Aku, Kamu , dan Horoskop

Aku, Kamu, dan Horoskop

Title : Aku, Kamu, dan Horoskop

Author(*) : Akimoto Kumiko

Main Cast(*) (Tokoh Utama) : Kim Resti (maaf nama belakangnya tidak pake nama korea), Choi Minho

Support Cast(*) (Tokoh Pembantu) : Kwon Yuri

Length(*) : One Shoot

Genre(*) : Romance

Rating(*) : General

Summary : Resti sangat percaya dengan horoskop. Kalau horoskop mengatakan warna keberuntungannya hari ini Biru, dia akan memakai serba warna biru. Kalau horoskopnya mengatakan warna merah, dia akan memakai warna serba merah. Apakah horoskop akan membawa keberuntungan untuk hubungannya dengan Choi Minho?

23 Februari 2011

Hari ini aku sangat senang sekali. Aku tidak sabar untuk bangun dan menyapa semua orang di dunia ini. Ya, karena sekarang adalah hari ulang tahunku. Dan malam ini aku akan merayakannya berdua dengan Namja-Chingu-ku, Choi Minho. Sudah 1 tahun kami menjalin hubungan. Dulu waktu pertama kali dia menyatakan cinta padaku adalah saat hari ulang tahunku. Dan aku langsung menerimanya. Karena aku memang sudah menyukainya dari dulu. Itu adalah hadiah ulang tahun yang terindah dalam hidupku. Dan yang lebih menggembirakan lagi adalah bahwa malam ini kami akan merayakan ulang tahun ku berdua sekaligus merayakan hari jadi kami. Sungguh dunia ini milikku hari ini… ^^

Malam harinya…

Tepat pkl. 19.00, aku sudah siap menunggu Minho di depan rumah dengan gaun putih. Menurut ramalan horoskopku hari ini, warna keberuntunganku dan pasanganku adalah putih. Oleh karena itu, aku telah menyuruh Minho untuk menggunakan baju berwarna putih. Khusus hari ini, seluruh property kami harus berwarna putih.

            Semenit kemudian, Minho tiba di depan rumahku dengan mobil andalannya, Sport Red.

MWO?

Aku terpaku. Kenapa dia membawa mobilnya yang berwarna merah cerah itu? Padahal aku sudah memberitahukannya berulang kali, bahwa untuk hari ini dia harus membawa mobilnya yang berwarna putih.

            Melihat mobil itu, raut wajahku berubah jengkel. “Oppa, berapa kali sih aku harus ngasih tahu kamu? Aku kan sudah bilang, jangan bawa mobil merah itu! Tapi, bawa mobilmu yang putih. Kata horoskop,  hari ini warna merah nggak baik untuk hubungan kita. Dia bisa membuat hubungan kita jadi bermasalah. Oppa, wae irae? Kenapa nggak mau dengarin kata-kataku?” tanyaku dengan suara ketus.

Minho menghela napas mendengar ucapanku. Dia terlihat berusaha untuk bersikap sabar. “Jagi, mobilku yang berwarna putih itu sedang masuk bengkel. Kan nggak mungkin aku jemput kamu dengan mobil yang jalannya ngadat-ngadat gitu?”

            Aku langsung cemberut mendengar kata-katanya. Apa dia tidak tahu? Menurut horoskop hari ini, warna putih adalah warna keberuntungan dan warna kebahagiaan.

            “Jagi, come on. Jangan cemberut gitu, dong. Lagian kamu percaya amat sih sama horoskop. Itu cuma bohongan.”

            “MWO??? Mworago?? Oppa bilang itu bohongan?” tanyaku marah. Aku tidak suka mendengarnya. “Horoskop itu benar. Dan aku sangat percaya padanya. Oppa tahu? aku sudah berulang kali membuktikan kebenaran horoskop. Hari Senin kemarin, horoskop mengatakan kalau warna keberuntunganku adalah merah. Dan ternyata benar. Ketika aku pergi ke rumah tanteku pakai baju warna merah, ternyata di tengah jalan aku ketemu Vidi Aldiano. Oppa tahu kan, Vidi Aldiano *ini orang kok ada di Korea ya?* ?”

