What the Eyes Say

Hai.. Hai.. Aku kembali. Ada yang rindu padaku tidak?

*reader: TIDAKKK!!!*

Oh ya sudah deh, walau gitu aku akan tetap menghibur keluargaku disini dengan FF ^^

Eum.. Langsung aja di baca deh. Kajja!! ^^

Author             : Ji I-el

Main Cast        : RI (Everyone can be the cast and pick the SHINee member for yourself)

Length             : Vignette

Genre               : Fluff (?)

Rating              : Teen J

Summary       : Pernah mendengar kata ‘ikatan batin’, kan? Apa kalian percaya? Aku percaya… sangat percaya. Hanya dengan menatap matanya, aku tahu apa yang dikatakannya. Hanya dengan menatap matanya, aku tahu keputusan apa yang akan kuambil setelahnya.

***I-el

 

Ini kisahku, semua tentangku…

Senja ini aku duduk menerima terpaan sinar redup mentari. Menunggunya sambil ditiup angin sore merupakan satu dari sekian banyak kegiatan yang dua tahun ini menjadi rutinitasku. Aku duduk dibangku dengan kedua lutut yang bertemu rapat dan kedua tangan yang menahan kakiku agar tidak gemetar.

Kemudian sayup-sayup ke dengar suara derapan kaki yang bergesekan dengan rumput-rumput rendah yang mencuat di permukaan tanah. Pemilik langkah itu meremas bahuku. Aku menoleh dan melesungkan senyum rapuh padanya. Dia pasti mengerti bahwa saat ini aku sedang tidak ingin tersenyum karena sinar mataku pasti berbicara untuknya.

Dia mengambil tempat disampingku. Ia menarik napas dan menghembuskannya dengan nada berat, pertanda dia mengerti bahwa aku, kekasihnya, sedang membawa kabar tak baik.

Dia menoleh kearahku, menarik tanganku, dan menggenggamnya, “ada apa?” begitulah pertanyaan yang ku tangkap darti isyarat tangannya yang meremas tanganku.

Aku pun menggeleng lemah, “tidak apa-apa.” kataku berpura-pura.

Sekali lagi dia meremas tanganku, “katakanlah! Ucapkanlah semua hal yang kau pikirkan. Apapun itu, aku akan coba memahaminya.” Aku tetap menggeleng lemah, tapi katanya lagi, “katakanlah! Jangan buat aku takut dengan kediamanmu itu.”

Aku menjauhkan tangannya dari tanganku. Aku menatap lurus ke depan, dimana hanya ada hamparan rumput yang kosong. Aku menarik napas dan menghembuskannya dengan gusar.

Dia menggenggam bahuku, “apa ini tentang sesuatu yang selama ini kau takutkan itu? Hal yang dulu juga pernah kau ceritakan padaku?”

Aku pun mengangguk lemah, membuang napas gusar sekali lagi, dan menatapnya, “apa yang akan kau lakukan jika esok aku benar-benar akan disandingkan dengan orang lain?”

Aku lihat air mukanya berubah lesu, pucat pasi. Tubuhnya mengendur bagai kehilangan tulang belakang secara tiba-tiba, “aku… Hhh.. apa harus aku jawab?”

Dan segera aku pasang wajah tegas, “iya.”

Dia kembali memperbaiki posisi duduknya dengan bersender pada punggung kursi, “apa yang bisa aku lakukan selain melepasmu?” apa-apaan ini? Dia mengisyaratkan jawaban yang tidak pernah aku inginkan sama sekali. Aku menghempas tangannya dari bahuku yang sejak tadi kudiamkan saja berada disana untuk menghangatkanku. Aku pun bergeser, menjauh darinya.

Tak mau kalah, dia kembali duduk mendekat padaku. Kali ini dia meraih kedua tanganku, “kalau itu membuatmu merasa tenang dan nyaman, sesakit apapun itu maka akan kulakukan untukmu.”

Aku menepis kedua tangannya, “bahkan jika aku tidak bahagia dengannya? Bahkan jikalau kebahagiaanku itu hanya ada padamu? Bersama denganmu?”

Dia kembali meraih kedua tanganku. Kali ini aku diamkan seperti ini saja, “Ya. Bahkan jikalau keadaannya demikian sekalipun.”

