Something More: Last Available – Part 5

Something More: Last Available – part 5

Author              : Chanchan a.k.a Chandra Shinoda  (@chandrashinoda)

Main Cast        : Kim Kibum (Key), Kim Jonghyun, Kim Hyora

Support Cast    : Other SHINee member, Lee Soon Hee

Special Guest   : Kim Sera (female main cast di FF-nya Lia ‘Keylieon’)

Genre               : Angst, Family, Friendship, Life, Romance

Length              : Sequel

Rating               : PG-15

Disclaimer        : I don’t own all SHINee members. They’re God’s. They belong to themselves and SM entertainment. I’m just the owner of the story.

***

 

Author POV

Putih, warna itu yang menyeruak saat namja itu membuka matanya. Samar-samar bulatan-bulatan kilatan cahaya menyilaukan matanya, mengembalikan rohnya ke alam sadar manusia. Ia terdiam, seolah raganya menikmati apa yang kini dialaminya. Sepoi angin berhemus pelan menerpa wajahnya, namun ia tetap bergeming, seolah jiwanya terpencar entah ke mana.

Ia menarik nafas pelan, menghirup udara yang tersedia dalam selang oksigen yang tertancap di hidungnya. Ia mengerjapkan matanya. Apa yang ada di depannya mulai terlihat jelas. Indra penciumannya perlahan mulai bereaksi. Ada aroma lain yang terhirup begitu saja dan mendesak masuk ke dalam paru-parunya. Bau itu, bau kloroform. Bau khas yang dengan setia setia menemani para penghuni bangsal pesakitan.

Namja  itu masih terdiam. Kelopak matanya kembali terpejam. Setetes cairan bening mulai luruh di sudut matanya. Sebaris kebingungan menghantui pikirannya. Mengapa cairan itu bisa luruh dari sana?

Ia kembali membuka matanya. Rasa perih dan ngilu mulai menjalari tubuhnya. Kini ia meringis. Dengan susah payah ia menggerakkan kepalanya. Pandangannya mulai menjelajahi apa saja yang kini ada di sekelilingnya. Ia menghela nafas berat. Ia tahu betul itu ruangan apa. Ekor matanya melirik seorang namja yang kini tengah tertidur pulas di sampingnya. Apakah namja itu yang menjaganya selama ini?

Kini ia mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Sesekali matanya mengernyit menahan rasa ngilu di tubuhnya yang semakin menjadi-jadi.  Ia menumpukan telapak tangannya pada seprai putih yang mengalasi tubuhnya. Ia merintih, namun keeoisannya melarangnya untuk menyerah. Ia tetap berusaha bangkit meski kondisinya melarangnya untuk melakukan itu.

Omo, Key, apa yang kau lakukan?” namja yang dari tadi terlelap di sampingnya mendadak terbangun.

“Mi.. Min.. Minho-ya,” Kibum tersengal. “Ban.. Bantu a.. aku bangun,” ia memaksakan suara seraknya untuk keluar.

Aniyo, Key. Kau tak boleh bangun dulu. Kondisimu masih lemah!” Minho mencengkram tangan Kibum, mencegah namja itu meneruskan gerakan pemaksaan yang ia lakukan pada tubuhnya.

“Hhhh.. Hhh.. A.. Aku ha.. harus mencari Hyora, hhh.. hhh..,” Kibum menolak. Ia menepis tangan Minho yang mencengkram lengannya. “Bawa aku menemuinya, jebal!”

Ne, tapi tidak sekarang. Kau tak mungkin menemuinya dalam kondisi seperti ini,” Minho berusaha meyakinkan tingkah laku namja yang semakin keras kepala itu.

Kibum menarik nafas dalam-dalam. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya. Pengelihatannya belum pulih dengan sempura, namun ia tak peduli, seakan itu bukanlah masalah yang akan menghalanginya untuk menemukan Hyora. “Kalau kau tak mau, biar aku yang akan mencarinya sendiri!” ia tetap bersikeras.

“Jangan, Key!” Minho kembali mencengkram lengan Kibum. “Kau belum boleh menemuinya. Hyora, di.. dia,” Minho menghentikan ucapannya. Hampir saja mulutnya kebablasan. Jika sepenggal kata lagi keluar dari mulutnya, ia tak tahu apa yang akan dilakukan Kibum setelah itu.

Kibum mengernyitkan alisnya. Rasa bungah mulai merasuki pikirannya. “Kenapa kau menghentikan ucapanmu, Minho-ya?” suaranya bergetar. “Apa yang terjadi pada Hyora? Cepat katakan!”

Minho menelan ludah. Ia menarik nafas pelan, berusaha mengendalikan emosinya. Ia menatap Kibum penuh harap. “Dia ada di tangan yang tepat, percayalah padaku,”

Kibum terdiam. Ia menahan nafasnya. Kedua manik hitamnya menatap Minho penuh tanda tanya. “Kau yakin?” lirihnya pelan.

Minho mengangguk mantap. Ujung bibirnya terangkat. Namja jangkung itu tersenyum. “Ne, aku yakin,”

***

Jonghyun menelan ludah menatap sebuah amplop yang kini ada dalam genggamannya. Ia menarik nafas panjang. Dengan perlahan jari-jarinya mulai membuka perekat amplop itu. Secarik kertas putih. Hanya itu benda yang ada di dalam amplop itu. Dengan penuh harap ia membukanya, kertas putih tipis yang akan menentukan nasib yeodongsaeng-nya. Kedua bola matanya mulai bergerak seirama, meniti setiap kata di lembaran putih itu. Satu baris kalimat di pertengahan kertas itu membuat wajahnya memucat seketika. Hatinya mencelos. Ia terperangah ketika membaca hasil cek lab Hyora. Kedua tangannya bergetar menatap secarik kertas sederhana yang kini mulai diremasnya. “Andwae, ini tak mungkin!” lirihnya pahit.

Ekor matanya melirik tubuh yeoja yang kini terbaring di sampingnya. Yeoja itu nampak terlelap, tak terusik sedikitpun. Ia memang sempat sadar dan berbicara, namun tampaknya tenaganya belum pulih seutuhnya. Wajah pucatnya terlihat sayu. Kelopak matanya tertutup rapat. Rona pada dirinya seolah hilang, terenggut dan tertelan oleh aura kematian bangsal pesakitan.

Jonghyun menggenggam erat jemari yeoja itu. Cairan bening menggenangi kelopak matanya, namun cairain itu tetap diam di sana, seolah ia menjadi yang terakhir. “Hyora,” Jonghyun menyebut nama yeoja itu dengan nada serak. Apa yang baru saja dibacanya membuatnya jengah, jengah sekaligus takut.

