My Poor Princess – Part 2

Title: MY POOR PRINCESS

Author: Shin Heera

Main Cast:

  • Kim Kibum (SHINee)
  • Lee Heera, YOU

             Support Cast:

  • SHINee
  • Cho Jinho (SMTB)
  • Nicole (KARA)
  • Lee Hyora
  • Alena

Length: Sequel

Genre: Romantic

            Rating: All age

Disclaim: I don’t own SHINee, they belong to God. Other cast belongs to themselves. I do own this plot story, that belongs to my imaginations. And I wanna share my fantasy to yall readers!

   Happy reading!

 

“Owner? Kau terlalu terobsesi rupanya. Lebih cocok seperti ini. Memakai pakaian seorang waitress dan melayaniku. Benarkan, Jonghyun hyung?”

Sialan! Aku menghembuskan nafasku perlahan ketika dia melanjutkan perkataannya. Rasanya ingin aku banting buku menu tebal ini pada wajahnya. Key.

CHAP 2

(Your POV)

“Ah, Lee Heera.” Dia membaca nametagku. “Baiklah aku ingin memesan sesuatu. Sekarang kau sedang melayaniku, bukan?”

“Argh, apa yang kau mau? Cepat katakan!” tanyaku lebih dengan nafsu amarah. Apalagi dengan melihat mimik wajahnya yang menjijikkan. Sombong!

“Woo, be calm lady. Haha. Philandera steak dan Gordon blue satu, ditambah ocean blue dan vanilla late satu. Ingat, waitress! Aku tidak suka menunggu lama.”

Hah apalah katamu aku tidak peduli! Dengan langkah keras aku berjalan menuju penunggu pesanan.

“Kau kenapa, nona?” tanya Soeun yang sedang menunggu kedatangan pengunjung baru.

“Orang itu! Dia! Dia sangat menyebalkan! Huaaaa~!” jawabku sambil menunjuk Key lalu  meremas celemekku kuat-kuat.

“Maksud nona, Key?” aku mengangguk dan menatapnya heran. Mengapa dia bisa tahu?

“Benar! Siapa dia?” tanyaku.

“Dia sering mengunjungi cafe ini dari dua bulan yang lalu. Dia juga sangat terkenal. Key anak bangsawan yang sangat kaya, nona. Banyak yeoja yang mengunjungi cafe ini hanya untuk melihat atau menemui Key dan juga kakaknya yang berada di sampingnya yang sangat populer. Menurutku, dia  sangat tampan dan cool!” ceritanya sambil memasang wajah yang ceria. Hilangkan ekspresi itu Soeun!

“Mereka populer? Mengapa aku tidak tahu?” tanyaku lebih pada diri sendiri. “Hmm, Dari luar tampak sempurna. Tapi jika kau mengetahui sifatnya, aku yakin kau tidak akan pernah menyukainya lagi, Soeun!”

“Nona mengenalnya? Jeongmal?” tanya Soeun sangat antusias.

“Aku baru bertemu tadi siang dengannya,” jawabku. Dia mengangguk paham. “Sepertinya kau tidak terbiasa memanggil namaku. Yasudah nona saja.”

Tiba-tiba ada seorang yeoja yang melambaikan tangannya kearahku. Aku menghampirinya dan membawa buku menu. Wah ternyata Nicole. Dia adalah seorang artis.

“Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku seramah mungkin dengan senyum terbaik. Kelima teman-temannya menatapku remeh. What the hell!

“Tolong berikan ini kepada namja yang memakai sweater hitam longgar yang disana! Meja nomor tujuh.”

Aku menerima sebuah amplop berwarna putih bersih dan wangi. Aku mendongak siapa namja yang duduk di bangku nomor tujuh.

Key. ANDWAEEE!!!!

Bagaimana bisa Key diketahui artis terkenal seperti Nicole? Apakah mereka sudah saling mengenal? Tapi itu tidak mungkin. Kalau mereka saling mengenal, mungkin mereka sudah berbincang. Tidak dengan amplop putih ini.

“Sekarang?” tanyaku ragu.

“Tentu saja, pabo!”

Aku memanyunkan bibirku dan melangkah ragu menuju meja dimana Key duduk bersama temannya itu. Hah, ternyata Nicole orang yang sangat tidak ramah. Menyesal aku mencoba tersenyum padanya.

