Gumawo : I Love Him, Cause He Is KIBUM (Key Vers)

GUMAWO : I Love Him, cause he is KIBUM (Key Vers)…

Judul   :  GUMAWO : I Love Him, cause he is KIBUM (Key Vers)…

Author : Kim Hyun Ri

Main cast :

Kim Kibum SHINee a.k.a Kibum or Key

Kim Hyun Ri a.k.a Hyun Ri or YOU

Other cast:

Girl a. k. a Key’s Cousin (Her self)

Gendre            : Sad, romance, life etc.

Type/Length    : Oneshot

Rating             : General

Desclaimer : Kibum di sini bukan Key SHINee atau siapapun… Kibum di sini adalah Kibum… Hyunri only my imagination, dan semua cerita hanya karangan belaka… jangan sampe yang fiktif jadi nyata… huaaa, gak mau….

Oh ya, semoga yang Key vers. Ini dapat ngejawab pertanyaan – pertanyaan reader kemaren yah… J

Begin : Duniaku mungkin hanya ada satu warna, tapi hatiku memiliki banyak warna untuknya. Biru, itu yang akan selalu menghiasimu.

Story :

Aku masih merasakan semilir angin yang berhembus pelan. Sejuk. Ku hirup dalam aroma bunga yang bermekaran di taman ini. Benar – benar menyejukkan hati. Sesaat aku menikmati aktifitasku hingga akhirnya aku merasa ada seseorang yang duduk di sebelahku. Aku mendengarnya mendesah perlahan. Aku yakin, dia pasti sedang merasa kelelahan.

“Kau pasti sangat lelah”, ujarku pelan.

“Minum ini, kau pasti benar – benar sibuk hingga tenggorokanmu kering “, ujarku sambil meletakkan gelas cappuccino di sebelah kananku. Aku yakin dia berada di sebelah kanan dan aku sengaja memberinya minum karena nafasnya menunjukkan tenggorokan yang benar – benar kering.

“Camsahamida”, terdengar keraguan saat ia mengucapkan kata itu. Mengapa ia ragu? Apa ia takut meminum sesuatu dari seseorang yang belum di kenalnya? Ah, mungkin juga.

“Tak perlu khawatir. Minuman itu asli cappuccino, tanpa campuran sedikitpun racun di dalamnya. Lagipula, mana mungkin aku mau membunuh orang dengan kopi yang seharum itu”, ujarku mencoba menyakinkannya. Ya, mana mungkin aku membunuh seseorang dengan kopi yang seharum itu.

“Hmm, ini cappuccino yang benar – benar enak. Rasa Kopinya tidak terlalu pahit ataupun manis. Belum pernah aku merasakan cappuccino yang seperti ini”, ujarnya setelah kuyakin ia meminum cappuccino itu.

“Itu buatan sepupuku”, jawabku.

“Oh ya, dari mana kau tau bahwa aku sangat lelah dan belum minum sama sekali?” tanyanya.

“Dari nafas dan suara mu”, ujarku lalu tersenyum. Semua orang pasti tau kau kelelahan dan belum minum sama sekali bila mendengar desahan nafasmu itu.

“Wah, pendengaranmu sangat tajam ya. Oh ya, siapa namamu? Aku Hyun Ri”, ujarnya. Hyun Ri? Nama itu tak asing. Nama itu, nama itu sangat familiar di otakku. Atau jangan – jangan? Ah, Pabo, mana mungkin.

“Kim kibum imnida”, ujarku lalu mengulurkan tanganku. Ia terdiam, mungkin kini ia tahu kekuranganku. Tapi kemudian aku merasa tanganku di jabat olehnya. Tangan mungil dan halus. Deg! Kurasa jatungku seperti terhenti. Oh Tuhan, jangan sekarang. Tapi, kurasa jantungku seperti ini bukan karena ia memang lemah, tapi ini perasaan yang beda. Perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku merasa itu dia, memang dia. Da yang selalu kunantikan.

“Kibum?  Namamu mirip sekali dengan seseorang”, ujarnya polos. Oh tuhan, jangan jangan memang dia.

“Seseorang? Siapa? ” tanya ku ragu. Apa ia itu dia?

“Ah, anni… Tidak perlu kita bahas. Lagian nama Kibum di Korea ini kan banyak”, jawabnya. Sedikit kekecewaan tersirat di benakku. Padahal ku harap ia benar – benar mengenalku.

Ntah berapa lama waktu kami habiskan untuk saling bercerita satu sama lain. Ia ternyata anak yang asik, ntah mengapa aku selalu nyambung berbicara dengannya. Ntah mengapa pula selama mengobrol dengannya aku merasa nyaman, seolah aku sudah mengenalnya bertahun – tahun. Perasaan apa ini? Ku rasa jantungku sering terhenti saat berbicara dengannya, atau malah berdegup kencang tak karuan. Oh Tuhan, ini kenapa?

“Kibum Oppa”, oh, suara yedongasaengku, sepupuku. Pasti appa menyuruhnya mencariku.

“Oppa, ahjussi mencarimu kemana – mana. Ternyata kau disini, ayo kita pulang”, ujarnya. Benarkan dugaanku.

“Hyun Ri ssi, sampai bertemu lagi ya”, ujarku lalu bergerak pergi.

