Love It Hate It – Part 2

POLICE LINE!

Love It Hate It: Part 2

Author : Annisa Nisa a.k.a SHINvisble Nisaa~

Cast     : Choi Min Ho,NamHee Ra

Other Cast : Inspektur Hwan, Choi Jong Hoon (FT Island: new cast), Song Seung Hyun (FTIsland), Kim Tae Hwa, Jung Ki Na, Im Dong Joon and other.

Cast for this Case: Lee Ruri, Lee Jae Jin, Park Jung Hee, Lee Ji Hyun

Length : Sequel

Genre  : Mystery, Action, Angst, Romance

Rating : General atau PG

Disclaimer:

I don’t own SHINee, they are belong to SMEnt and their family, but i do own this story. And I do own some of the cast (Nam Hee Ra, Kim Tae Hwa, Jung Ki Na, Im Dong Joon, Lee Ruri).

 

         

Nam Hee Ra POV

            Aku mengetuk-ngetukkan penaku ke meja. Aku masih berkonsentrasi ke foto-foto dan berkas yang ada di depanku.

            Tadi siang, sudah ada keterangan lengkap mengenai keadaan korban dan TKP-nya. Sampai saat ini, Tae Hwa-sunbae dan Seung Hyun sedang berusaha mencari identitas korban.

            Tiba-tiba handphone-ku berdering. Ternyata Seung Hyun.

            “Yoboseyo,” jawabku.

            “Yoboseyo, Hee Ra.. kami sudah berhasil mengetahui identitas korban. Korban bernama Lee Ruri, ia seorang karyawan di sebuah bakery di kawasan Apgujeong. Usia-nya 24 tahun, ia tinggal sendiri di Seoul. Hee Ra, apa kau bisa pergi ke Bakery tempat Ruri bekerja?

            “Baiklah, sms-kan alamat bakery nya ya.”

            “Oke. Gomawo, Hee Ra.

            Aku memasukkan kembali handphone ku kedalam saku celanaku dan segera berlari menuju parkiran.

            “Hmm.. Blingers Bakery?” gumamku saat membaca sms yang dikirim Seung Hyun. Aku langsung melajukan mobilku menuju kawasan Apgujeong.

            Terdengar handphone-ku berdering kembali. Kupasang earphone-ku, “Yoboseyo.”

            “Yoboseyo, Hee Ra. Ini aku, Jung Hee. Apa kau jadi datang ke pernikahanku?” terdengar suara Jung Hee.

            “Ah, Jung Hee. Mian, saat ini aku sedang berusaha menyelesaikan kasus. Apa pernikahanmu sudah berlangsung?”

            “Belum, Hee Ra. Upacara nya masih 3 jam lagi. Kau sedang sibuk ya? Maafkan aku..

            “Annyio, aku sedang dalam perjalanan saat ini. Kuusahakan datang ke pernikahanmu, Jung Hee. Ah ya, apa Ha Na akan datang?”

            “Ne, Ha Na akan datang, Hee Ra. Katanya dia akan datang bersama tunangannya. Ah ya, kalau bisa ajak sekalian Min Ho ya, Hee Ra?

            Aku tertawa kecil, “Ne, aku sudah mengajaknya, Jung Hee.”

            “Baiklah. Gomawo, Hee Ra. Maaf sudah mengganggumu. Annyeong,

            “Gwenchana, Jung Hee. Annyeong.”

            Panggilan berakhir tepat saat aku sampai di Apgujeong. Aku segera memarkir mobilku dan bergegas mencari Blingers Bakery.

            “Annyeonghaseo,” sapaku pada seorang penjaga toko.

            “Annyonghaseo, ada yang bisa kami bantu?” ujarnya ramah.

            Aku mengangguk sambil mengeluarkan kartu identitas polisiku dari saku. Untung saja bakery ini sedang sepi.

            “Aku Nam Hee Ra dari Kepolisian Seoul,” ujarku jelas, “Apa aku bisa bertanya beberapa hal?”

            Gadis itu tampak sedikit terkejut, “Polisi? Ne, tentu saja.”

            Aku tersenyum, “Tidak usah khawatir. Aku hanya ingin bertanya mengenai Lee Ruri. Apa gadis itu bekerja di bakery ini?”

            “Lee Ruri? Ne, dia bekerja disini. Tapi, sudah beberapa hari ini dia tidak masuk kerja.”

            “Jincayo?”

            Gadis itu mengangguk, “Ne. Tidak ada kabar tentang Ruri. Kemarin saat aku pergi ke apartemennya pun, dia tidak ada disana. Apa ada yang terjadi dengannya?”

            Aku menghela nafas, “Lee Ruri, dia ditemukan hangus terbakar di sebuah gudang beberapa hari lalu.”

            Gadis itu langsung menutup mulutnya seolah tidak percaya, “Tidak mungkin… Apa itu benar-benar Ruri?”

