Incomplete Marriagea

Incomplete Marriage – Part 5

Author : Yuyu

Main Cast :

  • Kim Jonghyun
  • Lee Hyunji

Support Cast :

  • Onew
  • Choi Minho
  • Lee Taemin
  • Han Younji

Rating : PG 16

INCOMPLETE MARRIAGE

“Hei, berhentilah memberengut seperti itu.” Jonghyun menggoyangkan pundak Hyunji sambil sesekali melirik ke arah Hyunji dan jalanan dihadapannya secara bergantian.
”Tidak bisakah aku memakai pakaian yang kumiliki saja untuk ke pesta Younji?” Tanya Hyunji lemas. Ia menggerak-gerakkan tangannya dengan malas di kaca jendela mobil dan terus menatap keluar. Jonghyun terkekeh pelan.

“Kau mau datang ke pesta pernikahan teman terbaikmu hanya dengan mengenakan baju kaos dan celana denim? Pfft! Kau harus tampil spesial di hari spesialnya.” Bujuk Jonghyun yang sekarang sedang memarkirkan mobilnya di sebuah butik ternama yang menjadi langganan keluarganya. Jonghyun turun dari mobilnya, membukakan pintu untuk Hyunji yang masih enggan untuk turun.

“Kajja.” Ajak Jonghyun. Hyunji masih bergeming di dalam mobil dan hanya melirik Jonghyun dengan memelas.

“Aigoo, ppaliwa. Kita juga harus membelikan hadiah untuk Younji, kan?” Gerutu Jonghyun yang geram karena sifat keras kepala Hyunji. Jonghyun menarik Hyunji yang mau tidak mau harus turun dari mobil. Hyunji menghempaskan tangan Jonghyun yang memegang pergelangan tangannya dan berjalan lebih dulu. Jonghyun menggelengkan kepalanya melihat tingkah Hyunji tapi ia ikut berlari kecil untuk mengimbangi langkah Hyunji.

“Selamat datang.” Seorang wanita cantik yang duduk di meja resepsionis berdiri dan membungkukkan tubuhnya begitu ia melihat Jonghyun yang merupakan tamu VIP mereka datang.

Jonghyun tersenyum kecil dan hal itu sudah cukup untuk membuat wanita itu merona merah. Hyunji memalingkan wajahnya dengan cepat dan berdecak setelah melihat Jonghyun tersenyum pada wanita itu. Jonghyun melingkarkan lengannya dipundak Hyunji dan menyeret Hyunji masuk ke dalam butik. Kali ini Hyunji tidak menghempaskan tangan Jonghyun, padahal tadi dia ingin sekali menonjok wajah namja satu ini.

Beberapa orang pegawai butik yang semula senyum-senyum sendiri saat melihat kedatangan sekarang menghampiri Jonghyun dengan cepat, mencoba melayani tamu VIP satu itu.
”Ada yang bisa kami bantu?” Tanya seorang pegawai yang kelihatannya jabatannya lebih tinggi dibanding pegawai lain dan terlihat sangat biasa saja saat melihat Jonghyun. Jonghyun melirik ke arah Hyunji selama beberapa detik sebelum kembali menatap para pegawai itu dengan sebuah senyum melengkung diwajahnya.

“Aku sudah memberitau Mr. Park kalau aku butuh gaun untuk tunanganku, apakah Mr. Park sudah menyiapkannya?” Tanya Jonghyun sopan.
”Ne, Mr. Park telah menyiapkan beberapa gaun terbaiknya untuk dicoba oleh tunangan anda. Jadi… Di mana tunangan anda sekarang?” Pegawai itu mengintip dari balik pundak Jonghyun tapi tidak melihat sesosok yeoja cantik yang menjadi desas-desus sejak pertunangannya. Jonghyun mengatupkan mulutnya rapat-rapat, mencegah tawanya meledak seketika itu juga. Hyunji memutar bola matanya.

“Kau mencariku?” Tanya Hyunji cuek. Semua pasang mata milik para pegawai kini terarah pada Hyunji. Mereka memperhatikan Hyunji dengan seksama. Kaos putih polos dengan jaket cokelat tua, celana denim dengan potongan gaya laki-laki, potongan rambut pendek yang membuat ia menjadi terlihat sebagai ‘flower boy’.

“Ya, tunanganku di sini. Bisa kalian bantu dia untuk mencoba gaunnya?” Jonghyun memegangi kedua pundak Hyunji dan mendorongnya ke kamar ganti.

Jonghyun duduk di sofa tepat di depan pintu ruang ganti. Ia ingin segera melihat Hyunji keluar begitu ia selesai mencoba gaunnya. Beberapa menit kemudian, Hyunji menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar ganti dengan ragu-ragu sebelum ia keluar dari sana.

Ia merasa sangat aneh. Dengan potongan rambutnya serta gaun yang ia pakai, ia merasa ia terlihat seperti banci meskipun pada kenyataannya dia adalah wanita tulen. Jonghyun mengelus dagunya dan terus memperhatikan Hyunji sambil berpikir. Jonghyun menggelengkan kepalanya, ia merasa aura kecantikan Hyunji tidak terpancar dari gaun yang ia kenakan sekarang. Hyunji menggerutu pelan, membalikkan tubuhnya dan kembali masuk ke kamar ganti.

Begitu terus yang terjadi pada beberapa gaun selanjutnya. Jonghyun masih menunggui Hyunji dengan sabar padahal justru Hyunji sendiri yang sudah merasa gerah dan ingin segera mengenakan pakaian normalnya yang sangat nyaman. Jonghyun membolak-balikkan halaman majalah tanpa benar-benar membacanya karena ia masih terus menunggu Hyunji untuk keluar.

“Aku tidak peduli dengan pendapatmu lagi. Kau suka atau tidak, aku akan mengenakan gaun ini. Jadi jangan paksa aku untuk mencoba gaun lainnya lagi.” Omel Hyunji begitu ia baru saja membuka pintu kamar gantinya. Jonghyun berdiri dari duduknya dan menghampiri Hyunji dalam gerakan lambat. Jonghyun memutar tubuh Hyunji dengan pelan dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
”Hmm, gaun ini memang bagus untukmu.” Jonghyun masih terus memperhatikan gaun one shoulder yang saat ini melekat di tubuh Hyunji. “Aku akan ambil gaun yang ini. Dan juga aksesoris yang akan membuatnya terlihat lebih manis lagi.” Ujar Jonghyun pada pegawai butik yang terlihat menghembuskan nafas lega. Mereka tidak tahan lagi mendengar umpatan Hyunji setiap kali mereka menggantikan gaun yeoja itu.

“Sungguh? Aku tidak perlu mencoba gaun lain lagi?” Tanya Hyunji senang. Jonghyun mengangguk dan mengacak rambut Hyunji dengan lembut.

