Remembering Sunday – Part 2

Remembering Sunday( part 2)

 Author :           Nekochan

Main Cast :     Lee Jinki, Lee Taemin, Choi Hana

Support Cast:  Kim Kibum

Length :           Series

Genre :                        Fantasy, Mystery, Angst, Romantic

Rating :           PG-13

 

Jinki’s POV

Pertanyaan macam apa itu? Kapan dia akan mati? KAPAN!? Heh! Sudah kuduga ini hanya lelucon dan gurauan yang sangat tidak berkelas. Khas remaja. Menjengkelkan sekali. Aku menatap bocah itu dengan tajam, mencoba mencari kilasan lelucon yang mungkin terpancar dari sorot matanya. Namun sorot mata itu, sorot mata penuh kejujuran, keyakinan, dan semburat kepedihan memenuhi matanya yang coklat.

            ”Kenapa kau diam?” tuntutnya. Kilasan tanda tanya kini memenuhi matanya.

            ”Kenapa aku harus menjawabnya?” tanyaku pelan. Pertanyaaanku sangat rasional. Lagipula hal yang ditanyakannya itu merupakan salah satu kode etik Pencabut Nyawa. Tidak boleh memberi tahu siapapun termasuk kolega sesama Pencabut Nyawa tentang waktu kematian seorang manusia. Terutama manusia yang berada di list tugas kita.

            ”Karena aku yang memanggilmu kesini! Dan kau harus memenuhi keinginanku!” ia memberi penekanan di hampir setiap suku kata.

            ”Kau. Bocah. Berani memanggilku kesini hanya untuk menanyakan hal paling bodoh dan tidak penting seperti ini? Bisakah kau gunakan otakmu sedikit saja? Hal yang kau tukarkan jauh lebih besar daripada yang kau dapatkan! Masuk neraka, dan tinggal di dalamnya selamanya? Itu yang kau inginkan?” bocah itu membuka mulutnya. Ternganga kaget mendengar kata-kataku.

            ”Aku masih berbaik hati, aku tidak akan mengabulkan keinginan macam itu dan pergi dari sini. Anggap saja kita tidak pernah bertemu.” aku mengeluarkan sayapku dan bersiap menangguhkan waktu untuk menghapus ingatan bocah itu.

            ”Kau… tidak akan bisa pergi dari sini! Sebelum kau menjawab pertanyaanku!!!” bocah itu menjerit. Terdengar bunyi berderak nyaring di belakangku. Betapa kagetnya aku melihat sepasang sayapku terbakar mengenaskan. Dan bocah itu pingsan.

            ’Heii… YA!” aku mencoba memanggil bocah itu. Namun ia sudah tersungkur di depanku. ‘Hei! Sayapku baru saja terbakar dan kau jangan pingsan di depanku begini donk!” aku menendang pelan lengannya. Dan lengan itu sedingin es.

            Aku segera menggenggam tangannya dan merasakan kalau tangan itu juga sedingin es. Nyaris putih dan seolah-olah tak ada darah yang mengalir. Aku memejamkan mataku dan mencoba memahami apa yang terjadi dengan bocah itu. Jelas kalau dia sampai kenapa-kenapa aku bisa kena sanksi dari Tetua nanti! Seluruh sistem di tubuhnya berkelebatan jelas di otakku. Sistem sirkular darah, sistem pencernaan, organ-organnya, struktur DNA-nya…

            ”Dia… Astaga…”

☻☻☻

Chae Rim’s POV

”Lee Taemin? Lee Taemin? Dia tidak masuk hari ini? Hmm” Yoo In-sonsaengnim menggaruk dagunya menggunakan ujung pena. Aku menatap lesu bangku Lee Taemin yang kini kosong. Aku kini menyadari betapa seringnya Lee Taemin tidak masuk sekolah. Selama sembilan bulan satu kelas dengannya hampir separuhnya dia absen, dan aku baru menyadari ketidakhadirannya sekarang.

”Dia kembali absen ya? Padahal baru 2 bulan ini dia pergi sekolah dan tidak pernah absen satu hari pun. Oke, kita mulai homeroom-nya.”

