They Suddenly Came into My Days – Part 9

Title                       : They Suddenly Came into My Days (Part 9)

Author                  : myee

Main Casts          : Kim Soona, SHINee members

Support Casts    : Seo Jeo Hyun, Im Yeon Ji

Other Casts        : Kim Soo Ro, Kang Ho Dong, Song Jae Jin, Jino (SM The Ballad), Tae Yeon (SNSD)

Genre                   : AU (School), Friendship, Romance

Length                  : Sequel

Rating                   : G

Note                      : Di part ini, plot-nya aku majuin langsung ke empat bulan setelah liburan awal musim panas ke Dadohae-haesang. Jadi ceritanya aku buat di pertengahan musim gugur, oke?

 

——

Kim Soona’s POV

“YA! KIM SOONA! JANGAN NGELAMUN!”

Aku tersadar dari lamunanku akibat suara Kibum yang menusuk kedua kupingku itu. Aku melihat sekelilingku, dan aku kembali sadar kalau aku tengah belajar matematika dengannya di luar cafetaria sekolah ini.

Punggungku pegal.

Jujur saja, duduk diam di depan tumpukan buku ‘terkutuk’ ini akan membuat dirimu muak dan mual. Kulirik jam di tanganku, dan ternyata aku masih mempunyai waktu selama satu jam sebelum pergi ke ruang klub.

Cih, masih lama ternyata.

“Cepat kerjakan soal itu! Apa kau mau mendapat nilai 47 dalam nilai tes matematikamu lagi, heh?”, lanjut Kibum sambil mengetuk-ngetukkan pensilnya di meja.

Aku menatap sinis padanya.

“Tidak usah kau ungkit lagi tentang nilai itu, Kibum. Kau tahu kan kalau aku itu sangat BENCI matematika?”, kataku sebelum melenguh panjang.

Dia hanya mendengus. “Ya makanya sekarang belajar! Cepat buka halaman 136!”

Kibum membenarkan posisi kacamatanya dan duduk di sebelah kiriku. Aku cepat-cepat membuka buku paket matematikaku dan mencari halaman yang diberi tahu Kibum barusan.

Belum juga satu soal selesai, aku sudah menyerah.

“AYAAAAAAAAAA~ IGEO MWOYAAAAAAAAAAAAAA~!”, aku berteriak frustasi sambil mengacak-ngacak rambutku.

PLETAKKKK!

“HAISH! Gak usah maen getok kepala make pensil kenapa sih? Santai dikit dong?!”

Kibum hanya mendengus kesal dan menggeleng-gelengkan kepalanya, “Kamu enggak bisa soalnya kamu itu gak mau nyoba! Kerjain dulu, terus kalau otak kamu mentok ya tanya! Jangan bisanya merajuk terus, dong! Kamu enggak mau tinggal kelas gara-gara ini aja, kan?”

Aku menatap Kibum dengan kesal. Tapi perkataannya ada benarnya juga sih.

Kuperhatikan soal itu sebentar. Selama beberapa detik aku mencerna apa arti soal itu.

“Hmm… Tenang… tenang… Soona, kau pasti bisa!”, ucapku pada diri sendiri dan mengambil pensilku di meja. Aku mulai menulis-nulis soal itu dan mancari jalan untuk mengerjakannya.

“… Euuh, ini digimanain lagi sih?”, kataku sambil menyodorkan kertas jawabanku pada Kibum.

“Yang ini dikeluarin, masukkin x-nya ke dalam persamaan ini… Terus ini pindah ruas, terus dibagi… Nah, dapet hasilnya kan? Sampai sini ngerti?”

“Ara. Lanjutin!”

“Oke, masukkin hasil yang ini ke persamaan f(x) yang tadi. Terus disamain, terus masukkin pemisalan yang tadi kamu kerjain. Diginiin, terus pindahin ruas lagi… Tuh! Dapet kan?”

“Ah! Iyaaaa! Bener!”, kataku sumringah.

“Nah, coba lanjutin ke soal nomor dua. Soalnya mirip-mirip kok”, ucap Kibum.

Belum juga aku menulis, ternyata Jonghyun oppa sudah memanggilku dari arah pintu keluar gedung utama. Dia berlari menghampiriku dan Kibum.

“Soo, latihannya udah mau mulai! Jino bilang latihan kali ini dimajuin sejam, soalnya musti ada beberapa bagian yang harus diulangin aransemennya sama kamu”, katanya.

