Love It Hate It – Part 1

POLICE LINE!

Love It Hate It: Part 1

Author : Annisa Nisa a.k.a SHINvisble Nisaa~

Cast     : Choi Min Ho,NamHee Ra

Other Cast : Inspektur Hwan, Choi Jong Hoon (FT Island: new cast), Song Seung Hyun (FTIsland), Kim Tae Hwa, Jung Ki Na, Im Dong Joon and other.

Cast for this Case: Lee Ruri, Lee Jae Jin, Park Jung Hee, Lee Ji Hyun

Length : Sequel

Genre  : Mystery, Action, Angst, Romance

Rating : General atau PG

Disclaimer:

I don’t own SHINee, they are belong to SMEnt and their family, but i do own this story. And I do own some of the cast (Nam Hee Ra, Kim Tae Hwa, Jung Ki Na, Im Dong Joon, Lee Ruri).

 

         

Lee Jae Jin POV

            “Tidak… tidak mungkin.” Aku menggelengkan kepalaku.

            Air mata yeoja itu tampak menetes, “Oppa, itu kenyataannya… aku…”

            “Cukup! Kita tidak per…”

            “Sepulang dari pesta Kim Hyun Cha. Oppa, kau mabuk saat itu.” air matanya terus menetes.

            Aku terdiam. Kepalaku menggeleng tanda tidak percaya. Yeoja ini…?

            “Aku tidak bisa,” ujarku singkat.

            Yeoja itu menatapku, “Waeyo, oppa?”

            Aku menghela nafas panjang, “Karena aku akan segera menikah. Maaf..”

♫ ♫ ♫ ♫

Nam Hee Ra POV

            “Bagaimana sidangnya kemarin?” tanyaku pada Tae Hwa dan Min Ho yang baru saja masuk dalam ruangan.

            “Lancar. Tapi, sidangnya dilanjutkan minggu depan.” Tae Hwa membuka kancing jas abu-abu yang sedang dipakainya, “Oiia, Gu Hyo Jun, Im Young Won, Chu Ja Cheol, kalian ditunggu di ruangan Inspektur Tae Joo!”

            Gu Hyo Jun, Im Young Won, Chu Ja Cheol yang sedang sibuk di pojok ruangan bersama beberapa polisi lain langsung berdiri.

            “Rapat ya?” tanya Im Young Won.

            Tae Hwa menganggukkan kepalanya, “Ne, hyung.”

            “Gamsahamnida, Tae Hwa.” Gu Hyo Jun tersenyum.

            Mereka langsung keluar dari ruangan yang cukup bising ini. Tentu saja, belakangan ini hampir tidak ada kasus yang terjadi. Makanya para polisi yang tidak ada tugas, berkumpul diruangan besar ini.

            “Mengenai tuduhan malapraktek nya itu, ternyata itu hanya akal-akalan rumah sakit saja. Setelah Seung Hyun dan Dong Joon menyelidikinya, ternyata yang melakukan malapraktek itu adalah anak dari pemilik rumah sakit. Makanya sekarang pengacara dari Lee Jin Ki dan Kim Jong Hyun berusaha menuntut rumah sakit dan anak pemiliknya.” Jelas Tae Hwa

            “Ne, Lee Jin Ki maupun Kim Jong Hyun tidak bersalah.” Ujar Min Ho.

            “Jadi sekarang kasus lama itu dibuka kembali?” tanyaku.

            Tae Hwa mengangguk, “2 tahun yang lalu, walaupun mereka tidak terbukti melakukan malapraktek, tetap saja tidak ada bukti atau pelaku yang diadili.”

            Aku mengangkat alisku, “Jadi dia tidak benar-benar melakukan malapraktek?”

            Tae Hwa menggeleng, “Kansudah diselidiki bahwa tuduhan itu tidak terbukti. Lagipula, Lee Jin Ki pria yang baik.”

            Aku menghela nafas panjang, “Tetap saja, dia sudah menghilangkan nyawa orang lain.”

            Semua terdiam. Tiba-tiba terdengar bunyi pintu terbuka. Tampak olehku inspektur Hwan masuk bersama Ki Na dan seorang pria dibelakangnya. Kami langsung berdiri.

            “Annyonghaseo, inspektur!” sapa kami.

            “Annyonghaseo.” Inspektur tersenyum. Ki Na tertawa kecil.

            “Apa ada kasus, inspektur?” tanya Tae Hwa.

            Inspektur Hwan menggeleng, “Annyio. Aku tidak datang karena kasus. Kalian sudah dengar soal kabar mutasi yang beredar belakangan ini?”

            Aku menganggukkan kepalaku pelan, “Ne, inspektur.”

            “Baiklah, ini dia. Polisi bagian investigasi kepolisian Gwangju yang dimutasi ke kepolisianSeoul. Namanya Choi Jong Hoon.” Inspektur Hwan tersenyum kearah laki-laki yang ada dibelakangnya.

            Laki-laki itu tersenyum kecil. Wajahnya cukup tampan dan gayanya keren. Aku tersenyum kecil saat melihat Ki Na senyum-senyum.

            “Annyonghaseo. Aku Choi Jong Hoon.” Ujarnya sambil membungkukkan sedikit badannya.

            Aku, Min Ho dan Tae Hwa melakukan hal yang sama, “Annyonghaseo.”

