Incomplete Marriagea

Incomplete Marriage – Part 8 End

Author : Yuyu

Main Cast :

  • Kim Jonghyun
  • Lee Hyunji

Support Cast :

  • Onew
  • Choi Minho
  • Lee Taemin
  • Lee Joonki
  • Im Yoona
  • Han Younji
  • Son Shinyoung

Genre : Romance

Rating : PG 16

INCOMPLETE MARRIAGE

Seorang yeoja dengan rambut bergelombang yang menjuntai hingga ke bahu duduk seorang diri di salah satu meja café yang berada di dekat jendela besar. Dia sedang memandang keluar jendela, membiarkan ice cappucino yang ia pesan hampir sejam yang lalu menguap begitu saja. Pandangannya menerawang jauh. Rasanya begitu tenang. Tapi ada sesuatu yang kurang di sana. Ia merasa ada yang hilang dari dirinya.

“Hi, wanita cantik. Mau bergabung dengan kami?” Seorang pria dengan hidung mancung dan rambut cokelat keemasan menghampiri wanita itu serta menunjuk ke arah meja tak jauh dari tempatnya.

“Aish, jinja. Juggoshipo?” Omel yeoja itu. Si pria itu hanya membelalakkan mata dan menggaruk kepalanya tanda tidak mengerti. Seorang pria lain dengan wajah asia menepuk pundak pria itu, berbicara dengan cepat dalam bahasa prancis dan akhirnya pria berhidung mancung itu kembali ke tempat duduknya.

“Kau tidak perlu segalak itu, Hyunji-ya.” Namja bermata sipit itu duduk di depan Hyunji yang menopang dagunya.
”Orang-orang seperti itu benar-benar menyebalkan. Omong-omong, kenapa oppa bisa ke sini? Oppa menguntitku?” Hyunji memicingkan matanya.

“Astaga, kau pikir siapa aku? Aku Lee Joonki, kenapa aku harus menguntitmu?” Joonki memutar bola matanya dan terkekeh pelan. “Kudengar kau akan pulang ke Seoul besok, benarkah?”

Hyunji mengangguk cepat, “Benar. Sudah hampir setahun aku meninggalkan keluargaku. Aku harus segera kembali karena pasti ada seseorang yang tidak henti-hentinya menunggu kepulanganku.” Hyunji tersenyum tipis. Ia akan segera menemukan sesuatu yang hilang dari dirinya dan membuat dirinya utuh kembali.

***

“Hyunji-ya!” Jonghyun segera berdiri begitu Hyunji keluar dari kamarnya. Awalnya Jonghyun tersenyum lebar, dikiranya Hyunji sudah bisa memaafkannya, tapi sepertinya tidak. Hyunji ikut menyeret kopernya keluar.

“K-kau mau ke mana? Kenapa kau harus membawa kopermu? Rumahmu di sini, memangnya kau akan ke mana?” Tanya Jonghyun bertubi-tubi. Ia benar-benar panik. Tidak, jangan biarkan mimpi buruknya terjadi.

“Aku sudah memikirkannya dengan baik. Aku—“
”Tidak! Kumohon, Hyunji-ya.. Berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semua ini.” Potong Jonghyun dengan cepat. Jonghyun mencengkram lengan Hyunji dengan erat tapi bahkan Hyunji sendiri sudah tidak bisa merasakannya lagi.

“Kupikir, sebaiknya kita berpisah untuk sementara waktu.” Lanjut Hyunji. Ia menahan airmatanya hampir saja menetes. Hyunji menarik nafas dalam-dalam, setidaknya hal itu bisa membuat dia agak tenang.

“Sementara waktu? Berapa lama?” Jonghyun melirik koper Hyunji dengan lemas. Jika yang Hyunji katakan memang hanya sementara, kenapa Hyunji harus mengemasi barang-barangnya?

“Banyak hal yang harus kupikir. Tentang pernikahan kita—yang aku tidak tau apakah masih termasuk pernikahan atau tidak. Tentang masa depanku, tentang jati diriku sendiri. Dan yang terpenting, aku ingin mencari tau tentang perasaanku sendiri.” Tukas Hyunji yang tidak mempedulikan suaranya yang bergetar pelan.

Kalimat terakhir Hyunji menohok hati Jonghyun. Apa maksudnya dia ingin mencari tau tentang perasaannya sendiri? Bukankah sudah jelas kalau Hyunji juga menyukainya? Bukankah karena itulah mereka menghabiskan tiga hari yang singkat tapi menyenangkan di Guam yang mereka sebut sebagai bulan madu?

“Noona…” Meski sangat pelan, tapi Hyunji bisa mendengar Taemin memanggilnya. Hyunji menoleh, Taemin berdiri di ambang pintu kamarnya. Taemin tidak berani melangkah maju, ia takut ia akan mengganggu pembicaraan Hyunji dan Jonghyun. Tapi Taemin juga tidak ingin Hyunji pergi.

“Kau mau pergi ke mana noona?” Taemin masih bergeming di tempatnya berdiri.

“Ke suatu tempat.” Jawab Hyunji singkat.”Tempat yang jauh dari Seoul, jauh dari Korea.” Tambah Hyunji saat ia melihat Taemin mengerutkan keningnya.

“Aku akan ikut dengan noona.” Taemin membalikkan tubuhnya, bersiap-siap untuk masuk ke kamarnya dan mengemasi barang-barang yang ia miliki.

“Taemin-ah, kumohon tetaplah di sini sampai aku kembali. Kalau tidak…” Hyunji menghentikkan kalimatnya untuk mendelik ke arah Jonghyun sekilas, “Aku takut aku tidak punya alasan untuk kembali.”

Hyunji berjalan menuruni tangga dengan sangat perlahan. Sebagian besar hatinya berteriak dan meminta Jonghyun untuk mencegahnya lagi. Tapi Jonghyun hanya terpaku di tempatnya berdiri saat ini. Ia tidak bisa mengeluarkan suaranya, terlebih lagi dia tidak bisa membalikkan tubuhnya untuk memandang punggung Hyunji yang semakin menjauh.

Apakah semuanya berakhir seperti ini? Kenapa kesalahan—kebohongan—kecil harus membuat mereka seperti ini?

“Jonghyun-ah.” Panggil sebuah suara dari sebelah Jonghyun. Jonghyun membuka matanya dan mengerjap dengan cepat ketika matanya tiba-tiba saja bertemu dengan cahaya matahari yang menembus jendela pesawat.

“Jonghyun-ah.” Panggil suara itu lagi. Jonghyun menutupi mulutnya yang menguap lebar dan menoleh ke samping. Im Yoona, teman kampus sekaligus sekretarisnya itu tengah menatap Jonghyun.

“Kenapa kau selalu tertidur setiap kali kita melakukan perjalanan dinas sih? Memangnya kau tidak tidur semalam?” Omel Yoona. Jonghyun hanya tersenyum tipis. Yoona beranjak dari tempat duduknya diikuti oleh Jonghyun yang menuruni pesawat. Perjalanan dinas Seoul-Tokyo sudah menjadi kegiatan rutin yang dilakukan Yoona dan Jonghyun.