“Mwo? Jinjja?”, ucapku sedikit terkejut. “Ne. Oh ya, aku beli minum dulu sebentar”, lanjut Jjong oppa dan beranjak ke dalam cafetaria untuk membeli minum.

“Eh, nanti lanjutin belajarnya, ya. Aku masih rada enggak ngerti nih”, ujarku sambil membereskan alat tulisku.

“Tapi aku pulang malem, ada latihan buat tanding minggu depan. Kalau belajarnya agak larut enggak apa-apa?”

Aku mengangguk, “Sip. Nanti sekalian ajarin soal tes kemarin ya.”

“That’s so easy.”

“Sekarang kau mau ke mana? Ke gymnasium?”, tanyaku pada Kibum.

Ia memakai jaketnya dan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, “Bukan. Mau ke Kyunghee. Latihannya diadain di sana.”

“Hah? Terus Minho mana? Kok enggak bareng?”, tanyaku pada Kibum.

“Dia udah duluan ke sana, soalnya dia sama pelatih bakal ngomongin taktik tanding selanjutnya. Aku bilang aku ada urusan sebentar, jadi ya sekarang aku nyusul ke sana deh.”

“Wah, jinjja? Waduuuuuuuh, mianhae, Kibum! Aku gak tau kalau latihannya di sana! Maaf banget ya udah ngeganggu latihan kamu!”

Dia hanya tersenyum dan menggusak rambutku. “Gwaenchana”, jawabnya singkat.

Ia kemudian memakai sweater kuningnya dan mengambil tasnya, “Oke, aku duluan, Soona”, ucapnya. Aku mengangguk dan ia pun segera berlari ke arah luar sekolah. Sesaat kemudian Jonghyun oppa keluar dari dalam cafetaria dan menghampiriku, dan kami langsung berjalan ke lantai dua.

“Soo, kayaknya nanti aku pulang telat, deh. Soalnya sebentar lagi ujian akhir, dan kita mau latihan soal-soal sama guru pelajaran masing-masing. Kemungkinan kamu pulangnya bareng Key, Minho, atau Taemin. Enggak apa-apa?”, ucap Jonghyun oppa.

“Hmm, Kibum bilang tadi dia bakal ada latihan, kemungkinan besar Minho juga ikutan. Taemin juga bisa aja bareng mereka. Wah, aku pulang sendiri, dong?”, tanyaku.

“Hah? Jeongmal? Ya sudah, aku skip aja deh try-out sekarang. Takut kamu–“

“Aish! Tidak tidak tidak! Aku bisa pulang sendiri. Tenang dong, oppa! Aku udah besar! Aku juga bisa kok pulang bareng Yeon Ji atau Jeo Hyun. Mereka juga masih ada kegiatan klub sampai sore”, potongku.

“Tapi kalian kan yeoja?! Kalau kalian diganggu gimana? Kalau kalian diculik gimana? Kalau kalian diperko–“

Sebelum Jonghyun oppa menyelesaikan omongannya, aku sudah mencubit kulit tangannya keras.

“HAISH! Sakit!”, ringisnya sambil mengelus-ngelus lengan kirinya itu.

“Salah sendiri oppa bilang begitu! Jangan nakut-nakutin dong!”

“Kalian berdua ini kenapa sih? Kok marah-marah di depan ruang musik?”. Ternyata Onew oppa sudah berdiri di hadapan kami berdua. Baru kusadari kalau kami sudah sampai di ruang klub.

“Jjong oppa nih ah! Nyebelin banget!”, kataku kesal sambil memasuki ruang klub dan menaruh tasku di meja dekat piano.

Huh, sampai kapan sih aku dianggap anak kecil?

—–

“Cish, Jino sunbae sadis amat sih? Masa aku harus ngulang seluruh aransemennya?”, keluhku sambil membereskan seluruh partiturku.

Aduh, lelah sekali. Tidak terasa aku sudah mengikuti kegiatan klub selama hampir tiga jam, dan aku tidak sedikitpun beranjak dari hadapan piano hitam di ruang musik itu. Gara-gara Jino sunbae, Tae Yeon eonni, Onew oppa, Jonghyun oppa dan beberapa orang seniorku yang lain harus keluar klub karena sebentar lagi ujian kelulusan tiba, aku harus mengaransemen ulang lagu itu dan mengubah beberapa bagian yang mereka nyanyikan. Otomatis aku harus menghilangkan part mereka di lagu itu, dan mengubah iramanya.