            “Ya sudah. Choi Jong Hoon, aku harus menghadiri rapat. Hee Ra, kau tunjukkan dimana tempat Choi Jong Hoon dan jelaskan apa-apa yang belum dipahaminya. Jelas?” ujar Inspektur Hwan.

            Aku mengangguk, “Ne, inspektur!”

            Choi Jong Hoon juga mengangguk, “Gamsahamnida, inspektur.”

            Inspketur Hwan tersenyum sebelum berlalu meninggalkan kami. Tae Hwa dan Min Ho tersenyum ke arah Jong Hoon.

            “Kim Tae Hwa imnida.” Tae Hwa tersenyum sambil menatap Choi Jong Hoon.

            “Ne, Choi Jong Hoon imnida.” Choi Jong Hoon tersenyum.

            Min Ho juga menyapanya, “Annyonghaseo, aku Choi Min Ho.”

            Choi Jong Hoon mengangguk, “Choi Jong Hoon imnida.”

            Ki Na hanya tersenyum melihat Jong Hoon. Entahlah… mungkin ia menyukai Jong Hoon. Hehehe…

            “Hee Ra, kau kenapa melihatku seperti itu?” tanya Ki Na, membuyarkan pikiran anehku.

            Aku menggeleng, “Annyio, kau cantik hari ini. Ah ya, aku Nam Hee Ra.”

            Choi Jong Hoon tersenyum, “Choi Jong Hoon.”

            “Selamat datang di kepolisianSeoulya, Choi Jong Hoon-ssi.” Ujar Tae Hwa.

            Choi Jong Hoon mengangguk, “Gamsahamnida, Kim Tae Hwa. Tidak usah pakai ‘-ssi’, Kim Tae Hwa.”

            Tae Hwa tertawa kecil, “Ya, sepertinya umur kita tidak beda jauh. Umurku 27 tahun.”

            “Benarkah? Umurku 27 tahun juga.” Jawab Choi Jong Hoon.

            “Kalau Min Ho masih 26, Ki Na juga 26. Hee Ra adalah polisi termuda di divisi ini. Umurnya masih 24.” Tambah Tae Hwa tanpa diminta.

            Choi Jong Hoon mengangguk-anggukkan kepalanya.

            “Baiklah, mari kuantar ke mejamu.” Tawarku.

            Ia mengangguk, “Ne, gamsahamnida.”

            Aku melangkah menuju meja paling ujung yang sebelumnya ditempati oleh Lee Hong Ki. Saat ini dia sudah di mutasi ke kepolisian Daegu. Choi Jong Hoon mengikuti dari belakang.

            “Disini kau bisa mengerjakan pekerjaanmu, menyelesaikan laporan, atau apapun itu. Semoga kita bisa jadi partner yang baik.” Ucapku begitu sampai di depan meja itu.

            Choi Jong Hoon sedikit membungkuk, “Gamsahamnida. Aku harap juga begitu.”

♫ ♫ ♫ ♫

 

SOMEONE POV

            Kulihat keadaan disekitarku. Sepi. Bagus. Aku segera mengeluarkan kunci serep yang dulu kubuat bersama Jae Jin-oppa. Aku hanya tersenyum saat kutahu bahwa kunci itu masih kunci serep yang cocok dengan lubang kuncinya.

            Perlahan kumasuki apartemennya. Cukup rapi dibanding saat aku kemari sebelumnya. Kubuka pintu kamarnya.

            “Aiish… apa yang harus kulakukan?” desisku saat kutatap nanar semua yang ada di depanku.

            “Laptop?” aku mendekati meja kerja yang bewarna putih tersebut. Tampak sebuah laptop yang masih menyala. Kugerakkan mouse-nya. Tiba-tiba muncul word document di layar. Kugerakkan mouse-nya ke bawah.

            Aku menggelengkan kepalaku pelan. Tidak mungkin… pernikahannya tinggal 1 minggu lagi dan diadakan di Gangdong-gu.

            “Aku harus cepat memikirkan cara agar pernikahan mereka gagal! Lee Jae Jin, kau tidak bisa menikah dengan wanita lain!” desisku.

♫ ♫ ♫ ♫

Lee Jae Jin POV

            Kulihat posisi laptopku yang sedikit tertutup dari keadaan sebelum kutinggal. Pasti yeoja itu datang ke rumah ini. Hmm…dan kurasa ia pasti membaca undangan itu.

            Tiba-tiba ponselku berdering. Nomor tidak dikenal.

            “Yoboseyo.” jawabku.

            Tidak terdengar jawaban dari seberang. Jangan-jangan…

            “Yoboseyo.” ulangku.

            “Yoboseyo.” terdengar suara di ujung telepon. Suara seorang wanita.

            “Siapa disana?” tanyaku perlahan.

            “Lee Jae Jin, kau tidak mungkin lupa padakukan?” suara diseberang terdengar begitu datar dan dingin.

            “Lee Ruri?” tudingku.

            “Ne, ini aku.”

            “Apa yang kau inginkan, Ruri? Apa kau butuh uang?” tanyaku santai.

            “Uang? Hahahaha…” Ruri tertawa, “Tentu saja tidak. Aku hanya menginginkanmu.”

            “Lee Ruri, sebaiknya kau hentikan.” ujarku.

            “Sudahlah, oppa. Aku tau kau hanya menginginkan harta wanita itukan?” suara Ruri terdengar santai.

            Aku menghela nafas panjang.

            “Kalau kau tetap tidak kembali padaku, aku akan menghancurkanmu di pesta itu dan mengatakan semuanya. Aku punya bayi ini sebagai bukti. Kau tunggu saja, Lee Jae Jin!”