            “Ne.”

            Minho tidak mungkin tidak tahu siapa Vidi Aldiano. Meskipun dia jarang menonton televisi, tapi dia selalu mendengarkan ceritaku tentang Vidi. Aktor yang keren, tampan dan cute.

            “Lalu, apa hubungannya dengan keberuntunganmu itu?” tanya Minho bingung.

            “Please, Oppa, Vidi itu idolaku.  Nggak mungkin lah aku menganggap pertemuan dengan dia waktu itu adalah suatu musibah. Itu adalah keberuntungan bagiku. Dan semua itu berkat warna merah.”

            Minho tersenyum. “Jagi, keberuntungan memang selalu ada pada setiap manusia. Dan tanpa horoskop pun, kita bisa beruntung. Kamu tuh cuma terpengaruh sama horoskop. Makanya setiap keberuntungan yang kamu punya, selalu kamu hubung-hubungkan dengan horoskop.”

            “Bukan menghubung-hubungkan, Oppa, tapi memang saling berhubungan,” kataku kesal. “Oppa sendiri, karena mobil merahmu itu, kita jadi bertengkar gini. Padahal aku sudah bilang kan, warna merah nggak baik buat kita hari ini.”

            “Res, pertengkaran ini bukan karena warna merah. Tapi, karena dirimu sendiri. Seandainya saja kamu langsung naik ke mobil dan kita langsung pergi ke Café Bais, pasti nggak akan seperti ini.”

            “Wae? kok aku yang salah?” tanyaku. Aku tidak terima disalahkan.

            “Keumanhae!” Minho mengangkat telapak tangan kanannya di depanku. “Jangan rusak hari ini. Berhenti di sini, dan kita pergi ke Café Bais. Tentu saja dengan nggak mengungkit lagi soal warna-warna. Atau kita bakal bertengkar lebih jauh dari ini. Kajja!”

            Minho menarikku menuju mobil dan membukakan pintu mobil untukku . Aku dengan terpaksa masuk ke dalamnya. Selama perjalanan, aku hanya diam dengan wajah yang ditekuk 90º. Aku masih marah dengan kejadian tadi.

            Selama ini hari-hariku tergantung pada horoskop. Apa salah kalau aku percaya padanya? Aku tidak pernah membuktikan bahwa horoskop itu bohong. Aku selalu menemukan kebenarannya.

            Aku masih ingat pada hari kelulusan di SMP, setahun yang lalu. Hari yang seharusnya menggembirakan itu, berubah menjadi kenangan pahit. Pada saat itu, sebelum pergi ke sekolah untuk merayakan kelulusan bersama teman-teman, aku menyempatkan diri untuk membaca horoskop. Ternyata horoskop mengatakan bahwa pada hari itu aku tidak boleh keluar rumah. Kalau aku keluar rumah, bahaya akan datang mengancam jiwaku. Tentu saja aku percaya. Aku tidak mau masuk sekolah walaupun dipaksa oleh kedua orang tuaku. Beruntunglah aku tidak masuk saat itu. Karena, pada hari itu suatu peristiwa pahit terjadi. Tidak tahu penyebabnya, sebuah bom meledak di sekolah. Dan banyak korban yang tewas. Aku hanya bisa menangis di rumah saat mendengar kabar itu. Teman-temanku, sahabat-sahabatku, dan guru-guruku, tewas.

            Sejak saat itu, aku selalu percaya pada horoskop. Karena dialah, aku selamat dari peristiwa tersebut. Horoskop tidak pernah berbohong padaku.

            Tidak terasa kami sudah tiba di depan Café Bais. Setelah memarkirkan mobil, kami masuk ke dalam Café. Cukup banyak pengunjung yang datang. Kami segera duduk di tempat yang sudah dipesan oleh Minho tadi siang. Tapi, ada yang membuatku terpaku. Di atas meja ada sebuket bunga berwarna merah. Aku menatap Minho dengan pandangan tidak mengerti. Apa maksdunya? Apa dia sengaja ingin membuatku kesal hari ini, dengan benda-benda berwarna merah?