Setahun belakangan, Jonghyun selalu menyibukkan dirinya dengan membantu di perusahaan Tuan Kim. Dia beralasan kelak dia yang akan mengurus perusahaan itu, jadi dia ingin membiasakan dirinya lebih dulu. Tapi siapa yang bisa dia bohongi? Orangtuanya, Shinyoung, Onew bahkan Taemin tau apa yang membuat Jonghyun menjadi gila kerja.

Jonghyun selalu menghabiskan waktunya di kampus dan kantor. Begitu pulang ke rumah, dia juga akan membawa banyak sekali pekerjaan untuk dilakukan kalau dia tidak memiliki tugas dari kampus. Jonghyun bahkan tidak memiliki waktu santai untuk sekedar beristirahat, karena dia memang tidak mau mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.

“Siapa yang akan menjemput?” Tanya Yoona setelah mereka mengambil bagasi mereka.

“Supir perusahaan, tapi mungkin baru akan datang setengah jam lagi.” Jonghyun memandang jam tangannya dengan tidak sabar. Setengah jam? Apa yang harus dia lakukan selama setengah jam? Setelah jam adalah waktu yang sangat panjang baginya untuk kembali membiarkan Hyunji mengacau pikirannya.

“Bagaimana kalau kita tunggu di café sana dulu?” Yoona menyarankan Jonghyun yang terlihat bingung. Jonghyun mengangguk pelan. Dengan langkah malas, Jonghyun mengekor di belakang Yoona.

Mereka berdua duduk di samping jendela kaca besar yang menghadap ke jalan. Untuk mengusir rasa bosan, Yoona dan Jonghyun berbincang-bincang santai. Setidaknya kegiataan ringan seperti ini agak membantu Jonghyun untuk merasa lebih santai.

“Bisa kau lihat jadwalku dan carikan waktu kosong?”

Yoona mengeluarkan hp nya dan mulai mecari waktu kosong seperti yang Jonghyun minta.

“Besok tidak ada rapat penting di kantor, tidak ada jadwal kuliah yang penting juga. Kenapa? Kau ingin pergi berlibur ke Guam lagi? Seorang diri? Memangnya menyenangkan?” Cibir Yoona yang tidak pernah mengerti kenapa Jonghyun suka sekali mencari waktu kosong dan berlibur ke Guam seorang diri.

Jonghyun mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Yoona tidak akan pernah tau alasan yang membuat Jonghyun bolak-balik ke Guam dalam setahun ini.

Jonghyun menatap kepulan asap diatas kopi hangatnya. Merasa tidak tertarik untuk meneguk kopinya, Jonghyun menatap keluar jendela, mencoba mencari sesuatu yang menarik. Matanya terbelalak lebar. Nyaris saja dia bertariak dan berdiri dari kursinya, tapi sepertinya syaraf-syaraf ditubuhnya tidak bisa bekerja normal. Jonghyun terlalu linglung untuk melakukan apapun.

Di sana, di seberang jalanan itu, dia melihat sosok yang selalu menghantui pikirannya. Jonghyun bisa mengenali Hyunji dalam sedetik meskipun sekarang penampilan Hyunji berubah—sangat drastis. Jonghyun berani bersumpah ada banyak namja yang tergila-gila pada Hyunji sekarang. Style nya yang sangat bergaya serta senyum yang semakin membuat sosok Hyunji terlihat manis tentu saja akan digemari banyak namja.

Tidak menyadarinya, kedua sudut bibir Jonghyun terangkat naik membentuk sebuah garis melengkung. Akhirnya, yeoja yang masih sangat ia cintai kembali.

Sebuah bus bandara melewati jalanan yang agak lengang, menghalangi Hyunji dari pandangan Jonghyun. Beberapa detik setelah bus itu menghilang dari jalanan, kedua mata Jonghyun kembali melihat sosok Hyunji di seberang jalan. Jelas, ini bukan mimpi ataupun khayalannya saja. Baru saja Jonghyun akan berdiri dan berlari menghambur ke seberang jalan, ia menyadari sosok Hyunji sekarang sedang bersama seorang namja. Bukannya sedang bersama saja, tapi tangan pria itu melingkari pinggang ramping Hyunji sementara Hyunji entah berkata apa lalu mereka berdua tertawa.

Jonghyun terus memperhatikan kedua orang itu yang sekarang sedang berjalan mendekati sebuah mobil.

Samar-samar Jonghyun bisa mendengar suara Yoona yang asyik berceloteh, tapi sama sekali tak menyadari kalau Jonghyun tidak menggubrisnya.

Hyunji masuk ke dalam mobil bersama pria itu. Pria itu tidak langsung menjalankan mobilnya, tapi mereka terlihat asyik mengobrol sejak tadi seolah bahan pembicaraan mereka tidak ada habisnya. Pria itu mencondongkan ke arah Hyunji yang membuat Jonghyun terkesiap. Bagaimana bisa pria itu mencium seorang wanita yang telah bersuami? Ataukah pria itu tidak tau?

Pria itu menjauhi Hyunji dan meluruskan tubuhnya. Ia melirik ke arah Hyunji dan melihat Hyunji tersipu malu.

Rasa cemburu menghampiri Jonghyun dalam sepersekian detik disusul oleh rasa kecewa dan marah. Bagaimana mungkin Hyunji melakukan hal itu? Meskipun mereka telah berpisah selama setahun, tapi status mereka di mata hukum masih sepasang suami-isteri. Tega sekali Hyunji?

Tapi yang paling mengganggu pikiran Jonghyun adalah, apakah Hyunji sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya saat ini?

***

“Kau benar-benar mengejutkanku, oppa. Kenapa kau tidak bilang kalau kau akan kembali ke Seoul juga?” Omel Hyunji yang masih ingat betapa terkejutnya dia saat Joonki tiba-tiba saja muncul di hadapannya sambil membawa koper di bandara Paris.

Joonki terkekeh pelan, merasa senang karena telah berhasil membuat Hyunji terkejut.

“Awalnya aku ingin memberitaukannya padamu, tapi Seojung melarangku. Katanya akan lebih menarik kalau membuastmu terkejut, dan ternyata memang benar.” Ucap Joonki senang. Hyunji memutar bola matanya.

Angin bertiup cukup kencang setelah mereka keluar dari Incheon International Airport. Untung saja Hyunji memakai mantel hangatnya.

“Kapan oppa akan berangkat ke Jeju-do?” Tanya Hyunji sambil membenarkan bentuk roknya yang tertiup angin.
”Besok pagi. Hari ini aku harus bertemu dengan kakek mu dulu, kalau tidak beliau akan marah-marah pada Seojung.” Gerutu Joonki.

“Well, mau bagaimana lagi, halaboeji sangat senang karena akhirnya dia akan mendapatkan menantu laki-laki. Oppa tidak tau bagaimana takutnya halaboeji tentang masa depan Seojung eonni. Dipikirnya eonni tidaka akan mau menikah.” Hyunji terkekeh pelan dan menepuk pundak Joonki. Joonki sendiri tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Benar. Sebentar lagi ia akan menjadi bagian dari keluar Hyunji.

“Omo!” Pekik Hyunji. Sisa-sisa salju semalam masih membekas di jalanan dan membuat Hyunji terpeleset. Dengan sigap Joonki meraih Hyunji sebelum bokong Hyunji menyentuh lantai yang dingin dan kotor.

