{CONTEST C} Breathless Day

Breathless Day

Song Title : A-Yo (SHINee)

Author : Shalina Noviarti aka shalina’okkey

Main Cast : Lee Taemin, Lee Min Rin, Lee Ha Rin

Support Cast : Member SHINee, Han Jaejin

Length : Oneshoot

Genre : Romance, Friendship, Comfort

Rating : General

A.N : Saya mengikuti kontes B

“Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi!” Aku duduk berhadapan dengannya. Bapak separuh baya dengan kepala plontos bagian depan, rambutnya mulai memutih, matanya kecewa, mukanya memerah bukan merona tapi marah.

“Aku sudah mengatakan padamu sebelumnya, ujian akhir tahun ini nilaimu harus meningkat!” Lanjut Park seonsaengnim, wali kelasku. Aku hanya menunduk malu lebih ke pasrah.

“Kenapa? Kenapa kau hanya diam saja! Lihat nilaimu! Aku terpaksa tidak mengangkatmu ke tingkat selanjutnya. Terserah kau saja. Pilih tidak naik kelas atau aku deportasi saja! Memalukan!” Kecamnya, tidak berteriak tapi membentak tangannya bergerak kasar melempar lembaran-lembaran kertas berhiaskan coretan tinta pena merah. 20, 30, 35, 0, …!

“Bodoh.” Aku bergumam mengakui , yah, kebodohanku.

“APA? KAU YANG BODOH!” Kali ini dia berteriak membalas ucapanku tadi, salah paham. “Bu_” Aku berusaha menjelaskan tapi tidak bisa dia terlanjur marah. “KELUAR!”

Hanya menghela nafas yang kubisa, tidak, paru-paruku sakit. “Permisi” Jawabku dan bangkit berdiri meniti ubin kantor guru sekolahku. Menunduk pasrah keluar ruangan.

***

Aku keluar sekolah sebelum jam pelajaran berakhir. Ketika aku kembali ke kelas tadi aku tertidur saat jam mata pelajaran Hwang seonsaengnim, bidang studi Sastra Korea.

“Ya! Bocah bodoh! Sudah bodoh masih berani tertidur di jam pelajaranku. Mau jadi apa kau? KELUAR!” Itu kalimat yang dilontarkan Hwang seonsaengnim tadi seraya membanting buku kamus ke atas mejaku, bermaksud mengusirku.

“Bukankah sudah ujian akhir? Tapi, masih ada jam pelajaran, jangan salahkan aku jika tidur dikelas. Seharusnya diliburkan sejak awal saja. Mereka berlebihan sekali.” Gerutuku membela diri sambil menyusuri tepi jalanan kota Daegu yang lumayan padat.

Langkahku berhenti di depan sebuah ruko tua yang menjual makanan tradisional Korea. Pintunya bergemerincing saat aku masuk.

“Anyeonghaseo ahjussi!” Sapaku pada seorang bapak separuh baya yang sedang mengepel lantai.

“Ah! Taemin-ah. Ini belum masuk jam kerjamu kan?” Balasnya sambil melirik jam tangannya setelah tersenyum menyambut kedatanganku.

“Hari ini aku pulang lebih awal, boleh aku mulai bekerja saja, ahjussi?” Tanyaku sedikit berharap, jika dia tidak mengizinkanku maka aku akan pulang dan tidur.

“Kau tidak lelah setelah semalam bekerja lembur?” Dia balik bertanya terdengar khawatir.

“Gwenchana.” Jawabku sambil menggeleng.

“Yasudah, bisa kau lanjutkan pekerjaanku?” Katanya sambil menyodorkan alat pel.

“Nde, ahjussi!”

***

“Taemin-ah! Ya! Lee Taemin!” Panggil sebuah suara saat aku sedang mengelap meja. Saat mendapatkan sang empunya suara aku mendekat.

“Ada yang perlu kubicarakan.” Kata Kang ahjussi, pemilik tempat makan tradisional Korea tempatku bekerja separuh waktu. Dia berjalan menggiringku ke meja yang ada di sudut ruang rumah makan yang sudah mulai sepi.

