{CONTEST C} THE ANSWER – PART 1

THE ANSWER – PART 1

Song Title : Hit Me

Author : Sagita

Main Cast : Lee Taemin, Shinee member, Kim Mintae (OC)

Support Cast : Victoria f(x), Luna f(x), and others

Length : Trilogi

Genre : Romance, Friendship, Family, Sad (?).

Rating : General

A.N      : Saya mengikuti kontes A (buat syarat aja sih, hehe)

Nuneul tteujamaja mami aryeowa, Eoje gieogi dagawa, eojjeoji eojjeoji. oh my Sasireun nae jalmoseun aljiman, Jajonsimiraneun motdoen nyeoseoge.

As soon as I open my eyes, I remember, Yesterday’s memories come back to me. What should I do, what should I do? Oh my,  Honestly, I know it’s my fault

Taemin’s POV

Kulihat sesosok gadis tengah duduk menengadah ke langit sambil memeluk kakinya.  Rambut itu, Jaket itu, meksipun hanya dari belakang, tapi aku merasa sangat mengenalnya. Kuputuskan untuk menghampirinya.

“Kenapa? Kenapa dia meninggalkanku”

Kuhentikan langkahku. Suara ini? Tidak salah lagi, ini suaranya. Aku tidak mungkin salah. Dan dia menangis?  Meskipun tubuhnya tetap tenang dan tidak bergetar sedikitpun, aku tau dia menangis. Dan entah kenapa hatiku sakit, sakit mendengar suaranya, sakit mendengar kata-katanya.

Kenapa? Dia meninggalkanku bahkan saat aku mulai menyukainya. Dia bilang akan selalu mencintaiku? Akan selalu menungguku?Akan selalu menjadi sahabatku? Dan bodohnya aku percaya. Seharusnya aku sadar kalau aku tidak pantas untuknya. Aku telah menyakitinya.”

DEG! Dadaku benar-benar sesak, apa kata-kata itu untukku? Apa aku yang dimaksudnya? Kata-katanya membuat semua anggota tubuhku sulit untuk digerakkan. Tapi aku harus memastikannya.

Kupaksa kakiku bergerak agar aku bisa duduk disampingnya. Tapi, tunggu kenapa ini? Aku merasakan angin menerpaku, membawaku menjauh darinya. Aku berteriak memanggil namanya. Tapi suaraku tidak keluar. Semakin lama aku semain menjauh darinya hingga ahirnya semua menjadi gelap.

***

Author’s POV

“Taemin! He Taemin! Yaa!” Onew menggoncang-goncangkan tubuh Taemin. Dia cemas saat mendengar teriakan Taemin.

“TOLOONG!” Taemin membuka matanya, Wajah dan Kaosnya basah oleh keringat.

“Kau mimpi buruk?”

Onew menyerahkan segelas air ke Taemin. Taemin menyerahkan gelas yang telah kosong.

“Hh, entahlah hyung. Yang kuingat ada angin bsar yang menerpa tubuhku dan suaraku tercekat tak peduli seberapa keras mencoba berteriak. Kenapa kau bisa ada disini hyung?”

“Tentu saja karena teriakanmu, sekarang kau sudah tenang kan?”

“Kau bangun karena teriakanku? Tumben sekali, biasanya kau kalau sudah tidur kan tidak bisa mendengar apapun hyung.”

“Hehe, Gomawo hyung.” Taemin langsung nyengir begitu Onew memandangnya dengan tatapan -kurasa lebih baik kalau kau mengucapkan terima kasih-.

Setelah yakin Onew telah kembali tidur di kamarnya, Taemin bangkit dari kasurnya. Membuka laci dan mengambil sebuah foto dengan frame kayu berukirkan huruf “TM”. Di foto itu, terlihat dirinya sedang merangkul seorang gadis dengan jacket putih polos.

***

Taemin’s POV

Aku tersenyum memandang foto yang kini kupegang. Yeah, itu fotoku sesaat setelah menyatakan perasaanku kedua kalinya pada gadis di foto itu. Gadis yang baru saja hadir di mimpiku. Perlahan senyumku berubah menjadi senyum miris.

Kenapa? Dia meninggalkanku bahkan saat aku mulai menyukainya. Dia bilang akan selalu mencintaiku? Akan selalu menungguku?Akan selalu menjadi sahabatku? Dan bodohnya aku percaya. Seharusnya aku sadar kalau aku tidak pantas untuknya. Aku telah menyakitinya.”

Dia mulai menyukaiku saat aku meninggalkannya? Benarkah? Atau itu hanya sekedar rekayasa otakku yang terlalu menginginkannya. Terlalu menginginkannya untuk menyukaiku suatu saat nanti. Terlalu menginginkannya untuk menyesali kepergianku. Terlalu menginginkannya untuk memberikan jawaban yang selalu kunantikan.

Ingatanku menerawang jauh ke masa itu, saat kami masih bersama. Aku masih kelas 2 SMP saat itu, dan entah sejak kapan aku mulai menyukainya. Aku mengumpulkan keberanianku untuk menyatakan perasaanku. Sayang, dia menolakku.

