Sometime – Part 6

Sometime

(Part 6)

Main cast         : Lee Jinki, Lee Taemin, Lee Sanghyun

Support cast    : Other member SHINee, manager Kim, Choi Siwon, Mr. Cory

Genre              : Romance, Family, Angst, Action, Comedy

Length             : Sequel/Chaptered

Rating             : G/PG

A/N                 : As usual, minta kritik & sarannya, ya…(_._”) comment and like are love ❤ Dan buat flamers, jangan gorok aku, ya…! (.___.)v

>>><<< 

PART 6

…Dongdaemun, 10.10 am…

PRANGG!

“Duduk!!”

“Aagh~ so noisy!” Taemin menggeliat kecil, merasa terganggu dengan suara ribut yang tiba-tiba itu. “Mr. Cory! Can you stop it?” racaunya memanggil salah satu kepala pelayan di rumahnya. Sepertinya dia belum sepenuhnya sadar.

“Brengsek! Tidak tahu diri!!”

BRUGG!

“Mr. Cory! Stop it!”

“Kau pantas dibenci!! Bodoh!”

Pada akhirnya, Taemin membuka matanya dengan enggan karena suara-suara ribut itu tidak juga berhenti. Sadar bahwa dia sedang tidak di Kanada, Taemin langsung terduduk dan menguap sejenak.

“Hey! Sudah pagi? How can… Stupid! Aku ketiduran!” umpatnya begitu melihat ke arah jendela yang terbuka sejak kemarin.

“Apa saja yang kau kerjakan sehingga pulang dengan tangan kosong seperti ini, heh?! Dimana rasa terimakasihmu?!! Rasakan ini!!”

Taemin terpaku sejenak, sebelum akhirnya berdiri dengan tergesa karena teringat buku diary yang kemarin dibacanya. Dia kemudian berlari keluar kamar dan mencari sumber suara.

BRUGG!

“Menyesal?! HEH?! MENYESAL?!”

Taemin segera membuka pintu sebuah ruangan, dan menemukan pria kemarin sedang berdiri membelakanginya, sementara di hadapan pria itu berlutut seorang perempuan yang tidak terlihat wajahnya karena dia terus menunduk.

“Stop it!” seru Taemin memberanikan diri saat pria itu mengangkat sebuah tongkat dan hendak memukulkannya ke arah perempuan di hadapannya itu.

Pria itu menoleh setelah mendengar suara Taemin, dan mengerutkan alisnya kesal, “Sebaiknya kau jangan ikut campur!” katanya tegas, dan kembali memukulkan tongkatnya ke lengan permpuan tadi secara bertubi-tubi.

“Don’t do that, Sir! What’s her fault?!” seru Taemin lagi, kali ini sembari berjalan mendekati keduanya dan menghalangi arah pukulan pria itu dengan cara memunggunginya dan melindungi sang perempuan dengan tubuhnya. Namun Taemin langsung terdiam begitu tahu bahwa perempuan itu tidak lain adalah Sanghyun, “S-Sanghyun-ssi…” gumam Taemin cemas.

Pantas saja tidak ada pekikan ataupun jeritan saat pria itu memukulnya dengan tanpa perasaan. Sanghyun terlihat hanya bisa terisak dan menunduk dalam sembari memejamkan matanya rapat-rapat. Melihat kondisinya ketakutan seperti itu, Taemin tiba-tiba saja merasa geram. Kedua telapak tangannya mengepal dengan keras tanpa dia sadari.

“Minggir!” pria itu kembali membentak.

“Tidak.”

“Minggir atau kau akan mendapatkannya juga!”

“TERSERAH! AKU TIDAK PEDULI!”

Kali ini, karena bentakan Taemin itu, Sanghyun mengangkat wajahnya dan menatap Taemin yang kini berada tepat di depannya. Ternyata dia baru menyadari ada yang melindunginya, dan itu adalah Taemin, orang yang baru dikenalnya kemarin.

“Tidak ada gunanya kau melindungi gadis tidak tahu diri ini!” bentak pria itu lagi—yang sekarang Taemin tahu bahwa pria itu ayah Sanghyun sendiri—seraya menarik kasar tangan Sanghyun dan menyeretnya untuk berdiri dan menjauh dari Taemin.

Namun Taemin juga menggenggam tangan Sanghyun yang bebas, sehinga langkah Sanghyun dan ayahnya terhenti. Taemin pun berdiri dan bergegas melepaskan tangan Sanghyun dari ayahnya, lalu mendorong Sanghyun ke belakang punggungnya.

“Apa yang sudah dia lakukan hingga kau memperlakukannya sekejam itu?”

“Apa urusanmu?” tantang pria itu seraya kedua tangannya berkacak pinggang.