Aku menangis seketika. Aku mengeluarkan segenggam asa yang telah luruh, tak sejalan dengan kenyataan yang kuhadapi sekarang, “kenapa dirimu menjadi seperti ini? Setahuku, seorang namja akan mempertahankan yeojanya. Bagaimanapun caranya dan sebesar apapun pengorbanannya. Lalu kenapa kau hanya diam saja?” mataku ikut terbelalak marah.

Dia menjauhkan pandangannya dariku. Dia menghindari tatapanku, “karena aku bukanlah namja yang seperti itu. Ya, beginilah aku. Selain cintaku, tak ada hal lain yang bisa kau tuntut dari padaku. Aku bahkan tidak memiliki keberanian untuk mencoba menghalangi jalan kehidupanmu.” Kemudian dia menatapku lagi dengan dalam, “sekalipun keinginanku untuk tetap bersamamu sangat besar. Your have your own, baby.”

Aku meraih tas hitam kecil yang kuletakan disanpingku, merapikannya, dan baru saja hendak berdiri meninggalkannya, tapi sesaat sebelum itu, aku sempatkan duduk menghadap kearahnya, menatap matanya dalam sekali lagi, “aku akan menunggu selama apapun waktu yang kau butuhkan untuk mengumpulkan keberanian. Dan selama itulah aku akan bertahan dengan keadaan seperti ini.”

Kemudian aku pergi, meninggalkannya duduk sendiri di kursi itu bersama dengan sinar mentari yag telah kembali ke tahtanya. Sekejap kemudian muncul pula rembulanpenjaga malam dan sekejap itu pula aku tahu langkah apa yang harus kutempuh esok nanti.

*          I-el       *          I-el       *

Aku bercermin. Gaunku telah terbalut sempurna ke tubuhku. Sisa kain dibawah kakiku juga telah menjuntai gemulai yang akan memperindah lekuk kakiku nanti saat berjalan ke altar.

Aku lihat rambutku, telah tertata rapi dengan lengkung-lengkung manis yang tersembunyi dibalik cadar yang tersibak di belakang.

Aku tatap wajahku yang merona dengan riasan yang cantik, bahkan tanpa cacat setitik pun. Bedak, blush on, eyeshadow, semua tersapu dengan indah di atas wajahku. Tapi kemudian aku mentap sekali lagi wajahku. Ada satu hal yang tidak bisa tersapu seutuhnya dengan riasan make up yaitu: ketidakbahagiaanku. Semuanya terpaksa, tanpa kesepakatan dari hatiku, bahkan tak ada cinta dariku untuk pria di luar sana yang sedang menungguku.

haruskah aku menjalani semuanya?” kata diriku yagn ada di balik cermin.

Siapa yang tidak ingin berlari saat keadaannya seperti ini? Aku ingin berlari. Siapa yang tidak ingin menangis, meraung-raung, dan menghancurkan keberadaan hari ini? Aku ingin menangis, meraung-raung, dan juga menghancurkan hari ini. Tapi, aku tidak bisa. Apalah dayaku untuk melakukannya? Aku hanya wanita yang kekuatannya bergantung pada dia, satu-satunya hal terindah yang aku cintai.

Seorang wanita muda memberikan bucket bunga kepadaku dan memintaku segera berjalan perlahan ke depan pintu, gerbang menuju kehidupan yang baru. Kehidupan yang akan kujalani berdua dengan orang lain. Bukan dia.

Appa yang mulai renta lah yang akan mendampingiku sampai ke altar. Dengan tangan kanan yang kulingkarkan ditangan appa dan tangan kiri yang memegang bucket bunga, aku melangkah ragu di atas karpet merah yang terbentang panjang.

Mataku sibuk mencari sosoknya karena kupikir mungkin hari inilah terakhir kali aku dapat membicara dengannya. Berbicara dengan pikiran. Sesaat kemudian, aku menemukannya. Dia duduk di pinggir, di kursi yang letaknya agak di tengah. Dia sempat menyentuh lenganku sesaat tadi dan sesampainya aku di altar, hanya wajahnya yang aku lihat. Tak mempedulikan sosok namja yang berdiri berhadapan denganku ini

Aku menangkap bahwa dia membalas tatapanku, “aku tahu kau tidak bahagia. Benar, kan?”