            “Bagaimana?” tanya Minho ingin tahu pendapatku. Dia tersenyum padaku. Apa dia pikir aku akan senang dengan semua persembahan ini? Ya, mungkin. Kalau saja tidak ada bunga dan mobil berwarna merah.

            “Bagaimana?” tanyaku ketus. “Bagaimana apanya? Micheosseo??” teriakku marah. “apa toko-toko bunga di kota ini sudah kehabisan stok bunga-bunga berwarna putih?” tanyaku lagi, masih dengan nada ketus.

            Minho terdiam. Dan dia menggeleng.

            “Mwohaesseo??? Aku sudah bilang, aku nggak mau melihat benda-benda berwarna merah ada di dekat kita. Jangan perlihatkan warna merah padaku hari ini! Oppa nggak ngerti ya?” Tanpa aku sadari, aku berbicara terlalu keras. Beberapa pengunjung di Café menoleh ke arah kami. Oh, tidak. Sekarang kami berdua jadi tontonan gratis, seolah kami adalah pemain sirkus.

            “Mwo ya?” tanya Minho pelan dengan nada tidak suka. “Pwa, kita jadi pusat perhatian.”

            Aku menundukkan kepala. Sekarang aku baru sadar, aku malu. Selain itu, para pengunjung lain juga seperti membicarakan kami. Aku segera berjalan ke pintu dengan langkah cepat untuk keluar dari tempat ini. Aku tidak tahu harus membuang wajahku di mana. Seandainya wajahku ini bisa dilepas, akan aku buang ke tong sampah.

            Ketika sudah di luar Café, tiba-tiba ada yang menarik lengan kananku.

            Ternyata itu adalah Minho. Sepertinya dia juga cukup malu untuk menampangkan wajahnya lebih lama lagi di dalam sana.

            “Kamu puas?” tanyanya dengan nada datar.

            “Wae?”

            “Kamu puas, sudah menghancurkan acara kita malam ini?”

            “Mwo ya?” Aku menepis tangannya yang masih memegang lenganku. “Maksudmu semua ini terjadi karena salahku?”

            “Lalu, karena siapa? Kamu kan yang duluan cari masalah.”

            “Ini semua karena salahmu, tahu. Kalau saja kamu mau dengar kata-kataku, pasti nggak bakal kayak gini.”

            Minho menarik tanganku dengan kasar dan membawaku ke mobil. “Cukup untuk hari ini. Lebih baik kita pulang saja. Kajja!”

            “YA! Oppa, lepasin aku…!” aku mencoba menarik paksa tanganku, tapi Minho menarikku dengan kuat. “Oppa, sakit…lepasin..jebal…”

***

            Siapa di dalam cermin itu? Dia jelek sekali.

Aku memandang cermin di hadapanku. Di dalam sana ada seorang gadis dengan rambut berantakan dan mata bengkak. Gadis itu seperti habis menangis semalaman. Dan saat bangun, kedua matanya sudah seperti bola golf.

            Aku mendesah pelan dan menghempaskan diri ke atas tempat tidur. Tadi malam Minho sangat marah padaku. Aku kecewa. Kemarin seharusnya menjadi hari bahagia –ku. Tapi, kenapa malaj menjadi hari yang tidak menyenangkan?

Aku menangis semalaman meratapi semua itu.

            Sekarang, aku tidah tahu harus bagaimana supaya bisa berbaikan dengan Minho. Menurut horoskop hari ini, warna keberuntunganku adalah biru dan sebaliknya, warna putih adalah warna bencana bagiku hari ini. Apa biru bisa membantuku untuk berbaikan dengan Minho? Mungkin saja bisa. Horoskop tidak pernah berbohong.

            Dengan cepat aku menyambar handuk warna biru yang tergantung di belakang pintu kamarku. Aku memiliki banyak handuk dengan berbagai warna. Sehingga aku bisa menggunakan berbagai macam handuk yang sesuai dengan warna keberuntunganku.

