Brother Complex – Part 6

BROTHER COMPLEX – Part 6

Title : Brother Complex
Author : mamoTHo
Main Cast : Choi Minho (Brother), Choi Minhye (Little Sister)
Support cast : Lee Jinki, Luna
Length : Sequel
Genre : Romance, Family
Rating : PG-15

_moTHo POV_

Malam itu Minho membawa dongsaengnya pergi. Membawa laju motor itu dengan kencang. Minhye jadi aneh dengan sifat tergesa-gesa oppanya. Ada apa sebenarnya??

Beberapa saat kemudian mereka malah sampai di rumah sakit.

“Oppa, kenapa kita kemari??”

Oppa nya tidak menjawabnya tapi terus menuntun dongsaengnya untuk tidak lepas dari genggamannya. Tepat di ruang UGD Minho menghentikan langkahnya. Tidak lama Dokter keluar.

“Maaf, kami sudah berusaha semampu kami!”

Minho langsung terjatuh ke lantai dengan posisi berlutut. Dia kemudian menangis dan berteriak.

“Oppa,, kau kenapa??”

Minho masih tidak menjawabnya, “Dokter sebenarnya ada apa?” tanya Minhye dengan cemas.

“Maaf sekali, orangtua kalian yang baru saja mengalami kecelakaan tidak terselamatkan,”

Minhye merasa tertampar oleh perkataan si dokter, “Apa dok?”

“Maaf sekali. Saya turut berduka..”

Minhye lalu menghampiri Minho yang masih menjerit dan menangis, “Oppa,” panggil Minhye lemas.

Dia lalu melihat ke dongsaengnya dan langsung memeluknya, “Oppa apa yang terjadi??” tanya Minhye sesegukan.

“Sabar Minhye ya~ Kau harus kuat.. Oppa, juga sangat kehilangan.” Dia memeluk lebih erat lagi.

“Oppa, Apa kita sedang bermimpi??” Minhye masih belum sepenuhnya mengerti. “Cepat bangunkan aku oppa!!”

“Minhye ya~ kau harus sadar ini bukan mimpi,”

Minhye tidak melepaskan pelukannya dari oppanya. Oppanya pun melakukan hal yang sama. Mereka berpelukan menumpahkan kesedihan mereka atas perasaan kehilangan yang baru saja mereka alami. Kehilangan yang tiba-tiba.

“Aku akan menjagamu saengi~” kemudian mendekap dongsaengnya sangat erat, “Aku janji!”

+++++

Tiga hari berlalu dari mimpi buruk itu. Kini Minhye dan Minho hanya tinggal berdua dirumah. Rumah menjadi Sepi. Tidak ada lagi Oemma yang memarahi mereka berdua, membuat orange cake untuk Minho atau mengecup pipi Minhye saat pulang. Sekarang mereka harus hidup lebih mandiri lagi tanpa kedua orang tuanya.

Perusahaan game yang dulu Appa kerjakan sekarang menjadi milik Choi Minho. Tapi, untuk sementara karena belum menyelesaikan sekolah Minho belum diperbolehkan memegang sepenuhnya perusahaan itu.

Hubungan kakak beradik itu jadi lebih baik. Mungkin karena tidak ada siapa-apa lagi yang mereka miliki jadi mereka pun kian akrab. Minho lebih dulu kehilangan orang tuanya, kini malah Minhye yang mengalami kemudian. Kini, Minho tidak pernah menjadi orang yang suka menikmati kesendirian dikamarnya. Sekarang sebisa mungkin mereka berada di luar kamar untuk membuat rumah itu menjadi ramai.

Minhye membawa sesuatu untuk oppanya. Oppanya sedang menonton di ruang tv, “Oppa, cobalah lagi!” pinta Minhye.

Oppanya lalu mencobanya, “Sedikit lagi hampir mirip sepertinya,”

“Ah~ padahal aku sudah buat dengan buku panduan itu, tapi kenapa tidak sama dengan yang oemma buat untuk kau sih?”