“Mana? Dimana pesananku?” tanyanya ketus setelah melihatku yang berdiri di sampingnya tanpa membawa pesanan satu pu untuknya.

“Ini untukmu.”

Aku menyimpan amplop itu di atas mejanya dan kembali menuju dimana Soeun berdiri di dekat cashier.

“Disini banyak juga artis yang datang,” gumamku pada Soeun yang sepertinya sedang mengincar satu lelaki.

“Yeah.”

“Ya! Kau! Kemari!” aku menoleh ke asal suara yang sepertinya memanggilku. Tentu saja. Itu Key. Aku menghampirinya dengan setengah hati.

“Ada apa lagi? Aku malas melayanimu.”

“Apa maksud isi dari surat ini?” tanyanya sambil memperlihatkan isi surat itu padaku.

Aku menyukaimu disaat pertemuan pertama kita’

“Aku tidak tahu,” jawabku apa adanya.

“Jangan bohong! Kau tulis ini untukku, kan? Bukan pada Jjong hyung?” tanyanya dengan nada jahil. Matanya menyipit.

“MWO??!! Maaf, tuan. Aku tidak akan melakukan hal yang memalukan martabatku sebagai seorang yeoja!” tukasku.

“Jujur saja. Aku tahu banyak sekali yeoja yang menyukaiku,” katanya sambil memperlihatkan senyuman itu lagi. Senyuman kematian tepatnya. Yaks..

“Bukan aku yang menulis itu!!! Tapi dia!!!” tunjukku pada Nicole yang sedang bercanda dengan teman-temannya.

“Nicole?” tanyanya. Aku mengangguk cepat.

SREKK!!!

WHAT??!!! Dia menyobekkan amplop serta kertas itu dan di remasnya asal lalu di buang sembarangan begitu saja.

“Cepat antarkan pesananku!”

Aku tidak menggubrisnya dan kembali untuk membawa pesanan Key yang sepertinya sudah siap. Wah, aku masih heran dengan kelakuannya tadi. Ada apa dengannya juga Nicole? Sudahlah, Heera. Urusan orang lain jangan terlalu kau pikirkan! Tidak penting. Apalagi orang kaya sombong seperti dia.

*

Sudah pukul sembilan dan saatnya aku pulang! Meskipun cafe masih sangat ramai dengan pengunjung yang berdatangan, tapi aku tetap akan pulang. Lelah sekali. Apalagi Taemin sudah menjemputku.

Aku berjalan menuju lokerku dan berganti baju. Setelah semuanya selesai, aku mulai melangkah keluar. Dan namja itu, Key, dia sudah pergi. Tentu saja. Dari sore dia berada disini.

DUG!!

Tiba-tiba ada satu pundak yang menyenggolku secara sengaja. Nicole.

“Kau! Kau mengatakan apa pada Key sampai dia berani menyobek kertas pemberian dariku, hah?!” bentak Nicole sambil mendorongku dan mengacungkan sobekan kertasnya.

**

Aku masih menangis. Tapi kali ini tidak ada Alena di sampingku. Tapi Taemin. Adikku yang baru.

“Nuna, jangan menangis,” ucap Taemin. Aku masih menenggelamkan wajahku di antara kedua kaki yang kulipat ke atas.

“Kau tidur saja, Taemin. Ini sudah malam.”

“Tidak, nuna. Aku akan tidur kalau nuna berhenti menangis.”

“Baiklah, nuna tidak menangis lagi,” ucapku sambil menghapus air mataku dan tersenyum manis padanya. Aku memeluknya sayang. “Thankyou,” gumamku padanya. Air mataku keluar lagi. Tapi ini air mata bahagia karena ada Taemin di sampingku sekarang.

“Nuna berbohong. Nuna masih menangis.” Aku menggeleng dan menghapus lagi air mataku.

“Nuna ingin meminta keringanan pada Dad. Tunggu sebentar.”

Nada sambung sudah terdengar dan akhirnya Dad mengangkat panggilanku ini.

“Dad, aku ingin pindah kerja. Please Dad, jangan di cafe  lagi!” pintaku.

Dad masih tidak setuju. Tapi lama-lama setelah aku memintanya dengan sungguh-sungguh, akhirnya Dad memindahkan aku untuk kerja di Restaurant Lisaria. Hah. Hidup memang melelahkan.

