the-pervert-nerd

The Pervert Nerd – Glasses 7

TITLE : The Pervert Nerd – Glasses 7

AUTHOR : Yuyu a.k.a Younji

Main Cast :

  • Choi Minho
  • Yoo-moogeun as Lee Seorin

Support Cast :

  • Onew
  • Kim Jonghyun
  • Key
  • Lee Taemin
  • Fairuz Kim as Kim Rinhae
  • Lana Carter’s Han Yuna
  • Minniemint as Park Minji
  • Ryeoshibum21 as Il Sora

Other Cast :

  • Lee Donghae
  • Kim Heechul

Length : Sequel

Genre : Romance, Angst, Sad, Humour, Friendship

Rating : PG – 16

THE PERVERT NERD

“Hyung, apa menurutmu Onew hyung akan baik-baik saja?” Tanya Taemin yang duduk dihadapan Minho di cafetaria. Minho mengangkat pundaknya, bergumam pelan yang terdengar seperti semoga saja.

“Aku masih sedikit kesal. Kalau saja waktu itu kita datang lebih cepat.” Geram Jonghyun dari sebelahnya.

“Sudahlah, tidak ada gunanya menyesal. Lebih baik berharap Onew hyung baik-baik saja. Aku mau kembali ke ruang inapnya sekarang. Mau ikut?” Tanya Key yang sudah berdiri dan membantu Sora untuk ikut berdiri dengannya. Jonghyun dan Taemin mengangguk bersamaan dan mengikuti Key serta Sora.

“Kau mau ikut juga?” Tanya Minho pada Seorin. Seorin mengangguk dengan cepat dan berdiri. Dia tidak tau kenapa saat Minho mengajaknya menjenguk Onew dia sama sekali tidak menolak. Padahal dia sama sekali tidak dekat dengan Onew. Tapi yang jelas Seorin menolak untuk mengakui kalau penyebabnya adalah karena dia ingin bersama dengan Minho.

“Seorin? Lee Seorin?” Panggil seorang namja yang berdiri beberapa langkah di belakang Seorin dan Minho. Seorin membalikkan badannya. Menatap namja itu dengan tatapan penuh tanda tanya. Namja dihadapannya tersenyum lebar membuat Seorin akhirnya mengenali namja itu.

“Donghae oppa?” Tanya Seorin agak ragu. Namja yang dipanggil Donghae itu menganggukkan kepalanya.
”Omo, oppa! Neomu neomu bogoshipoyo!” Teriak Seorin yang langsung berlari ke arah Donghae dan memeluknya dengan erat. Donghae terkekeh pelan, balas memeluk Seorin dan membelai rambut Seorin dengan pelan.

“Oppa do bogoshipoyo.” Balas Donghae dengan lembut.

Minho bergeming di tempatnya berdiri sekarang. Tubuhnya seperti terbakar, ingin sekali dia menghampiri kedua orang itu, melepaskan pelukan Seorin darinya dan langsung memukuli namja yang tidak ia kenal. Tapi Minho menghilangkan pikiran itu jauh-jauh. Donghae menangkap sosok Minho dari ekor matanya, dan jelas ekspresi wajah Minho terlihat tidak senang. Donghae melepaskan pelukannya dan menatap Seorin lalu Minho secara bergantian.
”Kau tidak mau memperkenalkan kami?” Tanya Donghae.

“Oh..” Seorin memalingkan wajahnya untuk melihat Minho yang akhirnya mendekatinya dan berdiri di sampingnya. “Minho-ya, ini Donghae oppa, temanku sejak kecil. Dan Donghae oppa, ini—“ Belum sempat Seorin menyelesaikan perkenalannya, Minho memotong kata-kata Seorin dan melingkarkan lengannya di pinggang Seorin, agak membuat Seorin terperanjat kaget.
”Aku Minho, pacar Seorin.” Ucap Minho tegas. Donghae membuka mulutnya membentuk huruf O begitu mendengar penjelasan Minho.

“Tidak kusangka Seorinku yang polos ini sekarang sudah punya pacar.” Seolah tidak mempedulikan kehadiran Minho, Donghae mengacak rambut Seorin dengan santai.

Minho mendengus kesal.

Seorinku? Batin Minho dengan kesal. Yang diingat oleh Minho adalah bahwa Seorin itu miliknya, dan hanya miliknya bukan milik pria asing yang baru saja menunjukkan batang hidungnya.
”Geure, sampai jumpa lain kali. Aku harus pergi ke suatu tempat, annyeong Seorin-ah.” Donghae berjalan pergi dan melambaikan tangannya pada Seorin yang menatap kepergian Donghae dengan wajah sedih, membuat Minho semakin kesal.

“Lee Seorin, jangan berani kau menemuinya lagi.” Tukas Minho. Seorin menaikkan sebelah alisnya mendengar perintah Minho. Dia memang tau Minho itu adalah makhluk teregois yang pernah ia tau keberadaannya. Tapi Minho sudah melewati batas jika dia melarang Seorin untuk berteman dengan siapapun, terlebih lagi teman sejak kecilnya yang sudah lama tidak ia lihat.

“Yaaaa, Lee Seorin, apa kau mendengarku?” Cerca Minho saat mereka berjalan menuju ruang inap Onew.

“Berhentilah memerintahkan ini dan itu padaku! Dan harus berapa kali kukatakan kalau dia itu teman baikku!?” Seorin meninggikan suaranya, terlalu kesal dengan sikap seenaknya dari Minho

“Kau tidak seharusnya memeluk dia kalau dia hanya teman baikmu!” Cerca Minho tidak mau kalah.

“Urgh, terserah kau sajalah!” Seorin menghentakkan langkahnya dan masuk ke ruangan Onew.

“Yaa! Jangan dekat-dekat dengannya kalau kalian tidak sengaja bertemu lagi, araseo?” Tukas Minho kesal.

***

“Mau ke tempat biasa?” Ajak Seorin saat dia dan Sora baru saja keluar dari kelas.

“Tidak bisa, Key mengajakku pergi, mian.” Ucap Sora dengan penuh penyesalan. Dia tidak ingin menelantarkan teman-temannya hanya karena sekarang dia sudah berpacaran. Tapi dia juga tidak bisa menolak ajakan Key karena dia sendiri ingin berduaan dengan Key.

“Tsk, araseo.” Seorin melipat kedua tangannya, berpura-pura marah pada Sora tapi langsung terkekeh sedetik kemudian. “Kurasa sebaiknya aku langsung pulang. Toh Yuna juga pasti tidak bisa kuajak karena dia harus mengikuti kursus pianonya.”