Aku nyaris tidak mendengarkan penjelasan dari Yoo In-sonsaengnim saat itu, pikiranku jauh melayang memikirkan Lee Taemin. Dia sedang apa, ya? Kenapa ya dia sering absen? Dan kenapa dia keren sekali Ya Tuhan??? Hush! Seharusnya kau mengkhawatirkan keadaannya sekarang, Hana! Bukannya malah berpikir tentang betapa kerennya dia! Aduh tapi dia keren! Dan pikiran itu terus menghinggapi kepalaku sampai akhirnya kepalaku dijitak pelan oleh Yoo In-sonsaengnim dengan buku piket.

“Choi Hana, bagaimana kalau kau kerjakan soal logika di depan?”

“….”

“Dia itu sering sekali ya tidak masuk? Kenapa, ya?” Yong Jae berkata keras-keras. Aku menolehkan kepalaku untuk melihatnya.

”Aneh sekali dia itu. Setiap pelajaran olahraga pasti tidak pernah ikut. Terus kalau diajak main sepakbola atau basket atau apa pun dia selalu menolak. Sombong sekali!” imbuh Je Ro kesal. Aku mengernyitkan keningku, kenapa mereka menggosipkan orang di depan orang ramai dan dengan suara yang besar seperti itu sih? Pikirku sebal. Aku melihat sekelilingku dan nampaknya seluruh teman-teman mulai menggosipkan hal yang sama.

            ”Kalau dihitung-hitung ada tiga bulan dia absen, tapi mengingat nilai-nilainya yang luar biasa jelas sekolah tidak akan protes.” ujar Min Young pelan. Aku mendengarnya dengan senang. Jelas Lee Taemin memang keren sekali!

”Eh, dia itu kabarnya masuk rumah sakit, lho!” Nari tiba-tiba ikut bergabung. Aku mengerjap kaget mendengar kata-katanya

            ”Masuk rumah sakit katamu?’ tanyaku.

            ”Iya. Kabarnya sih, selama ini dia itu masuk rumah sakit. Shin Ah pernah melihatnya waktu dia sedang menengok sepupunya.”

            ”Tapi kata wali kelas kita, dia sedang ada masalah keluarga!” suaraku nyaris naik satu oktaf. Mereka memandangku bingung. ”Emm, maaf.”

            ”Tapi kalau pun memang dia masuk rumah sakit, kenapa dia menyembunyikan hal itu? Apa menurutmu pihak sekolah tahu apa yang sebenarnya terjadi?” Min Young semakin mengecilkan suaranya.

            ”Waktu dia pindah kemari sembilan bulan yang lalu, rasanya ada yang aneh, ya. Aku dengar kalau dia itu mengidap penyakit parah. Entahlah…” rahangku hampir jatuh saat mendengarnya. Aku sudah tidak tahan lagi pada cerita-cerita gila macam itu. Pikiran mereka ini jelas terlalu banyak terkontaminasi drama-drama melankolis jaman sekarang!
GREEK. Aku memundurkan kursi dengan berisik.

            ”Hana? Ada apa?” tanya Min Young bingung.

            ”Emm. Aku mau ke toilet.”

            Aku meninggalkan kelas dengan langkah cepat. Benar-benar membuat telinga panas saja. Kenapa sih mereka senang membicarakan seseorang yang bahkan mereka tidak kenal? Emm, sebenarnya aku juga suka sih. Tapi kan ini Lee Taemin! Aku benar-benar tidak terima. Sebenarnya  kau kemana sih, Lee Taemin?

☻☻☻

Jinki’s POV

           

            Aku menatap jam yang kini menunjukkan pukul 3 dini hari, dan bocah itu sudah lebih dari 24 jam tertidur seperti orang mati. Aku masih tidak mengerti dengan kejadian semalam, bagaimana mungkin sayapku tiba-tiba terbakar? Ada apa sebenarnya? Aku memutar jari telunjukku dan menggambar pentagram dan huruf-huruf ibrani di udara dan memanggil orang itu.

            ”Jonghyun-ssi…” bisikku pelan. Dan dalam sekejap ruangan tiba-tiba saja menjadi gelap dan suara derak sayap terdengar nyaring di hadapanku.

            ”Yo, Dubu-ssi…” suara tenor itu menyapaku, jelas tidak dengan panggilan yang kuharapkan. Cih. Dia memanggilku apa tadi? Dubu? Sialan.

            ”Jangan panggil aku dengan nama itu!” aku menggertakkan gigi.

            ”Wow wow, tenang. Hahaha. Maaf-maaf. Ada apa, Jinki-ssi? Tumben-tumben kau memanggilku. Astaga, kau apakan bocah ini?”