“Yaaaaa!” Omel Hyunji pada Jonghyun yang terkekeh pelan. Hyunji masuk ke ruang ganti dan melepaskan gaun itu, menggantikannya dengan pakaian yang ia kenakan saat datang ke sini dengan senang hati.

Hyunji keluar dari ruang ganti, mencari sosok Jonghyun dan menemukannya tengah berdiri di depan meja kasir. Hyunji berjalan santai menghampiri Jonghyun.

“Total belanjaan anda senilai 2.659.000 won (Rp 26.590.000).”

Jonghyun mengeluarkan kartu kredit dari dompetnya akan memberikannya pada bagian kasir, tapi Hyunji menarik tangannya. Jonghyun menatap Hyunji dengan sorot kebingungan.

“Kau gila? Bagaimana bisa kau menghabiskan uang sebanyak itu hanya untuk sebuah gaun? Aku tidak memerlukannya!” Bisik Hyunji. Jonghyun menepuk tangan Hyunji dan memberikan kartu kreditnya pada bagian kasir, kali ini tak bisa lagi dicegah oleh Hyunji.
”Nilai itu pantas untuk membuatmu tampil lebih cantik.” Goda Jonghyun. Hyunji memukul pelan lengan Jonghyun yang berhasil dihindari Jonghyun. Jonghyun mengambil kembali kartu kreditnya dan menyimpannya kembali.

“Kita akan berburu hadiah sekarang?” Tanya Jonghyun yang ditanggapi dengan anggukan oleh Hyunji.

***

“Haruskah kita membelikannya alat elektronik?” Tanya Jonghyun setelah mereka berdua berkeliling tanpa tujuan di dalam pusat perbelanjaan. Hyunji mengangkat pundaknya. Ia sendiri tidak tau apa yang harus ia berikan pada Younji sebagai hadiah pernikahan karena ia belum pernah memberikan sesuatu semacam itu sebelumnya, begitu pula Jonghyun.
”Atau kita bisa mencarinya lagi besok? Toh pernikahan mereka masih dua minggu lagi.” Ajak Jonghyun. Hyunji menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Aniya. Karena sekarang kita sudah ada di sini, sebaiknya kita cari sekarang. Aku tidak mau menghabiskan banyak waktu di luar rumah bersamamu.” Tukas Hyunji.

“Ah, jadi kau lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah bersamaku? Hmm, ya, memang lebih banyak hal yang bisa kita lakukan di dalam rumah, seperti—“ Hyunji mendekap mulut Jonghyun, menghentikannya untuk mengucapkan kata-kata selanjutnya yang ia tau pasti bukan hal yang bagus.

“Kenapa pikiran namja harus selalu kotor, huh?”
Jonghyun melepaskan tangan lembut Hyunji dari mulutnya dan menyeringai kecil. Jonghyun mendekati Hyunji dan berbisik ditelinganya, “Memangnya apa yang kau pikir ada dipikiranku? Mau mencobanya?”
Hyunji mendorong tubuh Jonghyun menjauh dan menginjak kaki Jonghyun dengan kuat.

“Ouchhh!” Ringis Jonghyun.

“Kajja, kita cari hadiah untuk Younji.” Hyunji tersenyum puas dan kembali berjalan sementara Jonghyun menyusul di belakang Hyunji sambil sesekali memegangi ujung jari kakinya yang perih.

“Haruskah kita membelikan dia peralatan dapur?” Jonghyun berjalan menuju tempat yang menjual alat-alat dapur.

“Kurasa tidak perlu. Dia akan tinggal di rumah Minho. Jadi aku yakin mereka tidak akan butuh alat dapur lagi.” Hyunji menggelengkan kepalanya dan terus mengasah otaknya.

“Ah, bagaimana kalau kita membelikan sesuatu yang bisa dipakai sepasang?” Usul Hyunji sambil menjentikkan jarinya diudara.

“Wah, tidak kusangka kau bisa memikirkan hal-hal manis seperti itu.” Jonghyun menautkan kedua alisnya. Jelas ia tidak menyangka jika Hyunji akan suka hal-hal yang biasanya di sukai wanita pada umumnya. Hyunji mulai berjalan ke rak yang berisi mug-mug cantik.

“Tentu saja tidak. Younji selalu mengatakan padaku kalau setelah ia menikah nanti, ia ingin sebuah kehidupan sederhana yang manis. Dan dia ingin merasakan apa itu sebuah keluarga. Jadi kupikir, dengan membelikannya barang-barang sepasang, akan membuat dia lebih merasakan bahwa sekarang dia tidak sendirian lagi.” Hyunji mengangkat sebuah mug dan memperhatikannya dengan seksama, lalu meletakkkannya dan melihat mug lainnya yang ia rasa akan cocok dengan selera Younji. Diam-diam Jonghyun tersenyum kecil di belakang Hyunji. Jonghyun menyisipkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya dan tidak henti-hentinya mengagumi sikap Hyunji yang sangat perhatian pada Younji.

Akan lebih baik kalau kau juga memperhatikanku seperti itu, batin Jonghyun.

***

Jonghyun mengintip ke dalam kamar Hyunji, tapi yeoja itu tidak ada di sana. Jonghyun menggerutu pelan pada dirinya sendiri dan berjalan mondar-mandir dengan bosan. Ia ingin Hyunji segera pulang dari kerja part-time nya. Ia ingin segera melihat wajah Hyunji lagi dan menganggunya. Tapi sudah malam seperti ini Hyunji belum juga pulang. Kalau saja Hyunji tidak mengancamnya bahwa dia akan memberitaukan tentang pertunangan palsu ini pada orangtuanya jika Jonghyun menjemputnya pulang kerja, Jonghyun pasti sudah ada di sana sekarang.

Setelah memutuskan bahwa memang tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini, Jonghyun meluncur ke kamar Taemin dengan cepat dan melihat namja berambut jamur itu duduk bersila diatas sofa dan asyik bermain video game.

“Oh, hyung.” Sapa Taemin yang melirik ke arah Jonghyun sekilas, lalu kembali menaruh perhatian penuh pada permainannya. Jonghyun duduk disamping Taemin dan mengotak-atik hp nya untuk mengurangi rasa bosannya.

Taemin menghentikan permainannya dan berbalik untuk menatap Jonghyun.

“Hyung, apa kau menyukai noona?” Tanya Taemin dengan tatapan serius. Jonghyun mengangkat sebelah alisnya melihat nada bicara Taemin. Ia tidak menyangka Taemin bisa berbicara seserius itu.

“Hyunji tidak memberitaumu kalau ini hanya pura-pura saja?” Jonghyun balik bertanya pada Taemin. Taemin mengangguk dengan cepat.

“Jadi kenapa kau masih menanyakan hal itu padaku?” Tanya Jonghyun lagi.