“Aku harus menemui Key di ruang OSIS, tidak apa-apa kau keluar sendiri?”
Seorin memutar bola matanya, “Memangnya akan ada orang yang menculikku? Sudahlah, selamat bersenang-senang dengan Key.” Goda Seorin yang membuatnya mendapatkan pukulan ringan dikepalanya.

Seorin keluar dari gerbang sekolahnya, bersiap berbelok saat seseorang tiba-tiba saja menutup matanya, membuat pandangannya menjadi gelap seketika. Seorin menghembuskan nafasnya dengan berat.

“Son Dongwoon, aku tidak ingin bermain denganmu.” Ucap Seorin sedatar mungkin. Seorin mendengar suara tawa, tapi jelas itu bukan milik Dongwoon. Seorin menurunkan tangan yang menutup matanya dan berbalik untuk melihat Donghae berdiri di sana dengan senyuman manisnya.

“Siapa lagi itu Son Dongwoon? Kupikir pacarmu Minho?” Ejek Donghae. Seorin tidak mempedulikannya ejekan Donghae karena terlalu senang ia bisa melihat sahabatnya lagi.
”Oppa! Apa yang sedang kau lakukan di sini?” Tanya Seorin bersemangat.

“Apa lagi kalau bukan menemui dongsaeng terbaikku, huh? Tapi jangan katakan itu pada Sora, dia akan cemburu.” Ucap Donghae dengan nada bercanda. Seorin ikut terkekeh pelan.
”Tenang saja. Sekarang dia tidak ingin menjadi dongsaeng terbaikmu lagi karena dia terlalu sibuk dengan pacarnya.”
”Huh? Sejak kapan para dongsaengku mulai pacaran?” Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya, “Ah, apa kau sibuk hari ini? Kau tidak keberatan kan menemani oppa seharian?”
”Tentu saja tidak! Bahkan kurasa sehari saja tidak cukup untuk melepaskan rinduku padamu oppa.” Seorin mengikuti Donghae ke mobilnya dan duduk di kursi penumpang setelah Donghae membukakan pintu untuknya.

***
Minho duduk seorang diri di ruang bawah tanah yang ia datangi beberapa hari lalu saat dia memukuli Dongwoon. Minho menatap tiap sudut ruangan itu, mengingat bagaimana ia selalu merasa senang setiap kali Dongwoon dan adiknya berlarian ke seluruh penjuru ruangan. Ia mengingat senyuman hangat milik satu-satunya yeoja yang pernah bersama dengan dia dan Dongwoon di ruang bawah tanah ini dan ia sangat menyukainya karena hal itu bisa memberikan kebahagiaan untuknya.  Semuanya terasa aneh. Tidak terasa nyata karena semua kenangan itu menjadi buram diingatannya. Tapi juga tidak tidak seperti mimpi karena ia masih bisa mengingat sentuhan yeoja itu di tangannya. Semuanya terlalu membingungkan bagi Minho. Suara derap langkah yang melambat menyadarkan Minho dari lamunannya. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati Dongwoon berdiri diambang pintu, menatap Minho dengan tidak percaya. Mungkinkah ini pertanda bahwa persahabatan mereka bisa kembali seperti semula?

Minho menghentikan kontak mata mereka dan berdeham pelan, ia merasa sangat canggung. Minho beranjak dari sofa dan berjalan keluar, tapi Dongwoon mencengkram lengannya dengan erat.

“Kupikir semuanya sudah berakhir, tidakkah seperti itu?” Tanya Dongwoon. Terbersit rasa kecewa dalam suaranya. Ternyata ia masih belum mendapatkan kembali sahabat berharga yang pernah ia miliki.

“Menyingkirlah, Dongwoon.” Tukas Minho datar.

“Aku tidak bisa kehilangan sahabatku hanya karena seorang yeoja, aku tidak bisa.” Gumam Dongwoon.

“Kubilang menyingkirlah.” Tukas Minho sekali lagi, mencoba menahan semua emosinya yang kembali mulai meluap.
”I CAN’T!” Teriak Dongwoon yang akhirnya benar-benar membuat kesabaran Minho habis. Minho menghempaskan cengkraman tangan Dongwoon dan langsung meninju pipi kanan Dongwoon membuat namja itu goyah. Tapi tidak seperti ketika Dongwoon membiarkan Minho memukulinya begitu saja saat mengambil hp Seorin, kali ini Dongwoon balas memukul Minho hingga Minho tersungkur. Minho membulatkan kedua matanya, tidak menyangka bahwa Dongwoon akan membalas pukulannya. Minho segera berdiri, meraih kerah kemeja Dongwoon dan mendorong paksa Dongwoon hingga merapat ke dinding dan menatapnya dengan sinis.

“Menjauhlah dari hidupku, Son Dongwoon. Dan bawa pergi adikmu yang tidak pernah kembali itu!” Teriak Minho putus asa. Minho kembali melayangkan beberapa tinjuan ke wajah Dongwoon. Dongwoon menendang perut Minho, mendorong tubuh Minho hingga terbaring dilantai setelah pertahanan diri Minho agak goyah. Dongwoon duduk diatas perut Minho, membalas tinjuan yang tadi ia dapat.
”Kau boleh membuang adikku sejauh kau mau—karena dia memang pantas diperlakukan seperti itu. Tapi jangan pernah memintaku untuk menjauh dari hidupmu!”
”Kau tidak tau apa yang kurasakan jadi kau tidak berhak untuk bicara apapun!” Balas Minho dan mengubah posisi mereka, membuat Dongwoon tergeletak dilantai dan memukulinya, tidak terlalu kuat karena tenaganya sudah terkuras untuk berteriak dan melindungi dirinya dari pukulan Dongwoon.
”Aku tau! Aku sangat tau apa yang kau rasakan karena kehilangan adikku—orang yang kau sayangi! Tapi aku kehilangan dua orang sekaligus di saat yang bersamaan—kau dan adikku—dan kau tidak pernah sekalipun berpikir betapa menderitanya hidupku tanpa kalian berdua di sisiku!!”

Minho menghentikan pukulannya dan tertawa sinis. Minho merebahkan tubuhnya disamping Dongwoon dan mengatur nafasnya yang berantakan. Minho menatap langit-langit selama beberapa menit sama seperti yang dilakukan oleh Dongwoon.

