hitme

Hit Me – Part 2

Hit Me

Part 2

Author : Ayi

Beta-reader : Zika, Lana

Main Cast : Lee Taemin, Ivy

Support Cast : Silver, SHINee, Kwangmin – Youngmin (Boyfriend), Shim Hak.

Genre : Family, Life (based on trues story).

Length / Type : Trilogy / Marriage Life

Rating : General – Parental Guidance

Story by : Mom & Dad

Inspired by : Parenthood, 90210

Summary : “Perasaan ku pada mu masih belum hilang Ivy, aku masih berharap kamu kembali menerima ku. Bahkan setelah kamu menikah dengan Taemin dan memiliki Silver, perasaan ini masih bertahan. Sekarang katakan apa yang harus aku lakukan?”

“Maafkan aku, Taemin.”

 

♦♦

“WHOAA!!” seruan-seruan sejenis kini memenuhi sebuah gedung perkantoran di daerah Timur kota Seoul. “Makan! Makan! Makan!”

“Ne, ne. Tenang semuanya, dengarkan pengumuman ini baik-baik. Sebelumnya terima kasih banyak karena telah membuat proyek besar kita ini sukses, terima kasih banyak atas kerja sama kalian semua. Maka dari itu, untuk merayakan kesuksesan proyek kita kali ini. Malam ini, kita akan pesta besar! Aku akan menyewa club terbaik di Seoul, dengan pelayanan yang paling luar biasa untuk kalian semua!!” riuh suara tepuk tangan dan seruan girang bergemuruh.

Taemin tersenyum pada seseorang yang kini merangkul pundaknya. “Setelah sekian lama, akhirnya kita pesta besar lagi.” Ia tersenyum lalu mengangguk. “Hey, jangan bilang kamu tidak akan ikut pestanya malam ini?” tebak seseorang itu. “Sepertinya tidak. Aku mau pulang dan makan malam bersama istri juga putri ku, hyeong. Kalian bersenang-senang saja malam ini.”

“Yaa, Taemina jangan seperti itu. Kamu tega melihat rekan kerjamu merayakan kesuksesannya sendiri? Maksudku, kamu adalah factor utama kesuksesannya. Pasti ia akan sangat berharap kamu hadir dan menghabiskan malam dengannya.” Taemin menggeleng. “Setidaknya datang saja dulu Taemina. Setelah itu kamu bisa menitipkan salam melalui Minho, untuk memberi tahukan pada Kyuhyuni hyeong bahwa kamu harus pulang cepat malam ini.”

“Geundae Jonghyuna hyeong-[1]

“Tenang saja, nanti malam aku akan membantu mu minta izin.” Jonghyun mengedipkan sebelah matanya lalu menyeruak ke dalam kerumunan untuk mengucapkan selamat pada Kyuhyun. Taemin menghela nafas melalui mulutnya, lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

“Jinki hyeong, bisa tolong aku hari ini? … aah itu, tolong jemput Silver hari ini… em. Sangat mendadak hyeong, karena itu aku minta bantuan mu. Mianhae hyeong… O, gomawoyo hyeong. Ne.” Sepertinya siang ini ia akan kehilangan jam makan siangnya karena harus mengejar deadline, menghindari tumpukan berkas yang akan ia bawa pulang dan mengganggu malamnya dengan Ivy.

“Taemin-sshi.” Taemin menoleh terkejut. “Hari ini anda memiliki janji dengan klien, jam 2 sore di arena pacuan kuda.” Hampir saja ia melupakan pertemuan penting itu. “O, terima kasih sudah mengingatkan. Apa kamu sudah menyiapkan materi nya?” sekertaris Taemin mengangguk yakin. “Saya juga memperlajari beberapa kata dan kalimat dalam bahasa perancis, Taemin-sshi.” Taemin tersenyum bangga. “Untunglah kamu yang menjadi sekertarisku, ayo sekarang bantu aku mengumpulkan berkas yang belum selesai. Setidaknya sebelum jam dua aku sudah menyelesaikan 60% nya, atau kamu akan ikut lembur dengan ku besok.” Ha Jung – sekertaris Taemin – mengangguk dengan semangat. Memiliki atasan seperti Taemin merupakan sebuah kehormatan dan kebanggaan tersendiri baginya, atasan yang paling menghargai bawahannya dan sangat santun.

 _______________________

[1] Geundae Jonghyuna hyeong = Tapi kak Jonghyun

Ivy menjatuhkan belanjaannya secara perlahan ke atas meja dapur, malam ini ia akan kembali memasak makan malam yang akan menyatukan ketiganya. Setelah berdikusi sendiri dengan batinnya sepanjang jalan dari sekolah Silver menuju supermarket, akhirnya ia mencapai mufakat dan setuju untuk memasak daging asap, ayam lada hitam, dan kimchi cigae (sup pedas berisi sayur).

Setelah mengganti baju pergi dengan kaos oblong dan celana pendek, lalu mengikatkan celemek di pinggang Ivy memutar music dengan volume yang cukup besar. Sekedar untuk menambah semangat nya membersihkan rumah dan memasak.

Impiannya sejak dulu, bayang-bayang nya saat kecil mengenai kehidupan orang dewasa, kini begitu nyata. Ia telah menginjakkan kakinya di dunia ini, tanpa harapan untuk kembali apalagi cepat berlalu, ia ingin menikmati setiap inci dari tanah kedewasaan ini dengan penuh cinta, harapan, dan perjuangan. Kenikmatan yang begitu melelahkan bahkan menyebalkan terkadang ini, jika di resapi dengan hati akan terasa begitu menyesal jika melewatkannya begitu saja. Tangan lembut keibuannya menyapu setiap inci perabotan rumahnya menggunakan kain lap. Perabotan yang mengisi rumahnya dan Taemin, rumah yang keduanya hasilkan dengan keirngat sendiri.

Betapa terharu hati nya ketika melihat deretan figura bayi kecilnya yang semakin besar seiring waktu berjalan, rasanya baru kemarin gadisnya itu menangis. Mengumumkan pada dunia dan isi nya bahwa ia telah lahir dan siap menghadapi takdirnya. Tapi sekarang, gadisnya itu sudah bermain dengan riang, berlari kesana kemari, mengoceh tentang ini dan itu, bertanya tetang sesuatu yang tak pernah ia tahu dan mengerti, memeluk kedua orang tuanya dengan lengan mungil itu, menatap isi dunia dengan penuh ketersimaan.

“Ivy? Aahh aku pikir kamu sudah pulang, aku menghubungi ponselmu tapi tidak bisa. Aku sampaikan pesan di sini saja ya?” Ivy tersenyum, hampir tidak menyadari sejak tadi telepon rumahnya berdering hingga mesin otomatis yang menjawab.

“Hari ini kamu tidak latihan ya? Menurut rencana kita hanya akan latihan sekali, lalu mengunjungi panti asuhan. Mau ikut? Kalau mau ikut langsung sms ke nomor ku ya. Aku tunggu sampai jam 1 siang ini, kalau belum sms juga kami tinggal. Ok?” Ivy langsung menekan sebuah tombol sebelum terlambat. “Neee~.”

“Oh? Kamu sudah pulang? Kenapa tidak di angkat?”

“Aku tidak dengar kalau ada telepon, Key.” Jawab Ivy sambil tetap membersihkan meja. “Apa? Aku tidak bisa dengar… apa? Hey! Kalian bisa diam tidak sih?! Aku sedang menelpon Ivy! Youngmin, kamu minta ku bunuh ya?! Diaaamm!!” Ivy tertawa keras, baru ingat kalau yang sebenarnya berisik adalah rumahnya. “Ivy, tadi kamu bilang apa? Tolong di ulang.”

“Aku tidak dengar kalau ada telepon masuk, makanya itu tidak menjawab panggilanmu. Oh ya, ponsel ku tertinggal di kamar.” Jawab Ivy dengan suara yang lebih keras, malas mengecilkan volume lagu yang ia putar. “Oh begitu… DUH! Itu suara apa siiihh?! Berisik sekali!” Ivy terkekeh lagi, sepertinya Key kembali mengomeli anggota lain di sana. “Hey Key.”

“Ya?”

“Yang berisik itu rumah ku, bukan kalian.”

“Oh ya? Kenapa? Kalian sedang tidak berkelahi kan? Di sana sedang tidak ada bandit yang menodong mu untuk memberikan uang kan? KALAU BEGITU BISA KECILKAN SUARA APAPUN ITU, TV, RADIO, LAGU, PONSEL, APALAH ITU! BERISIK TAU!!!”

“OPPSS… SORRY!” teriak Ivy memutar panel volume, lalu tertawa keras. Key memang paling benci suara gaduh saat menelpon, apalagi bicara langsung. “Aaaahh! Kamu membuat uratku nyaris putus, tahu?!”