“Ne, sampai bertemu lagi. Camsahamida karena anda telah menemani  Kibum Oppa”, ujar dongsaengku itu lalu membantuku berjalan.

“Cheonmaneyo”, jawabnya.

óóó

“Oppa, dia benar – benar cantik. Nomu Yeppo”, ujar dongsaengku itu saat kami sudah sampai di rumah. Aku hanya tersenyum menanggapinya.

“Oppa, dia benar – benar mirip dengan yang di foto, tapi ia terlihat lebih cantik sekarang”, lanjutnya lagi. Mwo? Foto? Jadi ia benar – benar Hyunri? Oh Tuhan, kenapa kau baru pertemukan kami sekarang? Kenapa kau kejam Tuhan?

Flash back…

“NGAAK, AKU CAPEK HYUNG, AKU CAPEK. TERUS DI PERBUDAK SEPERTI INI. AKU CAPEK JIKA HARUS BEKERJA TERUS SEPERTI INI. AKU MANUSIA HYUNG, AKU JUGA BUTUH ISTIRAHAT. NGGAK, POKOKNYA AKU GAK MAU IKUT KE LA BESOK!!!”ujarku marah saat Onew Hyung mengumumkan rencana keberangkatan kami. Aku gak mau pergi. Enak saja, setelah bersusah payah aku mendapatkan celah untuk bertemu dengannya, setelah bersusah payah aku mencari informasi tentangnya, kini di saat aku akan menemuinya, Onew Hyung malah menyampaikan rencana keberangkatan itu. Tidaaak, aku tidak mau.

“Ini semua pasti gara – gara yeoja itu kan? Ayolah Kibum, realistis sedikit, kau tak mengenalnya. Dia hanya fansmu. Hanya dengan berbekal surat dan fotonya kau begitu ingin ke Indonesia? Kibum, buka matamu, untuk apa kau mencintai yeoja yang tak jelas itu?” ujar Jjong Hyung.

“APA? TAK JELAS? KALIAN YANG TAK JELAS. NASIB KALIAN YANG TAK JELAS, KALIAN MAU MENGGANTUNGKAN HIDUP KALIAN DENGAN PANGGUNG ITU SAJA. YEOJA ITU JELAS, DIA HYUN RI, DIA MANUSIA, BUKAN SETAN, BUKAN JIN, IBLIS ATAU APAPUN. DIA MASA DEPANKU KARENA AKU MENCINTAINYA. DAN AKU KINI SUDAH MENGENALNYA. SUDAH MENGENALNYA. KALIAN TAU? AKU BUKANLAH ORANG YANG MAU DIJADIKAN BONEKA SEPERTI INI TERUS. BEKERJA TANPA HENTI. AKU BUKAN SEPERTI KALIAN, AKU BEDA, BEDA”, jawabku marah. Enak saja dia menghina Hyun Ri ku. Ku ambil kunci mobilku dan melangkah keluar. Aku marah, benar – benar marah kali ini pada mereka.

“Hyung….” Sesaat kulihat Taemin mencegahku. Matanya nanar.

“Maaf Minnie, aku rasa aku sudah tak sejalan dengan kalian”, ujarku lalu pergi.

óóó

Ntah sudah berapa botol wishkey yang kuhabiskan. Aku benci mereka, aku benci. Yah, mungkin kalian merasa aku memang bodoh, mungkin kalian akan berfikiran yang sama seperti mereka. Aku mencintai seorang yeoja yang tak pernah ku temui sebelumnya. Yeoja yang hanya ku kenal dari surat yang ku dapat saat fanmeeting setahun yang lalu. Yeoja itu benar – benar indah, hanya dengan fotonya saja aku langsung jatuh cinta, dan aku semakin mencintanya setelah mencari informasi tentangnya.

Tapi aku benci Onew Hyung, dia tidak mengerti. Jjong Hyung, Minho, Taemin mereka juga sama. Tidak pernah mengerti. Aku juga capek, aku lelah. Jangan kalian fikir menjadi salah satu porsonel Boy Band terkenal seperti SHINee ini menyenangkan. Ya, awalnya memang mungkin menyenangkan, kau di kenal banyak orang, mengunjungi berbagai Negara, dan meraih banyak uang. Tapi untuk apa itu semua? Untuk apa? Kini aku sadar, uang dan popularitas itu tidak penting, aku butuh masa depan, aku tidak mungkin selamanya bergantung pada SHINee, suatu saat ada masa di mana SHINee itu musnah, tidak di kenal lagi. Untuk itu, aku meraih masa depanku sekarang. Yeoja itu masa depanku, aku yakin itu. Tapi Jjong dan Onew Hyung…. Arghhhhhh, mereka tidak mengerti. Aku lalu membanting botol yang aku minum tadi.

“Hei, itu Key, kenapa dia di sini? Kenapa dia sendiri? Ommona, banyak sekali wishkey yang ia minum”, ujar seseorang seperti berbisik, tapi sayang sekali aku masih mendengarnya. Aku lalu berdiri dan mengambil kunci mobilku . Sekilas aku masih mendengar pembicaraan mereka dan mereka menyebut – nyebut Onew Hyung, JJong Hyung, dan Minho. Apa mereka ke sini? Apa mereka mengikutiku? Agrrhhh….

