Can You Be Mine, Noona – Part VII

Title: Can you be Mine, Noona?

Chapter VII

Can I Hope for Something Impossible?

 

(@seoul hospital 06:43 AM KST)

“Hyung, bangun,”

“… Mmh… 5 menit lagi, Sica…” gumam Jinki tidak jelas. Taemin menahan tawa. Tidak disangka, hyung yang dikiranya polos ternyata bisa memimpikan seorang yeoja. Dan yeoja itu adalah Jessica-noona.

“Ayolah, hyung. Kau mau aku mengatakan rahasiamu pada Sica-noona?” Bisik taemin tepat di telinga hyungnya.

“andwaee—mmph…!!” sebelah tangan taemin membungkam bibir jinki dengan cepat, mencegahnya berteriak. Kesadarannya sudah kembali sekarang. Namja 22 tahun itu mencermati keadaan sekitar. Ah. Jam 6:13 am. Jinki melirik ke sebelahnya. Victoria noona juga masih  tidur.

“naenin…? Nwennana? (baca: taemin? Gwenchana?)” tanyanya sedikit berteriak dengan mulut yang masih dibekap oleh tangan taemin.

“sst! Hyung! Kau bisa membangunkan Noona,”

“…mmh…”

Eh.

“hh.” Fiuh. kedua namja tadi melepaskan nafas yang mereka tahan saat Victoria membalik posisi tidurnya. Taemin menarik tangannya dari Jinki.

“Bagaimana kabarmu Taemin-ah?”

Jawabannya hanya sebuah senyum. Taemin menyingkirkan selimut yang dia pakai ke samping tempat tidur, sehalus mungkin agar Victoria tidak terganggu. kakinya pasti sudah menjangkau lantai kamar, jika Jinki tidak mencegahnya.

“mau kemana, Tae?”

“… air minum di meja, hyung.”

“aish…” Jinki berjalan menghampiri sebotol air mineral di meja pasien.

“hyung—aku mau ambil sendiri,“

“telan pride-mu di saat-saat seperti ini, tidak ada salahnya meminta bantuan orang,”

Taemin tambah manyun, “aku tak mau merepotkan, hyung,”

Jinki menyodorkan beberapa tablet obat kepada Taemin. Dancer itu menatap tangan hyungnya heran.

“kenapa? Tidak pernah lihat obat?” dengan enggan diraihnya obat-obat tadi. Setelah menatapnya agak lama, berharap obat tadi menguap terkena udara, taemin menyerah dan meminum obatnya.

“anak pintar,” tepi bibir Jinki bergerak naik melihat dongsaengnya yang sampai menjulurkan lidahnya menahan pahit.

“… ga enak.” Ujarnya sembari meneguk air yang diberikan oleh Jinki.

“mana ada obat enak, Taem,” Jinki tertawa kecil, “kau bercanda.”

Dengan paksa Taemin mengembalikan gelas air yang telah kosong itu ke Jinki. Bibirnya masih saja mengerucut, tanda bahwa dia sebal. Tidak tahan dengan sikap manisnya, Jinki mengelus pelan rambut panjang taemin yang diikat seadanya.

“Hyung?” panggil Taemin lirih.

Jika dia tidak merasa was-was dengan panggilan Taemin barusan, maka Jinki jelas berbohong “wae, taemin-ah? … ada yang sakit?”

Taemin mengangkat tangannya, menyentuh kepalanya, “…sakit, hyung,”

“mi-mianhae… apa aku terlalu keras memegangnya?”

“ani…” Taemin menyandarkan sebagian badannya ke hyung nya yang masih berdiri di sampingnya, “jangan berhenti,” matanya terpejam menikmati tiap sentuhan jari Jinki. Jinki memeluk Taemin erat.

“…kau membuat kami khawatir, Taemin-ah,” imbuh Jinki menghela nafas panjang.

“ehehe.”

“Jangan tertawa, Lee Taemin.”

“ehehehhe.”

“kau-“ taemin berhenti tertawa saat pipinya dicubit oleh hyungnya yang paling tua itu. Dongsaeng Jinki masih menggelayut manja padanya, dan Jinki sama sekali tidak keberatan.

“Noona dari semalaman disini?” tanyanya tiba-tiba.

“kan kamu yang memintanya tinggal,” taemin mengangkat alisnya.

“Jjinja?”