“Astaga, sudah jam setengah delapan! Aku harus cepat-cepat!”

Kumasukkan barang-barangku ke dalam tas dan kukunci pintu ruang musik ini. Junior-juniorku sudah pada pulang sejak setengah jam yang lalu, dan aku harus tetap di dalam ruang musik ini untuk menyelesaikan lagu itu. Para seniorku juga sudah pergi ke tempat try out mereka di gedung selatan sejak jam lima tadi, termasuk Jonghyun oppa dan Onew oppa.

Aku sudah menghubungi Yeon Ji dan Jeo Hyun, ternyata mereka sudah pulang dari jam lima tadi. Hmm, aku pulang sendiri, deh.

“Sonsaengnim, aku taruh kuncinya di sini ya”, ucapku pada Cho sonsaengnim (guru musikku) sesampainya aku di ruang guru. Nampaknya beliau tengah kerja lembur.

“Oh, kamsahamnida, Soona-ssi. Hati-hati di jalan, ya!”, ucapnya sambil tersenyum.

“Ya, sonsaengnim”, aku membalas senyumnya itu.

Aku langsung melesat turun ke lantai satu. Sungguh, aku tidak begitu suka keadaan sekolah pada malam hari. Ini sedikit menyeramkan.

“Noona!”

Aku menoleh ke arah pintu masuk gedung ini, dan ternyata sudah berdiri Taemin sambil merapatkan jaket abu-abunya.

“Tae?! Kau belum pulang? Bukannya kata Kibum klub basket ada latihan, ya?”, tanyaku sambil menghampirinya.

Dia hanya tersenyum, “Itu untuk para sunbaeku yang kelas dua saja, noona. Aku akan diturunkan untuk tanding beberapa bulan yang akan datang, bukan untuk pertandingan minggu depan. Key hyung sama Minho hyung sih udah pasti diturunin.”

Aku hanya mengangguk, “Ooh, begitu. Kamu tau dari siapa kalau aku masih di sini?”

“Dari Onew hyung. Dia sms kalau noona masih ada di sini. Ya sudah, sambil menunggu noona selesai pulang, aku latihan bentar tadi di gymnasium. Bisa pulang sekarang, noona? Udara makin dingin, gak bagus buat kesehatan”, ucapnya sambil menggosok-gosokkan tangannya.

Aku terkekeh, “Khajja.”

Sebelum aku beranjak dari gedung utama ini, seseorang memanggilku dari arah kanan.

“Soona! Taemin!”

Tampak Jinki oppa dan Jonghyun oppa yang berlari ke arah kami. Di belakangnya terlihat banyak murid kelas tiga. Terlihat juga Jino sunbae danTae Yeon eonni di belakang mereka.

“Nah, hoobaeku yang manis, aransemennya udah selesai?”, tanya Jino sunbae sambil menggusak rambutku.

Aku langsung cemberut, “Sunbae tega amat sih? Nge-aransemen total semua part lagu itu susah tau!”

Jino sunbae hanya tertawa, tetapi dengan cepat Tae Yeon eonni meninju punggungnya.

“Tae Yeonnie! NEO MWOHANEUNGEOYA?!”, ringisnya. Senior perempuanku itu hanya menatap Jino sunbae tajam dan tersenyum kepadaku.

“Jangan hiraukan perkataan dia ya, Soo! Tenang, nanti kau kubantu! Nah, ayo, sekarang kau pulang! Akan kuajari kau bagaimana asyiknya pelajaran kimia!”, ujar Tae Yeon eonni sambil menarik hoodie yang dipakai Jino sunbae dan menyeretnya pergi.

“YEONNIE~ NAL BONAEJWOOOO (lepaskan)!! AH, kalian berempat! Annyeong!”, ucap Jino sunbae sambil sedikit melambaikan tangannya. Tae Yeon eonni juga ikut melambaikan tangannya. Aku hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua.

“Oh ya, hyung, gimana tadi try out-nya? Bisa enggak?”, tanya Taemin.

“Lumayan. Dan gila, leherku pegal gara-gara menunduk terus melihat soal-soal menjijikkan itu”, jawab Jonghyun oppa sambil memijat tengkuknya.

BLETAKK!

