Married Idol : Jinki – Part 3

Jinki Story of Married Idol (Part 3)

Title : Jinki Story Of Married Idol

Author : Onmithee

Main Cast  : Lee Jinki/ Onew, Kim Rumi

Support Cast : SHINee Member, Han Chae Kyeong

Length : Sequel Married Idol

Genre : Romance, Friendship

Rating : PG-15

Notes: Ini Married Idol Versi Onew/Jinki… so buat readers yang belum baca Married Idol, disarankan baca tuh FF dulu biar ngerti ma jalan cerita FF ini.. okeeeyyyy ^^b

STORY

Setelah Rumi datang ke dorm. Hampir selama 3 minggu kemudian aku dan dia tak bertemu. Komunikasi kami hanya lewat telpon atau pesan singkat. Mungkin ini keterlaluan, untuk pengantin baru seperti kami berada dalam kondisi itu. Eomma menelponku berkali-kali, memarahiku gara-gara aku jarang pulang ke rumah.  Tapi, mau bagaimana lagi. Aku dan grup ku sibuk dengan persiapan konser kami, belum lagi untuk kegiatan acara akhir tahun dimana kami menjadi pengisi acara.

Aku sadar meski sangat sibuk seharusnya aku meluangkan waktu untuk bertemu dengan istriku meski hanya sejenak. Sehingga kali ini pada malam ulang tahun Minho, secara mendadak aku mengajak yeojaku untuk bertemu.

Jonghyun bercerita padaku siang tadi, kalau dia bertemu dengan Rumi di sebuah café dekat kantor SM. Jonghyun bilang, Rumi terlihat mencemaskanku. Aku sangat senang mendengar itu karena sekalipun Rumi tak pernah menunjukkan kalau dia memikirkanku. Apalagi setelah dia pulang dari dorm waktu itu. Setiap aku menelponnya, aku bisa merasakan kecanggungannya saat berbicara denganku. Entahlah kenapa dia seperti itu.

Aku mengajak Rumi bertemu di taman dekat kantor SM. Sengaja memang tak bertemu di rumah karena setelah ini aku ingin mengajaknya ke dorm dan kencan sebentar. Kami sudah menikah, tapi tak pernah sekalipun berkencan. Aku rasa itu yang membuat hubungan kami menjadi canggung.

Saat aku melihat dia setelah tiga minggu berlalu, aku langsung memeluknya. Yah, ku akui, aku sangat merindukan yeojaku ini dan aku sangat senang ternyata dia membalas pelukanku.

Aku tahu, berisiko melakukan kontak fisik dengannya seperti ini. Mengingat perjanjian kami dan betapa hasratku akan sangat bergejolak ketika melihat dirinya. Tapi, aku tak memikirkan itu. Aku merasa sangat bahagia melihatnya berada di pelukanku. Seharusnya aku melakukan ini dari dulu.

Aku lalu iseng bertanya disela pelukan kami, “Yeobo, kau merindukan ku?”

“Ne.. neoumu neoumu bogoshipo,” jawabnya berbisik.

Ini pertama kalinya dia berkata kalau dia merindukanku. Ini menggelitik ku untuk menggodanya dengan pertanyaan, “Kalau begitu kenapa tak menemuiku tadi pagi? Atau mengajak ku bertemu sebelumnya. Kau gengsian sekali ya.”

“Aku sudah bilang pada Jonghyun agar tak mengatakan kalau tadi bertemu denganku. Apa dia yang bilang?” katanya berusaha melepaskan pelukanku. Tapi aku menahannya. Mana mungkin ku biarkan sementara aku sedang menikmati saat-saat ini. Walau hari ini aktifitasku sangat banyak dan melelahkan tapi perasaan lelah itu hilang saat aku bersama dengan Rumi. Benar-benar aneh.

“Itu balasan karena kau membohonginya. Kau tidak mentraktirnya tadi.” sahutku tertawa.

“Ah~ itu karena aku lupa! Daripada itu, mengapa mengajak ku bertemu disini? Kenapa tak pulang saja?”

“Ah~ bukannya seperti ini romantis?” aku masih tertawa. “Sebenarnya aku ingin mengajakmu untuk pesta kejutan ulang tahun Minho. Kau mau ikut, ‘kan?”

Rumi terlihat berpikir. Dia sepertinya enggan, setelah melontarkan beberapa pertanyaan akhirnya dia menyetujui untuk ikut.