“kau lupa?”

“…ani.”

“ya! Lalu kenapa kau Tanya?”

“ga boleh?” dengan malas Taemin menoleh ke Jinki, mengerutkan dahi dan memajukan bibirnya.

Ah.

Imutnya >___< . Jurus andalannya keluar. Tidak ada yang bisa menolak jika taemin sudah seperti itu. Tidak ada perkecualian untuk Jinki.

“…aku capek hyung.”

Taemin menggeser badannya agar lebih dekat dengan Jinki. Lengan namja yang menyukai Sica-noona nya itu dipeluk erat. Sica-noona… dan Kibum-hyung… taemin menghela nafas. Berkali-kali dia menyakiti mereka tanpa ada maksud. Dia benci dirinya sendiri.

“Taemin?” lagi-lagi tidak menjawab. Pandangannya menerawang jauh. Suara nafas lembut Victoria-noona sampai terdengar di telinga Jinki. Ada perasaan tidak nyaman pada Jinki sebenarnya, karena bagaimanapun juga, dialah yang menyebabkan Victoria terlibat dengan masalah Taemin.

“kapan ini semua berakhir?”

Pertanyaan sang magnae membuat tubuh jinki terasa beku. Berkali-kali mulutnya terbuka, namun tidak ada suara yang keluar. Jinki tahu Taemin menunggunya untuk menjawab.

“a—apa maksud—?“ Bodoh! Jinki Pabo! Bukan saatnya untuk gemetaran!

“aku sudah lelah sakit terus…”

“kalau begitu, sembuhlah-“

“jangan memberiku harapan kosong, hyung,” selanya dengan dingin, “aku bisa menggunakan internet untuk mencari tahu,”

“Dengar Tae—“

“maaf ya…”

Jinki merengkuh Taemin dalam pelukannya, membuat dirinya sadar bahwa Taemin masih ada di sampingnya. Untuk saat ini. dan dia akan berjuang untuk membuatnya tetap disini.

“Jangan menyerah… kami disini, taemin-ah. Kau punya kami disini,”

“…Ne. Gomawo.”

@Victoria’s house (12:18 AM KST)

“Umma… aku lelah,” Yeoja 23 tahun itu menjatuhkan tubuhnya begitu saja saat melihat sofa. Seorang wanita yang cukup tua mendekatinya dengan membawa secangkir susu hangat bercampur madu. Dengan hati-hati dijaga keseimbangannya, hingga akhirnya Victoria bangun dan meraih nampan yang di pegang ibunya.

“kan sudah kubilang, seharusnya kemarin kau pulang saja,” sahut Ibunya saat Victoria menyeruput isi cangkir tadi, “lagipula Taemin sudah ditemani hyungnya kan?”

“mmh…” teguk demi teguk dinikmati oleh Victoria. Rasanya manis… dan hangat. Entah kenapa dia masih menyukai susu buatan ibunya itu. Padahal umurnya sudah mengisyaratkan untuk memilih minuman yang sedikit lebih… keras? Kopi mungkin, “umma benar, memang sudah ada Jinki-ah, tapi aku ingin menemaninya,”

“… kau sudah memaafkannya?” Victoria menggenggam cangkir tadi dengan kuat tanpa dia sadari, membuat isi cangkir tersebut sedikit goyang. Di tatapnya cangkir itu setelah dia menjauhkannya dari bibirnya yang berwarna peach.

“tidak pembicaraan ini lagi umma,” selanya singkat, “aku sudah… lelah.”

“Victoria—“

“…bagaimana keadaan paman dan bibi, eomma? Aku tidak mau melihat bibi menangis lagi… aku tidak tega,” mata Victoria memang memandang ke depan, tapi ibunya tahu dengan pasti, pikiran anak semata wayangnya itu tidak ada di tempat ini.

“Vic, kita sudah membicarakannya baik-baik kan, orang tua Nickhun juga mengerti posisimu… dan Taemin,” Jawab ibu Victoria dengan cepat.

Victoria tidak menjawab. Dia lebih memilih diam sembari menikmati usapan lembut jemari sang ibu di rambut panjangnya. Kakinya yang jenjang ditarik agar bisa menempel sedekat mungkin dengan dadanya. “Taemin… anak itu… seandainya dongsaengku masih hidup, dia akan seumuran dengannya kan, eomma?” tanyanya dengan pandangan kosong. Sekilas Victoria bisa merasakan tubuh ibunya menegang saat nama itu disebut. Lagi. Kapan terakhir kali mereka membicarakan masalah ini?

