What If – Part 8

Author             : Storm

Casts               : Yoora, Minho, Jonghyun, Yesung

Genre              : Romance, Friendship

Length             : Sequel

Rating             : General

Summary         : “Bye Jonghyun. Kutunggu kau dipernikahanku. Itu juga kalau kau masih hidup!”

 

What If-Part 8

I will survive

 

Previously in What if:

“Jonghyun, kenapa tanganmu?”

“De? Tangan?” Aku mengangguk dan tiba-tiba saja Jonghyun menarik tangannya dari meja dan menaruhnya di atas pangkuannya.

“Tanganmu kenapa?” Tanyaku sambil menarik lagi tangannya. “Gwenchana” Jawabnya.

“Gwenchana darimana? Ini kenapa diperban?”

***

“Jonghyun!! Kenapa?!” Aku bertanya dengan nada tinggi.

“Tsk, tidak apa-apa.” Masih jawaban yang sama.

“Hyung? Tanganmu kapan terluka? Kenapa aku tidak tau?” Minho mulai terdengar panik. Jonghyun hanya tersenyum enteng menjawabnya.

*Brak!

“Jjong! Katakan kenapa?” Kugebrak pelan meja di depanku ini. Aku paling tidak bisa melihatnya seperti ini.

“It’s okay. No worry Yoora, Minho. Kenapa cemas sekali?” Jawabnya sambil meneguk coke pertamanya yang baru saja datang. “Makanlah..”

*Brak!

“Cih! Pembohong! Kau pembohong besar!” Kutinggalkan namja dengan perban di pergelangan tangannya itu. Dan terus berjalan tanpa memperdulikan panggilan dari dua namja itu.

“Lalu?” Tanya Yesung oppa dengan wajah penasaran.

“Lalu apa? Lalu ya aku cerita pada oppa. Apa yang harus kulakukan, Oppa?”

“Ishhh!! Marga Kim itu! Kenapa dia malah berbuat bodoh seperti itu? Aku mengatakannya untuk membuka matanya. Tapi kenapa ia malah ber-”

“Mengatakan apa oppa?” Tanyaku memutus perkataannya. Firasat buruk mulai datang padaku.

“Kukatakan padanya untuk melepasmu.”

“Hanya itu? Kau yakin?”

“Aku juga mengirimkannya foto mu yang sedang menangis.”

“Mwo?? Oppa?” Aku tidak percaya dengan apa yang kudengar. “Kenapa kau lakukan itu?”

“Kenapa? Karena aku ingin membantumu Yoora. Aku sebal jika harus melihatmu terus menangis di malam hari. Tidak di apartment-mu, tidak di apartment-ku. Kau selalu menangis. Sebagai kakak yang baik, aku harus membantumu. Jonghyun itu harus tau kau tidak mencintainya lagi. Ia harus sadar itu, Yoora.” Papar Yesung oppa seraya bangun dari pangkuanku.

“Oppa.. Kakak yang baik tidak akan pernah mencampuri urusan adiknya terlalu jauh!”

“Yoora?” Yesung oppa tampak terkejut dengan perkataanku. “Aku hanya ingin membantumu!”

“MEMBANTU? Kau tidak membantuku, oppa! Kau seperti kakak dari Juliet yang melakukan sesuatu atas dasar kebaikan adiknya. Tapi kau tau? Karena kakak-nya lah, Juliet dan Romeo berpisah! Karena kakak-nya lah mereka memutuskan untuk meminum racun. Karena dia! DAN KAU TIDAK MEMBANTU SAMA SEKALI!”

“Yoora..”

“Jangan pernah ikut campur masalahku lagi oppa. Kumohon.”

“Yoora..”

***

Pertengkaran pertamaku dengan Yesung oppa. Pertengkaran pertamaku dengan oppa yang pundaknya selalu kusandarkan. Pertengkaran pertamaku dengan oppa yang entah sejak kapan mulai menjadi setengah dari jiwaku.

