Run Away

 

Run Away

Author                  : violet

Main cast             : Choi Minho, Hwang Evelyn

Genre                   : Romance, family,

Length                  : oneshot

Rating                   : PG-13

Support cast       : Shinee member, Hyung manager, Bodyguard, Mr. Nam

Summary             : I’m really love today. The day I keep crush on him. =D

 

Eve POV———————

“I’m ready” ucapku, sambil berlari kecil menuruni tangga rumahku. Aku mengendap-endap agar kepergianku tidak diketahui seisi rumah. Sampai di depan pintu rumahku, aku celingukan kanan kiri, memastikan tak ada orang. Saat kubuka pintu.“Ehemm…” kudengar suara berdeham seseorang. Kutengokkan kepalaku dan nyengir kuda, “He…Mr. Nam, how long have you been there?”. Mr. Nam, “I’ve already here when you do this, Miss” (sambil menirukan gaya Eve yang mengendap-endap). He..he..Aku hanya tertawa tawar melihat gayanya tadi. Ku lihat dia siap mengintrogasiku. Ku jawab dengan enteng, “I have to go to bookstore. So, I’m leaving first. Annyonghaseyo”. Ku lambaikan tanganku seraya berlari.

Di depan rumah, sopir sudah membukakan pintu mobil untukku. Aku masuk mobil dengan bimoli (*bibir monyong lima centi). Mobil membawaku ke toko buku, tentu saja pergi ke toko buku hanya alasan saja. Ketika sampai, aku turun dari mobil kemudian melangkah masuk ke dalam toko.

Di dalam toko aku mengamati sopirku yang masih menunggu. Sebenarnya, aku kasihan padanya kalau kena marah Mr. Nam, tapi apa boleh buat. Aku kabur lewat pintu keluar lain lalu berjalan menuju halte. “OMO! Eve you’re stupid” rutukku pada diri sendiri. Aku tidak pernah menggunakan fasilitas umum jadi bagaimana bisa aku naik bus. Kuputuskan untuk mencari taxi saja.

“Yippii..” aku benar-benar bersemangat ketika taxi telah sampai di halaman SM. Hari ini SM mengadakan konser Shinee. Aku tidak terlalu mengenal Shinee, namun 3 hari sebelumnya aku membuka web k-pop dan kutemukan berita konser rehearsal Shinee. Kemudian ku download beberapa lagu Shinee untuk kudengarkan. Begitu aku dengarkan lagunya, aku tertarik dengan suara rapper-nya. Dia jarang bernyanyi hanya melakukan tugas rap nya, tapi aku sungguh menyukai tipe suaranya. Suara berat, nge-bass, dan manly.

Aku mulai mengantri untuk memasuki hall tempat berlangsungnya konser. Beruntungnya, aku mendapat tiket VVIP sehingga dapat dengan jelas melihat performance Shinee nantinya.

Minho POV————————

Semua member dan kru sibuk mempersiapkan konser ini. Aku sudah selesai dengan dandananku. Entah kenapa, hari ini moodku tidak terlalu bagus. Aku hanya mendengus dan menghempaskan badanku di sofa ruang tunggu.

Saat konser

Eve POV—————————

“KYAAAA…” hysteria penonton menjadi saat Shinee mulai tampil. “Itukah Shinee. Umm…mereka cukup tampan” batinku. (Reader: mata lo rabun ya…mereka sungguh tampan tau). Mereka juga membawakan lagu solo secara bergantian. Usai perform, MC mewawancarai mereka. Kuperhatikan rapper pujaanku itu cenderung diam. Padahal aku ingin mendengar suaranya lagi. Namanya Choi Minho.

Pukul 12.00 waktu Seoul, konser rehearsal Shinee selesai sudah. Aku melangkah keluar dari gedung pertunjukkan dengan riang. Akhirnya, aku bisa melihatnya dari jarak cukup dekat. Tiba-tiba kurasakan seseorang memegang lenganku. “Oh my gosh” ucapku.

Aku meronta, namun tidak cukup untuk membuat namja ini bergeming. Dia mencengkeram kedua lenganku dan memaksaku masuk ke dalam mobil. “Calm down Miss. You make yourself become a centered of attention” ucapnya. “Aishh..” desisku. Aku tak peduli, hari ini aku benar-benar ingin bebas jadi ku berteriak, “PLEASE HELP MEE..”.

