Agreement – Part 1

Title : Agreement part 1

Author: Alifah Diantebes Aindra a.k.a Choi Haneul

Main Cast: Choi Minho,Goo Shinra and Kim Kibum(key)

Support Cast : Lee teuk, Kim Jonghyun, Lee jinki, Song Hyemin, Min Dajung, kang Sinwo, Goo Yonghwa

Length : Sequel

Genre : Friendship, Romance, humor(?)

Rating: PG-13/ PG-15

Sejak FF pertamaku di publish, aku baru bisa ngirim FF ke duaku sekarang nih.. maklum lah banyak jadwal kencan sama Choi Minho*Plak. Baiklah.. tak usah panjang lebar. Selamat membaca.. comment ya.. kritik dan saran selalu kuterima.

SHINRA POV

“Annyeong Haseyo, Choeneun Goo Shinra  Imnida. Senang bertemu dengan kalian.” Aku berdiri di depan sekitar 35 siswa yang semuanya sama sekali tak kukenal. Bagaimana bisa kenal?? Aku sendiri baru saja pindah di sekolah hari ini.

“Baiklah Shinra, kau bisa duduk disana” kata seosangnim yang ku tahu bernama Da Joong hoon menyuruhku duduk dengan menunjuk sebuah tempat duduk dekat jendela. Aku pun membungkuk kan badan ke arahnya dan berjalan perlahan menuju tempat duduk baruku. Aku berharap kehidupanku di SMA ini berjalan dengan baik. Tidak seperti di SMAku yang dulu.

*Flash back*

“Mereka semua tidak tulus appa, mereka hanya ingin berteman denganku karena Appa seorang pengusaha yang tak bisa dibilang miskin. Apalagi appa selalu memberikan bodyguard disampingku. Aku bosan dengan diriku yang selalu di suruh angkuh dan egois di depan siapa saja oleh appa.” Kataku setengah berteriak saat acara rutin makan malam keluarga.

Keluargaku memang keluarga yang hanya beranggotakan 3 orang, dengan aku sebagai anak tunggalnya. Appaku seorang pengusaha besar, dan Ummaku seorang desainer ternama di Korea ini. Jadi, sungguh tak heran kalau Appa dan Ummaku selalu mengatur hidupku, mulai dari sikap hingga berpakaian. Aku sayang kepada keluargaku, namun apa yang mereka perbuat malah menjadikanku tak bebas dan tak bisa berekspresi.

“Kalau begitu, jangan berteman dengan mereka, masih banyak orang yang mau berteman denganmu.” Jawab Umma enteng.

“Umma.. aku ini remaja, aku butuh teman. Teman yang selalu ada saat aku sedih dan senang tanpa meminta balasan.”

“Kalau begitu, menikah saja. Appa yakin suamimu bisa menjadi temanmu tanpa pamrih tentunya. Makanya, Appa akan jodohkan kau dengan anak teman lama appa.” kata appa memandangku.

“Mwo??? Apa lagi ini!!! Aku masih remaja, aku tak butuh suami, aku hanya butuh teman.. tidakkah Umma dan Appa mengerti!!!” teriakku kini. Airmataku kini tinggal waktu sedetik saja untuk membuat sungai kecil dipipiku.

“Ara. Bagaimana kalau kita buat perjanjian Shinra??” kata Appa penuh semangat. “Appa akan memindahkan kau ke sekolah lain, tanpa salah satu dari mereka tau kalau kau anak appa, agar kau dapat merasakan masa remaja yang biasa saja. Tanpa fasilitas apapun tentunya, Appa hanya akan memberimu uang yang cukup untukmu sekolah dan makan.” Jelas Appa.

“Lantas??” tanyaku heran. Kenapa bisa tiba-tiba appa akan melepasku begitu saja.

“Tapi, saat appa menyuruhmu kembali ke rumah, kau harus kembali ke sini dan bertunangan dengan namja yang sudah appa pilihkan. Namun, sebelum hari itu datang, kau dilarang menghubungi siapapun di rumah ini.Ottokhe??”

Sungguh tawaran ini sangat menggiurkan, tapi… kenapa akhirnya aku harus bertunangan juga?? Bagaimana ini!! Apa lagi aku tak boleh menghubungi siapaun, Aigo~ jahatnya Appa. Batinku penuh kebingungan.

“Ne, aku terima tawaran Appa.” Kataku akhirnya. Masalah tunangan, aku fikirkan nanti saja.

*Flashback End*

Bel istirahat sudah berbunyi, anak-anak yang lain langsung berlari keluar keras.

Huh!! Aku sungguh senang saat ini. Tak ada satupun bodyguard di sampingku, aku tak harus beriskap angkuh dan egois dan yang paling penting, aku tak harus menuruti Umma yang selalu rewel dengan baju yang aku pakai. Memang sih.. seragam sekolah ini sungguh berbeda dengan seragamku yang dulu. Dengan lengan panjang kekuningan dan rompi warna biru tua dan rok pendek sepaha yang bercorak kotak-kotak berwarna senada dengan rompinya. Akupun bebas berdandan!! Ku kuncir miring ke atas rambutku yang panjangnya sebahu, memang sedikit acak-acakan, maklum aku tak terbiasa berdandan sendiri.