++++++++

Aku melihat Rumi menikmati kebersamaan dengan member SHINee, merayakan ulang tahun Minho. Mereka menyambutnya sangat ramah, bercanda dan tertawa bersama walau aku merasa Rumi terkadang menatap Minho dengan pandangan lain. Terlihat saling canggung. Tapi, ketika aku mengantarnya pulang, Rumi mengajak ku untuk mampir ke sebuah mini market. Katanya dia ingin membuat sup rumput laut untuk Minho.

Ah.. mungkin hanya dugaan aku saja. Kecanggungan itu sesungguhnya tak ada. Walau aku sempat cemas. Takut kalau-kalau Minho pernah mengatakan hal buruk pada Rumi. Mengingat saat dia mengantar Rumi dulu pulang dari dorm, dia mengatakan hal yang aneh…

Minho mempertanyakan kebahagiaan ku setelah menikah dengan Rumi.

Yah.. kuanggap pertanyaannya saat itu sebagai respon dirinya yang masih belum bisa menerima Rumi berada disampingku. Dia yang masih belum bisa menyukai Rumi.

Tapi, yang dikatakannya saat itu juga menyentil perasaanku. Tentang kebahagiaan setelah pernikahan.

Sejujurnya, aku tak merasakan perubahan berarti. Aku masih seperti ini saja, sama seperti sebelum menikah. Yah… ku akui, aku belum mendapatkan kebahagiaan mengingat aku dan Rumi masih belum bisa membuka hati kami.

Aku belum bisa mengatakan padanya tentang tujuanku menikahinya hanya untuk memberikan cucu bagi orang tuaku. Pernikahan yang tidak dilandaskan oleh keinginan pribadi.

Yah.. aku juga tak mengatakan kalau terkadang aku menyesali pernikahan ini. Pernikahan yang tidak kuinginkan yang harus ku lakukan di tengah-tengah perjalanan ku mengejar mimpi.

Tapi, entahlah.. aku tak sanggup mengatakan semua itu pada Rumi. Karena ketika aku melihat senyumannya. Saat itu juga aku lupa dengan segala penyesalanku.

++++++

Pernyataan cinta itu muncul dari bibirnya. Rumi mengatakan kalau dia mencintaiku. Dia sudah mulai membuka hatinya. Itu membuat ku senang, sekaligus sedih.

Senang karena dia siap menjadi istriku yang sesungguhnya. Sedih karena aku masih belum bisa membalas perasaannya.

Walau aku mengatakan kalau aku juga menyukainya, merindukannya dan membalas ciumannya tapi entahlah.. hati ini belum bisa tercurahkan hanya untuknya. Aku membalasnya karena merasa itu yang harus kulakukan.

Aku merasa diriku jahat sekali. Aku tahu bagaimana rasanya sakit hati tapi aku malah diam-diam menyakitinya. Ini keterlaluan. Aku tak boleh seperti ini. Bukannya aku sudah bertekad untuk belajar mencintainya, belajar menerima dia hadir di hidupku.

Selain menyatakan cintanya, Rumi juga mempertanyakan kebahagiaanku. Hah, kenapa semua orang menanyakan hal itu? Seakan tak ada hal lain saja.

Tak mungkin ’kan aku mengatakan kalau aku tak bahagia dan membuat orang lain cemas? Itu bukan sifatku!

Aku mencoba menjelaskan pada Rumi tentang definisi kebahagiaan menurutku, agar dia tak merasa gelisah. Dia tampak puas saat aku bilang, ”bagaimana mungkin aku tidak bahagia? Aku hidup dikelilingi orang-orang yang kusayangi dan sangat kucintai. Ini adalah saat-saat paling membahagiakan dalam hidupku.”

Saat melihat kepuasan di wajahnya mendengar ucapanku. Aku menghela nafas lega. Aku memang bahagia menjalani hidupku ini tapi dia tak harus tahu kalau aku merasa gelisah saat aku bersamanya. Dia tak harus tahu hal itu. Ini cukup menjadi rahasiaku seumur hidup. Yang terpenting sekarang adalah aku belajar mencintainya dan  berusaha memperoleh kebahagiaan yang dia inginkan. Aku yakin pada akhirnya, kami berdua akan hidup bahagia bersama.

++++++++

Aku cukup gugup dengan hari ulang tahunku kali ini. Aku sudah meminta Rumi agar dialah yang menjadi kadoku di ulang tahunku ini. Sebenarnya, aku sama sekali tak berpikir saat mengatakan itu. Terlalu terbawa keadaan saat hubungan kami sedang hangat-hangatnya. Dan diapun menyetujuinya.