Yang mereka perbincangkan itu orange cake. Sudah berapa hari ini Minhye membuat orange cake untuk oppanya. Hanya saja rasanya belum mirip dengan yang oemma buat.

Dia duduk dan mencicipi kue buatannya itu, “Ah~ apa yang beda sih?”

Oppanya lalu mengambil kue itu lagi, “Sudahlah jangan dipaksakan. Buatanmu enak ko! Aku tetap suka Minhye~” *ambigu

Minhye jadi tersenyum, “Oya~ besok pengumuman hasil kelulusanmu kan?”

“Ne,”

“Kira-kira kau..” belum selesai bicara.

“Aku pasti lulus!”

“Aish ~ percaya diri sekali kau,”

Minhye lalu menatap oppanya, “Oppa,”

Sekarang oppanya yang melihat kearahnya,”Wae??”

“Kau akan memegang perusahaan appa kan? Terus kau kuliah tidak?”

#Pletak.. Minho menjitak dongsaengnya, “Tentu saja aku tetap kuliah babo! Modalku untuk bekerja apa kalau tidak kuliah??”

“Kau tidak akan pergi dari rumah kan?”

Minho langsung mengacak-ngacak rambut Minhye, ”Aish~ kenapa harus pergi dari rumah. Tidak Minhye ya~ Aku akan menunggumu!”

“Maksudnya menunggu aku lulus sekolah kan?”

“Ne, bisa dibilang begitu. Makanya kau cepat-cepat lulus menyusulku kuliah otte??”

“Ne, oppa!” *aigoo senengnya liat mereka akur gitu. Plak#

+++++

_Minhye POV_

Tak terasa sudah lama aku tidak memiliki namjachingu. Begitu pun dengan oppa. Aku kaget beberapa saat yang lalu tahu kabar dari chinguku kalau oppa sudah tidak berhubungan lagi dengan Yuri. Entah kenapa aku sedikit tenang.

Sekarang aku bahagia! Benar –benar bahagia! aku tidak risih lagi dengan status single. Bahkan tidak memikirkan tentang cinta-cinta lagi tuh. Waktu yang terakhir kali itu cukup membuatku trauma. Sepertinya aku akan lebih selektif lagi dalam memilih cinta.

+++++
di upacara kelulusan Minho..

Mungkin yang lain berbahagia karena orang tua mereka bisa datang. Tapi, oppa tetap bahagia karena masih ada aku yang menyambutnya pertama kali saat mengetahui kelulusannya.

“Oppa, chukae!!” kataku sambil memberikan bingkisan padanya.

Setengah mati aku mencari barang itu setelah muter-muter di online. Akhirnya aku dapatkan game yang sudah lama ingin dimiliki oppa ‘slamdunk power jump limited edition’ *ngarang banged.

“Minhye, apa ini?”

“Yaa! ko malah bertanya? Buka saja! Kau harus jaga baik-baik ya? Itu barang sungguh langka!”

“Pegang dulu sebentar,” pintanya sambil menyerahkan bunga yang banyak itu kepadaku. Oppa mendapat bunga dari penggemarnya. Aku ikut senang! Choi Minho itu kan memang populer!!

Dia membuka bingkisan dariku. Beberapa saat kemudian ekspresi wajahnya langsung bahagia, “Aigoo~ Kau dapat ini darimana?”

Aku hanya terkekeh sombong, “Hehehe…”

“Gomawo..”

“Ne oppa! Selamat atas kelulusanmu. Dan selamat, habis ini kau akan memegang perusahaan dan menjadi namja dewasa. Chukae oppa!”

Chu~ *do it do it chu..chu..chu..chup

Tanpa sadar aku mencium pipi oppa. Hal itu tentu saja membuat oppaku kaget.

“Yaa! Kau seperti anak kecil!” katanya kemudian.

