Secret Of Dawn – Part 1

Author                         : Storm

Main Casts                  : Dawn, Shinee

Main Supporting Cast : Sky

Genre                          : Psychology, Life, Family, Friendship

Length                         : Sequel

Rating                         : General

Inspired by                  : Perfect Match by Jodi Picoult

 

“KYAAAAA!!”

Jeritan dari mereka yang mengidolakan para pangeran-pangeran tampan itu.

“KYAAAAA!!”

Teriakan dari mereka yang memimpikan para pangeran itu untuk melihat mereka. Tidak, bukan melihat, melihat terlalu tinggi untuk mereka. Melirik. Itu kata yang tepat. Ya, itu adalah teriakan dari mereka yang memimpikan para pangeran itu untuk melirik mereka.

“KYAAAAA!!”

Dan itu adalah tangisan hatiku. Tangisan yang ditujukan untuk salah satu dari pangeran itu, pangeran yang telah melumat habis diriku. Tangisan yang airnya mengalir perih di hatiku, tanpa bisa keluar dari mataku.

Knock. Knock. Knock.

Dimulai di malam itu. Malam ketika hujan turun dengan derasnya. Angin yang terus berhembus dengan kencangnya, seolah ingin menumbangkan setiap pohon yang berdiri dengan kokohnya. Dan petir yang menyinari langit malam yang terus menangis tanpa henti. Aku seharusnya tau untuk siapa langit itu terus menangis, tau untuk siapa angin itu terus berhembus dengan gusarnya, dan tau untuk siapa petir itu terus menyalak galak terhadap langit hitam Seoul ini. Aku seharusnya tau bahwa mereka menangis, menjadi gusar, dan menyalak untuk ku.

Knock. Knock. Knock.

*Cklek

“Dawn, sudah tidur?” Pangeran itu berjalan menghampiriku yang sedang tertidur.

*Kriek

Suara dari tempat tidurku yang tiba-tiba muncul karena berat badannya yang juga tiba-tiba berada di tempat tidurku.

“Dawn?”

“Cantik?”

“Sayang?”

Terasa sesuatu yang lembab mulai berjalan pelan menyusuri setiap inci wajahku di setiap panggilannya.

“Dawn”

Nafas tersengal pangeran itu juga dapat kudengar.

“Dawn”

Juga terasa olehku tangan yang mulai menjelajahi tubuhku. Berjalan pelan di atas pyjama beruang biruku. Memasuki pyjama biru itu tanpa malu. Menyisiri setiap inci kulitku. Hingga akhirnya berhenti di dadaku. Menekannya kasar. Membuat nafas tersengalnya semakin menjadi dan sesuatu yang lembab itu menjadi kasar.

“Dawn”

“Enghh.. Oppa.. Berattt..” Terbangun karena merasakan berat badannya di atas tubuhku.

“Dawn, sudah bangun?” Pangeran itu tersenyum.

“Berat opppaaaa.. Awass ahhh.. Aku mau tidurrr..” Aku masih belum sadar apa yang pangeran itu lakukan.

“Sebentar lagi sayang.” Masih dengan senyum dibibirnya.

“ENGHHH.. Op..pa.. A-apa yang kau lakukan? Ba-bajuku.” Panik. Aku panik. Apa yang akan pangeran ini lakukan padaku?Kenapa ia membuka paksa pyjamaku?

“Sebentar.” Hanya itu jawabnya. Tangannya kembali dengan aktifitasnya. Menekan kasar dadaku yang sudah terbuka tanpa ada kain sehelaipun yang menutupi. Begitupun dengan bibirnya yang mulai bermain dengan kasarnya. Melumat dan menghisap kasar hampir setiap wajah, leher, dan dadaku.

“A-apa yang kau lakukan? Ah.. berat oppa..” Tidak ada jawaban darinya.

“Oppa! Ahhhhhh!! SAKIT!!”

“OPPA!! ARGHHH!!” Tubuhku meronta. Tanganku mencoba mendorong kasar himpitan tubuhnya. Tapi GAGAL!

“Sebentar.” Masih itu katanya.

“Oppa!! AHHHH!!”

“Sssttt! Jangan teriak sayang.”

“Hiks.. Oppa.. Aku.. Dawn, oppa. Dawn.. Hiks.” Mencoba menyadarkannya dengan linangan air mataku. Mencoba menghentikan ekornya yang terus memasukiku.

“Kau cantik jika menangis.”