“Okay, good night, Taeminnie… Saranghae…”

“Good night, nuna… nado…”

**

Hari ini sekolah libur. Seharian aku dan Taemin mendekorasi kamarku seindah mungkin. Dan akhirnya semua sudah beres. Kamarku bernuansa biru muda dan biru tua.

“Taemin!” panggilku pada Taemin yang sedang membuang sisa-sisa yang tidak terpakai.

“Ya, nuna?” sahutnya.

“Thankyou. Dan kau tahu tugasmu selanjutnya?”

“Mengantar nunaku bekerja. Haha.”

Kami tertawa bersama. Aku pikir, aku lebih suka berada disini, di rumah sederhana bersama Taemin. Dari pada di rumah besar yang dihuni juga oleh nenek sihir yang selalu merusak kebahagiaanku.

Tidak terasa sudah pukul enam sore. Aku berganti baju. Okay, tempat kerja baru. Aku mempunyai prediksi baik. Restaurant tidak akan penuh oleh anak muda, kan? Haha.

**

“Nuna, fighting!” semangat Taemin. Aku menjadi tersemangati.

“Okay! Bye! Seperti biasa, jemput nuna pukul sembilan malam!”

Aku mulai memasuki pintu masuk restaurant mewah milik Dad ini. Seperti biasa para pelayan menyambutku. Aku tersenyum dan balas membungkukkan badan. Tidak lama manager datang dan mengantarku ke ruang karyawan.

Lima belas menit kemudian aku sudah berpakaian seragam karyawan. Seperti biasa lebih berbeda dan mencolok pastinya.

Aku sudah mulai terbiasa melayani para pengunjung. Jadi sudah tidak perlu lagi bantuan karyawan lain.

Pukul tujuh malam. Restaurant sangat ramai dan aku sedikit kewalahan melayani pelanggan. Sampai-sampai keringat mulai mengucur dari peluhku.

“Nona, meja nomor lima sudah di layani?” tanya salah satu karyawan.

“Oh, sepertinya belum. Baiklah aku saja. Kau cari yang lain!”

Aku berjalan cepat menuju meja nomor lima yang terdapat sepasang suami istri dan dua anak lelakinya yang sudah besar.

“Selamat malam. Silakan tuan dilihat dulu menu spesial kami hari ini. Ada…” tiba-tiba kata-kataku terhenti ketika melihat siapa yang duduk di sebelahku ini.

Key! MENGAPA DIA ADA DIMANA-MANA??!!! Juga dengan namja itu. Jjong. Yang ternyata adalah kakaknya.

“Ada?” tanya ahjumma yang sangat cantik ini dan tentu saja dia umma Key.

“Uh, ada sirloin steak khas Italia,” lanjutku.

Aku sempat salah tingkah karena Key melihatku dengan tatapan kau—tidak—bisa—menghindar—dariku. Tapi aku berusaha agar terlihat wajar.

Aku menulis pesanan keluarga bangsawan ini. Termasuk pesanan Key yang tidak berubah dari hari kemarin sewaktu aku menemuinya di cafe. Yeah, Philandera steak. Cukup berkelas. Aaaahhh wait! Kenapa aku jadi memperhatikannya?

“Anak muda, kau terlihat tidak asing,” ucap ahjusshi. Ahjumma ikut mengangguk dan melihatku seksama.

“Jeongmal? Mungkin ahjusshi dan ahjumma salah orang. Aku hanya pelayan disini. Baiklah, pesanan akan segera di sampaikan. Jika ada tambahan, panggil saya saja. Terimakasih…”

Aku masih heran. Memangnya aku pernah bertemu dengan mereka? Atau bisa saja mereka adalah temannya Daddy. Yeah, itu bisa saja.

*

(Author POV)

“Yeobo. Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana?” tanya ahjumma pada suaminya. Diam-diam Key dan Jonghyun menguping.

“Yaahh… Aku lupa,” jawab ahjusshi.

“Mana mungkin yeoja secantik itu menjadi seorang waitress. Benarkan, anakkku?” tanya ahjumma pada dua jagoannya. Jjong mengangguk dua kali dengan tempo yang cukup lambat. Sembari berpikir.

“Tidak juga, Mom. Mungkin nasibnya saja yang kurang beruntung,” ucap Key. Ibunya hanya menggeleng sedangkan Jjong dan ayahnya tertawa kecil.