Aku malah tersenyum padanya. Padahal Hatiku sungguh berdebar-debar dengan kekonyolan yang baru saja ku buat. Karena tidak bisa menahannya, aku langsung memegang wajahku dan berbalik kebelakang.

Babo ya! Apa yang barusan aku lakukan? aku mencium namja itu? Aish~ tidak waras! babo!babo!! Itu untuk yang pertama kalinya dalam seumur hidup. Hei, Choi Minhye?? kau kenapa?! Aku bertanya pada diri sendiri jadinya.

Ah ya! Aku hanya bahagia karena oppa. Anggap saja itu hanya kecupan selamat seperti yang diberikan oemma pada kami dulu. Ah iya, betul-betul! Pikirku berusaha meyakinkan diri.

+++++

Sama halnya dengan Minhye, bahkan lebih parah dari yeoja itu Minho pun merasa kaget dicium seperti itu. Hampir setiap malamnya membayangkan kejadian konyol yang dilakukan oleh dongsaengnya. Kadang, malah memegang pipinya sendiri tepat di spot itu. Tersenyum sendiri.. aish~ Minho lagi rusak otaknya. #plak

_moTHo POV_

Sungguh tak terasa waktu berlalu cepat. Hari ini hari pertama Minho masuk kuliah. Sementara hari yang bersamaan itu pula Minhye naik ke kelas XI. Minho dengan setelan kuliahnya membuat Minhye yang duduk dimeja makan kagum. Oppanya sangat tampan!!

“Gud moning oppa!! Aishh~ kau rapih sekali,” sapa Minhye.

“Gudmoning saengi..” oppanya langsung menghampiri meja makan.

“Oppa, kau sangat tampan. Pasti yeoja-yeoja dikampus banyak yang tergila-gila padamu,”

“Kau sedang memujiku atau.. sedang berubah menjadi seorang penjilat?”

“Hehe..” Minhye malah tersenyum.

Hari ini mereka sarapan sereal.

“Minhye..Chukae,” ujar oppanya kemudian.

“Apa nya?”

“Kau sudah kelas XI kan??”

“Ah Ne. Gomawo!”

“Cepat susul aku Minhye..”

“Yaa! Mana bisa,, Aku harus menunggu 1 tahun lagi untuk pergi ke universitas!”

Pagi yang harmonis. Hubungan oppa dan dongsaengnya sungguh semakin membaik setiap harinya! Joa!

Selesai makan mereka berangkat bersama. Berjalan bersama dan dengan jarak yang berdekatan. *Gak kaya dulu yah?

“Oppa, sekarang kau bisa berpacaran sesukamu. Kau kan sudah dewasa! Tidak ada yang melarangmu kok!”

“Hee?? Kenapa kau bilang begitu,”

“A..ani oppa.” Minhye langsung memberikan raut wajah yang tidak seceria tadi.

“Anyeong oppa!!!!” sahut Minhye saat berpisah di kereta.

Senin, rabu, kamis Minho kuliah. Selasa jumat sabtu dia mengurusi perusahaan ayahnya, minggu dia free.. biasanya kalau sudah hari minggu dia akan pakai hari itu untuk seharian tidur dikamar.

+++++

_Minhye POV_

One year later..

“Akhirnya~ aku bisa menyusul oppa!” kataku sambil berjalan masuk gerbang universitas yang sama dengan Minho oppa.

Aku Choi Minhye kini sudah menjadi mahasiswa tingkat satu. Badanku sudah lebih tinggi dari sebelumnya. Rambutku sekarang panjang dan juga ku buat terurai. Aku seperti seorang yeoja kini, “OPPA AKU DATANG!” sahutku dalam hati.

Oppa tidak bersamaku. Dia sedang mengikuti pertukaran pelajar selama 6 bulan di Jepang. Tapi aku senang dia tetap ingat untuk memberi ucapan padaku walaupun dia tidak bisa datang di acara penyambutan kelulusan. Gomawo..

