Dark Operation

Title                 : D.O → Dark Operation               

Author             : Mita a.k.a mittaemnie

Main cast        : SHINee Lee Taemin, Kang Hyerin

Support cast    : other SHINee member, Choi Siwon, Jung Yunho

Length             : oneshot

Genre              : Romance, action, sad

Rating              : PG-15

Ost.                  : SHINee – Quasimodo (author suggestion: bacalah dengan mendengar lagu ini)

Disclaimer           : SHINee milik SMEnt dan shawol, begitu pula Choi Siwon dan Jung Yunho milik SMEnt.  Kang Hye-rin itu sebenernya nama Korea ku tapi di story ini milik khayalanku. Dan semua jalan cerita yang ada di cerita ini milik khayalanku, meskipun sedikit kecipratan inspirasi dari mana-mana. Hehehehe.  Selamat membaca J

p.s : fanfic ini pernah dipost sebelumnya di shawolstress.blog.com dengan author yang sama. J

                Ia berusaha agar langkahnya tak terdengar. Ia terus mengendap-endap sampai ia tepat berada di depan sasarannya. Jaraknya tak lebih dari 2 meter lagi, ia bisa melihat wajah laki-laki berambut pirang itu dari samping yang tidak ditutupi topeng seperti rekan-rekannya yang lain. Ia juga bisa melihat laki-laki itu mengutak-atik sesuatu ya         ng terpampang di layar yang berwarna gelap itu. Ia mengacungkan pistol tepat di kepala laki-laki itu.

                “Jangan bergerak!” berhasil. Laki-laki itu berhenti bekerja dengan komputernya. Ia kembali memberi instruksi pada laki-laki itu, “Berdiri dan berbalik perlahan!” dengan tegas ia memerintahkan laki-laki di depannya. Kepala laki-laki itu tertunduk pasrah, lalu berbalik perlahan. Namun ia tetap waspada.

                Prakkk!!!

PROLOG – END

                Seorang wanita duduk di depan meja makan yang sudah penuh dengan hidangan yang dibuatnya sendiri. Namun ia tetap cemberut melihat seorang laki-laki yang masih asik dengan laptopnya. Ia menghela napas berat. Lalu bangkit dan berpindah tempat duduk di sebelah laki-laki itu.

                Kang Hyerin menatap seorang laki-laki berambut pirang yang matanya dibingkai kacamata dan serius menatap layar laptop, “Chagi…” panggilnya. Namun yang dipanggil hanya menggumam. Kali ini ia mengguncang lengan laki-laki itu, “Chagi-ya…” panggilnya. Namun ia masih tetap mendengar gumaman tak jelas. Kesal, akhirnya ia menutup paksa layar laptop, namun tangan laki-laki di depannya menahan layar laptop itu.

                “Mwoyaa?” Lee Taemin menatapnya dengan pandangan sedikit kesal. Hyerin mendengus, “Apa? Apa katamu? Kau ini sedang berada di dunia mana?” tanyanya kesal.

                Laki-laki itu balas memandangnya, “Ini penting, kau tahu?” Hyerin itu memajukan bibirnya lalu bersandar, “Penting, ya?” tanpa disangkanya, Taemin malah membuka laptopnya lagi dan menatapnya serius sambil menggumam, “Nee, ini demi kelangsungan hidup dan mati,” katanya sambil kembali mengetik sesuatu di laptopnya. Hyerin kembali maju dan menatapnya tajam sambil mencengkeran lengan Taemin, “Tapi hidup matimu juga ditentukan isi perutmu,” katanya sambil melirik hidangan di meja. Taemin pun mengikuti arah lirikan Hyerin. Pelan-pelan, senyum tersungging di bibirnya.

                “Aaaah, geurae. Kau ini. Tapi aku harus menyimpan ini dulu. Setelah itu aku akan menuruti apapun keinginanmu dan perutku,” ia tersenyum sambil menjawil hidung Hyerin. Yang dijawil sedikit cemberut namun akhirnya tersenyum juga, “Geurae. Ayo cepat simpan, palli,” perintahnya tegas. Taemin tersenyum lalu mengangguk. Ia kembali menekuri laptopnya sebentar lalu menutupnya. Lalu berpaling pada Hyerin yang tersenyum padanya di sampingnya.

                “Ayo berdoa,” ajaknya pada Hyerin. Ia lalu mengulurkan tangannya pada Hyerin yang langsung disambut. Mereka berdoa sambil berpegangan tangan seperti biasa. Lalu bersiap untuk menyantap hidangan yang disediakan Hyerin.

