We Walk [Part X] – Minho’s Anxiety

Author : diyawonnie

Title : We Walk [Part X] – Minho’s Anxiety

Cast : Kim Jira (imaginary cast), SHINee, and Jira’s Mom.

Genre : Friendship, Romance, and Life.

BEBERAPA waktu lalu Jinki memergokiku dan Minho sedang bersama. Ia akhirnya mengetahui hubungan kami. Ia marah, tentu saja. Jika aku berada di posisinya, hal itu pulalah yang kulakukan. Aku jadi merasa sangat bersalah. Alasan ‘takut dilaporkan’ mungkin tak masuk akal dan sedikit kejam mengingat Jinki bukan tipe orang yang suka mengkhianati temannya.

“Benar dugaanku, kalian memang pacaran…”

“Onew-hyung?!” gumam Minho.

Jinki memukul pintu atap dan berbalik pergi. Minho bergerak cepat, ia berlari mengejar leadernya dan aku mengikuti dari belakang.

“Lepaskan!” pinta Jinki dingin.

Minho mencengkeram jaketnya erat. “Beri kesempatan untuk kami bicara, Hyung!”

Jinki menghela napasnya dan berbalik. Tatapannya sangat dingin. Dia kembali… Jinki yang tak kuinginkan kembali lagi. Ekspresinya sama seperti dua tahun lalu, sangat tidak akrab.

“Jika kata ‘maaf’ yang ingin kalian katakan, jangan harap aku bersedia mendengarnya,” ujarnya sinis seraya menarik lengannya dari cengkeraman Minho dan buru-buru pergi meninggalkan kami.

Tangan Minho masih terulur, matanya terbelalak lebar dengan mulut terbuka. Mungkin ia tak menyangka Jinki bisa berkata seperti itu. Ini pertama kalinya bagi Minho tapi tidak untukku, aku sudah pernah merasakannya dulu. Tapi ini lain, aku bisa merasakan sakit hatinya.

Kembali ke masa kini…

Aku tak mengerti dengan jalan pikiran perusahaan. Setelah membuat skandal palsu JongKyung, mereka mendebutkannya sebagai member dari grup vokal project sementara, SM The Ballad Volume 1. Tidakkah ini aneh? Jika memang terjadi skandal, seperti yang dipikirkan banyak orang, tidak seharusnya sebuah perusahaan mempromosikannya dalam masa sulit seperti ini. Pada umumnya, perusahaan akan ‘menyembunyikan’ artisnya untuk sementara waktu. Jadi, apa sebenarnya yang sedang direncanakan mereka?

“Apa yang sedang kau pikirkan?” Jonghyun tiba-tiba muncul di depanku seperti makhluk halus.

“Ah, kau mengagetkanku. Yaa, apa yang sedang kalian lakukan di sini?” tanyaku dengan pena teracung ke wajah Jjong dan Kibum.

“Makan tentu saja. Wow, Noona, cafému semakin ramai,” ujar Kibum sambil menatap berkeliling.

“Jangan menyindir! Tidak lucu…”

Dia keterlaluan, candaannya sangat tidak pas dengan suasana hatiku saat ini. Akhir-akhir ini café sangat sepi dan aku cukup stress memikirkannya, dan dia muncul dengan sindiran yang menusuk ulu hati. Menjengkelkan!

“Jira-ya, apa itu?” tanya Jjong menunjuk mataku.

“Apa?”

“Kau memiliki garis hitam di bawah matamu. Apa yang kau kerjakan akhir-akhir ini?”

Sorotan mata Jjong yang teduh membuatku berhenti mencorat-coret agenda. Dia tersenyum hangat, padahal aku tahu dibaliknya ia merasa sakit. Hyebin tak kunjung kembali dan sama sekali tak menghubunginya. Itu pasti sangat menyiksa.

“Jonghyun-ah…,” panggilku sambil membanting agenda dan membenamkan kepalaku di atasnya. “Ottokhae?”

Kudengar suara sepatunya mendekat. Sepertinya ia berkeliling mengitari bar dan masuk menghampiriku. “Wae?” tanyanya.

“Jika café terus menerus seperti ini, eomma bisa kemari…”

“Lalu?”