Aku mempercepat langkahku, samar- samar aku mendengar panggilan Onew Hyung. Tapi aku tidak menghiraukannya. Segera aku mesuk dan mengunci mobilku. Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Pandanganku sudah buram kini. Mungkin ini karena aku terlalu mabuk.

“Kibum keluar” ujar Onew Hyung. Aku lalu menghidupkan mesin mobilku dan meninggalkan mereka.

Aku melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi. Aku benci mereka. Sekilas ku lihat mobil Onew Hyung membuntuti mobilku. Argghhhh, mereka membuntutiku. Aku semakin mempercepat kecepatan mobilku. Aku terus melaju kencang begitu juga dengan mobil mereka. Tapi tiba – tiba kurasakan sakit di dada bagian kiriku, dan pandanganku semakin buram. Aku mengerjapkan mata berkali – kali agar aku masih dapat melihat jalanan. Tapi semakin aku mencoba, pandanganku semakin buram. Samar – samar kulihat sebuah mobil besar melaju dari depan, mobil itu melaju kencang, sekencang mobilku, aku lalu berusaha membanting stir ke kanan dan semua gelap seketika.

End flash back…

“Hhhhh…hhhh..”, aku mencoba mengatur napasku perlahan. Dadaku sangat sakit bila mengingat kejadian itu.

“Oppa, gwecanayo?” tanya dongsaengku.

“Daa.. da.. ku .. sa…k..kit”, ujarku terbata – bata. Dongsaengku itu lalu berlari mengambil obatku dan meminumkannya padaku.

“Oppa, udah jangan di ingat lagi kejadian itu”, ujarnya lalu mengelus rambutku. Aku hanya meraik napas lalu tidur di bahunya.

óóó

Hari sudah malam. Pasti langit diluar gelap sekarang. Apa lagi tiupan angin semakin meyakinkanku betapa gelap langit diluar. Ah, tapi sama saja, terang, gelap tak ada bedanya. Bagiku sama saja, sama – sama hitam.

Flash back…

Aku mencium bau obat yang sangat menyengat. Aku pasti di rumah sakit, aku rasa sedikit nyeri di bagian dada dan kepalaku. Aku lalu membuka mata perlahan. Apa ini? Mengapa semua gelap? Mengapa semua gelap? Oemma, mengapa semua gelap?

“Argggggghhhhhh”, ujarku lalu mencabut infuse di tanganku. Semua gelap, tak ada satupun. Aku kenapa? Aku? Aku buta? Arghhhh, aku menangis sekarang, ya aku menangis. Aku tidak terima ini semua, kenapa aku buta? Kenapa mesti aku yang buta. Aku lalu melangkah tak tentu arah, aku terus berjalan, berjalan dan berharap menemukan cahaya. Begitu banyak orang yang marah padaku karena ku tabrak, samar – samar ku dengar suara orang berteriak memanggilku. Itu pasti suster. Aku terus melangkah pergi keluar, terus melangkah hingga akhirnya aku terjatuh. Bukan karena aku menyandung sesuatu, tapi karena aku merasa ini semua percuma, percuma, mau bagaimanapun aku juga tak akan melihat.

“Hyung, ayo kita kembali ke kamarmu”, ujar Taemin. Ya, aku yakin itu Taemin. Mungkin aku tidak bisa melihat, tapi aku tidak tuli. Aku menuruti Taemin, aku terus berjalan sambil tetap menangis. Lalu aku berhenti saat aku mendengar pemberitaan.

“Mengenang satu minggu kematian para personel SHINee, Onew, Jonghyun dan Minho yang tewas akibat kecelakaan minggu lalu. Semoga arwah mereka tenang di alam sana. Pihak SM telah mengkonfirmasikan pembubaran kelompok Boy band yang di gandrungi para yeoja itu. Sementara itu, hingga kini masih belum terdengar kabar mengenai Key yang juga terlibat kecelakaan pada malam yang sama. Ntah ia masih hidup atau sudah meninggal. Ada kabar yang mengatakan bahwa Key buta. Pemirsa mari kita berdoa yang terbaik buat Key. Sekian laporan dari saya”, ujar pembaca berita itu.

Aku menangis. Tidak, tidak mungkin mereka meninggal. Ini semua salahku, salahku. Aku terus menangis hingga kepalaku terasa sakit dan aku tidak merasa apapun.

óóó

“Hyung, makanlah. Ini bukan salahmu. Takdir yang menentukan”, ujar Taemin.

“Iya Oppa, Oppa makan ya. Ahjussi dan ahjuma sebentar lagi datang. Mereka sedang mengurus keberangkatan Oppa ke Amerika untuk di Operasi. Oppa harus makan, Oppa harus sembuh”, ujar sepupuku itu.

Aku hanya diam, masa depan yang aku bayangkan kini musnah sudah. Tak mungkin aku bersama Hyun Ri, tak mungkin dengan kondisi seperti ini. Dan aku juga membunuh mereka, membunuh Onew Hyung, Jonghyun Hyung dan Minho secara tak langsung. Jadi, untuk apa aku hidup. Lebih baik aku mati daripada menjadi beban seperti ini. Kasihan Minnie ku, kini ia harus kembali ke kehidupan lamanya. Menjadi namja biasa seperti sebelum ia bergabung dengan SHINee. Aku jahat, aku tak pantas lagi hidup. Aku tak pantas….

End flash back..