“Kenalkan, aku Min Da jung” kata seorang yeoja riang mengulurkan tangannya ke arahku. Akupun meraih tangan itu.

“Aku Shinra.” Jawabku singkat.

“Apa kau tak lapar?? Kajja.. ikut aku ke kantin. Sekalian kau aku ajak berkeliling sekolah ini.” Ajaknya, ku amati yeoja ini, kini dapat aku pastikan dia memang yeoja yang periang. Perlahan aku bangkit dari tempat dudukku dan pergi bersamanya.

Suasana kantin di sekolah ini sungguh berbeda dengan sekolahku yang dulu. Suasana disini lebih ramai dan cenderung membuat kelompok besar.

“Ya.. DA Jung!! Kesini!!” teriak yeoja berambut panjang dengan melambaikan tangannya ke arah Da jung. Da jung pun membalas lambaian tangannya dan menarikku mendekati yeoja itu beserta orang-orang  yang duduk di sekitarnya.

“Lama sekali sih kau!! Annyeong Shinra. Kenalkan, aku Song Hyemin. Kalian berdua, duduk lah.” Katanya ramah padaku. Aku tau wajah mereka smeua, walau aku tak tau siapa namanya, yang jelas mereka semua adalah teman sekelasku. Merekapun kini satu-persatu mengenalkan dirinya padaku.

“Ya..!! Minho.. kenapa kau tidak berkenalan juga huh?” tanya namja lain kepada namja yang memang dari tadi diam saja.

“Diamlah!! Aku Minho, Choi Minho.” Katanya singkat tanpa memandangku, dan masih berkutat dengan bukunya. Dengan kaca mata yang menghiasi wajahnya dan buku super tebal yang kini dibacanya aku yakin sekali dia namja yang kutu buku.

“Haha.. Sungguh tambah rame ya kelas kita. Kemarin Minho baru saja pindah, dan sekarang Shinra yang pindah. Kira-kira besok siapa lagi ya..??” celetuk Hyemin cengengesan.

“Bletak!!” suara pukulan Da jung yang bersarang di kapala Hyemin. “Yaa!! Kau ini!! Bangku di kelas kita sudah penuh tau!!” kata Da jung, Hyeminpun hanya bisa meringis kesakitan. Di ikuti semuanya yang tertawa senang.

Aku sungguh takjub dengan orang-orang ini, walau aku anak baru disini, tapi sikap mereka kepadaku sungguh ramah seakan-akan aku sudah lama berada disini. Mataku beredar mengamati semuanya satu-persatu hingga mataku berhenti ke arah satu namja, namja yang bernama Minho itu. Anehnya, aku sempat melihat matanya tadi juga sedang memandangku.

__________________________

Hari pertama di sekolah yang menurutku sungguh menyenangkan. Canda-gurau teman-teman kelasku sungguh mengocak perutku. Mereka semua sungguh lah kompak dan tak memikirkan diri sendiri. Sangat beda tentunya dengan teman-teman sekolahku yang dulu. Hah!! Kenapa aku selalu membandingkan sekolahku yang dulu dengan yang sekarang sih!! Batinku.

“Klontang.. klontang.. Pryaaang!!!” suara benda jatuh akupun sigap mengarahkan pandanganku ke sumber suara. Ternyata hanya beberapa kaleng yang jatuh. Baru saja aku akan melanjutkan langkahku menuju rumah (kontrakan yang sengaja di sewa oleh Appa), tapi mataku menangkap seperti ada seseorang di dekat kaleng-kaleng yang jatuh tadi. Huh!! Paling hanya perasaan saja. Batinku.

__________________________

Kini waktu jam pelajaran olah raga, sebagian besar siswa kelasku sudah berada di lapangan.

“Annyeong!! Baiklah, pembukaan olah raga kali ini silahkan kalian berlari keliling lapangan 5 kali. Pali!!” kata guru olahraga di ikuti dengan siswa-siswa yang berlari secara teratur.

Huh!! 5 kali?? Apa pak guru ini sungguh ingin membunuhku??? Runtukku dalam hati. Walau begitu, perintah tetaplah perintah jadi aku coba saja.

3 kali putaran sudah ku lalui, kini putaran yang ke 4, nafasku sudah ngos-ngosan sejak dari tadi sama dengan siswi yang lainnya, tapi nampaknya mereka juga tak terbiasa dengan lari 5 putaran. Hal ini dapat dilihat, banyak sekali siswi yang tertinggal di belakangku. Jadi?? Aku termasuk yeoja yang kuat lari nih?? Batinku cengengesan.

“OMO!! Aku sungguh tak kuat lagi!!!” teriak Hyemin yang sekarang memperlambat larinya.

“Aku juga!! Dasar Lee teuk seosangnim!!” sambung Dajung. Yang juga memperlambat larinya.