“Kurasa sia-sia saja aku merubahmu selama ini. Kau memang terlahir sebagai namja.” Ejek Joonki. Bukannya marah, Hyunji justru tertawa. Meski sekarang ia sudah bisa berjalan dengan tegap saat memakai high heels, terkadang ia tetap merasa canggung.

“Ayo, kita harus segera check-in, setelah itu mengunjungi kakekmu. Aku yakin beliau sudah tidak sabar untuk bertemu denganku lagi.” Ucap Joonki dengan sombong.

Hyunji menggeleng-gelengkan kepalanya melihat calon paman iparnya yang tidak pernah lepas dari rasa percaya dirinya yang sangat berlebihan.

Hyunji masuk ke dalam mobil yang telah disewa oleh Joonki dan mengenakan sabuk pengaman.

“Tidak bolehkah jika aku tidak mengunjungi kakek?” Gerutu Hyunji. Joonki menyeringai pelan lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Hyunji.

Hyunji mengerjap dengan cepat saat ia melihat wajah Joonki tiba-tiba saja berada sangat dekat dengannya.

“Bilang saja kalau kau sudah tidak sabar ingin bertemu dengan suamimu.” Ejek Joonki lagi. Joonki menjauh dan meluruskan tubuhnya lalu melirik Hyunji yang tersipu malu.

***

“Noona!!” Teriak Taemin sekencang mungkin saat ia mendapati Hyunji tengah duduk di ruang keluarga kediaman Kim bersama Nyonya Kim. Taemin langsung menghambur ke pelukan Hyunji padahal Hyunji belum sempat mengatakan apapun. Nyonya Kim tersenyum kecil melihat betapa senangnya Taemin sekarang dan Nyonya Kim tidak bisa berhenti menebak-nebak seperti apa reaksi Jonghyun nanti.

“Aigoo! Ke mana rambut jamurmu? Dan sejak kenapa kau mengecat rambutmu dengan warna merah menyolok seperti ini?” Hyunji mengacak rambut Taemin dengan geram.

“Sekarang aku sudah jadi mahasiswa, noona. Tentu saja aku harus tampil lebih dewasa. Omong-omong, sejak kapan noona memakai rok?” Taemin menatap Hyunji dari atas hingga ke bawah.

Hyunji menghabiskan waktunya seharian bersama Taemin. Hyunji menceritakan apa saja yang telah ia lakukan selama setahun di Paris bersama Seojung. Hyunji menceritakan tentang Bibi mereka yang sepertinya akan menikah akhir tahun nanti. Hyunji juga bercerita bagaimana calon suami Seojung membantunya untuk tampil lebih girly dan juga tentang impian Hyunji untuk menjadi seorang desainer sekarang.

Waktu berlalu sangat cepat seiring dengan rasa gugup yang melanda Hyunji. Sebentar lagi ia akan bertemu dengan Jonghyun. Ia tidak tau apakah ia sanggup untuk berdiri dengan benar saat itu. Hanya dengan membayangkan wajah Jonghyun yang tersenyum saja sudah membuat lutut Hyunji lemas. Ia ingin segera melihat Jonghyun, mendapatkan senyuman hangat yang selalu diberikan oleh Jonghyun untuknya.

“Ikutlah makan malam dengan kami. Jonghyun akan pulang sebentar lagi.” Bujuk Nyonya Kim yang berusaha menahan Hyunji.

Hyunji duduk dengan gelisah di meja makan saat Nyonya Kim bilang Jonghyun sudah sampai. Dalam hitungan detik, Hyunji bisa melihat wajah Jonghyun yang ia rindukan.

“Aku pulang.” Sapa Jonghyun pada orang rumahnya yang sudah berkumpul di ruang makan. Hyunji menegang di tempat duduknya. Suara itu. Memang benar suara itu yang selalu terdengar di setiap mimpi-mimpinya. Hyunji memutar tubuhnya dengan perlahan untuk melihat Jonghyun yang terpaku ditempatnya berdiri.

Jonghyun menatap Hyunji dengan tatapan datar. Bukan reaksi seperti itu yang diharapkan oleh Hyunji. Ia berharap Jonghyun akan seperti Taemin, langsung berlari dan memeluknya dengan erat juga memberitaukan betapa rindunya dia.
”Hyunji sudah kembali, kau senangkan?” Kata Nyonya Kim yang memecahkan keheningan di ruang makan.

“Oh. Aku sudah makan dengan Yoona, kalian bisa makan tanpa aku. Aku akan mandi sekarang.” Jonghyun memutar tubuhnya dengan cepat. Hyunji masih belum bisa mengalihkan perhatiannya dari Jonghyun. Kenapa Jonghyun tidak terlihat senang? Hanya itu yang terus terngiang dibenak Hyunji, ia bahkan tidak sadar Jonghyun menyebut nama seorang wanita tadi.

***
Jonghyun duduk termenung di dalam sebuah ruangan yang awalnya kosong namun sekarang telah disulap menjadi ruang kerjanya yang berjarak beberapa pintu dari kamar tidurnya. Jonghyun menautkan kedua tangannya diatas meja lalu menopang dagu. Haruskah dia senang saat ini? Tapi ketakutannya tentang perasaan Hyunji membuat Jonghyun tidak bisa untuk tidak bersikap dingin. Bagaimana Jonghyun bisa menyambut kepulangan Hyunji dengan senyuman kalau dia tau dia akan kehilangan wanita itu segera?

Jonghyun mengusap wajahnya perlahan dan terpaku saat mendengar bunyi ketukan di pintu ruang kerjanya. Nyonya Kim menyembulkan kepalanya dari balik pintu tanpa menunggu jawaban dari Jonghyun.

“Jangan mengurung diri di ruang kerja semalaman. Kau tau kan, tidak mudah bagi eomma untuk membujuk Hyunji agar dia mau menginap di sini malam ini. Beruntung karena hujan tiba-tiba saja turun dengan deras. Bicaralah dengan Hyunji.” Ucap Nyonya Kim singkat dan langsung meninggalkan ruang kerja Jonghyun, lagi-lagi tidak menunggu jawaban dari anaknya.

Jonghyun mendesah pelan. Apalagi yang harus mereka bicarakan? Tentang perpisahan mereka? Nafas Jonghyun menjadi berat hanya dengan memikirkan kemungkinan itu. Jonghyun berjalan menuju kamarnya dengan langkah malas. Dari celah pintu yang tidak tertutup rapat, Jonghyun bisa melihat Hyunji duduk ditepi tempat tidurnya, sedang menggenggam hp dan menempelkannya ditelinga kirinya.

“Oppa akan menginap di rumah Kakek malam ini? Oh, baiklah. Aku juga tidak bisa pulang ke hotel. Hmmm, sampai junpa besok.” Itulah yang di dengar Jonghyun samar-samar dari luar ruangan.

Jonghyun melangkah masuk ke kamarnya dan menutup pintu, membuat Hyunji terkesiap kaget. Hyunji terus menatap Jonghyun sementara yang ditatap justru tak berani membalas. Tanpa mengatakan apapun, Jonghyun mengambil bantal dari atas tempat tidur dan meletakkannya di sofa.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Akhirnya Hyunji bersuara. Memang suara itu yang selalu ia rindukan. Ia akan sangat memujanya kalau saja… Kalau saja dia tidak melihat sepotong adegan memilukan tadi siang.
”Aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman, jadi aku akan tidur di sofa.” Jawab Jonghyun secepat mungkin dan masih enggan menatap Hyunji.