Mungkin kalian bingung mengapa duniaku masih gelap sekarang. Padahal aku sudah hampir di operasi di Amerika. Ya hampir, HAMPIR. Alias aku tidak jadi di operasi. Kondisiku tidak memungkinku untuk di operasi. Bila aku di operasi, kemungkinan fungsi jantungku akan semakin melemah. Dan kini, aku tau umurku tak akan panjang. Ya, Tuhan memang selalu mengujiku. Aku terkena kanker paru – paru. Ya, itu karena aku selalu merokok semenjak kejadian itu. Mungkin kalian berfikir bagaimana cara aku mendapatkan rokok itu, tapi dengan uang yang Appa punya, itu hanyalah suatu perkara kecil. Biasanya sehari 10 – 15 bungkus aku habiskan. Tapi kini aku sadar, aku begitu bodoh tidak menghargai karunia Tuhan. Aku masih bisa hidup saja itu sudah bersukur, tapi aku dengan bodohnya melaha menghancurkan hidupku. Dan kini, aku semakin merasa bodoh saat aku sudah di pertemukan dengannya. Mungkin kalian heran mengapa aku tak membenci Hyun Ri yang mungkin secara tak langsung juga menjadi unsur pertengkaran aku dan hyung – hyungku, begitu juga aku. Aku heran kenapa setiap aku mencoba membencinya dia semakin berkelebat di otakku. Aku lalu merebahkan tubuhku dan mencoba untuk tertidur.

óóó

“Umma, ku mohon. Izinkan aku Umma”, ujarku memohon pada umma.

“Andwaee, kamu gak akan Umma ijinkan”, jawab ummaku tegas.

“Ayolah Umma, ku mohon. Izinkan Kibum operasi, kibum ingin melihat dunia walau hanya sehari”, jawabku lalu menangis.

“Tidak, umma tidak akan mengijinkan kamu”, aku hanya bisa menangis. Aku mohon umma, izinkan. Sudah sebulan aku mengenalnya umma, izinkan aku melihatnya. Aku terus menangis dan umma memelukku.

“Sayang, umma bukannya gak mau kamu melihat dunia, tapi umma gak mau kehilangan kamu nak”, ujar ummaku lalu membelai kepalaku. Aku masih menangis, dan kurasa aku sedikit mual sekarang.

“Umma, kumohon. Izinkan aku melihatnya sebelum aku mati”, jawabku polos.

“Anni, kamu jangan bicara seperti itu nak”, ujar ummaku lirih. Ku rasa ia mulai menangis sekarang. Sesaat aku terdiam, perutku benar – benar mual sekarang.

‘huekk…’ aku memuntahkan sesuatu. Aku tak tahu itu apa, tapi yang pasti tubuhku lemas seketika dan keringat dingin keluar dari tubuhku.

“Kibum, gwecanayo?” tanya ummaku lagi.

“Umma, ku.. mo..ho..n  i..ji..nkan aku”, ucapku lirih, perutku masih terasa mual dan aku masih tetap muntah.

“Ommona, darah… Oppa, gwecanayo?” itu pasti sepupuku.

“Palli, Palli… Panggilkan ambulan”, kurasa umma sudah menangis sekarang. “Palli… Kibum, bertahan nak”, ujarnya lalu membelai lagi rambutku.

“Um..ma… i..ji..kan..” semua terasa hampa dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

óóó

“Kami sudah menyerah bu”, samar – samar kudengar suara dokter. Aku masih memejamkan mataku agar umma tidak tau bahwa aku sudah terbangun.

“Dok… apa tidak ada cara lagi dok? Lakukan apapun dok, berapapun biayanya akan saya bayar asal anak saya selamat dok” ujar appa. Aku hanya mendengar umma sesegukan.

“Sel kanker dalam tubuh kibum sudah menyebar dan menyerang hatinya. Hampir 70% organ – organ vital kibum tidak berfungsi sempurna. Ini adalah suatu keajaiban kibum masih bisa bertahan hingga saat ini”, lanjut dokter itu lagi.

“Jadi dok, apa yang dapat kami lakukan dok?” tanya appa.

“Lakukan apa yang ia pinta, sebelum ia tidak bisa meminta apapun lagi”, jawab dokter itu pelan.

“Ka..lau kibum op..perasi ma..ata ap..a  i..tu mung…kin. Dok?” tanya umma sesegukan.

“Sejujurnya, saya tidak mungkin mengijinkan hal itu. Tapi bila itu yang di inginkannya, saya akan mencarikan donor mata”, jawab dokter itu lagi.

“Lalu berapa lama anak saya dapat bertahan dok? Setelah operasi berapa lama anak saya bertahan dok?” tanya appa khawatir.

“Itu tergantung fungsi jantungnya. Apabila jantungnya tidak terganggu untuk memompa lebih banyak pasokan darah maka ia mungkin bisa bertahan beberapa minggu, tapi kemungkinan terburuk bisa saja terjadi”.

“Kemungkinan terburuk dok?” tanya umma dan appa berbarengan.

“Iya, kibum bisa saja tidak selamat di meja operasi atau ia beberapa jam setelah perbannya di buka dan matanya di fungsikan”, jawab dokter .

“Adwaeee, lebih baik anakku tidak bisa melihat”, ujar umma tegas.

“Umma, ku mohon”, aku lalu membuka mataku dan mecoba bangkit.

