Bad Boy Sitter – Part 9

Bad Boy Sitter – Part 9

Author : Firdha a.k.a Park Yeorin

Main Cast : Park Jiyeon, Lee Taemin, Lee Jinki (Onew), Choi Minho, Park Yeorin, Yoo Seung Ho

Support Cast: Other SHINee member, Cho In Su, etc.

Length: Sequel

Genre : Friendship, Romance

Rating : PG-13

***

Jiyeon POV

“Jiyeon-ah! Kenapa harus ketinggalan, sih? Padahal kan aku belum menyelesaikannya.” Gerutu In Su.

“Ya! Namanya juga lupa, ya berarti tidak ingat. Tunggu saja, sebentar lagi juga diantar.” Jawabku santai.

“Memangnya siapa yang akan mengantarnya?” Tanya Yeorin.

“Kangho ahjussi, supir di rumah halmeonie.” Jawabku lagi sementara Yeorin hanya ber-oh ria.

Aku masih asik membaca buku, buku yang kupinjam dari perpustakaan pribadi milik Taeyoon halmeonie, sampai tiba-tiba kelas menjadi ribut dan bising oleh teriakan para yeoja. Aku segera menutup telingaku. Sebenarnya ada apa? Kuedarkan pandanganku, mencari tau kenapa para yeoja menjerit tidak jelas. Dan kini aku tau alasannya. Karena yang datang adalah dia, Taemin sunbae. Entah apa yang mau dilakukannya. Tapi yang pasti, tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak ketika kulihat ia menyeringai saat melihatku. Dan hal yang sangat tidak kuharapkan pun terjadi.

“Jiyeon-ah!” Kelas pun menjadi hening. Aku terkejut mendengarnya memanggil namaku. Ini adalah pertama kalinya, tapi, kenapa harus di sini? Kulihat ia berjalan mendekatiku, lalu membuka mulutnya.

“Lain kali jangan lupa lagi, Jiyeon-ah!” Ucapnya lagi dengan memberikan penekanan pada saat menyebut namaku seraya menyerahkan buku tulis matematikaku, bahkan dia tidak memanggilku dengan embel-embel –ssi lagi. Setelah itu, ia pun segera pergi dengan seringaian yang menghiasi wajahnya. Dan kau pasti bisa menebak apa kejadian selanjutnya, bukan? Semua mata langsung tertuju padaku, lalu semua yeoja langsung menghampiriku dan menghujaniku dengan berbagai pertanyaan. Sementara aku lagi-lagi hanya bisa menutup telingaku. Tapi untung saja ada penyelamat, karena tidak lama kemudian Kim sonsaengnim masuk. Semuanya pun segera kembali ke tempat duduk masing-masing.

“Huuffffttt…” Aku membuang napas lega. Kim sonsangnim, saranghaeeee!!! Aku berteriak dalam hati.

“Kau harus bercerita padaku!” Bisik Yeorin tiba-tiba dengan nada tajam. Aigooo! Bahkan sahabatku pun kini ikut menuntutku. Eotteokhae?

***

Ring… Ding… Dong…

Bel pulang berbunyi. Aku yang tadi sengaja membereskan buku-bukuku lebih cepat langsung berlari keluar begitu Han sonsaengnim sudah keluar. Kudengar teriakan temanku-temanku, tapi aku terus mempercepat lariku karena tidak mau berurusan dengan mereka. Aku berhenti sejenak, mengatur napasku yang sudah memburu. Namun, saat aku sedang sibuk mengatur napas, kulihat teman-teman sekelasku berlari, ternyata mereka mengejarku. Tanpa pikir panjang aku pun segera berlari kembali. Aku terus saja berlari sambil sesekali menengok ke belakang, kulihat mereka semakin dekat. Namun, tiba-tiba kudengar seruan seseorang.

“Hey!” Serunya. Aku pun menoleh, aku mendapati seorang namja yang memakai helm dan sedang duduk di atas motornya.

“Che-ga?” Tanyaku ragu.

“Ne, kau. Kau butuh bantuan, kan?” Ucapnya seraya menunjuk ke arah teman-temanku yang sedang berlari. “Ayo, naik!” Sambungnya. Tanpa pikir panjang aku pun segera berlari mendekatinya lalu menaiki motornya. Ia meng-gas motornya secara tiba-tiba. Refleks, aku pun memeluknya. Dan motor pun melaju kencang, meninggalkan teman-temanku yang masih berlari dan berteriak-teriak memanggilku.

Setelah cukup lama kami menyusuri jalan, ia menghentikan motornya di sebuah taman. Aku pun segera beranjak turun dari motornya. Lalu, saat ia membuka helmnya, ternyata…. Dia…. Minho sunbae!