“Key mengenalnya, Mom, Dad.” Kali ini Jonghyun ikut berbincang.

“Really?” tanya ahjumma.

“Dia orang biasa yang terlalu banyak bermimpi. Aku tidak menyukainya.”

Semua terdiam dan sibuk dalam kegiatannya masing-masing. Key dan Jonghyun memainkan iPhone sementara kedua orangtuanya berbincang sedikit serius. Rupanya mereka masih penasaran dengan gadis cantik tadi. Siapa lagi kalau bukan Heera.

Tidak lama Heera mendorong troli yang membawa semua pesanan keluarga Key. Dengan sangat hati-hati dia mendorong troli itu sampai tepat di sebelah meja nomor lima itu.

“Silakan…”

Perlahan kedua tangannya sibuk menyimpan piring-piring lebar di atas meja dan terakhir adalah minuman.

“HUAAA MIANHAEYO~!!” teriak Heera. Tidak sengaja dia menumpahkan sedikit jus strawberry pesanan Key tepat di kemeja pink mahal milik Key.

“AAAIIISSSHHH!!! NDO!!!”

“Sudah, tidak apa-apa. Hanya sedikit. Thankyou, dear,” ucap ahjumma sambil tersenyum sangat ramah pada Heera.

“Mom!” sergah Key. Ibunya membantu membersihkan noda di kemejanya dan berusaha menenangkan Key.

Dengan cepat Heera berjalan kearah ruang karyawan dan terdiam sebentar.

‘Bagaimana ini? Aku akan mati tidak lama lagi. Untung saja ibunya sangat baik padaku,’ batin Heera.

Tidak lama manager datang menghampiriku.

“Nona, tuan besar menyuruhku untuk memecat nona. Dan nona di perintahkan untuk pindah lagi ke cafe Plaincassie. Maafkan saya, nona. Saya tidak bermaksud. Tuan besar yang menyuruhku.”

“Apa alasannya?”

“Ternyata ada satu mata-mata yang selalu mengawasi nona ketika bekerja. Mungkin dia melihat nona menumpahkan pesanan pelanggan tadi dan memberi laporan pada tuan besar. Maaf, nona.”

“Terimakasih banyak, Dad. Kau sangat menyayangiku.”

**

“Dimana, Heera?” tanya Minho pada Hyora yang sedang duduk santai di ruang riasnya. Minho sengaja menghampirinya untuk bertanya tentang keberadaan Heera.

“Dia dihukum oleh Dad. Sekarang dia menjadi waitress, Minho. Kau masih menyukainya? Haahh,” jawab Hyora sambil menyimpan majalah tebal dari tangannya.

“What? Waitress? Apa yang dia perbuat?” tanya Minho penasaran dan duduk di samping Hyora.

“Tidak terlalu penting, Minho. Yang penting, kau lupakan saja dia!”

“Kau aneh. Apa maksudmu?”

“Minho, dengar! Kau tahu mengapa selama ini dia tidak menerimamu? Dia mengatakan kalau dia tidak menyukai artis yang hanya mengandalkan wajah,” kata Hyora. Dia tersenyum puas diam-diam. Sementara Minho terdiam. Jantungnya berdetak keras. Dia tidak percaya kalau Heera mengatakan itu semua.

“Kau serius?” tanya Minho memastikan.

“Tentu saja, Minho. Aku kakaknya. Sudahlah, apa bedanya denganku?”

‘Heera. Aku membencimu. Aku tidak terima kau mengatakan aku hanya mengandalkan wajah. Aku tidak menyangka ternyata sifatmu seperti itu. Haahh, Hyora. Benar. Apa bedanya Heera dengan Hyora? Apalagi Hyora lebih populer,’ batin Minho dengan tangannya yang terkepal.

“Besok kau bebas?” tanya Hyora mulai genit.

“Aku ada shooting di starking. Kenapa?”

“Tidak. Aku hanya ingin mengajakmu… refreshing?”

“Baiklah. Hari jumat aku bebas. Aku akan menjemputmu. Sampai nanti.”

“Yes!!! I got you!!!”

**

(Your POV)

“Wajahmu kenapa, nuna?” tanya Taemin yang menghampiriku. Malam ini cukup indah. Tapi hatiku sedang dalam keadaan yang kurang baik. Jadi langit tidak terlihat sempurna.