“YA! Apa-apaan sih?”, Jonghyun oppa meringis karena kepalanya baru saja digetok Jinki oppa.

 “Neo babo gateun, Jjong! Itu sih gara-gara kau enggak belajar! Makanya kalau malem itu ya belajar, jangan dengerin musik terus!”

Aku hanya tertawa kecil melihat tingkah kedua namja itu.

“Eh, kalian mau ke Kyunghee enggak? Sekalian buat lihat Minho sama Key. Gedungnya enggak jauh dari sini, kok”, ajak Jinki oppa.

“Aku sih mau-mau aja, hyung. Tapi terserah noona sih…”, jawab Taemin sambil melirikku.

Aku mengangguk, “Enggak masalah.”

“Ya sudah, cepat masuk mobil! Lama-lama aku bisa membeku di sini…”

Onew oppa mengeluarkan kunci mobil dari saku jaketnya, “Ne. Khajja!”

—–

Choi Minho’s POV

Aku melihat jam tanganku, dan waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.

Gila, aku sudah berlatih di sini selama tiga jam?

“Hei, jangkung”, ucap Key sambil menyodorkan sebuah botol minuman. “Oh, thanks.”

“Sudah tiga jam, dan ini belum selesai. Lama-lama lelah juga kalau disuruh latihan gini setiap hari”, ujarnya sebelum meneguk minumannya. Aku hanya mengangkat bahuku tanda tak tahu.

“Cih, lagian aku juga ada janji buat ngajarin Soona matematika lagi. Selesainya jam berapa sih ini?”, keluhnya.

 “Matematika? Memangnya nilai dia kenapa?”

“Astaga, Minho. Nilainya benar-benar buruk di pelajaran itu! Dia harus remedial secepatnya, tetapi dia belum mengerti sama sekali tentang materinya. Ya sudah, aku ajari saja setelah ini selesai”, jawabnya sambil mengelap keringat yang membanjiri kening hingga lehernya.

Aku hanya mengangguk tanda mengerti.

“Aku juga tadi dapet sms dari Onew hyung dan Jonghyun hyung kalau mereka enggak bakal pulang sampai jam delapan-an, mereka ada try out katanya.”

“Mwo? Lalu Soona? Dia pulang sendiri? Kan hari ini dia ada klub!”, ujarku khawatir. Aku langsung berdiri dan meraih tasku, berniat untuk menjemput Soona dan meminta izin untuk pulang duluan. Tetapi Kibum menghentikan niatku itu.

“Key! Kalau dia kenapa-kenapa gimana?!”, tanyaku.

Kibum hanya tertawa dan dia menunjuk ke arah pintu masuk gymnasium ini.

“Soo? Taemin? Onew hyung? Jonghyun hyung?”, tanyaku heran. Mereka berempat kemudian menghampiri aku dan Kibum yang tengah berada di bangku pemain.

“Hyung! Gimana latihannya?”, tanya Taemin sambil mengambil bola basket dari lantai.

“Lelah. Sekali. Beruntunglah kau tidak ikut latihan ala neraka ini, Tae”, ucap Key kemudian meneguk lagi minumannya.

Aku melirik Soona, tampaknya ia sangat kelelahan.

“Kau kenapa?”, tanyaku pada yeoja itu.

“Hah? Kenapa apanya?”, dia bertanya balik.

“Kau kelihatan lelah sekali. Kenapa?”

“Oh, geuraeyo? Memang sih, daritadi aku terus mikir aransemen apa yang cocok untuk lagu buat paduan suara nanti. I’m totally brainstorming about that. Jino sunbae sudah mempercayaiku untuk tugas ini, dan aku tidak boleh mengecewakannya.”

Aku mengangguk.

“Baiklah, untuk para anggota klub basket SIS (Seoul International School) silakan bubar! Saya rasa latihan ini cukup sampai di sini, karena waktu sudah lumayan larut. Terima kasih atas kerja keras kalian”, ucap Choi seonsaengnim.

Akhirnya, latihan ini selesai juga.

“Minho, Key, Soona, Taemin, dan para sunbaenim, aku duluan! Annyeong!”, ucap Jo Kwon sambil melambai ke arah kami berenam.

“Key, latih lagi cross over yang tadi. Aku yakin kau bisa!”, kata Chansung sambil menepuk-nepuk pundak Key sebelum dia meninggalkan tempat ini. Key hanya mengangguk dan tersenyum.