Aku selalu berlari padanya bila ada masalah. Aku selalu berlindung di belakang punggungnya jika Eunhyuk dan Heechul oppa sudah mulai mengangguku. Selalu menangis di dadanya seraya merasakan usapan lembut penuh kasih sayang di kepala dan punggungku. Dan selalu menghubunginya bila aku tidak tau jalan pulang, bila aku tersesat di tengah kekalutan pikiranku. Yesung oppa dan apartment-nya selalu menjadi rumah kedua-ku.

 

“Kakak yang baik tidak akan pernah mencampuri urusan adiknya terlalu jauh!”

“Yoora.. Aku hanya ingin membantumu!”

“MEMBANTU? Kau tidak membantuku, oppa! Kau seperti kakak dari Juliet yang melakukan sesuatu atas dasar kebaikan adiknya. Tapi kau tau? Karena kakak-nya lah, Juliet dan Romeo berpisah! Karena kakak-nya lah mereka memutuskan untuk meminum racun. Karena dia! DAN KAU TIDAK MEMBANTU SAMA SEKALI!”

“Yoora..”

“Jangan pernah ikut campur masalahku lagi oppa. Kumohon.”

“Yoora..”

Sekali lagi, pertengkaran itu terlintas di pikiranku. Aku tau Yesung oppa tidak bermaksud buruk padaku. Aku juga tau ia hanya menginginkan yang terbaik untukku. Dan aku sangat sadar bahwa alasanku sangat lemah untuk bertengkar dengannya. Tapi setidaknya jika mau melakukan itu, ia harus izin padaku terlebih dahulu.

Ia tidak tau karakter Jonghyun. Ia tidak tau peringai aslinya. Satu management dengan Jonghyun, tidak lantas membuatnya mengenal asli-nya Jonghyun. Aku sahabatnya yang tau bagaimana karakter asli Jonghyun. Jonghyun paling tidak bisa melihatku menangis. Ia akan melakukan apapun untuk membuatku berhenti menangis. Sekarang lihat, apa hasil dari perbuatannya? Perban menghiasi pergelangan sahabatku itu. Dan jika benar Yesung oppa yang menyebabkan perban putih itu menghiasi pergelangan Jonghyun? Aku tidak akan pernah memaafkan oppa-ku itu! Tidak akan!

 

Calling Best Friend Ever..

“Jonghyun?”

***

“Yoora!” Jonghyun tampak setengah berlari menghampiriku. “Hh..hh..”

“Kenapa lari-lari seperti itu?” Jonghyun tampak menstabilkan nafasnya. “Aku kan bilang, santai saja. Toh aku kan sudah membawa dua buku bacaan. Jadi menunggumu di atas gedung ini tidak akan membosankan” Ujarku sambil menunjukkan dua novel yang baru saja kubeli.

“Hh.. hh.. Bagaimana mungkin h.. aku membiarkanmu menunggu? Sudah agak malam lagi hh..hh” Aku tertawa kecil mendengarnya. Jonghyun tetaplah Jonghyun. Dia tidak pernah membiarkanku menunggu. Jika bukan karena insiden putusnya Minho dengan kekasihnya itu, kurasa hubungan kami tidak akan se-complicated ini.

“Minho mana?” Tanyanya setelah duduk di sampingku.

“Minho? Aku memang tidak menelfonnya. Aku rindu padamu. Jadi, a-”

“Ahh.. Kau sedang mencoba menjadi seorang playgirl rupanya? Hah? Tidak baik Yoora.. Ckckckck” Ujar Jonghyun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Aku tidak menjadi seorang playgirl, Jong. Aku hanya tidak bisa bersikap tegas.” Jawabku yang membuat Jonghyun terkekeh.

“Alasan clicheeeeeeeeee,” teriaknya sambil mendorong pundakku dengan pundaknya. Membuatku agak terjatuh ke samping dan tertawa.

“Ih.. Jojong sukanya main dorong aja nihh..”

“Yoo sih yang mulai. Kalau Yoo ga mulai, aku juga ga main dorong.” Aku benar-benar tertawa mendengarnya. Jojong dan Yoo adalah nama panggilan sayang kami. Sudah lama panggilan itu tidak terucap.