Duggg….aku terkesiap dan memekik tertahan. Seorang namja memukul bodyguardku. Dia (bodyguard) terjerembab. Namja itu kemudian menarik tanganku. Kami berlari masuk kembali ke gedung SM. Berlari dan berlari karena bodyguard-ku mengejar.

Dia terus menarikku dan berlari ke arah yang aku tak tahu. Kami menaiki tangga darurat. Berlari melewati loby. Menaiki tangga lagi. Menerobos sana sini. Aku sudah tak kuat berlari. Kusentakkan tanganku perlahan untuk memberitahunya bahwa aku tak sanggup berlari lagi. Akhirnya dia menghentikan larinya dan melepaskan tanganku. Aku tersengal-sengal mencoba mengatur nafasku. Kulirik namja itu, dia merapat ke dinding dan menengok ke belakang, “Sepertinya kita berhasil melarikan diri. Dia tidak terlihat mengejar lagi. Ugh… untungnya aku kenal betul liku-liku kantor SM” cerocosnya. Aku hanya melongo memandangnya sampai-sampai orang bisa memasukkan tiga jari sekaligus ke mulutku. “kau ini kenapa?” tanya namja itu. “Could you speak slowly? I can’t understand what you’re speaking”, aku kemudian menyengir.

Namja itu memerhatikanku. Dia mensejajarkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya padaku agar melihat wajahku dengan jelas. Aku dengan reflex mundur. “Ah, you aren’t an Korean, are you?” ucapnya. Aku hanya tersenyum, “Umm…half…aku blasteran Indo-Korea” ucapku memakai bahasa korea. Yeah, bahasa koreaku belum terlalu fasih. Dia mengangguk mengerti, “Kenapa kau sampai berurusan dengan namja yang mengejar kita tadi” dia melambatkan kata-katanya. “Oh, that namja wanna ruins my day, so I try to against him, but as you know…I can’t” jawab eve sambil mengangkat bahunya. Di mengangguk tanda mengerti (padahal lum terlalu donk..*Author:YAAA lalu kenapa kau mengangguk). “Gamsahammida” ucapku. “Gwaenchanayo. Lets go out from this building fisrt” ajaknya.

Aku memerhatikan wajahnya yang agak tersembunyi di bawah topi. “Oh my gosh” desisku. “Choi Minho-ssi, you’re one of Shinee’s member. Aren’t you?”

Minho POV————————-

Aku baru saja selesai konser dan keluar dari gedung SM untuk menuju dorm. Tanpa kusadari, topi milikku tertinggal di ruang make-up jadi ku minta izin pada member lain untuk mengambilnya. Aku sedikit berlari dengan topi yang sudah kukenakan sampai kulihat ada yoeja yang butuh pertolongan.

Tanpa ba-bi-bu kulayangkan tinjuku pada namja yang mencengkramnya. Kutarik tangannya dan berlari. Setelah cukup lama berlari, kurasakan dia menyentakkan tangannya. Aku menoleh padanya dan benar saja, dia sudah kehabisan nafas. Aku melihatnya mengatur nafas sambil mengoceh kalau kita sudah berhasil kabur. “Noemu kyeopta” pikirku. Dia malah melongo lalu berkata, “Could you speak slowly? I can’t understand what you’re speaking”. Aku mensejajarkan kepalaku berpura-pura memerhatikannya, padahal aku hanya ingin melihat wajah cantiknya lebih dekat. Tanpa sedekat itu memandangnya, sekilas aku juga sudah tahu kalau dia bukan yoeja korea asli. Hehe =) (evil smile). Mata coklatnya yang besar nan bulat dengan bulu mata yang lentik, tidak seperti mata orang korea dan kulitnya cenderung berwarna kuning juga tidak seperti kebanyakan orang korea yang berkulit putih pucat.

Dia sepertinya agak terkejut dan melontarkan pertanyaan yang menurutku agak bodoh, “Choi Minho-ssi, you’re one of Shinee’s member. Aren’t you?”. Jadi dari tadi dia tidak mengenalku. Bukankah yoeja ini salah satu shawol yang menonton konserku tadi. Aku mengenalinya karena dia duduk di barisan VVIP. “yes I am” jawabku. “Sudahlah, jangan terlalu terpesona padaku, kajja”

Author POV———————-

Minho berjalan beriringgan dengan yoeja tadi. Dia bermaksud mengantarkan yoeja itu keluar gedung SM tanpa dikejar lagi oleh namja aneh tadi. Namun tanpa mereka sadari, seorang namja tersenyum sinis beberapa meter di belakang mereka. Namja itu berjalan perlahan agar tidak mengagetkan buronannya (Ehhh???).