                “Wah, setelah melihat ini semua, aku jadi benar-benar lapar,” kata Taemin. Hyerin mencibir, “Kau benar-benar,” lalu balas menjawil pipi Taemin.  Taemin tertawa, begitu pun Hyerin. tiba-tiba Taemin mendekatkan wajahnya kepada Hyerin dan berkata, “Chagi-ya, aaaa…,” dengan manja. Hyerin menjitak kepalanya pelan.

                “Aish, Aku hanya minta disuapi saja kok,” Taemin membela dirinya. Hyerin memutar bola matanya, “Aigoo, suamiku ini. Masih manja seperti anak TK,” katanya. Ia menyodorkan sesendok nasi pada Taemin, lalu mendorongnya dengan sengaja.

                Taemin sedikit kaget, lalu protes, “Mwoya?” ia melihat istrinya yang tersenyum nakal. Ia menelan nasi yang ada di mulutnya lalu menyipitkan matanya, “Kau ini, awas ya,” ia menggeltiki pinggang Hyerin. Hyerin yang kegelian berteriak, “Ampun, ampuuuuun!!” lalu bangkit dan berlari menghindari Taemin. Taemin pun tak mau kalah dan mengejar Hyerin berlari mengelilingi meja makan. Setelah berhasil menangkapnya dari belakang, ia berhenti menggelitiki Hyerin. Ia memeluk Hyerin yang juga berhenti bereaksi. Beberapa detik keduanya terdiam, sambil menatap ke luar yang langsung berhadapan dengan pantai melalui jendela besar di rumah mereka.

                Taemin mempererat pelukannya pada Hyerin lalu mencium leher Hyerin. Ia belum berhenti sampai Hyerin berkata, “Chagi-ya, kau tahu hari ini ada apa?” Taemin berpikir sejenak, “Mmm, aku harus meeting dengan klien, lalu bekerja, lalu…”

                Hyerin cepat-cepat menyangkalnya, “Keuronggon aniyeyo! Masa kau tidak tahu?” Taemin mengerutkan kening dan berpura-pura berpikir, “Mmm, mwolla,” jawabannya langsung membuat Hyerin cemberut, “Payah,” katanya. Lalu Taemin tertawa. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Hyerin dan berbisik.

                “Aku ingat kok,” bisiknya, “Hari paling penting dalam hidup kita, bukan?” Hyerin tersenyum mendengar jawaban suaminya. Ia mengangkat tangan Taemin dan menempelkan pada pipinya. Ia melihat, cincin yang melingkar di jari Taemin yang juga sama persis dengan yang dikenakan di jari manisnya.

                “Lalu, apakah kau tidak akan memberiku sesuatu yang spesial?” tanya Hyerin sambil sedikit berharap. Ia mendongak menatap Taemin yang berpikir, “Mmm, mwolla,” lalu tersenyum jahil, “Kita lihat saja nanti,” Hyerin kembali cemberut. Namun tetap tersenyum sambil menikmati pelukan hangat dari orang yang paling dicintainya. Namun suasana itu dirusakkan oleh raungan ponsel Hyerin dan Taemin.

                Keduanya saling menatap lalu berpisah dan mengangkat telepon. Hyerin mengangkat ponselnya begitu pun Taemin, “Yobosseyo?” kata mereka berbarengan. Beberapa detik kemudian mereka berkata, “Nee, algesshimnida,” hampir serempak. Mereka saling memandang geli sehabis memutus sambungan telepon.

                “Aku harus pergi,” kata Taemin. Hyerin membalas, “Nee, aku juga harus berangkat segera,” katanya. Kemudian ia membantu Taemin memakaikan jas hitamnya seperti biasa. Namun tangannya masih memain-mainkan kerah pakaian Taemin, “Pulanglah secepatnya,” pintanya pada suaminya. Taemin terdiam lalu melingkarkan tangannya di pinggang Hyerin.

                “Aku akan kembali secepat angin,” ia tersenyum lalu mengecup bibir Hyerin sekilas, “Aku pergi, ya?” lalu mengambil tas dan berlalu. Hyerin memandang kepergian Taemin dengan senyum simpul lalu kembali ke kamar untuk bersiap-siap.

                Conference Hall, National anti-Terror Service, South Korea.

                Hyerin kembali melihat kedua foto yang baru saja terkirim dengan amplop cokelat tanpa nama pengirim. Keduanya tidak salah lagi adalah gambar Cheongwadae, Istana Kepresidenan, dan gambar Presiden sendiri.

                “Maksudmu, target teroris kali ini adalah Cheongwadae?” tanya seorang junior Hyerin, Jung Yunho yang langsung dijawab oleh rekan Hyerin, Choi Siwon.