“Aku tidak keberatan. Inikan kamarmu juga.” Balas Hyunji. Keningnya berkerut, sejak kapan Jonghyun bersikap seperti ini padanya? Apakah satu tahun memang waktu yang cukup untuk membuat seseorang berubah secara mental?

Jonghyun memerosotkan bahunya lalu kembali meletakkan bantal yang ia ambil diatas tempat tidur.

Jonghyun berbaring di sisi kanan tempat tidur, membuat jarak sejauh mungkin dari Hyunji. Jonghyun memunggungi Hyunji yang masih tidak bisa mengerti apa yang membuat Jonghyun menjadi sedingin ini padanya. Ada banyak hal yang ingin Hyunji katakan pada Jonghyun, tapi tidak bisa ia sampaikan karena ia bingung harus mengatakan dari mana dulu dan juga sikap dingin Jonghyun membuat Hyunji jadi tidak tau harus berkata apa. Hyunji berbaring di sisi lain tempat tidur. Ia memperhatikan punggung Jonghyun dengan lekat. Padahal mereka berada di tempat tidur yang sama, tapi kenapa rasanya Jonghyun berada jauh sekali dari jangkauannya?

Jonghyun memejamkan matanya, mencoba untuk terlelap tapi jelas usahanya sia-sia. Terlalu banyak hal yang mengganggu pikirannya, bagaimana bisa dia terlelap? Mengetahui wanita yang sangat ia cinta ada di jarak sedekat ini membuat Jonghyun ingin mendekapnya sekali lagi agar wanita itu tau bahwa tak pernah seharipun dalam setahun ini ia pernah melupakan Hyunji. Tapi ia tau itu adalah hal yang bodoh. Bukan itu yang harusnya ia lakukan saat ini, tapi bertanya tentang perasaan Hyunji padanya, bertanya tentang jawaban yang selalu ingin ia ketahui. Namun, beranikah dia bertanya? Untuk mengucapkan sepatah katapun rasanya berat sekali bagi Jonghyun. Jika mereka bertahan dalam situasi ini sedikit lebih lama, mungkinkah Jonghyun bisa mempertahankan Hyunji sebagai isterinya? Tapi apa gunanya status Hyunji sebagai isteri Kim Jonghyun jika Hyunji sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padanya?

***

“Jonghyun? Yaaaa, Kim Jonghyun, apa kau mendengarkanku?” Sentak Yoona yang agak geram karena Jonghyun sama sekali tidak menanggapi kata-katanya sejak tadi. Jonghyun mendongak dengan santai, melihat Yoona melipat kedua tangannya di depan dada dan memberengut.

“Maaf, kau bilang apa tadi?” Jonghyun tersenyum tipis. Harus diakuinya, Hyunji tak pernah bisa hilang dari pikirannya bahkan bertambah parah sejak ia melihat Hyunji kembali.

“Tsk, lupakan. Tapi, sungguh, ada apa denganmu? Sejak kemarin kau terlihat aneh. Kau terus saja berada di duniamu sendiri.” Yoona mencondongkan tubuhnya, merasa prihatin atas perubahan sikap Jonghyun yang ia rasa semakin parah. Jonghyun membuka mulutnya, bersiap untuk menjawab Yoona, tapi Onew tiba-tiba saja datang dan menepuk pundak Jonghyun.

“Younji bilang Hyunji sudah pulang, benarkah itu?” Onew tersenyum lebar. Wajah Jonghyun berubah kecut dan menyadarkan Onew ada sesuatu yang tidak beres.

“Waeyo? Ada masalah apa dengan Hyunji?” Onew mengangkat alisnya sebelum duduk di samping Yoona agar dia bisa melihat wajah Jonghyun lebih jelas.

“Hanya tentang sebuah kenyataan yang harus kuterima.” Gumam Jonghyun. Jonghyun beranjak dari kursi dan pergi entah ke mana setelah bergumam tidak jelas.

“Isterinya kembali?” Yoona menoleh pada Onew yang menjawab dengan anggukan.

“Tapi kenapa dia tidak senang? Bukankah dia sangat merindukan isterinya?” Tanya Yoona lagi yang masih penasaran.

“Entahlah, kupikir Jonghyun akan melompat kegirangan saat Hyunji pulang.” Onew menerawang jauh ke tempat Jonghyun menghilang tadi.

***

“Bagaiman reunimu kemarin? Senang karena akhirnya kau bertemu suamimu lagi?” Goda Joonki saat mereka sedang duduk santai di kamar hotelnya. Joonki memandang Hyunji dari bayangannya di cermin. Biasanya Hyunji akan berceloteh panjang lebar, tapi Hyunji hanya memberengutkan wajahnya.

“Sesuatu terjadi?” Joonki membalikkan badannya dan menghampiri Hyunji lalu duduk di samping yeoja itu.

“Dia terlihat aneh. Reaksinya benar-benar jauh dari perkiraanku. Dia sangat dingin, dia bahkan tidak berbicara panjang lebar padaku. Apa mungkin dia sudah menyukai yeoja lain saat ini? Apakah keputusanku untuk berpisah sementara waktu itu salah?” Hyunji bergerak-gerak gelisah membuat Joonki terkekeh. Hyunji yang ia kenal adalah sosok yeoja tegar yang cuek, sama sekali tidak pernah memusingkan tentang apa yang orang lain pikirkan. Tapi Kim Jonghyun selalu membuat yeoja ini seperti menjadi yeoja lain yang sama sekali tidak ia kenal.

“Mungkin dia gugup? Kau masih harus memberikan jawaban padanya, tentang kelanjutan pernikahan kalian, benar kan? Bisa saja dia takut jawaban yang akan kau berikan padanya tidak seperti yang dia harapkan.” Ujar Joonki berusaha menenangkan Hyunji.

“Benarkah? Kau berpikir seperti itu?”
Joonki mengangguk dengan cepat, “Jadi kau harus berbicara dengan dia secepat mungkin.”
Hyunji berpikir tidak terlalu lama dan langsung menelpon Taemin untuk menanyakan keberadaan Jonghyun saat ini.

***

“Astaga, jangan minum lagi Jonghyun. Kau sudah mabuk.” Yoona merebut botol minuman dari tangan Jonghyun dengan kasar. Jonghyun sudah meneguk beberapa botol dan tidak pernah Yoona melihat Jonghyun seperti ini selama dia mengenal Jonghyun.
”Ada apa denganmu sebenarnya? Kau membuat aku dan Onew khawatir. Sesuatu terjadi antara kau dan isterimu?” Tanya Yoona. Jonghyun mengerjapkan matanya dengan malas dan menatap Yoona dengan lekat, agak membuat yeoja itu bergidik ngeri. Jonghyun menarik tangan Yoona dengan cepat lalu menindih tubuh Yoona diatas sofa.

“Jo—jonghyun-ah!” Panggil Yoona dengan panik.