Eve masih takjub karena melihat idolanya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan langka ini jadi dia tolehkan kepalanya untuk menatap Minho. Eve melihat dengan ekor matanya, seseorang berjalan di belakang mereka. Dia menahan nafas sepersekian detik, “RUNNN”.

Minho menoleh kebelakang. Benar saja, namja yang tadi mengejar mereka sudah siap menerkam (Author: bahasanya??). Minho menggenggam tangan yoeja yang bahkan tak diketahuinya. Dan aksi kejar mengejar terulang lagi (Tom and Jerry mode: on).

Keduanya terengah-engah mengatur nafas. Sekarang, mereka berada di ruang make up artis Shinee, jadi tidak semua orang  diperbolehkan masuk. Minho berusaha mencari akal agar dapat dengan selamat keluar dari gedung SM. Dannn

Cliiiing ada lampu PH*L*PS menyala di atas kepalanya, tanda dia menemukan ide…

Minho mengambil ponselnya, menelpon managernya agar mengantar member lain pulang ke dorm dahulu dan minta tolong managernya agar membawakan mobilnya lewat pintu belakang SM. Selanjutnya, dia mengacak beberapa baju yang pas untuknya, kemudian mengambil jaket warna turquoise* dan mengenakannya. Mengalungkan syal warna putih di lehernya. Minho memilah dan memilih beberapa baju wanita untuk si yoeja.

Eve itu hanya terbengong-bengong dengan tingkah laku idolanya. “You wear this. This’s look suitable on you”. Eve menurut saja apa kata Minho. Beberapa menit kemudian, dia keluar mengenakan celana warna ungu setengah paha, t-shirt warna putih dipadu dengan blazer cream.

“Dia terlihat cantik dengan dressnya tadi dan dengan pakaian bergaya sportif ini” batin Minho. “Uumm…ikat rambutmu dan kenakan topi ini” ucap Minho dengan gugup. Eve melakukan yang Minho minta.

Mereka keluar dengan agak berjingkat-jingkat. “Clear. Just walk at ussual” ucap Minho. Kemudian Minho memberikan lengannya pada yoeja itu agar si yoeja menggandengnya. Tapi Eve hanya melongo sambil menunjukkan innocent-face nya saja. “Aishh”. Minho menarik tangan Eve dan melingkarkan pada lengannya. “Kita berpura-pura sebagai sepasang kekasih” kata Minho menjelaskan.

Di koridor, mereka berpapasan dengan namja tadi. Eve agak terkesiap dan mengeratkan rangkulannya pada lengan Minho. Dia menunduk tak berani memandang namja tadi. Tiba-tiba Minho menarik lengan kiri Eve yang bebas dan merapatkan tubuh Eve ke tembok. Dia mendekatkan wajahnya sehingga kejauhan nampak mereka sedang berciuman, tapi nyatanya tidak karna Minho menahan wajah Eve dengan memegang pipinya. Dia berusaha menutupi wajah mereka berdua agar tidak dilihat sang namja.

“Hehhh…dia sudah pergi, ayo jalan lagi” ucap Minho. Tanpa memerhatikan detak jantung Eve yang tak karuan dan wajahnya yang berubah merona. “Huft…” ucap Eve pelan sambil mengelus dada. Terlihat dia masih shock dengan perlakuan artis pujaannya.

Keduanya sampai di pintu belakang dengan sambutan sang manager yang melongo (again???). Minho menyadari ekspresi managernya, “Hyung aku bisa jelaskan nanti. Aku ada urusan. Gomawoyo, hyung sudah membawakan mobilku. Aku pergi dulu, annyoeng” cerocos Minho. Sang manager masih dengan bengongnya antara kaget dengan yang dillihatnya dan terpesona melihat Eve.

+++++++++++++

Di mobil

Author POV———————–

“Where’s your home? I’ll accompany you to back home” tanya Minho. Eve agak tersentak mendengarnya, lalu memberikan tatapan tak percaya pada Minho. “Jangan berpikir macam-macam. I’m free today. Just assume that it is a fans service.” Jelas Minho. “Whoa, really?…umm..” jawab Eve seraya memutar bola matanya dan memegang dagu layaknya orang berpikir. Giliran Minho yang menatap aneh pada yoeja yang di sampingnya. “Apa yang dipikirkan yoeja ini” batin Minho.

