Secret Of Dawn – Part 2

Author                         : Storm

Main Casts                  : Dawn, Shinee

Main Supporting Cast : Sky

Genre                          : Psychology, Life, Family, Friendship

Length                         : Sequel

Rating                         : General

Inspired by                  : Perfect Match by Jodi Picoult

SECRET OF DAWN

File 2- The Bleeding Dawn

 

“Key, hari ini kau tidak kuliah?” Jinki hyung bertanya padaku yang sedang serius menonton CNN tentang pergolakan di dunia timur tengah yang semakin hari semakin bergejolak, dimulai oleh Libya dan diikuti oleh negara-negara Arab lainnya. Mereka, rakyatnya maksudku, menuntut diadakannya demokrasi di negara mereka. Entahlah, aku tidak tau apa yang sedang terjadi belakangan ini di liga arab itu. Kacau, seperti tahun 1998 di Indonesia. Hff.. beruntung Korea tidak mengalami pergolakan itu. Setauku masalah bertegangan tinggi Korea hanya dengan Korea Utara, itu juga masalah nuklir.

“Tidak ada kelas hyung, kenapa?” Jawabku tanpa mengalihkan mataku dari berita-berita CNN. Menurutku, sebagai idol harus tetap tau perkembangan dunia juga. Well, ehm, tepatnya menurut Dawn. Suatu ketika gadis itu pernah bertanya padaku, apakah ada kemungkinan kalau Amerika Serikat berhasil melakukan diplomasi damai dengan Iran? Atau ia juga pernah bertanya tentang keterkaitan Cina terhadap Militer Junta Myanmar. Dan aku yang waktu itu hanya tau seputar musik, film, berita artist, dan acara-acara awards hanya bisa memberikan senyum tiga jari.

Dawn langsung berdecak kesal melihatku seperti itu. Ia lalu berkata, “Idols sih idols oppa, tapi jangan lantas buta kejadian dunia dong. Memalukan sekali jika kau dimintai tanggapan tentang kasus Aung San Suu Kyi di Myanmar, tapi kau hanya bisa diam atau menjawabnya dengan senyum tiga jari dan tatapan kosong. Kalau itu sampai terjadi, aku tidak pernah mau mengakui kau sebagai oppaku!” Hardiknya tegas. “Kau ini sama saja dengan remaja sekarang yang hanya meng-update otaknya dengan comeback-nya boyband-mu itu- Shinee, atau Suju, atau SNSD. Duniamu itu tidak sesempit itu oppa. Update-lah sedikit otakmu itu! Jangan seperti katak dalam tempurung. Dunia itu tidak kotak. Tau kau, oppa?”

Dan sejak saat itu aku mulai meng-update otakku ini. Aku mulai menonton CNN atau paling banter menonton program News yang ada di Korea ini. Membosankan pertamanya, tapi lama kelamaan aku jadi keranjingan, terlebih ada Dawn yang selalu berkomentar langsung terhadap berita yang ditontonnya. Sedikit berdebat dengannya atau sekedar menganggukkan kepalaku terhadap komentarnya ternyata menghibur sekali.

“Kalau begitu kau nanti bangunkan Dawn ya. Nanti jam 8 ia ada les bahasa perancis. Kau tidak mau kan ia berteriak, ‘MERDE!’ atau ‘Le fils de putain!’?” Aku tertawa mendengarnya.

Arayo,” jawabku masih dengan tawa.

“Atau kalau perlu kau antarkan saja lah anak itu. Sekalian lah kau selidiki kenapa ia begitu brutal akhir-akhir ini,” pinta Jinki hyung sambil berlalu. Sejenak aku terdiam. Teringat kejadian yang terjadi belakangan ini.

“Hyung,” panggilku lagi.

“Ya?”

“Ehm.. Menurutmu ehm.. menurutmu ehmm..” Aku tidak tau kenapa begitu susah bagiku untuk mengutarakan kata-kata yang sudah tersusun di otak-ku ini.