Anyway, tanganmu ini, kenapa?” Kupegang pelan perban yang masih menghiasi pergelangan tangannya itu. Memang ini tujuanku menelfonnya. Menanyakan perban putih itu.

“Sudah kubilang tidak apa-apa, Yoo.”

“Bohong. Jojong tau kan, aku ga suka namja pembohong?” Jonghyun tersenyum. “Aku tidak bohong Yoo..”

“Jongg..” Ku beri namja ini tatapan lirih, “Kenapa?”

Jonghyun menghela nafas panjang, “Yoo bahagia lah dengan Minho. Aku akan bertahan. Aku tidak akan pernah memintamu lagi untuk berada di sisiku. Aku tidak akan bersikap egois lagi. Aku tidak tau ternyata kau begitu menderita. Maka dari itu, kau pergilah bersama Minho. Aku akan bertahan ^^”

Jeongmal?” Jonghyun mengangguk.

Seriously?” Tanyaku meyakinkan.

Yup!” Ujarnya singkat. Matanya menyiratkan kesungguhan. “May I hug you?” Aku terdiam. Bukan tidak mau, tapi karena aneh saja melihat Jonghyun seperti ini. “Ehm..for the last time. Please?

500 won for each minute.”

“Ish.. untung sudah kuserahkan kau pada Minho.” Aku tergelak mendengarnya. “Kemarin ngejar-ngejar seka-”

“Bahagialah. Tertawalah. Tersenyumlah bersama Minho. Hmm?” Pintanya sesaat setelah ia menarikku dalam pelukannya.

“Aku, akan bahagia, akan tertawa, akan tersenyum bersama Minho. Jika kau juga bahagia. Jika kau juga tertawa. Dan jika kau juga tersenyum sepertiku. Janji?”

“Aku, tidak bisa berjanji Yoo. But I promise you one thing, I will survive, Yoo. I will. Only for you.” Aku tidak tau bagaimana raut wajahnya sekarang ketika ia mengucapkan kalimat yang bagiku sangat menyedihkan itu. Tapi dapat kurasakan suaranya memberat seiring ikatan tangannya yang juga semakin erat padaku. Seolah ini adalah benar-benar pelukan terakhirnya padaku.

Saranghae Yoo..” Helaan nafas hangat terasa di tengkuk ku. “As my best friend

Na do Jong..”

***

“JEONGMALL??”

Itu adalah reaksi Minho setelah kuceritakan tentang pertemuanku dengan Jonghyun beberapa jam yang lalu. Kuputuskan untuk menelfon Minho dan menceritakan semuanya. Hanya sekedar memberitaunya bahwa tidak akan ada yang menyesakkan hatiku lagi. Tidak akan ada yang ku khawatirkan lagi. Dan yang pasti tidak akan ada rasa bersalah lagi.

“Tapi sempet pelukan?” Tanya Minho setelah mendengar ceritaku.

“Iya” Jawabku enteng.

“Lama ga?”

“Yah.. Ga bisa dibilang sebentar juga sih..”

“Hmm..”

“Tapi juga ga lama kok Minho. Bener deh aku ga bohong.”

“Hmm..”

“Ih.. Kok gitu respondsnya? Hamm..Hemm..Hamm..Hemm.. Lagi ngemut permen?”

“Menurutmu?”

“Marah?”

“Ga. Cuma kurang sreg aja di hati. Mantan kekasih. Berduaan di atap gedung. Pelukan lagi. Siapa tau ada adegan kissing juga. Aku kan ga tau.”

“Ah.. Ya Tuhannn.. Are you jealous?”

Anni..”

“Bener?”

“Hmm..”

“Oh syukur deh kalo gitu ^^. Bubye Minho. Catch you tomorrow.”

*Klik!

Kuputuskan sambungan telfonku dengannya. Kuletakkan ponselku di meja samping tempat tidur ku, sebelum akhirnya ku menarik nafas lega. Tapi tidak lama,

Drrtt.. Drrtt..

