa berbuat banyak untuk menolong Pancy.

Didalam pohon err— maksudnya sekarang adalah gua, yeah ternyata dibawah pohon itu terdapat gua besar dan dari atas, kau bisa merasakan sedikit cahaya matahari yang masuk dari sela-selanya. Memberikan sedikit penerangan yang agak samar. Gua itu lembap dan kau jangan bertanya padaku bagaimana keadaanya, sudah pasti agak ‘menyeramkan’ dan sialnya, Pancy sekarang berjalan diatas sesuatu yang lengket dan berlendir. Iyuh~ sungguh benar-benar menjijikan.

WEBEK~ *bener nggak nih bunyi kodok? Wuoh maaf ye kalo author salah kekekeke~*

Seekor kodok besar setinggi dua kaki melompat kearah Pancy, dan berusaha menangkapnya. Pancy berusaha menghindar, tapi sayang kodok itu berhasil menangkap Pancy dengan lidahnya dan dengan cepat melilit tubuh gadis itu. Pancy kesulitan bernafas, sepertinya kodok itu berniat menghabisi nyawanya terlebih dahulu sebelum memakannya.

Biarkan dia menangkapmu, lalu serang lidahnya

~End of the Pancy Stories Part 1 of 2~

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


Advertisements

16 thoughts on “The Pancy Stories – Part 1”

  1. Wahhhhhhh
    Seru walopun sedikit membingungkan
    Tapi penasaran soalnya belum ketawan cerita sebenernya bgaimana

  2. Khayalan?!
    Ak sukaaaa…
    Londoonn?!
    Jg sukaaaa…
    #gaje sore2.
    jd keinget Alice in Wonderland. Hhaha…kira2 apa yg akan trjdi pd Pancy??
    Ayo!! part 2nya cepet!
    Ak suka ada cerita dlm cerita..
    #ga ad yg tanya

  3. hyaaa !!! keren !!!!
    aku mau lagi .. si pancy serang pke apa ?? kan dy ngak bwa apa2 ~!!!!
    hyaaa itu cedricnya siapa ?? onew ?? hwaaaa aku mau baca terusannya .. fotonya juga menarik !!
    aku mau baca .. jgn lma2 ya admin posting ini ff .. ^^

  4. bagus ceritanya author. bahasanya author mudah dimengerti hehe. cuma ada beberapa kata asing yg aku ga tau sih. kayak “madesu”. hehe

  5. …Daebak !!!!!!!!!!!!!
    author kaea jelmaan dari Tolkien n Lewis….so cool n fantastic…
    lanjuttttttttttttttttttt!!!!!!!!!!!!!!!!!

  6. waaah~ makasih ya semuanya yang udah mau baca dan komen di ff bulukan saya ini. Maaf (lagi-lagi) saya hanya membalas komen kalian disatu kotak (gara-gara inet lola, jadi ribet deh -.-‘)~
    oh iya buat Mimi, madesu itu artinya masa depan suram~ itu bukan kata asing kok ^^~
    nikitaemin,loela,ellajuli, kim ra tae, mimi, ihfirazalMVP, nuri, Michelle, blingers, ai, onit ysw, eunri vessaliuss jongmal gomawo udah mau baca dan komen ya 🙂

  7. Wah sumpah! Keren ceritanya! Aku suka bnget sama misteri 😀
    Penuturan dan bahasanya juga bagus banget!! Daebak untuk author!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s