“Ah nde, gamsahamnida. Ada apa ahjussi?” Tanyaku sambil menerima uluran secangkir kopi darinya.

“Kau lihat tadi sore ada dua orang tamu yang datang menemuiku?” Dia bertanya untuk memulai pembicaraan.

“Nde. Mereka siapa?” Kataku balik bertanya, mataku menatapnya serius.

“Mereka penagih uang sewa ruko.” Jawabnya parau.

“Lalu? Ada apa ahjussi? Apa ada masalah? ” Aku mulai menurunkan suaraku, sedikit terbesit rasa mengganjal.

“Mereka menagih uang sewa yang sudah kutunggak selama tiga bulan.” Katanya lagi.

“Oh.” Aku sedikit mengangguk mencoba mengerti, yang justru membuat perasaan khawatir.

“Kau tahukan, sudah beberapa bulan ini rumah makan sedang sepi. Bahkan kita harus kerja lembur untuk menghabiskan bahan pokok di dapur.” Ujarnya agak bersusah payah.

Aku hanya diam, masih mendengarkannya.

“Aku mohon maaf, dengan sangat. Aku harus memberhentikanmu, aku tidak sanggup membayar upahmu. Dan putriku akan datang dari kampung untuk membantuku, setidaknya aku tidak perlu menggajinya.” Raut wajahnya berubah murung, seperti tidak enak hati. Perasaanku sendiri mulai kalut, tapi aku tetap menjaga emosi.

“Benarkah ahjussi?” Tanyaku meyakinkan pendengaranku, berharap aku salah dengar.

Dia balas menunduk dalam, dan sedikit frustasi.

“Arraseo, aku tidak apa-apa ahjussi. Aku akan cari pekerjaan lain, sebelumnya terimakasih sudah mau memperkerjakanku.” Ujarku berlagak semua akan baik-baik saja, padahal aku tersenyum miris. Bagaimanapun pekerjaan ini sangat kubutuhkan.

“Aku akan menyelesaikan mengelap meja, permisi ahjussi.” Pamitku, untuk mengambil waktu merenungi nasibku selanjutnya.

“Tunggu!” Serunya menghentikan gerak bangkit berdiriku. Tangan kanannya merogoh sesuatu di saku celananya.

“Igeo, anggap saja uang pesangon. Tapi tidak terlalu banyak.” Katanya sambil mengulurkan sebuah amplop yang sudah kusut. Aku menatapnya dan tersenyum tipis.

“Aniyo. Ahjussi mungkin membutuhkannya untuk membeli bahan pokok, atau uang transportasi putri ahjussi.” Tolakku mendorong tangan Kang ahjussi pelan.

“Aku tahu, kau lebih membutuhkannya. Kau bekerja keras, Lee Taemin. Aku berterimakasih, sangat.” Ujarnya balas mengulurkan amplop tadi lagi.

“Ah, baiklah ahjussi. Gamsahamnida.” Kuterima amplop itu dan sedikit membungkuk padanya.

Apalagi ini? Aku bisa berbuat apa?

***

Kulirik jam tanganku, hampir jam dua belas malam. Mungkin semua orang rumah sudah tidur.

Aku membuka pintu rumah kecil kontrakku, seketika aku mendengar suara tangis bayi. Mengapa Jaejin tidak menghentikan tangis mereka? Pikirku.

Kubuka pintu kamar, dan melihat Min Rin dan Ha Rin sedang beradu tangis. Aku berlari ketika menyadari Ha Rin hampir saja terjatuh dari atas tempat tidur dan memperbaiki posisinya.

Aku melihat ke sekeliling, dan tidak menemukan Jaejin. Ah! Mungkin saja dia sedang ke kamar mandi. Kuputuskan untuk keluar kamar dan menuju kamar mandi.

“Jaejin-ah?” Panggilku sambil mengetuk pintu kamar mandi. Dan, tak ada jawaban. Aku kembali ke kamar, dan dua bayi kembar itu masih saja menangis.