“Maaf, hahahha. Aku yakin mereka hampir tuli, teriakkan mu tadi keras sekali Key.” Ini bukan kali pertamanya Key berteriak di telpon, jadi mungkin semua orang sudah bersiap menutup telinga. “Yeah yeah whatever. Jadi, mau ikut atau tidak? Eh, dan tolong jangan di loudspeak. Suaramu itu jadi terdengar aneh tau karena berada jauh dari telepon.”

“Aku sedang bersih-bersih, yeobo[2].” Goda Ivy lalu beralih pada karpet. “Ah terserah, jadi mau ikut atau tidak?! Ya tuhan, aku harus tanya 100 kali ya?” Ivy terkekeh. “Tidak, maaf ya. Aku harus bersih-bersih dan masak untuk makan malam.”

“Tidak apa-apa sih, lagian kamu cuma akan merepotkan kalau ikut. Aku mengajak hanya untuk formalitas.” Kalau Key ada di hadapannya sekarang mungkin Ivy akan menusuk kedua bola matanya itu! “Kalian berdua tidak bertengkar hebat kan? Misalkan sampai melempar piring, gelas, tahu, daging, sayur, garam. Tidak kan?”

“Eeeengghh.. sudah berapa tahun kamu tidak masak Key? Mana ada orang bertengkar hebat sampai melempar daging, sayur, tahu, dan garam segala?! Lagi pula aku ataupun Taemin bukan tipikal orang yang melempar barang saat berkelahi.”

“Aaahaha memang tidak melempar, tapi mencakar!” Ivy meringis. “Aku tidak jadi tersangka perselingkuhan mu kan?”

“YA! But… technically yes. Dia agak menyinggung masa lalu, yaaa tahu sendiri lah.” Key bergumam tidak jelas. “Tapi kamu sudah menjelaskan kalau kita tidak sedang berselingkuh? Aku memelukmu bukan karena mau menjadi selingkuhamu, ah lagi lebih baik aku berpelukan dengan Shim Hak dari pada denganmu memang –jika ingin di jadikan selingkuhan.”

“KEY!”

I mean it, serius deh! Pasalnya Shim Hak lebih enak di peluk, di bandingkan dengan tubuh kurus mu itu. Aw aw aw… Dan lagi pacar Shim Hak lebih berkepala dingin, sekali dua kali memeluk juga tidak akan di hajar. Tapi kalau Taemin? Haaahh.. baru bersentuhan sedikit juga sudah di penggal.”

“Enak saja!! Taemin tidak begitu tau, ada saat nya dia mudah cemburu. Dan belakangan ini Taemin sedang mengalami saat-saat itu, di mana emosinya mudah memuncak. Karena itu malam ini aku mau memasak yang enak, supaya kami lebih mudah bicara. Sudah beberapa minggu ini juga kami hidup sendiri-sendiri, bahkan akhirnya baru semalam kami tidur satu kasur lagi.” Tiba-tiba terdengar suara riuh dan tepuk tangan dari tempat Key. “Musun iri isseosseo[3]?” tanya Ivy bingung. “Chukkahae[4]!” seru orang-orang yang sepertinya seluruh anggota klub musical teater nya. “Wuuaaahh tidak di sangka Ivy mengerti Taemin hingga sedalam itu. Aaaaahhh so romantic!” suara Shim Hak tiba-tiba saja terdengar. “Apa-apaan sih ini?!” Ivy langsung berjalan mendekat, lalu mengangkat gagang telepon. “Apa semalam kalian melakukan itu? Iya kah? Ceritakan pada kami, Ivy-a.”

“Jangan bilang…. YA KIM KIBUM!!! IJJASHIGI!!” sejurus kemudian Ivy membentak-bentak, mengomeli seluruh orang yang mendengar percakapannya dengan Key barusan. Sementara itu di seberang sana mereka justru asik tertawa, dan menganggap ocehan panjang-pendek Ivy sebagai angin lewat. “Aku akan membunuh kalian besok!!” seru Ivy kehabisan kata-kata lalu memutuskan sambungan. Untung saja ia tidak bicara yang macam-macam, bisa gawat nantinya. Ivy menarik nafas dalam-dalam, mengeraskan kembali volume lagu yang ia putar dan kembali melanjutkan kegiatan awalnya.

“Woah woah, jam 3? Ya ampuuun!!” terlalu sibuk tenggelam dalam dunianya sendiri ia hampir melupakan Silver. Cepat-cepat Ivy menyambar gagang telepon hendak menghubungi Taemin agar menjemput putrinya, namun bel rumahnya lebih cepat berbunyi.

“Hai.”

“Oh, hai. Lihat siapa yang datang!” Ivy langsung memeluk laki-laki yang berdiri di hadapannya itu. “Lama tidak berjumpa, Ivy. Apa kabar?” Ivy melepas pelukannya. “Baik, sangat baik apalagi setelah oppa datang kemari. Mau mampir dulu?”

“Ah sebenarnya aku sangat ingin, tapi aku ada janji. Maaf ya, lain kali aku ke sini lagi.” Ivy mengangguk lalu menggandeng Silver. “Tapi, kenapa Jinki oppa menjemput Silver? Apa Taemin yang meminta?”

“Yaa begitulah, tapi aku juga memang ingin bertemu keponakan ku yang cantik ini. Sudah lama kita tidak berkumpul. Oh ya, kata Taemin juga mungkin malam ini ia akan pulang terlambat. Kalau nanti hp Taemin tidak bisa di hubungi, berarti baterai nya sudah habis. Tadi ia menghubungi ku terakhir kali saat sedang menemui klien di pacuan kuda, dan katanya ia titip pesan untukmu karena takut nanti tidak bisa menghubungi mu.”

“Aaahh ne, gwenchana[5]. Maaf ya oppa jadi merepotkanmu, padahal aku bisa menjemput. Benar-benar minta maaf.”

Take it easy. So, aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa lagi.” Keduanya saling memeluk. “Nah, keponakanku yang cantik. Jadi anak yang baik ya, kapan-kapan aku akan menjemputmu lagi. Okay? High Five!” Silver menyambut tangan Jinki dengan riang. “Thanks a bunch, uncle J!” seru Silver membuat Ivy membulatkan matanya dan tersenyum kaget. “Aku yang mengajarkannya tadi, hahaha. Sampai jumpa Ivy! Baik-baik dengan suami dan anak mu.” Ivy mengiringi kepergian SUV maroon milik Jinki dengan lambaian tangan dan senyum mengembang.

“Bagaimana hari ini? Apa sekolahnya asik? Apa uncle J membelikan mu sesuatu?” Ivy menggandeng putrinya masuk, lalu naik ke lantai dua. “Yes, mom! Uncle J tadi bawa ice cream dan susu pisang. Oh iya, tadi di sekolah aku dapat coklat dari teman ku.”

“Oh ya? Laki-laki?”

“Iya… tapi terlalu cantik untuk jadi laki-laki.” Ivy tergelak. “Like your pa, hm?” Silver terkikik. “But, but… appa lebih tampan! Itu kan hanya foto remajanya, tapi sekarang appa seperti laki-laki sungguhan.”

“Oh ya? Hahahah… syukurlah. Berarti eomma tidak salah memilih appa kan?” keduanya tergelak, dan terus terhanyut dalam berbagai macam topic pembicaraan. Silver yang memiliki begitu banyak cerita, dan Ivy yang selalu mendengarkan.

_______________________

[2] Yeobo = Suamiku. | [3] Musun iri isseosseo = Apa ada yang terjadi? | [4] Chukkahae = Selamat Ya! | [5] Gwenchana = tidak apa-apa

“Ha Jung!” seru Taemin sambil berusaha menyeruak kerumunan orang-orang yang sedang asik menari. “Oh, Taemin-sshi. Anda sudah datang? Yang lain mengumpul di atas, ruang VIP atas nama Cho Kyuhyun-sshi.”

“Ne, kamu tidak ikut bergabung di atas?”

“Ah? Tidak. Itu hanya untuk atasan saja, kami para sekertaris dan bawahan lebih baik di sini.” Taemin mengerutkan alis. Taemin melihat sekeliling, mencari karyawan kantornya yang ikut hadir. Memang rata-rata keryawan yang datang mengisi lantai bawah, sekedar duduk-duduk atau menari di lantai dansa. “Eh, Ha Jung. Apa kamu bawa external charger?”

“Ne? Maaf saya tidak bisa mendengar anda.” Keduanya berusaha mempertajam pendengaran, sementara lagu justru di putar semakin keras membuat yang menari semakin bersemangat. “Charger! Charger external. Kamu bawakan?” Ha Jung mengangguk begitu mengerti maksud Taemin. “Ini.”