“Quickly. Do you forget your address?. Ah jinja” erang Minho. “No. I don’t want to go home. How about going to beach?” ucap Eve dengan wajah sumringahnya. “WHAT?BEACH?NO!!” bentak Minho. “Oh, come on Minho-ssi. You said that it’s a fans service, didn’t it?”…”I’ll show you a beautiful beach with a magnificent sunset and a cozy restaurant with a really yummy foods, please” rengek Eve. “NO. Beach is about three hours from here” tolak Minho. “Oh. OK!. I’m a blogger so I’ll write in my blog that CHoi Minho didn’t treat his fan well” ancam Eve. “aishh. This girl is really annoying. OK. WE GO TO BEACH. Do you satisfied?” ucap Minho dengan sedikit membentak. Eve hanya tersenyum penuh kemenangan. “Gomawoyo, Minho-ssi”.

Eve sangat menikmati perjalanannya. Dia menyanyi, tersenyum, menanyakan beberapa tempat yang mereka lewati kepada Minho (karena Eve baru beberapa bulan di Korea), dan memberikan tebakan aneh pada Minho. Bagaimana dengan Minho? Tentu dia masih kesal dengan permintaan fansnya yang berlebihan tapi daripada mendapat nama jelek, apa boleh buat. Minho menyetir dengan wajah yang masam, namun melihat tingkah riang Eve, lama-lama dia ikut tersenyum juga. Cemberut mengakibatkan pegal juga. =)

Pukul 04.00 p.m mereka telah sampai di area pantai. “Minho-ssi, you can park there” kata eve sembari menunjuk suatu tempat. Minho mengarahkan mobilnya menuju tempat yang ditunjuk Eve. Seketika setelah mobil berhenti, Eve dengan sedikit tidak sabar membuka pintu mobil dan memandang lepas ke arah pantai. Eve berlari mengelilingi mobil untuk menghampiri Minho dan menarik tangannya. “Kajja” serunya. Minho hanya mendengus, merutuki dirinya, kenapa tadi dia bilang ‘fans service’.

Eve mengajak Minho melewati pasar kecil yang menjual berbagai souvenir. Eve sengaja mampir ke pasar itu sambil menunggu waktu matahari tenggelam. “Minho-ssi look at there” teriak Eve. Dia kemudian berlari ke sebuah stan permainan “melempar gelang karet pada botol yang digerakan”.

“Ahjussi, aku ingin mencobanya”. Eve membayar beberapa won dan mencobanya, tapi dari 3 gelang yang diberikan tak ada satu pun yang mengenai botol. Dia hanya memanyunkan bibirnya. “Wah daebak LU” ejek Minho…”sini. Let me try”. Eve menaikkan alisnya ingin minta penjelasan kenapa Minho memanggilnya ‘LU’. “LUCIFER. You’re Lucifer” ucap Minho. “huhh seenaknya saja kau panggil aku lucifer”. Minho tak peduli dengan protes Eve. Dia berkonsentrasi pada game. Percobaan pertama Minho ternyata gagal juga T_T. “yeah. You’re daebak too, Minho-ssi” balas Eve.

Minho tak terima dengan kekalahannya, dia mencobanya lagi begitu pun dengan Eve. Mereka sungguh menikmati permainan itu. Tertawa bersama, saling mengejek, dan saling menyemangati untuk berhasil memenangkan game itu. “OH, Minho-ssi, YOU GOT IT” teriak Eve dengan loncat-loncat gembira. Minho hanya memamerkan seringai kemenangannya. Adakah yang tak gembira? Tentu saja ahjussi pemilik stan itu karena dia harus rela memberikan hadiah. “Mana yang kau mau?” tanya Minho. Eve mengamati hadiah2 yang disediakan. Dia kemudian menunjuk bandul HP berbentuk bintang berwarna ungu keperakan. “Is this for me?” tanya Eve. Minho hanya mengangguk pelan untuk mengiyakan. “Thanks a lot”. Eve lalu mengambil HP-nya dan memasangkan bandul tersebut. “Kajja, Minho-ssi” ajaknya. Mereka meneruskan perjalanan ke pantai.

Eve berlari kecil menyusuri bibir pantai. Merentangkan tangan menikmati hembusan angin. Minho mengikuti dan memerhatikan Eve dari belakang, “segembira itukkah kau,Lu” ucapnya lirih.

Minho POV———————-

Yoeja ini benar-benar merepotkan, tapi entah kenapa aku juga melakukan permintaan-permintaannya. Wajahnya lucu sekali saat dia tak berhasil dalam permainan itu. Ok girl, I’ll help you. Kau LUCIFER. Aku bermain dengannya. Kami tertawa. Penat dan rasa kesalku entah lenyap kemana. Aku tak salah memanggilnya Lucifer.