Kali ini aku sedang duduk di balkon lantai atas. Taemin duduk di sebelahku.

“Kenapa? Apa mataku berpindah tempat?”

“Tidak lucu, nuna. Bagaimana? Kau belum bercerita pengalaman pertamamu bekerja di restaurant. Ceritakan padaku!” pinta Taemin semangat. Dia memang selalu begitu.

“Nuna di pecat.”

“MWO??! Bagaimana bisa?”

“Nuna tidak sengaja menumpahkan minuman ke baju pengunjung. Dan akhirnya nuna pindah lagi ke tempat semula. Plaincassie caffe.”

“Nuna harus lebih bersabar.”

“Terimakasih, Taemin. Sudah sana, cepat tidur!”

Taemin mengangguk dan akhirnya dia sudah mulai mengantuk dan beranjak untuk tidur ke kamarnya. Sedangkan aku masih asyik merenung di balkon ini meskipun cuaca sedikit dingin.

Key. Namja itu. Tiga hari berturut-turut aku menemuinya di tempat yang berbeda. Dan sikapnya tidak berubah. Dia namja yang sombong. Berbeda dengan Jino juga Minho oppa.

Haah Jino. Aku merindukanmu. Mungkin lebih baik aku menceritakan ini semua pada Jino, dan mencari usulnya apa yang harus aku lakukan.

Aku memencet nomor ponselnya. Tidak lama nada sambung terdengar dan Jino menyapaku.

“Hello~”

**

Sudah empat hari aku lewati untuk bekerja di caffe ini setelah aku di pecat di restaurant. Dan kau tahu? Uang sakuku terus menerus berkurang. Memang benar apa yang dikatakan Dad. Mencari uang itu sangat sulit.

Hari ini adalah hari kelima. Jumat tepatnya. Empat hari yang lalu berjalan seperti biasa. Key tidak pernah absen bersama kakaknya untuk datang kemari. Dan juga keributan kecil antara aku dengannya pasti terjadi.

Pukul delapan malam. Yeah! Sepertinya Key tidak datang. Aku bebas hari ini. Thank God!

Aku tengah membersihkan meja nomor tujuh setelah pelanggan selesai dan pergi. Ternyata masih ada pengunjung yang datang. Aku melayani mereka.

“Waitress!”

“Okay wait for a minutes…”

ANDWAEEEE!!

Why God?! Dia datang. Key. Namja cerewet. Aku tidak menyukainyaaa~

“Mengapa kau datang ke tempat ini setiap hari?” tanyaku sambil berkacak pinggang. Woo kakaknya tidak ada. Dia hanya sendiri.

“All is up to me. Who are you?”

“Asshh..”

“Cepat ambilkan aku Philandera steak dan Pearlescent blue, waitress!”

“Jangan memanggilku dengan waitress!” sempalku sambil membulatkan mata besar-besar kearahnya. Key hanya tertawa puas.

Aku meninggalkannya. Pesanannya tidak pernah berubah. Philandera. Tapi minumannya. Whoaw minuman termahal disini. Wajaaar dia orang kaya. Harga untuk satu gelas Pearlescent tidak seberapa.

Sepuluh menit berlalu dan aku berjalan untuk memberikan pesanan Key. Dimana kakaknya?

Perlahan aku meletakkan steak di depannya. Lalu minumannya tapi sesuatu mendorongku dari belakang dan….

Byurr!!

“Heera!!!”

NO GOD!! FOR THE SECOND!!

Segera aku menoleh kebelakang. Melihat siapa yang sudah menyenggolku keras tadi.

DEG!!

Dia. Lee Hyora. Dia bersama Minho oppa sekarang.

Refleks aku balas mendorongnya pelan. Aku masih bisa menahan emosiku. Apalagi ini tempat umum.

“Hey kau!!! Berani-beraninya kau mendorong Hyora seperti itu! Kau itu waitress. Tolong jaga kelakuanmu!”

Haaaaaah? Minho oppa…. apa aku tidak salah? Minho oppa menyentakku seperti itu.

Aku berusaha menahan air mataku keluar meskipun sangat sulit. Hyora tersenyum kemenangan kearahku lalu berlalu bersama Minho oppa kearah pub.