“LEE TAEMIN!!! Woaaahh kamu datang juga!” seseorang tiba-tiba merangkul leher Taemin membuatnya nyaris terjatuh. “Ayo kita ke atas, di sini sudah terlalu panas.” Jonghyun yang sepertinya sudah minum 2 gelas berusaha menarik Taemin. “Ha Jung-a, aku titip ponsel ku ya. Tolong di charge.” Setelah itu Taemin dan Jonghyun lenyap di antara kerumunan orang-orang, sebenarnya Taemin tidak begitu suka suasana ramai dan gaduh seperti ini. Walaupun dulu dia juga sering datang ke club dengan teman-teman SMA nya, tapi tidak setelah ia punya Ivy apalagi Silver.

“Hoy Taemin!!!” semuanya langsung menyambut Taemin riang, saat sosok itu masuk bersama Jonghyun. “Kami kira kamu tidak akan datang, padahal pesta kali ini pasti seru.” Ucap Kyuhyun yang di sisi kanan dan kirinya duduk dua orang wanita, dengan pakian terbuka juga make up yang – menurut Taemin – menjijikan. “Biar bagaimana pun aku harus tetap merayakan kesuksesan mu kan, hyeong?” Taemin berusaha mengabaikan dua orang wanita itu.

Mereka mulai terlarut dalam topic pembicaraan yang beragam, yang sebenarnya lebih banyak menuju pada wanita –karena di ruangan tersebut yang sudah menikah terhitung jari. “Taemina, kamu kan sudah menikah. Bagaimana menurutmu? Apa lebih enak menikah atau sendiri?” pertanyaan Seungho membuat alisnya mengerut. “Itu sih tergantung.” Jawab Taemin sekenanya.

“Tergantung istri nya seksi atau tidak ya?” sedetik kemudian ruangan itu di penuhi deru tawa keras, tapi tidak bagi Taemin dan Minho. Harusnya sih Jonghyun juga, tapi efek minuman ia jadi tidak terlalu memperhatikan kalimatnya.

“Mau keluar?” ajak Minho yang sudah tidak betah berada di ruangan tersebut, dan langsung di sambut anggukan yakin dari Taemin. “Bagaimana? Sudah bilang pada istrimu kalau kami mau menyaksikan penampilannya?” tanya Minho lalu meneguk anggur nya, Taemin hanya menggeleng. “Oh? Aku pikir sudah. Bukannya kemarin kamu izin untuk ke tempat latihan istri mu? Tidak mengobrol?” Taemin menggeleng lagi, memandangi sampanye nya dengan tatapan kosong. “Ada masalah?”

“Hhhh.. entahlah hyeong. Mungkin aku saja yang terlalu membesar-besarkan masalah sepele, aku sangat kacau belakangan ini.” Akhirnya Taemin meneguk sampanye yang sejak tadi hanya ia pegang dan pandangi. “Aku sempat melihat istri mu menangis di ruangan mu, Jonghyunni hyeong yang bicara padanya. Mungkin kamu harus bertanya padanya. Tapi aku dengar tadi pagi dari Jonghyunni hyeong, kamu ingin pulang cepat? Katanya mau makan malam bersama istri dan anakmu ya?” Taemin mengangguk lemah, matanya menatap lurus pada orang-orang yang menikmati alunan lagu di tengah ruangan.

“Aku mencoba jadi suami yang perngertian, tapi sulit ternyata. Sejak dulu masalah kami selalu sama, kesalah pahaman yang tidak pernah bisa di luruskan. Berlalu begitu saja, seolah tidak pernah terjadi tapi sejujurnya semua itu tetap mengganjal. Aku ingin menanyakannya tapi aku takut mengungkit masa lalu, dan justru memperburuk keadaan.”

“Aku pernah berada di posisi mu, Taem. Tapi saat itu aku tidak tahu apa yang harus lakukan, dan saat aku tahu aku justru bingung bagaimana cara melakukannya. Beda kepala pasti selalu beda pemikiran, aku tidak terlalu menggubris pepatah itu. Aku mengungkapkan semua yang ada di otakku tanpa menyaringnya, dan tanpa memperhalus ucapanku. Hasilnya? Keadaannya justru semakin memburuk. Kami bertengkar hebat, bahkan membuat anak-anak kami yang semestinya belum mengerti menangis. Saat itu rasa sakit yang kami rasakan karena kesalah pahaman tiba-tiba saja menghilang, berganti dengan rasa bersalah. Setiap tetes air mata anak kami menambah beban kami seberat 1 ton. Jauh lebih sakit dari pada seluruh tuduhan tanpa alasan pasti yang kami ajukan, saat itu kami menyadari bahwa harus ada pintu keluar dari gudang gelap tempat kami terkurung.” Minho mengambil jeda untuk meneguk anggurnya lagi, menarik nafas panjang lalu melanjutkan kalimatnya.

“Sebagai laki-laki aku meminta maaf lebih dulu atas kesalahan ku, dan mendengarkan seluruh penjelasan yang ia berikan. Saat itu aku tahu aku salah, matanya mengatakan semua penjelasan yang ia berikan benar-benar yang sesungguhnya. Setelah aku mengerti, ia balik bertanya dan aku menjelaskan semuanya secara jujur. Sangat menyakitkan memang, tapi kami bahagia setelah itu. Membiasakan diri untuk lebih terbuka dan menjaga hati satu sama lain, berjanji untuk membesarkan anak kami bersama dalam kasih sayang. Kalau pun hubungan kami sudah di persimpangan, kami juga berjanji untuk tetap bertahan bersama demi anak-anak kami. Hingga mereka mengerti keadaannya, dan seiring dengan waktu batu yang keras juga akan terkikis bila terus terkena deburan air. Luka yang terpatin dalam dan begitu besar juga perlahan akan mengering dan terhapus, selama kita menginginkan. Dan selama angin bertiup, kita tetap bisa menjalani hidup. Toh sebelumnya kita sudah membuat kehidupan yang lebih baik dari sekarang.”

Taemin mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Minho, meresapinya dan perlahan membangun tekadnya untuk bicara baik-baik malam ini. “Jadi, apa kamu tega membuat istri dan anak mu makan malam terlalu larut?” Taemin tersadar.

“O, terima kasih hyeong. Jujur, tadi sangat membantu. Tidak apa-apa kan kalau aku pulang duluan?” Minho mengangguk. “Sebentar lagi aku juga pulang.” Minho menepuk punggung Taemin lalu buru-buru turun ke bawah.

“Ne? Siapa?… oh iya… ah maaf nyonya, saya tidak bisa mendengar suara anda. Di sini sangat berisik. Yang pasti Taemin-sshi sedang tidak bisa menerima telepon, saya mohon maaf. Say-.” Ha Jung menatap layar ponsel Taemin lalu mendengus. Baterai nya masih belum terisi, satu batang bisa langsung habis jika di gunakan untuk menelpon.

“Ha Junga, apa baterai ku sudah terisi?” Ha Jung mengangguk. “Sudah Taemin, hehehe.” Kening Taemin langsung mengerut dalam. “Kamu minum?”Ha Jung meringis. “Cuma sedikit kok, padahal aku cuma minum 2 gelas loh. Aduuhh lemah sekali sih.” Ha Jung menepuk-nepuk keningnya, membuat Taemin bergerak menahan tangannya itu. “Kamu ada masalah?”

“Masalah? Lim Ha Jung tidak pernah terlibat masalah!” Taemin memijit keningnya, tidak menyangka sekertarisnya bisa seperti ini. “Ayo pulang, aku tidak mau kamu jadi semakin mabuk.” Baru saja Taemin akan menarik Ha Jung turun dari kursinya, tiba-tiba gadis itu memukul kepalanya. “Apa yang kamu lakukan?! Mau Memperkosaku ya?! Lepaskan atau aku akan menjerit!”

“Ha Jung! Sadar dulu sebentar, lihat ini aku Taemin. Lee Taemin! Jangan buat aku membawamu secara paksa Ha Junga.” Taemin mengantongi ponselnya, mengambil tas Ha Jung lalu buru-buru berangkulnya pergi, sebelum ia kembali bereaksi. “Taemin, pulang duluan?” Taemin menoleh kaget saat mendengar seseorang menegurnya. “Titip salamku pada Kyu hyeong ya.”

“Eh? Ada apa dengan sekertarismu? Minum?” Taemin mengangguk pasrah. “Donghae hyeong, bantulah aku.” Taemin memohon. “Seharusnya kamu minta jasa pelayan.” Donghae langsung memanggil dua orang pelayan untuk membawa Ha Jung. “Haaahh terima kasih hyeong, aku duluan ya!”

“Ne, hati-hati di jalan! Salam untuk istri dan anak mu.” Taemin mengangguk lalu segera menuntun dua pelayan itu ke mobilnya. “Ck, kalau sudah begini harus aku bawa kemana?” sepanjang perjalanan Taemin berusaha memutar otaknya yang sudah cukup lelah untuk berkerja.