“AKU HANYA BERTANYA APA SALAHNYA?!”

Sanghyun kembali terlonjak mendengar suara itu. Air mata yang sejak tadi sudah mengalir sekarang semakin deras membasahi pipi tirusnya.

“YA! Aku sudah beberapa kali membantumu, dan kau berani membentakku seperti ini?!”

“Memangnya salah kalau aku melindungi orang lain? Apalagi dia anakmu sendiri, kan?”

“Diamlah! Kau tidak tahu apa-apa!” balas ayah Sanghyun yang kembali mencoba menarik Sanghyun, namun Taemin lebih cepat berbalik dan mencoba melindungi gadis itu dengan memeluknya.

>>><<<

[“Minho-ya! Kubilang aku ingin turun di sini. Berhenti sekarang!” Jihwa mengulang permintaannya yang tidak juga diindahkan oleh Minho. Namja itu hanya diam dan menatap lurus ke depan seolah sibuk menyetir, tapi sebenarnya pandangannya kosong dan pikirannya melayang.

“Choi Minho! Kau tidak dengar?! Berhenti kubilang!!” suara Jihwa kembali meninggi dan bergetar karena dia juga terus menangis. Namun Minho tetap tidak menunjukkan reaksi apapun. “Minho, jebal…!  Aku tidak mau terus-menerus berada di dekatmu—namjachinguku—yang bahkan tidak pernah lagi memperhatikanku setelah hadirnya wanita bisu itu. Melihatmu yang bahkan selalu menatapku dingin—tapi tidak pada Sanghyun—membuat hatiku sakit. Tidakkah kau mengerti? Biarkan aku menjauh darimu beberapa waktu, setidaknya sampai aku melupakan semua perlakuanmu yang secara langsung ataupun tidak langsung berhasil membuatku sedih. Kumohon…” air mata mengalir semakin deras di pipi Jihwa, membentuk sungai kecil di sana.

Tapi meskipun begitu, Minho tetap tidak menanggapinya, malah semakin tenggelam dengan pikirannya karena perkataan-perkataan Jihwa barusan. Sedikit-sedikit dia mulai menyadari kesalahan yang dilakukannya, yang membuat Jihwa sedih, baik secara sadar ataupun tidak, secara sengaja ataupun tidak. Ya, dia sadar bahwa dirinya malah lebih banyak menaruh perhatian pada Sanghyun, wanita bisu yang merupakan salah satu pelayan di cafe yang bahkan didirikannya bersama Jihwa. Ya, Minho mulai menyadari bahwa perhatian yang diberikannya pada Sanghyun lebih banyak ketimbang perhatian yang diberikannya pada Jihwa, yeojachingunya sendiri, bahkan saat mereka berada di luar area cafe. Dan ya, Minho menyadari bahwa hal itu terjadi sejak Sanghyun bekerja paruh waktu sebagai pelayan di cafe mereka itu. Namun entah apa yang membuatnya berbuat seperti itu.

CKIIIIIIIITTTT!

Minho menginjak pedal rem dalam-dalam secara mendadak, sehingga keduanya hampir menabrak dashboard mobil di depan mereka. Karena kurang berkonsentrasi, Minho tidak menyadari lampu berjalan sudah berwarna hijau dan orang-orang mulai berbondong-bondong menyebrangi jalan. Untunglah dia tidak menabrak seorang pemuda yang baru saja melintas di depan mobilnya.

Jihwa menggunakan kesempatan ini untuk turun dari mobil Minho dan berjalan kemanapun kakinya melangkah. Dia mulai melepaskan sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil, lalu melangkahkan kaki keluar. Beberapa saat kemudian, dia sudah ikut berbaur dengan orang-orang yang berjalan di sekitarnya.

Minho pun melakukan hal yang sama untuk mengejar Jihwa. Dia sempat kesulitan mencari wanita itu yang terkadang menghilang di antara orang-orang. Namun akhirnya dia berhasil menemukan Jihwa yang terpisah dari orang-orang tersebut, berjalan sendiri ke arah yang berlawanan dengan langkah cepat dan lebar. Tanpa menunda waktu lagi, Minho berlari mengejarnya dan menarik pergelangan tangan gadis itu hingga berbalik menatapnya dengan sepasang mata yang masih dibasahi air mata.

“Mianhae.” Ujar Minho singkat sambil menarik Jihwa ke dalam pelukannya. “Jeongmal mianhae. Aku salah, aku bersalah.”

Alih-alih menjawab, Jihwa malah meronta, berusaha melepaskan diri dari pelukan Minho, sementara air matanya mengalir semakin deras. “Lepaskan aku, bodoh!”

“Tidak sebelum kau memaafkanku. Aku rela selamanya seperti ini jika kau belum memaafkanku.”