“Astaga, jangan sampai hal itu terjadi,” celetuk Kibum dengan kedua tangan terlipat di atas bar dan dagu menempel di atasnya. “Sungguh, Noona, pikirkan cara agar café ini selamat.”

“Ah ya, ajumeoni. Aku juga tidak siap melihatnya ada di sini…,” Jjong sedikit bergidik dan menambahkan, “…setidaknya dalam waktu dekat ini. Mohon jangan tersinggung!”

Aku tersenyum. Ya, tentu saja. Ia memiliki kenangan buruk dengan ibuku. Kau tahu kan kalau eomma cinta mati dengan fashion dan manner? Sebelum debut, Jjong tidak memiliki semua itu, kecuali manner, itu pun hanya sebatas sopan santun terhadap orang yang lebih tua. Namun eomma menceramahinya habis-habisan mengenai fashion. Itulah mengapa Kibum sudah fashionable sejak dulu sedangkan aku memilih bergaya seperti lelaki. Eomma sangat mengerikan, walaupun di sisi lain ia lemah hati.

“Bukankah kalian mau makan? Cepat pesan kalau begitu!”

“Mana bisa seperti itu. Selera makanku hilang setelah mendengar kondisi café ini di ambang kebangkrutan,” ujar Kibum cuek dan sok simpatik.

“Jangan bicara sembarangan! Siapa yang mengatakan café ini akan bangkrut?!” omelku.

“Tetap saja aku tak enak menumpang makan di sini.”

“Kau hanya perlu membayarnya. Bukankah kau ini penyanyi?”

“Kami tak bawa uang,” sahut Jjong.

“Demi Tuhan, kalian ini artis yang miskin!”

Mereka berdua tertawa memasang wajah memelas dan itu tak mempan untukku saat ini. Ponselku berbunyi dan kaki lemas saat membaca sebuah nama di layar.

“Ne, Eomma?” jawabku. Bisa kulihat ekspresi membeku dari kedua anak lelaki itu.

“Bagaimana dengan café? Aku akan segera ke sana jika keadaannya masih memburuk.”

“T-tak perlu. Aku bisa menanganinya. Kumohon percayalah padaku, Eomma!”

Kuarahkan ponsel ke wajah Kibum dan ia ketakutan berusaha menolaknya. Aku memelototinya memaksa. Bagaimanapun juga, Kibum adalah keponakan ibuku.

“Eomma, di sini ada Kibum. Akan kuberikan ponsel padanya…”

Kutekan tombol loudspeaker. Bisa kulihat Kibum menghela napas pasrah. Yay, ini menyenangkan…

“A-annyeong haseyo…”

“Kibummie, kau sehat?”

“Ne.”

“Apa kau makan cukup? Aku sudah melihat comebackmu, kau terlihat sangat kurus. Dan apa yang kau lakukan dengan rambutmu? Sungguh selera yang buruk. Kau pikir kau semakin tampan dengan model rambut seperti itu?” Eomma mulai mengintimidasi, membuatku dan Jjong menahan tawa mati-matian.

“A-aku hanya mencoba gaya yang unik…”

“Apa maksudmu unik? Itu memalukan! Aku bahkan tak dapat membanggakanmu di hadapan teman-temanku untuk ‘Lucifer’. Tapi kau cukup baik dengan ‘Hello’, coordy dan perusahaanmu cukup pintar untuk memilih leopard-print sebagai wardrobenya.”

“O-oh, kamsahamnida,” ucap Kibum, ia mulai berkeringat.

Aku mengambil alih ponselku kembali. Ia menghela napas lega. “Eomma, serahkan padaku untuk kali ini saja, kumohon!”

“Ya, baiklah. Tapi aku akan segera ke sana jika mendapat laporan buruk.”

“Ne, ne. Kututup teleponnya. Eomma, saranghaeyo.”

Terdengar bunyi ‘pip’. Kutaruh ponsel di atas meja bar.

“Mengerikan, sungguh mengerikan,” ujar Jjong dengan mata melotot seperti biasa.

“Yeah. Hey, kalian berdua bukankah ingin makan? Jika tak mampu membayar dengan uang, kalian bisa membayarnya dengan hal lain.”

“Apa itu?”

“Aku pinjam popularitas kalian.”