“Tenanglah. She’s okay. Mungkin ia hanya sedang PMS?” Jawab hyungku yang seolah bisa membaca pikiranku. Aku mengangguk pelan. Semoga hyung. Semoga hanya karena ia sedang PMS.

***

Knock. Knock. Knock.

“Dawn sudah jam 7 sayang. Ada les perancis bukan?” Teriakku dari luar kamarnya. Biasanya aku langsung buka pintu dan menariknya paksa dari selimut tebal bergambar kelinci putih miliknya. Tapi mengingat kejadian akhir-akhir ini yang selalu menolak kami, aku jadi sedikit takut untuk langsung menerobos kamarnya.

Knock. Knock. Knock.

“Sayang?” Masih tidak ada jawaban. Kuketuk sekali lagi.

Knock. Knock. Knock.

“Aku masuk,” ujarku.

*Kriek

Aku berjalan menghampirinya yang sedang terlelap di balik selimutnya.

“Hey! Dawn! Bangun! Nanti telat. ” ujarku sambil menggoyang-goyangkan badannya yang masih tertutupi selimut kelinci putihnya. “Dawnnnnn..” Tsk! Anak ini! Kebiasaan jeleknya masih saja tidak berubah. Dasar. Apa susah bangun tidur itu genetic ya? Jinki hyung kan juga susah bangun -_-!

“Dawn!” Kusingkap selimut tebalnya. “Ba-”

“Omo! Ya Tuhan!” Aku terkejut melihat Dawn yang penuh dengan keringat. Keningku mengkerut. Mataku melihat tidak percaya baju yang dipakainya.

“Ya Tuhan, ada apa denganmu Dawn? Kenapa kau memakai baju tebal seperti itu? Apa kau kedinginan?” Hati dan pikiranku langsung dipenuhi tanda tanya akan hal itu. Kenapa ia menggunakan baju berlapis? Kemeja? Cardigan? Jaket? Blazer? T-Shirt? Aku bisa melihat tumpukan baju itu menempel di badannya langsung dari kerahnya yang berbeda-beda. Belum lagi celananya dari Jeans dan celana basketnya yang selutut juga ikut ia pakai bersamaan.

“Ada apa? Kenapa kau terlihat seperti orang gila sayang?” Tanyaku dalam hati seraya menghapus keringat yang ada di keningnya.

“Ennghhh..” Seketika ia langsung mencengkram selimutnya kuat. Kepalanya langsung bergerak ke kiri dengan cepat.

“Dawn? Hey. Bangun.” Aku masih mencoba membangunkannya. “Dawn?” Kutepuk-tepuk pelan pahanya.

“Engghhh.. JANGAN! Hh.. Jangan! Kumohon jangan!” Kepala yang tadi bergerak ke kiri kini dengan cepat beralih ke kanan. Cengkraman pada selimutnya masih kuat. Peluh masih terus mengalir deras di keningnya.

“Dawn?”

“ENGHHH!! JANGAN!! Hh.. Hh…” Nafasnya mulai tidak teratur. Mimpi? Ia bermimpi?

“MONSTER!! JANGAN MENDEKAT Hiks.. Kumohon hiks hiks hiks” Air mata juga mulai terlihat menuruni pipinya.

“Dawn? Bangun sayang.” Masih kutepuk pelan pahanya. Aku ingin sekali melihatnya membuka mata. Bangun dari mimpi buruknya. Setidaknya dengan membuka matanya, ia tidak akan gelisah seperti ini.

“Hiks..kotor.. hiks hiks hiks susah hilangnya.. hiks kotor huhuhuhu” Aku tidak bisa melihatnya seperti ini. Sebenarnya ia mimpi apa?

“Hh.. Tolong hentikan hh..”

“Dawn!”

“Hhhhh.. Lepas. Tolong lepaskan aku. Kumohon hhh..”