“ARGHHH!! OPP-”

“Tenang sayang tenang.” Seketika tangannya membekap mulutku. Tidak mengizinkanku berteriak. Berteriak karena kesakitan. Berteriak karena ketakukan. Berteriak meminta pertolongan pangeran lainnya.

“Hmmphhhh.. Hmmmpphhhh..” Terus berteriak walau tau tidak akan terdengar. Terus menangis karena perih yang tidak tertahan. Hingga akhirnya teriakanku benar-benar tidak terdengar. Menyisakan air mata yang terus mengalir jatuh. Dan gelengan kepalaku yang terus kuberikan padanya. Memintanya untuk menghentikan semua ini.

“Ssttt.. Jangan menangis sayang..” Monster. Namja ini MONSTER. Ia bukan pangeran. IA MONSTER!!

“Sssttt..” Ujarnya ketika ia sudah menghabisi tubuhku selama ratusan menit dan memasukkan ekornya ke dalam daerah sensitifku. Tangannya menghapus air mata yang sejak tadi turun tanpa henti.

“Hiks.. Oppa.. Hiks.. Lepppasss,” aku memohon padanya.

“Sstt.. Aku akan melepaskanmu jika kau berjanji satu hal padaku.” Ucap monster itu tanpa menghentikan aktifitas bibirnya.

“Mau berjanji?” Aku mengangguk. Aku mengangguk. Aku mengangguk. Akan kulakukan apa saja untuk membuatnya melepasku.

“Don’t tell anyone about this. It will be our secret.”

***

SECRET OF DAWN

File 1- Don’t touch me!

 

Key POV

 

“Poageee.. Hoammm. ” Aku tertawa melihat Taemin yang baru saja turun ke ruang makan. Menguap dan mengucek matanya. Menyapa kami yang sudah 15 menit lalu duduk manis menyantap apa yang ada di atas meja makan.

“Haishh kau ini! Sudah sikat gigi belum?” Taemin menggeleng menjawab pertanyaanku.

“Sikat gigi dulu sanaaa! Jorok banget!” Ujar Jonghyun hyung tanpa berhenti mengoleskan selai kacang pada roti tawarnya.

“Nanti sajaa.. Rotiku mana hyung?” Tanya Taemin sambil (masih) mengucek matanya.

“TSK! Kau ini! Katanya sudah 17 tahun.. Roti saja masih nengadahin tangan. Heuhh -_-!” Sindir Minho padanya.

“Aku sudah dewasa hyung. Hyung saja yang tidak tau.” Jawab magnae kami ini acuh. Mulutnya mulai mengunyah roti isi selai strawberry-nya.

“Pagi,” sapaan datar terdengar dari suara bernada alto. Kutersenyum melihat pemilik nada alto itu.

“Pagi sayang!” Sapaku kembali padanya. Kedua sudut bibirku masih tertarik ke atas ketika menyapanya kembali.

“Pagi adik cantik”

“KYAAA!!” Pemilik nada alto itu tiba-tiba berteriak. Menanggapi pelukan tiba-tiba dari hyung tertuaku yang juga baru bangun tidur.

“JANGAN SENTUH! JANGAN SENTUH! JANGAN SENTUH! JANGAN SENTUH!” Tangannya menghempas kacau tangan Jinki hyung yang berada di pinggangnya. Kakinya melangkah mundur. Panik. Takut. Jijik. Terlihat menjadi satu dalam raut wajahnya.

“Dawn? Ini aku.. Jinki, oppa-mu. Kenapa kau berteriak seperti itu?” Tanya Jinki hyung yang langsung terkesiap mendengar teriakan dan rontaan adik kesayangannya. Tapi kurasa bukan hanya Jinki hyung saja yang terkesiap karena teriakannya itu. Kami juga. Jonghyun hyung langsung berhenti mengoleskan selai kacang pada roti keduanya. Minho langsung menaruh gelas susu coklatnya. Taemin berhenti mengunyah. Dan jantungku langsung berdetak dengan kecepatan penuh. Kami semua mengernyitkan kening menanggapi teriakannya itu.

“JANGAN SENTUH!! KAU DENGAR? JANGAN SENTUH AKU!!”

*Tap *Tap *Tap

“DAWN!! Hey! Sarapanmu!” Dawn gadis kecilku itu berlari meninggalkan ruang makan ini.

*BRAK

Meninggalkan ruang makan dan berlari menuju pintu utama. Membantingnya keras. Hingga terdengar sampai ke ruang makan.

“Hyung! Apa yang kau lakukan pada Dawn? Kenapa reaksinya sampai berlebihan seperti itu?” Tanya Minho gusar.