Rupanya dia benar-benar siap menjadi seorang istri sesungguhnya. Tapi, entah kenapa aku malah ketakutan. Padahal jauh di dalam lubuk hatiku, aku sangat menginginkan dirinya.

Yah.. aku benar-benar namja yang buruk! Belum mencintai yeojaku dengan sepenuh hati tapi malah menginginkan tubuhnya. Ini sangat buruk! Aku tak menyangka memiliki sifat seperti ini.

”Hyung.. kau tak pulang? Bukannya kau janji dengan istrimu untuk pulang ke rumah malam ini? Kenapa masih disini? Pestamu kan sudah usai dari 1 jam yang lalu?” tegur Jonghyun saat melihat aku masih berdiam diri di dorm. Melamun.

Member yang lain dan manager sudah terlelap di kamar masing-masing. Pesta ulang tahun ku sendiri hanya di rayakan secara sederhana di dorm. Kami hanya minum sedikit dan makan kue. Tak boleh mabuk karena aktifitas kami sangat padat akhir-akhir ini.

”Apa aku harus pulang?” tanyaku malas.

”Tentu saja! Tadi, saat Rumi-noona menelpon kau berjanji akan pulang. Jadi pulanglah, jangan membuat istrimu sendirian. Kasihan dia..” kata Jonghyun duduk disampingku.

”Hm.. baiklah. Aku pergi dulu ya Jjong!” kataku mengambil mantel tebal dan kunci mobil lalu bersiap meninggalkan dorm.

”Ne, hati-hati di jalan dan bersenang-senanglah..” pesan Jonghyun.

Aku tersenyum padanya dan membatin,’yeah.. ku harap aku bisa bersenang-senang.’

+++++++

Saat sampai di rumah. Disana sudah sangat sepi. Tentu saja karena ini sudah pukul 2 dini hari. Saat aku masuk ke kamarku, kamar dalam keadaan gelap. Menandakan Rumi sudah tertidur, dia sama sepertiku hanya bisa tidur dalam keadaan gelap. Sedikit menyesal juga mengetahui dia tak menungguku. Aku gagal mendapat kado spesial malam ini. Dengan perlahan aku menyalakan lampu karena aku ingin mengganti pakaianku. Tapi, rupanya itu membuat Rumi terbangun.

“Yeobo~ kupikir kau tak pulang..” dia bangkit dari tempat tidur dan berlari memeluk ku. Astaga.. rupanya dia memang sangat menginginkan diriku. Hah.. aku jadi merasa tersanjung.

Sambil mengecup keningnya aku berujar, “Aku bilang kan pasti pulang.. untuk mengambil hadiah darimu..”

Kami lalu bertatapan. Matanya menyiratkan keyakinan memberikan harta berharganya untuk ku. Walau sedikit gugup karena ini pertama kalinya bagiku, tapi aku menerima kado itu dengan memperlakukannya dengan baik.

Dan inilah pernikahanku, setelah menikah selama 2 bulan lebih, akhirnya kami juga bisa melakukan hubungan suami istri yang sebenarnya.

+++++++

Aku menghabiskan liburan natal bersama member SHINee di Jepang. Itu karena kami mengadakan konser perdana kami disana sebelum akhirnya debut pada kuartal pertama tahun depan. Jadi bukan pergi ke Jepang sekadar untuk liburan, tapi lebih tepatnya untuk bekerja.

Rumi tidak bisa ikut ke Jepang, dia hanya memberikan semangat padaku lewat pesan video sebelum konser dimulai. Aku memang tidak bisa mengajaknya karena dilarang manager hyung. Tapi walau hanya seperti itu, aku sudah cukup senang. Melihat senyumnya lewat ponsel saja berhasil membakar semangatku. Dia benar- benar hebat dalam memotivasi hidupku.

Kami melakukan konser di Jepang selama dua hari yang dihadiri oleh ribuan penonton. Benar-benar spectakuler, kami bahkan belum resmi debut disana tapi sambutannya sudah meriah sekali. Ini menyenangkan, tapi belum membuatku puas karena ini masih di awal perjalanan kami.

Kemudian, di hari terakhir setelah merayakan berakhirnya konser kami, aku yang sedang berpelukan dengan Jonghyun di backstage dikejutkan dengan datangnya sesorang yang sudah lama tak ku jumpai. Dia adalah Han Chae Kyeong. Yeoja yang dulunya sempat membuat hatiku berbunga-bunga dan begitu menyukainya.