                “Nee. Namun yang menjadi perhatian kita saat ini adalah bagaimana dan kapan teror itu dilakukan,” jawab Siwon serius. Hyerin menghela napas, “Apa kau sudah mengirim tim untuk menyelidiki lokasi teroris itu?” Siwon mengangguk, “Nee, aku sudah memerintahkan untuk melacak keberadaan mereka. Untuk mengantisipasi aku juga memeriksa tempat yang dapat digunakan untuk melakukan aksi teror itu yang terletak di sekitar Cheongwadae,” Hyerin mengangguk mendengar penjelasan Siwon. Kemudian pintu conference hall terbuka. Direktur dan beberapa office agent masuk.

                “Office agent silahkan,” perintah direktur. Salah seorang office agent segera berdiri dan menyalakan proyektor, “Kami sudah memeriksa sekitar Cheongwadae. beberapa tempat di sekitar cheongwadae memang mencurigakan, namun bangunan ini,” ia menunjuk sebuah bangunan tua yang belum jadi, “kami curigai sebagai tempat operasi. Seorang mata-mata kami melihat seorang laki-laki masuk ke dalam bangunan itu beberapa jam yang lalu,” kemudian di layar tampak gambar seorang laki-laki memakai jas abu-abu dan topi sewarna memasuki bangunan itu sambil membawa tas kerja. Agen itu melanjutkan, “Kami belum mengidentifikasi siapa pria itu, namun kami curiga mereka akan beroperasi secepatnya,”

                Direktur angkat suara, “Agen Siwon, Hyerin, dan Yunho tangani kasus ini besok langsung di lapangan. Gagalkan rencana teror tersebut. Field agent lain aku tugaskan bersiaga di Cheongwadae, dengan bantuan office agent,” lalu rapat selesai. Hyerin pun keluar menuju ruangannya sambil menghembuskan napas berat. Tanpa sadar Yunho dan Siwon sudah ada di belakangnya.

                “Ada apa?” tanya Siwon. Hyerin berbalik, “Aniya,” ia menggeleng sambil menyentuh belakang lehernya.

                “Sunbae, kau tidak biasanya seperti ini. Setelah mendapat tugas, wajahmu selalu terlihat serius. Apa ada masalah?” tanya Yunho. Hyerin menggeleng, “Aniya, aku hanya sedikit lelah,” Hyerin mencari alasan. Beruntung ponselnya bergetar saat itu karena ia tidak ingin menjawab lagi. sebuah pesan masuk ke ponselnya membuatnya tersenyum.

                “Aku pergi dulu. Sampai jumpa besok,” katanya lalu pergi meninggalkan kedua rekannya yang kebingungan.

                 Seorang laki-laki berambut pirang berjalan menembus kegelapan malam. Ia berjalan sangat pelan sehingga waktu pun menyalipnya dengan berlalu lebih cepat. Di benaknya masih terngiang percakapannya dengan rekan sepekerjaannya, Choi Minho.

                “Kau masih belum memutuskan?” tanyanya.

                “Bisakah kau tidak menggangguku?” Taemin menggumam.

                “Ya, Lee Taemin!”

                “Mwo?!” tantangnya.

                “Apa kau gila?! Hidupnya berada dalam ancaman karenamu!”

                “Kau tidak tahu apa-apa,” katanya dingin. Minho terkejut, “Apa maksudmu?” Taemin mengalihkan pandangannya sebentar dari laptop yang ada di hadapannya dan menatap Minho serius.

                “Aku akan mengakhiri semua ini,”

                “Mwo?!” Minho terkejut. Taemin menunduk pasrah sambil memandang ke arah lain.

                “Aku akan mengakhiri hubunganku dengan kalian setelah misi ini selesai. Aku akan menjalani kehidupanku yang biasa, bersama wanita itu. Aku mencintainya dan aku ingin melindunginya. Dan akan ku akhiri semua ini,”

                Ia menyusupkan tangan ke dalam saku jasnya. Ia meraih sesuatu, sebuah liontin emas putih berbandul bintang berkilauan di depan matanya. Ia menatapnya dengan sendu. Ia amat mencintai wanita itu, ia memang ingin melindunginya. Ia tidak sanggup lagi mempertaruhkan hidupnya ataupun hidup wanita yang ia cintai.

                Ia meremas rambutnya. Tinggal sebentar lagi, batinnya berkata keras-keras, tinggal sebentar lagi dan kau akan aman bersama diriku, Kang Hyerin.

                Hyerin menatap puas pada hasil karyanya. Lilin-lilin berpendar di setiap sudut rumahnya menambah suasana romantis dalam keremangan malam. Ia memastikan segala sesuatunya sempurna untuk malam bahagia untuknya juga untuk suaminya, Taemin.