            Panggilan terputus. Aku menghela nafas. Rencanaku bisa gagal. Tapi, untung saja aku sudah berjaga-jaga. Lee Ruri, aku tidak akan membiarkanmu menggagalkan semua ini.

♫ ♫ ♫ ♫

Beberapa hari kemudian,

Choi Min Ho POV

            “Min Ho…” sapa Hee Ra.

            Aku tersenyum. Tampak di belakang Hee Ra, Choi Jong Hoon. Kurasa mereka habis dari ruangan Inspektur Hwan.

            “Annyonghaseo.” Sapa Choi Jong Hoon.

            Aku tersenyum, “Annyonghaseo, Choi Jong Hoon.”

            Hee Ra duduk di sebelahku. Sementara Choi Jong Hoon menuju mejanya.

            “Min Ho, kenapa belakangan ini tidak ada kasus ya?” Hee Ra menggigit ujung bibirnya.

            Aku hanya tertawa kecil mendengar perkataannya, “Memangnya itu harapanmu?”

            Hee Ra ikut tertawa, “Tidak. Malah lebih baik begini. Itu artinyaSeoulkotayang aman. Benarkan? Oh ya, Seung Hyun dari kemarin tidak tampak. Dia kemana?”

            Aku melipat koranku, “Seung Hyun? Kemarin dia minta izin pulang ke Daegu. Mungkin hari ini dia kembali.”

            “Ooooh… Dong Joon?”

            “Mungkin sedang jalan-jalan. Tadi pagi dia disini, kok.” Ujarku.

            “Bagusnya disaat seperti ini kita melakukan apa ya?” Hee Ra menyandarkan badannya dikursi.

            Choi Jong Hoon menghampiri kami, “Mau pergi makan siang diluar?”

            Hee Ra mendongakkan kepalanya. Choi Jong Hoon tersenyum. Kutatap Hee Ra yang tampaknya sedikit berfikir untuk menerima atau menolak ajakan Choi Jong Hoon. Akhirnya Hee Ra mengangguk.

            “Baiklah. Ayo makan diluar. Ayo, Min Ho…” Hee Ra berdiri.

            “Sepertinya aku tidak ikut. Aku sudah ada janji dengan Dong Joon siang ini.” aku tersenyum.

            “Kau yakin tidak ikut, Min Ho?” tanya Hee Ra.

            Aku mengangguk.

            “Baiklaah… aku pergi ya.” ujar Hee Ra sambil menatapku.

            Choi Jong Hoon menatapku, “Kau benar tidak ingin makan siang bersama kami, Choi Min Ho?”

            Aku tersenyum, “Yakin. Gamasahamnida atas tawaranmu. Lainkali kita makan siang bersama.”

            “Baiklah.”

            “Kami pergi, Min Ho…” Hee Ra tersenyum.

            Mereka lantas melangkah menuju pintu keluar. Hee Ra masih sempat berbalik.

            “Nikmati kencanmu dengan Dong Joon ya, Min Ho!” sahutnya sambil tertawa.

Nam Hee Ra POV

            Kukira Choi Jong Hoon hanya mengajakku makan di cafetaria markas. Ternyata ia membawaku ke sebuah café di kawasan Myeongdong.

            “Gamsahamnida sudah membawaku kemari, Jong Hoon-ssi. Aku kira kita akan makan di cafetaria markas.” Aku menyeruput mocca latte ku.

            Choi Jong Hoon tersenyum, “Tidak usah bicara seformal itu, Nam Hee Ra.”

            “Ne, kau benar. Sekarang kita diluar markas.” Aku tertawa kecil, “Tapi aku bingung mau memanggilmu apa.”

“Now oh so easily your over me… Gone is love.., It’s me that ought to be moving on..,You’re not adorable…, I was something unignorable.”

            Terdengar hpku berdering. Aku langsung merogoh saku cardigan hitamku.

            “Yoboseyo…” jawabku.

            “Yoboseyo, Hee Ra!

            “Jung Hee?” sahutku begitu mendengar suara dari sebrangsana.

            “Ne, ini aku. Hee Ra, maaf kalau aku mengganggu. Apa kau sedang sibuk?” tanya Jung Hee.

            “Annyio, aku sedang santai. Ah ya, bagaimana rencana pernikahanmu. Apa lancar?”

            “Ne, lancar. Aku juga sudah memesan gedung di Jung-gu… tapi ada sedikit masalah. Tadi aku menghubungi Ha Na. Tapi hpnya tidak aktif. Mungkin sedang ada operasi. makanya, aku memutuskan untuk langsung mengatakannya padamu.

            “Sebenarnya apa yang terjadi, Jung Hee?”

            “Lebih baik kita bertemu langsung, Hee Ra. Aku… ingin langsung bertemu denganmu. Sekarang kau ada dimana?

            “Jung Hee, aku saja yang ke rumahmu. Aku sedang senggang, kok.” Jawabku.

            “Baiklah. Maaf merepotkanmu, Hee Ra. Aku tunggu ya.”

            “Ne, gwenchana. Baiklah, Jung Hee. Sampai jumpa.” Aku mematikan panggilan itu.

            “Mmm… Jong Hoon-ssi. Sehabis dari sini, kau akan kemana?” tanyaku perlahan. Mobilku ditinggal di markas besar dan aku tidak tau mau naik apa ke rumah Jung Hee. Semoga saja Jong Hoon mau mengantarku.