“Apa yang harus kulakukan untuk memutar waktu? Kalau saja aku bisa, aku pasti akan segera mengakui semuanya padamu. Jadi kumohon jangan pergi, jangan tinggalkan aku dan jatuh cinta pada namja lain, Hyunji-ya.” Ucap Jonghyun dengan pelan. Yoona bisa melihat Jonghyun benar-benar sudah mabuk hingga ia menduga Yoona sebagai Hyunji, dan anehnya Jonghyun justru masih bisa berbicara cukup jelas hingga Yoona tidak merasa kesulitan untuk mengerti setiap kata yang diucapkan Jonghyun. Meskipun begitu, Yoona tidak tau harus bagaimana menanggapinya karena jelas, dia bukan Hyunji. Dia tidak bisa memberikan jawaban yang diinginkan oleh Jonghyun.

Diluar gedung, Hyunji baru saja memarkirkan mobil sewaan yang ia pinjam dari Joonki dan langsung melesat naik ke lantai tempat ruangan Jonghyun berada seperti yang diberitaukan oleh Taemin. Sebagian besar lampu-lampu dilantai itu sudah dipadamkan karena memang sudah lewat jam pulang, tapi Hyunji bisa melihat sebuah ruangan masih diterangi cahaya lampu. Hyunji berhenti sesaat, mengatur nafasnya yang agak tersengal-sengal karena berlarian sejak tadi.

“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.” Hyunji terpaku ditempatnya. Benarkah ia mendengarkan suara Jonghyun? Dia tidak sendirian? Siapa yang masih bersama dengannya disaat seluruh karyawan lainnya telah pulang? Hyunji membuka pintu ruangan Jonghyun sepelan mungkin, tidak ingin menarik perhatian Jonghyun dan siapapun yang ada diruangan itu bersamanya.

“Jonghyun…” Panggil Yoona dengan pelan. Hyunji membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak. Pemandangan yang diperlihatkan oleh matanya benar-benar membuat dia tidak bisa percaya.

“Apa lagi yang harus kulakukan agar kau percaya? Aku tidak butuh apapun, selain kau. Hanya kau seorang. Jadi jangan tinggalkan aku, jangan pernah tinggalkan aku.” Jonghyun terisak pelan sementara Yoona yang tidak tau harus berbuat apa hanya bisa menyeka airmata Jonghyun.

Hyunji hampir saja kehilangan keseimbangannya serta akal sehatnya sendiri. Jadi inilah alasan Jonghyun menjadi begitu dingin padanya? Bukan karena mengkhawatirkan pernikahan mereka, tapi karena dia sudah cinta mati pada yeoja lain? Hyunji berlari dengan cepat, tidak peduli lagi jika heel sepatunya menimbulkan bunyi gaduh yang bisa menarik perhatian dua sejoli. Atau mungkin Hyunji memang ingin Jonghyun tau dia berada di sana? Tapi bahkan setelah Hyunji masuk ke dalam lift, ia tidak melihat ada seorang pun yang keluar dari ruangan Jonghyun. Dengan hatinya yang berdebar kencang dan memberikan rasa sakit disetiap sel-sel tubuhnya, Hyunji menatap ruangan Jonghyun sebelum pintu lift tertutup.

Yoona mendengar suara langkah kaki yang sepertinya sedang berlari. Siapa itu? Karyawan kantorkah? Atau…

Tubuh Jonghyun menindih Yoona saat kesadarannya menghilang. Yoona mengerang pelan. Semoga saja siapapun yang melihat situasi tadi tidak menyalahartikan penglihatan mereka. Yoona merogoh saku celananya dengan susah payah untuk menelpon Onew dan meminta bantuan mengantar Jonghyun pulang.

***

Jonghyun dan Hyunji duduk saling berhadapan di sebuah café yang menampilkan suasana musim semi. Tidak ada satupun dari mereka yang berani membuka mulut lebih dulu. Sakit dikepala Jonghyun saat ia terbangun pagi tadi tiba-tiba menghilang saat Hyunji mengiriminya pesan singkat untuk bertemu di café ini. Rasa sakit kepalanya terlupakan begitu saja.

Sudah hampir setengah mereka berada di café itu dan hanya memandangi minuman masing-masing. Terlalu sulit bagi mereka untuk memulai pembicaraan.

Hyunji menarik nafas dalam-dalam, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari dalam lalu menyodorkannya pada Jonghyun. Jonghyun mengernyit, menatap Hyunji tanpa ia sadari lalu segera mengalihkan pandangannya ke amplop itu. Jonghyun meraihnya, mengeluarkan secarik kertas dari dalam amplop yang berhasil membuat nafasnya terhenti.

“Kurasa lebih baik kalau kita bercerai.” Ucap Hyunji santai seolah tidak menyadari keterkejutan yang sangat jelas di wajah Jonghyun.

“Kau bisa menyerahkan kertas itu padaku setelah kau menandatanginya. Aku harus pergi sekarang.” Hyunji bangkit dari duduknya agak terburu-buru, meninggalkan Jonghyun yang masih mematung. Hyunji membuka pintu café lalu berjalan keluar dan menyeka airmatanya sendiri yang bergulir begitu saja. Ia belum pernah memikirkan kehidupan seperti apa yang akan ia jalani tanpa Jonghyun, tapi dia juga tidak bisa mengikat Jonghyun disaat ia tau Jonghyun sudah memikirkan wanita lain. Hyunji masuk ke dalam mobil, sama sekali tidak menoleh untuk melihat Joonki yang menatapnya dengan iba. Hyunji menceritakan semuanya pada Joonki tentang apa yang ia lihat semalam tanpa ekspresi. Akan lebih baik jika Hyunji menangis meraung-raung, menurut Joonki. Tapi mungkin juga karena hatinya terlalu sakit hingga ia bahkan tidak bisa menunjukkan perasaannya sendiri. Joonki mendongak, menatap menembus kaca café untuk melihat Jonghyun yang menatap ke arah mereka dengan pandangan nanar. Benarkah itu adalah ekspresi terluka?

Jonghyun melihat mobil yang ditumpangi Hyunji menghilang dari pandangannya selama beberapa waktu. Ia keluar dari café, masih sambil menggenggam surat cerai itu dengan erat. Ia mengendarai mobilnya hingga ke kampus, yang ia sendiri tidak yakin bagaimana caranya dia bisa sampai dengan selamat padahal ia nyaris tidak melihat ada mobil disekitarnya, tidak juga rambu-rambu lalu lintas.

“Tidak biasanya kau datang terlambat.” Sapa Onew di meja cafetaria yang selalu menjadi tempat tongkrongan mereka. Yoona menyesap minumannya sambil terus menunggu jawaban—yang entah akan diberikan atau tidak—oleh Jonghyun. Jonghyun menghempaskan dirinya dengan malas, balas menyodorkan amplop yang hampir remuk karena ia remas sepanjang jalan. Onew mengeluarkan surat dari dalam amplop sementara Yoona mencondongkan tubuhnya ke arah Onew untuk melihat isinya. Kedua mata orang itu terbelalak lebar, tidak kalah kagetnya dengan Jonghyun saat menerima surat itu beberapa puluh menit yang lalu.

“Akhirnya… Dia mengatakan cerai padaku.” Kata Jonghyun dengan pandangan kosong. Gumpalan airmata menumpuk dipelupuk matanya dan memburamkan penglihatannya padahal dia sendiri tidak tau apa yang sedang ia lihat. Jonghyun mencoba untuk menenangkan dirinya dengan menarik nafas dalam-dalam, tapi yang terdengar justru isakannya, membuat kedua sahabatnya serentak menoleh pada Jonghyun.