“Aku juga… kehilangan dua orang penting dalam hidupku.” Ucap Minho lirih. Dongwoon tersenyum kecil. Ia tidak perlu menatap lurus ke dalam mata Minho untuk tau bahwa apa yang dikatakan Minho adalah yang sebenarnya. Ruangan itu hanya dipenuhi dengan deru nafas mereka yang masih memburu satu sama lain sebelum akhirnya mereka tertawa bersamaan begitu saja. Membayangkan betapa konyolnya mereka berdua.

***

Seorin duduk di sebuah café terbuka dihadapan Donghae dan terus menatap Donghae tanpa berkedip. Donghae balik menatap Seorin dengan bingung.

“Aku sedang mengamati wajahmu oppa. Kau sudah banyak berubah. Kau lebih kurus sekarang.” Ucap Seorin seolah mengerti kebingungan Donghae. Donghae tersenyum tipis dan mengusap tengkuknya dengan tidak nyaman.

“Yah, memang. Akhir-akhir ini berat badanku turun terus.” Donghae menurunkan tangannya yang tadi mengusap tengkuknya dan kembali meletakkannya diatas meja. Seorin menangkap sesuatu dibalik lengan jaket yang dikenakan Donghae dan menyingkapnya tanpa bisa dicegah Donghae. Seorin terkesiap pelan. Ia melihat bekas luka yang cukup dalam di pergelangan tangan Donghae. Donghae menarik tangannya dan menyentuh bekas lukanya dengan gugup.

“O-oppa. Jangan katakan kalau luka itu… seperti apa yang kupikirkan?” Tanya Seorin was-was. Donghae menatap lurus ke depan, melihat kedua mata Seorin terbelalak lebar. Donghae membuka mulutnya berniat mengatakan sesuatu, apapun itu. Tapi tidak ada yang bisa ia suarakan. Tidak ada penyangkalan ataupun penjelasan yang bisa ia berikan.

“Oppa, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Benarkah kau mencoba untuk…” Seorin menghentikan kata-katanya saat sesuatu terasa menyumbat kerongkongannya, membuat ia tidak nyaman. Pandangan Seorin kembali ke pergelangan tangan Donghae di mana bekas luka itu tertinggal, “Bunuh diri?” Lanjut Seorin lirih.

Donghae mendesah pelan. Ia tidak bisa mengelak lagi. Ia bisa saja berbohong. Tapi diantara beratus-ratus orang yang ia kenal, ia tidak ingin membohongi Seorin seorang.
”Ne, aku memang pernah mencoba untuk bunuh diri.” Aku Donghae akhirnya. Seorin tidak mengatakan apapun, hanya menatap Donghae dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Donghae sendiri.

“Mian, aku tau hal itu hanya dilakukan oleh orang-orang yang lemah. Tapi aku memang sangat lemah saat itu. Semuanya tiba-tiba saja berubah dalam hidupku.” Donghae menghentikan kata-katanya, menelan air liurnya dengan pelan, “Orangtuaku berpisah tanpa memberitaukan apapun padaku, keluarga yang menjadi kebanggaanku tidak ada lagi. Dan tidak seorang pun yang bisa kuandalkan saat itu, aku benar-benar takut, Seorin-ah. Semuanya warna dalam hidupku tiba-tiba menghilang dan berganti kelabu.” Kedua mata Donghae mulai berair ketika dia mengingat apa yang terjadi padanya setahun lalu, masa-masa di mana dia benar-benar sangat terpuruk.

“Tapi kau punya aku, oppa. Kau bisa berbagi denganku, bukannya justru tidak memberi kabar sama sekali sejak setahun terakhir. Dan bagaimana dengan Eunhyuk oppa? Siwon oppa? Mereka adalah teman-temanmu yang selalu siap untuk berdiri dipihakmu. Dan aku yakin Heechul oppa pasti akan memakimu habis-habisan karena bertindak konyol pada nyawamu sendiri.” Desis Seorin. Donghae terkekeh pelan dan mengangguk.

“Memang, dia menceramahiku panjang lebar kemarin.” Donghae tersenyum tulus. Dia memang menyesalinya, kenapa waktu itu dia begitu gegabah dan ingin mengakhiri hidupnya dengan mudah? Dan ia sangat berterima kasih pada Tuhan karena masih memberinya kesempatan untuk meraskan betapa bersyukurnya dia memiliki hidupnya saat ini.
”Dan, bagaimana dengan pacarmu, oppa? Bukankah seharusnya dia bisa menjadi kekuatanmu untuk bertahan?” Tanya Seorin ingin tau. Ia ingat Donghae sering menceritakan tentang pacarnya saat mereka masih saling berkomunikasi via internet. Wajah Donghae yang ceria tiba-tiba berubah drastis. Dia tak lagi memberikan senyum termanisnya untuk Seorin.

“Sudah berakhir, semuanya sudah berakhir.” Ucap Donghae lirih. “Karena sekarang aku sedang mencintai seorang wanita yang hatinya tertambat pada pria lain.”
”Oppa, maaf. Apakah pertanyaanku kembali membuat sedih?” Seorin menautkan alisnya, menyesal atas apa yang ia tanyakan.
”Aniya. Aku sudah tidak menyesali perpisahan kami lagi. Toh sekarang aku di kelilingi oleh teman-teman dan orang yang kusayangi, aku akan baik-baik saja.”

***

Minho memandangi wajahnya di cermin sekali lagi untuk memastikan tidak ada memar diwajahnya akibat pukulan Dongwoon karena dia tidak ingin Tuan dan Nyonya Lee bertanya tentang lukanya. Kecuali keningnya yang sedikit tergores dan bisa ia tutupi dengan rambut, bagian wajah lainnya terlihat baik-baik saja. Minho menghembuskan nafas lega.

Minho turun ke dapur dan langsung disambut oleh aroma masakan yang menggugah selera. Setelah pertengkaran konyolnya dengan Dongwoon yang menguras seluruh tenaganya, sekarang dia benar-benar kelaparan.

“Perlu bantuanku?” Tanya Minho dengan sopan pada Nyonya Lee yang sedang menuangkan sup ke dalam mangkuk.
”Tidak perlu, makan malamnya baru saja selesai kusiapkan.” Jawab Nyonya Lee dengan sebuah senyuman hangat khas seorang ibu. Minho memperhatikan pakaian Nyonya Lee yang terlihat sangat rapi dan sudah bisa menduga kalau Nyonya Lee akan pergi—lagi—malam ini. Padahal baru dua hari yang lalu Tuan dan Nyonya Lee pulang dari liburan mereka di Jeju. Diam-diam Minho merasa iri melihat pasangan suami-istri yang terus terlihat mesra itu karena dia sendiri tidak bisa melihat kemesraan itu dari orangtuanya—Ibunya telah meninggal sejak ia masih kanak-kanak.