“Shut! Diam ya anak manis. Appa akan buatkan kalian susu, kalian lapar ya?” Ucapku sambil mengelus pipi mereka berdua, ada yang aneh dengan suhu tubuh Ha Rin. Dia demam. Segeraku beranjak dari kamar dan menuju dapur kecil, berniat membuat susu.

“Astaga, habis.” Desahku sambil membalikkan kotak susu kosong. “Bagaimana ini? Jaejin kemana sih?” Tanyaku frustasi.

Aku lari keluar rumah hendak membeli susu dan plester demam di apotik terdekat. Untung saja ada uang pesangon.

Sampai di rumah langsung kubuatkan dua botol susu, dan menempelkan plester demam di dahi mungil Ha Rin. Sesudahnya aku tertidur, terlalu lelah.

Pagi harinya aku terbangun oleh suara nyaring tangisan kedua anak kembarku, dan masih tidak mendapati Jaejin. Seketika mataku menangkap sesuatu menempel di cermin.

“Kutunggu jam 8 pagi di cafe dekat rumah.” Begitu isi surat kuning yang menempel di cermin. Kulirik jam, pukul setengah delapan pagi.

Aku membuatkan Min Rin dan Ha Rin susu lagi dan meninggalkan mereka untuk mandi dan pergi ke cafe.

***

Aku tidak tahu ada apa dengan Jaejin, dan apa maksudnya menyuruhku menemuinya di cafe. Buang-buang uang.

Aku kini sudah berhadapan dengannya. Dia tampak lemas namun penampilannya sungguh luar biasa. Aku tidak tahu dia mendapatkan baju, sepatu, dan perhiasan yang sedang iya gunakan darimana.

Dia masih terdiam.

“Ada apa? Kenapa kau ingin aku menemuimu di sini? Kau tahukan, aku tidak mungkin membayar minuman dan makanan di sini.” Tanyaku memulai pembicaraan. Dia mendongak menatapku.

“Aku yang akan bayar, kau tenang saja.” Ucapnya sedikit membentak, cukup membuatku terkejut.

“Aku akan pergi, aku harap kau tidak menghentikanku. Jika suatu saat mereka menanyakan keberadaanku, kau bisa bilang aku sudah mati.” Lugasnya dengan emosi, dan air mata. Lalu berlari pergi setelah sebelumnya meninggalkan beberapa lembar uang.

Aku yang masih belum bisa mencerna seluruh ucapan Jaejin tadi hanya terdiam. Semua kata-katanya hanya berputar-putar di kepalaku tanpa ada yang bisa kumengerti.

“Apa ini?” Gumamku, masih belum percaya dengan kata-kata tajam tadi.

Aku tersadar, dan sudah tidak melihat Jaejin ada di dalam cafe. Ketika kupalingkan wajahku keluar jendela kutangkap sosok Jaejin, merangkul seseorang dan masuk ke dalam sebuah mobil.

Nyalang, pikiranku mati seperti orang bodoh. Aku merasa sangat bodoh, bahkan kakiku tidak bertindak untuk mengejar dan menghentikannya.

Aku sama sekali tidak menyadari posisiku sampai sesuatu cairan bening jatuh ke pangkuanku.

Dia bermaksud pergi dariku selamanya?

Aku hampir bunuh diri dengan apa saja yang baru terjadi. Mulai dari di Drop Out dari sekolah, kehilangan pekerjaan, dan sekarang ditinggal seseorang yang sangat berarti dalam hidupku bersama dua anak bayi diusiaku yang masih sangat muda.

Bagaimana bisa anak laki-laki yang baru akan berusia delapan belas tahun besok, harus menghadapi soal macam ini.

Bagaimana aku bisa menghidupi kedua anakku tanpa kekuatan dari ibu kedua anakku dan tentu saja tanpa pekerjaan. Aku harus berbuat apa?

Lalu apa artinya aku diusir dari rumah orangtuaku?