“Lepaskan! Jebal… kau menyiksaku.”

“Hhh~mianhae, jeongmal. Aku tidak bermaksud menyakitimu selama ini. Aku tidak bermaksud mengacuhkanmu. Aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu. Beri aku kesempatan..! Sekali lagi, kumohon. Apapun akan kulakukan untuk menebus semua kesalahanku padamu.” Minho terdiam sebentar, mengusap-usap kepala Jihwa pelan, sementara Jihwa mulai berhenti meronta dan malah menangis semakin keras. “Park Jihwa, saranghae.” Lanjutnya, berbisik di telinga gadis itu.

Jihwa semakin menenggelamkan wajahnya di bahu Minho, sehingga suara tangisnya yang semakin keras sedikit teredam. Dengan perlahan dia mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Minho. “Na do…” bisiknya disela-sela isakannya yang semakin menjadi-jadi.

Sayangnya, posisi nyaman bagi mereka ini tidak berlangsung lama. Semuanya terjadi begitu cepat. Entah bagaimana bisa keduanya langsung terlempar cukup jauh sesaat setelah merasakan tubuh mereka dihantam sesuatu yang keras. Jihwa memejamkan matanya erat-erat dan semakin mengeratkan pelukannya pada Minho, dan dia merasakan Minho melakukan hal yang sama, sebelum akhirnya tubuhnya mendarat dengan keras di tanah dan berguling beberapa kali, dan dia juga merasakan Minho masih memeluknya dan menahan kepalanya agar tidak langsung menghantam tanah.

Jihwa merasa tubuhnya seolah hancur dan mati rasa, hingga untuk membuka mata pun rasanya tidak mampu. Namun begitu didengarnya suara ‘krak’ yang mengerikan dan pekikan tertahan di dekatnya, sontak dia membuka mata dan mendapati wajah Minho tidak jauh di atas wajahnya, dan sepasang mata milik namja itu tengah menatapnya dalam. Jihwa dapat melihat ketulusan di mata itu.

“Mianhae, saranghae… Park Jihwa.” bisik Minho amat sangat pelan, sebelum akhirnya kepalanya terkulai lemas tepat di samping kepala Jihwa, dan Jihwa tiba-tiba saja merasakan dirinya terjebak dalam kehampaan dan kegelapan.]

“Park Jihwa. Park Jihwa… Park…”

“Jihwa-ya… Jihwa-ya…!”

Jihwa membuka matanya, mendapati dirinya tengah terbaring di ruangan yang serba putih ini, dengan jarum infus yang terpasang di punggung tangan kirinya.

“Jihwa, kau sadar? Katakan sesuatu…!” suara berat itu terdengar lagi, tepat di samping telinganya.

“Siwon oppa?”

“Ne, ini aku. Bagaimana perasaanmu?”

“Nan… gwaenchanayo…”

“Hhh~syukurlah…”

Jihwa berusaha merubah posisinya menjadi duduk, namun Siwon segera mencegahnya hingga Jihwa kembali berbaring. “Jangan dulu banyak bergerak..!” ujar pria itu memperingatkan.

“Oppa, Minho… Bagaimana dengan Minho?” tanya Jihwa. Wajahnya terlihat sangat cemas.

Mendengar itu, wajah Siwon langsung memucat. Mulutnya terbuka, hendak menjawab, namun tidak tahu harus menjawab bagaimana. Mengatakan yang sebenarnya, bahwa adiknya itu sudah tidak ada? Dan membuat Jihwa menangis—bahkan bisa saja histeris—dan melukai dirinya sendiri, sementara kondisinya masih sangat lemah dan baru tersadar dari komanya selama ini?

“Oppa, waeyo?”

“Aa~ng~Minho… Minho… eeh~ kita temui dia nanti saja, setelah kau sembuh.” Kata Siwon akhirnya, tidak tega mengatakan hal yang sebenarnya pada Jihwa sekarang.

“Tapi tidak terjadi apapun padanya, kan?”

“A-ani… aniyo. Dia… dia baik-baik saja.” Siwon memaksakan seulas senyum di bibirnya, “Ah iya~kau haus?”

Jihwa menggeleng pelan sambil tersenyum simpul. Namun Siwon tetap berjalan ke arah dispenser yang terletak di sudut ruangan dengan Jihwa yang terus memperhatikannya dengan kening berkerut samar. Entah kenapa perasaannya agak ganjil melihat senyuman Siwon yang sepertinya (memang) dipaksakan. “Ehem~lalu kenapa oppa di sini? Siapa yang menemani Minho?” tanyanya kemudian, sontak membuat Siwon lagi-lagi harus menghentikan aktivitasnya menuangkan air dari dispenser itu ke dalam sebuah gelas.