            Aku mengerling sekilas menatap bocah itu. ”Dia memanggilku kesini.”

            Jonghyun mengernyitkan keningnya dan menatapku bingung.

            ”Bocah itu memanggilku menggunakan pentagram.”

            “Dia apa!? Astaga! Kehormatan sekali! Sudah lebih dari 50 tahun tidak ada satu pun iblis yang dipanggil menggunakan cara ini! Wow!”

            “Itu tidak penting, aku memanggilmu karena aku ingin bertanya. Apa mungkin sayap iblis bisa terbakar karena manusia?”

            ”Sayapmu terbakar?” tanyanya kaget. Aku memejamkan mataku dan memaksa sayap-sayap itu muncul. Namun yang muncul hanya puing-puing tulang kerangka yang membujur ke belakangku. Bulu-bulu hitam itu tetap tidak muncul.

            ”Kau lihat sendiri? Hanya ada kerangka tulang. Sayapnya musnah.”

            Jonghyun diam seribu bahasa. Ia menatap mantan-sayapku lekat-lekat. ”Keinginan anak ini apa sebetulnya? Dia pasti memiliki hasrat yang sangat kuat di dalam hatinya, dan hasrat itu terkumpul dalam keinginannya. Aku rasa itu yang membakar sayapmu. Maksudku, kau menolak keinginan dia ya?”

            ”Bagaimana kau bisa tau?” aku menatapnya kaget.

            ”Di atas kepalamu. Ada Salvatore.”

            “Ada apa!?” pekikku nyaring, aku meraba kepalaku.

            “Salvatore. Itu phoenix hitam. Jangan bilang kau lupa? Kita sudah mempelajari hal ini. Salvatore akan muncul jika kau berlaku salah dalam tugas.”

            “Aku tidak melakukan kesalahan apapun!”

            ”Kau menolak keinginan anak itu. Itu tidak boleh! Mengabulkan keinginan orang yang telah memanggil kita adalah suatu timbal balik dari usaha orang itu dan pengetahuannya akan pentagram dan dunia kita. Walaupun dia yang rugi sih, dia harus masuk neraka nantinya.” Jonghyun menaikkan kedua bahunya.

            ”Kita wajib mengabulkan keinginan? Itu suatu keharusan?”

            Jonghyun menganggukkan kepalanya.

            ”Kalau kau mau menunggu sayapmu tumbuh lagi sih, ya tidak apa-apa. Tapi kelihatan jelek sekali, lho. Dan lagipula, salvatore itu sudah berwarna hitam kecap. Itu peringatan tingkat 2. Akan tidak menyenangkan jika ia berubah menjadi hitam eboni.”

            Menolak permintaan mengakibatkan pelanggaran tingkat 2? Astaga, seumur hidup menjadi iblis aku tidak pernah melanggar suatu apapun. Memalukan!

            ”Aku turut sedih tentang sayapmu. Lebih baik kau mengabulkan keinginan anak itu, Jinki. Dan kau bisa lihat sendiri anak itu sedang dirongrong penyakit macam apa, bukankah sedikit membahagiakan hatinya jika kita bisa membantunya?”

            Kau saja yang tidak tahu apa pertanyaannya! Omelku dalam hati.

            ”Aku harus pergi, akan ada yang meninggal karena bunuh diri di sungai Han. Sampai jumpa.” masih bisa kudengar ia memanggilku ”Dubu” sesaat sebelum dia pergi.

            Masih sangat kesal dengan kenyataan bahwa aku terkena peringatan pelanggaran, ditambah lagi bahwa apa yang dikatakan Jonghyun itu benar! Sayap ini membuatku terlihat jelek sekali, apa kata Kibum kalau sampai dia melihatku seperti ini! Aku harus pergi dari sini. Aku harus menenangkan pikiranku dan melihat lagi semua kemungkinan-kemungkinan yang ada. Aku berkeliling se-antereo rumah sakit, kemudian duduk bersandar di atap rumah sakit. Omongan Jonghyun tadi sedikit menyentil rasa penasaranku, bocah itu memiliki hasrat yang sangat kuat. Aku sibuk bergulat dengan pikiranku sampai akhirnya cahaya matahari menyibak, membutakanku.