Aku memilih untuk diusir orangtuaku karena aku ingin hidup dengan Jaejin, seseorang yang sangat aku cintai dan juga sudah memberikanku dua orang anak hasil perbuatanku. Aku hanya ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah kulakukan pada Jaejin setahun yang lalu di suatu malam yang menurutku itu perbuatan yang sangat tidak disengaja. Tapi aku yakin aku sangat mencintainya.

***

“Astaga! Bagaimana ini? Uangku sudah habis.” Gumamku sambil mondar-mandir di dalam rumahku.

“Ya! Taemin-ssi! Aku tahu kau ada di dalam. Cepat keluar! Atau kau akan kuusir secara paksa. Kau sudah berjanji akan membayar uang kontrak tunggakkanmu selama 2 bulan kemarin.” Gedoran pintu serta seruan bapak pemilik kontrakan semakin membuatku panik.

Tidak ada jalan lain, aku harus meninggalkan tempat ini.

Kurapikan semua bajuku dan peralatan bayi. Menaruh Ha Rin dan Min Rin di atas kereta bayi. Dan pundakku menjinjing tas besar.

Aku harus pergi ketika, bapak pemilik kontrakan sudah pergi. Kalau tidak aku tetap akan disuruh bayar.

Ketika kurasa si bapak sudah pergi, aku pun bergegas pergi meninggalkan kontrakkan itu.

Aku terus berjalan menyusuri jalanan siang hari yang sangat ramai, sambil terus mendorong kereta bayi.

Tiba-tiba saja, Ha Rin menangis kencang sekali. Kurasakan tubuhnya kembali panas. Aku membawanya pergi ke rumah sakit berbekal nekat.

Aku menjual jam tanganku untuk biaya pemeriksaan Ha Rin. Hanya demam biasa, setidaknya itulah anggapanku saat ini.

***

Ketahuilah teman, semua itu hanyalah masa laluku. Masa di mana hari-hari kulalui dengan hidung yang terganjal daging tumbuh, menyulitkanku untuk bernafas bahkan tidak bisa. Hari-hari di mana aku selalu merasa putus asa.

Tapi, di sinilah aku sekarang.

“Sebelumnya aku ingin mengucapkan terimakasih kepada Onew appa guru pianoku, Jonghyun appa yang mengajariku bernyanyi, Minho appa yang selalu mengajarkanku bagaimana cara berenang, bermain basket, dan berlari, dan Key eomma ups!” Sesaat ruangan itu penuh dengan gelak tawa.

“Maksudku Key appa, yang mengajariku memasak, mengajakku berbelanja, membuatkanku bekal, mengomeliku saat pulang terlambat.” Lanjutnya dengan sedikit mengedipkan mata kirinya kepada Key hyung yang berada di sampingku dan hanya dibalaskan senyuman oleh hyung satu itu.

“Dan untuk Taemin appa. Appaku yang paling aku cintai, yang mengajarkanku bagaimana menghadapi kehidupan, menerima kenyataan, memanjat tebing yang curam, melewati jembatan setapak di atas lautan berbadai. Appaku yang berusaha mati-matian untuk mempertahankanku demi apapun. Aku tahu dia sudah melalui masa-masa sulit dari cerita-ceritanya.” Air mataku sudah tidak tertahankan lagi.

“Terakhir untuk Lee Ha Rin, saudara kembarku. Sekarang kau bisa tenang, karena aku dan appa sudah melalui semuanya. Pergilah dengan tenang!” Kulihat Min Rin menangis. Aku beranjak berdiri dan menaiki panggung acara perpisahan sekolah dasar putriku, secepat kilat merangkul putriku yang tinggal satu-satunya dan mengusap air matanya.

Kurasakan ada yang memelukku, ternyata para hyungku.

“Kami SHINee, sebuah boyband yang sudah lama bersinar dan akan tetap selalu bersinar ini sangat bangga kepada putri kami Lee Min Rin. Dia tidak pernah mengecewakan kami, dia selalu berprestasi dalam hal apapun. Dan sekarang dia mendapatkan juara umum di sekolahnya, tentu saja membuat kami bertambah bangga.” Jinki hyung mengambil alih mikrofon di tangan Min Rin.

