Secret Of Dawn – Part 3

Author                         : Storm

Main Casts                  : Dawn, Shinee

Main Supporting Cast : Sky

Genre                          : Psychology, Life, Family, Friendship

Length                         : Sequel

Rating                         : General

Inspired by                  : Perfect Match by Jodi Picoult

This FF is dedicated to my lovely onnie, Liaegyo, thanks for always accompanying my nites and giving comments in my FF. *kecupbasah =* (lupa nulis di part sebelumnya ekekeke). Hope you like it onnn. Dan semoga tidak mengecewakan ya onnn ^^

 

 

“Kenapa kau suka sekali memakai perban?” Aku hanya mengangkat kedua bahuku menjawab pertanyaan darinya.

“Apa kau menyayatnya?” Ku alihkan pandanganku dan menatapnya sebentar. Ia tersenyum. Tersenyum seperti pangeran.

“Memangnya tidak sakit?” Aku menggeleng. Sakit di pergelangan tangan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan remuknya tubuhku pada saat monster itu menindihku. Tidak sebanding dengan robeknya lapisan tipis di bawah sana. Dan tidak terasa dibandingkan jiwaku yang tidak bisa berteriak mengatakan semuanya.

“Kau bisu?” Aku menggeleng lagi.

“Kalau tidak bisu kenapa tidak menjawabku?” Kembali kutundukkan wajahku. Mencermati belalang yang terus berlompatan dengan cueknya di atas luasnya rumput hijau di belakang sekolahku.

“Kau suka warna merah?” Aku mengangguk lemah tapi yakin.

“Kenapa?” Tidak kujawab.

“Kau tidak seperti putri-putri lainnya. Putri-putri yang lain biasanya suka sekali warna pink atau putih. Jarang dari mereka yang menyukai warna merah. Kenapa kau suka merah?” Tanyanya lagi dengan tangan menopang dagu dan badan yang berselonjor di atas rumput dengan dada bidangnya sebagai alasnya.

“Karena aku bukan putri.” Akhirnya aku menjawab dalam lemahnya suara.

“Kau itu putri. Lihat hidup mu saja dikelilingi banyak pangeran. Bukan hanya 1 pangeran tapi 5 pangeran.”

“Tapi mereka bukan pangeran, mereka monster!” Jawabku tanpa memandang mata hitamnya.

“Mereka pangeran, putri cantik ^^” Aku hanya menaikkan ujung bibirku mendengarnya.

“Aku tau kau akan tetap ngotot bahwa mereka adalah pangeran. Karena itu aku malas bicara. Tidak akan ada yang percaya padaku bahwa mereka adalah monster.”Ia terdiam. Membawa tubuhnya bangun dari hijaunya rumput dan duduk bersila.

“Apa karena monster itu perban putih ini melingkar di sini?”Mata sipitnya menatapku. Satu tangannya menaikkan daguku, membuatku melihat mata hitamnya yang jernih.

“Kenapa kau sekarang menyebutnya monster? Katamu mereka pangeran?”

“Karena kau yang mengatakan bahwa mereka adalah monster.” Jawabnya tanpa melepas pandangannya dari mataku.

“Kau percaya padaku?” Ia mengangguk. “Kenapa?”

“Karena kau yang mengatakannya.”

“Kenapa?”

“Karena kau yang mengatakannya.” Ia mengulang jawabannya. Aku tersipu. Ia tersenyum.

“Jadi, maukah kau menceritakan kisahmu putri cantik?” Aku menggeleng tidak yakin. “Kenapa?”

“Siapa tau kau merupakan salah satu dari pangeran itu.” Ia tertawa dengan kerasnya mendengar jawabanku.

“Aku bukan pangeran.”Aku menatapnya bingung, “Lalu?”

“Aku adalah pelayan langit”

“Pelayan langit?”Ia mengangguk.

“Tapi senyummu seperti pangeran-pangeran itu.”

“Itu karena aku berasal dari langit,” jawabnya dengan jari menunjuk langit tapi matanya tetap menatapku.

“Langit?”

“Iya. Langit biru yang akan selalu menjadi atapmu untuk berlindung.”

“Berlindung? Berlindung dari apa?”