Aku terpaku ketika melihatnya. Sudah hampir 2 tahun berlalu, tapi dia tak berubah. Dia langsung menghambur ke dalam pelukanku. Mengucapkan selamat karena keberhasilan konser kami.

”Oppa… chukkae. Akhirnya kalian bisa melaksanakan konser yang sangat kalian impikan,” ucapnya.

Aku tak merespon. Masih terkejut, hingga akhirnya dia melepaskan pelukannya dan menatapku. Aku bisa melihat Key dan Minho mengeryitkan keningnya saat Chae Kyeong memelukku tadi. Sementara Taemin dan Jonghyun merengut. Aku tahu mereka tak suka melihat adegan ini.

”Oppa.. kau kenapa? Kaget melihatku? Atau kau sudah lupa denganku?” katanya lagi.

Manager hyung yang berada disampingku lalu menarik tangannya, ”Yaa… Chae Kyeong-sshi, apa hanya Jinki yang kau rindukan? Kau bahkan tak menyapaku..”

Kulihat Chae Kyeong tersenyum kecut dan syukurlah hyung berhasil menjauhkannya dariku. Menyeret yeoja itu untuk mengobrol di tempat lain.

Aku lalu berjalan ke ruang ganti bersama Jonghyun dan yang lain. Perasaanku kini menjadi gelisah dampak karena bertemu Chae Kyeong lagi, dan rupanya Jonghyun menyadari kegelisahanku itu. Dia menahanku untuk tak masuk ruang ganti dan mengajak ku berbicara di ruangan lain.

”Katakan perasaanmu sekarang saat melihatnya lagi, hyung!” seru Jonghyun.

”Aku kesal..” sahutku.

”Lalu?”

”Tapi juga senang melihat dia baik-baik saja..” lanjutku.

”Kau masih menyukainya?”

”Tidak!” gelengku, ”Sudah tak lagi, saat menikahi Rumi aku sudah bertekad melupakan perasaanku pada Chae Kyeong.”

”Bagus.” Jonghyun tersenyum,”Jadi, tak ada masalah lagi kan dengan kehadirannya?” aku mengangguk, kemudian Jonghyun melanjutkan, ”Jadi, kau pasti bisa bersikap biasa jika bertemu dengannya lagi?”

”Ku harap aku bisa..” sahutku.

Jonghyun menepuk pundak ku, ”kau pasti bisa.”

++++++

Sekarang aku paham kenapa saat itu Jonghyun berkata seperti itu. Setelah konser kami di Seoul juga sukses pada awal tahun baru, seminggu kemudian aku mengetahui kalau Chae Kyeong kembali lagi menjadi kru kami dengan jabatan yang sama seperti dulu. Yah, kini aku harus terbiasa lagi dengan kehadiran dirinya disekitar ku.

Walau sebenarnya aku cukup gelisah dengan situasi ini. Aku takut perasaanku yang mulai tumbuh pada Rumi menjadi goyah karena munculnya Chae Kyeong.

Argghhh! Kenapa sih dia harus kembali lagi? Aku sudah bisa melupakannya dan memulai hidup baru. Kenapa dia muncul lagi dan mengusik perasaanku? Menyebalkan.

Aku memutuskan untuk meningkatkan intensitas pertemuanku dengan Rumi. Itu kulakukan agar aku bisa melenyapkan Chae Kyeong dari pikiranku. Jika dalam seminggu aku bertemu dengan Chae Kyeong sebanyak 4 kali maka aku harus bisa bertemu dengan Rumi 2 kali lebih banyak dari itu.

Tapi, tampaknya karena intensitas pertemuanku dengan istriku semakin meningkat. Menyebabkan ada yang berubah pada Rumi. Kata eomma, dia sering melihat Rumi muntah-muntah di pagi hari dan selera makannya meningkat. Eomma menduga kalau Rumi sudah mulai mengandung.

Ah… tapi masa sih Rumi mengandung tanpa memberitahuku? Rasanya itu mustahil…

++++++

Dua hari lagi ulang tahun Rumi, hari ini aku mendapatkan kabar menggembirakan.Ternyata yeojaku benar-benar sedang mengandung bayi kami.

Ah, menyebalkan sekali yeojaku itu! Kenapa sih dia bisa tega sekali tak memberitahuku?! Aku mendengar kabar itu dari eomma. Itupun eomma bisa tahu karena dia tak sengaja menemukan hasil test kehamilan dari dokter pada saat sedang membantu Rumi membereskan kamar.