“Pali jagiya.. kau pasti bisa!” teriak seorang namja yang berada dipinggir lapangan dengan salah satu temannya ke arah kami bertiga. Akupun kaget, siapa yang dia panggil jagiya??

WuuuuSSssh..!! tiba-tiba seperti ada angin cepat yang melewatiku dan Da jung. Saat ini Hyemin sudah berada lumayan jauh di depanku.

“Dasar anak itu!! Kalau sudah ada Jonghyun~sii saja. Langsung deh semangat!!” kata Da jung kesal.

“Arah Jam 2!!!!” teriak Hyemin dari kejauhan, aku dan Da jung melihat ke arah yang di tunjukkan Hyemin. Disana ada seorang namja yang berjalan dengan headset di telinganya.

WuuusSh!!! Apa lagi sekarang??? Batinku yang melihat Da jung juga berlari dengan cepat ke depan. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku melihat tingkah mereka berdua.

Karena lari 5 kali putaran sangat menguras tenaga bagi yang perempuan, jadi Lee seosangnim memperbolehkan siswa perempuan beristirahat namun harus tetap berada dilapangan, sementara yang laki-laki bermain basket.

Kini, kedua tim basket sudah berada diposisi masing-masing. Dan bersiap saat nanti peluit di bunyikan.

“Tim A sih enak, karena 3 dari mereka memang tim inti basket sekolah. Sedangkan tim B, hanya ada 1 orang, memang sih ada beberapa di tim B yang lumayan. Tapi aku tak yakin Minho bisa.” Kata Hyemin. Jelas saja dia tau, karena namjachingunya adalah anggota tim basket yang bernama Kim Jonghyun. Karena itulah, saat melihat Jonghyun~sii tadi.. dia langsung semangat berlari.

“Iya juga sih.. aku juga berfikiran sama” kata Da jung setuju.

“Memang kalian sudah pernah milhat Minho main?? Katanya Minho baru pindah sehari sebelum aku pindah??” tanyaku.

“Woo.. kau membela Minho ya?? Jangan-jangan kau suka??” selidik Dajung yang sukses membuatku gelagapan.

“Ani!! Aku hanya bertanya.”

“HAha.. iya juga sih, kita memang belum pernah melihatnya bermain, tapi dengan kacamatanya dan kesukaan dia membaca, sedikit membuatku ragu dia bisa bermain basket.” Kata Da jung yang mengarahkan pandangannya ke arah Minho yang sedang melepas kacamatanya. Entah hanya perasaanku saja, atau bagaimana, ia kelihatan jauh lebih keren saat melepas kacamatanya.

“Memang Jinki~sii kelihatan bisa. Dia hanya suka bermain dan mendengarkan musik saja. Tapi kau justru jatuh cinta saat melihatnya bermain basket kan?? Dengan sangat jago lagi.” kata Hyemin.

“Nugu?? Jinki??” tanyaku yang penasaran dengan apa yang dikatakan Hyemin barusan.

“Ne, Lee Jinki, teman akrab Jonghyun, dia pintar sekali dalam bidang musik. Tapi tak disangka dia juga sangat jago bermain basket. Dan kau tau?? Si Da jung ini menyukainya.” Jelas Hyemin padaku. Kulirik wajah Dajung yang kini sudah semerah tomat.

“Sudah lah!! Kita lihat saja mereka” kata Dajung berusaha mengaihkan topik pembicaraan.

Sudah setengah pertandingan basket ini mulai. Seperti sudah diperkirakan tim A ungul dengan 18-16, namun permainan tim B tak seburuk yang Hyemin dan Da jung katakan. Tak hanya itu, Hyemin dan Dajung juga salah tentang Minho. Kemampuan Minho malah menyamai namja yang lainnya yang merupaakan anggota dari tim basket.

“Ya!! Kemari!!” teriak Minho kepada Sinwo yang sekarang memegang bola. Sinwopun melemparnya ke arah Minho, namun dari kiri Minho ada siswa yang aku lupa namanya menerobos dan seperti tak sengaja menabrak Minho dan akhirnya mereka jatuh bersamaan.

Aku yang melihat itu kaget sekali, entah kenapa nampaknya mereka jatuh begitu keras. Saking kagetnya aku berdiri dengan cepat tanpa ku sadari bola basket yang tadi Sinwo lempar mengenai kepalaku.

“AAaaaw!!” jeritku. Akibat dari bola basket yang keras menghantamku, aku mundur beberapa langkah dan terjungkal kebelakang.

“Gwaenchanayo??” kata Hyemin yang nampak khawatir.

“Ne, Gwaenchana.” Jawabku singkat berusaha untuk berdiri dengan di bantu oleh Hyemin dan Dajung.

“Semuanya.. kembali kekelas!”teriak Lee seosangnim dari arah lapangan basket.

Ku lihat Minho dan namja yang menabraknya tadi bersalaman dan saling menyunggingkan senyum mereka.

“Kaja..!! kita kembali kekelas” kata Da jung membuyarkan pandanganku.

