I Love The Way You Lie : My 1st Kiss And His Confession

  I LOVE THE WAY YOU LIE

Author: Angelic autumn

Cast: Runa, Key (SHINee), Kim Sujin, Choi Minho (SHINee)

Support cast: Dimas,Intan,SHINee’s member, and find other in the story.

Type: sequel

Genre: romance, school life, comedy (?), friendship.

Rating: PG 13

Disclaimer: all of the plot and story is mine except SHINee member, they are belong to god and themselves.

p.s: annyeong reader, aku author pemula nih, hehe jadi kalau ceritanya gaje mianhe. Namanya juga coba-coba jadi pasti ada kekurangan. Oke gak usah banyak bacot kita mulai aja.. HAPPY READING… AND REMEMBER TO LEAVE A COMMENT..

                            “MY FIRST KISS AND HIS CONFESSION”

=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*

 Runa’s POV

              “RARUNA, CEPET MANDI,GANTI BAJU, SEKOLAH ENGGAK. KALO ENGGAK KAKAK SITA HANDPHONE-NYA YA?!” kak Dimas berteriak dari pintu kamarku, haduh begini deh kalau punya kakak yang super disiplin, meleng waktu sedikit saja enggak boleh. “YA~ RUNA BANGUN SIH!! ENGGAK USAH TERIAK DEH KAK, MALU AMA KUCING TETANGGA!!!” teriakku balik.

           Aku turun dari ranjang dan segera menyambar handuk yang digantung dekat lemari. Huh, pagi yang sama dengan teriakkan antara dua adik kakak. Beginilah pagiku semenjak pindah ke korea , karena enggak bisa menyesuaikan waktu di sini aku sering telat bangun.

             Oh ya, aku belum memperkenalkan diri, ketahuan banget enggak sopannya hehe.. aku Raruna Mcdough, 17 tahun. Dan yang tadi teriak itu kakakku, kak Dimas. Aku orang Indonesia asli, walau ada darah campuran amerika gitu deh, makanya nama belakang aku sama kak Dimas itu Mcdough. Kalian pasti ingin tahu kenapa aku sama kakakku yang rese ini bisa sampai ke korea ? Jadi, ini semua karena pekerjaannya kak Dimas. Kak Dimas itu kerja di sebuah perusahaan asing dan yang memiliki perusahaan itu orang korea asli, namanya Mr. Kim.

              Mr. Kim itu baik banget sama Kak Dimas, dan inilah salah satu kebaikannya. Mr.Kim menaikkan jabatan Kak Dimas dan memindahkan kak Dimas ke kantor pusat di korea . Aku ikut senang mendengarnya dan ikut sedih di saat yang bersamaan, karena harus meninggalkan tanah air tercinta. Jujur, walaupun aku bukan orang Indonesia asli tapi, aku cinta banget sama Indonesia , dengan budaya, makanan dan segala keanekaragamannya.

         Kak Dimas juga mengalami hal yang sama, dan yang paling membuatnya tertekan adalah harus meninggalkan kak Intan, pacarnya. Karena takut dirinya mendua, jadi ia memutuskan untuk menikahi Kak Intan terlebih dahulu dan membawanya sekalian ke Korea, kalau soal pacar kak Dimas memang memegang teguh kata ‘setia’ tidak heran Kak Intan juga setia.

             Aku sudah siap untuk pergi ke sekolah hari ini. Seragam sekolah di korea ternyata lumayan keren, dengan kemeja putih lengan pendek dan blazer tanpa lengan, dasinya yang berwarna merah diikat pita, terus roknya bermotif garis-garis hitam-putih. Serasi dengan blazernya yang hitam dan kemejanya yang putih. Rambutku yang coklat tembaga kubiarkan tergerai dengan memberi jepitan pita putih pada sisi kanan rambut. Semua sudah siap.

                Di meja makan ternyata sudah ada Kak Dimas dan kakak iparku, kak Intan. Lucu deh rasanya manggil dengan sebutan kakak ipar kesannya aneh. Aku tidak tahu terletak dimana kesan anehnya tapi, mungkin karena aku belum terbiasa dengan status mereka yang sudah menikah.