            Choi Jong Hoon menatapku, “Mmm… aku tidak yakin akan kemana. Masalahnya, aku sedang malas berada di markas. Memangnya ada apa, Hee Ra?

            “Annyio, apa kau bisa menemaniku ke rumah temanku? Mm… kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa.”

            “Baiklah. Lagipula, kau tidak mungkin balik ke markas sendirian. Mobilmukanada disana.” Jong Hoon tersenyum.

♫ ♫ ♫ ♫

            “Annyonghaseo.” sahutku sambil menekan bel rumah Jung Hee.

            Terdengar suara kaki yang tergesa-gesa menuju ke arah pintu. Kurasa itu Jung Hee. Pintu tiba-tiba terbuka. Tampak seorang yeoja manis berambut ikal sebahu.

            “Annyonghaseo, Hee Ra. Silahkan masuk.” Jung Hee tersenyum.

            “Terimakasih, Jung Hee. Ah ya, aku membawa teman.” Aku mengajak Choi Jong Hoon masuk.

            “Benarkah? Ah, Park Jung Hee imnida.” Jung Hee membungkuk ke arah Choi Jong Hoon.

            Choi Jong Hoon tersenyum dan membungkuk, “Choi Jong Hoon imnida.”

            “Ayo, silahkan duduk, Hee Ra… Jong Hoon-ssi…” Jung Hee mempersilahkan kami duduk, “Hee Ra, maaf ya kau repot-repot datang kemari.”

            “Sudahlah, Jung Hee. Jangan sungkan. Kau seperti baru kenal aku saja.” Ujarku.

            Jung Hee tersenyum, “Gomawo, Hee Ra. Ah ya, tunggu sebentar ya. Aku panggilkan tunanganku dulu.”

            “Ne.”

            Jung Hee melangkah masuk ke dalam. Kutatap Choi Jong Hoon yang sedang tersenyum di sebelahku.

            “Jong Hoon-ssi, maaf ya…kau jadi menemaniku ke rumah orang yang belum kau kenal. Kalau kau mau, kau boleh kembali ke markas kok.” Ujarku perlahan.

            Choi Jong Hoon tersenyum. Ia menggelengkan kepalanya, “Gwenchana. Aku sedang tidak ingin kembali ke markas.”

            “Hee Ra, Jong Hoon-ssi… ini tunanganku. Namanya Lee Jae Jin. Oppa, ini temanku, Hee Ra dan itu temannya Jong Hoon-ssi.” Jung Hee tersenyum. Tangannya menggandeng tangan seorang pria berambut coklat.

            Pria itu membungkuk, “Lee Jae Jin imnida.”

            Aku tersenyum, “Nam Hee Ra imnida.”

            Choi Jong Hoon terdiam sejenak, “Choi Jong Hoon imnida.”

            Jung Hee duduk disebelahku, begitupun dengan tunangannya yang langsung duduk di sebelah Jung Hee.

            “Hee Ra, sebenarnya aku menelponmu karena belakangan ini, tunanganku dan aku sering mendapatkan terror.” Ujar Jung Hee pelan.

            “Terror?” ulangku.

            Jung Hee mengangguk, “Awalnya aku tidak terganggu dengan semua ini. Tapi, kemarin seseorang sepertinya sengaja memotong tali bunga gantung yang ada di belakang rumah dan potnya mengenai tangan Jae Jin-oppa… untungnya tidak terkena kepalanya.”

            Mataku langsung tertuju pada tangan Lee Jae Jin. Tampak perban menyembul dari balik lengan sweater yang sedang dipakainya.

            “Apa saja yang dilakukan penerror itu?” tanya Choi Jong Hoon.

            “Ia sering menelpon ke nomor ponselku, mengirim surat-surat bernada ancaman… kalau begini mungkin pernikahanku dan Jung Hee juga akan jadi sasarannya.” jelas Lee Jae Jin.

            Choi Jong Hoon terdiam. Lama sekali ia menatap Lee Jae Jin sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke arahku.

            “Hmm… apa kalian punya musuh? Atau ada orang yang tidak senang dengan hubungan kalian?” tanyaku.

            Mereka terdiam. Jung Hee menatap mata Lee Jae Jin, ia menggeleng.

            “Jung Hee, bisa aku lihat pot gantung itu? Apa sudah dibereskan?”

            Jung Hee mengangguk, “Tapi tali dan potnya belum dibuang. Aku sengaja menyimpannya disana setelah membereskannya. Ayo, kita ke belakang.”

            Aku mengikuti langkah Jung Hee menuju halaman belakang rumah Jung Hee yang cukup luas. Tampak bunga-bunga gantung dalam pot-pot digantung dilangit-langit teras belakang.

            “Ini dia potnya, Hee Ra.” Jung Hee menunjuk sebuah pot yang sudah terbelah di pojok teras.

            Aku mengambilnya dan memperhatikan talinya. Choi Jong Hoon juga ikut menatap talinya.

            “Benar, bukannya putus karena usia tapi sengaja dipotong sedikit.” ucap Jong Hoon perlahan.

            Jung Hee tampak terdiam. Tangannya memegang erat tangan Lee Jae Jin yang ada disampingnya.