“Kibum, kamu sudah sadar nak?” umma lalu memelukku.

“Ne umma, ijinkan aku ya. Ini permintaan terbesarku. Ini harapan terbesarku umma” ujarku pelan.

“Adwaee kibum, umma…”

“Aku mohon.. ijinkan aku untuk terakhir kalinya”, ujarku lalu memotong kata – kata umma.

“Ne, kalau itu yang kamu inginkan. Tapi kamu harus berjanji bahwa kamu akan bahagia”, ujar umma lalu membelai rambutku.

“Ne umma”, aku memeluk umma erat. Umma, aku akan bahagia umma. Camsahamida kau telah mengijinkanku. Aku bahagia di peluk seperti ini. Jarang sekali umma memelukku. Dari kecil aku di asuh halmoeni, karena umma sakit sakitan. Dan kini aku sangat bahagia karena aku menjadi semakin dekat dengan umma. Terima kasih tuhan.

óóó

Hari ini aku sudah keluar dari rumah sakit dan aku sangat senang karena aku sudah mendapatkan donor mata. Aku harus memberitahunya. Dengan bantuan pelayan choi, aku meyiapkan sekotak coklat untuknya. Aku juga meminta pelayan choi mencarikan dress biru muda, warna kesukaannya.

Hari ini aku sangat bahagia sekali, aku makan coklat bersamanya. Lalu aku teringat kebun mawar itu. Ya, aku harus mengajaknya. Aku ingin menunjukkan padanya, kebun yang sudah aku persiapkan untukknya.

“Hyun Ri, maukah kau ikut denganku?” tanyaku padanya.

“Ke mana Oppa?” tanyanya bingung.

“Kau pasti akan senang”, ujarku lalu mengajaknya ke mobil. Di mobil aku terus membayangkan bagaimana ekspresinya bila melihat kebun itu. Andai aku bisa melihat sekarang, aku ingin tahu bagaimana ekspresinya dan akan kupotret ekspresi itu di kamera kesayanganku.

Flash back…

“Ini”, ujar sepupuku menyerahkan bibit yang kupesan.

“Gumawo”, aku lalu membelai rambutnya pelan.

“Issshh, oppa, berantakan tau”, ia lalu merapikan rambutnya. “Oh ya oppa, kenapa kau memintaku mencarikan bibit mawar biru? Mana ada mawar biru oppa. Untung saja temanku pintar dan bisa mereaksikan berbagai macam zat hingga bibit ini jadi, kalau ia tak ada pasti…”

“Aku akan mengelitikimu”, lanjutku lalu tertawa. Aku lalu jongkok dan mulai menanam bibit itu satu persatu.

“Oppa, jawab pertanyaanku”, ujarnya ikut jongkok di sebelahku.

“Karena ia menyukai mawar biru”, jawabku lalu tersenyum.

“Hyun Ri ssi? Huh, Oppa, kau tidak mengenalnya, kau bahkan belum bertemu dengannya. Kenapa kau bertindak hingga sejauh ini sih?” tanyanya setelah mendesah pelan.

Aku lalu memalingkan wajahku dan menatapnya. “Karena aku mencintainya, sinca sarange. Dan aku yakin suatu saat pasti akan bertemu dengannya”, ujarku lalu kembali melanjutkan aktifitasku.

End flash back…

“Oppa”, sambut dongsaengku saat kami tiba dirumah. “Anneyong, kau pasti Hyunri  ssi. Benarkan?” lanjutnya. Hei, apa apaan ini, dia kenapa seperti pura – pura tidak mengetahui tentang Hyun Ri?

“Ne”, jawab Hyun Ri ramah.

“Oppa bercerita banyak tentangmu. Dia bilang…”

“Sudah, tak usah di dengar. Dia ini memang bawel dan ribut”, ujarku memotong perkataan sepupuku itu. Ishh, mulutnya benar – benar tidak bisa di rem.

“Ayo ikut aku”, ujarku lalu berjalan duluan.Sayup sayup aku mendengar sesuatu, pasti dongsaengku itu menceritakan sesuatu…

“Hyun Ri ssi, kenapa kamu bisa betah berteman dengan Oppa?” tanyanya.

“Hmm, kibum itu orang yang baik , perhatian dan ceria. Aku sangat senang bisa bertemu dengannya”, jawabnya, aku tersenyum puas dengan jawabannya itu.

“Ia, aku memang seperti itu”, ujarku lalu terus berjalan. Hmmm, aroma mawar itu sudah tercium di hidungku, aku sangat bersyukur pada Tuhan indera penciumanku berfungsi dengan baik, bahkan sangat baik. “Nah, sudah sampai. Gimana, indah gak?” tanyaku setelah kuyakin pasti aku sudah sampai di taman.

“Woow, aku belum pernah melihat ini sebelumnya. Benar – benar indah”, ujarnya. Suaranya tersengar begitu lepas. Aku senang bila ia bahagia..

“Hyun Ri, apa kamu bahagia?” tanyaku untuk memastikan.

“Ne oppa”, jawabnya. Terima kasih Tuhan… semoga hadiahku yang satu lagi dapat menambah kebahagiaannya. “Aku ke dalam sebentar”, ujarku lalu bergerak masuk ke dalam rumah.