From: Pacar Keras Kepala

Ih, kok dimatiin sih?
Pacarnya cemburu malah dibiarin. Gimana sih kamu? Jahat banget! Ugh!

Huh? Aku tercengang takjub membacanya. Cemburu? Tadi katanya ga cemburu. Bodo deh. Besok aja ku rayu-rayu. Ngantuk!

***

Dan sejak malam itu, malam dimana Jonghyun bilang bahwa ia memintaku untuk bersama Minho, aku dan Minho jadi sering terlihat berdua. Maksudku, kalau dulu kan, aku dan Minho tidak bebas berjalan kemanapun berdua, terutama di hadapan Jonghyun. Ditambah perasaan bersalahku terhadapnya. Tapi sekarang, bahkan di hadapan Jonghyun pun kami berdekatan.

Contohnya pagi ini, pagi dimana aku menghabiskan pagi ku di kantin kantor ini. Memesan teh hangat dengan aroma melati dan memilih meja yang langsung menghadap jalanan. Menikmati kesibukan Seoul di pagi hari. Walau pemandangannya tidak jauh berbeda, karena semua orang tampak selalu tergesa-gesa, tapi tetap saja pemandangan ini selalu enak untuk dilihat. Bagiku lucu saja melihat mereka berjalan buru-buru, berebutan taksi, atau menunggu bus dengan wajah gelisah sambil melihat jam tangan.

“Pesanannya nona.” Ujar seorang pelayan di kantin ini mengalihkan pandanganku dari hectic-nya Seoul di pagi hari.

“Terima kasih,” ucapku ramah. Aku mulai meneguk teh hangat yang beraroma melati ini sebelum akhirnya pandanganku menjadi gelap.

“Tebak siapa?” Tanya orang itu. Kurasakan cangkir teh ku diambil olehnya.

“Ehmm.. Yesung oppa?” Tebak ku asal. Aku tau pasti siapa pemilik suara berat itu. Tapi, tidak lucu kan kalau kutebak langsung? Namja ini kan sudah merusak pagi tenangku dengan pandangan hitam yang tiba-tiba datang. Jadi, mempermainkannya sedikit boleh juga lah..kekeke

“EHEM! Salah. Second chance!”

“Ehm.. Jonghyun?”

“Hh..” Terdengar desahan pasrahnya. “Third chance, gadis cantik. And it will be your last chance!”

“Ehm..I’m not sure, Heechul oppa?”

“Aish! Jinjja! Kau ini! Suara kekasih mu sendiri tidak tau! Payah sekali! Padahal kan aku sudah menelfonmu setiap malam, membangunkan mu setiap pagi, berbincang di jam istirahat. Masa ga inget suara kekasihnya sendiri?” Protest namja ini yang kini sudah melepaskan telapak tangannya itu dari pandanganku dan duduk di hadapanku.

“Ahahaha.. Kamu suara nya pasaran kali sayang.” Godaku padanya.

“Ya! Ga mungkin lah! Seorang raper sepertiku pasti suaranya tidak pasaran. Kau saja yang tidak mau mengingat suaraku! Payah!” Aku terkekeh mendengarnya. Hahh.. Lucu sekali namja ini. Mana ada namja yang sering bermanja dan bercemberut ria di hadapan kekasihnya? Biasanya kan namja itu sok cuek, sok cool, tapi kenapa namja ini tidak ya?

“Ga usah ketawa! Ga lucu tau!” Ujarnya ketus dengan dagu tertopang empat jarinya yang tertekuk.

“Ehehe.. Bercanda kok tadi Minho, aku sebenarnya sudah tau itu kamu. Tapi kan ga seru, kalo ga dibercandain dulu,” rayuku padanya sambil menekan-nekan punggung tangannya dengan telunjukku.

“Jeongmal?” Aku mengangguk. Kini matanya sudah menatapku lagi. Bibirnya sudah kembali datar, maksudku sudah tidak mengerucut lagi.

“Ah.. Kamu sih gitu aja ngambek.”

“Gimana ga ngambek? Jonghyun hyung aja disebut tadi sama kamu, masa namaku ga?” Aku kembali tergelak mendengarnya. “Tidak akan diulangiiii ^^ Janji!” Kuberikan huruf V dari dua jariku.