Baru selangkah aku berjalan, tapi kenapa kaki kananku sungguh sakit saat ini?? Apa lagi saat aku melangkah. Aku berhenti sejenak. Apa keseleo ya?? Masak cuma jatuh kayak tadi langsung keseleo aja sih..?? batinku.

“Shinra!! Gwaenchana??” Dajung menatapku heran karena melihat diriku yang tiba-tiba saja berhenti.

“Ne, Pali!!” kataku mencoba tersenyum. Walau kakiku sakit, aku mencoba tetap bersikap biasa saja, aku tak mau membuat mereka khawatir. Itu juga kalau mereka nanti khawatir.

__________________________

“Seperti tahun-tahun sebelumnya, saat ulang tahun sekolah, Osis mengadakan acara- acara seperti bazar, drama dan kontes musik yang harus di ikuti oleh tiap kelas karena di lombakan. Kkelas 1 sudah dapat jatah acara bazar. Jadi untuk kelas 2 dan 3 nya harus mengikuti acara drama dan kontes musik. Jadi bagaimana teman-teman kita pilih yang mana nih?? Drama atau musik??” jelas Sinwo yang merupakan ketua kelas kami ini.

“Drama!!!” teriak hampir seluruh penghuni kelas ini serempak.

“Baiklah, jadi kelas kita mengikuti lomba drama. Tapi??  Drama tentang apa?? Yang jelas harus bertemakan dunia fantasy. Karena tahun ini temanya itu.” tanya ketua kelas lagi.

“Bagaimana kalau cinderella saja?? Kan keren?? Setuju nggak??” pendapat Dajung.

“Setuju!!” teriak mereka lagi yang kini sebagian besar yang berteriak adalah perempuannya.

“Kalau begitu, mari kita pilih tokoh-tokohnya. Mulai dari Pangerannya..??” kata Sinwo sambil menulis tulisan-tulisan tokoh-tokoh yang di perlukan pada papan tulis.

“Kau saja!!” kata Hyemin. “Kau kan sudah lumayan pantas menjadi pangeran, berwibawa lagi!!” Lanjut Hyemin.

“Tak bisa!! Aku kan ketua kelas. Ketua kelas dilarang ikut kontes apappun, karena nanti ketua kelas juga dimintai tolong oleh Osis.” Jawab Sinwo lesu.

“Minho Saja!!” kataku keceplosan. Serentak akupun menutup mulutku saat Minho menatapku dari bangkunya yang berada di depanku dengan pandangan seolah-olah berkata ‘Apa-apaan ini!!’

“Shinra benar. Bagaimana kalau Minho??” kata Dajung. Dan seluruh penghunipun menganguk anggukkan kepalanya tanda setuju.

“Oke. Minho jadi Pangeran. Cinderellanya??” tanya Sinwo sekali-lagi.

“Shinra saja!! Kalau dia tak mau, akupun juga tak mau jadi pangeran.” Kata Minho, dengan mendengar nada bicaranya sudah dapat dikatakan bahwa ia kesal.

“Mwo??? AniYo.. aku tak bisa.” Jawabku segera.

“Kalau begitu aku takkan mau!” kata Minho ketus tetap memandang pada bukunya.

“Ya!!” teriakku dan menghentakkan kakiku. Seketika itupun aku meringis kesakitan, karena lupa dengan kakiku yang sakit gara-gara pelajaran olah raga tadi.

“Kenapa Kau menunjukku??”teriakku pada Minho.

“Memang kenapa?? Kau tadi juga menunjukku??” kata Minho enteng

“Tapi kau memutuskan sepihak!! Aku tak setuju jika aku jadi cinderellanya.”

“Kau tadi juga sepihak! Kau hanya 1 orang, sedangkan di kelas ini ada 35 orang selain kau” katanya, sekarang dia memandangku.

“Sudah-sudah.. ayolah, Shinra.. kulihat-lihat kau cocok juga jadi Cinderella.” Kata Hyemin mencoba melunakkan suasana antara aku dan Minho.

“Ya.. benar kata Hyemin” kata Da jung. Di ikuti anggukan dari yang lainnya.

“Bagaimana Shinra??” Sinwo angkat bicara.

“Ne, aku akan jadi cinderella” kataku pasrah dan kembali duduk, dan terus menatap Minho kesal. Minhopun menatap kearahku dan menggerakkan bibirnya membentuk kalimat ‘Memang enak!’ dan menjulurkan lidahnya. Refleks aku melempar kotak pencil yang berada di depanku ke arahnya.

“Bletak!” yes!!! Tepat sasaran.

__________________________

Kesanku pada Minho sekarang berubah!! Ternyata namja itu mengesalkan juga!! Minho Pabo!! Runtukku dalam hati. Aku berjalan di trotoar yang menuju rumah kontrakan, dan kulihat ada kedai ice cream disana, kuputuskan untuk mampir dan membeli ice cream disana.