óóó

Aku menenteng kotak  yang sudah ku persiapkan untuk Hyun Ri, di dalamnya berisi dress biru itu, aku sangat ingin melihatnya memakai dress biru itu, pasti sangat manis. Saat aku berjalan tiba – tiba kakiku terasa begitu lemas, tuhan, kenapa ini? Aku mohon, beri aku waktu, jangan kau ambil nyawaku sebelum aku bisa melihatnya. Badanku begitu lemas dan keringat dingin mulai mengucur dari tubuhku. Aku tetap memaksa berjalan hingga akhirnya aku merasa semua hampa dan aku tidak tau apa yang terjadi lagi.

Aku membuka mataku perlahan, aku merasakan kehadiran Hyun Ri di sebelahku. “Oppa, gwecanayo?” itu kalimat pertama yang kudengar.

“Gwecana. Aku hanya sedikit lelah”, ujarku lalu mencoba meraba di mana tangannya, untuk meyakinkannya bahwa aku baik – baik saja.

“Aku, hanya ingin memberi sesuatu padamu”, ujarku lalu bangkit dan mencoba mencari kotak itu.

“Ini?” tanya dongsaengku.

“Apa ini kotak biru?” tanyaku memastikan.

“Ne Oppa”, aku lalu mengambil kotak itu. “Ini untukmu”, ujarku lalu member kotak itu pada Hyun Ri. “Bukalah”, pintaku.

“Besok aku akan di operasi, dan tiga hari kemudian perbanku di buka. Aku ingin melihatmu menggunakan itu. Yah, memang bukan aku yang memilih itu, tapi aku yakin kau pasti akan cantik bila memakai itu. Jadi pakailah dress itu 4 hari lagi dan kita akan mengahabiskan waktu terindah bersama” ujarku lagi.

Aku lalu mendengar ia mulai sesegukan, apa ia menangis? Ku mohon jangan..

“Jangan menangis”, ujarku lalu mencoba menghapus air matanya. . “Boleh aku meraba wajahmu?” tanyaku meminta izin.

“Ne”,ujarnya. Aku lalu meraba wajahnya. Aku lalu menghapus air matanya dan meraba wajahnya, ntah dorongan dari mana, aku lalu menciumnya dan hanyut bersamaan dengan tangisannya.

óóó

“Buka matamu perlahan”, ujar Dokter.

Aku lalu membuka mataku perlahan. Samar – samar kulihat seorang gadis berdiri tegang di hadapanku, semakin lama semakin jelas dan akhirnya aku dapat melihatnya. Itu Hyun Ri, Ommona, ia benar – benar cantik. “Kau Hyun Ri?” tanyaku.

“Ne Oppa. Oppa bisa melihatku?” aku mengangguk dan ia berlari memelukku.

“Kamu sangat cantik Hyun Ri, lebih cantik dari yang di foto”, ujarku lalu memebelai rambutnya.

“Gumawo Oppa” jawabnya lalu ia menegakkan kepalanya, ada butiran bening di sudut matanya.

“Sekarang jangan menagis lagi ya”, ujarnku lalu menghapus air matanya. Ia lalu mengangguk dan tersenyum.

“Hyun Ri, tunggu aku 15 menit lagi. Aku akan segera berpakaian”, ujarku lalu bangkit.

“Tapi Oppa, apa dokter sudah mengizinkan?” tanyanya cemas.

“Ne, iyakan Dok?” tanyaku untuk meyakinkannya. Dokter itu lalu mengangguk.

“Baiklah, aku akan keluar Oppa”, ia lalu melangkah keluar.

15 menit sudah aku mengganti bajuku. Aku bahagia sekali hari ini, bagiku hari ini pasti akan menjadi hari terindah dalam hidupku, aku rela kalaupun aku harus mati hari ini.

“Serius banget”, ujarku saat ia memperhatikan foto itu.

“Itu foto…” fotoku dulu? Ia, ia bahkan menyimpannya?

“Ne, ini Key. Ini Key Oppa. Dia benar – benar mirip denganmu Oppa”, ia lalu mengangkat foto itu dan membandingkan denganku.

“Apa kau Key Oppa?” pertanyaan itu sedikit menguak luka lamaku. Aku tidak perlu member tahunya, Key sekarang sudah mati.

“Anni, aku Kibum, bukan Key. Apa foto itu juga yang kau pandangi dulu?” tanyaku penasaran.

“Ne Oppa. Aku memang memandangi foto Key. Aku selalu memandangi foto Key”, ujarnya lalu tertunduk dan memandang lagi foto itu.

“Seberapa besar arti Key buatmu?”.

“Besar, sangat besar. Mungkin kalau namanya bukan Key, maka aku tak pernah mengenalnya karena tidak ada nama SHINee”, ia benar – benar polos.

“Dia idolamu? Apa kau pernah bertemu dengannya?”

“Ne, dia idolaku Oppa. Namanya sama sepertimu Kibum. Tapi bila ia hanya bernama Kibum, maka aku mungkin tidak akan pernah mengenalnya. Key itu namanya saat ia beraksi di atas panggung bersama ke 4 hyungnya. Dia yang selalu mengisi hariku semasa SMA dulu. Bertemu dengannya? Itu adalah harapanku sejak dulu. Tapi aku tau itu tak dapat terjadi lagi. Aku sudah telat, sangat telat”, jadi ia sangat ingin bertemu denganku? Hatiku berkecamuk mendengar pernyataannya itu.

