Incomplete Marriagea

Incomplete Marriage – Part 7

Author : Yuyu

Main Cast :

  • Kim Jonghyun
  • Lee Hyunji

Support Cast :

  • Onew
  • Choi Minho
  • Lee Taemin
  • Han Younji
  • Son Shinyoung

Genre : Romance

Rating : PG 16

WARNING : Ada sedikit adegan yang agak hot, tapi menurut aku itu belum termasuk NC karena adegannya masih dalam batas wajar. Tapi bagi yang gak mau baca adegan itu boleh di skip bagian dengan tulisan warna merah dan dijamin kalian gak bakal ketinggalan ceritanya. Buat yang dibawah umur, diharapkan jangan membayangkan apalagi mempraktekkan adegan itu, kamsa ^^

INCOMPLETE MARRIAGE

 

“Kita sudah sampai?” Tanya Hyunji sambil mengucek matanya dan menguap lebar. Jonghyun tersenyum dan menarik Hyunji masuk melalui pintu utama Hyatt Regency Guam, hotel tempat mereka akan menginap selama 3 hari 2 malam.

Hyunji berdiri dibelakang Jonghyun sementara namja itu berbicara dalam bahasa asing kepada si resepsionis dan tak lama kemudian resepsionis tersebut memberikan kunci kamar pada Jonghyun.

“Kajja.” Ajak Jonghyun. Mereka memasuki lift dan Jonghyun menekan angka menuju lantai kamar executive suite yang telah ia pesan.

“Kau mengantuk?” Tanya Jonghyun pada Hyunji yang terlihat sangat lelah sejak tadi. Hyunji menggelengkan kepalanya, tapi mulutnya terbuka lebar dan menguap.

“Aigoo, bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tidur di pesawat, huh?” Omel Jonghyun. Jonghyun melingkarkan tangannya di pinggang Hyunji, membuat yeoja itu bisa menyandarkan tubuhnya untuk sesaat.

“Tapi benar-benar tidak bisa tidur tadi. Ini kali pertama aku keluar negeri, aku sangat bersemangat sampai-sampai mataku tidak mau terpejam.” Jawab Hyunji pelan.

“Mau aku menggendongmu hingga ke kamar?” Tawar Jonghyun. Hyunji buru-buru menggelengkan kepalanya, dia tidak mau dilihat orang lain dalam keadaan memalukan.

“Sampai!” Kata Jonghyun dengan bersemangat begitu dia membuka pintu kamar hotelnya. Hyunji langsung menerobos masuk dan melihat ruang hotel yang terlihat seperti apartemen kecil ini.

Hyunji berlari kecil ke beranda dan menghirup nafas dalam-dalam. Hyunji memegang terali beranda dan mencondongkan tubuhnya untuk melihat laut dibawahnya.

“Kau suka?” Jonghyun menghampiri Hyunji, melingkarkan kedua tangannya dari belakang dan meletakkan dagunya diatas pundak Hyunji. Hyunji menoleh ke samping dan tersenyum manis pada Jonghyun, cukup sebagai jawaban bahwa dia sangat menyukainya.

Untuk beberapa menit, Jonghyun dan Hyunji tidak beranjak dari tempat mereka saat ini. Mereka hanya memperhatikan laut lepas dan mendengar suara deburan ombak juga merasakan kehadiran masing-masing, terasa sangat menyenangkan.

“Kau mau mandi sekarang? Kita harus siap-siap untuk makan malam, perutku sudah berbunyi sejak tadi.” Jonghyun bertanya dan memecahkan keheningan mereka. Hyunji berpikir selama sesaat, lalu menggelengkan kepalanya.

“Kau bisa mandi dulu. Aku mau istirahat sebentar.” Jawab Hyunji.

Hyunji merebahkan dirinya diatas tempat tidur yang empuk. Baru sekarang dia menyadari ternyata dia benar-benar kelelahan.

Sepuluh menit kemudian Jonghyun keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Jonghyun menggosokkan handuk putih ditangannya untuk mengeringkan rambutnya sendiri agar tidak membuat lantai kamar hotelnya jadi basah. Jonghyun membuka mulutnya untuk memanggil Hyunji dan menyuruhnya mandi, tapi begitu melihat Hyunji tertidur pulas, Jonghyun langsung menutup mulutnya.

Jonghyun berjongkok di samping tempat tidur, ia memperhatikan wajah Hyunji lalu melirik jam tangannya. Sekarang baru jam tiga lewat. Mungkin Jonghyun bisa membangunkan Hyunji sekitar dua jam lagi sebelum makan malam. Kasihan Hyunji, dia benar-benar terlihat kelelahan karena tidak tidur semenit pun selama 15 jam lebih perjalanan dari Seoul ke Guam.

Jonghyun menyentuh rambut Hyunji dan mengusapnya dengan pelan dan tersenyum pada dirinya sendiri.

***

“Seharusnya kau bangunkan aku lebih awal. Aku tidak tau kalau aku tertidur.” Gerutu Hyunji lagi saat dia dan Jonghyun sedang makan malam di La Mirenda, restoran yang terletak dilantai dasar hotel.

“Kau sangat kelelahan, aku tidak tega membangunkanmu. Lagipula tidak ada ruginya kan kalau kau tidur sebentar sebelum makan malam?” Jonghyun menyeka ujung mulutnya.

“Tapi kau kan jadi sendirian. Memangnya kau tidak bosan?” Hyunji yang sudah selesai makan sejak tadi karena dia tidak berselera makan dan hanya makan sedikit, menopang dagu dan memperhatikan Jonghyun yang duduk dihadapannya.

“Tidak. Aku tidak bosan karena melihat wajahmu yang tertidur pulas.” Jonghyun menyeringai kecil.
Hyunji memutar bola matanya. Jonghyun hanya tertawa kecil melihat reaksi Hyunji. Jonghyun mendorong kursinya agar dia bisa berdiri dan mengulurkan tangannya dihadapan Hyunji.

“Sudah siap untuk acara selanjutnya?”
”Acara apa?” Hyunji mengerutkan keningnya. Hyunji meraih tangan Jonghyun dan ikut berdiri.
”Ada tarian dari penduduk setempat di belakang Hotel. Kurasa kita masih bisa menontonnya kalau kita bergegas.” Jonghyun menggenggam tangan Hyunji dan menuntun jalannya hingga ke belakang hotel. Beberapa wisatawan terlihat sudah memenuhi hampir semua meja, tapi untungnya masih ada meja kosong yang tersisa untuk mereka.