            Aku menuruni tangga dan akhirnya memutuskan untuk berbicara dengan bocah itu sekali lagi. Aku harus mengerti apa alasannya meminta permohonan macam itu. Aku memasuki ruangannya dan bingung melihat tempat tidur yang kosong, aku segera berlari menuju halaman rumah sakit dan sangat lega karena menemukan bocah itu sedang duduk di bangku kayu. Melelahkan sekali kemana-mana tanpa sayap. Aku merutuk dalam hati.

            “Sejak kapan kau terjangkit penyakit itu?” tanyaku. Ia tersentak kaget. Aku bsia melihat sorot terkhianati yang terpancar dari matanya. Apa ia merasa terkhianati karena aku tidak mau mengabulkan keinginannya?

            ”Sejak aku berumur 13 tahun. Aku terkena penyakit ini saat transfusi darah ketika ibuku kecelakaan.” aku menaikkan kedua alisku.

            ”Apakah kau benar-benar tidak bisa mengabulkan keinginan ku?”

            ”Beri aku alasan mengapa aku harus mengabulkannya.”

            Bocah itu menarik nafas dalam-dalam. “Sudah terlambat bagiku untuk menyembuhkan diri, dan semua gejala sudah mulai tampak.”

            “Dan kenapa kau ingin tahu hari kematianmu? Bukankah sebagai manusia kau butuh semangat dan dorongan untuk tetap hidup? Kalau kau mengetahuinya bukankah itu akan membuatmu putus asa?” lagi-lagi dia menarik nafas. Aku memperhatikan sinar matahari yang terbias melalui rambutnya yang pirang, nampak sungguh indah.

            ”Meskipun ada orang yang hidup lama setelah terjangkit penyakit ini, aku ingin tahu kepastian diriku. Aku terlalu lama… merasakan sakit dan disisihkan oleh masyarakat. Aku berulang kali pindah sekolah, karena begitu gosipku menyebar aku tidak akan bisa menjalani hidup yang normal. Orang-orang menjauhiku. Mereka tahu, dan akupun tahu kalau penyakitku menular.”

            ”Tetapi kalau aku tahu kapan batas waktuku, aku pasti bisa berpikir lebih positif. Dua atau tiga tahun lagi… jika impianku tidak terwujud, kapan pun aku mati tidak akan ada bedanya,” aku tahu aku tidak memiliki jantung atau apa pun, namun aku merasakan sesuatu yang lain di dalam dadaku. Inikah yang namanya simpati dan kesedihan?

            ”Aku tidak ingin menjalani hidup dengan berpikir bahwa besok aku akan mati.”

            ”Kalau membuat kontrak dengan iblis jiwamu akan pergi ke neraka. Kau tidak takut dengan hal ini?” aku masih mencoba meyakinkan bocah itu. Tidak ada gunanya jika bocah se―aku sebal mengakui hal ini―baik dia harus pergi ke neraka.

            ”Aku tidak takut akan hal-hal sesudah kematian.” jawabnya enteng. Bocah ini lebih ingin mengetahui kebenaran daripada mukjizat yang mungkin ada. Namun faktanya adalah sesuatu yang bahkan membuatku takut.

            ”Baiklah…” bisikku pelan. Aku menutup mataku dan aku bisa merasakan angin berhembus kencang. ”Aku, Jinki. Iblis generasi ke 345.648.982, spesialisasi pencabut nyawa, mengangkat Lee Taemin menjadi tuannya sampai waktu ajal menjemputnya.” derak sayap terdengar nyaring, benarlah kalau begitu. Aku harus mengabulkan keinginan bocah ini.

            Aku menjangkau dagu bocah itu dan mendekatkan kepalaku. ”Kau tidak perlu menunggu 2-3 tahun lagi. Musim dingin tahun ini, tanggal 25 Desember, aku akan menjemputmu. Hiduplah seperti biasa hingga hari itu tiba…”

——————–tbc——————-

N.B: Waduh, aku minta maaf sekali karena part 2 nya kelamaan. Mianhae… >_<

Ini FF ke-2 ku, dan banyak yang bilang di FF pertamaku kalau aku ini sangat deskriptif. Jadi kurang dialog, dan ini merupakan transformasi diksi-diksi yang biasa aku gunain. Aku butuh waktu lama buat ngubah caraku nulis. Gimana chingu? Kalau ada yang masih kurang tolong diberi saran ya.