“… kau benar. Qian pasti sudah sebesar dia,” timpal ibu dari yeoja bermata coklat itu lirih, “eomma rindu Qian,”

Perasaan bersalah kembali menyeruak, “Mian, eomma, karena aku—“

“tidak Vic, sudahlah. Semuanya sudah berlalu. Eomma sudah merelakannya pergi,”

***

“Noona! Vic-noona!!” panggil seorang namja di depan Victoria. Wajahnya yang masih penuh dengan baby fat; tentu saja, mengingat umurnya baru 6 tahun; tersenyum lebar di hadapan kakaknya yang masih menjahit kaos bolanya yang robek karena terjatuh.

“Wae—aduh!” tanpa disengaja jarum jahit malah menusuk jarinya. Victoria meringis menahan sakit.

Ah. Berdarah.

“G-gwenchana, noona?!” teriaknya panic melihat kakaknya yang kesakitan.

“haha. Hanya tertusuk sedikit,” Jawab Victoria ringan,  “tuh, darahnya menetes sedikit… eh?! Kenapa Qian?”

“Ma-maaf sudah melukai Noona,*hiks*” Victoria jadi bingung ketika namdongsaengnya itu menangis. Apa karena melihatnya kesakitan?

“Aigo. Hanya begini kok. Lihat, tangan noona masih bisa bergerak dengan mudah,” ujar Vic berusaha menenangkan adiknya.

“t-tapi tetap saja,” balas sang adik sesenggukan.

Victoria tersenyum kecil. Adiknya memang manis, meski dia tidak berusaha. “diamlah, sebentar lagi bajumu selesai noona jahit, jadi kau tidak perlu takut dimarahi eomma, arasso?”

“N-ne. gomawo, Noona.” Tangisnya mereda. Victoria menghela nafas tenang. Karena dia tidak perlu dimarahi eommanya. Jika beliau tahu dia sudah membuat adiknya menangis lagi, entah berapa lama dia akan diceramahi.

“anak baik,” Victoria meletakkan kerjaannya di lantai. Tangannya meraih pipi sang adik, mengusap air mata yang masih menetes.

“Noona?”

“Hm?”

“Aku janji akan melindungi Noona,” adik Victoria menatapnya lekat.

“Qian?”

“Noona sangat baik padaku, jadi aku akan melindungi noona semampuku!”

Jawaban itu membuat Victoria tersenyum… bangga? “…contohnya?”

“aku tidak akan membiarkan Noona tertusuk jarum lagI!” tukasnya dengan ceria.

“Aigoo~” tawa Victoria lepas.

“Noona!”

Dengan kesulitan Victoria menahan tawanya, “aku kan tertusuk juga karenamu, Qian,”

“J-Jjinja?”

“coba tadi kau tidak berteriak,” lanjutnya.

“Mi-Mianhae, Noona,”

“…Gwenchana,” Victoria melanjutkan pekerjaan menjahitnya. Dengan masih tersenyum, membiarkan adiknya terdiam sendirian.

“Qian?”

“Wae?” jawab Qian lirih, tanpa mengalihkan pandangannya dari lantai.

“Gomawo,” Victoria melempar sebuah senyuman, “kau adik yang baik,”

***

“Api! Segera padamkan! Air!”

Suasana hiruk pikuk. Banyak orang berlarian berbondong-bondong membawa ember air, berusaha memadamkan api yang semakin melahap rumah besar itu.

“(uhuk uhuk)Eomma!” seorang namja berusia 15 tahun berlari keluar dari rumah yang terbakar tadi.

“Qian! Kau baik-baik saja, nak?”seru ibunya seraya memastikan tidak ada luka serius pada Qian, “terima kasih, Tuhan,”

“Noona! Mana Noona?!” Ibu Qian tidak menjawab. Ketakutan jelas terpancar dari wajah tuanya.

“Eomma, Noona masih di dalam, eomma! Mana Appa!?”

“eomma sudah menghubungi appa, dia masih dalam perjalanan kemari! Victoria masih belum keluar,”

“Tolong air lebih banyak!!”

“Ck! Eomma! Vic-noona masih sakit! Dia ada di kamarnya kan?”