“Hah, sudah kuduga,” sahut Kibum. “Baiklah, sekarang apa yang harus kami lakukan?”

Aku tersenyum penuh arti dan berbisik padanya.

“What the hell?!” ujarnya berang, kemudian melanjutkan, “Why not?!” Ia dengan penuh percaya diri melenggang menuju meja samping kaca di mana orang yang melintasi café dapat melihat langsung ada dua member SHINee dalam café ini. “Berikan kami makanan terbaik café ini kalau begitu.”

Kuacungkan jempolku. “Kibum-ah, Jjong-ah, gomawo.”

“Yep.”

+++++++

SETELAH pagi yang melelahkan melayani puluhan SHINee World yang datang ke café, akhirnya aku bisa bernapas lega siang ini. Jjong mengundangku untuk menonton penampilannya bersama member SM The Ballad di Music Core. Jadi, sekarang aku sudah duduk di kursi paling atas untuk melihat penampilan mereka.

Beberapa banner dan balon dari masing-masing fandom seperti Super Junior, Trax, dan SHINee teracung ke atas. Sungguh penggemar yang setia.

“Eonni,” panggil seseorang di sampingku. “Kemari dukung siapa?”

“Eh? A-aku… aku kemari untuk melihat Jino,” jawabku asal.

“Benarkah? Lalu kenapa tak membawa banner atau apapun?”

Rasanya aku ingin membekap mulut anak ini. “Sehabis bekerja langsung kemari. Jadi tidak sempat.”

“Oh, kalau tidak salah aku punya sisa banner. Eonni, ini untukmu.”

“Wow, sisa? Er, gomawo.”

Teriakan mulai membahana di studio. Anak itu mulai berkonsentrasi menonton, membuatku lega. SM The Ballad memasuki set untuk memulai pre-recording. Sebelumnya, Minho dan Jinki bercuap-cuap di sana. Aku baru ingat kalau mereka MC di acara ini. Sepertinya hubungan mereka biasa saja. Apa sudah membaik? Kuharap begitu. Aku tak nyaman jika terus berada dalam situasi seperti ini.

Mereka selesai bernyanyi dan napasku masih belum kembali normal. Suara mereka luar biasa! Bagaimana bisa ini terjadi? Bulu romaku selalu berdiri setiap mendengar suara Jino. Inilah yang kusukai dari perusahaan. Mereka takkan sembarangan memilih bibit seorang bintang.

Saat menoleh ke samping, aku dikejutkan oleh seseorang yang memakai hoodie hitam. Kemana anak menyebalkan tadi?

“Terima kasih sudah datang,” bisiknya.

“Jjong?!” pekikku membuatnya sedikit terkejut. “Jong…ri…,” lanjutku asal saat beberapa orang menoleh ke arah kami. “Apa yang kaulakukan di sini?”

Jjong mendengus. “Performku selesai. Dan apakah terdapat larangan untuk menemui teman di sini?”

“Tidak, tentu saja. Tapi kau bisa tertangkap.”

“Kalaupun tertangkap, mereka takkan berpikir macam-macam. Kau tahu aku kekasih siapa saat ini?” candanya.

Aku tertawa. “SSK,” bisikku. “Tunggu, apa kau mulai menyukai predikat itu?”

Jjong menoleh dan memelototiku.

“Yeah, tak perlu seperti itu. Aku tahu Hyebin takkan pernah lari dari… sini…,” aku menekan dadanya dan ia menggenggam tanganku lantas menarikku pergi dari sana.

Kami menyusuri kursi-kursi, ia terus membawaku hingga ke backstage dan berakhir di ruang tunggu mereka. Kutarik tanganku saat ia akan membuka pintu.

“Wae?” tanyanya.

“Apa ada Jinki-oppa di dalam?”

Jjong mengangguk. Matanya tak lepas dariku, ia bahkan mengurungkan niatnya membuka pintu dan malah menarik tanganku menjauhi ruangan. Ia membawaku pergi, lagi.

“Kau akan membawaku kemana, Kim Jonghyun?”

Ia tak menjawab, terus menyeretku hingga kami sampai di sebuah ruang tunggu yang kosong.