            “Kami sudah mengotopsi dan mengecek identitasnya. Meski terbakar, tidak semua bagian tubuhnya yang hangus,” jelasku, “Apa kau bisa mengantarku ke apartemen Ruri?”

♫ ♫ ♫ ♫

            “Dia hamil?” ulangku sekali lagi.

            Gadis yang ada disebelahku, Lee Ji Hyun, mengangguk, “Ne. Dia sudah memasuki bulan ketiga kehamilannya.”

            “Kenapa bisa?”

            Lee Ji Hyun menghela nafasnya, “Namjachingu-nya. Dia bilang, mereka tidak sengaja. Nah… ini kamar apartemen Ruri.”

            Apartemen ini tidak terlalu besar. Hanya 5 tingkat.

            “Apa kau punya kuncinya?” tanyaku.

            Lee Ji Hyun menggeleng, “Tidak. Setahuku, kuncinya hanya satu.”

            “Baiklah,” aku mengambil sebuah kawat dari dalam buku saku polisiku.

            Setelah mencobanya beberapa kali, akhirnya pintu pun terbuka. Aku dan Lee Ji Hyun segera masuk.

            “Ruri hanya tinggal sendiri. Orangtuanya sudah meninggal 1 tahun lalu karena kecelakaan. Rem mobil mereka blong. Sejak saat itu, Lee Ruri menutup dirinya. Mungkin bisa dibilang, aku satu-satunya tempat Ruri menceritakan semuanya.” jelas Lee Ji Hyun.

            Aku tertegun, “Kecelakaan 1 tahun yang lalu?”

            Lee Ji Hyun mengangguk. Kami melangkah ke kamarnya Lee Ruri. Tiba-tiba handphone-ku berdering.

            “Yoboseyo, Hee Ra.

            “Min Ho?”

            “Kau ada dimana?

            “Aku sedang di apartemen Lee Ruri.”

            “Hee Ra, pelakunya adalah seorang laki-laki.  Karena menurut keterangan para saksi, malam itu, seorang namja berhenti di gudang tua itu sambil membawa sebuah koper.

            “Benarkah, Min Ho? Lalu?”

            “Sejauh ini hanya itu yang bisa kami ketahui.

            “Min Ho, kau bersama siapa disana?”

            “Aku hanya berdua dengan Jong Hoon. Kenapa, Hee Ra?

            “Bisa kau datang ketempatku sekarang? Aku di apartemennya Lee Ruri. Lokasinya di apartemen dekat perempatan Cheonguk.”

            “Perempatan Cheonguk? Kami sudah dekat sini. Baiklah, di lantai berapa?

            “Dilantai pertama. Kamar yang letaknya dekat tangga.”

            “Baiklah, kami sudah turun dari mobil. Kau tunggu saja ya, Hee Ra.”

            Aku mengakhiri panggilan tersebut. Lee Ji Hyun ternyata sudah menghidupkan lampu kamar Lee Ruri ini. Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling kamar. Tidak ada sesuatu yang aneh.

            “Kau tau siapa saja yang dekat dengannya atau orang-orang yang dikenalnya?” aku melangkah menuju pojok kamar.

            “Hmmm… selain denganku, rekan kerjanya dan namjachingu-nya.”

            Terdapat tong sampah yang penuh dengan bola-bola kertas di pojok kamar. Aku mengambilnya satu dan membacanya,

Jae Jin-oppa, kau akan mati..

            Tulisan yang dibuat dengan tulisan tangan dan bertinta merah itu tampak sedikit mengerikan.

            Tunggu!

            “Jae Jin?” ujarku kaget.

            Lee Ji Hyun menoleh kearahku, “Ne, dia namjachingu-nya Lee Ruri. Nama lengkapnya…,”

            “Ting Tong!” terdengar bunyi bel. Aku dan Lee Ji Hyun bergegas membuka pintu. Ternyata Jong Hoon dan Min Ho.

            “Ayo, masuk. Sebelum banyak orang yang curiga,” aku menarik tangan Min Ho.

            “Baiklah, apa yang sudah kau lakukan disini?” tanya Min Ho saat pintu sudah tertutup.

            Aku menggelengkan kepalaku, “Baru memeriksa tong sampah di kamar korban. Ah, Lee Ji Hyun… siapa nama lengkap namjachingu-nya Lee Ruri?”

            “Nama-nya Lee Jae Jin.”

            “Mwo?” ujar Jong Hoon kaget.

            “L-Lee Jae-Jin?” ucapku tak kalah kagetnya.

            “Ne,” Lee Ji Hyun mengangguk, “Namanya Lee Jae Jin.”

            Aku menggelengkan kepalaku. Tenang, Hee Ra… belum tentu Lee Jae Jin-nya Jung Hee.

            “Apa boleh aku lihat fotonya Lee Jae Jin?” tanya Jong Hoon.