“Dari monster yang menyerangmu,” jawabnya dengan senyum dan itu membuat matanya menyipit.

“Jadi kau mau melindungiku?” Pelayan langit ini mengangguk yakin.

“Kenapa?”

“Karena aku adalah pelayanmu. Pelayanmu yang berasal dari langit.” Ia tetap tersenyum.

“Apakah pelayan tidak akan berubah menjadi monster?” Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan tanpa ragu dan kemudian berkata, “Seorang putri sepertimu bisa langsung membunuh pelayannya jika ia menjadi monster.”

“Benarkah?”

“Kau punya hak untuk itu.”

“Kenapa?” Aku kembali mengajukan pertanyaan yang sama. Tapi namja yang mengaku sebagai pelayan langit ini tidak pernah bosan menjawab pertanyaan ‘kenapa’-ku. Ia bahkan tersenyum ketika menjawabnya.

“Karena kau adalah Tuan. Dan aku adalah pelayan. Seorang tuan berhak melakukan apapun terhadap pelayannya. Termasuk membunuhnya, jika ia berubah menjadi monster.” Bibirku membulat. Kepalaku mengangguk-angguk mengerti. Pelayan langit ini tersenyum geli.

“Jadi, kenapa kau suka warna merah?”

***

 

SECRET OF DAWN

File 3- The Unanswered Question

KEY POV

 

“Dawn? Kenapa dengan lenganmu? Kenapa biru seperti ini?” Tanganku masih terus membuka lengan seragam Dawn. Lengan seragam yang menutupi lengan putihnya yang kini sudah menjadi biru.

“Kenapa Dawn?” Dawn masih dalam kebisuannya.

“Apa ada yang jahat padamu?” Ia mengangguk pelan.

“Siapa? Siapa yang sudah jahat padamu? Bilang oppa. Oppa akan membunuhnya untukmu,” Dawn mengangkat kepalanya yang dari tadi menunduk. Matanya menatapku. Melihatku. Satu tangannya kemudian berada dipipiku. Berjalan lembut dalam sendu matanya dan mirisnya senyuman.

“Siapa?” Matanya tetap menatapku. Terlihat keengganan dalam matanya.

“Kau sayang oppa?” Dawn mengangguk pelan.

“Kalau begitu ceritakan pada oppa. Siapa yang sudah membuat tanganmu biru seperti ini,” tanyaku lagi.

“Monster,” jawabnya ringan

“Monster?” Dawn mengangguk.

“Monster.” Aku menatapnya bingung.

“Monster?”

“Monster.” Dawn kembali menganggukkan kepalanya.

“O-oppa tidak mengerti Dawn. Monster? Monster apa? Monster kelinci?” Tanyaku sambil terkekeh. Aku mencoba mencairkan suasana kaku bin aneh bin awkward atau bin apapun itu. Yang pasti situasi ini terlalu mencekam. Terlalu miris untuk adegan kakak-adik yang saling menyayangi seperti kami.

“Monster pangeran!” Jawab Dawn dengan senyuman miring di wajahnya.

“Monster pa-”

*Tin *Tin

Bunyi klakson. Terlihat sebuah ducati merah berjalan pelan menghampiri ku dan Dawn. Seorang namja bermata sipit membuka kaca helm-nya. Memamerkan senyum manisnya. Dan Dawn terlihat senang dengan kehadiran namja itu. Aku? Aku melongo.

“Naik Dawn,” ujar namja itu tanpa mengindahkanku.

“Sebentar!” Aku mencegah Dawn untuk menaiki ducati merahnya. “Sky, kau tidak menyapaku?” Tanyaku padanya yang tetap berada di atas motornya.

“Annyeong hyung.” Sapa namja itu dengan nada cuek.

“Annyeong!” Sky hanya memiringkan senyumnya ketika mendengar jawaban ketusku.

“Naik Dawn, kita telat. Bye hyung!

*Brrrmmm *Brrrmmm

Crap!”

***

“Hyunggg!” Aku sedang asik membolak-balikkan halaman sebuah surat kabar ketika Taemin tiba-tiba datang dan langsung memerosotkan dirinya ke sofa.

“Hyuungggg!” Ia kembali merengek.

“Kenapa?” Jawabku acuh tanpa mengalihkan mataku dari sebuah headline di salah satu surat kabar kenamaan Korea.