Tapi, aku dan eomma sengaja untuk tetap pura-pura tak tahu. Kami akan menunggu dan pura-pura terkejut saat Rumi memberitahukan kehamilannya.

Ah… tapi aku sungguhan tak sabar sampai hari itu tiba. Aku sangat ingin mengelus perutnya dan menyanyikan lagu untuk buah hati kami.

Ternyata saat-saat menunggu menjadi seorang ayah itu sangat menyenangkan dan mendebarkan. Aku sangat bahagia menantikan kehadiran anggota baru di keluarga kecil kami.

++++++

Hari ini Rumi berulang tahun ke-24. Walau dia lebih tua 2 tahun dariku, tapi dari sifatnya aku sadar kalau dia masih labil. Aneh bukan? Tapi mungkin yeoja memang seperti itu. entahlah…

Untuk merayakan ulang tahunnya, aku dan Taemin berencana akan memakai baju badut. Dia pasti akan terkejut jika melihat aku dan Taemin bernyanyi dan menari di depan rumah, padahal aku bilang padanya kalau hari ini, aku tak bisa merayakan ultahnya karena akan pergi ke Thailand. Yeojaku itu dengan bodohnya percaya. Hah, lucu sekali dia.

Selain itu aku juga sudah menyiapkan sebuah kado untuknya. Aku akan memberikannya seuntai kalung dengan bandul permata berbentuk bintang. Aku memberikannya sebagai ganti dari cincin kawin kami. Pada saat menikah dengannya kami memang tak bertukar cincin kawin dikarenakan pernikahan kami adalah pernikahan rahasia. Aku harap dengan adanya kalung itu bergantung di lehernya menjadi tanda ikatan suci pernikahan kami. Menandakan dia adalah milik ku.

Tapi, rupanya hari itu. bukan aku yang memberikannya kejutan.

Saat aku akan menjalankan misi, aku tak bisa menemukan Rumi di rumahku. Lalu, aku bergegas menyusulnya ke rumah orang tuanya. Kata eomma, saat Rumi pulang ke rumah keluarganya dia tampak muram. Aku tahu, dia pasti kesal padaku saat itu. Tapi aku akan mengobati kekesalannya dengan mucul di rumahnya.

Namun, tampaknya aku memang tak bisa memberikan kejutan pada Rumi. Justru aku yang terkejut ketika sampai di rumahnya aku melihat ibu mertuaku dalam keadaan panik memanggil ambulance. Terlebih, aku mendengar suara Rumi berteriak memanggil ibunya. Dia terdengar sedang kesakitan.

Saat aku sampai di kamar Rumi, aku bisa merasakan seluruh tubuhku lemas. Aku mendorong Taemin agar tak ikut masuk ke kamar, dia tak boleh melihat keadaan istriku saat ini.

“Yeobo~” kataku berlutut disamping ranjang. Aku ketakutan melihat kondisi Rumi yang bersimbah darah.

Bukankah dia sedang mengandung anak kami? Tapi… keadaannya kini. Oh.. tidak jangan bilang kalau kondisinya saat ini adalah tanda kalau dia akan kehilangan anaknya, anak ku! Andwe..

Tuhan.. ku mohon. Jangan lakukan ini pada kami. kumohon.. biarkanlah anak kami melihat dunia ini…

++++++

Saat di bawa ke rumah sakit, keadaan Rumi sudah sangat kritis. Dia kehilangan banyak darah, dia sudah hampir tak sadarkan diri.

Aku menangis, menunggu dia di depan ruang operasi. Tak peduli dengan bujukan Key dan Minho yang menyuruhku untuk tenang.

Ibu mertuaku lalu menghampiriku, ”tabahlah.. mungkin belum saatnya untuk mu dan Rumi memiliki anak. Jangan membuang-buang air matamu. Rumi, pasti sedih jika tahu kau seperti ini.”

Aku mengangguk. Tapi sebenarnya bukan itu yang membuatku menangis. Aku menangis karena melihat keadaan Rumi. Ini mengerikan. Seperti itukah perjuangan seorang wanita untuk kehadiran sebuah kehidupan baru? Sakit.. melihatnya saja aku tahu kalau itu sangat sakit. Melihat kondisi Rumi yang kritis, seperti sedang berada di ambang kematian. Nyawanya sedang dipertaruhkan disana.

Tiba-tiba aku teringat bahwa aku banyak melakukan hal buruk padanya. Aku yang tak pernah terbuka padanya, padahal Rumi selalu terbuka padaku kecuali berita kehamilannya ini yang masih dia sembunyikan. Tapi kebohongannya itu bukan masalah karena dosaku padanya lebih banyak. Aku tak pernah mengatakan kalau aku mencintainya secara tulus. Tapi sekarang aku sangat menyayanginya!