             “Runa, kenapa melamun? Ayo, dimakan sarapannya. Nanti keburu dingin loh!” ujar kak Intan, aku langsung mengambil tempat duduk di sebelah kak Dimas. Baru mau memakan sarapanku, aku baru sadar kalau itu bubur. Tapi, buburnya warna merah putih. Memang bayi siapa yang baru lahir? “Kak, kenapa kita sarapan bubur merah putih? Ada yang habis lahiran ya?” tanyaku bingung. Kak Intan tidak menjawab, melainkan tersenyum-senyum sendiri. “Kamu masih tidak peka juga Runa, bentar lagi kamu tuh jadi tante tahu!” sahut kak Dimas, aku terdiam. ‘tante’ pikirku. “Kak..kakak serius, Kak Intan hamil kak?” Kak Intan mengangguk semangat, senyuman di wajahnya semakin melebar.

               “Wah, Runa enggak menyangka Kak Dimas sekali tendang langsung gol. Padahal aku ragu loh sama Kakak, kukira kakak Impoten.” Aku melirik kak Dimas dengan nada mengejek, ‘PLETAK’ satu jitakan maut berhasil mendarat di dahiku, “ih, kakak kok jitak aku sih?” aku merajuk, nih kakak udah mau jadi ayah masih aja usil sama adiknya. Nanti anak-anaknya gimana? Mudah-mudahan aja lebih banyak mirip ke Kak Intan bisa enggak beres kalau sama kayak ayahnya. “Kamu tuh kalau bicara hati-hati, nanti tahu-tahunya suami kamu lagi yang impotent, mau!?” aku semakin merajuk, sekarang bibirku mengerucut. Kak Intan yang melihatnya hanya terkekeh. Hih, kak Dimas memang nyebelin.

*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=

           Aku berangkat ke sekolah bersama Sujin hari ini, tumben sekali dia tidak naik mobil, biasanya kakak perempuannya yang selalu mengantar Sujin ke sekolah. Sujin itu teman baruku di sekolahku yang sekarang. Dia anak yang sangat baik dan manis, setiap aku ada kesulitan pasti ia yang akan pertama kali muncul dan menolongku, andai ia namja aku akan memanggilnya ‘My Hero’ namun, sayang dia yeoja. Jadi, dia tidak akan kupanggil apa-apa. (-_-“)

               “Runa-ya~!” panggil seseorang, duh suara si setan cantik (?).

               “Runa-ya, dipanggil Key tuh. Aku duluan ya kalau begitu, gerbang sekolah sudah dekat. Annyeong higaseyo.” Sujin langsung pergi begitu saja, aku mencoba memanggilnya namun, Key sudah berdiri di hadapanku dengan mata menyipit dan senyum lebar yang menunjukkan sederatan gigi putih miliknya. Kalau sudah begini mau lari bagaimana? (T^T)

                “Annyeong Runa-ya, kau mau ke sekolahkan? Ayo bersama.” Ajaknya, aku hanya tersenyum kikuk. “Eh, tidak usah kau duluan saja Key-ssi. Aku masih ada urusan,” kilahku, semoga ia percaya haduh cepatlah pergi. “Urusan? Urusan apa? Kalau hanya urusan kecil aku akan menunggumu,” sekarang aku semakin pusing mau mencari alasan apa. Kalian tahu, kenapa aku menolak Key seorang namja popular di sekolah yang statusnya adalah orang paling diincar para yeoja satu sekolah? Karena, DIA SELALU MENGGANGGUKU SEMENJAK INSIDEN 10 HARI LALU, stress tidak sih kalau setiap waktu kau selalu diikuti orang lain dan tidak diberikan privasi hanya untuk sekedar sendiri, walau itu ke toilet sekalipun? Itu namanya menyalahi aturan, akukan juga butuh waktu untuk memenuhi panggilan alamku. Bisa kena sembelit aku kalau si Key mengikutiku terus. Dan soal insiden 10 hari yang lalu itu, begini ceritanya….

===FLASHBACK===

           Sekarang sudah memasuki waktu istirahat, perutku rasanya perih sekali. mungkin ini karena tadi pagi sebelum berangkat aku tidak sarapan. Sujin dengan baiknya pergi ke kantin dan membelikan aku roti dan jus. Tapi, naasnya itu jus jeruk dan aku alergi jus jeruk, mukaku langsung memerah dan bercak-bercak merah juga bermunculan di tubuhku. Sujin yang ikutan panik dan merasa bersalah langsung menyuruhku berlari ke UKS supaya mendapat obat di sana .