“Aku lapaaarrrr.. Tidak bisakah kita keluar sebentar untuk membeli makan siang?” Tanya Taemin sambil tetap merajuk.

“17 tahun! Ingat 17 tahunnn!” Celetuk Minho dari kaca rias di ruang tunggu KBS ini. Taemin hanya berdecak kesal mendengarnya.

“Hyung!!”

“Hmm??”

“Arghh!! Hyung baca apa sih?? Sampai adiknya ditelantarkan seperti ini? Dicuekin? Onew hyung mana lagi? Ihhhh!! Aku laper ini hyunggg.. laperrrrrr!!”

“Sebentar lagi datang kok Taem lunch-nya.. Masih dibeli sama manager hyung. Sabarlahh..” Ujarku kembali pada magnae kelompok kami ini.

“Tsk! Tegaaaa!” Taemin kembali merajuk. Dan aku tetap tidak memperdulikannya. Mataku ini terus membaca headline yang membahas tentang kematian seorang pemimpin besar Al-Qaeda, seorang yang dianggap sebagai dalang ledakan peristiwa 9/11, Osama bin Laden. Beberapa hari lalu, President Amerika Serikat mengumumkan bahwa Laden telah mati. Tapi toh nyatanya banyak yang tidak percaya dengan omongannya, termasuk rakyat Amerika sendiri. Banyak yang mengira bahwa itu adalah rekayasa Amerika untuk menaikkan pamor Amerika yang semakin merosot. Dan itu terbukti, saham Amerika kembali naik.

“Hyung!!” Aish! Jinjja! Anak ini!

“Berhenti merajuk Taemin! Kau ini namja! Bersikaplah seperti seorang namja!” Ketus kukatakan itu padanya yang tetap menggelendot padaku dan merajuk. Merusak mood-ku untuk terus membaca headlines itu.

“SUDAH! Kau saja yang tidak ta-”

*BRAK

Pintu yang terbuka dengan kasar memutus kalimat pembelaan diri Taemin.

“Dawn hh… h.. dia..”

***

*Tap *Tap *Tap *Tap

Deru suara kaki lima orang oppa seolah menjadi music tersendiri di setiap koridor yang kami lalui.

“Adikmu mencoba bunuh diri di kamar mandi sekolah” Kata-kata dari kepala sekolah kembali terbersit di kepalaku.

Hh..Hh..Hh..Hh..

Terengahnya nafas kami juga menjadi music pengiring suara kaki kami yang dengan kecepatan penuh mencari suatu ruangan.

 

“Kami menemukannya terkapar dengan darah mengalir dari nadinya.” Kenapa? Kenapa ia mau bunuh diri?

*Srek! *Srek! *Srek! *Srek!

Begitupun dengan bunyi pintu geser yang dibuka dengan kasar oleh kami. Dibuka secara kasar. Hanya ingin mencari seorang gadis berumur 16 tahun yang sedang terkulai lemas.

“Hyung disini!” Teriak Jonghyun hyung ketika ia membuka salah satu ruangan. Ruangan yang pasti di dalamnya terdapat seorang gadis dengan infuse menghiasi pergelangan tangannya.

Aku mulai menarik nafas panjang ketika memasuki ruangan yang ditunjuk oleh Jonghyun hyung. Jantungku berdetak hebat membayangkan keadaan lemas Dawn yang mungkin sedang mengalami perawatan.

Tapi seketika detakan jantung itu terhenti. Berhenti langsung ketika kulihat seorang gadis tertawa. Tersenyum. Dan merengek. Merengek pada seorang namja. Dan sayangnya namja itu bukan aku.

Ahhh.. Aku mau yang ituuu.. Sky yang ini aja!” Merajuk seperti dia sebelumnya.

Ihh.. katanya kamu mau strawberry.. Ya udah itu..

Tapi aku mau yang chocolate ice creamnyaaa.. Sky! Ih! Jahat sama akuuu!!” Memaksa.

Yee.. yang tadi mesen strawberry siapa??

Aku..” Mengakui dengan nada menyesal.

Yah udah itu. Sesuai pe-sa-nan!

Ya udah deh..” Menyerah dengan menggembungkan pipi.