“Sebagai tanda kebahagiaan kami, kami akan membawakan sebuah penampilan untuk kalian semua.” Ucap Jonghyun hyung.

Musik lagu dengan ritme ceriapun di mulai, lagu A-Yo mulai kami nyanyikan.

Kalian bertanya-tanya bagaimana ini semua terjadi?

Flashback

Di tengah kepasrahanku setelah mendapat kabar bahwa Ha Rin putriku memiliki fisik yang sangat lemah dia terlahir kembar dan sangat memungkinkan salahsatu bayi lemah.

Aku bertemu dengan sekelompok pengamen jalanan. Mereka bernyanyi dan bermain musik dengan sangat indah. Tanpa sadar aku sudah ikut bernyanyi dan juga mulai menarikan beberapa gerakan tangan dan kaki.

“Wow! Gerakkanmu hebat sekali.” Ujar salah seorang dari kelompok itu padaku selesai mereka menyanyikan lagunya. Aku hanya tersenyum.

“Ini adikmu? Atau keponakkanmu?” Tanya seorang yang lain sambil menunjuk kereta bayi.

“Mereka anakku.” Jawabku bersemangat.

“MWOO?” Seru mereka semua bersamaan. “Kau masih sangat muda bukan? Tapi, sudah punya anak?” Tanya yang lain lagi.

“Kecelakaan.” Balasku singkat.

“Lalu, di mana ibunya?” Tanya seorang diantara mereka yang paling tinggi.

“Entahlah, dia pergi dengan pria lain.” Jawabku lagi.

“Miris sekali. Lalu di mana kau tinggal?” Pertanyaan itu hanya kujawab dengan gelengan.

“Bagaimana kalau kau ikut dan bergabung dengan kami.”

Flashback End

Saat aku bersama dengan kelompok pengamen waktu itu — yang berisi Jinki hyung pentolan dari kelompok pengamen tadi, Jonghyun hyung, Key hyung, dan Minho hyung—tengah mengamen, seorang pendengar menyukai penampilan kami dan mengajak kami untuk bergabung dengan perusahaannya melakukan rekaman.

Grup kami diberi nama SHINee.

Sebelumnya aku sudah mengatakan perihal masalah aku yang memiliki anak, dan pihak produser pun tidak masalah.

Para hyungku merasa tidak terganggu dengan kehadiran anakku, justru sangat senang.

Putriku Ha Rin meninggal setahun kemudian, karena dia terserang flu dan tidak dapat bertahan karena fisiknya yang sangat lemah.

Karena hal itu aku sempat jatuh sakit selama hampir sebulan. Namun berkat dukungan hyung-hyungku dan sosok Min Rin lah aku kembali bersemangat.

Sejak saat itu aku berjanji akan menjaga Min Rin sekuat tenagaku, bahkan nyawaku.

Masalah Han Jaejin mantan istriku, yah, itulah menurutku. Aku tidak tahu tentangnya, dan sesuai dengan permintaannya, aku mengatakan dia sudah mati kepada putriku.

“Apa yang kau pikirkan? Setiap lirik bagianmu pasti terlewatkan!” Seruan Key hyung menyadariku bahwa kini aku masih berada di atas panggung.

“Mianhae.” Ucapku.

“Sudahlah, lupakan masa lalumu. Hiduplah untuk sekarang dan untuk Min Rin.” Nasehatnya. Aku mengangguk dan tersenyum.

“Thank you, appa. Saranghae.” Ucap Min Rin ditelingaku dan mengecup pipiku cepat.

“NADO SARANGHAE MIN RIN-AH! PUTRI APPA TERCINTA!” Teriakku balas menciumnya.

“Ehem. Mau juga dong dicium!” Tiba-tiba Jonghyun hyung sudah menyodorkan pipinya kepada Min Rin, dan langsung dibalas ciuman oleh Min Rin.

“Ya! Ciumannya hanya untukku!” Protesku.