“Tunggu! Mau apa kau, Qian!”

“Aku mau mencari Noona!” Qian memutar tubuhnya, siap untuk kembali ke dalam rumah.

“Jangan! Apinya semakin besar, Qian!”

“Lepas, eomma!”

“Qian, dengarkan—“

“Noona!” Teriaknya.

“Qian, ibu mohon—“

“Mianhae, eomma,” Langkahnya terhenti, “aku sudah janji untuk melindungi noona,”

tangis ibunya sudah tidak terbendung. “Eomma? Sampaikan salamku ke appa,”

“QIAN!!”

***

panas…

“Ya Tuhan! Apa yang terjadi? (uhuk-uhuk) hah… hah… kukira badanku yang terlalu panas,” Victoria merangkak menuju pintu kamarnya. “Eomma! Qian! Dimana kalian?!”

“ukh!” Grak! Grak!

“tidak terbuka…” namun usahanya sia-sia. “gawat, besinya meleleh karena api…” Tubuh lemah Victoria  jatuh. Dengan susah payah dia mencoba bersandar pada dinding yang belum terbakar. “aku tak bisa… (uhuk) jadi ini akhir hidupku…”

Tolong selamatkan keluargaku, Tuhan…

“—oona!”

“Qian?”

“Noona!”

“Qian!” Victoria berusaha bangkit.

Brak brak!!

“noona! Buka pintunya!”

“tidak bisa, Qian, sudahlah, lupakan Noona! Selamatkan dirimu!”

“Jangan berkata omong kosong di saat seperti ini!”

“Noona tidak—“

“menjauh dari pintu, Noona!”

“apa?”

“Minggir!!” Victoria mengikuti perintah adiknya, dan tak lama–BRAKK!

“Qian!”

“No-noona, gwenchana?” Tanya Qian begitu melihat noonanya yang masih pucat. “omo! Badanmu tambah panas! Ayo cepat keluar (uhuk-uhuk)!”

“Dimana Eomma!?”

“Sudah diluar!”

“Kenapa bisa terbakar? Qian, dahimu berdarah!”

“Ini?” Qian menyentuh luka di dahinya, “hanya terbentur potongan pilar yang jatuh, luka kecil,” senyum itu terkembang dengan sangat terpaksa.

“maaf aku tidak bisa menggendongmu, Noona,”

“a-apa?”

“pegang terus tanganku, kita keluar dari sini!”

“Qian, Noona tak yakin bisa—“

“ umurku sudah 15 tahun, Noona! Aku sudah bisa melindungi Noona! Gwenchana! Ppali!”

***

“haah… hah… sedikit lagi, noona!”

“Qian, kakiku…”

“Pintu keluar sudah terlihat Noona! Berjuanglah sedikit lagi!”

“Qian—“

“Perjuangan kita tak akan sia-sia! Percayalah padaku, Noona!”

“aku perca—awas! Qian!”

“!!” Qian mendorong tubuh Victoria hingga jatuh.

“Kyaa!”

“AGH!” Pilar yang sebagian masih dilalap api itu jatuh di atas tubuh Qian.

“Qi-QIAAAAAN!!” Victoria menjerit histeris. uluran tangannya tidak disambut oleh Qian yang sudah sulit bergerak.

“(hiks, hiks) Qian! Bertahanlah! No-noona akan—hiks… menarikmu… hiks, ke-keluar…”

“No…ona…”

“Tolong! TOLOONG! Qianku! Qian—“

“Vic!” Victoria  mendengar eommanya memanggil, “Qian!”

“Bantu angkat pilarnya!” beberapa lelaki berusaha masuk melawan api.

“tidak bisa, sulit! Api terlalu besar!”

“TOLONG QIANKU, KUMOHON!”

“Noo… na… gwen… cha… na…?”

“Bertahanlah, noona pasti akan—“

“Vic!”

“Bantu aku, eomma! Siapa saja! Tolong!”

“Per… gilah… Noona…”

“Apa maksudmu! Kita keluar dari sini bersama! Kita akan hidup bersama!”

“Jangan… bercan… da… Noona…”

BRUK!

“Kyaa!”

“Hidup… lah, untukku… juga,”

“ani! Ani!”

“Victoria-sshi!”

“Lepaskan aku! Lepas! Qian!”

“jaga… noona…”

“Qian!!”