“Mi… Minho sunbae!” Ucapku terputus. Lalu, ia pun tersenyum. Jincha! Senyumnya benar-benar menawan. Tidak heran banyak yeoja yang memujanya.

“Kau tau namaku?” Tanyanya yang sepertinya hanyalah sekedar basa-basi. Oh, ayolah… siapa yang tidak kenal seorang Choi Minho?

“Sunbae sedang bercanda, ya? Memangnya sunbae pikir murid Hanyoung School mana yang tidak mengenalmu?” Ucapku sekenanya. Lalu, ia pun tertawa renyah.

“Apakah aku setenar itu?” Tanyanya lagi. Kali ini aku hanya bisa mengangkat bahuku.

“Ngomong-ngomong, kalau boleh aku tau, siapa namamu?” Tanyanya tiba-tiba.

“Oh, namaku Jiyeon, Park Jiyeon.” Jawabku seraya menyunggingkan senyumku. Kulihat ia tiba-tiba terdiam.

 “Waeyo? Gwenchana?”

“Ah! Gwenchana, Jiyeon-ssi.” Jawabnya gugup. Kenapa dia?

“Ngomong-ngomong mau apa kita di sini? Kenapa sunbae berhenti di sini?” Tanyaku sambil memperhatikan sekelilingku.

“Emph… anni. Aku hanya ingin ke sini saja, tidak ada alasan khusus.” Ucapnya seraya bangkit dari motornya. Sedangkan aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku.

“Tadi, kenapa mereka mengejarmu?” Tanyanya tiba-tiba yang sontak membuatku tersentak.

“Eung… itu… sudahlah! Tidak penting.” Jawabku gugup. Aku tidak mau dia tau kalau itu semua karena Taemin sunbae yang sangat menyebalkan itu, dia kan teman dekatnya.

“Ne?” Ia mengernyitkan dahi dan mengangkat sebelah alisnya. “Geurae, terserah kau mau cerita atau tidak.” Ucapnya cuek.

Tiba-tiba terlintas satu pertanyaan yang masih mengganjal di benakku. Dengan ragu, aku pun bertanya padanya.

“Sunbae!”

“Ne?”

“Mengenai… itu… saat di stadium basket. Eung… kenapa… sunbae… tersenyum padaku?” Tanyaku hati-hati.

Ia menoleh, lalu tersenyum tipis. “Itu karena menurutku kau aneh… ah, anni! Unik, ya, unik… karena kau adalah satu-satunya yeoja yang menguap di sana.”

“Oh… karena itu.” Kuangguk-anggukkan kepalaku pelan.

“Sunbae!”

“Hem?” Sahutnya pelan.

“Sekarang kita mau ngapain?”

“Emph… aku juga tidak tau. Ya sudah. Kuantar kau pulang saja.” Aku terenyak. Mengantar pulang? Nanti dia akan tau kalau aku tinggal bersama Taemin sunbae. Andwae!

“Eung… tidak usah! Aku tidak mau merepotkan. Aku bisa pulang sendiri, kok.” Elakku gugup.

“Gwenchana. Aku tidak merasa direpotkan, kok.”

“Ah… tidak usah. Bukankah sekarang sunbae ada latihan basket? Pasti teman-teman sunbae sudah menunggu. Lebih baik sunbae cepat-cepat kembali ke sekolah saja.”

“Iya juga. Jeongmal gwenchana?”

“Ne, jeongmal.” Ucapku seraya mengacungkan dua jariku membentuk V-line.

“Baiklah kalau begitu.” Ia pun segera naik ke motornya dan memakai helmnya lagi. “Aku duluan, annyeong.”

Kubalas salamnya dengan senyuman. Setelah motornya sudah tidak terlihat lagi, segera kuambil ponselku.

“Yoboseyo. Ahjussi, jemput aku di ___ ya. Gamsahamnida.”

***

Author POV

Pukul 6 sore. Latihan basket pun telah selesai. Semuanya langsung membereskan barang-barang mereka masing-masing dan segera pulang. Sementara Taemin masih saja duduk di pinggir lapangan seraya menenggak minumannya hingga tiba-tiba Key menepuk bahunya.

“Taemin-ah! Sudah lama kami tidak berkunjung ke rumahmu. Bagaimana kalau malam ini kita bersenang-senang di rumahmu?” Usul Key dengan senyum jahilnya.

“Ide bagus.” Sahut Sang Hyun dan Jino serempak. Mereka pun langsung berhigh-five.

“Minho-ah! Eotthaeyo?” Ucap Key yang sukses membuyarkan Minho dari lamunannya.

“Huh? Mworago?” Tanya Minho polos.

“Aisshh… kau ini hobi sekali melamun, sih?” Hardik Key agak kesal. “Kubilang, bagaimana kalau malam ini kita bersenang-senang di rumah Taemin? Kau setuju tidak?”