           Aku berlari sekencang mungkin, tidak mau ada orang lain yang menyadari perubahan kulitku ini, pasti memalukan sekali wajahku sekarang.(T^T).

             Aku mendengar orang-orang berteriak panik, ‘ada apa ya? Apa mereka menyadariku yang sedang dalam mode buruk rupa ini? ANDWAE….!~’ batinku, namun ternyata bukan aku yang mereka teriaki, melainkan seorang namja di depanku, hah! Di depanku? Aku tidak sempat mengerem laju lariku dan bunyi terakhir yang sempat kudengar adalah suara berdebam keras.

              Aku menutup mataku, tidak berani melihat apa yang terjadi. Tapi, ada sesuatu yang aneh, aku merasa sesuatu yang hangat dan lembab menyentuh bibirku bahkan sekarang seperti melumat. Mati aku, apaan tuh? Cukup penasaran, aku membuka mataku perlahan dan coba tebak apa yang kudapati? Aku menindih seorang namja yang tadi tidak sengaja kutabrak, dan yang lebih menakjubkan lagi bibir kami bersentuhan.

          HE STOLEN MY FIRST KISS YOU KNOW!!! Kalau Cuma menempel mungkin masih bisa kumaklumi karena kami tadi tak sengaja bertabrakan, tapi ini, dia melumat bibirku bahkan tangan kirinya memeluk pinggangku dan tangan kanannya memegang tengkukku untuk memperdalam ciumannya. Kurang ajar enggak tuh, sayang posisiku benar-benar dalam keadaan yang tidak memungkinkan, gerakanku terkunci oleh pelukannya. Kalau aku bebas sudah ku tendang ‘member’mu bung!

             Dengan sedikit usaha aku menggerakkan kepalaku dan membenturkannya keras-keras ke kepala namja itu, biarlah benjol daripada namja itu terus berbuat kurang ajar padaku. Ia mengerang kesakitan dan itu berhasil membuatnya melepas pelukannya. Untuk beberapa saat ia mengerang, aku berdiri dan menendang kakinya, “Dasar nappeun namja. Beraninya kau berbuat seperti itu padaku, cari mati kau, hah?!” aku mengelap bibirku kasar, aku jijik dengan diriku sendiri sekarang.

               Tapi, anehnya ia tidak bergerak sama sekali. Aku jadi merasa takut, mata namja itupun terpejam, tak menunjukkan pergerakkan apapun. Apa ia mati? Orang-orang di sana yang ternyata adalah namja, berjumlah sekitar 4 orang menatapku dengan pandangan aneh. Setelah cukup lama memandang seperti itu, salah satu di antara mereka memberi isyarat pada yang lain. Dua orang yang lain mengangguk dan berjalan mendekati namja yang sudah tidak sadarkan diri itu, dan yang satunya mencengkram tanganku kuat dan membawa aku menyusul namja yang tadi tak sadarkan diri itu.

                “Kau harus bertanggung jawab!” pinta namja bertubuh kekar di hadapanku ini, “mwo? Tanggung jawab? Tanggung jawab apa akukan tidak melakukan apa-apa?” tanyaku bingung, jujur aku sudah naik pitam sekarang. Enak saja mereka memintaku bertanggung jawab atas perbuatan yang sama sekali tidak kuperbuat. “Kau sudah membuat teman kami pingsan. Sekarang kau harus tunggu di sini sampai ia sadar, kalau tidak lihat apa yang kami akan perbuat terhadapmu,” Loh, kok dia jadi mengancam. Memang mereka pikir aku takut apa?! “excuse me, this isn’t my fault. But this is his fault, if your pervert friend not kiss me deeply, I won’t hit him!” salah seorang dari mereka malah tertawa mendengar kata-kataku, memang mereka pikir ini guyonan yang lucu apa? “hey, take easy miss. Kami hanya ingin kau menjaga teman kami sampai ia sadar itu saja, apa sulitnya?”