Aku meraih tasku dan memakai jaketku. Setelah beberapa saat, kami berenam akhirnya berjalan keluar menuju mobil.

“Eh tunggu. Ada telepon”, kata gadis itu sambil mengambil ponselnya dan mengangkatnya.

“Ne… Yeoboseyo?… APPA! Bogosipeosseoyo!”, ujar Soona girang.

Aku dan keempat namja lainnya menghentikan langkah kami dan melirik ke arah gadis itu. Akhirnya setelah sekian lama, Tuan besar Kim menelepon anaknya lagi.

“Whoa, JINJJAYO? Aih appa~ Akhirnya kau kembali lagi Korea! Oke, kapan?”

Kulihat Soona mengangguk-anggukkan kepalanya dengan semangat, dan senyumnya mengembang.

“Sip deh, appa! Oke oke, nanti aku akan bilang ke Shin ahjumma supaya menyiapkan semuanya, ya! Tapi ini beneran kan? Appa besok malem pulang, kan?”, tanyanya memastikan.

Aku, Key, Taemin, Onew hyung, dan Jonghyun hyung saling bertukar pandang. Kami berlima tersenyum satu sama lain. Senang dan lega rasanya mendengar Tuan besar Kim bisa pulang ke Korea dan bisa bertemu dengan anak satu-satunya, Kim Soona, tanpa kurang suatu apapun.

“ASSA~ Saranghae, appa! Annyeong!”, ucapnya riang sambil memutuskan line teleponnya.

Aku hanya terkekeh, “Tampaknya kau senang sekali ya, Kim Soona?”, tanyaku.

Dia hanya menunjukkan senyum manisnya kepada kami berlima.

—–

Two days later

Author’s POV

Sehari yang lalu, Kim Soo Ro kembali ke Korea untuk menyelenggarakan sebuah pertemuan kecil antara para pejabat di negeri tersebut dan pejabat dari negara lainnya.

Bisa dibilang ini adalah sebuah pesta kecil yang tertutup untuk merayakan naiknya perekonomian dan baiknya jalinan kerjasama negara Korea Selatan dengan negara lain.

Berdirilah seorang yeoja, seorang anak tunggal dari Kim Sooro di depan sebuah cermin yang cukup besar di dalam kamarnya. Dia merapikan rambut hitamnya yang dibiarkan tergerai dan mengecek lagi dress yang ia pakai.

Sebuah dress chiffon berwarna khaki di atas lutut yang simple, ditambah sebuah pita yang terikat di bagian pinggangnya.

Terkesan chic, namun sederhana.

“Hmm, walapun appa kembali ke Korea bukan karena aku, tapi yah, aku cukup senang ia bisa kembali”, ucapnya sambil tersenyum.

TOK TOK TOK.

 

“Ne, nuguya?”, tanya yeoja itu.

“Ini aku!”

Yeoja itu mengecek lagi penampilannya untuk yang terakhir kalinya dan segera beranjak menuju pintu kamarnya.

“Whoa, penampilanmu berbeda!”, ucapnya sedikit takjub. Namja itu memakai kaos berwarna hitam dibalut dengan jas hitam pula. Kesannya elegan namun santai.

Soona hanya tertawa kecil, “Hehehe, geomawoyo, Jonghyun oppa!”

Irons-nous en dehors, mademoiselle? (Apakah anda siap untuk keluar sekarang, nona?)”, ajak Jonghyun sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum.

Bien sûr (tentu)”, ucap Soona sambil tersenyum dan menerima uluran tangan Jonghyun.

Sesampainya di bawah, tepatnya di halaman depan kediaman keluarga besar Kim, tampak sudah lumayan banyak tamu yang datang. Soona mengedarkan pandangannya ke sekeliling, dan ia menemukan empat sosok namja pengawasnya itu.

Pakaian yang mereka berempat serupa dengan yang dipakai Jonghyun, kaos nyaman berwarna gelap dilapis dengan jas hitam yang ukurannya pas dengan badan. Kesannya santai namun tidak mengurangi kesan resmi.

Dan di sebelah mereka berempat ada sosok sahabatnya, Yeon Ji. Gadis itu sedikit mengubah model rambut coklat kemerahannya dan memakai dress chiffon berwarna hitam.