“Eommonim akan pergi, jadi tolong jaga rumah dan Seorin ya.” Ucap Nyonya Lee seperti biasa sambil melepaskan celemeknya yang disambut dengan anggukan dari Minho yang sudah tidak sabar untuk makan. “Dan katakan pada Seorin untuk memanaskan sup nya sebelum ia makan.” Ucap Nyonya Lee lagi yang kali ini membuat kening Minho berkerut.
”Seorin belum pulang?” Tanya Minho ragu.

“Ne, tadi siang dia menelpon dan mengatakan dia akan pulang agak larut karena Donghae baru pulang dari Paris dan mengajaknya bermain.” Jawab Nyonya Lee yang tidak menyadari perubahan suasana hati Minho. Setelah sedikit berbasa-basi, Nyonya Lee pergi untuk menemui Tuan Lee dikantornya.

Minho menyuapkan nasi ke dalam mulutnya bahkan tanpa menambahkan lauk apapun. Setelah beberapa suapan, Minho menghentakkan sumpitnya ke atas meja dengan geram. Perutnya yang tadi berteriak-teriak kelaparan sekarang menguap begitu saja, ia merasa sangat kenyang dan tidak bisa menelan makanan apapun untuk dicerna di dalam perutnya.

“Lee Seorin, kau menantangku, huh?” Minho mengacak rambutnya sendiri dengan geram dan beranjak naik ke lantai dua, tak lagi mempedulikan makan malamnya. Alih-alih masuk ke kamarnya sendiri, Minho justru masuk ke kamar Seorin dan berbaring diatas tempat tidur Seorin sambil menunggu yeoja itu pulang.

Minho mendengar deru mesin mobil terhenti di depan rumah dan segera beranjak ke jendela untuk melihat siapa yang turun dari mobil.

Donghae turun dari mobilnya dan dengan cepat memutari mobilnya untuk membukakan pintu bagi Seorin. Seorin terkekeh pelan.
”Kau tidak perlu melakukan hal itu, oppa.” Tukas Seorin lembut.
”Wae? Aku suka membukakan pintu untukmu.” Balas Donghae santai.

“Kau tinggal di mana sekarang oppa?” Tanya Seorin lebih serius karena dia tau Donghae kembali ke Seoul karena tidak ingin hidup dengan salah satu orangtuanya.

“Jangan mengkhawatirkanku. Leeteuk Hyung dengan senang hati menampungku di rumahnya.” Donghae mengacak rambut Seorin dengan pelan.

“Hmm. Maaf oppa, aku tidak bisa menemanimu di saat-saat terburuk dalam hidupmu.” Seorin maju selangkah dan memeluk Donghae. Meski ia tidak bisa selalu berada di sisi Donghae untuk memberinya semangat, tapi Seorin ingin Donghae tetap ingat bahwa dia akan selalu menemaninya. Donghae balas memeluk Seorin, merasakan kehangatan yang sudah lama hilang darinya. Donghae melepaskan Seorin setelah mereka cukup lama berdiam diri dalam posisi itu.
”Tenanglah, aku sudah baik-baik saja sekarang. Aku akan menemuimu lagi secepatnya. Masuklah, cuacanya mulai dingin.” Donghae mendorong Seorin masuk ke dalam rumah dan melajukan mobilnya dengan cepat.

Minho menggertakkan giginya dengan erat. Meski ia tidak bisa mendengar percakapan Seorin dan Donghae, tapi dia bisa melihat dengan jelas apa saja yang Seorin dan Donghae lakukan dan itu kembali membuatnya panas, sama seperti ketika dia melihat mereka berdua di cafetaria rumah sakit.

Minho duduk di tepi tempat tidur Seorin. Kedua jarinya saling bertautan sementara ia mendaratkan tangannya diatas kakinya dan menundukkan wajahnya. Ia benar-benar kesal. Tidak pernah ia merasa sekesal ini sebelumnya hingga rasanya ia bisa meledak detik itu juga.

Seorin masuk ke dalam kamarnya, terlonjak pelan karena sama sekali tidak menduga Minho ada di dalam kamarnya.

“Apa yang kau lakukan di kamarku?” Tanya Seorin bingung, masih berdiri diambang pintu. Minho mendongakkan wajahnya, menatap Seorin dengan sinis yang berhasil membuat Seorin bergidik ngeri.

“Bukankah aku sudah memperingatimu untuk tidak dekat-dekat lagi dengan namja itu?” Tanya Minho yang masih berusaha menjaga agar nada suaranya tidak meninggi. Kerutan diwajah Seorin berkurang sedikit demi sedikit setelah dia mengerti bahwa yang dimaksud oleh Minho adalah Donghae. Seorin menghela nafas pelan merasa lelah karena harus menjelaskan hal ini berulang kali pada Minho, meski ia sendiri masih tidak yakin kenapa dia harus menjelaskannya pada Minho.

“Dia itu oppa-ku. Dan kami sudah lama tidak bertemu. Jadi jangan halang-halangi aku untuk dekat dengannya.” Kata Seorin mencoba untuk tidak berteriak di wajah Minho.

“Tapi aku sudah melarangmu untuk tidak memeluknya lagi. Kau melanggar perintahku, Seorin. Dan kau harus dihukum.” Ucap Minho sengit.

“Tidak! Berhenti mempermainkanku, Choi Minho. Apa kau tidak cukup bersenang-senang selama ini, huh?” Tanya Seorin tajam yang berhasil membuat Minho terhenyak. Tidak pernah Seorin bersikap sekeras ini sebelumnya. Tidak sebelum Lee Donghae muncul kembali.

Minho mengatupkan rahangnya dengan erat, menahan keinginan dirinya sendiri untuk menarik Seorin saat ini juga. Minho membiarkan kesunyian melanda mereka selama beberapa detik hanya agar dia bisa menenangkan dirinya. Seorin bergeming ditempatnya berdiri, terus memperhatikan Minho, menanti apa yang akan dikatakan namja itu selanjutnya.
”Fine. Kau bisa lihat namamu terpajang di papan pengumuman besok.” Minho mengangkat pundaknya dan berjalan melewati Seorin.

‘Tunggu!” Teriak Seorin sambil menahan pergelangan tangan Minho.” Apa maksudmu? Bukankah kita sudah membuat kesepakatan tentang hal itu?” Tanya Seorin tidak percaya. Minho melirik Seorin dengan tajam dan tersenyum sinis.