“Karena aku tau Kim ahjussi sama sekali tidak sekarat, apalagi sakit.” Jelas Taemin yang mengangkat bahunya. Jonghyun membenarkan posisi duduknya, mulai menanggapi kata-kata serius dari Taemin. Bagaimana bisa Taemin tau kalau Jonghyun berbohong sementara orang yang ia bohongi masih tidak menyadarinya sampai saat ini?
”Dari mana kau tau?” Jonghyun menatap Taemin dengan lebih serius kali ini. Taemin tersenyum polos dan menepuk pundak Jonghyun.

“Kau tidak perlu tau aku tau dari mana hyung, aku hanya ingin tau, apakah kau menyukai noona?” Taemin mengulang pertanyaan yang ia sebutkan sejak awal percakapan mereka dimulai.
”Ne, aku sangat menyukainya.” Kali ini Jonghyun menjawab langsung pertanyaan Taemin. Jawaban Jonghyun yang meluncur keluar dari mulutnya hanya selang sepersekian detik setelah Taemin melontarkan pertanyaannya membuat Taemin terkekeh pelan. Akhirnya ada juga orang yang tergila-gila pada noonanya yang tidak jelas bentuknya.

“Hyung, berjanjilah kau tidak akan menyakitinya. Noona sudah cukup menderita, jadi dia berhak untuk bahagia saat ini.” Taemin menundukkan wajahnya, menatap kedua kakinya sendiri untuk menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. Jonghyun bergeser semakin mendekat ke arah Taemin dan mengusap punggung Taemin dengan lembut untuk menenangkannya.

“Aku berjanji akan selalu membahagiakannya.” Ucap Jonghyun tulus. Taemin mendongak dan tersenyum lebar pada Jonghyun.

“Hyung, kau tidak ingin bertanya mengapa noona menjadi seperti sekarang ini?”
”Aku sangat penasaran, tapi aku akan menunggu hingga Hyunji sendiri yang ingin menceritakannya padaku.”
Senyum diwajah Taemin bertambah lebar. Detik itu juga ia merasa lebih yakin bahwa pria yang ada dihadapannya akan menjadi sosok pria yang tepat untuk Hyunji.

“Taemin-ah!” Panggil Hyunji yang baru saja membuka pintu kamar Taemin. Hyunji melihat Taemin dan Jonghyun duduk bersama dan terlihat sangat dekat. Hyunji berjalan semakin mendekat hingga ia bisa melihat kedua mata Taemin memerah.

“Apa dia mengganggumu?” Tanya Hyunji dengan cepat dan memberikan tatapan tajam pada Jonghyun.

“Aniya noona, hyung justru sedang menghiburku.” Dengan cepat Taemin membela Jonghyun sebelum Hyunji salah paham dan justru menghajarnya tanpa ampun.

“Huh?” Hyunji masih melirik Jonghyun yang memasang wajah polosnya dengan tidak yakin.

“Apa yang kau bawa noona?” Taemin merebut kantong yang dipegang Hyunji untuk mengalihkan pembicaraan. “Wah, banana milk. Ini untukku?” Tanya Taemin dengan matanya yang berbinar-binar. Hyunji terkekeh pelan, melupakan semua kecurigaannya terhadap Jonghyun.

“Tentu. Memangnya siapa lagi yang suka banana milk kecuali kau?” Hyunji mengacak rambut Taemin dengan senang. Taemin melompat turun dari sofa dan berlari turun ke dapur untuk menyimpan beberapa botol banana milk ke dalam lemari pendingin.

Hyunji menghela nafas pelan, berjalan memutari sofa dan merebahkan tubuhnya sendiri diatas tempat tidur milik Taemin. Jonghyun menolehkan kepalanya ke belakang agar ia bisa melihat sosok Hyunji dengan lebih jelas lagi.

“Kau lelah?” Tanya Jonghyun yang terselip nada perhatian di suaranya. Hyunji menggumam pelan mengiyakan.

“Bukankah sudah kukatakan, sebaiknya kau berhenti saja. Kami bisa menghidupi kalian dengan baik jadi kau tidak perlu menyiksa dirimu seperti ini.” Omel Jonghyun masih bergeming di tempat duduknya.
”Kami tidak butuh belas kasihan dari kalian untuk menghidupi kami. Lagipula semuanya akan berakhir suatu saat nanti. Kelak semuanya akan kembali seperti dulu, hanya ada aku dan Taemin dalam kehidupan kami, jadi aku masih memerlukan pekerjaan ini untuk masa depan Taemin.”

Jonghyun mendengus dan beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiri Hyunji. Ia melihat wajah Hyunji yang tertidur dengan wajah polos dengan kedua matanya terpejam rapat dan ibu jarinya terselip disela-sela bibirnya.

“Hyunji-ya…” Panggil Jonghyun pelan tapi tidak mendapatkan reaksi apapun dari Hyunji. Jonghyun mencondongkan tubuhnya untuk melihat Hyunji dengan lebih seksama. Ia mendengar suara nafas Hyunji yang melambat dan teratur menandakan yeoja itu tengah tertidur.

Padahal Hyunji terlihat sangat menggoda—bagi Jonghyun. Kalau saja dia tidak melihat Hyunji yang terlihat sangat kelelahan, ia pasti akan mengganggu Hyunji hingga yeoja itu kesal setengah mati. Jonghyun meletakkan dagunya diatas telapak tangan sementara sikunya bertumpu di sisi tempat tidur yang tidak ditempati Hyunji. Ia terlalu asyik memperhatikan Hyunji hingga kedua sudut bibirnya terangkat naik membentuk sebuah garis melengkung tanpa ia sadari. Ia selalu merasa hangat setiap kali ia berada di dekat Hyunji dan itu terasa sangat nyaman bagi Jonghyun. Jonghyun merangkak naik ke atas tempat tidur Taemin sepelan mungkin dan berbaring di samping Hyunji. Jonghyun melipat tangannya, menjadikannya sebagai tumpuan kepalanya yang berbaring menyamping menghadap Hyunji. Jonghyun menarik tangan Hyunji yang ibu jarinya masih terselip dibibir manisnya. Jonghyun menautkan jari-jari mereka menjadi satu, mengagumi betapa cocoknya kedua tangan mereka saat bertautan seperti itu. Jonghyun mengecup punggung tangan Hyunji dan meliriknya, kalau saja Hyunji terbangun tapi Hyunji masih bergeming ditempatnya.

Jonghyun menarik tubuh Hyunji, menyelipkan tangannya yang lain ke leher Hyunji. Daripada bantal yang empuk, Jonghyun lebih ingin Hyunji bersandar dilengannya, sama seperti ia berharap Hyunji dapat menyandarkan hidupnya—dan Taemin—pada Jonghyun.

Hyunji menggeliat pelan dalam tidurnya, membuat Jonghyun was-was. Hyunji merapatkan dirinya ke dalam dekapan Jonghyun yang sekarang tertawa lebar. Ia mendekap Hyunji dan ikut memejamkan matanya.