                Ia melihat jam di dinding, pukul 7 kurang, Taemin belum kembali. Ia berpikir mungkin bisa memperbaiki riasannya sedikit sambil menunggu orang spesialnya datang. Ia melangkah menuju kamar sambil berharap, mudah-mudahan Taemin datang tepat waktu.

                Taemin sudah sampai di rumahnya. Ia memperhatikan sekitar. Lampu-lampu bersinar redup, hanya lilin-lilin di setiap sudut yang berpendar menambah cahaya. Wangi ruangan tidak biasa kali ini baginya. Ia berkeliling sampai meja makan yang penuh dengan hidangan yang mungkin sudah dingin menunggunya.

                Waktu memang menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Ia berjalan menuju ruang tengah, dijumpainya Hyerin tertidur di sofa. Gaun hijau, warna favorit Taemin, masih membalut tubuhnya yang terbaring di sofa. Riasan-riasan masih menempel di wajahnya. Taemin memperhatikan istrinya yang tertidur dengan pandangan sendu. Rasa yang bergejolak di hatinya semakin menggebu. Rasa cinta dan bersalah berlomba-lomba memenangkan tempat di benaknya.

                Kemudian wajah Hyerin berkerut, matanya terbuka pelan-pelan. Otot-otot bibirnya tertarik membentuk senyum saat menyadari ada Taemin.

                “Oh, kau sudah datang,” katanya sambil mengusap wajah Taemin. Namun Taemin tidak berkata apa-apa, hanya memandangnya. Hyerin mendudukkan badannya, “Suamiku, kau sudah pulang?” katanya. Taemin menarik paksa bibirnya untuk tersenyum. Hyerin menatapnya lembut lalu memeluknya.

                “Kau sudah pulang,” bisiknya. Taemin melingkarkan tangannya di pinggang Hyerin lalu membenamkan wajahnya di pundak Hyerin. Ia memeluknya sangat erat, seolah tak ingin berpisah lagi. Hyerin kembali berbisik, “Happy anniversary, untuk kita,” Taemin mengangguk di pelukannya. Ia menggigit bibir untuk menahan air mata yang untung saja berhasil.

                Hyerin melepaskan pelukannya, “Jamkkanman, aku punya sesuatu untukmu,” ia bangkit. Tetapi Taemin menahannya dan menariknya lagi dalam pelukan. Hyerin sedikit terkejut, “Suamiku, ada apa?”

                “Aku mencintaimu, Hyerin,” bisik Taemin, “Aku benar-benar mencintaimu,” Hyerin terpaku dalam pelukan Taemin. Namun ia juga berbisik, “Aku juga mencintaimu, Lee Taemin,” beberapa detik Taemin melepaskan pelukannya. Ia menatap jauh ke dalam mata Hyerin kemudian diciumnya bibir Hyerin. Hyerin terkejut namun membalas ciuman dari Taemin. Merasakan reaksi Hyerin, Taemin semakin menarik Hyerin dalam ciumannya. Emosi yang bergejolak di hatinya mendorongnya untuk memperkuat suasana itu. Ia terus menekan bibir Hyerin dengan bibirnya.

                Hyerin yang tadinya tidak mengerti ada apa dengan suaminya menjadi terbawa suasana. Ia menikmati ciuman dari suaminya. Hyerin melingkarkan tangannya di leher Taemin dan menarik tubuhnya lebih lekat dengannya. Kemudian Taemin menghentikan ciumannya, namun bibirnya kini menyapu telinga dan leher Hyerin. Taemin semakin intens menyusuri lekuk lehernya, namun Hyerin hanya menikmatinya.

                Taemin mengecup leher Hyerin. Lalu dikecupnya pula dahinya Hyerin, dan kembali ke bibirnya. Tangannya mengelus pipi Hyerin, “Aku akan berada di sisimu selamanya. Aku mencintaimu, dan aku akan melindungimu. Apa pun yang terjadi,” katanya. Hyerin mengangguk, “Aku mencintaimu, Lee Taemin. Aku akan menjadi milikmu selamanya,”

                Seketika Taemin menarik Hyerin masuk ke dalam kamar. Ia lalu mendempetkan Hyerin di dinding. Ia memastikan sekali lagi, “Kau percaya padaku, istriku?”

                Hyerin menatap kedua mata Taemin. Sungguh ia tidak mengerti apa yang terjadi, namun ia percaya pada suaminya. Ia mengangguk pelan. Ia melihat Taemin mendekatkan wajahnya padanya. Ia memejamkan mata dan membiarkan dirinya menikmati sepanjang malam hanya bersama orang yang paling dicintainya.

                Matahari masih malu-malu keluar dari peristirahatan saat ia terbangun. Ia langsung menuju kamar mandi dan mencuci muka. Ia melihat bayangannya di cermin sambil berkata pada dirinya sendiri. Semua ini akan berakhir sebentar lagi, batinnya. Ia lalu bersiap pergi.