“Kau tidak bersikap manis padaku. Dan kau menolak hukumanmu, jadi jangan salahkan aku kalau aku membatalkan kesepakatan kita.”
Seorin memejamkan matanya dan menghembuskan nafasnya dengan berat. Beberapa waktu yang lalu Minho mengakui bahwa mereka pacaran dan sekarang Minho akan mengatakan pada seluruh sekolah bahwa mereka tinggal serumah? Apa yang akan dipikirkan oleh teman-temannya? Seorin tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.

“Baiklah, kau menang Choi Minho. Katakan apa yang kau mau.” Ucap Seorin pasrah setelah ia memikirkan dengan baik segala resiko yang akan ia terima.

Minho tersenyum tipis, senang karena senjata terakhirnya masih ampuh untuk membuat Seorin menuruti kata-katanya. Minho memutar tubuhnya hingga ia bisa menatap Seorin. Minho meletakkan kedua tangannya di pinggang Seorin dengan lembut, agak membuat Seorin terkesiap padahal ini sudah ke-sejuta kalinya Minho menyentuh dia seperti itu..

“Kiss me.” Bisik Minho dengan suara agak serak. Seorin membelalakkan matanya, benarkah Minho baru saja menyuruh dia untuk menciumnya? Seorin menahan nafasnya selama beberapa detik. Permintaan Minho memang tidak pernah ada yang normal bagi Seorin. Seorin terlihat ragu, apakah dia harus menurutinya? Tapi toh ini bukan kali  pertamanya. Meski dengan mengingat kejadian-kejadian itu agak membuat Seorin kesal, tapi kenyataanya mereka memang sudah sering melakukannya. Jadi apa yang membuat hal ini berbeda sekarang? Seorin hanya akan menempelkan bibirnya pada Minho selama beberapa detik, setelah itu semuanya akan selesai, Minho tidak akan lagi mengganggunya.

Seorin berjinjit diujung jari-jari kakinya agar ia bisa menyejajarkan wajahnya dengan Minho sementara Minho sendiri ikut menundukkan wajahnya, memudahkan Seorin untuk meraihnya. Seperti yang telah direncanakan, Seorin menempelkan bibir mereka selama beberapa detik, tapi saat ia ingin melepaskan diri, Minho justru menahannya. Minho menarik Seorin semakin mendekat, melumat bibir Seorin dengan ganas. Seorin membuka matanya saat lidah hangat Minho menjilati bibirnya. Minho menggigiti bibir bawah Seorin dengan pelan, tidak ingin melukai yeoja itu, tapi juga ingin agar yeoja itu membuka mulutnya. Seorin kembali memejamkan matanya, terlalu lemas dengan perlakuan Minho. Seorin membuka mulutnya, memberikan celah kecil bagi Minho, tapi dengan lincahnya Minho bisa menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Seorin. Seorin meremas pakaian Minho dengan erat agar ia tidak kehilangan tenaganya untuk berdiri. Minho melangkah maju dengan sangat perlahan, memaksa Seorin untuk melangkah mundur, membuat yeoja itu menabrak pinggiran tempat tidur dan terjatuh diatasnya masih bersama dengan Minho yang enggan untuk menghentikan ciuman mereka.

Lidah Minho menyenggol lidah Seorin sebelum Minho menghentikan ciuman mereka. Seorin menatap Minho dengan nafasnya yang tersengal-sengal, sama seperti Minho. Minho menundukkan wajahnya, ia menyibakkan rambut Seorin ke sisi lain sebelum ia membenamkan kepalanya di balik leher Seorin.

Seorin bisa merasakan cairan hangat dari dalam mulut Minho menyentuh permukaan lehernya. Meski sekarang Seorin sudah agak terbiasa dengan kegemaran Minho yang senang sekali menciumi lehernya, tetap saja Seorin masih merasa berdebar-debar karenanya.

“Mi-minho, hen.. aahhhh…tikan!”  Seorin mendesah tanpa ia sadari saat Minho menggigiti kulit lehernya. Seorin mencengkram lengan Minho dengan keras untuk menghentikan dirinya sendiri mengluarkan suara-suara aneh lainnya saat Minho menjilati tempat yang ia gigit tadi. Minho mengangkat kepalanya, melihat bekas kemerahan di leher Seorin yang merupakan hasil karyanya dengan seringaian puas.

“Kau adalah  milikku, jadi jangan mendekati pria lain dan membuatku cemburu.” Ucap Minho pelan.

“N-ne?” Tanya Seorin lagi. Kata-kata terakhir Minho membuat dia ragu. Minho tertawa pelan mengetahui bahwa Seorin sekarang sedang meragukan pendengarannya sendiri.

“Kau tidak salah dengar. Don’t make me jealous again, babe..” Minho menyapukan ibu jarinya diatas bibir Seorin yang agak bergetar pelan setelah mendapatkan sentuhan jari Minho. Minho mendekatkan wajahnya ke arah Seorin tanpa sekalipun mengalihkan tatapannya dari Seorin. Ia ingin melumat bibir Seorin lagi, menjelajahi setiap ruang dalam mulutnya hingga ia rasa ia tidak akan pernah bosan untuk melakukannya setiap saat. Tapi suara teriakan Tuan dan Nyonya Lee dari ruang tamu yang memanggil mereka berdua untuk turun membuat Minho mengumpat pelan.

Padahal orangtua Seorin biasanya selalu pulang lebih larut. Jadi kenapa mereka justru pulang secepat ini disaat Minho baru saja mau memulai kesenangannya? Minho dan Seorin menuruni anak tangga satu per satu hampir berdampingan.

Minho melihat sesosok pria yang ia kenal setelah ia berada di anak tangga terbawah.

“Appa?” Tanya Minho lebih kepada dirinya sendiri. Ia melihat Tuan Choi sedang tertawa bersama Tuan Lee sementara Nyonya Lee sendiri tidak kelihatan.

“Oh, Minho-ya. Bagaimana kabarmu?” Tuan Choi berdiri dari tempat duduknya dan mendekati Minho untuk merangkul pundaknya dan menepuk punggungnya dengan pelan.

“Appa, kau sudah kembali ke Seoul dan sama sekali tidak mengabariku?” Tanya Minho yang tidak mempedulikan pertanyaan Tuan Choi.