“Kurasa hyung masih ada di kamarku.” Ucap Taemin sembari menyeruput banana milknya. Taemin membukakan pintu untuk Onew yang datang menemui Jonghyun, tapi kedua namja itu terpaku ditempat mereka berdiri saat ini saat melihat Jonghyun dan Hyunji tidur dalam keadaan saling mendekap. Onew dan Taemin saling bertukar pandang lalu menggelengkan kepala mereka bersamaan.

“Kurasa aku harus mengungsi ke kamar noona malam ini.” Gerutu Taemin lalu menutup pintu kamarnya.

“Lebih baik aku pergi sekarang, annyeong, Taemin-ah.” Pamit Onew pada Taemin yang mengangguk.

***

Onew duduk menyendiri di bar langgannannya. Biasanya ia dan Jonghyun akan selalu datang bersama. Tapi sejak Jonghyun tau kalau Hyunji adalah seorang yeoja, Jonghyun jadi semakin gencar mengejar Hyunji dan tidak lagi datang ke bar bersama Onew.

Onew menggerak-gerakkan gelas berisi koktail di tangannya dengan bosan. Ia harus melakukan sesuatu untuk mengusir rasa bosannya. Dia bermaksud mengganggu Jonghyun di rumahnya, tapi jelas dia tidak bisa melakukannya saat melihat Jonghyun dan Hyunji tidur bersama. Jadi satu-satunya tempat yang bisa ia kunjungi untuk menghilangkan rasa bosannya hanyalah tempat ini.

Onew menghembuskan nafasnya dengan gusar. Tempat ini bisa saja menyenangkan, tapi kalau sendirian seperti ini tetap saja terasa membosankan. Onew kembali meneguk koktailnya saat seseorang tiba-tiba saja merangkul pundak Onew. Dia mendongak untuk melihat orang asing yang tiba-tiba saja menyentuhnya. Seorang wanita cantik berusia sekitar awal 20 tahunan tersenyum menggoda pada Onew dan perlahan-lahan mendekati wajah Onew, melumat bibir Onew tanpa mengatakan apapun. Onew memejamkan matanya, membiarkan yeoja itu yang memimpin. Onew mendaratkan kedua tangannya di pinggang wanita itu, meremasnya dengan perlahan membuat wanita itu mendesah dan membuka mulutnya. Onew mengambil alih permainan, menyelipkan lidahnya dan bermain di dalam. Wanita itu mengusapkan jari-jarinya di paha Onew yang berbalut celana denim. Suasana berubah semakin panas saat Onew menghentikan ciuman mereka. Onew mengatur nafasnya yang agak tersengal-sengal dan melihat kilatan penuh gairah terpancar dari mata wanita yang ada dihadapannya. Onew menyeringai kecil, menarik wanita itu keluar dari bar dan langsung melajukan mobilnya.

Ia tidak tau siapa wanita itu, dan ia tidak peduli. Yang ia inginkan hanyalah kesenangan dan keluar dari rasa bosannya. Onew melajukan mobilnya cukup cepat, ingin segera sampai ke hotel terdekat agar dia bisa mulai bersenang-senang. Onew kembali melajukan mobilnya setelah sempat berhenti sebentar saat lampu merah menyala terang. Onew membelokkan mobilnya, tapi dari sudut matanya ia bisa melihat sosok yang ia kenal—meski tidak terlalu akrab—duduk termenung di tempat pemberhentian halte bus. Onew melambatkan laju mobilnya padahal ia hampir sampai di tempat tujuannya. Onew berdecak pelan. Wanita di sampingnya jelas terlihat menggoda dan meningkatkan gairahnya. Tapi kenapa dia tiba-tiba kehilangan gairahnya saat melihat sosok itu?

Onew menghentikan mobilnya, membuat wanita yang duduk disampingnya menatapnya dengan bingung. Onew menjulurkan tangannya, membuka pintu mobil di sisi wanita itu.

“Kita akan bermain lain kali.” Ucap Onew singkat. Onew memutar mobilnya dengan cepat, tidak mempedulikan teriakan dari wanita asing yang bahkan tidak ia ingat wajahnya.

Onew berhenti tepat di depan halte bus. Ia menurunkan kaca jendelanya dan melihat Younji memandang kosong ke jalanan, bahkan tidak menyadari kehadirannya sama sekali. Onew turun dari mobilnya, berdiri dengan ragu di depan mobilnya sendiri sebelum ia menghampiri Younji dan duduk dengan tenang disampingnya. Masih saja Younji berada di dunianya sendiri, tidak menyadari kedatangan Onew. Onew berdeham pelan untuk mendapatkan perhatian Younji. Dan memang berhasil, akhirnya Younji menolehkan wajahnya untuk melihat Onew.

“Oh, annyeonghasaeyo.” Ucap Younji setengah hati.

“Kudengar dari Hyunji, kau akan menikah minggu depan. Selamat.” Karena tidak tau apa yang harus diucapkannya, Onew hanya bisa memberi selamat atas pernikahan Younji. Younji menganggukkan kepalanya tapi sama sekali tidak ada senyuman diwajahnya. Bukan ekspresi yang seharusnya dimiliki oleh orang yang sebentar lagi akan menikah. Barulah Onew sadari bahwa kedua mata Younji sembab.

“Ada sesuatu yang salah?” Tanya Onew ragu. Yang terakhir kali ia ingat, ia dan Younji tidak bisa dibilang teman, apalagi dekat. Jadi atas dasar apa dia menanyakan keadaan Younji sekarang?

“Hidup itu sangat kejam.” Jawab Younji singkat dan agak membingungkan. Tapi Onew memang harus setuju pada kata-kata Younji. Hidup itu memang kejam, ia sendiri sudah menjadi korban kekejaman hidup yang tidak adil.

“Orang yang akan menikah memang jadi lebih sensitif karena kegugupan mereka. Meksi aku tidak tau apa yang terjadi, tapi jangan sampai kesalahan kecil menghancurkan pernikahanmu.”
”Saat kau dihadapkan dengan dua pilihan antara bersikap egois atau realistis, apa yang akan kau pilih?” Tanya Younji. Ia tidak mengerti mengapa pertanyaan itu keluar dari mulutnya dan ditujukan pada Onew. Tapi otaknya sendiri sudah tidak mampu lagi membuat keputusan.

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Tapi bersikap realistis hanya akan menyakiti dirimu sendiri.” Jawab Onew seadanya.

“Tapi kalau aku bersikap egois, orang lain yang akan terluka.” Timpal Younji lirih.

“Lalu, jika kau bersikap realistis dan membiarkan dirimu terluka, apakah orang yang kau pikirkan itu akan memikirkanmu juga?” Tanya Onew tajam.