“Waaaaah!” Hyunji berteriak takjub saat melihat beberapa penduduk setempat menari sambil meloncati api yang mereka siapkan. Jonghyun tau Hyunji pasti akan senang melihat atraksi ini, makanya dia terus mengingatkan dirinya sendiri untuk mengajak Hyunji menontonnya sesampainya mereka di hotel tadi. Dan ia merasa sangat bersyukur karena dia tidak melupakannya. Melihat Hyunji senang seperti ini membuat Jonghyun sendiri merasa sangat senang, bahkan ia rasa lebih dari rasa senang Hyunji sendiri.

***

“IGEMWOYA!?!” Jonghyun melompat turun dari sofa sesegera mungkin saat ia mendengar teriakan Hyunji. Padahal Jonghyun baru saja selesai mandi setelah mereka kembali ke kamar hotel sehabis menonton tarian tadi dan sekarang dia baru saja mengaktifkan hp nya yang memang belum sempat dia aktifkan saat mereka menginjakkan kaki di pulau Guam.

“Waeyo?” Tanya Jonghyun yang ikut panik dan menyembulkan kepalanya ke dalam kamar. Hyunji menatap Jonghyun sebentar lalu kembali menatap kopernya yang sekarang sudah terbuka. Jonghyun menghampiri Hyunji, tidak mengerti apa yang membuat Hyunji berteriak sekeras itu.
”Apa-apaan ini?” Hyunji mengacak-acak isi kopernya sendiri dengan frustasi. Masih tidak mengerti apa yang membuat Hyunji jadi histeris, Jonghyun mengambil sehelai pakaian berwarna hitam dengan pita berwarna merah muda dan sedikit renda-renda dari dalam koper Hyunji. Jonghyun memiringkan kepalanya, mengangkat pakaian itu agar dia bisa melihatnya dengan lebih jelas. Jonghyun tertegun, detik berikutnya tawa Jonghyun meledak. Hyunji memberengutkan wajahnya lalu merebut lingerie yang dipegang oleh Jonghyun, memasukkannya dengan sembarangan ke dalam koper lalu menutupnya.

“Maaf, maaf.” Ucap Jonghyun disela-sela tawanya. Jonghyun menyeka sudut matanya yang mulai berair dan berusaha menghentikan tawanya. “Pantas saja Shinyoung noona berbaik hati menawarkan diri untuk mengemasi kopermu. Kurasa ini ide eomma.” Lanjut Jonghyun lagi setelah tawanya mereda.

Hyunji melipat kedua tangannya, menghempaskan dirinya dan duduk di tepi tempat tidur, “Tidak ada baju yang normal di dalam koper itu! Tidak ada baju-bajuku!” Gerutu Hyunji.

“Aigoo, jangan memberengut seperti itu. Aku bisa meminjamkan bajuku, kalau kau mau. Memang agak kebesaran, tapi jauh lebih baik daripada kau memakai baju yang sekarang.” Jonghyun membuka kopernya dan mengeluarkan sebuah kemeja putih lengan panjang miliknya dengan celana panjang hitam dan menyerahkannya pada Hyunji.

“Kau tidak marah karena aku tidak mau memakai lingerie itu?” Sebelah alis Hyunji terangkat, ia bingung kenapa Jonghyun tidak memaksanya untuk memakai lingerie itu.

“Aku tidak akan memaksamu memakainya kalau kau memang tidak mau. Besok pagi kita bisa membeli beberapa baju untukmu sehabis sarapan. Sekarang mandilah, sudah malam.” Jonghyun mendorong pundak Hyunji dengan pelan. Hyunji menutup pintu kamar mandi, menundukkan wajahnya untuk melihat pakaian milik Jonghyun yang sekarang ada didekapannya. Ia tersenyum kecil, merasa diberkati karena ia adalah istri seorang Kim Jonghyun.

Jonghyun menguap lebar dan menyenderkan kepalanya di sandaran sofa. Ia baru saja selesai memberi kabar pada orangtuanya dan Onew serta Taemin saat Hyunji muncul diambang pintu kamar menggunakan kemeja nya yang jelas terlihat sangat kebesaran di tubuh kecil Hyunji. Hyunji menghempaskan dirinya disamping Jonghyun, ia menatap layar televisi yang dinyalakan Jonghyun sejak tadi meski Hyunji tidak bisa mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.

Jonghyun menatap Hyunji sekali lagi, menyadari yeoja itu hanya memakai kemejanya yang menutupi separuh pahanya, tapi tidak memakai celana panjang hitam yang juga ia pinjamkan.

“Kenapa tidak pakai celanaku?” Tanya Jonghyun.

“Pinggangnya terlalu lebar, jadi celananya terus merosot turun.” Jawab Hyunji santai.

“Oh.. Sebaiknya besok kita ke mall yang ada di dekat hotel saja, setelah itu aku akan membawamu ke tempat-tempat yang menarik.”
”Kelihatannya kau kenal betul tempat ini.” Hyunji mengalihkan pandangannya dari layar televisi, tidak peduli lagi dengan apa yang ditampilkan dilayar.

Jonghyun mengangguk pelan, balas menatap Hyunji, “Aku memang pernah datang ke sini beberapa kali dengan Onew untuk berlibur. Dan aku yakin kau pasti akan suka di sini. Kita bisa pergi menyelam.”
”Jinja?” Hyunji melompat kecil diatas sofa dan memutar tubuhnya untuk menghadap Jonghyun sepenuhnya. Jonghyun tertawa kecil dan mengangguk lagi. Ia tau Hyunji pasti akan bersemangat.

Jonghyun memandang Hyunji lekat-lekat. Melihat Hyunji yang memakai kemejanya seperti ini benar-benar membuatnya… Hmm, bergairah? Memangnya sejak kapan Jonghyun tidak bergairah kalau melihat Hyunji? Jonghyun mendekatkan wajahnya pada Hyunji dengan amat sangat perlahan. Hyuunji mengerjap dengan cepat lalu memundurkan tubuhnya, tapi Jonghyun menahan pinggang Hyunji agar tidak menjauh darinya. Jonghyun mengecup bibir Hyunji dengan lembut. Jonghyun sengaja tidak menutup matanya karena dia ingin mengamati reaksi Hyunji. Begitu melihat Hyunji menutup matanya setelah Jonghyun mengecupnya, Jonghyun menyeringai puas dan ikut menutup matanya.