            15 menit kemudian, aku sudah selesai mandi dan bersolek. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, yang terlihat hanya warna biru. Semoga hari ini akan jauh lebih baik dari kemarin.

            TING!TONG!

            Suara bel pintu rumahku berbunyi. Siapa yang datang?

            Tidak lama kemudian, terdengar suara Ibu Kim, orang yang sudah mengabdi pada orang tuaku sejak sebelum aku lahir. “Non, ada tamu untuk Non.”

            “Siapa?” tanyaku dari dalam kamar.

            “Choi Minho-ssi.”

            Apa? Tanpa bicara lagi, aku segera keluar untuk menemui Minho

            Di ruang tamu, Minho duduk sambil menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuhnya. Aku tahu kebiasaannya. Biasanya kalau dia bersikap seperti itu, berarti dia mempunyai kejutan buatku.

            “Oppa, sudah dari tadi?” tanyaku sekedar basa-basi.

            Minho menyadari kehadiranku. “Baru saja duduk, kok.”

            Aku memilih duduk berhadapan dengan Minho Sesekali aku melirik ke belakang tubuh Minho. Apa yang disembunyikannya? Aku jadi penasaran.

            “Apa yang Oppa sembunyikan?” tanyaku langsung tanpa basa-basi.

            Minho ikut melirik ke belakang tubuhnya. Lalu dia tersenyum padaku. “Aku mau minta maaf soal kemarin. Mianhae. Jeongmal Mianhae. Aku mau kita berbaikan lagi dan nggak bertengkar,” pintanya. “Kamu mau memaafkan aku, kan?”

            Tentu saja aku mengangguk dan tersenyum.Kesempatan ini tidak boleh aku lewatkan. Ternyata horoskop benar, warna biru adalah warna keberuntunganku hari ini.

Oh, aku baru menyadari sesuatu. Hari ini, Minho menggunakan kemeja putih, celana kain berwarna putih, arloji berwarna putih, dan sepatu berwarna putih. Ah, satu lagi. Dia pergi ke rumahku dengan menggunakan mobilnya yang berwarna putih.

MWO??? Kenapa semua yang dia pakai berwarna putih?? ANDWAE!!

            “Oppa, apa aku nggak salah lihat? Hari ini Oppa kok serba putih?”

            “Ah…ne. Aku hampir lupa.” Kedua tangannya yang tadi bersembunyi, kini keluar dari persembunyian. “Ini untuk kamu, Res.” Diulurkannya sebuket bunga Mawar Putih. “Aku ingin menebus kesalahanku kemarin. Nggak seharusnya aku marah sama kamu. Dan hari ini, demi kamu aku memakai property serba putih. Bagaimana? Kamu senang, kan?”

            Aku terpaku, terperangah, dan tidak tahu harus senang atau sedih.

            “Oppa,” ujarku dengan suara pelan. “Hari ini warna keberuntunganku bukan putih, tapi biru. Putih itu warna sialku hari ini.”

            “Mwo? Tapi katamu kemarin…”

            “Kemarin warna keberuntunganku memang putih,” potongku. “Tapi sekarang nggak lagi. Sekarang warna biru.”

            Minho terdiam dan dia menatap pakaianku yang serba biru. “Oh, arasso. Jadi, bunga ini mau diapakan?”

            “Hm, mungkin lebih baik dibuang aja. Soalnya aku takut. Itu warna sialku.”

            Namja-chingu-ku itu terhenyak. “Kamu mau membuang pemberianku?” tanyanya dengan suara datar.

            “Ani, bukan begitu maksudku. Tapi untuk hari ini, aku nggak bisa menerima apa pun yang berwarna putih. Jadi, tolong mengerti, ya, Oppa,” pintaku dengan suara pelan.

            Setelah menghela napas, Minho pun berdiri sambil memegang bunga itu. Aku pikir dia sudah mengerti, tapi ternyata dia malah menatapku dengan tajam. “Sumpah, Res. Aku semakin nggak mengerti dirimu. Mungkin aku memang salah telah memilih untuk berbaikan denganmu hari ini. Kayaknya aku masih perlu berpikir ulang.”