“Jonghyun, maaf membuatmu menunggu lama,” seorang namja dan yeoja memasuki ruang perawatan Hyora. “Aku dan Sera baru saja kembali dari kantin. Kami membelikanmu makanan. Makanlah dulu, kau belum makan sejak kemarin, biar aku dan Sera yang menjaga Hyora,”

Gomawo, Jinki, Sera,” Jonghyun memaksakan seulas senyum di bibirnya. “Kalian taruh saja makanan itu di atas meja, aku masih kenyang,” ujarnya berbohong.

Sera yang merasakan keanehan dari tingkah laku Jonghyun mengernyitkan alisnya. Ia tertarik pada selembar kertas yang ada dalam genggaman tangan namja itu. “Apa itu, Oppa?”

Jonghyun menghela nafas berat menyadari apa yang ditanyakan Sera. “Ini hasil cek lab Hyora,”

Sera terdiam. Dengan agak ragu ia meraih kertas itu dari tangan Jonghyun. Ia mulai membacanya dengan seksama, mengintonasikan setiap kata yang tertera di kertas itu dengan sempurna. “Andwae, katakan ini bohong, Jonghyun Oppa!” yeoja itu terperangah, setetes air mata luruh di pipinya.

Jonghyun mengepalkan tangannya. “Seandainya bisa, akupun ingin tulisan itu bohong, Sera!”

Jinki mendekap Sera dalam pelukannya. Yeoja itu mulai terisak. Ia masih belum percaya dengan tulisan itu. Kenapa tulisan itu begitu kejam? Padahal ia hanya dibuat dengan secarik kertas murahan dan tinta biasa, tapi mengapa ia bisa menentukan nasib seseorang sesukanya?

***

Kibum melirik jam weker bulat yang ada di atas meja. Pukul 11.40 PM, hampir tengah malam. Ia terdiam, rasa sakit yang menjalari tubuhnya mulai berkurang, bahkan pengelihatannya juga mulai berangsur-angsur pulih. Ia menghela nafas panjang―menghirup udara sebanyak-banyaknya dari selang oksigen yang tertancap di hidungnya. Ekor matanya melirik seorang namja yang sejak tadi setia menjaganya, Choi Minho. Namja itu terlihat sibuk dengan buku biologinya.

“Minho-ya,” Kibum memanggil namja itu dengan suara serak.

Minho segera meletakkan buku biologinya begitu mendengar suara Kibum. “Ada ada, Key?”

Kibum tersenyum. “Gwenchana,” ucapnya lemah. “Kau belum makan seharian ini, pergilah ke kantin dan cari sesuatu, aku baik-baik saja. Jangan sampai kau sakit, sebentar lagi kita akan ujian,”

Minho mengernyitkan alisnya. Namja yang kini terbaring di depannya itu terlihat mengkhawatirkannya. “Aku baik-baik saja, gwenchana. Aku masih kenyang, lagipula tak baik jika aku meninggalkanmu sendirian di sini,”

“Jangan bohong,” Kibum melebarkan senyumannya. “Tubuhmu tak mengatakan hal yang sama dengan apa yang baru saja kau ucapkan. Wajahmu pucat, jangan memaksakan diri, otakmu tak akan bisa menyerap pelajaran dalam keadaan seperti ini,” paparnya sambil menepuk pundak sahabatnya itu.

Minho balas tersenyum. “Baiklah kalau begitu, kutinggal sebentar, ya?” ucapnya lalu melangkah ke luar pintu.

Kibum tak melepaskan pandangannya dari namja itu, hingga sosoknya benar-benar menghilang dari pintu. Kini Kibum tersenyum. Ini saatnya dia melakukan rencana yang sudah disiapkannya sejak tadi. “Mianhae, Minho. Aku harus mencari Hyora sekarang,” lirihnya sambil menyeret tubuhnya bangkit dari tempat tidurnya.

Kibum POV

Dengan sekali gerakan kucabut infuse yang menancap di pergelangan tangan kananku. Aku mengerjapkan mata saat kakiku menyentuh lantai. Rasa pening kembali merambat di kepalaku. Nafasku sedikit tersengal, namun kupaksakan tubuhku untuk tetap bergerak.

Kutumpukan kedua telapak tanganku pada meja yang ada di sebelah tempat tidurku. Kuseret paksa kedua kakiku untuk bergerak. Berat dan melelahkan, namun rasa egoisku melarangku untuk menyerah. Aku harus menemukan Hyora sekarang. Dengan terhuyung-huyung kuraih gagang pintu. Kulirik lorong panjang yang ada di depaku. Meski pandanganku belum pulih benar, tapi bisa kupastikan lorong itu kosong. Tak ada satupun manusia yang lewat di sepanjang lorong itu. Hanya terlihat kilatan lampu remang-remang yang terpasang di dinding berlapis keramik putih di beberapa bagian lorong itu.

Kusandarkan kedua tanganku di dinding berlapis keramik dan mulai menyeret telapak kakiku yang tak beralas untuk berjalan. Kubungkukkan sedikit tubuhku. Mataku terasa sakit jika kupaksa menatap ke depan. Aku terus berjalan. Setiap langkah terasa berat, seakan kakiku menopang beban ribuan kilogram. Aku tak tahu ke mana tujuanku kali ini. Aku sama sekali tak tahu di mana Hyora dirawat. Walapun begitu, aku harus tetap mencarinya. Aku harus menemukannya dan memastikan kalau dia baik-baik saja.

Semakin lama berjalan membuat rasa pening di kepalaku semakin menjadi-jadi. Perban yang melilit di kepalaku juga membuatnya semakin terasa berat. Kurasakan sesuatu mulai mengalir di pipiku. Keringat, hanya dalam beberapa langkah cairan itu sudah mengalir dan memenuhi seperempat bagian wajahku.

Suasana hening lorong itu membuatku terhanyut. Suara decitan langkahku, itu satu-satunya sumber bunyi yang mampu kudengar. Ujung lorong ini sudah terlihat. Samar-samar kulihat seseorang duduk di depan sebuah ruang perawatan. Sosoknya tak terlalu jelas. Tapi aku yakin, dia seorang namja.

Sedikit lagi, aku akan sampai pada namja itu. Kurasa wajahnya familiar denganku. Sial, pengelihatanku semakin memburuk saja!

Kupaksa kakiku terus melangkah. Tinggal empat meter, maka aku akan sampai di tempat namja itu. Aku mengatur nafasku yang masih tersengal-sengal. Aku tidak boleh pingsan dulu. Aku harus menanyakan keadaan Hyora pada namja yang kini sudah ada di depanku, Jonghyun Hyung.

“Jong.. Jonghyun Hy.. Hyung,” aku berusaha memanggilnya meski dengan suara yang tersendat.

Meski tak jelas, bisa kurasakan Jonghyun Hyung kaget karena kehadiranku. “Kibum?!”

