LOST MIND

“LOST MIND”

 

Main Cast : Lee Jinki

Supporting Cast:

–         Kim Jonghyun, Lee Taemin, Choi Minho (SHINee)

–         Lee Kikwang (Beast)

–         Song Jieun (Secret)

Cameo:

–         Han Seungyon (KARA)

–         Kim Kibum (SHINee)

–         Kwon Jiyoung (big bang)

Author : queenshe/queenkeybum

Length: One Shot

Genre : Angst / Tragedy, Mystery, Dark

Rating : PG-15

Keterangan: Author POV (Point of View) – cerita dari sisi author

Jinki POV (Point of View) – cerita dari sisi Jinki

 

Disclaimer: I don’t own lee Jinki and other people here, they belong to their own selves and their Entertainment.

 

Author’s POV

Jinki menarik jas berwarna putih yang ada di kursinya. Dia mengenakannya pada tubuhnya yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu kekar. Tubuhnya memang proposional ditambah wajahnya yang tampan membuat jas berwarna putih panjang disertai perjuangan untuk mendapatkannya itu terlihat sangat pas saat dipakai olehnya.

Jinki menyibakkan rambut kuningnya yang sedikit menutupi matanya. Tangannya mengambil papan dengan kertas berisi list yang berada di atas meja kayu yang cukup besar.

“Hari ini tiga pasien” Ucapnya lirih “kenapa aku merasa mengenal tulisan ini?” Jinki mengernyitkan keningnya. “Ah molla”

Jinki meletakan list tersebut kembali ke mejanya. Jinki menekan tombol interkom sambil duduk di kursi besar yang berada di balik meja besar tadi.

“Pasien pertama silahkan masuk… Kim jonghyun-ssi” ucapnya memanggil pasien pertama.

Jinki’s POV

Krieeeetttt. Suara pintu terbuka.

“Silahkan kim jonghyun-ssi” ucapku ramah.

Jonghyun tersenyum dengan senyumnya yang terlihat tenang seperti biasanya. Dia menghampiriku dan duduk di kursi panjang lalu merebahkan tubuhnya.

“Lalu, bagaimana keadaanmu setelah kunjunganmu minggu lalu?” Tanyaku sambil duduk di dekatnya yang mulai memejamkan mata.

“Aku baik. Kurasa…” Ucapnya ragu.

“Kaurasa?”

“Ya…” Jonghyun membuka matanya “kurasa aku sudah lebih baik dok. Aku sudah tidak lagi mengkhawatirkannya terlalu berlebihan”

“Jadi kau sudah bisa menerimanya? Bahwa adikmu satu- satunya punya kehidupannya sendiri” tanyaku dengan sedikit hati- hati. Jonghyun tersenyum, mata indahnya kosong seakan memikirkan sesuatu dengan dalam.

“Jonghyun-ssi kau masih bersamaku?”

“Ah, ne..”

“Lalu?”

“Ya aku bisa menerima bahwa adikku, kibum bukanlah anak kecil yang harus kurawat dan kujagai lagi” dia menarik nafasnya panjang “dia punya kehidupannya sendiri…dan aku… Juga…”

“Benar… Itulah yang memang seharusnya kau lakukan jonghyun-ssi, jadi apakah kau bisa menerima bahwa adikmu kibum memiliki kekasih sekarang? dan dia mencintai kekasihnya…”

Mata indah jonghyun kini melirik tajam padaku menggambarkan kemarahan yang sangat dalam.

“Aku benci yeoja itu! Dia mengambil kibum kecilku. Yeoja itu seekor ular bermuka dua! Dia mempengaruhi kibum agar pergi dari apartemen kami. Apartemen yang susah payah kuusahakan untuk kami tinggal saat umma dan appa meninggalkan kami begitu saja” jonghyun mengatur nafasnya yang tak beraturan, “yeoja itu, yeoja itu… Sampah kecil yang selalu menempel di kaki kibum! Harus kubersihkan!”