Ciuman Jonghyun berubah dari lembut menjadi menggebu-gebu dengan cepat. Jonghyun menyapukan lidahnya dibibir Hyunji, membuat yeoja itu bergetar pelan. Hyunji membuka mulutnya tanpa menunggu perintah dari Jonghyun. Dengan senang hati Jonghyun memasukkan lidahnya, memenuhi rongga mulut Hyunji dengan cairan hangat. Hyunji bisa merasakan tubuhnya seolah terkena aliran listrik saat lidah mereka saling bertautan, membuat Hyunji agak tersentak. Kedua tangan Hyunji merengkuh wajah Jonghyun, membuat suhu diruangan tersebut semakin panas bagi pasangan pengantin baru itu.

Jonghyun memajukan tubuhnya agar Hyunji bisa merebahkan tubuhnya diatas sofa. Tangan kiri Jonghyun turun dari pinggang Hyunji, meraba pinggul Hyunji hingga ke pahanya. Lidah Jonghyun dan Hyunji saling beradu satu sama lain. Hyunji menggigit pelan lidah Jonghyun saat tangan namja itu menyelip masuk ke dalam kemeja, menyentuh kulit paha Hyunji, semakin lama semakin naik ke atas.

Jonghyun melepaskan bibir Hyunji, beralih ke leher Hyunji yang belum tersentuh. Hyunji memiringkan kepalanya untuk memudahkan Jonghyun melakukan entah apa yang ia inginkan. Jonghyun memberikan ciuman ringan dari daun telinga Hyunji hingga akhirnya sampai ke leher. Jonghyun mengecupnya sekilas, kemudian menggigitnya tidak terlalu keras untuk meninggalkan bekas kemerahan dileher putih Hyunji. Hyunji mendesah pelan saat Jonghyun kembali menggigitnya lehernya, tidak jauh dari tanda pertama yang diberikan Jonghyun. Jari-jari Hyunji menyusup masuk dan meremas rambut Jonghyun agak kuat, tapi itu justru memberikan rasa puas untuk Jonghyun.

Tubuh Hyunji kembali bergetar pelan saat Jonghyun lagi-lagi menggigiti kulit lehernya sementara tangan Jonghyun mengelus perutnya dari balik kemeja yang masih menyelimuti tubuhnya. Ia tidak tau apa yang harus ia lakukan, tapi ia menerima perlakuan Jonghyun yang membuat kesadarannya perlahan-lahan menghilang.

Jonghyun mengeluarkan tangannya dari balik kemeja Hyunji, beralih untuk membuka kancing kemejanya. Baru saja Jonghyun berhasil membuka satu kancing teratas, ia merasa ada sesuatu yang menarik ujung kaosnya. Jonghyun menunduk dan mendapati kedua tangan Hyunji meremas ujung kaosnya. Jonghyun menyeringai. Ia membuka kaosnya sendiri—melemparkannya begitu saja tanpa peduli di mana kaosnya mendarat—untuk memudahkan Hyunji yang sekarang wajahnya langsung memerah begitu melihat tubuh Jonghyun terbentuk dengan baik karena latihan yang selama ini ia lakukan.

Jonghyun menarik kedua kaki Hyunji, melingkarkannya dengan cepat di pinggangnya sendiri dan menarik Hyunji merapat padanya. Hyunji segera memeluk leher Jonghyun sebelum dia terjatuh. Jonghyun mengerang pelan saat ia merasakan kulit mereka saling bersentuhan. Tidak dapat menahan gairahnya yang semakin meningkat, Jonghyun segera beranjak dari sofa menuju kamar mereka dan kembali mencium bibir Hyunji. Jonghyun merebahkan tubuh Hyunji diatas tempat tidur mereka dengan hati-hati, tak sekalipun membiarkan bibir mereka terpisah. Tangan Jonghyun kembali meraih kancing kemeja Hyunji, kali ini membuka kancing kedua sementara lidahnya kembali beradu dengan Hyunji, tapi sudah jelas Jonghyun yang mendominasi.

Jonghyun menghentikan tangannya yang menyentuh kancing ketiga saat lidah Hyunji tak lagi merespon lidah Jonghyun. Jonghyun mengernyit dan memperhatikan Hyunji dengan kedua matanya yang terpejam. Nafas Hyunji agak tersengal-sengal dan berat, tapi lebih teratur. Jonghyun tertawa pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia lupa kalau mereka baru saja tiba di Guam setelah menumpangi pesawat dengan penerbangan jam 11 malam dan baru sampai keesokan sorenya? Dan Hyunji memang sudah terlihat sangat kelelahan bahkan sebelum mereka sampai di bandara Guam. Jonghyun merapikan poni Hyunji yang sudah berantakan karena keringat dan mengecup kening Hyunji. Jonghyun berbaring disamping Hyunji, menarik selimut untuk menutupi tubuh Hyunji dan dirinya. Jonghyun kembali tersenyum dan memejamkan matanya sendiri.

***

“Kau yakin ini sudah cukup?” Jonghyun mengangkat satu kantong kertas berisi dua stel pakaian yang baru saja dibeli Hyunji dan Jonghyun.

“Tentu saja. Aku cuma butuh untuk nanti malam dan besok.” Jawab Hyunji yang tidak mempedulikan kata-kata Jonghyun bahwa dia bisa membeli sebanyak apapun yang ia mau. Untungnya baju yang kemarin ia pakai sudah dicuci bersih dan kering sehingga hari ini dia bisa memakai bajunya sendiri.

“Oh ya, kita jadi menyelam hari ini?” Tanya Hyunji begitu ia ingat janji Jonghyun semalam. Jonghyun berpura-pura memasang tampang tidak tau, membuat Hyunji memukul lengannya dengan pelan.

“Tentu, tentu. Kita akan ke mana saja yang kau mau.” Jonghyun menyodorkan telapak tangannya pada Hyunji, mengisyaratkan agar yeoja itu menggenggamnya. Hyunji hanya melihat telapak tangan Jonghyun dan memalingkan wajahnya lalu berjalan mendahului Jonghyun.