“Ah… terserah kalian. Aku ikut saja.” Jawab Minho sekenanya.

“Ok! Kami semua setuju. Jadi, kau pun harus setuju. Kajja!” Taemin hanya menurut tanpa menjawab apapun, dan mereka pun segera beranjak menuju rumah Taemin.

***

Jiyeon sedang asik membaca buku di perpustakaan pribadi Taeyoon halmeonie. Sejak pulang sekolah, Jiyeon belum juga mau beranjak dari tempatnya, kecuali untuk mandi dan buang air kecil tentunya. Ia terlihat sangat serius membaca buku biografi Ronald Reagan. Hingga tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Lalu, Yoo Jin ajumma pun masuk dengan membawa dua botol susu pisang ukuran sedang. Jiyeon yang menyadarinya langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Yoo Jin ajumma.

“Huaaa!!! Gomawo ajumma. Tau saja kalau aku sangat suka susu pisang.” Ucap Jiyeon girang.

“Chonmaneyo, Agassi. Kalau begitu, saya permisi dulu.”

“Ne.”

Jiyeon pun kembali ke posisinya semula dan langsung berkutat dengan buku yang tadi sedang ia baca. Tapi, kegiatannya itu terhenti saat ia tiba-tiba mengingat sesuatu.

“Aigo!” Jiyeon menepuk keningnya. “Tadi kan Yeorin meng-sms menanyakan PR Kimia. Aisshh… pabo!” Jiyeon pun segera bangkit dari tempat duduknya dan beranjak keluar menuju kamarnya.

“YA! Tentu saja kita akan menang.”

Baru saja Jiyeon melangkahkan kakinya, terdengar suara teriakan namja dari ruang music. Karena penasaran, Jiyeon pun segera berjalan mendekati pintu, lalu mengintip. Dan betapa terkejutnya Jiyeon saat ia mendapati 4 namja paling terkenal di sekolahnya sedang berkumpul di ruangan itu. Karena takut ketahuan, akhirnya Jiyeon memutuskan untuk pergi dari situ, namun ia urungkan niatnya itu saat ia mendengar obrolan mereka.

“Ya! Aku tau itu. Kau tidak perlu berteriak seperti itu, Key!” Ucap Sang Hyun jengkel.

“Tapi mereka itu sangat hebat, kudengar pemimpinnya adalah pemegang sabuk hitam Taekwondo. Jadi, kita harus lebih berhati-hati menghadapi mereka.” Papar Minho dengan wajah serius.

“Karena itulah… yakin masih tidak mau memakai alat?” Tanya Sang Hyun hati-hati.

“Dari dulu kita hanya berkelahi dengan tangan kosong, tanpa alat apapun. Itu perjanjian yang sudah kita sepakati. Dan jangan pernah melanggarnya!” Ucap Key tajam. Sedangkan Sang Hyun hanya manggut-manggut.

“Sudahlah! Kalian tidak perlu seserius itu memikirkannya. Kita kan belum pernah kalah berkelahi sebelumnya walaupun dengan tangan kosong.” Tutur Taemin datar.

Berkelahi? Mereka benar-benar suka bekelahi? Ternyata mereka memang benar-benar nappeun namja. Tapi… Minho sunbae. Setelah aku mengenalnya tadi siang, kukira dia namja baik-baik, tidak kusangka ia juga sama. Padahal…

“Deo (Kau)…” Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang Jiyeon. Karena tekejut, Jiyeon pun refleks menoleh dan semakin terkejut saat melihat siapa pemilik suara itu.

“Ji… Jino sunbae…” Jiyeon tergagap. Sementara Jino semakin mengernyitkan dahinya.

“Ya! Jino-ah!” Seru Key sambil berjalan mendekati Jino. “Ada ap… DEO!!” Key membelalakkan matanya terkejut.

Karena bingung dengan pekikkan-pekikkan teman-temannya, akhirnya Minho dan Sang Hyun pun ikut berdiri dan menghampiri Jino dan Key. Sementara Taemin yang menyadari apa masalahnya hanya diam dan tetap duduk di tempatnya.

“Deo…” Kini giliran Sang Hyun yang terkejut.

“Ji… Jiyeon-ssi. Sedang apa kau di sini?” Tanya Minho dengan ekspresi yang sama dengan ketiga temannya.

“A… ak… aku…” Jiyeon menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Aisshh… kalian tanyakan saja pada Taemin sunbae. Annyeong!” Ucap Jiyeon gugup lalu segera beranjak pergi meninggalkan keempat namja tampan itu dalam kebingungan.

“Taemin-ah!” Seru Key setelah tersadar dari lamunannya. Ia pun segera menghampiri Taemin yang masih saja sibuk berkutat dengan pensil dan buku sketsanya.