Selesai membeli ice cream aku melanjutkan perjalananku dengan menjilati ice cream raca coklat ini. Walau kakiku masih terasa sakit, tapi kurasa sakitnya sudah lumayan berkurang. Hehe!! Sungguh, 2 hari ini aku merasa sungguh bebas, tanpa pandangan orang, bodyguard ataupun lainnya. Haha!! Ku pejamkan mataku dan ku rentangkan tanganku untuk memperluas rasa kebebasanku. Duk!! Kurasa tangan kananku tertabrak sesuatu. Ku buka mataku, dan benar saja ice cream yang tadinya berada di tanganku sekarang sudah berada di dada namja yang tak ku kenal.

“Mianhae!!!” jeritku histeris padanya. Dari pakaiannya ia juga bersekolah dimana aku sekarang bersekolah.

“Ne, gwaenchana.” Katanya singkat dan tersenyum

“Jeongmal mianhae, Ooh.. Chankaman!!” kataku, mengobrak-abrik isi tasku dan menemukan sekotak tisu. Kutarik beberapa tisu dan mengusapkannya pada dadanya yang terkena ice cream.

“Ani..ani.. aku bisa sendiri!” katanya meraih kotak tisuku dan membersihkan bajunya. Kulihat dia. Tampan! Batinku, kulirik nama yang tertulis di bajunya. ‘Lee Jinki’.

“Kau!!! Lee Jinki temannya Kim Jonghyun yang pacarnya Hyemin ya.?? Dan kau yang disukai Da jung?? Benarkan?? “ cerocosku yang baru ingat apa yang di ceritaka Hyemin tadi.

“Ne, aku temannya Kim Jonghyun yang pacarnya Hyemin. Tapi aku tak tau kalau Da jung suka padaku??” katanya menirukan gaya bicaraku dan kemudian membentuk ekspresi aneh.

“OOpps.. aku keceplosan. Sebaiknya kau pulan dulu ya.. Annyeong!!” kataku yang kemudian kabur dengan cepat.

“Ya!! Siapa namamu??” tanya Jinki setengah berteriak.

“Shinra.. Goo Shinra. Ehe he..” Jawabku dengan senyum yang mengada-ngada. Aku masih memikirkan apa yang nantinya ku terima saat Dajung tau kalau aku sudah bicara pada Jinki~sii kalau Dajung suka padanya. Sesudah melambaikan tanganku akupun berbelok di pertigaan dengan sedikit berlari sehingga nyaris saja menabrak orang.

“Pabo!!” katanya memukul kepalaku dengan buku super tebalnya.

“Ya!!! Minho!! Sakit!!! Buku itu tebalnya 6 cm tau!!” teriakku.

“Kakimu bagaimana?? Apa sudah tidak sakit lagi?? Sehingga kau bisa berlari?” katanya yag membuatku kaget. Mengapa dia bisa tau??.

“Ani, kakiku tidak sakit sama sekali kok!” kataku bohong. Minhopun menjatuhkan bukunya tepat di atas kakiku, hingga membuatku teriak dengan keras.

“Masih mau bohong.!” Kata Minho mengambil buku yang jatuh dan langsung mengendongku di pundaknya hingga aku bisa melihat punggungnya.

“YA!! Minho!! Turunkan aku!!!” teriakku. Namun Minho masih saja tak mau menurut. Hingga kami berada di depan rumah sementaraku.

Ha!! Pasti sebentar lagi Minho menurunkanku. Jelas tak mungkin kan ia memiliki kunci rumah. Fikirku. Tapi pemikiranku itu salah. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan kunci hingga kunci itu dapat membuka pintu. Aku kaget dengan apa yang ia lakukan.

“Kenapa kau punya kunci rumahku??” tanyaku saat Minho membuka sepatuku untuk mengobati kakiku yang abru kusadari sudah lumayan membengkak.

“Rumahmu?? Ini rumahku juga tau!” katanya.

“Mwo?? Maksudmu??”

“Aku tau siapa kau, kau anak dari Goo Yonghwa kan? Pengusaha di Korea ini. Dan asal kau tau, Goo Yonghwa appamu itu menyewaku untuk menjadi bodyguard, yang harus menjagamu dan menjadi penghubung antara kau dan appamu.” Jelasnya panjang lebar yang sunguh sukses membuatku melongo, dan membuat tampang bloonku.

“Hajiman… Appa bilang tak akan memberiku bodyguardkan?? Kenapa tiba-tiba ada bodyguard??”

“Kau fikir appamu mau melepas anaknya yang pabo ini sendirian hah?? Tapi tenang saja appamu hanya menyuruhku menjagamu dari jauh. Istilahnya hanya mengawasimu” kata Minho.

“Aku tak percaya!! Aku harus menghubungi appa terlebih dahulu.” Kataku mencoba mengambil handphoneku di tas.

“Huh!! Kau kan dilarang menghubunginya. Lagian Appa dan Ummamu sedang ada di Hawai.” Kata Minho menjambret handphone yang tadi kugenggam.

“Mwo???” teriakku. “Wae??????”