“Yaaaa!” Panggil Jonghyun. Jonghyun berlari kecil untuk menyamai langkah Hyunji, lalu menyatukan tangan mereka. Hyunji mendelik ke arah Jonghyun, berpura-pura marah tapi akhirnya dia hanya tertawa.

Tidak pernah ia sebahagia ini sebelumnya. Bagaimana mungkin Hyunji pernah menyangka ia bisa sebahagia ini hanya karena menjadi Nyonya Kim?

Sesuai janjinya, Jonghyun mengajak Hyunji ke tempat wisata yang paling diminati di Guam. Hyunji dan Jonghyun memakai helm oksigen sebelum masuk ke dalam air. Beberapa petugas di sana memberikan instruksi terlebih dahulu yang sebagian besar sudah diketahui Jonghyun karena dia sudah menyelam sekitar 3-4 kali.

Hyunji terlihat sangat senang setelah mereka kembali naik ke permukaan setelah puas melihat ikan dari dasar laut.

Tak jauh dari tempat itu, Jonghyun mengajak Hyunji ke sebuah taman yang bernama Two Lover Point.

“Kau mau melihat tebing? Di sana ada tebing yang curam.” Jonghyun menunjuk ke arah tebing yang ia maksud. Jonghyun memegangi tangan Hyunji dengan erat saat Hyunji menjulurkan kepalanya untuk melihat deburan air di bawah tebing.

“Hati-hati, jangan terlalu dekat dengan bibir tebing, kau bisa jatuh.” Omel Jonghyn pada Hyunji yang seolah tidak punya rasa takut.

“Woah, tebingnya benar-benar mengerikan.” Ucap Hyunji saat mereka berjalan menjauh dari tebing itu.

“Pernah ada sepasang kekasih yang terjun dari sana. Mereka menjalin cinta terlarang karena perbedaan status sosial mereka. Dan akhirnya mereka mengikat rambut mereka dan memutuskan untuk terjun dari tebing ini agar mereka bisa bersama selamanya. Jadi taman ini didedikasikan untuk pasangan kekasih itu.” Jelas Jonghyun panjang lebar.

“Benarkah?” Tanya Hyunji tidak percaya.

“Benar, bukankah kau sudah lihat gambar dua orang dengan rambut yang saling menyatu di batu besar tadi?” Hyunji mengingat-ingat dan mengangguk ketika ia mengingatnya, “Dan kau tau? Disini juga ada tempat dimana sepasang kekasih menuliskan harapan mereka, lalu mengaitkan gembok mereka di tempat yang sudah disediakan.”

Hyunji mengerutkan keningnya, tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Jonghyun.

“Sama seperti di atap gedung 63, kau pasti tau kan?” Jonghyun mencoba membuat Hyunji mengerti, tapi kerutan di kening Hyunji sama sekali tidak berkurang.

“Jangan katakan kalau kau juga tidak tau?”

Hyunji mengangkat pundanya dengan cuek, “Aku tidak punya banyak waktu untuk mengetahui hal-hal seperti itu.”

Jonghyun berdecak pelan dan menarik Hyunji ke tempat yang ia maksud. Ada cukup banyak pasangan yang sedang menuliskan harapan-harapan mereka. Beberapa diantaranya sedang mengaitkan gembok berbentuk hati merah dan beberapa lainnya tengah melemparkan kunci mereka ke laut.

“Ayo, tulis sesuatu.” Jonghyun membuyarkan perhatian Hyunji dengan menyodorkan secarik kertas dan pena. Hyunji mengambil kertas kecil itu. Sebenarnya Hyunji merasa hal ini agak konyol dan kekanak-kanakan, tapi dia tidak protes. Jonghyun sudah terlalu baik padanya, jadi mana mungkin dia bisa mengecewakan Jonghyun, apalagi kalau ditatap dengan puppy eyes seperti itu.

Mari hidup bersama selamanya, yeobo?” Hyunji membaca tulisan Jonghyun. Hyunji memicingkan matanya lalu menghela nafas pelan. Jonghyun mencondongkan tubuhnya saat Hyunji mulai menulis.

Dan hidup dengan bahagia. Benar juga! Kita harus hidup dengan bahagia dan bersama selamanya.” Ujar Jonghyun riang. Jonghyun mengaitkan harapan mereka di pagar yang telah disiapkan, tapi karena pagar tersebut sudah dipenuhi dengan banyaknya harapan dan gembok lain, Jonghyun agak kesulitan untuk mengaitkannya meski setelah beberapa menit Jonghyun memberikan kunci gembok pada Hyunji setelah ia berhasil mengaitkannya. Hyunji melemparkan kuncinya sejauh yang ia bisa.

“Selesai. Dengan begini, kita tidak akan terpisahkan lagi.” Jonghyun terkekeh pelan, “Mau ke mana kita sekarang?” Lanjut Jonghyun mulai berjalan santai disamping Hyunji.

“Aku harus membelikan sesuatu untuk Taemin, kalau tidak dia pasti akan mengomeliku saat kita pulang nanti.”

Jonghyun mengangguk setuju. Ia sendiri juga harus membelikan sesuatu untuk keluarganya.

***

“Kau belum tidur?” Jonghyun beranjak keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dan melihat Hyunji yang sedang berbaring santai di atas tempat tidur sambil mengotak-atik hp nya.

“Taemin baru saja mengirimiku pesan agar tidak melupakan oleh-olehnya.” Hyunji meletakkan hp nya di samping tempat tidur setelah dia selesai membalas pesan Taemin. Jonghyun mengangguk sekali dan kembali mengeringkan rambutnya. Hyunji terus memperhatikan Jonghyun yang berdiri di depan cermin untuk merapikan rambutnya sendiri.

Ingatan tentang apa yang terjadi kemarin kembali melekat dibenaknya. Kalau dipikir-pikir kenapa Hyunji tidak merasa canggung kemarin? Padahal sekarang saja jantungnya sudah berdebar tidak karuan membayangkan apa yang akan mereka lakukan malam ini. Mungkinkah karena kemarin Hyunji sama sekali tidak memikirkan tentang malam pertama? Terlalu serius dengan pikirannya sendiri, Hyunji tidak sadar Jonghyun sudah merangkak naik ke atas tempat tidur dan berbaring disamping Hyunji. Jonghyun mendekap Hyunji, barulah saat itu Hyunji kembali ke alam sadarnya.