Aku berusaha tersenyum. Kuseret lagi kakiku ke arahnya, namun sial, sama sekali tak bergerak. Bergetar, ya.., kakiku bergetar. Bahkan tanganku tak kuat lagi untuk bertumpu di dinding. Pandanganku mulai gelap. Kurasakan pegangan tanganku di dinding mulai terlepas. Kakiku juga mulai lemas, tak kuat lagi menopang tubuhku.

“Kibum!” kudengar lagi suara Jonghyun Hyung. Ia berlari ke arahku. Dengan sigap kedua lengannya menahanku agar tak ambruk ke lantai. “Apa yang kau lakukan di sini, Bodoh?!”

Aku masih mengatur nafasku. Kutatap wajahnya yang terlihat khawatir. “Mi.. mian.. mianhae, Hyung,” lirihku tersengal. “Di.. di mana Hy.. Hyora?” tanyaku mulai meringis.

Ia tak menjawab. Raut wajahnya tertekan. Kurasakan cairan hangat menetes di pipiku. Apakah dia menangis?

Aku membuka mulutku lagi, namun suaraku tak keluar. Sesuatu seperti menyedot kesadaranku. Semakin lama tubuhku semakin mati rasa, hingga seluruhnya berubah menjadi gelap.

“Kibum!”

***

Hyora POV

Aku mengenali suara itu. Suara berat yang telah akrab dengan indera pendengaranku, Key Oppa. Kupejamkan lagi mataku, setetes cairan hangat keluar dari kelopak mataku. Benar-benar menyakitkan. Aku gagal mengikuti audisi itu. Bahkan karena keegoisanku hal ini sampai terjadi. Bagaimana keadaan Key Oppa  sekarang?

Kulirik meja yang ada di sebelahku. Tatapanku berhenti saat menemukan sebuah amplop yang bertuliskan ‘Hasil Cek Lab Kim Hyora’. Aku menelan ludahku. Apakah Jonghyun Oppa yang meletakkannya di sini?

Kuraih amplop putih itu. Kutumpukan kedua tanganku pada kasur pesakitanku. Aku tak bisa membacanya sambil tidur. Kuseret tubuhku, kupaksakan sendi-sendi di pinggangku untuk menekuk 90° agar aku bisa duduk. Entah kenapa punggungku terasa sangat nyeri, seperti ditusuk ribuan jarum. Aku merintih tanpa bersuara, aku tak ingin Jonghyun Oppa mendengarku, ia pasti tak akan mengizinkanku membaca hasil cek labku sendiri.

Kubuka amplop itu dengan tangan bergetar. Rasa gugup mulai menghantuiku. Aku menelan ludah saat menemukan secarik kertas yang sudah setengah teremas di dalam amplop itu. Kubuka lipatan kertas itu dengan perasaan tak menentu. Kutatap tulisan khas dokter yang tertera di sana. Dengan pelan kuintonasikan kata-kata yang tertulis di sana tanpa ada yang terlewat.

Deg, aku terperanjat. Hatiku mencelos. Tubuhku membeku, sedikitpun tak berani bergerak. Kurasakan keringat dingin mulai mengaliri pelipisku. Mulutku menganga, sementara bola mataku masih menyelami kata-kata di kertas itu dalam-dalam.

Bohong, tolong katakan ini bohong! “ANDWAE, JONGHYUN OPPA!!” aku menjerit sekeras-kerasnya.

Author POV


ANDWAE, JONGHYUN OPPA!!!!” Hyora menjerit sekeras-kerasnya.

“Hyora-ya, wae?” Jonghyun menggebrak pintu begitu mendengar teriakan yeoja itu. Ia terdiam menatap apa yang kini ada di dalam genggaman yeoja itu. “Kau membacanya, Hyora-ya?”

Hyora meringis. Tangisannya semakin menjadi-jadi. Sesuatu yang berat baru saja menghantam dadanya. Benar-benar membuatnya terpukul. Ia meremas selimut yang menyelimutinya. “Kenapa bisa begini, Oppa? Aku cacat!”

Jonghyun merengkuh tubuh Hyora. Tubuh yeoja itu menggigil. Ia mengerang, meluapkan rasa sakit yang menusuk-nusuk sukmanya. Semuanya hancur sekarang, mimpinya, keinginanya, cita-citanya, semuanya. “Kumohon jangan seperti ini, Hyora!”

Hyora mencengkram lengan Jonghyun, melampiaskan semua sakit hatinya di dalam pelukan namja itu. Ia tak tahu, mengapa kenyataan bisa sekejam ini padanya? Ia memegang perutnya yang mulai melilit. Rasa sakit di dadanya itu mulai merambat ke kepalanya. Syaraf-syarafnya mulai menegang, membuat urat-urat di kepalanya menonjol keluar.

Keputusasaan merengkuh pikirannya, membungkam kesadaraannya untuk berpikir jernih. Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya kecuali menangis. Kenyataan ini benar-benar menyakitkan. Terlalu menyiksa untuk gadis seusianya.

Oppa, aku gagal. Aku tak bisa lagi mencapai cita-citaku!” sekali lagi ia mengerang. “AKU CACAT, OPPA!”

“Kumohon jangan berkata seperti itu, Hyora!” Jonghyun semakin mengeratkan pelukannya ditubuh Hyora. Ia mengecup puncak kepala yeoja itu. “Kalau kau ingin menangis, memangislah. Kau pantas melakukannya, menangislah sepuasnya!” bisiknya sambil meringis.

“Aku tak mau bertemu Key Oppa lagi, aku malu!” sekali lagi ia meremas kuat pakaian Jonghyun. Tangisannya semakin kencang dan mengiris hati.

Uljima, Hyora, uljima,” Jonghyun mengusap lembut rambut yeoja itu.

Sirheo, Oppa. Sirheo!”

***

Secercah sinar menyilaukan mata namja itu. Ia mengeryit, berusaha mengurangi pantulan sinar-sinar itu menembus bola matanya. Ia memiringkan kepalanya, menatap namja yang masih tertidur pulas sambil memeluk sebuah buku sains di sampingnya, Choi Minho. Sekilas bibirnya menyunggingkan senyum. Ia menggerakkan tangannya yang masih lemah, menyentuh dan menepuk bahu namja itu. “Gomawo, Minho-ya!”

Minho terbangun akibat tepukan namja itu. Ia mengernyitkan alisnya, memamerkan wajah kusutnya. Ia tersenyum senang melihat Kibum yang bangun mendahuluinya. “Kau sudah bangun, Kibum-ah?”

Ne,” Kibum balas tersenyum. “Ya! Kau tak pergi ke sekolah hari ini?”

Aniyo, aku sudah izin absen untuk menjagamu selama kau dirawat di sini,” jawab Minho ringan.