Kedua pundak Younji merosot turun saat ia menghela nafas panjang. Ia terus memikirkan kata-kata Onew. Memang benar, jika dirinya sendiri yang terluka, mungkinkah Minho akan memikirkan betapa menderitanya dia? Tapi dia juga tidak bisa bersikap egois dan justru menghancurkan Minho.

“Kuantar kau pulang.” Onew berdiri dan merapikan pakaiannya sendiri. Younji mendongak dan menggelengkan kepalanya.

“Aku bisa menunggu hingga bus nya datang, terima kasih.” Tolak Hyunji dengan halus.

“Berbahaya kalau kau pulang sendirian semalam ini.” Tukas Onew. Lagi-lagi Younji merasakan aura Onew yang mengintimidasinya dan membuat ia tidak bisa menolak kata-kata Onew.

***

Onew masuk ke dalam kelas, melihat Jonghyun duduk dihadapan Hyunji—entah siapa pemilik kursi yang ia usir—dan berbincang santai sementara Hyunji terlihat menanggapi kata-kata Jonghyun dengan bosan.

“Yo!” Sapa Onew pelan sambil menepuk punggung Jonghyun. Jonghyun mendongak dan melihat sahabatnya lalu berpindah tempat duduk, kembali ke kursinya sendiri di belakang Hyunji.

“Kemarin kau datang mencariku?” Tanya Jonghyun penasaran. Onew mengangguk.

“Tapi kemarin kau dan Hyunji sedang—“ Belum sempat Onew menyelesaikan kata-katanya, Jonghyun membekap mulutnya terlebih dahulu. Hyunji memutar kepalanya dengan cepat dan menatap Jonghyun dengan tajam lalu kembali menatap lurus ke depan dan mencoret kertas di mejanya dengan geram.
”Jangan ingatkan dia pada hal itu lagi. Tadi pagi saja dia hampir membunuhku.” Omel Jonghyun sembari memutar bola matanya mengingat bagaimana Hyunji berteriak-teriak dan mengejarnya hampir ke seluruh ruangan.

“Kau memang pantas mendapatkannya.” Timpal Onew senang.

“Pfft! Jadi, apa kau bersenang-senang kemarin?” Jonghyun menyikut lengan Onew yang berubah menjadi risih.

“Hmm, sedikit.”
”Siapa kali ini? Apakah noona yang sering memperhatikanmu saat kita sedang minum berdua? Dia sangat seksi. Atau wanita yang selalu menempel padamu saat menari? Tubuhnya juga bagus.” Jonghyun mencondongkan tubuhnya ke arah Onew dengan bersemangat hingga Onew harus mendorong Jonghyun untuk mundur.

“Sejujurnya, aku juga tidak tau siapa dia.”
”Mwo? Tapi, apakah dia hebat?” Tanya Jonghyun lagi.

“Kami tidak sempat melakukannya, kau tau, ada sedikit masalah mendadak.”

BRAAAAK!

Jonghyun dan Onew melihat ke arah sumber suara yang ternyata ada di depan mereka. Hyunji menghentakkan tangannya dengan keras ke atas meja lalu berdiri dan melongos keluar.

“Hyunji-ya!!” Teriak Jonghyun dengan keras sambil berusaha mengejar Hyunji yang sudah masuk ke dalam toilet lebih dulu. Hyunji membanting pintu dengan keras, membuat para siswi lain yang berada di toilet tersentak kaget. Hyunji menghempaskan kedua tangannya di sisi wastafel dan menatap bayangan wajahnya di cermin. Kenapa ia merasa marah mendengar kata-kata Jonghyun? Tentang bagaimana Jonghyun memuji betapa menariknya wanita lain.

“Yaaaa, Lee Hyunji! Kau kenapa?” Jonghyun masuk ke dalam toilet, tidak mempedulikan jika itu adalah toilet wanita. Hyunji membulatkan matanya. Ia pikir Jonghyun tidak akan berani mengikutinya sampai ke dalam karena ini adalah toilet wanita.
”Apa yang kau lakukan di sini? Ini toilet wanita, apa kau gila?” Tanya Hyunji yang berusaha mengusir Jonghyun keluar, tapi Jonghyun sama sekali tidak menyerah begitu saja. Jonghyun mendorong tubuh Hyunji dan menyandarkannya di dinding. Jonghyun harus memegangi kedua tangan Hyunji dengan erat kalau dia tidak mau bernasib sial dan babak belur karena dipukuli Hyunji.

Jonghyun menatap dalam ke mata Hyunji, hingga rasanya ia bisa menjelajahi setiap ruang di dalam rongga mata Hyunji. Beberapa siswi yang melihat Jonghyun dan Hyunji terkesiap pelan lalu saling berbisik dan segera keluar dari toilet.

“Lepaskan aku Kim Jonghyun. Kau membuat mereka berpikiran yang tidak-tidak.” Ucap Hyunji yang menjadi bisikan diakhir kalimatnya saat Jonghyun maju selangkah dan menghilangkan jarak diantara mereka. Hyunji menahan napasnya, mengedipkan matanya berkali-kali. Jantungnya berdebar kencang saat Jonghyun tersenyum padanya.

“Memangnya apa yang akan mereka pikirkan, huh? Kita kan memang bertunangan.” Jonghyun menyeringai dan mengucapkan kata-katanya dengan nada suara yang terdengar sangat menyebalkan ditelinga Hyunji, membuat Hyunji akhirnya bisa berpikir normal.

“Menyingkir atau akan kutendang kau-tau-apa-itu milikmu.” Ancam Hyunji sungguh-sungguh.  Jonghyun mengernyit, melepaskan Hyunji dan melangkah mundur.
”Pftt, apa kau harus segalak itu? Aku hanya ingin tau ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba saja menghentakkan mejamu dan berlari keluar?” Tanya Jonghyun akhirnya.

Hyunji kembali mengingat rasa marah yang ia rasakan tadi. Dan anehnya, bukannya meledak-ledak, Hyunji justru menunduk untuk menyembunyikan rona di wajahnya. Tapi sayang, Jonghyun sudah melihatnya terlebih dahulu.

“Jangan katakan… Kau cemburu karena aku dan Onew membicarakan wanita lain?” Terka Jonghyun. Hyunji semakin merundukkan wajahnya.

“Aigoo! Kau tidak perlu cemburu. Secantik apapun mereka, tidak ada yang bisa mengalahkanmu. Karena hanya kau yang ada dihatiku.” Ucap Jonghyun dengan lembut. Jonghyun meraih dagu Hyunji, mengangkatnya naik untuk balas menatap Jonghyun. Kelembutan yang terpancar di kedua bola mata Jonghyun justru membuat Hyunji semakin merasa aneh. Kalau tadi hanya jantungnya saja yang berdebar kencang, sekarang dia justru merasakan sesuatu bergerak-gerak diperutnya. Ribuan kupu-kupu berterbangan dalam perutnya dan membuat sensasi aneh yang baru kali ini ia rasakan.
Hyunji menghempaskan tangan Jonghyun dan berjalan keluar yang langsung diikuti Jonghyun.