‘Bagaimana aku menjawabnya?’ batin Siwon cemas, tapi kemudian mengatakan, “Aku… diminta menggantikan orang tuamu untuk menemanimu di sini untuk sementara. Lagipula Minho sepertinya sedang beristirahat.”

Ya, Siwon tidak berbohong. Dia memang menggantikan orang tua Jihwa untuk menjaga gadis itu hingga mereka kembali. Juga memang benar Minho telah beristirahat saat ini, di dunia yang lain.

“Aah~ne.” sahut Jihwa singkat.

Mianhae, Jihwa-ya…

>>><<<

Jinki memukul stir mobil berkali-kali dengan gemas dan kakinya tak bisa diam(?). Sudah hampir setengah jam dia berkeliling di sekitar Seoul, namun tidak juga menemukan Taemin. Padahal dia yakin Taemin masih di Seoul sampai sekarang. Dan karena kedatangan bodyguard Taemin tadi, Jinki merasa bersalah pada adiknya itu.

“Haaah~ bisakah lebih cepat sedikit?!” umpatnya sambil menekan klakson berkali-kali—dengan ‘brutal’—karena beberapa kendaraan lain di depannya menghalangi jalannya.

Handphonenya berdering di kursi di sampingnya, dan Jinki segera mengangkat telepon yang masuk, “Ne, hyung. Waeyo?”

“Onew-ya! Eodikka?”

“Entahlah. Ada apa, hyung?” ujar Jinki, menanggapi pertanyaan managernya dengan tak kentara karena konsentrasinya sedang tidak baik.

“Kita harus membicarakan sesuatu. Kau cepatlah kembali!”

“Aissh~ apakah urusannya penting?”

“Sangat penting. Apa yang sedang kau lakukan?”

“Ck~ ne. Sebentar lagi aku kembali.” Lagi-lagi Jinki memberikan jawaban yang sebenarnya kurang pas dengan pertanyaan yang diajukan.

Sambungan telfon terputus, dan Jinki kembali memusatkan konsentrasinya ke sekitarnya, mencari sosok kurus berambut almond yang mungkin saja sedang berjalan di trotoar-trotoar atau dimanapun itu.

***

Sayangnya, hasilnya tetap nihil. Jinki tetap tidak bisa menemukan Taemin, dan akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke dorm, karena manager Kim sepertinya mendadak menjadi orang yang tidak sabaran. (.___.”)a

>>><<<

“Ya! Kenapa lama sekali?” tembak manager Kim saat Jinki baru saja sampai di dorm.

“Juiseonghaeyo.” Sahut Jinki singkat dan terkesan malas, seraya duduk di sofa, tepat di samping Jonghyun yang sedang menatapnya dengan bibir yang terlipat ke dalam mulut, seperti menahan tawa. “Ada hal penting apa?” tanya Jinki kemudian.

“Sebelumnya, sebaiknya kau baca dulu ini.” manager Kim menyerahkan sebuah surat kabar dan menunjuk headline-nya, dan headline itu sontak membuat Jinki membelalakan mata sipitnya. Di sana terpampang fotonya yang sedang ‘memeluk’ Sanghyun (sebenarnya itu saat Jinki menahan tubuh Sanghyun yang agar tidak jatuh, namun karena fotonya diambil dari sudut tertentu, posisinya terlihat seperti memeluk Sanghyun), menggendong Sanghyun ke dalam mobil, dan saat dia menggendong Sanghyun memasuki dorm.

***

“Mwoya ige?! Darimana datangnya gosip ini? Kenapa bisa ada foto ini?! Kenapa bisa… aku… aku… YA! SIAPA YANG MENGUNTITKU?!” teriak Jinki mencak-mencak, setelah sebelumnya melempar surat kabar yang sudah dibacanya sampai selesai tadi ke lantai, “Hyungmin, eotteokhae?” rengeknya pada manager Kim.

“Salahmu sendiri, hyung. Kenapa pula kau keluar tanpa menggunakan alat penyamaran?” ujar Key acuh, namun sukses membuat Jinki mengusap kasar wajahnya sambil menendang-nendang udara dan Jonghyun yang melihat itu akhirnya tidak bisa lagi menahan tawanya.

Selain terpampang foto-foto tadi di surat kabar itu, muncul juga isu bahwa gadis yang berada di gendongan Jinki itu, yang tidak lain adalah Sanghyun, adalah kekasih Jinki. O.o

“Tapi pihak perusahaan malah menanggapinya dengan baik.” Kata manager Kim serius.

“Maksudmu, hyung?” tanya Jinki, sedikit mendesak.

“Ne, mereka tidak berniat menyangkal rumor itu, karena rumor itu dianggap bisa menutupi kasus lain yang melibatkan perusahaan ini.”

