Flightless Bird : Cuckoo

Flightless Bird – Cuckoo

(part 1)

Author :           Nekochan

Main Cast :      Son Chae Rim, Lee Jinki

Length :           Series

Genre :                        Fantasy, Mystery, Romantic, Angst.

Rating :           PG-15

“Paman dan Bibi itu bukan Ayah dan Ibu Jinki, ya?”

“Iya. Mereka bukan kedua orang tuaku”

“Hmm… Mereka baik?”

“Baik dong! Hei, aku sering dengar cerita burung tekukur lho…”

 

●●●

 

Chae Rim’s POV

            ”Ampuunn… Lagi-lagi begini!” keluhku. Aku menarik nafas panjang.

            ”Hei, Chae Rim. Kau, kok, sering dijahili, sih?” tanya Min Soo sambil menggigit kukunya.

            ”Justru aku kan yang harusnya bertanya!? Pertama kaosku dibuang, lalu tangkai payungku dipatahkan, sendalku disembunyikan, sekarang paku payung bodoh ini! Akhir-akhir ini begini terus…” Min Soo dan Eun Jae bertukar pandang dan menatapku sedih.

            ”Kau benar-benar tidak tahu kenapa?” Eun Jae mengernyitkan keningnya. Dengan sebal aku memutar kedua bola mataku.

            ”Mana aku tahu!!!”

            Aku mengambil sisa-sisa paku payung dari loker sepatuku dan membuangnya dengan hati-hati ke kotak sampah. Aku masih tidak habis pikir, siapa sih yang mengerjaiku seperti ini? Aneh-aneh saja.

            ”Kalau begitu…” Min Soo menuding dengan jari telunjuknya.

            ”Apa?”

            ”Yang jahil bisa saja…” aku mengikuti gerak telunjuknya dan…

            ”Apa? Maksudmu yang menjahiliku itu si Shin Ah?”

            ”Soalnya tingkah lakunya aneh, kita tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya.”

            Aku menggeleng pelan. ”Tapi dia tidak punya alasan untuk melakukannya, Min Soo. Aku tidak pernah merasa melakukan sesuatu yang bisa membuat Shin Ah kesal padaku. Aku bahkan tidak pernah ngobrol dengannya,”

            ”Ya itu kan? Justru karena kau tidak tahu dia bagaimana, ya itu yang bahaya. Kemarin kau kan mengganti vas bunga dengan begonia dan mungkin ternyata dia benci sekali dengan bunga itu. Banyak sekali alasannya, Chae-ah.”

            ”Ah, kau mengada-ngada saja. Mana ada hal seperti itu!” aku mencubit lengan Min Soo dengan gemas.

            ”Eh eh, tau tidak? Waktu itu aku mendengarnya dari Hana tentang Shin Ah. Tapi ini rahasia, lho!” Eun Jae mengecilkan volume suaranya. Aku dan Min Soo mengangguk serempak.

            ”Ketika dia kelas 2 SMP, Ayahnya hilang entah kemana. Sejak saat itu dia jadi seperti itu. Bermuram durja, diam dan sangat dingin!”

            ”Ada wanita di balik kasus kehilangan Ayahnya, ya? Seperti di drama saja!” sambung Min Soo dengan bersemangat.

            ”Yaish! Kita tidak boleh menggosipkan masalah keluarga orang lain!!! Hentikan!!!”

            ”Apanya yang hentikan?” satu suara berdesir di belakangku, aku terlonjak kaget begitu juga Eun Jae dan Min Soo.

            ”Kim-sonsaengnim!” seru kami serempak. Aku mengurut dadaku dengan pelan, rasanya jantungku hampir mau copot.

            ”Tidak ada apa-apa kok! Eun Jae tadi sedang cerita seram, dan aku meminta Eun Jae untuk berhenti. Iya, kan?” aku mengedip meminta dukungan Eun Jae dan Min Soo.

            ”Iya benar. Hahahaha…” Eun Jae menggaruk belakang kepalanya.

            ”Jangan berisik, ya. Ayo, cepat pulang!” Kim-sonsaengnim beranjak pergi namun untuk beberapa saat dia menatapku. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang ada di sorot mata itu, namun sangat menyedihkan.

            “Kenapa dia melihatmu terus? Salah! Kenapa dia selalu melihatmu?” nada suara Eun Jae penuh dengan kecurigaan.

            ”Tingkah lakunya juga aneh. Matanya selalu merah, jalannya sempoyongan terus. Agaknya dia mabuk, ya? Ya ampun. Pasti dia kecanduan alkohol,” tambah Min Soo pelan. “Tapi aku tidak berpikir dia jahat, lho!”

