hitme

Hit Me – Part 1

Hit Me

Part 1

Author : Ayi (Ashyta)

Beta-reader : Zika, Lana

Main Cast : Lee Taemin, Ivy

Support Cast : Silver, SHINee, Kwangmin – Youngmin (Boyfriend), Shim Hak.

Genre : Family, Life (based on trues story), Romance

Length/Type: Trilogy/Marriage Life

Rating : General – Parental Guidance

Story by : Mom & Dad

Inspired by : Parenthood, 90210

Summary : Seperti ini rasanya ternyata. Ketika seorang ayah, menangis dalam pelukan sang anak. Berharap anak itu mengerti keadaannya dan bisa mengurangi bebannya. Memanfaatkan ketulusan hati dan cinta sang buah hati, untuk menenangkan lagi jiwa yang gusar, memberi kekuatan ketika emosi dan tenaganya terkuras habis dalam kerasnya hidup.

♦♦

“Yeoboseyo, Lee Taemin imnida.” Sapa Taemin begitu menekan tombol hijau. “Appa[1]!” Taemin tersentak begitu mendengar suara gadis cilik di ponselnya. “O Silver-a, waeyo[2]?” Taemin menghentikan pekerjaannya sebentar untuk mendengar gadis ciliknya. “Appaga nal delileo haji[3]?”

“Eommaga eodiso[4]?” tanyanya dengan alis mengerut, seingatnya hari ini jadwal istrinya menjemput. “Geogie eommaga undong-eul[5]. Semalam appa kan sudah setuju!” sembur Silver kesal. “Naega eonje[6]?

*tut… tut… tut*

“Aiissh!” umpat Taemin lalu menekan salah satu tombol di telfon nya. “Tolong batalkan meeting hari ini, saya ada urusan penting.” Begitu sekertarisnya mengiayakn buru-buru Taemin menyambar jas lalu berlari keluar ruangan. Semalam ia benar-benar lelah, terlalu lelah untuk mendengarkan ucapan istrinya sehingga ia asal mengiyakan. Ia yakin sekarang pasti Silver gadis kesayangannya itu sedang menangis di sekolah, butuh waktu nyaris 1 minggu untuk membuat anak gadisnya itu memaafkan kesalahan sang ayah.

“Annyeong haseoyo, seonsangnim[7].” Taemin membungkuk saat salah satu guru di TK anaknya keluar menyambut Taemin. “Maaf kan saya seonsangnim, saya benar-benar lupa kalau hari ini istri saya tidak bisa menjemput. Saya benar-benar mohon maaf. Apa Silver menunggu lama?”

“Lumayan, mungkin anda harus memberinya penjelasan secara jelas. Jika tadi kami tidak langsung menggendongnya masuk, mungkin Silver sudah pulang sendirian di tengah hujan lebat seperti ini.” Mata Taemin membulat. “Pulang sendirian?” guru itu mengangguk. “Tadi setelah menutup telepon, Silver langsung berlari keluar. Untung saja Joo Ha sam melihat Silver, jadi ia langsung membawanya masuk. Saat di tanya apa ia tahu jalan pulang, ternyata Silver sendiri tidak tahu di mana rumahnya.”

“Maafkan saya, seonsangnim.” Rasa bersalah Taemin jadi semakin besar saat melihat gadis ciliknya tertidur pulas di ruang kelas, dengan baju kering yang selalu di siapkan sang ibu di tas. “Mungkin hujan tadi akan membuat Silver sedikit demam, saat pulang tolong jangan lupa di kompres dan di beri obat.” Taemin menganggung lalu segera menggendong putrinya ke dalam mobil. Berusaha memusatkan konsenterasinya pada jalanan, namun pikirannya terus tertuju pada hubungan keluarganya yang semakin rapuh. Taemin mengistirahatkan matanya begitu lampu lalu lintas berwarna merah, sudah lebih dari seminggu ini pekerjaan di kantornya menumpuk.

Taemin bersiap menarik rem tangan saat tiba-tiba nafasnya memburu, seorang wanita yang sedang di gendong di punggung seorang laki-laki itu tiba-tiba saja mengiris hatinya. “Eomma~.” Taemin tersentak dan langsung menoleh pada putrinya yang ternyata hanya mengigau. “Jugeoshipheo[8].”

________________________

[1] Appa = Papa! | [2] O Silver-a, waeyo = Ya Silver, ada apa? | [3] Appaga nal delileo haji  = Papa tidak menjemputku? | [4] Eommaga eodiso = Mama dimana? | [5] Geogie eommaga undong-eul = Mama kan ada latihan. | [6] Naega eonje  = Kapan aku bilang begitu? | [7] Annyeong haseoyo, seonsangnim = Selamat sore, guru. | [8] Jugeoshipheo = Mau mati (I)

 ♦♦

“Pikyeo[9]!”

“Ash, please. Listen to me, please! Just once Ash, listen to me this time.”

“What else?! Is it not enough? I hate you! We’re done!”