            Lee Ji Hyun mengangguk, “Kalau tidak salah di ponsel-ku ini ada foto kami bersama. Tunggu, aku cari dulu ya.”

            Min Ho menatap kami heran, “Apa yang sebenarnya terjadi?”

            Aku menghela nafas panjang, “Kau bilang, pelakunya adalah seorang namja dan aku mencurigai namjachingu-nya sebagai satu-satunya tersangka. Karena menurut keterangan Lee Ji Hyun, hanya ada beberapa orang yang dekat dengannya karena Lee Ruri menutup dirinya. Dia orang yang tertutup maksudku.”

            “Lalu?”

            “Cincin inisial LJJ, korban yang hamil muda, kertas-kertas yang berisi kalimat-kalimat bernada ancaman. Yahh, masih terlalu cepat untuk mengatakan ini. Tapi, Lee Jae Jin, namjachingu-nya Lee Ruri ini adalah tunangannya Jung Hee,” jelasku serius, “Kau masih ingat dengan apa yang kuceritakan padamu tentang Jung Hee dan tunangannya?”

            Min Ho mengangguk, “Apa kau yakin?”

            Jong Hoon menghela nafas, “Masih terlalu dini memastikan semua ini.”

            “Benar, aku sendiri bingung,” aku menggigit ujung bibirku.

            “PolisiNam, maaf. Sepertinya fotonya tidak ada. Maafkan aku,” ujar Lee Ji Hyun, “Tapi, biasanya Lee Ruri menyimpan foto-fotonya dalam scrapbook miliknya. Aku tau dimana dia meletakkannya.”

            “Bisa kau ambilkan tolong?” pintaku pada Lee Ji Hyun.

            Lee Ji Hyun mengangguk dan beranjak menuju sebuah ruangan disamping kamar Lee Ruri. Sepertinya ruang baca.

            “Tunangan Jung Hee adalah korban terror itu sendirikan? Lalu kenapa pada akhirnya yang menjadi korban adalah Lee Ruri ini?” gumam Min Ho, “Kalau dilihat dari kertas ini, kurasa Lee Ruri yang menerror Lee Jaejin.”

            Aku menyernitkan alisku. Berusaha memikirkannya.

♫ ♫ ♫ ♫

Choi Min Ho POV

            Semuanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.

            “Maaf, mengganggu. Ini dia foto Lee Jae Jin,” ujar gadis yang tadi diminta Hee Ra untuk mengambilkan foto Lee Jae Jin.

            Hee Ra tersadar dari pikirannya. Diambilnya scrapbook tersebut dari tangan gadis itu.

            “Dia yang berambut cokelat ini. Yang pakai jaket hitam,” gadis itu menunjuk seorang namja.

            Hee Ra dan Jong Hoon tampak sangat terkejut.

            “Tidak mungkin. Namja ini memang benar-benar Lee Jae Jin, tunangannya Jung Hee,” ujar Hee Ra kaget.

            “Oh iya, polisiNam. Aku baru ingat satu hal, kemarin sehari sebelum Lee Ruri tidak masuk kerja, aku menemani Lee Ruri membayar tagihan teleponnya yang cukup membengkak dan dia cerita bahwa dia akan menghadiri upacara pernikahan-nya Lee Jae Jin di Gangdong-gu 1 minggu lagi. Dia berencana untuk menggagalkan upacara tersebut,” ujar gadis itu pelan.

            “Gangdong-gu?” Hee Ra menyernitkan alisnya, “Itu tempat dimana Lee Ruri ditemukan.”

            “Benarkah, polisiNam?”

            Aku mengangguk, “Benar. Lee Ruri ditemukan di Gangdong-gu di dalam gudang tua.”

            “Tagihan telepon yang membengkak?” gumam Jong Hoon, “Ah, benar. Aku mulai bisa membaca kasus ini.”

            Hee Ra menganggukkan kepalanya, “Pelakunya Lee Jae Jin. Tidak salah lagi.”

            “Apa kita harus menelpon kepolisian Gangdong untuk menanyakan gedung pernikahan disana?” tanya Jong Hoon.

            Aku tersenyum. Setidaknya aku mulai paham apa yang terjadi, “Tidak usah.”

            Jong Hoon menatapku.

            “Kita temui saja langsung Tuan Lee Jae Jin. Kkaja!” aku langsung menarik tangan Hee Ra, “Kkaja Jong Hoon.”

            Hee Ra menarik tangan gadis yang berdiri disebelahnya, “Kkaja, Lee Ji Hyun. Kami akan mengantarmu dulu. Nanti kau bisa ke kantor kalau kau mau melihat mayat itu.”

            Gadis itu mengangguk. Kami keluar dari kamar apartemen Lee Ruri dan menutup pintunya.

            “Min Ho, kuharap kau bisa ngebut. Upacara penikahan Jung Hee dimulai 20 menit lagi lagi,” ujar Hee Ra sambil melirik ke jam tangannya.