Mwo?!” Kibum terperanjat. “Kau sudah gila, ya? Kita kan akan ujian, bagaimana kau meliburkan diri hanya untuk menjagaku di sini?”

“Hahaha,” Minho tertawa kecil. “Ya! Jangan sungkan begitu. Kalau bukan aku, memang siapa yang akan menjagamu? Orang tuamu kan sedang bertugas di luar negeri? Tenang saja, aku kan sahabatmu, jadi aku tak keberatan menjagamu di sini.”

Kibum tersenyum simpul. Ia meninju pundak sahabatnya itu sambil tertawa kecil. “Mianhae, aku merepotkanmu. Dan maaf juga untuk semalam, aku sudah membohongimu,”

Minho mengernyitkan alisnya. Kejadian semalam? Ya, benar. Kejadian yang membuatnya shock  dengan kelakuan sahabatnya itu. Ia menatap lekat-lekat wajah Kibum. Namja itu terlihat murung. Sorot matanya menginginkan sesuatu, sesuatu yang belum memenuhi keinginannya, bertemu dengan Hyora.

“Minho-ya, tolong antarkan aku menemui Hyora!” bisik Kibum tiba-tiba dan sukses membuat kedua kelopak Mata Minho melebar.

Minho menelan ludahnya. Ia benar-benar bingung kali ini. Haruskah dia mengabulkan keinginan sahabatnya itu kali ini?

Minho menggenggam erat ponselnya yang ada di sebelah buku pelajarannya. Ia ingat apa yang dikatakan Jonghyun semalam.

.

-Flashback-

 

Minho menghembuskan nafas berat setelah menidurkan Kibum yang barusan pingsan di depan ruang perawatan Hyora. Baru beberapa menit ia mengatur nafasnya, ponselnya berdering.

One new message

From: Jonghyun Hyung

Tolong kau jaga Kibum baik-baik. Kondisinya masih lemah. Jangan biarkan dia melakukan hal bodoh seperti tadi. Jika besok dia ingin menemui Hyora, jangan kau izinkan.

To: Jonghyun Hyung

Ne, aku pasti akan menjaganya, Hyung. Kenapa dia tak boleh menemui Hyora, Hyung?

From: Jonghyun Hyung

Barusan Hyora membaca hasil cek labnya. Dia sangat terguncang. Dia tak ingin menemui Kibum dulu, jadi jangan kau biarkan Kibum datang kemari untuk sementara.

To: Jonghyun Hyung

Omo?! Hyora melakukan itu. Aku turut bersedih atas apa yang terjadi pada Hyora. Baik, aku akan menghalanginya untuk ke sana. Tapi, bagaimana jika dia tetap bersikeras?

From: Jonghyun Hyung

Ne, terima kasih atas pengertianmu. Bawa saja dia kemari, asalkan dia siap dengan risiko yang akan menghadapinya.

To: Jonghyun Hyung

Ne, aku mengerti.

-Flashback end-

 

Risiko, risiko yang akan dihadapi Kibum jika bersikeras datang ke sana. Minho menyelami kedua manik namja itu. Benar-benar penuh harap. Ia menghela nafas berat. “Sebaiknya jangan, Key!”

“Kumohon, izinkan aku!” Kibum meringis. “Aku benar-benar harus tahu bagaimana kondisinya,”

Minho menghela nafas lagi. Kali ini dia benar-benar tak tega melihat keadaan sahabatnya yang seperti itu. “Baiklah, aku akan mengantarmu. Asalkan kau siap dengan semuar risiko yang telah menantimu,”

Kibum memiringkan kepalanya. Risiko apa? Dia tak mengerti, akan tetapi keinginannya untuk bertemu Hyora membuatnya harus menyanggupi itu. “Ne, aku siap!” jawabnya mantap.

***

Kibum menatap ruangan perawatan itu dari jauh. Masih sama dengan tadi malam, sepi. Hanya terlihat seorang namja yang duduk di depan pintunya dengan memasang mimik tegang.

Kibum memasang ekspresi sesantai mungkin. Ia mencengkram kedua pegangan kursi rodanya dengan kuat, berusaha mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menemui namja itu.

“Jonghyun Hyung,” Kibum memanggil namja itu dengan nada gusar.

Jonghyun menatap kedatangan Kibum dan Minho dengan ekspresi datar, seakaan tak memiliki emosi sama sekali. “Ada apa, Kibum-ah, Minho-ya?”

Kibum menghela nafas pelan. Ia menatap Jonghyun lekat-lekat, menyelami apa yang sedang ada di dalam pikiran namja itu. “Bolehkah aku melihat kehadiran Hyora?”

Jonghyun terdiam. Ia mengalihkan pandangannya dari Kibum. “Ani, mianhae, Kibum. Kau tak boleh melihat keadaannya,”

Kibum mengernyitkan alisnya. “Waeyo, Hyung?”

Jonghyun terdiam, ia tak menjawab lagi. Rahangnya mulai mengeras. Dadanya naik turun dengan agak cepat. Beberapa kali ia menghela nafas berat.

Kibum mengerti ekspresi namja itu. Ekspresi kemarahan dan kekecewaan. Ia tahu persis Jonghyun kecewa padanya. Kecewa karena telah menepis benang yang selama ini menghubungkan Hyora dengan cita-citanya.

Kibum mencengkram pegangan kursi rodanya. Perlahan kakinya bergerak turun. Ia meringis, menahan sakit di tubuhnya yang membuatnya sulit untuk bergerak. Minho yang menyaksikan kelakuan Kibum tetap diam. Ia tak berani mencampuri masalah yang bukan menjadi urusannya.

Dengan sekali hentakan lutut Kibum mencapai lantai. Ia kembali meringis, menahan rasa nyeri di tubuhnya yang kembali menjalar. “Hhh.. Hhh.. Kumohon, Hyung, beri aku kesempatan untuk bicara padanya!” kini ia berlutut, tepat di hadapan Jonghyun.

Jonghyun menatap namja itu penuh arti, namun ekspresi wajahnya masih tetap dingin. Dia tetap diam, seolah kata-kata yang dilontarkan Kibum bukanlah hal penting yang perlu ia jawab.

“Kenapa kau diam, Hyung?!” Kibum meminta kepastian. Ia mulai tak sabar melihat Jonghyun yang tetap mengunci rapat mulutnya. “Aku tahu kau marah, aku tahu kau kecewa padaku, Hyung. Mianhae, mianhae, jeongmal! Aku tak bisa menjalankan tugasku dengan baik. Aku gagal menjaga Hyora sesuai permintaanmu,” sesalnya, “tapi, tolonglah, izinkan aku melihat keadaannya!”

Jonghyun mengepalkan tangannya. dadanya mulai bergemuruh. Emosi yang daritadi ditahannya mulai naik ke kepalanya. “Hyora tak ada di sini!” sergahnya dengan nada sedikit ketus.