“Maaf Taemin, tapi aku tidak bisa. Aku sudah menganggapmu sebagai sahabat terbaikku. Lagipula tidakkah kau merasa bahwa kita masih cukup kecil? Aku belum ingin pacaran. Sekalipun aku ingin pacaran, aku ingin pacaran dengan laki-laki yang lebih tua dariku. Tidak kekanakan seperti aku, jadi dia bisa menjagaku.”

Hh, bahkan aku hafal kalimat penolakannya. Dan aku menyimpulkan bahwa dimatanya sifatku masih kekanakan. Aku bingung  harus berkata apa saat itu. Sampai akhirnya dia berkata lagi.

“Kau tidak marah kan? Kau masih mau jadi sahabatku kan?”

Dan aku hanya menjawabnya dengan anggukan, dia lalu mengacungkan jari kelingkingnya sambil tersenyum. “Janji?”  Senyum yang sangat manis. Senyum yang tidak akan pernah kulupakan.

Sejak saat itu aku berubah, aku berusaha untuk membuktikan bahwa aku juga bisa bersikap dewasa, aku bisa menjaganya, aku bisa melindunginya, dan aku pantas untuk menjadi pacarnya. Dua bulan kemudian, saat malam pesta ulang tahun salah satu temanku yang diadakan di halaman belakang rumahnya. Aku kembali menyatakan perasaanku. Lebih, tepatnya kembali menanyakan perasaannya terhadapku.

Flashback

“Ah, tidak usah Taemin, Kau sendiri pasti kedinginan.” Dia mencoba mengembalikan jaketku, tapi aku mencegahnya.

“Yaa, Jangan menolak. Berbohong itu dosa tau, tanganmu menggigil. Lagipula sudah sepantasnya aku melindungimu kan?”

Dia menatapku, entah itu hanya perasaanku atau memang sorot matanya mengisyaratkan kalau dia gelisah. Sepertinya, dia tahu arah pembicaraanku.

“Izinkan aku menjagamu, melindungimu. Mungkin sekarang aku belum bisa sepenuhnya menghilangkan sifat kekanak-kanakanku, tapi aku akan berusaha.”

“Taemin, tapi . . tapi . . aku belum . .” Suranya menghilang bersamaan dengan kepalanya yang menunduk. Hh, sepertinya aku ditolak lagi kali ini. ‘Lee Taemin, kau harus semangat. Mungkin memang belum sekarang waktunya.’

“Ah, gwenchana, gwenchana. Aku juga tidak akan memaksamu, aku akan tetap menunggumu sambil terus berusaha memperbaiki diriku.” Kupasang senyum seimut mungkin untuk meyakinkannya bahwa aku tak apa. Aku tidak mau setelah kejadian ini dia menjadi canggung terhadapku.

“Aku berjanji aku akan selalu jadi sahabatmu, sekalipun kau belum bisa menerima perasaanku. Janji untuk tetap jadi sahabat?” Kali ini aku yang mengacungkan jari kelingkingku, dia akhirnya mendongakkan kepala dan menyambut jariku sambil tersenyum.

“Hei, kemana saja kalian? Aku mencarimu tau. Kalian tidak ingin berfoto bersama anak-anak.” Saat kupalingkan wajahku, aku melihat Choi Minho dengan kameranya. Dan itu membuatku ingin berfoto bersama gadis di sebelahku ini.

“Sekarang sudah waktunya foto-foto ya? Ayo Taemin kita kesana.”

“Sebentar, Minho-ya bisakah kau mengambil foto kami berdua? Kau mau kan foto bersamaku?” Aku menatap cemas ke arahnya. Sesaat kemudian dia mengangguk. Dan langsung membentuk huruf V dengan  jari telunjuk dan jari tengahnya sambil tersenyum.

“Aku siap.” Mendengar itu, Minho menyiapkan kameranya. Ragu-ragu kuarahkan tanganku ke pundaknya. Tak ada reaksi yang aneh. Hh, aku sangat lega.

Flashback end

Hampir dua bulan setelah pernyataanku yang kedua, aku kembali meminta jawabannya. Yeah, untuk ketiga kalinya. Saat itu, aku memberikan gelang couple warna putih yang lagi-lagi berukirkan TM.

“Aku sengaja memesan gelang ini, Dan aku akan memberikan satu untukmu. Kau bisa menyimpannya kalau belum bisa menjawab dan memakainya saat kau sidah siap untuk menerimaku. Dan aku akan melakukan hal yang sama dengan gelangku. Atau kau bisa mengembalikannya jika . .Hh, , menolakku. Dan aku akan mengubur kedua gelang ini.”

“Kau tidak perlu menjawabnya sekarang, aku ingin kau memikirkannya dulu.”

Tapi, aku belum sempat mendengar jawabannya hingga sekarang. Aku bahkan meninggalkannya, meninggalkan Korea dan pergi ke Paris.

Dan bisa dibilang aku meninggalkan kenangan yang buruk untuknya. Kenangan buruk yang menghancurkan janjinku dan janjinya. Janji untuk tetap menjadi sahabat. Aku meninggalkannya, atau mungkin juga menyakitinya, seperti yang dia katakan di mimpiku.

Dan sejak saat itu, aku tidak berhubungan lagi dengannya. Dan ini semua salahku.