“Selamat malam.” Jonghyun memejamkan matanya, tidak menyadari tatapan bingung dari Hyunji. Jonghyun membuka matanya satu persatu karena tidak mendengar Hyunji membalas ucapannya. Jonghyun mengerjapkan matanya dengan polos, tidak tau kenapa Hyunji menatapnya dengan kening berkerut. Jonghyun cepat-cepat menunduk untuk melihat pakaiannya, tidak ada yang salah dengan pakaiannya. Dan ia yakin tidak ada yang aneh juga dengan wajahnya karena dia baru saja bercermin beberapa menit yang lalu.

“Apa kau melupakan sesuatu?” Tanya Hyunji akhirnya.

Jonghyun berpikir sebentar lalu menggeleng, “Tidak. Tidak ada yang terlupakan.”
Hyunji mendengus kesal dan membalikkan tubuhnya memunggungi Jonghyun.

“Yaaa, waeyo?” Jonghyun mencondongkan tubuhnya untuk melihat wajah Hyunji, tapi Hyunji menarik selimut untuk menutupi seluruh wajahnya. Hyunji memberengutkan wajahnya.

Tidak ada yang terlupakan, huh? Lalu bagaimana dengan … Ugh! Menyebalkan! Maki Hyunji dalam hati.

“Kim Hyunji, neo waegeureyo?” Jonghyun menguncang tubuh Hyunji dari balik selimut.

“Margaku bukan Kim, dan jangan ganggu aku!” Omel Hyunji.

Bagaimana dia tidak kesal? Jonghyun masih ingat kalau Hyunji sekarang sudah bermarga Kim, tapi kenapa dia bisa melupakan malam pertama mereka? Mungkinkah karena Hyunji tertidur semalam, Jonghyun jadi tidak ingin melakukannya? Ataukah Jonghyun menyesal telah menikahinya?

Hyunji mendengar suara tawa Jonghyun yang terdengar samar-samar. Karena penasaran, Hyunji menurunkan selimutnya dan menatap Jonghyun dengan tajam, masih merasa marah pada namja itu.

“Jangan katakan kalau kau sedang memikirkan tentang malam pertama kita?” Tebak Jonghyun, yang memang benar.

“Ti-tidak!” Suara Hyunji terbata-bata. Meskipun tebakan Jonghyun memang benar, dia enggan mengakuinya. Jonghyun menempelkan jari telunjuknya dikening Hyunji dan mendorongnya pelan.

“Apapun yang kau pikirkan sekarang ini tidak ada yang benar. Aku tau kau pasti sedang berpikir yang aneh-aneh.” Tambah Jonghyun dengan cepat saat Hyunji membuka mulutnya hendak protes, “Asal kau tau saja, aku ingin sekali menguncimu di kamar hotel dan melakukannya seharian. Tapi apa gunanya kita datang jauh-jauh ke sini kalau hanya mengurung diri di hotel? Besok siang kita harus mengejar penerbangan kembali ke Seoul, lagipula kita sudah berkeliling seharian ini, aku tidak mau kau kelelahan. Kita bisa melakukannya setelah kembali ke Seoul. Bukankah kita sudah membuat permohonan untuk hidup bahagia dan bersama selamanya? Kita masih punya banyak waktu yang bisa kita habiskan.” Jonghyun mengusap rambut Hyunji, mengembalikan rasa aman yang sempat menguap dari diri Hyunji.

“Benar juga, besok kita harus kembali ke Seoul. Tidak bisakah kita berada lebih lama di sini?” Pinta Hyunji.

“Kita harus mengurus pendaftaran kita di Seoul University, ingat? Aku bisa membawamu ke sini lagi, atau ke mana pun yang kau mau kalau kita sedang liburan. Jadi jangan mengeluh terus dan nikmati saja malam terakhir kita di Guam, eottheo?”

Hyunji mengerucutkan bibirnya tapi mengangguk mengiyakan.

“Jaljayo yeobo.” Jonghyun mengecup bibir Hyunji, menunggu hingga Hyunji membalasnya tapi segera menghentikan ciumannya tak lama kemudian. Dia tidak mau sampai terbawa suasana karena ciuman mereka pasti akan memanas dengan cepat dan Jonghyun takut dia tidak bisa menahan gairahnya, padahal dia sendiri yang bilang tidak ingin membuat Hyunji kelelahan.

“Jaljayo.” Hyunji tersenyum kecil, memeluk Jonghyun dengan erat dan bersandar di dada bidang Jonghyun yang selalu memberikan perasaan hangat dan rasa aman pada Hyunji.

***
”Noona! Akhirnya kau pulang juga! Aku merindukanmu!” Teriak Taemin bahkan sebelum Hyunji dan Jonghyun bisa melihat sosoknya saat mereka tiba dipintu utama. Hyunji terkekeh pelan, ia juga sangat merindukan Taemin.

Taemin memeluk Hyunji dengan erat begitu sosok namja berambut jamur itu terlihat.

“Aku akan bawa barang-barang kita ke kamar, setelah itu aku akan mengurus pendaftaran kita.”

“Eh, tapi aku bisa mengurusnya.”
”Tidak. Kau tinggal saja di rumah dan istirahat. Lagipula Taemin sudah sangat merindukanmu. Aku akan pergi dengan Onew, oke?”

Hyunji mengangguk setelah berpikir sesaat. Hyunji dan Taemin langsung melesat masuk ke kamar Taemin.

“Noona, aku benar-benar sangat merindukanmu.” Ulang Taemin.

“Aku tau, padahal aku Cuma pergi beberapa hari, tapi aku juga sudah sangat merindukanmu.” Hyunji kembali memeluk Taemin. Taemin balas memeluk Hyunji dengan erat.

“Oh ya, noona. Kau belum melihat keadaan appa Jonghyun hyung? Beliau pingsan kemarin.” Tanya Taemin setelah mereka melepaskan pelukannya.

“Jinja? Aku tidak tau.” Balas Hyunji cepat. Bagaimana mungkin dia bisa tidak tau? Mengapa Jonghyun tidak memberitaukannya kalau kondisi ayah mertuanya sedang drop saat ini?