“Kau terlihat sangat manis.” Goda Jonghyun. Hyunji menatap Jonghyun dengan tajam, tapi justru membuat Jonghyun terkekeh senang.
”Kau bahkan terlihat lebih manis sekarang!”

***

Hyunji duduk dibarisan pertama di sebuah gereja sederhana tapi indah di pinggiran kota Seoul. Meski agak risih dengan gaun, wig serta dandanannya, tapi Hyunji masih terlihat menantikan kemunculan Younji selaku pengantin wanita. Yah, setelah beberapa kali memakai gaun dan wig, Hyunji sudah mulai agak terbiasa kali ini.

“Kau yakin kita bisa duduk dibarisan pertama? Bukankah seharusnya keluarga Younji yang duduk di sini?” Tanya Jonghyun setengah berbisik di samping Hyunji.

“Ibunya sudah lama meninggal. Sementara Ayahnya, jangan pernah berharap dia akan datang ke sini tanpa mengacau.” Dengus Hyunji mengingat bagaimana Tuan Han selalu diselimuti aroma alkohol setiap waktu. Jonghyun mengangguk kecil dan mengalihkan pandangannya ke arah Minho yang telah berdiri di depan altar dan terlihat agak panik. Jonghyun tersenyum kecil melihat tingkah namja itu. Ia membayangkan jika kelak dialah yang akan berdiri di sana, bersama Hyunji tentunya. Semuanya akan terasa indah.

Pintu gereja terbuka, Younji masuk ke dalam gereja dengan gaun putih yang berbalut sempurna di tubuhnya. Seorang pria paruh baya yang diasumsikan oleh Jonghyun dan Hyunji sebagai Tuan Choi mengiringi Younji masuk ke dalam karena Younji tidak punya wali yang bisa mengiringinya.

Younji melirik ke arah Hyunji sekilas begitu dia melewati temannya. Hyunji tersenyum lebar untuk menyemangati Younji meski dia tidak tau jauh di lubuk hati Younji, ia masih terus berdebat dengan dirinya sendiri.

Tuan Choi menyerahkan tangan Younji yang disambut oleh Minho. Minho tersenyum manis dan dibalas dengan ragu oleh Younji.

“Apakah anda, Tuan Choi Minho, bersedia menjadi suami dari Nona Han Younji, selalu melindunginya dalam keadaan senang maupun sedih, dalam keadaan sehat maupun sakit?”

“Saya bersedia.” Uccap Minho dengan cepat.

Younji bergerak-gerak gelisah, tau sebentar lagi ada gilirannya untuk mengucap janji. Dan dia tidak ingin menyesali apapun itu yang menjadi pilihannya.

“Apakah anda, Nona Han Younji, bersedia menjadi istri dari Tuan Choi Minho, selalu mendampinginya dalam keadaan senang maupun sedih, dalam keadaan sehat maupun sakit?”

Semua mata tertuju pada Younji, menantikan jawaban Younji sebelum mereka disahkan sebagai sepasang suami-istri. Tapi tidak ada jawaban yang meluncur dari mulut Younji, tidak ada janji suci yang ia ikrarkan. Minho menatap Younji, raut kecemasan terlihat jelas di wajahnya.

“Apakah anda, Nona Han Younji, bersedia menjadi istri dari Tuan Choi Minho, selalu mendampinginya dalam keadaan senang maupun sedih, dalam keadaan sehat maupun sakit?” Pendeta tersebut mengulangi janji pernikahan karena Younji tak juga menjawab.

“Aku… Mianhae.. Mianhae, Minho-ya..” Younji melangkah mundur dan menundukkan wajahnya, tidak berani menatap Minho ataupun para tamu undangan.

“Younji, jebal… Bukankah kita sudah membicarakan hal ini?” Pinta Minho memelas. Minho menarik tangan Younji, menahan agar Younji tidak pergi ke mana pun.

“Jeongmal mianhaeyo… Nan mothaeyo..”

***

“Younji, please …” Minho duduk dihadapan Younji. Setelah Hyunji keluar dari ruang ganti dan memutuskan untuk pulang agar Minho dan Younji punya waktu berdua, Minho langsung masuk dan berbicara dengan Younji.

“Maaf, tapi ini sudah menjadi keputusanku, Minho.” Younji bersikeras.

“Aku tau aku telah membuat kesalahan, tapi bukankah aku sudah meminta maaf? Aku berjanji tidak akan melakukan kesalahan bodoh itu lagi, jadi percayalah padaku Younji.” Ucap Minho putus asa.

“Aku tau kau adalah namja yang sangat baik. Jadi aku tidak mau kau membuang kebahagiaanmu hanya karena kesalahan yang kita buat.”
”Itu bukan kesalahan! Karena aku mencintaimu, karena kita saling mencintai makanya kita melakukan hal itu Younji-ya. Aku ingin menikahimu bukan hanya karena apa yang telah terjadi malam itu, but …” Minho bersimpuh dihadapan Younji, memegang kedua telapak tangan Younji dengan erat. “Because I love you.”
”Maaf.. Aku juga berharap aku bisa bersikap egois dan melanjutkan semua ini. Tapi aku tidak bisa. Setiap kali bayangan wajahmu yang sedih dan dipenuhi dengan penyesalan muncul dibenakku, aku menjadi sangat takut. Aku tidak ingin melihat wajah seperti itu darimu kelak. Mengertilah.” Ucap Younji dengan berat.

“Aku tidak akan menyesalinya. Kenapa aku harus menyesal karena menikahi wanita yang kucintai!?” Tanya Minho geram.

“Bukan wanita yang kau cintai, tapi wanita yang kau pikir kau cintai.” Tukas Younji lirih.

***

Hyunji duduk termenung seorang diri di kamarnya. Dia duduk di tengah-tengah tempat tidurnya, memeluk kedua lututnya dan mengistirahatkan kepalanya diatas tangannya. Terdengar suara ketukan pelan beberapa kali, tapi Hyunji masih bergeming.

Jonghyun membuka pintu dengan perlahan, mengintip ke dalam kamar gelap tanpa cahaya. Hyunji terus mengurung dirinya sejak mereka pulang dari gereja tadi pagi. Jonghyun mendesah pelan, berjalan masuk dan menghidupkan lampu untuk menerangi ruangan. Jonghyun duduk bersila di hadapan Hyunji, memperhatikan wajah Hyunji yang terlihat lelah dengan amat lekat.

“Waeyo?” Tanya Jonghyun sambil mengusapkan ibu jarinya di pipi pucat Hyunji. Hyunji bahkan tidak mencoba untuk menepis sentuhan Jonghyun.