***

Jakkuman muneojyeo everyday, Nalkaroun mari neoui mameul pago deul ttae, ( Damn) Nunmurui yesterday

Because of this stupid thing called pride, I break down everyday
When my sharp words cut into your heart, ( Damn) Yesterday’s tears

“Jadi Yoona eonni tidak jadi bertunangan dengan Siwon oppa?”

Aku mendongak untuk menyimak apa yang Onew Hyung dan Victoria nuuna bicarakan. Aku, Hyung, dan Vic nuuna –pacar Onew hyung- sedang makan malam sekarang. Seperti biasa,  Umma dan Appa belum pulang, dan Vic nuuna akan datang untuk membantu kami menjaga nenek.

“Siwon hyung bahkan belum sempat melamar Yoona nuuna. Kau tau kan seperti apa Tn. Choi itu? Harga dirinya sangat tinggi. Dan dia tidak mau melihat anaknya mengejar-ngejar gadis yang tidak sekelas dengan mereka. Menurutnya keluarga Yoona nuuna hanya akan memanfaatkan Siwon hyung dan kemudian menginjak-injak harga dirinya.”  Jawab Onew hyung.

“Aish, alasan apa itu? Tak kusangka pikiran Tn. Choi sesempit itu. Seharusnya dia bangga karena anaknya berusaha keras untuk mendapatkan apa yang dia mau, bukan malah malu.”

DEG! Jawaban Victoria nuuna membuat Jantungku seolah berhenti untuk sesaat.

“Hyung, Nuuna, aku sudah selessai. Aku ke atas dulu.”

Aku segera bangkit dari kursiku dan melangkah menuju kamar. Samar-samar kudengar suara Onew hyung yang ingin menyusulku, tapi dicegah oleh Victoria nuuna. Hh, terima kasih nuuna aku memang sedang ingin sendiri.

Kuhempaskan tubuhku ke kasar. Lagi, kenangan 3 tahun lalu berputar di otakku. Ini semua salahku, aku menghancurkan janji kami. Hanya karena alasan konyol, Harga Diri. Sangat konyol.

Flashback

Taemin, Beresakan buku-bukumu, sebentar lagi aku ke kelasmu.

Aku kaget begitu membaca sms dari Onew hyung, tapi aku tetap melakukannya. Entah kenapa, perasaanku mengatakan ada masalah penting. Dan benar saja, tak lama kemudian Onew hyung ke kelasku. Dan mengizinkanku untuk pulang lebih awal.

“Ada apa hyung? Kenapa kau sangat terburu-buru?”

“Keadaan nenek memburuk. Tadi malam beliau jatuh pingsan dan dibawa ke rumah sakit. Dan Umma bilang beliau ingin melihat kita. Jadi siang ini juga kita berangkat ke Paris.”

“Mwo? Nenek masuk rumah sakit? Ja, Jadi Siang ini kita ke Paris?”

“Iya, kalau kau mau berpamitan dengan temanmu. Cepatlah, ada beberapa hal yang harus kuurus di ruang Seongsanim.”

Aish, pikiranku benar-benar kacau. Di satu sisi aku begitu mengkhawatirkan nenek, tapi tak bisa kupingkiri bahwa sangat berat bagiku untuk meninggalkan Korea. Meninggalkannya. Aku bahkan belum mendapatkan jawabannya atas pernyataanku yang kemarin. Pernyataanku yang ketiga kalinya.

Segera kularikan kakiku menuju kelasnya, tapi aku berhenti sesaat di depan kelasku. Aku juga harus berpamitan pada mereka.

“Taemin akan pergi ke Paris? Tapi, bukankah dia kembali menyatakan perasaannya untuk ketiga kalinya kemarin pada anak 2-A. Dan yang aku tahu, gadis itu belum memberikan jawaban kan?”

“Taemin memang ingin dia memikirkan jawabannya. Jadi, dia tidak langsung memberi jawaban kemarin.”

Kuintip ke dalam kelas, yang barusan berbicara adalah Minho dan di depannya ada Junsu. Dan sekarang Hara ikut bergabung.

“Apakah menurutmu Taemin akan menemui gadis itu terlebih dahulu untuk meminta jawabannya.” Tanya Hara.

“Kuras, Taemin sangat mencintainya.” Jawab Minho yakin, kau benar-benar mengenalku, Minho.

“Tidakkah kalian berfikir bahwa Taemin itu bodoh? Dia sudah menyatakannya dua kali, dan dua-duanya ditolak. Tapi, dia tetap mengejarnya.” Hara kembali bertanya, dan pertanyaannya kali ini membuat telingaku panas.

“Menurutku juga begitu Hara, lagipula aku akan malu kalau jadi dia. Dia mati-matian berubah tapi toh pada akhirnya dia juga ditolak kan?”

“Yah, dan seperti yang kukatakan tadi. Dengan bodohnya dia masih mengejarnya.”

“Seharusnya dia sadar kalau dia hanya dipermainkan oleh gadis itu. Bisa saja kan gadis itu beralasan kalau dia lebih suka orang yang bisa menjaganya dengan harapan Taemin akan selalu ada di sampingnya. Apalagi dengan sikap Taemin yang selalu mengejarnya. Gadis itu pasti semakin memanfaatkannya.”