***

“Eomma tahu? Taemin mirip sekali dengan Qian…” Victoria meraih bantal di kakinya, “caranya tertawa, tersenyum, matanya… aku suka,” dia menarik nafas dalam, “aku ingin melindunginya, eomma,”

“Vic…”

“Aku tahu Qian sudah tak ada, tapi Taemin… dia masih disini. Aku bisa setiap saat disisinya, a-aku… aku sayang padanya,” Victoria bangkit dari sofa,“Aku tak akan mengulang kesalahanku lagi,”

“…Kalau memang itu yang kau mau, eomma hanya bisa mendukungmu, Vic,”

“terima kasih,” ujarnya sembari menoleh ke ummanya.

“Sekarang istirahatlah sejenak, kau bisa menjenguk Taemin-goon lagi nanti,”

Victoria beranjak menuju kamarnya, “Ne,”

“Vic?”

“Eomma?”

“aku… tahu kau masih sedih karena banyak hal, tapi kumohon, jangan sampai kau menyalahartikan perasaanmu. Jangan lukai siapapun, Vic…”

“Eomma…”

“Aku ke dapur dulu, Vic. Selamat istirahat,”

“Tentu, eomma, aku tidak melukai siapapun… kan?”

***

(@seoul hospital 05:29 PM KST)

“…”

“ah. Aku pasti bisa. Ayolah. Kau adalah Almighty. Lagipula ini Taemin… bukan orang asing,“

“…”

“ugh…” tangan Kibum berkali-kali terangkat, tapi entah kenapa pergelangannya tidak mau bergerak maju sedikit sampai jarinya terantuk pintu kamar Taemin. Sudah 10 menit lebih dia berdiri disini. Dan sudah banyak orang yang menatapnya dengan tatapan aneh (Kibum bukan dewa, tapi dia bisa merasakan pandangan ganjil orang-orang).

“Ayolah, kau bukan mau melamar Seohyun, Kim Kibum,” tersadar dengan apa yang sudah dia katakan,  Kibum tersipu sendiri. “sial, aku jadi tambah aneh,”

Kret. Pintunya terbuka sendiri. Aneh.

Kibum menahan nafas.

“Key-hyung?” Wajah Taemin menyembul dari balik pintu yang sedari tadi akan di ketuk Kibum. “kenapa  kau bicara sendiri di depan pintu?”

“a-ahaha,” kaku. “ga apa-apakan? Aku sedang membuat scenario drama—“

“tentang usahamu melamar Seohyun-noona?”

“a-ani! Darimana kau tahu hal seperti itu, Taeminnie?! Umma tidak—“

Umma sendiri yang bilang barusan,” setelah Taemin tahu Kibum kalah (berkali-kali  Kibum membuka mulut tanpa ada suara yang keluar, dan semburat merah di wajahnya memberi bukti lebih dari cukup), Taemin meraih tangan ummanya itu untuk di bawa ke dalam.

“…Jangan bilang siapapun,” tepi bibir taemin naik. Dengan memasang tampang innocent (senjata andalannya), dia membuka mulut.

“tentang?” tanyanya polos.

“Jangan bercanda, taemin-ah,” Kibum manyun.

“aku tidak bercanda, hyung, barusan kita membicarakan banyak hal,”

Jika memang mungkin terjadi, Kibum makin manyun. Alisnya terangkat sebelah, tanda dia bingung dan sebal. “tidak lucu, Minnie,” Taemin jadi tidak tega.

“Oke deh, hyung,” Kibum membalas senyuman Taemin dengan lega. Kenapa juga dia harus lega? Tidak mungkin Taemin membocorkan hal sepenting itu… kan? “duduklah, hyung. Aku mau mengganti air bunga dari Jinki-hyung dulu,”

Kibum melempar pandangannya keseluruh ruangan. Sejak awal dia sering kesini (karena Taemin), dia tahu dia akan membenci tempat ini. Semuanya serba… putih. Dan bersih. Putih berarti pure, kan? innocent, bersih, dan… berarti orang yang ada di dalamnya akan selalu suci. Like they’re going to face Him. Kibum menepis pikirannya jauh-jauh.