“Telat? Mengapa? Apa kamu tak pernah berusaha dulu?” tanyaku ingin tau.

“Pernah, aku berusaha. Aku berusaha belajar bahasa Korea, aku juga membuat akun – akun di jejaring social Korea. Aku bahkan sempat mengirim surat dan fotoku melalui temannya temanku yang berada di Korea. Aku tak tau apakah surat itu sampai atau tidak.  Dan kenapa telat? Karena SHINee hanya tinggal nama sekarang. SHINee hanya sejarah, sejarah suatu Boyband yang sempat membuat aku dan ketiga temanku Histeris saat melihat konser mereka walau hanya lewat internet. Aku benar – benar menyukai Key. Walau ekspresiku hanya datar – datar saja saat melihat Konsernya di KIFF melalui TV, tapi aku sangat bergetar Oppa, aku merinding. Saat itu aku belum tau yang mana Key, aku tau Key saat aku tak ada pilihan lagi di SHINee karena temanku yang lain sudah mematenkan Minho menjadi miliknya. Sejak saat itu aku mencoba menyukai Key dan ternyata aku benar – benar menyukai Key. Loh, kok aku jadi curhat sih?” ujarnya panjang lebar. Sebesar itukah pengorbanannya?

Aku lalu menghapus air mataku. “Walau mungkin kau tak pernah bertemu Key, tapi kurasa Key masih tidak beruntung dibanding Kibum karena Kibum sudah bertemu denganmu”, ujarku lalu bangkit dan menarik tangannya.

“Ayo kita berangkat sekarang”

óóó

“Oppa kita kenapa kesini?” tanyanya saat kami tiba di Dongdaemun Market.

“Aku suka belanja, dan aku pernah berjanji  akan mengajak seorang gadis berkencan denganku di tempat ini. Aku ingin membelikan beberapa baju untukmu”, jawabku jujur. Aku lalu melihat sebuah dress cantik yang aku rasa pasti cocok untuknya.

“Bagaimana dengan ini?” aku lalu mencoba mencocokkan dress pink itu ke badannya. Sangat pas, aku lalu membayar dress itu. Saat aku berbalik, aku tidak menemukan ia dimanapun. Kemana dia? Aku mencoba mencarinya. Nah, itu dia, dia sepertinya sedang sibuk mencari sesuatu.

“Hyun ri, kamu cepet banget larinya”, saat aku sudah berhasil sampai di tempatnya.

“Oppa, ini cocok buatmu”, ia mengepaskan baju itu ke badanku. Aku lalu tersenyum dan mengacak rambut ikalnya yang tergerai indah itu.

“Uhh, berantakan ni Oppa. Pokoknya aku tetap akan membelikan ini buat Oppa, jangan menolak ya”, ia lalu membayar baju itu.

óóó

Tubuhku sudah terasa mulai melemas, tidak, aku harus kuat. Aku harus memanfaatkan hari ini sebenar – benarnya. Sudah berkali – kali ia memaksaku pulang, tapi aku tak menghiraukannya, pokoknya hari ini aku akan membuat menjadi hari yang paling berkesan untuknya.

“Kita kesana yuk”, aku lalu menariknya ke took es krim.

“Pak, es krim rasa cappucinonya dua ya”, ujarku pada penjual eskrim itu.

“Oppa, memang Oppa boleh makan eskrim?” tanyanya khawatir saat aku memberikan es krim padanya.

“Sudah, gak usah khawatir. Cuma eskrim doang tak akan mencabut nyawaku secepat itu, walau pada akhirnya nyawaku pasti akan di cabut dengan cepat”, entah mengapa kata – kata itu mengalir dari bibirku.

“Ukhh…. Ukhh..”

“Gwencanayo? Kalau makan jangan terburu – buru”, aku lalu membelai tengkuknya.

“Ne, gwencana. Oppa, siap ini , kita kembali kerumah sakit ya”, ajaknya.

“Jangan, sebentar lagi malam. Akan lebih enak bila kita menghabiskan malam di dekat sungai Han”, aku lalu menariknya, ini akan menjadi malam terindah untukku.

óóó

Indah, benar – benar indah. Banyak sekali bintang yang bertaburan malam ini. Aku lalu melihatnya berlari ke pinggir sungai. Wajahnya begitu ceria, aku lalu hendak berjalan menyusulnya. Tapi dadaku tiba – tiba terasa sakit, Tuhan, jangan sekarang. Kakiku benar – benar terasa lemas sekali, aku lalu meraba kursi dan duduk untuk meredam rasa sakit ini.

“Oppa, kenapa kau duduk? Huh, hampir saja aku panic karena tak menemukanmu di sebelahku”, ujarnya lalu duduk di sebelahku.

“Mian, Mianne”, aku lalu melepas kacamataku, aku ingin melihatnya tanpa terhalang kaca mata hitam ini.

“Oppa, kenapa Oppa melepas kacamatamu? Itu tidak boleh Oppa, debu dapat merusak matamu”, ia lalu mencoba memakaikan kacamata itu kembali.

“Tak perlu. Aku ingin melihatmu sekali lagi. Aku ingin melihatmu langsung tanpa terhalang kacamata. Tanpa debu pun, mataku memang sudah rusak”, aku lalu menatapnya.

“Oppa, apa yang baru saja kau katakan?” tanyanya bingung.