“Hampir saja lupa. Tujuan utamaku tadi pagi datang ke cafému adalah untuk membicarakan hal ini…”

Aku menunggunya, karena ia terlihat begitu gusar dengan berjalan mondar-mandir di tengah ruangan.

“Apa sesuatu terjadi di antara kau, Minho, dan Onew-hyung?” tanyanya.

Aku sempat terdiam beberapa saat. “Jinki-oppa memergokiku dan Minho tengah bersama. Ia mengetahui semuanya sekarang.”

Jjong menghela napas pasrah. Ekspresinya sangat buruk. Baiklah, ada apa ini?

“Pantas. Mereka bertengar sejak hari itu dan kami bertiga sama sekali tak dapat mendamaikan mereka. Ini di luar kemampuan kami. Kau tahu sendiri bagaimana Onew-hyung, ia senang memendam masalahnya sendiri. Sedangkan Minho, sekeras apapun ia berusaha menjelaskan, Onew-hyung tak ingin mendengarnya.”

“Jadi, di atas panggung tadi hanya profesionalitas mereka?”

“Yep! Dan Taemin berkali-kali memergoki Onew-hyung tengah menangis diam-diam. Kau tahu? Suasana dorm menjadi sangat mengerikan. Bahkan sepupumu yang hebat itu pun tak dapat mengatasinya.”

“Ini semua salahku. Maaf…”

“Tidak, tidak. Jangan minta maaf padaku, tapi pada Onew-hyung. Kau harus bicara padanya!”

“Tapi, aku takut.”

“Masalah takkan berakhir jika kau terus seperti ini.”

Jjong mencengkeram lenganku erat, membuatku takut. “Ya, aku akan bicara padanya nanti,” ujarku pasrah.

Kami saling terdiam beberapa saat. Jantungku berdebar sangat keras. Jadi, apa yang harus kukatakan pada Jinki jika waktunya tiba untuk kami bicara?

+++++++

PINTU mengayun ke dalam, bisa kulihat Jinki masuk ditemani manajer-oppa dan seorang coordi. Aku menelan ludah saat Jjong menyikut lenganku, memberikan kode kalau aku harus bicara pada Jinki sekarang juga. Namun, di sisi lain aku bisa melihat Minho menggeleng perlahan dan menatap mataku tajam. Ia tak ingin aku melakukannya. Aku yakin, ia tak ingin aku mendapatkan beberapa bentakkan dari leadernya. Pacar yang baik…

Di saat aku berdiri, Minho juga berdiri. Tetapi Jjong menariknya untuk duduk kembali dan mengedikkan kepalanya menyuruhku menghampiri Jinki. Ya Tuhan, ini pertama kalinya aku merasa ketakutan untuk berbicara pada orang seperti Jinki. Kau tahu maksudku, ia orang yang humoris, bukan? Dan rasanya mustahil melihatnya marah. Tapi, inilah kenyataan, lebih kejam dari khayalanmu selama ini.

“Oppa,” panggilku yang saat ini sudah berdiri di hadapannya.

Ia menutup novel yang sedang dibacanya dan mendongak menatapku. “Hm?!” sahutnya dingin dengan tatapan menusuk.

Bisa kurasakan Minho tetap setia mengawasiku di ujung ruangan bersama Jjong. Manajer-oppa yang ada di sebelah Jinki pun tak henti menatapku. Ini membuatku sangat tidak nyaman. Tanpa mengulur lebih banyak waktu, kutarik tangan Jinki dan membawanya kabur dari sana. Kudengar Minho memanggilku, tapi aku tak bisa menjawabnya saat ini.

Kami sampai di ruang tunggu kosong tempat aku dan Jjong berbicara tadi. Jinki tak memberontak sama sekali, bahkan tangannya masih kucengkeram erat saat ini. Perlahan-lahan kulepaskan cengkeraman dan berbalik ke belakang. Tatapan menusuk itu sudah tak ada, tapi ia tetap diam tidak banyak bicara seperti biasanya jika sedang bersamaku.

“Aku tahu hal ini tak dapat menghilangkan rasa kecewamu pada kami. Berkali-kali mengatakan ‘maaf’ pun kurasa kau tetap takkan melunakkan kembali hatimu untuk…”

“Kau tahu apa?” selanya dengan nada meremehkan. “Apa yang kau tahu tentang diriku?”