“Hewan itu sangat kejam, tapi tidak ada hewan yang lebih kejam dari manusia.” Taemin menoleh saat mendengar Ha Jung menggumamkan kalimat tersebut. “Ada apa? Apa kamu mau bercerita?” Ha Jung tertawa mengejek. “Bercerita? Kamu bercanda ya? Mau membuatku di cemooh orang?” Taemin menghela nafas, ia yakin tidak lama lagi Ha Jung akan kembali bercerita. Mungkin jalan terbaik hanya membawa Ha Jung ke rumahnya, dengan begitu tidak akan timbul rasa cemburu buta karena Ivy akan melihat sendiri kalau ia tidak melakukan apa-apa dengan Ha Jung.

“Tidak jadi makan bersama?” tanya Silver sambil memanjat kursi. “Appa sedang banyak urusan, jadi katanya kita makan duluan. Habis makan Silver mandi terus tidur, ok?” Silver mengangguk, mulai menyantap makanannya sendiri. Setengah jam berlalu dalam diam, mendadak Ivy merasa masakannya begitu hambar.

“Sudah!” seru Silver begitu menelan nasiny abulat-bulat. “Mashisseo[6]?” Silver mengangguk semangat. “Neomu neomu mashitda[7]! Hihihi, besok aku mau makan ini lagi!” Ivy tersenyum, “Besok bekal mu ini. Ayo sekarang bawa peralatan makan kotornya di dapur, lalu kita mandi.” Setengah berlari Silver membawa peralatan makannya ke tempat cucian piring, Ivy menarik pintu mesin cuci piring dan membiarkan Silver memasukkan piringnya sendiri. “Mandi mandi!!”

“Tapi kan tadi sore sudah.” Ivy berjongkok. “Boleh saja tidak mandi malam, tapi nanti eomma tidak akan mau tahu ya kalau kuman-kuman di tubuh Silver berkembang jadi banyak. Lalu nanti jadi raksasa, dan menerkam Silver. Rawrrrr!!” Ivy langsung menggelitik Silver membuatnya menggeliat kegelian, lalu tergelak dalam tawa. “Karena Silver perempuan jadi harus selalu bersih. Supaya sehat, segar, tidurnya juga nyenyak.” Ivy menggendong putrinya menuju kamar mandi. “Jadi kalau laki-laki tidak perlu mandi malam?”

“Hhhmmm… seharusnya sih perlu, tapi anak laki-laki itu lebih nakal. Jadi kalau sudah besar pasti melawan dan tidak mau mandi malam-malam. Silver mau di bilang nakal seperti anak laki-laki.” Silver menggeleng cepat sambil membuka bajunya. “Makanya kita mandi.” Setelah selesai mandi dan berpakaian, Ivy menemani putrinya hingga tertidur. Lalu tugas selanjutnya menanti Taemin pulang. Ia mendengus kecewa jika teringat masakannya terabaikan.

08.21

Dengan malas Ivy menekan tombol 1 di ponselnya yang langsung menyambungkan ke nomor Taemin. “Yeoboseyo. Anda tersambung ke nomor Lee Taemin.” Alis Ivy mengerut. “Ini siapa? Aku Ivy, bisa aku berbicara dengan Taemin?” Ivy menjauhkan ponselnya karena di sebrang sana terdengar sangat bising. “Ne? Siapa?”

“Ivy!” ucap Ivy mendekatkan bibirnya dengan speaker bicara. “Ah maaf nyonya, saya tidak bisa mendengar suara anda. Di sini sangat berisik. Yang pasti Taemin-sshi sedang tidak bisa menerima telepon, saya mohon maaf. Say-.” Ivy mengerjap kaget saat sambungannya terputus tiba-tiba. Pikirannya mulai mencari kemungkinan buruk yang terjadi, suara bising tadi sudah pasti dari sebuah club, wanita yang mengangkat telepon Taemin tadi jangan-jangan wanita malam. Ivy berusaha membersihkan otaknya, menahan semua persepsi salah setidaknya hingga Taemin tiba di rumah.

10.05

Ivy terbangun saat bel di rumahnya berbunyi, cepat-cepat ia berlari membuka pintu. “Tae-“ Ivy membulatkan mata begitu sadar tubuh Taemin menindihnya. “Kamu mabuk?!” amarah Ivy nyaris terpancing saat mencium bau anggur yang reflek membuatnya mendorong Taemin. “Aw! Ivy, sakit tahu!” protes Taemin karena lengannya tidak sengaja membentur pintu.

“Kamu dari bar dan pulang dalam keadan mabuk? Keterlaluan!”

“Hey, slow down.” Taemin menggenggam tangan istrinya itu. “Bukan aku yang mabuk, tapi sekertaris ku. Aku tidak. Cuma minum sampanye, sekarang bantu aku membawanya ke kamar tamu.” Butuh waktu sekitar 1 menit bagi Ivy untuk menyadari situasinya, masih dengan sejuta pertanyaan di otaknya ia membantu Taemin membawa Ha Jung ke kamar tamu yang – untungnya – terletak di lantai satu.

“Tolong ganti bajunya, aku mau mandi.” Pinta Taemin lalu beranjak ke kamarnya sendiri. Tanpa melawan Ivy menurut, mencari baju yang kira-kira pas untuk gadis ini. “Oh!! Ha Jung!” Ivy baru ingat kalau gadis ini yang kemarin membuat harinya lebih baik, mendengarkan semua keluh kesahnya. Oh! Juga Jonghyun, dia yang memberikan saran paling bagus. “Sudah?” Ivy mengangguk begitu mendengar suara Taemin di belakang nya. “Taemin, keringkan dulu rambutnya. Sampai kering!” tegur Ivy ketika air yang berkumpul di ujung rambut Taemin menetes ke pundaknya.

Bukannya menjawab atau menurut, Taemin malah beralih ke tas Ha Jung mencari sesuatu. “Mwo hae[8]?! Tidak boleh bongkar-bongkar sembarangan!” omel Ivy berusaha merebut tas Ha Jung kembali. “Ssstt, diam aku sedang mencari jawaban. Tadi di mobil dia bergumam ‘hewan itu kejam, tapi tidak ada hewan yang lebih kejam dari manusia.’, aku penasaran maksudnya apa.” Ivy berfikir sebentar.

“Mungkin besok kamu harus memberinya libur, aku akan mencoba membuatnya bicara. Dia tidak mungkin berkerja dalam keadaan seperti ini.” Taemin bertolak pinggang. “Tapi tadi pagi sampai tadi sore dia baik-baik saja Ivy, mungkin ini efek alcohol?”

“Taemin, seseorang harus bisa bersikap professional dan membedakan mana masalah pribadi dan masalah umum. Ia tidak ingin merepotkan orang lain jadi dia memendam semuanya sendirian, mungkin. Jadi besok aku akan menjadi teman bicaranya, ok? Sekarang kita tidur. Sudah sangat larut, aku tidak mau besok kita bangun kesiangan.” Taemin mengangguk lalu keduanya berjalan menuju kamar mereka.

__________________________

[6] Mashisseo? = enak? | [7] Neomu neomu mashitda = sangat sangat enak | [8] Mwo Hae = apa yang kau lakukan?

♦♦

“Mana Kye Sang? Tidak datang bersama mu?” Ivy celingukan mencari sosok seorang wanita. “Aaahh entahlah, suka-suka dia mau datang atau tidak.” Ivy mengerutkan alis dalam-dalam. “Ooohh sedang bertengkar ya? Ya ampun, Key! Kalian in-“

“Taemin sendiri mana?” Key memotong kalimat Ivy karena membalas kekasihnya itu. “Taemin harus lembur hari ini, jadi mungkin dia akan menjemput saja. Kalau sempat dia pasti akan sekalian datang.” Ivy mengambil gelas berisi cocktail. “Silver kemana?”

“Sedang asik menghabiskan hari dengan Jinki oppa, kakak Taemin.” Key mengangguk lalu mengedarkan pandangan. “Sepertinya tidak ada wanita yang lebih menarik darimu.” Ivy memberi cubitan kecil di lengan Key. “Jangan bandingkan aku, aku ini sudah punya anak tahu!” perotes Ivy. “Heh jelek! Harusnya bangga kalau aku bilang seperti tadi. Tandanya, walaupun belum menikah tidak ada yang lebih menarik dari mu padahal kamu sudah menikah. Intinya tidak ada yang mengalahkan mu, aro?”