            Aku mengangguk, “Baiklah, serahkan padaku.”

♫ ♫ ♫ ♫

            Kami bergegas turun dari mobil begitu kami sampai di depan gedung pernikahan Jung Hee. Lebih tepatnya setengah berlari menuju lift. Hee Ra melirik jam tangannya.

            “Apa lift nya tidak bisa lebih cepat dari ini ya?” gumam Hee Ra resah.

            Aku tersenyum kecil, “Hee Ra, jangan khawatir.”

            “Min Ho, aku hanya tidak ingin Jung Hee menikah dengan seorang pembunuh.”

            “Tenanglah, masih ada beberapa menit lagikan?” ujar Jong Hoon yang berdiri di sebelahku.

            Hee Ra mengangguk, “Ne..”

            Beberapa detik kemudian terdengar dentingan lift. Pintu lift terbuka. Aku, Jong Hoon dan Hee Ra bergegas keluar dari lift.

            “Dimana ruangnya, Hee Ra?” tanyaku.

            Hee Ra menyejajarkan langkahnya dengan langkahku, “Kalau tidak salah… ah, itu dia!”

            Hee Ra menunjuk sebuah aula yang pintunya tertutup rapat.Adadua orang petugas yang berjaga disana. Mungkin petugas keamanan gedung.

            “Kkaja!” Hee Ra menarik tanganku dan Jong Hoon.

            “Permisi, apa kami boleh masuk?” tanya Hee Ra begitu kami sampai di depan aula tersebut.

            Petugas itu menggeleng pelan, “Upacaranya akan segera berlangsung. Apa kalian tamu undangan? Bisa tunjukkan undangannya?”

            Hee Ra langsung menatapku. Aku menghela nafas sambil mengeluarkan kartu identitas polisiku. Begitupun dengan Jong Hoon dan Hee Ra.

            “Kami polisi dan di dalam ruangan ini ada seorang pelaku kasus pembunuhan,” ucapku tegas.

            “Benarkah?” petugas itu tampak kaget, “Baiklah, silahkan masuk.”

            Mereka membukakan pintu itu untuk kami. Saat pintu terbuka. Tampak dua orang pengantin yang sedang berdiri menghadap seorang pendeta.

            “Berhenti!” teriak Hee Ra lantang.

            Semua pandangan langsung tertuju pada kami. Termasuk Jung Hee dan Lee Jae Jin yang langsung berbalik menatap kami.

            “Min Ho, Hee Ra..?” ucap Jung Hee.

            “Kami membawa perintah penangkapan seorang tersangka kasus pembunuhan yang berada di ruangan ini,” aku melangkah menuju Jung Hee dan Lee Jae Jin.

            Suasana langsung riuh.

            “Apa? Tersangka pembunuhan?” ujar Jung Hee kaget.

            Lee Jae Jin menggeleng, “Mana mungkin.”

            “Siapa orangnya?” Jung Hee menatapku dalam.

            Jong Hoon menyusulku, “Tuan Lee Jae Jin, sepertinya anda harus ikut kami ke kantor polisi.”

            Aku mengangguk sambil mengeluarkan borgol.

            Lee Jae Jin tampak sangat terkejut, “Mworago? Aku? Jangan bilang..,”

            “Ne, kami mencurigaimu sebagai pelaku pembunuhan terhadap seorang wanita di Gangdong-gu beberapa waktu yang lalu,” Jong Hoon mengangguk.

            Jung Hee menggeleng. Air matanya mulai mengalir, “Tidak mungkin..!”

            “Maaf tapi, kau harus ikut dengan kami,” aku menyentuh bahu Lee Jae Jin.

            “Aku tidak mengerti apa yang kalian katakan! Pembunuhan apa? Aku tidak pernah terlibat pembunuhan apapun!” teriak Lee Jae Jin.

            “Tidak usah mengelak. Kau kenal wanita inikan?” ujar Jong Hoon sambil menyerahkan foto Lee Ruri bersama dirinya.

            “I-itu memang aku dan mantanku. Waeyo?”

            “Oppa…” isak Jung Hee.

            Lee Jae Jin memegang bahu Jung Hee, “Jung Hee, tenang. Kau harus percaya padaku. Aku tidak melakukan apapun.”

            “Lee Jae Jin, wanita itu ditemukan hangus terbakar dalam gudang tua di Gangdong-gu. Berdasarkan bukti yang ada, semua mengarah padamu dan kalaupun kau mengatakan kau bukan pelakunya, kenapa harus menolak untuk datang ke kantor bersama kami?” ujar Hee Ra lantang.

            “Karena aku tidak melakukannya dan kalian sudah merusak upacara pernikahanku!” teriak Lee Jae Jin, “Jung Hee, aku..,”

            “Tidak!” Jung Hee menepis tangan Lee Jae Jin, “Temanku tidak mungkin menuduh orang sembarangan, oppa…!”