            “Ne, benar.” aku menganggukkan kepalaku sambil menyimpannya kembali di pojok teras, “Adayang sengaja membuat pot ini jatuh. Tapi yang jadi pikiranku adalah…”

            “Kenapa pelaku memilih pot ini dari sekian banyak pot yang ada disini… begitukan?” sambung Choi Jong Hoon, “Dan jika ia ingin membuat seseorang cedera, kenapa harus pot di halaman belakang? Bukankah kemungkinannya sangat kecil…”

            Aku tersenyum kearah Choi Jong Hoon. Pikirannya tajam sekali ya.

            “Apa mungkin karena aku selalu melukis di spot ini ya… yah, sebenarnya aku dan Jung Hee sering menghabiskan waktu disini belakangan ini.” ujar Lee Jae Jin.

            “Ne, benar Hee Ra… Jae Jin-oppa selalu melukis saat datang kemari. Dan disinilah tempat dia melukis.”

            “Kau melukis, Lee Jae Jin?” tanyaku.

            Lee Jae Jin mengangguk, “Tapi sejak kejadian itu aku tidak melukis lagi. Dokter bilang tanganku harus istirahat untuk beberapa lama.”

♫ ♫ ♫ ♫

            “Adayang terasa janggal.” ujarku pelan saat mobil mulai melaju menuju markas besar kepolisian.

            Choi Jong Hoon tersenyum, “Kau juga menyadarinya ya?”

            “Ne… tentu saja. Suasana nya terasa janggal dan entahlaah… aku tidak yakin, Jong Hoon-ssi…”

            Choi Jong Hoon tersenyum. matanya tetap memandang lurus ke arah jalan. Aku menghela nafas panjang.

            Menit-menit berikutnya aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri. Sepertinya Choi Jong Hoon juga berfikir sambil menyetir. Aku bahkan tidak sadar kami sudah sampai di depan mabes.

            “Hee Ra, kau darimana saja?” tanya Ki Na ketika aku memasuki ruangan besar tempat polisi divisi investigasi bekerja dan berkumpul. Yahh…ruangankuu…

            Aku tersenyum, “Tadi aku pergi makan siang bersama Jong Hoon-ssi. Sekalian ke rumah temanku.”

            Choi Jong Hoon mengangguk, “Ne, benar.”

            “Kau darimana saja, Ki Na?” tanyaku.

            Seung Hyun tiba-tiba berdiri di sampingku, “Ya, kau tega sekaliii Hee Ra? Tidak mengajakku?”

            Aku menoleh ke samping, “Seung Hyun? kapan kau sampai?”

            Seung Hyun tertawa, “Tadi siang. Padahal aku ingin makan siang denganmu. Malah bersama Min Ho.”

            “Ah~ kau berlebihan.” Ujarku sambil tertawa kecil, “Ah ya, Jong Hoon-ssi, ini Seung Hyun.”

            Song Seung Hyun tersenyum ke arah Choi Jong Hoon, “Song Seung Hyun imnida. Kau pasti polisi yang di mutasi kemarikan?”

            Choi Jong Hoon mengangguk, “Ne, benar. Choi Jong Hoon imnida. Senang bertemu denganmu, Song Seung Hyun.”

            Seung Hyun tertawa kecil, “Aku juga.”

♫ ♫ ♫ ♫

Author POV

            “Hahaha… tak kusangka… ternyata semudah ini membuat mereka percaya. Haaah… dengan begini aku akan memperlihatkan seolah-olah dia pelaku semuanya. Padahal ia hanya melakukan setengah dari semua yang terjadi. Hahaha…” tawa orang itu berderai.

            “Haah… Dasar merepotkan. Seandainya saja kau tidak mengganggu hidupku yang sekarang, mungkin aku tidak akan merencanakan ini semua..”

            “Yeoja pabo…!”

♫ ♫ ♫ ♫

Nam Hee Ra POV

 

            “Hee Ra… kau kenapa?” tanya Min Ho membuyarkan pikiranku sendiri.

            Aku menggeleng, “Annyio, aku tidak apa-apa.”

            Min Ho tersenyum, “Gotjimal. Tapi aku tidak akan memaksamu berbicara jika kau tidak mau. Baiklah, sudah siang…kau tidak mau makan siang?”

            “Haah… kurasa aku sedang tidak nafsu makan, Min Ho…” aku menutup hpku dan memasukkannya dalam saku sweater yang sedang kupakai.

            “Baiklah. Oh ya, kemarin kau kemana bersama Jong Hoon?” tanya Min Ho sambil duduk disampingku.

            “Kemarin setelah makan siang, Jung Hee menelponku. Ia ingin bertemu denganku. Makanya aku kesana. Choi Jong Hoon juga sengaja ikut.”

            “Benarkah? Kau ke rumah Jung Hee?”

            Aku mengangguk, “Dia mengenalkan tunangannya padaku. Tapi alasan sebenarnya bukan itu.”

            “Lalu?” Min Ho mendekat.

            Kutatap mata Min Ho, “Tunangannya diterror. Tapi aku merasa ada yang janggal. Entahlah, Min Ho… aku sendiri sedang bingung.”

            “Terror? Apa ada yang tidak senang dengan hubungan mereka?” tanya Min Ho.

            Aku menggeleng pelan, “Mereka bertemu sejak satu tahun yang lalu dan sudah pacaran sejak 5 bulan yang lalu. Tapi selama itu mereka tidak pernah diterror.”

            Min Ho terdiam.

            “Yah, sebenarnya Jung Hee tidak memintaku untuk menyelidikinya. Tapi sepertinya dia takut rencana pernikahannya gagal.” tambahku, “Tapi aku benar-benar merasa ada sesuatu yang akan terjadi.”