“Mworago?!” pekik ketiganya bersamaan. “Kau tidak akan menerimanya kan, hyung?” sambung Jinki was-was.

Manager Kim tersenyum tipis dan menunduk, “Aku rasa itu juga demi kebaikan kalian.” katanya pelan.

“Kebaikan?! Kami bisa saja kehilangan fans karena ini, hyung. Kau bilang demi kebaikan kami?!”

“Percayalah! Pihak perusahaan bisa melakukan apa saja agar mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan, bahkan jika itu lebih membuat karian dirugikan sekalipun. Lagipula… jika masalah yang lain sudah selesai, aku yakin popularitas kalian juga akan kembali meningkat. Sekarang, kita hanya tinggal membujuk wanita ini dan membicarakannya lagi dengan pihak perusahaan. Arachi?”

>>><<<

Sanghyun sedikit menjauhkan lengannya begitu dia merasakan perih saat Taemin mengompres luka memarnya dengan air hangat.

“Sorry…” ucap Taemin lirih, dan kembali mengusapkan handuk kecil yang dipegangnya dengan hati-hati pada lengan Sanghyun. “Ouh~ ini cukup parah, kau tahu?” katanya lagi. Sanghyun hanya menatap lukanya itu sekilas, dan kemudian kembali menunduk.

Ayahnya sudah pergi, entah kemana, setelah sepertinya menyerah menghukum Sanghyun karena Taemin selalu membela yeoja itu, dengan cara apapun.

“Kau… kenapa diam saja diperlakukan seperti itu?” ucap Taemin pelan. “… why don’t you ran away and look for new house? Atau setidaknya melawan ayahmu itu?”

Sanghyun diam saja dan tetap menunduk. Memangnya apa yang bisa dilakukannya untuk melawan sang ayah? Dia terlalu lemah, terlalu takut untuk melakukan itu.

“Kalau kau tidak bersalah, tidak ada salahnya menghindar atau sedikit melawan, kan? Kalau terus seperti ini, sama saja kau melukai dirimu sendiri.”

Ya, Sanghyun juga tahu itu. Tapi tetap saja dia tidak bisa melakukannya, walaupun sebenarnya dia sangat ingin melakukan itu.

Taemin membasahi lagi handuk kecil itu dengan air di dalam wadah yang diletakkannya di dekat kakinya, setelah itu memerasnya sedikit. Dia lalu mengangkat wajah Sanghyun dengan memegang gadis itu, dan menghadapkan sekaligus mendekatkan wajah Sanghyun tepat ke arahnya, karena luka yang belum dibersihkan hanya tinggal luka di sudut bibir Sanghyun, yang didapat Sanghyun saat ayahnya menamparnya dengan keras sebelum akhirnya pergi tadi.

Sanghyun yang sempat bertemu pandang dengan Taemin segera mengalihkan tatapannya ke arah lain, sementara Taemin terus membersihkan lukanya dengan lembut dan berhati-hati.

Di saat yang bersamaan, sebenarnya Taemin cukup susah payah mengendalikan perasaannya, mengendalikan tangannya yang tiba-tiba saja bergetar. Perasaan itu benar-benar membuatnya sesak, namun entah kenapa Taemin selalu ingin merasakannya lagi.

“And… done.” Ucap Taemin dengan helaan napas lega setelah selesai membersihkan luka Sanghyun.

Sanghyun menurunkan kembali lengan bajunya yang terlipat ke atas selama Taemin mengobati lukanya, sedangkan Taemin terus memperhatikan Sanghyun dengan pandangan khawatir, “Tapi… kenapa kau baru pulang ke sini sekarang? Bukankah kau keluar dari rumah sakit sejak kemarin?” tanyanya.

Sanghyun segera mendongak, kemudian menunjuk jaket hitam yang tersampir di sisi meja di depan mereka. (Itu karena aku menemukan sedikit masalah di perjalanan pulang). Dia merasa harus menjelaskan hal ini sejelas-jelasnya, karena entah kenapa Sanghyun takut Taemin berpikiran lain. Dan jaket yang ditunjuknya itu adalah jaket Jinki yang bodohnya lupa dia kembalikan tadi.

“Kenapa? Ada apa dengan jaket ini?”

Sanghyun menggerakkan tangannya, menuliskan nama Jinki di udara.

“Jin… ki? Jinki? Kau bertemu dengan Jinki hyung?” tebak Taemin, membuat Sanghyun tersenyum simpul dan mengangguk mengiyakan, dan sekali lagi menunjuk jaket Jinki. “Ah~ right! Pantas saja aku merasa pernah melihat jaket ini sebelumnya.” Taemin tertawa kecil sebentar dan kembali serius setelah itu, “Lalu… bagaimana ini bisa ada padamu?”