“Ya! Kenapa dia bisa ada di sini?” Tanya Key setelah duduk tepat di samping Taemin.

“Dia pengasuhku.” Jawab Taemin tanpa mengalihkan pandangannya dari buku sketsanya.

“Pengasuh? Kau tidak sedang bercanda, kan?” Tanya Key lagi yang langsung dijawab oleh tatapan dingin Taemin.

“Ne… ne… aku tau kau tidak suka bercanda.” Ucap Key meralat kata-katanya sendiri.

“Kenapa kau tidak bilang dia tinggal bersamamu?” Tanya Sang Hyun saat sudah berada tepat di depan Taemin.

“Kalian tidak pernah bertanya.” Jawab Taemin datar.

“Sejak kapan dia tinggal di sini?” Kali ini Minho angkat bicara.

“Molla. Aku tidak ingat.” Jawab Taemin lagi-lagi dengan nada yang datar dan tanpa mengalihkan pandangan dari buku sketsanya.

“Sepertinya aku akan sering-sering main ke sini.” Gumam Key seraya menyunggingkan senyum jahilnya. “Ah, ya! Minho-ah! Kau, tadi kau tau namanya. Kau kenal dia?”

“Ne. Aku baru berkenalan tadi siang.” Jawab Minho seraya menyalakan PS.

“Kenapa kau tidak mengajakku?” Sungut Key sambil mendekati Minho.

“Aku juga tidak sengaja bertemu dengannya.” Jawab Minho dengan nada yang agak kesal. Agak risih juga dia mendengar ocehan-ocehan Key.

“Tidak sengaja bagaimana?” Kali ini Sang Hyun yang bertanya.

“Dia sedang dikejar-kejar oleh teman-temannya, dan kebetulan aku ada di sana. Jadi, aku tawarkan saja tumpangan padanya. Jelas?”

“Kau? Menawarkan tumpangan pada seorang yeoja? Ya! Neon nugu-ya? Apa kau benar-benar Choi Minho?” Papar Jino heran. Sedangkan Minho langsung sibuk dengan permainannya tanpa peduli dengan kata-kata Jino. Namun, tiba-tiba saja Taemin menoleh, lalu menyeringai.

“Ada apa?” Tanya Sang Hyun dengan wajah curiga. Ia tahu bahwa Taemin telah melakukan sesuatu saat melihat seriangaiannya tadi.

“Lihat saja besok.” Jawab Taemin seraya meletakkan pensil dan buku sketsanya, lalu beranjak pergi.

***

Jiyeon baru saja selesai mandi dan memakai seragamnya. Saat ini ia sedang mengikat rambutnya seperti biasa, kuncir kuda. Setelah selesai, ia pun segera beranjak keluar menuju kamar Taemin karena membangunkan Taemin adalah kewajibannya setiap hari. Walaupun sebal dan malas dengan tugas itu, namun Jiyeon hanya bisa menurut dan berusaha membiasakan dirinya dengan rutinitas barunya itu.

Saat Jiyeon telah  berada tepat di depan kamar Taemin, ia langsung menyentuh kenop pintu. Namun, baru saja ia akan memutarnya, bayangan peristiwa malam itu membuatnya mengurungkan niatnya. Mengingat kejadian itu membuatnya merasa takut. Ia pun mundur selangkah, lalu melihat keadaan kamar dari ventilasi di atas pintu. Gelap. Ya, tidak terlihat cahaya lampu. Jiyeon pun berbalik bermaksud untuk pergi, namun ia melihat Kepala Pelayan Hwang dan Yoojin ajumma menghampirinya.

“Annyeong haseyo, Agassi.” Sapa kepala pelayan Hwang sembari membungkuk kecil.

“Ne, annyeong.” Jawab Jiyeon sembari membungkuk pula.

“Agassi bermaksud membangunkan tuan Taemin?”

“Ne. Tapi…. Kamarnya gelap.”

“Agassi tidak perlu khawatir bagaimana membangunkan tuan Taemin karena kamarnya gelap. Jika teman-temannya datang, biasanya tuan Taemin dan teman-temannya akan tidur di cottage dekat rumah pohon.” Ujar Kepala Pelayan Hwang yang sukses membuat Jiyeon terkesiap.

‘Cottage? Rumah pohon? Kenapa semua hal yang aku idamkan ada di sini?’ Batin Jiyeon.

“Odindae?” Tanya Jiyeon antusias.

“Pelayan Kim akan mengantar Agassi.”

“Ah, geurae.”

“Kalau begitu saya permisi dulu.” Kepala pelayan Hwang membungkuk kecil, lalu pergi meninggalkan Jiyeon dan Pelayan Kim yang biasa Jiyeon panggil Yoojin ahjumma.