“Kupikir aku sudah siap untuk ini, tapi tetap saja rasanya sangat menyakitkan.” Jonghyun memukul dadanya agak kuat untuk menghilangkan rasa sesak yang tiba-tiba saja mencengkramnya. “Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tidak pernah ingin melepasnya. Tapi aku juga tidak bisa menahannya jika dia ingin pergi.”

Onew berdiri dari tempat duduknya dan dengan cepat telah berada disamping Jonghyun. Onew melingkarkan lengannya di leher Jonghyun dari samping, memeluk sahabatnya dengan erat. Ia tidak peduli meski lengan kemejanya basah oleh airmata Jonghyun asalkan ia bisa sedikit saja membantu Jonghyun meski ia tau apa yang ia lakukan masih jauh dari kata menghibur.

***

Jonghyun berdiri di depan pintu kamar hotel Hyunji. Jonghyun menunduk dan terus menatap surat cerai ditangannya. Dengan berat hati ia telah menandatanganinya tadi. Ingin sekali dia merebok surat itu, lalu membakarnya hingga menjadi abu dan membiarkannya terbang dibawa angin hingga ke tempat yang sangat jauh dan tak bisa kembali. Tapi apa gunanya? Apakah dengan begitu Hyunji akan mengubah keputusannya? Apakah dengan begitu, Hyunji akan… Akan menyukainya lagi? Ataukah Hyunji bahkan pernah menyukainya? Jonghyun menelan air liurnya sendiri sebelum membunyikan bel. Tidak butuh waktu lama hingga Jonghyun mendengar suara derap langkah dan pintu kamar Hyunji terbuka.

“Maaf mengganggumu malam-malam seperti ini. Aku hanya ingin memberikan surat ini padamu. Aku sudah menandatanganinya.” Jonghyun mengangkat surat cerai di tangannya dan menyerahkannya pada Hyunji. Jonghyun dan Hyunji saling bertatapan, tidak mampu membuka mulut. Jonghyun tersenyum tipis, tangannya bergerak maju untuk menyentuh puncak kepala Hyunji, tapi ia segera mengurungkan niatnya. Kalau dia menyentuh Hyunji sedikit saja, ia pasti akan benar-benar merobek surat yang sekarang ada ditangan Hyunji.

“Kau harus bahagia.” Jonghyun berdeham pelan saat suaranya bergetar. “Selamat tinggal.” Lanjut Jonghyun dengan cepat. Jonghyun tidak perlu dan tidak mau menunggu reaksi apapun dari Hyunji karena ia sudah tidak bisa menahan airmatanya lagi—dan tentu saja dia tidak ingin Hyunji melihatnya. Aneh, dia sudah menangis seharian dan sekarang dia masih mampu menangis?

Hyunji menatap surat cerai yang ada ditangannya yang sekarang bergetar pelan. Kenapa Jonghyun menandatanganinya begitu saja? Apakah Jonghyun tidak ingin tau alasan dibalik keputusan Hyunji?

***

Hyunji berada di dalam restoran di hotel yang ia tempati. Seorang yeoja menelponnya dan mengatakan ingin bertemu dan membicarakan sesuatu yang penting dengannya. Awalnya Hyunji ingin menolak, tapi ketika yeoja it menyebutkan nama Jonghyun, rasa penasaran mendahului Hyunji.

“Annyeong haeseyo, Im Yoona imnida.” Sapa Yoona setelah dia sampai. Samar-samar Hyunji yakin ia pernah melihat wanita ini, tapi dimana?

“Kau pernah melihatku, di ruangan Jonghyun malam itu.” Sahut Yoona seolah bisa membaca pikiran Hyunji. Ekspresi wajah Hyunji berubah menjadi sebal begitu ia mengingat malam itu.

“Ternyata benar, kau yang waktu itu datang dan melihat sesuatu yang tidak mengenakkan.”
”Untuk apa kau mencariku? Mau memamerkan dirimu?” Tanya Hyunji ketus. Yoona tersenyum geli dan buru-buru menggeleng.

“Astaga, Nyonya Kim, kau cemburu pada hal yang tidak masuk akal.” Yoona terkekeh puas membuat Hyunji mengernyit.

“Dengar. Apa yang kau lihat dan dengar malam itu sama sekali tidak benar.” Lanjut Yoona. Hyunji mendengus kesal.

“Lalu menurutmu apa yang kulihat malam itu cuma khayalan? Tidak, itu semua nyata.” Hyunji berdiri dari kursinya, bermaksud meninggalkan Yoona yang omongannya semakin tidak dimengerti Hyunji.

“Tapi bagaimana kalau kata-katanya tidak ditujukan untukku?” Yoona mendongak untuk melihat reaksi Hyunji yang langsung menghentikan langkahnya, Yoona menyeringai puas. “Waktu itu dia mabuk dan mengira aku adalah kau. Jadi kata-kata itu untukmu.” Lanjut Yoona enteng.

“Benarkah?” Tanya Hyunji akhirnya. Yoona mengangguk dan tersenyum tulus.

“Dia terus meracau tentang kau yang jatuh cinta pada pria lain. Kurasa itu yang membuat dia tertekan akhir-akhir ini. Kim Hyunji-ssi, percayalah. Jonghyun sangat menyukaimu. Dia sering berpergian seorang diri ke Guam, meski aku tidak terlalu yakin, tapi kurasa itu ada hubungannya dengan kenangan kalian, bukan?”

***

“Yaaa Kim Jonghyun!” Hyunji berlari dengan cepat untuk menghampiri Jonghyun saat namja itu sedang berdiri dan menunggu pintu lift terbuka. Jonghyun sontak menoleh ke sumber suara. Hyunji berjalan dengan amat sangat perlahan dan mendekati Jonghyun. Apa yang harus Hyunji lakukan saat ini? Setelah ia tau bahwa apa yang ia lihat malam itu hanyalah kesalahpahaman semata, mana bisa Hyunji membiarkan Jonghyun pergi begitu saja?

“Kenapa kau menandatangani surat cerai itu?” Tanya Hyunji agak lirih.

“Bukankah itu yang kau inginkan? Aku hanya ingin kau bahagia, hanya itu..” Jonghyun terlihat ragu diujung kalimatnya. Ia ingin sekali menyebutkan nama Hyunji, tapi lidahnya terasa kelu.

“Apakah kau masih mencintaiku?” Tanya Hyunji lagi, kali ini lebih mantap.
”Ne?” Balas Jonghyun dengan cepat. Apakah perasaan Jonghyun saat ini masih penting bagi Hyunji? Hyunji maju selangkah lebih dekat dengan Jonghyun, membuat Jonghyun mau tidak mau harus melangkah mundur. Tidak taukah Hyunji betapa inginnya Jonghyun memeluk yeoja itu saat ini?

“Apakah kau masih mencintaiku?” Ulang Hyunji. Dia akan mempertaruhkan segalanya. Jika Jonghyun masih mengakui dia mencintainya, maka Hyunji akan melupakan segalanya, dia akan kembali pada tujuan awalnya datang ke Seoul—untuk kembali bersama dengan Jonghyun. Tapi jika Jonghyun mengingkarinya, maka…

“Ya, aku masih dan akan selalu mencintaimu.” Ujar Jonghyun agak serak. Suaranya bahkan terdengar asing ditelinganya sendiri. Senyuman di wajah Hyunji membuat Jonghyun semakin bingung. Ada apa sebenarnya dengan Hyunji? Tadi siang dia meminta bercerai, lalu menanyakan perasaan Jonghyun dan sekarang Hyunji justru tersenyum? Belum sempat Jonghyun memprotes, Hyunji melingkarkan lengannya dileher Jonghyun tanpa aba-aba dan melumat bibir Jonghyun yang hampir ia lupa bagaimana rasanya.