“Oppa…”

“Kupikir kau masih menganggapku sebagai ‘oppa’-mu, tapi nyatanya tidak. Kau selalu membuat hatiku sakit, Kim Jira.”

Hatiku mencelos. “Se-selalu?”

“Ya, kau selalu membuat hatiku sakit.”

Aku tak membalas. Hanya menunduk dan memikirkan apa saja kesalahanku selama ini padanya hingga ia berani mengatakan ‘selalu’. Jinki maju mencoba lebih dekat denganku, namun aku mundur menghindarinya.

“Se-seandainya ada kata di atas kata maaf, itulah yang ingin kusampaikan padamu, Oppa.” Aku mulai menangis. “Aku takkan pernah merasa bahagia jika kau terus seperti ini. Apa yang harus kulakukan agar kau mau memaafkan kami?”

Jinki mengambil langkah besar dan memelukku. Aku membalas pelukannya. Hangat, berbeda dari Minho yang lebih kurus dan tinggi. Bisa kurasakan ia menempelkan bibirnya di puncak kepalaku. Aku hanya diam, tak bisa menolaknya, dan ini aneh…

Di pintu masuk, kulihat Minho berdiri. Matanya terbuka lebar, terkejut melihat kami. Aku segera melepaskan pelukan Jinki dan menghapus air mataku.

“Oh, Minho, kemarilah!” panggilku.

Ia masuk namun ekspresinya terlihat seperti orang linglung. Aku berdiri di sisinya dan menghadap Jinki. Ekspresi yang sama. Keduanya menampakkan ekspresi terluka. Aku sama sekali tak mengerti dengan situasi ini.

“Hyung, maaf, ini semua salahku.”

“Sudahlah lupakan! Tak seharusnya aku kekanakkan seperti ini.”

Aku tersenyum geli melihat mereka. Oh, boys…

Minho mengulurkan tangannya dan disambut oleh Jinki. Mereka berpelukan, namun nyaris tak ada senyuman. Baik Minho maupun Jinki sama-sama terlihat terluka. Dan aku bisa melihat jelas pelupuk mata Minho sejak awal masuk ruangan sudah digenangi air mata.

+++++++

      “Jadi, apa yang ditakutkan hingga aku tak boleh mengetahui hubungan kalian?” tanya Jinki di sela break filmingnya. Kami masih di MBC sekarang. Minho sedang khusyuk menghapal skripnya, sedangkan member SM The Ballad menjalani interview.

Aku mendengus malu. “Yang akan oppa dengar adalah alasan bodoh, kuharap kau takkan marah lagi.”

Dia tertawa, membuat matanya membentuk segaris bukit. “Apa aku terlihat akan marah?”

“Entahlah… Setidaknya aku sudah dua kali merasakannya dan tak ingin hal itu terjadi lagi.”

“Jadi, apa itu?”

“Yeah, oppa adalah leader. Orang yang paling dekat dengan perusahaan. Kau adalah ‘juru bicara’ tim dan mempunyai kewajiban melindungi anggotamu. Sebelumnya oppa sudah kecolongan Kibum-Mikka dan tak ingin hal tersebut terjadi pada yang lainnya, walau kasus Jjong berbeda. Saat itu, aku bisa merasakan oppa mulai memproteksi Taem dan perlahan-lahan Minho juga. Jadi, kami hanya tak ingin kau melaporkan pada manajer-oppa untuk memisahkan kami…”

“Apa dia juga benar-benar mencintaimu?”

“Eh?”

Jinki melemparkan pandangannya ke arah lain. “Apa kau yakin dia telah melupakan Shim Chaesa sepenuhnya?”

“O-oppa…” Aku tak dapat berbicara lagi. Dadaku sesak, seperti ada sesuatu yang mengganjal di antara dada dan kerongkongan yang memaksa ingin keluar. Entah bagaimana menjelaskannya, tahu-tahu luka lamaku kembali menganga.

“Ji-jira-ya, kau kenapa?”

Ia pasti melihat wajahku berubah merah dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata. Ia mengingatkanku pada masa lalu. Mendengar nama perempuan itu saja sudah membuatku seperti ini, bagaimana jika melihat wajahnya?