Aku mengamatinya berlari di pantai. Dia terlihat sangat menikmati pantai ini. Senyum dan tawanya sungguh indah. Aku pun mengikutinya menyusuri pantai ini. “Sore yang indah” batinku. “Hhmmm, Lu, aku akan membalasmu”.

Author POV————————

Minho berlari menyusul Eve dengan menggemgam pasir yang basah. “HEI LU, take this” teriak Minho. Dia melemparkan pasir ke arah Eve. Lalu Blazer creamnya sudah dipenuhi pasir dan basah. Tidak terima dengan apa yang Minho lakukan, Eve membalas Minho dengan serupa. Minho kemudian mengangkat tubuh Eve lalu menceburkannya ke pantai. Alhasil, kini Eve basah kuyup. Dia mengejar Minho untuk balas dendam. Keduanya terlalu asyik menikmati sore itu dengan berkejar-kejaran (author: old fashioned baget ni…tapi gak papa lah).

Mentari hari itu siap masuk ke peraduannya. Dua makhluk itu (Ehh??(“.)> ) duduk di pasir menikmati indahnya pemandangan. “How amazing it is. Isn’t it Minho-ssi?” puji Eve. “Hmm. You have thanks to me because of  this” balas Minho. “Gomawoyo. Minho-ssi, cobalah tutup matamu dan renungkan hari ini” pinta Eve. “Hah, merenungkan hari ini? Adanya juga musibah karena bertemu denganmu, Lu” ejek Minho. “just try it” paksa eve. Minho pun melakukannya.

Sudah 20 menit mereka memejamkan mata. Minho kemudian membuka matanya. Ternyata Eve menggeser duduknya agak ke depan, sehingga dia tidak bersebelahan dengan Minho. Minho kemudian merangsek maju, mensejajarkan posisi duduknya dengan Eve. Dia melihat ke arah Eve.

Minho POV———————–

Aku melihat ke arah Lucifer ini. Dia menangis. Bukannya baru saja dia gembira,tapi sekarang malah menagis. Yoeja benar-benar aneh (Author: ya minho-ssi, enak saja mengatakan yoeja aneh. Gak terima. …*Plak.abaikan).

Hatiku berdegub kencang ketika memandangi wajahnya saat dia tersenyum atau pun menangis. Ku angkat tanganku dan kuusap air mata di pipinya. Dia malah berkata, “Mom…”. Sepertinya Lu masih larut dalam pikirannya. Ku tetap membersihkan air matanya yang mengalir. Sesaat dia membuka matanya dan sedikit terlonjak. “Mianhe, Minho-ssi” ucapnya sambil menunduk untuk mengelap air matanya.

“It’s OK” ucapku. Spontan, aku merengkuh bahunya untuk menenangkannya. Ku rasakan dia masih tergugu dalam tangisnya. Ku eratkan pelukanku dan menenggelamkan kepalanya di dadaku. Ku tepuk-tepuk pelan bahunya. Membiarkannya menangis. Parahnya Jantungku tak mau kompromi denganku, malah semakin cepat berdetak. Aku tak peduli apa Lu mendengar detak jantungku ini tidak.

Eve POV————————-

“Mommy, I’m really miss you”

Author POV———————–

Hari beranjak malam, Minho dan Lucifernya menuju tempat parkir mobil. Minho kemudian membuka bagasi mobilnya. Dia mengambil kaus. “Kenakan ini, kau akan masuk angin jika bajumu basah seperti itu” ucap Minho sambil menyodorkan pakain pada Eve. “Hmm, aku pinjam mobilmu untuk berganti, JANGAN MENGINTIP” ancam Eve. “Apa yang harus ku intip darimu, LUCIFER” ucap minho dengan menekankan pada kata Lucifer.

Eve berganti pakaian di dalam mobil. Dan diluar, Minho menahan rasa  penasarannya agar tidak mengintip. “Huhh” dengus Minho sebal.

Eve selesai mengganti kausnya dengan kaus Minho yang terlihat kebesaran di badan mungilnya. Kausnya yang dikenakan Eve menjuntai sampai setengah paha dan leher kausnya agak longgar membuat leher Eve terlihat sempurna. Minho hanya melihatnya dengan melongo, “She still looks beautiful” batinya.