“Dawn!”

“Janji. Janji. Aku berjanji! Huhuhu aku berjanji.”

“DAWN!!”

“ARGHHHHH!! AKU BERJANJI!! Hhh..hh..” Tubuhnya langsung terbangun dari kasur empuknya. Matanya yang sudah terbuka terlihat sembab. Wajahnya penuh peluh.

“Dawn? Sudah bangun?”

“Hh.. Oppa.. hh..”

“Mimpi buruk sayang?”

“Hh.. Apa yang kau lakukan di kamarku? Hh..hh..”

“Membangunkanmu sayang. Kau ada les bahasa perancis kan?”

“H.. H.. Keluar oppa.. Hh.. keluar dari kamarku. KELUARRRR!!!”

****

“Dawn, sebenarnya kau kenapa?” Tanyaku seraya melirik dirinya yang sedang menyenderkan kepalanya di kaca mobil. Ia terlihat lemah sekali. Terkadang ia mendesah lemah atau menarik nafas panjang dan tak urung mengepal tangannya kencang seolah ia sedang ketakutan.

Tapi apa yang ia takuti? Ia kan sedang bersamaku. Ia tidak bersama orang lain. Ia bersamaku. Bersama oppa-nya. Seharusnya ia merasa aman kan?

“Dawn?” Kucoba untuk bertanya lagi.

“Tidak apa-apa,” jawabnya parau.

“Kau yakin?” Tanyaku lagi. Sungguh aku benar-benar ingin melihat matanya langsung. Ingin melihat kejujuran di matanya. Tapi itu tidak mungkin kulakukan sekarang. Aku harus focus pada jalanan di depanku ini atau aku akan mengantarkan diriku sendiri dan Dawn langsung ke surga.

“Ehm,” Ia menjawabnya singkat.

“Kalau kau ada masalah. Kau tau, kau selalu bisa percaya padaku. Aku kan oppa kesayanganmu. Ya kan??”

“Oppa? Percaya padamu? Hah?” Aku tidak tau, aku yang salah dengar atau memang Dawn yang berkata dengan sedikit nada mengejek?

Yup. Trust me. Dan aku akan melindungimu. Aku adalah pangeran kuda putihmu,” ujarku sambil menepuk dada kiriku dengan satu tanganku. Aku harap Dawn bisa sedikit terkekeh karena joke garingku ini.

“Pangeran? Melindungi?” Ia berkata dalam bisikan. Aku beruntung pendengaranku masih sangat bagus jadi bisa mendengar bisikan darinya yang terucap tadi. Bisikan yang bagiku lebih mirip dengan desahan lirih, desahan parau.

“Tugasnya pangeran kan memang melindungi sayang.. Seperti di cerita dongeng-dongeng itu loh..”

“Hahaha dongeng..” Ia tertawa dalam paraunya suara.

“Kau tau cerita Sleeping Beauty kan? Sang pangeran kuda putih berpedang kan mencium putrinya, lalu membuatnya terbangun, lalu menyelamatkannya dari nenek sihir kan? Bahkan ia membunuh naga buatan nenek sihir dengan pedangnya.”

“Dongeng. Itu hanya dalam dongeng. Dalam dunia nyata adalah pangeran itu mencium sang putri, membuatnya terbangun, dan menghabisi dirinya. Melumat habis tubuhnya. Dan membuatnya menangis. Membuat sang putri merasakan sakit yang teramat sakit, teramat perih.”

“Ahahaha.. Kau dengar cerita darimana? Itu cerita bohong sayang. Tidak ada pangeran yang membiarkan putrinya kesakitan, kau ini..” Tanyaku sambil tertawa dan mengacak langsung rambutnya dengan satu tanganku. Ia tidak cemberut. Ia tidak menggembungkan pipinya. Well, setidaknya itu yang kutangkap dalam lirikan mataku. Biasanya ia akan langsung cemberut jika aku mengacak rambutnya. Tapi kenapa ia tidak berekspresi sekarang?