__________________________

Kukerjap-kerjapkan mataku. Hah!! Aku pasti tertidur tadi, batinku. Aku masih bingung antara percaya dengan apa yang di katakan Minho atau tidak. Apalagi kata-katanya sungguh meyakinkan. Kulirik jam yang duduk manis di mejaku. Jam 11??. Hah?? Aku haus. Akupun berjalan keluar kamar untuk mengambil air putih.

Setelah membuka kamar, kulihat kamar yang berada di sampingku lampunya menyala dan terdengar sedikit bising karena benda-benda yang di geser. Ku buka paksa pintu kamar itu. Mataku terbelalak melihat Minho rak buku dengan hanya memakai celana selutut.

“Ya!!! Kenapa kau disini?? Cepat pakai bajumu!!” teriakku sambil menutupi sebagian mataku walau ujung-ujungnya aku ngintip juga.

“Justru aku yang harus bertanya. Kenapa kau masuk kamarku?”tanyanya.

“Oya.. aku lupa..” kataku gugup dan ingin rasanya cepat-cepat keluar. Tapi sebelum seluruh pintu terbuka Minho menutupnya kembali.

“Mwo?? Ige Mwoya??” kataku masih saja menutup mataku dengan jari tangan yang sedikit meregang.

“Lain kali, kalau masuk kamarku ketok pintu dulu. Dan kalau di rumah kau jangan memakai baju seperti itu, apalagi ada orang asing.” Katanya kemudian mendorongku keluar kamarnya.

Aku masih bingung dengan ucapannya tadi, memang pakaianku seperti apa?? Kulihat baju yang kupakai. Biasa saja! Batinku melihat baju tidur lengan panjang berwarna biru muda dengan corak bintang warna putih.

“OMO!!!” jeritku melihat celana yang kupakai. Celana transparan sepaha!!

“Minho pervert!!” jeritku lagi.

“Ya!!! Kau yang memakai itu!! Mengapa mengataiku!!” jawabnya dengan kepala keluar dari pintu, sungguh membuatku mengira dia hantu.

Aku kembali masuk kamar dan mengganti celana yang kukenakan tadi dengan celana panjang. Kemlai aku keluar kamar dan langsung menuju dapur. Rumah yang di sewa appa ini memang tak terlalu besar dan tak terlalu kecil pula. Dengan 2 kamar yang saling berjejer, ruang tv, dapur dan ruang tamu khas Korea.

Kulongokkan kepalaku ke dalam kulkas. Tak ada apapun. Padahal aku lagi lapar nih. Apa aku ke warung dekat sini saja ya?? Tapi.. malas rasanya, lagian takut juga yeoja cantik sepertiku berjalan di malam hari seperti ini!! Batinku. Kuputuskan untuk minum saja, kalau sudah kembung pasti ntar nggak laper kan. Kutuangkan air putih di gelas yang tak bisa dibilang kecil hingga penuh. Dan meneguk isinya perlahan.

“Kau kelaparan ya!! Hingga minum sebanyak itu!!” kata Minho mengagetkanku, hingga air minum yang sedang dalam proses penelanan terpaksa menyembur keluar ke tubuh Minho.

“KAU!!!” kata Minho kesal dengan tatapan bringasnya apalagi tanpa kacamata yang sedikit menutupi matanya yang bulat besar.

“Mianhae.” Kataku lirik. “Habis kau mengagetkanku sih!!” jeritku kembali.

“Hobimu kaget dan jerat-jerit ya!!”kata Minho dan berjalan menjauh dariku untuk mengambil handuk. Saat ia membelakangiku, kujulurkan lidahku sepanjang-panjangnya, namu saat itu juga Minho menatapku dengan tatapan tambah kesalnya.

“APA!!!” kata Minho.

“Ha?? Apanya yang apa?? Aku tak lapar kok!!” jawabku. “Kriiiyuuk..” suara perutku keluar. Dasar Perut tak bisa diajak kompromi!!! Batinku.

“Dasar!!” celetuk Minho singkat.

Tanpa hitungan jam kini makanan sudah tersaji dengan rapi. Dan semua ini berkat Minho.

“Kau bisa masak juga ya..?? hebat..hebat!” kataku menepuk pundaknya.

“kau saja yang pabo, masak begini saja kau tak bisa. Seharusnya walau kau anak pengusaha kau harus tetap bisa masak. Belajarlah mandiri. Hajiman.. gomawo buat pujianmu.” Katanya masih merapikan sendok.

“Ne, Cheonmaneyo.. sungguh Minho, kau hebat banget!! Untuk jadi jongos. Hehehe…” kataku jahil dan lekas duduk.

“Kau!!!” kata Minho kesal lagi. “Huh.. sudahlah. Makan saja!”.

Kupandangi wajahnya. Di rumah ia tak memakai kacamata dan tidak membawa-bawa buku super tebalnya. Walau Minho adalah bodyguardku. Tapi saat ada di dekatnya aku masih merasa bebas bahkan obrolan kamipun tak seperti antara majikan dan bodyguard melainkan sebagai teman.