“Bagaimana dengan tugasku di sekolah ya Hyung? aku banyak ketinggalan nih,”

“…hm,”

Tatapannya melembut melihat Taemin yang sedang memegang pot bunga mawar kuning pemberian Jinki (‘tetap Semangat dan jangan berhenti berharap! Tuhan pasti membantu!’ kata Jinki). Sosoknya yang tertimpa cahaya matahari, tersenyum dan dikelilingi bunga sangatlah angelic bagi Kibum. Tanpa sadar Kibum tersenyum sendiri.

“…aku takut padamu, hyung,” Ucapan sang maknae membuyarkan Kibum dari lamunan.

“a-apa maksudmu?” sial, kibum, kenapa kau harus gemetar disaat-saat seperti ini?

“kau menatap ku dan senyum-senyum sendiri, apa kau jatuh cinta padaku?” candaTaemin.

“ya-yah! Bukan! Aku masih normal, Minnie!”

“Tentu, kau suka Seohyun-noona dan aku,”

“Lee Taemin!”

“ahaha. Oke, oke! Jangan marah dong!” Kibum senang, sangat senang melihat dongsaengnya tertawa. Jika saja mereka bisa terus tertawa tanpa khawatir pada apapun…

Diraihnya kepala taemin. Tawa Taemin terhenti saat dia dibawa kedalam pelukan Kibum.

“Kibum-hyung?” kibum tidak menjawab. Dia mengeratkan pelukannya. Jemarinya menyusuri helai rambut Taemin yang makin panjang.

Taemin memilih diam.

“yah, baby! Kapan kau terakhir menyisir rambutmu? Sekarang jadi—“ mata Kibum terbelalak. Di sela-sela jarinya tersangkut… rambut Taemin? Dengan jumlah yang cukup banyak. Rasanya semua udara hilang. Dadanya sesak.

“ta-taemin…? Se-sejak kapa—“ suara Kibum tak mau keluar. Omongannya terhenti sampai disitu. Taemin bisa merasakan tubuh Kibum yang bergetar semakin hebat. Tangan Taemin merangkul pinggang Kibum, dan membenam kan wajahnya di pundak hyungnya itu.

“akhir-akhir ini selalu rontok hyung… banyak… aku tidak mau botak, jadi ga kusisir deh, hehe,” seharusnya ucapan Taemin barusan membuatnya tertawa, bukan membuyarkan pandangannya karena air mata yang mau jatuh.

“..pabo. taeminnie pabo,” Kibum berusaha tegar. Dia tidak mau terlihat lemah di hadapan dongsaeng paling kuat baginya. “kau benar, lebih baik tidak usah,” sambung Kibum getir, “ Aku lebih suka kalau rambutmu panjang begini. Oh ya. Aku tahu style yang bagus dengan warna rambutmu, kau harus coba nanti saat keluar dari sini!”

“… boleh?” jawabnya sembari berkedip-kedip. Manis sekali. Kibum mengusap matanya yang sembab.

“pabo. Tidak akan ada yang melarangmu, atau mereka mau berurusan denganku,”

“kau benar, hyung. Ok, aku mau,” Kibum tersenyum. Taemin melepaskan pelukannya dan duduk di bed miliknya. “Bisakah kita mengajak Noona juga?”

“Noona? Sica-noona?” Tanyanya bingung.

“a-ni… um, Victoria-noona?”

Curiosity kills the cat. Kibum membuka mulutnya dengan reflex.

“Kau… suka pada Vic-noona?” alisnya naik sebelah. Kibum menunggu Taemin menjawab dengan sabar, meski sebenarnya dia sudah tahu jawabannya dengan melihat wajah Taemin yang merah padam. Dia hanya ingin, um, memastikan?

Taemin salah tingkah. Matanya memandang kemanapun kecuali wajah hyungnya.

“yah! Taemin, jawab umma!” Taemin menunduk.

“a-aku tidak tahu perasaan apa ini, ma-maksudku—tenang, dan um, a-aku suka berada di dekat noona,” ujarnya tersipu, “Ma-maaf, ku tahu aku tidak berhak—a-aduduh! Hyung!” Pipi Taemin ditarik keras sekali oleh Kibum yang gemas dengan sikap lugu dongsaengnya.

“Kenapa minta maaf? Tentu saja itu hakmu,”

“ta-tapi, a-aku sudah—“

“Semuanya adalah takdir, Taemin ah,” Kibum menarik tangannya dari pipi Taemin.

Untuk beberapa saat keduanya memilih untuk diam. Kibum juga tidak mau memaksa Taemin untuk bicara jika memang dia tidak mau.