       Aku mendengus, “aku tidak mau, kaliankan temannya kenapa tidak kalian sendiri saja?”

  “Kaukan yang membuat ia tidak sadar, jadi itu adalah tanggung jawabmu. Kalau kau tidak mau jangan salahkan kami jika…Taemin, tunjukkan foto tadi padanya.” Seorang namja berambut pirang yang tadi menertawaiku mengambil sesuatu dari sakunya.

          Ia menyerahkan handphone-nya kepadaku, sesaat aku menatap handphone itu bingung lalu ketika menatap layarnya….aku menahan nafas, itu,itu foto aku yang berciuman bersama namja tadi. Kapan mereka memotretnya? Aku menatap tajam namja di depanku dan mendengus, “dasar picik kau!” gumamku. Dengan soknya dia menyeringai padaku, kemudian pergi bersama ketiga temannya yang lain. Mati aku sekarang, kalau sampai foto itu beredar di sekolah, maka bisa buruk namaku mana posisinya di foto enggak enak banget lagi.

             Setelah 30 menit menunggu, akhirnya namja itu sadar. Ia menatap ke sekelilingnya dan terpaku saat matanya bertemu dengan mataku. Akhirnya sadar juga namja ini, kalau tidak sadar juga aku kubur dia hidup-hidup biar mati sekalian. *tega amat sih run!*

              “Kau siapa?” tanya namja itu lemah, kurasa ia masih lemas. Apa sekeras itu ya pukulanku? “Aku…aku…yang tadi tidak sengaja menabrakmu dan kau….” BLUSH, wajahku pasti sekarang memerah mengingat kejadian mengenaskan yang terjadi pada bibirku.

              Namja itu menatapku intens dan kemudian bangun dari tidurnya, “soal itu, aku ingat. Mianhe, tadi aku… menciummu,” balasnya, kulihat ia menunduk namun, tidak menutupi semburat merah di pipinya. Neomu kyeopta, haish apa yang kau pikirkan sih Runa!

             “Gwenchana, lagi pula aku yang salah sudah menabrakmu,”

              “aniyo, kalau kau tidak menabrakku tadi, mungkin aku sudah celaka karena pot itu.” Aku menatapnya bingung, “pot?” ia mengangguk, “ne, pot. Waktu itu ada pot dari lantai 2 yang nyaris jatuh menimpaku, kalau kau saat itu tidak menabrakku mungkin kepalaku sudah terkena benda itu.” Ceritanya panjang lebar. Aku hanya ber-oh ria.

              Beberapa saat suasana berubah menjadi hening, aku menatap ke arah jendela ruang UKS sampai tidak sadar kalau namja itu, sedang menatapku lekat-lekat. Bikin salting aja sih, aku tahu kok aku cantik dan manis tapi enggak segitunya kali.*cuih* aku memandangnya balik, matanya indah sekali, bening dan hitam, sorot matanya tajam dan menghanyutkan. DEG, waduh kenapa jantungku jadi berdebar-debar begini? Jangan bilang aku kena penyakit jantung sekarang, oh tuhan aku belum siap mati, nanti siapa yang ngeledekin Kak Dimas di rumah, terus siapa yang kasih makan pocci, kucing tetangga, siapa yang nemenin Kak Dimas teriak-teriak, terus siapa yang ngeledekin becky via chat karena namanya yang bisa di ganti jadi blacky, terus gimana nasib afgan bila dia kehilangan fans yang sangat fanatik sama dia, nanti siapa yang kasih makan ….hualah, bisa-bisa bikin list permohonan nih. *dasar sarap*

             “Ya! Mengapa kau memandangku seperti itu? Apa ada sesuatu dengan wajahku?” tanyaku gugup.

             “Ah, aniyo, mianhe. Gamsahamnida kau sudah menolongku dan….menemaniku di sini. Ada sesuatu yang inginku katakan?” ujarnya, aku tersenyum dan mengangguk memberi tanda bahwa dia boleh mengatakannya.

             “Maukah kau menjadi yeojachinguku?” tanyanya to the point.

