Bus To Love

BUS TO LOVE

Author: Belbel

Main cast: Kim Yui

Support cast: Lee Taemin

Length: Oneshot

Genre: Romance

Rating: General

 

            Yui melipat tangan di dada lalu duduk dan makan lolipop, seperti yang biasa ia lakukan jika menunggu bus yang menjadi kendaraannya untuk pulang ke rumah. Ia tidak terlalu peduli dengan kertas ulangan dengan huruf C plus di samping tulisan mata pelajaran Matematika yang terlipat menjadi 2 bagian di dalam tasnya.

            Sudah 2 tahun sejak dia memutuskan untuk pulang-pergi ke sekolahnya dengan menggunakan bus. Karena ramah lingkungan, cocok untuk mengurangi polusi udara? Tidak, Yui bukan aktivis lingkungan. Karena orangtuanya tidak punya waktu mengantarnya? Bukan juga, malah orangtuanya yang menawari Yui untuk mengantar-jemput Yui.

            Tapi karena ada seseorang, pengguna bus yang sama yang membuat Yui pulang-pergi dengan menggunakan bus.

            Yui menghentak-hentakkan kakinya dengan tidak sabar, berharap supaya busnya memiliki tenaga roket agar cepat datang sehingga Yui bisa segera bertemu dengan orang itu.

            Bunyi klakson bus yang tiba di terminal SMP Negeri Konkuk bagaikan keajaiban harian bagi Yui. Dan saat Yui mulai bengong lagi, membuat imajinasi di kepalanya untuk visualisasi sketsa lukisannya yang selanjutnya, bus impiannya datang.

            Ia tidak berpikir apa-apa lagi dan langsung menaikinya ketika pintu telah dibuka.

            Seperti biasa yang Yui tahu selama 2 tahun ini, dia berdiri. Tangannya menggenggam erat lingkaran putih di atas kepalanya, sebagai tempat berpegangan untuk orang-orang yang berdiri di bus. Tidak jauh di belakangnya ada seorang manula bertongkat, dia pasti memberikan kursinya kepada pak tua itu, pikir Yui.

            Selalu baik hati seperti biasanya, pikirnya lagi.

            Yui selalu suka bagaimana rambutnya yang berwarna pirang pasir bergoyang lembut setiap kali bus bergerak. Yui selalu suka bagaimana bibirnya yang berbentuk kurva ganda sempurna menyunggingkan senyuman setiap kali dia disapa oleh seseorang.

            Tapi begitulah Yui. Hanya mengagumi dari jauh.

            Ia tidak pernah mau repot-repot menyapanya dan mengajaknya mengobrol—atau bahkan mengajaknya berkencan. Yui tahu pasti sudah banyak perempuan yang mendekatinya dengan berbagai cara.

            Mereka memang tidak pernah berinteraksi, tapi Yui cukup tahu beberapa hal tentangnya. Yui memang bukan penguntit yang mencari tahu informasi tentang dirinya sampai mengikutinya pulang ke rumah, tapi karena orang itu memang terkenal.

            Dia pelajar kelas 2 SMP swasta Cheongwoon yang terkenal dengan murid-muridnya yang merupakan juara-juara olimpiade Sains. Wajahnya yang merupakan perpaduan dari kecantikan alami dan maskulin memesona semua orang yang melihatnya. Tidak diragukan lagi, semua pelajar SMP Cheongwoon adalah anak orang kaya.

            Hanya itu yang Yui ketahui tentang dia, selain namanya.

            Yui tersenyum kepada dirinya sendiri lalu membuka tasnya dan menarik buku sketsanya keluar dan sebatang pensil. Ia tidak memerlukan penghapus; secara alami tangan Yui akan membentuk sketsa-sketsa yang sangat sempurna, bahkan belum berupa lukisan.

            Dia selalu seperti patung berjalan, batin Yui sebelum memandangnya sekali lagi dan mulai menyelesaikan sketsa berjudul An Angel In The Bus. Tentu saja, modelnya adalah orang yang selalu dia kagumi itu.

            Sesekali Yui mencuri pandang ke arahnya, ingin tahu apa yang sedang dia lakukan. Setelah itu Yui akan menggoreskan tangannya lagi di sketsanya sampai orang itu turun dari bus dan menghilang di balik tikungan.

            Sampai ketemu besok, Yui berpikir dan tersenyum kepada sosok yang sudah menghilang.

            Keesokan harinya, dia tidak muncul. Dia tidak menaiki bus. Mungkin dia sakit, atau diantar oleh orangtuanya, pikir Yui.

            Dan keesokan harinya pula, dia juga tidak datang. Masih sakit, mungkin, ia pikir kepada dirinya sendiri. Tidak perlu menunggunya.