“… Ne. tapi… aku takut noona malah membenciku,”

“… bagaimana kau tahu?”

“Hyung?” Taemin memiringkan wajahnya polos. Jiwa umma brother complex Kibum tersentuh. Manisnya~

“kau bisa berusaha—“ Biip. Biip. “—ponselmu?”

“Ah, ne,”

“Sebentar,” Kibum mengambil ponsel flip Taemin. Mulutnya membentuk huruf ‘o’ melihat nama pemanggilnya. Appa Calling.

“taem! Taem~ ayahmu!” Taemin merebut ponselnya dari Kibum.

Sejenak Taemin memandang layar ponselnya, tidak percaya dengan ucapan Kibum, sebelum akhirnya memencet tombol speak. “yo-yoboseyo?”

“yoboseyo, taemin?”

“n-ne, appa?”

Taemin manyun sendiri mendengar suara yang keluar dari mulutnya. Kesannya… lemah dan… bahagia? Seperti tokoh perempuan dalam komik yang medapat telpon dari kekasihnya. Aish—dia bukan perempuan.

“bagaimana keadaanmu, Taem? Appa minta maaf karena appa belum bisa kesitu,” Taemin tetap menggeleng meski dia tahu ayahnya tidak akan bisa melihat. Kibum gemas melihatnya.

“gwenchana,” matanya sayu, “sungguh tak apa, appa sudah mau menghubungiku saja aku sudah senang,”

getir.

“apa maksudmu? Itu sudah kewajibanku untuk khawatir. Bagaimana keadaanmu? Masih pusing? Appa sudah menanyakan keadaanmu pada Jinki dan Sungmin. Apa yang kau rasakan sekarang?”

Taemin bersandar pada Kibum. Bagaimanapun kepalanya masih terasa berat jika harus menopang dirinya sendiri dalam waktu lama.

“…sudah agak baikan kok, kemarin umma juga sudah kesini,” senyum miris tersungging di bibir Kibum.

“benarkah? Kupikir umma-mu— Taemin-ah, appa minta maaf,”

“Eh?”

“aku tahu bagaimana umma-mu bersikap padamu,” taemin menunggu appanya melanjutkan ucapannya, “dia hanya khawatir. Sama seperti aku. Tapi dia tidak tahu bagaimana mengekspresikannya,”

“Ne, appa…”

”…kau satu-satunya putra yang sudah kami harapkan dari dulu, dan ternyata tuhan membuatmu… sedikit lebih ‘beruntung’ dibandingkan dengan anak lain.”

“…maksud appa ‘kurang beruntung’,”

“tidak, kau beruntung. Itu bukti Tuhan sangat sayang padamu… mungkin melebihi kami. Dia hanya ingin mengujimu… juga kami dan hyungdeul-mu. Bisakah kau bersabar? Appa tahu kau sanggup melewatinya,”

Taemin mendesah. “… aku tak tahu appa,” matanya terpejam, “tapi akan kucoba,”

“anak baik. Appa akan pulang 2-3 minggu lagi, kau mau sesuatu? Yang tak ada di korea, tentunya,” taemin tertawa, “Dan appa  harap kau sudah di rumah dan menari lagi pada hari itu,”

“Um, ok. Dan tidak, terima kasih appa, pulanglah dengan selamat,”

“aku tahu, sampai jumpa Taemin-ah,”

“ja—jamkkan man-yo! Appa—“

“Wae, Taemin-ah?”

Tampaknya bed cover adalah hal yang paling menarik bagi Taemin. “u—um, bo-bogoshipeo…?” Kibum berkedip. Taemin gugup, dan Taemin tahu Kibum bisa mendengar suara keras tawa ayahnya.

“tentu Taemin, appa juga rindu padamu. Ayo kita pergi karaoke nanti. Appa rindu suaramu,”

“…ne,” Taemin mencelos saat Kibum mengusap-usap pipi Taemin, “sampai jumpa,”

“annyeong, taemin,”

“annyeong.” Piip. Taemin mendorong Kibum menjauhi dirinya. “yah! Hyung, geli!”

“aigoo~ kau manis sekaliii,”

“aku tahu,”

“yah!! Kau narsis ya?”

“…tidak kok, aku hanya baru sadar kemarin,”

“…akan kubunuh choi minho,”

“jangan!”