           Tuhkan, belum apa-apa aja udah nembak. Kenalan aja belum, apa segitu cantiknya ya aku sampai dia enggak bisa nahan perasaannya seenggaknya sampai kenalan dulu gitu ck.ck..ck *haduh narsis tingkat akut nih, mohon jangan ditiru ok! Reader: siapa juga yang mau niru thor-thor* aku menggaruk kepalaku yang tidak datar, kemudian berdiri dan membungkuk dalam. “Mianheyo, aku tidak bisa menjadi kekasihmu.. ini, terlalu mendadak untukku. Bagaimana kalau kita menjadi teman saja?” usulku, aku melirik ke arahnya. Ia mendesah, aku jadi merasa tidak enak.

              “Begitu ya? Aku mengerti, kalau begitu kita berteman. Dan kau adalah teman baikku sekarang,” jawabnya, aku menghela nafas lega. Kukira ia akan marah, “Joayo (baiklah), kita berteman sekarang.”

==FLASHBACK END==

               Begitulah ceritanya, jadilah kami teman. Tapi, dia overprotective banget. Kemana aja aku selalu diikuti dan itu membuat aku merasa terganggu. Para yeoja satu sekolah juga menjadikan aku topic gossip karena orang yang pertama kali bisa dekat dengan Key yang terkenal dingin dan susah banget di deketin.

             Tapi, yang bikin aku menjuluki dia setan cantik karena dia kalau marah serem banget. Enggak sesuai dengan face dia yang mirip perempuan, kalau kata orang flower face. Kalau aku membandingkan mukaku dengan dia rasanya jauuuuhhh banget, malah aku yang merasa dia yeoja dan aku namjanya (T^T).

              Karena sudah tidak dapat menghindar lagi, terpaksa aku jalan ke sekolah bareng Key dan lagi-lagi, para yeoja itu berbisik-bisik. Bikin kupingku panas, Key melirik ke arahku dan tanpa seizinku seenaknya saja menggenggam tanganku dan tersenyum yang lebih mirip serangaian, nyebelin banget sih nih namja, kalau bukan karena foto aibku yang masih di pegang sama Taemin, dan ternyata saat ini Key juga sedang memanfaatkannya. Sudah kubunuh mereka ber-5 (^_^ *).

# # #

           Bel pulang sekolahpun berbunyi, aku segera memasukkan buku dan peralatan tulisku seperti orang yang kesetanan dan bergegas keluar kelas sambil mengendap-endap, memastikan supaya Key tidak melihatku.

              Aku berjalan sambil berjingkat, tapi ‘BUK’ aku merasa seperti menabrak seseorang. Aku mendongak, dan kalian tahu siapa itu? Ya siapa lagi kalau bukan si setan cantik ups maksudnya Key *dirajam lockets*. Ia dengan innocentnya tersenyum padaku. “Oh, congrats dude you kick my ass. You got me now! Come on, we go home!” aku menarik tangannya untuk segera pulang. Capek deh setiap hari kayak gini terus, coba aja aku punya jubah yang bisa membuatku tidak terlihat kayak di film harry potter yang prisoner of Azkaban. Dengan mudahnya aku akan kabur dari si setan cantik ini.

            Aku dan Key berniat menyebrang, namun dari arah samping sebuah mobil dengan nekadnya menembus lampu merah, karena terkejut aku menjadi terdiam di tempat dan saat itu semuanya terjadi begitu cepat. Key berteriak padaku, dan ia langsung mendorong tubuhku ke tepi bersamanya. Aku terjatuh tepat di atasnya. Aku segera bangkit dan melihat Key sudah tidak sadarkan diri, belakang kepalanya mengeluarkan darah dan itu membuatku semakin panik. “Key, ireona…. Jangan mati dulu dong… akukan belum ngaku kalau aku juga suka sama kamu… KEY~!” teriakku, orang-orang mulai mengerubuni kami dan tidak berapa lama ambulance datang.

              Aku menangis sesenggukan di ruang tunggu, saat itu teman-teman Key datang. Raut wajah mereka juga menunjukkan kekhawatiran, Taemin dengan baiknya mau menghiburku dengan membuat wajah lucu, tapi itu malah membuatku menangis makin kencang.