END

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

30 thoughts on “{CONTEST C} Breathless Day”

  1. Aaaaaaaa sedihh
    Jaejin jahatttt
    Tapi kenapa dipikiranku jaejin ft. Island yah wkwkw
    Mian mian
    Tapi kenapa anaknya meninggal 1
    Taemin ampe sakit huhu
    Mana dipecat, di do, diusir, gadianggep lagi
    Kasiann taemin appa

    1. Mian udah bikin sedih, padahal niat awalnya aku pengen bikin cerita yang happy happy aja. Tapi, emang aku ngga bakat. *bow
      Iya aku juga baru sadar kalo namanya mirip sama Jaejin FTI waktu baca komen, hahaha. Maaf lagi, aku buta nama soalnya.

      Gumawo sudah mau baca dan komen ^^~

  2. aku first nih? gomawo ^^

    yaampun! kok masa lalunya kelam banget sih? padahal masih muda banget!

    kok jadi pengamen sih? kok miris sekali?

    kok anak yang satunya meninggal sih? mengharukan banget T__T

    ini ff sungguh menyedihkaaaaan D’: tapi keren! pengamen jadi SHINee yang setenar sekarang! wow!

    author daebak!!!

      1. Hahaha, aku juga awalnya ngga kepikiran ngejadiin mereka pengamen, buat anak taemin meninggal satu, idenya mengalir gitu aja.

        Iya keduluan satu orang deh, tapi gpp kok 😀

        Makasih ya udah mau baca dan komen :*

  3. ceritanya taemin miris banget sumpah
    udh bela2in diusir sama orang tuanya demi jaejin malah ditinggalin sama jaejin
    terus di DO dari sekolah, di pecat dri tempat kerja, anaknya meninggal malah
    semuda itu punya anak? wow

  4. huwaa keren bgt thor !! aku suka .. miris ngeliat kehidupan taemin ….
    tpi ini akhir yg bahagia …
    jaejin benar2 !! ishh !!
    taemin …
    huwaaaaaa
    jjong noh di omelin taemin kan !!
    bgus bgt ….

  5. huaaaaa nyesek bacanya,,,taem nasibmu??untung happy end…

    pas awal2 kupikir yaoi cz ada jaejin,,,yg ada di kepalaku jaejin fti,,,muahahahhahah

    trus nyampe tengah,,bingung sndiri,,,kok tiba2 bsa jdi shinee…*pabo

    pas akhirr bru dehh paham…

    kerennn critanya,,authornya jago bkin kaget,,dg kjutan tak terduga…hahah apadeh

    1. Wahaha, iya itu aku juga baru sadar ada Jaejin di FTI.
      Waktu itu yang terlintas di kepala cuma nama Jaejin, maaf ya udah buat salah paham.
      Syukur deh kalo bisa paham, waktu buat juga aku takutnya bikin bingung.

      Thanks banget ya~~

  6. Kasian bgt nasib taem, mcih muda dah punya anak, d d0, d pecat, d tinggal istri.. *miris baca’x*

    Vi akhir’x bahagia, tuh jaejin pzti nyesel ninggalin taem..

    Nice ff

    1. Haha iya, waktu nulis aku lagi ngga inget sama nama Jaejin FTI sih. Hehehe

      makasih banyak udh mau baca 🙂

  7. aigo, kasian sekali taemin >.<
    hidupnya penuh lika-liku…
    Jaejin gak setia!! huh!
    uwa~~ taemin hebat banget euy jadi appa nya 🙂

  8. kasian banget yaaah
    kok harus taemin?? HUAAAAAA T.T

    Jhaaat banget si jaejin cowo’ secakep itu ditinggalin
    sini taemin sama aku aja *PLAK digampar taemins*

  9. Wow!! Itu taemin,bocah2 gitu dah punya anak?? Wow!!!
    Bayi yg merawat bayi xD wkwk
    Tp keren,skrg aku tau alasan knpa badan Taem bgtu kurus… Wkwk

  10. yaampun dr kemaren baca ff taemin tragis smua T.T
    gak akan bisa ngebyangin klo taemin yg masih imut-imut itu jdi bapak yg punya anak huaaaaa nice ff thor!!

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s