“Mari saya antar, Agassi.” Ucap pelayan Kim sopan. Jiyeon pun berjalan mengikutinya dari belakang.

Mereka berjalan menyusuri rumah besar milik keluarga Lee itu. Ternyata tempat cottage yang dimaksud Kepala Pelayan Hwang terletak di dekat lapangan basket. Rumah pohonnya pun terlihat jelas di sampingnya. Jiyeon yang sejak dulu memang mengidamkan tempat seperti ini hanya bisa memandang takjub. Rumah pohon itu pun berhasil membuat Jiyeon teringat kembali akan janji orang tuanya, janji yang belum sempat mereka tepati karena kehendak Tuhan yang memanggil mereka sebelum mereka sempat menepatinya.

Flashback

“Appa! Omma! Rumah pohon itu bagus, ya?” Ucap Jiyeon kecil sambil menarik-narik baju appanya saat mereka sedang melihat-lihat majalah.

“Ne, sangat bagus. Kau mau rumah pohon seperti itu?” Tanya appa lembut.

“Ne. Kalau aku sudah besar nanti, aku mau punya rumah yang kamarnya berpisah-pisah seperti itu. Di tengah-tengah kamar omma dan appa, terus di sebelah kanan kamarku, dan sebelah kiri kamar Jungsu oppa. Di halamannya ada rumah pohon.” Papar Jiyeon kecil dengan wajah cerah. “Satu lagi! Aku mau tempat duduk yang seperti di TV itu, yang ada di deket jendela. Kan enak, bisa baca buku sambil liat pemandangan di luar.”

“Keinginanmu itu banyak sekali, Jiyeon-ah. Tapi omma dan appa akan mengusahakannya untukmu. Nanti saat Jiyeon ulang tahun, omma dan appa akan memberikannya.” Ucap omma yang sontak membuat Jiyeon kecil tersenyum bahagia.

“Jincha?” Tanya Jiyeon dengan wajah bahagia.

“Ne.”

“Huaaa! Gomawo omma…” Seru Jiyeon kecil seraya memeluk ommanya. “Ulang tahunku kan sebentar lagi. Satu… dua… lima… lima bulan lagi, ya?”

Appa dan ommanya yang melihat tingkah Jiyeon hanya tersenyum geli. “Setelah 2 itu tiga, bukan lima, sayang.” Ucap omma sambil mengusap lembut kepala putrinya.

“Ah, ye. Tiga bulan lagi. Aku jadi tidak sabar.”

Flashback End

Tanpa ia sadari, setetes cairan bening keluar dari sudut matanya. Kini kerinduan itu memuncak, kerinduan akan kasih sayang yang dulu pernah ia rasakan. Mengingat kenangan-kenangannya saat kecil dulu selalu membuat dadanya sesak, membuat kebencian yang selama ini ia pendam di dalam hatinya perlahan mencuat ke permukaan.

Yoo Jin ahjumma yang melihat Jiyeon menangis segera menghampirinya. “Agassi, wae geurae?” Tanya Yoo Jin ahjumma cemas.

Jiyeon terkesiap, lalu segera menghapus air matanya. “Gwenchana, ajumma. Aku hanya teringat sesuatu.”

“Jeongmal?” Tanya Yoo Jin ajumma lagi memastikan.

“Ne. Ajumma tidak perlu khawatir.” Ucap Jiyeon seraya menyunggingkan senyumnya.

“Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu.” Yoo Jin ajumma pun segera bergegas pergi.

Setelah Yoo Jin ajumma pergi, Jiyeon pun segera beranjak menuju pintu dan mengetuknya. Karena tidak ada jawaban, ia pun langsung membuka pintu dan melongok melalui celahnya, terlihat lima orang namja yang masih tertidur lelap dengan posisi yang tidak teratur. Minho dan Kibum tidur di sofa dengan posisi Minho duduk dan kepala Kibum di pangkuannya. Sedangkan tiga lagi tidur di bawah. Di depannya terlihat meja yang penuh dengan makanan dan softdrink. Karena mereka orang kaya, mereka tidak peduli dengan TV dan DVD yang masih menyala.

Jiyeon melangkahkan kakinya ke dalam dengan perlahan. Ia edarkan pandangannya ke sekeliling, mencari sesuatu untuk membangunkan mereka. Lalu, matanya terpaku pada suatu benda yang pasti bisa membangunkan mereka, yaitu… TOA! Segera ia ambil toa tersebut, lalu menarik napas, dan…

“SUNBAEEEEEEEEEE!!! ILEONAAAAAA!!!”

Kelima namja itu pun terbangun. Taemin yang terperanjat langsung terduduk, namun kembali tidur sedetik kemudian. Begitu pula dengan tiga lainnya, mereka hanya membuka matanya lalu kembali menutupnya lagi. Hanya Minho lah yang mengucek matanya dan benar-benar bangun.