Kedua mata Jonghyun membulat, tangannya ingin sekali balas memeluk Hyunji, tapi ia tidak yakin dan membiarkan tangannya mematung diudara. Yeoja ini baru saja meminta cerai darinya dan sekarang justru menciumnya? Ada apa ini sebenarnya?

Lidah Hyunji menyentuh bibir Jonghyun dengan lembut, tapi cukup untuk membuat Jonghyun mendesah pelan. Jonghyun melupakan segalanya, ia tidak mau memikirkan apapun kecuali Hyunji untuk saat ini. Jonghyun memeluk Hyunji tanpa ragu, mengambil alih kendali dan melumat bibir Hyunji dengan lapar sambil terus menuntun Hyunji untuk kembali ke kamar hotelnya tanpa sekalipun menghentikan ciuman liar mereka. Hyunji mendorong pintu kamar hotel yang memang tidak ia kunci menggunakan punggungnya sementara Jonghyun menggerakkan kakinya dan menutup pintu setelah mereka masuk ke dalam. Dalam hitungan detik, Hyunji telah berbaring diatas tempat tidurnya. Bibir Jonghyun bergerak dengan cepat, menyentuh telinga dan leher yang belum ia sentuh.

Jonghyun mengangkat wajahnya untuk menatap Hyunji. Nafas mereka yang saling beradu membuat ruangan semakin memanas.

“Bukankah kau ingin bercerai dariku?” Jonghyun tidak bisa menyembunyikan nada kesedihan dari suaranya yang justru membuat Hyunji merasa bersalah. Tidak seharusnya dia melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang lebih dulu.

“Maaf.” Hyunji merengkuh wajah Jonghyun dengan satu tangan dan mengelusnya perlahan. Jonghyun merasakan dirinya menjadi tenang hanya dengan sentuhan ringan itu. Hatinya yang semula terasa sakit kini langsung membaik begitu saja.
”Maaf.” Lanjut Hyunji lagi. Hyunji sedikit mengangkat tubuhnya dan mengecup leher Jonghyun dengan cepat lalu menatap bola mata Jonghyun yang bergerak bingung. Hyunji kembali melumat bibir Jonghyun sambil berbisik pelan, “Ternyata aku memang mencintaimu. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi.”

***

Hyunji sudah terbangun sejak beberapa menit yang lalu tapi sama sekali tidak bergerak ditempat tidurnya. Ia menatap wajah Jonghyun yang masih tertidur pulas dan tersenyum kecil. Setelah puas memperhatikan wajah Jonghyun beberapa menit lebih lama, Hyunji menjulurkan kepalanya dari atas tempat dan melihat pakaian-pakaian mereka yang berserakan begitu saja dan wajah Hyunji langsung memerah begitu ia mengingat apa yang telah mereka lakukan semalam. Hyunji ingin meraih pakaiannya sebelum Jonghyun terbangun, tapi tiba-tiba saja tangan Jonghyun melingkari pinggangnya dan membuat tubuh polos mereka saling bersentuhan.

“O-omo!” Pekik Hyunji dengan pelan.

“Kau mau ke mana, hmm?” Jonghyun berbisik pelan ditelinga Hyunji.

“A-aku…”

“Bukankah semalam kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku lagi?” Jonghyun kembali berbisik ditelinga Hyunji. Hyunji memutar tubuhnya untuk berhadapan dengan Jonghyun.

“Aku tidak akan ke mana-mana.” Hyunji mengelus pipi Jonghyun, membuat si namja tersenyum senang.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” Jonghyun meraih tangan Hyunji dan menggenggamnya dengan erat. “Siapa namja yang bersama denganmu di bandara? Kenapa dia menciummu? Kenapa dia menemui Kakek? Dan kenapa kalian dekat sekali?” Tanya Jonghyun bertubi-tubi setelah Hyunji mengangguk mempersilakan. Hyunji tertawa keras dan buru-buru menutup mulutnya.

“Jadi, Joonki oppa yang membuatmu cemburu? Dia itu calon suami Seojung eonni, jadi jangan berpikir yang aneh-aneh tentangnya, araseo?”

“Benarkah? Kau tidak menyukainya?”

“Pertanyaan bodoh macam apa itu?” Hyunji memutar bola matanya. “Lalu kau sendiri? Kau tertarik pada Yoona-ssi?”

“Mwo? Yoona? Maksudmu, Im Yoona? Aku tidak pernah tertarik padanya. Sama sekali tidak pernah.”

“Pembohong. Aku melihatmu bermesraan dengannya di dalam ruanganmu.”

“Huh? Kapan?” Jonghyun menyatukan kedua alisnya sementara Hyunji duduk diatas tempat tidur. Hyunji menarik selimut tinggi-tinggi hingga cukup untuk menutupi tubuhnya lalu memandang Jonghyun dengan tajam.

“Lihat!? Kau tidak menyangkalnya! Jadi, seberapa sering kau bermesraan dengan dia?” Tuding Hyunji kesal.

“Tapi aku juga tidak mengiyakan, karena aku memang tidak pernah bermesraan dengannya.” Balas Jonghyun ikut kesal. “Kau sendiri? Dengan siapa saja kau bermesraan selama ini?”

“MWO? Yaa!” Teriak Hyunji. Jonghyun ikut duduk diatas tempat tidur, membiarkan selimut di tubuhya merosot dan mempertontonkan tubuhnya. Hyunji memalingkan wajahnya dengan cepat. Kenapa dia merasa malu saat melihat Jonghyun sekarang padahal semalam mereka sudah melakukannya? Bahkan Hyunji yang memulai lebih dulu.

Jonghyun menyeringai melihat reaksi Hyunji. Jonghyun mendorong tubuh Hyunji kembali berbaring sementara Jonghyun menindihnya.

“Aku tidak pernah bermesraan dengan Yoona, karena dia cuma temanku. Tidak juga dengan wanita lain karena aku hanya memikirkanmu seorang. Dan aku juga yakin kau tidak akan bermesraan dengan namja lain selain aku, benar kan?” Tuntut Jonghyun. Hyunji mengangguk dengan setengah pikirannya melayang jauh saat bola mata Jonghyun tidak pernah teralih darinya.

“Jadi, kita jangan bertengkar karena hal konyol ini, oke?” Tukas Jonghyun dengan lembut. Dan lagi-lagi Hyunji mengangguk tidak sadar.

“Apa aku boleh merobek barang itu, nanti?” Jonghyun mengedikkan kepalanya ke meja tempat Hyunji meletakkan surat cerai.

“Tentu, kau boleh membakarnya kalau perlu.” Kekeh Hyunji.

“Baguslah, aku memang ingin sekali membakarnya.” Jonghyun tersenyum. Wajahnya berubah serius, “Jangan pernah memberikan surat seperti itu lagi padaku, kau sangat melukai, kau tau itu?”