“Ooohh maksudnya itu eheheh, maaf.” Keduanya terdiam, bingung mau melakukan apa. Pesta amalnya baru akan di mulai 10 menit lagi, padahal ruang pertemuan ini sudah hampir penuh. “Ke sana yuk, mengamankan diri dari pandangan orang-orang.” Ivy buru-buru mengekor Key yang berjalan menuju taman belakang. “Banyak juga yang kemari.” Gumam Key. “Ke situ saja, ada ayunan nya!” seru Ivy riang lalu setengah berlari menuju ayunan panjang di dekat lampu taman. “Waktu itu acara makan malamnya sukses?” Ivy menggeleng.

“Tapi tidak apa-apa, aku tahu situasinya hehehe.” Keduanay kembali terdiam. “Kim Kibum, kamu tahu kan kalau Kye Sang pasti cerita denganku setiap kalian ada masalah? Hampir semua kekasihmu itu, jadi sekarang berikan penjelasan karena aku harus memeberi jawaban pada Kye Sang.”

“Yaaahh apalagi kalau bukan karena reputasi nya sekarang di dunia entertainment yang sedang naik daun, aku seperti pelayan sekarang. Dia sibuk sms-an, chat, atau apalah itu, membuat ku membuang-buang waktu di rumahnya. Setelah dia puas, aku sudah bosan lebih dulu.” Ivy menghela nafas. “Mengerti lah Key. Kye Sang baru saja naik daun setelah sekian lama berjuang, biarkan dia menikmati nya sebentar. Ini adalah obsesinya yang paling besar, setelah obsesinya pada mu tuntas pastinya. Kalian berdua sangat serasi, aku yakin saat hubungan kalian di publikasikan banyak yang iri.”

“Apa kamu tahu? Sangat luar biasa melihat seseorang yang juga memiliki banyak masalah tapi mau mendengarkan masalah orang lain dan memberi solusi. Tapi sangat menyedihkan ketika tahu ia tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.” Ivy menyeringai. “Menyindirku?” Ivy tertawa – yang lebih seperti – mengejek diri sendiri. “Tidak, aku menyindir kita berdua. Hahaha, tidak sadar? Aku juga sama. Dan omong-omong, ponselmu bergetar.”

“Oh ehehe, sebentar ya. Yeoboseyo?… ah wae?… kan sudah aku tulis. Ada… iya, eh bukan! … di kiri. Alamatnya ada di balik kertas itu. O, sudah dekat? Ya sudah, sebentar lagi di mulai. O, nanti cari aku di taman ya.” Ivy memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. “Taemin?” Ivy mengangguk. “Apa yang membuatmu jadi kacau Key? Ada yang mengganggu pikiranmu?”

“Ah? Tidak, aku hanya sedang berfikir. Kenapa? Apa aku terlihat seperti sedang kacau?”

“Kamu selalu menggigiti kuku jempolmu kalau sedang banyak pikiran.” Key baru sadar lalu cepat-cepat menarik tangannya kembali, berusaha menahan kebiasaannya. “Ada apa? Ayo ceritakan.” Key menarik nafas panjang. “Melupakan seseorang itu susah,” gumam Key akhirnya.

“Aaaahh jadi dari sekian banyak mantan mu akhirnya ada yang tidak bisa lepas ya? Hohoho, siapa siapa?”

“Tidak bisa di bilang begitu juga, karena aku pikir aku sudah cukup melepaskannya. Tapi terkadang aku kembali teringat dan setiap kali melihatnya aku jadi menyesal sudah melepaskannya. Tapi aku benar-benar melepaskannya, maksudku aku lega saat itu karena ia mendapatkan laki-laki yang lebih baik. Hanya saja… hhh… mungkin aku iri karena aku tidak bisa membuatnya seperti sekarang. Sebagaimana laki-laki itu membuatnya sangat bahagia seperti sekarang.”

“Kamu bisa menjadi penjaga di belakangnya Key. Selama dia belum menikah, jangan berhenti berharap. Dan lagi siapa tahu dia merasakan hal yang sama?” Key menggeleng lemah. “Sama sekali tidak ada, aku tahu baginya aku hanya seorang teman. Tidak akan bisa lebih seperti dulu, walaupun kadang aku lebih bahagia begitu. Karena itu tidak pernah percaya dengan pepatah yang bilang kalau cinta tidak harus memiliki, itu omong kosong. Cinta harus memiliki. Jika tidak dapat berarti dia bukan cinta kita, hanya saja aku sulit mencari cinta lain.”

“Bisa, Key. Mulai dari sekarang kamu harus benar-benar memandang Kye Sang, tanpa bayang-bayang gadis itu lagi.”

“Tidak mungkin bisa. Selama hubungan kita tetap seperti ini, perasaan ini tidak akan pernah kandas.” Ivy menoleh cepat. “Maksudmu?” nafas Ivy terasa semakin berat saat mata sendu Key itu menatapnya lekat. “Perasaan ku pada mu masih belum hilang Ivy, aku masih berharap kamu kembali menerima ku. Bahkan setelah kamu menikah dengan Taemin dan memiliki Silver, perasaan ini masih bertahan. Sekarang katakan apa yang harus aku lakukan?” tangan dingin Key perlahan bergerak menggenggam kedua tangan Ivy. Hanya dalam hitungan sepersekian detik, seseorang tiba-tiba saja menarik tuxedo Key.

“Brengsek!” pukulan itu benar-benar mendarat di tulang pipi Key, membuatnya jatuh tersungkur. “Benar selama ini! Itu lah kenapa aku tidak pernah suka melihatmu dekat dengan Ivy.” Baru saja Ivy akan membantu Key berdiri, tangan yang tadi memukul Key langsung menarik pergelangannya dengan kasar.

“Taemin, sakit! Lepaskan, kumohon!” entah bagaimana tubuh yang biasanya terlihat rapuh itu tiba-tiba sekarang terasa begitu kuat, sekeras apapun Ivy meronta-ronta. Tangan baja itu tidak akan melepaskan cengkramannya di pergelangan Ivy, tidak mengacuhkan pandangan orang-orang dan tetap menarik Ivy keluar dari gedung pertemuan itu. Membuat Ivy dengan susah payah menjaga keseimbangan akibat heels 7 cm nya.

Mobil Taemin melaju dengan kecepatan tinggi, membelah keramaian kota Seoul. Namun tak ada sedikitpun suara di dalam mobil, kecuali suara nafas Taemin yang tidak teratur. Ivy tahu seberapa marah Taemin sekarang, walaupun ini adalah kali pertama baginya melihat keadaan Taemin yang benar-benar akan meledak dalam hitungan detik. Ivy terlonjak kaget saat Taemin menekan klakson dengan kasar. “Taemin, kamu apa-apaan sih?!”

“Diam!” Taemin kembali menginjak gas kuat-kuat, menikung dengan tajam, dan menyalip kendaraan lain dengan kasar.

“Agh! Taemin pelan-pelan!” Taemin kembali menyeret Ivy begitu mobilnya sudah terparkir di halaman rumahnya. “Mulai hari ini jangan pernah datang ke tempat latihan mu itu lagi! Aku muak melihat mu dengan laki-laki brengsek itu!”

“Lepas! Key tidak salah!” akhirnya Ivy berhasil menarik kembali tangannya yang sudah memerah. “Tidak salah?! Jelas sekali laki-laki tidak tahu malu itu baru menyatakan cintanya padamu wanita yang sudah menikah, dasar bodoh!”

“LEE TAEMIN! JAGA BICARAMU!”

“TURUN KAN NADA BICARAMU!” Ivy mundur selangkah, bentakkan tadi benar-benar memekikan telinga. “Benar-benar tidak tahu diri! Sudah selingkuh di pesta amal, berani-beraninya membentak suami! Mana harga dirimu? Bisa-bisanya tidak merasa malu, padahal aku suami mu saja sudah sangat malu dengan kelakuanmu. Aku sampai hampir tidak mau mengakuimu sebegai istri, karena kemana-mana dengan laki-laki yang berbeda. Apa masih belum puas punya satu suami? Ah atau aku kurang memperlakukanmu seperti seorang istri? Apa karena sudah lama tidak melakukan hubungan suami-istri? Iya?”

“TAEMIN CUKUP!”

“Oke! Cukup! Kalau kamu merasa hubungan kita sudah cukup hancur, silahkan ajukan perceraian.”

“Taemin! Berfikirlah dengan benar!”

“Kamu yang harusnya berifkir dengan benar! PUNK!!!” Ivy hampir menjerit saat kepalan tangan Taemin tertuju kearahnya, namun saat kedua kelopaknya terbuka. Ia tahu tangan yang dulu membelainya, menggenggamnya, merangkulnya, dan memeluknya hangat kini menghantam tembok dengan sangat keras. Giginya menggertak, nafasnya memburu, matanya sarat dendam dan kebencian, air mata yang setajam pisau itu mengalir di salah satu pipinya. Wajah itu membuat Ivy begitu merasa bersalah, mendadak ia merasakan perih yang menghujam sanubarinya begitu kuat. Ivy menundukkan kepalanya dalam-dalam, deru nafas itu membuat air matanya tiba-tiba saja mengalir.