“Lihat saja, setiap habis menolak Taemin dia akan selalu bertindak seolah tak terjadi apa-apa. Tetap bersikap manis pada Taemin. Dan memberikan harapan palsu pada Taemin. Di belakang Taemin, pasti dia tertawa bersama teman-temannya. Aku heran kenapa Taemin bisa tak sadar kalau harga dirinya diinjak-injak seperti itu.”

“Aku setuju denganmu Junsu. Kasihan Taemin, dia terlalu bodoh untuk menyadari bahwa cinta telah membutakannya.”

BRAKK!

“Tutup mulutmu Hara! Berhenti mengatai Taemin, dan kau Junsu! Kau tidak mengenal gadis itu kan? Jadi berhenti bicara yang tidak-tidak. Entah apa yang akan Taemin lakukan padamu kalau dia mendengar ucapanmu.”

“Apa-apaan si Minho itu? Memangnya apa yang akan dilakukan Taemin? Menurutku Taemin akan berterima kasih karena aku dan Hara telah menyadarkannya. Bahwa selama ini gadis itu hanya mempermainkannya, dan Taemin pantas untuk mendapatkan yang lebih baik. Iya kan Hara?”

Tubuhku langsung menegang. Benarkah? Aku hanya dimanfaatkan? Kata-kata mereka berputar di otakku bergantian dengan memori-memori tentang gadis itu. Memori saat dia mengatakan, “Kau tidak marah kan? Kau masih mau jadi sahabatku kan?”. Dan memori lainnya.

Aargh, Sial. Jadi, selama ini aku dimanfaatkan? Kenapa aku begitu bodoh? Benar kata Hara dan Junsu, bagaimana mungkin aku bisa tak sadar harga diriku direndahkan seperti ini?

“Taemin, apa yang kaulakukan di sini? Kau sudah berpamitan?” Aku mendongak dan kudapati Onew hyung yang menepuk pundakku.

“Sudah hyung? Kau sudah selesai? Kajja, kita pulang.” Aku bangkit dan segera mengajak Onew hyung pulang. Maaf hyung, maaf aku membohongimu. Tapi, siapa yang perlu kupamiti? Toh anak-anak sekelas sudah tahu tentang kepergianku. Gadis itu? Hh, mana mungkin aku berpamitan padanya setelah mataku terbuka akan siapa dia sebenarnya.

Flashback end

Konyol kan? Bukan sekedar konyol, tapi sangat konyol. Seharusnya aku sadar kenapa dia tidak menyukaiku. Aku childish, sangat childish. Betapa bodohnya aku karena telah mendengarkan, bahkan mempercayai bualan Hara dan Junsu. Dan aku begitu terpengaruhnya sampai tidak sedikitpun berniat untuk mengucapkan selamat tinggal padanya. Begitu terpengaruhnya sampai aku mengeluarkan kata-kata kasar yang bahkan tak pernah terlintas di otakku sebelumnya.

From : My Vision Girl

Apa yang di katakan Minho benar? Kau akan pergi ke Paris? Tanpa mengucapkan selamat tinggal padaku?

To : My Vision Girl

Untuk apa aku mengucapakan selamat tinggal padamu? Agar kau bisa mencegahku? Agar kau bisa memanfaatkan perasaanku padamu? Sayangnya, kau tidak bisa. Selama ini mungkin aku bodoh membiarkanmu memanfaatkanku dan mempermaikanku. Tapi, aku sekarang telah sadar. Jadi, kubur saja keinginanmu untuk menjadikanku bonekamu selamanya.

From : My Vision Girl

Kau bicara apa Taemin?

To : My Vision Girl

Berhentilah berpura-pura. Selama ini kau mempermainkanku, menolak perasaanku dengan alasan memimpikan sosok  yang bisa menjaga dan melindungimu. Tapi setelah aku berubah? Apa kau menerimaku? Tidak kan. Kau menolak perasaanku, tapi terus-menerus memintaku berjanji agar mau menjadi sahabatmu. Kau bertindak seolah tidak terjadi apa-apa, dan terus berada disampingku, mengajakku tertawa bersama dan membuatku semakin menyukaimu. Kau memberiku harapan palsu. Dan menurutmu apa itu namanya kalau tidak mempermainkan?

From : My Vision Girl

Tapi aku tidak pernah bermaksud seperti itu Taemin. Aku tidak pernah menginginkanmu untuk berubah demi aku. Aku memang ingin selalu menjadi sahabatmu.  Tapi aku tidak pernah berniat untuk memberimu harapan palsu apalagi mempermainkanu. Tidak pernah. Aku tidak tahu kalau perbuatanku malah menyakitimu. Aku minta maaf  Taemin, aku minta maaf kalau semua hal yang kulakukan selama ini ternyata malah menyakitimu. Maafkan aku.

To : My Vision Girl

Kau tidak tahu atau memang tidak ingin tahu? Simpan kata maafmu. Aku tidak membutuhkannya, dan aku tidak akan terpengaruh olehnya. Aku malah berterima kasih, karena kau telah memberiku masa-masa yang indah sebelum akhirnya aku sadar bahwa itu semua tak lebih dari permainanmu.