“Aku tau, maafkan aku.” Wajah Hyunji ikut berubah serius. Seandainya saja Yoona tidak menjelaskan semuanya pada Hyunji, apa yang akan terjadi pada mereka berdua saat ini? Bodohnya mereka karena membuat kesimpulan pada hal-hal yang tidak pasti. Ternyata benar, apa yang kita lihat belum tentu apa yang sebenarnya terjadi.

“Kau sangat cantik, Kim Hyunji.” Jonghyun menundukkan wajahnya untuk mencium Hyunji, tapi Hyunji membekap mulut Jonghyun dengan telapak tangannya.

“Waeyo?” Tanya Jonghyun dengan kesal.

“Berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah membohongiku lagi.” Pinta Hyunji.

“Aku berjanji. Selama kau bersedia menjadi Nyonya Kim Hyunji, aku tidak akan pernah berbohong. Apapun.” Jonghyun melanjutkan kegiatannya yang tertunda. Jonghyun melumat bibir Hyunji dengan lembut, memberikan ciuman selamat pagi yang manis untuk mengawali hari mereka.

“Mau menceritakan padaku apa saja yang sudah terjadi selama setahun ini? Dan sampai sekarang aku masih belum tau ke mana kau pergi.” Tanya Jonghyun setelah Jonghyun menghentikan ciuman mereka dan berbaring di samping Hyunji, mendekapnya dengan erat.

“Tentu, akan kuceritakan semuanya. Tapi, kau tidak perlu kerja hari ini?” Hyunji mendongak untuk mengintip Jonghyun.

“Hmm, tidak. Hari ini aku adalah milikmu sepenuhnya.”
”Hanya hari ini saja?” Hyunji memicingkan matanya.

“Tidak, selamanya.” Jonghyun mengacak rambut Hyunji dan mengecupnya.

“Jeongmal saranghaeyo..” Ucap mereka bersamaan.

Terkadang ada beberapa hal yang tidak bisa kita jelaskan secara rasional. Tapi jika menyangkut tentang cinta, memang tidak ada suatu hal pun yang rasional. Ketika kau kita mencintai seseorang, kita bisa merasakan kebahagiaan dan kesedihan disaat yang bersamaan, bahkan terkadang tanpa alasan yang jelas. Tapi itulah cinta, ketika kita bersama dengan orang yang kita cintai, semuanya terasa benar dan sempurna begitu saja.

THE END

a/n :: finally, fiuh ^3^

so, gimana endingnya? Masih dapetkah feel nya??

Comments are needed!

Terima kasih udah membaca sejak awal dan komen =D

Kekeke, Married By Accident akan segera menyusul^^

Buat yang belum tau, Married By Accident itu main cast nya Onew-Younji-Minho dari Incomplete Marriage =D

 

©2011 SF3SI, Yuyu.

This post/FF has written by Yuyu, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

157 thoughts on “Incomplete Marriage – Part 8 End

  1. I love you yuyu.. Demi apapun.. Jeongmal sarangahaeyo..
    This is an amazing story.. Gomawo..
    Peluh..air mata..tegang..merinding.. Ad semua disini.. T.T
    And your last quotes.. That was so sweet dear.. Neomu saranghae.. 사랑해요..

  2. Ai Isozaki | Sshie | Humauma | vaskyunew | lily | kevikevina | reeenny | sagitafunluph | minkijaeteuk | Ntha_Qran | ari | Kimjooeun | park sungkyo – shawol.jewel | Arum_oktavian | Storm | hanah | utiikizt | akimoto kumiko | liana | alskey | shinhyunrin | CHANZ | karmachameleon | rirariruu | viviariani@hotmail.com | Chaneo Chan | ch4bi_hyerin | chokeylate | jajaa | amelee | hanakimchi | flaming | viera | eca | Maria | eyyeshyukyuie | kyuwon96 | iseul | gabgabblinger | kim rye ah | hae chan | dizuraleeta ryoteuwon^^ | doramifil97 | ilmacuccha | EARTH So! | agathayaakim | chota | minnia | Zhorakey | shin~ah91 | Kim Ni Sha | Frecta_Onew_MVP | duoMinriri | ahn minyoung. | yndark | fly andin | Christiana Ruyanti Swth | fanyyesung | Tryastaem | haenidonghae | secondevil | my_minnie | babymiu | Izuka | NAATH13 | princekyu960518
    gomawoyo^^

  3. happy ending, aku suka ^^
    mian aku komen nya di part terakhir, gak tau mesti komen apa ..
    FF nya ini bagus bgt, feel nya dapet ,
    pokoknya DAEBAK deh (y)

  4. Ini salah satu ff trbaik yg pernah aku baca…. daebak!
    Dan ff ini jg yg buat aku mau baca setiap ff yg main cast nya Jjong.
    (secara,slama ni aku cm fokus ma ff yg main castnya Jinki / Minho aja)
    Entah kenapa, karakter Jjong dsini ‘badboy cute’ bg aku…. n aku suka!
    kyaaa……………..istilah apaan tuh…? (dilempar Jinki pake’ tulang ayam…)

    Tp please, author… Aku msh mnunggu MBA nya….
    Cepetan part 9 nya yah…. jebal…..

  5. huh~ #lapkeringet

    akhirnya happy end jg.

    gemes banget sm kesalahpahaman mereka soal yoona n Joonki.

    Ni salah satu FF terbaik yang pernah aku baca.

    DAEBAK!!!

    Next baca Married By Accident-nya Onew.

  6. Hallo author. Maafkan saya karena saya selama ini selalu jadi SR. Kali ini Tobat. Saya sudah lama baca karya-karyamu tapi tidak pernah berani komentar.
    Author selalu menggunakan ungkapan-ungkapan manis di setiap cerita yang disajikan, konflik yang disajikan pun benar-benar nyata, karena apa ? karena memang cerita yang di angkat merupakan pencerminan dari kehidupan masa sekarang.
    Karakter yang digambarkan juga sangat baik. Alurnya pun tidak tergesa-gesa. Semua berjalan begitu pelan namun jelas, padat, dan tidak bertele-tele. Dan satu lagi, Author selalu berhasil menciptakan sebuah FF dengan tema “pernikahan” yang menurut saya itu selalu membuat reader penasaran, karena apa ? karena konflik dari kehidupan pernikahan itu sangat banyak. Baik dari segi sex, materi, hingga cinta lama.
    Maaf baru komentar. Sungguh saya orang terbodoh yang baru komentar sekarang.
    Oke thor, saya selalu check kapan kamu update. FF mu terbaru juga saya baca. “Wrong Path” ! Hahahah BOW

  7. halo kak,,,aku udah baca crt mu yg incomplete marriage tp baru coment skrg hahaha!! amap ya,,soal nya kdg walaupn mau comment tp suasana hati gak mendukung,,buknnya gak mau komen,,ehehehe

  8. Kyaa~
    Akhirnya berakhir dengan manis ^^
    pdahal tdi udah deg-degan gegara bnyk bnget slah fahamnya…. trus sma2 diam ga mau bertanya.. tapi untunglah.. hufffhh….
    Ceritanya bagus chingu ^_^

  9. Aissshhh!!!!ini keren banget! Happy ending lagi.. author hebat banget deh.. suka banget ama ni ff . .
    thumb and hug for authorrr ^ω^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s