+++++++++++++

Still Author POV——————

“Itu restoran yang kumaksud Minho-ssi” ucap Eve girang. “baiklah, karena aku juga lapar. Kita makan di sini saja” kata Minho menanggapi Eve.

Setelah Eve memesan makanan. Eve mengedarkan pandangannya ke seluruh restoran. “Restoran ini sedikit berubah.” Katanya. “Jadi kau pernah ke sini?” tanya Minho. “Yes I have. It’s about 10 years ago with my mom.”…”today, I wanna remembering all my memories with mom in this place” jelas Eve. “Yaa, kenapa kau malah mengajakku dan merepotkanku. Kenapa tidak pergi ke sini bersama umma mu saja, sekalian kalian bernostalgia” cerca Minho. “If I could, I will do it. But I couldn’t. My Mom had passed away” jawab eve. Minho agak terkejut dengan jawaban yoeja di depannya, dia merasa bersalah mengungkapmasa lalunya, “Mianhe. I’m not meant”. “hmm…it’s OK Minho-ssi”.

Minho POV————————

Jadi inilah alasan Lu ke pantai dan restoran ini. Dan pasti alasan dia menangis tadi juga karena umma nya. Sesungguhnya aku merasa senang dapat menemaninya hari ini, walaupun awalnya aku kesal dibuatnya.

Makanan telah datang. Berabagai makanan laut terhidang di hadapan kami. Uihh, aku tergiur untuk menghabiskan makanannya. Benar kata Lu, suasana restoran di sini menyenangkan dan makanannya sungguh enak.

Selama makan aku dan Lu tak banyak bicara. Sesekali aku menggodanya dengan menempelkan kecap di pipinya. Dia marah dan memanyunkan bibirnya. My cutest Lucifer.

Author POV———————–

Setelah menikmati makan malam, keduanya pulang. Saat akan memasuki Seoul, Minho ingin menanyakan kembali di mana rumah Eve, “Where’s your addres, Lu?”. Tapi tak ada jawaban. Minho lalu menoleh ke samping dan mendapati Eve terlelap. Minho hanya tersenyum. Dia melajukan mobilnya pelan seakan tak ingin waktu bersama Lucifer-nya berlalu cepat.

Minho POV———————–

Lampu lalu lintas bewarna merah. Aku menolehkan kepalaku pada Lu, lagi. Dia terlihat sangat tenang dan damai ketika tertidur. Wajah cantiknya terlihat semakin mempesona. Tanganku merapikan poni-poninya. Dan “TIINNNN….” Suara mobil belakang mengagetkanku dan sekaligus membangunkan Lu. “Shit..” umpatku.

Aku melajukan mobilku lagi. Kulihat Lu mengucek-ngucek matanya. Aku menunggu nyawanya terkumpul (author ni bahasanya (“.)> ) untuk menanyakan alamatnya. Sungguh sebenarnya aku tak ingin berpisah dengannya.

Author POV———————–

Minho baru saja akan membuka mulutnya untuk bertanya sebelum sebual mobil mewah secara mendadak berhenti di depan mobil Minho. Minho kaget dan dengan reflex mengerem mobilnya. “Shit. What the hell are they doing?” umpatnya sambil memukul kemudinya.

Dua namja turun dari mobil tadi. Mata Minho membulat mengetahui salah satu namja tadi. “Apa mau mereka sebenarnya” bentak Minho. “Kau di dalam mobil saja” perintah Minho sambil membuka pintu mobilnya. Eve menarik tangan Minho, “I’ll handle it”. Minho tidak percaya dengan yang didengarnya. Sebelum Minho melontarkan protes, eve menjawab, “I know them. They won’t to hurt me”. Minho memberikan pandangan bagaimana-bisa-?. Eve hanya tersenyum dan turun dari mobil.

Minho POV———————–

Aku benar-benar tak mengerti dengan perkataan Lu. Aku tetap keluar dari mobil namun tetap berada di samping kemudiku, kuperhatikan Lu. Aku terkaget ketika melihat dua namja tadi malah membungkuk memberi hormat pada Lu. Permainan apa lagi ini Lu.

Eve POV—————————-

Mr. Nam (kepala pelayan di rumahku) memberikan beberapa menit padaku untuk berbicara pada Minho-ssi. Akan kukatakan yang sebenarnya. Aku kemudian menghampirinya. Dia menutup pintu mobil dan bersandar di mobilnya.