“Kenapa ini semua harus terjadi?” Gumam Hyunji yang tidak bisa dimengerti Jonghyun. Jonghyun hanya memiringkan kepalanya sebagai tanda ia butuh penjelasan lebih.

“Kupikir akhirnya Younji akan bahagia setelah ia bertemu dengan Minho. Kupikir Minho akan bisa memutuskan rantai penderitaan dalam hidupnya. Tinggal selangkah lagi, maka Younji benar-benar akan memiliki kehidupan bahagia yang ia inginkan. Tapi kenapa dia justru membatalkan pernikahannya? Aku tidak mengerti.” Hyunji menggelengkan kepalanya. Ia kembali mengingat ketika ia mengejar Younji yang keluar dari gereja tanpa menyelesaikan upacara pernikahannya. Ia ingat bagaimana Younji menangis dipelukannya, masih mengenakan gaun putih yang sudah ia impi-impikan sejak kecil. Younji bersikeras tidak ingin mengatakan sepatah katapun, dia hanya terus menangis dan menangis hingga ia kelelahan. Tapi tidak ada penjelasan, tidak ada alasan yang diberikan perihal keputusannya untuk membatalkan pernikahan secara tiba-tiba.

Hyunji menyeka sudut matanya yang berair begitu saja. Ia ingat terakhir kali ia menangis adalah ketika kedua orangtuanya meninggal. Dan sejak saat itu ia benci menangis, ia tidak pernah mengeluarkan setetes airmatapun meski ia terluka. Tapi sekarang, ia justru tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mengeluarkan airmata hanya dengan membayangkan betapa sedihnya Younji saat ini.

“Apakah kau sangat sedih karena Younji tidak jadi menikah?” Tanya Jonghyun hati-hati. Ia tidak ingin membuat Hyunji semakin sedih. Hyunji mengangguk, membuka mulutnya dan meredam isakannya selama beberapa detik.
”Dia sudah seperti adikku sendiri. Dia sama sepertiku, wanita yang tangguh. Tapi sesungguhnya dia sangat lemah. Padahal aku menyayanginya sama seperti aku menyayangi Taemin dan aku selalu melindungi mereka berdua karena tidak ada lagi yang bisa melindungi mereka kecuali aku. Jadi aku harus berubah menjadi sosok yang lebih kuat. Menjadi sosok yang bisa mereka andalkan ketika masalah menerpa mereka. Aku tidak peduli meski orang-orang melihatku sebagai namja, asalkan mereka terlindungi. Mereka selalu menjadi prioritasku karena aku ingin mereka bahagia, tapi kenapa disaat Younji hampir saja mendapatkan kebahagiaannya, takdir justru berkata lain?” Hyunji masih terisak pelan.

“Sssh, semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan segera membaik.” Hibur Jonghyun. Jonghyun merengkuh tubuh Hyunji yang bergetar pelan dan memeluknya dengan erat.

“Kenapa takdir harus selalu mempermainkan kami?” Isak Hyunji lebih keras. Ia balas memeluk Jonghyun, dengan sangat erat. Merasakan Jonghyun ada di dekatnya membuat ia merasa nyaman. Bodoh memang, tapi ia percaya ketika Jonghyun mengatakan padanya semua akan membaik. Bersama dengannya, Hyunji merasa lebih tenang.

***

Hyunji membuka matanya yang sembab dengan agak kesusahan. Ia bisa merasakan matanya masih terasa perih, tapi ia tetap memaksanya terbuka.

Suara gumaman pelan membuat Hyunji sontak menoleh ke sumbernya dan ia melihat Jonghyun di sana, berbaring dengan nyaman di samping Hyunji.

Dengan cepat Hyunji mengingat kejadian saat ia menangis dalam dekapan Jonghyun. Karena kelelahan, ia pun tertidur. Hyunji melirik ke arah tangan Jonghyun yang melingkar erat di pinggangnya. Tidak ada keinginan untuk menepis tangan Jonghyun karena ia justru merasa tangan yang kokoh itu memberikan rasa aman padanya. Hyunji menatap wajah Jonghyun yang tertidur pulas. Garis wajahnya yang tegas justru tidak membuat dia terlihat menakutkan. Hyunji menyapukan jari-jarinya di garis rahang Jonghyun, menyentuhnya dengan lembut dan membuat dia takjub betapa indahnya hal itu. Deru nafas Jonghyun beradu dengan deru nafasnya sendiri, membuat Hyunji kembali merasakan jutaan kupu-kupu diperutnya. Padahal dia masih sedih mengingat apa yang terjadi pada Younji, tapi hanya dengan melihat Jonghyun dari jarak seperti ini mampu membuat dia merasa jauh lebih baik. Hyunji sedikit mengangkat kepalanya dan mengecup bibir Jonghyun selama tiga detik.

“What have you done to me, Kim Jonghyun?” Bisik Hyunji dengan sangat pelan sambil menarikan jari-jarinya di wajah Jonghyun.

Jonghyun tersenyum kecil dalam tidurnya. Dan saat itu, Hyunji melihat senyum terindah seperti malaikat yang pernah ia lihat. Hyunji ikut tersenyum, memejamkan matanya dan merapatkan dirinya ke dada bidang milik Jonghyun.

TO BE CONTINUE . . .

 

a/n :: kayaknya agak pendek ya?? Kekeke~ gak apa-apa deh ya?

Soal nya kalo menurutku chapter ini udah banyak serunya *kepedean* lol

Lagi pula aku sekarang lagi gak fit =.=’ mian~

Typo nya udah aku perbaiki, masih adakah??

*maklum, sistem kebut. Soalnya kompi lagi mau dipake eonni ku*

Nah, back to story, jadi udah pada tau ngapa Hyunji jadi yeoja yang super namja??

Kutip dari kalimat ini “Padahal aku menyayanginya sama seperti aku menyayangi Taemin dan aku selalu melindungi mereka berdua karena tidak ada lagi yang bisa melindungi mereka kecuali aku. Jadi aku harus berubah menjadi sosok yang lebih kuat. Menjadi sosok yang bisa mereka andalkan ketika masalah menerpa mereka. Aku tidak peduli meski orang-orang melihatku sebagai namja, asalkan mereka terlindungi.”

Nah, jadi udah tau kan?

Sampai jumpa di chapter 6 ^^

©2011 SF3SI, Yuyu.