“Appa baru saja pulang hari ini dan langsung ke sini untuk menjemputmu. Meninggalkanmu seorang diri di rumah yang sama sekali asing bagimu selama hampir sebulan pasti benar-benar menyulitkanmu.” Ucap Tuan Choi dengan nada suaranya yang kebapakan.

“Tidak juga, aku cukup senang.” Minho bergumam sangat pelan agar tidak ada yang mendengarnya. Pandangan Tuan Choi teralih pada Seorin yang berdiri hampir di samping Minho. Tuan Choi memperlihatkan senyum lebar dan hangat miliknya yang membuat dia terlihat sangat mirip dengan anaknya.

“Dan kau pasti Lee Seorin, kan? Terima kasih sudah bersedia tinggal serumah dengan anakku. Dia pasti selalu menyulitkanmu, kan?”
”Ya.” Itulah yang ingin dijawab Seorin. Tapi sebagai seorang yeoja yang sopan Seorin hanya tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya.

Setelah sedikit berbasa-basi, Tuan Choi meminta Minho untuk membereskan barang-barangnya.

Seorin berdiri di depan pintu kamar sambil memperhatikan Minho yang berjalan bolak-balik di dalam ruangannya untuk mengemasi barang-barangnya.

Akhirnya Seorin bisa bebas dari kejahilan Minho. Seorin tidak perlu lagi takut teman sekolahnya akan tau kalau mereka tinggal bersama. Harusnya dia merasa senang. Tapi tidak, karena sesungguhnya ia mulai merasa kehilangan. Sama seperti kamar ini yang akan dikosongkan beberapa menit lagi, rumahnya juga akan terasa kosong hampir setiap malam karena sekarang hanya tinggal ia seorang diri. Seorin menundukkan wajahnya, tidak ingin membayangkan hal-hal aneh seperti Minho akan tinggal di rumahnya selamanya. Seorin mendongak dengan cepat saat ia merasakan sebuah tangan yang hangat merengkuh pipinya.

“Kau sedih karena aku tidak lagi tinggal di sini?” Minho menyeringai, nada suaranya jelas terdengar sangat menyebalkan, tapi Seorin tidak bisa merasa kesal lagi. Rasa sedih dan kecewa lebih mendominasi dirinya saat ini. Seringaian diwajah Minho menghilang begitu ia melihat sorot kesedihan dimata Seorin. Ekspresi Minho melembut.

“Kita masih bisa bertemu di sekolah kan? Kita berpacaran, kau ingat?” Tanya Minho lembut. Seorin memalingkan wajahnya dengan canggung. Apakah ekspresi wajahnya bisa terbaca dengan sangat jelas?

“Aku tidak sedih karena kau tidak tinggal disini lagi. Aku justru senang karena tidak harus bertemu denganmu” Ucap Seorin tanpa ia pikirkan lebih dulu. Kata-kata itu keluar begitu saja dan dia agak menyesalinya. Bagaimana kalau Minho marah dan benar-benar tidak mau bertemu dengannya lagi?

Minho tertawa pelan, mengacak rambut Seorin dan mengambil barang-barangnya keluar.

“Sampai jumpa besok.” Bisik Minho pelan. Seorin tidak menoleh untuk menatap Minho ataupun membalas kata-kata Minho karena sekarang dia sedang sibuk untuk menenangkan detak jantungnya sendiri. Seorin menempelkan telapak tangannya yang kecil ke pipi meronanya yang terasa memanas. Seorin terus tersenyum kecil pada dirinya sendiri sebelum ia turun untuk mengantar Minho dan Tuan Choi bersama orangtuanya.

***

Seorin menggerutu sepanjang langkahnya. Bukankah Minho mengatakan ‘sampai jumpa besok’ sebelum dia pulang? Tapi kenyataannya Seorin belum melihat Minho sama sekali hari ini bahkan sampai jam pulang sekolah. Entah sudah berapa kali dia ke toilet dalam satu hari ini hanya karena ingin melewati ruangan OSIS dan melihat Minho. Tapi lagi-lagi ia tidak bisa melihat Minho karena Minho sama sekali tidak ada di ruang OSIS. Saat jam makan siang pun, Minho tidak ada di kantin, tidak juga di atap gedung di mana biasanya dia sering menghabiskan jam makan siangnya.

Ada di mana namja satu itu?

Seorin menunduk, memandang kerikil yang ada di depannya dan menendangnya dengan geram.

“Dasar pembohong. Aku bahkan tidak mendengar suaranya yang menyebalkan itu.” Omel Seorin tidak ada henti-hentinya.

“Suara siapa yang menyebalkan?” Sebuah suara berbisik ditelinga Seorin sambil menghembuskan nafas hangat ke leher Seorin dengan tiba-tiba yang mau tidak mau membuat Seorin melompat kaget. Orang itu terkekeh, berjalan memutar ke depan Seorin yang sekarang tengah mengelus dadanya karena terkejut.

“Kau seperti hantu.” Omel Seorin yang masih merasa kesal dengan namja yang ada dihadapannya. Kening Minho berkerut samar-samar sebelum kerutan itu menghilangan saat digantikan senyuman.

“Maaf, tadi siang aku terjebak di ruang guru bersama Mr. Park karena dia memintaku untuk membantu mengoreksi hasil ulangan.” Jelas Minho setelah ia sadar apa yang menyebabkan Seorin jadi sewot-sewotan seperti ini. Seorin memberengutkan wajahnya, berpura-pura kalau bukan itu yang membuat dia kesal setengah mati.

“Jadi, mau kuantar kau pulang?” Tanya Minho datar. Seorin melirik ke sana kemari untuk melihat kendaraan Minho, tapi dia tidak melihat ada kendaraan apapun yang ada di dekat Minho.

“Aku tidak bawa kendaraan, tapi aku bisa menemanimu jalan kaki. Kau keberatan?” Tanya Minho lagi.

“Oh, tidak. Kupikir kau bawa kendaraan.” Seorin menggelengkan kepalanya.

“Apa orangtuamu keluar lagi malam ini? Boleh aku datang dan makan malam di rumahmu?” Tanya Minho setelah Seorin mengangguk sebagai jawaban.

“Kau mau makan ramen?”
”Aniya, aku yang akan masak makan malam dan kita bisa belanja bahan-bahannya sekarang, eottheoyo?” Tawar Minho. Seorin menatap Minho dengan curiga. Bagaimana bisa namja yang selalu bertindak seenaknya ini memasak? Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba, kan?

Minho dan Seorin berjalan berdampingan hingga ke halte bus disaat yang bersamaan saat bus tiba. Untungnya bus tidak begitu ramai hingga Seorin dan Minho bisa dapat tempat duduk dua dari belakang.