            “Aku juga…” aku menatap Kim-sonsaengnim, ia kini tengah menyapa Shin Ah yang sedang membaca buku di koridor. Ada sesuatu pada mereka berdua, Kim-sonsaengnim dan juga Shin Ah. Mereka mengingatkanku pada Jinki. Padahal mereka jelas-jelas tidak mirip dengan Jinki. Sama sekali berbeda! Dia dua tahun lebih tua dariku, tinggal di rumah besar sebelah rumah. Dia itu pintar, ramah, dan punya smile-eyes yang sangat indah. Jinki yang kusukai… Tujuh tahun yang lalu dia menghilang dari hadapanku bersama ingatanku tentang peristiwa itu.

 

●●●

            ”Ayah, Ibu. Peristiwa penculikanku tujuh tahun yang lalu itu tidak bisa hilang dari ingatanku,” Ayah dan Ibu serempak berhenti mengunyah. Mereka saling tatap. ”Aku ingat sampai disuruh naik ke dalam mobil. Tapi selanjutnya gelap sekali.”

            ’Chae-ah, sebaiknya kau melupakan kejadian buruk itu , Nak.” Ibu memandangku dengan sorot khawatir.

            ”Iya, betul apa kata Ibumu itu, Chae Rim.” imbuh Ayah dengan kaku. Dia selalu saja begitu. Ayah tidak pernah sanggup apabila aku mengungkit-ungkit kejadian itu.

            ”Ya. Baiklah.” Aku menghela nafas panjang, seraya menusuk-nusuk asinan lobak di mangkukku. Lagi-lagi aku teringat akan Jinki. Gara-gara syok karena kejadian waktu itu aku diopname dan waktu aku pulang katanya Jinki diopname di sebuah rumah sakit di luar kota.

            ”Bagaimana keadaan Jinki sekarang, ya? Apakah asmanya sudah sembuh? ” aku bergumam sambil menusuk asinan lobakku. Lagi.

            ”Kau merindukan dia, ya? Oh iya! Bagaiamana kabar kedua pasangan suami istri itu, ya?”

            “Hmm. Iya… aku baru  sadar ketika rumah itu kosong. Mungkin juga mereka bertiga pindah ke luar kota. Bagaimana keadaan rumah rumah mereka itu, ya? Dibiarkan kosong terus begitu! Benar-benar mubazir.”

            ”Yah, kita takkan mengerti apa yang dilakukan oleh orang-orang kaya.”

            ”Tapi aku tidak tenang kalau rumah besar begitu jadi rumah kosong. Takut ada sesuatu yang keluar, ya. Ahhahah…” Ayah terkekeh gugup.

            KLAAANG

            Kami semua terdiam serempak. Bola mataku mengejang ketakutan dan aku melirik Ayah dan Ibu.

            “Ayah…” aku berbisik pelan.

            “Apaaa…” Ia menggertakkan giginya. Aku menatapnya tajam.

            “Ohh, baiklah…”

            “Bukan maling kan? Rumahnya kosong sih!” seru Ibu tertahan. Ia berjalan mengendap di belakang ku.

             ”Hentikan, Bu!” Ayah menggoyangkan tangannya.

            ”A…ayahh… di…di sana… ada seseorang…” aku terbata-bata menunjuk ke arah jendela.

            “APA? SIAPA? MANA? MANA?!”

            “I..itu.. di sana…” arah senter semakin menunjuk ke arah jendela. ”Di dekat… jendela…” aku terkesiap seketika begitu cahaya senter mengenai siluet orang itu. Aku merasakan sensasi aneh. perasaan rindu dan lega yang amat sangat. Perlahan orang itu membalikkan badannya. Wajah itu, mata itu…

            ”Jinki?”

 

●●●

            ”Tadi aku benar-benar kaget! Sedang mengobrol tentang kau, eh, Jinkinya benar-benar pulang! Ahahaha… Kau kelihatan tambah besar. Berapa umurmu sekarang?”

            ”19 tahun, Om.”

            ”Mana paman dan bibimu? Tidak pulang sama-sama?”

            ”Emm. Aku pulang sendirian.”

            Seperti mimpi. Jinki. Jinki sudah pulang. Lee Jinki, si pemilik mata paling indah telah kembali dan kini ia duduk di sebelahku. Matanya masih sama seperti dulu, tetap cokelat. Dan hangat.

            ”As…asmanya? sudah sembuh?” aku tercekat. Masih tidak percaya Jinki benar-benar ada di sampingku.

            ”Asma?” ia menatapku bingung. ”Oh, asmaku sih sudah sembuh total.”