“Shinyoung noona mau memberitaukannya pada kalian kemarin, tapi mereka melarangnya karena tidak mau mengganggu bulan madu kalian.”

Hyunji bergumam pelan dan tidak jelas lalu keluar dari kamar Taemin. Hyunji mengetuk pintu kamar mertuanya. Nyonya Kim membuka pintu dan menyambut Hyunji dengan senyum lebar.

“Omo! Kenapa aku bisa lupa kalau kalian pulang hari ini?” Gerutu Nyonya Kim yang mempersilakan Hyunji masuk.

“Aboeji, gwaenchanayo?” Tanya Hyunji pelan. Tuan Kim tengah terbaring diatas tempat tidur, memang terlihat lemas, tapi selain itu dia terlihat baik-baik saja.

Apa sebenarnya penyakit Tuan Kim? Kenapa Hyunji bisa lupa menanyakannya pada Jonghyun?

Tuan Kim tersenyum tipis, membuat wajah kebapakannya terlihat tampan.
”Ne, gwaenchanayo.” Jawab Tuan Kim singkat karena ia masih belum bertenaga.

“Jangan khawatir. Dia hanya kelelahan dan pingsan. Dia akan segera baik-baik saja.” Nyonya Kim meyakinkan. Dia senang karena mereka memang tidak salah memilih menantu yang memerhatikan mertuanya, tapi Nyonya Kim juga tidak ingin Hyunji menjadi cemas hanya karena hal sekecil ini.

Hyunji menggigiti bibirnya dengan ragu. “Eommonim, sebenarnya aboeji menderita penyakit apa?”
”Ne?” Nyonya Kim terbelalak bingung lalu tertawa kecil, “Sungguh, dia hanya kelelahan. Dia sangat sehat, bahkan tidak ada penyakit yang bisa bertahan lama dalam tubuhnya.”
”Tapi… Bu-bukankah…” Hyunji terbata. Apa yang sebenarnya terjadi? Nyonya Kim yakin sekali kalau suami tidak mengidap penyakit apapun, tapi kenapa Jonghyun justru berkata hidup Tuan Kim tidak akan lama lagi?

***

“Bagaimana bulan madu kalian?” Tanya Onew setelah Jonghyun menjemput ke rumahnya. Onew duduk disebelah Jonghyun dan memakai sabuk pengamannya sebelum Jonghyun melajukan mobilnya ke Seoul University.

“Sangat menyenangkan.” Aku Jonghyun dengan wajah sumringah.

“Kau sudah mengakui tentang kebohonganmu padanya?” Onew menatap Jonghyun dengan serius. Ia tau pertanyaan itu akan membuat Jonghyun merasa khawatir, tapi Jonghyun memang harus segera mengakui kebohongannya. Jangan sampai Hyunji justru tau dari orang lain.

“Aku tau aku harus segera mengakuinya. Mungkin nanti.” Gumam Jonghyun. Sebenarnya sudah sejak kemarin saat mereka masih berada di Guam, Jonghyun ingin berterusterang pada Hyunji, tapi dia merasa takut. Lagi-lagi dia membayangkan bagaimana reaksi yang akan diberikan Hyunji. Padahal ia juga tau ia tidak bisa menyembunyikannya selamanya.

“Kau tau, Lee Eunri-ssi sangat senang saat aku memberitaukannya tentang pernikahanmu dengan Hyunji.” Onew mengalihkan pembicaraan.

“Jinja? Aku tidak tau kalau beliau sangat ingin aku menikah.” Jonghyun mengangkat alisnya. Onew tersenyum masam.

“Dia merasa tenang karena akhirnya dia yakin kalau kita bukan gay.”
”Astaga, mana mungkin namja setampan aku menjadi gay?” Olok Jonghyun. Ia ingat benar bagaimana Nyonya Lee bersikap agak dingin padanya akhir-akhir ini. Jonghyun tidak habis pikir. Bisa-bisanya Nyonya Lee mengasumsikan mereka gay. Padahal tanpa Nyonya Lee ketahui, Onew selalu saja terlibat dengan yeoja yang berbeda hampir setiap malam. Haruskah ia memberitaukannya pada Nyonya Lee agar beliau bisa tenang? Well, umumnya, para orangtua tidak akan tenang kalau tau anaknya bermain dengan yeoja setiap malam. Tapi Jonghyun yakin, Nyonya Lee justru akan merasa sangat senang. Kenapa? Karena itu membuktikan Onew bukan gay, jadi Onew bisa memberikan keturunan untuk mewarisi nama keluarga mereka.

“Jangan coba-coba memberitaukan tentang kebiasaanku padanya, dia bisa terkena serangan jantung.” Tukas Onew dengan cepat, seolah dia bisa membaca pikiran Jonghyun. Jonghyun terkekeh pelan dan mengangguk.

***

“Hyunji? Kenapa kau tidak menyalakan lampu?” Jonghyun baru saja pulang dan langsung masuk ke kamarnya untuk melihat Hyunji yang duduk di tepi tempat tidur dalam keadaan gelap gulita. Jonghyun menekan sakelar lampu dan memberikan penerangan untuk kamarnya. Jonghyun meletakkan dua kertas formulir pendaftaran diatas meja dan segera menghampiri Hyunji.
”Kenapa? Kau sakit?” Tanya Jonghyun cemas saat ia melihat wajah Hyunji yang pucat. Jonghyun meletakkan tangannya dikening Hyunji untuk mengukur suhu tubuhnya, tapi Hyunji menghempaskannya dengan kasar, membuat Jonghyun benar-benar kebingungan.
”Aku sudah tau semuanya.” Tukas Hyunji lirih. Hyunji terus memperhatikan reaksi Jonghyun yang semula masih penuh dengan tanda tanya perlahan berubah menjadi panik dan gelisah. Jadi semua yang Hyunji duga benar? Padahal dia berharap Jonghyun akan menyangkal, memberitaukan bahwa ada suatu kesalahpahaman. Tapi Jonghyun sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menyangkal. Air muka Jonghyun menunjukkan dengan jelas bahwa Hyunji benar, bahwa Jonghyun telah membohonginya sejak awal.
”Dari mana kau…” Jonghyun menutup mulutnya, tidak mampu menyelesaikan kata-katanya. Tenggorokannya kembali tercekat. Baru saja tadi dia dan Onew membahas masalah ini. Baru saja tadi Jonghyun membulatkan tekadnya untuk mengatakan semuanya pada Hyunji.