            “Maksudmu apa, Hee Ra?”

Choi Min Ho POV

            “Maksudmu apa, Hee Ra?” tanyaku.

            Hee Ra mengangkat bahunya, “Entahlah. Aku sendiri bingung dengan apa yang terjadi dirumah Jung Hee. Aku merasa ada yang aneh. Tapi aku tidak bisa mengatakannya.”

            Aku terdiam sejenak, “Mungkinkah tunangannya Jung Hee itu diterror oleh mantannya?”

            “Hmm…” Hee Ra menatapku, “Ah, benar juga. Bisa sajakan. Daripada itu, lebih baik pikirkan keselamatan Jung Hee dan tunangannya. Pernikahannya 2 hari lagi.”

            “Mereka mengundangmu?” tanyaku.

            Hee Ra mengangguk, “Tentu saja. Kau mau ikut, Min Ho?”

            “Hmmm… apa mereka meminta perlindungan polisi?”

            “Tidak. Tapi entah kenapa rasanya mungkin saja kalau penerror itu akan muncul pada saat pernikahan berlangsung. Kita datang sebagai undangan, bukan sebagai polisi. Tapi sebaiknya kita tanya pada Inspektur Hwan dulu.”

            Aku mengangguk, “Baiklah. Aku ikut denganmu.”

♫  ♫  ♫  ♫  ♫

Choi Jong Hoon POV

            Pagi ini kantor nampak sepi. Ah ya, Inspketur Hwan sedang di Incheon.Ada laporan bahwa ada anggota sindikat narkoba internasional yang berada disana.

            Kuhempaskan tubuhku keatas kursi.

            “Choi Jong Hoon, kau tidak ikut ke Incheon?” tanya seseorang.

            Aku melongok ke arah sumber suara. Ternyata Kim Tae Hwa.

            “Tidak. Inspektur Hwan menyuruhku tetap berada dikantor. Lagipula sudah banyak orang yang ikut. Aku rasa itu cukup.”

            Kim Tae Hwa mengangguk, “Benar. Kurasa hanya kau, aku, Min Ho dan Hee Ra yang akan berada di kantor hari ini. ah ya, satu orang lagi… Song Seung Hyun.”

            “Mereka juga tidak pergi?” tanyaku.

            “Tidak, Hee Ra, Min Ho dan Seung Hyun itu paling jarang diikutkan kalau ada penyelidikan sampai keluar kota begitu.” Ucap Kim Tae Hwa.

            “Oooh.. begitu ya.”

            “Kau sudah sarapan, Jong Hoon?” tanya Kim Tae Hwa.

            Aku menggeleng, “Belum.”

            “Kita sarapan, yuk. Aku juga tidak sempat sarapan pagi ini.” ajak Kim Tae Hwa.

            Aku tersenyum, “Baiklah. Kkaja, kita sarapan…”

            Tiba-tiba terdengar bunyi deringan telepon. Ternyata telepon dekat pintu keluar. Kim Tae Hwa mengangkatnya.

            “Yoboseyo. Divisi Investigasi Mabes KepolisianSeoul.” Jawab Kim Tae Hwa.

            “Yoboseyo, kami dari polisi Gangdong-gu.Adamayat yang ditemukan pagi ini.”

            “Baiklah. Tolong sebutkan alamat lengkapnya. Kami akan segera kesana.” Ujar Kim Tae Hwa.

            “Apa yang terjadi, Tae Hwa?” tanyaku begitu Kim Tae Hwa meletakkan kembali telepon ketempatnya.

            “Adamayat ditemukan di Gangdong-gu. Kita harus bergegas kesana. Kkaja, Jong Hoon!”

 

♫ ♫ ♫ ♫

 

 

Choi Min Ho POV

           

            Min Ho, kau ada dimana sekarang?” tanya Tae Hwa-hyung.

            “Aku? Aku sedang di jalan menuju mabes. Kenapa, hyung?” tanyaku.

            “Ada kasus yang terjadi di Gangdong-gu. Segera menuju ke lokasi. Apa kau bersama Hee Ra?”

            “Ne, aku bersama Hee Ra. Baiklah, hyung. Aku segera kesana.” Ujarku sambil memasukkan hpku kembali ke dalam saku jas hitamku.

            “Apa yang terjadi, Min Ho?” tanya Hee Ra saat aku memutar mobilku ke arah yang berlawanan.

            “Kita ke Gangdong-gu.Adakasus yang terjadi disana.”

 

♫ ♫ ♫ ♫

 

Choi Jong Hoon POV

            “Polisi Choi, kami sudah memeriksa semua bagian dari gudang ini. Tidak ada yang tampak mencurigakan.” lapor seorang petugas forensik.

            “Baiklah. Terimakasih atas laporanmu. Lalu berapa lama lagi hasil otopsi keluar?” tanyaku.

            “Mungkin sekitar 1 jam lagi.”

            Aku menganggukkan kepalaku. Petugas itupun berlalu dari hadapanku dan melanjutkan pekerjaannya. Kupandangi ruangan tua ini. Tae Hwa saat ini ikut bersama petugas forensik ke rumah sakit kepolisian.

            “Choi Jong Hoon.” Panggil seseorang.

            Aku mengalihkan pandanganku ke belakang, “Choi Min Ho?NamHee Ra?”

            Mereka mengangguk dan bergegas ke arahku.