“Marry me, Ash. I beg you, i love you is best explain how I feel for you. This feeling would never change. I know I’m just an ordinary people, who don’t deserve to have a princess like you. But this is my confession, and I ask you to marry me.”

“Are you insane?! I have a husband, and I have a daughter. I will never do things like this.”

“But I know, your marriage life isn’t that happy. If you marry me, I promise to make you happy by my side!”

“Enough, Steve! I have to go home now.”

“No, please Ash! Please, don’t go!”

“Let me AAAAA!”

“Ivy!!” tentu saja ini bukan bagian dari scenario, pemeran wanita ini seharusnya berlari ke belakang panggung yang di penuhi kabel namun salah satu kabel itu melilit kakinya. “Ivy, gwenchanayo[10]?” tanya seluruh kru khawatir. “Hahaha, tenang saja. Hanya tergores sedikit.” Namun ucapan tidak sesuai dengan kenyataan, kaki Ivy terkilir dan membuatnya nyaris tidak bisa berdiri tegap.

“Bawa Ivy ke puskesmas sekarang! Aku harus menangani para orang kabel ini, bisa-bisanya mereka sembarangan berkerja!” Ivy menahan tangan sahabatnya. “Shim Hak, ini bukan salah mereka. Aku yang tidak hati-hati, tidak ingat kalau kabel ini belum di rapihkan. Jangan marahi mereka atau aku yang akan memarahimu.”

“Tapi-“

“Dwaesseo[11], hanya kecelakaan kecil. Besok kaki ku pasti membaik, aku izin pulang cepat hari ini.” Shim Hak, sang director dari drama musical besar yang akan di adakan 3 minggu lagi hanya bisa menghela nafas. “Nuna[12], mungkin aku bisa mengantarmu? Engh, aku tidak bawa kendaraan hari ini. Tapi setidaknya aku bisa membantumu naik turun bus.” Ivy tersenyum lalu menepuk pelan kepalanya. “Baiklah kalau kau yang minta, tuan kecil Jo Youngmin.”

“Nuna! Berhenti memanggilku seperti itu, aku ini sudah lebih dari 20 tahun tahu!” protes Youngmin, membuat Ivy terkekeh. “Kalau begitu berhenti panggil aku nuna, aku jadi terkesan sangat tua. Umurku belum lebih dari 30 tahun kok.” Keduanya terkekeh pelan, melanjutkan perbincangan selama perjalanan menuju puskesmas terdekat.

“Hujan.” Youngmin menoleh saat mendengar gumaman pelan itu. “Waeyo nuna[13]?” Ivy menggeleng. “Aku hanya bertanya-tanya, apa Taemin sudah menjemput Silver. Aku merasa bersalah karena memintanya menjemput Silver, padahal hari ini giliranku.”

“Sebagai suami harusnya ia terima, lagi pula kan yang di jemput anaknya juga bukan anak nuna dengan orang lain.” Ivy mengangguk. “Semestinya begitu.”

“Ayo, aku takut hujannya semakin deras. Kata dokter tadi nuna tidak boleh berjalan dulu sampai kurang lebih 2 jam.” Mata Ivy melebar. “Lalu bagaimana aku pulang?” keduanya terdiam. “Rumah nuna jauh?” Ivy berfikir sebentar mencari jalan terdekat menuju rumahnya dari tempat ini. “Aaahh tidak kok. Kita kan bisa naik taksi, di dekat sini ada pangkalan taksi. Tapi kita harus menyeberang dulu.”

“Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo, aku akan menggendong nuna. Karena kita hanya punya satu payung dan menyebrang itu harus cepat kalau masih mau hidup.” Ivy hampir setuju, sampai kata gendong itu membuat Ivy tersadar. “No, we better wait in here.” Jung Sub mengerutkan kening. “Kenapa? Itu cara paling mudah nuna! Siapa yang tahu semakin sore hujannya justru semakin deras? Dan saat malam justru badai? Oke itu berlebihan, tapi maksudku yaa kurang lebih begitu!”

“Ok, kita menyebrang tapi aku bisa jalan sendiri kan?” Youngmin menggeleng. “Gendong atau tidak pulang sama sekali?” Ivy merenggut. “Nuna! Jangan seperti anak kecil deh, aku jauh lebih muda dari mu. Sudah ayo menurut saja! Ini payungnya!” Ivy menurut dan menerima payung itu, tapi butuh waktu hampir 1 menit untuk membuatnya – pada akhirnya – naik ke punggung Youngmin.

“Tuh kan, nuna sih lama! Hijau lagi kan.” Tuduh Youngmin. “Enak saja, salahkan lampunya dong! Kenapa juga cepat sekali hijaunya.” Tukas Ivy tidak terima. “Ckckck, ternyata nuna memang tidak pantas di panggil nuna. Suami istri sama saja ternyata.” Ivy langsung menoyor kepala Youngmin. “Sembarangan!”