            “Jung Hee..!” Lee Jae Jin tampak tidak percaya atas reaksi Jung Hee.

            Min Ho segera menahan kedua tangan Lee Jae Jin, “Maaf, tapi kau harus ikut.”

            “Lepaskan aku!” teriak Lee Jae Jin, “Aku tidak melakukan apapun!”

            Aku dan Jong Hoon membawa Lee Jae Jin keluar dari aula tersebut. Saat melewati Hee Ra,

            “Min Ho, Jong Hoon, selanjutnya aku serahkan pada kalian dulu. Aku harus menjelaskan dan menghibur Jung Hee dan meminta maaf pada seluruh undangan disini,” ujar Hee Ra pelan.

            Aku dan Jong Hoon mengangguk.

            “Nanti kuhubungi Seung Hyun untuk menyusul kesini,” ujarku.

            Hee Ra mengangguk, “Gomawo.”

Nam Hee Ra POV

            “Gomawo,” ucapku pada Min Ho sebelum akhirnya dia dan Jong Hoon membawa pergi Lee Jae Jin.

            Aku menghela nafas dan berjalan menghampiri Jung Hee yang tengah terisak dalam pelukan Park-ajumma.

            “Jung Hee, ajumma, ajussi.. maafkan kami sudah membuat keributan di upacara yang sangat penting ini,” ujarku pelan.

            Park-ajussi memegang bahuku, “Hee Ra, kami justru berterimakasih sekali. Ajussi tidak tau apa yang bakal terjadi kalau Jung Hee sampai benar-benar jadi menikah dengan pria itu.”

            Aku menggeleng, “Sudah merupakan kewajiban kami, ajussi.”

            Park-ajumma tersenyum.

            “Jung Hee, ajussi, ajumma… aku minta maaf sekali lagi. Memang, Lee Jae Jin tidak pasti 100% adalah pelaku pembunuhan itu, tapi semua bukti mengarah padanya. Jadi, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya.”

            Park-ajussi menggeleng, “Kami juga belum terlalu mengenal laki-laki itu, Hee Ra dan sejujurnya ajussi pun kurang suka dengan laki-laki itu.”

            Jung Hee melepas pelukan Park-ajumma. Digenggamnya tanganku, “Hee Ra, gomawo.”

            Aku menggeleng, “Tidak, Jung Hee. Aku seharusnya minta maaf karena pernikahan ini jadi berantakan begini.”

            Jung Hee memelukku, “Hee Ra, kalau saja aku jadi menikah dengannya, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri. Aku tidak tau Lee Jae Jin yang sebenarnya, Hee Ra.”

            Jung Hee cukup lama memelukku. Aku tersenyum. Setidaknya Jung Hee bisa menerima semua ini. Dia wanita yang cukup tegar.

♫ ♫ ♫ ♫

Choi Min Ho POV

            “Interogasi sudah selesai?” tanya Seung Hyun saat aku baru keluar dari ruang Inspektur Hwan.

            Aku mengangguk, “Baru 1 jam saja aku sudah capek, Seung Hyun. Aku heran dengan Jong Hoon yang bisa tahan 2 jam.”

            Kami melangkah menuju ruangan divisi Investigasi.

            “Dimana Jong Hoon sekarang?” tanya Seung Hyun.

            “Dia pulang sebentar. Katanya dia mau mandi dulu,” aku membuka pintu ruangan kami.

            “Ah ya, apa Lee Jae Jin itu mengaku?”

            Aku menggelengkan kepalaku, “Belum.”

            Seung Hyun tertawa kecil, “Makanya libatkan Hee Ra. Kurasa kalau soal argumen, dia memang tak terbantahkan.”

            Aku mengangguk, “Masalahnya, Hee Ra belum muncul sampai sekarang.”

            “Tuuuh! Dia panjang umur,” Seung Hyun menunjuk pintu yang baru saja terbuka.

            “Waeyo?” tanya Hee Ra sambil menghampiri kami.

            “Kau darimana, Hee Ra?” tanya Seung Hyun.

            Hee Ra duduk disebelahku, “Aku habis mendengarkan keterangan Jung Hee, Lee Ji Hyun dan beberapa orang lainnya. Dimana Dong Joon dan Tae Hwa-sunbae?”

            “Mereka sedang di apartemen nya Lee Jae Jin untuk mencari barang bukti lain,” jawabku, “Inspektur Hwan dan Dong Joon ternyata pulang lebih awal daripada yang lainnya karena kasus ini.”

            “Oooh.. Ah, bagaimana dengan Lee Jae Jin? Apa dia sudah mengaku?” tanya Hee Ra.

            Aku menghela nafas panjang, “Tidak. Nanti kami akan melanjutkannya lagi. Kau harus ikut menginterogasinya.”