            “Apa yang sebenarnya terjadi, Choi Jong Hoon?” tanya Min Ho.

            Hee Ra mengendus sejenak, “Bau hangus…”

            Aku tersenyum, “Hee Ra benar. Tadi pagi warga disini menemukan sesosok mayat yang hangus terbakar. Mayat ditemukan dalam posisi terduduk dilantai.”

            “Apa dia disiram oleh minyak tanah?” tanya Hee Ra.

            Aku menggeleng pelan, “Kami belum dapat kepastian mengenai hal itu. sekarang mayat sudah dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi.”

            Hee Ra terdiam. Min Ho tampak menatap ruangan ini dengan serius.

            “Choi Jong Hoon, apa ini pembunuhan?” tanya Min Ho.

            “Belum bisa dipastikan apakah mayat dibunuh atau ini bunuh diri. Tapi umumnya kasus pembakaran adalah kasus pembunuhan,kan? Yah… walaupun begitu, aku tidak bisa memastikannya.”

            “Barang bukti bagaimana?” tanya Hee Ra.

            Aku menggeleng, “Belum ada sampai saat ini.”

            “Oh ya, dimana Tae Hwa-hyung?” tanya Min Ho.

            “Tae Hwa ikut bersama petugas forensik.” Ujarku.

♫ ♫ ♫ ♫

            “Wanita dengan tinggi sekitar 165cm, kira-kira usianya 23-30. Golongan darahnya O, berat badan sekitar 45 kg. Dia mengenakan cincin dan di cincinnya tertulis inisial LRR dan LJJ.” Terang Tae Hwa-hyung, “Berdasarkan hasil otopsi, tulang kepalanya tampak sedikit retak. Mungkin dia dipukul lalu dibakar. Seperti kata petugas forensik. Kemungkinan besar tubuhnya disiram menggunakan minyak kemudian dibakar.”

            “Tae Hwa, apa wanita itu dibakar di gedung itu?” tanya Choi Jong Hoon.

            “Itu yang sampai saat ini masih diselidiki, Jong Hoon. Ah ya, berdasarkan keterangan polisi Gangdong-gu yang pertama kali menyelidiki, saat warga pertama kali membuka pintu gudang tua itu, memang ada sedikit asap. Namun tidak banyak.”

            “Tunggu, sunbae… secara tidak langsung fakta asap itu memperkuat dugaan kalau mayat dibakar disanakan?” tukas Seung Hyun.

            Ternyata kemarin Seung Hyun tidak datang ke TKP karena seharian bersama petugas forensik dan Tae Hwa.

            Tae Hwa-hyung mengangguk pelan. Hee Ra menggeleng.

            “Tidak juga. Bisa saja ada trik. Sebenarnya bukan itu landasannya. Sunbae, aku ingin tanya apa tubuh mayat saat ditemukan dalam kondisi panas?”

            Tae Hwa-hyung tersenyum, “Itu pertanyaan yang dari tadi kutunggu, Hee… Sebenarnya simpel saja untuk mengetahui apa mayat dibakar disana atau tidak. Hanya dengan suhu mayat saat ditemukan. Itu bukan hanya memperjelas lokasi dimana dia dibakar tapi sekaligus kapan mayat dibakar.”

            “Jadi?” tanyaku.

            “Petugas forensik mengatakan perkiraan mayat dibakar sekitar siang hingga malam hari. Tapi rentang waktunya sekitar pukul 1 siang hingga 7 malam. Mayat jelas dibakar disana.” Jelas Tae Hwa-hyung.

            “Lalu bagaimana dengan cincin tersebut?” tanya Choi Jong Hoon.

            “Cincin itu? Yah… hanya inisial yang bisa kita dapatkan. LRR dan LJJ. Apa L itu Lee ya?”

            “Lim juga bisa, Seung Hyun.” ujar Hee Ra.

            “Daripada membahas inisial, apa kematian dan ciri-ciri korban sudah diumumkan kepada masyarakat?” tanyaku.

            Tae Hwa-hyung mengangguk, “Sudah, kok. Ya… baiklah, untuk saat ini kurasa cuma segini informasi yang bisa kita dapat. Aku akan memeriksa TKP sekali lagi. Seung Hyun, kau ikut aku.”

            Seung Hyun berdiri, “Baik, sunbae.”

            “Jong Hoon, kau ambil hasil otopsi di labor ya.” ujar Tae Hwa-hyung sambil berdiri.

            Jong Hoon mengangguk, mereka pamit dan segera berlalu keluar ruangan. Hee Ra tampak sedang berfikir.

            “Oiia, Min Ho. Apa kita harus menghadiri pernikahan Jung Hee?” tanya Hee Ra tiba-tiba.

            “Ah, benar juga. Aku hampir melupakannya, Hee Ra.” Aku terdiam sejenak, “Tapi, aku rasa kita harus menyelesaikan ini dulu.”

            Hee Ra mengangguk, “Baiklah.”

            “Apa kau ingin ke TKP lagi, Hee Ra?” tanyaku.

            Hee Ra menggelengkan kepalanya, “Aku rasa berkas-berkas ini cukup.”