Dalam sekejap, Sanghyun berdiri dari posisi duduknya dan berlari kecil ke kamarnya, mencari-cari kertas dan alat tulis yang bisa digunakannya untuk menjelaskan ini pada Taemin, tidak peduli meskipun mungkin nanti tangannya akan terasa semakin pegal karena menuliskan cerita panjang yang dialaminya. (.__.)

***

Taemin berkali-kali membulatkan mulutnya membentuk huruf o saat membaca sederetan tulisan Sanghyun di buku catatan kecil milik gadis berambut hitam-sepunggung itu. Setelah selesai membaca semua tulisan Sanghyun yang menghabiskan 2 lembar penuh buku catatan itu, Taemin kembali meletakkan benda berbentuk persegi panjang itu ke atas meja. Sanghyun menuliskan semuanya tanpa ada yang terlewat maupun ditambahi.

“Baguslah kalau orang itu masih mempedulikanku…” celetuk Taemin singkat sambil terkekeh geli, sementara Sanghyun menatapnya dengan pandangan bertanya. Dia baru menyadari ada sesuatu yang ganjal.

Seperti mengerti arti tatapan Sanghyun, Taemin membenarkan posisi duduknya dan mengibaskan rambut yang menutupi dahinya sejenak, “Sepertinya aku harus membayar tulisanmu dengan ceritaku juga.” katanya mencoba bercanda.

Sanghyun mengangguk dan tersenyum simpul, menyetujui ucapan Taemin.

“Aku ada di sini karena ayahmu yang menolongku.” Taemin tersenyum lebar, sedangkan Sanghyun masih menatapnya dengan alis saling bertaut. “Menolong dari apa? Secret.” Lanjut Taemin sambil bibirnya melengkungkan senyuman yang semakin lebar, bahkan terkesan jahil. XD

“Yang pasti, aku sangat berterimakasih pada ayahmu, meskipun dia ternyata kejam padamu.”

Sanghyun kembali muram setelah Taemin mengatakan hal itu, membuat Taemin semakin ingin menemukan solusi untuk masalah Sanghyun.

“Sanghyun-ssi, bagaimana kalau seandainya kau tinggal di tempat lain… denganku?” ujar Taemin akhirnya setelah berpikir beberapa saat. Mendengar ada kata yang janggal dari kalimat Taemin itu, Sanghyun mendongak menatap Taemin yang juga kelihatan salah tingkah.

“I mean… no, no. Bukan seperti yang kau pikirkan. Maksudku… kau… tinggal di tempat lain selain di sini. Maksudku di tempat yang… sama denganku… Ah~ I mean… oh~ god, lidahku-”

Sanghyun tiba-tiba saja beranjak dari duduknya dan bergegas ke bagian belakang rumah, membuat Taemin menghentikan kalimat tergagapnya dan menatap Sanghyun dengan heran.

BRAAK!

Terkejut, Taemin hampir saja melompat dari kursinya. Di ambang pintu, berdiri ayah Sanghyun yang tadi menendang pintu hingga terbuka dengan keras. Taemin memperhatikannya dengan alis berkerut menahan kesal.

“Dimana anak sial itu?! Dan kenapa kau masih di sini, bocah?!” dia menunjuk Taemin yang masih diam di posisinya.

“What?!”

“Kau sembunyikan dimana Si Bisu itu?!”

“Dia punya nama, Bung… Kasihan sekali, kau tidak tahu nama anakmu sendiri.”

“Aku menyesal menampungmu di sini kemarin, orang asing. Keluar dari tempat ini sekarang juga!!”

“Bagaimana kalau aku menolak?”

“KAU…”

“Ada masalah?”

Pria itu berjalan mendekati Taemin, membuat Taemin pun mau tidak mau berdiri dan berhadapan dengan pria yang sedikit lebih tinggi darinya itu.

“Bodoh.” Tukas Taemin pelan, namun penuh penekanan, membuat pria di hadapannya itu terlihat semakin geram.

“MWORAGO?!”

“Kau bodoh, Sir. Sorry, tapi itulah kenyataannya.”

“Keluar kau! Tidak ada yang membutuhkanmu di sini! Pergi!” dia mendorong-dorong Taemin agar keluar dari rumah itu, sementara Taemin bersikeras melawan dan berusaha untuk tidak sampai terdorong. Sayangnya, dua orang pria lain (yang penampilannya tidak lebih baik dari ayah Sanghyun) tiba-tiba saja masuk setelah ayah Sanghyun berseru memanggilnya.

“Hey, hey! Apa hubungannya dengan kalian?! Lepaskan aku! Hey, lepaskan aku, bodoh!”