            Hee Ra mengangguk, “Baiklah.”

♫ ♫ ♫ ♫

            Perlahan kubuka pintu ruangan interogasi. Disana sudah ada Hee Ra, Inspektur Hwan dan Jong Hoon.

            Lee Jae Jin tampak tertunduk, “Ne, aku…”

            Jong Hoon menghela nafas panjang, “Baiklah. Sekarang tolong ceritakan secara lengkap.”

            Aku mendekati Inspektur Hwan yang berdiri di belakang Hee Ra dan Jong Hoon yang duduk menghadap Lee Jae Jin.

            “Min Ho?” Inspektur setengah berbisik saat menatapku.

            Aku mengangguk, “Bagaimana, Inspektur? Apa dia sudah mau mengaku?”

            Inspektur Hwan mengangguk, “Dia sudah mengaku saat ini. Hee Ra dan Jong Hoon terus membeberkan bukti-bukti yang tidak bisa ia sangkal.”

            “Syukurlah, Inspektur.”

            “Ayo, ceritakan…” ujar Jong Hoon sekali lagi.

            Lee Jae Jin mendongakkan kepalanya, “Baiklah, kurasa sudah percuma aku menyembunyikan semuanya. Toh, aku juga akan tetap dihukum.”

            Hee Ra terdiam menatap Lee Jae Jin.

            “Aku memang melakukannya. Awalnya aku tidak punya niat sama sekali untuk membunuh yeoja itu. Tapi ia terus menerrorku dengan surat-surat dan telepon,” jelas Lee Jae Jin.

            “Sampai mencelakaimu dengan pot?” tanya Jong Hoon.

            Lee Jae Jin tertunduk, ia terdiam sejenak, “Tidak.”

            Hee Ra tampak tekejut, “Tidak? Lalu siapa yang sengaja..?”

            “Aku yang melakukan itu. Aku membuat seolah-olah yeoja itu hendak melenyapkanku. Yah, hanya itu yang kulakukan saat itu.”

            “Kau bilang, awalnya kau tidak punya niat sama sekali. Tidak mungkin hanya karena surat-surat dan telepon kau lantas berniat membunuhnya,” Jong Hoon menatapnya.

            Lee Jae Jin menghela nafas, “Tanggal dan tempat resepsi yang tertulis di undangan yang ada di laptop ku membuat gadis itu datang ke gedung di kawasan Gangdong-gu itu. Pada saat itu aku hanya ingin mengancam gadis itu, tapi tiba-tiba dia mengatakan akan melaporkanku pada polisi.”

            “Polisi?” tanya Hee Ra.

            “Ne, gadis itu mengatakan bahwa aku adalah penyebab meninggalnya kedua orangtuanya tersebut dan dia mengatakan aku yang mengambil seluruh kekayaan orangtuanya.”

            “Apa kau melakukannya?” tanya Jong Hoon tegas.

            Lee Jae Jin terdiam.

            “Jawab, Lee Jae Jin,” ujar Hee Ra.

            “N-ne, aku memang melakukannya,” kata Lee Jae Jin akhirnya, “Dia mengatakan aku menikah dengan Park Jung Hee untuk melakukan hal yang sama dan dia mengancam kalau sampai aku menikah dengan Park Jung Hee, dia akan membeberkan semuanya.”

            Aku terdiam. Ternyata kejahatan yang dilakukan Lee Jae Jin tidak hanya pembunuhan terhadap Lee Ruri.

            “Aku kehabisan akal saat itu dan menjadi gelap mata. Aku langsung mencekiknya saat itu…”

♫ ♫ ♫ ♫

Nam Hee Ra POV

            “Jadi, peristiwa kecelakaan di  Mapodaegyo (jembatan Mapo) 1 tahun lalu adalah perbuatan Lee Jae Jin juga?” Ki Na menatapku.

            Aku mengangguk, “Ne, Lee Jae Jin juga sudah menguras harta warisan orangtuanya Lee Ruri.”

            Tae Hwa-sunbae menggeleng-gelengkan kepalanya, “Benar-benar keterlaluan. Jadi, bagaimana ceritanya dia sampai membunuh gadis itu?”

            “Terror-terror yang dilakukan Lee Ruri itu hanya sebatas telepon dan surat-surat. Terbukti dari tagihan telepon yang membengkak dan surat-surat yang ditemukan di tong sampah apartemen Lee Ruri,” aku berhenti sejenak, “Tapi, kejadian di rumah Jung Hee, tunangannya Lee Jae Jin adalah perbuatannya Lee Jae Jin sendiri. Dia sengaja memperlihatkan bahwa ada yang mengincar nyawanya. Sehingga dia tidak akan dicurigai jika suatu saat ketahuan Lee Ruri muncul dihadapan Jung Hee.”

            “Maksudmu?” tanya Ki Na.