                Ia sudah siap, namun masih terpaku pada sosok wanita yang hanya diselubungi selimut dan mata terpejam. Wanita itu masih terlelap dalam ketenangan. Taemin duduk di tepi ranjang dan mengelus rambut Hyerin. Ia terus berkata pada dirinya sendiri.

                Semua ini akan berakhir sebentar lagi. Hyerin, istriku, aku bersumpah akan melindungimu.

                Ia bangkit dan beranjak pergi.

                Hyerin meraba sekitarnya sambil setengah mengantuk. Kemudian tersadar orang yang dicarinya sudah pergi. Ia bangkit sambil tersenyum. Malam tadi adalah yang terindah yang ia lewati bersama orang yang dicintainya. Namun entah mengapa orang itu kini pergi tanpa berpamitan dengannya. Kekecewaan yang sedikit itu mampu terhapus oleh kebahagiaan luar biasa dalam hatinya.

                Tiba-tiba ponselnya bergetar. Pesan singkat yang masuk memaksanya langsung bangkit dan bersiap-siap.

                “Semua sudah siap?” tanya seorang laki-laki bermata kecil pada Taemin.

                “Nee,”  laki-laki bernama Lee Jinki itu puas mendengar jawaban Taemin. Taemin terus mengutak-atik laptop pengendali di depannya. Sesaat ia terhenti, membuat bos-nya mengangkat alis, “Ada apa, Lee Taemin?”

                Taemin menggeleng, “Anniya,” lalu melanjutkan lagi kerjanya. Ia menguatkan hatinya. Ya, sebentar lagi, hanya sebentar lagi.

                Pintu ruangan itu terbuka. Tiga orang laki-laki masuk ke dalam diikuti beberapa anak buah yang lain. Seorang laki-laki berwajah agak tirus memberi laporan, “NTS sudah mengetahui lokasi ini. Mereka sedang menjalankan operasi ke sini. Sebaiknya kita bersiap-siap,” sang Bos, Jinki, hanya mengangguk. Ia langsung memberi perintah, “Kibum, Jonghyun, Minho, bereskan pasukan NTS. Yang lain bersamaku di sini. Lakukan seperti biasa,” setelah anak buahnya berpencar, ia beralih pada Taemin yang masih mengutak-atik pengendali misil itu.

                “Apa pun yang terjadi, teruskan kerjamu,” perintah Lee Jinki, lalu meninggalkan Taemin dalam ruangan itu. Taemin mengangguk lalu berusaha berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaannya.

                Dark Operation, begitu nama tugas Hyerin kali ini. Tim nya dari NTS dibagi menjadi tiga kelompok. Ia sendiri memimpin salah satunya sebagai field agent. Ia berada di dalam gedung tua sekarang sementara di luar kedua rekannya terlibat baku tembak dengan anggota teroris.

                Hyerin berlari-lari kecil memimpin kelompoknya. Ia memantau sekeliling. Ia melihat sebuah ruangan di lantai atas yang ia yakin ada pengendali di ruangan itu. Ia memberi kode tim-nya untuk berpencar. Hyerin menaiki tangga pelan-pelan, berusaha agar suaranya tidak terdengar. Ia kini tepat berada di depan ruangan yang diintainya dari lantai bawah. Ia menahan niat untuk mendobrak pintu itu. ia memantau sekelilingnya, lalu menemukan jalan lain masuk ke dalam ruangan itu. Ia memberi perintah pada tim-nya, “Aku akan masuk lewat pintu samping. Jika terjadi apa-apa cepat dobrak pintu ini,” lalu berjalan perlahan menuju pintu samping.

                Ia memasuki pintu samping, ruangan itu ternyata lebih luas dari dugaannya. Ia meningkatkan kewaspadaannya. Ia mengacungkan pistol di tangannya ke depan. Ia memasuki ruangan di sebelah ruangan itu. Ia melihat seorang laki-laki sedang mengutak-atik komputer di hadapannya tanpa menyadari kedatangannya.

Ia berusaha agar langkahnya tak terdengar. Ia terus mengendap-endap sampai ia tepat berada di depan sasarannya. Jaraknya tak lebih dari 2 meter lagi, ia bisa melihat wajah laki-laki berambut pirang itu dari samping yang tidak ditutupi topeng seperti rekan-rekannya yang lain. Ia juga bisa melihat laki-laki itu mengutak-atik sesuatu ya        ng terpampang di layar yang berwarna gelap itu. Ia mengacungkan pistol tepat di kepala laki-laki itu.