Aku memperhatikannya, melihat ekspresinya yang menggebu- gebu karena emosi. “Jonghyun-ssi… Kau tak berbuat nekat lagi bukan?”

“Apa maksudmu?!” Tanyanya semakin emosi. Wajah tenangnya tak lagi tampak.

“Seperti yang kau lakukan kepada yeoja chingu kibum sebelum- sebelumnya” tanyaku dengan tenang. Jonghyun tersenyum sinis.

“Huh. Yeoja yang dulu semuanya bodoh. Aku tak tau mengapa selera kibum begitu rendah, jadi aku mudah melenyapkan mereka hanya dengan gertakan…”

Aku memotong “itu bukan gertakan jonghyun-ssi..”

“Ya baiklah, aku memukul mereka. Mereka mengerang kesakitan, rasanya sungguh luar biasa melihat wajah bodoh yang membodohi kibum kecilku itu tersiksa” jonghyun semakin antusias dan berbicara seakan berada pada dunianya sendiri “kau tau apa yang kulakukan pada yeoja yang terakhir ini?” Aku menggeleng. “Dia cukup pintar kuakui, makanya ‘hukuman’ yang kuberikan lebih dari yang lain. Aku menerornya, memukulnya, mengerjainya. Tapi sangat menyebalkan kibum terlalu bodoh melindunginya..”

Aku bediri dan menghela nafas, kukira hari ini bisa kulihat kemajuan yang lebih pesat pada kim jonghyun pasien yang telah kurawat cukup lama ini. Jonghyun sangat mencintai adiknya kibum. Sampai rasa cintanya membuatnya buta bahwa adiknya bukanlah sebuah berlian yang harus selalu dilindungi setiap saat. Hal ini disebabkan karena kejadian masa lalu yang membentuknya, umma dan appa mereka meninggalkan mereka tanpa jejak dan tanpa uang.

“Jonghyun-ssi lebih baik kau berlibur dulu, 1 minggu lagi kita bertemu disini”

“Tapi kibum…”

“Akan kupesankan pada travel langgananku, bagaimana dengan cheju island?”

Jonghyun menundukkan kepalanya lemas. “Ya kurasa cheju pulau yang bagus” ucapnya lirih.

Jonghyun berdiri dan menjabat tanganku. Lalu pergi meninggalkan ruanganku.

“Selanjutnya, lee taemin”

Pemuda pemalu itu memasuki ruanganku dengan kepalanya yang menunduk kebawah seperti biasanya. Sikap kikuknya masih terlihat dari pertemuan terakhir kami minggu lalu.

“Annyeonghaseo taemin-gun..” Panggilku padanya tanpa embel-embel ‘ssi’ karena dia jauh lebih muda daripadaku. Dia masih berumur 18 tahun, wajahnya imut dan menggemaskan, pemalu cenderung pendiam dan selalu menjadi objek penggencetan orang sekitarnya. Dia terlihat seperti orang yang takkan tega membunuh serangga sekalipun. Tapi kau tahu, aku bisa melihat potensi psikopat dalam dirinya, dari awal aku diserahi tugas untuk membimbingnya.

“Bagaimana kabarmu? Apa kau lebih baik?” Tanyaku ramah.

“Uhm yah..hummm… Aku masih digencet teman- temanku….” Dia terdiam sesaat “pamanku… Masih melakukan hal yang tidak kuinginkan padaku”

“Apa kau sudah berusaha melakukan perlawanan? Atau setidaknya membuka dirimu pada sekitar”

“Mereka membenciku. Teman sekolahku. Dan pamanku, hanya ingin memilikiku. Dan bibiku… lebih buruk, menganggapku tidak pernah ada, tidak hidup..” ucapnya dengan suara bergetar. Taemin menangis tersedu-sedu.

Aku memberikannya tisu. “Mereka tidak membencimu taemin-gun. Sudahkah kau membuka dirimu pada mereka? Membagi setiap cerita yang kau punya pada mereka, seperti kita saling berbagi cerita”

Taemin berhenti menangis. Wajahnya kembali menjadi taemin yang pemalu tapi dengan karakter yang berbeda, lebih tenang dan terlihat cerdik cenderung licik.