This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

167 thoughts on “Incomplete Marriage – Part 5

  1. sukaaa..apalagi bagian akhirnya..akhirnya Hyunji sadar dan ngerasa kalau dia juga nyaman bareng si Jjong..omoooo..so sweet banget..pake nyium si jjong duluan (walaupun cuma 3 detik)..
    ditunggu next chapter..yang cepet ya..hohohohoho…

  2. GILA EONNI!! NIE FF KEREN BANGET DAH!! DAEBAK !!!! kpn part Brikutx perVert nerd D Post? aq penggemar ff eonni loh…

  3. Sampai jumpa d part 6 author….
    Keren….keren..keren…
    Tuh….bnerkan??si younji ada problem ama minho….
    Trus nnti kayaknya onew yg bs nanganin younji..(inget?younji gak pnah bs ngebantah onew…)
    hyunji ma jong makin manis j…kekek
    author mg cpt fit lg…..
    Met ktmu d part slanjutnya…eheheh

  4. Aku baru komen sekarang niih..
    Soalnya tadi malem baca di hape, males komen.😀
    Keren yuyu eoon!
    Waah.. kayaknya Younji bakalan sama Onew tuh.
    Aiish,, si Onew karakternya apabanget deh disni!
    Mudah-mudahan kalo udah sama Younji karakternya bisa berubah! Amin! *sapalo*
    Dan..
    Kyaaaaa! Hyunji udah mulai mengakui perasaan ke Jonghyun niih.. asiiik! ^^

  5. aigooo.. mkin rame aja ne ceritanya….kyaaa hyunji akhir,y ada feeling jg sm jjong,,, suka deh sm part terakhir.y,, tp kt2 TBC menghancurkannya…hehe ayo lanjutkan…!!!

  6. Ommo.. Hyunji berani nyolong kisseu! Hahahahaha
    eh, Younji kenapa? Minho kenapa? Aigoo, bikin penasaran!! Onew-Younji cocok kayaknya kalo Younji ga bisa sama Minho..😀

  7. huwaaaaaaa, hyunji keren!

    Dia juga udah sadar kalo sudah naksir ma Jjong!

    Semakin rame!!!
    Kapan mereka nikah???!

    Waaaaaaaaah gak sabar nunggu next partnya!
    Ditunggu ya chingue,

  8. Annyeong~
    mian baru komen d part ini. *BOW
    aku suka sama ff karya author yuyu. oia, next chap the pervert nerd cepet dipost yaa, keke seru banget soalnya. ga kalah seru sama ff ini.😀
    ditunggu juga buat next chap ff ini.

  9. Ha????????
    Itu hyunji cium jonghyun!!!!!
    AAAAAAAAAAAAAAAA
    Akhirnyaaa suka juga deh si hyunji
    Padahal dulu marah mulu setiap dijailin jong
    Tapi younji itu kenapa siiii
    Tadinya udah bahagia eh dia berubah pikirann
    Emang minhonya kenapa???
    Ko bisa dia nolak minho
    Ato
    Jangan jangan nanti dia sama onew???
    Lanjuuut

  10. wah… nggak sabar nunggu part selanjutnya…
    kapan keluarnya ya author?? kalau bisa secepatnya ya…
    gk sbar nunggu nya nah… ( maksa dkit gpp kn!!😀 )
    hwating…

  11. Aaaaa~ sumpah naksir banget banget ama ff ini… Aduuh jjong sama hyunji so sweet banget sih >,< aku bener2 irii… Ciee hyunji udah mulai suka tuh ama jjong…😄 Eh tp younji knp tuh? Ada masalah ya sama minho? Karena orang ketiga kah? Hehe sotoy sekali reader ini -,- Part 6 nya dong chingu .. Aku tungguin banget loh .. Jgn bosen bikin ff yg daebak ya.. Hwaiting😀

  12. Aahh seruuuu~
    jonghyun so sweet❤
    aku ska skaa adegan jonghyun sma hyunji.
    Bca ini jdi keinget adegan hyun bin ama ha jiwon yg d tmpat tidur (?)
    hahahha

  13. aaaahhh Hyunji uda mulai terpikat ama JJong nih…😀

    yah kenapa tiba2 Younji batalin pernikahannyaa??.. Omooo Onew gak boleh nakal ya *jewer Onew..

    kereeen authooor,, next part di tunggu ya🙂

  14. wah wahhh~~ aku telaaatt bget bacanya!! kerennn kerennnnn~~~~~~~~~ hyunji nya uda makin suka ma jjong
    ><//~~~~~~~~ penasraaaannn kenapa younji ga mw nikah ma minho 0,0

  15. mianhae, mianhae, mianhae… *deep bow
    saenq benar2 qak tw klo blom komen… lol

    napa younji onnie gak jadi nikah am minho oppa..?
    hyunji onnie am jonghyun oppa makin deket… 😄

  16. tebakan ku bener younji y ngak jadi sama minho tp kyk y bakal sama onew. . . . .
    Knp batal ya pernikahaan y jgn2 minho suka y sama hyunji lg soal y aku ngerasa gitu. . . . .

  17. hiks, hiks, hiks. .
    T_T
    Huwaaaa !!
    Onewppa jahat, tega, kq sadis banget sih ma aku, segitunya😦

    wah, bener d part ini lebih romantis, lebih mesra. .
    *balik semangat*ni reader gak jelas banget*
    lanjut chingu !😀

  18. Tuh kan kata aku juga, selama mereka serumah, hyunji bakalan suka sama jjong.
    Hidup Hyun couple.. ^^
    Gomawo eonni ffnya.

  19. Akhirnya Hyunji sadar dia suka sama Jjong juga, hehe. Itu, soal Younji aku ngerasa dia bakal sama Onew deh, atau Cuma perkiraan aku? Langsung lanjut ke part selanjutnya deh~ Nice FF~!

  20. MIanhaeyo Author karena dari part 1 smp part 5 bru komen disini…

    Kereeennn ceritanya… complicated bgt ya…. dan jujur aja bru sadar klo cerita ini tuh castnya sama kaya di Marriage by Accident…

    sepertinya aku bkal jadi penggemar EpEp mu nih, thor… hehehehe… ^^

  21. Kyaaaa~ jjong romantis banget si. Jadi penasaran kenapa Hyunji jadi berubah kaya cowok & sok kuat gitu. Pasti ada sebabnya dia kaya gitu.

    udah mulai tumbuh beni beni cinta nih !!!

  22. hyunraflames | alnadt | Kunang Anna | kim rye ah | minkijaeteuk | leejio | kyuwon96 | reenepott | ilmacuccha | tariel | Kim Ni Sha | Christiana Ruyanti | wth | haenidonghae | my_minnie | babymiu | Dina | mi2nchan | lovely jinki
    gomawoyo^^

  23. DAEBAK! ikut seneng dengan kisah Hyunji dan JJong. tapi inget, ada yang lagi sedih tuh. Younji.

    mudah2an ada penjelasan lebih tentang hubungan mereka Younji dan Minho. kenapa Younji ngebatalin pernikahan.

    and I know will be a problem in their relationship-JJong n Hyunji.

    go to next chap —–>>>>>

  24. Chapter ini sweet bget!!
    Hyunji udah suka jjong,, dan udah mau diem2 nyium jjong..
    aigoo.. klau hyunji lg cmburu,, menyeramkan.
    trus younji nya kessian bget -_-‘

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s