To Be Continued…

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

19 thoughts on “Love It Hate It – Part 1”

  1. yei . . . .i’m the first#gayanya pake bahasa inggris

    oennie lanjutannya jangan lama-lama ya . . . .
    ditunggu

  2. LRR sama LJJ… Lee Ru Ri sama Lee Jae Jin!!!! iya nggak???
    tapi itu pasti bukan Ruri korbannya, tapi aku yakin pelakunya Ruri, dia menyelipkan cincin itu buat bukti kalo itu Ruri?? terus si pelaku nanti yg membuat seolah-olah yg ngelakuin itu Jung Hee??? aiiiiggghhh rumit!!!!!!!!!!!!
    ini lanjutan Police Line yaaa??? kereeeeeen!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    Lanjuuuutttannyaaa jangan lama-lama yahhhh!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  3. wah…wah…wah…
    ayo bapak/ibu inspektur kepolisian selesaikan masalah..!
    dan bwt warga tenang.hahaha*kyk kampanye*kekeke..

    next part thor..!

  4. Huaaa~ ini lanjutn police line kan?

    bnykin part minho ya.. *ngarep
    Huaahh~ pasti minho police paling keren dsna *ngayal gaje

    emm.., pngen donk polisi2ny ada love story ny jg ? Hee

    daebak! D tunggu nh lnjutnx.

  5. hwaaa lanjutan dri police line !!! ini yg di tunggu2 kira aku ngak ada lagi .. huwaa author baik !!!

    aku dah tau siapa yg mati siapa yg ngebunuh .. ini sih cuman analisa …
    si pembunuh sengaja ngejatohin pot bunganya kan yg jelas2 ada teksnya di atas .. huwahahahah
    pertamanya juga aku rada bingung kenapa bisa tepat sasaran gitu .. lgian juga klo mau ngejatohin kyk gitu psti hrus punya perhitungan waktu yg jelas, dan ciri2 si korban .. atau kebiasaan korban …
    komputer jaman sekarangkan canggih kenapa dnanya ngak di tes ….
    karna itu bakar mungkin rada susah juga sih … tpi klo ngak smpe ancur juga msih ada sisa dging atau darah …
    ribet amat ya … klo mau tau hsilnya di bkar disitu apa ngak .. bisa liat ada bekas pembakarannya ngak di lantai .. kayknya aku blom baca scene itu .. huwaaa daebbak thor …
    aku emang suka kayak gini nih …
    csi sma police line huwaaa !! kenapa ngak ada key ?? #plakk!!

  6. @Rin_Dan: yayay..! Ur the first.. Gomawo 4 reading. Bc lnjtnnya jg..

    @reenepott: wah wah… Analisa yg bgus… 😉 tapi.., baca kelanjutannya aja dh.. Biar ga pnsaran… Hihi.. Gomawo ya udah baca… 🙂

    @fanmikey: ahaha.. Iya iya.. Biar aman.. Tnggu lnjtannya.. Gomawo udah baca.. ;D

    @Irfirahzal MVP: okeh okeh! Gomawo udah baca.. Tnggu lnjtannya ya.. ^^

    @michelle: ah..iya.. Aku juga terobsesi dgn crita misteri… Mksh udah baca FF ini ya… 😉

  7. @Rima_MrsChoiFlames’Minho: Wah ide yg bgus, Rima.. Lovestory para polisi.. Boleh2.. 🙂 mksh ide nya… Ohoho..MINHO bnyakin? Sip lah.. Gomawo udah baca ya..

    @Pu3eMinHo: hihi.. Sambil mikir2.. Sama kyak aku.. Bkin’a smbil mikir keras.. Haha, gomawo ya udah baca.., bca lnjutan’a ya. Gomawo! ^^

    @Ellajuli: iya, lanjutan Police Line! ^^ Hihi… Di analisis ya? Bingung gak? Iya..bisa pake tes DNA kalo struktur DNA nya gak rusak. 🙂 gomawooo.. Ah, gak sebagus CSI kok. Aku msh pemula.. 😉 KEY? Hihi.. Itu kejutan.. Dtnggu aja ya… Gomawo,

    @nikitaemin: sesuatu diantara jonghun dan seunghyun? Ah, mereka kan satu band! FT Island. Hahaha.. #PLETAKk
    mianhae, bcanda… Gak ada apa2 kok ttg mrka.. 🙂 gomawo udah baca…

    @minkijaeteuk: kasi tw gak ya? #PLETAKK
    sori… Hmmm… Bisa jadi sih… Aku ksh tw d part brktnya ya.. Minho? Sip lah! Ha, gomawo udah baca! ^^

    @agitaraka: hihi..baca part slnjtnya ya! Biar jelas smwanya. Gomawo udah mau baca FF ini. ^^

  8. Keren ceritanya..!! Author..Yee..!! Lanjutan police line ya! Asik!
    ngomong2 pemain diceritanya banyak sekali..aku jadi rada bingung..!!
    belum lagi aku ga bisa bedain yg mana laki-laki dan yg mana perempuan~~ hhuhuhu
    Maklum reader pabo..!! kekekeke 😀
    A-Yo part 2..!

  9. @onit ysw: iyaaa, ini lanjutan police line yang DEDICATE FOR YOU.. ^^
    ah, jeongmal mianhae! Klw bingung tanyain aja..! Gak papa kok.. ^^Aku nya yg agak pabo nih, gak mikirin reader yg baca.. Yg jelas, smwa pemeran polisinya COWOK kecuali Nam Hee Ra sama Jung Ki Na.. ^^
    gomawo udah baca ya.. Jgn lp bc lnjtnnya… ^o~

    @Shin Seul Byeol: iyaaaa, ini msh serial police line kok.. ^^
    bener tebakannya.. Hihi… Gomawo udah baca ya… ;D

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s