Anyway, isn’t it my tea?” Tanyaku ketika menyadari sejak tadi Minho selalu menyesap teh melatiku.

“Ah.. Iya. Sama pacar ga boleh pelit dong. Kan sebentar lagi kita akan berba-”

“Yoora! Minho!” Tepukan di pundakku dan datangnya suara yang tiba-tiba berhasil membuat Minho menghentikan alasannya untuk terus menyesap habis teh ku.

“Jonghyuuunnn ^^ Duduk sini.” Ujarku sambil menarik kursi dari meja lain untuk tempat duduknya.

“Oh, terima ka-”

“Hyung duduk di sini saja. Aku duduk di samping Yoora,” pinta Minho pada Jonghyun. Yang diminta hanya tertawa kecil dan menggaruk-garuk pelipisnya.

Setelah itu kejadian seperti biasa. Mengobrol. Berbincang sambil diselingi tawa renyah dari kedua namja ini. Bercanda antara dua namja yang saling menjitak dan saling membuka aib.

Aku senang melihatnya. Jonghyun tertawa dengan lepasnya, benar-benar tidak ada beban, bahkan ketika lengan Minho merangkul pundakku. Ia tetap biasa saja. Hebat kan? Aku benar-benar salut akan dirinya. Ketika ia berkata bahwa ia akan bertahan, ia benar-benar bertahan. Ia tidak bersikap egois.

Hingga akhirnya, suatu keadaan membuatku tau bahwa pria yang tertawa lepas ini, bertahan dengan cara yang salah. Dan itu membuatku miris. Membuatku kacau. Padahal jika dihitung-hitung, sudah 3 atau 4 bulan kami seperti ini. Tertawa bersama dengan lepasnya. Tapi..

***

*Drap *Drap *Drap

Aku berlari dengan kencangnya. Menyusuri pintu-pintu kamar di lantai 10 sebuah apartment di Seoul ini. Tidak perduli betapa lelahnya diriku pada saat ini. Tidak perduli peluh memenuhi tubuhku. Yang aku tau adalah Jonghyun sedang membutuhkanku.

Panggilan dari Minho satu jam yang lalu benar-benar membuatku harus meninggalkan latihan ke 10 oppa-ku. Turun dan berlari dari taxi ketika jalanan Seoul di sore hari benar-benar tidak bergerak. Menabrak beberapa orang karena terburu-buru. Itu semua untuk Jonghyun.

Minho bilang bahwa Jonghyun hyung benar-benar dalam keadaan lemah saat ini. Aku memang belum tau apa yang terjadi, tapi menurut cerita Minho, ia menyayat pergelangan tangannya. Penyebabnya? Entahlah aku tidak tau. Dan akan kucari tau.

*Ting Tong *Ting Tong *Ting Tong

*Cklek

“Oh, noona!”

“Dimana Jonghyun?” Tanyaku tanpa memperdulikan sapaan dari Taemin. “Di kamar,” jawabnya. Aku langsung berlari ke kamar Jonghyun. Aku tidak memperdulikan sapaan-sapaan yang menyambutku. Yang aku perdulikan sekarang adalah Jonghyun.

“Yoora”

“Minho.” Langkahku terhenti. “Jonghyun?”

“Ia di kamar. Bicaralah. Kurasa hyung membutuhkanmu.”

“Kau tau kenapa ia melakukannya?” Minho mengangguk. “Jinki hyung tadi bertanya padanya. Tadinya Jonghyun hyung tidak mau mengatakan apa-apa, tapi akhirnya ia mengatakan alasannya.” Raut wajahnya tampak sedih. Aku benar-benar tidak tau apa yang terjadi. Aku tidak tau kenapa Minho memberikan raut wajah seperti itu. Aku benar-benar tidak tau.

“Apa alasannya?”

“Untuk bertahan.” Mata Minho terlihat berkaca-kaca. Ia terlihat menggigit bibir bawahnya. Aku masih tidak mengerti. “Bertahan atas apa?” Tanyaku lagi.