“Aku tidak melakukan apa-apa. Aku hanya memeluknya dari belakang. Menaruh daguku dipundaknya. Dan menyapanya selamat pagi. Itu saja.” Jawab Jinki hyung yang juga terlihat ikut panik.

“Lalu kenapa ia berteriak seperti itu?” Tanya Jonghyun hyung penuh tanda tanya.

“Aku juga tidak tau kenapa ia seperti itu. Lagipula bukankah setiap pagi aku juga sering memeluknya dari belakang. Dan ia tidak berteriak seperti tadi.” Papar Jinki hyung, mencoba membela dirinya. Tapi memang benar. Jinki hyung, tidak, bukan hanya Jinki hyung, tapi kami semua juga sering memeluknya dari belakang. Dan tidak ada reaksi seperti tadi.

“Sudahlahh.. Mungkin ia memang sedang sensitif. Seperti tidak tau Dawn saja.” Ujar Taemin dengan nada bijak. Aku mencoba mengiyakan perkataan Taemin itu. Walau hati ini tidak yakin. Benar-benar tidak yakin.

***

“KELUAR! KELUAR DARI KAMARKU! KELUAR!!”

Aku yang sedang menonton demonstrasi masal yang terjadi di Libya, bersama Jinki hyung, Minho, dan Taemin di ruang tengah langsung mendongak ke arah tangga. Terlihat seorang namja yang berjalan mundur karena dorongan tongkat baseball dari tangan seorang yeoja.

“Dawn! Tenanglah. Aku kan tidak mengacak kamarmu. Kenapa kau marah sekali?” Ujar namja itu. Langkahnya tetap berjalan mundur menuruni tangga dan tangan kanannya memegangi pegangan kayu tangga itu. Berjaga-jaga agar ia tidak terjatuh.

“KELUAR OPPA! DAN JANGAN COBA-COBA MEMASUKI KAMARKU LAGI! JANGAN PERNAH! KAU DENGAR, JONGHYUN OPPA? JANGAN PERNAH!! JANGAN PERNAH!!!”

“Jonghyun? Dawn? Ada apa?” Tanya Jinki hyung. Dawn tidak menjawabnya. Ia hanya melirik kami dari tangga, merapatkan kimono handuknya, dan segera pergi meninggalkan kami. Menyisakan pertanyaan itu untuk dijawab Jonghyun hyung seorang diri.

“A-aku tidak tau hyung. Aku hanya membaca komik di kamarnya. Ta-tapi Dawn langsung mengambil tongkat baseballnya dan berteriak seperti tadi.” Jawab Jonghyun hyung agak panik.

“Tidak mungkin ia berteriak seperti tadi jika kau tidak melakukan apa-apa di kamarnya. Apa yang kau lakukan padanya hyung? Mengaku!!” Tanya Minho penuh amarah.

“Demi Tuhan Minho! Aku hanya membaca komiknya sambil tiduran. Tapi ia langsung mengusirku dan berteriak seperti tadi setelah ia selesai mandi,” jelas Jonghyun hyung sambil merebahkan tubuhnya tegak di sofa ruang keluarga ini. Duduk diantara Jinki hyung dan Taemin dan menghela nafas panjang.

“Habis mandi?” Tanya Taemin dengan kerutan di keningnya.

“Iya, habis mandi. Memangnya kau pikir kenapa tadi ia memakai jubah mandi?”

“Makanya punya otak jangan mesum terus!! Mungkin Dawn mengira kau mau mengintipnya,” tebakku asal yang membuat hyungku itu memberikanku tatapan mematikan darinya.

“Seksi ga hyung?”

“Aish! Lihat siapa yang mesum sekarang? Taemin atau aku?” Protest Jonghyun hyung padaku seraya menaikkan satu ujung bibirnya dan menatap kesal Taemin.

“Kenapa aku harus berfikiran mesum? Aku kan hanya bertanya, seksi tidak Dawn dengan pakaian handuk seper-”

*PLETAK!

Belum selesai Taemin membela diri, ia sudah mendapat jitakan keras dari Jinki hyung dan Minho.

“AWWW! Hyung! Kenapa kau menjitakku??” Tanya Taemin untuk kedua kalinya.

“Kau pikir ini waktu yang tepat untuk bercanda? Hah?” Ujar Minho sambil menatap kesal Taemin.

“Ishhh! Jinjja! Aku hanya bertanya! Ish!!” Gerutu Taemin.