                “Jangan bergerak!” berhasil. Laki-laki itu berhenti bekerja dengan komputernya. Ia kembali memberi instruksi pada laki-laki itu, “Berdiri dan berbalik perlahan!” dengan tegas ia memerintahkan laki-laki di depannya. Kepala laki-laki itu tertunduk pasrah, lalu berbalik perlahan. Namun ia tetap waspada.

                Prakkk!!!

                Taemin berbalik dan mengangkat tangannya. Ia tidak memegang senjata sehingga kemungkinan melawan agen tersebut kecil. Ia memang sedikit terkejut mendengar suara agen NTS tersebut adalah wanita. Tetapi siapapun ia, ia memegang senjata dan telah menangkap dirinya.

                Ia berbalik perlahan sambil menunduk. Tanpa diduga, agen itu malah menjatuhkan senjatanya. Lebih tak terduga lagi saat agen itu memanggil namanya.

                “Lee Taemin?”

                Taemin mengangkat wajahnya dan membeku seketika. Sosok yang berdiri di depannya tidak asing sama sekali baginya, “Hyerin-ah?” ia benar-benar terkejut sampai tidak bisa bereaksi. Keduanya saling menatap tak percaya. Hyerin menutupi wajahnya dengan tangan.

                “Kau…?” tampaknya Hyerin tidak mampu berkata apa-apa lagi. Kejutan bahwa Taemin, suaminya, adalah musuhnya sendiri. Musuh yang bisa saja ia bunuh hari ini. Taemin pun tidak bereaksi apa-apa. Ia menatap Hyerin, lalu menundukkan kepala dan berkata, “Semua ini akan berakhir sebentar lagi,”

                “Apa maksudmu?” tanya Hyerin. Taemin mengalihkan pandangannya. Tetapi Hyerin malah berteriak, “APA MAKSUDMU SEMUA INI AKAN BERAKHIR?” Hyerin meraih kedua pundak Taemin dan memaksanya menatap ke arah Hyerin, “Jelaskan padaku, apa artinya semua ini? APA?”

                DUAR!!!

                Darah bercipratan dari lengan kanan Hyerin. Kepala Taemin berputar cepat ke arah tembakan. Di sudut ruangan, bos-nya Jinki berdiri tegak mengacungkan pistol pada Hyerin. kemudian ia melihat Hyerin yang limbung karena tembakan itu. ia mendengar bos-nya berkata, “Cepat selesaikan!” bos nya berjalan ke arah Hyerin dan menarik jaketnya dalam posisi menyandera. Lewat matanya ia memerintahkan Taemin untuk menyelesaikan pekerjaannya. Namun Taemin hanya terpaku menatap Hyerin yang pasrah di sekapan Jinki.

                “PALLII!!” teriak Jinki. Taemin membalikkan badannya. Ia melirik sekilas bos Jinki membawa istrinya yang tak berkutik keluar. Taemin terpaku, tanpa sadar airmata menitik di pipinya.

                Hyerin sekarang berada dalam sekapan laki-laki pimpinan gembong teroris. Namun ia tak mampu melawan. Bukan karena tak punya daya. Hatinya masih sangat shock menerima kenyataan bahwa suaminya, Lee Taemin, yang sangat dicintai dan dipercayainya berada di pihak seberang. Ia terlalu berat untuk mempercayai kenyataan pahit di depan matanya. Airmata pun menetes dari matanya.

                “JANGAN BERGERAK! ATAU WANITA INI KU TEMBAK!” laki-laki yang menyekapnya membawanya keluar dan mengacungkan pistol di kepala Hyerin di hadapan rekan-rekan agennya. Dari sudut matanya yang sembap, ia melihat Yunho mengkode pasukannya untuk menghentikan serangan. Hyerin mulai limbung dan kehabisan tenaga juga kehabisan darah yang terus mengucur dari lengan kanannya. Air matanya mulai deras dan tak bisa ditahannya lagi. Bahkan ia sudah tak peduli apakah ia akan mati di tangan laki-laki yang menyanderanya.

                Tuhan, kembalikan suamiku. Kembalikan suamiku yang ku cintai dan yang mencintaiku, doanya dalam hati. Seketika kotak memori dalam otaknya menampilkan gambar-gambar kabur tentang kebersamaan mereka. Senyum, canda, tawa, dan cinta yang selalu mereka bagi. Bahkan kebahagiaan selama setahun penuh terbayar dengan satu malam indah yang tak mungkin terhapus dari memorinya. Sungguh, ia ingin menukar apa saja, apa saja…

                DUAR!!

                Suara tembakan lepas dari arah belakang Hyerin. Tangan yang menyekapnya mengendur dan kemudian terlepas. Tubuh laki-laki penyekapnya jatuh tepat di belakangnya. Hyerin berbalik, memandang jasad yang terkapar di kakinya juga kepada penembaknya.