“Maafkan aku. Sekali lagi. Akan aku ganti minumanmu dan biarkan aku untuk mencuci jaketmu, Key,” ucapku. Air mataku tidak bisa berhenti keluar. Sangat deras.

“Baiklah…”

“Maafkan aku..”

“Okay…”

Dengan cepat aku mengambil jaket biru tua yang sudah di lepasnya dari tangannya lalu berlalu menuju ruang karyawan. Aku menyuruh Soeun untuk mengambil alih.

Kali ini aku sedang tidak bisa bekerja dengan pikiran yang gelap. Ada apa dengan Minho oppa? Dia bukan seperti yang aku kenal biasanya.

Apa karena sekarang aku menjadi seorang waitress dan dia tidak ingin kalau orang  di sekitar tahu kalau dia mengenalku?

Aku baru menyadari kalau sedari tadi aku menggenggam jaket Key. Parfumenya sangat khas. Ah, dia. Tumben dia tidak memarahiku? Padahal aku sudah menumpahkan minumannya dua kali.

Sudahlah, mungkin ada satu malaikat yang sedang masuk ke dalam tubuhnya.

Drrtt…

From: xxxxxx

Rasakan! Hahaahhhaha..

Okay yeoja itu lagi. Sepertinya dia selalu ada dimana Minho oppa berada. Sebenarnya siapa dia?

**

“Ini jaket siapa, nuna? Keren,” tanya Taemin. Aku tersenyum sambil menjemur jaket yang terlihat mahal itu dengan baik.

“Nanti akan nuna belikan kalau nuna sudah mendapat gaji.”

“Hah? Tidak usah, nuna. Aku hanya mengomentari saja. Tidak bermaksud untuk meminta.”

“Haha. Kau lucu sekali, Taemin,” kataku sambil mencubit pipi Taemin gemas lalu mengacak rambutnya pelan.

“Nuna… tanganmu panas.”

Taemin menyentuh keningku.

“Kau demam, nuna. Sebaiknya malam ini nuna jangan bekerja.”

“Nuna harus tetap kerja, Taemin.”

“Aku tidak akan mengantar nuna.”

“Ayolah…”

“Tidak! Ayo, sebaiknya nuna tidur. Aku akan mencari obat yang cocok untuk nuna.”

Sifatnya tidak jauh dengan Alena. Taemin sangat perhatian.

**

(Key POV)

Dimana yeoja itu? Sudah seminggu dia tidak masuk kerja. Padahal setiap hari aku datang ke cafe ini.

Kau ingin aku jujur atau tidak?

Jika aku tidak jujur, aku datang ke cafe ini hanya untuk menunggu Heera mengembalikan jaketku yang di cucinya.

Dan jika aku jujur, aku sangat merindukannya. Memang sangat bodoh. Pertama aku sangat tidak menyukainya. Tapi setelah kita lebih sering bertemu, aku merasa tertarik dengannya.

Diam-diam aku selalu memperhatikannya jika dia sedang melayani pelanggan. Senyumnya sangat manis dan mampu membuat jantungku berdesir. Memang terdengar berlebihan. Tapi itu yang kurasakan. Jarang-jarang terjadi padaku.

“Silakan…”

Seorang waitress yang kutahu paling dekat dengan Heera mengantar pesananku dan meletakannya hati-hati di atas mejaku.

“Sorry… Dimana temanmu itu?” tanyaku ragu.

“Mmmaksud tuan… nona Heera?” ucap yeoja ini sedikit terbata. Apakah ada sesuatu yang mengganjal di wajahku?

“Nona?”

“Yang tuan maksud nona Heera? Lee Heera?”

“Yeah. But… nona? Okay forget it! Bisa tolong beri aku alamatnya? Aku sangat butuh.”

Yeoja itu berpikir cukup lama. Matanya tiba-tiba terbelalak dan menutup mulutnya dengan tangan telapak tangan kanannya. Kenapa dia?

“Ba..bbaaiklah..”

Yeoja itu menulis satu alamat yang cukup ku kenal di balik kertas struk pesananku. Tempat itu sedikit jauh dari caffe ini.

Aku akan pergi ke rumahnya besok siang.

**

Jonghyun hyung sedang pergi ke Spore untuk acara reuni bersama teman sekolahnya dulu. So, dia tidak bisa menemaniku untuk bepergian sekarang.