Aku tertawa membaca semua itu. Aku menertawai diriku yang begitu bodoh. Yeah itu adalah sms terakhirku dengannya beberapa saat seteah aku tiba di Paris. Aku  masih menyimpannya sampai sekarang.

From : Minho

Kau tidak mengucapkan selamat tinggal padanya? Apa yang kau lakukan Taemin? Apakah kau tidak sadar betapa sedihnya dia karena kepergianmu? Tidak bisakah kau sekedar mengucapkan selamat tinggal sekalipun lewat sms.

To : Minho

Dia sedih karena kepergianku? Haha, jangan tertipu dengannya Minho. Kau belum tahu siapa dia sebenarnya. Aku memang sengaja tidak berpamitan padanya, karena aku telah sadar. Aku telah sadar bahwa dia selama ini mempermainkanku setelah mendengar pembicaraan Hara dan Junsu sesaat setelah aku meninggalkan kelas. Mereka benar, dan seharusnya kau juga membenarkan omongan mereka.

 From : Minho

Lee Taemin, what the hell are you thinking, huh? Jadi kau menjadi seperti ini karena mendengar omongan Hara dan Junsu? Yang menurutmu harus ku benarkan? Baiklah, omongan mereka memang benar. KAU BODOH! Kau mengenalnya (read: gadis itu) sejak kecil, tapi kau lebih mempercayai omongan orang lain yang bahkan tak mengenalnya sedikitpun. Where the hell does your common sense go? Kalau saja kau melihat langsung bagaiman keadaanya saat ini. Aku yakin kau akan menyesal. Menyesal akan kebodohanmu.

Aku juga masih ingat bagaimana aku tersenyum kecut menanggapi sms Minho yang pertama. Dari semua temanku di 2-B, memang hanya Minho yang cukup mengenal gadis itu. ‘Ternyata dia sama sepertiku, tertipu dengan gadis itu’. Setidaknya itulah fikiranku tentang Minho saat itu.

Dan aku juga masih ingat betul reaksiku saat membaca smsnya yang kedua. Aku langsung terkesiap, kepalaku pusing seolah tertimpa beban berat. Dan semua yang kulihat rasanya berputar. Dan akal sehatku yang selama ini pergi entah kemana -seperti yang dikatakan Minho- seolah langsung kembali. Air mataku mengalir deras.

Untuk kedua kalinya, aku seolah kehilangan keseimbanganku dan tubuhku merosot begitu saja. Untuk kedua kalinya, aku memaki diriku sendiri tentang betapa bodohnya aku. Padahal, kebodohanku sebenarnya adalah karena aku telah mempercayai omongan Hara dan Junsu.

Aku terus-menerus mengutuk diriku setiap mengingat betapa kasarnya apa yang kuucapkan padanya melalui sms. Bagaimana mungkin kata-kata kasar seperti itu bisa kutujukan untuknya. ‘SHIT! KAU BODOH TAEMIN! SANGAT BODOH.

***

Author’s POV

Geu jaemitdaneun manhwachaegeul sone jwigo, Han siganjjae gateun jangman irkgo
Ni jeonhwaman gidarimyeo, Thinking ’bout you, what can I do?

Holding that supposedly fun comic book in my hand, I read the same chapter over for an hour
Waiting only for your call, Thinking ’bout you, what can I do?

“Onew, nanti siang kau dan Victoria bisa menemani nenek kan?” Tanya Ny. Lee

“Ajak Taemin juga, dan pastikan dia tidak menunjukkan wajah murungnya. Dia ke Paris untuk mendukung kesembuhan nenek, bukan malah menambah beban pikiran nenek.” Tambah Tn. Lee.

Onew hanya bisa menghela nafas. Sepertinya Tn. Lee sudah lelah menghadapi Taemin. Dan harus diakui Onew juga mulai lelah. Tapi dia sadar, dia harus menyelesaikan masalah ini sebelum Tn. Lee kehabisan kesabarannya untuk Taemin. Dan juga demi Nenek.

***

Taemin’s POV

Srett

Komik yang sedari tadi kubaca -ralat, tidak kubaca hanya kupegang- direbut oleh seseorang. Dan saat aku mendongak kudapati Onew hyung memegangnya.

“Yaa! Hyung kembalikan! Aku sedang membacanya!”

“Kau bahkan tidak menyadari kehadiranku. Lagipula membaca komik lucu tapi wajahmu malah menampakkan kesedihan.”

“ . . .”

“Hh, sampai sekarang kau belum bisa mempercayai hyungmu untuk menceritakan masalahmu?”

Aku masih terdiam, haruskah aku bercerita?

“Appa sepertinya mulai kesal dengan sikapmu, kita datang ke sini untuk nenek, mendukungnya agar bisa mendapatkan kembali kesembuhannya. Tapi, kau malah lebih sering murung daripada menghibur dan menyemangati nenek. Asal kau tahu saja, sikapmu itu bisa dibilang menghambat kesembuhan nenek. Beliau sedih setiap melihatmu murung.”

Nenek sedih setiap melihatku murung? “Tapi Hyung ba . .”