Yahh gitu kan? Nerima tapi gembungin pipi. Kamu licik ah.. udah tau aku ga bisa liat kamu gembungin pipi. Ya udah ini chocolate-nya. Mana strawberry nya?” Senyumnya mengembang sempurna.

Dawn? Mana Strawberry nya?” Tapi kenapa senyum itu kembali hilang ketika matamu bertemu dengan mata kami? Mata oppa-oppa-mu.

Aku lelah” Ujarnya tiba-tiba sambil merebahkan dirinya lagi.

Tapi ice creamnya?

 “Tidak jadi Sky. Nanti dimarahi dokter.

“Dawn?” Panggil Onew hyung. Sky yang ikut duduk bersama Dawn di atas kasur putih ruangan kesehatan sekolahnya langsung menoleh ke arah suara. Ia berdecak kesal.

Gwenchana?” Tanya Jonghyun hyung.

“Dawn baik-baik saja,” Sky yang menjawab.

“Kami bertanya pada adik kami. Bukan kau!” Taemin berkata dengan nada tinggi dan sinis. “Kau baik-baik saja Dawn?” Taemin mengulang pertanyaan Jonghyun hyung.

“Dia-baik-baik-saja!” Kembali Sky yang menjawab.

“AKU TIDAK BERTANYA PADAMU!”

“Tapi dia baik-baik saja!”

“Hentikan!” Teriakku. “Sky, I need to talk to you

***

“Jadi.. kenapa Dawn mencoba bunuh diri?” Tanyaku pada Sky di suatu kelas yang tidak jauh dari UKS.

“Aku tidak tau hyung,” Sky menjawabnya dengan mengangkat kedua bahunya. Kedua tangannya terbungkus rapih di dalam kedua kantong celananya.

“Kau bohong. Kau pasti tau apa yang terjadi padanya.”

“Memangnya hyung tidak tau apa yang terjadi padanya?” Pertanyaan Sky terdengar sangat menantangku.

“Kalau aku tau aku tidak akan bertanya padamu Sky.” Sky hanya menatapku tidak percaya.

“Sky. Kumohon. Ceritakan padaku apa yang menyebabkan Dawn ingin mengakhiri hidupnya.” Sky tetap bergeming. Ia hanya melihat matahari senja yang mulai turun di ufuk timur. Cahaya orange-nya benar-benar terlihat sangat menyedihkan.

“Dia tidak baik-baik saja hyung.” Hanya itu katanya.

“Aku tau ia tidak baik-baik saja, Sky. Dan aku mau tau kenapa ia tidak baik-baik saja.” Ku pegang lengannya. Membuatnya menoleh padaku. “Sky tolonglah. Ceritakan padaku apa yang terjadi.”

“Aku tidak bisa cerita padamu hyung. Aku tidak punya hak untuk cerita padamu. Tanyalah pada adikmu sendiri.”

“Sky…” Aku memohon.

“Maaf hyung. Aku tidak bisa.” Ia masih tetap dengan pendiriannya.

“Sky, kalau Dawn mau menceritakannya padaku. Aku tidak akan bertanya padamu.”

“Itu karena Dawn tidak percaya padamu.”

“Sky? Please..”

“Maaf”

“Sky, kau tidak tau paniknya aku ketika pihak sekolah menelfon onew hyung tentang percobaan bunuh diri Dawn. Kau tidak tau seberapa khawatirnya aku ketika aku melihat lengannya penuh dengan biru tadi pagi. Ketika ia hanya tersenyum padamu. Kau pikir hati ini tidak menangis, melihatnya tertawa padamu tapi tidak padaku? Pada kami? Hah? Kumohon Sky. Tell me what’s going on? Please..” Aku benar-benar memohon padanya.

“Hah? Kau mau membuatku tertawa hyung? Berhenti menjadi oppa yang seolah mengkhawatirkan adiknya. Berhenti berpura-pura!”

“SKY! Apa maksudmu?”

“Kau! Kau adalah oppa yang paling SOK PERHATIAN! SOK SAYANG! SOK CINTA ADIKMU! Padahal TIDAK. TIDAK SAMA SEKALI!!” Telunjuk Sky menunjuk-nunjuk diriku di setiap kata ‘sok’ yang ia ucapkan

*Bug*

Aku tidak terima! Cukup sudah aku memohon.