            Minho berjalan keluar menemui mobilnya dan masuk ke dalamnya.

            “Oppa!” panggil-ku dari depan pintu.

            Tapi, mobil Minho tetap jalan menuju pintu pagar dan menghilang di tikungan jalan.

            Ya ampun. Kenapa harus bertengkar lagi? Padahal kami hampir saja berbaikan.

Berulang kali aku mengetuk keningku dengan tangan sambil mengatakan PABBO. Pasti ini terjadi gara-gara warna putih sialan itu.

***

            “Menurutku Minho nggak salah,” kata Yuri Eonni, kakak sepupuku, ketika aku menceritakan semuanya di rumahnya.

            “Jadi maksud Eonni, horoskopku yang salah?” tanyaku.

            “Horoskopmu juga nggak salah.”

            Aku mengernyitkan keningku. “Lalu, siapa yang salah?”

            “Kamu.”

            Belum sempat aku membantah, Yuri Eonni bicara lagi. “Seharusnya kamu nggak boleh terlalu percaya pada horoskop. Kamu tahu, Minho itu pasti jengkel banget dengan tingkahmu itu. Kalau aku yang jadi cowokmu, pasti juga merasa jengkel. Dikit-dikit bicarain warna, dikit-dikit bicarain horoskop, dikit-dikit bicarain keberuntungan, dikit-dikit bicarain kesialan. Bagaimana Minho nggak marah? Kalau kamu begitu terus, jangan heran kalau suatu saat Minho memutuskan hubungan kalian.”

            “Mwo?? Andwe!!!” Aku merengek.

            “Wae?”

            “Johahanikka! Aku sayang banget sama dia.”

            “Baiklah. Kalau begitu, hilangkan kebiasaanmu itu yang selalu tergantung pada horoskop,” saran Yuri Eonni.

***

            Sejak mendengarkan saran Yuri Eonni, aku bertekad untuk melupakan tentang horoskop. Mulai hari ini, aku akan berusaha untuk merubah diriku seperti yang Minho inginkan.

            Pagi ini aku menggunakan pakaian yang sesuai dengan keinginan hatiku. Bukan yang sesuai dengan isi horoskop. Tapi, walau pun sudah bertekad tidak mau melihat horoskop lagi,  hatiku ini tetap saja penasaran ingin tahu apa isi horoskopku hari ini. Akhirnya aku membuka buku horoskopku dan membacanya. Yah, kalau hanya sekedar membaca tidak apa-apa, kan?? Hehe.

Horoskop mengatakan warna keberuntunganku hari ini adalah hijau dan warna sialku adalah merah.

Aku memandang pakaian yang aku gunakan. Berwarna merah. Ikat rambutku juga berwarna merah. Kututup buku horoskop tersebut. Aku tidak ingin terpengaruh dengan isinya. Aku harus yakin dengan hatiku sendiri.

TING! TONG!

Terdengar suara bel pintu.

“Non, Tuan Minho datang,” pembantuku memberitahuku. Aku tersenyum. Kupikir ini adalah awal yang baik.

Aku berjalan ke ruang tamu. Di sana ada Minho yang sedang duduk menungguku.

            “Annyeong,” sapaku.

            Minho tersenyum tipis saat melihat kedatanganku.

            “Wae? Mau ngajak jalan, ya?” tanyaku setengah bercanda.

Namja-Chingu-ku itu tersenyum mendengar candaanku. Setelah itu dia menghela napas sebentar dan akhirnya mengucapkan sesuatu yang menjadi kejutan besar untukku hari ini. “Hm, Res. Aku sudah memikirkan ini semalaman. Aku pikir, kayaknya lebih baik hubungan kita nggak usah dilanjutin lagi. Sepertinya kita harus break dulu.”

Aku menatapnya dengan pandangan tidak percaya. “Oppa, Oppa bercanda kan?”