“Kau fikir nenek tidak memperhatikanmu? Kami semua memperhatikanmu. Aku masih ingat hari pertama kita tiba di Paris. Kau tampak begitu kecewa dan marah -entah karena apa-, Tapi 3 hari kemudian, kekecewaan dan amarah itu menghilang tanpa bekas dan berganti dengan penyesalan. Dan Kau menghabiskan minggu pertamanmu menikmati penyesalan. “

“Awalnya kami menganggap itu wajar, karena minggu kedua kau sudah tidak murung lagi. Tapi, ternyata kami salah. Kau sadar? Aku sering memergokimu melamun dengan wajah penyesalanmu. Dan sesering itu juga, kau mengelak dan menjawab dengan singkat bahwa kau merindukan Korea.”

“Kau tidak hanya merindukan, tapi kau menyesali sesuatu yang telah kauperbuat dan sebelum kau sempat memperbaikinya kau telah meninggalkan Korea.”

Onew hyung mengangkat alisnya, meminta kepastianku. Tapi aku malah membisu.

“Setidaknya bercritalah padaku demi nenek. Kau tahu betapa sedihnya beliau saat melihatmu murung? Nenek mungkin diam saja, tapi nenek pasti merasa bersalah karena telah membuatmu meninggalkan Korea.”

Kata-kata Onew hyung mengajakku kembali ke dunia nyata. Aku begitu menyesali kelakuanku. Kutatap komik yang kini sudah kembali ke tanganku. Aku bahkan belum berpindah dari halaman ini sejak sekitar sejam tadi. Aku memegang komik lucu tapi tak sediktpun tersenyum.

Tapi bagaimana aku bisa tersenyum? Fikiranku melayang jauh. Yeah, aku kembali mengingatnya, menyesali semuanya, berharap dia menghubungiku -meskipun aku tau itu hampir tidak mungkin-.

 “Kau benar hyung, aku telah melakukan kesalahan dan sebelum aku sempat memperbaikinya aku harus meninggalkan Korea. Tapi, tidak hanya itu hyung.”

Aku menceritakan semuanya ke Onew hyung. Sejak awal aku menyukainya, tiga kali menyatakan perasaanku, apa yang kudengar sebelum meninggalkan Korea, hingga smsku dengannya dan Minho, dan Jawaban terakhirnya yang tidak pernah kudengar hingga sekarang..

“Minho benar hyung. Bagaimana mungkin aku lebih percaya pada orang lain yang bahkan tidak mengenalnya sedikitpun? Dia tidak pernah memanfaatkan perasaanku, aku sendiri yang ingin berubah demi dia. Aku sendiri yang ingin bisa menjadi sosok yang diimpikan. Aku yang ingin bisa melindunginya.”

“Dia juga tidak pernah memberiku harapan palsu. Bukankah memang aku yang menginginkannnya untuk tetap disampingku meskipun hanya sebagai sahabat? Bukankah memang aku yang mengharapkannya untuk tetap menjadi dia yang ceria? Dengan begitu aku tetap bisa melihat senyum dan tawanya, tanpa harus ada kecanggungan.”

“Bukankah aku sendiri tahu bahwa senyum dan tawanya bukanlah kepalsuan, yang sengaja dia berikan untuk membuatku terus menyukainya? Melainkan senyum tulus yang selalu dia berikan untuk orang-orang yang disayanginya, termasuk sahabatnya?”

Aish, mataku panas. Onew hyung tersenyum memandangku.

“Menangislah, itu akan membuatmu merasa lebih baik. Tak usah pedulikan omongan orang tentang harga diri, tentang lelaki yang tak seharusnya menangis. Mereka tidak tahu apa yang kaurasakan kan? Kurasa semua orang pantas untuk menangis.”

Aku tahu Onew hyung bermaksud mengingatkanku untuk tidak mengulangi kesalahnku. Kenapa harus mendengarkan orang lain yang bahkan tak mengenalmu? Toh, omongan mereka terkadang tak lebih dari bullshit.

“Tidak bisakah kau menghubunginya atau mencari informasi tentangnya dari Minho?”

“Semuanya sudah terlambat, hyung. Aku tidak pernah bisa menghubunginya. Aku sudah berkali-kali mencoba menelfonnya, tapi nomornya tidak pernah aktif. Minho juga pindah ke Jepang sekarang. Dan dia lost contact dengan semua temannya di Korea, sama sepertiku.”

“Kau belum terlambat, mulai sekarang berhentilah menyesali semuanya. Penyesalanmu mungkin akan merubah pola fikirmu tapi itu tidak merubah apa yang telah terjadi. Nanti siang ikut aku menemani nenek memeriksakan keadaannya.” Aku langsung mendonggakan wajahku begitu mendengar ucapan Onew Hyung. Apa maksudnya?

“Berhenti menunjukkan wajah murungmu. Kau harus selalu tersenyum dan tampak ceria di depan Nenek. Kita bantu nenek agar bisa sehat kembali. Dan setelah itu kita bisa kembali ke Korea.”

“Tapi Umma dan Appa? Bukankah mereka bilang kita harus di sini untuk menjaga nenek.”

“Begitu nenek mengizinkan, umma dan appa pasti juga mengizinkan. Percaya padaku Taem, nenek pasti akan mengeti dan mendukungmu untuk kembali dan memperbaiki semuanya. Mana mungkin nenek membiarkan cucunya menghabiskan hidupnya dengan penyesalan.”