Tangan kananku memegang kertas bon yang tertulis alamat lengkap Heera. Jujur, aku sangat penasaran. Ada apa dengannya?

Aku tetap berkonsentrasi menatap lurus kedepan walau sesekali aku melirik satu jalan, mencari Jalan Flames ^^v

Kubelokkan mobilku setelah kutemukan jalan yang kucari. Terlihat perumahan SHINee World, dimana Heera tinggal. Yeah, perumahan yang bersih. Okay kali ini aku mencari Jalan Lockets. Tidak sulit. Hanya satu belokan kearah kanan dari pintu masuk.

Aku mengetuk pintu rumah sederhana ini perlahan. Tidak lama ada seorantg namja yang membuka dan tersenyum kearahku.

“Mencari siapa?” tanyanya sambil melirik kearah mobilku yang terparkir tepat di depan rumahnya.

“Heera. Dia tinggal disini?”

“Oh, nona besar. Ne, dia tinggal disini. Tapi dia sedang tidur. Nona sedang sakit.”

“What? Boleh aku masuk? Melihat keadaannya?”

Anak itu mempersilakan aku masuk dan melihat keadaan Heera ke dalam kamarnya.

Aku melihat sosok gadis cantik itu tertidur lemas di atas ranjangnya. Wajahnya terlihat pucat. Dan setelah aku periksa, ternyata suhu tubuhnya memang tinggi.

Taemin mengajakku untuk mengobrol sebentar di ruang tamu dan membiarkan Heera untuk beristirahat karena dia baru saja tertidur, ucapnya.

“Maaf, sebenarnya Heera itu siapa? Mengapa kau memanggilnya nona  besar?” tanyaku. Matanya terbelalak.

“Ha? Aku kira kau saudaranya. Kau bukan Jino?”

“Jino? Siapa dia? Bukan. Aku Key. Ayo katakan padaku, siapa dia sebenarnya? Aku hanya mengenalnya sebagai waitress di cafe langgananku.”

“Nuna adalah puteri kedua dari Tuan Lee Jongwoon.”

DEG!!

“MWO??! Lee Jongwoon… bangsawan yang kaya raya? Pengusaha sukses? Dia puteri keduanya?”

“Ne…”

My God!!!

TBC ;]

………………………………………………

Bagaimanaaaa?

Seru, atau garingkah? Hehehe..

Ayo dong, komen2 yaaaa 😀

Tunggu chap terakhirnya okay?

Saranghae readers..

Silent reader, saranghajima!!

………………………………………………

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

76 thoughts on “My Poor Princess – Part 2”

  1. aah seru thor..
    Ternyata key mulai suka dg heera.
    Hyora jahat kali tukang fitnah
    minho lagi gampang aja percaya
    kasian heera nya sakit
    tapi lawak waktu key tau siapa heera sebenarnya
    jadi penasaran
    ditunggu lanjutannya ya thor 🙂

  2. AAAAAAAAA !!
    KENAPA TBC ;_;
    LAGI SERRUUUUU !! *plak #kenatabokauthor

    ini FF sih ng’drama korea-taiwan bgt.xP
    Kkkekekekkk ~~xP
    Aigooo !
    Suka suka suka !

    Akhirnyaaaa~
    Key tau jg spa Heera sbnrny =3=)/

    Cih~ benci liat onnie ny Heera , si Hyora -,-
    Fuh~

    D tungguuuu Next Chapter nyaaa~
    SOOn yaaah.xD *plak

  3. Haayaa~ aku tau deh Hyora itu tambah benci sama Heera pasti karena Minho suka sama Heera padahal Hyora suka sama Minho. ngeeh ==”

    Lanjutannya ditunggu! Hwaiting ~0~

  4. wahh daebak daebak , seruu banget FF nyaa , hh si hyora nyebelin banget kalo aku jadi heera udah aku bunuh ihh !!!!!
    huaa minho oppa pabo masa percaya sama si hyora ???
    asikk key udah tau heera itu orang kaya . hahhahah lanjutt thor FF nya DAEBAK bangettttttttt

  5. daebak! ga bisa ngebayangin muka key yg cengo pas tau heera ternyata anak orang kaya!

    minhonya kok gitu sih, gampang banget dipengaruhin -0-
    lanjut terus author, ditunggu yaaa

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s