In reality, dongeng dan kenyataan selalu berbanding terbalik”

***

“Fairy tale”

“Reality”

“Fairy tale”

“Reality”

“Fairy tale”

“Reality”

Fairy tale dan reality berbanding terbalik?

Apa yang ada dalam pikiranmu Dawn? Tumben sekali kau berkata seperti itu.

Aku tau kau bukan maniak dongeng. Bukan peminat cerita cinta. Bukan fans dari sebuah fiksi romantis yang selalu membuat pembacanya tersenyum sendiri.

Tapi kau juga bukan antifans dari cerita semacam itu.

Kau menghargai setiap cerita romantis. Kau bahkan mengatakan sang author hebat karena punya daya imajinasi yang tinggi tentang cerita cinta itu. Yahh walau diakhir bacaan kau selalu berkomentar, “Tapi memangnya ada cerita seperti ini di kehidupan nyata?” atau, “Author ini keren. Tapi aku ingin lihat apakah ia bisa menulis cerita di luar cerita cinta seperti cerita seorang pemakai atau pelacur atau lesbian. Menurutmu oppa?” atau “Oppa aku tau dongeng itu bohong. Tapi dongeng itu indah ya.. ^^”

Kau tidak pernah berkata seperti tadi Dawn. Ada apa? Kenapa kau berkata bahwa fairy tale dan reality berbanding terbalik?

Knock. Knock. Knock.

Kaca mobilku terketuk.

Seorang gadis menggerak-gerakkan tangannya ke bawah, memintaku untuk menurunkan jendela mobil ini.

“Oppa aku pulang dengan Sky. Kau pulang saja.” Ujarnya singkat seraya pergi dari hadapanku.

“Ya! Ya! Dawn! Sebentar!” Aku segera turun dari mobil dan mengejarnya.

“Kok kamu gitu? Aku kan sudah menunggumu dari tadi. Kau pulang bersamaku ya?” Aku membujuknya. Aku kan sudah bilang bahwa hari ini aku akan mengantar dan menjemputnya.

“Aku. Pulang. Dengan. SKY!” Ia memberikan jeda di setiap katanya. Menunjukkan keangkuhannya. Menunjukkan kekerasan kepalanya.

Anni. Kau pulang dengan ku!” Ku tarik tangannya. Ku seret dia. Dawn tau pasti bahwa aku tidak pernah suka ia diantar pulang oleh seorang namja. Tapi kenapa ia malah nekat meminta izin? Terlebih ia tau aku sudah menunggunya.

“Lepassssss!!”

Annniiiiii… Pulang denganku. Bukan dengan Sky!”

“Lepasssss opppaaaaaa!”

“Kumohon jangan berontak Dawn, banyak orang yang akan melihat.”

“Lepassss aku mau pulang dengan Sky!”

“An-”

“Lepas hyung.” Sebuah tangan kekar menggenggam erat pergelangan tanganku. Membuatku menghentikan langkah ku. “Sky?”

“Kau dengar sendiri, Dawn mau pulang bersamaku.” Ujarnya dengan mata tegas.

“Tapi aku tidak mengizinkannya,” jawabku tidak kalah tegas.

“Kalau kau sayang adikmu, kau pasti akan menuruti kemauannya”

“Sayang tidak berarti menuruti semua kemauannya, Sky.”

***

Kalau kau sayang adikmu, kau pasti akan menuruti kemauannya

Perkataan Sky beberapa hari yang lalu tiba-tiba saja terlintas di kepalaku. Apa iya aku harus menuruti semua kemauan Dawn? Apa dengan menuruti kemauannya ia tidak akan bermata sembab lagi? Apa dengan menuruti kemauannya ia tidak akan mengiris nadinya lagi?

Sembab.