            Aku menghela nafas, “Lee Ruri hamil dan Lee Ruri bisa saja menjadikan itu bukti untuk menghalangi rencana Lee Jae Jin menikah dengan Jung Hee. Tapi, Lee Jae Jin juga sudah mempersiapkan rencana ini. Kalau Lee Ruri muncul, dia tinggal bilang bahwa Lee Ruri berbohong. Buktinya Lee Ruri sampai nyaris membunuhnya dengan pot itu.”

            “Oh, benar juga. Ternyata Lee Jae Jin itu sangat licik,” komentar Ki Na.

            “Lalu?” tanya Tae Hwa-sunbae.

            “Sebelum terror-terror itu terjadi, sepertinya Lee Ruri datang ke apartemen Lee Jae Jin dan melihat undangan yang ada di laptop Lee Jae Jin. Tapi, ternyata Lee Ruri tertipu. Tanggal dan tempat itu palsu,” aku terdiam sejenak.

            “Tunggu, jadi.. Lee Jae Jin yakin Lee Ruri akan datang ke tempat itu sesuai dengan yang ada diundangan tersebut?” tanya Ki Na.

            Aku mengangguk.

            “Kemudian Lee Jae Jin menemui gadis itu?” Tae Hwa-sunbae tampak bersemangat.

            “Ne. Awalnya Lee Jae Jin mengatakan dia tidak berniat membunuh gadis itu. Tapi ternyata Lee Ruri bukan hanya membawa kehamilannya itu sebagai bukti untuk menghancurkan upacara perkawinan Lee Jae Jin itu,” ujarku.

            “Apa lagi?” Ki Na tampak penasaran.

            “Tentu saja bukti-bukti bahwa Lee Jae Jin penyebab kecelakaan orangtuanya 1 tahun yang lalu dan bukti Lee Jae Jin sudah menguras harta warisan orangtuanya,”

            “Omo,” desis Ki Na.

            “Lalu dia membunuh Lee Ruri dengan cara mencekik gadis itu. Karena takut ketahuan, Lee Jae Jin membawa gadis itu ke sebuah gudang tua dan membakar gadis itu setelah menyiram gadis itu dengan minyak,” jelasku.

            “Kejam sekali,” ucap Tae Hwa-sunbae.

            Aku menghela nafas, “Memang. Ini sangat kejam. Untung saja Jung Hee tidak jadi menikah dengannya. Bisa saja hal ini terjadi juga pada Jung Hee.”

            Ki Na mengangguk.

            “Bagaimana hukumannya?” tanya Tae Hwa-sunbae.

            Terdengar suara pintu terbuka. Ternyata Min Ho dan Choi Jong Hoon.

            “Lebih baik sunbae tanyakan pada Jong Hoon dan Min Ho,” aku tersenyum.

            Min Ho menatapku, “Apa?”

            “Hukuman Lee Jae Jin,” jawabku.

            “Tentu saja dia akan dihukum berat. Karena dia sudah membunuh 3 orang,” Choi Jong Hoon yang menjawab.

            Min Ho mengangguk, “Benar.”

            Aku berdiri dan menghampiri Jong Hoon dan Min Ho.

            “Jong Hoon-ssi, selamat atas penyelesaian kasus pertamamu. Senang bisa bekerja sama denganmu,” ujarku sambil tersenyum.

            Choi Jong Hoon tampak sedikit terkejut. Ia kemudian tersenyum, “Gamsahamnida. Aku juga senang bekerja sama denganmu. Kuharap untuk kedepannya kita lebih baik.”

            “Ne,” jawabku.

            Min Ho tersenyum, “Ah ya, tadi Lee Ji Hyun datang kemari untuk mengurus mayat Lee Ruri. Sepertinya dia dan keluarganya juga teman-teman Lee Ruri yang akan menguburkan Lee Ruri besok.”

            “Benarkah?” tanyaku.

            Min Ho dan Choi Jong Hoon mengangguk.

            “Baiklah, besok aku akan datang ke pemakamannya Lee Ruri.Adayang mau ikut denganku?” tanyaku.

♫ ♫ ♫ ♫

Keesokan harinya,

            Upacara pemakaman Lee Ruri baru saja berakhir. Tidak banyak yang menghadiri pemakamannya. Hanya teman-temannya, rekan kerja dan beberapa orang dari keluarga jauh Lee Ruri.

            “Semoga dia bisa tenang,” ucap Min Ho. Kami masih memandangi kuburan Lee Ruri. Padahal orang-orang sudah pulang.

            Jong Hoon dan aku mengangguk.

            “Ne, tentu saja,” ujar Jong Hoon.

            Aku menghela nafas. Semoga kau bisa tenang ya, Lee Ruri. Walaupun aku tidak mengenalmu, setidaknya aku bisa merasakan bagaimana rasanya perasaanmu.

            “Hee Ra?” terdengar suara dibelakangku.