Aku tersenyum simpul kearahnya, “kau benar. Batinku meronta. Aku tersenyum dengan hati menangis.”

Dia sedikit mengubah posisi duduknya, “terima kasih telah menungguku sampai hari ini.”

Tanganku digenggam oleh orang asing di hadapanku ini. Tapi, aku tidak peduli, arah tatapanku tetap kepada dia, “sekarang apa?”

Dia pun tetap memandangku, kali ini lebih dalam dari sebelumnya, “ikutlah denganku, maka kau akan bahagia selamanya.”

Aku lihat dia mengambil ancang-ancang untuk berdiri, sementara namja di depanku ini telah meraih tangan kananku, siap melingkarkan cincin di jemari manisku. Tapi, dengan tegas aku dorong tubuh namja di depanku, menarik gaunku ke atas lututku agar mudah berlari.

Disana, dia telah menungguku. Siap menggenggam tanganku dan berlari bersama. Semua orang yang panik berusaha menangkap kami, tapi orang-orang yang duduk disetiap pinggiran kursi berusaha menghalangi. Aku tatap matanya dan mencari jawaban atas pertanyaanku, “kau sudah menyiapkan ini semua?”

Lalu dari tatapannya kearahku, aku menemukan jawaban, “ya. Karena sekarang semua keinginanku telah mengalahkan ketidakberaniaanku.”

Saat sampai di depan pintu besar ruang pernikahan itu, aku menoleh kepada appa yang tampak tenang di atas altar sejak tadi. Wajahnya yang tenang itu menunjukan bahwa tak ada yang ia khawatirkan, meski dengan kejadian ini, “appa, mianhamnida. Sejak dulu orang inilah yang aku pilih.”

Appa mengangguk perlahan dengan wajah yang tetap tenang sambil tersenyum, “appa lebih senang melihatmu bahagia bersama pilihanmu. Pergilah! Bahagia lah dengannya. Jalanilah bahtera kehidupan bersama dengan cinta yang memang berada di sana.”

Aku menitikan air mata. Appa ternyata mendukung. Aku lihat eomma menghampiri appa dan merangkul appa sambil memandangku berlari keluar. Aku tatap mereka berdua, “gamsahapnida appa, eomma. Aku berjanji aku akan bahagia.”

Sesampainya di luar, sebuah mobil telah menunggu tepat di depan gedung. Dia membuka pintunya dan membantuku untuk masuk ke mobil itu. Kemudian, dia berlari ke sisi sebaliknya, masuk, menyalakan mesin mobil, dan kami pun melaju.

Aku menoleh kearahnya. Menggenggam tangannya yang memegang stir mobil, “kau tahu? Aku sangat bahagia sekarang. Terima kasih telah memberikan kebahagiaan ini padaku.”

Tiba-tiba dia menghentikan laju mobilnya, meraih kedua tanganku, menggenggam tanganku erat seakan takut kehilangan, menatapku sungguh dalam, “saranghae.” Katanya dengan ucapan lembut bibirnya sambil melingkarkan sebuah cincin di jari manis kananku.

Spontan aku mengaitkan tanganku di lehernya, memeluknya, dan menangis di pundaknya. Tak lama dia merenggangkan pelukanku, menangkap wajahku, mengedarkan pandangannya ke seluruh wajahku, mendekatkan wajahnya kearahku. Dia mengecup keningku, seperti yang bisaa dilakukannya untuk menenangkanku saat aku menangis.

Dan tanpa ragu lagi aku pun berkata, “na ddo saranghae.” Dengan air mata yang semakin deras, turun membasahi pipi. Lebih baik menangis sekarang, jadi kita bisa ingat bahwa esok kita harus tersenyum, dibandingkan sekarang kita tersenyum, tapi sedetik kemudian kita baru menyadari bahwa hati kita menahan tangis yang dalam.

Percayalah dengan apa yang kita lihat dan rasakan. Karena kebenaran sesungguhnya bukan berasal dari apa yang kita dengar dari perkataan lidah, tapi dari apa yang kita lihat dan rasakan, diteruskan dengan kata-kata yang terdengar sebagai suatu penegasan.

 

I-el*** The End

 

Yeii.. Yeii.. Yeii… selesai sudah. Hehhh… mianhae kalau FFnya begini saja. Yah.. habisnya aku baru selesai semua ujian”. Ehehehe….