Ivy jadi merasa tidak enak, masih 10 detik lagi untuk mendapat izin menyeberang. Pasti kaki Youngmin sekarang hampir mati rasa karena pegal menggendongnya, namun sejurus kemudian rasa tidak enaknya berubah jadi rasa geli. Saat suara perut Youngmin mengalahkan suara hujan, dan membuat Ivy tertawa. “Nuna! Jangan keras-keras tertawanya, malu!”

“Kamu lapar?” tanya Ivy di tengah tawanya. “Tidak, siapa bilang?” elak Youngmin sambil melangkah, mengikuti orang-orang yang mulai menyebrang. “Jangan berbohong, perutmu sudah bunyi begitu. Nanti ada toko kue, kita bisa mampir sebentar kok. Aku juga lapar.” Ivy menepuk-nepuk kepala Youngmin. “Yaa, nuna. Aku ini sebenarnya kau anggap teman, adik atau anak sih?” Ivy meringis. “Tiga-tiganya boleh tidak? Hehehe~”

“Huuuhh, nuna ini serakah.”

“Enak saja!”

_______________________________

[9] Pikyeo = Minggir! (I) | [10] Gwenchanayo = Baik-baik saja? | [11] Dwaesseo  = Sudahlah | [12] Nuna = panggilan dari laki-laki untuk kakak perempuan | [13] Waeyo nuna = Ada apa kak?

Taemin menghela nafas panjang dan berat, menutup bukunya saat mendengar suara pintu yang di buka secara perlahan. Taemin membungkus kedua kantongnya di dalam saku celana lalu berjalan ke pintu depan, memandangi sosok istrinya yang setengah basah lalu bersandar pada lemari. “Malam.” Sapanya dengan suara yang terdengar berat dan bernada tajam.

“Malam, aku pikir kalian berdua sudah tertidur. Jadi aku mengendap-endap. Sudah makan malam?” tanya Ivy ragu. “09:30, apa masih pantas mengajukan pertanyaan tersebut?”Ivy menunduk, merasa bersalah. “Tadi hujan lebat, setelah makan aku berencana langsung pulang memanggil taksi. Tapi anginnya-“

“Karanglah cerita yang lebih bagus dan lebih bermutu dari itu.” Potong Taemin lalu berbalik, hendak masuk ke dalam ruang kerjanya. “Lee Taemin! Apa kau pikir aku sedang berbohong?” Taemin menghentikan langkahnya lalu berbalik, kembali menatap Ivy dengan mata sendu nya yang penuh kekecewaan. “Aku akan percaya kalau kalian tidak bermesraan di jalan, dan tiba di rumah 10 menit setelah kami tiba.”

“Bermesraan di jalan?! Apa maksudmu, Lee Taemin? Aku tidak pernah-“

“Kau yang tahu jawabannya.” Ucap Taemin sebelum akhirnya menutup pintu. Ruangan ini, satu-satunya ruangan yang bisa menghilangkan seluruh penatnya. Pekerjaan ini yang selalu menenangkan hatinya, membuat pikirannya tidak terisi dengan hal yang aneh-aneh. Malam ini masih sama dengan malam kemarin. Berakhir tanpa perbincangan manis, kasih sayang, cinta, pelukan, dan sebuah kecupan manis di kening. Tidak tahu ini akan berlangsung sampai kapan, mungkin nanti –hingga kata cerai keluar dari bibir keduanya.

01:01

Taemin menyandarkan kepalanya di kursi, masih terlalu segar untuk menutup mata. Taemin menghela nafas berat –untuk yang kesekian kalinya – lalu berdiri dari kursinya, teringat sang putri yang sedang demam ringan. Terakhir kali ia mengompres kening Silver jam 9 malam, seharusnya sejak tadi ia berada di samping gadisnya.

Kakinya melangkah pelan, sekuat tenaga tidak memperdulikan dada nya yang belakangan ini terasa begitu sesak. Tangannya membawa kotak obat, dan baskom kecil yang berisi air dan es. Rasa bersalahnya tiba-tiba saja menekan dadanya lebih kuat, ketika di lihatnya sosok wanita yang ia nikahi tertidur di sisi kasur Silver. Ia berusaha tidak membuat suara, masuk dengan langkah mengendap, mengukur suhu tubuh silver, mengompressnya beberapa kali, lalu berjalan keluar kamar. Namun langkahnya terhenti. Ia tidak pernah bisa menyembunyikan rasa cintanya ketika melihat wajah itu, wajah riang yang penuh kasih milik Ivy.

Setelah otak dan hatinya puas berperang, Taemin memutuskan untuk memindahkan Ivy ke kamarnya. Biar bagaimanapun, semua orang tua pasti merasakan beratnya membina sebuah hubungan keluarga. Ini salahnya yang tidak mau mengerti keadaan Ivy, tidak mau mendengarkan penjelasannya, tidak mau berfikir dengan kepala dingin, dan tidak mau di sakiti.

Keningnya mengerut ketika melihat kaki kiri Ivy yang agak membiru, diam-diam otaknya sibuk mengeluarkan sejuta pertanyaan juga pernyataan. Mungkin ini sebabnya Ivy tadi di gendong oleh laki-laki itu. Taemin mengambil kesimpulan sambil mengobati kaki indah yang kini memar.