Dan sekarang Taemin malah merasa kembali dikelilingi bodyguard-bodyguardnya, karena kedua pria lain itu masing-masing mengapit satu lengannya dan mengangkatnya, hingga tubuh Taemin terangkat dan kakinya tidak menapak lantai, persis seperti yang selalu dilakukan bodyguardnya jika dia ketahuan pergi sendiri. (.___.)

“Iyuwh~” pekik Taemin sembari mengibas-ngibas tangannya yang terkena kubangan lumpur setelah pria-pria tadi mendorongnya hingga tersungkur ke dekat kubangan lumpur tersebut.

Tidak ingin berlama-lama dalam posisi itu, Taemin pun kembali berdiri dan bersiap menerjang masuk kembali, sebelum akhirnya dia mengurungkan niatnya itu, karena mendengar panggilan yang tidak asing lagi baginya, “Young master!”

“Sh*t! Mereka masih di sini rupanya!” umpat Taemin yang sudah mengambil ancang-ancang untuk berdiri menghindar.

“Young master! Please don’t make yourself tired! Please! Don’t run again!” cegah orang terengah.

“What do you want?! Stop to chasing me!! I have my own freedom too! You know that!” tukas Taemin nyaring.

“Maaf, kami hanya khawatir terjadi sesuatu padamu, Tuan.”

“Kalian pikir aku anak kecil yang masih harus didampingi kemanapun?! Kalian tidak tahu perasaanku! Bodoh!!”

“Kami… kami tidak bermaksud berbuat begitu terhadapmu.”

“Pergi!! Jangan buang-buang waktu dan tenaga kalian hanya untuk melakukan ini!”

“Tapi tuan… apa kau…”

“Aku tidak ingin pulang! Aku lebih baik bersama Jinki di sini. Aku akan lebih baik di sini! Got it?”

Orang yang sekarang menjadi lawan bicara Taemin itu terdiam beberapa saat menatap Taemin yang juga menatapnya dengan dada yang naik turun karena napasnya memburu. Dan akhirnya hal itu membuat orang tersebut melunak. Dia berkata, “Uh~ baiklah. Ternyata ucapanmu memang sama dengan yang tuan Jinki katakan. Kami mengalah jika itu memang yang terbaik untukmu, tuan. Maafkan kami. Tapi… sebelum kami pergi, ijinkan kami mengantarkanmu sampai ke tempat tuan muda Jinki.

>>><<<

Taemin duduk di kursi penumpang dengan wajah agak ditekuk, “Awas saja kalau kalian menipuku!” umpatnya pelan pada salah satu pria yang duduk di bagian depan.

Yang duduk di samping pengemudi menjawab, “Tentu tidak, Tuan. Kami sudah berjanji.”

“Baguslah…”

Mobil mulai melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota Seoul yang padat. Taemin duduk sendiri dengan tenang, dalam hati bersorak gembira karena akhirnya mulai hari ini dia akan terlepas dari pria-pria yang menurutnya membosankan itu.

Namun senyuman yang terukir di bibirnya hilang begitu saja saat pria tadi berkomentar, “Maaf, tapi apa saja yang kau lakukan di tempat tadi? Tubuh dan pakaianmu kotor, anyway.”

“Ck~ jangan banyak komentar! Aku begini juga karena menghindari kalian.” cibir Taemin. Laki-laki berambut sebahu itu sejenak terdiam sambil menatap jalanan dari jendela di sampinganya, berlanjut membayangkan kesehariannya setelah ini. Ketika teringat sesuatu, tiba-tiba dia terlonjak dan menepuk telapak tangannya pelan, “Mr. Cory!” panggilnya.

“Ada masalah, tuan?” tanya pria yang disebut Mr. Cory itu.

“Dimana yang lain?”

“Mungkin di belakang kita.”

Taemin langsung berbalik sehingga dia bisa melihat keadaan di belakang mobil yang ditumpanginya ini. Benar saja. Di belakangnya, ada dua mobil serupa yang mengikutinya, “Mr. Cory! Boleh aku minta tolong?”

“Dengan senang hati, tuan.”

“Bisakah kau meminta mereka kembali ke tempat tadi? Ada seseorang yang harus mereka lindungi.”

“Excuse me?”

“Temanku dalam masalah. Kumohon tolong dia!”

“Uh~ya. Baiklah.”