Oh tidak.. jangan-jangan ini semua karena aku? Dia keguguran karena dia sedang kesal padaku. Aku yang tidak menemaninya di hari ulang tahunnya ini. Dia tidak tahu kalau aku sedang mempersiapkan kejutan untuknya. Yah.. lagi-lagi karena aku bohong padanya. Argghh!

Aku lalu berdoa,”Tuhan.. selamatkanlah Rumi. Aku tak ingin yang lain. Selamatkan istriku, jangan membuat dia kesakitan lebih dari ini. Aku hanya ingin dia, melihatnya kembali tersenyum dan melupakan sakitnya.. kumohon…”

++++++

Tiga jam berlalu setelah itu, aku duduk disamping ranjang Rumi menggengam tangannya yang lemah. Aku tahu dia masih kesakitan, dia juga menangis terus sampai akhirnya bisa kembali tenang setelah di suntik penenang. Keadaannya benar-benar buruk, padahal ini adalah hari ulang tahunnya.

“Tadi siang kau bilang kalau syutingmu belum selesai, kau tak akan menemaniku hari ini. Tapi kenapa kau ke rumahku? Eomma bilang dia tak memanggilmu…” dia mulai berbicara padaku.

Aku hanya bisa menunduk. Menahan tangis, aku tak sanggup melihatnya menderita seperti ini.

“Mianhe…” kataku tak bisa menahan lagi airmataku.

“Jangan menangis..  kau tak perlu minta maaf…” bujuknya. “…gwenchana Jinki-ya.. aku tak menyalahkanmu… jangan menangis seperti ini…”

“… sebenarnya, aku ingin memberikan kejutan untukmu. Aku berbohong saat bilang tak bisa menemanimu. Itu sebabnya aku kerumahmu… bersama member yang lain… terutama Taemin.. kau sangat menyukainya, jadinya.. aku dan dia membuat sesuatu yang spesial untukmu. Tapi saat aku sampai ke rumahmu.. kulihat eomonim panik… dan ketika melihat keadaanmu dikamar.. aku shock dan ketakutan. Aku bahkan tak bisa menenangkanmu yang sedang kesakitan… aku… aku sangat takut… aku sangat tak berguna.. mianhe..”

“…Jinki-ya, aku sangat senang. Senang ternyata kau meluangkan waktu untuk ku. Sebenarnya hari ini… aku ingin bilang tentang kehamilanku.. tapi… maafkan aku.. aku justru menghilangkannya…” kata Rumi, dia terlihat memaksakan diri untuk tersenyum. Itu membuat perasaanku semakin sakit.

“Yeobo… ini namanya takdir. Mungkin memang belum waktunya untuk kita. Yang penting kau sehat itu saja membuatku senang…” sahutku mencoba menenangkannya.

“Tapi… aku merasa bersalah dengan eomonim. Dia sangat mengharapkan cucu…”

“Gwenchana… kita bisa memberikannya nanti.. yang penting kau sehat… jika kau sehat, kau bisa melahirkan banyak cucu untuknya,” kataku.

“Jinki-ya… kita belum pernah membicarakan ini… kau ingin punya anak berapa?” dia bertanya lagi.

“Hmm… dua lelaki dan dua perempuan atau seperti banyaknya member Co-Ed. Atau kau mau sebanyak member SNSD digabung dengan Super junior? Ahh~ aku tak keberatan… Tambah banyak tambah ramai…” kataku mencoba bercanda.

“Ya.. kau pikir aku ayam! Sekali bertelur bisa sebanyak itu.. serius dong,” dia berkata gemas

“Hmm~ kalau begitu.. tiga anak…” sahutku asal, ”hah, daripada menanyakan itu lebih baik kau sehatkan tubuhmu dulu…”

“Jinki-ya.. aku kan hanya bertanya..”

“Yeobo.. kenapa memanggilku dangan nama terus sih.. panggil aku ‘yeobo’ juga.. seperti aku memanggilmu…” protesku sambil mencubit hidungnya.

Hah.. yeojaku ini memang terlalu, dia selalu lupa memanggilku dengan sebutan ’yeobo’ benar-benar membuatku gemas.

“.. terserah aku dong, mana kado ku?” katanya menyodorkan tangan.