            Yui memang tidak pernah menunggunya. Tidak pernah sekalipun ia menunggunya. Mereka bertemu, Yui memandangnya, berkata kepada dirinya sendiri, lalu selesai. Setiap hari selama 2 tahun, selalu saja begitu.

            Setelah hari ke-4 absennya sang malaikat dari Cheongwoon, Yui mulai kehilangan motivasi untuk melukis. Dia tidak pernah lagi membawa buku sketsanya ke sekolah, sekarang setiap malam dia mengurung diri di kamar, belajar dan mengerjakan PR.

            Di hari ke-15, dia muncul.

            Sebagian besar diri Yui takjub mendapati betapa ia merindukannya. Mata Yui melebar begitu melihat perubahan-perubahan kecil—yang mungkin takkan diketahui orang lain. Tapi Yui tahu. Yui selalu memperhatikannya.

            Bahunya melebar, walau sangat sedikit. Yui bisa melihat urat nadi di tangannya saat ia mencengkeram pintu bus, hasil latihan angkat beban. Bagaimana rambutnya bertambah panjang dan semakin berkilau. Entah apa yang dia lakukan selama 15 hari ini.

            Saat itu busnya penuh sesak. Dan seperti biasa, Yui duduk sendirian di bangku dobel, kedua dari belakang di sisi kanan bus. Ia tidak pernah mengijinkan orang lain duduk di sebelahnya; Yui selalu menaruh tasnya di bangku di sebelahnya, ia tidak mau diganggu orang lain saat sedang mengerjakan sketsa di dalam bus.

            Saat itu pula, tak ada lagi tempat baginya untuk berdiri. Ia harus mencari tempat duduk atau turun dari bus, mencari bus selanjutnya, dan terlambat datang ke sekolah.

            Dan matanya terpaku kepada satu-satunya tempat duduk kosong, yang diisi oleh tas yang penuh dengan kuas, palet, cat air dan buku sketsa. Tas milik Yui.

            Yui masih asyik mengerjakan ilustrasi untuk majalah sekolahnya yang berjudul Bus For Spring. Cerita dan ilustrasinya ia buat sendiri. Seorang perempuan muda yang jatuh cinta dengan orang yang ia temui di bus. Ia menulisnya berdasarkan kisah nyata. Kisahnya sendiri.

            “Permisi,” ujar sebuah suara di samping Yui. “Boleh aku duduk disini?”

            Yui beralih dari ilustrasinya kemudian mendongak—lalu terkejut. Ia tidak mempercayai hal ini. Dia pasti sedang tertidur, lalu bermimpi. Busnya kan tidak penuh? Ia menjulurkan kepala ke atas kursi di depannya lalu sekali lagi ia terkejut mendapati busnya penuh sesak.

            Yui memandangi pemuda itu sekali lagi dan tergagap. “Te-tentu saja. Silakan.” Buru-buru ia menyambar tasnya kemudian meletakkannya di samping kakinya.

            Pemuda itu tersenyum—membuat napas Yui tercekat—lalu duduk dengan anggun. Ia meletakkan tas di pangkuannya kemudian tidak berbicara apa-apa lagi.

            Yui memandang ilustrasinya lagi dan mulai melanjutkannya. Ia berpura-pura tenang, padahal tangannya gemetaran di setiap goresan pensilnya.

            Ia sadar seseorang bernapas di dekat lehernya saat ia mendapati orang itu sedang mengamati ilustrasinya, hampir meletakkan dagunya di bahu Yui.

            “A-ada apa, ya?” tanya Yui gugup. Ia tidak pernah sedekat ini dengan pemuda itu. Napasnya yang hangat dan wangi membuat Yui hampir menjatuhkan pensilnya.

            “Ilustrasimu,” mata pemuda itu menelusuri ilustrasi Yui. “Bagus sekali. Kau sangat berbakat.”

            “Sungguh? Terimakasih.”

            Pemuda itu melihat badge di seragam Yui kemudian memandangnya sekali lagi. Yui sekarang hampir pingsan, karena matanya yang berwarna cokelat susu yang lebar dan jernih menghipnotisnya.

            “Kau juga kelas 2 SMP?” tanya pemuda itu.

            “Y-ya. Cuma SMP negeri yang tidak bagus. Tidak seperti sekolahmu.”

            Pemuda itu memandang dirinya sendiri dan tertawa pelan. Tawanya, bagi Yui, seperti tawa malaikat.

            “Ya ampun, seragam ini terlalu dikenali banyak orang, ya. Lain kali aku harus memakai jaket untuk menyembunyikannya.”

            Demi Tuhan, Yui berpikir, dia pun cukup humoris. Apalagi yang kurang dari dirinya?

            Pemuda itu terkesiap, kemudian dengan wajah berseri-seri ia berkata pada Yui, “Uhmm, Nona, di sekolahku sedang ada kompetisi melukis. Kompetisi itu terbuka untuk siapa saja. Kau mau ikut? Kalau kau setuju, aku akan mendaftarkanmu. Gambaranmu bagus sekali.”