Eum… tapi tenang aja, ini baru permulaan kok. Eum… anggap aja kayak pemanasan deh. Ngomong” bener gak ya genrenya? Ehehe… tapi untuk ukuran fluff aku pikir ini belum terlalu manis. Hhh… ya sudahlah.

Oh ya, sudah ada yang pernah baca Half Married? Kabar nih buat yang udah baca sebelumnya, akan ada after storynya loh. Ditunggu ya!! ^^

Senang tidak?? J

Baiklah.. sebagai reader yang budiman, harap comment karena comment like oxygen dan cara kalian berkomunikasi dengan authornya ^^

Sincerely,

Author: Ji I-el

©2011 SF3SI, Ji I-El.

This post/FF has written by Iza, and has claim by her signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^


Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

46 thoughts on “What the Eyes Say

  1. Yahhh pendek
    Padahal seru bgtt
    Apalagi pas kabur
    Serasa dunia milik berdua *ganyambung*
    Dan yang bikin shock
    Appa sama eommanya ngedukungg
    Walopun awalnya nyesek
    Yang jelas happy ending

    1. Heum… nanti kalau aku buat sad ending, pada nangis” bombay readernya. Ahaha…😀
      Thanks ya buat commentnya
      Ikutin terus FFku ya (commercial break)
      Huwehehehehe…

    1. Hwattt??? Bayangin Jonghyun? Kamu mau kawin lari sama dia ya? hayo ngaku ^^
      AHAHAHAHA.. Terserah sih mau bayangin namjanya siapa yg penting tokoh ‘Aku’nya ya km sendiri n_n
      Thanks buat commentnya ya

    1. Iya ya berani bgt. ahahaha… aku jg gak tau kok bisa”nya ya aku bikin cerita begini. Heum… tp kok kayaknya endingnya maksa bgt ya?
      Thanks for ur comment ^^

  2. aku ingat aku ingat!! Jiel onni. ini mamot.
    kk~~
    okei aku suka half married. bagus sekali ada afterstorynya. waiting..

    kata-katanya bagusssss… aku suka. akhirnya onni balik buat ff lagi yaaa… hm^^ miss ya.

    1. Oh ya ya. aku jg ingat km kok ^^
      Km kan ngikutin HM n_n
      Iya aku bikin afstornya, habisnya kalo dipikir” lg hampir semua comment di part trakhir itu pada minta afstor semua. Tp msh dlm proses sih
      Iya akhirnya aku kembali setelah semua urusan sklh selesai. Eum… sebenarnya ga sepenuhnya selesai semua jg sih
      Thanks ya buat commentnya

  3. Weeeewww~
    Malah kabur huahahahha…
    Bagusbagusss,

    Half Married? Uuuu… Aku suka ff itu!
    Sip aku tunggu after storynya =)

    Betewe aku manggilnya apa ni??
    Jiel eonnie?? (96-liners) hehhe

    1. Iya kok malah kabur ya? Habisnya apalagi yg dilakukan pasangan yg saling mencintai tp dihalangi?
      Ahahaha….

      Suka HM? AIGOOOOOO……
      Ma’achi ^^

      Panggil EL eonni aja kalau kamu lahir thn 94 kebawah
      Thanks buat commentnya

  4. yup, ffnya keren banget… di tunggu ff berikutnya ya oen *ikut ah manggil oenni soalnya aku 94, sok kenal amat sih…
    hehehe, salam kenal…
    ngebayangin ini sama key, ku kira gak bakal bersatu, eh, ternyata… daebak oen…

    1. Eh? Jajangmyun? hehehe… itu nama makanan bukan sih? ahahaha…😀
      FFku keren bgt ya? apanya yg keren? diksinya? alurnya? atau apanya? ^^
      Yah.. apapun itu thanks bgt buat commentnya ya.
      Eum… maksudku ’94 kebawah itu bukan dr ’94 trus ke bawah tp dibawah ’94
      soalnya aku jg lahir tahun ’94🙂

      Annyeong ^^

  5. huwa.. aku bener2 bayangin aku ma onyu di ff ni
    so sweet!!
    jadi aku ma onyu cuma tatap2an ni ngbrolnya?? gapapa lah
    onyu, tatap mata saya
    haha