“Yeon Ji-ah!”, teriak Soona sambil melambaikan tangannya ke arah temannya itu. Dia berlari kecil menuju Yeon Ji dan ia langsung bergabung dengan mereka berlima.

“Soo! Omo~ neomu yeoppeoda~”, puji Yeon Ji.

Soona hanya tersenyum, “Hihi, geomawoyo, Yeon Ji-ah… Oh ya, mana ibumu? Aku belum menyapanya….”, tanya Soona sambil melihat sekeliling.

“Oh, eomma lagi ngobrol sama Kwan sajangnim di sana… Tuh”, katanya sambil menunjuk kedua sosok yang sedang berbincang di dekat teras halaman.

Soona hanya mengangguk paham. Sesaat kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah keempat namja pengawasnya itu, yang sedari tadi melihat Soona dalam diam.

“Kalian kenapa? Kok mukanya gitu banget sih?”, tanya yeoja itu heran.

Kibum dan Minho hanya menggeleng cepat, sedangkan Taemin hanya berdehem. Onew menyunggingkan senyumnya, “Kau berbeda, Soo. Kau makin terlihat seperti seorang gadis.”

Soona mengrenyitkan dahinya, “Jadi menurut oppa aku itu biasanya bukan seorang gadis, begitu?”

Onew tersentak, “Ya enggaklah! Kamu itu murni perempuan, dan aku tahu itu!”

Gadis itu hanya tertawa pelan, “Hahaha, aku bercanda oppa.”

“Oh, aku mau jalan-jalan dulu ya sebentar. Sekalian mau ngawasin keadaan sekitar sini. Sekalian jaga-jaga…”, ujar Key sambil meletakkan gelasnya di meja.

“Sendirian? Mau kutemani tidak? Aku takut kau kenapa-kenapa”, tanya Jonghyun sambil mengedipkan sebelah matanya yang sukses membuat Key mual.

“Aish, otakmu sudah rusak, hyung”, ucap Key seraya meninggalkan mereka berenam. Jonghyun hanya tertawa.

Sesaat kemudian, berhembus angin malam musim gugur yang cukup bisa membuat dirimu sedikit menggigil. Soona menggosok-gosok tangannya pelan.

“Kau kedinginan?”, tanya Minho.

Gadis itu hanya mengangguk, “Yah, lumayan. Ternyata di luar dingin juga ya? Padahal semenjak keluar kamar tadi aku gak ngerasa dingin sama sekali kok.”

Minho melenguh panjang.

Namja itu kemudian melepas jasnya dan menyampirkannya pada tubuh mungil Soona.

“Eh, enggak usah, Minho”, kata Soona sedikit menolak dan mencoba mengembalikan jas hitam yang ukurannya cukup besar baginya itu.

“Aniyo. Pakai ini. Aku tidak mau mendengarmu sakit”, ucapnya datar sambil berusaha menyampirkannya kembali pada kedua bahu yeoja itu.

Soona hanya mengangguk, “Arasseo. Kamsahamnida…”

Taemin, Onew, Jonghyun, dan Yeon Ji hanya saling bertukar pandang. “Euum, aku mau ngambil makanan dulu hyung”, ucap Taemin tiba-tiba kemudian beranjak pergi.

“Tae! Aku ikut!”, tambah Onew dan segera menyusul Taemin.

Sekarang giliran Jonghyun dan Yeon Ji yang berdehem. “Aku… aku mau ngambil minum dulu, ya?”, ucap Yeon Ji diikuti dengan anggukan Jonghyun, dan mereka berdua pun pergi entah ke mana.

Soona hanya melenguh panjang karena mengetahui maksud kepergian tiba-tiba keempat orang itu.

“Eumm, aku mau ke kamar mandi dulu ya”, ucap Soona.

“Oh? Apakah perlu aku ant–“

“Tidak. Kau mau mengintipku, hah?”, balas Soona sambil menatap tajam Minho. Namja itu menggeleng cepat.

Soona beranjak dari tempat itu menuju ke dalam rumah besarnya. Sesampainya di ruang depan, dia mendengus kesal. “Cish, sejak kapan jadi banyak orang gini sih?”

Dia memutar ke arah belakang rumah. Namun sesampainya di halaman belakang, ia menemukan seseorang yang sangat dikenalnya tengah mengobrol dengan seorang namja. Mereka tengah berbincang dengan ekspresi yang sangat serius, dan anehnya, mengapa mereka mengobrol dengan sembunyi-sembunyi?