                Itu Taemin, itu Taemin, itu laki-laki yang sangat dicintainya. Hyerin bisa melihat, itu adalah insan yang paling dicintainya di dunia ini. Ia mengacungkan senjata tepat ke depan. Matanya merah dan bersimbah airmata. Hyerin mengumpulkan segenap tenaganya yang tersisa, tangannya menggapai-gapai bayangan Taemin di hadapannya. Ia hampir mencapainya…

                DUAR!!

                Seketika Hyerin terbelalak.

                DUAR!!

                Dua tembakan yang datang entah dari mana tepat menembus dada Taemin. Seketika juga terasa menikam jantung Hyerin. Tubuh Taemin limbung lalu jatuh tepat di hadapan Hyerin.

                “ANDWAEEEEEEEEEEEE!!!!” Hyerin berlari meraih Taemin yang terkapar. Ia mengangkat kepala Taemin dan menyandarkan di dadanya. Airmatanya benar-benar tumpah sekarang. Ia melihat mata Taemin yang setengah terbuka dan tertutup. Semburat merah darah mengotori jaket hitamnya. Begitu pula tangan yang mengusap wajah Hyerin.

                “Andwae, andwae. Suamiku, suamiku bertahanlah!! PANGGIL AMBULANS!! PALLI!!” Hyerin berteriak panik ke segala arah, namun bibirnya di tahan oleh tangan Taemin. Hyerin meraih tangan Taemin dan menciumnya, “Suamiku, bertahanlah. Jangan tinggalkan aku. ANDWAE!!” teriak Hyerin putus asa. Taemin menyunggingkan senyum.

                “Hyerin-ah, Kang Hyerin…” panggilnya parau. Tangisan Hyerin makin menjadi-jadi, “Iya, Taemin, suamiku, aku di sini. Bertahanlah sebentar saja,” Hyerin memohon pada Taemin. Ia tidak ingin kehilangan lelaki yang paling dicintainya.

                Tangan Taemin yang bersimbah darah meraih tangan Hyerin lalu menyelipkan sesuatu. Suara paraunya berbisik, “Aku mencintaimu, Kang Hyerin. Aku akan selalu melindungimu,”

                “Makanya kau harus bertahan. Suamiku, bertahanlah. Jangan tinggalkan aku, Lee Taemin!” teriak Hyerin. namun teriakannya tak mampu menahan nyawa lelaki yang dicintainya itu. genggaman tangan Taemin mengendur dan matanya terpejam. Lelaki itu telah meninggalkannya. Juga meninggalkan janjinya untuk selalu melindunginya. Napas Hyerin terasa sesak. Ia terus memanggil-manggil nama Taemin berharap ia terbangun.

                “Suamiku? Suamiku? Taemin-ah? Lee Taemin!!! Lee Taemin!!” ia meraih tangan Taemin dan menciumnya. Napasnya sesak dan tangisnya tak tertahankan.

                “ANDWAEEEEEEEEEEEEEEEE!!!!!!!!!!!!!”

END

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

46 thoughts on “Dark Operation”

    1. gomawooo 🙂
      iya sih menurutku juga agak aneh. aku baru sadar pas udah di kirim, jadi beginilah hasilnya.
      untuk saran dan kritiknya gomawoooo 🙂

    1. chinguuuu aku juga nangis pas mau ngedit dan nanya ama diri sendiri, kok endingnya gini sih? huhuhuhu.
      gomawooo udah kasih comment 🙂

    1. gomawooo 🙂
      di sini sengaja aku bikin lebih dewasa karena Taemin udah nikah, ama aku. hehehehe *plak
      yang menembak Taemin masih menjadi rahasia author. hehehe.

  1. huwa…huhuhu..knp taeminnya mati…
    aku kira taeminnya yang jahat, ternyata terlalu sayang sama isterinya.
    asalnya aku bilang ceritanya ketebak bgt dari prolognya *mian*. tapi endingnya ternyata kaya gitu.