“Aku tak membutuhkan mereka” ucapnya datar dan tenang “aku tak peduli mereka menyiksaku dengan cara yang berbeda. Aku pun memiliki cara yang berbeda untuk menyiksa mereka. Kau ingat kwon jiyoung senior yang selalu memintaiku uang dan sellalu mempermalukan aku?”

“Ya aku ingat kau pernah menceritakannya, ada apa dengannya?”

“Dia fikir dialah penguasa segalanya. Dia berfikir takan ada yang berani padanya.. dia salah..” wajah imutnya masih tenang “bibiku orang kaya, aku punya uang banyak sehingga aku bisa melakukan apa saja.” Taemin terdiam lalu melanjutkan “aku membayar seseorang untuk melakukan hal yang buruk kepada jiyoung sunbaenim… seperti yang dilakukan oleh pamanku kepadaku, hal yang paling dibenci seorang namja”

Aku terdiam melihat kepada pemuda malang ini. Wajahnya yang imut dan seperti bayi tak sebersih hatinya yang dipenuhi kebencian terhadap dunia yang terlalu kejam untuk anak seumurnya.

“jiyoung sunbaenim masih saja terlihat sok berkuasa padaku padahal aku melihat video-videonya saat disiksa oleh orang bayaranku dia menangis sampai terkencing- kencing. Aku sangat puas melihat videonya, rasa sakit saat disiksa jiyoung sunbaenim jadi tak terasa sakit. Lalu pamanku? Pamanku yang memiliki kelainan itu, kelainan seksualnya membuatku mual, setiap saat dia menyentuhku aku ingin mematahkan lehernya. Tapi aku pintar, aku ingin dia tersiksa, kematian bukan hukuman yang pantas, aku mengikutinya saat dia akan pergi berlibur, saat itu salju turun kau tahu jalan itu pasti licin kan, aku menambah jalanan yang ia lewati dengan sedikit pelumas, mobilnya tergelincir. Sayang sekali dewi fortuna masih bersamanya, kalau tidak dia sudah lumpuh tak berdaya, yah sekarang hanya luka kecil tangannya diamputasi”

Taemin berhenti bercerita dan wajahnya masih tetap tenang dan tak berekspresi seakan bukan menceritakan sebuah kegilaan.

Aku memegangi kepalaku yang terasa sedikit sakit. Dua pasienku yang ingin kusembuhkan masih belum memiliki kemajuan sama sekali. Mereka sakit dan butuh bantuan tapi usahaku masih belum terlihat jelas yang terkadang membuatku sedikit sakit kepala. Aku memang sering merasa pusing akhir- akhir ini sehingga aku harus sering- sering minum obat penghilang rasa sakit.

“dokter jinki.. gwaenchana?” Tanya taemin padaku, kini wajahnya terlihat khawatir padaku, pandangan polos seorang anak remaja yang sesungguhnya. Hanya aku yang dipercayanya maka ekspresi ini benar- benar tulus kurasakan.

“gwaenchana taemin-gun… mianhae sepertinnya hari ini cukup sampai disini. Pesanku lebih baik kau datang lagi besok.. jangan lakukan apapun pada pamanmu ataupun jiyoung”

Taemin terdiam. “waeyo?” tanyanya dingin “apakah aku terlihat jahat? Bukankah mereka yang jahat padaku, bukankah..”

“bukan begitu taemin-gun… orang yang selalu mereka siksa adalah kau, dan jika terjadi apa-apa pada mereka kaulah orang yang paling dicurigai. Dan kau tahu, itulah yang mereka inginkan.. menyingkirkanmu” jawabku berdalih sambil terus memegang kepalaku yang sakit.

Taemin tersenyum “kau benar, aku harus bersabar. Kau satu-satunya sahabatku dokter jinki, tak ada lagi orang yang kupercaya selain kau, kau harus istirahat dok, besok aku akan kemari lagi” taemin berdiri dari duduknya lau menoleh padaku dan berbicara kembali.