             Beberapa saat kemudian kak Dimas dan kak Intan datang, tadi aku sempat mengabari mereka tentang hal yang baru saja menimpa aku dan Key. Tak kusangka mereka akan menyusul ke sini, sampai terharu. Ternyata kak Dimas baik banget sama aku (T^T). ‘PLETAAK’ sebuah jitakan kembali mendarat di dahiku uhh.. sakit!! “kak! Apa-apaan sih, sakit tahu kok aku dijitak?” ujarku kesal. “Kamu yang apa-apaan. Kalau nyebrang itu hati-hati dong, lihat rambu-rambu dulu, kek!” kak Dimas memekik, “kak, lampunya udah merah. Dan saat itu aku lagi nyebrang sama Key, eh ternyata dari samping ada mobil. Untung Key nolong aku jadi aku enggak jadi ketabrak. KAKAK JUGA LIHAT KONDISI DONG INI RUMAH SAKIT BUKAN PASAR JANGKRIK!!! MALU AMA KUCING TETANGGA KAK!” pekikku balik, kesel  ihh. Empet banget punya kakak kayak gini *beuh, bahasanya*

               Setelah beradu argument cukup lama, keluarnya dokter dari ICU membuat kami menoleh. Aku langsung menghampiri dokter itu dan bertanya, “Dok, gimana keadaan setan cantik eh… Key maksud saya,” nih mulut susah banget sih diajak kompromi. “Oh, namjachingumu baik-baik saja. Luka di kepalanya tidak terlalu serius. Tapi…” heleh, nih dokter juga bilang Key itu pacarku. Duh!! Tapi, yang bikin aku penasaran adalah lanjutan dari kata-kata dokter tersebut. “Mianhe sebelumnya dokter, namja itu hanya temanku bukan namjachinguku. Dan tapi apa dokter?” ucapku pada akhirnya.

             “Ah, gurae. Kalau begitu lebih baik kalian masuk saja, aku akan bicara pada Onew-ssi saja,” aku mengangguk, dan masuk bersama yang lainnya tanpa Onew sunbae.

# # #

 AUTHOR’S POV

                Runa menggenggam tangan Key yang masih belum sadarkan diri, ia takut dan cemas kalau terjadi apa-apa dengan namja itu. Perlahan, mata Key mulai terbuka dan ia memandang sekelilingnya dengan tatapan bingung. Runa yang melihat hal itu tersenyum sumringah dan makin mempererat genggaman tangannya pada Key.

                  “Hey, welcome back guy!” ujar Minho senang, Key memandang Minho dengan tatapan aneh. Kemudian beralih ke sebelah kanannya dimana Runa berdiri saat itu, “Chagi-ya, apa.. yang aku lakukan di sini?” tanya Key dengan polos, Runa langsung merinding mendengar kata-kata Key, “hah?” Cuma itu yang terlontar dari bibir Runa. “Key, cukup bercandanya, kau berhasil membuat yeoja itu panas dingin.” Ujar Jonghyun sambil terkekeh melihat reaksi Runa.

             “Hyung, sebenarnya apa yang terjadi denganku dan mengapa aku bisa ada di sini?” tanya Key kembali.

               “Kau terluka saat hendak menolong Runa dari kecelakaan barusan, apa kau tidak ingat?” Jonghyun bertanya dengan tampang khawatir.

               “Jinjja! Chagi-ya apa kau baik-baik saja?” Key kembali bertanya pada Runa dan yang ditanya hanya menjawab “hah?”

               Kak Dimas yang sedari tadi melihat adegan itu, langsung menyiku lengan adiknya, “dia pacarmu?” Runa menengok dengan pandangan yang masih terlihat bingung, “hah?” lagi-lagi Cuma bisa hah!

               “Ahjussi, anda siapa ya? Apa anda appa-nya Runa?” tanya Key polos sambil melirik Dimas. Tentu saja Dimas syok di panggil ahjussi, ‘apa tampangku setua itu ya?’ batin Dimas, usianya saja masih belum genap 25 tahun.