 Dan makasih banget untuk yang uda bersedia luangin waktu baca FF ini. Aku ngucapin makasih bgt buat yang komen di part 1 kemarin, oiya  bayangan tentang pencabut nyawa memang komik banget, aku appreciate chingu yang bilang ini kayak komik. Hehe. dan aku emg tertarik untuk buat cerita tentang shinigami. 😀 dan kalian semua bisa bayangin ekspresi Jinki waktu dia solo-shoot di MV Love like oxygen. Di situ dia dingin banget! Dan kalau untuk gaya pakaiannya, kalian bisa bayangin waktu mereka perform di SBS Gayo Daejun 2010 kemarin. Kira-kira begitu. Hehe. Buat yang kelas 3 SMA, semangat ya UNnya! Kalau bisa ngelanjutin kuliahnya ke STAN aja, biar ketemu ama author. Kita bisa ngmongin SHINee! Hehe… sekali lagi triple scoop thank you untuk chingu semua. Annyeong… -^^-

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

15 thoughts on “Remembering Sunday – Part 2”

  1. WUAHHHHH . . . . . . .I’m the 1st 😀
    Kayaknya femiliar gtu oen sama ceritanya . . .
    tapi nggak ingat baca di mana
    bagus oen tapi kayaknya kependekan deh
    Next partnya ASAP ya*ngarep:P

  2. cool !! ff nya inspiratif ^^ gak mudah ditebak seperti kebanyakan ff.. nice story.. part selanjutnya jgn lama2 ya… 😉

  3. TUNGGUU!!!!
    Nanti kalo taem masuk neraka gimana???
    Aishhhh anak itu *dikeroyok taemints
    Aneh aneh aja deh pertanyaaannya
    Huaaaaa jangan matiiii T_T
    Tapi sembuh udah gabisa
    Seengganya meninggal dengan bahagia
    Jangan depresi gitu
    Lanjutt

  4. ..haa!!!!!kerend kok thor…
    akk dah nunggu luamaaaaaaaaaaaa bangedddddddd neee ff !!!haha
    *lebay…

    lanjut ya thor :D:D:D:D

  5. taemin!! aku gak rela km masuk neraka ! #plak!!
    huhuu… 25 desember? oh minmin… malang sekali hidupmu nak2 …

    DAEBAK! ffnya aku suka 😀
    lanjutannnya jangan lama2 ya ><

  6. Temin!!
    Dirimu sakit apa nak??napa putus asa gtu..haish!!
    Yaya!!jinki ya!!awas kalo brani ngambil nyawa tetem..*jitak pala onyu*
    lanjut chingu!!hehehe..^^

  7. wah akhirnya publish juga ffnya! lanjutannya jgn lamalama yaaa,
    Btw, author keren deh kuliah di stan!

  8. hyaaa taemin !! kau hidup hrus lebih lma !!! ad yg suka sma kmu !!!! taemin !! msuk neraka loh !!!! hooooooo !!!!

    author daebbak ! aku nunggu nih ff !!!!!
    lanjutannya jgn lma2!!!!

  9. nah ini dia yg kutunggu..
    Aku udh nunggu smpe rambut aku menggimbal. Haha
    Pas aku liat jdulx prasaan aku kenal dh, taunya ff keren yg aku pnasaran bgt sama sambungannya.
    Dan aku dbkin penasaran lg. Hahaha

  10. oemji keren dh ni ff…..itu taemin sakit apa ya???? a*ds kah????aku jadi keingetan serial tv supranatural dh soalnya ada pentagram2 nya gitu,hihihi…
    itu sayap si onew kebakaran,bisa numbuh lagi ga…hmmmm kalo smua malaikat pencabut nyawa seganteng itu….g kebayang dh >.<

    keren thor..lanjuuuut 😀

  11. ceritanya bagus… Saya suka dengan jalan ceritanya.dan pendeskripsian author.

    Tapi menurut saya cerita di part 1 yang sangat deskriptif itu lebih menarik, karena gaya penulisannya berbeda dari yang biasanya. Lebih baik kalau menggunakan gaya menulis sendiri.

    Sarannya sih kalau bisa gak usah mengubah keseluruhan gaya menulis kamu krn itu ciri khas yang bagus, lebih baik memperbaiki gaya menulisnya. Seperti menambah dialog tapi tidak mengurangi pendeskripsian dalam jumlah banyak.

    Ahaha mian kalau saya sok tau tapi ini cuma pendapat saya. Sumpah saya suka sama ff remembering Sunday.

    Keep Writing ^-^

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s