“Mianhae, yeobo[14].” Gumam Taemin pelan setelah mengecup kening Ivy, kemudian membaringkan tubuhnya tidak jauh dari Ivy.

 _______________________

[14] Mianhae, yeobo = Maafkan aku, sayang. Yeobo bisa juga berarti istri/suami.

♦♦

“Wow, hyeong[15]! Presentasimu luar biasa.” Puji Taemin pada rekan kerjanya, Choi Minho. “Hahaha, kalau begitu malam ini aku harus mentraktir istri dan anakku makan di luar.” Taemin menaikkan alisnya. “Mereka sumber ide ku, presentasi tadi tidak akan sebagus yang kamu bilang kalau bukan karena mereka. Jadi aku harus berterima kasih pada mereka.” Taemin mengangguk, begitu iri pada keluarga Minho. “Keluargamu juga bisa seperti kami Taem, bahkan aku dengar keluargamu jauh lebih harmonis dan romantic sejak hari pernikahan hingga saat ini.”

“Mungkin.” Taemin tertawa kecut. “Oh iya, aku  dengar dari Bree. Kamu tahu kan? Istri Jonghyun hyeong, bagian Supervisor. Bree bilang karir istrimu sangat luar biasa, bakatnya benar-benar di luar dugaan. Begitu professional! Mungkin kamu harus mengajak kami menonton penampilan istri mu kapan-kapan.” Ia terdiam sesaat sebelum akhirnya mengangguk. “Aku duluan ya, hari ini ada tamu penting.”

“Ne, himnae[16]!”

“Gomawo[17]! Jangan lupa permintaanku ya, aku menunggu undangan darimu.” Keduanya saling melambai sebelum berpisah di koridor 3. Taemin termenung, kalimat Minho tadi terngiang di kepalanya. Belum pernah sekalipun ia menyaksikan pertunjukkan Ivy, belum pernah sekalipun ia berterima kasih pada Ivy karena memberikan materi presentasi yang bagus, belum pernah ia menghargai Ivy sebagai seorang istri yang memang patut di acungi jempol. Dan ia belum pernah. Sekalipun. Menyadari tentang ini. Bahkan mungkin tidak akan pernah. Kalau saja Minho tidak membuatnya terfikir sampai ke sini. Mungkin hari ini ia harus melihat Ivy berlatih, sekaligus memberi kejutan.

Di saat yang hampir bersamaan, Ivy sudah sibuk dengan rutinitas nya yang biasa. Berlatih untuk pertunjukan musical, juga untuk sebuah proyek besar yang akan ia tunjukkan pada seseorang yang benar-benar ia cintai. Proyek yang ia rencanakan sejak dulu, dan tersimpan rapih di brangkas hatinya.

“Nuna, maaf ya kemarin jadi pulang terlalu malam.” Youngmin membungkukkan tubuh serendah-rendahnya. “Aigo[18] Jo, dwaeseo! Tidak usah di bahas, kalau mau menyalahkan silahkan salahkan hujan. Jangan salahkan diri sendiri, tuhan, apalagi aku.” Gurau Ivy. “Nuna, aku serius!”

“Memangnya aku terlihat seperti bercanda? Ah, aku sering mencoba melucu tapi tidak berhasil. Apa sekarang berhasil?” benar-benar ratu panggung. Siapa yang bisa mengalahkan Ivy? “Aigoo, bocah ini! Kalau aku bilang tidak apa-apa ya berarti tidak apa-apa. Sudah sana pergi! Latihan yang serius.” Ivy mengingatkan.

“Nah, sekarang suka yang lebih muda ternyata.” Ivy tersentak. “Duh! Key, kamu mau membuatku mati di tempat ya? Dan lagi siapa yang bilang aku suka yang lebih muda? Taemin sudah cukup.” Ivy terkikik. “Yaa! Sopan sedikit dengan yang lebih tua! Dasar tidak tahu malu.” Laki-laki bernama Key itu langsung menoyor kepala Ivy dengan gemas. “Aaahh bangga sekali sih jadi tua. Kamu tahu? Kamu itu sangat tidak pantas di hormati, tau!”

“Juggo sip-eoyo[19]?!” Ivy buru-buru membuat tangannya bersilang di depan wajah, melindungi diri dari tinjuan Key –senior sekaligus sahabat karib yang membuatnya semakin mencintai dunia acting, juga Lee Taemin.

“Apa kabar, Silver kecilmu? Pasti sekarang sudah terlihat sangat cantik.” Key menyodorkan segelas teh hangat. “Heeemm lumayan, setidaknya demam ringan itu sudah hilang. Jadi hari ini gadisku itu bisa sekolah dengan riang, ingatkan aku untuk menjemputnya sore ini.” Key mengacungkan jempol. “Belakangan ini sepertinya Ivy-ku sudah berhenti memamerkan hubungannya dengan Taemin, apa kabar kalian?”