Again? Now Jonghyun hyung? What’s wrong with you sweetheart? Bukankah Jonghyun hyung selalu bebas memasuki kamarmu dan membaca komik bersamamu? Bukankah kau selalu baik-baik saja jika ia tiduran di kasurmu? Bahkan kau dengan senyum dibibirmu selalu berkata, “Oppa! Aku mandi dulu. Komik lanjutannya masih di plastik ya. Ambil saja.” Kenapa sekarang kau seperti ini sayang? Kenapa?

***

“Kumohon oppaaa menjauh dariku,” Dawn melirih ketika Taemin menghapus darah di sikunya.

“Tsk! Diam! Sudah tau kau tidak boleh terluka. Masih saja manjat-manjat pohon.” Taemin tampak tidak memperdulikan penolakan Dawn. Ia terus saja menarik sikunya dan mengobati luka kecil di siku Dawn.

“Oppaaa…”

“Wae??”

“Menjauh! Kumohon! Sebelum aku men-”

“Diam! Tidak boleh ada yang mengancamku. Termasuk kau!” Aku agak terkejut mendengar Taemin berkata seperti itu. Akhir-akhir ini Taemin memang terlihat berbeda pada Dawn. Sorot matanya menunjukkan kekesalan. Mungkin ia kesal sekali akan sikap Dawn belakangan ini yang selalu menolak kami.

Ia bahkan pernah berkata seperti ini, “Hyung, bukankah kau yang selalu bersikap keras padanya jika ia melanggar batas? Kenapa kau diam sekarang? Aku ingat kau yang memarahi Dawn ketika ia berlaku tidak sopan pada Jinki hyung. Kenapa kau sekarang seperti kerang yang terus mengatupkan cangkangnya? Hah? Tindakan Dawn itu sudah kelewatan hyung. Tegurlah!!” Pada waktu itu aku hanya terdiam. I have no idea about this. No idea, at all!

“OPPPAA!!”

“DIAM!! Tidak ada yang menolakku!!”

***

“AKU TIDAK BUTUH TUMPANGANMU!”

Sekali lagi aku mendengar teriakan keras dan angkuh dari pemilik suara bernada alto. Siapa lagi kali ini yang kau tolak sayang?

“Tapi Dawnnn nanti kau telat. Lihat jam 6.45. Hmm? Ku antar ya?” Minho? Jadi kali ini kau menolak oppa kesayanganmu? Oppa yang punggungnya selalu menjadi tempatmu bersembunyi? Ada apa sebenarnya sayang? Kenapa kau menolak hampir semua oppamu?

“Aku tidak perduli! Lebih baik telat daripada bersen-”

“Tapi sayanggg nanti kau telat. Kau mau dihukum?” Daripada apa? Sial! Kenapa kau putus kalimatnya Minho? Bukankah kau ingin tau kenapa ia menolakmu? Kenapa malah bertanya hal tidak penting seperti itu. Errr!! Dasar bodoh!!

FUCKING CARE!!” See? Ia bahkan tetap menolakmu walau kau telah membujuknya sedemikian rupa. Jika kau tadi tidak memutus kalimatnya, kita akan tau apa yang menjadi alasan ia menolakmu.

“Dawnn ayolahhh kuantar ya..” Minho tetap membujuknya tapi hasilnya tetap sama.

“Ckckckck Minho hyung itu tampan tapi kenapa ia begitu bodoh ya? Aishhh..” Aku menoleh ke arah datangnya suara. Taemin?

“Tidak sopan!” Ujarku padanya sambil menjitak kecil kepalanya.

“Aku benar. Lihat. Sudah tau Dawn keras kepala. Kenapa ia masih terus mendesaknya seperti itu. Seharusnya ia membuatnya tenang dulu lalu membujuknya. Tidak mendesaknya seperti itu.” Papar Taemin dengan kedua tangan terlipat di dadanya. “Ish.. Bodohnyaaaa!!” Ujarnya lagi seraya melangkahkan kakinya pergi menuju ruang tengah. Meninggalkanku dengan tarikan nafas panjang darinya yang segera kuikuti tarikan nafas berat.

Huffftt..melihat gadis itu berubah sangatlah menyesakkan. Melihat gadis itu selalu berteriak sangatlah menyakitkan. Melihat gadis itu selalu meminta kami untuk menjauhinya sangatlah perih. Bagiku itu sangat perih. Aku tau pasti, Dawn bukan gadis seperti itu. Ia tipe gadis yang bisa mengontrol emosinya dan pintar bersandiwara. Tapi sekarang apa yang kulihat? Emosinya sangat tidak stabil. Dia.. Berubah. Dia.. Menjauh. Dia.. Men-

“Tenanglah Key..” Sebuah tepukan pelan pundakku membuatku menoleh. Jinki hyung?