Aku tersenyum padanya tapi dia malah melipat tangannya di depan dada dan memberikan tatapan menyelidik padaku. “Mianhe, Minho-ssi. Mereka adalah orang suruhan appaku untuk menjemputku.” . Minho-ssi memiringkan kepalanya seakan meminta penjelasan lebih, “Namja tadi pagi itu yang mengejar kita adalah bodyguardku sendiri”.

Kulihat Minho-ssi sangat kesal, “You really a Lucifer“ ucapnya sembari berbalik membuka pintu mobil. Aku menahan lengannya, “Jeongmal mianhe. Aku hanya ingin bersenang-senang di hari ini. Terbebas dari tekanan Daddy. Just for today. Hari ini adalah hari kematian Mommy, makanya aku sangat ingin ke pantai itu. Mengenang Mommy”. Kurasakan mataku sudah berkaca-kaca kemudian Minho-ssi memelukku lagi. Sungguh pelukkan yang nyaman dan hangat. “someday, can I have it forever” batinku. Aku kemudian menjelaskan padanya tentang masalahku.

Ya benar, Mommy-ku meninggal pada kecelakaan kereta tepat di hari ulang tahunku. Dan itu membuatku menerima hadiah terburuk. Semenjak itu, aku tak ingin hari ulang tahunku dirayakan. Namun, tidak dengan Daddy, Hari ulang tahunku adalah salah satu momen penting untuk dirayakan. Sudah tentu Daddy menyiapkan pesta di rumah. Untuk apa? Bisnis. Daddy akan mengundang kolega bisnisnya di perayaan ulang tahunku. Aku sangat membenci suasana itu. oleh karena itu aku kabur.

Ketika sudah cukup tenang aku melepas pelukannya, “Gamsahammida, Minho-ssi. Today I’m very joyful”….”Umm, can I ask for prize?” ucapku. Dia terdiam sepertinya berpikir sesuatu. “Kiss me”. Aku memanyunkan bibirku dan maju ke arahnya. Dia agak kaget dan menghindar. “haha…” tawaku meledak. “Gotcha…” sahutku. Dia kena ku kerjai. “Aku pernah menontonmu menolak ciuman seorang gadis cantik di suatu reality show dan sekarang kubuktikan sendiri. Mukamu benar-benar lucu” ucapku sambil menahan tawa. Kuusap air mata yang menggenang di mataku karena tawaku. Minho-ssi terlihat kesal. Aku sangat gembira hari ini, andaikan hariku esok kan seperti ini lagi…“Anyway, thanks a lot. Being with you this whole day is my present. Annyeonghi gaseyo”. Aku melambaikan tangan dan berbalik.

Minho POV———————–

Aku agak kaget dengan pengakuannya. Aku kesal padanya. Bagaimana mungkin dia lari dari appa nya sendiri. Seseram apa pun tetap appa nya tidak akan tega menyakiti anaknya sendiri. Tetapi, mendengar penjelasannya dan melihat mata indahnya berkaca-kaca pertahananku luruh juga. “Don’t cry again” ucapku sambil merengkuhnya dalam pelukku. Dia menjelaskan lagi alasan untuk hari ini. Sekarang aku tahu duduk persoalannya dan rasa marahku sekejap hilang karena mengetahui yang sebenarnya.

Dia meminta hadiah saat ini?. Aku tak membawa apa pun yang bisa diberikan sebagai hadiah. “Kiss me” pekiknya. “Mwo??”. Dia memanyunkan bibirnya dan mendekat. Entah kenapa aku menghindar. Wajahnya benar-benar imut jika seperti itu. “Gotcha” ucapnya. Kemudian dia malah tertawa. “Huh kau mengerjaiku ya…”. Tapi aku suka melihatnya tertawa lepas seperti ini. …“Anyway, thanks a lot. Being with you this whole day is my present. Annyeonghi gaseyo” ucapnya. Dia melambaikan tangan dan berbalik.

Kutarik lengannya dan dengan cepat kuraih wajahnya. Kucium bibir merah mudanya secara kilas. “Gotcha” ucapku. Aku tersenyum melihat matanya yang masih terbelalak. “You ask me to give a prize, don’t you?” godaku. “ugh..” ucapnya dengan sedikit tersentak. “Ok. I’ll give you a birthday prize, Lu”. Aku menciumnya untuk kedua kalinya dengan lembut.

Aku melepaskan ciumanku. “Saengil chukae. See you, my Lucifer”. Aku mengacak rambutnya. Kubuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Ku buka kaca mobilku agar dapat melihatnya. Dia tersenyum dan melambai.