‘Ho Dong ahjussi? Dan Jae Jin ahjussi? Sedang apa dia mengobrol dengan sekretaris pribadi appaku di sini?’, tanyanya pada diri sendiri.

Yeoja itu mengendap-ngendap menuju semak-semak agar bisa mencuri dengar apa yang sedang mereka berdua bicarakan. Dia bersembunyi dan mengintip mereka di balik semak itu.

“Hari ini akan dijalankan, Ho Dong-ssi?”, tanya Jae Jin.

“Tentu. Soona sudah dalam pengawasan. Ini mudah untuk menjalankan semua rencana kita.”

Soona terkejut dengan apa yang baru dikatakan Ho Dong. Ia menajamkan kembali pendengarannya.

‘Ada apa ini? Maksud Ho Dong ahjussi apa?’, batin gadis itu.

“Aku yakin ini akan berhasil. Dan Soo Ro akan jatuh”, sambung Ho Dong sambil menyeringai.

Yeoja itu tersentak dengan pembicaraan ini. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. Dia tidak menyangka bahwa orang kepercayaan keluarganya selama lebih dari sepuluh tahun itu berniat buruk pada keluarganya, terutama dirinya dan ayahnya.

‘Aku harus memberitahu appa!’, ucapnya dalam hati.

Saat hendak akan berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu, seseorang memukul keras bagian tengkuk Soona, menyebabkan pandangannya kabur dan tubuhnya tidak mampu lagi membuatnya berdiri.

Gadis itu tersungkur di tanah tidak berdaya, merasakan rasa sakit yang amat sangat menjalar dari tengkuknya hingga ke seluruh tubuhnya. Pukulan itu sepertinya menyerang jaringan sarafnya. Dia meringis kesakitan.

Yeoja itu mengarahkan pandangannya pada sesosok laki-laki yang telah menyerangnya. Pandangannya sudah kabur, namun ia masih bisa menangkap siapakah sosok itu.

“K-kau…? … Kenapa?”, rintihnya.

Sekarang ia merasa ada sesuatu yang hangat mengalir dari matanya.

Laki-laki berjongkok di depan Soona, kemudian mencoba untuk menghapus aliran air mata itu.

“Mianhae, Soo.”

—–

 

“Hyung!”

Jonghyun mengalihkan pandangannya dari ponselnya menuju Taemin. Namja berambut blonde itu berlari ke arahnya. Ia berhenti tepat di depan Jonghyun dengan napas tersengal.

“Bagaimana, Tae?”, ujar Jonghyun dengan nada cemas.

“Hhh… hh… Noona tidak ada di manapun, hyung!”

“Oh f**k. Bagaimana ini bisa?”, umpatnya.

Minho berdecak, “Aku akan coba hubungi Key”, ujarnya.

“Ada apa kau menelponku, Jonghyun?”, tanya Onew yang baru dating dari dalam rumah sambil menghampirinya dan Taemin yang tengah berada di halaman depan.

“Soona hilang. Minho terakhir melihatnya lebih dari setengah jam yang lalu”, jawab Jonghyun.

“Apa?”, ucap Jinki tidak percaya.

Minho menutup keras flip ponselnya. Ia memandang ketiga namja lainnya dengan tampang serius.

“Ponselnya tidak aktif. Ini firasat buruk”, ujarnya.

—–

TBC

P.S          : Hayooo~ Siapa itu yang berkhianat?

                  Maaf ya part ini agak panjang, soalnya aku bingung mau motongnya di mana.

Makasih banget buat para readers yang udah nyempetin baca ff abalku ini dan bersedia   untuk mengomentarinya. Kamsahamnida~

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

47 thoughts on “They Suddenly Came into My Days – Part 9”

  1. AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
    Parah parah
    Sumpah ini tidak bisa dibiarkan
    Siapa si yang mukul tengkuknya soona
    Aduhhhh ngumpet aja pake ketawan
    Aishhhh gimana dong
    Masa key???
    Jangan dehhh
    Tapi kalo taeminhonewjong juga ga rela
    Huaaaaa author *panik berlebihan*
    Gimana ini!!!!!!!
    Nanti kalo soona di jadiin alesan supaya sooro jatuh gimana
    Nanti kalo soonanya kenapa napa gimana
    Aishhhhhhhhhhhh
    Lanjuttttt
    Plis part selanjutnya ketawan siapa yang jahat
    Oke thor
    Lanjut, makin seru, makin degdegan, makin daebak!!