  2. kereen banget FF nya :twothumbsup:
    benertuh, ceritanya udah ketebak dr prolognya #mianhe
    tapi seruu banget ceritanya! daebak

  3. huaaa…
    sad ending…
    ni ff ngingetin aku ma film Mr. & Mrs. smith… tpi endingnya ga beginiiiiii… huaaa… ga rela tetaem mati…

    nice ff thor! 🙂

    1. ahaha, mr. and mrs. smith kan dua-duanya agen. hehehe. padahal ini terinspirasi waktu aku nonton Athena. kekeke.
      untuk komentarnya gomawo 🙂

  4. :O *mangap*
    chingu.. *narik2bajuauthor/PLAK*
    awalnya bagus banget.. romantis poll.. >//<
    tapi,, endingnya juga bagus!! ^^b
    *all : seneng lo si taem mati?*
    *aku : bknnya gitu,, ending kyk gini emang lebih berasa ^^a*
    tragis n top markotop.. tapi udah duga sih,, taem dari awal mencurigakan.. *diciumtaem*
    n chingu,, perpindahan plotnya g ada pembatasnya(?)
    maksud aku,, tiap adegan bagusnya dikasi batas,, biar kita tau kalo udah pindah scene..
    tapi untung bahasanya mudah dimengerti.. jadi cepet tanggap lagi kok..
    n overall,, MANTEP! ^^b
    salam kenal.. 🙂

    1. salam kenal juga chingu, gomawo komennya 🙂

      anda tidak rela Taemin mati? saya juga. kekekeke.
      waktu ku kirim ada pembatasnya kok tiap scene, tapi entah mengapa di sini ngga ada. tapi mudah-mudahan sih tidak mengganggu dengan pembatas yang ilang itu ya. 🙂

  5. Ya ampun..author..daebak!keren ff’ny..aq bcnya mpe nangis,pa lg smbl dngrn lagu quasimodo,haduh…#nangis guling2

  6. Yah taemin kok mati (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩) aku kira tadinya suami nya itu jonghyun hahaha abis taemin polos mukanya gak pantes jd jahat kan -_-

  7. Say hai dlu deh..
    Hai mitta n_n
    Eum.. keren deh FFnya, pas bgt sma isi otakku. Tdinya aku jg mau nyoba bkin FF Action klo udh slesai smua ujian.. hehe.. Wah, ffnya menginspirasi aku bgt

    Eh iya, ngomong” kok nama korea kamu sma aku sama sih 😦
    Aku Ji Hyerin.. biasanya nampang di FF bareng Minho sih.hehe.. *dikeroyok flames
    Td pas baca jd rada aneh, soalnya kan biasanya Hyerin aku pasangin sma Minho, tp dsini sma Taemin. ya tapi ga apalah ^^
    Keep writting ya sayang ^_^

    1. annyeong 🙂
      wuah, gomawoooo, jadi tersapu-sapu nih. *abaikan*
      makasih ya udah baca dan comment 🙂

      FF ini ku buat waktu aku tergila-gila banget sama film Athena *itu film keren keren keren banget* dan tergila-gila sama lagu quasimodo. ternyata ngga gampang juga bikin cerita dengan alur action. selain harus bisa nyusun kalimat biar menarik ternyata kita juga butuh pengetahuan yang banyak. soalnya cerita ber-genre action biasanya sangat sangat sangat logis dan udah hampir mirip ke faktanya. tadinya aku juga ragu mau bikin FF ini, tapi syukur deh kalo semua yang baca bisa menikmati *yah walopun masih ada kurang sana-sini, gomawo buat kritik dan sarannya*

      hehehe, iya nih kokbisa sama ya? marganya doang yang beda *aku : Kang Hyerin –> numpang eksis di FF sendiri /plak* malah aku pernah nemu FF di SF3SI yang namanya bener-bener sama nama Koreaku. hahaha.

      untuk dukungannya Gomapsumnida 🙂

      1. Entahlah…. kenapa nama kita bisa sama? takdirkah??? halahh…. halahh..
        Heum… iya sih, aku jg perlu mikir sejuta kali dulu untuk ngebuat FF ACTION.hehehe…

        Hahh.. pokoknya semangat deh buat karyanya n_n
        Eh iya, aku jg numpang eksis sama bias sndiri kok di setiap FFku yg castnya Minho. :p

  8. disaat aku galau, pas banget baca ff sad angst gini .. ff nya bikin aku nangis *reader cengeng*

    yg nembak taemin siapa tuh! woy siapa lu! *gak nyante* hahaha

    ff nya bagus chingu ^^

  9. aku bacanya smpe nangis seember *lebay..*
    kaget bgt waktu tau ternyata musuhnya Hyerin adalah Taemin, suaminya sendiri…
    Sedih bgt wktu taemin ketembak n say ““Aku mencintaimu, Kang Hyerin. Aku akan selalu melindungimu”…
    huhuhu… 😥

  10. soo bener bener terharu aku baca ini sekaligus dengerin lagu quasimodo dari awal sampe akhir.. benerbener nyentuh banget kebawa suasana.. NICE ff

  11. TT.TT
    Prince Taem pergi.
    Lagu quasimodo artinya walaupun sakit tetap mencintaimu.
    TT.TT
    Prince Taem meninggal.
    TT.TT

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s