Aku berpura-pura kaget, aku sedang mencoba mencandainya sekarang. Lalu aku berkata, “Omo~ aku lupa menaruhnya.. otthokae?”

“Ya! Jinki.. aishh~ kau payah…. Payah…”

Hah, yeojaku ini sungguhan bodoh. Mana mungkin aku menghilangkan kadoku, aku hanya mengerjainya dan dia dengan mudahnya percaya. Lalu kumasukkan tanganku ke bawah bantalnya, aku memang menaruh kadoku disana tadi saat dia tidur.

“Tadaa~,  kau mau saja ku bodohi. Tentu saja aku tak akan melupakan benda ini. Ini sangat mahal,” kataku memamerkan kadoku itu, sebuah kalung permata.

“Itu berlian?” tanyanya kaget..

“Bukan.. tapi permata Swaroski. Keren, ‘kan? Bersinar dan kemilaunya seperti berlian. Hah.. tapi SHINee lebih bersinar dan indah… Tetap saja kalung ini harganya mahal. Jadi kau harus merawat dan menjaganya baik-baik!”

“Kenapa tak belikan berlian sekalian?” protesnya tapi masih tetap menerima kadoku, “Gomawoyo.. yeobo..”

“…aku akan memberimu berlian kalau kau sudah sehat dan melahirkan anak yang sehat untuk ku.” Kataku sambil mengacak rambutnya lembut.

Tapi, pada kenyataannya aku pasti akan memberikan apapun yang Rumi inginkan, walau sampai suatu saat nanti dia tak memberikan seorang anak pun padaku. Entahlah, ada apa denganku kini. Seketika keinginanku untuk mendapat anak hilang ketika melihat penderitaannya tadi.

Aku tak ingin melihat yeojaku kesakitan lagi, aku tak ingin melihatnya bertaruh nyawa lagi. Tapi aku tak akan mengatakan itu pada Rumi. Dia pasti akan marah dan yeah.. begitu juga ibuku jika dia tahu kalau aku sudah tak berminat memberikannya cucu lagi.

+++++++

Esoknya, karena ada pekerjaan di Thailand aku terpaksa tak menemani Rumi. Padahal dia masih harus di rawat selama seminggu di rumah sakit.

Aku tidak bersemangat melakukan pekerjaan kali ini. Aku mencemaskan Rumi, tapi mau bagaimana lagi aku tetap harus pergi bersama member SHINee yang lain ke Thailand karena sudah terikat kontrak.

“Hyung.. jangan bete gitu dong…” tegur Taemin duduk disampingku pada saat kami sedang bersiap untuk recording di sebuah pantai. “Noona akan baik-baik saja…”

“Yah.. itu benar. Hanya saja aku ingin berada disisinya saat ini…” sahutku lemah.

”Oppa.. kau terlihat tak sehat…” kali ini Chae Kyeong yang menegurku. Dia duduk di samping kananku. Kini aku berada di tengah-tengah Taemin dan Chae Kyeong yang terlihat mengkhawatirkan ku. Aku bisa mendengar suara dengusan nafas Taemin di sampingku. Wajahnya cemberut.

”Yaa.. Taemin-gun, waeyo?” ketus Chae Kyeong.

“Opsoyo..” katanya lalu menarik tanganku dan mengajak ku menjauh dari Chae Kyeong. Setelah cukup jauh, dia berkata, “Ih.. aku sebel banget sama Chae Kyeong-noona..”

Aku tertawa, “Wae?”

“Diakankeliatan banget mau ngajak Hyung balikan. Tak tahu malu..” sungut taemin.

Aku lalu mendorong belakang kepalanya, ”Jangan berkata seperti itu, tak sopan!”

Taemin semakin merengut lalu berkata, ”Pokoknya aku gak mau hyung balikan lagi ma dia. Ingat, ada Rumi-noona!”

”Tanpa kau nasehati pun, aku tak akan pernah mengkhianati Rumi. Tenanglah…”

Taemin mengangguk. Kemudian syutingpun dimulai. Kegiatan ini berlangsung selama 3 hari. Ketika kami pulang, aku malah jatuh sakit. Ah, aku jadi gagal menjenguk Rumi pada saat aku kembali… menyedihkan.

~To Be ConTinued~

Komen-komen… kritik dan saran diterima ^^/

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

37 thoughts on “Married Idol : Jinki – Part 3”

  1. Bagus taemin!!!
    Ingetin hyung kamu
    Ih lagian chaekyong deh
    Balik lagi , pake deket deket ama jinki lagi
    Wadooooh
    Beneran nyesek pas inget lagi rumi keguguran
    Huaaaaa 😥

  2. Ih ngapaen chaekyung datang lagi… mo ngerayu jinki lg…. jangan mpe jinki tergoda lg…..
    lanjutanny jangan lama2 yah….