“kau tahu dokter jinki… kaulah satu- satunya yang bisa menerima keberadaanku selama ini. Bahkan dokter kikwang saja membuangku padamu, menyingkirkanku dari listnya. Tapi aku tak peduli toh dokter itu terlihat tolol” pandangan taemin menerawang “dokter jinki, jika kau ada masalah bilang saja padaku… aku akan melakukan apa saja untuk menolongmu”

“gwaenchana yo taemin-gun…”

‘menolong’ yang dimaksudkannya disini tidaklah sama degan menolong seperti yang orang lain maksud. Terkadang aku ngeri melihat taemin. Saat seorang yeoja memarahiku karena kesalahanku, kau tahu apa yang dilakukannya untuk ‘menolongku’? dia medorong wanita itu dari tangga hingga yeoja itu terluka. Ya tuhan, kurasa kebaikanku padanya juga memberikan dampak buruk dan kemungkinan bisa menjadi sebuah obsesi yang mengerikan.

“baiklah aku pulang dulu dokter jinki” aku tersentak dan terbangun dari lamunan pendekku tentang taemin. Taemin berdiri dan pergi meninggalkanku setelah membungkukan badannya.

Aku berdiri dan mengambil list pasienku. Kurasa aku tak kuat jika harus menerima tiga pasien lagi, kepalaku rasanya mau pecah. Tapi selanjutnya adalah seungyon-ssi, pertemuan yang sangat penting bagiku. Yeoja yang selama ini menarik perhatianku, pasienku yang juga sakit ini mampu mebuatku terpesona. Aku menunggu waktu sampai dia sembuh untuk menyatakan perasaanku, tapi akhir- akhir ini hasratku untuk memilikinya sungguh besar, haruskah aku menyatakan perasaanku padanya hari ini?

“permisi” terdengar suara seorang yeoja lembut dari dekat pintu masuk. Aku menoleh kearah pintu dan terlihat sosok yeoja cantik berpakaian suster menghampiriku.

“kau?”

Author POV

“ah kau lupa padaku lagi dokter jinki, aku adalah resepsionis sekaligus suster  baru yang mengurus beberapa pasienmu, song jieun”

Jinki mengerutkan keningnya “ah ya akhir- akhir ini aku selalu lupa dengan sesuatu karena rasa pusing ini sungguh luar biasa. Maafkan aku jieun-ssi”

“gwaenchana yo jinki-ssi.. aku membawakanmu obat pusing, ayo diminum dulu..”  jieun memberi jinki beberapa obat dengan air putih dan jinki pun meminumnya. “anda lebih baik tidur dulu dok hari sudah larut”

“tapi aku masih memiliki pasien yang menungguku, aku tak bisa meninggalkannya, dia sakit dan sehari saja tidak aku temui mungkin dia akan melakukan hal yang gila..” jinki berdalih.

“tak apa” jawab jieun dengan senyumannya yang tenang “aku sudah mengatur jadwal untuk bertemu denganmu besok, percayalah pada pasien- pasienmu sendiri, mereka juga sahabatmu bukan?”

“Seungyon-ssi… Aku harus bertemu dengannya jieun-ssi” jinki memaksa.

“Seungyon-ssi tadi baru saja pulang, karena dia ingin kau istirahat dan lekas sembuh, dia titip salam dan ini ada coklat darinya, nah bagaimana jika kau menghargai keinginannya”

Hati jinki terlonjak melihat coklat yang diberikan oleh jieun terbayang senyum seungyon “ah ya…kau benar jieun-ssi..”

Jinki merebahkan tubuhnya di kasur yang terletak sebelah meja kerjanya. Matanya dipejamkan sebentar dan langsung tertidur pulas.

***

Jieun pergi meninggalkan ruangan tersebut dan menemui seseorang yang ada diluar ruangan tersebut.