(@Seoul Hospital, Sungmin’s room, 07:12 PM KST)

“tetap tidak bisa?”

“aku tak tahu, Jinki-ah. Kami masih berusaha, urusan sembuh atau tidak itu Tuhan yang mengatur,”

“meski dengan pengobatannya yang sekarang?”

“…prinsip kemoterapi adalah membunuh sel, tapi obat itu tidak melihat sel yang baik dan yang jelek, semuanya dia ‘bunuh’,”

“jadi—“

“…kau tahu apa maksudku,”

“tapi-Tuhan, apa yang harus kita lakukan, hyung?”

“…berusaha agar umurnya lebih panjang, dengan mengurangi rasa sakit yang dia rasakan,”

“…”

“…aku,” Sungmin mendesah, “… akan berjuang semampuku, Jinki,”

Tatapan Jinki kosong. “Kibum tidak boleh tahu, Minho, Jonghyun, Sica, Vic-noona dan Taemin… semuanya tidak boleh tahu—“

“tenangkan dirimu!” sungmin meraih tubuh dongsaengnya yang gemetar hebat, dan dengan hati-hati Jinki dibantu untuk duduk.

“a-apa yang harus kulakukan, hyung?” Jinki terlihat kalap, “a-apa? Ka-katakan padaku, h-hyung…”

“Jinki…”

“aku— Tuhan…“

“… di saat seperti ini, kau mau mencoba pada keberuntungan?”

TBC

AN: Oke. Saya minta maaf kalau fanfic ini sempat saya lupakan. TT sebenarnya sudah dibuat sampai part (rahasia XD), tapi saya lupa belum saya kirim ke email admin (=..=)a, dan saya juga minta maaf tentang update yang sangat lamaaaaaaaaa… *bows* perasaan sih sudah saya kirim, tapi pasti banyak FF yang nunggu di publish, FF ini jadi ikut antrian panjang~ (budaya antri harus digalakkan!) –> sapa juga yang nunggu? aih. pokoknya maaf, dan moga ga membosankan, makasih yang sudah mampir dan komen~ ^^

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

22 thoughts on “Can You Be Mine, Noona – Part VII”

  1. Aaaaaaaaa
    Taemin kasiannn
    Sumpah itu nyesek banget waktu rambutnya taemin rontokkk
    Pengen nangissssss
    Taemin pasti sembuh!!!
    Yakan thor yakan??? *maksa
    Key baik, perhatian banget
    Dan akhirnya taemin bisa senyum sama ketawa lagi
    Onewww jangan tutupin masalah sendirian
    Kasian dongsaengnya kalo di rahasiain
    Dan kalo taunya belakangan bakal lebih nyesek lagiii
    Lanjuut

  2. Lon kenapa key mau bunuh minho pas taem narsis? Wkwkwk
    Aihhhh itu adeknya vic baik bgtttt
    Aigooooo jinkinyaaaaaa
    Sangatsangatsangatttt baik
    Jadi taem gak bisa sepenuhnya sembuh lagi…?

  3. thoorr ayok part selanjutnya u,u aku udah nungguin lama nihh
    iyaa pas yang rambut taem rontok itu aku nangiiss T_T
    haduuh jangan sampe sakit beneran deh ya taeemm mwah mwah *dibakar taemints*
    wkwkwk

  4. eonniiiiiiiiiiiiiiiiii
    lanjutan naaaaaaaaa
    dah g sbr nie ma nasibna taem,,,,
    bisa smbuh g eonn????????

    klo bs ci smbuh biar happy ending,,,,,,,,,,,,,,,,

    gomawo eonnn,,,,,,,,,,

  5. ini blum selesai lho tapi kok masuk daftar sequel complete
    sumpah penasaran ini dilanjutin gak sih
    TTTTT

  6. Ini mana Ɣää lanjutannyaaaa
    Κ̣̝̇o̶̲̥̅̊ҟ dah masuk secuel complited…
    Hmmmm penasaran bgt nich ma taeminie Ɣªήğ suka vic
    †я̲̅μş̲̅ kykx penyakitnya minnie tambah parah ƍįıƭÛ Ɣää
    Kasihan bgttt

  7. ini belum komplit tapi di bilang udah komplit di libary. aneh.

    lanjutin seceatya udah mau baca jangan di kecewain.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s