Aku berjalan sendirian di kampus ini. Aku bahagia karena akhirnya aku bisa kuliah. Oemma, Appa, kalian harus melihat kami dari atas. Kami akan berusaha semampu kami! Saranghae… kataku berbicara sendiri.

+++++

Beberapa hari kemudian..

Dosen tidak masuk dan akan digantikan oleh asisten dosen yang baru saja wisuda kemarin.

Namja itu masuk berjalan dengan langkah yang tegas, “Anyeonghaseyo, Jonnen Lee Jinki imnida. Aku asisten dosen kalian!” sapanya dengan ramah.

Riuh ricuh dikelas karena tidak menyangka kalau ternyata asisten dosen yang masuk akan semuda dan setampan itu. Minhye juga merasakan hal yang sama. Pandangan pertamanya pada namja itu, namja itu sangat charming untuknya. Tipe yang baik dan selalu murah senyum.

Cara mengajarnya pun menyenangkan. Tidak kaku! Semua mahasiswa pun memperhatikannya dengan baik.

“Apa kita harus memanggilnya songsaengnim??” tanyaku pada chinguku Luna yang ada disebelahku.

Dia hanya menatap namja itu, ”Emm.. Sepertinya belum pantas. Apa harus memanggil oppa saja??”

“Heee???” Minhye lalu menghentikan lamunan luna. “Yaa! Kau melamunkan apa sih??”

_moTHo POV_

Tidak lama kemudian, “Yeoja berjaket merah…” sahut suara seorang namja.

Ternyata suara itu berasal dari Jinki. Semua mata memandang mata Jinki yang memperhatikan mahasiswa yang sedang ditegurnya. Tapi orang yang ditegur malah tidak sadar sama sekali. Mereka malah asik mengobrol terus.

“Yaa! Luna,Minhye,,” bisik temannya.

Minhye dan Luna sangat kaget saat mendapati semua mata memandang kearah mereka, “Shttt…”

Lalu dia melihat asisten dosen yang melihatnya juga, “Kalian sedang apa?”

“Aishh~ ternyata yeoja berjaket merah itu aku. Babo!” pikir Minhye, “Ini gara-gara kau Luna..”seru Minhye berbisik pada kawannya. Minhye sama sekali tidak menjawab pertanyaan asisten dosen itu.

“Sehabis jam kuliah ini, kau ikut aku!” perintah Jinki kemudian.

“Ne, Jinki ssi..”

Semua teman-teman langsung tertawa karena Minhye memanggilnya dengan sebutan itu.. tapi tidak dimasukan ke hati, Jinki malah hanya tersenyum menanggapinya.

+++++

Sepulang jam kuliah tersebut. Minhye menuruti kata asistennya itu. Dia menemui asisten dosen itu diruangannya.. Aish~ kenapa Cuma aku. Luna malah keenakan nih.

“Mianhe, tadi aku tidak memperhatikan pelajaranmu!” ujar Minhye saat berhadapan dengan namja itu.

“Gwenchana. Tapi kau harus membantuku sekarang!”

Hah kenapa aku jadi disuruh membantunya?!

“Yogi! Tolong kau rapihkan beberapa arsip ini,” katanya sambil menyerahkan tumpukan kertas.

“Hah? Sendirian??”

Namja itu tersenyum, “Tidak aku pun ikut membantu!”

Dia merapihkan segudang kertas dan beberapa file yang berantakan. Ini ruang kerja Jinki. Dia baru menempatinya tidak heran sangat berantakan.

Minhye tidak banyak bicara. Dia hanya melakukan apa yang diperintah Jinki.

“Selesai!!” sahut Minhye senang.

“Ne, selesai!” Jinki pun ikut-ikutan, “Gomapseumida. Em.. Nugu imnika?”