“Jam berapa sekarang?” Tanya Minho malas.

Jiyeon melirik jam di tangannya sekilas. “Lima pas.”

“Ya sudah, kau kembali saja! Biar aku yang membangunkan mereka.” Ucap Minho sambil memegang tengkuk dan memutar-mutar lehernya.

“Jincha? Gamsahamnida sunbae. Aku permisi dulu.” Jiyeon pun segera berbalik dan keluar. Sedangkan Minho memerhatikan punggungnya yang perlahan menghilang di balik pintu.

***

“Ahjummaaa… sekali ini saja. Ya… ya… ya…” Ucap Jiyeon memelas sambil menarik-narik lengan pelayan Kim.

“Tidak bisa agassi. Agassi tetap harus menemani tuan Taemin.” Jawab Pelayan Kim tegas.

“Tapi kan di sana ada teman-temannya. Untuk apa aku temani?” Ucap Jiyeon lagi tidak mau menyerah.

“Jweisonghamnida, agassi. Tetap tidak bisa. Ini sudah tugas Agassi.”

“Aisshh… ya sudah deh…” Ucap Jiyeon pasrah.

Setelah itu, Jiyeon pun beranjak menuju meja makan. Terlihat kelima namja itu sudah duduk  manis dengan posisi berhadap-hadapan, menyisakan satu tempat di tengah yang biasa ditempati oleh Taeyoon halmeonie. Menyadari kehadiran Jiyeon, kelima namja itu pun menoleh. Sedangkan Jiyeon yang tidak nyaman dengan tatapan mereka semua langsung menundukkan kepalanya dan duduk dengan canggung. Namun Jiyeon menjadi semakin bingung saat mereka masih memandanginya dengan tatapan yang tidak ia mengerti.

“Ke… kenapa tidak makan?” Tanya Jiyeon ragu.

“Bukankah kami tidak boleh makan sebelum kau mulai makan?” Tanya Jino yang sontak membuat Jiyeon mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.

“Huh? Siapa yang bilang?” Tanya Jiyeon bingung.

“Saya yang mengatakan itu, Agassi.” Jawab seseorang tiba-tiba dari belakang. Kepala Pelayan Hwang.

“Ah… ye.” Jiyeon manggut-manggut tanda mengerti kalau ini adalah peraturan yang dibuat oleh Taeyoon halmeonie. Tanpa banyak berpikir lagi, Jiyeon pun segera mengambil makanannya diikuti dengan kelima namja itu.

“Kenapa kalian tidak pergi?” Tanya Taemin tiba-tiba. Para pelayan yang merasa bahwa pertanyaan itu ditunjukkan pada mereka pun segera pergi setelah mendapat aba-aba dari Kepala Pelayan Hwang.

“Taemin-ah! Sejak kapan kau menjadi anak yang penurut?” Tanya Key heran. Namun Taemin tidak menjawabnya, ia hanya melirik Key sekilas.

Jiyeon terkekeh pelan. ‘Bagaimana tidak menurut kalau taruhannya adalah uang saku?” Cibir Jiyeon dalam hati. Sementara Sang Hyun yang menyadari kekehan Jiyeon mengernyitkan dahinya.

“Kenapa kau tertawa?” Tanya Sang Hyun yang langsung membuat Jiyeon terkesiap.

“Huh? Che-ga? Aku tidak tertawa.” Jawab Jiyeon berusaha senormal mungkin, takut-takut Taemin akan memelototinya.

“Ah! Aku baru ingat kau ada di sini. Namamu Jiyeon, kan? Dan… kau tau namaku, kan?” Tanya Key percaya diri, membuat ketiga temannya kecuali Taemin hampir tersedak.

“Ne, Kibum sunbae.” Jawab Jiyeon polos.

“Emph… sejak kapan kau…”

A.mi.go! Keunyeol boda naega michyeo… A.mi.go! Iri sone an jabhyeo… A.mi.go!.. Yonggi nae naneun pitch up! Eoddeokhae eoddeokhae…

Ponsel Taemin berbunyi. Ia pun segera mengangkat panggilan.

“Mwo? Sekarang? Geurae… Ne, kami akan ke sana sekarang.” Taemin pun memutus sambungan. “Kita harus berangkat sekarang. Jang sonsaengnim mau membicarakan tentang pertandingan basket nanti.”

“Sepagi ini? Setengah tujuh pun belum ada. Menyebalkan.” Gerutu Key malas.

“Ya, sudah. Kita berangkat sekarang. Jiyeon-ssi, kami duluan.” Ucap Minho sopan.

“Ne.”

Mereka pun segera beranjak ke sekolah, sementara Jiyeon kembali meneruskan makannya.