Hyung, kumohon!” suara Kibum mulai bergetar, namja itu tengah menahan tangisnya. “Tolong jangan membenciku seperti ini. Kau boleh melampiaskan kemarahanmu padaku, tapi tolong izinkan aku bertemu dengannya!”

“Hyora sedang tak di sini!” nada ketus terlontar lagi dari bibir Jonghyun. “Kembalilah ke kamarmu. Jika kau membantah, aku tak akan segan-segan…,”

Andwae, Hyung!” Kibum tetap bersikukuh. Ia tetap berlutut di hadapan Jonghyun dengan sisa-sisa tenaganya. “Lampiaskan saja kemarahanmu sekarang, namun jangan larang aku untuk bertemu dengannya,”

Jonghyun menggeram. “Jangan membuatku semakin emosi, Kim Kibum!”

Hyung, kumohon!” kali ini Kibum sedikit mengeraskan volume suaranya.

Andwae!” Jonghyun kembali menolak keras permintaan itu,

Hyung!”

BUKK..!!

Pukulan keras akhirnya mendarat di rahang Kibum. Namja itu tersungkur. Tubuhnya kini menggeliat di lantai. Ia menatap Jonghyun yang masih setengah membungkuk dengan nafas tersengal-sengal. “Hyora tak ingin menemuimu, Kibum!” bisiknya dengan tatapan nanar. “Dia tak ada di sini!” Brakk.. Jonghyun membuka pintu ruang perawatan Hyora. Ruangan itu kosong, tak ada tanda-tanda keberadaan Hyora di sana. “Kau lihat? Dia sedang tak di sini, jadi kembalilah ke kamarmu. Jangan mencari masalah lagi!” umpatnya lalu pergi meninggalkan Kibum yang masih menatap kosong ke ruang perawatan Hyora.

Minho mendekati Kibum, meraih lengan namja itu dan membantunya untuk bangkit. “Gwanchana, Key?”

Gwenchana,” bisik Kibum dengan nada lirih. Ia memaksakan dirinya untuk bangkit. Kedua bola matanya masih mencari-cari kebenaran di balik semua ini. Ia bingung, benar-benar bingung.

“Biarkan aku di sini sebentar,” Kibum menahan lengan Minho. Ia tetap duduk di atas lantai. Ia menyandarkan punggungnya di depan pintu, kedua lutunnya menekuk ke arah perutnya, sementara kedua tangannya kembali terkepal. “Kenapa aku tak boleh menemuinya, Minho?!” lirihnya pahit. “Aku memang bersalah, tapi haruskah aku dihukum seberat ini?”

Minho berjongkok. Ia menepuk pundak sahabatnya itu. “Tenanglah, Key!”

“Bagaimana mungkin aku bisa tenang?!” Kibum meringis. “Aku takut perkataan Jonghyun Hyung  barusan adalah perintah agar aku meninggalkan Hyora,” kini ia mengerang. Tangan kirinya menghantam lantai dengan kuat. “Di perpustakaan, aku pernah menyentuh Hyora di sana. Aku telah menyentuhnya, Minho-ya!” Kibum menekankan ucapannya. “Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkannya setelah melakukan semua itu? Aku tak sebejat itu!”

Minho menghela nafas berat. Tangannya kembali menepuk-nepuk pundak Kibum, berusaha menenangkannya.

“Aku memang ceroboh!”

Kini Kibum menghantam pintu yang ada di balik punggungnya. Air mata yang sedari tadi di tahannya mulai luruh di pipinya. “Aku benci pada diriku sendiri! Namja macam apa yang tega meninggalkan yeoja chingu-nya setelah menyentuh dan melukainya seperti ini?” ia mengerang frustasi. “Aku tak serendah itu!”

“Aku tahu, Key!” ucap Minho lembut. “Aku tahu, harga dirimu itu tinggi!”

Kibum meringis lagi. Air matanya kembali jatuh. “Apa kau tahu, apa yang membuat Jonghyun Hyung melarangku menemui Hyora? Aku yakin kau pasti tahu, Minho. Apa yang sebenarnya terjadi pada Hyora?”

Minho menelan ludahnya. Haruskah ia mengatakan bagaimana keadaan Hyora yang sesungguhnya. Ia menatap Kibum lekat-lekat. Pandangan namja itu begitu tajam. Meski egois, namun sinarnya memancarkan ketulusan. “Hyora mendapatkan luka serius di punggungnya.   Luka diagonal dengan tiga puluh jahitan. Dan luka itu, luka permanen. Luka yang akan membekas seumur hidupnya,”

Kibum membeku. Ia tak mengeluarkan respon. Hanya air mata yang kembali menetes dari kelopak matanya.

***

“Kau masih di sini, Hyora?” Jonghyun menghampiri yeoja yang duduk membelakanginya halaman belakang rumah sakit.

Ne,” Hyora menjawab lemah tanpa memalingkan pandangannya.

Jonghyun mendekati yeoja itu. Ia menumpukan tangannya pada salah satu pegangan kursi roda yang tengah diduduki Hyora. “Kenapa kau sendiri? Mana Soon Hee dan Taemin? bukankah mereka yang menemanimu di sini?”

Hyora tersenyum kecil. “Aku tak sendiri, barusan ada dua orang pasien yang menemaniku di sini. Soon Hee Eonnie sedang ke kantin membeli makanan, sedangkan Taemin, dia sudah berangkat  ke sekolah.”

“Oh,” Jonghyun bergumam sambil menatap lurus ke depan. “Dua orang pasien? Siapa mereka?”

“Bukan siapa-siapa, hanya seorang yeoja dan seorang anak kecil―pasien yang sudah lama menjalani perawatan di bangsal pesakitan ini,” sekali lagi Hyora menjawab dengan nada lemah. Ia mengembangkan senyumnya, berusaha menutupi luka yang terpancar dari sorot matanya. “Kurasa aku belajar banyak dari mereka,” lirihnya, sedikit terdengar bersemangat. “Oppa, bolehkah aku bertanya?”

Jonghyun tersenyum. Ia menatap Hyora, menyelami apa yang ada dalam pikiran yeoja itu. “Tanyakanlah,”

Hyora menghembuskan nafas sejenak. Kedua matanya mengerjap, seakan mempersiapkan mental untuk apa yang akan didengarnya. “Kenapa penyesalan itu selalu datang terlambat?”