“Pamer?! Naega onje?” elak Ivy tidak terima. “Aaahh bisa-bisanya mengelak. Aku yang mendengarkan saja sampai iri dan geram, rasanya aku mau menarikmu kabur ke sebuah pulau dan hidup bertiga dengan Silver. Aro[20]?” Ivy tertawa terbahak-bahak. “Makanyaa!! Me-ni-kah-lah se-ce-pat-nya! Kamu tidak maukan jadi single sampai tua? Huuuhh, orang pasti akan berfikir. Ganteng, tapi gay.”

“YA IVY!” Otak Key sekarang sedang membayangkan dirinya mencekik Ivy yang sedang tertawa terbahak-bahak di atas penderitaannya itu. “Kim Kibum.” Panggil Ivy tiba-tiba berhenti tertawa dan menatap Key dengan serius. “Kalau panggil nama asli ku itu pakai oppa[21], arasseo[22]?!”

“Mian mian[23], hahaha. Engh, Key… kalau kamu sudah menikah nih ya. Suatu hari kamu pulang malam, tiba-tiba istri kamu menuduh kalau kamu selingkuh. Padahal kamu menjelaskan yang sejujurnya juga langsung di potong-“ Key mengangkat tangannya, mengerti maksud Ivy. “Hey, cantik. Kamu tidak bisa membandingkan sikap seseorang dengan seseorang yang lainnya. Kamu perempuan, aku laki-laki. Kita sahabat tapi belum tentu jalan pikiran kita sama. Aku dan Taemin laki-laki, pemikiran kami juga berbeda. Ceritakan saja apa yang terjadi secara jujur. Intinya, Taemin menuduhmu selingkuh dan tidak tahu harus berbuat apa?” Ivy mengangguk.

“Tapi-tapi, semalam saat aku tertidur di kamar Silver. Taemin datang dan memindahkanku ke kamar, mengobati memar ini, dan meminta maaf. Tapi aku kan tidur, oke yang dia tahu aku masih tidur. Tapi maksudku, aku ingin Taemin menyatakan semuanya secara terbuka. Dalam hubungan kami terlalu banyak rahasia.”

“Ajak mengobrol! Cari waktu yang tepat, buat ia merasa rileks dengan suasananya sehingga dia juga bisa mengistirahatkan pikirannya sebentar. Sehingga kepalanya yang seperti api itu bisa lebih dingin dan menanggapi semua pernyataanmu dengan baik, dan jelas. Aku harus bilang berapa kali? Kunci sebuah hubungan adalah komunikasi. Kejujuran juga merujuk pada komunikasi kan? Kalau kalian jarang mengobrol mana bisa saling jujur?” Key mengerutkan alisnya dalam-dalam, melihat ekspresi aneh sahabatnya. Matanya berbinar, sangat kagum seolah baru saja menyaksikan lagu opera.

“Eh, babo[24]! Kamu dengar tidak?” Ivy menutupi mulutnya. “Incredible! Key! You such a… a… a… engh… yah pokoknya itu lah! Kamu seolah sudah bolak-balik menikah 5 kali sampai bisa memberikan advice seperti ini. Wuaaahhh.”

“Kalau kamu orang lain, kepalamu akan kupotong saat ini juga!” Ivy terkekeh, tapi kemudian teringat dengan wajah Taemin. “Tenang, masalah kalian baru setitik. Bisa dengan cepat dan mudah di selesaikan, asalkan kalian tahu bagaimana harus melangkah. Cinta kalian berdua sangat besar, jadi aku yakin tidak akan tandas begitu saja. Kalian baru menikah 5 tahun, percayalah padaku Ivy. Ok? Lakukan saranku tadi.” Ivy mengangguk. “Jangan menangis, ne? Yaa memang menangis jurus paling ampuh untuk meluluhkan Taemin, tapi takutnya malah akan merusak suasana.” Key mengelus puncak kepala Ivy lalu memeluknya. “Gomawo Key-a, aku beruntung memiliki teman sepertimu.”

“Tentu saja! Siapa sih yang akan menolak berteman dengan cowok ganteng, keren, dan fashionista seperti ku.” Ivy langsung melepas pelukannya dan berganti menoyor kepala Key. “Ya! Ijjashigi[25]! Aku lebih tua darimu tahu!”

Beberapa meter dari keduanya, seorang laki-laki bertubuh kurus dan jangkung berdiri bersebelahan dengan tiang. Memandangi keduanya dengan tatapan, dan ekspresi wajah yang tidak bisa di gambarkan oleh siapapun. Perlahan tangannya mengepal dan rahangnya mengeras.

“Oh, Taemin-ssi?” laki-laki itu menarik nafas panjang, paru-parunya seolah tidak ingin mengembang. “Baru tiba?” Taemin menggeleng lalu tersenyum lemah. “Aku justru sudah mau pulang. Aku duluan, Shim Hak-ssi. Annyeong hikaseoyo.”