 “Bertahan atas dirimu. Ternyata setiap ia melihat kita berdua, ia selalu menyayat tangannya Yoora. Ia menyayatnya.” Suara Minho mulai terdengar bergetar. Dan sekarang aku yang mencoba bertahan untuk tidak jatuh dihadapan Minho. Kalau aku jatuh, bagaimana dengan Minho? Ia akan menanggung 2 orang yang lemah.

“Minho duduklah. Aku akan bicara pada Jonghyun.” Pintaku padanya sambil membawanya untuk duduk di sofa.

***

*Knock *Knock

Tidak ada jawaban dari dalam.

*Knock *Knock

Ku ketuk lagi pintu kamarnya dan tetap tidak ada jawaban. Ku beranikan diriku untuk membuka pintu kamarnya.

“Jonghyun?” Kembali tidak ada jawaban. Tapi dapat kulihat seorang namja duduk meringkuk di sudut kamar ini. Kepalanya tertunduk dengan kedua tangan melingkar di kedua lututnya.

“Jonghyun,” Aku berjalan menghampirinya, mensejajarkan tubuhku dengan dirinya, mengusap kepalanya seperti yang biasa Yesung oppa lakukan padaku.

“Yoora” Ia tersenyum lirih. “Maaf.. Aku.. Aku..” Kata-katanya tersendat. Air mata mengiringi ucapannya yang terbata-bata itu. Aku menatapnya kecewa.

Are you out of your mind? Kenapa kau melakukan ini semua? Kenapa??” Kugoncangkan bahunya yang kekar. Kedua matanya masih menatapku. Tapi bibirnya terkatup. Terkunci. Ia tidak mengeluarkan suaranya sama sekali. Hanya air matanya yang terus mengalir.

“Bukankah kau yang bilang kalau kau akan bertahan?? Tapi kenapa kau melakukan ini? KENAPA????” Air mataku ikut jatuh seiring aku berteriak kesal padanya.

“KARENA INI CARAKU BERTAHAN!” Tersentak. Aku tersentak mendengarnya.

“Pabo ya???” Hardik-ku. “Kalau ini caramu bertahan lebih baik aku tidak usah berhubungan dengan Minho. TIDAK USAH!!”

“Yoora kumohon. Tidak usah memperdulikanku. Kau tetaplah bersama Minho.” Tangannya menggenggam erat tanganku. Kurasa ia benar-benar memohon.

“Tetap bersama Minho? KAU GILA KIM JONGHYUN!! Mana bisa aku tetap bersamanya, sedangkan aku tau bahwa kau bertahan dengan cara yang salah!”

“Yooraa.. Kumohon.” Jonghyun benar-benar melirih. “Kau mencintai Minho kan?”

“Iya. Aku mencintainya. Lalu?”

“Kurasa alasan itu sudah cukup untuk membuatmu tidak memperdulikanku. Untuk tidak memperdulikan caraku bertahan. Setiap orang punya cara-nya sendiri untuk bertahan Yoora. Kau tau itu. Dan ini caraku.” Ujarnya sambil menunjukkan perban putih yang masih menghiasi pergelangan tangannya. “Bahagialah Yoora. Kumohon. Hmm?”

“Tidak usah memohon untuk kebahagianku. Aku punya caraku sendiri untuk bahagia.”

“Yoora..”

“Bye Jonghyun. Kutunggu kau dipernikahanku. Itu juga kalau kau masih hidup!”

*Brak

Kututup kasar pintu kamarnya. Aku benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana mungkin ia memilih cara itu untuk bertahan? Menyayat tangannya sendiri? Mau mati secara perlahan dia? Hah? DASAR BODOH!!

“Sayang?” Kulihat seorang namja tengah berdiri menyender di tembok ruang tengah apartment ini. Memanggilku dengan wajahnya yang terlihat sangat lelah. Tapi juga ada raut kesedihan di sana.