Jonghyun tersenyum tipis. Pertanyaan itu, pertanyaan biasa yang umumnya ditanyakan saat seseorang putus asa. “Itu memang hukum alam yang tak bisa diganggu gugat,” ucapnya ringan. “Penyesalan memang selalu datang diakhir, saat dimana kau menyadari sesuatu bahwa itu tak seharusnya kau pikirkan, ucapkan, ataupun kau lakukan,” tuturnya sambil menyelami kedua mata Hyora yang mulai membulat. “Ibarat seorang siswa yang menempuh pendidikan. Tak mungkin kita akan menghadapi ujian akhir di awal. Pasti dimulai dari belajar biasa, dan setelah itu baru kita akan menghadapi ujian,”

Hyora mengangguk, mulai mengerti dengan pesan yang disampaikan Jonghyun. “Jika kita telah menyadari penyesalan itu, bisakah kita merubahnya?”

Sekali lagi Jonghyun tersenyum. Pertanyaan kedua yang bisa dia tebak. “Bisa!” ujarnya yakin. “Seperti banyak yang dikatakan artis di dalam drama, kita tak mungkin bisa memperbaiki kesalahan tanpa melakukan kesalahan terlebih dahulu,” nada bicaranya terdengar ringan, namun jauh. “Jika kau terlanjur menyesal, jangan pernah menyerah! Tuhan pasti akan memberikan kita kesempatan kedua untuk merubahnya, asalkan kita punya kemauan, keinginan, dan berusaha untuk merubahnya,” Jonghyun menatap Hyora lekat-lekat. Tangannya menyentuh puncak kepala yeoja itu. “Ketahuilah, segala sesuatu akan terjadi jika kau menjadikannya!”

Hyora terdiam. Sesuatu yang panas seperti mengalirinya setelah mendengar penjelasan Jonghyun. Apakah itu harapan atau semangat baru? “Oppa, bolehkah aku mengikuti jejakmu?”

Kedua mata Jonghyun melebar. “Maksudnya?”

“Barusan Soon Hee Eonnie menawarkan sesuatu padaku. Dia bilang aku masih bisa menjadi seorang model dengan cara operasi plastik,” ujar Hyora sedatar mungkin. “Sayang, aku tak berminat. Egois memang, tapi aku tak ingin hidup bukan sebagai diriku sendiri. Biarlah luka ini tetap membekas, lagipula setelah sekian hari dirawat di sini aku mendapat banyak pelajaran,” Kini bibirnya menyunggingkan senyum manis, senyum yang begitu ikhlas. “Jadi, bolehkah aku mengikuti jejakmu?”

Jonghyun tersenyum lembut. Suatu kebanggaan melihat yeodongsaeng-nya telah menemukan harapan baru. “Tentu saja,”

TBC

Nb: mau ngomong apa yahhh??? *geplakkk* mungkin ada beberapa di antara kalian yang pernah baca pertanyaan tentang penyesalan dibagian dialog Jonghyun dan Hyora. Yah, kedua pertanyaan itu memang aku kutip dari FF-nya Ditia It Was Tormented. karena rasanya aku nemu jawaban yang pas buat pertanyaan itu dengan bantuan temanku Tulasi, jadi aku masukin pertanyaan itu ke FF ini, yah tentunya atas izin Ditia juga, hwehehehehe…

eh iya, mian part ini kepanjangan. Mian juga kalau membosankan.  Seperti yang kalian tahu, FF Chandra emang gak pernah daebak. (TT^TT)

Ok, jadi kalau kalian masih minat baca, jangan lupa komen yah… kritik dan saran semua aku terima… ok???

©2011 SF3SI, Chandra.

This post/FF has written by Chandra, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

120 thoughts on “Something More: Last Available – Part 5”

  1. woaaa, tragis bgt -_____-
    key, sabar ya?
    gmana nasib hubungan key? mrka ga ptus kan?
    oh iya, Hyora mau ngkutin jejak jjong? mksdnya gmana ya? -.-

  2. *brb ngusap air mata*

    nyesek pas baca hyora ternyata jd cacat.
    saya jadi mencium aroma angst dr ff ini, sedih TT.TT

    tapi tapi nanti hubungan key sm hyora bakalan baik lagi kan?
    mereka bakalan se-sweet chapter2 sebelumnya kan?
    BAKAL HEPI ENDING KAN? *ganyantai*

    penasaran nih thor, dilanjut ya 😉

    1. Iya… MenuruTku part ini juga mengarah ke Angst..
      .
      MaAf aku bAru replay…
      PertanyaAnMu udah kejawaB di part 6..
      GoMawo….

  3. kepanjangan? aku mlh ga ngerasa kalo ini panjang kekeke
    operasi plastik?
    haa, emg jjong ngapain sampe hyora terinspirasi gitu? ngikutin jejak gmn maksudnya? *eluselusdagu*
    makin bikin penasaran chan, ayo lanjut 🙂

    1. Masa kurang panjang, eoN?
      Aku bAhkan sampai gempor ngetiknya..
      Ckckck
      .
      JawaBanNya ada di part 6..
      GoMawo, Liyah Eon..

  4. kok jd gini chingu?tragis amat,,nantina hubngn hyora ama key gmn? Aku gag ngrti mksudna mengktu jejak jong tu gmn sich?tmbh penasaran,,daebak chingu
    Part selanjutna jgn lama2 yah

    1. HuwaA.. MaAf…
      Aku bAru bisa OL niH….
      .
      JawaBanNya ada di part 6..
      GoMawo yah koMenNya..

  5. penasaran… emang si hyora mau jadi apa dy??
    ngikutin jejak jonghyun??
    kasian banget si key… yang sabar ya key…
    bagus koq ffnya thor,, apalagi part yang ini banyak pesan2nya,,,
    DAEBAK thor.. ^_^

  6. aduh-aduh…..
    kenapa tragis sekali *.*
    nasibnya key gimana? key sakit apa? memang jjong kerja apaan? (kebanyakan nanya nih reader nya)
    hehehe

    1. MaAf bAnget yah aku telat bALesin koMenNya…
      JawaBan pertanyaAnMu ada di part 6..
      GoMawo..

  7. 0m0o~
    Chandra sedih bnget…pgi2 dh bkin bnjir l0kal, ampe idung meler nh T^T

    Bca part ni bkin dadaku sesekkk……bnget bcanya, tragis_mris_bkin nyesek. Npa jdi kyak gni ??
    Brharap Hy0ra ma Key smbuh ñ blikan lg.

    Syukurlah Hy0ra dh brlapan dada, tbah kan htimu. Jejak, m0 ngkutin jejak jj0ng. Emang jj0ng prnah nglakuin apa ??? ni Psannya nyentuh bnget.

    Gk kpanjangan k0k, mlah kurang panjang. hehe……#plakk# Huwa mkin pnasaran nh, nunggu next part.
    W0ah~ mian ya bnyak bc0t.
    Chandra Hwaitinggg……!!!

    1. Nangis?
      PerasaAn ini gak seDiH dEh.. *plakK
      .
      Kurang panjang?
      Aku malah sampai gempor ngetiknya…
      Hwehehe..
      GoMawo..