“Bangun kau!” Kucengkram kerah seragamnya. “Sok perhatian katamu? SOK PERHATIAN??”

Sky memiringkan senyumannya,“Memang seperti itu kenyataannya!”

*BUG*

“Menjauh dari adik-ku!”

“Tidak akan!”

*BUG*

“MENJAUH KU BILANG! KAU DENGAR??!!”

“Walau kau hujamkan pisau ke tubuhku berkali-kali, aku tetap tidak akan meninggalkan Dawn dalam dekapan monster seperti kalian!!”

“Monster? Kau bilang monster???”

*Duag*

Sky menghempas kuat cengkraman tanganku dari kerahnya. Mendorong tubuhku kasar hingga membuat meja dan kursi di kelas ini berantakan. Dan membuatku tersungkur. Kemudian ia berjalan menghampiriku. Mensejajarkan tingginya denganku.

“Taukah kau bahwa salah satu dari temanmu itu adalah monster yang membuat Dawn suka melihat darah?” Satu alisnya terangkat ketika mengatakannya

“Taukah kau bahwa salah satu temanmu itulah yang membuat Dawn suka membuat tubuhnya sendiri membiru?” Tangannya kini menarik kaos pink-ku, membuat mata sinisnya beradu dengan mataku yang penuh tanda tanya.

“Dan taukah kau bahwa salah satu temanmu di dalam sanalah yang membuat Dawn selalu ingin bertemu malaikat kematian. TEMANMU! TEMANMU YANG SUDAH MEMBUAT SAHABATKU SEPERTI INI!! TEMANMU!!” Sky mengguncang-guncangkan tubuhku dalam cengkraman tangannya di kaosku.

“Dan kalau kau masih belum tau tentang ini! Jangan sok menjadi kakak yang baik untuknya. Mengerti hyung? Jangan SOK!!”

*Duag*

*BRAK*

Sky kembali menghempas tubuhku sebelum ia berjalan keluar dan menutup keras pintu kelas ini.

“Dawn?”

“Suka darah?”

“Biru?”

“Malaikat kematian?”

“Temanku?”

“Monster?”

Ada apa dengan semua ini ada apa?? Ini ada yang tidak beres. Dan aku harus mencari tau kebenarannya.

***

TBC

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF
Advertisements

127 thoughts on “Secret Of Dawn – Part 3”

  1. Waaa, kyknya dawn trauma bgt y eon, sampai segitunya, kira2 siapa y, aq rasa minho dh, agak mencurigakan, haha #maaf flamers :p
    penasaraaan, next chap jngan lama2 y eon 😀

  2. THIS.
    What has happened to Dawn?
    Monsternya siapa?
    Jjong? Jinki? Taemin? Minho?
    Kenapa aku merasa kalo Monsternya Taemin?-_-”
    Aiiiiissshhhh ini ff bener-bener keren.

  3. UAAAAH THORRYYYY~
    aku belun komen yg iniiiiiii 😀
    ihihihihi, saya suka! saya suka!

    padahal udah baca lama, okelah lanjut komen yg ke 4 n ke 5 🙂

    ddah Thorrryyy :3 *gajelas lu sumfeh*

  4. UAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!
    Makin penasaran sama siapa PELAKUNYA??!!! Ahhhh . . .
    Siapa?

    Tapi bener suka banget sama gaya Sky disini! U’re my heroes!!
    haha! Kereeen banget dahhh . . Kata2 Sky disini aku suka sangaaaaaaaat

  5. sky nya kerennnnn…aaaaaa mauuu skynya ajah.
    feeling mengatakan……. *sensor*
    key daebak, ayo cepat cari tau dengan analisa emak-emakmu ituhh.

  6. i’m so curiousss~ udah jelas bukan key sih, feelingku kok taemin ya? dialog dia dari awal agak mencurigakan soalnya, tp belum pasti juga, bisa jadi mino, jjong, bahkan onew 🙄

  7. bukan key 😀
    jadi makin bimbang antara jinki ma taemin
    tapi knapa dawn manggil mreka ber5 moster?
    penasaran…
    lanjut~

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s