“Maaf kan aku Taemin.” Ivy berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Aura tadi begitu menyeramkan, tidak akan pernah ia mau melihat dan merasakan aura itu lagi. Baginya hari ini cukup! Ini akan menjadi terakhir kali baginya terjebak dalam situasi seperti ini. Mungkin satu-satunya jalan keluar hanya pergi dari rumah ini.

♦♦

^To be continued^

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

72 thoughts on “Hit Me – Part 2

    1. Wiiihhh first😀
      Apanya yang kenapa?? Hohoho
      Sepertinyaaa.. iya lumayan ngeri ._. ekekeke

      Okeee ^^
      Makasih udah komen dan bacaaa *kecupkecup*

    1. Makasiiiihhhh😀
      Uwah? seriusan? Masa sih?
      Oke oke🙂
      DI tunggu aja yaaaa ^^
      Makasih udah komen *kecupkecup*

  1. Huft….
    Narik napas dulu…
    Part ini bener-bener mancing adrenalinku, Ayi Eon…
    Aduh… Makin panas dah koNfliknyA.. Aku suka pas Taemin mengHantam tembok itU… Setuju dah itU serem bAnget,, gimana dia menyalurkan emOsinya lewat pukulan yg selang seDetik itU…..
    Huftt… *narik napas lagi*
    .
    Key…. Udah aku duga dia suka sama Ivy.. Keliatan dari cAra dia memperlakukan Ivy.. Oh astaga….
    Eon tanya kenapa aku bisa tahu?
    Answer: karena aku pernah ngalamin sendiri.. T.T
    *Halah jadi curcol*
    .
    Uwow.. Ivy mau pergi?
    Silvernya gimana?
    Ganyante, nih…
    Part 3 yg terakhir, kan?
    Aku akan tUngGu, Eon!
    GoOd Job!Ayi Eon…
    Aduh… Makin panas dah koNfliknyA.. Aku suka pas Taemin mengHantam tembok itU… Setuju dah itU serem bAnget,, gimana dia menyalurkan emOsinya lewat pukulan yg selang seDetik itU…..
    Huftt… *narik napas lagi*
    .
    Key…. Udah aku duga dia suka sama Ivy.. Keliatan dari cAra dia memperlakukan Ivy.. Oh astaga….
    Eon tanya kenapa aku bisa tahu?
    Answer: karena aku pernah ngalamin sendiri.. T.T
    *Halah jadi curcol*
    .
    Uwow.. Ivy mau pergi?
    Silvernya gimana?
    Ganyante, nih…
    Part 3 yg terakhir, kan?
    Aku akan tUngGu, Eon!
    GoOd Job!

    1. Wiiihhh panjang nian komenmu ini naaaakkk😀
      Senang senang suka sukaaaaa ^o^ !!!

      Mancing adrenalin? Ih serius?
      Kok bisa siiiihhh??? Ini ff tuh kurang feelnya, kok bisa jadi kepancing? ._.a
      Eh aku juga suka bagian itu mwuahahhaha makasih banyak buat Tao Ming Se hahahha *cium Goo Joon Pyo nyaTaiwan* hahahh

      Oh yaaaa??? Cieeeeeee~
      kok aku malah cie ya? =,=
      Pernah? Kapan? Kok bisa? aku jadi penasaran niiiihhh~
      Cara dia memperlakukan Ivy? Kan mereka mantanan, jadi wajar kali yah kalu lebih gimana gitu? iya gak sih? ._.a

      Kayaknya sih gitu :p
      Silver masih punnya Taemin kok, ada Jinki juaaa😀 *author apaan nih?!*
      Iya, mudah-mudahan yang terakhir alias gak perlu bikin prolog
      Yaa maksudku semoga end partnya memusakan😀
      Makasih mau menunggu ekekeke~

      MAKASIH BANYAK ATAS KOMEN PANJANGMU YANGRNYA KEULANG INI
      HAHAHAHHA🙂 *kecupkecup*

  2. Huwa… Makin seru. Makin seru. Aihhh.. Yg bikin duo Lana dan Zika sih. Ehehe… Lanjutin lg, konfliknya mulai tajam tuh. Hhhh.. Aku smpai ikut”an gugup krnberasa jd Ivy ^^

    1. Makin seru? Aaahh terima kasih tuhaaann
      aku kira part 2 nya malah menurun kualitasnya😦
      Yg bikin duo Lana dan Zika? e…. eheh *nangis di pinggir kuburan*

      MAKASIH BANGET YA KOMENNYAAAA😀 *kecupkecup*

    1. Iya nih, aku juga bingung kayaknya cuma di ff ku aja yang komennya sering eror ._.a
      kemarin juga banyak yg keulang gitu komennya apalagi yg pake hp
      hehe~

    1. Makasih banget🙂
      Iya tenang, pasti happy ending ^^
      Kalau sad ending maaahh hidupku gk bakalan gini hahahha *apa coba maksudnya?! =,=*

      SEKALI LAGI MAKASIH KOMENYAAAA😀 *kecupkecup*

    1. Iyaaaa
      Tapi semoga aja bukan gak bisa, cuma belum bisa. Jadi ada kesempatan mereka pada akhirnya bisa saling menerti ^^

      Makasih komennyaaaaaaaa😀 *kecupkecup*

  3. iiiihh… konfliknya makin panas aja… seruuu…
    tp emang bener ya klo pepatah yg bilang cinta tak harus memiliki itu omong kosong? aku bener2 gatau karna blm pernah ngrasain sma skali… bingung klo ngliat tmen aku yg sampe nangis gara2 cwo yg dia suka jadian ma cwe lain taw gabisa lupain first love-nya… aku bkal mikir: plis deh, cuma gara2 cwo doang, lagi jg bru 15thn n cwo masih byk…
    dan stelah aku bca ff ni, jujur aku jdi rada tkut buat branjak dewasa… emang bner2 susah ya klo udah ska ma org? bisa ampe nangis gitu… aigo! jdi benr2 gamau branjak dewasa… pkoknya inove in 15… serem bgt liat msalah kyk gitu… btw, napa jdi curhat begini? bomat lah! maklum aku orgnya emang byk omong…

    ni ff keren deh! DAEBAKK!!!
    ditunggu bgt lanjutnya!

    1. Hwuaaahh thanks god kualitasnya masih sama🙂
      Heeeemmm menurutku, bukan omong kosong ^^. Tapi pepatah itu untuk menghibur mereka yang muai gusar hanya karena cinta. Segalanya memang butuh cinta tapi cinta bukan segalanya ^^, jadi pepatah itu maumembuat mreka kembali berfikir dengan benar. Jangan sampa merusak hidup sendiri hanya karena patah hati.
      Soal itu tergantung pribadi masing2 say ^^. Ada orang yg tipenya kalau cinta susah lupa, ada juga yang mudah bosen dsb. Mungkin temenmu termasuk ke golongan orang yg susah melupakan cinta. Mudah datang suah pergi ^^
      Kenapa harus takut? Dewasa adalah sebuah proses tapi tu pilihan. Gak apa-apa kok kalau kamu mau stay immature ^^. Tapi seiring umur kamu yg bertambah kedewasaan itu akan mengikuti. Jadi dewasa bukan berarti jadi orang tua. Orang yag lebih besar dari kita di sebut orang dewasa karena mereka sudah memiliki jalan pikiran yang dewasa. Memandang sesuatu tiak hanya dari satu jendela ^^.
      Masalah seperti di atas gak akan muncul pada seseorang kalau dia memang sudah dewasa dan bisa menyikapi itu dengan baik. Kalau masalah ini menimpa seseorang tandanya mereka belum cukup dewasa. That’s why you should grow more mature. Supay abisa terhindar dari masalah2 immature🙂. Masalah orang mature hanya pada tanggung jawab🙂

      Btw, kenapa aku jadi ceramah giniiii???? ._.a
      Pokoknya MAKASIH BANYAK BUAT KOMENNYA WALAUPUN CURCOL ^O^ KEKEKEK *kecupkecup*
      Tolong pertimbangin lagi soal cara pandangmu terhadap hidup dan sebuah masalah ^^, coba deh evaluasi diri dan sekitar😀. Hidup pasti jadi terasa lebih baik ^^ *maaf Lana nyolong advice mu hahahahaha*

  4. kehidupan rumah tangga itu susah ya😦
    sumpah nyesek aku bacanya. Penuh salah paham..
    kayanya taemin mesti berguru lagi ama minho..
    aku kasian ama key juga..
    tapi emang salah si key nya..
    ya ampun bener bener ngurang aer mata kalo punya keluarga kaya gtu..
    tapi aku suka banget kata kata minho, meskipun harus ngertiin banget kata katanya..
    tapi maknanya dalem banget..