               “Aniyo, aku bukan appa-nya Runa, aku oppa-nya.” Jawab Dimas sambil mencoba tersenyum walau kelihatan dipaksa. “Oh, mianhe hyung. Aku tidak tahu Runa punya oppa, ia belum pernah cerita.” Cukup sudah Runa dibuat kayak orang bloon sama Key, dengan tawa hambar yang lebih mirip lengkingan tawa kuntilanak Runa mencoba meluruskan kesalah pahaman itu. “Setan can- eh maksudku Key-ah, sebelumnya aku ingin meluruskan bahwa aku memang punya oppa dan sudah bercerita itu padamu, dan satu lagi aku bukan pacarmu dan kita belum pernah pacaran sama sekali.”

               Key tersentak, ia terdiam cukup lama seperti memikirkan sesuatu. “Lalu kalau kita tidak berpacaran, lalu pengakuanmu beberapa jam yang lalu itu apa?” tanyanya, Runa terkesiap, ‘oh ya, tadikan aku ngaku sama dia kalau aku suka sama dia. Masa sih dia denger, ih si Key rese banget sih! Kalimat kayak gitu aja diinget. Pinter banget nih orang!’ batin Runa. “mengaku apa? Aku tidak pernah mengaku apa-apa terhadapmu? Mungkin karena kepalamu tadi terbentur kau jadi berpikiran yang aneh-aneh,” Runa masih mencoba berkilah, dia rasanya mau bunuh diri hari itu juga.

               “Lalu foto saat kita berciuman yang diambil oleh Taemin itu apa?” Runa langsung tegang, apalagi begitu ia mendapati kakaknya telah mengeluarkan aura hitam(?) miliknya yang mengerikan. “Fo..foto apa?” masih berusaha berkilah, “foto saat kita berciuman, Taemin, kau masih menyimpan foto itukan?” Key menatap Taemin, dan dengan tanpa rasa berdosa sama sekali Taemin mengambil handphonenya dan menunjukkan foto itu pada Runa.

               Dimas langsung merebut handphone Taemin, matanya seketika membulat memandang foto itu. Ia mendengus kesal sambil memandang adiknya tajam. “Tak kusangka ya Runa, kau sudah dewasa sekarang. Bahkan kau sudah berani berbuat seperti ini?” Dimas mencengkram pundak adiknya dengan keras, pengin banget Dimas bejek-bejek adinya yang satu itu. “ah~ ampun oppa, itu Cuma salah paham.”

                “Salah paham apalagi coba, jelas-jelas bukti udah ada!” bentak Dimas pada akhirnya. Key yang melihat itu buru-buru bangkit dari ranjangnya dan melepaskan cengkraman Dimas dari bahu Runa. “Hyung tolong jangan kasar pada Runa, aku akan bertanggung jawab atas semua ini. Lagi pula itu salahku,” ujar Key, ia mendekap tubuh Runa erat dalam pelukkannya.

             Dimas melirik Key dari atas sampai bawah, “kamu serius mau bertanggung jawab?” tanya Dimas, tidak yakin. “Serius hyung!” jawab Key mantap. “Joayo, kalau begitu! Nikahi dongsaengku, berani?!” semua orang dalam ruangan itu terkejut, Key menatap Runa dalam dekapannya yang hanya menggeleng-geleng supaya Key menolak permintaan itu, tapi pada kenyataannya, “Berani hyung dengan senang hati, aku mencintai dongsaengmu ini dengan sepenuh hati. Kalau perlu sekarang juga kita kecatatan sipil dan menikah di sana .” *napsu amat pengen nikah* Key menjawab dengan yakinnya. Runa yang mendengar itu kembali tegang “HAH?! MENIKAH?! ANDWAE~!!!”

To be continued……

p.s: muahahaha….bagaimana, bagaimana gaje bukan heuahahaahaha.. padahal seharusnya aku lagi konsen sama UN tapi sempetnya aja nulis ff, ya sudahlah tak apa kalau buat reader mah!! Kalau begitu LEAVE A COMMENT PLEASE OR LIKE IF YOU LAZY TO COMMENT… I NEED OXYGEN…. DOAIN AUTHOR JUGA YA BIAR UN LULUS!! GOMAWO~!  (^_^) V

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

56 thoughts on “I Love The Way You Lie : My 1st Kiss And His Confession”

  1. hhahahaha….. ni ff lucu banget ceritanya.. runa koplak banget… aduh, jadi pensaran part selanjutnya, langsung nikah g ya? hehehehe

    ku tunggu next part.. 🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s