  8. bner2 part y paling menyedihkan…..aku bingung Hyoranya cacat karna bekas lukanya? at karna dy g bsa ngapa2in lagi?
    author ayo lanjut tp jgn sedih2 lg…..kasihn bngt key-hyora

  9. Eon, kok sedih banget part ini?
    Kasian kibumNya..
    Huwee.. T.T
    Terus, kenapa Hyora mesti cacat?
    Huh, makin keren nih konfliknya!!
    Aku tunggu part selanjutnya!

  10. Chandra… Kenapa sedih begini?
    T.T
    kasian KeyOra..
    Nyesek banget pas tau Hyora cacat.. Terus Key, huft… Sabar, ya..
    Jjong bijaksana banget di sini.. Aku kagum sama dia..
    Banyak banget pesan di part ini..
    Daebak, Chan!
    Part selanjutnya ASAP ya!!

  11. Aelah aku ngga nangis! KARENA AKU UDAH MATI DI TEMPAT EONIE NAHAN NAPAS! NAHAN NAPAS! BAYANGKAN!
    /PLAAK (chand eon: dasar bocah ngelunjak, berani-beraninya bentak-bentak orang tua!)
    Gilaa! keren banget serius eonie!

    Itu Key! OMO~ gila kasian banget. Kesungguhannya acungi jempol deh!
    Hyora masih shock, jadi sabar aja ya Key.

    Eh, jejak Jonghyun apaan?
    Aaa~ Iyaiya! Itu yang ada di FFnya Ditia eon!
    Keren keren! Jawabannya pas banget.
    aaa~ Eonie lanjut! HWAITING!

    1. Nahan napas?
      Emang kamu ngapain, lin?
      Renang?
      *plakKk…
      OMo… Aku gak setUa itU Lin.. *gantUng diri.. T.T
      .
      JawaBan pertanyaAnMu ada di part 6,.
      .
      Ahahaha… PertanyaAn itU yah… Syukurlah kalau suka sama jawaBanNya..

  12. Ya! Chandra!
    Kenapa part ini sedih begini?
    Nyesek banget pas key ga di kasi ketemu Hyora.. Huh.. Kasian kan kalau kayak gini..
    Terus Hyora… Aish kenapa harus cacat?!
    Ugh… Jangan sad ending dong, Chan… T.T
    PLEASE!!

    1. MaAf ya kalau seDiH….
      .
      Sad ending atau ngGak kita liat di part akhir ya.. Hehehe..
      GoMawo..

  13. Kenapa sedih begini, Chand Eon?
    Kebayang deh gimana perasaan key waktu diusir Jjong..
    Terus Hyora.. Kasian, kenapa dia mesti cacat?
    Huh.. Nyesek banget part ini…
    Part selanjutnya ASAP yah..

  14. Sumpah thor, aq pnsaran buangeeett*lebay..
    Tapi iya nih thor, pensaran..!!
    Jgn lma2 klnjutannya ya thor..
    Gimana ya reaksi key ktemu yeojanya..
    Hwaiting nulisnya thor….

  15. Chan?!
    Segitu parahnya ya si Hyora sampe2 dia malu bwt ktemu ama Key??
    Nyeseeeekk bgt.
    Hyora-Key kok jd begini??*untung cuman ff*
    Hwaa!! Kaget bgt pas Ojong nasehatin si Hyora!!
    Kereeeeenn!!
    Biasanya kan dia jd org brotak mesum…
    Hhe…
    Ayo lanjutnya cepeet..??

    1. Aku juga gak mau ini jadi kenyataAn…
      *amit2 bgt*
      .
      TUmben JJONG bijak..
      Hahaha..
      GoMawo..

  16. Chandra!!! kenapa part ini nyesek banget?!
    huh… ngebayangin perasaan Key waktu gak dikasi ketemu sama Hyora…
    huh… pasti sakit banget!!!
    nasehatnya JJong cool abizzz!!! aku setuju sama pendapatmu!
    part selanjutnya jangan lama-lama!!!!!!!!!!

  17. kaaakkk aku puas sama jawabannnyaaa. Namaku ngeksis woo.. Ngga nyangka ih jawaban si bling2ku bijak bangeetttt.
    Bisa merubah penyesalan wow .. Akuuuu nangis niihh part ini hyora kasian banget terus key juga. Ud skarat malah jjong mukul dia huweeee TTT.TTT

  18. ooooi authooor maksudnya apa? Hyora mau operasi plastik?
    suka banget ama part ini, bahasa nya kereeeeeeeeen. lanjutkan authoooor!

  19. sedih banget part ini… sumpah,, nyesek denger hyora jadi cacat…
    kasian juga si key gak bisa ketemu Hyora…

    tapi aku salut!! kata-katanya bener-bener keren!!

    part selanjutnya asap yah…..

  20. Part ini nyesek banget…
    Kasian KeyOra couple..
    Jangan sad ending dong, Chan…
    Aku tunggu part selanjutnya!

  21. Kata siapa ff.a gag pernah daebak?? Ini daebak bngett malah thorr..
    Lho? Ko jaddi seddih gini?
    Hueee.. Gag tega liat hyora, kasian juga sama key!!
    Akk kira mereka bkal seneng2 slma seminggu..
    Gag bisa ng0mong apa2 lagi,, pokonya akk mau hyora & key kmbali bersatu, trus bahagia! *siapa lu?*

  22. Aku setUju sama reader lain.. Part ini sedih banget!!
    Hiks…
    Part selanjutnya jangan sedih ya, chan…
    Sayang air mata nih..
    GoOd job!

  23. Ini sedih banggeeeet
    Tapi aku bingung
    Bukan bingung juga cuma aga kurang mengerti ceritanya
    1 hyora itu cacatnya kenapa
    2 maksutnya ngikutin jejak jong juga apa
    Kibummm jangan menyerah
    Pasti nanti bisa ketemu hyo ra lagi
    Dan hyora jangan putus asa tetap berjuang
    Lanjuuut

  24. author, itu sebenernya dy cacat bagaimana sih? bukan cacat kaki atau apa kn? itu mksudnya cuma bekas luka jahitan kn? kok sampe segitunya histeris dan nggak mau ketemu key lagi? tadinya aq kira dy lumpuh T_T

    keren kok thor. setiap part tulisan author selalu daebak! ^_^

  25. Huh… Ngeri banget ngebayangin luka Hyora sampe kayak gitu. Bisa kebayang dah gimana perasaanya setelah tahu kalau itu luka permanen.. Huh.. Key juga kasian,, terus Jjong, tumben bijaksana banget.. Biasanya kan dia mesum.. *diHajar blingers*
    ayo lanjut, Chandra!
    Aku tunggu part selanjutnya!