Jinki menyeka air mataku yang mulai meleleh. “Maaf,” katanya.

“Tidak, ini hanya ketakutanku.”

“Apa yang kau takuti?”

“Aku takut kehilangan dia, Oppa. Seperti yang kau tahu, aku sangat mencintainya. Menjalani hidup bersama Minho adalah impianku sejak bertahun-tahun lalu. Tapi, setelah kami bersama, aku takut kami tak dapat seperti ini selamanya. Mendengar nama perempuan itu membuatku takut…”

“Wae?” selanya.

“Aku takut ia kembali dan mengambil Minho.”

Jinki diam sejenak, kemudian menarikku ke dalam pelukannya. “Selama ada aku, hal itu takkan pernah terjadi…”

+++++++

MINHO terlihat sangat aneh sepulang dari MuCore. Ia sama sekali tak bicara, hanya sibuk memelototi ponselnya dan sesekali mengangguk atau menggeleng jika kutanya. Seperti yang terjadi saat ini…

“Kau mau makan apa?” tanyaku. Saat ini kami semua sudah berada di sebuah restoran. “Dak deok galbi?”

Minho mengangguk dengan mata tak teralih dari ponselnya. Kesabaranku sudah mencapai batas. Sudah berapa lama ia mendiamkanku seperti ini? Aku muak melihatnya hanya mengangguk ataupun menggelengkan kepala.

“Baiklah, Choi Minho, ada yang ingin kau bicarakan padaku saat ini? Katakanlah! Aku akan mendengarkannya baik-baik,” bisikku di saat yang lain sibuk menentukan menu makan malam mereka.

Dia menoleh. “Tak ada yang harus dibicarakan. Sudahlah, pilih saja menunya…”

“Kau sangat aneh hari ini. Apa aku berbuat salah?”

“Tidak, Noona!”

Entah kenapa hatiku mencelos saat mendengarnya memanggilku begitu. Padahal hal ini memang kerap ia lakukan jika kami sedang tak sendiri. Tapi, ini terdengar begitu menyakitkan di telingaku.

Dia tak lagi memainkan ponselnya. Hanya duduk diam dan melamun, dengan sesekali menenggak minumannya. Aku tak yakin ia menikmati minuman itu. Seperti yang kubilang tadi, pandangannya kosong, terlihat seperti orang yang melamun. Matanya memerah, bukan karena mabuk, hal itu sudah terjadi sejak kami masih berada di MBC.

“Jira-ya, makan yang banyak!” Jinki menaruh sepotong daging di atas nasiku. Astaga, aku sendiri bahkan tak menyadari makanan sudah memenuhi meja.

Minho tiba-tiba meletakkan sumpitnya dengan mata tak berhenti menatap meja. Kedua alisnya bertaut. Aku yang ada di sampingnya menjadi sangat canggung karena Jonghyun dan Kyuhyun memperhatikan kami. Kulihat Jjong berbicara dengan driver dan menerima kunci mobil. Tak lama kemudian ia memberikan kunci itu pada Minho. Mataku tak berhenti mengawasi mereka.

Tiba-tiba Minho berdiri dan berjalan keluar restoran. Aku hanya diam melihatnya pergi. Ada apa dengannya?

Ponselku berbunyi, sebuah pesan masuk. Itu dari Minho. Ia memintaku untuk keluar juga, menemuinya di sana.

“Ada apa?” tanyaku setelah masuk ke dalam mobil sesuai dengan permintaannya.

Ia tak menjawab, hanya memandangku dengan tatapan datar. Kukibaskan tanganku di depan wajahnya.

“Hello, Mr. Minho?”

GREP! Ia mencengkeram tanganku dan menarik tubuhku ke dalam pelukannya.

“Mi-Minho-ya…”

Ia tak bergerak, hanya memelukku. Apa yang sedang terjadi dengannya? Aku bahkan tak dapat melihat wajahnya karena ia menaruh dagunya di pundakku menghadap ke belakang. Tapi aku bisa merasakan tubuhnya bergetar. Tunggu, apa ia menangis?

“Maaf, aku membuatmu tak nyaman hari ini,” isaknya. Perlahan kubelai punggungnya, memberikan ketenangan. Ia melanjutkan, “Tak seharusnya aku seperti ini, tapi ini sangat mengangguku.”