“Kau kecewa karena aku tidak bawa kendaraan?” Tanya Minho tiba-tiba, kalau saja Seorin tidak nyaman naik bus.
”Kenapa aku harus kecewa? Aku sudah sering naik bus kok.” Jawab Seorin cuek. Seorin memutar posisi duduknya dan agak menghadap ke arah Minho. Seorin menatap Minho selama beberapa detik, ada yang ingin ia tanyakan tapi ia tampak agak ragu. Pantaskah jika ia bertanya? Maukah Minho menjawab pertanyaannya?
”Apa yang ingin kau tanyakan?” Minho ikut memutar posisi duduknya.

“Hmm, bukankah orang-orang seperti kalian biasanya lebih suka naik kendaraan kalian yang mewah?” Tanya Seorin akhirnya.

“Kalau aku bawa kendaraan, aku tidak akan bisa menghentikan diriku untuk tidak ngebut-ngebutan. Jadi, lebih aman jalan kaki atau naik bus. Aku kan tidak bisa memaksa supirnya untuk ngebut.” Minho terkekeh pelan diikuti Seorin.

***

“Sayuran yang ini?” Seorin mengangkat seikat sayur ditangannya dan menunjukkannya pada Minho yang mendorong troli disampingnya. Minho mengernyit dan mengambil sayuran itu dari tangan Seorin lalu meletakkannya kembali.

“Sayuran itu tidak segar.” Ucap Minho singkat. Seorin kembali mengangkat seikat sayuran lainnya dan menunjukkannya pada Minho, tapi lagi-lagi Minho menggelengkan kepalanya.

“Aigoo, bagaimana kau bisa jadi istri yang baik kalau kau bahkan tidak bisa membedakan antara sayur yang segar dan tidak.” Ejek Minho. Seorin memberengut setelah mendengar kata-kata Minho. Seorin berjalan dengan cepat, tidak mempedulikan Minho yang memanggil namanya dan berlari agak kesusahan karena masih harus terus mendorong troli.

“Hei, jangan ngambek. Aku tidak keberatan walau kau tidak bisa membedakan antara sayur yang segar dengan yang tidak asalkan kau bisa memuaskanku.” Ucap Minho nakal setelah ia berhasil mengejar Seorin. Seorin memberikan tatapan mautnya yang sama sekali tidak memberikan efek apapun pada Minho.

“Pervert, as always.” Gumam Seorin sambil melipat kedua tangannya. Seorin berbelok di bagian rak daging untuk membeli ayam karena Minho bilang dia akan memasak samgyetang sebagai makan malam mereka.

“Seorin? Astaga! Benarkah itu kau!?” Tanya sebuah suara yang terdengar sangat antusias. Seorin dan Minho mendongak untuk melihat pemilik suara yang heboh itu. Alis Minho saling bertautan melihat seorang namja yang tidak ia kenal menyapa Seorin.

“Heechul oppa!” Panggil Seorin setelah ia mengenali namja berkulit putih bak putri itu. Minho melirik ke arah Seorin, mengamati yeoja itu kalau saja dia berlari ke sana dan memeluk namja itu seperti yang dia lakukan pada Donghae. Tapi Seorin tidak melakukannya karena Seorin masih terus berdiri di samping Minho.

Heechul berjalan mendekati Seorin, sama sekali tidak menyadari kehadiran Minho disamping Seorin.

“Kau tidak mau memberikan pelukan untuk oppa cantik-mu ini?” Heechul merentangkan kedua tangannya, tersenyum lebar pada Seorin. Seorin bergerak-gerak tidak tenang di tempatnya berdiri. Seorin melirik ke arah Minho yang masih menatap Heechul dengan tajam. Heechul mengernyit, menanti kenapa Seorin tak juga memeluknya padahal mereka tidak pernah lagi bertemu sejak kepindahan Donghae ke Paris. Mengambil inisiatif terlebih dahulu, Heechul melangkah maju, bersiap untuk membenamkan tubuh mungil Seorin ke dalam dekapannya.

Minho melepaskan troli yang ia pegang dan berdiri di depan Seorin, menghalangi Heechul untuk menyentuh Seorin. Belum sempat Heechul mendekap Seorin, seseorang menarik kemejanya dari belakang dan membuat ia melangkah mundur.

“YAAAA!” Bentak Heechul pada orang yang menariknya. Donghae muncul dari balik punggung Heechul dan tertawa kecil melihat namja yang sekarang sedang merapikan kemejanya.

“Jangan ganggu dia hyung, nanti pacarnya marah.” Ucap Donghae dengan nada setengah mengejek yang membuat wajah Seorin memanas.

“Huh?” Tanya Heechul bingung. Heechul menatap Minho dan Seorin bergantian selama beberapa waktu sebelum akhirnya sebuah pemikiran masuk ke dalam benaknya.

“Oh, jadi pria ini pacarnya? Kupikir hanya orang lewat saja tadi.” Sahut Heechul cuek. Minho hanya bisa memutar bola matanya mendengar kata-kata Heechul. Orang lewat macam apa yang terus berdiri di sana dan tidak bergerak?

“Maaf mengganggu waktu berdua kalian. Akan kubawa hyung satu ini ke tempat yang aman sebelum dia mengganggu kalian.” Donghae menarik tangan Heechul yang masih mengomelinya. Donghae menghentikan langkahnya sebelum dia melewati Seorin. Donghae menatap Minho dari balik pundak Seorin selama sesaat yang dibalas oleh Minho. Donghae kembali menatap Seorin dan tersenyum kecil.

“Oppa akan menghubungimu lagi nanti. Dan jangan khawatir, oppa akan baik-baik saja.”  Donghae meyakinkan Seorin karena ia masih bisa melihat sorot kekhawatiran dari wajah Seorin. Seorin mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya setelah ia tak lagi bisa melihat sosok kedua namja itu.

“Yaaaa.” Tegur Minho sambil menyenggol pelan lengan Seorin. Seorin bergumam pelan dan mendongak untuk menatap Minho.

“Mau cemilan?” Minho mengangkat sekotak biskuit entah dari mana yang tidak diketahui Seorin dan menyodorkannya ke hadapan Seorin. Seorin mengerjap beberapa detik sebelum mengangguk.