***

Sesampainya di gerbang sekolah, Jiyeon pun segera keluar setelah Kangho ahjussi membukakan pintu. Ia terlihat celingak-celinguk dengan posisi kepala yang menunduk karena tidak mau teman-temannya melihatnya dan mengejar-ngejarnya seperti kemarin. Walaupun kenyataannya ia pasti harus menjawab pertanyaan teman-teman sekelasnya nanti, tapi setidaknya ia tidak harus maraton terlebih dahulu.

“Jiyeon-ssi!” Seru seseorang yang membuat langkah Jiyeon seketika terhenti.

“Jiyeon? Mana?” Tanya yeoja lain yang kebetulan berada di dekat mereka. Sedangkan Jiyeon hanya bisa menggigit bibir, lalu… lari.

“Ya! Jiyeon! Jangan lari kau!” Seru yeoja itu sambil mengejar Jiyeon. Akhirnya, dengan terpaksa Jiyeon pun harus maraton lagi.

Tanpa Jiyeon sadari, kelima namja yang baru saja sarapan bersamanya tadi sedang memperhatikan ia yang sedang dikejar-kejar oleh teman-temannya.

“Taem! Sebenarnya apa yang sudah kau lakukan?” Tanya Sang Hyun penasaran.

Taemin meliriknya sebentar, lalu memutar bola matanya. “Hanya mengantarkan buku tulisnya ke kelasnya.”

“Mwo? Ya! Pantas saja dia dikejar-kejar seperti itu. Jincha!” Ucap Jino gemas.

“Tapi kau tau akibatnya, kan?” Tanya Minho dengan wajah serius.

Taemin tertawa kecil. “Aku hanya butuh hiburan. Soal resikonya, aku akan tanggung jawab.”

“Tidak semudah itu, Taem.” Ucap Sang Hyun tidak kalah serius. “Kau tau kan kalau kita itu punya banyak musuh, kehidupan kita penuh dengan bahaya. Dan kau, telah melibatkannya.”

“Arasseo. Aku kan sudah bilang kalau aku akan bertanggung jawab. Jadi kalian tidak perlu khawatir. Aku yang akan mengurusnya.” Tukas Taemin sedikit kesal.

“Apa kau bisa jamin kalau kau bisa melindunginya? Bukan hanya dari musuh-musuh kita, tapi juga dari fans kita. Apalagi Yoora, dia adalah yang paling berbahaya.” Key yang sejak tadi diam tiba-tiba angkat bicara. Mendengar nama Yoora, Taemin tidak bisa membalas kata-kata Key, karena sejak awal ia memang tidak memikirkan akibatnya.

“Selama ini yeoja-yeoja yang ada di sekitar kita adalah yeoja yang sejenis dengan Yoora, jadi tidak ada masalah. Tapi ini, Jiyeon, gadis polos yang tidak tau apa-apa. Siapa yang bisa menjamin keselamatannya?” Ujar Sang Hyun yang mulai diliputi rasa cemas.

Taemin yang mulai gerah mendengar penuturan teman-temannya, tiba-tiba berdiri. “Ok, mungkin yang kalian katakan itu benar. Tapi apa kalian tidak sadar kalau cepat atau lambat dia memang akan terlibat? Dia itu tinggal bersamaku, sudah menjadi resikonya karena telah berani masuk ke dalam kehidupanku!”

Taemin pun langsung beranjak pergi dengan emosi yang telah memuncak. Namun, di dalam hati kecilnya, rasa cemas kini mulai menghampirinya.

TBC

A/N: Naaaahhh!! Para readers yang budiman… konflik utama mulai muncul, huehehe…

Jgn lewatkan episode selanjutnya, OK! Mulai episode ini, cerita akan menjadi semakin seru, huahaha… *evil narsis*

DON’T FORGET! COMENT! COMENT!

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

50 thoughts on “Bad Boy Sitter – Part 9”

  1. Aduhhh gakebayang
    Di kejar kejar anak sekelas
    Tapi pasti makin hari makin banyak yang ngejar
    Kan gosipnya menyebar luas
    Minho kayanya ada apa apanya nih ama jiyeon
    Abis dia baik gitu
    Oh iya soal balap motor sambil bonceng
    Itu jangan jangan nanti taemin sama jiyeon
    Lanjuut

    1. minho disini jdi namja dermawan chingu…
      jdi krakternya baik tpi cool…
      nanti taemin ma jiyeon apaan?
      ag ngerti sya hehe…
      gomawo dah bca n komen! 🙂

  2. Seruuu!!
    Duh, taemin jahat banget bikin jiyeon sampe dikejer-kejer gitu.. T _ T
    Next chap pasti bakal seru. Jangan lama lama ya author, saya tunggu yaa :3

  3. whahahahaha…
    taemin ksian jiyeon jd di kjr” kyk maling..!

    next part thor jng lma”..!
    pnsarn nih taemin mau brtindak apaan..!