“Choi Minhye imnida Jinki ssi,” katanya sambil mengulurkan tangan “Eh~songsaengnim,” Katanya meralat.

Jinki menyalami kemudian dan tersenyum. Senyumnya sangat tulus. Dia ramah sekali padaku. Hush~ kenapa jadi memperhatikannya.

“Gwenchana.. panggil namaku saja. Lagi pula aku juga kemarin mahasiswa. Kurasa lebih akrab jika begitu,”

“Ne.. sepertinya sunbae juga cocok!”

Jinki tertawa.. kemudian malah mengacak-ngacak rambut Minhye, “Terserah kau,”

Hal itu mengingatkan Minhye pada oppanya. Oppanya kan sering melakukan itu padanya.

+++++

Sudah 5 bulan sejak kepergian oppanya.

**Let me seeya LaLaLaLa..Love me hey YaYaYaYa..Ni apeseon (Oh) neomu jagajyeoseo (Oh) I like U.. (T-ara Yayaya~)** Hp Minhye berdering dengan ringtone baru. *ceileh dijelasin segala

“Oppa..!” seru Minhye bahagia.

“Aish~ cepat sekali diangkat,”

“Hehe…” Minhye cekikikan geli, “Aku rindu padamu oppa!”

“Nado! kau sedang apa?”

“Sedang diam,”

“Bagaimana kuliahnya?”

“Ah oppa~ seperti yang aku ceritakan sebelumnya. Namja itu oppa.. Sekarang kami menjadi akrab,”

“Yaa! Apa maksudmu?”

“Oppa masih ingatkan namja bernama Jinki asisten dosen itu. Yang aku ceritakan itu loh!”

“Kau tidak sedang berpacarankan??”

“Aniyo oppa. Aku mana berani! Oppa kau lihat saja dulu orangnya bagaimana yah yah yah?”pinta Minhye bersemangat.

“Yaa~ apa maksudmu??”

“Keke..” Minhye malah nambah cekikikan ga jelas, “Kau kapan pulang?”

“Secepatnya..doakan saja!”

“Jinca?!”

“Ne.. Memang seberapa rindunya sih kau padaku?”

“Pokonya aku rindu sekali padamu oppa.. rumah ini benar benar jadi sepi! Aku tidak suka,”

“AHAHAHA…..” Minho malah tertawa mendengarnya.

“Oppa, kau memiliki yeojachingu??”

“Kau menanyakan hal yang aneh lagi Minhye ya~”

“Oppa Jujur saja! Masa kau tidak tertarik juga dengan yeoja-yeoja disana? huft,,”

“Tidak sama sekali!”

Setelah lama berbincang di telepon dengan oppanya. Akhirnya Minhye ketiduran..

+++++

Esok paginya…

“Akhh~ aku sangat lelah,” gumam Minhye yang baru terbangun dari tidurnya, “Ah ya~ hari ini aku ada kuliah siang!”

Dia melihat jam yang bertengger didinding kamarnya. “Haishh~ Masih jam 7!”

Minhye pun keluar dari kamarnya hendak turun ke bawah. Karena nyawanya belum terkumpul sepenuhnya dia pun hampir terjatuh di tangga. Tapi, tiba-tiba ada tangan yang menahannya.

“Ah~ kau ceroboh sekali,”

Dengan masih terkantuk Minhye mencoba melihat kesampingnya, ke pemilik tubuh yang menopang berat badannya. Dia langsung terkejut ketika melihat namja bertubuh tinggi yang menggunakan topi dan berjaket kulit cokelat besar itu,

“Oppa??”

Namja itu hanya tersenyum padanya. Minhye menggisik-gisikkan matanya takut dia memang sudah salah lihat atau berimajenasi karena rindu pada oppanya itu.

“Jinca?! Kau benar benar Minho oppa??” pandangan Minhye beralih ke bawah tangga. Disana tergeletak beberapa koper besar. Dia lalu menatap oppanya.