__________________________

“Teeet!!!” bel sekolah berbunyi nyaring.

“Annyeong hasaeyo..” kata guru matematika itu pergi meninggalkan kelas.

Siswa-siswa kelaskupun berhamburan keluar kelas. Hari ini tugasku piket. Jadi terpaksa pulang telat nih.

“Aku ada urusan. Kau bisa pulang sendiri kan??” kata Minho mendekatiku saat di kelas hanya tinggal aku dan Minho.

Beberapa hari ini kami memang selalu pulang bersama dengan alasan Minho harus menjagaku, padahal sesekali aku ingin pulang bersama Dajung dan Hyemin, apalagi mereka selalu bilang akan mengajakku ke tempat tongkrongan mereka. Aku dan Minho juga sepakat tak akan memberi tau siapapun bahwa kami tinggal bersama gara-gara Minho bodyguardku, kalau samapai tersebar, bisa-bisa identitasku ketahuan lagi.

“Ne” jawabku singkat. Minhopun langsung bergegas keluar kelas.

Setelah aku piket, aku langsung memutuskan untuk pulang. Saat ini aku sungguh malas mengadakan acara keliling-keliling pertokoan seperti biasa yang aku lakukan untuk menghirup udara kebebasan. Baru mencapai gerbang, hujan deras turun begitu saja. Kubiarkan terpaan hujan ini membasahhi tubuhku. Rasanya sudah lama aku tak hujan-hujanan! Batinku. Walau udara sore ini cukup dingin aku masih ingin bermain hujan-hujanan.

Sudah cukup lama aku menunggu bis yang tak kunjung datang sedangkan sekarang sudah menunjukkan pukul 7 malam. Udara semakin dingin apalagi hujan yang tak kunjung berhenti. Dengan nekat dan kesal juga menunggu bis. Jadi aku berjalan saja dari halte bis ini rumah.

SHINRA POV END

MINHO POV

Sebenarnya aku terpaksa sekali menyuruhnya pulang sendiri tapi apa boleh buat. Tiba-tiba orang itu menelphoneku pagi ini. Orang yang satu ini sungguh merepotkan!! Walau begitu, aku tetap menyayanginya. Bis yang kutunggu sudah datang yang akan membawaku pulang kerumah. Rumah yang hanya sesekali kukunjungi. Saat baru duduk di bis ini. Tiba-tiba handphone ku berdering.

Ya!! Minho.. kemana saja kau!! Kita bertemu di SHINee cafe saja. Aku ingin kau menceritakan segalanya tentang yeoja itu. Aku sudah diberitahu semuanya tentang rencana Appa dan temannya. Makanya Pali!!” teriaknya.

“Ne, jangan teriak-teriak seperti itu Key!! Kupingku sakit!!” kututup telfonnya supaya kupingku tak benar-benar menjadi tuli gara-gara teriakkannya.

__________________________

Aku bergegas pulang setelah menceritakan semuanya kepada Key. Hujan sudah dari tadi sore turun, tapi aku harap Shinra sudah tiba di rumah. Aku sungguh khawatir padanya. Bagaimana kalau sampai terjadi apa-apa dengannya?? Aku bisa dibunuh oleh Goo agashi dan key.

Aku sudah tiba dirumah tapi dari luar rumah sudah nampak sekali tak ada yang masuk sebelumnya. Karena masih sedikit ragu. Aku masuk rumah dan benar saja, tak ada tanda-tanda Shinra disini. Ku raih handphone ku dan ku hubungi noomor Shinra. Tidak aktif!! Batinku. Ku lemparkan tasku, dan mengambil payung kemudian bergegas keluar rumah untuk mencarinya. Kubuka pintu rumah, dan aku kaget melihatnya. Shinra kebasahan dan menggigil kedinginan.

“Shinra!! Ayo cepat masuk!!” kataku menggenggam tangannya. Tangan yang dinginnya hampir sama dengan es. Tiba-tiba kulihat ia sedikit sempoyongan berjalan, kupegang bahunya dan hendak menuntunnya berjalan. Tapi aku terlambat. Ia sudah jatuh duluan tak sadarkan diri.

Ku gendong ia dan menidurkannya di tempat tidurnya. Tubuhnya sungguh basah kuyup. Bibir yang biasanya berwarna merah muda, saat ini berubah menjadi ke biruan. Kuraih rompi bajunya dan membukanya perlahan. Aku bimbang sekali antara membuka kemejanya atau tidak. Kuputuskan tidak sajalah. Nanti dia bisa salah paham lagi. Batinku.

Aku keluar dari kamarnya mencari pemanas ruangan tapi tidak ada satupun disini. Bagaimana ini!! Batinku. Kalau dibiarkan begini besok pasti ia sakit!!. aku berjalan kekamarku dan mengambil selimutku dan kembali kekamar Shinra. Ku tutupi tubuhnya dengan selimutnya dan selimutku. Ku rebahkan badanku di sampingnya dan memeluknya erat, mencoba menghangatkannya.