Minho menggelengkan kepala, tanda bahwa semua yang dikatakannya tadi tidak bercanda. Airmataku mengalir. Sebenarnya aku sudah menduga ini akan terjadi. Tapi, aku sudah berusaha untuk berubah. Apa aku tidak diberikan kesempatan?

“Oppa, aku sudah berusaha untuk berubah. Aku berusaha nggak mempercayai horoskop. Oppa tahu? Seharusnya warna keberuntunganku hari ini adalah hijau. Tapi lihat, aku nggak menggunakan pakaian warna jijau. Karena aku sedang berusaha untuk nggak tergantung pada horoskop. Dan ini aku lakukan demi kamu, Oppa,” kataku tersendat-sendat.

            Tapi Minho hanya menggeleng dan beranjak dari tempat duduknya. “Mianhae. Aku masih butuh waktu sendiri. Aku belum berpikir akan melanjutkan semua ini.”

            Aku berusaha menahan tangis. “Tapi, apa kita masih ada kesempatan untuk kembali seperti dulu?” tanyaku penuh harap. Aku tidak mau berpisah dengannya, Kami sudah berhubungan selama setahun. Apa waktu setahun itu tidak cukup buat kami untuk melewati badai yang menerjang di sela hubungan kami? *bahasa author kok jadi lebay gini?*

            “Molla.. Mungkin iya dan mungkin juga tidak. Bye.” Minho pergi meninggalkanku dan rumahku. Aku tidak mengejarnya dan hanya diam. Ketika aku mendengar suara deru mobilnya keluar dari halaman, aku segera masuk ke kamarku. Aku menangis. Aku tidak peduli saat pembantuku mengetuk pintu kamarku karena merasa khawatir. Saat ini aku hanya mau sendiri dan menangis.

            Di sela tangis, aku kembali membaca horoskopku hari ini. Kenapa hari ini aku sial? Aku harus tahu jawabannya.

MWOO?

Aku melotot saat membaca warna sialku.

 Warna sialku adalah merah.

Aku menatap pakaian yang aku gunakan.

Berwarna merah.

            Aku kembali menangis. Menangis penuh penyesalan. Seharusnya aku percaya pada horoskop. Seharusnya aku tidak menggunakan pakaian berwarna merah. Dan sekarang horoskopku telah membuktikan, bahwa hari ini merah memang membawa SIAL!

            Oh, horoskopku. Eottokhe? Eottokhe?

            Apa yang harus kulakukan?

 

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

SELESAI

39 thoughts on “Aku, Kamu , dan Horoskop”

    1. iya udah tamat..hehe
      memang sengaaj dibuat ending seperti itu..
      belum terpikirkan buat sequel-nya sih..

      gomawo ya udah baca ^_^

  1. hyaa musyrik!!!! aku ngak percaya sma yg namanya horoskop !! lebay bgt sih !! ngejengkelin !!
    dah putus ajh !! org kayka gitu ngak bakal punya masa depan cerah !!!
    jdi ikut emosi akunya !!

    huwaa ngegantung !! mana lanjutannya ! harus ada !!! (msih terbawa emosi) ahahhaha

    1. hahaha!
      aq suka koment u ^_^

      setuju!
      sebenernya aq juga sebel sama nih cewek -___-. syukur2 udah dapet choii Minho jugaaa… ckckckckc *geleng2 kepala* .

      hahaha, maaf ^^. lanjutannya ga ada XD

      gonawo udah baca ^^

  2. Pngen lanjutan.a..

    Minho.a jadi srba salah tuh.. Resti.a trlalu prcaya sma horoskop, sih.. Trlalu maksain khendak sndiri lagi.. Pdahal kan blom tentu wrna kberuntungan.a samaan sma wrna kberuntungan Minho hari itu.. Iya gk prens? *apaan nih?!*

    Haduh~ mian komenku rada ngawur. Yg pasti hrus ada lnjutan.a.. Pnasaran banget! >0<

    1. hahaha. nggak kepikiran sequel.