“Heemm.. anak ini, kenapa tidak bilang-bilang sih kalau suaminya datang? Ckckck.” Shim Hak menggeleng lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

_____________________________

[15] Hyeong = panggilan dari laki-laki untuk kakak laki-laki | [16] Ne, himnae! = Ya, semangat! | [17] Gomawo = Terima kasih! | [18] Aigo = Ya ampun | [19] Juggo sip-eoyo = Kamu mau mati ya?! | [20] Aro = Tahu? | [21] Oppa = panggilan dari permepuan untuk kakak laki-laki | [22] Arasseo?! = Mengerti?! | [23] Mian mian = Maaf maaf | [24] Babo = Bodoh! | [25] Ijjashigi = Bocah Sialan!

Taemin memutar kursi kerjanya saat mendengar suara keributan di luar, sejurus kemudian pintu ruangannya menjeblak terbuka. “Taemin! Kamu harus dengar penjelasanku dulu.” Taemin terdiam, menatapnya datar. “Keluarlah.” Terlihat jelas di wajahnya, kalau ia benar-benar malas berbicara dengan wanita yang berdiri di hadapannya dengan nafas terengah-engah.

“Lee Taemin! Apa kamu mau membiarkan semuanya tetap berjalan seperti ini?!” serunya. “Tinggalkan kami berdua, tolong jangan biarkan siapapun masuk. Jangan mencoba menguping.” Sekestarisnya mengangguk lalu membungkuk.

“Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu ke tempat latihanku?” Taemin memiringkan kepalanya. “Oh ya?” alis kirinya terangkat, seolah gadis di depannya sedang memberi pernyataan yang tidak benar. “Shim Hak yang bilang padaku.” Taemin membuka mulutnya lalu mengangguk. “Lalu?” Taemin menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan di depan dada. “Apa kali ini kamu akan menuduhku berselingkuh lagi? Kalau iya maka-“

“Tunggu… selingkuh? Apa aku tadi menuduhmu begitu? Aku bahkan belum menyebutkan satu kata itu, apa ini berarti kamu memang berselingkuh? Aaaahh, benar-benar luar biasa. Pencuri yang datang sendiri pada polisi, patut di acungi jempol sepertinya.”

“Lee Taemin, bagaimana-“

“Aku bisa membaca pikiranmu? Terima kasih atas pujiannya, aku belajar lewat TV. Sudah selesai? Silahkan keluar.” Ivy menggigit bibirnya sekeras mungkin, menahan amarah yang sudah mendidih bagaikan lahar. Namun tanpa ia sadari, lahar di hati Taemin justru telah membeku. Terlalu rapuh untuk meletup, terlalu sakit untuk di redam, terlalu resah untuk di tenangkan, terlalu panas untuk meluap, dan kini terlalu beku untuk mengalir.

“Cukup Taemin! Bisakah kamu mendengar kalimat orang lain hingga selesai?” tangan Ivy mengepal kuat, rahang Taemin mengeras, mata keduanya sorot amarah. “Mendengarkan mu mengelak dari kenyataan yang ada, hanya membuang waktu ku saja.”

“Aku mana mengelak?! Aku selalu berusaha memberikan penjelasan yang sebenarnya tapi kamu tidak pernah mendengar, selalu memotong kalimatku. Sudah cukup aku bersabar atas semua tuduhan yang bahkan aku tidak tahu dan tidak kumengerti Taemin. Aku akan terima tuduhan mu jika aku benar melakukannya, aku tidak akan marah jika kamu menjelaskan dengan jelas apa kesalahanku Taemin. Aku sudah berusaha bersabar, berusaha mengerti keadaanmu yang sibuk dengan urusan kantor, tetap tenang saat kamu melampiaskan semuanya padaku. Apa kamu pikir aku tidak punya hati? Tidakkah kamu lihat luka yang sudah kamu buat di hati ini? Harga diriku, rasa percayaku, semua yang aku berikan kamu anggap tidak pernah ada. Setiap hari aku hanya menurut dan mendengarkan semuanya, tidak pernah sedikitpun aku mencoba mengelak bahkan membentakmu balik. Aku mencoba menjadi istri yang baik untukmu, menjadi ibu yang baik untuk anakmu, aku mencoba segala cara, tapi kamu tidak pernah menghargai ku!”

“Itu yang akan aku lakukan tadi Ivy. Tapi kamu sudah lebih dulu mengusirku sebelum aku sempat mengucapkan salam apalagi meminta izin masuk. Kemarin, kamu bermesraan dengan Kwangmin di jalan. Orang yang dulu memukulku dan menghancurkan kejutan yang aku rencanakan. Lalu hari ini kamu berpelukan dengan Key, laki-laki yang sudah jelas semua orang tahu. Dulu! Membuatku jatuh bangun, babak belur, hanya demi mendapatkan seorang gadis yang aku cintai dengan seluruh ketulusan hati ku. Gadis yang ternyata tidak tahu diri dan memikirkan diri sendiri!” Taemin menelan ludahnya, menelan seluruh emosi yang nyaris meledak tidak terkendali. Lahar yang beku kini memanas, retakkan yang sudah samar kini kembali jelas, bekas luka yang mengering kini terbuka lagi.