“Minho =]”

***

TBC

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

14 thoughts on “What If – Part 8”

  1. Jjong setres, si gue emang biasanya sensi sama si Jjong dan suka kalo si Jjong menderita, tapi kalo di FF ini si Jjong watir… Jadi tambah bingung kalo jadi Yoora, Minho so sweet banget, most wanted boyfriend lah walau kadang lebay n banyak gombalnya,hehe….Jjong terlalu baik, sangat baik, tapi kayanya terlalu mencintai si Yoora, jadinya aja freak, kasian banget…
    Storm, lama kali part ini keluarnya?hehehe…. Kangen nih baca FF-FF mu dan tentunya penasaran sama lanjutan FF ini dan Hands of April… Ayooo STORM semangat!!!!!
    -aku juga jadi kangen nulis FF nih,hhe-

    1. Dilloooooooo…
      Ah! Kamu kemana ajaaa??
      Iya! mana FF mu? manaaa??
      Aku mau baca!! hehe..

      HOA, kapan2 aku lanjutinnya..
      lagi buntu hehe..

      Makasih dillooo ^^

  2. aigo,,O.O
    sih jjong koq gitu sih??kan kasian yoora.a..ToT,,pake nyayat2 lagi,kalo aq sih ogah*Jong: spa juga yg nanya pendapat lo!?*
    aigo~mending yoora ma jjong ajj,,nnt minho ma aq,, 😀 #plak
    haha..aq tgu next part.a..>.<

  3. bru bc prtma kali..lsg jtuh cinta ma minho ‘digamparflames..mksd sya jtuh cnta ma bhasany n gya pnulsan ffny..love it..
    Permisi storm,sy mau bca part sblumny dlu..

  4. hyaaa …. menyedihkan !!!
    ini lgi kenapa window media player nya puterin lagunya jjong nothing better ..
    hyaaa !!! jjong jeongmal babo ya !!!
    lanjut …

  5. Ah jongg
    Jangan begitu lahhh
    Apa apaan siiii
    Pusing deh jadi yoora
    Sayang ama minho tapi jongnya?
    Aihhhhhh sampe begitu
    Aduhhh udahlah sama yang lain aja (?)
    Lanjutt

  6. Aigo!!!!!!!!!!
    Gilagilagila jjong lu apa2an sih!!!!
    Padahal udah seneng direstuin
    Aisaisssss
    Itu sumpah yang kata2 terakhir yoora buat jjongx_x
    Aaaa dipanggil “sayang” sama minho!!!
    Ngebayangin muka lelah terus muka sedihnya minhoo:(
    Kenapa pas minho panggil sayang, lebih dhgdfkbagdeufb dibanding kalo minho manggilnya jagi? Hihi:3

  7. jjong. . .
    Aku baca y kaget ternyata cara bertahan y jjong begitu.. Miris bgt sih. . .
    Aku pikir bakal happy2 ja pas jjong ngerestuin n sadar tau y. . .
    Tu minho jgn2 minta putus lg! Lanjut. . .

  8. omo, Jjong oppa perasaan sering banget dapat peran gitu T^T
    cara bertahannya kaya ‘someone’ deh, tapi ga’ sampai diperban juga
    ini masih lanjut???? Kyaaaa!!! penasaran ma lanjutannya!!! ^^

  9. storm….kyaaaaaa..baru nemu ni ff /kudet

    baca ni ff aku jadi ikutan galau *lho???* huhuhu kenapa si jjong nyuruh yoora sama minho si, padahal dia kan cimat sama yoora….ga rela..g relaaaaaa……kesian jjong….semangat jjong aku dukung kamu /plaaaaak *ditimpuk sendal sm blingers*…keren dh ni ff sampe2 aku bener2 sebbel sama si minho huuuuh….btw itu aku jadi penasaran sama kisahnya yesung, beneran ni dia juga salah satu romeo yg ditinggalkan? O.o

    kewl ni storm…ditunggu lanjutannya 😀

  10. Jjong koq gtu, pke nyayat” tgan sgala,,
    Ada apa ya.. Minho manggil Yoora????
    HMmmmm… penasarannn,,
    Lanjutannya Cpt ya,:D

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s