    1. Knp sama oppa ayam itu? mending sama Minho *mamerin bias sendiri*
      Yah terserah deh mau sma siapa, itu hak anda. ehehehe….
      Heum… ya begitulah cuma tatap”an, tp akhirnya saat bilang ‘saranghaeyo’ itu kalian ngobrol beneran ^^
      Ahahaha…

      Thanks for ur comment

    1. Ahhhh… sama kunci. ehehehe…
      Heum… bukan ini yg akan ada lanjutannya, sayang. tp FFku yg sebelumnya itu loh TT.TT
      Thanks buat commentnya🙂

    1. Onew lagi -_-
      ahahaha… Onew oppa, fansmu banyak sekali comment di FFku. mau liat ga?
      *Onew: mana? mana? (sambil megang ayam)*

      Thanks ya commentnya ^^

  6. Ishh…mv komennya yg td pendek..*nyengir
    aduh ini ko bgus bgt yaa?? Biarpun simpel ceritanya tp manis..
    Aq ngebayangin cast.nya taemin ma onew oppa #padahal bias aq key *dijewer keyppa*
    two thumbs up deh, aq smpe berkaca.kaca loh *gadaygnanya–,

    1. Syukurlahhhhhh…. ternyata kisahnya manis. aku pikir aku akan salah pilih genre. ehehehe…
      Loh? kok ngebayanginnya 2? gmn bayanginnya atuh? gak repot atuhh?? ^_^
      Heum… berkaca kaca? ya ampuuunnn… berarti aku sukses membuat reader terbawa sama ceritanya🙂
      Thanks for ur comment ^^

  7. Gak kebayang kalo minho:’):’)
    Oooooh author yang bikin half married ya?
    Pantesan penulisan “l-el***” kayak udah pernah baca di ff apaaa gitu
    Wooooah ada after storynya half married?
    Asikkkkk
    Half married(y)(y)
    Gomawooooo itu nasihat atau apapun itu….🙂

    1. Ye yei yeiii… ada juga yg ngebayangin Minho ^^
      Heum… iya aku author Half Married. ga percaya ya? ^^
      Iya ada afstornya, habisnya comment di part terakhir pd mengharapkan itu toh? ^_^
      Senang tak?
      Semoga senang ya?
      Oh yang bagian terkhirnya itu? Heum… itu cuma kumpulan kata” tak berarti yg dirangkai jadi berarti ^^
      Thanks buat commentnya ^^

  8. Aduhhh.. Itu kok pd salah ngira ya? Eum.. After story yg El mksd itu untuk FFku yg dulu (jaman bahela) itu yg judulnya Half Married. Jd kalo pd blm baca, diharapkan baca HM dulu sblm baca Afstor yg msh coming soon itu ^^. Mdh”an ga ada yg salah lg ya n_n

  9. AAAAAAARRRRGGGGGHHHHHHHHHHH TUH KAN AKU KETINGGALAN KOMEN LAGI!!!!!! *rusuhrusuh*
    Akh, Half Married??? Yeeeeeeeeeeeeeeeeey!!! Aku suka cerita itu eon!!!! XDDDD Ayo ayo… ditunggu after storynya!!!!!! XDDDD

    1. Ahahaha…. saeng, jgn stress gitu knp? ^_^
      Heum.. iya Half Married, masih inget kan?
      ehehehe….
      ok. ditunggu ya
      masih dlm proses penyelesain part 3, klo udh 4 part aku ketik baru deh aku berani publish

      thanks commentnya ^^

    1. Ahhh… lgi” ada flames. ehehhe… kita samaan ternyata ^^
      Heum… oh ya aku jg inget kamu, namamu sering bertengger di FF thn jebotku itu🙂
      Well, tunggu ya FFku berikutnya
      Thanks for ur comment ^^

  10. wow~ sweet banget eonie, ngga usah diragukan deh, ff buatan eonie udh pasti daebak!

    afstor HM! cepet ya eonie. u,u

    oh iya, sori baru baca ya eonie. biasalah shalina (sok) sibuk.

    ditunggu ff eonie yang lain. hwaiting!

  11. Pendek trus seru banget.
    Adegan bicara lewat matanya seru banget.
    Serasa terbang, bayangin TaeMin yang menjadi manly.
    Buat lagi FF yang lainnya author.
    Keren baaanget. ><

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s