++++++++++++++++++++++

1 month later

Minho POV——————–

Aku merindukannya. Bodohnya aku, bagaimana bisa aku tidak menanyakan namanya, alamatnya, atau sekedar nomor HP-nya. Aku pandangi wallpaper HP ku. Fotonya yang kuambil saat itu. My Lucifer.

Aku selalu mencari sosoknya di antara para fans saat konser berharap bisa menemukan binar cantiknya, namun usahaku nihil. Aku menyusuri lagi jalan dan pantai yang pernah kulalui bersamanya, berharap secara tidak sengaja bisa menemukan biasnya, tapi hasilnya juga kosong. Bahkan, aku meminta daftar pembeli tiket VVIP pada panitia konser saat itu, kucari nama asing di sana, tapi tetap tak kudapati petunjuk tentangnya. Aku lelah. “Apa yang harus kulakukan untuku menemukanmu Lu?” erangku.

“LU, I really longing for your smile and your tears, do you know it?”. Aku merasa frustasi. Dia datang tiba-tiba di hidupku, mengacaukan hariku dengan senyum dan tangisnya. Sekarang dengan tiba-tiba juga, dia tinggalkan aku. Membawa serpih hatiku bersamanya.

Di setiap hari ketika bangun tidur, ku kumpulkan semangat menjalani hari itu. Kau tahu kenapa, Lu?. Aku berharap hari itu adalah hari dimana ku dapat menemukanmu. Hanya dengan memikirkanmu membuat hatiku berdesir. Hanya dengan mengingat harum tubuhmu membuat detak jantungku terpacu. Kau tahu itu, Lu?. LU, answer me!.

+++++++++

Still Minho POV—————-

Hari ini akan ada presentasi dari perusahaan ternama yang menginginkan Shinee sebagai brand-ambassador produknya. Aku benar-benar malas untuk datang. Kenapa bukan Hyung manager saja yang mengurus masalah teknis seperti ini.

“Semangatlah Minho” ucap Onew-hyung. “ye, hyung” ucapku yang masih tak semangat. “Humm…katanya presentasi dilakukan oleh seorang direktur yang tak lain adalah putri tunggal pemilik perusahaan yang produknya akan kita bintangi. Aku penasaran hyung, seperti apa dia?pasti noona yang tua karena dia adalah seorang direktur” ucap Taemin polos. Aku mengacak rambut Taemin, “mungkin kau benar Tae. Aku jadi tambah tak bersemangat”. Sejurus kemudian Onew-hyung sudah menjitak kepala kami berdua. “apoo..” kami memegangi kepala kami dan meringis.

Pada saat meeting

Aku mendengar suara sepatu high-heel khas seorang yoeja. Aku masih tertunduk. Kurasakan Taemin menyenggol lenganku dan berbisik, “Hyung kau harus lihat direktur itu…yoeja itu…diaaa”. aku tak bersemangat. Agak kudongakkan kepalaku dan kulihat sebuah Hp berbandul bintang ungu keperakkan yang dipegang oleh tangan seorang yoeja. Aku terperanggah, “itu kan bintang yang kumenangkan kala itu”. Sontak ku alihkan pandanganku pada wajah yoeja itu. Nafasku tertahan, “LU” pekikku, ”You’re Lucifer, aren’t you?” suaraku tercekat namun cukup untuk didengarnya. Dia tersenyum manis ke arahku dan berkata,

“My name is Hwang Evelyn, Mr. Choi. You can call me Eve”

END

*turquoise=warna biru kehijauan.

Author: mianhe klo ceritanya gaje. This is my first ff for oneshot. jadi maaf klo bahasanya masih kacau. Aku masih belajar.hehe…=D. Komen dan sarannya please. Thanks 4 reading.

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

20 thoughts on “Run Away”

  1. Wowwwwwww
    Akhirnya ketemu lagi
    Mungkin eve sibuk urus perusahaaan
    Ku pikir baakal ketemu dipantai
    Tapi ternyata ….
    Kerennnn

  2. Sbnarnya aku th gk trlalu ska Minh0, skanya 0nKey. Kreeennnn…..Menarik !!! Cman krang panjang, mending bkin sequelnyarik !!! Cman krang panjang, mending bkin sequelny

  3. huwaaa ffnya bgus aku suka ….
    bikin sequelnya dong thor …
    huwaaaa minho ktemu tuh sma eve ..
    ahahaha lucifer mu …
    key !! lucifer mu itu aku ya !!! #plakkk!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s