“Itu tidak penting”, aku lalu mengalihkan pandanganku, menatap ke sungai Han.

“Anni Oppa, itu penting. Sangat penting. Taukah Oppa, setiap Oppa putus asa seperti itu, hatiku sakit Oppa, sakit dan teriris” ujarnya sambil menangis. Adwaee, jangan menangis lagi.

“Tak perlu kau mengahpusnya Oppa. Untuk apa kau menghapusnya jika kau selalu membuatnya mengalir” ia lalu tertunduk.

“Mianne, Mian karena aku selalu membuat mata indahmu basah. Sekali lagi, Mianne”, sesalku.

“Oppa, berjanjilah padaku agar kau selalu bersemangat dan jangan pernah putus asa lagi. Arasso?”

“Ne, arra. Hyun ri, sarange”, aku lalu menghapus air matanya.

“Nado sarange Oppa”, aku lalu memeluknya erat, erat sangat erat. Aku seakan tak ingin melepas pelukan ini. Tuhan, apa aku punya waktu?

“Hyun ri…” ujarku pelan.

“Ne Oppa, ada apa?”

“Anni, tidak jadi”,aku lalu menunduk.

“Waeyo?” tanyanya bingung.

“Tidak, itu tidak penting. Oh ya, apa kamu masih menyukai Key?” tanyaku.

“Anni. Aku tidak menyukainya lagi”, apa? Ia tak menyukai ku? Tapi tadi dia mengatakan ia mencintaiku.

“Kenapa?” tanyaku bingung.

“Karena aku sudah menyukaimu Oppa”, jawabnya lalu tersenyum. Dadaku tiba – tiba terasa sangat sakit.

“Berarti aku sangat beruntung. Aku memang beruntung”, ujarku cepat lalu menatap bintang.

“Ne Oppa, beruntung, sangat beruntung”, aku lalu memejamkan mataku. Tuhan, jika ini saatnya, aku ikhlas, aku ikhlas. Terima kasih Tuhan, kau telah memberiku kesempatan, terima kasih karena kau masih mengizinkan aku bertemu dengannya, terima kasih. Aku lalu merangkulnya pelan sambil menahan rasa sakit ini. Hyun Ri, jaga dirimu. Gumawo, karena kau telah menyukaiku. Hyun Ri, carilah pasangan yang tepat untukmu. Aku akan bahagia bila kau bahagia.

Ntah mengapa aku merasa ringan, rasa sakit itu hilang, benar – benar hilang. Mungkin ini takdirku, selamat tinggal Hyun Ri, waktuku telah habis. Sekali lagi ku ucapkan untukmu, GUMAWO…

END

AN:

Hiks, hiks, hiks, *ngambil tissue dari tangan Key. Gumawo buat para reader yang udah mau ngebaca. Mian kalo ff ini mungkin mengecewakan, tapi semoga para reader senang ya…

Hiks, hiks, sekali lagi, gumawo… Oh ya, kritik saran jangan lupa ya… oke J

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

25 thoughts on “Gumawo : I Love Him, Cause He Is KIBUM (Key Vers)”

  1. yaampun sedih banget pas baca ini
    apa lagi pas yang onew,jonghyun, sama minho meninggal terus sama yang SHINee tinggal nama
    itu sedih banget sumpah ga rela banget
    hiks

  2. HWAAAaa!!
    Kibuuuuumm…!!
    #ikutan ngambil tissu dr tngan Key
    kata2mu mmbuatku galau!!

    STOPP!!
    Jgan mati duluuu!!
    Balikin Ojongku! Hidup.in Ojong!!*??*
    #dsaat spt ini masih inget ma Ojong

  3. sedihhhhhhhhhhhhhh 😦
    apalagi bagian yang key bangun dr kecelakaannya dan dengar berita OnJongHo meninggal…
    hiks hiks hiks.
    terharu banget >.<
    buat, sequelnya dari pov taemin dong. hehehe 🙂
    penasaran kehidupannya setelah SHINee bubar & 4 hyungnya meninggal. hehehe 🙂

  4. Nauzubillahiminzalik..asli aq getok” kpala teruz pake tangan tiap baca yg ttg shinee nya d sini. Ga ngerti jg apa ngaruhnya?haha..
    Pi ih ampuun de.jgn sampe jgn sampe.nyesek bgt bca nya..sdih ny dpet bgt author.mantab laah..

  5. wow.. kata2nya bagus banget ching..
    ngegambarin suasana sedihnya jadi mantep.. ^^b
    n full of penderitaan.. kkk~
    keep writing chingu! 🙂

  6. Aaaaaaa jadi gini tohhhh
    Jadi maksudnya shinee tinggal nama itutuh gara2 mereka meninggal…… Hikshiks
    Iyu key ternyata udah suka sm hyun ri dari lama!
    Taemin kasiaaaan sendiriaaaan:3:3
    Aihhhh key baik bgtttt
    Aaa sedihhhh itu kasian key nyaaa
    Gomawo juga author, pertanyaan2 kmrn terjawabkan kekekeke

  7. jangan sampe jadi kenyataan deh nih ff…
    amit amit cabang bayi kalau kejadian….
    serius bgt deh nih ff nguras air mata banget deh…
    btw khidupan taemin hbis shinee bubar gmna????
    trus pa slama itu taemin nengokin key gak????

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s