  2. Siapa sih? aaa~ author reseh nih!
    Aku curiga sama semuanya sih.. Tapi kecurigaan pertama pada Onew dan Key.
    Ngga tau deh ah~ bikin penasaran ..

    Lanjutannya cepat ya thor!

    1. heheheh ._.v
      onew atau key ya?
      lho, minho ah kayaknya *ups*
      atau jjong sama taem bersengkongkol? *nahloh*

      baca part selanjutnya aja deh yaaa~

  3. Lanjut..lanjut..lanjut..
    Baca..baca..baca..
    Penasaran..pnsran..pnsran..
    TBC..TBC..TBC..
    Sebel.sebel.sebel..
    He..he..

  4. Hua..udh lama ditunggu2 skali keluar bkin deg2an..
    Jgn bilang kalo yg mukul so itu Key?
    Tidaaak….
    Ditunggu next partny ya

    1. maaf ya lama TT.TT
      sumpah aku sibuk pisan sama sekolah, jadi rada terbengkalai deh ff-ffku #currrhat

      iya, kayanya key deh yang mukul *Jegerr*
      oke, ditunggu ya 🙂

  5. aahhh… onniee!! aku penasaran bangettt… ><
    kayaknya minho atau key… mungkin?
    hehehe…
    lanjut onn! 😀

    1. minho atau key?
      kata aku mah onew atau jonghyun deh, atau mungkin taemin! *nahloh*
      ditunggu part 10nya aja deh ya!

  6. Aq gx mw lw pengHiANat itwh oNew oppa. .
    Jangan ea auThor aq gx rela lw itwh oNew. .
    V smua’a jga aq gx rela sich. .
    Cz mereka kand gx c0c0q. . . .
    Penasaran. . .
    Aq tUngGu lanjUtan’a aUtHor. . .

    1. huah gimana dong?
      soalnya pelakunya tuh salah satu dr mereka berlima, maaf ya?

      oke, part 10-nya ditunggu ya say 😉

  7. Udah lama d tunggu2 ni ff .,
    Dont say , if that key ?
    Whaaaa ., klo iya , jahat bgt key ..
    Aq curiga ama onew ma key ..
    Apalagi key ..
    Jahat bgt sih tuh org ..
    Lanjutannya jgan lama2 ya ..

  8. Aduh minho sweeet bgt mau ngasih jaketnya!!!
    Pasti ganteng bgt kan minhonya cuma pakr kaos gitu wkwkwk
    Aduh yang ngekhianatin tuh key apa onew sih?
    Kok kayak onew tapi kok kayak key juga…..
    Plis dong penasaraaaaaaan

  9. huwaaa~
    baru sebentar baca udah tbc lagi???
    Ayo dong part selanjutnya..
    Bisa bisa gila penasaran nih!
    Hahaha. Lebay!
    Tapi serius! Part 10!

  10. Jangan sampe yang mukul key..
    aigooo thor,, gak ridho sayaaa,, T_T
    penasaran deh,,, siapa ya??
    next chap thor… ^^

  11. key buruk !!!!!
    hyaaaa penghianat !! dodl !!
    apaa2 si key !! soona kan suka ya am key !! key jahat !! key jahat!!key jahat !!!
    lanjut thor !!
    eh ngomong2 lama bgt sih onn ..
    aku lupa tau cerita sebelumnya …

    1. eh sabar ella (^^)v
      jangan marah2 dulu dong ah hahahah

      aduh maaf ya publishnya lama, padahal eonni udah kirim dari sebulan yang lalu loh 🙂
      mungkin ff disini ngantri, jadinya lama, sabar aja yah.

  12. KEY yah =.=
    Tpi wktu itu Onew ==a
    Aiigooo .
    Bingung.
    Udh agak lupa crita ini krn kelamaan d publish part yg ini.
    Ehehehehe *plak

    Next Chapter ny d tungguuuuu ^o^/

  13. YAH telaaaaaaatttt._.
    Itu siapa siiih yg jd pengkhianaaat? Trnyt si ho dong emg serigala berbulu domba bgt-_-
    Itu pasti yg mukul salah satu dr ke5 cowok itu deeeeh
    Aaa gasabar gasabar!!
    Next partnya yaa authorr

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s