“Apa yang membuatmu terganggu?”

“Entahlah, seperti ada kesakitan di sini…,” ia menepuk dadanya, “…jangan tanyakan mengapa, aku tak dapat menjelaskannya padamu.”

“Kenapa? Kupikir kau akan jujur padaku.”

“Ini tidak hanya menyangkut kita, tapi juga yang lain.”

Aku mencoba berpikir keras. “Demi Tuhan aku tak mengerti.”

“Itu lebih baik.” Perlahan-lahan Minho menarik tubuhnya. Bisa kulihat hidung dan matanya memerah. Dia benar-benar menangis. Ini jarang terjadi, apa masalahnya ini benar-benar membuatnya menderita?

Kemudian ia melanjutkan, “Dengarkan aku baik-baik! Kim Jira, kumohon percayalah padaku. Aku, Choi Minho, selamanya hanya akan mencintaimu.”

“N-ne?”

“Kumohon percayalah padaku, aku sangat mencintaimu.”

“Kau ini kenapa?”

“Aku takut kehilangan kau!”

Aku tersenyum dan menarik kepalanya untuk kembali dalam pelukanku. “Sekarang dengarkan aku. Kau masih ingat bagaimana pertama kali kita bertemu?”

Ia mengangguk.

“Saat itu aku terlalu lelah untuk memasuki kelas menari. Namun ada seorang trainee baru memasuki kelas dan menaruh sepatunya di tempat yang salah…”

“Lalu kau mengomeliku!”

“Diam dan dengarkan saja!” dumalku. “Aku merasakan ada sesuatu yang salah pada tubuhku, terutama jantung. Degupnya tak wajar. Sial, sepertinya si anak baru itu membuatku jatuh cinta. Apa kau mengerti, Minho? Jatuh cinta!”

Dia diam dan terus mendengarkan.

“Sejak saat itu, selama bertahun-tahun, aku terus memupuk rasa cinta itu dan membuat sebuah harapan untuk bisa berada di sampingmu. Sudah empat tahun berlalu dan rasa itu masih tetap sama, bahkan semakin kuat. Sekarang kau mengerti maksudku? Ketakutanmu itu tak berarti!”

Minho melepas pelukannya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam saku jaket. Lantas ia memakaikan sebuah cincin di jari manisku. “Ini cincin pasangan,” ujarnya sambil memakaikan cincin berukuran lebih besar ke jari manisnya. “Berjanjilah untuk terus menyimpan perkataanku ini: Aku sangat mencintaimu. Percayalah padaku, kumohon!”

Jantungku sepertinya akan melompat keluar, terlalu bahagia mendapat cincin cantik darinya. “Iya, aku percaya dan selamanya akan selalu seperti itu.”

“Terima kasih.”

Kami nyaman dalam posisi seperti ini. Minho memelukku erat seakan-akan aku akan pergi meninggalkannya. Kupikir selama ini hanya aku yang merasakan hal itu. Ternyata tidak. Aku melepas pelukannya dan Minho mulai menciumiku. Yah, begitulah… Kami berciuman di dalam mobil di kursi paling belakang, tak mengacuhkan ponsel kami yang sama-sama berdering.

…to be continued…


©2011 SF3SI, Diya.

This post/FF has written by Diya, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

46 thoughts on “We Walk [Part X] – Minho’s Anxiety

  1. AH DIYA!!!!
    aku babo~
    aku ga tau kalo ‘we walk’ itu nyeritain minho. kkk~ ako baru baca part ini karena labelnya jelas2 ada minho nya.kk~ penasaran.
    Mian-mian-mian-mian. hehe ^___^
    BAGUSSSSSS!! SUKA BANGED!!!!!!!><
    lebay banged ako.

    ako mau baca dah tapi di rapel. kebayang ini udah part 10.kk~
    lanjut dia. bikin si Minho mewek lagi.. seru. tapi kasian juga. andwae!