“Minhye ya~ aku pulang!” seru Minho dengan senyum terbaiknya.

Minhye langsung memeluk oppanya, “Oppa,, “

Minho pun membalas pelukan dongsaengnya itu. Mereka jadi berpelukan deh.

Minhye sadar kalau dia memeluk oppanya dengan berlebihan. Dia mengadahkan kepalanya dan menatap oppanya kemudian. Oppanya juga menatapnya tapi bukan menatap wajahnya. Pandangan Minho justru terhipnotis oleh sesuatu yang menyembul dari balik T-shirt dongsaengnya. Dia sedang menatap dada Minhye.. *AUCH its so freak

Minhye sadar akan pandangan yadong oppanya. Kemudian menutup bagian itu dengan segera, ”YAA!!” teriak Minhye pada Minho.

Dia lupa kalau dia tidak pernah berpakaian seperti itu didepan oppanya. Karena dirumah cuma sendiri akhirnya Minhye sering berpakaian asal. Pemandangan asing yang baru saja dilihat Minho adalah pakaian mini dongsaengnya. Celana super pendek dan tank top kurang bahan itu jadi memperlihatkan dengan jelas lekuk tubuh Minhye.

Tubuh dongsaengnya sudah lebih tinggi dari yang dulu, badannya pun berubah, terlebih lagi rambut dongsaengnya yang jadi panjang sekarang, “Aish~ dia benar benar sudah berubah!” pikir Minho.

Minhye pun berbalik masih menutup sebagian tubuhnya yang dilihat oppanya, “OPPA, JANGAN LIHAT!!” seru Minhye malu.

Minho kemudian melepaskan syal yang melilit dilehernya. Dia membalikan tubuh Minhye dan melilitkan syal itu pada leher dongsaengnya. Sekarang pemandangan yadong seperti itu sudah tidak ada lagi. Minhye cuma bisa diam dengan perlakuan oppanya. Jujur saja, hatinya sungguh berdebar karena itu.

“Kok kau bisa pulang sekarang?? Padahal kemarin kau telpon aku bilang 2 minggu lagi baru pulang!” Minhye mencoba mencairkan suasana.

Minho cuma tersenyum, “Yang penting aku sudah pulang kan?”

“Ah Ne,”

Pagi itu mereka berbicang bersama di ruang TV sambil mengobrak-abrik koper oppanya yang penuh dengan oleh-oleh. Kebersamaan itu terasa seperti dulu, sebelum Minho pergi meninggalkan rumah. Sekarang rumah itu jadi ramai lagi..

+++++
Jam 12.00

Setelah selesai berpakaian rapih untuk pergi kekampus, “Oh~ how do I look?” tanya Minhye mengajak cermin berbicara sendiri, “YEPPO!” jawabnya kemudian.

Dia berdandan layaknya seorang yeoja dewasa. Berias.. dengan berbagai make up koleksinya. Ah~ pokonya tidak seperti anak kecil lagi. Kali ini rambutnya dia ikat jadi 2. How cute!!

Dia lalu mengambil coat yang sudah ada diatas ranjangnya. Coat warna gading yang dibawakan oleh oppanya dari Jepang. Minhye sangat suka! koleksi coatnya kini jadi bertambah.. hehe

“Oppa aku akan pergi!” katanya sambil berlalu turun tangga.

Oppanya sedang makan dimeja. Dia sedang menghabiskan orange cake yang sudah lama tidak dicicipinya. Dia lalu melirik ke dongsaengnya yang sedang berjalan. Jujur saja dia kagum sekali melihat dongsaengnya sekarang. Dongsaengnya benar benar seperti yeoja. Dia berubah menjadi yeoja dewasa dan cantik. Itu lah yang terlintas dipikiran namja itu sekarang.