“Gomawo Hyung. Seharusnya aku menceritakan semuanya sejak dulu padamu.” Aku tersenyum senang.

“Seharusnya. Yeah, jadi lain kali kau tahu kana pa yang harus kau lakukan kalau ada masalah?”

Onew hyung tersenyum lebar. Tapi senyumku jauh lebih lebar. Aku beruntung punya hyung sepertinya.

“Eh, Hyung. Tapi aku punya dua pertanyaan untukmu. Pertama, kau tidak ingin tahu siapa gadis itu? Kedua, kenapa kau harus ikut ke Korea? Kau kan baru saja menyelesaikan semester pertamamu?”

“Pertama, Tentu saja aku ingin tahu, tapi karena sepanjang critamu, kau juga tidak menyebut namanya. Jadi kupikir kau tidak ingin aku tahu. Kedua . .”

Onew Hyung terlihat kebingungan dan tersenyum garing sambil menggaruk tengkuknya. Kenapa?

“Karena Orang tua Victoria tinggal di Korea sekarang. Meskipun dia dan Ummanya kelahiran China. Aku juga harus mengenalkan dan mendekatkan diri ke keluarganya kan? Aku bisa melanjutkan kuliahku di Korea bersama dengan Victoria.”

“Mwo? Jadi tidak ada sedikitpun pertimbangan untukku? Aish, kau menyebalkan hyung!”

“Yaa! Kau kan sudah kelas 2 SMA. Lagipula kau juga senang kan kalaupunya nuuna seperti Victoria?”

Aku hanya bisa mengerucutkan bibirku. Yeah, semoga saja kisah cintaku berjalan seperti kisah Onew Hyung dan Victoria nuuna.

***

A month later

***

Author’s POV

Ppichyeoitji malgo charari nal ttaeryeojwo, Nan geureokerado gibun pullyeosseum jokesseo
Sarangiran geureongeoya datumyeonseo kiwoganeun geojanha (Girl)
Naega ni mam apeuge han mankeumman ttaeryeojwo, Charari geumankeum ttaeryeojwo

Just hit me instead of  being mad at me, At least this way, I hope you can feel better
Arguing and growing from them is what love is about (Girl)
Hit me as much as I had hurt your feelings, Just hit me that much instead

“Hyung, kau pulang duluan saja. Aku ingin menikmati udara Korea dulu.”

Kulambaikan tangan kearah Hyung. Aku sangat senang hari ini. Yeah, setelah mendengarkan saran hyungnya. Dia mulai bisa mengurangi sifat murungnya dan persis seperti kata Onew. Kesehatan neneknya meningkat pesat dalam sebulan terakhir. And finally, aku bisa kembali ke Korea. Mencari jawaban yang tak pernah kudengar.

Taksi yang yang kutumpangi di depan sebuah rumah yang cukup besar. ‘Fighting Lee Taemin!’ Berkali-kali aku menghela nafas. Aku baru saja hendak keluar ketika pintu rumah itu membuka diikuti seorang gadis berseragam dengan rambut diikat asal.

Gadis itu, gadis itulah yang selalu kufikirkan selama ini. Gadis yang tidak bisa kulupakan sekeras apapun aku mencoba. Gadis yang selalu kucintai sejak SMP. Gadis yang tak pernah sepenuhnya kubenci bahkan ketika aku mengucapkan kata-kata kasar padanya.

Tuhan, kenapa jantungku berdetak sekeras ini. Apa aku harus menemuinya sekarang? Tapi dia sepertinya sangat terburu-buru. Hh, sepertinya aku harus bersabar menunggunya pulang nanti.

“Ahjumma, antarkan aku ke alamat ini.”

Kembali kuarahkan pandanganku ke rumah tadi. Senyum lebar terukir di wajahku. Tapi dalam hitungan detik senyum itu langsung menghilang. Kuyakinkan diriku dengan apa yang kulihat. Tubuhku menegang. Perlahan tapi pasti kurasakan sakit yang mulai menjalar di hatiku.

Kenapa kemungkinan ini tak terpikirkan sama sekali olehku? Apa aku memang terlalu berharap? Apa aku akan mendapat jawaban yang sama? Dan apakah ini berarti semua penyesalanku 3 tahun ini sia-sia?

“Ahjussi, handphone anda berbunyi.” Kata ahjussi supir taksi.

Kulirik handphoneku? Dan benar saja Onew hyung menelfon. Hh, aku bahkan tak menyadarinya.

***

Author’s POV

“Kenapa Hyung? Oh, Aku sudah dalam perjalanan pulang.”

Onew memerhatikan taksi yang ditumpangi Taemin yang memang mulai meninggalkan rumah itu. Dan setelah menutup telfonnya, dia segera memutar mobilnya. Berusaha mencari jalan pintas agar bisa sampai di rumah sebelum Taemin.

Yeah Onew mengikuti Taemin, dia tahu hal pertama yang akan dilakukan Taemin begitu sampai di Korea adalah menemui gadis itu. Tapi diluar dugaannya, Taksi Taemin berhenti di depan rumah yang cukup dikenalnya. Dan benar saja sesaat kemudian keluar gadis berseragam SMA. Meskipun tidak terlalu mengenalnya, tapi Onew yakin dia tidak salah orang.