    1. MAMOOOOOTH!!!
      Kekeke~
      makasiiiihhh…
      emang asalnya aku nyantumin smua member shinee di tags.
      skg cm mino jinki aja deh.
      baca ini dirapel?
      hahaha~
      makasih yaaa~

      sama lah kita. asal mino, pasti suka^^

  2. yay!
    akhirnya ‘we walk’ publish!
    makin rame ini thor!
    eh eh ntar chaesa bakal muncul?
    hmm apa yg bakal terjadi ya?

    part selanjutnya ditunggu yah!

  3. baru komen di sini, aku bacanya di wp kak mit soalnya :p
    masih curiga sama jinki -,-”
    apa chaesa bkl balik?
    minho aneeh :d
    hyaaah, aku penasaran ih
    wait for this fic patiently aja deh, semangat kak diyaa😀

  4. Kyaaaaaa…
    JUMMAAAAAAAAAA
    itu si Minho kenapa sih?
    rese benre perasaanku… hahahahaha

    aku suka smeua kata2 JINKI disini….

    LANJUTANNYA CEPETAN…..

  5. Akhirnyaaaaahh dipubliss jugaaahhhh…..
    Aku masih ragu-ragu ama Minhooo…
    Awas kau kalo berani nyakitin Jira lagi kubacok kau!!!! *lebe*
    keren thor, lanjutannya cepetan yahh!!!

  6. Koq minho jadi aneh,,jgn2 c chaesa mw balik gi..
    Iih onew oppa klo marah bikin takut iaa,,jgn suka marah iaa yeobo *plak*
    Lanjutan’a jgn lama2 iaa thor..

  7. alhamdulillah keluar juga*sujud sukur*. gaaaaaaahhh minho mencurigakan! onew apalagi! kenapa pula mereka? ayo eon lanjutannya jangan lamalama. ntar keburu lupa sama ceritanya hehehe #plak

  8. AAAAAAAAA
    Gimana ini gimana ini
    Minho sama onew
    Kesannya sama sama ga ada yang mau lepasin jiranyaaa
    Yampuuuunnnn
    Parah bgt parahhhhh
    Lanjut

  9. Aaaa onew sebenernya suka gak sih sama jiira????
    Aduhaduh jangan sampe onew suka dong
    Jangan sampe juga minho balik/inget2 lg sama chaesa
    Minho sweeeet bgt sampe nangis gitu
    Lanjutttt

  10. widiiihh
    Di publish !
    Wkwkwkka.

    Yaaaaaaaaww!
    Ayolah.
    Blg klo Onew suka sm Jira !
    Wkwkwkka.
    #sotoy

    Knpa si Minho?
    Jgn blg Chaesa balik lg =_=’
    *ngais tembok .

    Huaaaaah.
    Mkin lma FF ini mkin daebak!
    Bca ny berdebar-debar +.+
    Yaaaw !

    Next Chapter ny d tungggguuuuuu ~~~

  11. annyeonghaseyooooooo
    akhirnyaaaaaaaaaa
    onnie, kenapa lama sekali munculnya #plakkk #abaikan
    tapi penantian panjangku terbayar semua, huaaaaaa onnie makin seruuuuu
    kayanya next chapt minho bakal bikin skandal. huahahaha #ketawaiblis chaesa juga muncul #sotoy
    eh itu minho-jira ngapain di mobil sampe mengabaikan telpon. wah wah wah #yadongkumat #ketularaneunhyuk
    onnie, selipin #apadeh key-mika jjong-ssk-hyebin dong, seuprit jg gpp, mau tau aja nasib mereka selanjutnya gimana
    lanjutannya amat sangat ditunggu onn ^^

  12. kyaaaaaa~ daebakkiyaaaaaa😀

    suka deh, diwooon. tapi aku kira mereka bakal putus. huahahaha

    ayolah wujudkan jinki-jira! kekekeke

  13. Tuhkaaaannn . .
    Minhooo kenapa ittuuu??
    *BIGWONDERING*

    Hem, Jinki suka Jira ya??
    Okeee, saya SUKA DIYA EON!

  14. Adakah sesuatu terjadi sama Minho? Pasti ada sesuatu yang disembunyikan Minho. Jadi badai cinta juga kalau Chaesa benar-benar kembali seperti yang ditakutkan Jira. Tapi Minho udah menegaskan di sini kalau dia hanya akan mencintai Jira. Semakin penasaran.

    Nice story.

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s