“Aku kecewa padamu.” Hyunji menggelengkan kepalanya mencoba mengusir semua rasa kecewa dan marahnya, tapi perasaannya sama sekali tidak bisa membaik. Hyunji berdiri dan berjalan melewati Jonghyun dan segera keluar dari kamar pengantin mereka.

Suara berdebam keras menyadarkan Jonghyun dari segala macam pikirannya. Ia baru sadar Hyunji tak lagi berada di kamar mereka. Jonghyun melangkah lebar- lebar untuk segera mengejar Hyunji. Ia memang masih belum tau bagaimana cara menjelaskan semua ini pada Hyunji, tapi yang ia tau, ia harus menghentikan Hyunji dulu untuk saat ini.
”Hyunji, kumohon dengarkan aku!” Jonghyun menarik tangan Hyunji dengan kuat. Ia tau ia bisa saja melukai Hyunji jika mencengkram tangannya sekuat ini, tapi Jonghyun juga tau kalau Hyunji bisa melarikan diri jika dia tidak menahannya dengan kuat. Hyunji meronta pelan, mencoba melepaskan tangan Jonghyun, tapi ia tidak mampu. Ingin sekali rasanya Hyunji menendang Jonghyun, atau bahkan memukulnya menggunakan satu tangannya yang masih bebas, tapi bagaimana mungkin Hyunji tega melakukan hal-hal seperti itu untuk melukai Jonghyun?

“Maaf, maaf.” Kata Jonghyun akhirnya, “Aku tau aku salah. Tapi waktu itu, hanya itulah yang terpikirkan olehku. Aku hanya ingin kau mengenalku sedikit lebih baik agar pandanganmu terhadapku bisa berubah.”

Hyunji tertawa sinis, “Lalu apa? Menjebakku hingga menjadi Nyonya Kim—seperti sekarang?” Ucap Hyunji hampir berteriak. Jonghyun menggelengkan kepalanya dengan cepat.
”Tidak. Aku tidak pernah berniat untuk memaksamu menikah denganku. Jika seandainya apa yang telah kita lalui selama ini tetap tidak bisa membuatmu menyukaiku, aku pasti akan mengakhirinya. Tapi tidak, kau juga menyukaiku. Kau menjadi Nyonya Kim atas keinginanmu sendiri.” Elak Jonghyun, hampir memelas.

“Entahlah, aku tidak tau apa yang harus kulakukan saat ini. Aku sungguh tidak tau.” Hyunji menahan airmatanya yang siap tumpah setiap detik. Perasaannya benar-benar tidak terkendali. Haruskah ia marah? Haruskah ia memaafkan Jonghyun? Apa yang seharusnya dia lakukan saat ini?

“Kumohon, Hyunji-ya. Jangan tinggalkan aku, kumohon.” Pinta Jonghyun.

“Aku sungguh tidak tau apa yang harus kulakukan. Sejak awal kau telah membohongiku. Pernikahan ini sama sekali tidak utuh, Jonghyun. Bagaimana bisa aku mempercayaimu—mempercayai pernikahan ini—jika semuanya dimulai dengan kebohongan?” Hyunji menarik tangannya dari cengkraman Jonghyun yang melemah. Hyunji berjalan mundur, “Aku ingin sendirian saat ini. Aku harus memikirkannya dengan baik. Biarkan aku sendirian.”

“Hyunji-ya… Hyunji-ya!” Jonghyun menggedor pintu kamar Hyunji yang telah tertutup rapat. Sosok Hyunji telah menghilang dibalik pintu itu. Jonghyun menggedor pintu itu selama beberapa saat, terus meneriakan nama Hyunji dan mengucapkan maaf meski Hyunji sama sekali tidak memberikan reaksi apapun.

Jonghyun mendekap mulutnya sendiri menggunakan tangannya yang gemetar untuk menahan suara isakannya agar tidak terdengar hingga ke seluruh penjuru rumah. Jonghyun menyandarkan tubuhnya di pintu kamar Hyunji, tubuhnya perlahan-lahan merosot turun sebelum akhirnya dia terduduk di sana.

Jonghyun mengerti alasan yang membuat Hyunji menjadi semarah itu. Dia sendiri juga pasti akan marah jika seseorang membohonginya. Tapi Jonghyun hanya takut kalau Hyunji tidak akan bisa memaafkannya. Jonghyun takut kalau Hyunji tidak akan memberikan kesempatan padanya untuk memperbaiki kebohongannya. Bagaimana jika Hyunji ingin berpisah dari Jonghyun?

Tidak! Jonghyun menggelengkan kepalanya dengan kuat untuk mengusir pikiran jelek itu.

Taemin keluar dari kamarnya dan langkahnya langsung terhenti begitu melihat wajah Jonghyun yang kusut. Namja yang lebih tua darinya itu benar-benar terlihat kacau. Tapi Taemin tidak berani melangkah mendekati namja itu untuk menghiburnya. Tidak ada gunanya menghibur Jonghyun saat ini. Taemin melirik ke arah pintu kamar Hyunji yang tertutup rapat. Diam-diam Taemin hanya bisa berharap semoga saja masalah ini segera berlalu, dan tentunya dengan hasil yang baik.

Sementara itu, di lantai satu, Nyonya Kim melihat pertengkaran Jonghyun dan Hyunji. Nyonya Kim sendiri merasa iba pada pasangan pengantin baru itu. Mereka baru saja pulang dari bulan madu mereka hari ini, tapi kenapa mereka justru berdebat hebat? Dan jelas Nyonya Kim bisa melihat kedua orang itu sama-sama terluka.

Nyonya Kim tidak bisa menyalahkan Jonghyun, tentu saja karena Jonghyun adalah anaknya. Tapi Nyonya Kim juga tidak bisa menyalahkan Hyunji, ia rasa Hyunji memang berhak marah karena hal ini.

Jonghyun menengadahkan kepalanya untuk menatap langit-langit koridor yang terlihat kabur dimatanya.

Kumohon, jangan biarkan semuanya berakhir begitu saja. Bukankah kita sudah berjanji untuk hidup bersama dan bahagia selamanya? Batin Jonghyun.