Tidak banyak yang berubah dari gadis itu, selain tingginya yang bertambah dan wajah imutnya yang bertambah dewasa Tapi, bukan hal itu yang membua Onew terkejut melainkan kejadian selanjutnya. Gadis itu menghampiri seorang lelaki yang bersandar di mobilnya. Lelaki itu tertawa sambil mengacak rambut gadis itu sebelum akhirnya membukakan pintu untuknya dan melesatkan mobilnya.

Onew mencoba menghubungi Taemin, memastikan bahwa dongsaengnya itu baik-baik saja. Tapi Onew tahu Taemin tidak sepenuhnya baik. Ada kekecewaan di nada bicaranya.

‘Kim Mintae? Jadi dia gadis itu? Lalu siapa lelaki itu?’

***TBC***

Kenapa Onew kenal sama cewek itu??  Siapa cowok yang diliat Onew sama Taemin?? Silahkan mencari jawabannya di part selanjutnya. #PD amat, iya kalau ada yang penasaran.. Abaikan. Comment-comment datanglah, #PLAKK,, Hahha, Comment please,, J

©2010 SF3SI, Freelance Author.

This post/FF has written by SF3SI Author, and has claim by our signature

This FF/post has claim to be ours. Please keep read our blog, comment, vote and support us ^.^

Don’t forget to :

  • Open FAQ page for ask something.
  • Open GUESTBOOK for new reader
  • Open Join Us page to know how to send your FF
  • Vote us please, our rating going down on SHINee toplist, so please vote us ^.^
  • For new reader, please join page Talk Talk Talk
  • Open page LIBRARY if you miss some FF

26 thoughts on “{CONTEST C} THE ANSWER – PART 1”

    1. Minho?? Hemh,, liat ntar aja,,
      Bagus?? HUwaaa,, makasih, makasih,, Udah nungguin lanjutannya lgi,, gedhe nih kepala,, #plakk

  1. Yah gak jadi 1st komen nih 😦 gapapadeh

    Ihh Taem jahaaat ke Pariss gak bilang2,
    Tapi kerenn bangeet kata2 sms nya!! Hahaha..
    Masa Taem bisa punya kata2 kaya gitu xixixi *PLAAAAAAAK

    Waduhhh siapa tuh cwenya??
    Janganjangan . . . .
    Tapi kokk udah punya cwo lain??

    Lanjutdehlanjut~

    1. Second juga gak buruk kok,, Yang penting komen dan menyemangati author,, #gapen banget,, 🙂

      Keren?? Itu mah menusuk hati,, hehhe

      Cowo’ lain?? Liat next part aja deh,,Makasih ya,, 😀

  2. Woohhh penuh misteriiii!!
    Konfliknya ruwet, jadi seruu kkk
    Kim mintae itu siapa dan siapanya onew? Terus iyaa, cowo itu siapaa?
    Lanjuuuttt aku penasaran tingkat dewa!!
    😀

    1. Penuh misteri?? padaha genrenya bukan mystery lho.. 😀
      Tapi syukur deh kalau penasaran,, #plakk,,
      MAkasih udah baca,, 🙂

  3. Wahhhh kim mintae terlaluuu,,,bisa bisanya nolak namja se cute taemin???

    taem jga,,terlaluuuu,,cba nembak ak,,ga nolak dehhh..*pletakkk

    lanjuttttt..

  4. Aigooooo
    Aneh aneh aja si
    Cowo kaya taem ditolak -_- buat aku aja
    Kaga bakalan nolak deh wkwkwkwk
    Ampe ditolak 2 kali lagi
    Haduhhh taeminn
    Mengapa dikau percaya dengan katakata gitu
    Jadinya nyeselkaaaan

    1. Ya jelass gak bakalan nolak lah,, hahha,,
      Iya, keburu kebawa emosi tuh Taem,, maklum remaja labil,, #dibakar taemints,,
      Makasih ya,, 🙂

  5. ishhh nyebelin !!!!
    tuh cwe bener2 dah ah !!
    ampun … siapa sih tuh cwo !!!
    arghh !!! kasian taemin …
    ishhh dah taemin blik ke paris ajh sonoh #plak!!
    heheh lanjut thor …

  6. Lanjuttt thor!! Cepatttt ._.V penasaran bgt!!!! Ikut deg”an baca nya -_- ngomong” thor itu nama nya Kim Mintae gabungan dari key/jonghyun trus minho ma taemin ya? Ato anak key kim taemin trus di balik? *sotoy*

    1. Udah dilanjut,, balesnya telat banget ya?? hehhe,,
      Anak Keyu?? Bukan, bukan,, Itu sebenernya Park Mintae sih,, namkor temenku,, cuma marganya aja diganti,
      Makasih uda baca ya,, 🙂

    1. Itu namkor temenku,, kebetulan banget kayak kebalikannya nama Taemin,, jadi aku pake’ aja,,
      Uda aja lanjutannya sampai ending,, #authornya aja yang lemot balesnya,,
      Thanks ya,, 🙂

  7. hya~~~ aku telat baca >.<
    ya ampun, kasian sekali taeminnya…
    klo taemin nembak aku udh langsung aku terima deh. hehe 🙂
    lanjut part 2…

Give Me Oxygen

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s