Hampir setiap pagi aku melihat matanya bengkak. Ia selalu turun dengan kacamata hitamnya. Mencoba menutupi sembabnya itu. Ketika Minho memintanya untuk melepas kacamata hitamnya itu ia segera menolaknya dengan kasar. Ketika Jonghyun hyung mencoba melepas kacamatanya, ia menepis tangan hyung dengan sangat kasar dan berkata, “bisakah kau membiarkanku melakukan apa yang kusuka?”. Dan ketika kutanya kenapa ia memakai kacamata hitam dalam ruangan di pagi hari pula, ia menjawabnya, “Bisakah kau berhenti mencampuri urusanku?”

Lalu teririsnya nadi.

Dua hari yang lalu, juga di pagi hari, ia terlihat turun ke meja makan dengan kacamata hitamnya dan pergelangan tangan yang diperban. Kami berlima yang melihatnya langsung memberondongnya dengan pertanyaan,

“Kenapa diperban?”

“Apa yang kau lakukan dengan tanganmu?”

“Kau menyayat tanganmu sendiri?”

“Kau apakan tanganmu?? Hah??”

Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang serupa. Tapi ia hanya diam tanpa kata. Ekspresinya datar. Hanya tangannya yang bergerak ke arah mulutnya, menyuapinya dengan nasi dingin tanpa lauk yang sengaja disisakan dari kemarin, mengunyah nasi itu, dan menelannya dengan sangat lancar. Hingga akhirnya emosi Jinki hyung tersulut.

*BRAK!

“KAU! APA MAKSUDMU??” Tangannya mencengkram kuat kerah kemeja Dawn dan menariknya kencang. Membuat wajah gadis 16 tahun itu berhadapan langsung dengan wajah oppa-nya.

“Katakan apa maksudmu dengan semua ini? Hah? Katakan!!” Tapi reaksi serupa tetap kami terima. Gadis ini tetap diam tidak bergeming. Mulutnya tetap mengunyah nasi tanpa lauk itu.

“JAWAB DAWN! JAWAB!!” Emosi hyung tertuaku semakin tersulut. Cengkraman tangannya di kerah seragam Dawn semakin kencang. Aku tau itu karena semakin lama tangan itu berada di kerah dawn, semakin sering juga Dawn terbatuk.

“Kau masih tidak mau menjawab? Sebenarnya ada apa denganmu? Hah? Ada apa??”

“Uhuk. Uhuk.”

“JAWAB!!”

“Uhuk. Uhuk.”

“KAU!!”

*PLAK

Kacamata hitamnya terlepas. Mata sembabnya terlihat.

“HYUNG!!” Sontak kami berteriak pada Hyung kami. Kami tidak menyangka Jinki hyung akan menampar adiknya dengan sangat keras. Masih bisa kulihat tatapan penuh amarah dan kebencian di mata Jinki hyung setelah menamparnya. Tapi Dawn? Ia hanya menatap mata oppa-nya itu dengan kosong.

*BRAK

“SUDAH CUKUP!!” Taemin yang menggebrak meja. “Lepaskan Dawn! Jika ia tidak mau berbicara biarkan saja.” Ujar Taemin sambil menarik Dawn menjauh dari hyungku.

“Kau tidak apa-apa?” Tanyanya sambil memegangi kedua lengan Dawn. Matanya menelisik setiap inci wajah Dawn. Terlihat raut khawatir di wajah Taemin. Tapi Dawn, seperti kebiasaannya akhir-akhir ini, ia tetap tidak mengeluarkan suaranya pun air mata. Ia menghempas tangan Taemin, mengambil kaca mata hitamnya yang terjatuh karena tamparan Jinki hyung dan kembali duduk di kursinya. Menyuapi kembali mulutnya dengan nasi dinginnya yang masih tersisa.

“Apakah sakit Dawn?” Tanya Jonghyun hyung.

“…………….”