Minho meletakkan biskuit tersebut di dalam troli dan tidak berhenti sampai di situ saja. Minho memasukkan beberapa kotak biskuit serupa ke dalam troli dan cemilan-cemilan lainnya. Seorin membulatkan matanya. Troli mereka yang tadinya kosong sekarang hampir penuh dengan semua cemilan yang diambil oleh Minho.

“Yaaa! Kenapa kau ambil banyak sekali? Kita tidak akan bisa memakan semuanya.” Omel Seorin geram. Seorin mengeluarkan beberapa cemilan dari dalam troli, meletakkannya kembali ke rak sementara Minho terus berjalan dan meraih cemilan lainnya lalu memasukkannya ke troli.

Seorin menggerutu keras pada Minho yang masih tidak peduli. Seberapa banyak pun  Seorin mengeluarkan cemilannya, Minho akan memasukkan cemilan lainnya, membuat Seorin sibuk setengah mati. Minho tersenyum puas. Dia lebih suka melihat Seorin mengomel seperti ini daripada memikirkan namja lain tepat di depan wajahnya.

“Choi Minho, berhenti mengambil cemilan-cemilan itu terus dan bantu aku untuk mengembalikannya!” Teriak Seorin akhirnya setelah ia tidak tahan melihat tingkah Minho. Minho mengangguk setelah merasa puas dan yakin Seorin memang tak lagi memikirkan Donghae.

“Baiklah, aku akan membantumu.” Sahut Minho cuek. Minho berdiri di belakang Seorin, meletakkan cemilan yang sengaja ia ambil di rak teratas agar Seorin tidak bisa meraihnya.

“Selesai!” Ucap Seorin senang. Seorin memutar tubuhnya tapi langsung membeku ditempatnya berdiri saat ia melihat wajah Minho tepat diatasnya. Minho menatap Seorin dengan lembut, berbeda dengan tatapan jahilnya selama ini dan hal itu agak membuat Seorin gugup.

Minho mendekatkan wajahnya ke Seorin, merengkuhnya dalam hitungan detik dan melumat bibir Seorin dengan pelan. Seorin memejamkan matanya dengan cepat, merasakan bibir Minho menyapu bibirnya. Seorin tidak meronta sama sekali meski ia tau ia bisa saja melepaskan diri dari Minho saat ini karena Minho sama sekali tidak mendekapnya. Tapi ke mana perginya akal sehat miliknya saat ini?

Minho baru saja akan memperdalam ciumannya saat mereka mendengar suara roda troli yang berderu semakin kencang, menandakan sang pemilik troli sedang berada di dekat mereka. Sontak Seorin mendorong tubuh Minho dan langsung berbalik, berpura-pura melihat cemilan yang ada di rak untuk menghilangkan kegugupannya. Minho memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, memperhatikan keugugpan Seorin sambil terkekeh pelan.

“Yang benar saja! Kenapa akhir pekan seperti ini aku harus bersama denganmu juga?” Omel sebuah suara diikuti deru troli yang tadi didengar oleh Seorin.

“Kau pikir aku juga senang? Asal kau tau saja, aku punya kencan penting malam ini. Tapi karena orangtuamu mengusulkan makan malam ini, aku terpaksa harus membatalkannya.” Gerutu suara lainnya, seorang pria.

“Ini salahmu. Kenapa kau tidak membatalkan pertunangan konyol ini?”
”Kalau aku bisa melakukannya, pasti kulakukan. Tapi aku tau dengan pasti, pertunangan ini tidak akan bisa diganggu gugat. Jadi, Han Yuna, suka atau tidak suka aku akan terus menempel padamu.” Jonghyun menyeringai senang melihat wajah Yuna yang memberengut.

“Yuna?” Panggil Seorin agak keras saat ia mendengar nama sahabatnya. Sedetik kemudian, dua sosok orang yang tadi suaranya di dengar oleh Seorin berbelok ke tempat Seorin berdiri.

Minho mengangkat kedua alisnya saat melihat Jonghyun dan Yuna jalan bersama meskipun seperti yang didengar dari ucapan-ucapan mereka sebelumnya, mereka sedang ribut.

“Omo!!” Yuna melompat pelan saat melihat Seorin memicingkan matanya dan mendekati dirinya. Jonghyun memukul keningnya sendiri lalu menundukkan wajahnya dan membenamkannya diatas pegangan troli.

“Bersedia memberitaukanku apa maksud dari pembicaraan kalian tadi?” Tanya Seorin sengit.

Jonghyun bersiul pelan, melihat ke sisi lain dan berpura-pura tidak mendengar pertanyaa Seorin. Jonghyun menarik mundur trolinya, bermaksud melarikan diri. Tapi entah sejak kapan Minho sudah berdiri di belakang Jonghyun, membuat namja itu tak sengaja menabrak tubuh atletis Minho.

“Aku juga ingin tau, hyung.” Minho tersenyum penuh arti pada Jonghyun.

Jonghyun dan Yuna saling bertukar pandang dan mengerang bersamaan.

TO BE CONTINUE . . .

a/n ::

Nah, nah, udah tau kan siapa yang bakal diceritain di chapter selanjutnya??

Siapa ya?? Kekeke~

btw, untuk next chapter mungkin baru bisa dipublish di minggu ketiga Juni karena awal bulan aku gak bisa lanjutin ff

Don’t rush me and thanks for understanding^^~

©2011 SF3SI, Yuyu.

This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

197 thoughts on “The Pervert Nerd – Glasses 7

  1. suvils | intantaemin | Sora09key | Kunang Anna | Max’sta | nozza | 송 혀 애 | rossa sarange minho oppa | reeenny | Keyhyun | 0201itha | Grace~~~ | mila | vanyaflames~ | SoniaCutezz | zahra | Ara | chota | Vivia | sarah hyuuga | kyuwon96 | autumnsnowers | Cho Chaehyun Sabrina | Nataem | Minniemint | dellanorega | Park Min Mi | Kim Ni Sha | LeeShin91 | shima | summersnow | Hikma
    gomawoyo^^

  2. Hi i’m new reader,maaph baru comment.hbs penasaran bgt sm kelanjutan2nya. . .Ahahahaha. . .ni FF agak drama,tp lucu bgt euy. . . ! Totally daebak !! Ada bang ikan yg unyu2 pula😀

  3. Pasti jjong-yuna..couple yg dtunggu2 nihh wkwkk..
    ada yeoja yg dsykai donghae? seorin kh??
    Wahh minho terang-terangan ngaku cemburu apa itvaerinya kali dia mulai suka sama seorin?! okehh tunggu sampai yroja masa lalunya kembali..apa minho akan goyah atau tidak hmm..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s