  3. yeah part yang ini akhirnya di publish… aq belom ada kesempatan ngelanjutin part 4nya nih.. gimana dong?
    sabar az ya teman2 nunggunya hehehehe
    gomawo dan komen…. ^^/

  4. aaaaa~ nyesek kali ya kalo jadi Rumi? >.<
    iya itu Taem aku dukung, emang Chaekyong nyebelin, huh…
    hehehehe
    ditunggu lanjutannyaaa~ ^^

  5. iya tuh! chaekyeong nyebelin bgt…Jinki ga boleh balikan lg ma chaekyeong…Rumi yg sabar ya… 🙂
    Lanjuuuuuu~t thor…Jgn lama” ya… 😛

  6. aihihihi…aq ketawa pas jinki ngomong “Hah.. aku jadi merasa tersanjung.”gg tau kenapa aq ketawa,,xDD*garing*#-_-”
    huft,si chae kyeong dah ninggalin jinki skarang malah nguber2(?)..
    aigo aigo~~~aq pengen baca next part.a…haha,,^o^

  7. hiks hiks 😥 sedih ceritanya pas rumi keguguran passs banget dihari ulangtahunnya dan passs banget onew oppa mau kasih kejutan 😦
    next part nya jangan lama-lama yaaa, penasaran :p
    makin seru ceritanya …

  8. Ih chae kyung nyebelin bgt kykny dy mulai sok deket ma unyu…. Tp unyu jgn mpe tergoda yah kasian rumi…. Taemin jaga hyung mu dgn baek yah….

  9. kya nya terasa ngebut bgt alur nya d chaptter yg ini .xD
    Tp gpp .
    Lbh cpet lbh bgus.
    Jd ga gampang penasaaraan.xD

    Knpa pula hrus ada HCK d sni.
    Knpa hrus muncul lg.
    Eneg sm ntuh org .
    Wkwkwkka.

    Next Chapter nya d tungguu
    Hwaiting

  10. Waaaaaaa udh keluar part 3nya!!
    Sedih banget pas rumi keguguran pas ultah dia 😦
    Tp gpp lah nanti kan bisa bikin lagi hihihi #plak
    Ayo author lanjutkan!! Part 4 ditunguuuu

  11. yeobo kau jahat sekali T_T teganya membohongi rumi

    huaaaa, ternyata jinki seperti itum aq kecewa thor. tyus kapan jinki mulai cinta ma rumi???

    keren thor, lanjut lanjut lanjut!!!!

  12. authooorrrr ayooo lanjuttt =)
    saya lebih menghayati MI dari sisi jinki hahahahaha
    mgkn karena pas baca MI gregetan kali ya, penasaran sama perasaan jinki…
    pengen lanjut baca, tp gak tega baca pas bagian jinki sedih-sedih *bener-bener reader labil*
    semangat authooorrrrr!!!!!saya menantikan part selanjutnyaa 😀

  13. author, ini gak ada lanjutannya yg Jinki ya?
    masa cuma smpe sini sih TT
    nanggung banget thor u,u
    lanjutin yaa 🙂 hwaiting!!

  14. Anyeong haseyo,
    Joneun Rissa imnida ’93 line
    Maaf baru kasih komen sekarang ini, padahal FFnya udah dibuat 2 tahun yang lalu tapi aku tetep nggak bosen baca ceritanya berulang-ulang, hehehe
    cerita ini bener-bener bikin aku nangis min, sedih banget ceritanya tapi bersyukur endingnya udah ketauan, tapi tetep pengen tau cerita ini isi dari pemikiran hati onew oppa, so keep writing ya min, i really waiting your next FF ^.^
    jujur ini salah satu FF yang aku terfavorit aku di SF3SI setelah 1 tahun ini ngubek2 librarynya, buat baca karya2 para admin disini
    ditunggu next chapter ya min, gamsahamnida

  15. Smoga aja itu mantan cpt ilang
    Chapter ini mkin mnarik author 😍
    Oya salam kenal q reader bru hehe
    Udh lama gk mnjelajah dunia ff dan q udh nemu ff bgus ini
    Thanks buat ff nya author
    Moga author sehat sllu buat bkin bnyak ff keren laninnya
    Jumpa lg di next chapter 😘😊😍😍😍😍

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s