            Aku menoleh, “Jung Hee, kenapa kau ada disini?”

            Jung Hee mendekat. Ia mengenakan dress bewarna putih. Ditangannya terdapat bunga. Ia meletakkan bunga putih itu diatas pusara Lee Ruri.

            “Hee Ra..” ucapnya setelah berdoa.

            “Ne?” tanyaku.

            “Mungkin bisa dibilang aku penyebab semua ini,” ujarnya pelan.

            Aku menggelengkan kepalanya, “Tidak, Jung Hee. Jangan berkata seperti itu. Kau bukan penyebab semua ini.”

            “Tidak. Aku…,”

            “Kalau seandainya kau tidak bertemu dengan Lee Jae Jin, mungkin saja dia sudah melakukannya pada orang lain. Lagipula, kurasa memang sudah waktunya kebenaran ini terungkap. Ini sudah takdir-nya, Jung Hee. Takdir Lee Ruri, Lee Jae Jin dan juga dirimu. Jadi, jangan berkata seperti itu.”

            Jung Hee terdiam. Daribalik kacamata hitamnya, tampak air mata mulai membasahi pipinya. Aku memeluknya. Min Ho dan Choi Jong Hoon tampak tersenyum.

            “Maafkan aku, Hee Ra…” isak Jung Hee.

            “Ne, Jung Hee…” aku tersenyum.

Love It Hate It-END

a/n: Horeee.. akhirnya kelar! Maaf kalo kasus ini gaje abis. Otakku tiba-tiba blank pas nyampai di tengah cerita. Maaf kalo ada banyak kesalahannya. Maaf sudah membuat Lee Jae Jin sepertinya ini (awalnya Jae Jin FTI, tapi karena agak kejam, gak jadi!). Buat reader yang udah komen di Dedicate for You, maaf karena belum bisa bales komen2nya. Tapi aku udah baca komen2nya. Makasih udah ngomen yaaah? Karena ada permintaan untuk bikin lagi, makaaaaa terciptalah FF ini.. Tunggu Police Line berikutnya yaaa, semuanyaaa…! Police Line yang berikutnya ini kayaknya sedikit lebih berbobot daripada yang ini. (?) Makassiiiiih banyak yang udah mau bacaaaaaa and komen! Gamsahamnida!! ^o^

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

8 thoughts on “Love It Hate It – Part 2”

  1. uwooo….
    Tebakanku ketipuuu!!!!!!!!
    Sumpah aku tercengang,… Jadi gitu toh????
    Oh ya, eonni bakat juga jadi detektif…., ckckck… Daebaaaaak!!!!!!
    Di tunggu police line berikutnyaaa!!!!!
    Boleh request gaaa????
    Setelah police line bner2 tamat…. Bikinin kisah cintanya minho ma heera dooooong!!!! *jiaaah romancemaniak* hehehe… *abaikan*
    Daebak!!!!
    b(^o^)b

    1. hihi… tapi analisa kamu di part 1 mantap kok, reenepott.. ^ ^

      bakat detektif? ahaha… mungkin kebanyakan baca buku dtektif sejak kecil.. tapi sebenarnya aku bakat penjahat.. hahah.. ;p

      ahaha.. iya2.. banyak yang request love story nya. oke deh.. tungguin yaa..

      gomawo udah baca and komen, reenepott.. tunggu POLICE LINE selanjutnya yaa… ^^

  2. hyaaa kasus yg lain dong !!!!
    aku bener2 jatuh cinta sma ff ini …
    hwaaa this case closed
    aku mau dong ada kasus yg pembunuhnya salah satu dri detektif di atas ! apa kek alibinya … ahahahhah

    analisa ku bener !!!! ahahahah !!! aku mau ikutan murder di fox crime ah !! ada yg mau ikut athornya !! ayo yok !!!! #plak!!!

    kasus lainnya di tunggu ya !! ^^

    1. huaa.. ellajuli gomawooo… iya2.. tungguin cerita selanjutnya yaa… ^^

      ide baguuuus! tapi, aku gak tegaaa bikin salah satu polisi itu jadi pmbunuh… hehe… aku mah orangnya gitu… suka ga tegaan kalo ngubah karakter cast nya.. tapi, aku usahain deh.. ;D

      fox crime? aha, aku udah lama gak nonton channel nya… ;(

      okeee, gomawooo udah baca and komen.. ^^

  3. aku udah nebak jaejin yg ngebunuh n yg salah aku terka, aku pikir d part 1 tingkah y jong hoon mencurigakan n aku pikir dia terlibat tau y dia baik. . . .
    Keren ff y. . . .

  4. gomawoo, ^^
    aku gak nyangka kenapa Jong Hoon jadi terlihat mencurigakan ya?
    hoho… udah pasti dong jaejin yang bunuh.. #plakk

    makasih banyaak… makasih udah baca and komen ya… ;D

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s