“aku sudah memberinya obat tidur, dokter choi..” jieun melapor pada seseorang yang ditemuinya. Seorang dokter ahli kejiwaan, Choi Minho.

“Apa jinki masih merasa dirinya sebagai seorang psikiater?” Tanya seseorang namja tampan yang berdiri disamping dokter choi.

“Ne kikwang-ssi” jieun mengangguk “hari ini aku melihat list pasiennya, list pasien yang ditulis oleh tangannya sendiri”

Dokter choi memperlihatkan daftar tersebut kepada kikwang. “Ada tiga pasien, kim jonghyun, lee taemin, dan han seungyon” ucapnya.

Pandangan kikwang menerawang. “Aku yang merujuk lee taemin untuk dirawat oleh jinki karena pasienku sudah terlalu banyak. Aku tak tahu bahwa pemuda berwajah polos itu punya otak secerdik dan sesakit itu sampai hati membunuh seungyon”

“kenapa seungyon-ssi dibunuh?” Tanya jieun.

“ah yak au suster baru jadi kau tak tahu bagaimana jalan ceritanya” ucap minho “jinki dan seungyon memutuskan untuk menikah, dan seungyon merasa selalu diintai oleh taemin. Maka jinki akhirnya dengan berat hati memtuskan untuk memberikan taemin padaku. Kau tahu taemin tidak senang dengan itu, hatinya terluka maka dia merasa lebih baik menyingkirkan han seungyon’

“Yah… Aku mengerti kalau taemin membunuh seungyon karena jinki jatuh cinta padanya. Taemin cemburu karena orang yang paling memperhatikannya dan bisa menerimanya akan menikah dan meninggalkannya. Tapi kenapa jonghyun juga ikut dibunuh oleh taemin?” Tanya jieun keheranan.

Minho menghela nafasnya. “Karena jonghyun melihat saat taemin membunuh seungyon, taemin pintar dan cerdik. Sebenarnya dia ingin membuat pembunuhan itu seakan seperti kecelakaan dan jinki tetap merawatnya dan tetap bisa bersama taemin tapi jonghyun menghancurkan segala rencanaya”

“Malang sekali nasib sahabatku ini” kikwang menaruh list pasien jinki dalam tasnya “ternyata seorang psikiater pun tak menjamin bisa membuat kita menahan emosi kita…”

“Apakah dia akan sadar dok?” Tanya jieun.

“Untuk sekarang tidak. Jiwanya pasti terguncang sekali. Dia seorang psikiater dan ketidaksengajaannya membunuh taemin serta kehilangan yeoja yang dicintainya  dan ditambah jonghyun pasien nya yang hampir sembuh dibunuh pasti membuatnya trauma” minho menyerahkan setumpuk dokumen pada kikwang. “Kikwang-ssi.. Karena kau adalah sahabatnya sekaligus psikiater ternama di seoul, kurasa jinki-ssi akan kuserahkan padamu untuk kau rawat, aku yakin dia bisa sembuh dari segala traumanya”

“Ne arasso yo. Kamsahamnida minho-ssi telah merawatnya” kikwang tersenyum dan menjabat tangan minho “Mulai saat ini jinki ada di bawah pengawasanku, akan kubuat sahabatku sadar dan mengeluarkanya dari rumah sakit jiwa bodoh ini”

-FIN-

 

Author notes:

Minta maaf ya kalau2 karakter dari ff ini gak sedikit menyimpang (authornya menyimpang sih *plakk*) 😀 selamat menikmati..comment are really love~ ❤

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF


85 thoughts on “LOST MIND”

  1. Oow, intinya Jinki ternyata gila juga toh? Dia gila karena dia terobsesi menjadi Psikiater gitu? Ya ampun, kasihan sekali suamiku. Huhu.
    Keren, keren ceritanya. Keke.

  2. hallo author, saya mau minta ijin pake ff ini buat drama saya . .
    boleh nggak author?
    tapi saya edit sedikit, nanti saya cantumin creditnya, janji 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s