>>><<<

To Be Continue

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

23 thoughts on “Sometime – Part 6”

  1. Wah… taem minta bodyguardnya buat ngelindungin Sanghyun, ya?
    Kayaknya bAkalan keren niH…
    Ayo lanjuT!!

  2. Huwee Minho…
    Tragis bAnget nasibmu, Nak..
    Kagum aku pas tau dia ngelindungin Jihwa ampe akhir…
    .
    Waduh… Jinki sama Sanghyun.. Ck, jadi skandal, ya? WiddiHh…… Kapok dEh keluar gak pake penyamaran.. Maka posisi ngejepRetnya gak enak bAnget.. ==
    .
    Trus, Taem… Cieh… Lucu dEh liat eksPresi gugupnya pas ngobAtin luka sangHyun.. Polos-polos gimana gitU.. Muahahahaha #plakK..
    .
    Gak tau kenapa kok aku mencium aroMa cinta segitiGa ya di FF ini… == hmm…
    .
    Duh, liat ayahnya sanghyun makin serem niH… Gak kasian apa anak gadisnya diGitUin?
    Ckckckck..
    .
    Taem mau ngirim bodyguardnya buat ngelindungin Sanghyun, ya?
    Hmm… Kayaknya Keren…
    .
    Ayo lanjuT, Mira!
    Jangan lama-lama, ya!
    Awas kalau lama-lama!
    *nOdoNg mira!*
    Hwaiting!!

    1. Wahahaha~ *nodong balik*

      Makasih udah komen sedetail ini, Lin. Aku terharu banget… *elah lebay!* suka deh komen kamu… Kkk~ 😀

  3. Ayahnya sanghyun beneran sadis.. Masa mukul anak pake tongkat kayu?! *ganyante*

    Taem mau ngirim bodyguardnya buat ngejaga Sanghyun?
    Hm.. Menarik nih..

    Huwaa… Minho…. Scene kecelakaanmu sungguh tragis + mengharukan… Mau dong dilindungin kayak gitu… Hiks…

    What? Masuk berita? Jinki sama Sanghyun yang di pom bensin itu?
    Mana posisi kejepretnya aduhai…
    *bletakk*
    *ngomong apa, sih?*
    Wih… Udah bikin stres, mana diketawain Jjong + diomelin key… Haduhh.. Malang bener… *dibejek MVP*

    taem kayaknya beneran suka sama Sanghyun deh… Ngobatin luka sanghyun aja ampe gemeteran gitu… Ciahh… Polos amat dirimu, nak! *plakk*

    sanghyun ampe nulis 2 lembar buat nyeritain yg semalem ama taem?
    Buyset seru banget… Syukur si taem gak komen kalau tulisannya dia jelek banget.. Hahahaha.. *diGetok Sanghyun*

    wah.. Ntar ni ada cinta segitiganya?
    Kok firasatku gak enak, ya? ==lll

    ayo lanjut, Mira!
    Jangan lama-lama yah, Saeng!!

    1. EONNIIII~!! Akakakak~ *gaje*

      Aku balesinnya telat gini, hadeuh… Mianhaeyo… (-__-“)v

      Aku ngakak baca komenanmu, eonn. Aduhai~ wkwkwkwk~ 😀

      Makasih ya. eonn… *hug*

  4. gak mau tau. .pokoknya taem harus sm sanghyun ya, jgn sm onew-ku, hahaha
    taem cocok bgt, aduh. .ketawa gw bacanya, keren! taem nyuruh bodyguard nya buat bantu sanghyun ><, next part asap ya. . .

  5. hyaaa jahat ..jahat..jahat ! aku punya ayah kayak gitu dah aku apain tau !
    yahhh jgn ad scandal lagi ah !! masa jinki sama sanghyun ?? kasian taemin !!
    enak ajh !! tuh org enak bgt maen pukul !

    taemin .. pinter dah mau nolong sanghyun !
    ahaahhaha lanjut ya

    1. Emang mau diapain kalo punya ayah kayak gitu? 😀
      Hehe~ udah terlanjur dibikinin skandal Onewnya…

      Makasih, ya… XD

  6. aku akan membunuhmu amma…
    mengapa oh… Mengapa kau membunuh Minho oppaku*digorengflamers* tersayang… *alay saya*…

    Maaf nasib anda kurang beruntung Jinki oppa…

    Next part… Jangan lama-lama… Aku tunggu 2 menit…(?)

  7. Ahh, seru!! XD~
    Chingu aku udh baca dari part 1.
    Tp, aku masih bingung alias nebak2 endingnya sama siapa. Cos’, di situnya tertulis peran utamanya onew oppa. Tapi, setelah membacanya lebih lanjut aku lebih feel nanti endingnya sama taemin oppa.
    Hmmm~
    i still hope ending this story with jinki oppa, please chingu ^,^.
    Hwaiting!

    1. Waaa~ makasih udah baca dari part 1… Aku kaget loh… O.o

      Ama Jinki, ya? Bisa jadi. Hehe~ makasih, ya! ^^ Hwaitting!! 😀

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s