“Biar kukompres.” Ujar Minho seraya menempelkan kain basah berisi es ke pipi Dawn.

“…………….”

“Dawn maaf aku tidak sengaja,” Jinki hyung tampak menyesali tindakan cerobohnya tadi.

“…………….”

“Maaf. Aku benar-benar tidak sengaja.” Kini ia berdiri dengan lututnya. Membenamkan wajahnya di pangkuan adik kesayangannya itu. “Maaf hiks maaf Dawn hiks”

“…………….”

“Hiks sekali lagi aku minta maaf Dawn.. Maaf hiks”

“Aku berangkat!” Tidak menjawab permintaan maaf Jinki hyung. Tidak menjawab pertanyaan Jonghyun hyung. Tidak memberikan desisan rasa sakit ketika Minho mengompres pipinya. Itu semua tidak ada. Ia kemudian berjalan cepat menuju pintu utama. Meninggalkan Jinki hyung yang tetap tersungkur dalam isakannya.

“Ini tidak benar. Ini tidak benar. Kenapa ia tidak marah? Kenapa ia tidak menangis?” Aku langsung lari mengejarnya.

“DAWN!!” Kupanggil namanya. Berharap ia menghentikan langkahnya.

“DAWN!”

“DAWN!”

“DAWN!” Kugapai lengannya dalam langkah seribuku mengejarnya. Membuatnya berhenti berjalan dan membuatnya menghadapku. Kulepas kacamata hitamnya. Kutatap matanya.

“Kenapa tidak berhenti ketika kupanggil?”

“……………” Ia hanya menatapku.

“Apakah kau sudah mati rasa? Kemana rasa sakitmu? Kemana air matamu? Kemana perasaanmu? Kenapa kau diam saja? Kenapa?”

“……. Isshh” Ia mendesis? Dawn mendesis? Kemudian ia melepas tanganku yang daritadi memegangi lengannya kencang.

“Aku sudah telat oppa.” Ujarnya. Kakinya kembali melangkah.

“Dawn!” Kutarik kembali lengannya. “Issshhhh..” Ia mendesis lagi?

Kubuka lengan seragamnya yang membungkus lengannya penuh. Mataku membulat melihat lengannya yang sudah terbuka.

“Dawn? Ini?” Mataku semakin membulat seiring terlihatnya kulit di tangannya.

“…………….”

“Kenapa?”

“…………….”

“Dawn? Kenapa dengan tanganmu?”

***

TBC

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

118 thoughts on “Secret Of Dawn – Part 2”

  1. Ihhh kok aku jadi beneran serem sama fairytale ya jadinya??
    hueeee.. storm eon harus tanggung jawab! haha

    Tapi itu Dawn bener bener parah parah parah bangeeet!
    sampe iris nadi? WHAT!? Ahhhhh makin penasaraaaaaaaann

    Bener2 kagum nih aku sama Jinki .. Yaampuuuuunn~
    DAEBAK!

  2. makin seru! penasaran ini sama lanjutannya hehe^^ penasaran juga siapa yang bikin dawn jadi kaya gitu ya? haish, lanjut! 😀

  3. ya ampuuuuuuuuun ,,, dawn, ih jadi bener-bener miris banget.
    key, YOU MUST KNOW, WHO THE ‘PRINCE’ that! *wah?*
    kereen thor, main otak nih ya ceritanya? ahahah *nyadarnya telat bbanget!*
    aku liat ciri-cirinya ada yang ganjal ama si itu hahha *SOTOY!*
    Daebak !!!

  4. Aduuuhh keknya dawn trauma banget yak…
    Masih penasaran ma syapa yg buat dawn jd gt,,,
    curiga ma taemin v biasanya yg dicurigai malah bukan pelakunya
    huuuu
    seru bgt ff nya

  5. daebak
    setiap baca ini, berasa key jadi gweboon…dan tetep suka tiap ada part Jinkey. lalaalalal
    next part lah

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s