Minye menghampiri Minho, “Oppa! Kau sekarang agak gemuk ya..” Minhye lalu menyentuh pipi oppanya, ”Yogi! Pipimu jadi sedikit chuby..”

“Tapi tetap tampan kan?” tanya Minho narsis.

“Ne oppa.. kau tetap tampan dan keren!” jawab Minhye dengan nada meledek, “Yasudah aku pergi dulu. Anyeong!”

“Yaa!!”

“Kenapa oppa?” Minhye menghentikan langkahnya.

“Aku juga mau ikut!” Minho berdiri dengan segera, “Sudah lama tidak melihat kampus.”

“Jadi kita bareng seperti SMA lagi oppa?”

“Gerae. Kajja Minhye ya~ Aku juga harus menyapa beberapa teman.”

Minhye jadi senyam senyum sendiri, “Kekampus bareng untuk pertama kalinya dengan oppa. Noemu joasseo!”

+++++

Mereka masih menggunakan transportasi kereta. Kali ini karena jam siang kereta agak padat. Minhye dan Minho tidak kebagian duduk sama sekali. Mereka berdiri sambil memegang fasilitas untuk berdiri itu.

Banyak yang melihat kearah mereka berdua. Yeoja-yeoja disitu melihat namja tampan yang bernama Minho. Sedangkan Minhye juga kini tidak kalah menjadi pusat perhatian seperti oppanya. Minhye sudah jauh lebih cantik dari yang dulu. Jadi namja-namja disitu ikut memperhatikannya walau Minhye sendiri tidak sadar. Tapi, Minho lah yang sadar kalau dongsaengnya sedang dilihat oleh beberapa pasang mata namja.

Dia lalu menyuruh Minhye berdiri lebih dekat dengannya. Minhye menurut saja karena tidak tau apa-apa. Tindakan Minho tetap tidak menggubris pandangan namja-namja terhadap dongsaengnya. Namja-namja itu malah terus berbisik. Samar-samar yang didengar mereka memang sedang membicarakan dongsaengnya itu.

“Minhye ya~ kau pegang jaketku,” perintah Minho tiba-tiba.

“Waeyo? Aku kan sudah pegangan ke atas,”

“Tangan yang satu lagi kan menganggur. Palli! nanti kau jatuh! Tidak lihat banyak orang begini? Aku tidak tanggung jawab kalau kau malu nanti.” Itu sih cuma alasan Minho supaya namja tadi tidak melihat dogsaengnya karena mungkin mereka akan mengira bahwa Minho itu namjachingu Minhye. *jiahhh..

Minhye pun memegang jaket yang dikenakan oppanya, “Perasaan.. ga ada efeknya deh!”

Benar saja, samar-samar yang terdengar dari seorang namja yang memperhatikan Minhye, “Aish~ itu namjanya… Pantas saja dari tadi melihat kearah kita!”

Minho lalu mengulurkan tangan kirinya pada Minhye, “Ya sudah pegang tanganku!”

Minhye menatap heran pada oppanya, “Kau kesambet apa sih?!” tapi malah menggenggam tangan Minho kemudian. Sekarang mereka berpegangan tangan jadinya. Minho senyam senyum sendiri menikamati situasi yang ada. Kini yeoja dan namja yang ada disitu sudah tidak melihat kearah mereka lagi.. Aish~ Minho yang kekanak-kanakan sekali.

++TBC++

Author Note :Jiah~ pegangan tangan. Iya tuh kesambet apa si Minho.. ga ada angin, ujan bahkan badai dia tiba-tiba berubah jadi childish gitu. Emm.. abis ini apa ya? Inspired me Minho!!! kekeke…
Ah ya~ merasa aneh kah kalian lama-lama?! Ckck.. aku guling-guling sendiri nih ngebayanginnya imajenasi yang akan datang.

1 lagi, Chukae buat Onew.. aahhaha… akhirnya masuk dialog juga. keke

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

101 thoughts on “Brother Complex – Part 6”

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s