“Semalam! Aku mencoba mengerti keadaannya. Aku baru tahu kaki mu terkilir, jadi aku mencari sebuah dalih di otakku untuk menghindari asumsi bahwa kamu berselingkuh. Tapi apa?! Pagi ini! Kamu, dengan senyum yang begitu merekah. Senyum paling manis yang bahkan tidak pernah kamu berikan padamu, kamu memluk laki-laki itu. Sadarlah Ivy! Aku. Tidak pernah sedikitpun, menggandeng, merangkul, apalagi memeluk wanita lain selain dirimu! Aku punya istri. Aku punya anak. Papan itu aku kalungi dengan bangga dan jelas di leherku. Memamerkan pada semua orang kalau aku memiliki istri yang begitu cantik, periang, dan bisa menyempurnakan hidupku. Juga seorang putri yang sangat di dambakan semua orang. Apa itu juga masih kurang?! Iya? Kamu masih mau menuduhku tidak pernah menganggap harga diri, dan rasa percayamu ada? Aku selalu merasakannya, Ivy! Aku hanya tidak pernah bisa mengungkapkan itu semua. Aku pikir selama ini kamu sudah mengerti.” Taemin menghela nafas berat dengan mulutnya, suaranya mulai bergetar dan kantung matanya nyaris tidak bisa membendung air mata nya –saat di lihatnya Ivy duduk tersimpuh dengan air mata yang mengalir deras.

“Air matamu sama sekali tidak akan merubah apapun, Ivy. Sekarang kamu tunjukkan air mata itu, aku melihatnya dan kalau kamu mau tahu. Air mata itu semakin memperlebar lukaku. Tapi aku yakin, ketika hatiku ini menangis. Tidak pernah sedikitpun kamu melihatnya, dan air mata ini tidak pernah berani untuk menyentuhmu apalagi melukaimu. Masih kurang puas? Apa penjelasan tidak pentingku soal luka di hatiku ini masih tidak cukup? Kalau memang masih kurang, baiklah. Kamu masih punya kesmepatan untuk memperlebar luka ini, sampai kamu merasa sudah cukup.” Taemin bangkit dari duduknya, mengambil jas yang ia sampirkan di kursi, lalu berjalan melewati Ivy tanpa melirik sedikitpun.

“Kalau sudah puas menangis, silahkan pulang. Aku akan menjemput Silver. Aku tidak akan membiarkan anakku di sentuh oleh mu, dalam keadaan seperti ini. Mengertilah.” Kecemasan staff kantor Taemin semakin besar saat di lihatnya, sang atasan keluar dengan rahang mengeras dan mata merah yang berkaca-kaca.

“Tolong bawakan segelas teh manis hangat, atau air mineral untuknya.” Ucap Taemin dengan suara berat yang nyaris berbisik, sebelum kakinya kembali melangkah meninggalkan kantornya. Ia tidak pernah bisa marah pada Ivy, dan kejadian tadi semakin membuatnya yakin bahwa ia pantas mati. Bukannya merasa lega karena telah mengucapkan semua yang ada di kepalanya selama beberapa hari ini, tapi justru dada nya terasa semakin sesak. Air mata itu, melihatnya menangis dan membuang permata itu begitu saja rasanya begitu menyakitkan. Satu tetes air mata yang mengalir di pipinya, memberi sebuah irisan di hatinya. Tekadnya yang sudah bulat untuk memperbaiki semuanya justru berbalik dan memperburuk keadaan, membuat amarahnya pada diri sendiri semakin memuncak.

“Apakah ini yang kalian maksud dulu, eomma… aeboji. Seperti ini kah rasanya, ketika badai berusaha menghempaskan kapal yang juga berjuang untuk tetap tegap mengarungi lautan? Sesakit ini kah rasanya saat badai itu mematahkan layar kalian? Sesulit ini kah membuat seluruh awak kapal tenang dan berkerja sama menjaga kapal agar tetap berlayar dengan aman?” untuk yang kesekian kalinya, nafas berat keluar dari sela-sela bibir merah muda yang membulat itu.

*tuk-tuk-tuk*

“Appa cepat sekali menjemputku.” Seru gadis kecil yang kini berjinjit untuk bisa naik ke atas kursi, dengan riang. “Ne, sebagai permohonan maaf appa karena kemarin terlambat.” Jawab Taemin sambil memasangkan seatbelt. “Gwenchanayo appa. Tadi pagi kata eomma, appa terlambat menjemput karena sakit.” Ucap Silver lalu tangan kanannya menepuk pipi Taemin –yang wajahnya masih berada di depannya. “Benarkah? Eomma bilang begitu?” Silver mengangguk yakin. “Makanya, aku meminta seonsangnim untuk menemani aku ke toko kue. Kata temanku, ayahnya sembuh setelah di berikan kue. Tapi uangku tidak banyak, jadi aku hanya bisa belikan sepotong kue kecil untuk appa. Tidak apa-apa kan? Maaf ya appa.”