  4. Wah , siap2 dEch jiyoun musti jd org kuat . Hehe ,

    karakter taemin d sni bda bgt ea . Pas bCa ff ini Q slalu gagal ngebayangin wajah taemin ppa yg di padu ama karakter ini . Hehe , beda bgt .

  5. huwaaa!!
    jiyeon hwaiting!! jangan menyesal ya!!*sadis*
    lanjut thor, walaupun aku tau part 10nya*evil smiles*
    tambah seru, sekarang aku tau konfliknya
    good job author

  6. Ya ampun jiyeon, malang nian nasibmu nak, eh tapi bruntung deh,soalnya bsa dket ama taemin,key, minho, tp kayanya bkal sengsara ntar,yuhuu dtunggu next partnya.. ^^

  7. duhh jiyeon malang’a nasibmu d kjr2 fans taemin,
    tp dsni taemin nya bda bnget jd susah byanginnya tapi crta seru bnget serasa bca novel aplagi wktu taem ngerjain jiyeon hu….kshn jiyeon.
    dtunggu next part nya ya author
    jgn lma2 publish’a, pnsaran nihh!

  8. si taem licik amat,-_-”
    seru juga sih bisa tinggal bareng taem,tapi kalo dikejar kayak gitu,ogah,,aq kan gg suka lari,,._.#gg ada yang nanya
    huwaa..pengen baca next part.a secepatnya,,>.<

    1. jincha? *berbinar-binar*
      wah! bagus itu bgus!
      hidup TaeJi couple! huahaha *evil laugh*
      sekali lagi, mian bagi yg ga suka… V

  9. aku merasa ini pendek !!!!
    huwaa aku suka bgt ini kan ! taemin beda!
    huwaaa
    jiyeon kasian bgt … di kejar2! si taemin jailnya naujubilah ! hoalah yoora ?
    orgil satu ….
    huwaaaa lanjutannya jgn lma2!

  10. waw~
    mian thor, baru baca nih mulai part 1, dan skarang baru ngomen!
    ><

    aku cinta ff ini!
    tpi kok, yg ini kependekan ya?
    panjangin lgi thor!
    :3
    great ff!

  11. tega nya diri mu,author firdha……..
    sungguh terlaluu!!
    membuat ku menunggu fanfic iniiiiiii T^T
    *Author:jiahhhh!siape lu?!*

    makin penasarannnnnn :DD
    cepet” lanjut nya yaa author yg baik+cantik+pinter ^^b

    1. mianhae…
      tpi prasaan ni ff dipublish tiap minggu deh… tak tau lah!
      duh! chingu tau aja sih klo aku baik+cantik+pinter… hahaha 😀 *narsis kumat*
      ok! tunggu publish aja…

  12. Nah ini nih yang ditunggu-tunggu,, kayaknya mulai part ini bakal makin seru,, next part jangan lama-lama ya,,
    Eh, tapi part ini gak ada Onew ma Jonghyunnya sama sekali ya? pdahal mereka termasuk main cast,,

    1. ga nyangka ni ff abal ada yg nunggu…
      makin? semoga aja ya… hehe 😉
      jjong ma onew?
      kyknya bru nongol di part 11…
      gomawo…

  13. Kasihan bgt jiyeon,,cma gra2 taemin jd hrz slalu lari marathon..
    Author lanjuuuttttt!!
    OK??
    Makin seru z nich.. 🙂
    Btw cpa tu Yoora??

  14. Kasihan bgt jiyeon,,cma gra2 taemin jd hrz slalu lari marathon..
    Btw cpa tu Yoora??
    Author lanjuuuttttt!!
    Coz makin seru z nich!!

  15. yaampun ga kebayang gimana rasanya diamuk massa seperti itu. kasihan banget~

    daebak, thor! lanjutnya jangan lamalama yaaa~ ^^

  16. ketahuan juga.
    Hmm,bener juga pa y d blang Taem. Gmanapun jga jiyeon dah msuk k dlam khdupan nya. Tpi khwatir jga ma jiyeon. Bl0m apa2 aja dia dah d kejar kex gtu. Kasian. Smoga Taem bisa mjaga nya dg baik.

  17. beneran sial si jiyeon *plak* kasian, jadi kaya buronan cewek sekolahan dia, sabar yaa -_______-”
    uda masuk konflik? wah asiiiiik~ :d

  18. Ah rasa cemas yg menghampiri taemin adalah benih cintany untuk jiyeon,,,kyakkkk benih cinta
    Kata benih cinta kog kyak dewasa bnget yak comment q,mnkn gr2 kserngn bca ff nc nih
    Ah tobat lah

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s