            Yui pasti sudah gila sekarang. Atau mungkin sudah mati.

            “Tentu saja. Aku senang sekali bisa ikut.”

            “Bagus. Ngomong-ngomong… Siapa namamu?” tanya pemuda itu sambil mengulurkan tangannya kepada Yui.

            Yui menjabat tangannya dengan tangan gemetaran dan semakin gemetaran saat ia merasakan betapa halusnya tangan pemuda ini.

            “Kim Yui. Yui saja.”

            “Namaku Lee Taemin. Taemin saja,” ia tersenyum. “Yui, itu ilustrasi untuk apa?”

            “Oh, ini? Aku mengarang sebuah cerita. Cerita yang berdasarkan pengalaman pribadi, sebenarnya. Dan aku pula yang membuat ilustrasinya.”

            Taemin mengangguk-angguk mengerti.

            “Boleh aku membacanya?”

            “Nanti saja kalau sudah selesai. Aku pasti akan memperlihatkannya kepadamu—“

            Dan agar kau tahu bagaimana perasaanku kepadamu, pikirnya.

            Selama perjalanan pulang, Taemin terus mengajaknya mengobrol. Mulai dari kehidupannya di sekolah, betapa kesepiannya ia di rumah, sampai ke hal-hal remeh yang normal, seperti membahas cuaca.

            Yui pun mendengarkan semua ucapan Taemin, lalu menjawab. Ia tetap menjadi dirinya sendiri. Ia tidak salah tingkah meski ada Taemin disini.

            Bus berhenti di tempat Taemin biasa turun. Taemin memakai tasnya lagi lalu memandang Yui.

            “Aku senang sekali bisa bertemu denganmu. Bagaimana kalau besok… Kau sisakan lagi tempat disini, untukku? Aku ingin mengobrol denganmu lebih banyak.”

            Yui mengangkat bahu dengan senang. “Sebanyak apapun yang kau mau.”

            “Baiklah, kalau begitu. Sampai ketemu besok, Yui.”

            Yui memandangnya turun, dan Taemin berlari ke sisi bus dimana ia bisa melihat Yui kemudian tersenyum dan melambai kepadanya. Yui membalas lambaian itu dengan senyuman ringan.

            Ia melanjutkan ceritanya—bukan ilustrasinya—kemudian berpikir kepada dirinya sendiri.

            Happy ending, aku yakin.

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

35 thoughts on “Bus To Love”

  1. chingu ini ff nya ud habis or ada part selanjutanya? kalau habis yaaaa padahal mau tau kelanjutannya

  2. ini endingnya gmna? gantung aaaahh…
    ya ampun thor! gaya bahasanya keren bgt!
    bner tuh!
    sequel! sequel!
    ga puas cuma gini doang… *reader ga tau malu+tukang nawar*

  3. hoah!! bisa ngerasain apa yg dirasakan yui
    berbunga bunga
    haha bikin squelnya thor
    biar tau pas di kompetisi lukisannya

  4. kyaaa daebak. . .
    endingnya gantung gimana gitu jadinya kereeen!!
    bikin sekuelnyaa dong hehehehe

  5. Cuma bisa bilang 1 kata
    Taemin….
    Parah ini hem bangetttt
    Ga disangka yang ajakin ngomong duluan tuh taemin!!!
    Aigoo

  6. Aku jga yakin pasti happy ending.. Kkk~
    Apalagi kalo ada sequel.a.. Hehe~ :p kan blom tntu tuh, Taemin punya rasa yg sama ma Yui apa nggak.. *tadiktanyayakin*

    Good job! Suka cara author nyampein crita.a.. Sequel, dong.. 😀 #plakk

  7. yah kak nanggung banget. Padahal aku suka banget ff-nya >.<
    gantung gantung!
    ayo dong kak sequel-nya ff kakak lebih bagus kalo ada sequel-nya deh serius *nyogok

  8. aw manis banget ceritanya, so fluff~
    bener tuh kata orang2 di atas,,
    masih kurang chingu 🙂
    dilanjut ya kalo bisa 🙂

  9. eonn ~!! sequelnya yaa .. jeballl .. >.<
    daebak ffnya eonn! udah bagus banget! tinggal d lanjutin ajah.
    oke ? d tunggu yaa ~

  10. Annyeong~ ini BelBel yang nulis ff ini ^^

    Makasih chingudeul buat komennya yang sanso-gatda, dan insyaAllah bakal aku bikin sekuelnya. Oneshot lagi atau serial? Tergantung rikues okey. Bttw aku 97-line lho, kalo ada yg lbh tua dari aku jgn panggil eonni ^^ Bisa baca ff aku yg lain di shiningbells.blogspot.com

    GOMAWO~~~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s