  26. Biarpun sedih, tapi aku suka part ini.. Banyak pesan moralnya!
    Seneng deh liat Key bertanggung jawab.. Terus Jjong.. Omo.. Gentle banget!

    Siapa bilang FFmu gak daebak, Chan?
    Ini malag bagus banget. Rapih dan menyentuh!
    GOOD JOB pokoknya!

    1. Hehehe…
      Syukurlah kalau suka..
      .
      DaebAk?
      MasiH jauh bAnget dari kata itU..
      GoMawo yah….

  27. BAcA nasehatnya Jjong, rasanya aku dapet ilham ney…
    “segala sesuatu akan terjadi jika kita menjadikannya!”
    sesuju banget tuh!!
    Teruz, KeyOra.. Huwee.. Kasian,,
    CHANDRA!! DIRIMU TEGA!!
    *CHANDRA: BERISIK AMAT LU, VON!*
    pokoknya gak boleh sad ending!!
    *siapa aku coba?*

    1. Nasehatnya Jjong?
      Yang tentang penyesalan itU, ya?
      Hwehehehe
      .
      MaAf ya aku telat bALesin koMenNya..
      GoMawo..

  28. Pesan moralnya dapet!
    Gak nyangka Jjong sebijak itu.. Biasanya dia kan mesum.. *gaplokK*
    huft, kasian banget Key sama Hyora mesti pisah. Jangan sad ending yah.. Gak tega mereka beneran pisah.. T.T

    1. Hahahaha…
      Kayaknya JJong emang beneran mesum dEh….
      *bletakK*
      .
      Sad ending?
      Nanti liat di part akhir aja yah..

  29. Aduh, bener-bener gak tega liat key kayak gitu.. Hyora juga kasian.. Kenapa dia mesti cAcAt?!
    Jejak,a jjong?
    Emang apa?
    Aish makin penasaran nih. Part selanjutnya ASAP!

  30. So sad.. T.T

    siapa bilang tulisanmu gak pernah daebak?
    Ini mah daebak banget namanya. Pesannya bener-bener keren!
    Tapi jangan sad ending yah.. Aku gak tega..

  31. Bener-bener angst part ini.
    Aku kagum sama key..
    Bener-bener bertanggung jawab.
    Kasian banget waktu hyora tau kalau dia udah cacat.
    Please, jangan sad ending ya, Chan…
    Gak tega ney..

    1. MaAf ya aku telat bALesin koMenNya…
      Lalau sad ending atau ngGak nanti liat di part akhir aja.. Hwehehe

  32. Semoga part depan Keyora bisa ketemu…
    sedih bnaget part ini.. TT__TT

    yaahhh.. gak ada salahnya kok hyeora ganti cita2.. toh apa yang terjadi ntar juga bakalan baik asal dilakukan dng baik dan tulus hati…
    cuman kenapa Hyora mau ngikutin oppanya ya?
    aq kurang tau si JJong kuliah apaan….
    emang blom dijeaskan tau aqnya yang lupa.. hahaha

    oke deh.. ditunggu part berikutnya…

    1. Maaf, Eon.. Aku telat bALesin koMenNya..
      *plakK..
      JawaBan pertanyaAn eoN udah ada di part 6..
      GoMawo..

  33. Sedih.. Bener2 nyesek..
    Jjong Keren!
    Pesannya bener2 berguna..
    Ga nyangka akan sebijak itu my blingbling.. Hwehehe..
    Eon, ayolah.. Jangan sad ending.. Kasian keyora couple.. Aku udah gereget sama mereka… Jadi jangan pisah ya…. *maksa*
    #plakKk

    1. MaAf aku telat bALesin koMenNya saeng..
      Masalah sad ending atau ngGak tUngGu part akhir aja yah..

  34. So sad.. Hikz.. T.T
    Kenapa hyora mesti cacat?
    Terus kenapa dia mesti malu ketemu key?
    Huwee T.T
    jangan pisah donk… Gak tega kalau FF ini sad ending.. T.T

  35. *tarik nafas…
    *buang nafas…
    Chandra!!!
    Tau, gak? Aku baca part ini hati-hati banget!
    Bener-bener tegang!
    Eh sumpah.. Aku kaget pas tau hyora cacat + kagum sama key yg ternyata bertanggung jawab.. Huwee… Jangan sad ending, ya…
    Terus Jjong.. Uh.. So sweet,… Bijaksana banget kata-katanya..!!

    1. Sampai sebegitUnya kah?
      GoMawo..
      *bow*
      jangan kelamaAn tegang, ntar terkuras isi otakmu.. Hwehehehe…
      GoMawo udah bAca..

  36. Hahahahahahahahahahaha…
    *malah ketawa!!
    #gila!!

    Jjong keren…
    So gentle.. Padahal aslinya mesum..
    *dibAkar blingerS

    Siapa bilang gak daebak?
    Ini malah DAEBAK BANGET!!!
    Pesannya keren..
    Keyora sabar, ya…

    1. Mesum?
      Mesum sangat dia…
      *bletakKk,..
      .
      DaebAk?
      Kayaknya FF ini masiH jauh bAnget dari kata itU…
      .
      GoMawo yah udah sempetin baCa…

  37. Kasian… T.T
    EMosinya bener-bener dapet di part ini..!
    Pesannya juga dapet!
    Taph keyora jangan pisah donk!
    awas kalau keyora pisah!
    *nodong chandra!*
    .
    Ayolah, chan!
    Part selanjutnya asap!

  38. sedih bgt sie… kasian key belum bs ketemu Hyora,,trus Hyora ga bs mwjudkan mimpi.y donk…oh poor you..!
    trus ngikutin jejak’y Jjong itu apa yaaa? hah penasaran

    1. HmM… Iya niH…
      PoOr hyoranya…
      .
      JawaBan pertanyaAnMu ada di part 6..
      GoMawo yah…

  39. Aaaaaa key nyaaaa baik bggttttttt
    Aduhhh jadi itu luka permanen?
    30 jaitan?!!!! Ya ampunnn
    Ih tapi aku belajar banyak dari ff ini uuunyu:3
    Iya benet bgt kata jjong
    Kalo ada usaha pasti bisa(Y)
    Maksudnya ngikutun jejak jjong apa?
    Jadi dia gak jadi model?
    Aaaaaa kasian tapi baguuuuuus
    Hyora punya harapan lain trs positif:)

    1. Iya..
      ItU luka permanen…
      .
      Syukurlah kalau ada yg bisa dipelajari dari FF ini..
      .
      JawaBan pertanyaAnMu ada di part 6..
      GoMawo yah..

  40. Bener banget tuh kata-katanya Jjong!
    Segala sesuatu akan terjadi jika kita menjadikannya!
    Part ini banyak pesannya biarpun sedih..
    Keren!
    Lanjut!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s