      jd kayaknya ga ada lanjutannya XD

      hahaha betul juga katamu. kan belum tentu y warna keberuntungan Minho sama kayak dia. ckckckc. dasar resti *geleng2 kepala*

      gomawo ya udah nyempetin baca FF aneh ini…hehehe ^^

    1. ahahah. Minho ga kasian kok. Kan ntar dy ama author *saya*. hahaha ;p

      gomawo udah baca ff aq ^^

  3. hah?? Udah??? Trz lanjutan na gmn???

    ribet bgt deh hidup na nie cewe’ *geleng2 kepala

    g’ kebayang puna haduk warna warni gt. Jd tiap barang jg harus puna segala warna?? Ampun deh hehe

    1. hahah, iya udah..
      lanjutannya ga ada XD

      iya ribet bener. *geleng2 kepala juga* hahah.

      iyah. untuk barang yg dipake di tubuh dy kayaknya punya banyak. misalnya arloji, ikat rambut, bando, anting2, gelang, kaos kaki, hahaha #GUBRAK

  4. yah.. kok gantung begitu thor..?
    jdi penasaran ni

    bingung mau kasian ma siapa, minho ato resti ya?
    resti juga si, terlalu percaya begituan
    thor, kok ultahnya tgl 23 februari?
    sama bgt ma seseorang di masa lalu (*plakk..* curhat colongan)
    hehe 😀

    1. sengaja sih endingnya begitu..hehe.

      kasihan sama authornya *saya* aja ..hahaha. udah capek2 peras keringat dan relain jari2 pada pegel ngetik, eh FF-nya tetep aja jelek gini T_T

      knpa ultahnya tgl 23 Februari? karena itu ultah “seseorang” di masa lalu 🙂

      hehehe

      gomawo udah mau nyemeptin baca FF gaje ini ^^

  5. Thor(?), aku jd ikutan emosi nih ._.
    Kalo ak mah jd pacarnya minho cukup kok 😀 Btw, ini kok endingnya ngegantung gini ya? Lanjutin dong thor 🙂

    1. sengaja sih endingnya begitu..hehe.
      belum ada kepikiran sequel. ada ide? hhaha.

      aku sebenernya sempet emosi juga sama tuh cewek T_T
      udah bagus2 dapet Minho..

      haha

      gomawo udah mau nyemeptin baca FF gaje ini ^^

  6. udah terlajur addict ama horoskop tuh…belum rela ninggalin kebiasaannya mungkin *sotoy
    bener..akhirnya ngegantung…mungkin kalo ada minh pov-nya lebih bagus

    1. heum..gitu ya? harus ada minho POV-nya? sebenernya aq ga kepikiran sih…tapi ntar coba bikin deh..hehe

      gomawo udah baca ya ^_^

    1. aq sebenernya ga kepikiran bikin sequel…

      tp kalo seandainya banyak yg mnat dan minta sequel mgkin bakal aq bikin ..

      tp kalo sedikit,…mgkin ga bakal ada sequelnya..hehe..soalnya emang ga ada ide juga buat sequel

      gomawo ya udah nyemepetin baca ^_^

  7. Ahahaha.
    Aku cm bsa bilang.. ‘kasiaaan’

    Makanya, jgn pcaya ama gtuan. Dah bguz dpet choi minho juga.hueee..

  8. Aigoo, Restinya nyebelin beud.. Hebat juga Minho bisa ngadepin Resti 1 taun.. Kalo aku mah udh gudbai slama seminggu..#plak

    bahasanya enak kok, thor. Ffnya bagus bget 😀

  9. Aigoo, Restinya nyebelin beud.. Hebat juga Minho bisa ngadepin Resti 1 taun.. Kalo aku mah udh gudbai slama seminggu..#plak

    bahasanya enak kok, thor. Ffnya bagus bget 😀 …

  10. Kalau aku jadi Minho mungkin aku juga kesel -.-
    Tapi kasian juga Resti… Saat dia mencoba untuk nggak terlalu percaya lagi sama horoskop, ternyata horoskopnya malah bener = = (aduh, gimana sih bahasanya?)

    Btw, ceritanya keren 😀
    Bahasanya enak, rapi lagi. Aah daebak deh b>w<d

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s