Bibir Taemin perlahan menyunggingkan sebuah senyum yang sulit di mengerti, diam-diam berperang melawan air matanya. “Silver-a, mau memeluk appa sebentar?” Silver mengangguk lalu melingkarkan lengannya di leher Taemin, memeluknya erat. Sementara itu, Taemin mulai merasakan perih di hidungnya dan perlahan cairan bening itu mengaliri pipinya yang memerah.

“Mianhae Silver-a, mianhae.” Suaranya kini bergetar dan nyaris hilang, entah pada siapa ia harus meminta maaf. Yang pasti sekarang ia hanya berharap, pelukan ini bisa membantunya mengurangi beban yang sudah menumpuk di bahunya. “Appa, uljimayo[26]. Aku akan jadi anak yang lebih baik, supaya tidak membuat appa marah. Aku akan menunggu appa menjemput walaupun harus sampai larut malam. Aku tidak akan marah lagi pada appa juga eomma. Mianhaeyo appa, ini semua kesalahanku.” Setengah jam berlalu dan pelukan ini belum berakhir, hingga air mata yang mengalir deras kini sudah mengering.

Seperti ini rasanya ternyata. Ketika seorang ayah, menangis dalam pelukan sang anak. Berharap anak itu mengerti keadaannya dan bisa mengurangi bebannya. Memanfaatkan ketulusan hati dan cinta sang buah hati, untuk menenangkan lagi jiwa yang gusar, memberi kekuatan ketika emosi dan tenaganya terkuras habis dalam kerasnya hidup.

“Taemin-a.” Taemin menoleh, baru menyadari seseorang berdiri di depan pintu masuk. “O, wasseo?” tegur Taemin tak acuh, hendak kembali melangkah. “Taemin-a, kita-“

“Istirahatlah, sudah malam. Jangan bangun kesiangan.” Potong Taemin dengan nada lembut, ia tidak ingin memulai lagi. Ivy mengangguk saat melihat senyuman tipis Taemin yang begitu lembut, walaupun hanya sekilas namun ia yakin Taemin benar-benar tersenyum untuknya. Setidaknya senyuman itu akan membuatnya tidur nyenyak malam ini.

Namun senyuman itu tidak lagi terasa membantu, ketika berbaring sendirian di kasur besar yang terasa sangat hangat dan nyaman. Selama nyaris 5 tahun Taemin menemaninya mengisi kasur besar ini, membuat malamnya selalu terasa indah. Entah sudah berapa hari ia mengisi kasur ini sendirian, tanpa sosok laki-laki yang memeluknya hingga matahari tersenyum padanya. Dan ketika air matanya kembali mengalir, ia bisa merasakan seseorang baru saja berbaring di sebelahnya. Perlahan Ivy berbalik, dan senyumnya mengembang saat melihat punggung Taemin di hadapannya.

“Mianhae, Taemin-a.” bisik Ivy dengan salah satu lengannya melingkari pinggang Taemin. Sejenak, tangan hangat Taemin menggenggamnya namun kemudian tangan hangat itu bergerak melepas lengan Ivy dari pinggangnya. Rasa kecewanya hampir saja mencuat, namun tubuh itu berbalik. Jemarinya perlahan mengangkat dagu Ivy, memaksa matanya untuk menatap kedua bola mata hangat milik Taemin yang sorot kasih sayang. “Tidurlah, banyak yang harus kita lakukan besok.” Ucap Taemin lembut, perlahan menarik tubuh Ivy merapat padanya. “Maafkan aku.” Bisik Taemin sambil mempererat pelukannya, membuat Ivy hampir kehabisan nafas. Namun demi pelukan ini, ia rela melakukan apapun, demi mengembalikan semuanya seperti semula ia rela mengorbankan nyawanya, demi menjaga keutuhan keluarga mereka ia juga rela mengorbankan karir nya, dan demi orang yang ia cintai ia rela di jadikan pelampiasan. Agar senyum itu tetap ia lihat dan pelukan ini tetap ia rasa, hingga ajal menjemput.

♦♦

^To be continued^

PN : A bit bored ya? Sorry ._.v . This FF is my first try hehe~. Lana put some dict for you who newbie ^^ hehehe. Thanks a bunch Lan *pelukcium*. Thanks for reading guys, your oxygen will be really appreciate it.


[26] Appa, uljimayo = Papa, jangan menangis.

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

97 thoughts on “Hit Me – Part 1

  1. Ya amploooooop aq baru tw ada ff yang sekeren ini menceritakan tentang rumah tangga! T.O.P.B.G.T ahhhhh joayoooooo! Daebak,daebak! Mw loncat ke bab selanjutnya dulu ahhhhh!

  2. annyeong fii imnida,
    whooaa ga nyeseeel nyasar k blog ini, ff ny kereen bngt,feel ny dapet, pkok ny T.O.P B.G.T lah..
    okee lanjuut🙂

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s