”Oh. Syukurlah…” Aku mulai merasakan ada yang aneh.

            ”Aduh, Jinki-ssi. Kau, kok, belum makan apa-apa sih? Ayo, jangan malu-malu!” Ibu mendorong piring berisi ayam cola ke arah Jinki,

            ”Aku tidak malu-malu, kok. Hanya saja, aku baru akan makan kalau pertanyaannya sudah selesai. Soalnya kalaus ambil makan aku tidak bisa mengobrol.”

            Dan wajah itu. Akhirnya aku menyadari apa yang aneh. Wajah itu, bukan wajah JInki yang dulu ku kenal. Wajah Jinki yang sekarang… dingin. Dan sejak kapan ia tidak bisa mengobrol sambil makan? Siapa dulu yang hobi sekali mencipratkan daging ayam dari saliva yang berhamburan ketika terlalu asik bercerita? Apakah 7 tahun bisa merubah orang sebanyak itu?

            ”Ah… maaf. Ahahah… silakan makan kalu begitu, Jinki-ssi.” Ibu terlihat kikuk. Ia bahkan mengedipkan matanya berulang-ulang. Tanda kalau dia sedang nervous. Pasti Ibu merasa sedikit tersentil dengan kenyataan ngobrol-di-tengah-waktu-makan tidak bisa dilakukan.

Dan kami hanya makan dalam diam, terus sampai akhirnya tiap-tiap piring kosong. Jinki bangkit dari tempat duduknya dan mencuci piringnya sendiri. Dan kemudian berdiri diam sambil menatap langit di luar.

”Paman, bibi, Chae Rim, terima kasih hidangannya. Aku permisi dulu.” ia kemudian membungkukkan badannya.

”Ah…iya…ahaha…jangan sungkan ya, Jinki. Kalau ada apa-apa bilang saja…” kami mengantarkannya sampai ke depan pintu.

”Iya. Terima kasih.” sejenak Jinki tersenyum ke arahku lalu melangkahkan kakinya menuju pagar. Apa yang terjadi sebenarnya? Jinki yang berumur 19 tahun ini berbeda dengan Jinki yang ku kenal…

——-Tbc——–

NB: gimana chingu? Ini karya ketiga ku… kyaaa >_<

Makasih banyak untuk semua yang luangin waktu buat baca FF ini. *bow*

Kalau ada kritik atau saran atau apapun feel free ya buat komen… 🙂 sekali lagi gomawoo… Untuk yang segera menempuh ujian masuk universitas, ciayo yaa.. fighting! Aku doain kalian bisa masuk universitas2 kebanggaan negeri… -^^- keep fighting and don’t lose faith.

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

26 thoughts on “Flightless Bird : Cuckoo”

  1. Aku kurang ngerti
    Soalnya latarnya ga ada batasnya gitu
    Jadi pas baca tautau udah dirumah aja
    Jadi aga bingung
    Tapi aku penasaran sama ceritanya
    Lanjutttt

  2. kurang panjamg /plaaaaak

    ceritanya bikin penasaran thor…kenapa si jinki jadi kewl abiss gitu ya?apakah kim sonsaeng appa nya min ah?

    cant wait fr the next chap 😀

  3. kenapa udah tbc aja? Tanggung jawab loh, aku penasaran >.<

    jangan2 itu roh-nya jinki lagi. Abisan aneh banget gitu #soktau

    ayolah lanjutannya jangan lama2, please 🙂

  4. Woowww kereeeeenn!!!
    Kenapa tuh si Jinki? Terus kenapa juga Chaerim dijailin terus?
    Bahasanya super keren gilaaa!
    Lanjutjutjutt!

  5. pendek thor ff nya, tapi saya tunggu part selanjutnya masih penasaran knp si jinki berubah

  6. Ini dari komik ya?
    Ada komik yang judulnya Cuckoo juga
    Dialognya sebagian juga sama???

  7. wah, penasaran gmna selanjutnya!
    oh ya, aku agak bingung dgn penulisan ff ini, latar dan tokohnya ga jelas gitu. aku jd ga tau ini siapa yg bicara, itu siapa yg bicara .. tolong d tingkatkan yaa ~!! d tunggu next ff 😉

  8. alurnya belum keliatan ya, jalan ceritanya mau kemana jg blm jelas.
    thor, mending kalo mau pindah t4, dkasi deskripsi yg jelas. soalnya rada bingung bacanya karena tiba-tiba udah di dalem rumah, tiba-tiba udah makan *mian krn saya adalah reader yg rewel hahaha*
    kan kalo deskripsinya jelas, bacanya jg makin enak.
    lanjut thor =)

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s