    1. Gak susah, hanya kadar tanggung jawabnya lebih banyak🙂
      Mungkin bagi beberapa orang yg gak mengalami atau awam Key itu salah
      tapi bagi orang yang mengerti, Key sama sekali tidak salah. Karena dia tidak melakukan cara apapun untuk merusak rumah tangga Ivy-Taem. Dia cuma mengungkapkan isi hatinya, berharap bisa dapet jaln keluar. Karena gak ada ornag yg bisa menahan rasa cinta kan?🙂
      Harus ngertiin banget? Uwaaahh aku belibet ya bikin kalimat Minho nya?
      ;___;

      MAKASIH BANYAK ATAS KOMENNYAAAA😀 *kecupkecup*

  5. aku sampe sesek mbaca nih ff bner2 bikin deg2an. .
    aku bingung taemin yg cemburuan ato ivy yang salah??
    aku bner2 kasian ma silver. . .

    1. Bikin deg2an? padahal gak ada adegan terjun payungnya loh (?)
      kekeke
      Heeemm iya aku sendiri juga bingung.Taemin yang cemburuan atau Ivy yang salah ;__;a
      Kasian yah? Tapi selama dia gak tahu dan gak ngerti everything will be okay kok ^^

      MAKASIH BANYAK KOMENNYAAAA😀

    1. Hwuaaaa…
      Senang…. , bangga,
      tersanjung….
      Ommoooo terima kasih😀
      Oke bos! Tanggal 18 yaaaaa ^o^

      MAKASIH BANYAK KOMENNYA😀 *kecupkecup*

  6. Mungkin, apa kata para sunbae aku ada benernya juga.
    Waktu pacaran, namanya cinta. Pas udah nikah, namanya tanggungjawab dan komitmen.
    Nyeremin ya? Tapi… kayaknya emang bener deh. Hehehe…

    Ayi… ni FF based on true story kah?? Feel-nya gmn gitu… *sotoy*

    Titip pesen dung buat yeorin_taemints:
    Nggak usah takut jd dewasa chingu…
    Dewasa itu asyik, keren, cool dan menyenangkan kok. *aku dah buktiin, hehehe… udah merasa dewas nih, sombong… apalah…*
    Lgpula, dewasa dan umur itu nggak berbanding lurus.
    15 tahun bukan berarti blum dewasa. *buktinya aku udah. #PLAK!*
    Setiap umur, setiap waktu yang kita lalui, punya masalah-nya sendiri-sendiri. Pasti.
    Tambah dewasa, bukan berarti masalahnya tambah berat, tapi sudut pandang kita dalam melihat masalah itu yg makin kompleks.
    Gitu…

    1. Nah, bener ^^
      Karena itu, orang yang cerai adalah ciri-ciri orang yang tida bisa memikul tanggung jawba an memegang komitmen. Apalagi yang cerai dengan alasan sudha tidak cocok satu sama lain. Konyol menurutku🙂
      Gak serem, tapi menantang. Di situ letak rasanya hidup kalau menurutku. Apalagi kalau udah punya anak, itu adalah hiburan terbesar bagi sepasang suam-istri😀

      Heeeemmm kita liat di part 3 aja deh yaaa hahahha
      Tapi iya deh. Eh emag bagan “Story by : Mom & Dad” gak cukup membuktikan kalau ini kisah nyata yah? hahahha

      Hah! Setuju sama pesennya ^^. Yeorin, semangat yaaa!!!
      Aku berharap kamu baca komen kami ^^

      MAKASIH YENNI KOMENNYAAAA~ *kecupkecup*

    1. ANGGIIIII GAK GITUUUUUUUUU
      YAAAAHHH AMPUUUUUUUNNNNNNNNNN !!!
      Yaaahh aku gak bermaksud ngehina kamu hwuuueeehh jangan slaha paham
      aku gk bermaksud bilang FF ku lebih bagus
      maaaaffff~
      Jadi gak enak niiihhh

      MAKASIH BANYAK UNTUK KOMENNYA YA ANGGIIIII~ *pelukciumanggi*

  7. duh, si taemin jahat amat!!! dalam hukum islam, suami tidak boleh bahkan haram membentak istrinya sendiri!!! *gw langsung jd ustajah begini*

    1. Gak jahat… cuma kalap🙂
      Oh iyaaa aku pernah denger tuh, temenku bilang katanya di Islam itu gak boleh. Apalagi kalau bilang cera. Ya kan?🙂

      MAKASIH BANYAK KOMENNYAAAAAA *kecupkecup*

    1. Ching? Hahahha kiran aku aa ternyata singkatan dari chingu ekekek~
      Key? Hahahha jangan dooonngg aku juga masih mau sama Key
      *Taemin (glare) : masuk ke rumah sekarang deh, gak ada main-main ke luar!* *Aku: Yaaahh ayaangg, mau ketemu taemin ._.* #gila
      hahaha

      MAKASIH BANYAK KOMENNYAAAAAA~ *ciumcium*

  8. Ouuuwwww… TBC?? Errgghh~~

    Okeeee,, Seriusss Taem bener2 different bangeet!
    Tapi aku sukaaa! sangatsangatsangat dewasa u,u

    Ya Tuhan, kenapa aku jadi kurang suka sama Key disini ya?
    huhuhu *CRIES*

    DAEBAAAK laah ahh… penyusunannya kata2nya rapiii bangeet! saya suka!
    Jadi gasabar sama the last part nya hoho ^o^
    Pasti semuanya terjawab deh..
    AYO AYI EON FIGHTING!

    1. Sabar buuu sabaaarrr hehehe

      Syukurlaaaahh.. udah bisa kebayangkan sekarang? Ekekeke
      Iyaaa aku juga sukaaaaa kekeke

      Jangan!!! Key tidak salah.. jangan sampai image Key jelek di matamu, seriusan!

      Masa? Ini masih kurang rapih. Kritik dikit napaaaaa~
      Hehehe jangan lupa baca yaaaa😀
      Ne.. FIGHTING!

      MAKASIH BANYAK KOMENNYAAA~😀 *kecupkecup*

  9. Daebakk bner dah ni ff,,

    itu itu key nya ahhhh,,bner bner dehh,,

    taem ngeri amat marahnya,,tpi seru bget,,daebak banget smpe ga tau mo ngmong apaan,,

    next part cpetan yah thor..ditunggu bangettt

    ^o^

    1. Beluuumm ff ini belum daebak😀

      Kenapaaa??? Key gak salah.. serius deeehhh *Taemin: ngebelain Key pula ni bocah!!!*

      Okeeee😀
      Tgl 18 yaaaa ^^

      MAKASIH BANYAK KOMENNYA *kecupkecup*

  10. AKU DATANG!!! JENG JEREJENG JEREEEENNGGG (?)
    Hahahha.. bentar ya aku balesin komennya satu-satu niihhh😀

    1. Kekekeke iya masih ada aku juga kok Taem kekek~
      Iya.. next part langsung anti-klimaks yaaa😀

      MAKASIH BANYAK KOMENNYAAA ^O^

  11. konflikny alami bgt ..
    kalo dlihat sih .. ivy kras kepla n kurang bisa pham gmn sakitny jdi taemin ..
    daebak .. sukses bwt part 3ny ..

    end part brpa chingu ?

    1. Iya.. habisnya ff nya juga alami di tulis dari kisah nyata sih ekeke~
      Ehem! Lumayan tuh, emang rada keras kepala. Tapi Taeminnya juga lumayan susah berkepala dingin jadi makin susah deh😀
      Amiiinnn~

      Itu di atas ada tlisannya😀 Trilogy.. berarti 3 part kekeke~
      MAKASIH BANYAK KOMENNYAAAA~ ^O^

  12. my.parents.should.read.this.fiction.
    kadang suka kesel sendiri liat bokap nyokap yg suka brantem gajelas u,u mungkin msalahnya mrip mrip ma fiksi ini..
    hufth #IGNOREIT

    Wow! oke! ini keren bangeeet!!!
    speechless. bahasanya alus, rapi lg penulisannya.
    weheh..
    oke aku jd bingung mu komen apa lg u,u
    two thumbs up for the author b^.^d

    1. No, i think they shouldn’t. This ff won’t fit in them🙂
      Kalau kesel berarti kamu harus melakukan sesuatu. It’s a shame. Jadi buat mereka sadar kalau berkelahi di depan anak sangat memalukan ^^
      Mungkin kamu dan orangtuamu juga kurang komunikasi? idk hehee

      Makasih banyaaaakkk
      Tapi ini masih banyak kurangnya kok ^^
      Makasih jempolnyaaa dan makasih udah komeeennnn😀 *kecupkecup*