“Lepaskan, Minho..” rewelnya lirih masih di bawah alam sadarnya, mencoba melepaskan lenganku yang melingkari badannya.

“Sudahlah diam saja. Toh aku juga calon tunanganmu!!”

To Be Continued…

­­­­­­­Waaach.. Part 1ny udah selesai nih.. gimana-gimana?? Mohon kritik dan sarannya ya… gomawo chingu.. aku harap FF ini bisa diterima.

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

41 thoughts on “Agreement – Part 1”

  1. banyak typo thor
    terus ada kata-kata yg gak menyambung dengan kata-kata lain
    tapi sebihnya bagus kok
    hahahaha aku udah yakin minho tunangannya
    tapi yg aku bingungkan Key?? key jadi siapa
    penasaran nih thor
    lanjut thor, jangan lama-lama ya

  2. baguuuusss!
    Tadi aku sempet ngira calonnya itu key sebelum minho ngomong kalo dia tunangannya hehe..
    Yang sebelumnya ngikutin shinra sampe bunyi kaleng tu minho ya?

  3. Wuih..jd tunangany minho y? Wh g n0lak ne..eh tp bang konci disini jd apa?msa cm muncul dkit amit?

    Ditunggu next partny ya, jgn lama2 hehe

  4. ada banyak typo, tp secara keseluruhan ngerti kok apa maksud author 😉
    sudah kuduga, minho itu bodyguard+tunangannya shinra aheuuum *ngiri deh guee*
    tapi key siapa tuh?
    ayo part selanjutnya, penasaran neeeh!

  5. Mianhae!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    aduh..duh.. perasaann udah aku cek 3 kali.. tpi msih ada aja typonya..

    hehe… Gomawo ya.. udah baca ffq ini.. dan Comment..

    gomawo..2

  6. sumpah! kaget beneran waktu minho bilang : ‘sudahlah diam saja! toh aku calon tunanganmu!’
    OMO!
    terus key siapa’y nih? aigoo~ penasaran!
    udah jd bodyguard, tunangan’y pula? hahaha XD
    kajja lanjut ya chingu. oia, lbih prhatiin lagi. banyak typo, hehe.. hwaiting!

  7. DAEBAAAAAAAAAAAAK!

    *cium author*

    :*

    keren.keren.keren. aku suka banget ceritanya!! waahh dr awal aq udah nebak2 kayaknya Minho ini yang ditunangkan sama tuh cewek. eh ternyata bener. wlo udah nebak dr awal, tp aq tetep aja kaget waktu di ending Minho bilang gitu! >.<

    soalnya ditengah2 aq sempet dilema. wktu ada nama key. aq pikir jgn2 key ini calon tunangan?? hahahaha

    secepatnyaa lanjutannya plissssssssssss

  8. ceileh minho co cweet *alay mode on

    enak bgt d jdodhin ama bang minho. Mauuuuuuuu!!!

    cerita na bagus. D tgu deh! Pi jngan lma2 !

  9. what !!!!!!
    ya author !! lanjutannya !! palli ya !!!
    aku mau tau ..!!! itu beneran si minho ?? kok bisa sekolah di situ duluan !!!
    hyaa key siapanya ??
    aku mau tau lanjutannya .. lanjut !!

  10. Waw seruuuu~
    Eh eh eh, aku kira calon tunangannya itu si key. Taunya si minho toh. Terus key saha dong?
    Cepet lanjut deh thor biar ga bingung *reader songong*

  11. waaah minhoppaaaaa… ceritanya seru ayooo lanjut thor tar critanya ada tang mau jahatin shinra yah kayak ada yg mau nyulik atoo pa gtu biar rame heheh

    good jo ^_^

  12. Daebak author!
    Keren!

    Minho jg bodyguard? Jagain aku yahh.. #plakk

    Minho tunangannya ya, saya kra Key, ehh trnyta.. Truz key siapanya sih?

    Lnjutnnya jgn lma2 y..

  13. Huwwwaaaa cerita’a seru n keren chingu..

    Ternyata Minho tunangan’a ya? Aw aw,baru calon tunangan tp udah d’jagain n satu rmh..senang’a,hehe

    cepet d’lanjut yaa crita’a chingu,aku penasaran..gomawo

  14. aaaa~ teriak teriak gajelas..
    gentle nya minho ampe gak berani buka bajunya shinra tp pake cara lain yg lebih menghormati wanita.. ah #envy apalagi ternyata mereka berdua ternyata tunangan! daebak..
    ayo author lanjutt!

  15. Waaaaaa sweeeeet
    Mwoyamwoyamwoyaaaa!!!
    Jadijadi minho calon tunangannya?
    Aaaa bakal seru nih!
    Lanjutttt

  16. ih, si minho unyu banget…. so sweet gitu XD huehehehehe..
    tapi ada sedikit penenmpatan kalimat yg kurang pas 🙂 hehehehe
    kerennn~~~ hohoho

  17. katanya minho bodyguardnya, tp dia bilang dia calon tunangannya, huaa makin penasaran, aku reader baru slm kenal dan ijin baca….

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s