“Aku tidak apa-apa hyung..” Jawabku padanya dengan mata masih memperhatikan kedua orang itu yang terlihat sama-sama keras kepala. Tapi toh pada akhirnya sang namja kembali masuk rumah ini. Aku tau pasti, ia tidak bisa melawan keangkuhan hati Dawn.

“Kau tidak mungkin tidak apa-apa Key. Aku tau kau selalu mencemaskan Dawn.”

“Benar hyung aku tidak apa-apa.” Ujarku lagi. Aku benar-benar ingin menipu hyungku ini.

“Aku tau kau Key. Sejak kedatangan Dawn, adik sepupuku itu ke rumah ini, kau lah yang matanya paling berbinar. Berbeda dengan Taemin yang selalu berkata, ‘Yahh.. Gelar magnae-ku jadi kau ambil deh’ atau Jonghyun yang berteriak, ‘Adikkkuuuuu yang cantikkk’ atau Minho yang selalu menepuk dadanya dan berkata, ‘Kalau ada dari mereka yang mengganggumu, lapor padaku. Ara?’” Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya.

“Memang aku seperti apa?”

“Kau?” Tanya Jinki hyung. Aku mengangguk, “Ya aku seperti apa?”

“Kau adalah seseorang yang selalu berteriak padanya, ‘Dawnnnn banguuuunnn!!’ ‘Dawnnnnnn kenapa nilaimu jelek sekaliiii??’ ‘Dawnnnnn kamarnyaaa berantakaaaaaaaannnn!!’ ” Aku tertawa mendengarnya. Benar-benar tertawa.

“Kenapa kau tertawa?” Tanya Jinki hyung dengan alis menyatu.

“Ternyata hyung memperhatikanku? Hahaha”

“Geuraee!! Aku memperhatikan namja yang memperhatikan adik kesayanganku.” Tawaku seketika terhenti.

“Kau selalu memperhatikan Dawn kan? Kau bahkan berlutut pada Tuhan ketika ia terkena Diabetes Mellitus waktu itu.”

“Hyung aku..aku..”

“Kau bahkan marah padanya ketika kau tau ia menutupi sakitnya itu. Dan sekarang kau terlihat cemas sekali melihatnya selalu berteriak. Setiap malam kau selalu berdiri di depan kamarnya. Menempelkan telingamu di pintu kamarnya.”

I do worry about her hyung ={”

***

Knock. Knock. Knock.

“Dawn sudah jam 7 sayang. Ada les perancis bukan?” Teriakku dari luar kamarnya. Biasanya aku langsung buka pintu dan menariknya paksa dari selimut tebal bergambar kelinci putih miliknya. Tapi mengingat kejadian akhir-akhir ini yang selalu menolak kami, aku jadi sedikit takut untuk langsung menerobos kamarnya.

Knock. Knock. Knock.

“Sayang?” Masih tidak ada jawaban. Kuketuk sekali lagi.

Knock. Knock. Knock.

“Aku masuk,” ujarku.

*Kriek

Aku berjalan menghampirinya yang sedang terlelap di balik selimutnya.

“Hey! Dawn! Bangun! Nanti telat. ” ujarku sambil menggoyang-goyangkan badannya yang masih tertutupi selimut kelinci putihnya. “Dawnnnnn..” Tsk! Anak ini! Kebiasaan jeleknya masih saja susah. Dasar. Apa susah bangun tidur itu genetic ya? Jinki hyung kan juga susah bangun -_-!

“Dawn!” Kusingkap selimut tebalnya. “Ba-”

“Omo! Ya Tuhan!”

***

TBC

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

112 thoughts on “Secret Of Dawn – Part 1”

  1. Oke ini ff keren banget pdhl baru baca part awalnya aja,,,
    penasaran siapa yg buat dawn kek gt sepertinya salah satu dr 5 pangeran itu *penasaran akut

    jd dawn itu kena diabetes??? pantesan gk bisa luka sedikit

    arggghhh asli beneran suka ma ceritanya alna jarang baca cerita kek gini

  2. keren ffnya…
    liat ff ini dari rekomendasi ff d blog sebelah.. 😀 beneran keren ni ff buatanmu authooorrr.. 🙂 salut dah..

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s