  13. Huaa…keren FF’a..ampe nangis baca’a..
    Dri kisah nyata?? jdi inget ma kluarga nii.. T^T
    lanjutan’a ngebut iia.. ^^

  14. sumpah salut banget ma kata2 minho yang di club. prok prok prok *standingapplause*
    gak bisa bayangin taemin marah kayak gitu yang muncul malah bayangan dia dengan senyum polosnya. wkwkwk
    key sih ngomongnya gak liat sikon jadi marahkan taeminnya.. jangan sampe mereka cerai ingat kata minho “Kalau pun hubungan kami sudah di persimpangan, kami juga berjanji untuk tetap bertahan bersama demi anak-anak kami. Hingga mereka mengerti keadaannya, dan seiring dengan waktu batu yang keras juga akan terkikis bila terus terkena deburan air.”
    next part eps terakhir ya *ceile episode*?
    gak sabar >.<

    1. Hohoho aku juga salut ekekek~
      Masih gak bisa bayangin ya? Heeemm berarti masih kurang nih feel nya *koreksi ulang* ekeke
      Iya, habiskan Key kira si Taeminnya belum dateng
      Iyaaaa semoga mereka bisa mempertimbangkan kalimat Minho ya😀

      Ho-oh muah2an akhirnya memuaskan😀
      Makasih banyak sudah koomeeeennnn *kecupkecup*

  15. taemin y biasany dgmbrkn imut,jd bnar2 brbda d ff ni..
    Joaheyo..
    Hanya bbra dialog,krna jd stu dlm paragrf y pjng,jd bkin ngulng bcany..hehe

    1. Suka? Syukurlaaaahhhh😀
      Eh? Gimana? Jadiii beberapa dialog panjang yan keabung di satu paragraf bikin pusing? Kamu kali bacanya kecepetan? *gk mau di salahin* hahahha
      Makasih banget loh udah mau komen😀 *kecupkecup*

  16. ivy y bakal pergi, berarti mereka bakal pisah *andwee* gmn ama anak y. . .
    Perasaan dari part awal sampe sini berantem n bikin tegang mulu, aku serem jadi y ngebayangin taemin ampe marah y segitu y. . .
    Key ngomong y ngak tepat nih, kehidupan rumah tangga emang rumit. . . . .rti mereka bakal pisah *andwee* gmn ama anak y. . .
    Perasaan dari part awal sampe sini berantem n bikin tegang mulu, aku serem jadi y ngebayangin taemin ampe marah y segitu y. . .
    Key ngomong y ngak tepat nih, kehidupan rumah tangga emang rumit. . . . .

    T

    1. Semoga Ivy gak jadi pergiiii…
      Heheheh habis emang sengaja ambill tema itu😀
      Hahahah.. maklum, saking cintanya jadi itu deh ekekeke

      Makasih banyak ya udah komeeeennnn😀

  17. Wahh… Taemin jangan marah-marah terus dong..!!! Ga baik nanti cepet tua lho.. ^^V
    Disini emosi Taemin bener-bener wahhh..!!
    Ga kebayang Taemin kalau udah marah2 gitu..
    Yeee..ada Onew..!! walaupun cuma selewat… kekeke
    Tuh kan Keynya masih suka sama Ivy..hmm, jadi serba salah..

    Mian ya author Ayi, FF ini selalu klimaks di bagian akhirnya,, dan itu kereeenn sekali.hiks
    Tapi pas bagian awal2nya agak bertele-tele..mian sekali lagi.. =D

    Ayo next partnya..! jangan lama2 ya..

    1. Iya niiihh Taeminnya maaaahhh jahat ! Hohohoho
      Oh ya?
      Hahhaha aku sendiri juga gak bisa ngebayangin tuh
      Padahal tadinya mau aku banyakin tapiii bingung ._.a

      Iya kah? Heeemm oke oke nanti aku koreksi😀

      Makasih banyak komennyaaaa *kecupkecup*

  18. kkya~Ivy gg boleh pergi…>.<,,
    taem lum dengerin ivy langsung marah2,..kan kasian ivy.a.. ._.
    si minho kata2.a dewasa banget..^^..yeobo~kau mmg hebat!#plak
    lanjjooott..!!haha

    1. Iyaaaaa Ivy ak boleh pergiiiii!
      Maklumin aja, orang kalau kalap emang gitu😦
      Hahahha ~
      Okeee!!!
      Makasih komennya yaaaaaaa!😀

  19. AKU DATAAAANNGGG ohohoho
    Maaf ya eon aku baru sempet baca sekarang ._.a
    Tapi aku bingung masa harus komen apaan ohohoh~

    Yaaaahh yang pasti bagus laaahh hahaha
    *Ayi eon : iyalah bagus, orang lo ikutan nulis =,=*
    Aku mau langsug trbang e ff lain aaaaahhh~

    Dadah Ayi eooonn😀

    1. Lah? Justru aku pikir kamu gak bakalan baca hahahha~
      Kamu kan jahat.. weeeee *merong*
      Iyalaaaahh kamu udah baca duluan! Huuuu~

      Tapi setidanya komenmu menambah angkanya hohohoho~
      Makasih ZIka mcuaaahhh

  20. YAAAAAA!!!!! Ige mwoyaaaaaa
    Taemin!!!!!!! Aissss apa2an sih taemin!!!
    Njirrrrrr kata2nya itu nusuk bangettt
    Nyeseeeek nyesnyesnyes
    Kok key…..omoooo:o:o
    Key masih suka sama ivy? Emang mereka pernah pacaran?
    Aigoooooooooooo taemin kenapa ngomongnya jadi gitu sih ha!!!
    Lanjuuuuuuut part 3, aihhh penasaraaaan

    1. Kyaaa maaf ya baru bales ;__;
      Wuiisss menusuk? Serem lah kayak pisau hahaha~
      Iya.. dulu itu Ivy pernah pacaran sama Key, pernah juga pacaran sama Kwangmin
      ^^ makanya Taemin gak suka liat Ivy deket2 Key😀
      Jangan maraaahhhh ^^
      maklumin aja Taemin lagi hilaf hohoho
      Itu tuh, part 3 nya udah keluar ekekek~
      Makasih banyak atas komennya yaaaaaa😀

  21. Aishhhhhh
    Taemin jahattt
    Susah banget buat dengerin penjelasan ivy
    Untung ga ada silver
    Harusnya dia itu benerbener dengerin katakatanya minhoo
    Minho tuh udah kasih pandangan banget buat taemin
    Kalo jangan cepet ambil keputusan
    Dia sampe kasar kaya gitu
    Takutttt

    1. Enggaaaakkk~
      Taemin gak bermaksud jahaaatt
      serius deh, dia cuma terlalu emosi. Itu aja🙂
      Iya, untungnya Silver lagi asik sama Jinki kekeke~
      Maunya sih si Taemin bener2 denger kata Minho. Tapi emosi bikin kalap
      Makasih banyak ya atas komennyaaaa ^O^

  22. asdfghjkl
    Makin panas aja konfliknya…
    Aduh kenapa sih harus ketauan pas di taman belakang. Langsung ditonjok kan ngeri banget ;_;
    Lanjut ya eonnn *sok kenal* jangan lama-lama okayyyy

    1. Iya, maklum yaaa~
      Hidup makin berat sih (?)
      Habisnya siihh si Ivy nyuruh Taemin nanti kalau udah sampai langsung ke taman belakang. Jadi gak pake ngabarin dulu deh ;_;
      Itu itu sudah keluar part 3 nya hoohoho
      Baca ya Nataem😀
      Makasih banyak komennyaaaa ^o^ *kecupkecup*

    1. Iya, seiring dengan kehidupan yang terus berjalan (?) hahaha
      Yaaa begitu lah. Namanya udah cinta, kalau kalap makin serem :p
      kekeke~

      Oke!
      Makasih banyak ya atas komennyaaa ^^ *kecupkecup*

  23. gemes sendiri deh bacanya. terbuka, 1 kata yg sulit untuk dipraktikkan.
    karena kadang kita sendiri tidak tahu kapan kita harus terbuka, kapan harus menyimpan itu sendiri.
    thor, walopun ending dari ff ini udah ada, selama aku belum buka part 3, aku masih ngarep happy ending ;((

  24. Astagastastagaa
    Sumpah ngeri banget taemin ngamuknyaaa x_x
    Masih aja ya mereka sama sama panas
    Tp key nya juga sih nambah pelik masalah
    Hmhm
    Gatau ah mau ngomong apa lagi. Ini terlalu amat sangat daebak eon kkk
    Terbang ke part 3~~

  25. Adu comen awalku blum masuk deh sepertinya.
    Deg-degan banget author.
    TaeMin jadi ngeri kalau dibayanginnya. Manly sih manly tapi ngeri aja.
    Keren banget author, feelnya itu lho

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s