***

Onew menolehkan kepalanya dengan cepat untuk mencari sosok Jonghyun. Onew menghembuskan nafas lega saat ia bisa melihat Jonghyun sedang duduk seorang diri di pojok ruan bar. Beberapa orang yeoja terlihat mencoba untuk mengalihkan perhatian Onew, tapi Onew sama sekali bergeming. Yang memenuhi pikirannya saat ini hanyalah Jonghyun, sahabatnya yang terlihat bisa melakukan hal konyol kapan saja.
”Jonghyun-ah.” Panggil Onew dengan pelan lalu duduk disamping Jonghyun. Jonghyun mengabaikan kehadiran Onew dan tetap asyik dalam dunianya sendiri. Jonghyun meneguk botol minumannya yang ke lima. Tidak pernah dia meminum sebanyak ini sebelumnya, dan kenapa ia masih merasa sangat sadar?

“Hentikan Jonghyun, kau sudah minum terlalu banyak.” Onew meraih botol yang dipegang Jonghyun. Namja itu bahkan tak mau repot-repot meminumnya dari gelas dan langsung meneguknya dari botol. Jonghyun menarik botolnya dan kembali meneguk minumannya, tak mengindahkan Onew yang berdecak sebal.
”Kau sudah mabuk, akan kuantar kau pulang.”

“Tidak! Aku tidak mabuk. Aku masih sangat sadar. Aku bahkan masih bisa mengingat setiap kata yang Hyunji katakan saat dia keluar dari kamarnya sambil membawa kopernya. Aku bisa ingat semuanya.” Jonghyun menghembuskan nafas kuat-kuat. Dia benar-benar masih sangat sadar sekarang ini. Jonghyun berpaling dan menatap Onew, “Katakan padaku, apa yang harus kulakukan agar Hyunji tidak pergi? D*mmit! Aku bahkan tidak tau ke mana dia pergi.” Ringis Jonghyun.

“Tidak ada gunanya kau menyesali semua ini sekarang Jonghyun. Apapun yang kau lakukan, semua sudah terjadi. Kau telah membohongi Hyunji, dan Hyunji telah pergi. Jadi sekarang, yang bisa kau lakukan hanyalah hidup dengan baik dan menunggu hingga Hyunji kembali, araseo?” Tegas Onew. Ia kesal melihat temannya seperti ini. Tapi ia mengerti dengan benar bagaimana perasaan Jonghyun saat ini. Ketika kau harus kehilangan orang yang kau cintai, rasanya dunia sudah runtuh tepat diatas kepalamu sendiri.

“Bukankah dia sudah berjanji akan kembali? Percayalah padanya.” Suara Onew melembut.

“Dia memang berjanji akan kembali. Tapi bukan berarti dia akan kembali padaku. Bagaimana kalau ternyata pada akhirnya dia benar-benar ingin berpisah? Bagaimana kalau selama dia pergi.. Dia… Dia bertemu namja lain yang membuatnya ingin meninggalkanku? Kau tau bagaimana perasaanku saat ini, jadi jangan memintaku untuk tenang. Aku tidak akan bisa tenang kalau orang yang kucintai bersama dengan orang lain.” Sergah Jonghyun. Detik selanjutnya ia sadar apa yang telah ia katakan membuat ekspresi Onew berubah. Onew mengatupkan rahangnya dengan erat. Kata-kata Jonghyun seolah kembali membuka luka lamanya, tapi dia tidak ingin bertengkar dengan Jonghyun. Jonghyun sedang kalut dan Onew lah yang saat ini harus menenangkannya.

Jonghyun menundukkan wajahnya, merasa bersalah telah membuat Onew mengingat kenangan lamanya.
”Maaf.” Gumam Jonghyun nyaris tak terdengar.

“Maaf saja tidak ada gunanya, sekarang aku akan mengantarmu pulang. Orangtuamu sudah mencemaskanmu. Kajja.” Onew menarik tangan Jonghyun untuk berdiri dan segera meninggalkan bar. Jonghyun ingin menolak. Tapi dia tidak melakukannya. Disaat seperti inilah dia bersyukur dia memiliki seorang sahabat, kalau tidak siapa yang bisa menjadi tempatnya bersandar?

Onew menyalakan mesin mobil Jonghyun, melirik sekilas kepada si pemilik mobil yang tengah tertidur sambil bersandar, dia terlihat sangat lelah. Tidak hanya raga, tapi juga jiwanya. Onew mendesah pelan sebelum melajukan mobil Jonghyun.
To Be Continue . . .

a/n ::.

Still not the end^^~

 

©2011 SF3SI, Yuyu.

This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

121 thoughts on “Incomplete Marriage – Part 7

  1. Eh, Critanya Hyunji keluar dari rumahnya Jonghyun?? Hiyaa, Jongg kenapa gak langsung dijelasin sih??
    .
    Waiting vo next part eonn,, Onewnya juga ya,,😀

  2. waduhh……
    Padahal baru honeymoon tp sayang.a setelah pulang langsung bertengkar, ckckckckck semoga hyunji cepat pulang k jjong, haduh kasian sekali oppa ku ini…

  3. Baru aja pulang honeymoon udah ada masalah dan bikin Hyunji pergi, aigoo~ Jjong jangan nangis, kalau gitu kamu sama aku aja ya? #maunya. Haha, nice ff~! eh, tapi aku kepikiran Onew deh, hehe

  4. kasian bnget si Jjong sm Hyunji. bru aja nikah bbrpa hri yng lalu, eh udah langsung pisah. ckck tabahkan hatimu oppa u,u

  5. UnKnownShawol | Haha | sagitafunluph | Lee Hye | a | putrii*** | kim rye ah | ilmacuccha | Kim Ni | ha | shinemaknae | ahn minyoung | my_minnie | babymiu | Izuka | lovely jinki
    gomawoyo^^

  6. nah kan bener PROBLEM’S COMING …..

    Hyunji kabur dari rumah, wah wah wah …. gmn tuh.

    masalah apa yang bikin Onew marah? apa ada hubungannya dengan Shinyoung????

  7. Yaakk. . . Hyunji pergi dr rumah jjong?? ommo~
    kmna?? taemin jg ikutkah ?? *plakks* kepo bnget -_-”
    pdhal baru aja bulan madu..
    aigoo.. jgan cerai donk ..
    lanjut

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s